Anda di halaman 1dari 82

1

I.

PENGAMATAN BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Upaya membudidayakan tanaman yang di dasar ialah produksi yang
tinggi baik mutu maupun jumlahnya. Ada dua tujuan dalam teknik budidaya
tanaman yaitu memaksimalkan output atau meminimalkan input agar
kelestarian lahan tetap terjaga. Dalam rangka mendapatkan produksi tinggi
(jumlah dan mutu) perlu penerapan yang dikenal dengan panca usaha tani
yang meliputi penyediaan bahan tanaman (benih/bibit) bermutu tinggi yang
berasal dari klon/kultivar unggul, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan
dan perlindungan tanaman.
Tanah sebagai media tumbuh mempunyai empat fungsi utama yaitu
sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran yang mempunyai
dua peran utama sebagai penyokong tegak tumbuhnya tanaman dan
penyerap hara tanaman. Tanah sebagai penyedia kebutuhan primer tanaman
untuk aktivitas metabolismenya meliputi air, udara dan unsur hara. Tanah
sebagai penyedia kebutuhan sekunder tanaman yang dapat menunjang
aktivitasnya agar tetap optimum meliputi zat-zat pemacu tumbuh, antibiotik
dan enzim yang berfungsi dalam penyediaan kebutuhan primer. Tanah
sebagai habitat biota tanah yang berdampak positif dalam penyediaan
kebutuhan primer maupun sekunder tanaman maupun yang berdampak
negatif sebagai hama penyakit tanaman. Salah satu hal yang harus
diperhatikan adalah pengolahan tanah. Secara umum pengolahan tanah
bertujuan untuk menyediakan lahan agar siap tanam dengan meningkatkan
kondisi fisik tanah agar siap untuk ditanami. Pengolahan tanah adalah
manipulasi mekanik terhadap tanah yang diperlukan untuk menciptakan
keadaan tanah yan baik bagi pertumbuhan tanaman. Tanah yang akan
digunakan sebagai media tumbuh harus dapat menyediakan unsur hara yang
penting untuk tanaman.
1

Kualitas benih sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil panen yang


tinggi. Bahan tanam merupakan suatu awal keberhasilan suatu proses
produksi. Benih yang berkualitas adalah yang mempunyai sifat-sifat antara
lain tingkat kemurnian genetik dan fisik yang tinggi, sehat dan kadar air
aman dalam penyimpanan. Pengolahan tanah bertujuan untuk menyediakan
lahan agar siap bagi kehidupan tanaman dengan meningkatkan kondisi fisik
tanah.
Pemilihan benih atau bibit yang bermutu tinggi juga sangat diperlukan
untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi. Bahan tanam atau benih
merupakan bahan awal keberhasilan suatu proses produksi. Tidak ada
gunanya kita memupuk, menyiangi, dan menyiram bila benih yang
digunakan jelek, sehingga tidak dapat diperoleh hasil panen yang
maksimum. Benih yang berkualitas mempunyai ciri mengkilap, tidak
keriput, tidak cacat dengan warna normal, viabilitas tinggi, sehat, bersih,
murni, dan asli. Pembentukan bibit dapat dilakukan dengan cara seleksi atau
dengan cara persilangan dari induk yang masing-masing mempunyai sifat
utama, unggul, dan baik. Dari ketentuannya, akan diperoleh varietas yang
mempunyai sifat baik atau tidak baik, dari keturunan yang mempunyai sifat
baik atau tidak baik, dari keturunan yang mempunyai sifat baik yang
dipunyai oleh kedua induknya yang akan diambil dan ditentukan sebagai
varietas unggul.
Penanaman adalah persiapan sebelum tanam, waktu menanam, dan cara
menanam. Sebelum melakukan penanaman, hendaknya persiapannya
dikontrol. Kalau ada rumput liar seperti rumput grinting atau teki, segera
dimusnahkan agar tidak mengganggu tanaman. Rumput tersebut termasuk
gulma yang dapat menjadi kompetitor bagi tanaman induk. Pengaturan jarak
tanam yang tepat bagi tanaman dapat memberikan peluang yang sebesarbesarnya bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan sumberdaya lingkungan
secara maksimal, baik berupa lingkungan tanah, air maupun iklim.
Lingkungan tanah merupakan sumber nutrisi dan air bagi tanaman.
Sedangkan lingkungan iklim yang penting antara lain radiasi surya, suhu,

dan kelembaban. Interaksi antara tanaman dengan faktor lingkungan akan


memberikan gambaran terhadap perkembangan dan hasil tanaman.
Hasil tanaman tidak akan optimal bila tanaman itu tidak dipelihara
dengan baik. Pemeliharaan tanaman meliputi pengairan, pemupukan, dan
pengendalian pengganggu tanaman. Dalam pemupukan, harus diperhatikan
kapan waktu dan berapa dosis yang tepat untuk tanaman tersebut. Hal ini
bertujuan untuk menghindarkan tanaman dari kelebihan pupuk yang hanya
akan meracuni tanaman tersebut. Sehingga, hasil tanaman lebih optimal.
Manajemen yang efektif selama periode pascapanen, juga diperlukan.
Hal ini jika dibandingkan dengan tingkat kecangihan berbagai teknologi,
adalah kunci dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Operasi skala besar
dapat menguntungkan karena investasi mesin penanganan yang biayanya
tinggi serta perlakuan-perlakuan pascapanen berteknologi tinggi, sering
pilihan-pilihan tersebut tidak praktis bagi penganan skala kecil. Teknologi
sederhana biaya murah sering lebih sesuai untuk volume panen yang kecil,
terbatasnya sumber daya untuk operasi komersial, petani terlibat langsung
dalam pemasaran, serta untuk suplier sampai eksporter di negara-negara
sedang berkembang.
2. Tujuan Praktikum
Tujuan praktikum dari acara Pengamatan Budidaya Tanaman Semusim
yaitu, agar mahasiswa dapat terampil memadukan teori yang diperoleh
dengan praktek rill yang dilakukan petani dalam pembudidayaan tanaman
semusim.

B. Tinjauan Pustaka
1. Komoditas Padi (Oryza sativa)
Padi termasuk keluarga padi-padian. Batangnya beruas-ruas yang
didalamnya berongga (kosong), tingginya 1 sampai 1,5 meter. Pada tiap
buku

terdapat

batang

tumbuh

daun

yang

berbentuk

pita

dan

berpelepah.Pelepah itu membentuk hampir sekeliling batang. Di dalam


tanah dari tiap buku tumbuh tunas yang dapat menggadakan batang(anakan
padi). Anakan padi itu dapat pula beranak, dan demikianlah terus
menerus.Itulah sebabnya dari sebutir dapat tumbuh 40 sampai 50
batang.Bila telah sampai pada waktunya dari tiap-tiap batang keluar
bunga.Bunga itu bunga majemuk, yang biasanya disebut orang sebagai
bulir.Pada tiap bulir keluar 100 sampai 400 bunga yang produktif dan
menghasilkan (Soemartono et al., 2002).
Nitrogen sangat berperan pada pertumbuhan vegetatif tanaman dan
dalam merangsangjumlah anakan. Tanaman padi yang kekurangan

pertumbuhannya menjadi terhambat dan tanaman akan menjadi kerdil serta


jumlah anakan akan sedikit. Jumlah malai atau rumpun berkolerasi positif
dengan kandungan unsur hara N selain itu juga dipengaruhi radiasi matahari
(Endrisal, 2004).
Fase pertumbuhan tanaman padi dibedakan menjadi 2 periode yaitu
periode pertumbuhan vegetatif dimana dikarakteristikkan dengan kenaikan
jumlah anakan dan periode partumbuhan generatif dimana perkembangan
malai muda merupakan kenampakan utama. Periode perkembangan
vegetatif dan generatif kebanyakan keduanya terpisah tetapi saling
melengkapi satu sama lain (Matsubayasi, 2002).
Pembentukan jumlah anakan meningkat apabila jarak tanam padi lebih
rapat, dibanding jarak tanam renggang besarnya nilai ILO dan jumlah
anakan padi mempunyai korelasi positif nyata terhadap peningkatan hasil
padi. Jarak tanam mempengaruhi tanaman dalam mempergunakan sumber
daya yang ada. Semakin meningkat nilai ILO semakin meningkat anakan
padi, sehingga hasil panen juga semakin bertambah (Pane, 2004).

Pemberian

pupuk

merupakan

kunci

utama

dalam

usaha

meningkatkan produksi. Tanaman yang kekurangan N akan tampak kerdil


warna daun hijau muda kekuningan, buah terbentuk sebelum waktunya dan
tidak sempurna. Varietas padi yang mempunyai potensi hasil yang tinggi
akan meningkat hasilnya dengan perlakuan pemupukan, karena jumlah
anakan bertambah dan tanaman tidak roboh. Sedangkan varietas padi yang
potensi hasilnya rendah tidak akan meningkat hasilnya dengan menambah
jumlah pupuk N, karena tanaman tidak kuat menopang daunnya sehingga
tanaman roboh (Suriadikata, 2001).
Pertumbuhan tanaman padi dibagi kedadalam beberapa fase. Fase
utama, yaitu:
a. Vegetatif (awal pertumbuhan samapai pembentukan akar).
b. Reproduktif (pembbentukan malai sampai pembungaan).
c. Pematangan ( pembungaan samapai gabah matang).
Di daerah tropis fase reproduktif selama 35 hari dan fase pematangan
sekitar 30 hari.Perbedaan diantara pertumbuhan ditentukan oleh perubahan
panjang waktu fase vegetatif dari tanaman (Ngraho, 2007).
2. Komoditas Jagung
Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase
baik, dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembabantanah
kurang dari 40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air. Pada
dataran rendah, umur jagung berkisar antara 3-4 bulan, tetapi di dataran
tinggi di atas 1000 m dpl berumur 4-5 bulan. Umur panen jagung sangat
dipengaruhi oleh suhu, setiap kenaikan tinggi tempat 50 m dari permukaan
laut, umur panen jagung akan mundur satu hari (Djatnikan, 2000).
Pelaksanaan dalam penanaman banyak faktor yang perlu diperhatikan
antara lain jarak tanaman atau kerapatan tanaman, pengolahan tanah dan
saat tanam. Banyak dianjurkan tandur jajar, yaitu tanaman dengan jarak
teratur dan barisab teratur. Jarak tanam mempengaruhi kerapatan populasi
tanaman dengan efisiensi dalam penggunaan cahaya serta mempengaruhi
kompetisi antara tanaman dalam penggunaan air dan zat hara demikian juga

akan mempengaruhi koefisien cahaya dimana pada umumnya penggunaan


jarak tanaman sama lebih efisien dari pada jarak tanaman yang lain, karena
titik awalnya terjadi kompetisi tertunda (William, 2005).
Persyaratan mengenai tanah yang cocok bagi tumbuhan jagung tidaklah
istimewa. Syarat yang terpenting adalah bahwa keadaan tanah tidak terlalu
kurus dan padat. Kondisi yang mutlak diperlukan adalah tanah yang
gembur. Tanah yang gembur ini tidak hanya baik bagi tanaman jagung juga
mudah dalam pencabutan tanaman jagung pada saat panen. Tanah-tanah
yang terlalu masam atau alkalis tidak baik untuk tanaman jagung, sebaiknya
jagung ditanam pada pH yang netral. Jarak tanam yang semakin sempit
memerlukan benih yang seamkin besar. Apalagi jika jagung ditanam dengan
sistem tanam monokultur akan membutuhkan benih yang jauh lebih besar
dibandingkan dengan sistem tumpang sari. Pengaturan jarak tanam ini
ditentukan oleh umur varietas jagung, dan populasi tanaman yang optimum
(Aak, 2007).
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan melakukan pemupukan
susulan degan menggunakan urea, karena merupakan sumber pupuk
nitrogen

paling

umum

untuk

negara-negara

yang

sedang

berkembang.Mengingat karakteristik yang khas pada lahan pertanian


diperlukan langkah pengelolaan. Apabila pupuk urea disebarkan di
permukaan tanah akan terjadi proses volatilisasi yang menyebabkan
kehilangan nitrogen dalam bentuk ammonium, proses ini merupakan bentuk
kehilangan nitrogen yang cukup banyak dan sebagai penyebab rendahnya
efisiensi

pemupukan

pada

lahan

pertanian

di

daerah

tropika

(Colbourn, 2006).
Tujuan pemupukan adalah meningkatkan pertumbuhan dan mutu hasil
tanaman.Pemupukan diberikan pada saat tanaman menunjukkan sejumlah
kebutuhan unsur hara agar diperoleh keefisienan yang maksimal. Pemberian
pupuk padat dilakukan dengan cara ditugal, disebar di atas tanah atau di
sebelah tanaman, sedangkan pemberian pupuk daun. Dengan cara
menyemprotkan pada daun, bersama air disemprotkan sebagai perlakuan

tambahan. Pemupukan secara disebar mempunyai kelemahan bahwa pupuk


mudah menguap ataupun terikat dalam tanah.Sebenarnya tanah merupakan
sumber unsur-unsur hara. Suatu hasil yang tinggi dari tanaman akan
mengangkut keluar unsur lebih banyak daripada tanaman yang berdaya hasil
rendah (Wagner, 2000).
Daun merupakan salah satu organ tanaman yang berperan dalam proses
fotosintesis. Cekaman kekeringan memberikan pengaruh terhadap parameter
luas daun.Cekaman kekeringan berpengaruh pada luas daun terutama pada
fase

vegetatif,

dimana

cekaman

kekeringan

pada

vase

vegetatif

(perlakuan A, D, F dan G) menghasilkan luas daun yang lebih kecil jika


dibandingkan dengan tanaman yang mendapat air cukup di fase
tersebut.Pada fase pembungaan maupun fase pengisian biji, pola luas daun
tidak berbeda seperti pada vase vegetatif.Pertambahan luas daun pada fase
pembungaan maupun fase pengisian biji, relatif sedikit; sehingga meskipun
diairi kembali, pola yang ditunjukkan masih tidak berbeda seperti pada fase
vegetatif (Kusmarwiyah et al., 2006).
Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase
baik, dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembabantanah
kurang dari 40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air. Pada
dataran rendah, umur jagung berkisar antara 3-4 bulan, tetapi di dataran
tinggi di atas 1000 m dpl berumur 4-5 bulan. Umur panen jagung sangat
dipengaruhi oleh suhu, setiap kenaikan tinggi tempat 50 m dari permukaan
laut, umur panen jagung akan mundur satu hari (Hyene, 2001).
Tanaman jagung merupakan jenis tanaman serealia dengan areal dan
agroekologi sangat bervariasi, dari dataran rendah sampai dataran tinggi,
pada berbagai jenis tanah, berbagai tipe iklim dan bermacam pola tanam
Dengan sifat ini maka jagung mampu menjadi kontributor terbesar kedua
setelah padi dalam subsektor tanaman pangan (Iriany et al., 2007).
Tujuan utama budidaya jagung adalah ntuk menghasilkan biji,
sedangkan hasil samping berupa tebon jagung merupakan sumber pakan
ternak ruminansia. Kelemahan tebon jagung sebagai pakan adalah

kandungan gizinya sangat rendah karena tanaman telah tua. Limbah


pertanian yang nilai nutrisinya digolongkan sebagai sumber serat
(Schiere, 2002).
Jenis jagung berdasarkan lingkungan tempat tumbuh meliputi: (i)
dataran rendah tropik (<1.000 m dpl), (ii) dataran rendah subtropik dan midaltitude (1.000-1.600 m dpl), dan (iii) dataran tinggi tropik (>1.600 m dpl).
Jenis jagung berdasarkan umur panen dikelompokkan menjadi dua yaitu
jagung umur genjah dan umur dalam. Jagung umur genjah adalah jagung
yang dipanen pada umur kurang dari 90 hari, jagung umur dalam dipanen
pada umur lebih dari 90 hari (Iriany et al., 2007).
3. Komoiditas Kacang Tanah
Kacang tanah termasuk tanaman polong-polongan yang berbunga
sempurna dan menyerbuk sendiri. Setelah pembuahan, bunga langsung layu
membentuk ginofor dan membentuk polong didalam tanah. Pembentukan
polong terjadi sekitar 40 hari setelah masa tanam dan pemasakan buah
hingga siap panen berlangsung setelah tanaman berumur 90 hari. Sebagai
tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya yang kaya protein
dan lemak (Suparman, 2003).
Kacang Tanah biasanya ditanam di lahan kering pada awal atau akhir
musim kemarau, dengan cara tanam tunggal atau tumpang sari dengan
Jagung atau ubi kayu. Budidaya Kacang Tanah umumnya menggunakan
teknologi sederhana (rendah pupuk dan pestisida). Kondisi daerah tropika
yang lembap dapat memacu tumbuh dan berkembangnya berbagai hama dan
penyakit, termasuk Aspergillus flavus, kapang penghasil mikotoksin yang
dikenal dengan aflatoksin. Aflatoksin, terutama B1 diketahui sangat toksik
dan bersifat karsinogenik, hepatotoksik dan mutagenik bagi manusia,
mamalia, dan unggas (Kasno, 2004).
Kepadatan

kacang

tanah

yang

semakin

tinggi

menyebabkan

pertumbuhan generatif (jumlah bunga, jumlah polong, berat kering polong


hampa, dan berat kering polong penuh) kacang tanah makin banyak, kecuali
jumlah bunga dan berat kering polong hampa, sedangakan pada faktor

kepadatan teki menurunkan pertumbuhan generatif kacang tanah, kecuali


jumlah bunga dan berat kering polong hampa. Dan kepadatan kacang tanah
menurunkan teki (Wahyuningsih, 2008).
Disamping kondisi fisik dan jenis tanah yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan kacang tanah, faktor lain yang

sangat penting untuk

diperhatikan adalah kesuburan tanah. Tingkat kesuburan tanah dipengaruhi


oleh perbandingan atau kecukupan unsur hara dalam tanah. Kebutuhan
unsur hara tersebut dapat dipenuhi dari udara, air tanah maupun sisa-sisa
tanaman. Makin tinggi kesuburan tanah maka makin banyak unsur hara
yang tersedia bagi tanaman. Untuk itu bila kesuburan tanahnya rendah
diperlukan

penambahan

unsur

hara

dengan

cara

pemupukan

(Amirudin, 2003).
Banyak sekali jenis kacang tanah yang ditanam di Indonesia, namun
secara garis besarnya dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu:
a. Menurut tipe pertumbuhannya
1) Tipe tegak (bunch type, erect type, fastigiate)
Pada umumnya percabangan tanaman kacang tanah tipe tegak
sedikit banyak lurus atau sedikit miring ke atas. Orang lebih
menyukai kacang tanah tipe tegak lebih sebab umurnya lebih genjah
(kira-kira 100 120 hari), pemungutan hasilnya lebih mudah
dilakukan. Karena buah kacang tipe tegak ini hanya terdapat pada
ruas-ruas dekat rumpun, maka buah kacang (polong) ini dapat masak
secara serempak.
2) Tipe menjalar (runner type, prostrate type, procumbent).
Cabang tanaman kacang tanah tipe menjalar ini tumbuh ke
samping. Hanya bagian ujung cabangnya mengarah ke atas. Batang
utama tanaman kacang tanah tipe menjalar lebih panjang daripada
batang utama kacang tanah tipe tegak. Umur tanaman kacang tanah
tipe menjalar berkisar antara 5 6 bulan. Setiap ruas kacang tanah
yang berdekatan pada tanah menghasilkan buah. Oleh karena itu
buah-buahnya tidak bisa masak seara serempak.

10

b. Menurut umurnya
1) Kacang tanah berumur panjang
Kacang tanah ini bisa mencapai umur 6 7 bulan. Pada
umumnya kacang yang tergolong berumur panjang ini adalah kacang
Cina. Ciri-ciri dari kacang tanah berumur panjang yakni:
a). Batang panjang
b). Buah banyak, tetapi masak secara tidak serempak
c). Satu buah berisi 3 4 biji
2) Kacang tanah berumur pendek
Kacang tanah ini bisa mencapai umur 3-4 bulan. Kacang tanah
yang berumur pendek dibedakan menjadi tiga golongan kecil, yakni:
a). Jenis kacang tanah yang bijinya berkulit ari merah tua. Buah
kacang tanah jenis ini besar, berbiji 1-3 butir. Golongan kacang
tanah

ini tidak disukai orang karena hasilnya kurang

memuaskan.
b). Jenis kacang tanah yang bijinya berkulit ari merah muda. Hasil
kacang tanah jenis ini banyak, rata-rata 1 buah polong berbiji
1-2 butir. Kacang tanah yang termasil jenis ini ialah kacang
Holle, kacang Tular, kacang Waspada dan kacang Schwars.
c). Jenis kacang tanah yang bijinya berkulit ari merah jambu dan
buahnya kecil (Semangun, 2004).
Cara panen dilakukan dengan mencabut tanaman. Untuk menghindari
banyak polong yang tertinggal dalam tanah maka diusahakan panen pada
saat tanah lembab atau basah, jika kondisi tanah kering sebelum dipanen
sebaiknya tanah disiram air telebih dahulu. Setelah itu tanaman dicabut dan
ditumpuk dengan rapi dipinggir lahan sampai tanaman selesai dicabut. Saat
pemetikan polong ini disortir polong cacat, busuk ataupun kosong dibuang.
Setelah itu polong-polong kacang tanah dikumpukan dan kemudian dijemur
di bawah terik matahari. Pada kondisi matahari cerah, polong sudah cukup
kering setelah dijemur ke dalam karung yang bersih, dan siap untuk
disimpan ataupun dipasarkan (Warsana, 2009).
C. Metedologi Praktikum
1. Komoditas Padi

11

a. Waktu dan Tempat Praktikum


1) Komoditas Padi
a)

Kelompok 1
Waktu praktikum : Mulai bulan Maret-Mei
Tempat Praktikum :

Nama Petani : Bapak Bambang


Desa
: Klaruan
Kelurahan : Palur
Kecamatan : Mojolaban, Sukoharjo
b) Kelompok 2
Waktu praktikum : Mulai bulan Maret-Mei
Tempat Praktikum :
Nama Petani : Muhammad irsyadi
Desa
: Triagan
Kelurahan : Triagan
Kecamatan : Mojolaban, Sukoharjo
c) Kelompok 3
Waktu praktikum

: Mulai bulan Maret-Mei

Tempat Praktikum :
Nama Petani : Bapak Yanto
Desa
: Banaran
Kelurahan : Njanti
Kecamatan : Jaten
b. Alat dan Bahan
1) Alat
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Log book
Pulpen
Kamera
Cangkul
Sabit
Cetok
Alat bajak

2) Bahan
a) Benih padi
b) Lahan sawah
c. Cara Kerja
1) Bahan Tanam

12

a) Menentukan tempat/lahan yang akan diamati


b) Melakukan wawancara dengan petani dan mencatat penjelasan
petani tentang infoemasi bahan tanam
c) Mendokumentasikannya
2) Pengolahan Tanah
a) Melakukan pengamatan secara langsung di lahan pada pagi hari,
saat petani melakukan pengolahan lahan
b) Melakukan wawancara dengan petani
c) Mendokumentasikan gambar pengolahan lahan
3) Penanaman
a) Melakukan pengamatan secara langsung di lahan saat petani
melakukan penanaman
b) Melakukan wawancara dengan petani
c) Mendokumentasikan gambar
4) Pemeliharaan
a) Melakukan pengamatan secara langsung di lahan saat petani
melakukan pemeliharaan, pemupukan dan pemberantasan hama
b) Melakukan wawancara dengan petani
c) Mendokumentasikan
5) Pemanenan
a) Melakukan pengamatan secara langsung di lahan saat petani
melakukan pemanenan
b) Melakukan wawancara dengan petani
c) Mendokumentasikan
6) Pengolahan Pasca Panen
a) Melakukan pengamatan di lahan saat petani
b) Melakukan wawancara dengan petani
c) Mendokumentasikan
2. Komoditas jagung
a. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Teknologi Budidaya Tanaman Semusim Komoditas
Jagung diadakan pada Bulan April-Mei 2012. Waktu untuk praktikum
berbeda-beda.
b. Alat dan Bahan
1) Alat

13

a). Alat tulis


b). Kamera
2) Bahan
Beberapa lokasi pengembangan pertanian dengan berbagi
kondisi lahan.
3) Cara Kerja
(a) Bahan tanam
Mahasiswa menayakan bahan tanam yang harus digunakan
(b) Pengolahan Tanah
(1) Lakukan pengamatan pengolahan lahan pada beberapa lokasi
yang telah ditentukan
(2) Mahasiswa melakukan wawancara pada pemilik lahan terkait
dengan pengolahan lahan yang dilakukan oleh petani
(3) Data yang diperoleh diolah dan disimpulkan serta beri
alternative masukan perbaikan yang mungkin perlu dilakukan
untuk memperbaiki system yang diterapkan oleh petani.

(c) Penanaman
(1) Lakukan pengamatan dilokasi pertanaman yang anda kunjungi
(2) Lakukan interview dengan petani tentang asl-usul bahan/bibit,
cermati bahan tersebut bagaimana baik atau belum
(3) Buat laporan, kesimpulan dan usaha perbaikan yang perlu
dilakukan menurut anda
(4) Amati pertanman yang ada, yang diusahakan oleh petani baik
dalm satu hamparan atau dalam satu petakan
(5) Tanyakan pada petani tentang masalah-masalah yang terkait
dengan penggunaan bahan tanam, baik varietas untuk jenisjenis tanaman
(6) Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pola tanaman
yang dilakukan baik jenis tanaman yang ditanamnya
(7) Buat laporan dari data yang diperoleh, serta perbaikan apa
yang perlu dilakukan untuk memperbaiki cara-cara yang
kurang tepat dilakukan oleh petani
(d) Pemeliharaan
(1) Lakukan pengamatan kondisi pertanaman yang ada pada
beberapa lokasi pertanaman petani

14

(2) Wawancara dengan petani masalah pemeliharaan tanaman


yang dilakukan sejak tanaman mulai ditanam sampai petani
melakukan panen
(3) Dari data yang diperoleh buat laporan serta perbaikan kultur
teknik yang mungkin dapat diberikan untuk memeperbaiaki
kultur teknik yang mungkin kurang tepat dilakukan oleh
petani
(e) Pemanenan
(1) Lakukan wawancara dengan petani serta kalau tepat panen
amati kriteria panan yang dilakukan petani
(2) Lakukan pengamatan berapa kali dilakukan pemanenan, cara
panen,

kriteria

digunakan,

alat

yang

digunakan

dan

pengumpulan sementara
(3) Tanyakan usaha-usaha yang dilakukan dalam memasarkan
produknya
(4) Cara data sebanyak-banyaknya mungkin terkait dengan
pemasaranya baik harga, keuntungan dan cara-cara petani
mengatasi pemasalahan yang terkait dengan pemasaran
produknya.
(5) Buat laporan dan kemungkinan perbaikan system yang telah
dilakukan petani
(f) Pengolahan pasca panen
Lakukan wawancara terkait dengan penaganan pasca panen
apa saja yang dilakukan.
3. Komoditas Kacang Tanah
a. Waktu dan Tempat Praktikum
Pengamatan

mulai dilaksanakan pada tanggal April-Mei 2012

bertempat di lahan milik Bapak Darso Gimin, Desa Sukosari, Kelurahan


Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar dan Bapak
Suroso, Desa Daleman, Kelurahan Daleman, Kecamatan Karanganyar,
Kabupaten Karanganyar.
b. Alat dan Bahan
1) Alat
a) Alat tulis
b) Kamera

15

2) Bahan
Beberapa lokasi pengembangan pertanian dengan berbagi
kondisi lahan.
3) Cara Kerja
a). Bahan tanam
Mahasiswa menayakan bahan tanam yang harus digunakan
b). Pengolahan Tanah
(1) Lakukan pengamatan pengolahan lahan pada beberapa lokasi
yang telah ditentukan
(2) Mahasiswa melakukan wawancara pada pemilik lahan terkait
dengan pengolahan lahan yang dilakukan oleh petani
(3) Data yang diperoleh diolah dan disimpulkan serta beri
alternative masukan perbaikan yang mungkin perlu dilakukan
untuk memperbaiki system yang diterapkan oleh petani.
c). Penanaman
(1) Lakukan pengamatan dilokasi pertanaman yang anda
kunjungi
(2) Lakukan

interview

dengan

petani

tentang

asl-usul

bahan/bibit, cermati bahan tersebut bagaimana baik atau


belum
(3) Buat laporan, kesimpulan dan usaha perbaikan yang perlu
dilakukan menurut anda
(4) Amati pertanman yang ada, yang diusahakan oleh petani baik
dalm satu hamparan atau dalam satu petakan
(5) Tanyakan pada petani tentang masalah-masalah yang terkait
dengan penggunaan bahan tanam, baik varietas untuk jenisjenis tanaman
(6) Mencari informasi

sebanyak-banyaknya

tentang

pola

tanaman yang dilakukan baik jenis tanaman yang ditanamnya


(7) Buat laporan dari data yang diperoleh, serta perbaikan apa
yang perlu dilakukan untuk memperbaiki cara-cara yang
kurang tepat dilakukan oleh petani
d). Pemeliharaan
(1) Lakukan pengamatan kondisi pertanaman yang ada pada
beberapa lokasi pertanaman petani

16

(2) Wawancara dengan petani masalah pemeliharaan tanaman


yang dilakukan sejak tanaman mulai ditanam sampai petani
melakukan panen
(3) Dari data yang diperoleh buat laporan serta perbaikan kultur
teknik yang mungkin dapat diberikan untuk memeperbaiaki
kultur teknik yang mungkin kurang tepat dilakukan oleh
petani
e). Pemanenan
(1) Lakukan wawancara dengan petani serta kalau tepat panen
amati kriteria panan yang dilakukan petani
(2) Lakukan pengamatan berapa kali dilakukan pemanenan, cara
panen, kriteria digunakan, alat yang digunakan dan
pengumpulan sementara
(3) Tanyakan usaha-usaha yang dilakukan dalam memasarkan
produknya
(4) Cara data sebanyak-banyaknya mungkin terkait dengan
pemasaranya baik harga, keuntungan dan cara-cara petani
mengatasi pemasalahan yang terkait dengan pemasaran
produknya.
(5) Buat laporan dan kemungkinan perbaikan system yang telah
dilakukan petani
f). Pengolahan pasca panen
Lakukan wawancara terkait dengan penaganan pasca panen
apa saja yang dilakukan.

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


1.

Komoditas Padi
a. Bahan Tanam
Bahan tanam untuk kelompok 1 yang digunakan adalah bibit
IR-64. Bibit diperoleh dari mantan mantra pertanian (Bapak Sumarno).

17

Saat penanaman tidak dilakukan pengujian karena bibit dirasa telah


teruji. Sebelum ditanam diberi beberapa perlakuan, antara lain
penggunaan pupuk TSP-36. Penyemaian bibit sebelum ditanam kurang
lebih 22 24 hari. Bibit yang akan ditanam ditarik dari persemaian dan
diikat untuk memudahkan penanaman. Bibit tersebut ditarik secara
manual menggunakan tangan. Pemindahan bibit dari persemaian ke
lahan tanam dengan jalan kaki karena letaknya yang sangat dekat.
Bahan tanam yang digunakan kelompok 2, benih menngunakan
varietas sunggalan. Keunggulan daam varietas sunggalan yaitu
buahnya lebih banyak, umur tanam tidak terlalu panjang, dan tahan
hama. Dalam pemilihan benih tidak dilakukan pengujian. Pemilihan
benih berdasarkan visual yaitu apabila benih terlihat baik maka akan
dipakai kembali. Benih yang baik tidak tercampur dengan varietas lain.
Untuk penyemaian menggunakan benih sebanyak 12 kg gabah kering
untuk sawah seluas 2.200 m2. Penyemaian dilakukan 1 minggu
sebelum panen. Ukuran untuk tempat penyemaian dengan lebar 5
meter dan panjang 10 meter. Namun, lebih luas labih baik agar bibit
tidak terlalu padat dan bertumpukan. Sumber benih berasal dari panen
sebelumnya, disisihkan untuk ditanam kembali pada masa tanam
berikutnya. Cara untuk menyiapkan benih yang siap tumbuh yaitu
setelah hasil panen yang disisihkan untuk benih dijemur sampai kering,
direndam selama 1 malam dengan air biasa kemudian ditiriskan dan
tunggu 1 malam lagi maka benih siap tumbuh. Setelah 1 minggu dari
penyebaran banih, bibit yang tumbuh diberi pupuk sp 36 dan urea
masing-masing 1 kg juga penyemprotan dengan insektisida untuk
menjaga dari belalang dengan takaran 14 liter air dengan 2 cc obat
dilakukan 1 kali saat 1 minggu setelah penyebaran benih. Pemindahan
bibit dari tempat persemian ke tempat penanaman yaitu dengan cara
manual, bibit dicabut, diikat, kemudian diangkat ke tempat
penanaman. Dalam pemindahan ke lahan tidak menggunakan
transportasi karena tempat pembibitan sangat dekat dengan lahan.

18

Untuk kelompok 3, Bahan tanam diperoleh dari bibit yang


disemaikan di dekat lahan dalam petakan kecil. Bibit diperoleh dari
musim tanam sebelumnya. Sebelum ditanam, dilakukan pengujian
terhadap bibit dengan direndam semalaman. Tujuan pengujian benih
dengan merendam semalam adalah memilih benih yang memiliki mutu
yang baik. Sehingga viabilitas dan vigor benih yang didapat baik.
Benih yang mengapung berarti benih tersebut memiliki masa jenis
yang lebih kecil dari pada masa jenis air, sehingga dapat disimpulkan
benih padi yang mengapung memiliki struktur biji yang kurang baik
bahkan bisa dikatakan hampa. Keadaan struktur biji yang kurang baik
berarti mutu atau kualitas bibit juga kurang baik. Jenis bibit yang
digunakan adalah varietas padi Mikongga. Pemilik lahan memilih jenis
bibit ini karena beras yang dihasilkan lebih memiliki rasa yang enak
dan lebih disukai konsumen. Penyemaian dilakukan saat padi masih
dalam bentuk benih hingga berumur 15-17 HST. Pemindahan bibit ke
lokasi penanaman menggunakan alat transportasi darat, yaitu sepeda
dan sepeda motor. Pemilihan bibit dilakukan dengan pengamatan
secara visual, yaitu memilih bibit yang memiliki akar yang sehat (yang
ujungnya berwarna putih) dan tanaman tidak kerdil.
b. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah bertujuan untuk menggemburkan tanah.
Pengolahan tanah untuk kelompok 1 pada tanaman padi dilakukan
menggunakan dua alat, yaitu cangkul dan traktor. Penggaruan dengan
traktor yang dilengkapi garu, sedangkan pembajakan menggunakan
traktor yang dlengkapi singkal. Pengolahan tanah tidak memakai
tenaga hewan karena kurang efektif dan efisien. Pencangkulan
dlakukan 2 -3 hari. Satu minggu kemudian dibajak. Setelah 5 hari
dlakukan penggaruan. Rentang waktu dari pengolahan tanah ke
penanaman 3 hari. Pengolahan tanah dimulai dari kemiringan rendah
ke tinggi sehingga tanah bisa datar. Saat pengolahan dilakukan
pemupukan dengan furadan.

19

Cara pengelolaan tanah untuk kelompok 2 mulai dilakukan


pengolahan tanah, 1 minggu setelah panen. Pertama, lahan diperbaiki
perairannya dipinggiran lahan dan juga diperbaiki pematang sawahnya.
Setelah itu sawah digenangi air lalu dibajak dengan traktor lalu
didiamkan agar jerami membusuk dan mengalami dekomposisi.
Sehabis dibajak halus lahan diberi bahan organic dari kotoran sapi
sebanyak 80 kg. Lahan didiamkan selama 3-5 hari agar jerami
terdekomposisi dengan baik. Setelah itu barulah benih ditanam dengan
sebelumnya lahan digenangi terlebih dahulu. Pak mudin, pangggilan
akrabnya. Sering mendapatkan penyuluhan tentang cari ppengolahan
lahan yang baik, dll. Agenda penyuluhan rutin setiap minggu ketiga
setiap bulannya dari BPL kecamatan.
Alat yang digunakan untuk pengolahan lahan kelompok 2 yang
pertama cangkul untuk memperbaiki pengairan sawa dan pematang
sawah. Kedua, traktor untuk membajak sawah. Dilakukan 2
pengelolaan tersebut untuk irigasi sawah, menggemburkan tanah,
memperbaiki struktur. Pengelolaan yang dilakukan adalah pengelolaan
tanah basah, karena tanah sebelum di cangkul dan di bajak digenangi
terlebih dahulu. Pengelolaan yang dilakukan rutin di setiap akan
penanaman. Tidak ada variasi dalam pengolahan tanah karena pola
tanam yang dilakukan adalah monokultur. Untuk pengolahan tanah
memperkerjakan 2 buruh tani dan 1 buah traktor. Harga sewa buruh
perorang 35.000/hari 40.000/hari dan mendapat fasilitas makan,
minum dan rokok.
Untuk pengelolaan tanah kelompok 3 menggunakan alat yang
sama dengan kelompok 1 dan kelompok 2, yaitu alat yang digunakan
saat pengolahan tanah adalah alat pembajak dan cangkul. Pembajakan
dilakukan dua kali sebelum penanaman. Pembajakan dilakukan hingga
struktur tanah halus atau remah. Pengolahan dilakukan 3 hari sebelum
penanaman. Pengolahan tanah dilakukan untuk menggemburkan tanah,
meratakan tanah, dan dilakukan pada kondisi tanah yang basah. Cara

20

pengolahan tanah dilakukan secara rutin saat sebelum tanam.


Pengolahan tanah dilanjutkan dengan pemberian pupuk dasar. Pupuk
yang digunakan adalah pupuk fosfat alami dan pupuk bioorganik.
Pupuk diberikan dalam bentuk campuran antara keduanya. Pupuk
disebar secara merata dilahan secara manual atau dengan tangan.
c. Penanaman
Penanaman padi yang dilakukan oleh kelompok 1 antara lain
yaitu, penanaman dilakukan mulai dari pagi hingga siang hari. Jarak
tanam padi 2020 cm. Penjarakan dengan bamboo ukuran 3 m. Pada
bamboo tersebut diberi penandaan jarak, yaitu 20 cm. Penjarakan juga
menggunakan tambang yang dibentangkan dan telah di beri penandaan
jarak 20 cm. Bibit padi yang ditanam tiap lubang 5-7 tanaman. Saat
penanaman akar tanaman padi tidak boleh melengkung, jadi harus
tegak agar pertumbuhannya maksimal.
Penanaman dibantu oleh buruh tani. Buruh tani yang melakukan
penanaman adalah ibu ibu. Biasanya terdiri dari 10 14 orang.
Apabila luas lahan 6000 m dikerjakan oleh 14 orang. Biaya yang
dikeluarkan untuk 6000 m kurang lebih Rp. 450.000,00 rupiah tanpa
konsumsi dan Rp. 400.000,00 rupiah dengan konsumsi. Lahan yang
kami jadikan praktikum luasnya 2000m. Sistem tanamnya monokultur.
Kelompok 2 cara penanaman yang dilakukan yaitu benih
disemaikan ketempat persemaian, baru setelah umur bibit 22-25 hari.
Jika bibit ditanam di bawah umur 20 mudah di makan keong. Jika
lebih dari 25 hari, jumlah gabah permalai lebih sedikit. Semakin tua
umur bibit jumlah gabah permalai semakin sedikit. Bibit dipindahkan
ke lahan. Pemindahan atau penanaman ditanam dalam 1 lahan secara
bersama-sama dengan barisan yang diatur dengan sedemikian rupa
sesuai dengan pola yang diterapkan. Jarak tanam yang digunakan yaitu
25x25 cm. untuk menetukan jarak benih perbaris menggunakan tali
dengan

jarak

25

cm

antar

iktan

tali

yang

ditarik

lurus

kebelakang.setiap ikatan tali ditanam benih untuk sebagai patokan

21

jarak antar benih perbaris, selain itu agar benih yang ditanam lurus.
Setelah itu benih ditanamn percolom dengan alat bantu berupa bamboo
yang sisi sampingnya dicoak dengan jarak 25 cm untuk penanaman
benih percolom. Untuk penanaman menggunakan tenaga buruh tani
wanita sebanyak 7 orang.
Cara penanaman yang dilakukan pada kelompok 3 adalah dengan
metode legowo. Metode legowo dilakukan dengan memberikan jarak
tanam tiap baris tanaman yang cukup lebar, yaitu 40 cm. Jarak tanam
antar tanaman diberlakukan dengan jarak 15 cm x 15 cm. Bahan tanam
didapat dari hasil panen sebelumnya. Cara penanaman tersebut
berfungsi untuk mengefektifkan penyinaran matahari pada tanaman.
Adanya jarak yang lebar antar baris tanaman juga mempermudah
apabila petani hendak melakukan pemeliharaan seperti pemupukan.
Dalam satu baris tanaman terdapat sekitar sepuluh tanaman padi.
Pola tanam yang dilakukan oleh petani adalah monokultur, yaitu
pola tanam dengan satu jenis tanaman tanpa adanya tanaman lain.
Pola tanam monokultur ini sudah cukup lama diterapkan oleh petani
dan dilakukan penanaman sebanyak 3 kali atau 3 kali masa tanam
selama 1 tahun. Petani lebih memilih menanam padi dalam 3 kali masa
tanam karena memandang analisis kebutuhan sehari-hari dan resiko
lain apabila mananam tanaman selain padi.
d. Pemeliharaan
Pengamatan mengenai pemeliharaan bertujuan agar mahasiswa
mengenal serta mempelajari cara-cara monitoring budidaya tanaman.
Selain itu bertujuan agar mahasiswa dapat melakukan tindakan
memelihara atau menjaga bahkan memanipulasi lingkungan dan
tanaman sesuai dengan kebutuhannya. Pemeliharaan padi untuk
kelompok 1 meliputi :
1) Penyiangan Gulma
Untuk mencegah dan mengurangi gulma yang ada di lahan
budidaya padi, petani menggunakan landak. Biasanya dilakukan

22

satu minggu sekali. Pada landak terdapat bagian yang runcing yang
berfungsi

untuk

mencabut

gulma

rumput-rumputan

serta

memotong akar padi sehingga akar akan tumbuh lebih banyak dan
pertumbuhan padi baik. Apabila gulma sedikit penyiangan hanya
dilakukan satu arah saja, tapi bila gulma banyak maka secara 2
arah berlawanan.
Prinsip kerja landak landak, bila didorong ke depan akan
mencengkram rumput. Kemudian ditarik lagi maka akan mencabut
rumput. Setelah itu didorong kedepan dan belakang lagi untuk
membenamkannya. Rumput yang telah tercabut dan dibenamkan
menjadi pupuk organik.
2) Pengendalian Hama Penyakit
Hama yang biasanya menyerang yaitu wereng dan sundep.
Gejala yang ditimbulkan seperti daun mongering. Hama sundep
menyerang pada batang. Hama tersebut menyebabkan gejala sakit
pada

tanaman.

Obat

yang

biasanya

digunakan

untuk

mengendalikan hama wereng adalah diaploid dan tribond dalam


bentuk cair untuk pengendalian hama sundep. Untuk diaploid yang
berbentuk bubuk, sebelum dilakukan penyemprotan terlebih dahulu
dicairkan memakai air selokan di dekat lahan. Penyemprotan
tergantung cuaca, kadang 3 hari sekali, 1 minggu sekali, atau 10
hari sekali. Pengobatan dengan tribond juga dilakukan dengan
penyemprotan. Pengobatan dilakukan 3 kali dalam 1 minggu.
3) Pemupukan
Pemupukan awal bertujuan untuk membuat tanaman cepat
tumbuh dan memiliki ketahanan. Pemupukan dilakukan 2 kali
dalam 1 musim tanam. Pemupukan pertama kira-kira 18 HST dan
kedua pada 28-30 HST. Pupuk yang digunakan adalah urea dan
ZA. Pemupukan dilakukan dengan menabur pupuk, sebelum
ditabur pupuk urea dan ZA dicampur dengan furadan. Untuk lahan
seluas 1500 m2 diperlukan pupuk urea 10 kg, ZA 40 kg dan furadan

23

2 kg. Pemupukan tidak dilakukan pagi hari karena pagi hari ada
embun sehingga pupuk akan menempel atau lengket pada tanaman.
Pemupukan yang ideal dilakukan setelah embun jatuh ke tanah.
Pada

lahan

praktikum

dilakukan

pemupukan

pada

pukul

10.00-11.00 WIB.
4) Pengairan
Pengairan tanaman padi dilakukan tergantung cuaca. Saat
cuaca buruk tidak dilakukan pengairan, tapi saat cuaca baik
pengairan dilakukan tiap 3 hari sekali. Apabila cuaca buruk dan
diairi maka hama wereng cepat menyerang tanaman padi. Air
untuk pengairan diambil dari air selokan, dekat lahan yang diberi
lubang dan ditutup rumput. Apabila akan dilakukan pengairam,
tutup dibuka selama 1 jam kemudian ditutup lagi.
Kelompok

tindakan

pemeliharaan

meliputi,

Pengairan

dilakukan sebanyak 3 hari sekali sampai waktu dilakukan penyiangan,


waktu penyiangan 7 hari setelah tanam, selanjutnya dilakukan 1
minggu sekali sampai panen. Pengairan dilakukan tergantung musim,
jika banyak terjadi hujan makan pengairan dikurangi. Tujuan
pengairan agar tanahnya remah dan gulma tidak tumbuh. Dalam
pengairan menggunakan mesim pompa, lama pengairan dilakukan
sekitar 3-4 jam dan menghabiskan bensin kisaran 2 liter. Pemupukan
dilakukan pada umur 7 hst, 20 HST, dan 35 HST. Pada 7 hst hanya
diberikan pupuk urea sebanyak 100 kg. pada 20 hst diberikan pupuk
ZA 50 kg, ponska 50 kg, dan urea 50 kg. pada umur 35 hst diberikan
pupuk urea 200 kg, ZA 100 kg, dan ponska 150 kg. Cara pemupukan
yang dilakukan dengan cara disebar. Penyemprotan dilakukan
tergantung banyaknya hama. Apabila hama banyak dilakukan
penyemprotan

2x

seminggu,

jika

hama

sedikit

dilakukan

penyemprotan 1x seminggu. Pestisida yang digunakan yaitu arrivo 30


EC, Fenval 200 EC, dan insektisida stuntman 500 SL. Stuntman untuk
hama wereng, penggerek batang. Femval dan arrivo untuk ulat grayak,

24

penghisap daun, belalang. Jenis hama yang menyerang yaitu wereng,


ulat, belalang, keong. Jenis penyakit yang menyerang, karena serangan
wereng coklat dan wereng hijau. Tanda banyaknya wereng dapat
dilihat jika terdapat banyak burung sriti maka banyak hama wereng
yang menyerang.
Kelompok 3 kegiatan pemeliharaan dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
1) Pemupukan
Pemupukan dilakukan setelah padi ditanam lebih kurang
7 hari setelah tanam. Pupuk yang diberikan adalah NPK dari jenis
Phonska dengan dosis 150 kg/ 3000 meter2. Petani pemilik lahan
ini memilih untuk tidak terlalu tergantung pada pupuk kimia,
sehingga bila dibandingkan dengan lahan yang lain pemberian
pupuk kimia pada lahan ini terbilang sedikit. Pemupukan dilakukan
dengan menyebarnya langsung ke lahan. Selanjutnya pemupukan
kedua dilakukan setelah penyiangan dengan dosis yang lebih
rendah 50 kg/ 3000 meter2.
2) Pengairan
Pengairan atau irigasi dilakukan untuk mencukupi kebutuhan
air pada lahan. Pada 7 hari setelah tanam apabila kondisi air tidak
mencukupi maka harus dilakukan pengairan menggunakan pompa
air. Sumber air yang digunakan berasal dari sebuah sumur yang
berada di daerah tersebut.
3) Pengendalian OPT
Tanaman padi setelah berumur 20 hari perlu dilakukan
penyiangan. Alat yang digunakan adalah soroh, untuk pembersihan
rumput sehingga tanaman budidaya dapat tumbuh dengan baik.
Padi yang berumur 30-50 hari dilakukan penyiangan lagi bila ada
rumput atau tanaman pengganggu lain. Penyiangan gulma
dilakukan petani dari pagi sampai siang hari sesuai luas lahan,
hingga lahan bebas dari gulma (tercabut hingga akar) dan tanah

25

sekitar tanaman menjadi lebih gembur. Gulma bisa juga dijadikan


pupuk dengan cara membenamkannya langsung ke tanah.
Penyiangan dengan 2 arah berlawanan dilakukan apabila kondisi
tanah ditumbuhi banyak gulma.
Pengendalian terhadap hama juga perlu dilakukan, hama
yang sering menyerang tanaman pada pada lahan ini seperti
wereng, belalang, dan keong mas. Pengendalian yang dilakukan
dengan penyemprotan menggunakan pestisida. Dosis yang
digunakan sekitar 1-5 militer untuk 15 liter air. Untuk pengendalian
keong mas cukup dengan cara mengambil keong mas dari lahan.
Dalam

pengendalian

hama

penyakit,

petani

melakukan

penyemprotan pestisida hanya apabila kemunculan hama dalam


jumlah yang banyak. Jadi tidak dilakukan secara rutin.
e. Pemanenan
Pemanenan

yang

dilakukan

pada

kelompok

dengan

menggunakan bantuan alat sabit dan mesin tresser panen dilakukan


apabila padi sudah berumur 96 hari, warna gabah kehijauan dan padi
telah menguning. Saat proses pemanenan biasanya dilakukan secara
borongan untuk satu lahan sekitar 6-12 orang. Padi yang siap untuk
dipanen, dipotong terlebih dahulu menggunakan sabit, kemudian
diikat. Setelah terkumpul semua padi yang diikat siap untuk
dimasukkan ke dalam mesin tresser. Hasil yang diperoleh dari luas
lahan 6000 m2 sekitar 4-4,5 ton. Sedangkan petani kami yang memiliki
lahan 1500 m2 hasil yang diperoleh sekitar 1-1,3 ton. Kemudian hasil
panen tersebut dibawa kerumah dengan menggunakan transportasi
sepeda motor.
Kelompok 2 panen dilakukan jika padi sudah menguning dan
umur padi sudah siap untuk panen. Umur padi siap panen pada tiap
musim berbeda. Pada musim kemarau padi siap dipanen pada umur
80 hari sedangkan pada musim penghujan padi siap dipanen pada umur
90 hari. Panen dilakukan oleh penebas dengan system borongan. Alat

26

yang digunakan adalah sabit dan treser. Jumlah orang dalam penebas
sebanyak 16 orang. Alasan memilih system borongan yaitu lebih
menguntungkan alat dan tenaga kerja karena transportasi mahal.
Pada kelompok 3, pemanenan padi dilakukan 3 kali setiap tahun
sesuai dengan 3 kali masa tanam. Umur panen tanaman padi adalah
100 hari setelah tanam. Tahap pertama dalam pemanenan adalah
memotong atau menebasnya, alat yang digunakan adalah sabit. Setelah
itu padi di masukkan kea lat threser untuk mmisahkan gabah dengan
jeraminya. Pemanenan dilakukan sejak pagi hari dan selesai sesuai
dengan luas lahannya, pada lahan petani ini biasanya sampai sore hari
pemanenannya. Kriteria padi yang siap untuk dipanen adalah paling
tidak umurnya 100 hari setelah tanam. Semua bulir sudah berisi dan
tanaman sudah mulai menguning. kriteria tersebut bisa disebut setelah
biji masuk masak fisiologis. Pemanenan pada lahan ini biasanya
menggunakan tenaga kerja dari masyarakat sekitar.
f. Pengolahan Pascapanen
Kegiatan pengelolaan pasca panen yang dilakukan meliputi
penjemuran gabah dengan tujuan untuk memperoleh gabah dengan
tujuan untuk memperoleh gabah kering yang tahan untuk disimpan dan
memenuhi kebutuhan gabah yang akan dipasarkan. Pengolahan pasca
panen untuk kelompok 1, biasanya penjemuran memerlukan waktu 2-3
hari, alat yang digunakan untuk penjemuran gabah ini yaitu sorok.
Pengelolaan pasca panen setelah penjemuran gabah yaitu penggilingan
padi. Tempat untuk penggiliingan padi biasa disebut dengan
selepan.Biasanya proses penggilingan ini membutuhkan waktu sekitar
1 jam dan dilakukan kurang lebih 2 orang. Kemudian setelah proses
penggilingan, diperoleh hasil yang dinamakan dengan beras. Setelah
itu, beras disimpan dalam karung putih. Hasilnya langsung dijual
kepada tengkulak. Harga penjualan beras dengan tengkulak sekitar Rp.
6500,00/kg.

27

Kelompok 2 tidak ada kegiatan pengolahan pasca panen karena,


panen dilakukan oleh penebas dengan sistem borongan. Sedangkan
pada kelompok 3 kegiatan pengolahan pasca panen dilakukan dengan
cara, biasanya padi yang telah dipanen kemudian diangkut ke rumah
dan keesokkan harinya dijemur dengan lama 1-2 hari, tergantung pada
cuacanya juga. Selama proses pengeringan/penjemuran padi diratakan
dengan alat sorok kemudian dibalik supaya keringnya merata. Padi
yang sudah kering kemudian dimasukkan ke karung goni lalu
disimpan. Apabila ingin dijual maka padi digiling terlebih dahulu. Bila
ingin disimpan dalam jangka lama antara 5-10 bulan padi tidak perlu
digiling, cukup disimpan dalam bentuk gabah untuk menghindari
kerusakan akibat serangan kutu dan faktor luar yang lain.
2. Komoditas Jagung
a. Bahan Tanam
Bapak Wito, petani kelompok 4 menggunakan jagung jenis Jagung
Hibrida Bisi 2 sebagai bahan tanamnya di lahan seluas 5000 m 2. Beliau
membelinya di toko benih dan pupuk yang terletak di dekat lahannya
yang berjarak sekitar 1 km. Benih hibrida yang beliau ketahui sebagai
benih yang unggul, tanpa pengujian dan perlakuan pun langsung beliau
tanam di lahan. Pak Wito pernah menggunakan benih yang disarankan
oleh pemerintah Karanganyar, namun beliau kembali menggunakan
Jagung Hibrida karena hanya Jagung Hibrida yang cocok ditanam di
lahan beliau. Jarak tanam yang digunakan 20 x 25 cm dengan
meletakkan benih tanpa adanya persemaian.
b. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah yang dilakukan Bapak Wito dengan alat
sederhana berupa cangkul. Pengolahan tanah dilakukan satu kali dan
dimulai ketika lahan sudah dibersihkan dari gulma. Gulma yang tumbuh
disekitar areal tanam dibersihkan, kemudian tanah diolah dengan cara
dicangkul setelah gulma dibakar. Pupuk urea juga ditambahkan saat
pengolahan tanah. Pengolahan tanah bertujuan untuk membantu dalam

28

hal penggemburan dan menyuburkan tanah. Pengolahan tanah


dilakukan ketika tanah dalam kondisi kering, tetapi kandungan airnya
masih tersedia. Pemberikan air bisa dilakukan apabila keadaan tanah
terlalu kering, namun jangan terlalu banyak untuk mempermudah dalam
pengolahan. Cara pengolahan tersebut dilakukan secara rutin setiap
akan memulai penanaman karena bertujuan untuk membersihkan gulam
dan membuat tanah menjadi lebih gembur.
c. Penanaman
Bahan tanam yang digunakan adalah biji dari benih Jagung
Hibrida. Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang pada tanah
dengan jarak tanam 20 x 25 cm, kemudian memasukkan biji ke lubang
tersebut. Penanaman dilakukan ketika turun hujan agar efisien dalam
pemberian air karena jagung menghendaki ditanam pada kondisi tanah
yang lembab. Jika tidak ada hujan, maka biji langsung ditanam setelah
pengolahan tanah. Pupuk Ponska dan Mess diberikan sebanyak kg
pada saat penanaman. Pola tanam yang diterapkan berupa monokultur
dengan pergiliran tanam padi, padi, jagung dan bero.
d. Pemeliharaan
Pemupukan dilakukan sebanyak tiga kali dengan jarak 2,5 bulan.
Belum genap 2,5 bulan dari awal penanaman, pupuk kembali diberikan
karena pada saat penanaman terjadi hujan deras sehingga pupuk yang
diberikan tidak bisa terserap tanaman dan hilang oleh aliran air.
Sebelum dilakukan pemupukan, lahan disiangi agar gulma berkurang
dan pemupukan bisa optimal. Penyiangan dilakukan saat pertumbuhan
gula dirasa terlalu banyak.
Lahan jagung ini tanahnya keras saat dilakukan penyiangan dengan
cangkul. Hujan yang tidak turun beberapa hari membuat tanah tersebut
menjadi keras. Hujan yang tidak turun beberapa hari membuat beberapa
lahan petani menjadi kering. Beberapa petani mengusahakan pengairan
dengan membuat parit di tepi lahan mereka dan mengalirkan air sungai
ke lahan mereka. Lahan Pak Wito yang terletak paling ujung pun

29

mendapatkan jatah air yang terakhir. Tanah yang dekat dengan aliran
irigasi lebih basah dan lengket di cangkul saat dilakukan penyiangan.
Cangkul digunakan karena lebih mudah dalam pembalikan tanah dan
gulma.
Setelah dilakukan penyiangan, gulma dibiarkan saja disekitar
tanaman. Hal ini dilakukan agar seresah dari gulma bisa dimanfaatkan
lagi sebagai pupuk hijau karena seresah ini ditimbun kembali ke tanah
dan akan terdekomposisi walau waktu yang diperlukan relatif lama.
Selain penggunaan pupuk hijau dari seresah gulma, pupuk yang
diberikan oleh Pak Wito berupa pupuk Ponska, Mess dan Urea dengan
dosis masing-masing kg.
Hama yang terlihat pada saat tanaman jagung berumur 1 bulan
yaitu belalang yang memakan daun. Jagung yang berusia 2,5 bulan
terlihat hama kepik, ulat dan walang sangit. Walang sangit yang berada
di jagung mungkin berasal dari lahan padi di dekat lahan jagung Pak
Wito. Cara pengendaliannya berupa penggunaan pestisida. Seharusnya
tidak langsung menggunakan pestisida untuk pengendalian hama.
Namun, lahan yang terlalu luas dan tidak ada anggota keluarga yang
membantu serta terlalu seringnya penggunaan pestisida, maka beliau
langsung menggunakannya melihat manfaat penggunaan pestisida yang
mampu langsung membasmi hama tersebut.
e. Pemanenan
Pemanenan jagung dilakukan beberapa dalam satu masa tanam,
tergantung dari jagung yang sudah kering dan siap panen. Pemanenan
dilakukan ketika tanaman jagung sudah mulai menguning dan
mengering. Kriteria tersebut digunakan karena lebih hemat tenaga dan
waktu karena proses penjemuran menjadi lebih cepat. Pemanenan
dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan. Panen dilakukan
sendiri oleh Pak Wito dan terkadang dibantu oleh istri. Jagung
dikumpulkan sementara di sekitar lahan sebelum diangkut ke rumah
beliau untuk selanjutnya dilakukan pemipilan.

30

f. Pasca Panen
Jagung yang telah dipanen dikupas dan dijemur sampai kering.
Pengeringan jagung dilakukan dengan cara menjemurnya dibawah terik
matahari dan beralaskan terpal. Jagung yang sudah kering kemudian
dipipil. Total hasil pipilan jagung unutk lahan seluas 5000m2 sebanyak
16 kwintal. Jagung pipilan ditawarkan ke peternakan unutk dijadikan
pakan. Biasanya beliau yang mendatangi peternakan tersebut untuk
menawarkan jagung pipilannya. Jagung pipilan ini hanya dijual ke
peternakan tersebut (langganan) dan harga yang diberikan oleh
peternakan yaitu Rp.3000/kg.
3. Komoditas Kacang Tanah
a. Bahan Tanam
Kacang tanah merupakan tanaman semusim yang banyak
dibudidayakan oleh petani. Selain untuk dibudidayakan secara khusus,
tanaman kacang tanah juga sering digunakan sebagai tanaman penutup
tanah. Kacang tanah mempunyai masa hidup selama 3-4 bulan
tergantung pada jenis varietas yang digunakan. Kacang tanah biasanya
ditanam di lahan kering pada awal atau akhir musim kemarau, dengan
cara tanam tunggal atau tumpang sari dengan jagung atau ubi kayu.
Budidaya kacang tanah umumnya menggunakan teknologi sederhana
(rendah pupuk dan pestisida).
Pengamatan tanaman semusim, kacang tanah yang dilakukan oleh
kelompok 6 di lahan milik Bapak Darso Gimin, di Desa Sukosari,
Kelurahan Sukosari, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.
Luas lahan 2000m2 dengan varietas kacang brol. Bahan tanam yang
digunakan pada menggunakan biji yang diperoleh dari hasil panen
sebelumnya. Sebelum dilakukan penanaman biji tersebut tidak melewati
pengujian. Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan biji yang
digunakan sebagai benih adalah biji yang seragam, warna merah
kecoklatan, dan ukurannya normal (tidak kecil atau tidak besar).

31

Pengamatan budidaya tanaman semusim yang dilakukan oleh


kelompok 8 adalah budidaya dengan komoditas kacang tanah dengan
nama petani Bapak Surosoyang memiliki lokasi lahan di Desa Daleman,
Karanganyar. Benih untuk budidaya kacang tanah berasal dari
pertanaman musim sebelumnya, sehingga dengan hal ini telah tampak
bahwa varietas yang di gunakan bukan varietas unggul yang
bersertifikat melainkan varietas biasa ujar petani tersebut. Pak Suroso
tidak melakukan pengujian benih, jadi benih yang telah di simpan dari
pertanaman sebelumya kemudian di kupas dan langsung di tanam ke
area lahan pertanaman hal tersebut karena kondisi air pada lahan cukup
untuk perkecambahan. Benih yang di butuhkan relatif sedikit karena
luasan lahan yang hanya 400 m2 . Benih yang dibutuhkan sekitar 4 kg
untuk luasan lahan dengan asumsi perbandingan pada luasan 2.000 m2
menggunakan 20 kg benih kacang tanah. Varietas yang digunakan ialah
varietas cina dengan isi 3-4 per polong. Umur bibit beragam apabila
musim penghujan 100 hari dan musim kemarau berumur 90 hari. Dalam
persiapan bahan tanam pak Suroso tidak merendam biji melainkan
langsung menanamnya hal ini berakibat tanaman muda mudah mati,
ujar beliau.
b. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah merupakan proses untuk mengolah tanah supaya
sesuai dengan kondisi yang diinginkan oleh tanaman. Lahan Bapak
Darso pengelolaan lahan yang dilakukan dengan metode minimum
tillage, yaitu di cangkul. supaya gulma terbalik kedalam tanah dan
dapat teruraikan. Salah satu yang terpenting dalam pengolahan tanah
adalah saluran irigasi, supaya pada saat terjadi hujan air tidak
menggenangi lahan karena kacang tanah sangat tidak tahan terhadap
kondisi tergenang. Tanah yang dibalik berfungsi supaya unsur hara yang
berada dibawah bisa berada dipermukaan tanah sehingga menambah
ketersediaan nutrisi tanaman

32

Proses pengolahan lahan Bapak Suroso menggunakan traktor


kemudian dibuat bedengan-bedengan. Sistem bedengan ini menurut
Bapak Suroso akan memudahkan dalam pemeliharaan serta sulit
terkena banjir atau genangan karena musim saat ini tergolong musim
hujan. Selain itu sistem bedengan juga mempermudah dalam
pemeliharaan seperti penyemprotan, penyiangan dan pemupukan.Proses
pembajakan dilakukan 2 kali karena kondisi tanahnya kering dan padat.
Beliau memulai pengolahan lahan pada tanggal 25 januari 2012, selang
10 hari berikutnya dimulai masa tanam.
Pengolahan tanah hanya dilakukan sekali saat penanaman.
Pengolahan tanah dilakukan saat setelah panen pada tanaman
sebelumnya karena petani menginginkan penanaman kembali dan lahan
tidak dibiarkan kosong terlalu lama. Pada penanaman kacang tanah,
lahan yang cocok adalah pada lahan kering.
c. Penanaman
Penanaman pada lahan kacang tanah dilakukan setelah tanah
diolah. Penanaman pada lahan kelompok 6 dan 7 dengan sistem
monokultur. Penanaman dilakukan secara manual yaitu dengan tenaga
manusia dengan memperhatikan jenis tanaman, jarak tanam, dan
lainnya. jarak tanam yang sesuai diharapkan tanaman mampu
berproduksi secara maksimal. Akan tetapi apabila jarak tanam tidak
diperhatikan bukan tak mungkin terjadi kompetisi dalam penyerapan
unsur hara, pencahayaan mendapatkan suplai air dan sesagainya.
Penanaman kacang tanah dengan membuat lubang dalamnya sekitar 5
cm mengguakan tugal. Jarak tanam yang ideal yaitu 20 x 20. Untuk
setiap lubang ditanam 1 benih.Jarak tanam yang dilakukan adalah 20
cm, sehingga cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman
kacang tanah. Penanaman dilakukan dengan cara membuat alur setiap
baris yang kemudian disebar benih kacang tanah satu per satu setiap 20
cm. Setelah itu alur tersebut ditutup kembali dengan tanah. Saat
penanaman juga sekalian diberi pupuk.
d. Pemeliharaan

33

Pemeliharaan pada tanaman kacang tanah disini tidak begitu


rumit. Setelah beberapa hari setelah tanam, dilakukan penyiangan jika
terdapat banyak gulma. Pemeliharaan tidak dilakukan secara intensif.
Pemeliharaan lahan pada kelompok 6 dan 7 pada umumnya sama.
Beberapa pemeliharan tanaman kacang tanah, antara lain :
1)
Pengairan
Pengairan dilakukan dengan memanfaatkan air dari sungai
yang berada disekitar lahannya. Untuk mengairi lahannya beliau
mamakai pompa air. Pengairannya dilakukan selama 5 kali dalam
satu musim tanam yaitu saat awal penanaman, saat umur 15 hari,
40 hari, 60 hari dan 70 hari untuk menunjang pembungaan dan
terbentukn ya polong. Selain menggunakan pompa air penyiraman
dibantu oleh adanya hujan.
2)
Pemupukan
Pemupukan dimulai pada awal pertanaman menggunakan
pupuk dasar berupa pupuk kimia yaitu pupuk phonska dan SP36
dengan dosis 20 kg, dengan rincian 15 kg pupuk phonska dan 5 kg
pupuk SP36 dengan cara disebar. Waktu pemupukan kedua
dilakukan sekitar 25-30 hari setelah tanam dengan dosis yang
sama. Pak Suroso tidak menggunakan pupuk daun karena harga
yang mahal.
3)
Penyiangan dan Pendangiran
Penyiangan ini bertujuan untuk mencabut atau menghilangkan
gulma yang mengganggu tanaman pokok. Gulma pada lahan ini
kebanyakan rumput berdaun sempit. Penyiangan dilakukan pada
umur 25-30 HST. Sementara untuk pendangiran bertujuan untuk
memperkokoh batang utama. Pendangiran dilakukan sebelum
tanaman berbunga tujuannya untuk memaksimalkan pembuahan.
Apabila pendangiran dilakukan ketika tanaman berbunga hal ini
justru akan mengahmbat pembentukan buah dan merusak
perakaran. Pendangiran dilakukan bersamaan sekaligus dengan
penyiangan, jadi selain menggemburkan tanah juga menyiangi
rumput. Beliau menggunakan alat pendangiran yaitu pecok.

34

4)

Penyemprotan hama
Hama pada pertanaman kacang tanah tersebut tergolong
banyak, terutama dai spesies belalang dan ulat. Pada lahan kacang
tanah terdapat penyakit bercak daun yang disebabkan oleh virus
dan hanya sedikit yang terjangkit. Petani tidak melakukan
pengendalian apa apa karena hanya sedikit yang terjangkit.
Untuk pemberantasannya beliau menggunakan insektisida
bernama Vinpal. Penyemprotan dilakukan pada pagi hari sebelum
muncul matahari karena menurut beliau pada waktu ini belalang
atau hama yang ada belum aktif untuk mencari makan, artinya
hama belum pergi dari daerah pertanaman atau memakan daun
kacang tanah. Sehingga cara ini dinilai cukup efektif. Dosis
insektisida dalam sekali penyemprotan yaitu 2 tutup botol yang
dicampur dengan air untuk lahan seluas 400 m2. Penyemprotan
dilakukan sebanyak 2 kali selama musim tanam, yaitu pada 45
HST dan 55 HST.

e. Pemanenan

Pemanenan dilakukan setelah tanam kacang tanah masak secara


fisiologis. Dicirikan dengan tanaman yang sudah tidak tumbuh atau
bertambah tinggilagi, serta apabila diambil sampel tanaman kacang
tanah, seluruh kacang telah terisi dan tidak kosong. Lahan milihk
Bapak Darso dan Bapak Suroso biasanya setelah umur 90 hari atau
sekitar 3 bulan lebih 10 hari. Pemanenan dilakukan dengan cara
mengambil tanaman dan dipotong setengah bagian yang bawah yang
ada kacangnya kemudian memisahkan tanaman dengan polongnya
dengan cara dipipili. Sisa tanamannya dapat digunakan sebagai bahan
kompos atau pakan ternak dan sedikitnya dikembalikan ke tanah
sekitar 10%. Pada lahan pengamatan kelompok 6 pemanenan
dilakukan secara tebas, sedangkan kelompok 7 dengan tenaga kerja
keluarga. Hasil panen dari luasan 400 m2 yaitu 300 Kg.
f. Pasca Panen
Lahan milik Bapak Suroso pengelolaan pasca telah dialihkan hak
miliknya oleh penebas. Perlakuan pasca panen lahan milik Bapak

35

Darso dijual ke pasar. Namun tidak semua di jual perlu menyisakan


untuk bahan tanam selanjutnya. Sebelum dijual kepasar kacang tanah
di angin-anginkan supaya kadar airnya berkurang dan tidak mudah
busuk atau terserang cendawan jamur.
Kegiatan pemasaran hasil produk yang ditawarkan kepada
tengkulak (penebas) yang datang sendiri untuk menawar atau membeli
hasil panen tersebut ke petani. Hubungan kemitraan antar petani
dengan penebas sudah terjadi di lama. Hal ini berakibat fluktuasi harga
yanag diterima tidak besar baik pada saat panen raya maupun panen
sedikit dan produknya tetap, mempunyai nilai yang tinggi serta tidak
berfluktuasi.
Penebas sendiri biasanya sudah menawar harga persatuan luas
dan memesan hasil panen petani pada jauh-jauh hari sebelum musim
panen tiba. Jika tanaman terlihat sehat dan mempunyai produktivitas
tinggi maka si penebas pun mematok harga tinggi pada petani dan, jika
seperti itu panen dilakukan oleh tenaga kerja yang sudah disewa
langsung

oleh

penebas.

Jika

petani

sudah

mempunya

hbungankemitraan dengan penebas, petani tidak terlalu susah untuk


memasarkan

hasil

produksinya.

Dan

harganya

juga

lebih

menguntungkan untuk kedua belah pihak. Kendala yang terjadi yaitu


jika ternyata waktu panen tanaman terjadi perubahan harga dan dapat
terjadi pembatalan perjanjian jual beli jika ternyata benar-benar petani
mengalami gagal panen. Untuk mengatasi hal tersebut biasanya petani
mencari penebas lain atau memanen hasil sendiri untuk dikonsumsi
atau dijual ke warung-warung kecil dalam bentuk polongan maupun
biji kacang tanah yang sudah kering.
Jika sudah terjadi perjanjian jual beli antar petani dengan penebas
maka tidak perlu dilakukannya kegiatan pasca panen. Mungkin hanya
perlu melakukan pengolahan tanah agar segera dapat digunakan untuk
penanaman tanaman budidaya berikutnya. Sedangkan jika petani
melakukan kegiatan panen sendiri, biasanya pasca panen langsung
dilakukan setelah atau sesudah kegiatan panen selesai. Penanganan

36

pasca panen yaitu pemipilan (pemrithilan) yaitu pemisahan polong


kacang tanah dan batangnya dengan menggunakan tangan. Kemudian
setelah itu dilakukan pengeringan dengan cara penjemuran di bawah
terisinar matahari sampai benar-benar kering.
Lalu dilakukan penyimpanan dalam bentuk polong kering dan
dimasukkan dalam gudang penyimpanan yang kering. Ada juga yang
melakukan penyimpanan dalam bentuk biji kering. Metodenya dengan
cara mengupas polong kacang tanah kering dengan menggunakan
tangan, lalu melakukan pengeringan kembali dan menyimpannya
dalam wadah yang tertutup untuk disimpan dalam waktu yang lama
atau dapat langsung dijual di pasaran.

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
a. Komoditas Padi
1) Pada kegiatan budidaya tanaman semusim komoditas padi yang kami
amati sudah memakai alat-alat yang modern dalam pengelolaan tanah
masih menggunakan cangkul dan traktor, untuk penanaman masih
menggunakan tenaga manusia dalam proses pengolahan awal hingga
pasca panen.

37

2) Proses budidaya tanaman semusim antara padi, jagung tidak terlalu


berbeda secara signifikan. Mulai dari pemilihan bahan tanam,
pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen.
3) Pada usaha pertanian (pembudidayaan) khusunya pada komoditas
padi, pengelolaan lahan sawah harus dilakukan sebaik mungkin agar
produktivitas tanaman dapat meningkat. Pengelolaan tanah yang
kurang baik dapat mengakibatkan penurunan kesuburan tanah dan
menjadikan lahan kurang produktif
4) Pada budidaya padi sebelum penanaman, dilakukan penyemaian
benih dan pembibitan hingga bibit padi berukuran 15-20 cm
kemudian ditanam pada lahan sawah yang sudah diolah.
b. Komoditas Jagung
1) Bahan tanam yang digunakan oleh petani adalah jenis Hibrida Bisi 2
yang berasal dari toko benih dan pupuk yang terletak di dekat
lahannya yang berjarak sekitar 1 km.
2) Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan alat sederhana
berupa cangkul. Pengolahan tanah dilakukan ketika tanah dalam
kondisi kering, tetapi kandungan airnya masih tersedia.
3) Pemeliharaan jagung meliputi pemupukan, penyiangan,

dan

pengendalian hama dan penyakit. Pupuk yang digunakan adalah


ponska, mess dan urea.
4) Pemanenan jagung dilakukan beberapa dalam satu masa tanam,
tergantung dari jagung yang sudah kering dan siap panen. Pemanenan
dilakukan ketika tanaman jagung sudah mulai menguning dan
mengering.
5) Kegiatan pasca panen meliputi pemipilan dan pengeringan tanaman
c. Komoditas Kacang Tanah
1) Benih yang digunakan tiap-tiap petani sama, petani pada kelompok 6
dan 7 dari hasil panen kacang sebelumnya karena dipetimbangkannya
biaya.
2) Kegiatan pengolahan tanah hanya dilakukan 1 kali dalam 1 musim
tanam yaitu ketika sebelum ditanami. Tujuan pengolahan tanah
tersebut adalah untuk memperbaiki struktur tanah dan membersihkan
gulma.
3) Pola tanam yang dilakukan semua monokultur.

38

4) Pemeliharaan yang dilakukan oleh kedua petani tersebut hampir


sama, tidak melakukan pemupukan pada saat pemeliharaan karena
pupuk dirasa cukup pada pemupukan dasar.
5) Pemanenan dilakukan pada umua 90-100 HST, dengan cara mencabut
tanaman dan polong kacang sambil dibersihkan sisa tanah yang masih
melekat.
6) Pada pasca panen hasil yang di dapatkan petani kelompok 6
diserahkan pada tengkulak, tetapi pada petani kelompok 7
menggunakan sebagian hasilnya untuk konsumsi dan sisanya dijual.
2. Saran
a. Kerjasama yang baik antara praktikan dengan coass agar kegiatan
praktikum dapat berjalan dengan lancar.
b. Sebaiknya, pelaksanaan praktikum ini lebih awal dilakukan, sehingga
mahasiswa bisa lebih mengetahui kegiatan petani dari mulai persiapan
lahan sampai kegiatan pasca panen secara utuh.

DAFTAR PUSTAKA

AAK, 2007. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Kanisius. Yogyakarta.


Colbourn, P, 2006. Denitrifikasion and Production in Pasteru Soil. University
N.Y Press. New York.
Djatnikan. 2000. Pengaruh Pestisida Organik Terhadap Pertumbuhan Jagung.
Bulletin Penelitian Tanaman Tahunan Vol. XII No. 26 1989.
Endrisal dan Sulistiya. 2004. Efisiensi penggunaan pupuk nitrogen dengan pupuk
organik pada tanaman padi sawah. Jurnal Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian vol 7 (2): 18-24.
Hyene, K. 2001. Tumbuhan Berguna Indonesia-I. Balai Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan Bogor.

39

Iriany, R.N. M. Yasin H.G. dan Andi Takdir M. 2007. Asal, sejarah, evolusi
dan Taksonomi Tanaman Jagung. Jagung. Pusat penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan.
Kasno, Astanto. 2004. Pencegahan Infeksi Aspergillus flavus Dan Kontaminasi
Aflatoksin Pada Kacang Tanah. Jurnal Litbang Pertanian, 23(3).
Kusmarwiyah, R., D. Indradewa dan Suyadi. 2006. Kajian Fisiologis Cekaman
Kekeringan pada Jagung Manis. Jurnal Agrosains 19 (3): 225-235.
Matsubayasi, Minoru. 2002. Theory and Practise of Growing Rice Plant. Fuji
Publishing. Tokyo.
Ngraho. 2007. Menanam Padi. http://ngraho.wordpress. com. Diakses pada
tanggal 20 Mei 2012.
Pane, Hamdan. 2004. Daya Saing Beberapa Vrietas Padi Gogo Rancah terhadap
Gulma di Lahan Sawah Tadah Hujan. Jurnal Penelitian Pertanian
Tanaman Pangan. 23 (1) : halaman.
Schiere, J.B. 2002. Limbah Pertanian: Potensi dan Faktor Pembatas dalam
Pemanfaatannya

sebagai

pakan

ruminansia.

Procedings

Bioconversion Project. Second Workshop on Crop Resoidues for


Feed and Other Purposes. Sub Balitnak. Pasuruan.
Semangun, H. 2004. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura Di Indonesia.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Soemartono, Bahrin S dan Harjono. 2002. Bercocok Tanam: Padi. Jakarta.
Yasaguna.
Suparman dan Abdurahman. 2003. Tehnik Pengujian Galur Kacang Tanah Toleran
Naungan di Bawah Tegakan Pohon Kelapa. Jurnal Tehnik Pertanian
Vol. 8 No. 2003.
Suriadikata. 2001. Bertanam Padi. Kanisius. Yogyakarta.
Syam, Amiruddin. 2003. Sistem Pengelolaan Lahan Kering Di Daerah Aliran
Sungai Bagian Hulu. UGM Press. Yogyakarta.
Wagner, J.E. 2000. The Antogonistic Potency of Several Fungus Species In
Cultivated Soil In Zea Mays. Tata McGraw-Hill Pub. Co., Limited. New
Delhi.

40

Wahyuningsih, E. 2008. Persaingan Teki Terhadap Produksi Tanaman Kacang


Tanah. www.adln.lib.unair.ac.id. Diakses tanggal 20 Mei 2012.
Warsana. 2009. Introduksi Teknologi Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah.
Tabloid Sinar Tani. Jakarta.
William. 2005. Aplication of Green Manure in Horticulture. Journal of The
Science of Food and Agriculture. Prentice Hall International Inc. London.

II. PENGAMATAN BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Berdasarkan siklus hidupnya, tumbuhan tahunan (perennial plants)
adalah

tumbuhan

yang

dapat

meneruskan

kehidupannya

setelah

bereproduksi atau menyelesaikan siklus hidupnya dalam jangka waktu


lebih daripada dua tahun. Untuk mengatasi tantangan lingkungan,
tumbuhan tahunan mengembangkan berbagai strategi untuk bertahan
hidup,

seperti

menggugurkan

daun,

mengubah

morfologi,

atau

menghasilkan senyawa tertentu yang membuat sel-selnya mampu bertahan


pada perubahan lingkungan yang ekstrem. Tanaman tahunan yang banyak
berkembang di Indonesia diantaranya karet, kakao dan kelapa sawit.
Komoditas kelapa sawit baik berupa bahan mentah maupun hasil
olahannya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa terbesar bagi

41

negara setelah karet dan kopi. Maka dari itu kelapa sawit adalah tanaman
penghasil minyak nabati yang dapat diandalkan, karena minyak yang
dihasilkan memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan minyak
yang dihasilkan oleh tanaman lain. Habitat aslinya kelapa sawit adalah
daerah semak belukar. Pola curah hujan tahunan mempengaruhi perilaku
pembungaan dan produksi buah sawit.
Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan Indonesia yang
telah memberikan sumbangan devisa bagi negara karena telah lama
menjadi komoditi ekspor Indonesia. Dalam kancah pasar dunia,
keberadaan Indonesia

sebagai

menunjukkan

kakao

bahwa

produsen

kakao

Indonesia cukup

utama

di

diperhitungkan

dunia
dan

berpeluang untuk menguasai pasar global. Dengan demikian, seiring


terus meningkatnya permintaan pasar terhadap kakao maka perlu
dilakukan usaha untuk meningkatkan ekspor dengan lebih meningkatkan
lagi produksi nasional.
Salah satu perkebunan di Indonesia yang menjadi andalan adalah
tanaman karet. Perkebunan karet memiliki
arti penting bagi pembangunan
42
perkebunan nasional. Selain mampu meningkatkan kesempatan kerja yang
mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pemerataan
pembangunan, pendayagunaan sumber daya alam dan pelestariannya juga
sebagai sumber perolehan devisa negara. Hasil utama dari pohon karet
adalah lateks yang dapat dijual atau diperdagangkan di masyarakat berupa
lateks segar, slab/koagulasi, ataupun sit asap/sit angin. Produksi lateks dari
tanaman karet disamping ditentukan oleh keadaan tanah dan pertumbuhan
tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi oleh teknik dan manajemen
penyadapan.
Dilakukannya praktikum ini maka mahasiswa bisa lebih mengetahui
bagaimana kondisi langsung tanaman tahunan seperti kelapa sawit, karet,
dan kakao di lapangan. Salah satunya

lebih mengerti tentang

pertumbuhannya dan pemeliharaannya. Praktek di lapang yang diperoleh


oleh mahasiswa diharapkan bisa diaplikasikan dalam kehidupan.
2. Tujuan Praktikum
a. Identifikasi Morfologi Kelapa Sawit

42

Mengetahui bagian-bagian dari tanaman kelapa sawit terutama


bagian atas yang meliputi batang tanaman, daun, dan buah kelapa
sawit.
b. Identifikasi Defisiensi Unsur Hara Tanaman Kelapa Sawit
Mahasiswa trampil melakukan identifikasi keharaan, sehingga
dapat melakukan tindakan secara tepat untuk mengatasi kekurangan
hara pada pertanaman kelapa sawit.
c. Perawatan Tanaman Kelapa sawit, Kakao, dan Karet
Mahasiswa trampil melakukan perawatan pada kebun tanaman
kelapa sawit, kakao, dan karet seperti pengendalian gulma, teknik
pemupukan, pemangkasan, dan lain-lain.

B. Tinjauan Pustaka
1. Komoditas Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis), berasal dari Afrika Barat.
Kelapa sawit cocok dikembangkan diluar darerah asalnya, termasuk di
Indonesia. Kelapa sawit telah menjadi komoditi subsektor perkebunan yang
memiliki peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Prospek usaha
yang tinggi, harga produk kompetitif, dan indsustri kelapa sawit yang
beragam dengan skala usaha yang fleksibel, telah menjadikan banyak
perusahaan dalam berbagai skala maupun petani yang berminat untuk
membangun industri kelapa sawit mulai dari kebun hingga hilir
(Sutandi, 2009).
Kelapa sawit termasuk tanaman monokotil maka batangnya tidak
memiliki kambium dan pada umumnya tidak bercabang. Batang kelapa
sawit tumbuh tegak lurus (phototropy) dibungkus oleh pelepah daun. Laju
pertumbuhan tinggi batang dipengaruhi oleh komposisi genetik dan
lingkungan. Tanaman kelapa sawit secara umum menghendaki lama
penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan
1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280 C. Ketinggian tempat yang
ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu
proses penyerbukan (Abdoellah, 2007).

43

Upaya pencegahan terhadap hama dan penyakit lebih baik dari upaya
pemberantasannya. Karenanya, perlakuan pemeliharaan tanaman harus
dilakukan

sebaik

mungkin.

Namun,

bila

terpaksa

melakukan

pemberantasan dan perlu menggunakan pestisida, maka dapat dipilih


pestisida yang sesuai dengan pengganggunya. Cukup banyak jenis hama
maupun penyakit yang biasa mengganggu tanaman kelapa sawit. Kelompok
hama yang mengganggu adalah belalang sexava (Sexava sp.), kumbang
badak (Oryctes rhinoceros), ulat artona (Artona catoxantha). Sedangkan
pengganggu dari kelompok penyakit diantaranya busukpucuk (bud rot),
bercak daun (gray leaf spot), dan busuk akar (root rot) (Soedono, 2006).
Pemupukan kelapa sawit dilakukan dengan membuat piringan 20 cm
dimulai dari lingkaran luar kanopi masuk ke dalam menuju titik pusat
lingkaran batang. Hal ini dilakukan sebab penyerapan unsur hara yang
optimal dilakukan oleh jaringan akar meristematik yang terletak bi bagian
luar lingkaran kanopi. Lebar piringan yang dibuat 20 cm karena untuk
memudahkan pembuatan alur yang melingkar kanopi sehingga pupuk dapat
dengan mudah ditempatkan dalam piringan yang dibuat. Hal ini dilakukan
untuk memudahkan dalam aplikasinya dan pupuk yang diberikan dapat
ditimbun dengan tanah lapisan atasnya sehingga pupuk tidak hilang melalui
penguapan atau terbawa air ke tempat lain. Kekurangan salah satu atau
beberapa unsur hara akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak
sebagaimana

mestinya

yaitu

ada

kelainan

atau

penyimpangan-

penyimpangan dan banyak pula tanaman yang mati muda yang sebelumnya
tampak layu dan mengering (Riwandi, 2005).
Setelah pembukaan areal lahan, langkah selanjunya adalah melakukan
pekerjaan penyiapan dan pengawetan tanah. Pekerjaan tersebut meliputi
pembukaan teras, pembentukan benteng, rorak, parit drainase dan
penanaman tanaman penutup. Pengawetan tersebut dimaksudkan untuk
mencegah

erosi,

mempermudah

pelaksanaan

panen,

memperbaiki

perbaikan air tanah, dan mengikan unsur N (Semangun, 2005).


Untuk mengurangi akibat buruk dari penyiraman dan erosi, maka
areal tersebut harus dilindungi dengan tanaman yang tidak merugikan

44

tanaman pokok. Tanaman tersebut disebut tanaman penutup tanah (cover


crop). Beberapa keuntungan tanaman penutup tanaman adalah melindungi
permukaan tanah dan mengurangi bahaya erosi, memperbaiaki sifat-sifat
kimia tanah dan menambah N pada lapisan

atas dengan cara fiksasi

nitrogen dari udara, membantu menyiapkan air di dalam tanah dan


memperkecil kehilangan unsur hara karena percucian, dan mengurangi
suhu tanah dan kelembabannya (Jones, 2012).
Konversi adalah pembukaan areal perkebunan kelapa sawit dari bekas
perkebunan tanaman lain (kelapa, karet, lada, teh atau kopi). Peremajaan
yaitu pembukaan areal perkebunan dari bekas perkebunan kelapa sawit
yang sudah tua atau tidak produktif lagi. Pembukaan areal perkebunan ini
lebih mudah dilakukan sebab jumlah pohon yang akan ditebang relative
sedikit dan dapat dikatakan seragam, jalan-jalan dan petak-petak kebun
juga sudah ada. Cara pembukaanya tergantung pada jenis tanaman asli dan
dapat dibuka dengan cara mekanis maupun khemis. Perlu diperhatikan,
bahwa

untukmengurangi

pembiakan

hama/penyakit

serta

untuk

mempercepat pembusukan, pokok-pokok pohon diracun dulu sebelum


ditebang

lalu

dikumpulkan

dan

dibersihkan

dari

lahan

(Setyamidjaja, 2011).
2. Komoditas Kakao
Kakao (Theobroma cacao) atau lazim pula disebut tanaman cokelat,
adalah penghasil bahan penyedap (penyegar), seperti halnya kopi dan teh.
Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam
dapat mencapai ketinggian 10 m. Bunga kakao, sebagaimana anggota
Sterculiaceae lainnya, tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). Bunga
sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3 cm) dan tunggal. Kakao
secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki sistem
inkompatibilitas sendiri (Winarsih et al., 2005).
Kakao dapat tumbuh sampai ketinggian 8-10 meter dari pangkal
batangnya pada permukaan tanah. Tanaman kakao punya kecenderungan
tumbuh lebih pendek bila tanaman tanpa pohon pelindung. Diawal
pertumbuhannya tanaman kakao yang diperbanyak melalui biji akan

45

menumbuhkan cabang-cabang primer. Letak cabang-cabang primer itu


tumbuh disebut jorguette, yang tingginya dari permukaan tanah 1-2 meter.
Ketinggian jorguette yang ideal adalah 1,2-1,5 meter agar tanaman dapat
menghasilkan tajuk yang baik dan seimbang (Basuki, 2008).
Bahan tanam kakao merupakan modal dasar untuk mencapai produksi
kakao yang tinggi. Kesalahan pemilihan dan penggunaan bahan tanam akan
mengakibatkan kerugian dalam jangka panjang. Karena itu, pemilihan
bahan tanam merupakan tindakan awal yang sangat penting dalam
budidaya kakao. Pemilihan dan penggunaan bahan tanam kakao unggul
perlu diikuti dengan tindakan kultur teknis yang baik. Tindakan teknis
meliputi pembibitan, perawatan tanaman di lapangan, dan penanganan
pascapanen sehingga usaha budidaya kakao membawa hasil yang optimal
dan memuaskan (Sunanto, 2007).
Pola tanam erat kaitannya dengan keoptimuman jumlah pohon per
hektar, keoptimuman peranan pohon pelindung, dan meminimumkan
kerugian yang timbul pada nilai kesuburan tanah, serta biaya pemeliharaan.
Ada empat pola tanam yang dianjurkan, yaitu :
a. Pola tanam cokelat segi empat, pohon pelindung segi empat.
b. Pola tanam cokelat segi empat, pohon pelindung segi tiga.
c. Pola tanam, cokelat berpagar ganda, pohon pelindung segi tiga.
d. Pola tanam cokelat berpagar ganda, pohon pelindung segi empat
(Soetomo, 2005).
Tanaman kakao yang ditanam di perkebunan pada umumnya adalah
kakao jenis Forastero (bulk cocoa atau kakao lindak), Criolo (fine cocoa
atau kakao mulia), dan hibrida (hasil persilangan antara jenis Forastero dan
Criolo). Pada perkebunanperkebunan besar biasanya kakao yang
dibudidayakan adalah jenis mulia. Trinitario adalah tipe tanaman kakao
hibrida hasil persilangan secara alami antara Criollo dengan Forestero,
karena itu tipe kakao ini sangat heterogen (Gardner et al., 2011).
Pengelolaan penaung yang baik akan memacu pertumbuhan pohon
kakao yang sehat dan memperbaiki hasilnya. Jumlah penaung yang terlalu
sedikit akan berakibat pohon kakao tidak sehat dan munculnya masalah
gulma. Jumlah penaung yang terlalu banyak akan meningkatkan masalah

46

hama dan penyakit. Keduanya mengakibatkan produksi kakao rendah


(Daniel, 2009).
3. Komoditas Karet
Tanaman karet berupa pohon, ketinggiannya dapat mencapai
30-40 meter. Sistem perakarannya padat/ kompak, akar tunggangnya dapat
menghunjam tanah hingga kedalaman 1-2 meter, sedangkan akar lateralnya
dapat menyebar sejauh 10 meter. Batangnya bulat/silindris kulit kayunya
halus, rata berwarna pucat hingga kecoklatan, sedikit bergabus. Daun
tanaman karet adalah trifoliata, tangkai daun panjang, serat daun tampak
jelas, kadar. Bunganya bergerombol muncul dari ketiak daun (axillary),
individu bunga bertangkai pendek, bunga betina terletak diujung. Karet
adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis
tumbuhan (Prabowo, 2007).
Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah
para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Beberapa tumbuhan
lain juga menghasilkan getah lateks dengan sifat yang sedikit berbeda dari
karet, seperti anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan
(misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta
dandelion. Pada masa Perang Dunia II, sumber-sumber ini dipakai untuk
mengisi kekosongan pasokan karet dari para. Sekarang, getah perca dipakai
dalam kedokteran (guttapercha), sedangkan lateks sawo manila biasa
dipakai untuk permen karet (chicle). Karet industri sekarang dapat
diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan
(Nair, 2006).
Indonesia memiliki 3 jenis perkebunan karet, yaitu Perkebunan
Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN), dan Perkebunan Besar
Swasta (PBS). Ketiga jenis perkebunan tersebut, PR mendominasi dari luas
lahan yang mencapai 2,84 juta hektar atau sekitar 85% dari lahan
perkebunan karet. Perkebunan besar diharapkan dapat menjalin program
kemitraan dengan petani agar nilai tambah dari pengelolaan perkebunan
rakyat dapat optimal diantaranya dengan kemitraan di bidang pemasaran,

47

pembinaan

produksi

hingga

pembiayaan

yang

berkesinambungan

(Parhusip, 2008).
Agribisnis karet alam di masa datang akan mempunyai prospek yang
makin cerah karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan
sumberdaya alam, kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya
industri polimer pengguna karet serta makin langka sumber-sumber minyak
bumi dan makin mahalnya harga minyak bumi sebagai bahan pembuatan
karet sintetis (Anwar, 2005).
Bahan tanam karet yang dibudidayakan saat ini merupakan klon asal
persilangan berbagai tetua terpilih yang kemudian diperbanyak dengan cara
okulasi. Masing-masing klon memiliki karakter agronomi yang berbeda
seperti tingkat produksi, pertumbuhan sebelum dan setelah lateks disadap,
ketebalan kulit, kandungan karet kering dan warna lateks, serta ketahanan
terhadap penyakit. Persilangan buatan untuk mendapatkan klon dengan
sifat primer dan sekunder yang baik dilakukan oleh berbagai institusi
penelitian yang umumnya terdapat di negara penghasil karet alam
(Haris, 2005).
Produksi lateks dari tanaman karet disamping ditentukan oleh
keadaan tanah dan pertumbuhan tanaman, klon unggul, juga dipengaruhi
oleh teknik dan manajemen penyadapan. Penyadapan adalah mata rantai
pertama dalam proses produksi karet. Penyadapan pertama dilakukan
setelah tanaman berumur 5-6 tahun. Penyadapan dapat dilakukan selama
25-35 tahun. Tinggi bukaan sadap pertama 130 cm dan bukaan sadap kedua
280 cm di atas pertautan okulasi. Waktu pelaksanan penyadapan dilakukan
sepagi mungkin agar mendapatkan lateks yang tinggi, karena bila
penyadapan dilakukan pada waktu pagi hari, turgor pembuluh lateks masih
tinggi dan keluarnya lateks dari pembuluh yang terpotong berlangsung
dengan aliran yang kuat (Hanum, 2008).
Pada saat penanaman, tanah penutup lubang dipergunakan top soil
yang telah dicampur dengan pupuk. Sebelumnya tanaman dibersihkan dulu
dari rerumputan dibuat larikan melingkar 10 cm. Dosis pemupukan berbeda
untuk tiap jenis tanah. Pemupukan pertama kurang lebih 10 cm dari pohon

48

dan semakin besar disesuaikan dengan lingkaran tajuk. Pemberian pupuk


jangan diberikan pada musim penghujan karena pupuk akan cepat tercuci
oleh air hujan. Pemberian pupuk dilakukan pada saat pergantian antara
musim penghujan ke musim kemarau (Balai Penelitian Sembawa, 2005).
C. Metodologi Praktikum
1. Identifikasi Morfologi Kelapa Sawit
a.
Waktu dan Tempat Pratikum
Praktikum acara Kelapa Sawit ini dilaksanakan pada tanggal
14 April 2012 di Desa Sukosari Jumantono Karanganyar.
b.
Alat dan Bahan
1) Alat
a). Sabit
b). Pisau okulasi
c). Penggaris
d). Alat tulis
e). Tali rafia
f).Klinometer
g). Meteran
h). Oven
i). Timbangan
j). Gunting
k). Kertas.
2) Bahan
a). Tanaman kelapa sawit dewasa
b). Pelepah daun kelapa sawit
c). Bunga jantan
d). Bunga betina kelapa sawit
e). Buah kelapa sawit.
c.

Cara Kerja
1) Identifikasi batang kelapa sawit
a). Menghitung jumlah daun kelapa sawit yang ada dari ujung
sampai pangkal terbawah.
b). Menentukan pola filotaksis / pola duduk daun dalam batang
tanaman kelapa sawit.
c). Mengukur panjang satu pelepah daun.
d). Mengukur diameter batang bagian bawah.
e). Mengukur tinggi tanaman kelapa sawit secara sumulasi dengan
menggunakan prinsip trigonometri yaitu :
Tan a = y / x
Tinggi batang = y + r

49

a = sudut dibentuk antara pengamat dan ujung batang sawit.


y = tinggi batang dari mata pengamat sampai ujung batang
sawit.
r = tinggi batang dari pangkal batang sampai mata pengamat.
x = jarak antara pengamat dan batang.
2) Identifikasi daun kelapa sawit
a). Mengambil satu pelepah daun yang utuh.
b). Mengidentifikasi bagian-bagian daun kelapa sawit dan
menulisnya.
c). Mengukur panjang pelepah daun (dari ujung pelepah sampai
dengan petiole)
d). Mengukur panjang pelepah total
e). Menghitung jumlah daun dalam satu pelepah dan mengukur
luas daun dan helaian daun kelapa sawit dengan metode
GRAVIMETRI.
f). Pelepah daun dibagi menjadi tiga bagian selanjutnya setiap
bagian diambil empat daun, dua dari bagian kiri dan dua
lainnya dari bagian kanan dan daun yang ditengah dari setiap
bagian pelepah lainnya.
g). Luas daun yang diambil, dihitung dan dirata-rata untuk setiap
bagiannya.
h). Mengalikan rataan luas daun tersebut dengan jumlah helaian
pada setiap bagian.
i). Hasil perhitungan luas daun masing-masing bagian kemudian
dijumlahkan.
j). Mengukur panjang helaian daun yang terpanjang.
k). Menggambar dan memberi keterangan daun kelapa sawit dan
helaian daun beserta tulang daunnya.
RUMUS GRAVIMETRI :

wr = berat kertas replika daun


wt = berat kertas total
Lk = luas kertas total
3) Identifikasi alat reproduksi kelapa sawit

a). Menentukan bunga jantan dan bunga betina.

50

b). Menggambar masing-masing bunga tersebut lengkap dengan


nama bagian-bagiannya.
c). Menentukan kemungkinan macam penyerbukan yang mungkin

terjadi pada tanaman kelapa sawit.


4) Identifikasi buah kelapa sawit
a). Mengambil buah dari tandan buah kelapa sawit yang ada.
b). Mengamati warna, bentuk dan ukuran buah mentah dan
matang.
c). Menggambar buah utuh, penampang melintang buah kelapa
sawit dan memberi keterangan lengkap bagian-bagiannya.
2. Identifikasi Defisiensi Unsur Hara Tanaman Kelapa Sawit
a. Waktu dan Tempat Pratikum
Praktikum acara Kelapa Sawit ini dilaksanakan pada tanggal
24 April 2012 di Desa Sukosari Jumantono Karanganyar.
b. Alat dan Bahan
1) Alat
a). Pisau
b). Penggaris
c). Alat tulis
2) Bahan
Tanaman kelapa sawit
c. Cara Kerja
Identifikasi defisiensi unsur hara pada tanaman secara umum ada
dua (2) cara yaitu :
1)
Diagnosa secara fisiologis / visual
Identifikasi ini dilakukan dengan pengamatan langsung,
dengan memperhatikan kriteria sebagai berikut:
a). Perbandingan warna hijau daun dengan warna hijau yang baku
(hijau gelap). Warna daun yang hijau gelap merupakan ciri
keadaan hara tanaman yang baik. Sementara apabila warnanya
menjadi hijau pucat atau kekuning-kuningan, maka dapat
dipastikan bahwa tanaman tersebut mengalami defisiensi dan
atau pengaruh faktor lingkungan seperti temperatur yang
ekstrim, penyebab pennyakit atau kesalahan penyemprotan.
b). Adanya tanda dan gejala (Symptom) defisiensi hara. Cara yang
paling mudah, untuk mendapatkan gambaran adanya gejala

51

atau tanda defisiensi hara adalah dengan membandingkan daun


dengan foto tanaman yang mengalami defisiensi. Selain itu,
dengan melihat tanda atau gejalanya, sebagai berikut :
(1)
Tanda atau gejala defisiensi muncul
dari daun yang tertua.
N = Daun menguning (klorosis) mulai dari anak daun, daun
pucat atau kaku.
K = Daun tua orange seperti tembus pandang. Bagian anak
daun mengering (nekrosis).
Mg=Terjadi klorosis pada daerah sekitar tulang daun,
sedangkan pada helaiannya masih hijau.
Mn=Daun menjadi kecoklatan, kelabu dengan bercakbercak putih.
P = Anak daun dan pelepah menjadi kemerah-merahan.
(2)

Tanda atau gejala defisiensi muncul


dari daun yang termuda.
S = Daun menjadi hijau kekuning-kuningan dengan tulang
daun kekuning-kuningan.
Fe= Daun menjadi hijau kekuningan dengan tulang daun
tetap hijau, mudah patah.
Mn= Muncul warna bercak-bercak hitam kecoklatan.
Cu= Ujung daun termuda memutih, daun muda memendek,
anak daun rapat dan ujung daun kering.
B = Daun muda menjadi kecoklatan, membengkok (hook
leaf),

tumbuh

pendek,sehingga

ujung

pelepah

melingkar (rounde frond tip), anak daun pada ujung


pelepah muda berubah bentuk menjadi kecil seperti
rumput (bristle tip) atau tumbuh rapat, seolah-olah
(3)

bersatu dan padat (little leaf)


Membandingkan

pertumbuhan

tanaman dengan plot tanaman yang tidak mendapat


pemupukan (teknik window).
3. Perawatan Tanaman Kelapa Sawit, Kako, dan Karet
a. Waktu dan Tempat Pratikum

52

Praktikum acara Kelapa Sawit ini dilaksanakan pada tanggal 24


April 2012 di Desa Sukosari Jumantono Karanganyar.
b. Alat dan Bahan
1) Alat
a). Cangkul
b). Sabit
c). botol aqua 1,5 L
2) Bahan
a).
b).
c).
d).
e).
f).

tanaman kelapa sawit


wadah
pupuk urea
SP-36
KCl
alas untuk mencanpur pupuk.

3) Cara Kerja
a). Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit
i. Membuat piringan.
ii. Menentukan dosis pemupukan.
iii. Menentukan lebar piringan pada sekitar batang tanaman
kelapa sawit yang akan dilakukan penyiangan, dengan
berpedoman adalah panjang pelepah daun kelapa sawit.
iv. Membersihkan daerah sekeliling / melingkar batang
membentuk lingkaran atau piringan.
v. Menggemburkan tanah pada daerah piringan.
vi. Melakukan pemupukan tanaman kelapa sawit dengan cara
menebarkannya pada daerah piringan dengan dosis :
Tabel 2.1 Kebutuhan Pupuk Kelapa Sawit
Jenis Pupuk
Umur Tanaman
Sulphate of
Amonia (ZA)
Rock Phospate
(RP)
Muriate of Potash
(KCl)
Kieserite (MgSO4)
*) Keterangan :

Dosis (Kg/Pohon/Tahun)) *)
5-5
6 12
>12
1,0 2,0

2,0 3,0

1,5 3,0

0,5 1,0

1,0 2,0

0,5 1,0

0,4 1,0

1,5 3,0

1,5 2,0

0,5 1,0

1,0 2,0

0,5 1,5

53

Pupuk N, K, dan Mg diberikan dua kali aplikasi, pupuk P


diberikan satu kali aplikasi, dan pupuk B (bila diperlukan)
diberikan dua kali aplikasi per tahun (salah satu contoh dosis
B adalah 0,05 0,01 Kg per pohon per tahun).
Cara pemberian pupuk diperhatikan secara seksama agar
pemupukan dapat terlaksana secara efisien. Untuk mencapai
maksud

tersebut,

pemberian

pupuk

pada

Tanaman

Menghasilkan (TM) harus dilaksanakan dengan cara sebagai


berikut :
a. Pupuk N ditaburkan secara merata pada piringan mulai
jarak 50 cm sampai di pinggir luar piringan.
b. Pupuk P, K, dan Mg ditabur secara merata dari jari jari
1,0 m hingga jarak 3,0 m (dari pangkal pokok 0,75 sampai
1,0 m di luar piringan).
c. Pupuk B ditaburkan secara merata pada jarak 30 50 cm
dari tanaman pokok.
Pemberian pupuk pada kelapa sawit diatur dua kali
setahun. Pemberian pupuk yang pertama dilakukan pada akhir
musim hujan yaitu bulan Maret April dan pemberian pupuk
kedua dilakukan pada awal musim hujan yaitu bulan
September Oktober.
Kelapa sawit umur 3 tahun :
a). Urea sebanyak 0,62 kg/pohon
b). SP-36 sebanyak 0,46 kg/pohon
c). KCl sebanyak 0,6 kg/pohon
b). Pemupukan Tanaman Karet

Selain pupuk dasar yang telah diberikan pada saat


penanaman, program pemupukan secara berkelanjutan pada
tanaman karet harus dilakukan dengan dosis yang seimbang
dua kali pemberian dalam setahun. Jadwal pemupukan pada
semester I yakni pada Januari/Februari dan pada semester II
yakni Juli/Agustus. Seminggu sebelum pemupukan, gawangan

54

lebih dahulu digaru dan piringan tanaman dibersihkan.


Pemberian SP-36 biasanya dilakukan dua minggu lebih dahulu
dari Urea dan KCl. Program dan dosis pemupukan tanaman
karet secara umum dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.2 Kebutuhan Pupuk Tanaman Karet
Umur
Tanaman
TB
TBM 1
TBM2
TBM3
TBM4
TBM5
TM 1- 25

Kebutuhan Pokok
Urea SP-36
KCl
Urea SP-36
KCl
..(gram/pohon)..
..(gram/pohon)..
50
100
25
50
236
100
200
118
50
50
333
267
150
180
123
75
391
267
200
175
128
92
429
333
200
188
147
88
476
333
200
200
140
84
524
333
350
265
170
175

c). Pemupukan Tanaman Kakao


Pemupukan, untuk menjaga agar kesuburan tanah tetap
terjaga maka usaha mengganti/mengembalikan unsur hara yang
telah diambil oleh tanaman perlu selalu dilakukan secara rutin.
Tabel 2.3 Dosis Pemupukan Tanaman yang Belum Berproduksi
(gram/tanaman)
Umur Tanaman
(bulan)
2
6
12
18
24

Urea
25
25
25
45
45

g/pohon/tahun
TSP KCl Kleserit
25
20
20
25
20
20
50
40
40
50
40
40

Pemupukan dilakukan dengan membuat alur sedalam 10


cm di sekeliling batang kakao dengan diameter kira-kira
tajuk. Waktu pemupukan di awal musim hujan dan akhir musim
hujan.
Tabel 2.4 Dosis Pemupukan Tanaman Berproduksi

55

(gram/tanaman)
Umur Tanaman
(tahun)
3

gram/pohon/tahun
Urea TSP KCl Kliserit
100

100

100

60

180

180

135

75

>5

250

180

150

120

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
a. Identifikasi Morfologi Kelapa sawit
1) Identifikasi Batang Kelapa Sawit
a). Tinggi sawit dari daun terpanjang = 354 cm

56

b). Pola filotaksis atau pola duduk daun ke kanan = 3/8


c). Panjang pelepah = 21 cm
d). Panjang pelepah total = 302 cm
e). Panjang pelepah daun = 274 cm
f). Keliling batang pohon = 170 cm
K =xd
170 = 3,14 d
d
d

170

= 3,14
= 54,14 cm

g). Tinggi batang = 166 cm

Gambar 2.1 Diagram Pola Duduk Daun Tanaman Kelapa Sawit

57

2) Identifikasi Daun Kelapa Sawit


a). Panjang pelepah daun (dari ujung sampai petiole) = 274 cm
b). Panjang pelepah total = 302 cm
c). Jumlah daun pada ujung pelepah = 59 buah
d). Jumlah daun pada bagian tengah pelepah = 52 buah
e). Jumlah daun pada pangkal pelepah = 68 buah
f). Berat Replika Daun Kelapa Sawit
Rumus Gravimetri

1) Luas Daun Kanan


a). Ujung kanan I

cm2
b). Ujung kanan II

cm2
c). Tengah kanan I

cm2
d). Tengah Kanan II

cm2
e). Pangkal kanan I

cm2
f). Pangkal kanan II

58

2) Luas Daun Kiri


a). Ujung kiri I

b). Ujung kiri II

c). Tengah kiri I

d). Tengah kiri II

e). Pangkal kiri I

f). Pangkal kiri II

3) Luas daun rata-rata


a).
rata ujung
=
2

=
b).

rata tengah

59

=
2

=
c).

rata pangkal
=
2

=
d).

rata total
=
= 22239,893 cm2
Gambar 2.2 Daun Kelapa Sawit

3) Identifikasi Alat Reproduksi Kelapa Sawit

Gambar 2.3 Bunga Jantan Tanaman Kelapa Sawit


Keterangan :
a). Tangkai bunga
b). Serbuk sari
c). Kelopak bunga

60

Gambar 2.4 Bunga Betina Tanaman Kelapa Sawit


Keterangan :
a). Tangkai kepala putik
b). Kelopak bunga
c). Kepala putik
d). Tangkai tandan
4) Identifikasi buah kelapa sawit

Gambar 2.5 Penampang Melintang Buah Kelapa Sawit


Keterangan:
a). Kernel : merupakan endosperm dan embrio yang memiliki
b). kandungan minyak
c). Endokarpium : cangkang pelindung inti
d). Mesokarp : serabut buah
e). Eksokarp
b. Identifikasi Defisiensi Usur Hara Tanaman Kelapa Sawit

61

Kahat N

Kahat P

Kahat K

Gambar 2.6 Defisiensi Unsur Hara Kelapa Sawit


Keterangan :
1) Gejala N
: warna daun pucat dan menguning
2) Gejala P
: bentuk batang mengerucut, bercak merah
kekuningan
3) Gejala K
: daun mengering, orange spot

c. Perawatan Tanaman Kelapa Sawit, Kakao, dan Karet


1) Kelapa Sawit
Tabel 2.5 Perawatan Tanaman Kelapa Sawit
Faktor yang
diamati
Kahat

I
Kutu daun,

Pengamatan
II
III
Ada
Ada
Kutu daun,

Hama

semut,

semut,

laba-laba

laba-laba
Bercak

Bercak

Bercak

kuning
31
2,4 m
-

kuning
31
2,4 m
-

kuning
37
2,4 m
Banyak
Banyak

Penyakit

Pelepah
Tinggi
Bunga
Buah

31
2,4 m
-

Belalang

IV
Ada
Ulat, sarang
tawon

62

Sumber : Logbook

2) Tanaman Kakao
Tabel 2.6 Perawatan Tanaman Kakao
Faktor yang
I
-

diamati
Kahat

Hama

Penyakit

Pengamatan
II
III
Ada
Ada

IV
Ada

Belalang,

Belalang,

Belalang,

Belalang,

ulat

ulat

ulat

ulat

Buah
4
Tinggi
2,5 m
Cabang
5
Sumber : Logbook

Kahat N

4
2,5 m
5

4
2,5 m
5

Kahat Mg

Bercak
kuning
3
2,5 m
5

63

Gambar 2.7 Defisiensi Unsur Hara Kakao


Keterangan :
a). Gejala N : bercak kuning
b). Gejala Mg : daun coklat
3) Tanaman Karet
Tabel 2.7 Perawatan Tanaman Karet
Faktor
yang
diamati
Kahat
Hama
Penyakit
Dahan
Tinggi
Cabang
Sumber : Logbook

Pengamatan
I

II

III

IV

Ada
Belalang
Bercak

Ada
Belalang

Belalang
Bercak

Belalang
Bercak

coklat
4
7,7 m
2

coklat
5
7,7 m
5

kuning
4
7,7 m
2

Bercak coklat
4
7,7 m
2

Gejala N : daun berwarna kuning

Gambar 2.8 Defisiensi Unsur Hara Karet

2. Pembahasan
a. Identifikasi Morfologi Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan tanaman monokotil yang berakar
tunggang. Perakaran kelapa sawit tumbuh ke bawah dan menyebar ke
arah samping. Batang tanaman kelapa sawit tidak memiliki kambium

64

dan diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12


tahun pelepah yang mengering akan terlepas. Satu pelepah daun kelapa
sawit terdiri atas petiole, tangkai daun, dan helaian daun. Helaian daun
sendiri terdiri atas tulang daun dan tangkai anak daun. Daun tanaman
kelapa sawit terdiri dari susunan pelepah daun dan anak daun. Pelepah
daun lebih rinci terdiri dari tangkai daun, tangkai anak daun, helaian
daun, petiole, dan tulang anak daun. Daun pertama yang keluar belum
membuka berbentuk lancet atau tombak, lama kelamaan terbelah dan
semuanya terpisah atau membuka sempurna. Di bagian pangkal
pelepah daun terbentuk dua baris duri yang sangat tajam dan keras di
kedua sisisnya. Anak-anak daun (foliage leaflet) tersusun berbaris dua
sampai ke ujung daun. Bagian tengah-tengah setiap anak daun
terbentuk menyerupai lidi sebagai tulang daun. Satu pelepah daun
kelapa sawit terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian ujung, tengah
dan pangkal. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit
lebih muda.
Identifikasi morfologi kelapa sawit yang dilakukan adalah
mengidentifikasi batang kelapa sawit. Batang kelapa sawit berbentuk
silinder dan tidak bercabang. Titik tumbuh batang kelapa sawit terletak
di pucuk batang, terbenam di dalam tajuk daun. Pada batang tanaman
kelapa sawit terdapat pangkal-pangkal pelepah daun yang melekat
kukuh dan sukar untuk terlepas walaupun daunctelah kering dan mati.
Pola filotaksis kelapa sawit berbentuk spiral dari bawah ke atas dengan
arah yang berlawanan dengan arah jarum jam dengan pola filotaksis
3/8. Diameter kelapa sawit dihitung dari keliling batang kelapa sawit.
Diamater tanaman kelapa sawit yang diamati yaitu 54,14 cm.
Pengidentifikasian daun kelapa sawit dilakukan dengan
mengambil sempel satu pelepah kelapa sawit. Pelepah daun yang
digunakan untuk pengamatan adalah daun yang bagus dan

tidak

memiliki bercak hama atau luka. Bangun daun berbentuk pita, tepi
daun rata (integer), ujung daun runcing (acutus), pangkal daun

65

meruncing (acuminatus), permukaan daun gundul (glaber), daging


daun seperti kertas (papyraceus). Daun terbagi atas lamina, helaian
daun, tangkai daun, duri, pelepad dan petole. Panjang pelepah total
302 cm, panjang pelepah daun dari daun ke-1 sampai titik tumbuh 274
cm. Sedangkan luas daun bagian ujung sebesar 149,645 cm2, luas daun
bagian tengah sebesar 160,878 cm2 dan luas daun bagian bawah
sebesar 84,268 cm2. Dari ketiga luas bagian daun tersebut maka
diperoleh luas total daun sebesar 22239,893 cm2.
Praktikum kali ini identifikasi alat reproduksi tanaman kelapa
sawit meliputi identifikasi bunga jantan dan bunga betina. Tanaman
kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai
mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga jantan dan betina
terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan
memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi
penyerbukan sendiri. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang,
sedangkan bunga betina agak bulat. Bunga jantan kelapa sawit terletak
di luar pelepah daun sedangkan bunga betina kelapa sawit terletak
diantara pelepah daun. Bagian-bagian dari bunga jantan terdiri dari
serbuk sari, kelopak bunga, dan tangkai bunga. Bagian-bagian dari
bunga betina terdiri dari tangkai kepala putik, kelopak bunga, kepala
putik, dan tangkai tandan.
Tanaman kelapa sawit dapat melakukan penyerbukan silang
karena bunga jantan dan betina memiliki waktu pematangan yang
berbeda sehingga jarang terjadi penyerbukan sendiri. Dapat juga
dengan penyerbukan heterogami, yaitu penyerbukan dengan bantuan
manusia karena walaupun bunga jantan dan bunga betina berada dalam
satu rumah belum tentu masaknya bersamaan. Pada tanaman kelapa
sawit penyerbukan yang terjadi adalah penyerbukan dengan bantuan
angin, air, manusia, dan serangga. Penyerbukan dengan bantuan angin
biasanya terjadi pada tanaman yang letak bunga jantan di atas bunga

66

betina. Penyerbukan dengan bantuan air terjadi bila terdapat hujan


sehingga serbuk sari terjatuh atau menyebar.
Tanaman kelapa sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat
female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan
dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan. Bunga
tersusun berbentuk karangan bunga yang disebut tandan bunga. Tandan
bunga keluar dari ketiak pelepah daun, biasanya setiap pelepah daun
terdapat kuncup tandan. Umumnya bunga jantan dan betina berada
pada tandan yang berbeda.
Identifikasi buah kelapa sawit dilakukan dengan melakukan
pengamatan pada morfologi buah, bagian-bagian buah dan kriteria
pemanenan. Warna buah kelapa sawit yang mentah adalah ungu
kehitaman sedangkan warna buah kelologi apa sawit yang matang
adalah oranye atau oranye kecoklatan. Bagian-bagian dari buah kelapa
sawit adalah kernel (embrio dan endosperm), mesokarpium (serabut
buah), endokarpium (cangkang), eksokarp (kulit buah). Lembaga
(embryo) yang keluar dari kulit biji akan berkembang ke dua arah
yaitu :
1) Arah tegak lurus ke atas (fototropy), disebut dengan plumula yang
selanjutnya akan menjadi batang dan daun
2) Arah tegak lurus ke bawah (geotrophy) disebut dengan radicula
yang selanjutnya akan menjadi akar.
Tanaman kelapa sawit siap dipanen bila tanaman telah
menghasilkan buah yang matang dan sudah ada buah yang terjatuh dari
tandan kurang lebih sebanyak 4 buah. Buah sawit matang pada kondisi
tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula)
dan bakal akar (radikula).Buah yang sangat muda berwarna hijau
pucat. Semakin tua warnanya berubah menjadi hijau kehitaman,
kemudian menjadi kuning muda, dan setelah matang menjadi merah
kuning (oranye). Jika sudah berwarna oranye, buah mulai rontok dan
berjatuhan (buah leles). Buah kelapa sawit berbentuk seperti kapsul,

67

dan buah yang matang ukurannya lebih besar daripada yang masih
mentah.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu,
hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol
dalam tandan yang muncul dari tiap pelepah. Minyak dihasilkan oleh
buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Buah
kelapa sawit setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak
bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok
dengan sendirinya. Buah kelapa sawit berbentuk seperti kapsul, dan
buah yang matang ukurannya lebih besar daripada yang masih mentah.
b. Identifikasi Defisiensi Unsur Hara Tanaman Kelapa Sawit
Identifikasi defisiensi unsur hara dengan cara melihat langsung
tanaman kelapa sawit di lokasi praktikum. Identifikasi defisiensi unsur
hara yaitu dengan pengamatan langsung secara fisiologis atau visual.
Kriteria yang diperhatikan adalah membandingkan warna hijau daun
yang menjadi patokan atau warn hijau baku dengan warna hijau daun
yang lain dalam satu tanaman.
Tanaman kelapa sawit yang mengalamai defisiensi unsur hara
maka pertumbuhan tanaman akan terhambat. Pertumbuhan yang
terhambat akan mengakibatkan produktifitas tanaman rendah dan
kualitas yang dihasilkan juga rendah. Tanaman kelapa sawit yang
diamati saat praktikum mengalami kekurangan unsur hara yaitu unsur
N, P, dan K. Hal itu dapat dilihat secara visual perbedaannya dengan
daun kelapa sawit yang sehat.

Tanda apabila daun kelapa sawit

tersebut mengalami kekurangan unsur N adalah warna daun pucat, dan


menguning. Nitrogen dibutuhkan tanaman untuk metabolisme.
Nitrogen merupakan unsur penyusun protein, klorofil dan berperanan
terhadap

fotosintesa.

Penyebab

defisiensi

nitrogen

adalah

terhambatnya mineralisasi nitrogen, aplikasi bahan organik dengan


C/N tinggi, gulma, akar tidak berkembang, dan pemupukan N yang
tidak efektif. Upaya untuk meminimalisir kahat N adalah aplikasi

68

secara merata di piringan, menambah urea pada tanaman kelapa sawit,


dan aplikasi nitrogen pada kondisi tanah lembab, serta pengendalian
gulma.
Kekurangan unsur P adalah bentuk batang mengerucut, tumbuh
kerdil, pelepah memendek dan batang meruncing. Phospor merupakan
unsur penyusun ADP/ATP, berfungsi untuk memperkuat batang dan
merangsang perkembangan akar serta memperbaiki mutu buah
sehingga merupakan unsur hara makro. Upaya mengatasi kahat P
adalah aplikasi pemberian pupuk P dipinggir piringan atau gawangan,
mencoba mengurangi erosi, serta memperbaiki kemasaman tanah.
Kekurangan unsur K menyebabkan daun tua orange seperti
tembus pandang dan bagian anak daunnya mengering. Unsur K
berperan pada aktivitas stomata, aktivitas enzim dan sintesa minyak
serta meningkatkan ketahanan terhadap penyakit serta jumlah dan
ukuran tandan. Upaya mengatasi defisiensi K adalah dengan aplikasi
K yang cukup, aplikasi tandan kelapa sawit, memperbaiki kemampuan
tukar kation tanah dan aplikasi pupuk K pada pinggir piringan.
Selain diagnosa secara morfologi dapat pula dilakukan
diagnosa secara kimia. Salah satunya adalah dengan LSU (Leaf
Sampling Unit). Pengambilan sampel dimulai dari ujung utara-barat
blok dan dimulai dari 10 baris ke arah selatan, kemudian masuk
barisan tersebut, menentukan pokok ke-5 dari barisan tersebut sebagai
pokok sampel 1 dan diberi nomor dengan cat warna biru. Pokok
sampel ke-2 adalah selang 10 pokok berikutnya dalam 1 baris. Bila
pokok yang ditetapkan sebagai sampel adalah pokok yang tidak
normal maka sampeldiganti dengan maju atau mundur 3 pokok.
Kemudian mengambil pelepah sampel pada pelepah ke 17 dari daun
yang paling muda dan membuka sempurna. Daun pelepah tersebut
diambil hanya pada bagian pertemuan antar bagian runcing dan tumpul
dari pelepah yang biasanya berada di agak ujung pelepah. Daun
diambil sebanyak 4 lembar yang berasal dari sisi kanan 2 dan sisi kiri

69

2. daun tersebut dipotong bagian tengahnya 25 cm. Sampel ganjil


diukur tinggi tanaman, panjang pelepah,

lebar petiole, dan tebal

petiole.
c. Perawatan Tanaman Kelapa Sawit, Kakao, dan Karet

1) Kelapa Sawit
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma. Pembersihan
gulma dilakukan di daerah piringan kelapa sawit. Pembersihan
gulma bertujuan untuk menghindari kompetisi dalam memperoleh
unsur hara antara tanaman kelapa sawit dengan gulma yang ada
disekitar tanaman. Pembersihan daerah tumbuh kelapa sawit dari
gulma yaitu secara manual atau mekanik, dengan cara mencabut
langsung gulma yang tumbuh. Gulma yang terdapat di sekitar
tanaman kelapa sawit adalah rumput teki, gulma menjalar, dan
beberapa terdapat jamur. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman
kelapa sawit sebelum dipupuk lebih sedikit daripada setelah
dilakukan pemupukan.
Langkah awal yang dilakukan sebelum pemupukan adalah
membuat piringan. Lebar piringan ditentukan berpedoman pada
panjang pelepah daun kelapa sawit. Tujuan dibuat piringan adalah
agar pupuk tidak langsung mengenai akar dari kelapa sawit. Lebar
piringannya adalah 50 75 cm dari pangkal tanaman kelapa sawit.
Pengukuran piringan 50 cm berguna untuk penentuan letak aplikasi
pupuk N. Pengukuran piringan sepanjang 75 cm dari pangkal
batang berguna pada penentuan tempat diaplikasikannya pupuk P,
K, dan Mg hingga 1 m di luar piringan. Pupuk yang digunakan
untuk pemupukan kelapa sawit adalah pupuk ZA 0,5 gram/pohon,
TSP 0,250 gram/pohon, dan KCL 0,200 gram/pohon. Kelompok
kami tidak menggunakan perlakuan pupuk kandang.
Pemupukan tanaman bertujuan untuk menyediakan unsur
hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan generatif,
sehingga diperoleh hasil yang optimal. Pemupukan kelapa sawit

70

berupa TBM (Tanaman Belum Menghasilkan), tujuan pemupukan


ada untuk menjadi bahan baku dan penolong dalam pembangunan
tubuh tanaman, sedangkan pada saat kelapa sawit berupa TM
(Tanaman Menghasilkan), tujuan pemupukan adalah agar tanaman
kelapa sawit memproduksi buah dengan optimal. Berdasarkan
banyaknya kuantitas yang dibutuhkan tanaman, pupuk dapat dibagi
atas 2 golongan, yaitu pupuk makro dan pupuk mikro. Penentuan
dosis pupuk yang tepat, sebaiknya dilaksanakan analisis tanah dan
daun terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan hara terakhir yang
ada pada tanaman dapat diketahui juga.
Pada pengamatan pertama ditemukan bahwa pada tanaman
kelapa sawit memiliki warna daun hijau gelap dan normal hijau
muda pada daun yang belum mekar dan tidak terindikasi
kekurangan

yang

menyebabkan

warna

daun

menjadi

kekuningan. Namun, tampak jika terdapat bercak kecoklatan dan


berlubang akibat hama belalang serta hama menyerupai kutu. Dan
ditemukannya jamur pada permukaan tanah di sekitar daerah
piringan.
Kemudian pada pengamatan kedua, daun kelapa sawit mulai
terlihat ada yang mulai menguning, patah, dan berlubang. Daunnya
mulai tampak berwarna kuning mengering. Dan masih tampak lagi
seperti pengamatan pertama pada tanah terdapat jamur di sekitar
perakaran.
Pengamatan ketiga dan keempat, ditemukan adanya daun
yang berlubang dan mengering dari daun bagian ujung pelepah.
Terdapat pula daun yang menguning dan mulai mengering pada
satu pelepah. Pengamatan pertama sampai terakhir diketahui
bahwa tanaman kelapa sawit mengalami defisiensi unsur hara N,
P, dan K. Kekurangan nitrogen menyebabkan daun berwarna
kuning pucat dan menghambat pertumbuhan. Kekurangan P sulit
dikenali, menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, pelepah memendek

71

dan batang meruncing. Kekurangan K menyebabkan bercak


kuning/transparan. Daun pada pangkal pelepah mulai ada yang
gugur. Dan pada daun terdapat serangan hama tawon dan laba-laba.
Hama lainnya yang juga menyerang adalah ulat, semut, dan
belalang.
2) Tanaman Kakao
Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk
pohon. Tanaman kakao memiliki batang utama yang tumbuh
sebelum tumbuh cabang-cabang primer. Batangnya berukuran
besar dan bulat memanjang. Bunga kakao tergolong bunga
sempurna, terdiri atas daun kelopak (Calyx) sebanyak 5 helai dan
benang sari (Androecium) berjumlah 10 helai yang disangga oleh
tangkai bunga. Perawatan tanaman kakao perlu dilakukan agar
produktivitas hasilnya optimum. Perawatan tanaman kakao
meliputi membuat piringan, membersihkan gulma, pemupukan,
pemangkasan, dan pemangksan.
Pengendalian gulma dilakukan jika dirasa perlu di sekitar
piringan tanaman kakao. Selama pengamatan, gulma yang ada di
sekitar tanaman kakao adalah gulma tipe teki-tekian, gulma
berdaun sempit dan gulma berdaun lebar. Pembersihan gulma
bertujuan untuk menghindari kompetisi dalam memperoleh unsur
hara. Pembersihan gulma dilakukan dengan menggunakan sabit
dan cangkul.
Piringan tanaman merupakan lingkaran area berjarak sekitar
1 meter di sekitar pokok tanaman yang selalu diperhatikan bersih
dari gulma. Dosis pupuk yang diberikan untuk tanaman kakao
berumur 5 tahun adalah pupuk urea 115 gram/pohon, TSP 80
gram/pohon, dan KCl 140 gram/pohon. Tanaman kakao kelompok
kami tidak menggunakan perlakuan pupuk kandang.
Pengamatan awal di lahan Jumantono, defisiensi hara pada
tanaman tidak terlihat signifikan sebelum dilakukan perlakuan

72

pemberian pupuk dengan setelah dilakukan pemberian pupuk. Hal


tersebut dipengaruhi lingkungan abiotik dan biotik mendukung
pertumbuhan tanaman kakao di lokasi praktikum sehingga tidak
terlihat perbedaan yang terlalu signifikan.
Pengamatan selanjutnya, tampak daun menguning karena
kahat unsur N dan kecoklatan karena kahat Mg. Unsur N yang
jurang menyebabkan daun menggulung dan mengering. Daun
berlubang karena hama semut, capung, dan ulat. Terdapat 12 buah
kakao. Terdapat pula bunga pada tanaman kakao. Pada cabang
sebelah barat ditemukan kematian pada seluruh bagian cabang
batang beserta daun-daunnya mungkin hal ini dikarenakan oleh
kematian jaringan yang terjadi pada tanaman kakao tersebut.
Kematian yang terjadi pada jaringan-jaringan kemungkinan
dikarenakan adanya serangan penyakit antraknusa atau biasa
disebut mati ranting. Penyakit antraknusa ini disebabkan oleh
jamur Colletotrichum gloeasporioides. Pada tanaman yang
terserang menunjukkan gejala daun mengering dan mati yang
disertai dengan kematian pada ranting tanaman.
Pada pengamatan yang ketiga yang kami lakukan di lapang,
hama menyebabkan daun berlubang, berwarna coklat dan ada satu
ranting yang mengering seperti yang tampak pada pengamatan
yang kami lakukan pada pengamatan yang pertama dan berwarna
coklat. Hama yang menyerang kemungkinan adalah ulat. Buah
yang terdapat dalam pohon kakao yaitu sebanyak 3 buah yang
berukuran sedang dan memiliki warna hijau.
Pada pengamatan yang keempat, terdapat daun yang
berlubang kembali, menguning, dan ada satu cabang lagi yang
mengering serta warnanya berubah menjadi kecoklatan. Terdapat
bunga-bunga kecil yang mulai tumbuh pada tanaman kakao
tersebut. Buah yang ditemukan berjumlah kurang lebih 8 buah

73

yang kami temukan telah mati, buah kakao yang berwarna hijau
sebanyak 3 buah, dan satu buah hijau yang berukuran kecil.
Perawatan tanaman kakao yang lain adalah pemangkasan
cabang-cabang tanman yang tidak produktif. Pemangkasan
tanaman

bertujuan

agar

sirkulasi

udara

berjalan

lancar,

pencahayaan matahari cukup, serta mengurangi resiko terhadap


hama dan penyakit tanaman kakao. Meningkatnya intensitas
matahari bagi daun dapat mengurangi kelembaban sehingga
produksivitas tanaman meningkat.
3) Tanaman Karet
Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan
berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25
meter. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki
percabangan yang tinggi di atas. Bunga betina dan bunga jantan
terdapat dalam satu karangan bunga (inflorescentia) yang sama.
Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal dengan nama
lateks.
Lahan di sekitar areal tanaman karet sebelum dipupuk
dibersihkan dari sisa-sisa gulma terlebih dahulu. Pembersihan dari
gulma menggunakan sabit. Pembersihan dari gulma bertujuan
untuk menghindari adanya kompetisi antara tanaman pokok
dengan tanaman pengganggu dalam memperoleh unsur hara.
Setelah dibersihkan, kemudian dibuat piringan. Piringan dibuat
dengan ukuran setengah (1/2) dari tajuk pohon karet. Piringan yang
dibuat dimaksudkan untuk pemberian pupuk terhadap tanaman.
Pemupukan dilakukan untuk mempercepat tanaman mencapai
matang sadap menjadi tanaman menghasilkan (TM). Pupuk yang
digunakan pada tanaman karet adalah urea 150 gram/pohon, TSP
100 gram/pohon, KCL 70 gram/pohon tanpa perlakuan pupuk
kandang. Pengamatan pengaruh pupuk dilakukan 1-4 minggu
setelah pemberian pupuk dilakukan.

74

Pengamatan pertama yang kami lakukan, terdapat bercak


kuning pada daun karena kahat unsur N. Daun berlubang karena
hama belalang dan ulat. Sejauh ini, belum tampak ada luka pada
batang pohon karet. Pengamatan selanjutnya yang kami lakukan
kembali, pada batang terdapat luka seperti warna dari kulit pohon
tidak merata dan ada luka-luka sehingga struktur dari batang pohon
tidak mulus. Terdapat bercak-bercak kuning pada daun karet. Hama
yang ditemukan yaitu adanya laba-laba.
Kami melakukan pengamatan kembali pada kesempatan
ketiga dan keempat, daun-daunnya tampak ada yang berlubang
yang disebabkan oleh berbagai hama yang menyerang bagian daun
karet misalnya oleh ulat. Munculnya bercak bercak yang berwana
coklat kuning di bagian tepi daun, bercak coklat yang menyebar
sehingga daun tanaman terlihat seperti daun yang mati. Batang
juga tampak luka.
Pemeliharaan pada TBM dilakukan dengan membuat lubang
dan cover crop. Namun cover crop perlu diperhatikan, jika tidak
diperhatikan cover crop dapat mengganggu pertumbuhan tanaman
pokok (karet) dan dapat menurunkan produktivitasnya. Selain itu
pemeliharaan juga dilakukan dengan mengukur lilitan batang
setinggi 1 m.
Pemeliharaan juga dilakukan dengan membuat gondanggandung (lubang di pinggir pohon), fungsinya untuk menurunkan
kelembaban tanah, memotong akar lateral dan merangsang akar
rambat. Gondang-gandung berukuran 40 cm x 30 cm dengan
kedalaman 60 cm. Pemupukan dilakukan berdasarkan rekomendasi
Balitbang karet yaitu 150 gram/pohon. Pengendalian gulma
dilakukan dengan menggunakan herbisida sistemik. Pemangkasan
wiwilan (tunas air), tunas air akan menghambat pertumbuhan TM.
Umumnya pemangkasan dilakukan dua kali yaitu pada fase
tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan

75

(TM). Pemangkasan bertujuan untuk meningkatkan produksi


tanaman karet karena dengan pemangkasan dapat memperlancar
sirkulasi udara serta semua tajuk mendapatkan cahaya matahari
yang cukup.

E. Komprehensif
Tanaman kalapa sawit merupakan tanaman monokotil. Kelapa sawit
memiliki sistem perakaran tunggang yang tumbuh ke bawah dan menyebar ke

76

samping. Daun kelapa sawit terdiri dari Daun terbagi atas lamina, helaian
daun, tangkai daun, duri, pelepad dan petole. Bangun daun berbentuk pita, tepi
daun rata (integer), ujung daun runcing (acutus), pangkal daun meruncing
(acuminatus), permukaan daun gundul (glaber), daging daun seperti kertas
(papyraceus). Pelepah daun terdiri dari tangkai daun, tangkai anak daun,
helaian daun, petiole, dan tulang anak daun. Terdapat tulang daun pada setiap
anak daun. Pelepah daun menempel pada batang tanaman. Batang kelapa
sawit berbentuk silinder, tidak bercaban, dan pada pucuknya terdapat titik
tumbuh. Bunga kelapa sawit adalah monoecious diclin dan umumnya
mengalami penyerbukan silang. Bunga tersusun berbentuk karangan bunga
yang disebut tandan bunga. Buah kelapa sawit berbentuk seperti kapsul, dan
buah yang matang ukurannya lebih besar daripada yang masih mentah. Warna
buah kelapa sawit yang mentah adalah ungu kehitaman sedangkan warna buah
kelologi apa sawit yang matang adalah oranye atau oranye kecoklatan.
Bagian-bagian dari buah kelapa sawit adalah kernel (embrio dan endosperm),
mesokarpium (serabut buah), endokarpium (cangkang), dan eksokarp
(kulit buah).
Perawatan tanaman tahunan pada kelapa sawit, kakao, dan karet salah
satunya adalah pemupukan. Pemupukan dilakukan menggunakan dua jenis
pupuk, yaitu pupuk kandang dan pupuk kimia. Pupuk kandang adalah semua
priduk buangan dari binatang peliharaan yang dapat digunakan untuk
menambah hara, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pupuk
kandang memiliki kandungan hara yang bervariasi tergantunga pada jenis
ternak, kesehatan ternak, makanan, dan umur. Penggunaan pupuk kandang
sangat bermanfaat dalam mengoptimalkan sumber daya terbarukan serta
mengurangi dampak negatif penggunaan pupuk kimia.
Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk
dengan meramu bahan-bahan kimia anorganik berkadar hara tinggi. beberapa
keuntungan dari pupuk anorganik, yaitu pemberiannya dapat terukur dengan
tepat, kebutuhan tanaman akan hara dapat dipenuhi dengan perbandingan yang
tepat, tersedia dalam jumlah cukup, dan mudah diangkut karena jumlahnya

77

relatif sedikit dibandingkan dengan pupuk organik. Pupuk anorganik


mempunyai kelemahan, yaitu selain hanya mempunyai unsur makro, pupuk
anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak mengandung unsur hara
mikro.
Perlakuan tanaman kelapa sawit, kakao, dan karet dengan pupuk
kandang dan tanpa pupuk kandang memiliki perbedaan. Pada tanaman yang
diberi perlakuan pupuk kandang sekaligus pupuk kimia memperlihatkan gejala
defisiensi unsur hara lebih rendah dibanding perlakuan pemupukan hanya
dengan pupuk kimia saja. Tanaman kelapa sawit, kakao, dan karet yang hanya
dipupuk dengan pupuk kimia pertumbuhannya kurang begitu baik dibanding
perlakuan dengan pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang dapat menekan
gejala penyakit pada tanaman. Hal ini disebabkan kandungan hara pada pupuk
kandang lebih kompleks dibanding pupuk kimia. Pupuk kandang adalah
pupuk organik yang nantinya akan terdekompisisi. Pupuk kimia (pupuk
anorganik) memiliki kandungan hara yang disesuaikan dengan kebutuhan
tanaman, sehingga meski terdiri dari beberapa zat hara hanya satu yang paling
dominan. Jadi, kebutuhan hara pada tanaman kelapa sawit, kakao, dan karet
kurang tercukupi unsur-unsurnya. Walaupun pupuk kimia lebih cepat dalam
mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Praktikum teknologi budidaya tanaman tahunan, yaitu kelapa sawit,
kakao, dan karet memperlihatkan hasil yang lebih baik pada perlakuan
pemupukan kandang serta kimia dibanding perlakuan pupuk kimia saja. Hal
ini dikarenakan unsur hara pada pupuk kandang lebih kompleks. Hara yang
lebih kompleks tersebut, sehingga unsur hara yang dibutuhkan tanaman kelapa
sawit, kakao, dan karet tercukupi dan tidak hanya ada unsur yang tercukupinya
lebih dominan seperti pada penggunaan pupuk kimia.

F. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
a.

Komoditas Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)

78

1) Tinggi tanaman kelapa sawit dari daun terpanjang 354 cm, tinggi
batangnya 166 cm, diameter batang 54,14 cm, panjang pelepah
sampai petioli 274 cm, panjang pelepah total 302 cm dengan jumlah
daun 179 buah.
2) Batang kelapa sawit berbentuk bulat panjang dan pada umumnya
pangkal batang agak membesar yang disebut bowl.
3) Tanaman kelapa sawit memiliki bunga jantan dan bunga betina.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon
(monoecious diclin).
4) Bunga kelapa sawit tersusun berbentuk karangan bunga yang
disebut tandan bunga. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang,
sedangkan bunga betina agak bulat. Bunga jantan memiliki bentuk
lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan
mekar. Bunga jantan terdiri dari tangkai bunga, serbuk sari, dan
kelopak bunga. Bunga betina terdiri dari tangkai kepala putik,
kelopak bunga, kepala putik, dan tandan bunga.
5) Buah kelapa sawit tersusun dari kulit buah yang licin dan keras
(epicarp), daging buah (mesocarp) dari susunan serabut (fibre) dan
mengandung minyak, kulit biji (endocarp) atau cangkang atau
tempurung yang berwarna hitam dan keras, daging biji (endosperm)
yang berwarna putih dan mengandung minyak.
6) Defisiensi unsur hara tanaman kelapa sawit, yaitu kahat unsur N, P,
dan K. Kahat N gejalanya warna daun pucat, dan menguning. Kahat
P gejala anak daun dan pelepah menjadi kemerah-merahan. Kahat K
gejala daun tua orange seperti tembus pandang. Bagian anak daun
mengering (nekrosis).
7) Hama tanaman kelapa sawit adalah belalang, ulat.
8) Perawatan tanaman kelapa sawit meliputi membersihkan gulma,
membuat piringan, dan pemupukan.
b.

Komoditas Kakao

79

1) Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon,


di alam dapat mencapai ketinggian 10 meter.
2) Daun kakao merupakan daun tunggal (folium simplex). Bunga pada
tanaman coklat memiliki kelamin dua (hermaproditus). Buah pada
tanaman kakao termasuk dalam buah buni (bacca), yaitu buah yang
dindingnya mempunyai dua lapisan, yang terdiri dari lapisan luar
yang tipis agak menjangat atau kaku seperti kulit dan lapisan dalam
yang tebal, lunak, dan berair.
3) Daun pada tanaman kakao yang defisiensi unsure hara N menjadi
menguning dan mengering.
4) Pemeliharaan tanaman kakao terdiri dari pengendalian gulma,
membuat piringan, pemupukan, dan pemangkasan.
5) Tanaman kakao tampak daun menguning karena kahat unsur N dan
kecoklatan karena kahat Mg.
6) Hama tanaman kakao adalah ulat, semut, belalang, laba-laba.
c.

Komoditas Karet
1) Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan tanaman tahunan
komoditi perkebunan yang membutuhkan teknik budidaya yang
baik dan benar agar memperoleh produksi yang optimal.
2) Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan
yang tinggi di atas. Batang tanaman ini mengandung getah yang
dikenal dengan nama lateks.
3) Pemeliharaan tanaman kakao terdiri dari pengendalian gulma,
membuat piringan, pemupukan, dan pemangkasan.
4) Tanaman karet mengalami defisiensi unsur hara N.
5) Hama tanaman karet adalah belalang.

2. Saran

80

a. Sebaiknya dalam praktikum menggunakan tanaman kelapa sawit yang


sudah berbunga dan berbuah agar dapat melihat morfologi buah dan
bunga secara langsung.
b. Sebelum melakukan pemupukan terlebih dahulu melakukan analisis
unsur hara.
c. Sebaiknya dalam kegiatan pemeliharaan tanaman tahunan melakukan
teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Sebaiknya diadakan praktikum LSU sehingga dapat membandingkan
diagnosa defisiensi unsur hara secara visual dan morfologis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdoellah. 2007. Beberapa Metode Penentuan Jenis Tanah Pada Kelapa sawit .
Vol XII No 26. 2006.
Anwar, Chairil. 2005. Manajemen Dan Teknologi Budidaya Karet. PT. FABA
Indonesia Konsultan. Jakarta.
Balai Penelitian Sembawa, 2005. Pengelolaan Bahan Tanam Karet. Pusat
Penelitian Karet, Balai Penelitian Sembawa, Palembang.

81

Basuki, I dan I Made Wisnu. 2008. Inovasi Teknologi Budidaya Tanaman Kakao
di Laboraturium Agribisnis Prima Tani Kabupaten Lombok Barat. J.
Agrosains 3(2) : 14 -26
Daniel, R. 2009. Pengelolaan Hama dan Penyakit Terpadu untuk Produksi Kakao
Berkelanjutan. http://www.ag.gov.au/cca. Diakses pada tanggal 28 Mei
2012.
Gardner,R.G.S, R.B. Parae dan R.L. Mitchell. 2011. Fisiologi Tanaman Budidaya.
J. Penelitian Tanaman Industri vol 8(3) hal 73.
Hanum, Chairani. 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 3. Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Haris, N. 2005. Kemiripan genetik klon karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.
berdasarkan metode Amplified Fragment Length Polymorphisms (AFLP).
Menara Perkebunan Vol. 7 (1) : 1-15.
Jones Jr. 2012. Plant Analysis and Material Function of Elaeis guineensis1308.
http://www.plantphysiol.org. Diakses pada tanggal 12 Mei 2012.
Mulyana, A. 2009. Kajian model subsisi bunga giro pemerintah daerah sebagai
salah satu alternatif upaya pembangunan perkebunan karet rakyat.
Jurnal Agribisnis & Industri pertanian, vol 2 (2), hal 1-9. Fakultas
pertanian, Universitas Sriwijaya.
Nair, P.K.R. 2006. Agroforestry Systems in The Tropic. Kluwer Academic
Publishers. London
Parhusip,

A.
B.
2008.
Potensi
Karet
Alam
Indonesia.
http://potensikaret.blogspot.com . Diakses pada tanggal 13 Mei 2012.

Prabowo,Yudi.2007.Budidaya Karet. http://teknisbudidaya.blogspot.com. Diakses


tanggal 28 Mei 2012.
Riwandi, 2005. Rekomendasi Pemupukan Kelapa Sawit Berdasarkan Analisis
Tanah dan Tanaman. Jurnal Akta. Vol 5(1): 27-34.
Semangun, H. 2005. Penyakit-penyakit Perkebunan Karet, Kakao dan Kelapa
Sawit Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Setyamidjaja dan Djoehana. 2011. Budidaya Kelapa sawit. Kanisius. Yogyakarta
Soedono. 2006. Hama Tumbuh-tumbuhan. Penerbit CV.Yasaguna. Jakarta.
Soetomo. 2005. Pengaruh berbagai Stimulan terhadap Pertumbuhan Tanaman
Kakao. J. Agrifor vol 6 no 3 hal 22-37.
Sunanto. 2007. Hama Dan Penyakit Tanaman Kakao. Penerbit Kanisius :Jakarta.
Supriadi, M. 2008. Adopsi teknologi usahatani karet oleh petani di dua tipe desa.
Jurnal Penelitian Karet, 15 (2): 97- 118.

82

Sutandi.

R. 2009. Mengenal Kelapa Sawit. http://ptpn-9 swt.com. Diakses


11 Mei 2012

Winarsih, Sri., J. Santoso, T. Wadiyarti. 2005. Regenerasi Embrio Zigotik Dan


Transformasi Genetik Kakao Melalui Agrobacterium tumefaciens. Jurnal
Pelita Perkebunan Vol. 20 (3) : 104-109.