Anda di halaman 1dari 18

Form A

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Pemeriksaan Fisik Hewan


1. Signalement hewan
Nama
Jenis hewan / spesies*
Ras / Breed
Warna bulu & kulit
Jenis kelamin*
Umur
Berat badan
Tanda khusus

: Belang
: Kucing
: domestic short hair
: Taby klasik (Bulu) ,
abu (kulit )
: Jantan
: 4 bulan

2. Anamnesis
Kucing bernama belang
merupakan kucing Ibu
Bangbang yang telah
mengalami kepincangan
selama 3 minggu lebih,
belum diterapi dengan
diagnosa sementara
dislokasio persendian siku

: 1.3 kg
: Ekor bengkok dan
pendek

3. Status Present
3.1. Keadaan Umum
Perawatan
Habitus / tingkah laku
Gizi
Pertumbuhan badan
Sikap berdiri
Suhu tubuh
Frekuensi nadi
Frekuensi nafas

: Sedang
: Pendiam
: Sedang
: Sedang
: Menumpu dengan tiga
kaki
: 38.3 o C
: 100 x / menit
: 32 x / menit

3. Status Present
3.2. Adaptasi Lingkungan
:
3.3. Kepala & Leher
Inspeksi
- Ekspresi wajah
: Ramah
- Pertulangan kepala
: Kompak, tegas
- Posisi tegak telinga
: Berdiri keduanya
- Posisi kepala
: Lebih tingi dari tulang unggung
Palpasi
Mata dan orbita kiri
Mata dan orbita kanan
- Palpebrae
: Menutup dan membuka sempurna
- Palpebrae
- Cilia
: Ke arah luar
- Cilia
- Konjunktiva
: Rose
- Konjunktiva
- Membrana nictitans
: Tersembunyi
- Membrana nictitans

: Menutup dan membuka sempurna


: Ke arah luar
:Rose
: Tersembunyi

Bola mata kiri


- Sklera
- Cornea

: Putih
: Terang tembus, tidak ada perlekatan

- Iris
- Limbus
- Pupil
- Reflex pupil
- Vasa injectio
Hidung & sinus-sinus
Mulut & rongga mulut
- Rusak / luka bibir
- Mukosa
- Gigi geligi
- Lidah

Bola mata kanan


: Putih
- Sklera
:Terang tembus dan tidak ada
- Cornea
perlekatan
: Kecoklatan, tidak ada perlekatan
- Iris
: Merata antara sklera dan kornea
- Limbus
: Tidak ada perubahan
- Pupil
: Ada
- Reflex pupil
: Tidak ada
- Vasa injection
: Cermin hidung simetris, basah, bersih, dan nyaring (sinus)

: Kecoklatan, tidak ada perlekatan


: Merata antara sklrea dan kornea
: Tidak ada perubahan
: Ada
: Tidak ada

Telinga
- Posisi
- Bau
- Permukaan
- Krepitasi

: Berdiri keduanya, simetris


: Bau khas cerumen
: Bersih
: Tidak ada

- Reflek panggilan

: Ada

3.4. Thorak : 3.4.1. Sistem Pernafasan


Inspeksi
- Bentuk rongga thorax
: Simetris
- Type pernafasan
: Costalis
- Ritme
: Teratur

Perkusi
- Lapangan paru-paru
- Gema perkusi

: Tidak ada perluasan


: Nyaring dan jernih

- Intensitas
- Frekuensi

Auskultasi
- Suara pernafasan

: Terdengar jelas vesikular

Leher
- Perototan
- Trachea
- Esofagus

: Tidak ada
: Rose
: lengkap
: Rose, basah, lembab, kasar dan tidak
ada kelainan

: simetris
: Tidak ada kelainan, tidak ada
perluasan, tidak ada reflex
Sakit dan batuk saat ditekan
: Tidak ada kelainan, tidak ada
perluasan, dan tidak ada reflex
Sakit saat dipalpasi

:
: 32 x / menit

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Palpasi
- Penekanan rongga thorax
: Tidak ada respon sakit
- Palpasi intercostal
: Tidak ada respon sakit
3.4. Thorak: 3.4.2. Sistem Peredaran Darah
Inspeksi
- Ictus cordis
: Tidak terlihat
Perkusi
- Lapangan jantung

: tidak ada kelainan

- Suara ikutan
Antara ins & ekspirasi

: tidak ada suara ikutan

A u s k u l t a s I (lanjutan)
- Frekuensi
- Intensitas
- Ritme
- Suara sistolik & diastolik
- Ekstrasistolik
- Lapangan jantung
- Sinkron pulsus & jantung

:
: 100 x / menit
: Kuat
: Teratur
: Terdengar jelas sistol
: Tidak ada
: Tidak ada kelainan
: Sinkron

3.4. Thorak: 3.4.3. Uji-Uji Lain


- Uji alu
:
- Uji gumba
:
3.5. Abdomen dan Organ Pencernaan yang Berkaitan
Inspeksi
- Besarnya
:
- Bentuknya
:
- Legok lapar
:
- Suara peristaltik lambung
:
P a l p a s i ( profundal ruminansia kecil)
- Epigastrikus
:
- Mesogastrikus
:
- Hypogastrikus
:
- Isi usus halus
:
- Isi usus besar
:
- Frekuensi gerakan rumen
:
x / menit
(uji tinju)
Auskultasi
Ruminansia
- Rumen
- Peristaltik usus

:
:

Auskultasi
Hewan Kecil
- Peristaltik usus

: Terdengar

Alat Perkemihan dan Kelamin (Urogenitalis)


Jantan
- Perhatikan preputium
: Bersih, tidak ada kebengkakan
dan luka
- Perhatikan penis
: Rose, tidak ada kebengkakan
dan tidak ada luka
- Keluarkan glans penis
- Besar
- Bentuk
- Sensitivitas
- Warna
- Kebersihan
- Scrotum
- Urethra
3.6. Alat Gerak
Inspeksi
- Perototan kaki depan
- Perototan kaki belakang

: Tidak ada kebengkakan


: Tida ada perubahan bentuk
: Tidak sensitif
: Rose
: Bersih
: bersih, simetris dan tidak ada
perlukaan
:

: Kaki kanan depan terlihat


bengkak, tidak simetris dan
memendek
: Tidak ada kelainan

P a l p a s i ( profundal hewan kecil)


- Epigastrikus
: Tidak ada respon rasa sakit
- Mesogastrikus
: Tidak ada respon rasa sakit
- Hypogastrikus
: Tidak ada respon rasa sakit
- Isi usus halus
: Isi
- Isi usus besar
: Kosong
P a l p a s i (hewan besar)
- Tegangan isi perut
- Sapi
- Kuda
- Frekuensi gerakan rumen
(uji tinju)

Anus
- Sekitar anus
- Refleks sphincter ani
- Glandula perianalis - anjing
- Pembesaran kolon - kucing
- Kebersihan daeral perineal
- Hubungan dgn vulva-betina

:
:
:

x / menit

: Bersih
: Positif
:: Tidak ada
: Bersih
:-

Betina
- Lakukan inspeksi & palpasi
- Mukosa vagina

- Perhatikan kelenjar mamae


- Besar
- Letak
- Bentuk
- Kesimetrisan
- Konsistensi kelenjar
- Palpasi rektal

:
:
:
:
:
:

Palpasi
- Struktur pertulangan
- Kaki kiri depan

: Teraba, keras, tidak ada rasa

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

- Spasmus otot

: Tidak ada

- Kaki kanan depan

- Tremor

: Tidak ada

- Kaki kiri belakang

- Sudut persendian

: Tidak ada kelainan

- Kaki kanan belakang

- Cara bergerak - berjalan


- Cara bergerak - berlari

: Tidak koordinatif dengan 3 kaki


: Tidak koordinatif dengan 3 kaki

- Konsistensi pertulangan
- Reaksi saat palpasi
- Letak reaksi sakit
- Panjang kaki depan ka / ki
- Panjang kaki blk ka / ki

Palpasi
- Limfoglandula poplitea
- Ukuran
- Konsistensi
- Lobulasi
- Perlekatan/pertautan
- Panas
- Kesimetrisan ka / ki
- Kestabilan perlvis
- Konformasi
- Kesimetrisan
- Kucing dan anjing
- Tuber ishii
- Tuber coxae

sakit saat dipalpasi


: Teraba, terdapat fraktur os
humerus, dan dislokasi sendi siku
: Teraba, keras, tidak ada rasa
sakit saat dipalpasi
: Teraba, keras, tidak ada rasa
sakit saat dipalpasi
: Keras
: Menghindar kesakitan (kanan
depan) saat dipalpasi
: Os humerus kanan
: Tidak simetris
: Simetris

: Tidak ada kebengkakan


: Kenyal
: Jelas
: Tidak ada perlekatan
: Sama dengan daerah sekitarnya
: Simetris
: Stabil
: Simetris

: Stabil
: Stabil

DIAGNOSA KLINIS
DIFFERENSIAL DIAGNOSA
PEMERIKSAAN LANJUTAN
PROGNOSA
TERAPI/TINDAKAN

Fraktur oblique compound pada os humerus dextra


Pemeriksaan X-ray dan pemeriksaan darah
Dubius
Pemasangan intermedullary pin (bone pin dan bone wire), reposisi pada persendian siku serta
eksternal fiksasi pada daerah fraktur dan dislokasi siku

Mahasiswa PPDH,

Dosen Bedah

G Andri Hermawan, SKH


NRP B94144116

Drh Dudung Abdullah SM


NIP 1950523 197701 1 001

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Pemeriksaan Darah
Tabel 2 Hasil pemeriksaan darah
Parameter
Hemoglobin (Hb) (gr/dl)
PCV (%)
BDM (106/mm3)
BDP (106/mm3)
Diferensial darah putih:
Limfosit
Neutrofil
Monosit
Eosinofil
Basofil

Hasil

Nilai normal

Keterangan

8.28
22.8
8.3
30.35

9-16.7
29.2-51.7
5.24-10.89
4.2-17.5

Normal
Turun
Normal
Leukositosis

19
76
2
3
-

20-55
35-75
1-4
2-12
0-1

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Berdasarkan hasil pemeriksaan darah, kucing mengalami leukositosis, hal tersebut merupakan respon
peradangan akibat fraktur os humerus. Tetapi berdasarkan pemeriksaan diferensial leukosit tidak terjadi
peningkatan salah satu sel darah putih.

Bagian Bedah & Radiologi

Form C2

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor


Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

GENERAL RADIOGRAPHY EXAMINATION FORM


Date: Diagnostic Radiology and Ultrasonography of the Dog and Cat
ANAMNESE
SIGNALEMENT
Kucing bernama belang merupakan kucing Animal Name :
Ibu Bangbang yang telah mengalami
kepincangan selama 3 minggu lebih, belum Species : Cat
BW : 1.3
diterapi dengan diagnosa sementara
kg
dislokasio persendian siku
Sex :
M, Age :
Yr
F
SM,

PRESENT STATUS
Rectal Temp.: 38.5
C
Resp. Rate : 32
Heart Rate : 100

4 Month Mentation:
SF

Technical Data: Grid Factors:


Yes,

OWNER
Name: Belang
Address: Dramaga Pet Shop
Phone: 081296654828

Yes,

Ref. (sender): -

No

RADIOGRAPHY PROCEDURES
Beam Setting: Film Sizes
Contras Agents

Radiograph Positions

No

Thick = 3 cm

5:1, kVp + 2-4 kVp = 52

=.
FFD =
8:1, kVp + 6-8 kVp + GF =
cm
..
=.
40 inchi

Num: 462 A

12:1, kVP + 10

24 x
30 x
40

mAs = 0.8

Iodine
Oblique
Double contras
RosCaud

VD
L-requmb
DV
cranio-

=.

R-requmb
BaSO4

30

. caudal
.

Radiographer: G Andri Hermawan

REGIONS
Head

ORGANS/SYSTEM
Kualitas

Neck
Fore Extremity

Posisi

Thorax
Abdomen

Os humerus

Pelvis
Hind Extremity

Olecranon sianistra
Olecranon dextra

..
..

Os radius dextra

Os ulna dextra

Medial
dextra

Signature:

RADIOGRAPHIC INTEPRETATIONS
RADIOGRAPHIC DESCRIPTIONS
ABNORMALITY
Gambar diambil dengan nilai kVp dan mAs yang tepat sehingga
Norm /
Abnrm
dihasilkan radiograf yang dapat diinterpretasikan.

Posisi pengambilan gambar adalah cranio-caudal dengan fokus pada


Norm /
Abnrm
persendian siku antara os humerus dan os radiu-ulna.

Terjadi perubahan bentuk pada os humerus kiri, yaitu terjadi fraktur


Norm /
Abnrm
compound. Selain itu juga terjadi perubahan marginasi menjadi tidak rata
pada bagian yang fraktur, dan opasitas di bagian fraktur pun berubah
menjadi lebih radiolucent.
Olecranon kiri tidak mengalami perubahan bentuk, letak, marginasi,
Norm /
Abnrm
opasitas, marginasi maupun jumlah.
Olecranon kanan lebih radiolucent dibandingkan olecranon kiri, letak
Norm /
Abnrm
dan arahnya pun berubah akibat fraktur pada os humerus dan dislokasi
sendi siku.

Terjadi perubahan lokasi pada os radius dextra, perbahan tersebut


Norm /
Abnrm
diakibatkan oleh dislokasi persendian siku sehingga arah dan posisi os
radius pun ikut berubah sesuai arah dislokasi.

Terjadi perubahan lokasi atau posisi pada os ulna dextra, perbahan


Norm /
Abnrm
tersebut diakibatkan oleh dislokasi persendian siku sehingga arah dan
posisi os ulna pun ikut berubah sesuai arah dislokasi.

epikondilus Medial epikondilus dextra tidak terlihat, terjadi perubahan lokasi atau
Norm /
Abnrm
posisi, perubahan tersebut diakibatkan oleh dislokasi persedian siku yang
menyebabkan os radius ulna berputar searah dislokasio sehingga medial
epiondilus pun berputar ke arah belakang.

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

RADIOGRAPHIC DIAGNOSE: Kucing mengalami fractura oblique compound os humerus, dan dislokasi
sendi siku.

Mahasiswa PPDH,

Dosen Radiologi

G Andri Hermawan, SKH


NRP B94144116

Drh Dudung Abdullah SM


NIP 1950523 197701 1 001

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Form G1

PROTOKOL BEDAH
Prosedur bedah: (1) Intramedullary pin, bone wire
No. Kasus: . No. X-ray:
Pemilik: Ny Bangbang
.
ID Hewan:
Jam Mulai op: .. Jam Selesai op:
Durasi:______jam_____menit
.
Jenis: Kucing Kelamin: Jantan
Diagnosa pre-bedah: Fraktura os humerus dan dislokasi sendi siku
Umur1_thn 4 bln

Ras: Domestic short hair Berat: 1.4 kg


Diagnosa post-bedah:
.
Operator Bedah : G Andri Hermawan
Kondisi saat post-bedah:
Ass. Operator Bedah : Imran Sukri Sinaga

Gambarkan dengan jelas dan deskripsikan prosedur bedah yang dilakukan secara singkat
(termasuk pemeriksaan organ, penyayatan, ligasi dan penjahitan)
1.
Penyayatan kulit dimulai dari bagian craniolateral os humerus. Sayatan longitudinal dilakukan sepanjang 4 cm ke arah distal
dan 2 cm ke arah proximal dari bagian fraktur.
2.
Selanjutnya dilakukan penyayatan fascia dengan hati-hati hingga os humerus terlihat. Identifikasi dan fiksasi dan tarik ke arah
kaudal m trisep, biceps dan brachialis hingga menutup n. radialis. Selanjutnya fikasai dan tarik ke arah kranial m biceps, m
pectoral superficial dan m. brachiocephalicus. Selanjutnyapreparir callus yang ada di sekitar fractura
3.
Reposisi os humerus bagian proximal dan distal hingga bagian fraktur menempel dengan rapat.Pemasangan intramedullary pin
dengan memalu pin dari ujung proksimal lateral punggung tuberositas humerus secara obliq kedalam sum-sum tulang (bone
marrow). Tumpulkan ujung dari pin untuk mencegah kerusakan jaringan disekitarnya. Toggling atau ungkit pin ke bagian
proximal hingga pin tersebut masuk kedalam bone marrow. Kemudian intramedullary pin yang menembus di arah proximal bone
marrow diketuk masuk sehingga sisanya tinggal 2,5 cm
4.
Pasang bone wire metode cerclage wire, yaitu bone wire diikatkan di daerah patahan oblique lalu dikencangkan.
5.
Dilakukan pembersihan atau pembuangan sisa-sisa patahan yang tertingal. Selanjutnya disekitar os humerus disemprotkan
antibiotik Penicillin secukupnya sebelum dilakukan penjaitan.
6.
Otot dan fascia yang terkuak dijahit menggunakan benang chromic cat gut 4.0 dengan jahitan sederhana.
7
Setelah itu kulit dijahit menggunakan benang chromic silk dengan jahitan sederhana. Luka operasi kemudian dibersihkan dan
diberikan antiseptik iodine tincture.
8.
9.

10.
11.

Selanjtnya reposisisendi siku yang dislokasi, dislokasi tahap pertama dilakukan dengan tahap non pembedahan dengan cara
palpasi dan mengembalikan posisi persendian siku yaitu antara os humerus dan os radius ulna.
Jika reposisi non bedah tidak dapat dilakukan, makan metode reposisi dengan pembedahan dilakukan penyayatan dari lateral
sendi siku dengan pendekatan lateral kondilus os humeri dan epikondilus humeri, setelah kulit disayat maka akan ditemukan otot
ekstensor carpi radialis, kuakan dan tarik ke lateral setelah itu buka kapsul sendi dan mulai posisikan kembali persendian sebagai
mana mestinya. Setelah sendi kembali ke dalam posisi yang semestinya.
Lakukan pembersihan di daerah bekas sayatan dan disemprotkan antibiotik Penicillin secukupnya selanjutnya Otot dan fascia
yang terkuak dijahit menggunakan benang chromic cat gut 4.0 dengan jahitan sederhana
Setelah itu kulit dijahit menggunakan benang chromic silk dengan jahitan sederhana. Luka operasi kemudian dibersihkan dan
diberikan antiseptik iodine tincture.

13.

Untuk mempercepat pembentukan tulang dan sendi, maka kakinkanan depan mulai dari proksimal os humeus hingga distal os
radius ulna di fiksasi menggunakan plastik yang dikombinasi dengan balutan kasa yang dapat membentuk dan menjaga bentuk
serta posisi tulang serta sendi supaya persembhan cepat terjadi.
Spesimen yang diambil untuk uji
Jaringan atau metarial yang diambil:
Material yang digunakan atau yang ditanam:
laboratorium:
1. Darah
1.
1. Bone pin 1 mm
2.
2.
2. Bone wire 1 cm
3.
3.
3.
Ditulis oleh (checklist):
MAHASISWA: (Nama sblh kiri dan tanda tangan Tim bedah yang hadir:
sblh kanan)
1. G Andri Hermawan
(Operator)
Ass. Operator Bedah
2. Imran Sukri Sinaga
(Ass. Operator)
3. Zulfitra Utami Puti
(Preparasi)
Operator Bedah
4. Ira Agustina Dewi Gandasari (Pembiusan)
__
(Dosen atau mahasiswa)
( Suhu dan napas)
5. Andi Nur Izzati
( Umum )
Dokter Hewan (Dosen) mohon diperiksa &
6. Nurul Chotimah
ditandatangani :

_____

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

MONITORING PASCA BEDAH


Hari ke- pasca
bedah

1
P

(Pagi Siang Malam)

3
P

4
P

56
52
48
44
40
36
32
24
20
16
12
8
4
0

Grafik Frek. Nafas

Frekuensi Nafas

6
P

7
P

Terapi yang dilakukan:


1. ____________________________
2. ____________________________
3. ____________________________
4. ____________________________
5. ____________________________
6. ____________________________
7. ____________________________

x/mnt

Grafik Frek.
Jantung

Kejadian selama pengobatan:

200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0

Frekuensi Jantung x/mnt


40
39
38
37
36
35
34
33

Grafik Temperatur

Temperatur
Makan (+/-)
Defekasi (+/-)
Skor feses:

(C)

1 (diare) sd 5 (keras)

Minum (+/-)
Urinasi (+/-)
Jahitan (Kering / Basah)
Tgl pembukaan
jahitan:

Kondisi jahitan dan luka bedah:

Dilakukan oleh (checklist):

Jahitan Basah - Luka Basah, Tindakan: ________________________


_________________________________________________________
Jahitan Kering - Luka Basah, Tindakan: ________________________
_________________________________________________________
Jahitan Kering - Luka Kering, Tindakan: _______________________
_________________________________________________________

Ass. Operator
Bedah
Operator Bedah
Pada:
3 hari, tgl: ________
5 hari, tgl: ________
7 hari, tgl: ________
11 hari, tgl: ________
14 hari, tgl: ________

MAHASISWA:

( G Andri Hermawan )
DOSEN BEDAH:

( Drh Dudung Abdullah)

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

MONITORING PEMBIUSAN
Tgl:

.
Jenis:

ID:

.
Umur: thn .bln Kelamin:
Berat:
..
..kg

Prosedur Bedah:
.....

PEMERIKSAAN PREPEMBIUSAN
PCV:
PP/ALB:
..

Temp:
Pulsus: /mnt
.C

Resiko Pembiusan: Tingkat 1 / 2 / 3 / 4 / 5


BUN/CREAT:.
.
Resp: /mnt

ALT/AP/GGT:

CRT:
.

Operator: ..

Ass. Operator:
...
Ass. Anesthesia:
.

PEMBIUSAN
Pre-medikasi

Sediaan Bius:

..

..

..

..

..

Dosis aplikasi:

..

..

..

..

..

Induksi
Maintenance

No. Kasus:
.

Pemilik:

Ras:
..

Jam (WIB):

Waktu (Jam)

0
1
5

(Menit)

Kode Catatan
Maint bius 1:
.

Frekuensi Nafas

Grafik Frek. Jantung

Frekuensi Jantung

Grafik Temperatur (C)

Temperatur

Rute:

4
5

Jml pemberian

2
1
5

3
0

4
5

Endotracheal tube:
Ya /
Tidak
Ukuran ETT: ....
No Mesin Bius: ..
Type Pembiusan:
...

1
5

3
0

4
5

Keterangan Kode

Maint bius2:
.

Grafik Frek. Nafas

Form G2

1
3
0

..

56
52
48
44
40
36
32
24
20
16
12
8
4
0

x/mnt
160
140
120
100
80
60
40
20
0

x/mnt
40
39
38
37
36
35
34
33

(C)

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

CRT (detik)
Mukosa (warna)
Tonus Otot Pipi (+ /
-)
Pemulihan: waktu dari penghentian pembiusan sd ada reflek (mnt) sd hewan tengkurap ... (mnt) sd berdiri ....
(mnt)
Kondisi sesaat setelah pembedahan:
hewan diam & tenang /
eksitasi /
meronta /
lainnya

Komplikasi yang terjadi selama pemulihan:


tidak ada /
gangguan pernafasan /
pemulihan yang lama /
lainnya
Ttd dosenskill lab/anest
Perkiraan kehilangan darah:. Total cairan yang diberikan: Total waktu pembiusan: ...jam.mnt
Mahasiswa:
Total jumlah urinasi:
Cairan 1:
.
..
..
Dokter Hewan:
Total waktu bedah:
Cairan 2: .
.
.

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Perhitungan Dosis Obat


Anastesi General
Xylazine 2%:
Dosis: 2 mg/kg
Konsentrasi: 20 mg/ml
Dosis pemberian =
2 x 1.3 kg
20 mg/ml

= 0.13 Ml
Ketamin 10%:
Dosis: 10 mg/kg
Konsentrasi: 100 mg/ml
Dosis pemberian =
10 x 1.3 kg
100 mg/ml

= 0.13 mL
Premedikasi
Atropin sulfat
Dosis: 0.02 mg/kg
Konsentrasi: 0.25 mg/ml
Dosis pemberian =
=

0.02 x 1.3 kg
0.25mg /ml

= 0.065 mL
Antibiotik
Penicillin
Dosis: 30.000 IU/ml
Dosis pemberian = 2 mL pada jaringan yang akan dijahit.
Penicillin diberikan pada jaringan sebelum dilakukan penjahitan saat operasi dilakukan
Gentamycin

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Dosis: 0.5 mL/ 10 kg


Dosis pemberian = 2 mL pada jaringan yang akan dijahit.
Konsentrasi : 50 mg
Dosisi pemberian : 0.05 x 1.3
: 0.045 mL

Posisi fraktura pada corpus os hmerus (Gambar 1 dan 2)

Gambar 1 Skema letak fraktur pada os humerus tipe oblique

Letak fraktur

Bagian Bedah & Radiologi


Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Gambar 2 Hasil radiografi menunjukan posisi dan tpe fraktur oblique

Bagian Bedah & Radiologi

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor


Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Penentuan bidang sayatan, menggunakan sayatan kraniolateral os humerus (Gambar 3 dan Gambar 4)

Gambar 3 Posisi bidang sayatan sebagai Ilustrasi


(Nurhidayat et al. 2010)

Gambar 4 letak sayatan craniolateral


(Piermattei et al.)

Penyatan dilakukan craniolateral os humerus, pendekatan ini dapat digunakan untuk membuka
daerah proksimal tiga perempat humerus. Sayatan ini dilakukan dengan cara menarik kearah caudal m.
Trisep, biceps dan brachialis menutup n. radialis, sedangkan m biceps, m pectoral superficial dan m.
brachiocephalicus ditarik cranial. Syaraf radial dilindungi oleh otot brakialis sehingga meminimalisir
trauma n. radialis saat prosedur operasi ( Piermattei DL , Jhonson KA atlas pendekatan bedah untuk tulang
dan sendi anjing dan kucing , ed 4 , Philadelphia , 2004 , Saunders )

14

Bagian Bedah & Radiologi

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor


Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Pemasangan bone pin pada os humerus (Gambar 5)

Gambar 5 Pemasangan dan posisi bone pin pada os humerus


Bone pin dimasukan dari ujung proksimal lateral punggung tuberositas humerus secara obliq (A),
setelah masuk ke dalam korteks, pin diarahkan ke distal agar masuk ke dalam rongga atau lumen os
humerus, stelah itu didorong menuju kondilus medial os humerus (C). Ukuran bone pin harus diperhatikan
jangan terlalu besar, jika terlalu besar akan menembus dan merusak epicondylus medial dan masuk ke
dalam sendi siku. Jika diameter pin terlalu besar maka pin diarahkan ke daerah canal centrodorsal os
humerus dan ditempatkan pada proximal foramen supratrochlear (E).
Pemasangan bone wire (Gambar 6)

Gambar 6 Berbagai cara pemasangan bone wire pada fraktur oblique os humerus
Untuk memperkuat dan mencegah fraktur ulangan pada os humerus, maka dipakai juga bone wire
sebagai fiksasi. Pemasangan bone wire sendiri terdapat bebrapa cara mulai dari metode cerclage wire (A),
hemicerclage wire (B), dan bone wire yang langsung mengikat dan fragmen fraktura satu sama lain dengan
cara dilubangi (C). Pada operasi kali menggunakan metode cerclage wire, alasan penggunaan cerclage
wire karena os humerus pada kucing yang dioperasi kecil sehingga tidak memungkinkan dilakukan bor
pada corpus humerus yang terlalau kecil.
15

Bagian Bedah & Radiologi

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor


Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Sayatan untuk reposisi dislokasi sendi siku (Gambar 7, Gambar 8)

Letak
dislokasi

Gambar 7 Hasil radiografi yang menunjukan adanya dislokasi pada sendi siku (A), ilustrasi bidang sayatan
dari lateral (B), dan sayatan pada sendi siku dari lateral (B)
Reposisi sendi siku dilakukan sayatan dari lateral dengan pendekatan lateral kondilus os humeri dan
epikondilus humeri, setelah kulit disayat maka akan ditemukan otot ekstensor carpi radialis, kuakan dan
tarik ke lateral setelah itu buka kapsul sendi dan mulai posisikan kembali persendian sebagai mana
mestinya.

16

Bagian Bedah & Radiologi

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor


Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

Nama Hewan
Jenis &Ras Hewan
Jenis Kelamin/Umur
Berat Badan

: Belang
: Kucing / DOmestik
: Jantan / 4 bulan
: 1.3 kg

Tanggal
Pemilik
Alamat
Telepon/Fax

Form F

: ............
: ......................................
: ......................................
: ......................................

R
/
Gentamycin No 1 fls
s.b.d.d.1 C.
_________________________ Paraf
Curcuma plus syr 100 ml No I fls
s.b.d.d. 1 C.
_________________________ Paraf
Amoxicillin syr 50 ml No I fls
s.b.d.d.1 C
_________________________ Paraf
Bioplasenton oint 2 % No I tube
s.u.e
________________________ Paraf

Mahasiswa PPDH,

Dosen Bedah

G Andri Hermawan, SKH


NRP B94144116

Drh Dudung Abdullah SM


17

Bagian Bedah & Radiologi

Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor


Website : www.bedahradiologi.fkh.ipb.ac.id Email : bedah_fkhipb@yahoo.com
Telp/Fax : +62251 8628080; 8628181

NIP 1950523 197701 1 001

18