Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan

A. Pembuatan gas hidrogen


Percobaan pembuatan gas hidrogen dilakukan dengan variasi jumlah alumunium foil. Dalam
pereaksian gas ini dilakukan dengan reaktan NaOH yang di lakukan dalam hydrogen storage
sederhana seperti pada gambar 1. NaOH bertindak sebagai katalis yang mempercepat reaksi.
Aluminium merupakan logam yang berwarna putih abu-abu (silver) yang melebur pada 659 oC, dan
bila terkena udara akan teroksidasi pada permukaannya. Pembentukan hidrogen ini terjadi
menurut persamaan :
2 Al + 6 H2O 2 Al(OH)3 + 3 H2
Pembentukan gas hidrogen bila direaksikan dengan air tanpa adanya katalis, maka reaksi akan
berlangsung sangat lama maka dari itu diperlukan katalis yang sesuai untuk mempercepat reaksi.
Na dalam NaOH digunakan sebagai katalis maka Na ikut bereaksi namun tidak dihasilkan dalam
produk. Katalis yang digunakan pada percobaan ini yaitu larutan beralkalin, karena Alumunium
(alumunium foil) dapat menunjukkan sifat asamnya jika direaksikan dengan larutan beralkalin
(basa) seperti larutan NaOH.
Variasi jumlah alumunium pada percobaan adalah 0.1;0.2;0.4; dan 0.8. hasil percobaan
menunjukkan bahwa semakin besar jumlah gram alumunium makan produksi gas akan semakin
besar. Hal ini sesuai dengan rumus PV = nRT
dengan :
P = tekanan (atm)
V = volume (L)
n = mol
R = tetapan gas universal (0,08206 L atm mol-1K-1)
T = temperatur (K)
Mol dalam perumusan berbanding lurus volume yang dihasilkan sehingga semakin tinggi jumlah
gram maka semakin tinggi jumlah volume gas.
Uji gas hidrogen ini dilakukan terhadap membrane fuell cell dan dapat membuat kipas
dan lampu menyala dengan besar voltase 8.64 volt.
Hal ini sesuai dengan reaksi pada membran fuel cell:
2H2 + O2> 2H2O

Pada anoda hidrogen di oksidasi menjadi proton:


2H2> 4H+ + 4 eSetiap molekul H2 terpecah menjadi dua atom H+(proton), sedang setiap atom hydrogen
melepaskan elektronnya. Proton ini akan bergerak menuju katoda melewati membran. Elektron
yang terbentuk akan menghasilkan arus listrik kalau dihubungkan dengan penghantar listrik
menuju katoda. Pada katoda oksigen diubah menjadi H2O
O2 + 4H+ + 4 e- > 2H2O
Pembuatan tawas dari limbah alumunium
Pada percobaan pembuatan tawas ini digunakan alumunium foil sebagai bahan utama
dalam pembuatan tawas. Sebagai pelarut digunakan larutan KOH 20% dan juga NaOH 20%,
penggunaan dua buah larutan ini dimaksudkan untuk mengetahui larutan yang lebih cocok
digunakan dalam pembuatan tawas ini. Tawas dihasilkan dengan mereaksikan logam aluminium
(Al) dalam larutan basa kuat dan akan larut membentuk aluminat dan menghasilkan gas
hidrogen. Proses melarutkan ini dibantu dengan adanya panas untuk mempercepat reaksi,
dikarenakan dalam reaksi ini dihasilkan gas hidrogen yang ditandai dengan adanya gelembunggelembung udara, pemanasan juga bertujuan untuk membuat gelembung-gelembung tersebut
menghilang. Larutan aluminat kemudian dinetralkan dengan menggunakan asam sulfat, dalam
hal ini digunakan air aki. Reaksi ini akan membentuk endapan putih dari Al(OH)3. Penambahan
larutan H2SO4 dilakukan agar seluruh senyawa K[Al(OH)4] dapat bereaksi sempurna.
Al(OH)3 yang terbentuk langsung bereaksi dengan H2SO4 dengan persamaan reaksi sebagai
berikut :
2 Al(OH)3 + 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 6 H2O
Filtrat yang dihasilkan disaring untuk menghilangkan pengotor-pengotornya.
Selanjutnya filtrat yang dihasilkan didinginkan dalam es bertujuan untuk mempercepat
pembentukan kristal tawas. Setelah kristal tawas terbentuk, filtrat kemudian dicuci dengan
menggunakan etanol 70% yang berfungsi untuk menyerap kelebihan air dan mempercepat
pengeringan. Kristal yang terbentuk kemudian disaring, dikeringkan dan ditimbang berat kristal
tawas yang diperoleh.
Pada percobaan ini didapatkan jumlah kristal tawas yang diperoleh adalah sebesar 5.478
gr yang dihasilkan dari reaksi antara alumunium foil dengan KOH 20%, sedangkan reaksi antara

alumunium foil dengan NaOH 20% tidak menghasilkan kristal tawas, hal ini disebabkan karena
bahan NaOH yang digunakan adalah bahan yang bukan pro analysis sedangkan bahan KOH
yang digunakan adalah pro analysis.

No.

Ditambahkan dengan

Hasil

Berat Tawas
(gr)

1.

50 ml NaOH 20%

Tidak terbentuk Tawas

2.

25 ml KOH 10%

Terbentuk Tawas

Tabel. Data pemebentukan tawas

Penjernihan air dengan tawas dan adsorben


Pengujian daya adsorbansi pada adsorben zeolit, batu bata, dan tawas dilakukan terhadap sampel
FeCl3.
Adsorben memiliki gaya tarik yang menahan Fe untuk tetap larut dalam etanol. Dengan
memanfaatkan sifat
fisik dan kimia zeolit yaitu sifat hidrofilik danukuran pori < 0.44 nm, Fe dapat diserap secara
sempurna dan pada akhirnyalarutan menjadi jernihSemakin tinggi adsorben akan memperbesar
kontak antara adsorben dan larutan sehingga larutan yang dijernihkan akan semakin jernih.
Perlakuan pengecilan ukuran juga memberikan
konstribusi besar terhadap hasil pemurnian. Dengan dikecilkannya ukuran adsorben maka luas
permukaan
partikelnya akan semakin besar, hal ini juga makin memperbesar kemampuan adsorben dalam
menyerap Fe

dalam percobaan kerjernihan air terbesar adalah dengan menggunakan adsorben zeolit, diikuti
dengan batu bata dan yang terakhir tawas.
KESIMPULAN
Pembuatan gas hidrogen berhasil dilakukan dengan memanfaatkan alumunium foil.Gas
hidrogen yang dihasilkan kemudian diuji dan terbukti menghasilkan energi karena dapat
menggerakan kipas dan menyalakan lampu dalam waktu yang kurang lebih 1 menit.Limbah
Al(OH)3 kemudian dibuat tawas dengan bantuan basa NaOH dan KOH.Pada percobaan,tawas
yang dihasilkan hanya terbentuk dengan basa KOH kemudian tawas diujikan dengan air keruh
dan terbukti dalam selang beberapa hari,air keruh tersebut menjadi jernih.