Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BIOPROSES


IDENTITAS PRAKTIKAN
Nama
NIM
Kelompok
I.
JUDUL PERCOBAAN
II.

:
: K.M. Idris Bayu Saputra
: 03121403063
: 3 (Tiga)
: Pembuatan Tempe

TUJUAN PERCOBAAN
1. Dapat mengetahui cara pembuatan tempe.
2. Dapat mengetahui peran ragi dalam membuat tempe.
3. Dapat mengetahui proses yang terjadi dalam pembuatan tempe

III. DASAR TEORI


Tempe adalah makanan tradisional hasil fermentasi oleh kapang Rhizopus
oryzae sp.Pertumbuhan kapang menyebabkan terjadinya pemutusan beberapa
ikatan peptida pada protein kedelai sehingga protein kedelai lebih mudah dicerna
dan nilai gizinya meningkat. Tempe juga mengandung beberapa vitamin B,
mineral, lemak dan karbohidrat.Pembuatan tempe secara tradisional biasanya
menggunakan tepung tempe yang dikeringkan di bawah sinar matahari. Sekarang
pembuatan tempe ada juga yang menggunakan ragi tempe.
Tempe adalah makanan yang enak, sehat dan banyak digemari oleh semua
lapisan masyarakat di desa maupun dikota. Tempe mengandung zat gizi yang
tingi. Kandungan protein (zat pembangun tubuh) dalam tempe sama dengan
kandungan protein dalam daging sapi.Oleh karena itu banyak orang ingin
membuat dan menikmati tempe dengan mutu yang baik dan rasa yang memenuhi
selera. Untuk itu dibutuhkan inokulum tempe yang berkualitas baik, disamping
proses pembuatannya yang benar dan baik pula.
Selama proses fermentasi pembuatan tempe berlangsung, berkembanglah
jamur-jamur dari inokulum tempe yang ditaburkan, dan menghasilkan enzimenzim yang dapat memecah keledai menjadi bahan yang mudah dicerna dan
mempunyai rasa serta aroma khas tempe.Untuk memproduksi tempe di gunakan
bahan baku pokok yang sama, yaitu kedelai. Jenis kedelai terdiri atas 4 macam,
yaitu:

1. Kedelai kuning
2. Kedelai hitam
3. Kedelai coklat
4. Kedelai hijau
Para pengrajin tempe biasanya memakai kedelai kuning sebagai bahan
baku utama. Pengrajin tempe biasanya menggunakan kedelai kuning, akan tetapi
juga kedelai jenis lain, terutama kedelai hitam. Berdasarkan bijinya, kedelai
dibedakan menjadi:
1. Kedelai berbiji besar bila bobot 100 bijinya lebih dari 13 gram
2. Kedelai berbiji sedang bila bobot 100 bijinya antara 11 - 13 gram
3. Kedelai berbiji kecil bila bobot 100 bijinya antara 7 -11 gram
Biji kedelai yang dipakai oleh para pengrajin untuk membuat tempe harus
di kupas lebih dahulu dan biji kedelai tahu digiling sesudah biji kedelai di rendam
sekitar 7 jam lebih dahulu.Tingkat mutu kedelai dapat di pilah sesuai kelas mutu
sebagai berikut :
Tabel 3.1. Syarat Pokok Mutu Kedelai

Kriteria % Bobot

Mutu I

Mutu

1.

Kadar air maksimum

13 %

14 %

16 %

2.

Kotoran maksimum

1%

2%

5%

3.

Butir rusak

2%

3%

5%

4.

Butir keriput

0%

5%

8%

5.

Butir belah

1%

3%

5%

6.

Butir warna lain

0%

5%

10 %

II

Mutu
III

Sumber : SK Menteri No 501/Kpts/TP.803/8/1994

Kedelai (Glycine max) merupakan salah satu tanaman palawija yang ada
di Indonesia. Menurut para ahli botani, kedelai adalah tanaman yang berasal dari
Manchuria dan sebagian Cina. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah dengan pH
4.5. Daerah pertumbuhannya tidak lebih dari 500 meter di atas permukaan laut
dengan iklim panas dan curah hujan rata-rata 200 mm/bulan. Umur tanaman

kedelai berbeda-beda tergantung pada varietasnya, tetapi pada umumnya berkisar


antara 75 dan 105 hari (Koswara, 1992).
Struktur biji kedelai terdiri dari tiga bagian utama yaitu 7.3% kulit, 90.3%
kotiledon dan 2.4% hipokotil (Koswara, 1992). Kulit biji biasanya dipisahkan bila
kacang kedelai diolah menjadi produk karena mengandung serat kasar yang cukup
tinggi. Menurut Sumarno dan Harnoto (1983), bentuk biji kedelai pada umumnya
bulat lonjong, tetapi ada juga yang bundar atau bulat agak pipih. Berdasarkan
warna bijinya kedelai dapat digolongkan menjadi kedelai putih, kedelai kuning,
hijau, coklat dan hitam.
Kedelai dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein nabati bagi sejumlah
besar penduduk Indonesia. Kedelai menduduki tempat kelima sebagai sumber
protein dan menduduki tempat pertama diantara tanaman kacang-kacangan
(Shurtleff dan Aoyogi, 1979). Disamping itu, kedelai juga dapat digunakan
sebagai sumber lemak, vitamin, mineral dan serat.
Secara tradisional masyarakat bambooa telah mengkonsumsi berbagai
makanan dari kedelai, meskipun kacang-kacang lain juga terkenal seperti kacang
hijau, kacang tanah. Kedelai peranannya lebih besar bambooa dengan kedua jenis
kacang tersebut dalam menu masyarakat bambooa (Winarno,1993). Dilihat dari
segi pangan dan gizi kedelai merupakan sumber protein yang paling murah di
dunia, di samping menghasilkan minyak dengan mutu yang baik.
Kedelai (Glycine max) sudah dibudidayakan sejak 1500 tahun SM dan
baru masuk Indonesia, terutama Jawa sekitar tahun 1750. Kedelai paling baik
ditanam di ladang dan persawahan antara musim kemarau dan musim hujan.
Sedang rata-rata curah hujan tiap tahun yang cocok bagi kedelai adalah kurang
dari 200 mm dengan jumlah bulan kering 3-6 bulan dan hari hujan berkisar antara
95-122 hari selama setahun.
Kedelai mempunyai perawakan kecil dan tinggi batangnya dapat mencapai
75 cm. Bentuk daunnya bulat telur dengan kedua ujungnya membentuk sudut
lancip dan bersusun tiga menyebar (kanan - kiri - depan) dalam satu untaian
ranting yang menghubungkan batang pohon. Kedelai berbuah polong yang berisi
biji-biji. Menurut varitasnya ada kedelai yang berwarna putih dan hitam.

Baik kulit luar buah polong maupun batang pohonnya mempunyai bulubulu yang kasar berwarna coklat. Untuk budidaya tanaman kedelai di pulau Jawa
yang paling baik adalah pada ketinggian tanah kurang dari 500 m di atas
permukaan laut.
Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji
kecipir, koro, kelapa dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan
lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam kehidupan.
Asam amino yang terkandung dalam proteinnya tidak selengkap protein
hewani, namun penambahan bahan lain seperti wijen, jagung atau menir adalah
sangat baik untuk menjaga keseimbangan asam amino tersebut. Kacang-kacangan
dan umbi-umbian cepat sekali terkena jamur (aflatoksin) sehingga mudah menjadi
layu dan busuk. Untuk mengatasi masalah ini, bahan tersebut perlu diawetkan.
Hasil olahannya dapat berupa makanan seperti keripik, tahu dan tempe,
serta minuman seperti bubuk dan susu kedelai. Kedelai mengandung protein 35 %
bahkan pada varitas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40 - 43 %.
Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan
segar, dan telur ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi,
hampir menyamai kadar protein susu skim kering.
Bila seseorang tidak boleh atau tidak dapat makan daging atau sumber
protein hewani lainnya, kebutuhan protein sebesar 55 gram per hari dapat
dipenuhi dengan makanan yang berasal dari 157,14 gram kedelai.
Kedelai dapat diolah menjadi: tempe, keripik tempe, tahu, kecap, susu, dan
lain-lainnya. Proses pengolahan kedelai menjadi berbagai makanan pada
umumnya merupakan proses yang sederhana, dan peralatan yang digunakan
cukup dengan alat-alat yang biasa dipakai di rumah tangga, kecuali mesin
pengupas, penggiling, dan cetakan.
Kedelai (Glycine max) sudah dibudidayakan sejak 1500 tahun SM dan
baru masuk Indonesia, terutama Jawa sekitar tahun 1750. Kedelai paling baik
ditanam di ladang dan persawahan antara musim kemarau dan musim hujan.
Sedang rata-rata curah hujan tiap tahun yang cocok bagi kedelai adalah kurang

dari 200 mm dengan jumlah bulan kering 3-6 bulan dan hari hujan berkisar antara
95-122 hari selama setahun.
Kedelai mempunyai perawakan kecil dan tinggi batangnya dapat mencapai
75 cm. Bentuk daunnya bulat telur dengan kedua ujungnya membentuk sudut
lancip dan bersusun tiga menyebar (kanan - kiri - depan) dalam satu untaian
ranting yang menghubungkan batang pohon. Kedelai berbuah polong yang berisi
biji-biji. Menurut varitasnya ada kedelai yang berwarna putih dan hitam. Baik
kulit luar buah polong maupun batang pohonnya mempunyai bulu-bulu yang
kasar berwarna coklat. Untuk budidaya tanaman kedelai di pulau Jawa yang
paling baik adalah pada ketinggian tanah kurang dari 500 m di atas permukaan
laut.
Penyakit Yang Dapat Diobati : Diabetes melitus, Sakit ginjal, Reumatik;
3.2.Komposisi
1. Kandungan Kedelai (100 gr.)
2. Protein 34,9 gram
3. Kalori 331 kal
4. Lemak 18,1 gram
5. Hidrat Arang 34,8 gram
6. Kalsium 227 mg
7. Fosfor 585 mg
8. Besi 8 mg
9. Vitamin A 110 SI
10.

Vitamin B1 1,07 mg

11.

Air 7,5 gram

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan tempe agar
diperoleh hasil yang baik ialah:
1. Kedelai harus dipilih yang baik (tidak busuk) dan tidak kotor.
2. Air harus jernih, tidak berbau dan tidak mengandung kuman penyakit.
3. Cara pengerjaannya harus bersih.
4. Bibit tempe (ragi tempe) harus dipilih yang masih aktif (bila diremas
membentuk butiran halus atau tidak menggumpal).

Pada tahun 1837 tiga orang ahli yaitu Cagnaird Latour, Scwamn dan
Kutzing masing-masing menemukan bahwa terdapat pada cairan-cairan yang
mengandung gula yang mengalami fermentasi alkohol; perubahan zat gula
menjadi alkohol dan CO2 merupakan fungsi fisiologi dari sel-sel khamir itu.
Teori biologi ini mendapat tentangan dari ahli kimia seperti Berzelius yang
berpendapat bahwa pembusukan dan fermentasi merupakan proses kimia murni.
Pasteur justru menentang pendapat tersebut, dan berpendapat bahwa semua proses
fermentasi adalah proses kegiatan mikroba.
Selama menyelidiki fermentasi asam butirat, Pasteur menemukan adanya
proses yang tidak membutuhkan Oksigen. Penyelidikan mikroskopik pada setetes
cairan

yang

mengandung

mikroba

penyebab

fermentasi

asam

butirat,

menunjukkan bahwa mikroba yang dekat pada tepi batas cairn dengan udara akan
menjadi tidak bergerak, sedang yang ada di pusat tetesan akan menjadi bergerak
aktif. Kenyataan ini membuktikan bahwa udara merupakan penghambat kegiatan
mikroba asam butirat.
Perkataan fermentasi sering disalin dengan perkataan peragian; hal ini
sebenarnya tidak tepat. Kata-kata ragi untuk tempe, ragi untuk tape, ragi untuk
roti, ragi untuk oncom, ragi untuk membuat minuman keras, itu menurut
sistematiknya di dalam dunia tumbuh-tumbuhan banyaklah berbeda.
Secara fisiologi ragi-ragi tersebut mempunyai persamaan, yaitu mereka
menghasilkan fermen atau enzim yang dapat mengubah substrat menjadi bahan
lain dengan mendapat keuntungan berupa energi. Adapun substrat yang mereka
ubah itu berbeda-beda. Orang membatasi pengertian fermentasi hanya pada
alkoholisasi dan laktasi.
Fermentasi merupakan proses perubahan kimia dalam bahan pangan yang
disebabkan oleh enzim. Enzim berperan ini berasal dari mikroba atau jasad renik
yang digunakan dan dikenal sebagai ragi alkohol. Melalui fermentasi diperoleh
produk yang mempunyai nilai gizi, biologis, serta cita rasa dan aroma yang lebih
baik dibandingkan dengan bahan asalnya. Hal ini dikarenakan dalam ragi terdapat
mikroba yang mengandung komponen seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral

dalam jumlah tertentu. Proses fermentasi secar sederhana dapat dilihat sebagai
berikut :
C6H12O6

Sc

2C2H5OH + 2 CO2

Sc : Sacharomyces cereviseae
Fermentasi adalah proses oksidasi biologi dalam keadaan anaerob. Sebagai
substrat pada umumnya karbohidrat. Dalam proses fermentasi yang bekerja
sebagai pembawa hidrogen atau elektron biasanya hanya NAD dan NADF;
sedangkan sebagai akseptor hidrogen akhir adalah bahan organik. Bahan organik
yang berfungsi sebagai akseptor hidrogen akhirnya pada umumnya adalah asam
piruvat, sehingga sistem sitokhrom tidak diperlukan. Istilah fermentasi sering juga
dipakai untuk menyatakan proses yang aerob pada proses-proses industri tertentu,
penggunaan ini sebenarnya tidak tepat. Misalnya oksidasi alkohol menjadi asam
cuka secar aerob oleh Acetobacter sp., dalam pengertian industri fermentasi
disebut fermentasi asam cuka.
Dalam proses mikrobiologi fermentasi dilakukan oleh mikroba tertentu
yang menghasilkan atau mempunyai enzim yang sesuai dengan proses tersebut,
dibagi 2 jenis yaitu:
1. Fermentasi non-alkoholis, yaitu fermentasi yang tidak menghasilkan alkohol
sebagai produk akhir selain bahan lainnya. Contoh: Pembuatan ragi tempe,
Pembuatan tempe, pembuatan minyak kelapa.
2. Fermentasi alkoholis, yaitu fermentasi yang menghasilkan alkohol sebagai
produk akhir disamping produk lainnya. Contoh: Pembuatan wine, Pembuatan
cider, Pembuatan tape.
Fermentasi dapat dilakukan oleh jasad-jasad fakultatif anaerob dalam
keadaan yang anaerob, misalnya Saccaromyces Cereviseae; oleh mikroba obligat
anaerob, misalnya bakteri dari genus Clostridium; atau mikroba yang indiferent
terhadap Oksigen misalnya spesies Lactobasilius, hasil akhir fermentasi tidak
dipengaruhi oleh atau ada tidaknya oksigen.
Pernafasan anaerob dapat terlaksana secara antarmolekul atau secara
intarmolekul. Pernafasan antarmolekul itu hampir serupa dengan pernafasan
aerob; bedanya ialah bahwa pada pernafasan antar molekul itu oksigen yang

diperlukan untuk mengoksidasikan substrat tidak diperoleh dari udara bebas,


melainkan dari suatu senyawa, sedang yang direduksi bukan oksigen, melainkan
suatu senyawa juga. Penerima hidrogen dapat berupa zat-zat seperti nitrat, nitrit,
karbonat, atau sulfat. Energi yang ditimbulkan di dalam proses ini tidak banyak.
Sebagai contoh disebutkan:
1.

2 H2O + 5 S + 6 HNO3

N2 + 5 H2SO4 + Energi

Di dalam hal ini, S dioksidasikan menjadi SO 4, sedang HNO3 direduksi


menjadi N2.
2.

CH3CHOHCOOH + HNO3

CH3COCOOH + HNO2 + H2O + Energi

asam susu

asam piruvat

Di dalam hal ini, HNO3 direduksikan menjadi HNO2, sedang


CH3CHOHCOOH mengalami pengoksidasian.
Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai
atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus,
seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh.
arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".
Bahan Pembantu Pembuatan Tempe
Dalam pembuatan tempe dikenal beberapa macam ragi atau laru tempe
yang digunakan dalam proses fermentasi agar dihasilkan tempe dengan kualitas
tinggi. Secara tradisional para pengrajin membuat laru tempe dengan
menggunakan tempe yang sudah jadi. Tempe tersebut di iris-iris tipis,
dikeringkan, digiling menjadi bubuk halus dan hasilnya digunakan sebagai bahan
inokulum dalam proses fermentasi.
Laru lain yang sering dipakai adalah miselium kapang yang tumbuh di
permukaan tempe. Salah satu macam laru dari Jawa Tengah disebut usar, dibuat
dengan cara membiarkan spora kapang dari udara tumbuh pada kedelai matang,
yang ditaruh antara dua lapis daun waru dan daun jati atau daun pisang bekas
pembungkus tempe. Setelah itu laru diremas-remas lalu dicampurkan ke dalam
biji kedelai yang hendak dilakukan peragian. Untuk satu kilo kedelai diperkirakan
membutuhkan 2 atau 3 lembar daun yang mengandung laru.

Dalam praktek terjadi kesulitan memperoleh laru daun karena laru daun
tidak dapat disimpan lama dan jumlah pemakaian sulit dipastikan. Oleh karena itu
banyak pengrajin tempe membeli laru buatan berbentuk tepung di pasar. Bahanbahan lain yang digunakan untuk membuat laru adalah beras, terigu dan air bersih.
Air bersih dipakai juga dalam proses produksi tempe untuk mencuci serta
merebus biji kedelai sebelum proses fermentasi. Bahan pembungkus tempe adalah
daun pisang maupun plastik berlubang-lubang.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada proses pengolahan tempe agar
diperoleh hasil yang baik ialah:
1. Kedelai harus dipilih yang baik (tidak busuk) dan tidak kotor
2. Air harus jernih, tidak berbau dan tidak mengandung kuman penyakit
3. Cara pengerjaannya harus bersih
4. Bibit tempe (ragi tempe) harus dipilih yang masih aktif (bila diremas
membentuk butiran halus atau tidak menggumpal)

Di dalam tubuh, terutama dalam proses enzimatik, jasad renik ini


memiliki peran di dalam proses perubahan senyawa organik (karbohidrat, protein
dan lemak) menjadi energi dan senyawa anorganik. Jadi tidaklah mengherankan
kalau bahan makanan sejak bahan baku sampai menjadi bahan makanan yang
siap di makan tidak terbebas dari dari kehadiran jasa renik, baik yang
menguntungkan maupun yang merugikan.
Jasad renik atau mikroorganisme adalah mahluk hidup yang terdiri dari
satu atau beberapa kumpulan sel dengan ukuran beberapa mikron (1 mikron =
0,001 mm). Saking kecilnya, mahluk ini hanya bisa dilihat melalui mikroskop
berukuran tertentu. Jasad renik bisa disebut juga sebagai bakteri.
Keuntungan yang diberikan oleh jasa renik dalam berbagai macam proses
adalah:
1.

Berperan didalam proses fermentasi

Tempe, kecap, oncom, taoco, sosis, keju, tapai, bir, brem, anggur adalah
beberapa jenis makanan yang dihasilkan dari proses fermentasi yang biasa
pula dikenal dengan istilah 'peragian'. Ada beberapa jasad renik yang
bertugas dalam proses peragian. Diantaranya, Rhizopus oligosporus dan
Rhizopus tolonifer digunakan untuk mengubah kacang kedelai menjadi
tempe.Endomycopsis fibuligera juga mempunyai kemampuan mengubah
tepung pati menjadi gula. Ia sangat dibutuhkan dalam pembuatan tapai
singkong, tapai ketan dan lainnya. Ada juga Rhizopus oryzae yang sanggup
mengubah gula menjadi alkohol, ia banyak dipakai dalam pembuatan bir,
brem, atau minuman anggur.
2.

Meningkatkan gizi makanan


Terjadi pada pembuatan tempe maupun bahan makanan lainnya seperti
oncom, taoco, terasi dan sebagainya. Dalam proses pembuatan tempe,
protein kedelai diubah menjadi asam amino yang dapat lebih mudah diserap
oleh tubuh.

3.

Memperbaiki aroma dan rasa


Bau dan rasa kacang kedelai yang direbus biasanya kurang menarik bila
dibandingkan dengan kacang kedelai yang telah diolah melalui proses
fermentasi seperti tempe, kecap dan sebagainya. Juga bau dan rasa susu
segar misalnya, akan lebih menarik apabila melalui proses fermentasi
menjadi bahan makanan lainnya seperti yoghurt, keju dan lainnya.
Tempe adalah campuran biji kedelai dengan massa kapang. Hifa kapang
tumbuh dengan intensif dan membentuk jalinan yang mengikat biji kedelai
yang satu dengan biji yang lain sehingga menjadi massa yang kompak dan
kuat.
Tempe adalah makanan tradisional hasil fermentasi oleh kapang Rhizopus

oryzae sp. Pertumbuhan kapang menyebabkan terjadinya pemutusan beberapa


ikatan peptida pada protein kedelai sehingga protein kedelai lebih mudah dicerna
dan nilai gizinya meningkat. Tempe juga mengandung beberapa vitamin B,
mineral, lemak dan karbohidrat.

Pembuatan tempe tidak sulit dan dapat dilakukan dengan menggunakan


alat-alat yang biasa terdapat di rumahtangga. Walaupun demikian, pengolahan
tempe untuk usaha kecil sangat dianjurkan menggunakan alat-alat mekanis.
Penelitian mengenai kadar gizi tempe serta potensinya sebagai antibakteri,
antioksidan, antidiare, dan penurun kolesterol, relatif sudah banyak dilakukan.
Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa tempe dapat juga digunakan untuk
mencegah timbulnya hipertensi.
Tempe dapat dikonsumsi dalam tiga bentuk utama, yaitu bentuk generasi I,
II dan III. Pada generasi I, tempe umumnya dikonsumsi secara tradisional dalam
bentuk keripik, bacem, lodeh, atau sambal goreng. Tempe generasi II umumnya
berbentuk tepung yang dapat digunakan sebagai kandungan pangan yang berguna
untuk meningkatkan kadar gizi dan serat, sebagai pengawet alami, dan untuk
menanggulangi diare pada anak-anak.Tempe juga dapat diolah dalam bentuk
generasi III, yaitu sebagai konsentrat protein, isolat protein, peptida, serta
komponen bioaktif lainnya. Di masa depan, hasil olahan tempe generasi III ini
tampaknya akan memiliki prospek yang sangat cerah, baik untuk kebutuhan medis
maupun gizi.
Akhir-akhir ini banyak peneliti (terutama di Jepang) yang menaruh minat
terhadap cara mencegah timbulnya hipertensi dengan memanfaatkan komponen
aktif yang terdapat di dalam bahan pangan. Salah satu komponen aktif yang saat
ini mendapat perhatian utama adalah peptida hasil penguraian protein oleh enzim
protease.
IV. ALAT DAN BAHAN
1.

1 kg kacang kedelai yang baik dan bersih

2.

Ragi tempe (Rhizopus Oligosporus)

3.

Kantung plastik

V. PROSEDUR PERCOBAAN
1.

Bersihkan dan cuci kacang kedelai, lalu rendam 1 x 24 jam

2.

Cuci kembali sambil kulitnya dan keping bijinya dipisahkan

3.

Kukus sampai agak empuk. Sebelum diangkat, tambahkan dahulu


sedikit tepung kanji, dicampur merata. Angkat dan letakkan di atas tampah
yang bersih, biarkan sampai hangat, di tempat yang terlindung atau ditutup
dengan kain kasa.

4.

Inokulasi dengan ragi tempe, diaduk supaya merata. Kemudian


dimasukkan ke dalam kantung plastik yang telah diberi lubang kecil dengan
jarum bertangkai, ujung kantung plastik diratakan sehingga terbentuk
lempengan yang cukup tebal. Hindarkan terlalu banyaknya sentuhan tangan
pada kantung plastik yang telah diberi isi bahan. Inokulasikan pada suhu 2830 oC selama lebih kurang 24 jam sampai terlihat adanya bintik air yang
merata di seluruh permukaan, lalu simpan pada suhu selama 1 hari.

DAFTAR PUSTAKA
Hamda, Anastasia Leonita.2011.Laporan Tempe (Online) http:/www. Scribd
.com/doc/7 61315512/Laporan-tempe. (Diakses pada tanggal 1 Maret 2015).
Masito, Atuti. 2012. Laporan Proyek Praktikum Pembuatan Tempe.(Online)
http://aimarusciencemania.wordpress.com/2012/04/29/laporanproyekpraktik
um pembu atan-tempe/. (Diakses pada tanggal 1 Maret 2015).
Permata Sari, Novita. 2012. Laporan Pendahuluan Praktikum Bioproses.(Online)
http://w ww.scribd.com/doc/1109821239/Laptap-tempe. (Diakses pada
tanggal 1 Maret 2015).
Sri, Nurhalizah.2009.Pembuatan Tempe.(Online) http/www. scribd.
Com/file/sys/ /doc/245814125/Pembuatan-tempe. (Diakses pada tanggal 1
Maret 2015).
Yuli, Rahma.Laporan Biotek Tempe. (Online) ttp/www .scribd. com /doc /
117683366/LAPORAN-BIOTEK-Tempe-docx. (Diakses pada tanggal
1 Maret 2015).