Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi
cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput
janin dari tubuh ibu (Yanti, 2010: hal 3).
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah
cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan
lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini dimulai dengan
adanya kontraksi persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan secara progresif dan
diakhiri dengan lahirnya plasenta (Sulistyawati, 2010: hal 4).
Jadi, persalinan adalah proses pengeluaran janin yang cukup bulan, disusul dengan
pengeluaran plasenta dan selaput janin melalui jalan lahir.
B. Bentuk Persalianan
Menurut Yanti (2010: hal 3), proses berlangsungnya persalinan dibedakan sebagai
berikut:
1. Persalinan spontan
Bila persalian berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri, melalui jalan lahir ibu
tersebut.
2. Persalinan buatan
Bila persalinan dibantu dengan tenaga dari luar miasalnya ekstraksi forceps,
atau dilakukan operasi Sectio Caesaria.
3. Persalinan anjuran
Persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah
pemecahan ketuban, pemberian pitocin atau prostaglandin.
C. Menurut Tua Kehamilan
Menurut Yanti (2010: hal 4), istilah-istilah yang berkaitan dengan persalinan
berdasarkan tuanya umur kehamilan dan berat badan bayi:
1. Abortus
Pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22 minggu atau bayi dengan
berat badan kurang dari 500 gram.
2. Partus immaturus
Pengeluaran buah kehamilan antara 22 minggu dan 28minggu dan 28 minggu
atau bayi dengan berat badan antara 500 gram dan 999 gram.
3. Partus prematurus

Pengeluaran buah kehamilan antara 28 minggu dan 37 minggu atau bayi dengan
berat badan antara 1000 gram dan 2499 gram.
4. Partus maturus atau partus aterm
Pengeluaran buah kehamilan antara 37 minggu dan 42 minggu atau bayi dengan
berat badan 2500 gram atau lebih.
5. Partus posmaturus atau partus serotinus
Pengeluaran buah kehamilan setelah kehamilan 42 minggu.
D. Sebab-sebab Mulainya Persalinan
Menurut Yanti (2010: hal 4-5), sebab-sebab mulainya persalinan dipengaruhi oleh:
1. Penurunan kadar progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim sebaliknya estrogen
meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan
antara kadar progerteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan
kadar progesteron menurun sehingga menimbulkan his.
2. Teori oxytocin
Pada akhir kehamilan kadar oxytocin bertambah. Oleh karena itu timbul
kontraksi otot-otot rahim.
3. Keregangan otot-otot
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung bila dindingnya teregang
oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
Demikian pula dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang
otot-otot rahim makin rentan.
4. Pengaruh janin
Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang peranan
oleh karena pada anenchepalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
5. Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah satu sebab
permulaan persalinan. Hasil dari percobaan menunjukkan bahwa prostaglandin F2
atau E2 yang diberikan secara intravena, intra dan extraamnial menimbulkan
kontraksi myometrium pada setiap umur kehamilan. Hal ini juga disokong dengan
adanya kadar prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah perifer
pada ibu-ibu hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan.
E. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Menurut Yanti (2010: hal 21-40), faktor yang mempengaruhi persalinan adalah:
1. Faktor Power
Power adalah kekuatan yang mendorong janin keluar. Kekuatan yang
mendorong janin keluar dalam persalinan ialah: his, kontraksi otot-otot perut,
kontraksi diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerjasama yang baik dan
sempurna.

a. His (kontraksi uterus)


His adalah kontraksi uterus karena otot-otot polos rahim bekerja dengan
baik dan sempurna dengan sifat-sifat: kontraksi simetris, fundus dominant,
kemudian diikuti relaksasi. Pada saat kontraksi otot-otot rahim menguncup
sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil
mendorong janin dan kantong amnion kearah bawah rahim dan serviks.
Sifat-sifat lainnya dari his adalah: involuntir, intermitten, terasa sakit,
terkoordinasi dan simetris yang kadang-kadang dapat dipengaruhi dari luar
secara fisis, chemis dan psikis. Dalam melakukan observasi pada ibu bersalin,
hal-hal yang harus diperhatikan dari his adalah:
1) Frekuensi his: adalah jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit
atau per 10 menit.
2) Intensitas his: adalah kekuatan his (adekuat atau lemah)
3) Durasi (lama his): adalah lamanya setiap his berlangsung dan ditentukan
dengan detik, misalnya 50 detik.
4) Interval his: adalah jarak antara his satu dengan his berikutnya, misalnya his
datang tiap 2-3 menit.
5) Datangnya his: apakah sering, teratur atau tidak
Pembagian his dan sifat-sifatnya:
1) His pendahuluan: his tidak kuat dan tidak teratur namun menyebabkan
keluarnya bloody show
2) His pembukaan (kala I): menyebabkan pembukaan serviks, semakin kuat,
teratur dan sakit
3) His pengeluaran (kala II): untuk mengeluarkan janin; sangat kuat, teratur,
simetris, terkoordinir dan lama; koordinasi bersama antara kontraksi otot
perut, diafragma dan ligament
4) His pelepasan uri (kala III): kontraksi sedang untuk melepaskan dan
melahirkan plasenta
5) His pengiring (kala IV): kontraksi lemah, masih sedikit nyeri (merian),
terjadi pengecilan rahim dalam beberapa jam atau hari
b. Tenaga mengejan
Saat pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah tenaga yang
mendorong anak keluar selain his, terutama disebabkan oleh kontraksi otot-otot
dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan intra abdominal. Tenaga
ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita buang air besar tapi lebih jauh
kuat lagi.
Saat kepala sampai pada dasar panggul, timbul suatu reflek yang
mengakibatkan ibu menutup glottisnya, mengkontraksikan otot-otot perutnya
dan menekan diafragmanya kebawah. Tenaga ini hanya dapat berhasil, bila

pembukaan sudah lengkap dan paling efektif sewaktu ada his. Tanpa tenaga
mengejan ini anak tidak dapat lahir, misalnya pada penderita yang lumpuh otototot perutnya, persalinan harus dibantu dengan forset. Tenaga mengejan ini juga
melahirkan plasenta setelah plasenta lepas dari dinding rahim.
2. Faktor Passanger
Faktor lain yang berpengaruh terhadap persalinan adalah faktor janin, yang
meliputi sikap janin, letak janin, presentasi janin, bagian terbawah, dan posisi janin.
a. Sikap (habitus):
Sikap janin menunjukkan hubungan bagian-bagian janin dengan sumbu
janin, biasanya terhadap tulang punggungnya. Janin umumnya dalam sikap
fleksi dimana kepala, tulang punggung, dan kaki dalam keadaan fleksi, lengkap
bersilang di dada.
b. Letak (situs):
Letak janin adalah bagaimana sumbu janin berada terahap sumbu ibu
misalnya: 1) letak lintang dimana sumbu janin tegak lurus pada sumbu ibu, 2)
letak membujur dimana sumbu janin sejajar dengan sumbu ibu, ini bisa letak
kepala atau letak sungsang.
c. Presentasi:
Presentasi dipakai untuk menentukan bagian janin yang ada dibawah rahim
yang dijumpai pada palpasi atau pada pemeriksaan dalam. Misalnya presentasi
kepala, presentasi bokong, presentasi bahu dan lain-lain.
d. Bagian terbawah janin:
Bagian terbawah janin sama dengan presentasi hanya lebih diperjelas
istilahnya.
e. Posisi janin
Posisi janin digunakan untuk indukator atau menetapkan arah bagian
terbawah janin apakah sebelah kanan, kiri, depan, atau belakang terhadap sumbu
ibu (maternal-pelvis). Misalnya pada letak belakang kepala (LBK) ubun-ubun
kecil (uuk) kiri depan, uuk kanan belakang.
3. Faktor Passage ( Jalan Lahir )
Passage atau faktor jalan lahir dibagi atas : 1) bagian keras: tulang-tulang
panggul (rangka panggul) dan 2) bagian lunak : otot-otot, jaringan-jaringan dan
ligamen-ligamen.
a. Bagian keras panggul
1) Tulang panggul :
a) Os coxae : os illium, os ischium, os pubis
b) Os sacrum : promontorium
c) Os coccygis
2) Artikulasio (persendian) :
a) Simphysis pubis, di depan pertemuan os pubis
b) Artikulasi sacro-illiaka yang menghubungkan os sacrum dan os illium

c) Artukulasi sacro-coccygium yang menghubungkan os sacrum dan


coccygiu.
3) Ruang Panggul
a) Pelvis mayor (false pelvis)
b) Pelvis minor (true pelvis)
Pelvis mayor terletak di atas linea terminalis yang di bawahnya disebut
pelvis minor.
4) Pintu Panggul
a) Pintu atas panggul (PAP) : inlet, dibatasi oleh linea terminalis (Linea
illuminata).
b) Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadika, disebut
midlet.
c) Pintu bawah panggul (PBP) dibatasi symphisis dan arcospubis, disebut
outlet.
d) Ruang panggul yang sebenarnya berada antara inlet dan outlet
5) Sumbu Panggul
Sumbu panggul adalah garis yang menghubungkan titik-titik tengah
ruang panggul yang melengkung kedepan (sumbu carus).
6) Bidang-bidang Panggul :
a) Bidang Hodge I : jarak antara promontorium dan pinggir atas
symphisis, sejajar dengan PAP.
b) Bidang Hodge II : sejajar dengan PAP, melewati pinggir bawah
symphisis
c) Bidang Hodge III : sejajar dengan PAP, melewati spina ischiadika
d) Bidang Hodge IV : sejajar dengan PAP, melewati ujung coccygeus
7) Ukuran-ukuran Panggul
Alat pengukur ukuran panggul :
a) Pita meter
b) Jangka panggul : Martin, Oceander, Collin dan Delloque
c) Pelvimetri klinis dengan periksa dalam
d) Pelvimetri rontenologis dibuat oleh ahli radiologi dan hasilnya di
interpretasikan oleh ahli kebidanan
Ukuran-ukura Panggul Luar
a) DS : Distansia Spinarum, yaitu jarak anatara kedua spina illiaka
anterior superior (24-26 cm)
b) DC : Distansia Cristarum,yaitu jarak antara kedua crista illiaka kanan
dan kiri (28-30 cm)
c) CE : Conjugata Externa (Boudeloque) 18-20 cm
d) CD : Conjugata Diagonalis, denga periksa dalam 12,5 cm
e) DT : Distansia Tuberum, dengan menggunakan jangka Oceander (10,5
cm)
Ukuran-ukura Panggul Dalam

a) Pintu atas panggul : merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh


promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis pubis
b) Conjugata Vera : dengan periksa dalam diperoleh conjugata diagonalis
11 cm 1,5 cm
c) Conjugata Transversa 12-13 cm
d) Conjugata Oblique 13 cm
e) Conjugata Obstretrica adalah jarak bagian tengah symphisis dengan
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)
n)

promontorium
Ruang tengah panggul
Bidang terluas ukurannya 13 x 12,5 cm
Bidang sempit ukurannya 11,5 x 11 cm
Jarak antara spina ischiadica 11 cm
Pintu bawah panggul
Ukuran antero-posterior 10-11 cm
Ukuran melintang 10,5 cm
Arcus pubis membentuk sudut 90o lebih
Inklinasi pelvis (miring panggul) adalah sudut yang dibentuk dengan

horizon bila wanita berdiri tegak denga inlet 55-65 derajat


Jenis panggul (menurut Caldwell dan Molloy, 1933).
Berdasarkan ciri-ciri bentuk PAP, ada 4 bentuk dasar panggul :
a) Gynecoid : paling ideal, bulat 45%
b) Android : panggul pria, segitiga 15%
c) Antropoid : agak lonjong seperti telur 35%
d) Platipeloid : picak, menyempit arah muka belakang 5%
b. Bagian Lunak Panggul
Jalan lahir lunak yang berperan dalam persalinan adalah SBR, serfiks uteri
dan vagina. Disamping itu otot-otot, jaringan ikat dan ligamen yang menyokong
alat-alat urogenetal juga sangat berperan dlam persalinan.
4. Psikis Ibu
Semakin majunya persalinan, menyebabkan perasaan ibu hamil semakin cemas
dan rasa cemas tersebut menyebabkan rasa nyeri semakin bertambah. Rasa nyeri
timbul saat otot rahim berkontraksi untuk mendorong bayi yang ada didalam rahim
keluar.
5. Penolong Persalinan
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya kematian ibu adalah
kemampuan dan keterampilan penolong persalinan. Keterampilan yang diajarkan
dalam pelatihan asuhan persalinan normal harus diterapkan sesuai dengan asuhan
bagi semua ibu bersalin disetiap tahapan persalinan oleh penolong persalinan.
F. Tahapan Persalinan
Menurut Sulistyawati, dkk. (2010:hal. 7-9). Ada 4 tahapan persalinan, yaitu:
1. Kala I (Pembukaan)

Pasien dikatakan dalam tahap persalinan kala I, jika sudah terjadi pembukaan
serviks dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik.
Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan 0-10 cm
(pembukaan lengkap). Proses ini terbagi menjadi dua fase, yaitu fase laten (8 jam)
dimana serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) dimana serviks
membuka dari 3-10 cm. Kontraksi lebih kuat dan sering terjadi selama fase aktif.
Pada permulaan his, kala pembukaan berlangsung tidak begitu kuatsehingga
parturient (ibu yang sedang bersalin) masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala I
untuk primigravida 1 cm perjam. Dan pembukaan multigravida 2 cm per jam.
2. Kala II (Pengeluaran Bayi)
Kala II adalah kala pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai
bayi lahir. Uterus dengan kekuatan hisnya ditambah kekuatan meneran akan
mendorong bayi hingga lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada
primigravida dan 1 jam pada multigravida. Diagnosis persalinan kala II ditegakkan
dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap
dan kepala janin tampak di vulva dengan diameter 5-6 cm.
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut:
a. His semakin kuat dengan interval 2-3 menit, dengan durasi 50-100 detik.
b. Menjelang akhir kala, ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan
secara mendadak.
c. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan meneran
karena tertekannya fleksus frankenhauser.
d. Dua kekuatan, yaitu his dan meneran akan mendorong kepala bayi sehingga
kepala membuka pintu;suboksiput bertindak sebagai hipomochlion, berturutturut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung dan muka, serta kepala seluruhnya.
e. Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar, yaitu penyesuaian
kepala pada punggung.
f. Setelah putaran paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan
jalan berikut:
1) Pegang kepala pada tulang oksiput dan bagian bawah dagu, kemudian
ditarik curan kebawah untuk melahirkan bahu depan, dan curam keatas
untuk melahirkan bahu belakang.

2) Setelah kedua bahu bayi lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan
bayi.
3) Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.
g. Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit.
3. Kala III (Pelepasan Plasenta)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta. Setelah kala II
yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit, kontraksi uterus berhenti sekitar 5-10
menit. Dengan lahirnya bayi dan proses retraksi uterus, maka plasenta lepas dari
lapisan

Nitabusch.

Lepasnya

plasenta

sudah

dapat

diperkirakan

dengan

memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut:


a. Uterus berbentuk menjadi bundar.
b. Uterus terdorong ke atas, karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim.
c. Tali pusat bertambah panjang.
d. Terjadi perdarahan.
Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara crede pada
fundus uterus.
Sebab-sebab terlepasnya plasenta.
a. Saat bayi dilahirkan, rahim sangat mengecil dan setelah bayi lahir uterus
merupakan organ dengan dinding yang tebal dan rongganya hampir tidak ada.
Posisi fundus uterus turun sedikit dibawah pusat, karena terjadi pengecilan
uterus, makla tempat perlekatan plasenta juga sangat kecil. Plasenta harus
mengikuti proses pengecilan ini hingga tebalnya menjadi dua kali lipat daripada
permulaan persalinan, dan karena pengecilan tempat perlekatannya maka
plasenta menjadi berlipat-lipat pada bagian yang terlepas dari dinding rahim
karena tidak dapat mengikuti pengecilan dari dasarnya. Jadi faktor yang paling
penting dalam pelepasan plasenta ialah retraksi dan kontraksi uterus setelah
anak lahir.
b. Di tempat pelepasan plasenta yaitu antara plasenta dan desidua basalis terjadi
perdarahan, karena hematom ini membesar maka seolah-olah plasenta terangkat
dari dasarnya oleh hematom tersebut sehingga daerah pelepasan meluas.

4. Kala IV (Observasi)
Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam. Pada kala IV dilakukan
observasi terhadap perdarahan pascapersalinan, paling sering terjadi pada 2 jam
pertama. Observasi yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Tingkat kesadaran pasien.
b. Pemeriksaan tanda-tanda vital; tekanan darah, nadi, dan pernapasan.
c. Kontraksi uterus.
d. Terjadinya perdarahan. Perdarahan dianggap masih normal bila jumlahnya tidak
melebihi 400-500 cc.

G. Mekanisme Persalinan
Menurut Yanti (2010: hal 144-145), mekanisme terjadinya persalinan yaitu:
1. Kepala taksir pada PAP (engagement)
Sisiklitismus yaitu sutura sagitalis sejajar dengan simfisis dan promontorium,
sehingga kedudukan os parietalis depan dan belakang sama tingginya.
2. Turun (desent)
Asinklitismus posterior yaitu dimana sutura sagitalis mendekati simfisis, sehingga os
parietalis depan lebih tinggi dari pada os parietalis belakang.
3. Fleksi
Asinklitismus anterior dimana sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os
parietalis belakang lebih tinggi dari pada os parietalis depan
4. Fleksi maksimal
Sinklitismus dimana sutura sagitalis sejajar dengan simfisis dan promontorium,
sehingga kedudukan os parietalis depan dan belakang sama tingginya
5. Rotasi internal
Putar paksi dalam di dasar panggul dimana pada saat ini kepala janin molage yaitu
tulang-tulang kepala janin menyesuaikan dengan jalan lahir.
6. Ekstensi
Kepala janin mengalami ekstensi sehingga ubun-ubun kecil di bawah simfisis
(hipomokleon).
7. Ekspulsi kepala janin
Berturut-turut lahirlah ubun-ubun besar, dahi, muka, dagu.
8. Rotasi eskterna
Putar paksi luar (resitusi).
9. Ekspulsi total
Cara melahirkan:
a. Bahu depan
Dengan meletakkan tangan pada kedua sisi kepala bayi, tarik perlahan kebawah
untuk melahirkan bahu anterior

b. Bahu belakang
Tarik perlahan keatas untuk melahirkan bahu posterior
c. Seluruh badan dan ekstremitas bayi lahir dengan fleksi lateral