Anda di halaman 1dari 46

TINGKAT PENGETAHUAN PENDERITA DM TIPE 2

TERHADAP POLA DIET DIABETESI DI PUSKESMAS


SAMADUA KAB.ACEH SELATAN

Oleh :
dr. Kartika Agustina Hasbi
Pendamping :
dr. Cut Sri Elvita

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP


WAHANA KABUPATEN ACEH SELATAN
PUSKESMAS SAMADUA
2013

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini epidemi penyakit tidak menular muncul menjadi penyebab kematian
terbesar di Indonesia, sedangkan epidemi penyakit menular juga belum tuntas,
selain itu semakin banyak pula ditemukan penyakit infeksi baru dan timbulnya
kembali penyakit infeksi yang sudah lama menghilang. Sehingga Indonesia
memiliki beban kesehatan ganda yang berat. Berdasarkan studi epidemiologi
terbaru, Indonesia telah memasuki epidemi diabetes melitus tipe 2. Perubahan gaya
hidup dan urbanisasi nampaknya merupakan penyebab penting masalah ini dan
terus menerus meningkat pada milenium baru ini (Perkeni, 2011).
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia.
World Health Organization (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah
penyandang diabetes yang cukup besar pada tahun-tahun mendatang. WHO
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM Tipe 2 di Indonesia dari 8,4 juta
pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Wild S, 2004). Senada
dengan WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009,
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 7,0 juta pada tahun 2009
menjadi 12,0 juta pada tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi,
laporan keduanya menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM
sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030 (Perkeni, 2011).

Gambar 1.1 Insidensi Diabetes Melitus (IDF Diabetes Atlas, 2012)

Menurut perkiraan, sekitar 50%

penduduk dunia dan indonesia tidak

terdiagnosis menderita DM tipe 2 (underdiagnosed condition). Hal ini disebabkan


tidak adanya gejala atau dengan gejala ringan bagi mereka yang menderita DM
tipe 2 (IDF Diabetes Atlas, 2012). Sehingga sebagian besar penderita
DM tipe 2 tidak mengetahui serta memperdulikan penyakitnya dan
kemudian

mendapatkan

komplikasi

makroangiopati

maupun

mikroangiopati yang ireversibel (Pramono et al , 2010).


Laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 oleh
Departemen Kesehatan RI, menunjukkan bahwa prevalensi DM di daerah urban
Indonesia untuk usia diatas 15 tahun sebesar 5,7%. Prevalensi terkecil terdapat di
Propinsi Papua sebesar 1,7%, dan terbesar di Propinsi Maluku Utara dan
Kalimantan Barat yang mencapai 11,1%. Sedangkan prevalensi toleransi glukosa
terganggu (TGT), berkisar antara 4,0% di Propinsi Jambi sampai 21,8% di Propinsi
Papua Barat (Kemenkes RI, 2008).
Data-data diatas menunjukkan bahwa jumlah penyandang diabetes di
Indonesia sangat besar dan merupakan beban yang sangat berat untuk dapat
ditangani sendiri oleh dokter spesialis/subspesialis atau bahkan oleh semua tenaga
kesehatan yang ada (Perkeni, 2011).

Diabetes mellitus tipe 2 ditandai oleh penurunan fungsi sel pankreas secara
progresif dan resistensi insulin yang diperburuk dengan kontrol glikemik, yang
dihasilkan oleh gejala klasik hiperglikemia yang terkait dengan komplikasi
diabetes, misalnya

retinopati diabetes, nefropati, dan penyakit kardiovaskular.

Terapi dini dan edukasi terhadap pasien untuk melakukan manajemen diri sendiri
terhadap

penyakit

diabetes

mellitusnya

secara

efektif,

sebagai

kunci

penatalaksanaan diabetes mellitus tipe 2 (Robertson C, 2011).


Diabetes Mellitus Tipe 2 diderita oleh hampir semua golongan masyarakat di
seluruh dunia. Lebih dari 3 dekade,

jumlah penderita diabetes mellitus telah

meningkat 2 kali lipat, membuat tantangan yang berbeda di seluruh negara.


Diabetes mellitus tipe 2, dan prediabetes telah meningkat antara anak-anak, remaja,
dan dewasa muda. Penyebab peningkatan epidemik ini disebabkan oleh masalah
yang kompleks yang terkait dengan genetik dan epigenetik dan interaksi dengan
faktor sosial, yakni pengaruh kebiasaan dan lingkungan (Chen L et al, 2012).
Penderita DM tipe 2 dari tahun ke tahun cenderung meningkat karena banyak
faktor resiko yang menyebabkan penyakit DM tipe 2 misal gaya hidup tidak sehat,
pola makan tidak sehat, sehingga terjadi obesitas yang disertai resistensi insulin
yang berlanjut menjadi DM (Darmono, 2010). Selain itu faktor lingkungan,
pendidikan dan pengalaman dapat juga menyebabkan masyarakat kurang informasi
tentang diet dan tatalaksana pada penyakit DM Tipe 2. Maka dari itu tingkat
pengetahuan pasien DM Tipe 2 tentang pola diet diabetesi sangat diperlukan karena
dapat mempengaruhi status kesehatannya. Namun terkadang seseorang tidak
mengetahui dirinya menderita DM tipe 2 sehingga kurang peduli terhadap pola
makan atau pola hidup sehat (Kariadi, 2009).
Pola makan yang salah sangat meningkatkan resiko diabetes, kurang gizi
(malnutrisi) dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas (gemuk berlebihan) dapat
mengakibatkan gangguan kerja insulin (Soegondo, 2009). Bila sel Pancreas
terganggu atau rusak maka terjadi defisiensi atau resistensi insulin sehingga glukosa
dari makanan yang masuk tidak dapat dijadikan energi oleh sel. Makan yang
berlebihan akan menumpukkan glukosa didalam darah sehingga terjadi kenaikan
kadar gula darah (Kariadi, 2009).

Komplikasi DM Tipe 2 ini sudah dipastikan dapat merusak organ tubuh


seperti jantung (75 % kasus DM tipe 2 akan merusak jantung, ginjal, otak, mata
serta organ tubuh lainnya). Maka dampak yang biasa pada DM tipe 2 yang lama dan
tidak terkontrol adalah gangguan penglihatan, oklusi koroner, gagal ginjal dan
stroke. Para pakar sendiri sering mengingatkan, penyakit jantung antara lain
diperoleh akibat konsumsi lemak jenuh yang berlebihan dan kolesterol dari
makanan hewani. Sedangkan serat dari makanan nabati justru menurunkan
kolesterol dalam darah, mengendalikan kadar gula darah dan sekaligus menurunkan
berat badan (Soegondo S, 2011).
Salah satu upaya yang mempunyai peran utama adalah pengendalian lipid,
tekanan darah dan kadar gula darah melalui edukasi tentang gaya hidup sehat,
konsumsi gizi seimbang serta memelihara berat badan ideal, hindari hidup stress,
tidur yang cukup dan hidup aktif berolahraga serta tidak merokok. Upaya kuratif
yang mahal seperti perawatan intensif, tidak besar peranannya terhadap penurunan
mortalitas dalam populasi (Soegondo S, 2011).
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka permasalahan yang akan dianalisis
adalah tingkat pengetahuan terhadap DM tipe 2 dan pola diet diabetesi pada pasien
DM Tipe 2 di Puskesmas Samadua.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan tingkat pengetahuan penderita DM tipe 2 terhadap diet diabetes.

1.3.2 Tujuan Khusus


Mengidentifikasi karakteristik diabetesi bedasarkan usia
Mengidentifikasi karakteristik diabetesi berdasarkan jenis kelamin
Mengidentifikasi karakteristik diabetesi berdasarkan pekerjaan
Mengidentifikasi karakteristik diabetesi berdasarkan tingkat pendidikan
Mengidentifikasi tingkat pengetahuan tentang penyakit DM tipe 2 dan diet diabetes

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritik
Mini project ini dilakukan untuk melatih dalam menilai suatu kemampuan
dan kecermatan dalam berinteraksi di dalam masyarakat. Selain itu memperoleh
pengalaman belajar di lapangan melalui studi kasus dan untuk meningkatkan

pengetahuan serta mencari alternatif penyelesaian dari suatu masalah dan


memutuskan penyelesaiannya.
1.4.2

Manfaat Aplikatif
Mini projek ini diharapkan dapat mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat

terhadap penyakit yang sering terjadi di masyarakat dalam hal ini penyakit Diabetes
Mellitus Tipe 2 serta mengetahui karakteristik penyakit DM tipe 2 di wilayah kerja
Puskesmas Samadua.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengetahuan
2.1.1 Pengertian
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia, sebagian besar diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmojo, 2003:121). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmojo, 2003). Tingkat
pengetahuan dalam dominan kognitif menurut Notoatmojo (2003) mempunyai 6
tingkat yaitu:
1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dapat dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau dirangsang
yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang
paling rendah.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat meninterprestasikan materi tersebut dengan
benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan
dan menyebutkan.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi tersebut
dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,
dan mengelompokkan
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan
suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.
2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
1.

Umur
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat

berulang tahun semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja (Nursalam; Pariani, 2003).
Sigit D. Gunarsa (1999) mengemukakan semakin tua umur seseorang maka proses
perkembangan mental ini tidak secepat seperti berumur belasan tahun. Selain itu

Abu Ahmadi (2000) mengemukakan bahwa memori/daya ingat seseorang itu salah
satunya dipengaruhi oleh umur.
2.

Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap orang

lain menuju ke arah suatu citacita tertentu, jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan
itu menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya untuk mencapai
keselamatan dan kebahagiaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,
semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula menerima
pengetahuan yang dimilikinya (Nursalam; Pariani, 2003).
3.

Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktivitas yang harus dilakukan terutama untuk menunjang

kehidupan dan kehidupan keluargannya (Nursalam; Pariani, 2003).


4.

Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi terlalu rendah sehingga tidak begitu memperhatikan

pesan-pesan yang disampaikan karena lebih memikirkan kebutuhan- kebutuhan lain


yang lebih mendesak (Efendi N, 1998).
5.

IQ
Menurut Abu Ahmadi (2000) semakin tinggi IQ seseorang maka orang

tersebut akan semakin cerdas.


6. Informasi
Pengetahuan juga dapat diperoleh dari informasi-informasi yang diterima
baik melalui poster maupun dalam bentuk penyuluhan.
2.1.3 Sumber Pengetahuan Manusia
1. Tradisi
Dengan adat istiadat kita dan profesi dokter atau medis, beberapa pendapat
diterima sebagai sesuatu yang benar. Banyak pertanyaan terjawab dan banyak
permasalahan dapat dipecahkan berdasarkan suatu tradisi. Tradisi adalah suatu
dasar pengetahuan di mana setiap orang tidak dianjurkan untuk memulai mencoba
memecahkan masalah. Akan tetapi tradisi mungkin terdapat kendala untuk
kebutuhan manusia karena beberapa tradisi begitu melekat sehingga validitas,
manfaat, dan kebenarannya tidak pernah dicoba/diteliti.
2. Autoritas

Dalam masyarakat yang semakin majemuk adanya suatu autoritas seseorang


dengan keahlian tertentu, pasien memerlukan perawat atau dokter dalam lingkup
medik. Akan tetapi seperti halnya tradisi jika keahliannya tergantung dari
pengalaman pribadi sering pengetahuannya tidak teruji secara ilmiah.
3. Pengalaman Seseorang
Kita semua memecahkan suatu permasalahan berdasarkan obsesi dan
pengalaman sebelumnya, dan ini merupakan pendekatan yang penting dan
bermanfaat. Kemampuan untuk menyimpulkan, mengetahui aturan dan membuat
prediksi berdasarkan observasi adalah penting bagi pola penalaran manusia. Akan
tetapi pengalaman individu tetap mempunyai keterbatasan pemahaman : a) setiap
pengalaman seseorang mungkin terbatas untuk membuat kesimpulan yang valid
tentang situasi, dan b) pengalaman seseorang diwarnai dengan penilaian yang
bersifat subyektif.

4. Trial dan Error


Kadang-kadang kita menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita
dalam menggunakan alternatif pemecahan melalui coba dan salah. Meskipun
pendekatan ini untuk beberapa masalah lebih praktis sering tidak efisien. Metode
ini cenderung mengandung resiko yang tinggi, penyelesaiannya untuk beberapa hal
mungkin idiosentris.
5. Alasan yang Logis
Kita sering memecahkan suatu masalah berdasarkan proses pemikiran yang
logis. Pemikiran ini merupakan komponen yang penting dalam pendekatan ilmiah,
akan tetapi alasan yang rasional sangat terbatas karena validitas alasan deduktif
tergantung dari informasi dimana seseorang memulai, dan alasan tersebut mungkin
tidak efisien untuk mengevaluasi akurasi permasalahan.
6. Metode Ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan yang paling tepat untuk mencari suatu
kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis serta
dalam mengumpulkan dan menganalisa datanya didasarkan pada prinsip validitas
dan reliabilitas (Nursalam, 2003).

2.2. DIABETES MELLITUS TIPE 2


2.2.1 Definisi
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes melitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya
(ADA, 2010).
Diabetes adalah kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan defek
sekresi insulin, aksi insulin, atau keduanya. Hiperglikemia kronik dari diabetes
yang terkait dengan gangguan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan
berbagai organ, khususnya mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah (ADA,
2013).

2.2.2 Klasifikasi
Menurut Standard of Medical Care in Diabetes 2012 yang dikeluarkan oleh
ADA pada tahun 2012, klasifikasi dari Diabetes Melitus terbagi atas empat kelas,
yaitu :

Diabetes Tipe 1 (akibat destruksi sel-sel , umumnya berakibat pada defisiensi

insulin absolut)
Diabetes Tipe 2 (akibat dari defek sekresi insulin yang progresif akibat resistensi

insulin)
Diabetes tipe lain yang spesifik, bias diakibatkan oleh defek genetik pada fungsi
sel-, defek genetic pada kerja insulin, ataupun penyakit-penyakit pada eksokrin
pankreas (seperti kistik fibrosis) atau akibat obat dan bahan kimia (seperti pada

pengobatan HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ)


Diabetes Gestasional (diabetes yang terdiagnosa pada masa kehamilan yang
jelas-jelas bukan overt diabetes
Pada beberapa pasien tidak dapat diklasifikasikan ke dalam tipe 1 atau pun

tipe 2 secara jelas. Hal ini disebabkan oleh karena gambaran klinis perjalanan
penyakit yang bervariasi pada kedua tipe. Umumnya, pasien dengan diabetes tipe 2
dapat memiliki gambaran ketoasidosis. Mirip dengan hal tersebut, pasien dengan
diabetes tipe 1 mungkin memiliki perjalanan penyakit dengan onset yang lambat

(namun sangat merusak) dibandingkan tampilan penyakit autoimun. Kesulitan


dalam mendiagnosa dapat timbul pada anak-anak, remaja dan dewasa (ADA,
2012).
2.2.3 Faktor Resiko
Berikut ini adalah faktor resiko terjadinya diabetes mellitus tipe 2
(Soegondo S, 2011) :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

usia > 45 tahun


berat badan lebih
hipertensi
riwayat genetik DM
riwayat abortus
Kolesterol HDL 35 mg/dl
Trigliserida 250 mg/dl

2.2.4 Gejala Klinis


Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah
ini (Perkeni, 2011) :
a. Keluhan klasik DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
b. Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.
2.2.5 Diagnosis
Diagnosis Diabetes Mellitus ditegakkan jika (Perkeni, 2011 & ADA, 2012) :
a. Adanya gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL (11.1
mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada
suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir, atau
b. Adanya gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dL (7.0
mmol/L). Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8
jam, atau
c. Kadar gula plasma 2 jam pada TTGO 200 mg/dL (11.1 mmol/L). TTGO yang
dilakukan harus sesuai standar WHO, menggunakan beban glukosa yang setara
dengan 75 gr glukosa anhidrus yang dilarutkan ke dalam air, atau
d. Kadar HbA1c 6.5%, jika dilakukan pada sarana laboratorium yang telah
terstandarisasi dengan baik.

Tabel 2.1 Kadar Glukosa darah untuk mendiagnosa Diabetes Mellitus (ADA, 2010)
Berikut ini adalah gambar alur diagnosa Diabtes Mellitus menurut

Konsesnsus Perkeni, 2011 :

Gambar 2.1 Alur Diagnosa Diabetes Mellitus (Perkeni, 2011)

2.2.5 Komplikasi dan Penyulit Diabetes Mellitus Tipe 2


a. Komplikasi akut
1. Ketoasidosis diabetik (KAD)
Merupakan komplikasi akut diabetes yang ditandai dengan peningkatan kadar
glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dL), disertai dengan adanya tanda dan
gejala asidosis dan plasma keton(+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat (300-320
mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap (Beigi FI, 2012).
2. Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH)
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200
mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat meningkat
(330-380 mOs/mL), plasma keton (+/-), anion gap normal atau sedikit meningkat.
Catatan: kedua keadaan (KAD dan SHH) tersebut mempunyai angka morbiditas
dan mortalitas yang tinggi. Memerlukan perawatan di rumah sakit guna
mendapatkan penatalaksanaan yang memadai (Soegondo S, 2011).
3. Hipoglikemia
Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah < 60 mg/dL.
Bila terdapat penurunan kesadaran pada penyandang diabetes harus selalu
dipikirkan kemungkinan terjadinya hipoglikemia. Hipoglikemia paling sering
disebabkan oleh penggunaan sulfonilurea dan insulin. Hipoglikemia akibat
sulfonilurea dapat berlangsung lama, sehingga harus diawasi sampai seluruh obat
diekskresi dan waktu kerja obat telah habis. Terkadang diperlukan waktu yang
cukup lama untuk pengawasannya (24-72 jam atau lebih, terutama pada pasien
dengan gagal ginjal kronik atau yang mendapatkan terapi dengan OHO kerja
panjang). Hipoglikemia pada usia lanjut merupakan suatu hal yang harus dihindari,
mengingat dampaknya yang fatal atau terjadinya kemunduran mental bermakna
pada pasien. Perbaikan kesadaran pada DM usia lanjut sering lebih lambat dan
memerlukan pengawasan yang lebih lama (Beigi FI, 2012).
b. Komplikasi kronis
1. Makroangiopati

Pembuluh darah jantung

Pembuluh darah tepi: penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang
diabetes. Biasanya terjadi dengan gejala tipikal claudicatio intermittent,
meskipun sering tanpa gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan
yang pertama muncul.

Pembuluh darah otak


2. Mikroangiopati:

Retinopati diabetik
Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko dan
memberatnya retinopati. Terapi aspirin tidak mencegah timbulnya retinopati

Nefropati diabetik
Kendali glukosa dan tekanan darah yang baik akan mengurangi risiko nefropati.
Pembatasan asupan protein dalam diet (0,8 g/kgBB) juga akan mengurangi
risiko terjadinya nefropati

3. Neuropati
Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer, berupa
hilangnya sensasi distal. Berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan
amputasi.Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan
lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diagnosis DM ditegakkan, pada setiap
pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya polineuropati distal
dengan pemeriksaan neurologi sederhana, dengan monofilamen 10 gram sedikitnya
setiap tahun. Apabila ditemukan adanya polineuropati distal, perawatan kaki yang
memadai akan menurunkan risiko amputasi. Untuk mengurangi rasa sakit dapat
diberikan duloxetine, antidepresan trisiklik, atau gabapentin. Semua penyandang
diabetes yang disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki
untuk mengurangi risiko ulkus kaki. Untuk penatalaksanaan penyulit ini seringkali
diperlukan kerja sama dengan bidang/disiplin ilmu lain (Ziegler D, 2009).
2.2.6. Pilar Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2
1. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah
terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan
partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi

pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat. Untuk mencapai keberhasilan


perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan
motivasi. Pengetahuan tentang pemantauan glukosa darah mandiri, tanda dan gejala
hipoglikemia serta cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien. Pemantauan
kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan
khusus (Perkeni, 2011).
Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan
kesehatan. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan
perubahan perilaku. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk
pengetahuan dan peningkatan motivasi. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik
melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari dokter, ahli gizi, perawat, dan
tenaga kesehatan lain. Setiap kali kunjungan diingatkan kembali untuk selalu
melakukan perilaku sehat (Kariadi, 2009).
Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani
pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah:

Mengikuti pola makan sehat.

Meningkatkan kegiatan jasmani.

Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman
dan teratur.

Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan


data yang ada.

Melakukan perawatan kaki secara berkala

Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut


dengan tepat

Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau


bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga
untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes

Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.


Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai

bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari
pengelolaan DM secara holistik. Materi edukasi terdiri dari materi edukasi tingkat

awal dan materi edukasi tingkat lanjutan. Edukasi yang diberikan kepada pasien
meliputi pemahaman tentang (Darmono, 2010):
Materi edukasi pada tingkat awal adalah:

Materi tentang perjalanan penyakit DM

Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara berkelanjutan

Penyulit DM dan risikonya

Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target pengobatan

Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat hipoglikemik oral atau
insulin serta obat-obatan lain
Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah atau urin
mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak tersedia)
Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit, atau hipoglikemia
Pentingnya latihan jasmani yang teratur
Masalah khusus yang dihadapi (contoh: hiperglikemia pada kehamilan)

Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan dan pentingnya perawatan


kaki

Materi edukasi pada tingkat lanjut adalah :

Mengenal dan mencegah penyulit akut DM

Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM

Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain

Makan di luar rumah

Rencana untuk kegiatan khusus

Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir tentang DM

Pemeliharaan/perawatan kaki
Edukasi dapat dilakukan secara individual dengan pendekatan berdasarkan

penyelesaian masalah. Seperti halnya dengan proses edukasi, perubahan perilaku


memerlukan perencanaan yang baik, implementasi, evaluasi, dan dokumentasi.

Gambar 2.2 Algoritma Pilar penatalaksanaan DM Tipe 2 (Perkeni, 2011)


2. Terapi Nutrisi Medis
Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari penatalaksanaan diabetes
secara total. Kunci keberhasilan TNM adalah keterlibatan secara menyeluruh dari
anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien dan
keluarganya). Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat TNM sesuai dengan
kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi. Prinsip pengaturan makan pada
penyandang diabetes hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum
yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi
masing-masing individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya
keteraturan makan dalam hal jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan, terutama
pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin (Hiswani,
2010).
3. Latihan jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam
pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar,
menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan (lihat tabel). Latihan jasmani
selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan

memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa


darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat
aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang.
Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran
jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa
ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi.
Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan. Hasil
penelitian menyebutkan penurunan berat badan disertai latihan jasmani akan
mengurangi dan mencegah timbulnya penyakit DM sebanyak 5-10% (Soegondo S,
2011).
Tabel 2.2 Jenis aktivitas yang disarankan bagi diabetesi

4. Intervensi/terapi farmakologis
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai
sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO)
dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan
secara tunggal atau langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan
dekompensasi metabolik berat, misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan yang
menurun dengan cepat, dan adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Terapi
farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
(gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat oral dan bentuk suntikan
(Inzucchi et al, 2012).
Pemberian Terapi Obat Hipoglikemik Oral

Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5 golongan (Perkeni, 2011) :


a.
b.
c.
d.
e.

Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) : sulfonilurea dan glinid


Peningkat sensitivitas terhadap insulin : metformin dan tiazolidindion, inlacin
Penghambat glukoneogenesis (metformin)
Penghambat absorpsi glukosa / inhibitor glukosidase alfa
DPP IV inhibitor dan GLP-1 agonis
Rekomendasi ADA untuk penggunaan OHO pada tahun 2012, menyebutkan:

a.

Saat seseorang didiagnosis dengan DM Tipe 2, maka terapi metformin sebagai


inisiasi harus diberikan bersamaan dengan intervensi perubahan gaya hidup,

kecuali terdapat kontraindikasi penggunaan metformin pada pasien. (A)


b. Pada pasien yang baru didiagnosa DM Tipe 2, yang ditandai dengan gejala
dan/atau peningkatan kadar glukosa plasma atau kadar A1C, harus dipikirkan
terapi insulin , dengan atau tanpa obat tambahan dari luar (E)
c. Jika monoterapi noninsulin pada dosis maksimal yang dapat ditoleransi tidak
dapat menurunkan target A1c selama lebih dari 3 6 bulan, harus ditambahkan
obat hipoglikemik jenis kedua, agonis reseptor GLP 1, atau insulin. (E)
Sesuai rekomendasi ADA, bahwa dimulainya intervensi dini saat pasien
didiagnosa DM Tipe 2, yakni kombinasi metformin dan perubahan gaya hidup
(MNT dan aktivitas fisik) serta kombinasi dengan OHO jenis lain maupun insulin
sebagai cara untuk memenuhi target kontrol kadar glikemik (HbA1c 7%) dan
mempertahankannya. Jika target A1C tidak tercapai, maka dipikirkan untuk
dilakukannya terapi intensif yakni dengan penambahan OHO dari kelas yang
berbeda. Analisa metadata menunjukkan bahwa secara keseluruhan, penambahan
setiap kelas OHO ke dalam terapi inisial dapat menurunkan A1c sekitar 0.9 1.1%
(ADA, 2013).

G
mb
r
2.3

Gambar algoritme penggunaan OHO bagi penderita DM Tipe 2 (Perkeni,2011)

a
a

Gambar 2.4 Pemilihan Obat Hipoglikemik Oral (Schernthaner et al, 2010)


2.3 Pengaturan Diet Diabetes Mellitus Tipe 2
2.3.1 Definisi
Diet yaitu suatu aturan makan untuk kesehatan dan sebagai bagian yang di
edukasikan oleh dokter untuk berpantang atau menahan diri terhadap makanan
tertentu untuk kesehatan, mengatur kualitas dan jenis makanan untuk mengurangi
berat badan karena penyakit. Diet secara umum untuk penyakit metabolik dan
degeneratif antara lain (Hiswani, 2010) :
1. Diet rendah garam

Jumlah garam yang dapat dikonsumsi oleh pasien DM Tipe 2 dengan


hipertensi adalah sekitar 1500 mikrogram perhari. Pasien yang tidak memiliki
penyakit hipertensi diperbolehkan mengkonsumsi garam sekitar 2500 mikrogram
perhari. Pengurangan asupan garam di mulai dari makanan yang sering di konsumsi
sehari-hari.
2. Turunkan berat badan (pada pasien yang obesitas dan overweight)
Cara-cara menurunkan berat badan pada pasien hipertensi yang obesitas dan
overweight yaitu dengan :
a. Makan secara teratur dan kurangi porsi makan
b. Kurangi makan-makanan yang berlemak, gurih dan manis seperti daging
berlemak, es krim, coklat, madu, sirup, minuman beralkohol dan ikan asin.
c. Batasi makan-makanan yang mengenyangkan diluar jam makan seperti lontong,
ketan, mie, roti dan biskuit.
3. Makan-makanan dengan gizi seimbang
Makanan-makanan dengan gizi seimbang adalah semua makanan seperti
karbohidrat, lemak, protein hewani dan protein nabati dalam jumlah yang cukup
dan tidak berlebihan. Buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan makan-makanan
yang sangat di anjurkan.
2.3.2 Diet Khusus Diabetesi
Pilihan makanan untuk penyandang diabetes dapat dijelaskan melalui
piramida makanan untuk penyandang diabetes (Perkeni, 2011) :

Gambar 2.4 Piramida Diet Diabetes

1. Sumber karbohidrat dikonsumsi 3-7 porsi/penukar sehari (tergantung status


gizi).
2. Sumber vitamin dan mineral: sayuran 2-3 porsi/penukar, buah 2-4 porsi/penukar
3. Sumber protein: lauk hewani 3 porsi/penukar, lauk nabati 2-3 porsi/penukar
sehari.
4. Batasi konsumsi gula, lemak / minyak dan garam.
a. Komposisi makanan diabetes yang dianjurkan terdiri dari:
1. Karbohidrat

Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi.

Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan

Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi.

Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan


sama dengan makanan keluarga yang lain

Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.

Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak melebihi
batas aman konsumsi harian (Accepted- Daily Intake)

Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam sehari.
Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan lain
sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

2. Lemak

Asupan

lemak

dianjurkan

sekitar

20-25%

kebutuhan

kalori.

Tidak

diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.

Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori

Lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal.

Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak
jenuh dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan susu penuh (whole milk).

Anjuran konsumsi kolesterol <200 mg/hari.

3. Protein

Dibutuhkan sebesar 10 20% total asupan energi.

Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi,dll), daging tanpa
lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu, dan
tempe.

Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8
g/KgBB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai
biologik tinggi.

4. Natrium
Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran untuk
masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mcg atau sama dengan 6-7 gram (1

sendok teh) garam dapur.


Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400 mcg.
Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan bahan

pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.


5. Serat
Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan mengonsumsi
cukup serat dari kacang-kacangan, buah, dan sayuran serta sumber karbohidrat
yang tinggi serat, karena mengandung vitamin, mineral, serat, dan bahan lain
yang baik untuk kesehatan.
Anjuran konsumsi serat adalah 25 g/hari.
6. Pemanis alternatif
Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori.

Termasuk pemanis berkalori adalah gula alkohol dan fruktosa.


Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.
Dalam penggunaannya, pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan

kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.


Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes karena efek

samping pada lemak darah.


Pemanis tak berkaloriyang masih dapat digunakan antara lain aspartam, sakarin,

acesulfame potassium, sukralose, dan neotame.


Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (Accepted Daily
Intake / ADI)

b. Kebutuhan kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan
penyandang diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan
kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kgBB ideal, ditambah atau dikurangi

bergantung pada beberapa faktor seperti: jenis kelamin, umur, aktivitas, berat
badan, dan lain lain. Perhitungan berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca
yang dimodifikasi adalah sebagai berikut:

Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.


Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm,
rumus dimodifikasi menjadi :
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
BB Normal : BB ideal 10 %
Kurus : < BBI - 10 %
Gemuk: > BBI + 10 %
Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh (IMT).
Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus:
berat badan (kg)
IMT
tinggi badan (m) 2

Klasifikasi IMT :

BB Kurang < 18,5 kg/m2


BB Normal 18,5-22,9 kg/m2
BB Lebih 23,0 kg/m2
Dengan risiko 23,0-24,9 kg/m2
Obes I 25,0-29,9 kg/m2
Obes II > 30 kg/m2

( Sumber : WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: Redefining


Obesity and its Treatment).
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain :
Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan kalori wanita

sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/ kg BB.


Umur
Untuk pasien usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade
antara 40 dan 59 tahun, dikurangi 10% untuk dekade antara 60 dan 69 tahun dan

dikurangi 20% untuk diabetesi di atas usia 70 tahun.


Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik.
Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan
istirahat, 20% pada pasien dengan aktivitas ringan, 30% dengan aktivitas sedang,
dan 50% dengan aktivitas sangat berat.

Berat Badan
Bila didapatka berat badan masuk ke dalam kategori kegemukan maka akan
dikurangi sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat kegemukan. Sebaliknya,
bila kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk

meningkatkan BB.
Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit
1000-1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200-1600 kkal perhari untuk pria.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi

dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 23 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Untuk meningkatkan kepatuhan
pasien, sejauh mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk
penyandang diabetes yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan
disesuaikan dengan penyakit penyertanya (Kariadi 2009 & Perkeni 2011).
Metode pengaturan diet/makan meliputi metoda 3 J, yaitu :
1. Jumlah : Jumlah kalori dari karbohidrat 45-65% dari total kalori. Untuk
kepraktisan dapat diatur 50%
2. Jenis : tinggi serat dan rendah kalori
3. Jadwal : terbagi 6 jadwal teratur yaitu 3 kali makan utama dan 3 kali makanan
selingan (camilan/snack).
Beberapa contoh metode lain yang digunakan dalam pengaturan diet diabetes:
a. Metode model piring (plate model) yaitu 1 piring dibagi 4 kuadran setara porsi
telapak tangan. Sayur dan buah sebanyak 2 telapak tangan, nasi 1 porsi telapak
tangan, daging/tahu/tempe 1 porsi telapak tangan.

Gambar 2.4. Diet Metode Piring (plate model)


b. Metode satuan penukar dari Ukuran Rumah Tangga/URT (food exchange)
c. Metode Hitung karbohidrat (carbo-counting) yaitu menghitung kalori dari
makanan, metode ini tertama untuk diabetes dengan terapi insulin
d. Metode lainnya : Hand Jive, Indeks Glikemik/Load glikemik
Jika perlu, lakukan pemeriksaan gula darah mandiri dengan digital gluco-check
sebelum dan sesudah makan (pre and post meals).
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan :
1. Data primer
Data primer dikumpulkan melalui wawancara dan tanya jawab langsung
pada pasien yang datang ke Puskesmas induk di kecamatan Samadua. Sampel
data primer diambil dengan menggunakan metode accidental sampling
sejumlah 30 responden.
3.2 Metode Pelaksanaan
Pelaksanaan mini projek dilakukan dengan metode edukasi/penyuluhan
langsung setelah selesai dilakukannya proses tanya jawab dan dilakukan
penilaian ulang tingkat pengetahuan masyarakat terhadap penyakit DM tipe 2
dan pola dietnya.
3.3 Langkah Langkah yang dilakukan
Pelaksanaan program dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Tanya jawab awal untuk menilai tingkat pengetahuan masyarakat pre
penyuluhan
2. Pemberian materi penyuluhan/edukasi tentang diabetes mellitus dan diet
diabetes pada masing-masing responden

3. Tanya Jawab ulang untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan masyarakat


setelah diberikan intervensi berupa edukasi langsung.
3.4. Waktu Dan Tempat
Pelaksanaan kegiatan dilakukan di Puskesmas induk di Kecamatan Samadua
yang dilaksanakan secara accidental selama 4 minggu yang di mulai pada tanggal
19 Mei 27 Juni 2014.

3.4 Alur Project


Alur kerja dari project ini digambarkan seperti Gambar 3.1 di bawah ini.
Populasi Project
Sampel Project
Pengumpulan Data &
Penyuluhan Langsung
Pengolahan Data

BAB IV
PENYAJIAN DATA

4. 1 Data Umum
4.1.1 Profil Umum
Puskesmas Samadua merupakan salah satu puskesmas dari 22 puskesmas
yang ada di Kabupaten Aceh Selatan, dimana Puskesmas Samadua terletak 8 km
Sebelah Barat Tapaktuan yang merupakan Ibukota Kabupaten Aceh Selatan. Luas
wilayah kerja Puskesmas Samadua 149 km dengan batas daerah sebagai berikut :

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tapaktuan

Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sawang

Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kluet Tengah


Wilayah kerja Puskesmas Samadua mempunyai 4 Kemukiman yang terdiri

dari 28 Gampong yaitu :

Kemukiman Suak Hulu dengan 9 Gampong Yaitu: Jilatang, Ujung Kampung,


Luar, Tampang, Ujung Tanah, Lubuk layu, Suaq Hulu, Payo Nan Gadang dan
Arafah.

Kemukiman Kasik Putih dengan 7 Gampong yaitu : Baru, Gadang, Ladang


Kasik Putih, Air Sialang Hulu, Air Sialang Tengah, Air Sialang Hilir, dan
Balai.

Kemukiman Panton Luas dengan 8 Gampong yaitu : Subarang, Tengah,


Madat, Ladang Panton Luas, Gunung Ketek, Alur Simerah, Kota Baru dan
Dalam.

Kemukiman Sedar dengan 4 Gampong :Alur Pinang, Kuta Blang, Gunung Cut
dan Batee Tunggai.
4.1.2 Data Demografis
Jumlah penduduk Samadua adalah 15.034 jiwa, yang terdiri dari dari
penduduk laki-laki sejumlah 7.475 jiwa, dan perempuan sejumlah 7.559 jiwa.
Berikut ini adalah rincian penduduk Kecamatan Samadua :

Tabel 4.2 Data Demografi Jumlah Penduduk Kec.Samadua

N
o
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

GAMPONG

KK

Jilatang
Ujung Kampung
Luar
Tampang
Ujung Tanah
Lubuk Layu
Suak Hulu
Payo Nan Gadang
Arafah
Baru
Gadang
Ladang Kasik Putih
Air Sialang Tengah
Air Sialang Hulu
Air Sialang Hilir
Balai
Subarang
Tengah
Madat
Ladang panton Luas
Gunung Ketek
Alur Simerah
Kota Baru
Dalam
Alur Pinang
Gunung Cut
Kuta Blang
Batee Tunggai
Jumlah

175
69
125
66
170
114
127
173
198
180
86
118
162
74
201
70
107
115
95
118
112
119
123
144
204
112
291
160
3.808

JUMLAH PENDUDUK
LAKI-LAKI

PEREMPUAN

JUMLAH

320
125
196
108
373
226
306
357
420
403
190
238
286
210
363
147
155
189
213
170
291
161
172
170
428
216
732
310
7.475

381
138
245
151
425
196
307
346
447
417
226
223
328
233
347
127
176
202
192
195
268
196
263
187
484
202
400
257
7.559

701
263
441
259
798
422
613
703
867
820
416
461
614
443
710
274
331
391
405
365
559
357
435
357
912
418
1132
567
15.034

Sumber : Pendataan Bidan Desa Januari 2013


Penduduk di Puskesmas Samadua berada di tingkat sosial ekonomi menengah
ke bawah dengan mata pencaharian sebagian besar adalah petani dan nelayan, serta
pegawai negeri sipil.
4.1.3 Sumber Daya Kesehatan
a. Sarana Fasilitas Kesehatan
Bangunan Puskesmas terletak di Desa Jilatang berdampingan dengan SDN 3
Samadua, terdapat Lima unit bangunan gedung yang terdiri atas satu gedung
Puskesmas,dua rumah dinas, satu gedung pelayanan dan satu bekas rawat mini,

secara fisik 4 bangunan masih baik dan satu bangunan rusak ringan. Gedung utama
Puskesmas Samadua dibagi menjadi 14 ruang yaitu : ruang apotek, gudang obat,
ruang kepala puskesmas, ruang KIA/KB, ruang poliklinik umum, ruang kartu,
ruang gigi, ruang laboratorium, ruang tindakan/Gawat Darurat, ruang administrasi,
ruang imunisasi, ruang shalat, ruang gizi, dan kamar mandi/wc dengan kondisi
plafon depan rusak ringan.
Puskesmas Samadua memiliki fasilitas penunjang dalam mendukung
tugas-tugas operasional dan agar jangkauan pelayanan puskesmas lebih luas dan
merata hingga dapat mencakup ke seluruh wilayah kerjanya. Adapun fasilitas
penunjang tersebut adalah sebagai berikut:
Empat unit Pustu (Puskesmas pembantu), yaitu:
a.

Pustu Air Sialang

b. Pustu Panton Luas


c. Pustu Suak Hulu
d. Pustu Sedar
Empat unit Poskesdes, yaitu:
a. Poskesdes Gunung Ketek
b. Poskesdes Gadang
c. Poskesdes Lubuk Layu
d. Poskesdes Batee Tunggai
b. Tenaga Kesehatan
Puskesmas Samadua memiliki tenaga kesehatan sebanyak 61 orang, yang
yakni 54 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, perawat gigi,
farmasi, tenaga gizi, analis kesehatan, kesehatan masyarakat, dan sanitarian serta 7
orang tenaga non-kesehatan, yang terdiri dari tenaga administrasi dan cleaning
service. Berikut ini adalah rincian jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Samadua:
Tabel 4.3 Distribusi Tenaga Kesehatan Puskesmas Samadua Kec. Samadua Kab.
Aceh Selatan Tahun 2012
JENIS
Frekuensi
PENDIDIKA
Jumlah
PNS
PTT
BAKTI
No
N
KETENAGAAN
1
Dokter Umum
S1 Kedokteran
1
2
Dokter Gigi
S1 Ked. Gigi
-

Sarjana
Kesehatan

Perawat

Perawat Gigi

Bidan

Farmasi

Tenaga Gizi

Analis Kesehatan

10

Sanitarian
Total

FKM

D4 Kep
D III AKPER
SPK
D.III AKG
SPRG
D.III AKBID
D.I
D.III AKFAR
SMF
D.III AKZI
SPAG
D.III AAK
SMAK
D.III AKL
SPPH

1
14
2
10
7
1
1
38

2
1
4

5
1
2
1
1
12

1
19
2
1
14
8
1
1
1
1
54

4.1.4 Upaya Kesehatan dan Status Kesehatan


Upaya kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas terdiri atas Upaya
Kesehatan Wajib dan Upaya Kesehatan Pengembangan. Upaya Kesehatan Wajib
merupakan upaya kesehatan yang dilaksanakan oleh seluruh Puskesmas di
Indonesia. Upaya ini memberikan daya ungkit paling besar terhadap keberhasilan
pembangunan kesehatan.
Yang termasuk Upaya Kesehatan Wajib adalah Promosi Kesehatan,
Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana, Perbaikan
Gizi Masyarakat, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular serta Upaya
Pengobatan.
Sedangkan Upaya Kesehatan Pengembangan adalah upaya kesehatan yang
ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan dimasyarakat
setempat serta disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya Kesehatan
Pengembangan antara lain : upaya kesehatan sekolah, upaya kesehatan olahraga,
upaya kesehatan kerja, upaya kesehatan gigi dan mulut, upaya kesehatan jiwa,
upaya kesehatan mata, upaya kesehatan usia lanjut, upaya pembinaan pengobatan
tradisional.
a. Upaya Kesehatan Wajib
1. Upaya Promosi Kesehatan

Salah satu upaya prioritas dalam upaya kesehatan wajib puskesmas adalah
promosi kesehatan yang bertujuan untuk menambah serta meningkatkan
pengetahuan masyarakat tentang pentingnya memelihara kesehatan. Upaya promosi
kesehatan yang biasa dilaksanakan adalah melalui penyebaran poster yang berisi
gambar atau seruan untuk selalu memelihara serta meningkatkan derajat kesehatan
serta penyuluhan langsung ke masyarakat. Upaya Promosi Kesehatan yang
dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Samadua Tahun 2012 adalah :
1) Memberi penyuluhan secara individu kepada masyarakat yang berkunjung ke
Puskesmas, Pustu, Poskesdes dan Posyandu.
2) Memberikan penyuluhan kepada Pasangan Usis Subur (PUS) di 10 Desa,
dengan materi tentang Akseptor KB
3) Memberikan penyuluhan kepada ibu yang memiliki bayi dan balita di 3 Desa di
wilayah kerja Puskesmas Samadua, dengan materi tentang Gizi Balita
4) Memberikan penyuluhan kepada Wanita Usia Subur (WUS) di 8 Desa di
wilayah kerja Puskesmas Samadua, dengan materi tentang Bahaya Kanker
Cervix dan Pentingnya Pemeriksaan Dini Terhadap Kehamilan
5) Melaksanakan Pelatihan pada kader Kesehatan, dengan peserta masing-masing
2 orang kader per desa dengan peserta 28 Desa yang dilakukan dua kali
pertemuan, dengan materi pembekalan tentang peran serta kader dalam
mewujudkan derajat kesehatan bagi seluruh kelompok masyarakat dalam
meningkatkan semua cakupan program kesehatan.
6) Melaksanakan penyuluhan dan kegiatan intensifikasi penemuan penyakit kusta
dan frambusia di 6 SD/ MI di wilayah kerja Puskesmas Samadua.
7) Melakukan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) ke Pustu/Poskesdes di wilayah
kerja Puskesmas Samdua.
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
Sarana Air Bersih
Sebagian besar penduduk

Kecamatan

Samadua

menggunakan

Air

pegunungan (PMA) sebagai sumber sarana air bersih.


Sarana Jamban Keluarga
Dari pendataaan yang dilakukan pada tahun 2012, didapatkan bahwa dari
3.221 rumah yang memiliki jamban leher angsa, yang dengan kondisi memenuhi
syarat sebanyak 1.587 (49,3%), dan yang menggunakan jamban lain-lain sebanyak
562 (17,4 %)
Sarana Pembuangan Air Limbah

Distribusi tempat pembuangan air limbah rumah tangga dalam wilayah kerja
Puskesmas Samadua Tahun 2012 ialah sebanyak 1.539. Dari rumah tangga yang
diperiksa sarana pembuangan air limbah (SPAL), hanya 467 rumah yang memenuhi
syarat kesehatan dan 72 tidak memenuhi syarat kesehatan
Tempat Penjualan dan Pengolahan Pestisida
Wilayah kerja Puskesmas Samadua memiliki sarana penjualan dan
pengelolaan pestisida sebanyak 4 sarana, dan dari 2 yang di periksa ternyata 1
sarana yang memenuhi syarat.

Tempat Pengelolaan Makanan dan Minuman


Tempat pengolahan makanan dan minuman yang paling banyak adalah

pedagang keliling dengan jumlah 52

tempat. Empat puluh dua diantaranya

memenuhi syarat, dan tujuh tidak memenuhi syarat. Sedangkan yang paling sedikit
adalah kantin dengan jumlah 5 buah, dengan kondisi 4 memenuhi syarat dan 1 tidak
memenuhi syarat .
Tempat Pembuangan Sampah
Tempat pembuangan sampah pada perumahan masyarakat di wilayah kerja
Puskesmas Samadua semuanya dilakukan dengan pembakaran dan pembuangan ke
sungai, karena di wilayah kerja Puskesmas Samadua tidak memiliki Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) tetapi cuma ada Tempat Pembuangan Sementara (TPS)
dan akhirnya di bakar olah masyarakat sendiri.
Tempat Umum
Distribusi fasilitas umum yang paling banyak terdapat di wilayah kerja
Puskesmas Samadua yaitu tempat pangkas dengan jumlah 19 tempat, yang
memenuhi syarat berjumlah 16 buah dan 3 tidak memenuhi syarat.
b. Upaya Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana
1. Kunjungan Ibu Hamil (K1 dan K4)
Data kunjungan Ibu hamil (K1 dan K4) Puskesmas Samadua Tahun 2012
dengan jumlah sasaran ibu hamil 340 orang. Distribusi kunjungan ibu hamil paling
banyak pada bulan Januari yaitu K1 sebanyak 39 dan K4 pada bulan agustus 54
kunjungan.
2. Pertolongan Persalinan Nakes
Jumlah persalinan normal berdasarkan penolong persalinan yaitu sebanyak
250 persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan 1 orang oleh dukun terlatih.
Dari 251 Ibu yang melahirkan di Tahun 2012 tidak ditemukan adanya kasus
kematian, tetapi ditemukanya 4 (empat) orang kasus kematian pada bayi.

3. Kunjungan Ibu Nifas dan Neonatus


Cakupan kunjungan ibu nifas dan neonatus paling banyak pada bulan Januari
dan Agustus yaitu masing-masing 26 kunjungan.
4. Upaya Akseptor KB
Data cakupan Pasangan Usia Subur (PUS) yang menggunakan jenis
Akseptor KB di wilayah kerja Puskesmas Samadua menunjukan bahwa akseptor
KB yang banyak digunakan oleh PUS di Kecamatan Samadua yaitu peserta KB
suntik 1.127 (84%) dan yang paling sedikit yaitu KB jenis MOW 14 orang (1,0%).
5. Upaya Imunisasi
Program Imunisasi dilaksanakan di Puskesmas dan di 32 Posyandu yang
tersebar di 28 Gampong dalam Kecamatan Samadua. Cakupan imunisasi dasar bayi
yang paling besar adalah imunisasi Polio 1 sebanyak 334 (74%).
c. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
1. Status Gizi
Jumlah balita di wilayah kerja Puskesmas Samadua berjumlah 1243 balita,
dimana 1126 balita dengan status gizi baik, 99 balita dengan status gizi kurang dan
8 orang gizi buruk.
2. Penimbangan
Dari 14.876 bayi dan balita yang ada pada Tahun 2012, hanya 74,7% yang
ditimbang, sementara dari yang ditimbang hanya 7408 yang naik (N/D 67%).
d. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
Diare
Berdasarkan data dari lapangan, diketahui penyakit diare terbanyak terjadi
pada kelompok umur 45-54 tahun yaitu sebanyak 93 orang (15 %).
Malaria
Penyakit malaria terbanyak terjadi pada bulan Maret yaitu sebanyak 18 orang
atau (27,3%).
Demam Berdarah
Tidak ditemui adanya kasus penderita penyakit Demam Berdarah (DBD)
dalam Wilayah kerja Puskesmas Samadua selama bulan Januari s.d Desember 2012.
TB Paru, Kusta, dan HIV/AIDS
Diketahui kunjungan pasien TB Paru Tahun 2012 yaitu 207 kunjungan dan
kusta 16 kunjungan. Sementara itu tidak ditemukannya kasus HIV/AIDS.
e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Tidak Menular
1. Penyakit Umum
Keadaan penyakit tidak menular pada pasien yang berkunjung ke Puskesmas
Samadua selama Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.x Distribusi Penderita Penyakit Tidak Menular Puskesmas Samadua
Kabupaten Aceh Selatan

Tahun 2012
No
1
2
3

Penyakit
Hipertensi
Diabetes Melitus (DM)
Kecelakaan Lalu lintas

F
519
717
39

(%)
40,71%
56,24%
3,05%

Total

1275

100%

Dari tabel diatas diketahui penyakit tidak menular paling banyak pada pasien
yang berkunjung ke Puskesmas Samadua yaitu penyakit Diabetes Mellitus,
sebanyak 717 kasus (56, 24%).
2. Penyakit Potensial Wabah/KLB
Beberapa penyakit menular berpotensi menimbulkan wabah/ KLB, dalam
wilayah kerja Puskesmas Samadua selama Tahun 2012 tidak ditemukan penyakit
yang potensial menimbulkan wabah/ KLB seperti Diare, Demam Berdarah Dengue.
Walau demikian tetap harus dilakukan pengamatan terus menerus melalui sistem
surveilans.
f. Upaya Pengobatan
Upaya pengobatan merupakan salah satu kegiatan pokok Puskesmas Samadua
yang dilaksanakan baik di dalam maupun diluar gedung. Sebagai Puskesmas Non
Rawatan, Puskesmas Samadua melayani pasien rawat jalan di Poliklinik Umum,
Poliklinik Gigi, KIA, Imunisasi, Gizi, Kesehatan Laboratorium, Pengobatan TB
Paru dan Kusta, Kesehatan Jiwa serta pelayanan rujukan tingkat lanjut.
Sepuluh Diagnosa Penyakit Terbanyak
Data kunjungan sepuluh diagnosa penyakit terbanyak Puskesmas Samadua
Tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Karakteristik kunjungan pasien menurut 10 penyakit terbanyak periode
Januari Desember tahun 2012
No
Diagnosa
F
(%)
1
Common Cold
4.048
33,65
2
Infeksi akut lain pernafasan atas
3.650
30,34
3
Hypertensi
1.120
9,31
4
Dispepsia
913
7,59
5
Diabetes Militus
750
6,23
6
Reumatik
504
4,19
7
Kulit Alergi
484
4,02
8
Peny. Sistim jar. Otot & jar. Pengikat
232
1,93
9
Hypotensi
180
1,51

10

Asma
Total

148
12.029

1,23
100

Dari tabel diatas diketahui sepuluh diagnosa penyakit terbanyak, dimana


penyakit Common Cold merupakan diagnosa penyakit paling banyak ditemui pada
pasien yang berkunjung ke Puskesmas yaitu 4.048 (33,65%) dan yang paling
sedikit penyakit Asma yaitu 148 (1,23%).

Kesehatan Laboratorium
Jenis pemeriksaan yang dilakukan di ruang laboratorium yaitu pemeriksaan

spesimen darah, pemeriksaan sputum, pemeriksaan sediaan hapusan darah malaria


dan pemeriksaan urin.
Peningkatan Gizi Masyarakat
Dalam upaya peningkatan gizi masyarakat, Puskesmas Samadua telah
melakukan pemberian kapsul Vitamin A kepada balita pada bulan Febuari dan
Agustus Tahun 2012.
g. Upaya Kesehatan Pengembangan
1. Upaya Kesehatan Sekolah
Upaya Kesehatan Sekolah (UKS) di wilayah kerja Puskesmas Samadua
memiliki beberapa kegiatan yang dilakukan dalam menciptakan pelayanan dan
menjaga kesehatan bagi anak sekolah yang merupakan harapan sebuah bangsa
khususnya Aceh Selatan, kegiatan yang dilakukan terdiri dari :
Penjaringan Anak Sekolah
Penjaringan anak sekolah dilakukan di seluruh SD/MI, SMP/MTsN dan
SMA/SMK yang ada di Kecamatan Samadua pada Bulan Oktober Tahun 2012.
BIAS ( Bulan Imunisasi Anak Sekolah)
Kegiatan Bias Tahun 2012 pada wilayah kerja Puskesmas Samadua dilakukan
pada Bulan November dengan 17 SD/MI. Dari semua anak yang ada, semuanya
mendapatkan imunisasi T1, D1 dan D2.
Sekolah Garam Beryodium
Data sekolah dengan penggunaan garam beryodium dapat dilihat pada 7
Sekolah Dasar di wilayah kerja Puskesmas SamaduaTahun 2012, dimana
pemeriksaan dilakukan pada bulan oktober 2013 . dari 282 sampel yang dilakukan
pemeriksaan maka terdapat 275 yang mengandung yodium dan 7 orang yang tidak
mengandung yodium.

Pendistribusian Obat Cacing


Diketahui dari 17 SD/MIN yang dilakukan pemberian obat cacing di wilayah

kerja Puskesmas Samadua, menunjukan semua siswa mendapatkan obat cacing


yaitu 1588 orang (100%).
2. Upaya Kesehatan Olah Raga
Dalam upaya kesehatan olah raga, Puskesmas Samadua berperan aktif
dalam setiap kegiatan yang dilakukan di wilayah Kecamatan Samadua seperti
mengirim tim medis dalam acara oleh raga untuk peringatan hari kemerdekaan RI
dan juga kegiatan lain yang bersifat kemasyarakatan.
3. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas Samadua belum bisa
dilakukan secara optimal, karena tidak adanya dokter gigi, walau telah memiliki
satu perawat gigi dengan status bakti. Hal ini juga belum berjalan secara optimal
karena tidak tersedianya alat yang dibutuhkan dalam memberikan pelayanan gigi
dan mulut sperti alat scalling.
4. Upaya Kesehatan Jiwa
Penderita kejiwaan / gangguan mental pada masyarakat wilayah kerja
Puskesmas Samadua yang paling banyak gangguan Skizifrenia dan Psikotik Kronik
lain sebanyak 89 penderita (87,2%).
5. Upaya Kesehatan Mata
Belum banyak kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan program
upaya kesehatan mata yang di Puskesmas Samadua kecuali dengan secara pasif
menerima dan menemukan kasus di Poliklinik serta mengobatinya.
6. Upaya Kesehatan Lansia
Program pembinaan kesehatan usia lanjut (usila) di Puskesmas Samadua
belum dilakukan secara optimal, Tahun 2012 pernah dilakukan pendataan usila dan
tidak dilakukan pembinaan berkelanjutan hanya dilakukan secara pasif menerima
dan menemukan kasus di Poliklinik serta mengobati.
7. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Upaya kesehatan tradisional merupakan salah satu bentuk peran
serta masyarakat yang potensial dalam menunjang pembangunan kesehatan dan
merupakan sumber daya yang hidup sejak dulu. Dalam upaya pengobatan

tradisional yang dilakukan oleh masyarakat sulit untuk diidenfikasi karena mereka
hanya menggunakaan obat tradisional jika anggota keluarganya sakit.
4.2 Hasil
4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di Puskemas Samadua
Umur
30-39 thn
40-49 thn
50-59 thn
>60 thn
Jumlah

Frekuensi
2
5
14
9
30

Presentase
6.7%
16.7%
46.6 %
30%
100%

Dari tabel diatas didapatkan 2 responden (6.7%) berumur 30-39 tahun, 5


responden (16.7 %) berumur 40-49 tahun, 14 responden (46.6 %) berumur 50-59
tahun, dan 9 responden (30 %) berumur > 60 tahun.
4.2.2 Karakteristik Responden berdasarkan Jenis kelamin
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi responden berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas
Samadua
Jenis kelamin
Laki- laki
Wanita
Jumlah

Frekuensi
14
16
30

Presentase
46.7%
53.3%
100%

Tabel di atas ini menunjukkan dari jumlah responden, terdiri dari 14


responden (46.7 %) merupakan responden laki-laki, 16 responden (53.3 %)
responden perempuan.
4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan di Puskesmas
Samadua
Pekerjaan
Swasta
Petani
Pegawai Negeri Sipil
Ibu Rumah Tangga

Frekuensi
11
4
9
6

Persentase
36.7%
13.3%
30%
20%

Jumlah

30

100%

Tabel di atas menunjukkan dari 30 responden, 11 responden

(36.7 %)

memiliki pekerjaan wiraswasta, 4 responden (13,3 %) memiliki pekerjaan petani, 9


responden (30%) adalah pegawai negeri sipil maupun pensiunannya, dan 6
responden (20%) merupakan ibu rumah tangga.

4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan tingkat Pendidikan


Tabel 4.7 Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan di
Puskesmas Samadua
Tingkat Pendidikan
SD
SMP
SMA
Sarjana (Diploma & S1)
Jumlah

Frekuensi
5
5
10
10
21

Presentase
16.7%
16.7 %
33.3 %
33.3%
100%

Tabel di atas menunjukkan dari 30 responden, 5 responden (16.7%)


berpendidikan SD, 5 responden (16.7 %) berpendidikan SMP, 10 responden
(33.3%) berpendidikan SMA dan 10 responden berpendidikan diploma dan sarjana
(33.3%).
4.2.5 Tingkat Pengetahuan Responden Pre Penyuluhan
Tabel 4.8 Distribusi karakteristik responden berdasarkan tingkat pengetahuan pre
penyuluhan di Puskesmas Samadua
Tingkat Pengetahuan Pre
Frekuensi
Presentase
Penyuluhan
Rendah
13
43.3 %
Sedang
9
30%
Baik
8
26.7%
Jumlah
30
100%
Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari 30 responden, 13 responden
(43.3%) menpunyai tingkat pengetahuan rendah sebelum penyuluhan, 9 responden
(30%) menpunyai tingkat pengetahuan sedang sebelum penyuluhan, 8 responden
(26.7 %) mempunyai tingkat pengetahuan baik sebelum penyuluhan.

4.2.6 Tingkat Pengetahuan Responden Post Penyuluhan


Tabel 4.9 Distribusi frekuensi karakteristik responden berdasarkan tingkat
pengetahuan post penyuluhan di Puskesmas Samadua
Tingkat Pengetahuan Post
Frekuensi
Presentase
Penyuluhan
Rendah
4
13.3%
Sedang
13
43.3%
Baik
13
43.3%
Jumlah
30
100%

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 30 responden sebanyak 4


responden (13.3%) mempunyai tingkat pengetahuan rendah setelah penyuluhan, 13
responden (43.3%) mempunyai tingkat pengetahuan sedang setelah penyuluhan,
dan sebanyak 13 responden (43.3%) mempunyai tingkat pengetahuan baik setelah
penyuluhan.
Dari hasil tabel 4.8 dan tabel 4.9 dapat dilihat bahwa dari 30 responden total,
responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebelum penyuluhan
sebanyak 8 responden dan setelah penyuluhan bertambah menjadi 13 responden.
Total responden mempunyai tingkat pengetahuan sedang sebelum penyuluhan
sebanyak 9 responden dan setelah penyuluhan bertambah menjadi 13 responden.
Dan total responden mempunyai tingkat pengetahuan rendah sebelum penyuluhan
sebanyak 13 responden dan setelah penyuluhan berkurang menjadi 4 responden.
Baik atau tidaknya tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti umur. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang
akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja serta pendidikan semakin tinggi
tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga makin
banyak pengetahuan yang dimiliki (Nursalam, 2003)
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan tingkat pengetahuan para responden
mengalami peningkatan dari sebelum dilakukan penyuluhan tingkat pengetahuan
responden dalam kategori rendah namun setelah dilakukan penyuluhan tingkat
pengetahuan responden menjadi dalam kategori tinggi dan sedang hal ini dapat
diliat pada tabel 4.9. Menurut penulis hal ini terjadi karena responden mempunyai
rasa peduli terhadap penyakit yang dideritanya sehingga mendegarkan dengan
serius saat diberikan penyuluhan tentang penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan pola
dietnya tersebut. Tingkat pengetahuan ini tidak hanya dinilai dari seberapa besar
responden dapat menjawab kembali pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, namun
juga dari tingkat kesadaran dan keteraturan para responden untuk melakukan
kontrol dan pengobatan diabetes mellitus di puskesmas dan juga adanya perbaikan
keadaan yang dinilai melalui perbaikan kadar glukosa yang diperiksa berkala di
puskesmas.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.1.1 Berdasarkan umur, usia terbanyak yang menderita DM tipe 2 adalah usia
dewasa yaitu 50-59 tahun yakni sebanyak 46.6% dan diikuti dengan usia > 60
tahun sebanyak 30%.
5.1.2 Berdasarkan jenis kelamin didapatkan perempuan lebih banyak terkena DM
tipe 2 daripada laki-laki dengan persentase sebesar 53.3%
5.1.3 Karakteristik bedasarkan pekerjaan, pekerjaan swasta baik wiraswasta
maupun kontrak di kantor swasta dan pemerintahan paling banyak menderita
DM tipe 2 yakni sekitar 36.7%, diikuti dengan pekerjaan PNS dengan
persentase 30% dan ibu rumah tangga dengan 20%.
5.1.4 Berdasarkan tingkat pendidikannya, baik tingkatan pendidikan SMA maupun
tingkat diploma dan sarjana merupakan yang terbanyak dengan persentase
masing-masing 33.3% dan diikuti dengan tingkat pendidikan SMP dan SD
dengan jumlah 16.7%.
5.1.5 Secara keseluruhan didapatkan tingkat pengetahuan responden setelah
diadakan penyuluhan mayoritas responden meningkat menjadi sebesar 43.3%

(13 responden) yang mempunyai tingkat pengetahuan dalam kategori baik,


yang sebelumnya hanya 26.7%.
5.2
Saran
5.2.1 Bagi Responden
Mini project ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan
pengetahuan penderita DM Tipe 2 terhadap penyakit dan pola diet diabetesi
sehingga pasien lebih peduli terhadap pengontrolan rutin kadar gula darah serta
kolesterol dengan diet seimbang, akitivitas fisik dan olahraga serta rutin
mengkonsumsi obat-obatan antidiabetes atau obat hipoglikemik oral (OHO) dan
dapat memberikan pengetahuan ini pada keluarga atau lingkungan sekitar.
5.2.2 Bagi Puskesmas
Diharapkan tetap melakukan penyuluhan secara rutin tentang DM tipe 2
bagi para penderita DM Tipe 2 untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat
tentang penyakit tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
1. American Diabetes Association : Position Statement 2012 : Standards of
Medical Care in Diabetes-2012. J Diabetes Care, Volume 35, Supplement
1 :s11-s63.
2. American Diabetes Association. Position statement 2010 : Standards of
Medical Care in Diabetes 2010. J Diab Care. 2010;33 (Suppl.1)
3. American Diabetes Association: Executive Summary 2013 : Standards of
Medical Care in Diabetes-2013. J Diabetes Care, Volume 36, Supplement
1:S1-S110.
4. Beigi FI. 2012. Glycemic Management of Type 2 Diabetes Mellitus. J N Engl
J Med 366;14: 1319-1327
5. Chen L, Maglianno DJ, Zimmet PZ. 2012. The Worldwide Epidemiology of
Type 2 Diabetes Mellitus-Present and Future Perspectives. J Nature Reviews
Endocrinology 8, 228-236.
6. Darmono, Joko. 2010. Pengaturan Pola Hidup Penderita Diabetes Untuk
Mencegah Komplikasi Kerusakan Organ-Organ Tubuh. Jakarta : Erlangga
7. Hiswani. Peranan Gizi dalam Diabetes Mellitus. 2010. Digital Library : FK
USU.
8. International Diabetes Federation (IDF). Diabetes Atlas 2012. International
Diabetes Federation (IDF). Belgium. 2012.
9. Inzucchi SE, Bergenstal, RM, Buse JB, Diamant M, Ferrannini E, Nauck M,
et al.,2012. Position Statement : Management of Hyperglycemia in Type 2
Diabetes: A Patient-Centered Approach: Position Statement of the American
Diabetes Association (ADA) and the European Association for the Study of
Diabetes (EASD). J Diabetes Spectrum Volume 25, Number 3: 154-171.
10. Kariadi, Sri hastuti. 2009. Diabetes : Panduan Lengkap Untuk Diabetesi.
Jakarta : Mizan Media Utama
11. Noto Atmojo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
12. Nursalam. 2003. Konsep Penerapan Metode Penelitian. Jakarta: Salemba
Medika.
13. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus Pengendalian dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia PERKENI 2011. Jakarta :
PB PERKENI 2011.

14. Perkeni 2011: Meningkatkan Efikasi Terapi Diabetes Melitus Tipe 2 at :


http://www.perkeni.org/?page=buletin.detail&id=128.Accesed on : June 21st,
2012
15. Pramono LA, Setiati S, Soewondo P, Subekti I, Adisasmita A, Kodim N,
Sutrisna B. Prevalence and Predictors of Undiagnosed Diabetes Mellitus inn
Indonesia. Acta Med Indones. 2010 Oct;42(4): 216-23.
16. Robertson C. 2011. Incretin-Related Therapies in Type 2 Diabetes: A
Practical Overview. J Diabetes Spectrum Vol 24 No.1:26-35
17. Schernthaner

G, Barnett AH, Betteridge DJ, Carmena R, Ceriello A,

Charbonnel B,et al., 2010. For Debate : Is The ADA/EASD Algorithm for The
Management of Type 2 Diabetes (January 2009) based on Evidence or
Opinion? A Critical Analysis. J Diabetologia 53:12581269.
18. Soegondo S. 2011. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus Terkini.
Dalam: Sudoyo AW. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI Jilid 3 . Jakarta
: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
19. Soegondo, Sidartawan. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu.
Edisi II cetakan ke-7. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI.
20. The National Institute of Health Research and Development, Ministry of
Health, Republic of Indonesia (KEMENKES RI) 2008. Report on result of
National Basic Health research (RISKESDAS) 2007.
21. Wild S, Roglic G, Green A, Sicree R, King H. Global prevalence of
diabetes : estimates for the year 2000 and projections for 2030. J Diabetes
Care 27:10471053, 2004
22. Ziegler D. Diabetic Peripheral Neuropathy And Neuropathy Pain
Management. J Diabetes Care 2009 : 31 (Suppl.2)

Lampiran 1
Lembar Pertanyaan
1. Usia?
2. Jenis Kelamin

3. Pekerjaan?
4. Tingkat Pendidikan?
5. Tingkat Pengetahuan
a. Penyakit Diabetes melitus adalah penyakit kencing manis? Ya/Tidak
b. Gejala Diabetes adalah meningkatnya kadar gula darah? Ya/Tidak
c. Apakah Diabetes dapat dicegah? Dapat/Tidak
d. Apakah gejala sering kencing, cepat lapar (banyak makan) dan haus, berat
badan menurun tanpa sebab yang jelas serta kesemutan itu adalah gejala
e.
f.
g.
h.

Diabetes? Ya/Tidak
Dapatkah diabetes disembuhkan? Ya/Tidak
Apakah diet randah gula dan lemak termasuk diet untuk diabetes? Ya/Tidak
Apakah olahraga termasuk dari bagian pengobatan diabetes? Ya/Tidak
Apakah sayur-sayuran & buah-buahan termasuk diet untuk diabetes?

Ya/Tidak
i. Apakah diabetes dapat menyebabkan darah tinggi dan stroke? Ya/Tidak
j. Apakah diabetes dapat menyebabkan gagal ginjal (cuci darah)? Ya/Tidak