Anda di halaman 1dari 68

TINDAKAN KHUSUS PADA

BENCANA DAN PENGELOLAAN


BENCANA PADA KELOMPOK
RENTAN

Ahmad Syukri
Dea Nanda Mariyadi
Imam Kurniawan Rizal
Mei Riayu
Tiara Rahmah Dini Hanjari

TRIAGE

TRIAGE EMERGENSI DAN TRIASE BENCANA

TUJUAN TRIASE

(Pusat Penanggulangan Krisis Bencana, 2011),

TRIASE LAPANGAN DILAKUKAN PADA TIGA TINGKAT

TRIASE DI TEMPAT;

Triase dilakukan di tempat korban ditemukan atau tempat


penampungan korban sementara di lapangan.
Dapat dilakukan oleh tenaga awam terlatih yang lebih
dahulu berada di lokasi, seperti polisi dan pemadam
kebakaran.
Para awam terlatih ini diharapkan minimal mampu
mengidentifikasi kelompok korban gawat darurat (merah
dan kuning) dan non gawat darurat (hijau).
Setiap korban diberi tanda sesuai tingkat
kegawatdaruratannya yang dapat berupa pita berwarna
(merah untuk gawat darurat, hijau untuk non gawat darurat
dan hitam untuk korban meninggal). (Pusat
Penanggulangan Krisis Bencana, 2011)

TRIASE MEDIK;

Dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih serta


berpengalaman di pos medis lapangan dan pos medis
depan dengan tujuan untuk menentukan tingkat
perawatan yang dibutuhkan oleh korban.
Prioritas perawatan sesuai dengan tingkat kedaruratannya
ditandai dengan kartu triase warna merah (untuk korban
yang membutuhkan stabilisasi segera), kuning (untuk
korban yang memerlukan pengawasan ketat tetapi
perawatan dapat ditunda sementara), hijau (untuk korban
yang tidak memerlukan pengobatan atau pemberian
pengobatan dapat ditunda) dan hitam (korban yang
meninggal dunia). (Pusat Penanggulangan Krisis Bencana,
2011)

TRIASE EVAKUASI

Ditujukan pada korban yang membutuhkan perawatan


lebih lanjut di rumah sakit dengan sarana yang lebih
lengkap atau pos medis belakang.
Rumah sakit tersebut sudah harus disiapkan untuk
menerima korban massal dan apabila daya tampungnya
tidak mencukupi karena jumlah korban yang sangat
banyak, perlu disiapkan rumah sakit rujukan alternatif.
Tenaga medis di pos medis lapangan, pos medis depan
dan pos medis belakang harus terus berkomunikasi
sesuai jenjang rujukan untuk berkonsultasi mengenai
kondisi korban yang akan dievakuasi, rumah sakit tujuan
dan jenis kendaraan yang akan digunakan saat
evakuasi. (Pusat Penanggulangan Krisis Bencana, 2011)

RAPID HEALTH ASSESMENT

TIM PENIAIAN CEPAT (RHA TEAM)

Tim yang bisa diberangkatkan dalam waktu


024 jam atau bersamaan dengan TRC dan
bertugas melakukan penilaian dampak
bencana dan mengidentifikasi kebutuhan
bidang kesehatan, minimal terdiri dari:

dokter umum
Epidemiolog
sanitarian (Pusat Penanggulangan Krisis
Bencana, 2011)

DEFINISI

Salah satu upaya awal tanggap darurat


yang dilakukan untuk mengetahui
besar masalah, potensi masalah
kesehatan yang mungkin terjadi saat
bencana serta kebutuhan sumber daya
yang harus segera dipenuhi agar
penanganan bencana dapat efektif dan
efisien. (Pusat Penanggulangan Krisis
Bencana, 2011),

Tim RHA melakukan serangkaian


aktivitas untuk memastikan kejadian
bencana, waktu dan lokasi kejadian,
mengetahui jumlah korban, potensi risiko
krisis kesehatan, dan kebutuhan sumber
daya yang harus segera dipenuhi.
Hasil akhir dari kegiatan RHA adalah
sebuah rekomendasi bagi pengambil
keputusan untuk menentukan langkah
langkah dalam penanganan suatu
bencana. (Pusat Penanggulangan Krisis
Bencana, 2011)

ASPEK YANG DINILAI ANTARA LAIN (PUSAT


PENANGGULANGAN KRISIS BENCANA, 2011) :

MENURUT (WHO, 1999) TUJUAN RAPID HEALTH


ASSESMENT ADALAH :
Mengkonfirmasi keadaan darurat

INFORMASI PADA AWAL KEJADIAN BENCANA;

Informasi ini harus disampaikan segera


setelah kejadian awal diketahui serta
dikonfirmasi kebenarannya dengan
menggunakan formulir penyampaian
informasi Form B1 atau B4. Sumber
informasi dapat berasal dari masyarakat,
sarana pelayanan kesehatan, dinas
kesehatan provinsi/kabupaten/kota dan
lintas sektor.

INFORMASI PENILAIAN KEBUTUHAN


CEPAT.

Informasi ini dikumpulkan segera setelah


informasi awal kejadian bencana diterima
oleh Tim Penilaian Kebutuhan Cepat
dengan menggunakan formulir isian form
B2 (terlampir). Sumber informasinya
dapat berasal dari masyarakat, sarana
pelayanan kesehatan, dinas kesehatan
provinsi/kabupaten/kota dan lintas sektor.

DAMPAK PSIKOLOGIS PADA KORBAN BENCANA, PTSD, TANDA DAN


GEJALANYA, DAN KONDISI YANG PERLU DILAKUKAN RUJUKAN

REAKSI PSIKOLOGIS YANG TIMBUL PADA


MASYARAKAT YANG
TERTIMPA BENCANA, ANTARA LAIN :

Reaksi segera (dalam 24 jam)


: tegang, cemas, panik,
kaget, linglung, syok, tidak
percaya, gelisah, bingung,
menangis, menarik diri, rasa
bersalah pada korban yang
selamat. Reaksi ini tampak
hampir pada setiap orang di
daerah bencana dan ini
dipertimbangkan
sebagai
reaksi alamiah pada situasi
abnormal,
tidak

LANJUTAN

Reaksi terjadi dalam hitungan hari sampai dua minggu setelah


bencana : ketakutan, waspada, siaga berlebihan, mudah
tersinggung, marah, tidak bisa tidur, khawatir, sangat sedih,
flashbacks berulang (ingatan terhadap peristiwa yang selalu datang
berulang dalam pikiran), menangis, rasa bersalah, reaksi positif
termasuk pikiran terhadap masa depan, menerima bencana sebagai
suatu takdir. Semua itu adalah reaksi alamiah dan hanya
membutuhkan intervensi psikososial.
Terjadi kira-kira 3 minggu setelah bencana : reaksi yang
sebelumnya ada dapat menetap dengan gejala seperti gelisah,
perasaan panik, kesedihan yang mendalam dan berlanjut, pikiran
pesimistik yang tidak realistik, tidak melakukan aktivitas keluar,
isolasi, perilaku menarik diri, kecemasan dengan manifestasi gejala
fisik seperti palpitasi (jantung berdebar-debar), pusing, mual, lelah,
sakit kepala

RESPONS DARI ORANG-ORANG YANG


TERKENA BENCANA DIBAGI ATAS TIGA
KATEGORI UTAMA, YAITU :

1. Respons psikologis normal


tidak membutuhkan intervensi
khusus.
2.
Respons
psikologis
disebabkan
distres
atau
disfungsi
sesaat,
membutuhkan
bantuan
pertama
psikososial
(Psychological first aid).
3. Distres atau disfungsi berat
yang membutuhkan bantuan
profesi
kesehatan
jiwa
(rujukan).

GEJALA PSIKOLOGIS HANYA DAPAT DINYATAKAN


BILA MEMENUHI KRITERIA DI BAWAH INI :

1. Gejala hebat dan menunjukkan


gangguan yang bermakna pada
fungsi sosial dan pekerjaan.
2. Gejala menetap selama beberapa
minggu
(4-6
minggu),
kecuali
psikosis di mana cukup satu minggu
bila
ada
gejala
sudah
dapat
ditegakkan diagnosis).

GANGGUAN DEPRESI YANG


DIALAMI OLEH MASYARAKAT
YANG TERTIMPA BENCANA :

Suasana hati (mood) yang depresif.


Perasaan sedih, menderita.
Mudah tersinggung atau gelisah.
Kehilangan minat dan rasa senang, berkurangnya
tenaga, mudah lelah, menurunnya aktivitas.
Menurunnya konsentrasi dan perhatian terhadap
tugas.
Berkurangnya rasa percaya diri dan rendahnya harga
diri, rasa bersalah dan rasa tidak berguna.
Pandangan suram dan pesimistik terhadap masa
depan, merusak diri atau usaha bunuh diri.
Gangguan tidur, berkurangnya libido dan nafsu
makan.

GANGGUAN CEMAS YANG MUNCUL :

Ansietas biasanya tampak dengan gejala


somatik, kognitif dan emosional.
Gangguan ansietas termasuk gangguan cemas
menyeluruh gangguan panik, fobia sosial dan
spesifik, gangguan stres pasca trauma (post
traumatic stress disorder/ PTSD).
Gejala dapat terjadi secara episodik atau
berlanjut, mereka dapat muncul secara tiba-tiba
tanpa sebab atau sebagai respons atau situasi
tertentu.

GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA


YANG SERING DIALAMI KORBAN
BENCANA (PTSD) :

Menurut APA (2000; Brunet, Akerib, dan Birmes, 2007;


Frey, 2009), PTSD adalah gangguan kecemasan yang
meliputi ingatan, respon emosional, proses intelektual
dan
sistem
saraf
terhadap
peristiwa
yang
menimbulkan trauma mendalam yang ditampilkan
dalam bentuk respon satu atau lebih gejala.
Pengalaman berulang terhadap peristiwa (misalnya,
dalam bentuk mimpi yang menakutkan), menghindar
dari hal yang dapat mengingatkan peristiwa secara
umum
kurang
responsif,
berkurangnya
minat,
meningkatnya
gangguan
tidur
dan
buruknya
konsentrasi.
Diagnosis hanya ditegakkan bila gejala tersebut
terdapat lebih dari satu bulan.

GANGGUAN PENYESUAIAN :

Adalah perasaan nyeri atau reaksi maladaptif untuk suatu


stres yang spesifik dan terjadi dalam waktu 3 bulan dari
waktu kejadian stres dan/ atau suatu kejadian stres berakhir.
Gejala biasanya hilang dalam waktu 6 bulan.
Tanda dan gejala gangguan penyesuaian antara lain depresi,
menangis, putus asa, kecemasan yang bermanifestasi
dengan palpitasi dan hiperventilasi, gangguan menantang
seperti merusak, mengendarai dengan ugal-ugalan,
berkelahi (hak orang dilanggar atau acuh tak accuh),
gangguan pada pekerjaan (gangguan pada bidang akademik
yang dimanifestasikan pada kesulitan dalam fungsi
pekerjaan atau sekolah), menarik diri, manifestasi dengan
perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, ini tidak khusus
pada semua orang.

GANGGUAN SOMATOFORM :

Pasien
mempunyai
berbagai
keluhan fisik tapi tidak ditemukan
adanya etiologi yang spesifik.
Gejala
biasanya
membantu
individu untuk melarikan diri dari
situasi yang menekan atau untuk
mencari perhatian.
Gangguan somatoform termasuk
gangguan konversi (paralisis dan
kejang
yang
tidak
dapat
dijelaskan),
hypokondriasis,
gangguan
somatisasi ditandai
dengan berbagai keluhan somatik.

GEJALA PSIKOTIK AKUT :

Halusinasi (sensasi atau bayangan yang


salah, misalnya mendengar suara-suara bila
tidak ada satupun orang di sekelilingnya).
wWaham (ide atau keyakinan salah yang
benar-benar dipertahankan pasien).
Gangguan proses pikir (pembicaraan aneh
dan assosiasi).
Perilaku abnormal seperti menarik diri dari
lingkungan sosial, kecurigaan, mengancam.

PSYCHOLOGICAL FIRST AID

PFA adalah gambaran respons yang suporif dan


manusiawi kepada orang yang menderita dan
butuh bantuan.

Prinsip PFA, yaitu :

1.

Mendengarkan

2.

Menyatakan keprihatinan

3.

Menilai kebutuhaN

4.

Tidak memaksa berbicara

5.

Menyediakan atau mengerahkan pendamping


dari keluarga atau orang yang dekat

6.

Melindungi dari cedera lebih lanjut

KATEGORI KELOMPOK RENTAN

PENGERTIAN KELOMPOK RENTAN


Kelompok rentan adalah
sekelompok orang yang
membutuhkan penanganan khusus
dalam pemenuhan kebutuhan
dasar seperti bayi, balita, ibu
hamil, ibu menyusui dan lanjut usia
baik dengan fisik normal maupun
cacat
(Kemenkes RI, 2012)

PENGERTIAN KELOMPOK RENTAN


Menurut Canadian Minister of Public Works
and Goverment Services (2003) kelompok
rentan mengacu pada umat manusia yang
masih sangat muda, sudah sangat tua,
perempuan, orang-orang cacat, dan
penduduk asli suatu wilayah. Suatu kelompok
menjadi rentan ketika tidak mampu
mengatasi perubahan sosial yang terjadi baik
berupa kesehatan personal maupun
perubahan eksterm di lingkungannya.
Yustiningrum, 2012

KATEGORI KELOMPOK RENTAN

Lanjut usia
Anak-anak
Ibu hamil dan menyusui
Individu dengan penyakit kronis
Individu dengan cacat mental

LANJUT USIA

Karena penurunan kekuatan fisik


Kegagalan untuk mencari sumber
pengobatan karena masalah kesehatan
yang sudah dialami seperti nyeri lutut
atau nyeri punggung

KATEGORI KERENTANAN IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Yustiningrum, 2012

KATEGORI KERENTANAN ANAK-ANAK

Anak-anak menjadi rentan karena


munculnya penyakit, kekurangan
gizi dan cedera fisik pasca
bencana.
Anak-anak masih menjadi
tanggung jawab orangtuanya.
Anak-anak berada dalam masa
pertumbuhan, tumbuh kembang
Yustiningrum, 2012
secara berkala.

KATEGORI KERENTANAN LANJUT USIA/LANSIA

Lansia sering menjadi rentan karena sering luput


dari perhatian lingkungan sosialnya.
Lansia sering terlambat mendaftarkan diri pada
program penanganan bencana alam.
Lansia sering mengalami masalah kekurangan gizi
pada pasca bencana dan lupa memakan obatnya.
Lansia tidak seperti kaum muda yang
menggunakan program penanganan bencana
alam untuk bertahan hidup dan lambat
memulihkan kondisi ekonominya.
Yustiningrum, 2012

KATEGORI KERENTANAN KELOMPOK PENYAKIT KRONIS

Kategori penyakit kronis ini


seperti diabetes, rematik
dan penyakit kronis
saluran pernapasan.
Kelompok ini harus
mendapat penanganan
khusus karena jika tidak
akan berakibat pada
kematian.

KATEGORI KELOMPOK CACAT


MENTAL

Ketidakmampuan kategori
kelompok cacat mental dalam
menghadapi bencana karena
mereka sulit mengikuti
peraturan dari komunitas
Beberapa orang mungkin sangat
sulit untuk berhubungan karena
keterbatasan dalam komunikasi

MASALAH KESEHATAN PADA KELOMPOK RENTAN PADA


SAAT BENCANA

a. Penyakit diare
Penyakit diare merupakan penyakit menular yang sangat
potensial terjadi di daerah pengungsian mauoun wilayah
yang terkena bencan, yang biasanya sangat dikaitkan erat
dengan kerusakan, keterbatasan penyediaan air bersih dan
sanitasi dan diperburuk oleh perilaku hidup bersih dan sehat
yang masih rendah.
Pencegahan penyakit diare dapat dilakukan sendiri oleh
para pengungsi, antara lain:
. Gunakan air bersih yang memenuhi syarat
. Menggunakan alat-alat untuk memasak dan peralatan
makan yang bersih
. Berilah susu ibu (asi) saja sampai bayi berusia 6 bulan
. Cucilah tangan dengan sabun dengan air yang mengalir
sebelum menjamah/ memasak sesudah buang air besar
dan sebelum memberi makan anak
. Semua anggota keluarga buang air besar di jamban
. Buang tinja bayi dan anak kecil di jamban
. Pencegahan diare dapat dilakukan dengan penyediaan air
bersih yang cukup dan sanitasi lingkungan yang

b. Penyakit ISPA
Penyakit Infeksi Saluran Nafas Akut (ISPA) merupakan salah satu
penyebab utama kematian bayi dan anak balita. Kematian
tersebut diakibatkan oleh penyakit pneumonia berat yang tidak
sempat terdeteksi secara dini dan mendapat
pertolongan tepat dari petugas kesehatan. Setiap kejadian
penderita pneumonia pada anak balita di lokasi bencana dan
pengungsian harus dapat ditanggulangi dengan tata laksana
kasus pneumonia yang benar.
Penatalaksanan penderita ISPA
Klasifikasi penyakit ISPA pada anak usia 2 bulan sampai <5 tahun
dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu; bukan pneumonia,
pneumonia, pneumonia berat.
Selain tiga klasifikasi tersebut, terdapat tanda bahaya pada anak
usia 2 bulan sampai <5 tahun yang perlu diperhatikan, antara
lain:
. Tidak bisa makan/ minum
. Anak kejang
. Terdengar stridor waktu tenang
. Anak dengan gizi buruk

c. Penyakit malaria
Di lokasi penampungan penyakit malaria sangat
mungkin terjadi. Hal ini terutama penampungan
pengungsi terletak pada daerah yang endemis malaria
atau pengungsi dari endemis dating ke lokasi
penampungan pengungsi pada daerah yang tidak ada
kasusnya tetapi terdapat vector 9 daerah reseptif
malaria)

Beberapa cara pencegahan penularan malaria antara


lain, mencegah gigitan nyamuk dengan cara:
. Tidur dalam kelambu (kelambu biasa atau yang
berinsektisida)
. Memasang kawat kasa

d. Penyakit campak
Pada dasarnya upaya pencegahan penyakit campak adalah
pemberian imunisasi pada usia yang tepat. Pada saat
bencana, kerawanan terhadap penyakit ini meningkat
karena:
. Memburuknya status kesehatan, terutama status gizi
anak-anak
. Konsentrasi penduduk pada suatu tempat/ ruang
(pengungsi)
. Mobilitas penduduk antar wilayah meningkat (kunjungan
keluarga)
. Cakupan imunisasi rendah yang akan meningkatkan
kerawanan yang berat
Oleh karena itu pada saat bencan tindakan pencegahan
terhadap penyakit campak ini dilakukan dengan
melaksanakan imunisasi, dengan kriteria:
. Jika cakupan imunisasi campak imunisasi campak di desa
yang mengalami bencana <80%, tidak dilaksanakan
imunisasi massal (sweeping)

PENGELOLAAN PADA KELOMPOK


RENTAN BENCANA

Dalam PP No. 21 Tahun 2008,


disebutkan bahwa
perlindungan terhadap
kelompok rentan dilakukan
pada saat tanggap darurat
dengan melakukan
penyelamatan dan evakuasi
masyarakat yang terkena

Perlindungan terhadap kelompok rentan


dilakukan dengan memberikan prioritas
kepada korban bencana yang mengalami luka
parah dan kelompok rentan yang berupa
penyelamatan, evakuasi, pengamanan,
pelayanan kesehatan, dan psikososial.
Upaya perlindungan terhadap kelompok rentan
tersebut dilaksanakan oleh lembaga terkait
yang dikoordinasikan oleh Kepala BNPB/BPBD
dengan pola pendampingan/fasilitasi.

(UU no. 24 Tahun 2007)

KELOMPOK RENTAN BENCANA

Bayi dan balita.


Ibu hamil dan menyusui.
Lansia.
Penyandang cacat.
Pengidap penyakit
kronik.

KELOMPOK IBU HAMIL


DAN MENYUSUI
Tindakan:
Manajemen ibu hamil di daerah
bencana.
Managemen neonatus.
Pemenuhan gizi ibu hamil.
Dukungan keluarga untuk ibu hamil
dan menyusui pada saat bencana.
Pencegahan penularan IMS dan HIV.

KELOMPOK BALITA
Tindakan:

Imunisasi.
Perawatan bayi/anak.
Pemberian ASI dan MP-ASI/makanan.
Menurunkan kecemasan dengan
terapi bermain atau bersekolah.
Mengatasi anak yang kehilangan
keluarga dan kerabat.
Memenuhi kebutuhan tumbuh
kembang.
Memenuhi kebutuhan anak dengan

KELOMPOK LANSIA

Identifikasi masalah kesehatan.


Kunjungan ke tempat pengungsian.
Merencanakan dan
mengimplementasikan pelayanan
kesehatan.
Monitoring berkelanjutan
mengenai kebutuhan pelayanan
kesehatan.

Metode penangangan stres dan


hilang harapan:
- evaluasi kondisi mental, status tidur,
dan gejala fisik.
- mendengarkan dan lebih perhatian.
- membuat rencana kunjungan oleh
spesialis kesehatan jiwa.
Metode penanganan PTSD:
- mengkaji gejala prodromal.
- mengadakan konsultasi dan
evaluassi kondisi fisik dan mental.

Metode penanganan
demensia:
- evaluasi dukungan
keluarga.
- meminta tetangga untuk
memahami kebutuhan lansia.
Metode penanganan
ansietas:
- evaluasi situasi ekonomi
lansia.
- jelaskan informasi

KELOMPOK PENYAKIT KRONIS

DM:
- mengkaji adanya gangguan fisik.
- mengkaji penyebab penyakit:
karena stres, pekerjaan, kurangnya
cairan, adanya infeksi.
- memberi tahu gejala spesifik dari
DM: gejala saat hipoglikemia, diabetic
koma, diabetic nefropati, diabetic
neuropati, infark otak.
- mengkaji perubahan mental yang
terjadi.

Penyakit pernapasan:
- mengkaji adanya gangguan
fisik.
- mengkaji penyebab penyakit:
karena stres, pekerjaan,
penyakit lainnya.
- mengkaji perubahan mental
yang terjadi.
- pencegahan: menjaga badan
tetap hangat, proteksi diri dari
cuaca dingin/debu/asap,
menggunakan faskes yang ada,

Rematik:
- mengkaji adanya gangguan fisik.
- mengkaji penyebab penyakit:
karena stres, pekerjaan, penyakit
lainnya, efek medikasi yang sedang
dijalani.
- mengkaji perubahan mental yang
terjadi.
- pencegahan: menjaga badan tetap
hangat, proteksi diri dari cuaca
dingin, tetap tenang dan tidur
sebanyak mungkin, menggunakan
faskes yang ada, perhatikan
keseimbangan nutrisi, jangan biarkan

KESEHATAN MENTAL

Pertolongan pertama psikologi.


Manajememen stress dan konseling
suportif.
Bekerja bersama keluarga.
Mencegah bunuh diri.
Penatalaksanaan keluhan somatik
yang tak dapat dijelaskan.
Masalah penggunaan zat.
Pemberian medikasi psikotropik yang
tepat.
Rujukan.

Di dalam buku Pedoman


Teknis Penanggulangan
Krisis Kesehatan Akibat
Bencana (2011) dijelaskan
bahwa pelayanan kesehatan
pengungsi terdiri dari:
pengendalian penyakit dan
penyehatan lingkungan, air
bersih dan sanitasi,
pelayanan kesehatan gizi,
pengelolaan obat bencana,
kesehatan reproduksi dalam

PERATURAN KEPALA BNPB NO.


7 TAHUN 2008 TENTANG TATA
CARA PEMBERIAN BANTUAN
PEMENUHAN KEBUTUHAN
DASAR
Bantuan pelayanan kesehatan
pada kelompok rentan yang
diberikan dalam bentuk:
Pelayanan kesehatan umum,
meliputi:
- Pelayanan kesehatan dasar.
- Pelayanan kesehatan klinis.

LANJUTAN

Pengendalian penyakit menular, meliputi:


- Pencegahan umum.
- Pencegahan penyakit menular (diare, ISPA,
campak, malaria).
- Diagnosis dan pengelolaan kasus.
- Kesiapsiagaan KLB.
- Deteksi KLB, penyelidikan dan tanggap.
- HIV/AIDS.

Pengendalian penyakit tidak menular,


meliputi:
- Cedera.
- Kesehatan reproduksi.
- Aspek kejiwaan dan sosial kesehatan.

SUMBER :

Pusat
Penanggulangan
Krisis
Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI. (2014). Buku Saku
Petugas
Lapangan
Penanggulangan
Krisis
Kesehatan. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Pusat
Penanggulangan
Krisis
Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI. (2007). Pedoman
Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat
Bencana. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Junaeman. (2010). Psikologi Pelayanan Penyintas
Bencana. Jakarta : Merpsy.