Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metode Gaya Berat sebagai salah satu metode geofisika yang banyak
digunakan untuk eksplorasi maupun pemetaan memiliki alat ukur yang disebut
dengan gravitymeter. Gravitymeter sendiri memiliki banyak macam menurut
spesifikasi dan ketelitiannya serta pembuatnya. Masing-masingnya memiliki
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti yang kita bayangkan tentu
sangat sulit untuk membangun suatu instrumen yang mampu mengukur anomali
gravitasi yang sangat kecil. Pengukuran gravitasi sendiri tidak menghasilkan suatu
nilai percepatan gravitasi yang absolut, tapi lebih kepada mengestimasi variasi dari
percepatan gravitasi. Namun tentu ini sama sekali tidak menjadi suatu keterbatasan
bagi sebuah instrumen gravitymeter, karena yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi
variasi struktur geologi hanya perubahan relatif dari percepatan gravitasi.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1 Maksud
Untuk eksplorasi mineral yang ada di bawah permukaan tanah, terutama
yang memiliki kandungan hidrokarbon yang tinggi.

1.2.2 Tujuan
Untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan berdasarkan perbedaan rapat
masa yang sangat kecil dari jebakan mineral di daerah sekeliling, bahkan di daerah
budaya banyak dikembangkan seperti di dalam gedung dan perkotaan.

BAB II
1

LANDASAN TEORI

2.1 Metode Gravity (Gaya Berat)


Metode gravity dilakukan untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan
berdasarkan perbedaan rapat masa cebakan mineral dari daerah sekeliling
(r=gram/cm3). Metode ini adalah metode geofisika yang sensitive terhadap
perubahan vertikal, oleh karena itu metode ini disukai untuk mempelajari kontak
intrusi, batuan dasar, struktur geologi, endapan sungai purba, lubang di dalam masa
batuan, shaff terpendam dan lain-lain. Eksplorasi biasanya dilakukan dalam bentuk
kisi atau lintasan penampang. Perpisahan anomali akibat rapat masa dari
kedalaman berbeda dilakukan dengan menggunakan filter matematis atau filter
geofisika. Di pasaran sekarang didapat alat gravimeter dengan ketelitian sangat
tinggi ( mgal ), dengan demikian anomali kecil dapat dianalisa. Hanya saja metode
penguluran data, harus dilakukan dengan sangat teliti untuk mendapatkan hasil yang
akurat.
Metode gravity merupakan metode geofisika yang didasarkan pada
pengukuran variasi medan gravitasi bumi. Pengukuran ini dapat dilakukan
dipermukaan bumi, dikapal maupun diudara. Dalam metode ini yang dipelajari
adalah variasi medan gravitasi akibat variasi rapat massa batuan dibawah
permukaan, sehingga dalam pelaksanaanya yang diselidiki adalah perbedaan
medan gravitasi dari satu titik observasi terhadap titik observasi lainnya. Karena
perbedaan medan gravitasi ini relatif kecil maka alat yang digunakan harus
mempunyai ketelitian yang tinggi.
Metode ini umumnya digunakan dalam eksplorasi minyak untuk menemukan
struktur yang merupakan jebakan minyak (oil trap), dan dikenal sebagai metode
awal saat akan melakukan eksplorasi daerah yang berpotensi hidrokarbon.
Disamping itu metode ini juga banyak dipakai dalam eksplorasi mineral dan lain-lain.
Meskipun dapat dioperasikan dalam berbagai macam hal tetapi pada prinsipnya
metode ini dipilih karena kemampuannya dalam membedakan rapat massa suatu
material terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan demikian struktur bawah

permukaan dapat diketahui. Pengetahuan tentang struktur bawah permukaan ini


penting untuk perencanaan langkah-langkah eksplorasi baik itu minyak maupun
mineral lainnya. Eksplorasi metode ini dilakukan dalam bentuk kisi atau lintasan
penampang.

2.1 Gambar
Gravitimeter La Coste Romberg

Metodologi:

Gambar 2.2 Metodologi

Hal penting yang perlu diperhatikan adalah melakukan kalibrasi alat dan
menentukan titik acuan (base station) sebelum melakukan pengambilan data
gayaberat di titik-titik ukur lainnya. Mencari besarnya harga medan gravitasi suatu
base station (titik ikat) pengukuran dapat dilakukan dengan persamaan :
gbs = gref + ( gpembacaan bs + gpembacaan ref )
gbs = harga medan gravitasi base station

gref = harga medan gravitasi titik referensi


gpembacaan bs = harga pembacaan gravitasi di base station
gpembacaan ref = harga pembacaan gravitasi di titik referensi
Contoh dalam studi kasus pengukuran yang digunakan dalam suatu survey
untuk menentukan daerah geothermal/panas bumi dapat dilakukan dengan
beberapa parameter dan terlihat seperti pada gambar berikut.

Gambar 2.3
Titik Ukur Pada Lintasan Akuisisi

Lintasan pengambilan data terdiri dari lintasan A, B, C, D, E, F dan G


sebanyak 189 titik pengambilan data. Pada lintasan regional terdapat 74 titik ukur,
sehingga jumlah titik pengambilan data terdapat 263 titik. Sehingga dalam titik ukur
tersebut terdapat dua jenis titik ukur, lintasan utama dan lintasan regional. Lintasan
utama ini merupakan pengukuran inti yang letak titik ukurnya berada pada
sepanjang lintasan yang telah ditentukan. Dan lintasan regiona adalah pengukuran
yang titik ukurnya tidak berada di lintasan utama yang telah ditentukan. Pada satu
lintasan pengukuran, interval pengambilan titik adalah 250-500 m. Pada lintasan
regional interval pengambilan titik adalah 500-1000 m sedangkan interval
pengambilan titik pada daerah manifestasi panas bumi berkisar antara 100-150 m.

Sehingga setelah semua proses akuisisi telah selesai, dapat dilanjutkan ke proses
prosesing data dengan berbagai pengolahan.
Dalam metode ini penelitian dapat digolongkan menjadi 3 tahap, tahap ini
umum digunakan juga pada metode geofisika yang lainnya. Antara lain adalah
Akuisisi Data, Prosesing Data, dan Interpretasi. Dalam hal ini kita akan coba bahas
beberapa point dalam proses akuisisi data. Akuisisi data ini adalah proses
pengambilan data di lapangan. Dalam proses ini dibagi menjadi beberapa tahap
yang harus dilakukan. Mulai dari mengatahui informasi dari daerah yang akan diukur
dan persiapan alatnya.
Setelah peralatan telah tersedia, langkah awal untuk pengukuran adalah
menggunakan peta geologi dan peta topografi, hal ini bertujuan untuk menentukan
lintasan pengukuran dan base station yang telah diketahui harga percepatan
gravitasinya. Akan tetapi ada beberapa parameter lain yang dibutuhkan juga dalam
penentuan base station, lintasan pengukuran dan titik ikat. Antara lain adalah :

Letak titik pengukuran harus jelas dan mudah dikenal.

Lokasi titik pengukuran harus dapat dibaca dalam peta.

Lokasi titik pengukuran harus mudah dijangkau serta bebas dari gangguan
kendaraan bermotor, mesin, dll.

Lokasi titik pengukuran harus terbuka sehingga GPS mampu menerima


sinyal dari satelit dengan baik tanpa ada penghalang.
Sehingga dapat disimpulkan lokasi titik acuan harus berupa titik/tempat yang
stabil dan mudah dijangkau. Penentuan titik acuan sangat penting, karena
pengambilan data lapangan harus dilakukan secara looping, yaitu dimulai pada
suatu titik yang telah ditentukan, dan berakhir pada titik tersebut. Titik acuan tersebut
perlu diikatkan terlebih dahulu pada titik ikat yang sudah terukur sebelumnya. Dalam
alur pengambilan data dilakukan dengan proses looping. Tujuan dari sistem looping
tersebut adalah agar dapat diperoleh nilai koreksi apungan alat (drift) yang
disebabkan

oleh

adanya

perubahan

pembacaan

akibat

gangguan

berupa

guncangan alat selama perjalanan. Dalam pengukuran gayaberat terdapat beberapa


data yang perlu dicatat meliputi waktu pembacaan (hari, jam, dan tanggal), nilai
pembacaan gravimeter, posisi koordinat stasiun pengukuran (lintang dan bujur) dan
ketinggian titik ukur. Pengambilan data dilakukan di titik-titik yang telah direncanakan
pada peta topografi dengan interval jarak pengukuran tertentu.

2.1.1

Signifikasi dan Penggunaan


Konsep - Panduan ini merangkum peralatan, prosedur lapangan, dan metode

interpretasi digunakan untuk penentuan kondisi bawah permukaan karena variasi


kerapatan menggunakan metode gravitasi. Pengukuran gravitasi dapat digunakan
untuk fitur geologi peta utama lebih dari ratusan kilometer persegi dan untuk
mendeteksi dangkal fitur yang lebih kecil di dalam tanah atau rock. Di beberapa
daerah, metode gravitasi dapat mendeteksi rongga bawah permukaan.
Manfaat lain dari metode gravitasi adalah bahwa pengukuran dapat
dilakukan di daerah budaya banyak dikembangkan, dimana metode geofisika
lainnya mungkin tidak bekerja. Sebagai contoh, pengukuran gravitasi bisa dibuat di
dalam bangunan, di daerah perkotaan dan di daerah kebisingan budaya, listrik, dan
elektromagnetik. Pengukuran kondisi bawah permukaan dengan metode gravitasi
membutuhkan sebuah gravimeter dan sarana untuk menentukan lokasi dan elevasi
relatif sangat akurat dari stasiun gravitasi.
Unit pengukuran yang digunakan dalam metode gravitasi adalah gal,
berdasarkan gaya gravitasi di permukaan bumi. Gravitasi rata-rata di permukaan
bumi adalah sekitar 980 gal. Unit umum digunakan dalam survei gravitasi daerah
adalah milligal (10 - gal 3). Teknik aplikasi lingkungan memerlukan pengukuran
dengan akurasi dari beberapa gals (10-6 gals), mereka sering disebut sebagai
survei mikro.
Sebuah survei gravitasi rinci biasanya menggunakan stasiun pengukuran
berjarak dekat (beberapa meter untuk beberapa ratus kaki) dan dilakukan dengan
gravimeter mampu membaca ke beberapa gals. Detil survei digunakan untuk
menilai geologi lokal atau kondisi struktural.
Sebuah survei gravitasi terdiri dari melakukan pengukuran gravitasi di stasiun
sepanjang garis profil atau grid. Pengukuran diambil secara berkala di base station
(lokasi referensi stabil noise-free) untuk mengoreksi drift instrumen.
Data gaya berat berisi anomali yang terdiri dari dalam efek lokal regional dan
dangkal. Ini adalah efek lokal dangkal yang menarik dalam pekerjaan mikro. Banyak
diterapkan pada data lapangan mentah. Koreksi ini termasuk lintang, elevasi udara
bebas, koreksi Bouguer (efek massa), pasang surut Bumi, dan medan. Setelah
pengurangan tren regional, sisa atau data gayaberat Bouguer anomali sisa dapat

disajikan sebagai garis profil atau di peta kontur. Peta anomali gaya berat sisa dapat
digunakan untuk kedua interpretasi kualitatif dan kuantitatif.
2.1.2

Parameter Terukur dan Perwakilan Nilai


Metode gravitasi tergantung pada variasi lateral dan kedalaman dalam

kepadatan material bawah permukaan. Kepadatan dari tanah atau batuan


merupakan fungsi dari densitas mineral pembentuk batuan, porositas medium, dan
densitas dari cairan mengisi ruang pori. Rock kepadatan bervariasi dari kurang dari
1,0 g / cm 3 untuk beberapa batu vulkanik vesikuler lebih dari 3,5 g / cm 3 untuk
beberapa batuan beku ultrabasa.
Sebuah kontras densitas yang memadai antara kondisi latar belakang dan
fitur yang sedang dipetakan harus ada untuk fitur yang akan terdeteksi. Beberapa
geologi yang signifikan atau batas hidrogeologi mungkin tidak memiliki kontras
densitas medan-terukur di antara mereka, dan karenanya tidak dapat dideteksi
dengan teknik ini. Sedangkan metode gravitasi langkah-langkah variasi densitas
bahan bumi, itu adalah penerjemah yang, berdasarkan pengetahuan tentang kondisi
lokal atau data lain, atau keduanya, harus menginterpretasikan data gravitasi dan
tiba di solusi geologi yang wajar.
2.1.3

Peralatan
Peralatan Geofisika yang digunakan untuk pengukuran gravitasi permukaan

termasuk gravimeter, sebuah cara mendapatkan posisi dan sarana yang sangat
akurat menentukan perubahan relatif dalam ketinggian. Gravimeters dirancang untuk
mengukur perbedaan yang sangat kecil dimedan gravitasi dan sebagai hasilnya
merupakan instrumen yang sangat halus. Gravimeter ini rentan terhadap shock
mekanis selama transportasi dan penanganan.
Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan data di darat adalah:
1. Gravimeter La Coste Romberg G-502
2. Piringan
3. GPS
4. Tali sebagai meteran jarak antar stasiun
5. Peta Geologi dan peta Topografi
6. Penunjuk Waktu

7. Alat tulis
8. Kamera
9. Pelindung Gravitimeter

Gambar 2.4
A-10 Gravimeter

Merupakan alat yang menggabungkan sensor ukuran dari berbagai perubahan


gravitasi di area yang jauh maupun dekat. Karena adanya kandungan mineral di
bawah tanah, maka daya tarikan gravitasi di suatu titik dengan titik yang lain tidaklah
sama. Alat ini di isi oleh suatu cairan yang bernama Liquid Helium Filled.
Spesifikasi Alat

12-14 V DC
Daya total 25A 300W
Daya rata-rata 16A 200W
Berat 105 kg

18C 38C (0F 100F), Suhu internal

Keakuratan: 10Gal (Mutlak)

Presisi: 10Gal dalam 10 menit (dalam kondisi tenang)

Aplikasi Alat

Digunakan dalam eksplorasi mineral serta migas.

Digunakan dalam kajian gravitasi bumi.

Digunakan dalam pemetaan geologi.

Gambar 2.5
Scientrex CG3/3M

Merupakan jenis Gravimeter Microprocessor Based Automatic yang memiliki


rebtang 7000 mGal tanpa harus reseting dan memiliki ketelitian hingga 0,001 mGal.
Dapat digunakan disegala permukaan tanah dan dapat mengukur perbedaan
densitas yang kecil di bawah permukaan dangkal yang dapat membantu dalam
karakterisasi ketebalan overburden, atau mencari rongga atau daerah padat di
bawah permukaan dangkal. Pengukuran seperti ini sangat sering dilakukan dalam
karakterisasi deposit mineral logam sebelum pengeboran.
Spesifikasi Alat

Resolusi 0,005 mGal.

Operasi minimum 700 mGal.

Residual pergerakan jangka panjang kurang dari 0,02 mGal/hari.

Berat 11 kg termasuk baterai.

240 mm x 310 mm x 320 mm.

10

48K RAM.
Aplikasi Alat

Mendeteksi pergerakan tumbukan secara vertikal.

Memonitor pergerakan aliran magma.

Studi peningkatan level muka air laut.

Gambar 2.6
FG-5 LaCoste Romberg

Alat ini menggunakan prinsip gerak jatuh bebas. Suatu objek dijatuhkan ke
dalam suatu vakum. Objek yang jatuh bebas tersebut dipantau dengan
menggunakan laser inferometer berkemampuan tinggi. Arah dari benda yang
dijatuhkan ini merujuk pada spring aktif atau biasa disebutSuperspring.
Spesifikasi Alat

Keakuratan mutlak

Pengukuran presisi

W ak t u t e r i n t e g r a s i k e 1 g a l

Operasi alat

Dapat diubah sesuai dengan lokasi misalnya gravitasi di lautan dan di darat.

Dilengkapi dengan alat penginderaan jarak jauh dan alat pencatat.

: +/- 2Gal
: +/- 1Gal
: 1 jam
: Dalam dan luar lapangan

10

11

Gambar 2.7
Worden Gravimeter

Memiliki kemampuan yang tinggi dan mudah dibawa kemana-mana.


Ketelitian alat 0.01 miliGal. dapat menampilkan hingga 1 : 100000000 dari gravitasi
normal bumi.

Spesifikasi Alat
Keakuratan data mutlak
Pengukuran Presisi
Integrasi waktu ke 10 uGal
Operasi
Akusisi

: +/- 10 G a l 2 .
: +/- 5 Gal.
: 5 menit.
: Dalam dan luar lapangan.
: minimal dalam 30 menit

Alat yang digunakan dalam pengambilan data di laut


1. Kapal laut yang memiliki navigasi dilengkapi dengan peralatan pendukung
lainnya
2. Altimeter adalah alat untuk mengukur ketinggian suatu titik dari permukaan
laut. Biasanya alat ini digunakan untuk keperluan navigasi dalam
penerbangan,

pendakian,

dan

kegiatan

ketinggian.
3. Gravimeter La Coste Romberg

11

yang

berhubungan

dengan

12

4. GPS
2.1.4

Langkah-langkah Melakukan Pengukuran Metode Gravity


Hal-hal yang dilakukan terlebih dahulu sebelum melakukan pengukuran

adalah sebagai berikut :


Kalibrasi terhadap data / titik pengukuran yang telah diketahui nilai gravitasi
absolutnya, misalnya IGSN71
1.

Melakukan pengikatan pada base camp terhadap titik IGSN71 terdekat

yang telah diketahui nilai ketinggian dan gravitasinya, dengan cara looping.
2.

Bila perlu di base camp diamati variasi harian akibat pasang surut dan akibat

faktor yang lainnya. Setelah melakukan hal di atas barulah pengamatan yang
sebenarnya dilakukan.
Pengukuran metoda gayaberat dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu:
penentuan titik ikat dan pengukuran titik-titik gayaberat. Sebelum survei dilakukan
perlu menentukan terlebih dahulu base station, biasanya dipilih pada lokasi yang
cukup stabil, mudah dikenal dan dijangkau. Base stationjumlahnya bisa lebih dari
satu tergantung dari keadaan lapangan. Masing-masing base stationsebaiknya
dijelaskan secara cermat dan terperinci meliputi posisi, nama tempat, skala dan
petunjuk arah. Base station yang baru akan diturunkan dari nilai gayaberat yang
mengacu dan terikat pada Titik Tinggi Geodesi (TTG) yang terletak di daerah
penelitian. TTG tersebut pada dasarnya telah terikat dengan jaringan Gayaberat
Internasional atau International Gravity Standardization Net,(IGSN 71). Base
station berada di Hotel Sari Bakung kecamatan Menggala Kabupaten Tulang
Bawang Provinsi Lampung. Base station diturunkan dari TTG.2327 yang berada di
pertigaan jalan terminal Panarakan-Menggala-Panarakan depan kuburan, 800 m
membesar dari km.121 TB;km.2 Menggala; km.20 Panarakan. Penurunan tersebut
dilakukan dengan metode kitaran/looping.
Pengukuran data lapangan meliputi pembacaan gravity meter juga
penentuan posisi, waktu dan pembacaan barometer serta suhu. Pengukuran
gayaberat pada penelitian ini menggunakan alat gravity meter LaCoste & Romberg
type G.525 berketelitian 0,03 mGal/hari atau 0,1 mGal/bulan. Penentuan posisi

12

13

dan waktu menggunakan Global Positioning System (GPS) Garmin, sedangkan


pengukuran

ketinggian

termometer.

Pengukuran

menggunakan
pada

Barometer

titik-titik

survei

Aneroid
dilakukan

Precission
dengan

dan

metode

kitaran/looping dengan pola A-B-C-D-A, dengan A adalah salah satu cell center
(CC) yang merupakan base station setempat. Jarak antar titik pengukuran pada
keadaan normal 5 km, tergantung dari medan yang akan diukur dengan
pertimbangan berdasarkan pada kecenderungan (trend) geologi di daerah survei.
Metode

kitaran/looping

diharapkan

untuk

menghilangkan

kesalahan

yang

disebabkan oleh pergeseran pembacaan gravity meter. Metode ini muncul


dikarenakan alat yang digunakan selama melakukan pengukuran akan mengalami
guncangan, sehingga menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada alat
tersebut

2.2

Pengolahan Data Gravity


Pemrosesan data gayaberat yang sering disebut juga dengan reduksi data

gayaberat, secara umum dapat dipisahkan menjadi dua macam, yaitu: proses dasar
dan proses lanjutan. Proses dasar mencakup seluruh proses berawal dari nilai
pembacaan alat di lapangan sampai diperoleh nilai anomali Bouguer di setiap titik
amat. Proses tersebut meliputi tahap-tahap sebagai berikut: konversi pembacaan
gravity meter ke nilai milligal, koreksi apungan (drift correction), koreksi pasang surut
(tidal correction), koreksi lintang (latitude correction), koreksi udara bebas (free-air
correction),koreksi Bouguer (sampai pada tahap ini diperoleh nilai anomali Bouguer
Sederhana (ABS) pada topografi.), dan koreksi medan (terrain correction).
Pemrosesan data tersebut menggunakan komputer dengan software MS. Excel.
Proses lanjutan merupakan proses untuk mempertajam kenampakan/gejala geologi
pada daerah penyelidikan yaitu pemodelan dengan menggunakansoftware Surfer 8
dan GRAV2DC. Beberapa koreksi dan konversi yang dilakukan dalam pemrosesan
data metoda gayaberat, dapat dinyatakan sebagai berikut :
2.2.1

Konversi Pembacaan Gravity Meter


Pemrosesan data gayaberat dilakukan terhadap nilai pembacaan gravity

meter untuk mendapatkan nilai anomali Bouguer. Untuk memperoleh nilai anomali

13

14

Bouguer dari setiap titik amat, maka dilakukan konversi pembacaan gravity meter
menjadi nilai gayaberat dalam satuan milligal. Untuk melakukan konversi
memerlukan tabel konversi dari gravity meter tersebut. Setiap gravity meter
dilengkapi dengan tabel konversi.
Cara melakukan konversi adalah sebagai berikut:
1. Misal hasil pembacaan gravity meter 1714,360. Nilai ini diambil nilai bulat
sampai ratusan yaitu 1700. Dalam tabel konversi (Tabel 3.1) nilai 1700 sama
dengan 1730,844 mGal.
2. Sisa dari hasil pembacaan yang belum dihitung yaitu 14,360 dikalikan
dengan faktor interval yang sesuai dengan nilai bulatnya, yaitu 1,01772
sehingga hasilnya menjadi 14,360 x 1,01772 = 14.61445 mGal.
3. Kedua perhitungan diatas dijumlahkan, hasilnya adalah (1730,844 +
14.61445) x CCF = 1746.222 mGal. Dimana CCF (Calibration Correction
Factor) merupakan nilai kalibrasi alat Gravity meter LaCoste & Romberg type
G.525 sebesar 1.000437261.
Tabel 2.1 contoh tabel konversi gravity meter type G.525

2.2.2

Pembacaan

Nilai Dalam

Interval

Counter

mGal

Faktor

1600

1629.070

1.01774

1700

1730.844

1.01772

1800

1832.616

1.01770

Posisi dan Ketinggian


Penentuan posisi menggunakan GPS, sedangkan pengukuran ketinggian

menggunakan barometer aneroid dan termometer. Pengukuran ketinggian dilakukan


secara diferensial yaitu dengan menggunakan dua buah barometer dan termometer.

14

15

Pengukuran tersebut dilakukan dengan menempatkan satu alat di base station


sedangkan alat yang lain dibawa untuk melakukan pengukuran pada setiap titik
amat.
Adapun pemrosesan data posisi dan ketinggian sebagai berikut.
1. Pemrosesan Data GPS
Setiap kali pembacaan posisi titik amat langsung dapat diketahui dari bacaan
tersebut, yaitu berupa bujur (longitude) dan lintang (latitude). Posisi yang ditunjukan
GPS dalam satuan derajat, menit dan detik. Maka perlu melakukan konversi posisi
dari satuan waktu ke dalam satuan derajat. Posisi ini selanjutnya digunakan untuk
menghitung koreksi lintang atau perhitungan normal.
2. Pemrosesan Data Barometer
Barometer merupakan alat ukur tekanan udara yang secara tidak langsung
digunakan untuk mengukur beda tinggi suatu tempat di permukaan bumi. Prinsip
pengukuran ketinggian barometer didasarkan pada suatu hubungan antara tekanan
udara disuatu tempat dengan ketinggian tempat lainnya, yaitu dengan adanya
tekanan udara suatu tempat dipermukaan bumi sebanding dengan berat kolom
udara vertikal yang berada diatasnya (hingga batas atas atmosfer). Ketelitiaan
pengukuran tinggi barometer sangat tergantung pada kondisi cuaca, sebab keadaan
tersebut akan mempengaruhi tekanan udara di suatu tempat. Perbedaan temperatur
udara dan kecepatan angin disuatu tempat akan menyebabkan tekanan udara naik
turun (berfluktuasi), sehingga akan menimbulkan kesalahan dalam beda tinggi
antara dua tempat yang berbeda. Maka perlu dilakukan pengukuran temperatur
udara untuk menentukan koreksi temperatur yang harus diperhitungkan dalam
penentuan beda tinggi, sehingga akan memperkecil kesalahan (Subagio, 2002).
Pengukuran ketinggiaan dengan menggunakan barometer selain tergantung pada
tekanan udara, dipengaruhi juga oleh beberapa parameter seperti temperatur udara,
kelembaban udara, posisi lintang titik amat, serta ketinggian titik ukur.
Dalam pemrosesan data metoda gayaberat terdapat beberapa tahapan
dengan koreksi-koreksi diantaranya adalah :
1. Koreksi Apungan (Drift Correction)

15

16

Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh perubahan kondisi alat


(gravity meter) terhadap nilai pembacaan. Koreksi apungan muncul karena gravity
meter selama digunakan untuk melakukan pengukuran akan mengalami goncangan,
sehingga akan menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada alat tersebut.
Koreksi ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dengan metode looping,
yaitu dengan pembacaan ulang pada titik ikat (base station) dalam satu kalilooping,
sehingga nilai penyimpangannya diketahui. Besarnya koreksi Drift dirumuskan
sebagai berikut
Drift dengan g adalah medan gravitasi hasil pengukuran (mGal).
2. Koreksi Pasang Surut (Tidal Correction)
Koreksi ini adalah untuk menghilangkan gaya tarik yang dialami bumi akibat
bulan dan matahari, sehingga di permukaan bumi akan mengalami gaya tarik naik
turun. Hal ini akan menyebabkan perubahan nilai medan gravitasi di permukaan
bumi secara periodik. Koreksi pasang surut juga tergantung dari kedudukan bulan
dan matahari terhadap bumi. Koreksi tersebut dihitung berdasarkan perumusan
Longman (1965) yang telah dibuat dalam sebuah paket program komputer. Koreksi
ini selalu ditambahkan terhadap nilai pengukuran, dari koreksi akan diperoleh nilai
medan gravitasi di permukaan topografi yang terkoreksi drift dan pasang surut,
3. Koreksi Lintang (Latitude Correction)
Koreksi lintang digunakan untuk mengkoreksi gayaberat di setiap lintang
geografis karena gayaberat tersebut berbeda, yang disebabkan oleh adanya gaya
sentrifugal dan bentuk ellipsoide. Dari koreksi ini akan diperoleh anomali medan
gayaberat. Medan anomali tersebut merupakan selisih antara medan gayaberat
observasi dengan medan gayaberat teoritis (gayaberat normal).
Menurut (Sunardy, A.C., 2005) gayaberat normal adalah harga gayaberat
teoritis yang mengacu pada permukaan laut rata-rata sebagai titik awal ketinggian
dan merupakan fungsi dari lintang geografi. Medan gayaberat teoritis diperoleh
berdasarkan rumusan-rumusan secara teoritis, maka untuk koreksi ini menggunakan
rumusan medan gayaberat teoris pada speroid referensi (z = 0) yang ditetapkan oleh
The International of Geodesy (IAG) yang diberi nama Geodetic Reference System
1967 (GRS 67) sebagai fungsi lintang (Burger, 1992),

16

17

4. Koreksi Ketinggian
Koreksi

ini

digunakan

untuk

menghilang

perbedaan

gravitasi

yang

dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian dari setiap titik amat. Koreksi ketinggian
terdiri dari dua macam yaitu
a) Koreksi Udara Bebas (free-air correction)
Koreksi udara bebas merupakan koreksi akibat perbedaan ketinggian
sebesar h dengan mengabaikan adanya massa yang terletak diantara titik amat
dengan sferoid referensi. Koreksi ini dilakukan untuk mendapatkan anomali medan
gayaberat di topografi. Untuk mendapat anomali medan gayaberat di topografi maka
medan gayaberat teoritis dan medan gayaberat observasi harus sama-sama berada
di topografi, sehingga koreksi ini perlu dilakukan. Koreksi udara bebas dinyatakan
secara metematis dengan rumus :
FAC =0.3085h mGal
dimana h adalah beda ketinggian antara titik amat gayaberat dari sferoid referensi
(dalam meter).
Setelah dilakukan koreksi tersebut maka akan didapatkan anomali udara
bebas di topografi yang dapat dinyatakan dengan rumus :
FAA =gobs-g(f) +FAC mGal
dimana :
FAA: anomali medan gayaberat udara bebas di topografi (mGal)
Gobs: medan gayaberat observasi di topografi (mGal)
G(f): medan gayaberat teoritis pada posisi titik amat (mGal)
FAC : koreksi udara bebas (mGal)
b). Koreksi Bouguer
Bouguer Correction adalah harga gaya berat akibat massa di antara referensi
antara bidang referensi muka air laut samapi titik pengukuran sehingga nilai
gobservasi bertambah. Setelah dilakukan koreksi-koreksi terhadap data percepatan
gravitasi hasil pengukuran (koreksi latitude, elevasi, dan topografi) maka diperoleh
anomali percepatan gravitasi (anomali gravitasi Bouguer lengkap) yaitu :
gBL = gobs g() + gFAgB + gT
dimana :

17

18

gobs = medan gravitasi observasi yang sudah dikoreksi pasang surut


g() = Koreksi latitude
gFA = Koreksi udara bebas (Free Air Effect)
gB = Koreksi Bouguer
gT = Koreksi topografi (medan)
Dengan memasukan harga-harga numerik yang sudah diketahui,
gBL = gobs g() + 0.094h (0.01277h T)
5. Koreksi Medan (Terrain Corection)
Koreksi medan digunakan untuk menghilangkan pengaruh efek massa
disekitar titik observasi. Adanya bukit dan lembah disekitar titik amat akan
mengurangi besarnya medan gayaberat yang sebenarnya. Karena efek tersebut
sifatnya mengurangi medan gayaberat yang sebenarnya di titik amat maka koreksi
medan harus ditambahkan terhadap nilai medan gayaberat.
Anomali Bouguer
Nilai anomali Bouguer lengkap dapat diperoleh dari nilai anomali Bouguer
sederhana yang telah terkoreksi medan, Merupakan anomali yang dicari dengan
cara mereduksi hasil pengukuran lapangan dengan koreksi-koreksi seperti yang
telah diuraikan di atas.
Dg = {Dgobs DgF + (3,086 0,4191r) h + Tr} gu

18

19

Gambar 2.8
Pengambilan Data Gravity

Gambar 2.1
Pengukuran Menggunakan Alat Gravitimeter Scintrex Autograv CG-5

19

20

BAB III
KESIMPULAN

3.1

Kesimpulan

Metode gravity dilakukan untuk menyelidiki keadaan bawah permukaan


berdasarkan perbedaan rapat masa cebakan mineral dari daerah sekeliling

(r=gram/cm3).
Metode ini umumnya digunakan dalam eksplorasi minyak untuk menemukan
struktur yang merupakan jebakan minyak (oil trap), dan dikenal sebagai
metode awal saat akan melakukan eksplorasi daerah yang berpotensi
hidrokarbon. Disamping itu metode ini juga banyak dipakai dalam eksplorasi

mineral dan lain-lain.


Metode ini memiliki kemampuan dalam membedakan rapat massa suatu
material terhadap lingkungan sekitarnya sehingga struktur bawah permukaan

dapat diketahui.
Alat yang digunakan:
1. Seperangkat Gravitimeter
2. GPS
3. Peta Geologi dan peta Topografi
4. Penunjuk Waktu
5. Alat tulis
6. Kamera
7. Pelindung Gravitimeter
8. Dan beberapa alat pendukung lainnya
Lokasi titik acuan harus berupa titik/tempat yang stabil dan mudah dijangkau.

Daftar Pustaka:

Tedjo Kusumo , Ridwan, Metode Eksplorasi Geofisika Gravitasi. 24 Maret 2015


http://www.slideshare.net/RidwanTedjokusumo/metode-eksplorasi-dengangravitasi.html.

20

21

Agustinus, Soren. Teknik Survey Magnetik 24 Maret 2015.

http://geofisika-ceria.blogspot.com/2010/12/teknik-survei-magnetik.html

IS Simalango, Alvonsus. Metode Gravity 24 Maret 2015


http://alfonsussimalango.blogspot.com/2010/10/metode-gravity.html

21