Anda di halaman 1dari 15

BAB 3

RENCANA AKSI MITIGASI


PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA
3.1 Kebijakan Umum
Kebijakan umum dalam mitigasi emisi gas rumah kaca mempertimbangkan integrasi
dalam seluruh aspek pembangunan daerah baik menyangkut sektor pembangunan,
wilayah dan pelaku pembangunan. Dukungan pemahaman ilmu pengetahuan dan
teknologi juga penting untuk mengefektifkan berbagai keputusan yang akan diambil.
Rencana aksi mitigasi emisi gas rumah kaca didasarkan pada empat kebijakan umum agar
dapat tercapai tujuan meningkatkan kapasitas penyerapan gas rumah kaca dan
mengendalikan emisi gas rumah kaca dari berbagai sumber.
Arah kebijakan umum dalam mitigasi emisi gas rumah kaca adalah sebagai berikut :
1. Mengarusutamakan pemahaman fenomena perubahan iklim terutama emisi gas
rumah kaca kepada seluruh pemangku kepentingan pembangunan daerah;
2. Memperkuat komitmen pemerintah provinsi dan kabupaten kota dalam mereduksi
emisi gas rumah kaca di Jawa Barat;
3. Mendayagunakan segenap potensi alami serta artifisial yang mencakup sosial,
ekonomi, budaya, politik dan institusional dalam mendukung pengurangan emisi gas
rumah kaca;
4. Menjamin sinkronisasi mitigasi gas rumah kaca dengan pengembangan ekonomi
masyarakat berdasarkan karakteristik sosial dan budaya daerah.
Kebijakan pertama yaitu pengarusutamaan pemahaman fenomena perubahan iklim
merupakan hal yang sangat mendasar guna menjamin keberhasilan berbagai bentuk
kegiatan mitigasi emisi gas rumah kaca. Perlu diakui bahwa sampai saat ini pemahaman
masyarakat akan fenomena perubahan iklim dan kesadaran akan dampaknya masih jauh
dari memadai. Di lain pihak, strategi mitigasi emisi gas rumah kaca harus merupakan
suatu rangkaian gerakan yang masif dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat
di seluruh pelosok Jawa Barat.
Peningkatan komitmen pemerintah daerah baik pada tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota berkaitan erat dengan berbagai bentuk kebijakan dan implementasi
pembangunan di Jawa Barat. Dengan komitmen yang kuat maka isu pemanasan global
terutama emisi gas rumah kaca akan menjadi bagian integral dalam setiap kebijakan
pemerintah termasuk kebijakan perencanaan pembangunan baik jangka panjang, jangka
III - 1

menengah maupun jangka pendek. Selain itu komitmen pemerintah daerah juga
berkaitan erat dengan kebijakan alokasi pembiayaan bagi upaya mitigasi yang
direncanakan.
Adapun kebijakan ketiga, yaitu pendayagunaan segenap potensi yang dimiliki oleh Jawa
Barat berkaitan erat dengan upaya mobilisasi yang dibutuhkan untuk
mengimplementasikan rencana aksi yang disusun. Mitigasi emisi gas rumah kaca
membutuhkan upaya yang sinergis dan melibatkan seluruh lapisan pelaku pembangunan
daerah dalam seluruh berbagai sektor pembangunan daerah di seluruh wilayah Jawa
Barat.
Sementara itu kebijakan keempat menyiratkan bahwa seluruh rangkaian aksi mitigasi
emisi gas rumah kaca harus diintegrasikan dengan upaya peningkatan ekonomi
masyarakat. Tanpa skema integral dengan upaya peningkatan ekonomi maka mitigasi
emisi gas rumah kaca mitigas akan menghadapi kendala yang besar. Pendekatan lain
yang perlu dibangun dalam penyusunan formulasi mitigasi emisi gas rumah kaca ini
adalah dengan mencermati karakteristik sosial dan budaya lokal di segenap wilayah Jawa
Barat.
Berdasarkan arahan RAN GRK, strategi dan kegiatan dalam konteks mitigasi emisi gas
rumah kaca di Jawa Barat disusun dengan kriteria sebagai berikut:
Secara langsung menurunkan emisi GRK melalui penghitungan yang dapat diukur,
dilaporkan dan diverifikasi, dan/atau merupakan prasyarat bagi pelaksanaan kegiatan
yang menurunkan emisi GRK;
Menghasilkan penurunan emisi GRK dengan biaya satuan termurah dan/atau
merupakan kegiatan yang terintegrasi untuk mencapai sasaran prioritas
pembangunan secara berkelanjutan (cobenefit);
Secara tidak langsung menurunkan emisi GRK, baik berupa kebijakan, peningkatan
kapasitas manusia dan kelembagaan, sosialisasi, penelitian tentang potensi
penurunan GRK dan kegiatan lain yang mempunyai andil dalam penurunan GRK;
Diprioritaskan pada kegiatan-kegiatan yang menunjang upaya pembangunan
berkelanjutan yang rendah karbon.
3.2.

Kehutanan

Dalam bidang aspek pemanfaatan lahan, sektor kehutanan memprioritaskan pada


kegiatan pengurangan emisi dari pencegahan deforestasi dan degradasi hutan,
konservasi serta kegiatan lain yang mendukung potensi penurunan dan penyerapan emisi
GRK,
Kegiatan inti dan estimasi penurunan gas rumah kaca dari sektor guna lahan dan
kehutanan dapat dilihat pada Tabel 3.1.
III - 2

Tabel 3.1.
Kegiatan Inti RAD-GRK Provinsi Jawa Barat Bidang Guna Lahan dan Kehutanan
Kegatan Inti

No.
1

Rehabilitasi hutan dan lahan :


Peningkatan Pengelolaan Tahura Ir. H. Djuanda
Konservasi Daerah Tangkapan Air Waduk Jati Gede dan
DAS Prioritas
Pelestarian/Konservasi Sumber Daya Alam Hutan dan
Ekosistemnya
- Pembinaan dan Pengendalian Pengusahaan Hutan

Jumlah
Penurunan Emisi dari
Baseline thn 2020
(ribu ton CO2eq)

341,49

Estimasi-Proyeksi Emisi GRK Jawa Barat Sektor Kehutanan disajikan pada Gambar 3.1.
dan Lampiran 1 Tabel L.1.1

Emisi CO2 dari GUna lahan dan hutan (ton)

-15.500.000,00
-16.000.000,00

2010

2015

2020

-16.500.000,00
-17.000.000,00
-17.500.000,00
-18.000.000,00

"Total Emisi
CO2 tanpa
aksi"

-18.500.000,00
-19.000.000,00
-19.500.000,00
-20.000.000,00
-20.500.000,00

Tahun

Gambar 3.1. Estimasi-Proyeksi Emisi GRK Jawa Barat dari Guna Lahan dan Hutan
Adapun Kegiatan Pendukung untuk sektor kehutanan dalam menurunkan emisi gas
rumah kaca adalah sebagai berikut :

Pemantapan Kawasan hutan dan Kawasan dan Kawasan Lindung


Pembinaan dan Pengendalian Pengusahaan Hutan
Pemantauan Pemanfaatan Kawasan Lindung
Pengembangan Kelembagaan Pemanfaatan SDH
III - 3

Fasilitasi Gerakan Multi Aktivitas Agribisnis (GEMAR) Dan Gerakan Pengembangan


Perikanan Pantai Selatan dan Utara (GAPURA)
Pembinaan dan Pengendalian Pemanfaatan Hasil Hutan dan Aneka Usaha Kehutanan
Pengembangan Obyek Wisata Alam Hutan Jawa Barat
Program Menuju Indonesia Hijau

Dari kegiatan yang tercantum pada Tabel 3.1. diprediksi penurunan penyerapan CO2 eq
oleh sektor guna lahan dan kehutanan adalah sebesar 2% pada tahun 2020 (Gambar 3.1.),
3.3.

Pertanian

Upaya penurunan emisi gas rumah kaca pada Sektor Pertanian menitik beratkan pada
Kegiatan Inti yang bertujuan untuk menurunkan penggunaan pupuk kimia dan
mempercepat masa panen. Kegiatan Inti dan estimasi penurunan gas rumah kaca dari
sektor pertanian dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Kegiatan Pendukung dari sektor pertanian adalah sebagai berikut :

Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) Padi

Pengendalian OPT Pangan di Jawa Barat

Kajian Pencemaran akibat limbah kotoran ternak

Tabel 3.2.
Kegiatan Inti RAD-GRK Provinsi Jawa Barat Bidang Pertanian
No.

1
2
3
4

Kegatan Inti

Pengembangan Pertanian Padi Organik Metode SRI


Peningkatan Produksi dan Produktivitas Padi (dengan
menggunakan sarana produksi organik) di Jawa Barat di 19
kabupaten dan 2 kota
Pengembangan BATAMAS (Biogas Bersama Masyarakat)
Penyebaran dan penerapan teknologi pakan (pengawetan
dan limbah pertanian)
JUMLAH

Jumlah
Penurunan Emisi dari
Baseline thn 2020
(ribu ton CO2eq)

12.540,40
6,68
336,96
6,00

12.890,04

Untuk sektor pertanian, dengan dilaksanakan RAD-GRK Emisi GRK Jawa Barat, diestimasi
emisi GRK menurun sebesar 9,89 % pada tahun 2020 (Gambar 3.2.).

III - 4

Estimasi-Proyeksi Emisi GRK Jawa Barat Sektor Pertanian disajikan pada Gambar 3.2.,
Gambar 3.2., dan Lampiran 1 Tabel L.1.2

120.000.000,0

9,89%

Emisi CO2 dari Pertanian


(ton CO2 eq)

100.000.000,0
80.000.000,0
60.000.000,0

Total CO2 teremisi dengan


RAD GRK (ton CO2 eq)

40.000.000,0

Total CO2 teremisi tanpa RAD


GRK (ton CO2 eq)

20.000.000,0
0,0
2010

2015
Tahun

2020

Gambar 3.2. Estimasi-Proyeksi Emisi GRK Jawa Barat dari Sektor Pertanian

3.4.

Energi

Proyeksi kebutuhan energi Jawa Barat untuk rencana mitigasi RAD Jabar diadopsi dari
Perencanaan Energi Daerah yang dikeluarkan oleh PUSDATIM Kementerian ESDM, 2008
yang menganalisis kebutuhan energi di Jawa Barat sampai dengan tahun 2030.
Proyeksi kebutuhan dan penyediaan energi daerah pada laporan tersebut dilakukan
dengan menggunakan software LEAP (Long-range Energi Alternative Planning System).
Dalam memproyeksi kebutuhan energi sudah dengan mempertimbangkan rata-rata
pertumbuhan penduduk, pertumbuhan PDRB, dan peningkatan rasio elektrifikasi. Untuk
proyeksi pasokan energi, beberapa program Pemerintah seperti: kewajiban penggunaan
biofuel (biofuel mandatory), program konversi minyak tanah ke LPG, program efisiensi
energi sesuai target RIKEN, dan program pembangunan pembangkit sesuai RUPTL PLN
2009-2018 sudah dipertimbangkan dalam perhitungan.
Kegiatan Inti dari RAD GRK Provinsi Jawa Barat adalah
Konservasi Nasional di Jawa Barat (RIKEN) yang meliputi:

Program Rencana Induk

A. Program konversi minyak tanah ke LPG untuk sektor rumah tangga dan komersial

III - 5

B. Program efisiensi yang dijalankan sesuai dengan program RIKEN ntuk sektor rumah
tangga dan komersial yang terdiri dari :
1.

Pengembangan Pemanfaatan Energi Terbarukan Berbasis Energi-air di Jawa Barat :


PLT- Mikrohidro (70 unit) Dan PLT-Minihidro (10 unit)
2. Pengembangan Pemanfaatan Energi Terbarukan Berbasis Energi-Surya di Jawa
Barat : Menambah jumlah Instalasi Sistem Konversi Energi Surya (PLTS Terpusat,
PJUTS, SHS, Pompa Air Tenaga Surya, dll) sejumlah 2800 Satuan Sambungan (KK)
3. Pengembangan Pemanfaatan Energi Terbarukan Berbasis Bio-fuel di Jawa Barat.
- Menyediakan informasi umum dan detail-teknis potensi jenis-jenis bio-energi
untuk energi alternatif (2 Dokumen Induk).
- Mengembangkan aktifitas jejaring Kerja Pengembangan Bio-energi (7 instansi
Pemerintah, Swasta dan Masyarakat).
- Mengoptimalkan Teknologi Pengolahan Bio-energi sebagai Bio-fuel.
4. Pengembangan Pemanfaatan Energi Alternatif Bio-mass di Jawa Barat
- Menyediakan informasi umum dan detail-teknis potensi jenis-jenis bio-massa
untuk energi alternatif (2 Dokumen Induk).
- Meningkatkan pemanfaatan Bio-massa sebagai energi alaternatif (3 sektor:
Industri, Swasta dan Masyarakat)
5. Pengembangan Pemanfaatan Energi Terbarukan Berbasis Bio-gas di Jawa Barat :
Menambah jumlah Instalasi Biogas untuk Energi Rumah Tangga/Listrik sebanyak
2461 KK.
6. Pengembangan Pemanfaatan Energi Panas Bumi di Jawa Barat :
- Menyediakan data potensi dari 10 lokasi prioritas panas bumi
- Memfasilitasi Rencana Penetapan WKP Panas Bumi (4 WKP).
- Menyusun 1 perda mengenai Pengembangan Pemanfaatan Energi Panas Bumi
di Jawa Barat.
- Membangun pusat data panas bumi

Kegiatan Pendukung yang akan dilaksanakan merupakan penunjang program inti dalam
RAD GRK, yaitu :
1. Pembinaan Pengawasan dan Pengendalian Pemanfaatan Batubara :pada
minimal 10 stockpile perusahaan pemasok batu bara
2. Memfasilitasi Pengujian Batubara di Jawa Barat untuk mendukung kegatan
produksi di minimal 50 perusahaan.
3. Pengembangan Pemanfaatan Gas di Jawa Barat :
Mengediakan informasi umum dan detail-teknis sistem pemanfaatan Gas
untuk Diversifikasi-energi. (2 Dokumen Induk/sektor).
Meningkatnya pemanfataan Gas untuk Rumah Tangga dan Industri.

III - 6

4. Peningkatan Upaya Konservasi dan Penghematan Energi.


mensosialisasikan program konservasi dan penghematan energi (ke 5 sektor
pengguna)
Mewujudkan jejaring kerja konservasi energi di 5 sektor pengguna.
Menyediakan data-base sistem manajemen energi di minimal 50 pengguna
energi.
Memfasilitasi Sistem Manajemen Energi di Minimal 50 pengguna energi.
5. Pengembangan Desa Mandiri Energi Berbasis Energi Terbarukan di Jawa Barat.
Mewujudkan Penguatan Status Kemandirian Energi, untuk 12 Lokasi Desa
Mandiri Energi.
Menyediakan 2 dokumen pengembangan fisik Desa Mandiri Energi di Jawa
Barat
6. Pemantauan Kualitas dan Kuantitas Penggunaan BBM dan Pelumas :
Terpantaunya kualitas dan pasokan BBM serta pelumas di Jawa Barat.
7. Penyusunan Data Base Sumur Idle Panas Bumi di Jawa Barat.
Menyediakan 5 dokumen rencana pengembangan sumur idle pans bumi di
Jawa Barat.
Memgfasilitasi pengembangan sumur idle panas bumi.
8. Fasilitasi Pengembangan WKP Panas bumi dan Migas : Memanfaatkan Migas
dan Panas bumi di 10 lapangan Migas dan Panas Bumi
9. Fasilitasi Teknik dan Lingkungan Bidang Panas Bumi dan Migas di Jawa Barat :
meningkatkan Nilai Keberlanjutan (Sustainability) Pemanfaatan Potensi Migas
dan Panas Bumi di 10 lokasi.
10. Pembinaan, Pengawasan dan Pengendalian Pemanfaatan pembangkit Listrik
untuk Kepentingan Sendiri dan kepentingan umum : Memantau Sistem
pengelolaan Pembangkit Listrik untuk Kepentingan Sendiri dan Umum.
Skenario mitigasi yang digunakan dalam memodelkan permintaan dan pasokan energi
untuk Jawa Barat adalah seperti yang tercantum pada Tabel 3.3. dan Tabel L.1.3. sampai
L.1.5. pada Lampiran 1:

III - 7

Tabel 3.3.
Kegiatan Inti RAD-GRK Provinsi Jawa Barat Sektor Energi
Jumlahpenurunan Emisi
dari Baseline 2020
(ribu ton CO2e)

KegiatanInti

No

Rencana Induk Konservasi Nasional di Jawa Barat (RIKEN)


yang terdisi dari
Program konversi minyak tanah ke LPG untuk sektor
rumah tangga dan komersial
Program efisiensi yang dijalankan sesuai dengan program
RIKEN ntuk sektor rumah tangga dan komersial yaitu
pemanfaatan energi terbarukan berbasis energi air,energi
surya, biofuel, biomass, biogas, dan panas bumi

1
2
3

10,381

Estimasi-Proyeksi Emisi GRK Jawa Barat dari Sektor Energi disajikan pada Gambar 3.3.

Emisi CO2 dari Energi (ton)

120.000.000,00
100.000.000,00
80.000.000,00
60.000.000,00

Emisi CO2 tanpa aksi (ton CO2


eq)

40.000.000,00

Total CO2 teremisi dengan aksi


* (ton CO2 eq)

20.000.000,00
0,00
2010

2015

2020

Tahun

Gambar 3.3. Estimasi-Proyeksi Emisi GRK Jawa Barat dari Sektor Energi
3.5.

Transportasi

Untuk sektor transportasi, peningkatan kebutuhan energi lebih didorong oleh


peningkatan taraf hidup masyarakat serta kemudahan-kemudahan dalam memperoleh
kredit kepemilikan kendaraan bermotor. Pada skenario dasar (BAU) di tahun 2007,
pemakaian energi untuk sektor ini adalah sebesar 22.66 Juta SBM dan diperkirakan akan
meningkat menjadi 75.61 Juta SBM pada tahun 2030, dimana rata-rata pertumbuhannya
adalah sebesar 5.10 % per tahun.
III - 8

Peningkatan jumlah kendaraan bermotor, khususnya kendaraan roda dua pada beberapa
tahun belakangan ini, ikut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan
konsumsi energi di sektor ini.
Pada skenario Mandatori BBN sebesar 15% ditahun 2025, konsumsi energi pada tahun
2010 akan mencapai 25.63 Juta SBM dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 3.95 %,
konsumsi hanya mencapai 38.54 juta SBM pada tahun 2020 dan meningkat menjadi 57.22
Juta SBM di tahun 2030.
Tabel 3.4. dan Tabel L.1.6. pada Lampiran 1 menggambarkan RAD GRK untuk sektor
energi transportasi sebagai upaya untuk menurunkan emisi GRK di Jawa Barat. Pada
tabel tersebut dapat dilihat bahwa dengan adanya upaya RAD GRK, diperkirakan pada
tahun 2020 emisi CO2 dari sektor transportasi akan turun sebesar 5 % dari kondisi tanpa
RAD GRK.
Tabel 3.4.
Kegiatan Inti RAD-GRK Provinsi Jawa Barat Sektor Transportasi

No
1

Jumlahpenurunan Emisi
dari Baseline 2020
(ribu ton CO2e)

KegiatanInti
Mandatori BBN sebesar 15% ditahun 2025 untuk jenis
bahan bakar premium dan minyak solar dari sektor
transportasi

1.098,48

Adapun kegaitan penunjangnya program yang berkaitan dengan efisiensi energi dengan
target penurunan intensitas energi sebesar 75% dari kondisi BaU. Kegiatan tersebut
adalah sebagai berikut :
Pendidikan dan pelatihan pengujian kendaraan bermotor
Manajemen dan rekayasa lalulintas di 3 wilayah PKN (Bodebek, Metropolitan
Bandung dan Metropolitan Cirebon
Manajemen dan rekayasa lalulintas pada perlintasan sebidang
Pembangunan jalur KA di Jawa Barat
Manajemen dan rekayasa lalulintas di ruas jalan provinsi PKN-PKW, antar PKW dan
PKL-PKW
Rekapitulasi Penurunan Emisi dari Sektor Energi disajikan pada Gambar 3.4.

III - 9

Total Emisi CO2 dari Sektor Energi


(ton CO2)

160.000.000,0

8%

140.000.000,0
120.000.000,0

Total CO2
teremisi tanpa
RAD GRK (ton
CO2 eq)

100.000.000,0
80.000.000,0
60.000.000,0

Total CO2
teremisi
dengan RAD
GRK (ton CO2
eq)

40.000.000,0
20.000.000,0
0,0
2005

2010
Tahun

2015

Gambar 3.4. Rekapitulasi Penurunan Emisi dari Sektor Energi

Pada skenario Mandatori BBN sebesar 15% ditahun 2025, konsumsi energi pada tahun
2010 akan mencapai 48,6 Juta SBM dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 3.95 %,
selisih emisi CO2 dengan BAU adalah 1.098,48 ribu ton CO2eq.

3.6.

Sektor Limbah

Pada sektor pengelolaan limbah terdapat 5 kelompok rencana aksi inti mitigasi dan 9
kegiatan pendukung. Rencana aksi yang diusulkan melingkupi aspek perencanaan,
koordinasi, tindakan dan pemantauan.
3.6.1. Kelompok Kegiatan Inti
Kelompok Kegiatan Inti A. Program Minimasi Sampah dgn prinsip 3R
Minimasi sampah merupakan dasar dari pengelolaan sampah. Dengan 3R (reduce, reuse
dan recycle), sampah harus diminimalisir.
Terdapat kegiatan aksi, baik fisik maupun non-fisik, dalam program minimasi sampah,
yaitu;
Kegiatan inti 1. Program Minimasi Sampah dgn prinsip 3R
Untuk kegiatan di TPST, ditargetkan peningkatan komposting dan 3R, Aksi minimasi
sampah juga melibatkan masyarakat untuk menerapkan budaya gali-timbun sampah
organik. akan didapat pengurangan aktifitas open burning dan penimbunan Uncategorized, untuk pengurangan emisi GRK dari kedua aktifitas tersebut

III - 10

Kegiatan inti 2. Pembangunan TPS Terpadu (TPST)


Kelompok Rencana Aksi Mitigasi Inti B: Program Peningkatan Sarana-Prasarana
Persampahan
Kelompok aksi ini terdiri dari kegiatan peningkatan aspek teknis dari pengelolaan
sampah, meliputi sarana prasarana pengumpulan, pengangkutan dan pengelolaan
akhir.
Kegiatan inti 3. Operasional TPA semi-aerobic (termasuk pengadaan tanah timbun)
Yaitu memperbaiki skema operasional TPA dari open dumping menjadi sanitary
atau controlled landfill.
Kegiatan inti 4. Recovery gas metan di TPA Sumur Batu (CDM-Project)
Meliputi komponen ventilasi gas vertikal yang terhubung dengan saluran penyalur
lindi pada lapisan liner. Selain itu terdapat ventilasi gas horizontal yang terhubung
dengan ventilasi gas horizontal pada setiap lapisan antara di timbunan sampah.

c. Kelompok Rencana Aksi Mitigasi Inti C: Program Pembangunan Prasarana Waste


Water Treatment Pemukiman
Kelompok aksi ini terdiri dari kegiatan pembangunan prasarana air limbah, terutama
untuk penyediaan septic tank, baik pribadi maupun komunal, MCK Komunal dan IPAL
Komunal. Terdapat 3 kegiatan dalam rencana aksi ini terdiri dari Pembangunan MCK
Plus, Pemb. MCK Sanimas dan Septik Tank Komunal, serta perluasan layanan IPAL
Perkotaan yang merupakan Kegiatan inti 5. Migrasi Pit-Latrin ke Septic Tank
Dalam program kerja Dinas PU CK PPLP selalu terdapat kegiatan pembangunan MCK
Komunal, IPAL Komunal, Tangki septik komunal, sedangkan di Dinas Kesehatan juga
terdapat kegiatan jamban sehat untuk mengejar target penurunan emisi dari kelompok
aksi ini. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan inti dalam Program Percepatan
Sanitasi Pemukiman. Dengan adanya pekerjaan ini, secara tidak langsung terdapat
migrasi sistem pengolahan on-site black water, dari latrin menuju ke sistem tangki septik.
3.6.2. Kegiatan Pendukung
Kelompok aksi mitigasi pendukung ini merupakan dikatagorikan sebagai kegiatan
penunjang dalam RAD GRK Jawa Barat berupa kelompok aksi perencanaan untuk
menunjang pelaksanaan lima butir kegiatan inti. Kegiatan pendukung yang akan dilaukan
adalah sebagai berikut :

III - 11

1) Penyusunan Master Plan Persampahan


2) Penyusunan Studi Kelayakan dan Detailed Engineering Design Tempat
Pembuangan Akhir Sampah (TPAS)
3) Pengysunan Analisis mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) TPA
4) Sosialisasi Prinsip 3R (Reduce, reuse, Recycle) dan Pemilahan Sampah
5) Program Kampung Iklim
6) Rehabilitasi/pembangunan TPA un managed deep menjadi Semi aerobis
Landfill di 10 Kabupaten/Kota
7) Penyusunan Master Plan Air Limbah
8) Studi Kelayakan dan DED MCK Komunal-Septik Tank Komunal
9) Sosialisasi Rencana MCK Komunal-Septik Tank Komunal
3.6.3. Rekapitulasi Sektor Limbah
Kegiatan RAD-GRK Provinsi Jawa Barat Sektor Pengelolaan Limbah dapat dilihat pada
Tabel 3.5. dan Tabel L.1.7 pada Lampiran 1.
Tabel 3.5.
Kegiatan Inti RAD-GRK Provinsi Jawa Barat Sektor Pengelolaan Limbah
No.

Jumlah
Penurunan Emisi dari Baseline
thn 2020
(tonCO2eq)*

Kegiatan Inti

1
2

3
4

Kelompok Kegiatan A. Program Minimasi Sampah dgn prinsip


3R
Program Minimasi Sampah dgn prinsip 3R
Pembangunan TPS Terpadu (TPST)
Kelompok Kegiatan B: Program Peningkatan Sarana-Prasarana
Persampahan
Operasional TPA semi-aerobic dan sanitary landfill; dan
pengadaan tanah timbun
Recovery gas metan di TPA Sumur Batu (CDM-Project)
Kelompok Kegiatan C : Pembangunan prasarana Waste Water
Treatment Pemukiman
Migrasi Pit-Latrin ke Septic Tank
JUMLAH

42.715
92

139.737
103.700

193.657

479.901

Ket: K/K : Kota/Kabupaten

Rekapitulasi Penurunan Emisi dari Aspek Pengelolaan Limbah disajikan pada Gambar 3.5.

III - 12

7.540.279

8.000.000

ton CO2 eq

7.000.000
6.000.000

6.843.928

9,24 %

5.000.000
4.000.000

BAU

3.000.000

MITIGASI

2.000.000
1.000.000
0
2008

2010

2012

2014

2016

2018

2020

2022

Tahun
Gambar 3.5. Rekapitulasi Penurunan Emisi dari Aspek Pengelolaan Limbah
Dari kegiatan inti dan kegiatan pendukung dalam rencana aksi tersebut, diperkirakan
akan didapat penurunan emisi pada tahun 2020, sebesar 696.350 ton CO2 eq dari
estimasi emisi GRK Jabar sektor limbah sebesar 1.412.531 ton CO 2 eq, atau didapat
penurunan sebesar 9,24 %.
3.7.Rekapitulasi Perkiraan Emisi Gas Rumah Kaca Jawa Barat tahun 2020 dengan adanya
RAD GRK
Rekaputulasi Emisi Gas Rumah Kaca Jawa Barat dengan dan tanpa aksi RAD GRK Jawa
Barat disajikan pada Tabel 3.6. dan Gambar 3.6.

Rekapitulasi Emisi CO2 (ton CO2)

300.000.000
250.000.000

10,16 %

200.000.000

rekapitulasi Emisi CO2 eq


tanpa aksi RAD GRK (ton CO2
eq)

150.000.000

rekapitulasi emisi CO2 eq


dengan aksi RAD GRK (ton
CO2 eq)

100.000.000
50.000.000
0
2005

2010
Tahun

2015

Gambar 3.6. Rekapitulasi Emisi GRK Jawa Barat Tahun 2020 Kondisi dengan dan
Tanpa RAD GRK
III - 13

Dari tabel dan gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada tahun 2020 tanpa adanya RAD
GRK diperkirakan total emisi di Jawa Barat adalah 249.976.997 ton CO2eq. Dengan
adanya RAD GRK diperkirakan total emisi di Jawa Barat turun menjadi 224.570.008 ton
CO2eq. Dengan demikian terjadi selisih (penurunan) sebesar 10,16 %.

III - 14

Tabel 3.6.
Rekapitulasi Emisi GRK Jawa Barat Tahun 2020 Kondisi Dengan dan Tanpa RAD GRK

Tahun

Rekapitulasi Emisi CO2 eq tanpa aksi RAD GRK

Rekapitulasi emisi CO2 eq dengan aksi RAD GRK

(ton CO2 eq)

(ton CO2 eq)

Limbah

Sektor

Sektor

Domestik

landbase

Transportasi

2010

4.898.864

48.995.884

2015

6.591.544

2020

7.540.279

Limbah

Sektor

Sektor

Domestik

landbase

Transportasi

124.096.219

4.898.864

48.995.884

78.930.472

182.551.138

6.405.812

107.171.998

249.976.997

6.843.929

Energi

Jumlah

11.887.442,49

58.314.029

80.960.322

16.068.799,95

113.324.434

21.940.286,40

Selisih

Energi

Jumlah

11.887.442,49

58.314.029

124.096.219

79.975.672

15.647.078,47

74.499.704

176.509.840

100.775.869

20.841.803,52

96.791.390

224.570.008

0,00%
-3,31%
-10,16%

IV - 15