Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN KERJA PRAKTEK

CHEVRON INDONESIA COMPANY


KALIMANTAN OPERATION SOUTHERN AREA
OPERATION

TUGAS KHUSUS
NERACA MASSA DAN NERACA PANAS SERTA PERANCANGAN LOW
PRESSURE SEPARATOR DI TERMINAL LAWE-LAWE BALIKPAPAN

Disusun Oleh:
Fitriana Fahmi Ekaputri

121100058

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2014

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTEK
CHEVRON INDONESIA COMPANY
KALIMANTAN OPERATION SOUTHERN AREA
OPERATION

TUGAS KHUSUS
NERACA MASSA DAN NERACA PANAS SERTA PERANCANGAN LOW
PRESSURE SEPARATOR DI TERMINAL LAWE-LAWE BALIKPAPAN

Periode 1 Mei 2014 30 Mei 2014

Disusun Oleh:
Fitriana Fahmi Ekaputri

121100058

Yogyakarta, Februari 2015


Mengetahui
Dosen Pembimbing Kerja Praktek

Ir. Tutik Muji Setyoningrum., MT

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KERJA PRAKTEK
CHEVRON INDONESIA COMPANY
KALIMANTAN OPERATION SOUTHERN AREA
OPERATION

TUGAS KHUSUS
NERACA MASSA DAN NERACA PANAS SERTA PERANCANGAN LOW
PRESSURE SEPARATOR DI TERMINAL LAWE-LAWE BALIKPAPAN

Periode 1 Mei 2014 30 Mei 2014

Disusun Oleh:
FITRIANA FAHMI EKAPUTRI

Balikpapan, 28 Mei 2014

Menyetujui,
Pembimbing Kerja Praktek,

Adji Swandito

121100058

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Puji syukur kepada Allah SWT, berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya laporan
kerja praktek ini dapat penulis selesaikan dengan baik. Laporan kerja praktik ini
disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di Program Studi
Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta.
Dalam penulisan makalah ini, penulis mendapatkan banyak dukungan
dan bimbingan dari berbagai pihak. Penulis sangat berterima kasih kepada:
1. Ibu Ir. Tutik Muji Setyoningrum,MT., selaku dosen pembimbing kerja
praktek.
2. Pak Aji Swandito selaku pembimbing kerja praktek di Planinng and
Technology Division yang dengan tulus membimbing penulis dengan ilmuilmu yang bermanfaat.
3. Pak Hassanudin dan Pak Oke P. Kurniawan selaku pembimbing di plant
Terminal Lawe-lawe.
4. Pak Eko, Pak Yoyong, Pak Didik Wijaksono, Pak Dawang, Pak Nasrul, Pak
Ade, Mas Heru, Mas Hendrik, Mas Dizi, Mas Hafid, Mas Nonci, Mas Fatah,
Mas Supriyanto, dan masih banyak lagi yang telah membimbing kita dengan
membagi sebagian ilmunya kepada saya.
5. Pak Suparno selaku pihak training yang telah memberikan saya kepada saya
untuk kerja praktek di Chevron Company Indonesia.
6. Keluarga besar Chevron Indonesia Company yang telah memberikan waktu
dan tempat penulis untuk melaksanakan kerja praktik.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah seminar kerja
praktik ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik
sangat penulis harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Yogyakarta, November 2014

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................. ii
DAFTAR NOTASI...................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................. vi
INTISARI............................................................................................... vii
BAB 1. PENDAHULUAN........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................. 1
1.2 Tujuan Kerja Praktek..........................................................................2
1.3 Ruang Lingkup................................................................................. 2
1.4 Tempat dan Waktu Kerja Praktek...........................................................2
1.5 Metode Pelaksanaan...........................................................................2
1.6 Sistematika Penulisan.......................Error! Bookmark not defined.
BAB 2. TINJAUAN UMUM CHEVRON INDONESIA COMPANY....................4
2.1 Sejarah Singkat Chevron.....................................................................4
2.2 Profil Umum Chevron Indonesia Company..............................................6
2.3. Visi Perusahaan................................................................................ 9
2.4. Misi Perusahaan................................................................................ 9
2.5. Prinsip Perusahaan............................................................................. 9
BAB 3. PROSES PENGOLAHAN MINYAK BUMI DAN GAS.........................10
3.1. Kegiatan di Process Plant..................................................................10
3.2.Deskripsi Proses Pengolahan Minyak Bumi............................................15
3.3. Deskripsi Proses Pengolahan Gas........................................................16
BAB 4. TUGAS KHUSUS..........................................................................18
4.1. Latar Belakang............................................................................... 18
4.2. Tujuan.......................................................................................... 18
4.3. Ruang Lingkup............................................................................... 19

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

4.4. Gambaran Umum Separator...............................................................19


4.5. Neraca Massa dan Neraca Panas pada Low Pressure Separator....................21
4.6 Perancangan Low Pressure Separator....................................................22
BAB 5. PENUTUP................................................................................... 26
5.1 Kesimpulan................................................................................... 26
5.2. Saran........................................................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 28
LAMPIRAN........................................................................................... 29

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

DAFTAR NOTASI
Qw

= Laju alir air masuk separator (bbl/day)

Qm

= Laju alir minyak masuk separator (bbl/day)

Qg

= Laju alir gas masuk separator (MMscfd)

qF

= Panas total minyak masuk low pressure separator (BTU/day)

TF

= Suhu minyak masuk low pressure separator (F)

Tm

= Suhu minyak keluar low pressure separator (F)

Tw =

Suhu air kelur low pressure separator (F)

Tg

= Suhu gas keluar low pressure separator (F)

= Laju alir minyak keluar low pressure separator (bbl/day)

= Laju alir air keluar low pressure separator (bbl/day)

= Laju alir gas keluar low pressure separator (bbl/day)

Cpm

= Panas jenis minyak (BTU/lbF)

Cpw

= Panas jenis air (BTU/lbF)

Cpg

= Panas jenis gas (BTU/lbF)

dp

= diameter partikel yang akan diendapkan (micron)

= diamater vessel (in atau ft)

= panjang vessel (ft)

(tr)w

= Retention time (menit)

(tr)m

= Retention time (menit)

= Tekanan (psig)

= Temperatur (F)

BM

= Berat molekul (kg/kmol)

= Faktor kompresi

SGg

= Spesifik gravity gas

= Densitas gas (lb/ft3)

= Densitas minyak (lb/ft3)

= Densitas air (lb/ft3)

= Viskositas gas (cp)

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

= Viskositas minyak (cp)

= Luas penampang vessel (ft2)

Aw

= Luas penampang vessel yang tersedia untuk liquid (ft2)

dmax

= Diameter vessel maksimal (in)

= Diameter vessel (in)

CD

= Koefisien drag

hmmax = ketinggian maksimum minyak (in)


Leff

= Panjang efektif vessel (ft)

SG

= Specific gravity minyak

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Indo Asia Bussines Unit (IBU)........................................5
Gambar 2. Chevron Indonesia Company Kalimantan Operation..........6
Gambar 3. Northern Area Operation......................................................7
Gambar 4. Southern Area Operation......................................................8
Gambar 5. Process Flow Diagram Pengolahan Minyak Bumi dan Gas di
Terminal Lawe-lawe..............................................................................14
Gambar 6. Neraca Massa Total Low Pressure Separator......................21
Gambar 8. Coeffiecient for a cylinder half filled with liquid...........24

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

INTISARI

Chevron Indonesa Company (CICo) merupakan perusahaan minyak dan


gas milik asing yang beropersai di daerah Kalimantan Timur, Indonesia. Kegiatan
operasi Chevron Indonesia Company dibagi menjadi dua daerah utama, yaitu
North Area Production dan South Area Production. Dimana di setiap daerah
operasi memiliki offshore dan onshore. CICo memiliki 2 onshore, yaitu Santan
Terminal Onshore dan Lawe-lawe Terminal Onshore.
Terminal Onshore digunakan untuk menerima minyak dan gas untik
memisahkan fraksi-fraksi gas, cair, dan padat yang terkandung di dalam minyak
mentah. Untuk itu diperlukan alat-alat pemisah, seperti Low Separator. Low
Separator bertugas untuk memisahkan gas, minyak, dan air yang terdapat dalam
minyak mentah sebelum minyak mentah memasuki unit pemisah berikutnya.
Dalam makalah ini, tujuan yang diinginkan adalah mengevaluasi neraca massa
dan neraca panas serta perancangan dari Low Separator.
Dari hasil perhitungan diperoleh neraca massa masuk dan massa keluar
Low Separator adalah sama, yaitu 36.604,69 bbl/day. Panas masuk Low
Separator sebesar 119.383.554,7 BTU/day dan panas keluar Low Separator
sebesar 102.165.020,4 BTU/day, sehingga efisiensi Low Separator sebesar 86 %.
Untuk perancangan, diperoleh dua pilihan, yaitu diameter 11 ft dengan lenght
30,070 ft diameter 10 ft dengan lenght 36,385 ft.

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini minyak bumi merupakan salah satu kebutuhan utama bagi manusia.
Kebutuhan minyak bumi akan terus meningkat setiap tahun seiring bertambahnya
jumlah penduduk di Indoneisa. Kebutuhan itu harus terpenuhi untuk kelangsungan
perekonomian Indoneia. Untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus melonjak
ini, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pihak Chevron Indonesia
Company yang merupakan salah satu perusahaan minyak bumi dan gas terbesar di
Indonesia sekaligus sebagai salah satu pemasok terbesar kebutuhan minyak bumi
di Indonesia.
Perguruan tinggi sebagai suatu lembaga pendidikan bertanggung jawab
mempersiapkan calon-calon tenaga kerja yang profesional. Bila perguruan tinggi
memberikan pendidikan sebatas teori saja kepada mahasiswa, namun kurang
memadai dalam prakteknya, dan tidak bisa membandingkan teori yang didapat
dalam perguruan tinggi dengan kondisi riil yang ada di perusahaan maka
perguruan tinggi tersebut hanya akan meluluskan sarjana yang kurang mampu
menerapkan ilmu yang diperolehnya selama di bangku kuliah karena belum
mengenal secara langsung dunia kerja yang akan dimasukinya.
Menyadari akan hal ini, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta khususnya Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri
melengkapi kurikulumnya dengan Kerja Praktek berbobot 2 SKS, yang wajib
dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan.
Adanya program kerja praktek ini, mahasiswa diharapkan

mampu

mengaplikasikan dan mengembangkan ilmu yang telah diperoleh selama berada di


perkuliahan. Di sisi lain akan tercipta peluang yang besar dan iklim yang kondusif
bagi terciptanya inovasi-inovasi baru agar lebih

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

mengoptimalkan suatu proses produksi ataupun eksploitasi. Selain itu, mahasiswa


juga diharapkan dapat menyelesaikan problematika industri dengan integrasi
disiplin ilmu yang telah dipelajarinya
1.2 Tujuan Kerja Praktek
1.2.1.

Memenuhi salah satu mata kuliah Kerja Praktik di jurusan Teknik

Kimia UPN Veteran Yogyakarta.


1.2.2.

Mendapatkan pengalaman secara langsung di lapangan secara

aplikatif di Chevron Indonesia Company.


1.2.3.

Memperdalam ilmu pengetahuan yang sesuai dengan bidang tempat

kerja praktik.
1.2.4.

Mengetahui masalah-masalah yang timbul di lapangan dan cara

penyelesaiannya
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup kerja praktik dilaksanakan di Chevron Indonesia Company
yaitu penggunaan separator sebagai alat pemisah.
1.4 Tempat dan Waktu Kerja Praktek
Kerja Praktik ini dilaksanakan selama satu bulan dari tanggal 1 Mei 2014
30 Mei 2014 di Planning and Technology Deparment, Chevron Indonesia
Company Kalimantan Operation.
1.5 Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan yang dilakukan antara lain:
1.5.1. Literatur
Metode ini dilakukan dengan mencari informasi yang berkaitan dengan
topik yang dibahas dari literatur yang tersedia.

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

1.5.2. Lapangan
Metode ini dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung di
lapangan sambil berdiskusi dengan mentor dan operator ahli.
1.5.3.
Pembuatan Laporan
Setelah dilakukan metode literatur dan metode lapangan maka dibuat
laporan kerja praktik.

BAB 2
TINJAUAN UMUM
CHEVRON INDONESIA COMPANY

2.1 Sejarah Singkat Chevron


Chevron berdiri pertama kali pada tahu 1879 di daerah Pico Canyon
California oleh Preusan dengan nama Pacific Coast Oil Company.
Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Chevron Corporation
yang menjadi pusat dari Chevron Indonesia Bussines Unit hingga saat ini.
3

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

Chevron Corporation hingga saat ini beroperasi dilebih dari 30 negara dan
bergerak dalam bidang bisnis dilebih dari 180 negara.
Pada tahun 1968, Unocal Indonesia menandatangani kontrak kerja
sama produksinya yang pertama untuk blok lepas pantai di barat-utara
Sumatera. Kemudian kontrak kerjasama kedua ditandatangani pada tahun
yang sama dengan perusahaan IUCo. Kontrak kerja sama untuk daerah
Kalimantan Timur mencakup daratan dan lepas pantai. Pada tahun 1970,
Unocal menemukan lapangan minyak dan gas lepas pantai terbesar di
Indonesia, yaitu Attaka yang terletak di Selat Makassar.
Selama tahun 1973-1995, Unocal menemukan temuan lepas pantai
lainnya yaitu Sepinggan, Yakin, Melahin, Kediringin, Santan, dan Lawelawe yang semuanya terletak di Kalimantan Timur. Pada tahun 1996
dilakukan eksplorasi ke laut dalam di Selat Makassar yang kemudian
ditemukan Lapangan West Seno dan Lapangan Merah Besar pada tahun
berikutnya.
Pada tahun 2001, Unocal bergabung dengan Texaco untuk
membangun Chevron Texaco. Pada tahun 2005, Chevron Texaco melepas
Texaco dan kembali ke nama Chevron yang bergabung dengan Unocal
Corporation yang kemudian menjadikan Chevron menjadi produsen energi
geothermal terbesar di dunia. Semenjak tanggal 10 Agustus 2005, Chevron
mengganti nama perusahaannya setelah dilakukan proses penggabungan
pada rapat pemegang saham Unocal Corporation.
Chevron Corporation terdiri dari 7 wilayah operasi, yaitu wilayah
Afrika, Asia-Pasifik, Eropa, Euroasia, Amerika Serikat, dan Kanada, dan
Timur Tengah.
Di Indonesia, Chevron beroperasi dibawah Indo Asia Bussines Unit
(IBU). Indo Asia Bussines Unit antara lain membawahi :
1. PT. Chevron Pacific Indonesia, wilayah operasi Provinsi Riau, Sumatera
(dahulu PT Caltex Pasific Indonesia)
2. Chevron Indonesia Company Kalimantan Operation (Chevron KLO),
wilayah operasi operasi Kalimantan Timur (dahulu PT Unocal Indonesia
Company)

Laporan Kerja Praktek Chevron Company Indonesia

3. Chevron Geothermal Salalk, Ltd., wilayah operasi Sukabumi, Jawa Barat.


4. Chevron Geothermal Indonesia, Ltd., wilayah operasi Garut, Jawa Barat.
5. Chevron Geothermal Philippines Holding inc. (CGPHI), wilayah operasi
Filipina.

Gambar 1. Indo Asia Bussines Unit (IBU)

2.2 Profil Umum Chevron Indonesia Company


Chevron Indonesia Company (CiCo) merupakan perusahaan minyak dan gas
yang beroperasi di daerah Kalimantan Timur, Indonesia. Sebelumnya, Unocal dan
telah melakukan eksplorasi di Kalimantan sejak tahun 1970. Pada tanggal 22
September 2005 Unocal Indonesia Company secara resmi berganti nama menjadi
Chevron Indonesia Company yang berada dibawa manajemen Indo Asia Bussines
Unit (IBU).

Gambar 2. Chevron Indonesia Company Kalimantan


Operation

Kegiatan operasi Chevron Indonesia Company dibagi menjadi dua daerah


utama, yaitu South dan North. Dengan pembagian sebagai berikut :
2.2.1. North Area Production
Terdapat di daerah lepas pantai selat Karimata yang terdiri dari Lapangan
Attaka (1970), Lapangan Melahin dan Kerindingan (1972), Lapangan Serang
(1993), dan Santan Terminal Onshore sebagai terminal untuk melakukan
pengolahan minyak dan gas pada Norhthen Area.

Minyak bumi yang dihasilkan oleh kelima lapangan offshore tersebut


dialirkan ke Terminal Santan untuk diolah di process plant. Pengolahan ini
bertujuan untuk menghasilkan minyak bumi dengan spesifikasi yang diinginkan
oleh pembeli. Minyak bumi yang sudah diolah di process plant disimpan di dalam
storage tank untuk kemudian dikirim ke pembeli dengan menggunakan tanker.
Sedangkan untuk gas bumi yang dialirkan ke Terminal Santan akan diolah di LEX
plant.
Di Terminal Santan terdapat lima unit storage tank yang berkapasitas 2.5
juta barel minyak. Selain itu, terdapat juga dua unit sphere tank yang berkapasitas
total 50,000 barel gas propana cair dan dua unit sphere tank yang berkapasitas
total 30,000 barel gas butana cair. Selain untuk menyimpan minyak bumi yang
sudah diolah di process plant, storage tank tersebut juga digunakan untuk
menyimpan minyak bumi milik VICO yang berasal dari lapangan Badak. Di
Terminal Santan juga terdapat tangki penyimpanan kondensat yang berasal dari
Bontang, yaitu Bontang Return Condensate (BRC).

Gambar 3. Northern Area Operation

2.2.2.

South Area Production

Terdapat di daerah Teluk Balikpapan yang terdiri dari Lapangan Sepinggan


(1973), Lapangan Seguni (1996), Lapangan Sedandang (1997), Lapangan Yakin

Utara (1977), Yakin Barat (19820, Lapangan Mahoni (2000), Lapangan Bangkirai
(2001), Lapangan Sejadi (1998) dan Lawe-lawe Terminal Onshore sebagai
terminal untuk mlakukan pengolahan minyak dan gas pada Southeern Area.
Minyak dan gas bumi yang berasal dari lapangan offshore dipisahkan terlebih
dahulu di lepas pantai. Kemudian minyak dan gas bumi tersebut dialirkan ke
Terminal Lawe-Lawe untuk dipisahkan lebih lanjut.
Pengolahan minyak bumi di Terminal Lawe-Lawe bertujuan untuk
menghasilkan minyak bumi yang berkualitas tinggi. Minyak bumi yang sudah
diolah dapat digunakan sebagai bahan bakar process plant di Terminal LaweLawe, diekspor ke luar negeri, dan dikirim ke Pertamina Utility untuk kemudian
diolah di refinery Balikpapan. Sementara itu, gas bumi yang sudah diolah dapat
digunakan untuk proses pengeboran di anjungan (platform), bahan bakar di
process plant Terminal Lawe-Lawe, dan dikirim ke refinery Balikpapan.

Gambar 4. Southern Area Operation

2.3. Visi Perusahaan


2.3.1.

Menjadi perusahaan terkemuka di dunia dalam bidang penyediaan

energi, terutama minyak bumi dan gas alam.


2.3.2.

Membangun sumber daya manusia yang kompetitif, kerjasama

yang baik, dan meningkatkan eksistensi perusahaan.


2.3.3.

Menjadi sarana pengembangan diri dan peningkatan kesejahteraan

pekerja.
2.3.4.

Menjadi pilihan yang tepat untuk bekerjasama dan memberikan

performa berkelas dunia.


2.4. Misi Perusahaan
2.4.1.

Menciptakan integritas, yaitu dengan bersikap jujur, baik terhadap

perusahaan maupun terhadap rekan kerja.


2.4.2.

Menjalin hubungan baik dengan semua pihak (pemerintah,

masyarakat, perusahaan lain, dan lain-lain).


2.4.3.

Beroperasi secara ramah lingkungan untuk eksplorasi dan produksi

minyak dan gas bumi.


2.4.4.

Memberikan produk terbaik yang bertaraf internasional.

2.5. Prinsip Perusahaan


2.5.1.

Do it safely or not at all (kerjakan dengan selamat atau tidak sama

sekali).
2.5.2.

There is always time to do it right (selalu ada waktu untuk

melakukan pekerjaan dengan benar).

BAB 3
PROSES PENGOLAHAN MINYAK BUMI DAN GAS

3.1. Kegiatan di Process Plant


Dalam proses pengolahan crude oil, ada dua syarat hasil pengolahan yang
harus dipenuhi; yaitu kandungan BS&W di minyak kurang dari 0.30% dan
kandungan minyak di air buangan ke laut kurang dari 25 ppm. Untuk memenuhi
kedua syarat tersebut terdapat dua kegiatan utama yang dilakukan di process
plant; yaitu kegiatan rutin dan kegiatan tidak rutin.
3.1.1. Kegiatan Rutin
Kegiatan rutin yang dilakukan di process plant adalah kegiatan-kegiatan
yang selalu dilakukan untuk memantau kualitas dari proses pengolahan crude oil.
Kegiatan tersebut meliputi:
3.1.1.1.

Reading

Reading adalah proses pembacaan dan pencatatan parameter-parameter


pada alat proses yang ada di process plant. Parameter tersebut misalnya adalah
tekanan, suhu, level, dan laju alir pada vessel. Melalui pembacaan dan pencatatan
dapat dilakukan pengawasan secara langsung terhadap kondisi dan kinerja alat
proses. Jika ditemukan adanya gangguan pada kinerja alat proses, maka dapat
segera dilakukan troubleshooting supaya proses pengolahan crude oil tidak
terganggu. Selain itu, proses pembacaan dan pencatatan juga berfungsi sebagai
acuan pada perhitungan jumlah produksi yang dilakukan tiap malam.
3.1.1.2.

Sandjet

Sandjet atau sediment wash adalah proses penyemprotan bagian dalam


vessel dengan menggunakan air bertekanan untuk membuang endapan pasir,
lumpur, dan lain-lain yang berkumpul di dasar vessel. Endapan tersebut perlu

dibersihkan karena dapat menimbulkan penyumbatan dan mengurangi volume


total vessel.
Sandjet dilakukan dengan menggunakan sandjet pump yang terdapat di
process water plant. Namun, proses sandjet pada heater treater dilakukan dengan
menggunakan air buangan ke laut. Dalam proses sandjet, tekanan discharge
sandjet harus lebih besar daripada tekanan vessel yang akan dibersihkan.
3.1.1.3.

Chart Replcament

Chart atau foxboro chart adalah grafik yang digunakan untuk mencatat
parameter suhu, tekanan, dan laju alir di suatu alat proses. Chart yang dapat
diganti setiap 24 jam dan setiap tujuh hari ini digunakan sebagai acuan dalam
perhitungan jumlah produksi. Dalam menggunakan chart untuk pencatatan
parameter, perlu diperhatikan putaran kunci chart supaya chart tidak berhenti
berputar sebelum waktu penggantian chart.
3.1.1.4.

Chemical Injection

Injeksi senyawa kimia adalah aktivitas yang bertujuan untuk memperbaiki


kualitas proses dan hasilnya. Injeksi ini dilakukan dengan menggunakan
pneumatic chemical pump, dimana umpan senyawa kimia berasal dari chemical
container atau chemical drum. Beberapa contoh senyawa kimia yang diinjeksikan
ke dalam proses pengolahan crude oil adalah:
3.1.1.4.1.

Scale Inhibitor

Scale inhibitor adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk mencegah


pembentukan kerak (scale / slug) di bagian dalam alat proses. Senyawa kimia
yang diinjeksikan ada dua jenis, yaitu SI-4608 dari PT. MI-Swaco yang
diinjeksikan di alat proses, pipa crude oil dan water dumping, dan WEMCO
Depurator serta EONSCALE B-601 dari PT. EON Chemicals yang diinjeksikan di
Boiler.
3.1.1.4.2.

Corrosion Inhibitor

Corrosion inhibitor adalah senyawa kimia yang berfungsi sebagai inner


coating dari alat proses atau mencegah pembentukan korosi. Senyawa kimia yang
diinjeksikan di boiler ini adalah EONCOR B-751F dari PT. EON Chemicals.
3.1.1.4.3.

Gas Corrosion Inhibitor

Gas corrosion inhibitor adalah senyawa kimia yang berfungsi sebagai


inner coating dari alat proses pengolahan gas bumi atau mencegah pembentukan
korosi. Senyawa kimia yang diinjeksikan di process dan pipa gas ini adalah KI3940 dari PT. MI-Swaco.
3.1.1.4.4.

Microbiocide

Microbiocide adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk membunuh


bakteri yang terdapat di dalam sistem operasi. Senyawa kimia yang diinjeksikan
di process dan pipa crude oil ini adalah MB-5919 dari PT. MI-Swaco.
3.1.1.4.5.

Demulsifier

Demulsifier adalah senyawa kimia yang berfungsi sebagai pemecah emulsi


air di dalam minyak (W/O). Senyawa kimia yang diinjeksikan di incoming line
heater treater ini adalah EPT-2605 dari PT. MI-Swaco.
3.1.1.4.6.

Reverse emulsion breaker

Reverse emulsion breaker adalah senyawa kimia yang berfungsi sebagai


pemecah emulsiminyak di dalam air (O/W). Senyawa kimia yang diinjeksikan di
WEMCO Depurator ini adalah WT-1431 dari PT. MI-Swaco.
3.1.1.5.

Midnigth Tank Gauging

Midnight tank gauging adalah proses pembacaan level tangki. Dengan


menggunakan tabel tangki, level tangki yang terbaca tersebut dapat dikonversikan
menjadi volume. Kemudian, hasilnya dapat digunakan sebagai dasar perhitungan
jumlah produksi dalam 24 jam dan shipment availability.
Terdapat dua jenis tank gauging, yaitu yang dilakukan secara rutin setiap
engah malam (midnight tank gauging) dan yang dilakukan setiap shipment atau
loading. Midnight tank gauging dilakukan pada storage tank dan Rerun Tank
setiap dilakukan pengisian pada rerun tank.
3.1.1.6.

Water Treatment Operation

Proses pengolahan produced water dilakukan di instalasi sistem drainase.


Proses ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga supaya kandungan minyak di
air buangan ke laut kurang dari 25 ppm. Selain itu, proses ini juga bertujuan untuk
mengambil kembali minyak yang berhasil dipisahkan dari produced water.

3.1.1.7.

Pigging

Pigging atau pig launching dan pig receiving adalah kegiatan yang
dilakukan untuk membersihkan bagian dalam jalur pipa dari kerak, kotoran, atau
endapan yang menempel. Untuk melakukan pigging diperlukan pig launcher di
lokasi asal, pig receiver di lokasi penerima, pipe line yang menghubungkan
keduanya, serta pig itu sendiri.
Pig yang digunakan di Southern Operation Area ada dua jenis, yaitu rubber
pig untuk crude line pigging dan foam pig untuk gas line pigging. Diameter pig
yang digunakan dalam proses pigging tergantung pada besarnya diameter pipe
line.
3.1.2.

Kegiatan Tidak Rutin

Kegiatan tidak rutin yang dilakukan di process plant meliputi troubleshooting


terhadap masalah yang terjadi di dalam proses. Masalah tersebut bisa berupa
gangguan yang timbul pada peralatan proses atau gangguan pada sifat umpan
crude oil yang akan diolah. Beberapa contoh troubleshooting adalah ketika timbul
compressor shutdown, high level alarm pada high Pressure separator, dan lainlain. Untuk mencegah penurunan kualitas hasil pengolahan crude oil, gangguan
tersebut harus ditangani dengan segera.

Gambar 5. Process Flow Diagram Pengolahan Minyak Bumi dan Gas di Terminal Lawe-lawe

3.2. Deskripsi Proses Pengolahan Minyak Bumi


Proses pengolahan crude oil di Terminal Lawe-Lawe bertujuan untuk
memproduksi crude oil yang stabil dan berkualitas baik. Stabil berarti crude oil
tidak lagi mengandung gas, sedangkan berkualitas baik berarti kandungan BS&W
di crude oil kurang dari 0.30%. Crude oil hasil pengolahan tersebut kemudian
dijual ke Pertamina Refinery dan tanker.
Crude oil yang berasal dari offshore masih banyak mengandung BS&W, yaitu
air, lumpur, pasir, dan sedimen lainnya yang terbawa. Air dan sedimen tersebut
dapat menimbulkan masalah pada alat proses, seperti penyumbatan (plugging),
kerak (scaling), pengikisan (erosion), dan korosi (corrosion). Oleh karena itu, di
Terminal Lawe-Lawe dilakukan proses pemisahan unsur BS&W dari crude oil.
Tahapan proses (process flow diagram) pengolahan minyak bumi ini dapat dilihat
pada gambar 3.1.
Crude oil yang berasal dari Sepinggan dan Yakin masing-masing dialirkan ke
Tanjung Jumlai dengan menggunakan pipa 12. Crude oil tersebut memiliki suhu
85oF dan tekanan 150 psig. Crude oil kemudian masuk ke process plant di
Terminal Lawe-Lawe melalui kontroler tekanan PC-PL5 yang berfungsi untuk
menjaga tekanan crude oil tetap 150 psig. Selanjutnya crude oil akan masuk ke
high pressure separator melalui Emergency Shutdown Valve (ESDV) AV-PL4.
Di dalam high pressure separator terjadi proses pemisahan fluida berdasarkan
sifat fisika zat, yaitu specific gravity. Selanjutnya crude oil dialirkan ke crude to
Crude heat exchanger, sehingga terjadi kenaikan suhu crude oil (125oF) dan
penuruean tekanan (70 80 psig). Crude oil hasil pemanasan awal di crude to
crude heat exchanger kembali dinaikkan suhunya di dalam direct fired crude
eeater. Di dalam alat ini crude oil dipanaskan sampai suhunya mencapai 158oF.
Pemanasan bertujuan untuk memecah emulsi minyak-air (W/O), sehingga proses
pemisahan berikutnya menjadi lebih mudah.
Crude oil bersuhu tinggi dan bertekanan 60 psig tersebut kemudian masuk ke
low pressure separator. Setelah kembali dipisahkan berdasarkan specific gravity
fluida, crude oil dialirkan ke Gas Boot. Gas Boot berfungsi untuk menstabilkan
crude oil dengan cara mengeluarkan gas yang masih terkandung. Dari gas boot,
crude oil distabilkan lagi di crude stabilizer tank. Karena tekanan di dalam

stabilizer tank mendekati tekanan atmosferik, aliran crude oil dari crude stabilizer
tank ke alat proses selanjutnya dibantu dengan pompa.
Dari crude stabilizer tank, minyak dialirkan ke dehydrator. Alat ini akan
memisahkan air dan sedimen dari crude oil dengan menggunakan prinsip
elektrostatik. Crude oil keluaran dehydrator yang masih bersuhu tinggi (146oF)
dimasukkan kembali ke crude to crude heat exchanger untuk memberikan
panasnya ke crude oil yang berasal dari high pressure separator. Crude oil hasil
pengolahan di process plant yang kandungan BS&W-nya sudah kurang dari 0,3%
kini dialirkan ke storage tank untuk disimpan. Jika sudah tiba waktunya untuk
shipment, maka crude oil dari storage tank akan dialirkan ke tangki Pertamina
Refinery atau tanker.
Namun, crude oil yang belum berkualitas baik tidak dapat disimpan di
storage tank dan dijual. Crude oil tersebut akan dialirkan ke rerun Tank untuk
ditampung sementara dan kemudian kembali diolah di process plant.
3.3. Deskripsi Proses Pengolahan Gas
Gas dari offshore yaitu Sepinggan field dan Yakin field ( pada saat
tertentu juga ada supply dari Pantai field ) diproses di Lawe-lawe terminal
plant serta sejumlah solution gas hasil proses separasi di plant Lawe-lawe
itu sendiri. Solution gas dari high pressure separator dan low pressure
separator dialirkan ke flash gas scrubber. Output dari flash gas scrubber
digunakan untuk fuel gas dari unit-unit fuel heater, glycol reboiler, mesin
genset, dan lain-lain. Gas dari gas

boot dialirkan ke vapor recovery

compressor yang outputnya dialirkan untuk fuel ke heater. Sekarang


produksi gas Yakin field semakin menurun, sehingga supply gas dari
offshore hanya dari Sepinggan dan pantai, dimana gas dari pantai lebih
mahal harganya, dikarenakan kandungan CO2 sangat sedikit dan karena
kondisi wellnya yang rapuh, maka produksi gasnya dijaga hanya sebesar
10 MMscfd.
Gas dari offshore terdiri dari Natural Gas (gas dari sumur gas) dan
Associated Gas (gas yang berasal dari sumur minyak). Natural gas ialah
gas yang bertekanan sehingga tidak diperlukan kompresor lagi, sedangkan

associated gas memerlikan kompresor untuk dapat mengalir, jika tekanan


gas dari offshore kurang, maka dapat dibuka atau ditambahkan dengan
membuka idle well. Setelah minyak masuk ke separator di remote
platform akan terjadi proses pemisahan, gas (associated gas) yang terpisah
akan dialirkan ke gas filter separator di production platform, selanjutnya
akan diisap di compressor platform untuk dikirim ke onshore setelah
diblending dengan natural gas. Di onshore gas diterima oleh KOD (Knock
Out Drum) untuk mengalami proses separasi dari liquid yang terbawa. Gas
dari Sepinggan dan Yakin bertemu di Tanjung Jumlai, lalu masuk ke knock
out drum.
Pengolahan gas terbagi menjadi dua tahap, yaitu penurunan kadar CO2
oleh CO2 removal unit dan penurunan kadar air oleh Dehydration unit.
Penurunan kadar CO2 menggunakan larutan DEA (diethanol amine) untuk
menyerap CO2 hingga mencapai komposisi yang dipersyaratkan
Pertamina, yaitu 8%. Sedangkan penurunan kadar air dilakukan dengan
penyerapan kadar air dengan Glycol hingga gas memenuhi persyaratan
kadar air maksimum yang dinyatakan dengan dew point, yaitu pada 47oF.

BAB 4
TUGAS KHUSUS

4.1. Latar Belakang


Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi penurunan produksi
minyak di Terminal Lawe-lawe. Dalam setiap upaya yang dilakukan,
tentunya membutuhkan perancangan dan perhitungan yang tepat dan
akurat agar mendapatkan hasil yang sesuai harapan. Perhitungan dan
perancangan merupakan modal dasar dalam melakukan suatu operasi,
diantaranya neraca massa dan neraca panas. Neraca massa merupakan
perhitungan yang menyatakan kesetimbangan antara suatu zat yang akan
diproses dengan zat yang keluar sebagai produk. Sedangkan, neraca panas
merupakan perhitungan yang menyatakan kesetimbangan antara panas
yang masuk ke proses dengan panas yang dihasilkan proses.
Data-data dari perhitungan neraca massa dan neraca panas dapat
dijadikan acuan untuk mendesain suatu alat industri agar sesuai dengan
kebutuhan. Salah satu contohnya adalah perancangan alat separator pada
proses pemisahan di Chevron Indonesia Company. Separator sangat
penting perannya untuk pemisahan fraksi gas,minyak dan air pada minyak
mentah. Maka dari itu, perlu diperhatikan perancangannya sesuai dengan
kebutuhan industri agar dapat menghasilkan minyak mentah yang
maksimal.
Desain yang berlebihan dapat mengakibatkan pengeluaran (initial
cost) separator yang lebih besar. Sedangkan, desain separator yang kurang
mengakibatkan produksi yang tidak optimal. Oleh karena itu, perhitungan
dan perancangan sangatlah penting, agar dalam biaya yang sedikit dapat
menghasilkan keuntungan yang sebesar-besarnya.
4.2. Tujuan
Pelaksanaan tugas khusus ini bertujuan untuk menghitung neraca
massa dan neraca panas total serta perancangan separator.

4.3. Ruang Lingkup


Ruang lingkup dari tugas ini adalah perhitungan neraca massa total dan
perancangan separator yang dilakukan hanya berdasarkan pada data-data yang
diperoleh dari Terminal Lawe-lawe.
4.4. Gambaran Umum Separator
4.4.1. Definisi Separator
Separator adalah tabung bertekanan yang digunakan untuk memisahkan
fluida sumur menjadi air dan gas (tiga fasa) atau cairan dan gas (dua fasa), dimana
pemisahannya dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
a.

Prinsip penurunan tekanan.

b.

Gravity settling

c.

Turbulensi aliran atau perubahan arah aliran

d.

Pemecahan atau tumbukan fluida


Untuk mendapaktkan effisiensi kerja yang stabil dengan kondisi yang

bervariasi, gas liquid separator harus mempunyai komponen pemisah sebagai


berikut :
1.

Bagian pemisah pertama, berfungsi untuk memisahkan cairan dari aliran


fluida yang masuk dengan cepat berupa tetes minyak dengan ukuran besar.

2.

Bagian pengumpul cairan, berfungsi untuk memisahkan tetes cairan kecil


dengan prinsip gravity setlink.

3.

Bagian pemisah kedua, berfungsi untuk memisahkan tetes cairan kecil dengan
prinsip gravity settlink.

4.

Mist extraktor, berfungsi untuk memisahkan tetes cairan berukuran sangat


kecil (kabut).

5.

Peralatan kontrol, berfungsi untuk mengontrol kerja separator terutama pada


kondisi over pressure.

19

4.4.2.

Klasifikasi separator

4.4.2.1.

Menurut tekanan kerja

a. High Pressure (HP) Separator 650-1500 psi


b. Medium Pressure (MP) Separator 225-650 psi
c. Low Pressure (LP) Separator 10-225 psi
4.4.2.2.

Berdasarkan hasil pemisahan

a. Separator dua fasa : memisahkan fluida formasi menjadi fasa cair dan fasa gas
b. Separator tiga fasa : memisahkan fluida formasi menjadi fasa minyak, air dan
gas
4.4.2.3.

Berdasarkan bentuk

a. Separator Vertikal
Vertical Separator vertical 2 fase (2 Phase Vertical Separator) sering
digunakan untuk aliran fluid yang rasio gas terhadap cairannya (gas oil ratio atau
GOR) rendah sampai sedang dan yang diperkirakan akan terjadi cairan yang
datang secara kejutan (slug) yang relatif sering. Gambar di bawah adalah
separator vertikal. Bagian bawah dari bejana biasanya berbentuk cembung,
gunanya untuk menampung pasir dan kotoran padat yang terbawa.
b. Separator Horizontal
Separator horizontal mungkin yang terbaik dan termurah dibandingkan dengan
separator vertical yang kapasitasnya sama. Separator horizontal mempunyai luas
antar permukaan gas dengan cairan lebih besar, terdiri dari banyak sekat-sekat
yang luas sepanjang seksi pemisah gasnya, yang memberikan lebih banyak
kecepatan gasnya.
Separator horizontal hampir selalu digunakan untuk aliran yang mempunyai
rasio gas terhadap cairan (GOR) yang tinggi untuk arus yang berbuih, atau untuk
cairan yang keluar dari separator sebelumnya.
c. Spherical Separator
Jenis ini memiliki kelebihan dalam pressure containment tetapi karena
kapasitas surges terbatas dan mempunyai kesulitan dalam fabrikasi maka
separator jenis ini tidak banyak digunakan di lapangan.

20

4.5. Neraca Massa dan Neraca Panas pada Low Pressure Separator
Perhitungan neraca massa dan neraca panas berdasarkan data rata-rata yang
diambil pada bulan April 2014. Data aliran minyak keluar gross separator dan
high pressure separator dan aliran kondensat yang keluar condensat separator
yang masuk ke heat exchanger sehingga didapat aliran keluar heat exchanger.
Sehingga, data-data yang diperoleh untuk perhitungan neraca massa dan neraca
panas adalah:
1. Laju alir fluida masuk low pressure separator.
2. Laju alir air keluar low pressure separator.
3. Laju alir minyak keluar low pressure separator.
4. Kondisi operasi low pressure separator.
5. BS&W (Basic sediment and water) pada laju alir fluida masuk dan laju alir
minyak keluar low pressure separator.
6. Komposisi minyak (ppm) pada laju alir air keluar low pressure separator.
7. Panas fluida masuk low pressure separator.
Dari data-data di atas dapat dihitung kadar minyak, air, dan sedimen pada
masing-masing aliran.
Output Gas = 3.618,3 bbl/day
Feed = 36.604,69 bbl/day
Gas = 9,89 %
Oil = 18,89 %
Water = 70,2 %
Sedimen = 1 %

Low Pressure Separator

Output Water = 21.022,28 bbl/day


Oil = 0,17 %
Water = 98,7 %
Sedimen = 1 %

Output Oil = 11.962,21 bbl/day


Oil = 57,5 %
Water = 41,5 %
Sedimen = 1 %

Gambar 6. Neraca Massa Total Low Pressure Separator

Minyak yang telah dipanaskan di direct fired crude heater akan masuk ke low
pressure separator. Minyak yang keluar masih mengandung air disebabkan
retention time yang terlalu cepat.
Neraca massa total pada low pressure separator ditunjukkan pada Tabel 1.

21

Tabel 1. Neraca Massa Total Low Pressure Separator

Laju alir
Komponen
Gas
Oil

Input
(bbl/day)
3.618,3
6.914,63

Air

25.703,81

Sedimen

366,05

Total

36.604,69

Output (bbl/day)
Gas
Oil
Air
3.618,3
6.878,27
36,36
20.739,4
4.964,32
9
119,62
246,43
21.022,2
3.618,3 11.962,21
8

Sedangkan, untuk hasil perhitungan neraca panas low pressure separator


ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Neraca Panas Total Low Pressure Separator
Input
Output (BTU/day)
Oil
Air
Gas
(BTU/day)
119.383.554,7
32.024.001,48
70.074.863,1
66.155,82
Total
102.165.020,4
Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa terjadi kehilangan panas sebesar
17.218.534,3 BTU/day. Hal tersebut terjadi karena fluida mengalami kehilangan
panas ke lingkungan saat mengalir di sepanjang pipa menuju low pressure
separator dan di dalam separator tidak terjadi pemanasan. Selain itu, saat
terjadinya pemisahan di dalam low pressure separator, panas fluida akan ikut
terlepas sebagian ke lingkungan karena efisiensi termal low pressure separator
tidak maksimal yaitu sebesar 86 %.

22

4.6 Perancangan Low Pressure Separator

Gambar 7. Separator Tiga Fase

Untuk menghasilkan rancangan unit pemisahan separator. digunakan data


sebagai berikut :
1. Kondisi operasi masing-masing separator (P dan T)
2. Laju alir minyak masuk separator (QLL).
3. Laju alir air masuk masuk separator (QHL).
4. Laju alir gas masuk separator (QV).
5. Densitas gas (g) dan densitas minyak (m).
6. Viskostitas gas (v), viskositas air (HL). dan viskositas minyak (LL).
Prosedur merancang separator horisontal tiga fase :
1. Menghitung Vertical Terminal Vapor Velocity
1 /2


U T =K V

U V =0,75 U VT
2. Menghitung
Hold Up Volume

V H =(T H )(Q
)
3. Menghitung
Surge
Volume
V s=(T s )(Q )
4. Menghitung
Diameter
S
V H +V

1/ 3

4(
)
L
( )(0,6)( )
D

D=

23

5. Menghitung Total Cross-sectional area (At)


2
A t = D Luas Area Vapor (A )
6. Menghitung
V
4
HV = 2 ft
(Monnery and Svrcek, 1994)
Dari Tabel 3, hal 33, Monnery and Svrcek didapat persamaan untuk
menghitung AV/AT :
2

Y =(a+: cX +e X + g X +i X )/( 1,0+bX +d X + f X + hX )


Dimana
y = AV/AT
X = HV/D
a = 4,76E-05

f = 4,018448

b = 3,924091

g = -4,916411

c = 0,174875

h = -1,891705

d = -6,358805

i = -0,145348

e = 5,668973
7. Menghitung Low Liquid Level Height (HLLL)
H LLL =0,5 D+7
8. Menghitung
Area Low Liquid Level (ALLL)
Dari Tabel 3, hal 33, Monnery and Svrcek didapat persamaan untuk
menghitung ALLL/AT :
Y =(a+: cX +e X 2+ g X 3+i X 4 )/( 1,0+bX +d X 2 + f X 3+ hX 4 )
Dimana
y = ALLL/AT
X = HLLL/D
a = 4,76E-05

f = 4,018448

b = 3,924091

g = -4,916411

c = 0,174875

h = -1,891705

d = -6,358805

i = -0,145348

e = 5,668973

24

9. Menghitung Tinggi Weir


H W =DH VPanjang Minimum Light Liquid (Oil) (L2)
10. Menghitung
V H +V S
L2 =
A T AInterface
V A LLL antara oil dan water
11. Menentukan
Hw
Interface=
Maka
didapatkan
2 HLL (oil) dan HHL (air)
12. Menghitung Area Heavy Liquid Level (AHL)
Dari Tabel 3, hal 33, Monnery and Svrcek didapat persamaan untuk
menghitung AHL/AT :
Y =(a+: cX +e X 2+ g X 3+i X 4 )/( 1,0+bX +d X 2 + f X 3+ hX 4 )
Dimana
y = AHL/AT
X = HHL/D
a = 4,76E-05

f = 4,018448

b = 3,924091

g = -4,916411

c = 0,174875

h = -1,891705

d = -6,358805

i = -0,145348

e = 5,668973
13. Menghitung Light Liquid Level Area (ALL)
14. Menghitung Settling Velocity saat Air Berpisah dari Minyak (UHL)
A =A
AVhal
A30HLMonnery and Svrcek didapat harga Ks.
Dari
Tabel
T 1,

K s ( HL )
15. Menghitung Settling Velocity saat Minyak Berpisah dari Air (ULL)

Dari Tabel
1, hal 30 Monnery and Svrcek didapat harga Ks.
U HL=

K s ( HL )
16. Menghitung
HL Settling Time saat Air Berpisah dari Minyak (tHL)
U
12 =
H
t HL =
U HL
17. Menghitung Settling Time saat Minyak Berpisah dari Air (tLL)
t=

12 H HL
U

25

18. Menghitung Panjang Minimum (L1)


t HL Q HL t Q
L
=max
, Shell (L)
1
19. Menghitung Panjang
A
A

HL

)( )

L=L1 + L2 Tebal Shell dan Head


20. Menghitung
Bahan konstruksi yang digunakan adalah SA-167 tipe 309 A, maka tegangan
maksimal yang diijinkan (fall) = 18.750 psia (Brownel and Young, hal 342)
Efsiensi sambungan yang dipakai adalah jenis double welded butt joint,
dengan E = 80 % (Brownell and Young, tabel 13.2, hal 254)
Faktor korosi (C) untuk stainless tell = 0,125 in (Peter, M.S, K.D,
Timmerhaus, Plant Design and Economics for Chemical Engineering ed V)
P =

1 atm digunakan faktor keamanan sebesar 30 % sehingga tekanan

perncangan (P) :
2
69,7 psia
P=1,3 1 atm
=90,61 psia=90,61 lbf
1 atm
(Svrcek and Monnery, hal 58)
0,885 P . D
t head=
+C
f all . E0,1 P
PD
t shell=
+C
2
f
.
E1,2 PLiquid Level (NLL) dan High Liquid Level (HLL)
all Normal
21. Menghitung
A NLL= A LLL +V H /L
Y =(a+: cX +e X 2+ g X 3+i X 4 )/( 1,0+bX +d X 2 + f X 3+ h X 4 )
Dimana
Y = HNLL/D
X =ANLL/AT
a = 1,54E-03

f = -14,844824

b = 26,787101

g = -36,999376

c = 3,299201

h =10,529576

d = -22,923932

i = 9,892851

26

e = 24,353518
Maka HHLL :
H HLL=DH v
22. Menghitung Tinggi Head

Keterangan :
icr : Inside-Corner Radius
sf : straight flange
r : radius of dish
OD : outside diameter
b : depth of dish (inside)
a : inside radius
Ids = diameter dalam shell
IDs
2
ODs=IDs+2 t head
a=

b=r BC 2 AB 2
AB =aicr

BC =r icr

b=r BC 2 AB 2

27

tinggi head=tebalhead +b+ sf


23. Menghitung Panjang Separator
Panjang separator=Panjang shell ( L ) +2(Panjang head )
Panjang separator=57,0888 +2(24,7655)
= 61,2164 ft = 734,5965 in = 18,6588 m

Jadi dari perhitungan diatas didapat :


D = 10,1063 ft = 121,2751 in = 3,0804 m
L = 61,2164 ft = 734,5965 in = 18,6588 m

Sedangkan perancangan aktualnya sebagai berikut :


Diameter

= 84 in

Panjang

= 40 ft

Laju alir fluida masuk = 36.604,69 bbl/day


Retention time

= 4,06 menit

28

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan perhitungan di bab 4, maka diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Jumlah crude oil yang masuk ke low pressure separator adalah 36.604,69
bbl/day, dengan komposisi :
Gas

= 9,89 % = 3.618,3 bbl/day

Oil

= 18,89 % = 6.914,3 bbl/day

Air

= 70,2 % = 25.703,81 bbl/day

Sedimen = 1%

= 366,05 bbl/day

2. Jumlah gas yang keluar dari low pressure seperator adalah 3.618,3 bbl/day.
3. Jumlah crude oil keluar dari low pressure separator adalah 11.962,21
bbl/day, dengan komposisi :
Oil

= 5,75 % = 11.962,21 bbl/day

Air

= 41,5 % = 4.964,32 bbl/day

Sedimen = 1 %

= 119,62 bbl/day

4. Jumlah air keluar dari low pressure separator adalah 21.022,28 bbl/day,
dengan komposisi :
Oil

= 0,173 % = 36,36 bbl/day

Air

= 98,65 % = 11.964 bbl/day

Sedimen = 1 %

= 246,43 bbl/day

5. Panas oil keluar low pressure separator sebesar 32.024.001,48 BTU/day.


6. Panas air keluar low pressure separator sebesar 70.074.863,1 BTU/day.
7. Panas gas keluar low pressure separator sebesar 66.155,82 BTU/day.
8. Panas yang hilang sebesar 17.218.534,3 BTU/day.
9. D = 10,1063 ft = 121,2751 in = 3,0804 m
L = 61,2164 ft = 734,5965 in = 18,6588 m

29

30

Sedangkan perancangan aktualnya sebagai berikut :


Diameter

= 84 in

Panjang

= 40 ft

Laju alir fluida masuk = 36.604,69 bbl/day


Retention time

= 4,06 menit

5.2. Saran

Menambahkan retention time (7,5 - 10 menit untuk API gravity 29,1)


sehingga produk yang dihasilkan semakin bagus kualitasnya karena jika
retention time terlalu lama atau terlalu cepat akan berpengaruh pada
kualitas produk.

Untuk menambah retention time dapat dilakukan dengan mengubah


diameter dan panjang seam-to-seam (L) sesuai yang kesimpulan diatas.

Jika merubah diameter dan panjang seam-to-seam terlalu berat karena


biaya terlalu mahal bisa juga dengan pemberian perlakuan kimia, fisika
ataupun biologi yang dapat mengubah sifat liquid sehingga retention time
bisa berubah.

31

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrohim. 2011. Separator dan Macam-macam Separator. (http://abdulrohimbetawi.blogspot.com, diakses 25 Mei 2014 pukul 13.17 WITA)
Arnold, K. dan Stewart, M. 2008. Surface Production Oil Volume 1 3rd Editon.
Elsevier. USA
Diwasasyri, D. 2004. Analisa dan Optimasi Kondisi Operasi Dehidrasi Gas
Terminal Lawe-lawe. Laporan Kerja Praktek. Departemen Gas dan
Petrokimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Firmanoktah,

Iman.

2011.

Alat

Separasi

Minyak

Bumi.

(http://iman-

firmanoktah.blogspot.com, diakses 25 Mei 2014 pukul 13.17 WITA)


Kern, Donald D. 1965. Process Heat Transfer. McGraw-Hill Book. Singapore
Merry, Y. 2013. Studi Performa Wemco Depurator di Terminal Lawe-lawe.
Laporan Kerja Praktek. Jurusan Teknik Kimia Universitas Indonesia.
Riadi Gilang, dkk. 2012. Pengoptimilisasian Buangan Air pada Gross Separator
Terminal Lawe-lawe. Laporan Kerja Praktek. Jurusan Teknik Fisika UGM.

32

LAMPIRAN

Neraca Massa Low Pressure Separator


Data yang diperoleh :
Laju alir minyak masuk low pressure separator = 36.604,69 bbl/day
Laju alir aliran gas keluar low pressure separator = 3.618 bbl/day
Laju alir aliran minyak keluar low pressure separator = 11.962,21 bbl/day
Laju alir aliran air keluar low pressure separator = 21.022,28 bbl/day

Dilakukan estimasi kandungan dalam masing-masing aliran :


1. Aliran umpan masuk
Komposisi :
Gas

= 9,89 %

Minyak

= 18,89 %

Air

= 70,2 %

Sedimen

= 1%

Gas=9,89 36.604,69

bbl
bbl
=3.618,3
day
day

Air =70,2 36.604,69

bbl
bbl
=25.703,81
day
day

Minyak=18,89 36.604,69
Sedimen=1 36.604,69

bbl
bbl
=6.914,63
day
day

bbl
bbl
=366,05
day
day

2. Aliran air keluar


Komposisi :
Minyak = 0,173 %
Air = 98,65 %
Sedimen = 1,05 %
33

Minyak=0,173 21.022,28
Air =98,65 21.022,28

bbl
bbl
=36,36
day
day

bbl
bbl
=11.964
day
day

Sedimen=1,05 21.022,28

bbl
bbl
=246,43
day
day

2. Aliran minyak keluar


Komposisi :
Minyak

= 57,5 %

Air

= 41,5 %

Sedimen = 1 %
Oil=57,5 11.962,21

bbl
bbl
=6.878,27
day
day

Air =41,5 11.962,21

bbl
bbl
=4.964,32
day
day

Sedimen=1 11.96,21

bbl
bbl
=119,62
day
day

3. Aliran Gas Keluar


Gas = 3.618,3 bbl/day = 21 MSCF

34

Neraca Panas Low Separator


Data yang diketahui :
Panas total minyak masuk low pressure separator (qF)

= 119.383.554,7

BTU/day
Suhu minyak masuk low pressure separator (TF)

= 117 F

Suhu minyak keluar low pressure separator (Tm)

= 106 F

Suhu air kelur low pressure separator (Tw)

= 102 F

Suhu gas keluar low pressure separator (Tg)

= 102 F

Panas jenis minyak keluar low pressure separator (Cpm) = 0,45 BTU/lbF
Panas jenis air keluar low pressure separator (Cpw)

= 1,1 BTU/lbF

Panas jenis gas keluar low pressure separator (Cpg)

= 0,38 BTU/lbF

Densitas minyak keluar low pressure separator (m)

= 54,9 lb/ft3

Densitas air keluar low pressure separator (w)

= 63,03 lb/ft3

Densitas gas keluar low pressure separator (g)

= 0,779 lb/ft3

Laju alir minyak keluar low pressure separator (L)

= 20.986,9 bbl/day

Laju alir air keluar low pressure separator (K)

= 12.000 bbl/day

Laju alir gas keluar low pressure separator (M)

= 3.618,3 bbl/day

Dilakukan estimasi perhitungan laju alir panas di setiap aliran


1. Panas minyak keluar low pressure separator (qm)
q m=L m Cp m ( T F T m )
3

20.986,9

bbl
lb
BTU
ft
54,9 3 0,45
(117106) 5,615
day
lb
bbl
ft

32.024 .001,48

bbl
day

35

2. Panas air keluar low pressure separator (qw)


q w =K w Cp w ( T F T w )
12.000

bbl
lb
BTU
ft 3
63,03 3 1,1
(117102) 5,615
day
lb
bbl
ft

70.074 .863,1

bbl
day

3. Panas gas keluar low pressure separator (qg)


q g=M g Cpg ( T F T g )
3618,3

bbl
lb
BTU
ft 3
0,779 3 0,38
(117102) 5,615
day
lb
bbl
ft

66.155,82

bbl
day

4. Efisiensi thermal
q +q +q
= m w g x 100
qF

( 32.024 .001,48+70.074 .863,1+66.155,82 )


=

BTU
119.383 .554,7
day

BTU
day

x 100

86

36

Perhitungan Desain Low Pressure Separator


Data yang diperoleh :
Laju alir gas masuk (QV)

= 3.618,3 bbl/day = 0,7950 ft3/s

Laju alir light liquid (minyak) masuk (QLL)

= 6.914,63 bbl/day = 91,1577


ft3/menit = 1,5193 ft3/s

Laju alir heavy liquid (air) masuk (QHL)

= 26.069,86 bbl/day = 343,6869


ft3/menit = 5,7281 ft3/s

Tekanan (P)

= 55 psig

Temperatur (T)

= 150 F

Densitas gas (g)

= 0,213 lb/ft3

Densitas minyak (m)

= 54,9 lb/ft3

Densitas air (w)

= 63,03 lb/ft3

Viskositas gas (G)

= 0,013 cp

Viskositas minyak (m)

= 3,789 cp

1. Menghitung Vertical Terminal Vapor Velocity


V 1 /2
U
=K
Dari TTabel 2. hal 32, Monnery and Svrcek didapat persamaan untuk
V
menghitung K :

K=0,430,023 ln ( P)
K=0,430,023 ln ( 69,7 ) =0,3324
Maka :

U T =0,3324

54,90,213
0,213

1 /2

37

= 5,3259 ft/s
U V =0,75 U T
= 3,9944 ft/s

2. Menghitung Hold Up Volume


Dari Tabel 6, hal 34, Monnery and Svrcek didapatkan hold up time (TH) = 5
menit.
V H =(T H )(Q )
V=H =(5
menit)(91,15767
ft 3 /menit)
455,7883
ft3
3. Menghitung Surge Volume
Dari Tabel 6, hal 34, Monnery and Svrcek didapatkan surge time (TS) = 3
menit.
V s=(T s )(Q )
V=s=(3
menit)(91,15767
ft 3 /menit)
273,4730
ft3
4. Menghitung Diameter
Dari Tabel 7, hal 35, Monnery and Svrcek didapatkan rasio L/D = 1,5
S
V H +V

1/ 3

4455,7883+273,4730)
(
)
L )
( )(0,6)(
1 /3
)( 0,6)(1,5)
)
=4((
10,1063
ftD= 121,2751
in = 3,0804 m

5. Menghitung
Total Cross-sectional area (At)
D=
D=

At= D2
4

2
A=t =80,1771
(10,1063)
ft2
4
38

6. Menghitung Luas Area Vapor (AV)


HV = 2 ft
(Monnery and Svrcek, 1994)
Dari Tabel 3, hal 33, Monnery and Svrcek didapat persamaan untuk
menghitung AV/AT :
Y =(a+: cX +e X 2+ g X 3+i X 4 )/( 1,0+bX +d X 2 + f X 3+ hX 4 )
Dimana
y = AV/AT
X = HV/D
a = 4,76E-05
b = 3,924091
c = 0,174875
d = -6,358805
e = 5,668973
f = 4,018448
g = -4,916411
h = -1,891705
i = -0,145348
HV
=0,1979
D
Sehingga didapat :
AV
=0,1403
AT
A V =A T 0,1403
A V =( 80,1771 ft 2 ) ( 0,1403 )
A v =11,2524 ft 2
7. Menghitung Low Liquid Level Height (HLLL)
H LLL =0,5 D+7
H LLL =0,5 ( 10,1063)+7
39

= 12,0531 in = 0,3062 m
8. Menghitung Area Low Liquid Level (ALLL)
Dari Tabel 3, hal 33, Monnery and Svrcek didapat persamaan untuk
menghitung ALLL/AT :
Y =(a+: cX +e X 2+ g X 3+i X 4 )/( 1,0+bX +d X 2 + f X 3+ hX 4 )
Dimana
y = ALLL/AT
X = HLLL/D
a = 4,76E-05
b = 3,924091
c = 0,174875
d = -6,358805
e = 5,668973
f = 4,018448
g = -4,916411
h = -1,891705
i = -0,145348
H LLL
=0,1979
D
Sehingga didapat :
A LLL
=0,0515
AT
A LLL= AT ( 0,0515 )
A LLL=( 80,1771 ft 2 ) ( 0,0515 )
A LLL=4,1315 ft 2
9. Menghitung Tinggi Weir
H W =DH V
H W==10,10632
8,1063 ft
10. Menghitung Panjang Minimum Light Liquid (Oil) (L2)
L2 =

V H +V S
A T A V A LLL

40

455,7883+273,4730
80,177111,42404,1315
= 11,2552 ft = 135,0625 in = 3,4306 m

L2 =

11. Menentukan Interface antara oil dan water


Hw
2
8,0850
Interface=
2 ft
= 4,0531
Maka :
Interface=

HLL (oil) = 4,0531 ft = 1,2354 m


HHL (air) = 4,0531 ft = 1,2354 m
12. Menghitung Area Heavy Liquid Level (AHL)
Dari Tabel 3, hal 33, Monnery and Svrcek didapat persamaan untuk
menghitung AHL/AT :
Y =(a+: cX +e X 2+ g X 3+i X 4 )/( 1,0+bX +d X 2 + f X 3+ hX 4 )
Dimana
y = AHL/AT
X = HHL/D
a = 4,76E-05
b = 3,924091
c = 0,174875
d = -6,358805
e = 5,668973
f = 4,018448
g = -4,916411
h = -1,891705
i = -0,145348
H HL
=0,4011
D

41

Sehingga didapat :
A HL
=0,3753
AT
A H L =A T ( 0,3753 )
A H L =( 80,1771 ft 2 ) ( 0,3753 )
A H L =30,0945 ft 2
13. Menghitung Light Liquid Level Area (ALL)
A =A T AV A HL
A ==80,177111,424029,9888
38,8303 ft2

14. Menghitung Settling Velocity saat Air Berpisah dari Minyak (UHL)
Dari Tabel 1, hal 30 Monnery and Svrcek didapat Ks = 0,163

K s ( HL )
0,163(63,0354,9)

U HL=
=0,4512
Digunakan
UHL = 610 min/in (Monnerymin
and Svrcek, 1994)
U HL=
15. Menghitung Settling Velocity saat Minyak Berpisah dari Air (ULL)
Dari Tabel 1, hal 30 Monnery and Svrcek didapat Ks = 0,163

K s ( HL )
0,163(63,0354,9)

U = HL
=6,768
Digunakan
U
=
10
min/in
(Monnery
HL
0,4
minand Svrcek, 1994)
U =
16. Menghitung Settling Time saat Air Berpisah dari Minyak (tHL)
12 H
U HL
12( 4,0425)
t HL =
= 4,8638
10menit
17. Menghitung Settling Time saat Minyak Berpisah dari Air (tLL)
t HL =

12 H HL
U
12(4,0425)
t=
= 4,8638
10 menit
t=

42

18. Menghitung Panjang Minimum (L1)


t HL Q HL t Q
,
A HL
A
t Q HL (4,8510)(3 43 ,6869)
=
=55,5454 ft
A HL 29,9888
t HL Q (4,8510)(91,15767)
= 55,5454 ft
=11,4181 ft
Dipilih
A L1 =
38,7643
L1=max

)( )

19. Menghitung Panjang Shell (L)


L=L
1 + L2 ft = 685,0655 in = 17,4007 m
L=
57,0888
20. Menghitung Tebal Shell dan Head
Bahan konstruksi yang digunakan adalah SA-167 tipe 309 A, maka tegangan
maksimal yang diijinkan (fall) = 18.750 psia (Brownel and Young, hal 342)
Efsiensi sambungan yang dipakai adalah jenis double welded butt joint,
dengan E = 80 % (Brownell and Young, tabel 13.2, hal 254)
Faktor korosi (C) untuk stainless tell = 0,125 in (Peter, M.S, K.D,
Timmerhaus, Plant Design and Economics for Chemical Engineering ed V)
P =

1 atm digunakan faktor keamanan sebesar 30 % sehingga tekanan

perncangan (P) :
2
69,7 psia
P=1,3 1 atm
=90,61 psia=90,61 lbf
1 atm
(Svrcek W.Y and W.D Monnery, hal 58)
0,885 P . D
t head=
+C
f all . E0,1 P

+ 0,125=0,7737
(18750 psia 0,8)(0,1 90,61 psia)
t =
Distandarkan dengan tebal standar = 1 in head
0,885 90,61 psia123,2751

t shell=

PD
+C
2 f all . E1,2 P

+0,125=0,4926
( 2 18750 psia 0,8)(1,2 90,61 psia)
t =
Distandarkan dengan tebal standar = 1 in shell
90,61 psia 123,2751

43

21. Menghitung Normal Liquid Level (NLL) dan High Liquid Level (HLL)
A NLL= A LLL +V H /L
A NLL=4,2169+ 27,2603/0,6457
A NLL=46,4381 ft 2 =4.3142 m2
ANLL/AT = 0,5588
Y =(a+ cX +e X 2+ g X 3+i X 4 )/( 1,0+bX +d X 2 + f X 3+ h X 4 )
Dimana :
Y = HNLL/D
X =ANLL/AT
a = 1,54E-03
b = 26,787101
c = 3,299201
d = -22,923932
e = 24,353518
f = -14,844824
g = -36,999376
h =10,529576
i = 9,892851
HNLL/D = 0,2085
H NLL =D(0,2085)
H NLL =(10,1063)(0,2085)
H NLL =2,1068 ft=0,6422m
Maka HHLL :
H HLL=DH v
H HLL==10,10632
8,1063 ft = 2,4708 m
44

22. Menghitung Tinggi Head

Keterangan :
icr : Inside-Corner Radius
sf : straight flange
r : radius of dish
OD : outside diameter
b : depth of dish (inside)
a : inside radius
Ids = diameter dalam shell
121,2751
IDs
a=
=60,6375
2
2
ODs=IDs+2 t head
a=

121,2751+2 ( 1 ) 123,28
Dari Tabel 5.7 Brownlell and Young, 1959, hal 91 untuk OD distandarkan
126 in, dengan tebal 1 in diperoleh icr = 7,375 in dan r = 120 in.
b=r BC 2 AB 2
AB =aicr
60,63757,375 53,2625
BC =r icr
45

1207,375 112,625

b=r BC 2 AB 2
b=120 112,6252 53,26252=20,7655

Dari Tabel 5.6 Brownell and Young Hal 88 :


Tebal head = 1 in
sf = 3 in
tinggi head=tebalhead +b+ sf
tinggi head=1+ 20,7655+ 3=24,7655 0,6290 m
23. Menghitung Panjang Separator
Panjang separator=Panjang shell ( L ) +2(Panjang head )
Panjang separator=57,0888 +2(24,7655)
= 61,2164 ft = 734,5965 in = 18,6588 m

Sedangkan perhitungan aktual low pressure separator :


Diameter

= 84 in = 2,1336 m

Panjang

= 40 ft = 480 in = 12,192 m

Laju alir liquid masuk

= 36.604,69 bbl/day

Didapat retention time

12
1 ft
84

2
( 40 ft )

12
1 ft
84

2 ( 40 ft )

= 4,06 menit

46

47