Anda di halaman 1dari 9

Metode Kerja Grouting Test

GROUTING TEST DI LAPANGAN TITAB DAM


I. GROUTING TEST
1.1.

UMUM

Sesuai dengan salah satu syarat dalam perencanaan pembangunan sebuah Bendungan
maka angka permeabilitas (k) atau nilai Lugeon menjadi acuan dalam menentukan
kelayakannya. Dalam Buku Pedoman Grouting Untuk Bendungan disebutkan bahwa angka
permeabilitas (k) adalah k n x 10

cm/detik sedangkan nilai Lugeon untuk Bendungan

berkisar antara 1 s/d 5. Dalam menentukan perencanaan pola grouting maka harus
diperoleh terlebih dahulu data dari hasil grouting test. Dalam pelaksanaan grouting test akan
diperoleh
-

data

data

antara

lain

Spasi lubang grouting yang efektif

Kedalaman lubang grouting yang efektif


Kuantitas (volume) bahan grout
Tekanan grouting yang sesuai
Campuran grouting yang sesuai
Koefisien permeabilitas (k) , harga Lugeon
Efektifitas grouting
1.2. LOKASI
Lokasi pekerjaan grouting test terletak di desa Titab, kecamatan Busungbiu, Kabupaten
Buleleng. Sedangkan pelaksanaan pekerjaan grouting test akan dilaksanakan pada
sandaran kanan, sandaran kiri dan dasar sungai (river bed). Selain dari itu jumlah titik
grouting test perlu ditambah beberapa tempat bilamana dijumpai adanya perbedaan formasi
geologi. Jenis batuan yang akan di grouting adalah type Volcanic classic rock .

gambar 1. Pola grouting test.

Selanjutnya pemboran dilakukan pada lubang bor BH-2 dan lubang bor BH-3. Pada lubang BH-2
dan BH-3 tidak diambil core dan urut urutan sama dengan lubang pertama yaitu bor - test
air bertekanan (WPT) dan grouting.. Dengan adanya hal tersebut nantinya akan didapat
besarnya koefisien permeabilitas (k) dan nilai Lugeon dari tiap stage lubang bor dan
besarnya penyerapan semen.

Jika grouting telah selesai maka lubang grout ditutup dengan mortar campuran pasir : semen 2 :
1.

Dengan selesainya pemboran pada 3 lubang tersebut maka selanjutnya ditengah-tengah


segitiga sama sisi tersebut dilakukan pemboran CH-1 (Check Holes) dengan kedalaman
sama dengan ke tiga lubang grouting atau lebih dalam 5 meter,dan pemboran lubang
tersebut

juga

diambil

contoh

batuannya

(Core)

,kemudian

dilihat

penyebaran

semennya,dilakukan test air untuk mengetahui koefisien permeabilitas dari batuan


setempat.

Apabila hasil test air mendapatkan k < n x 10

cm/detik ,berarti pola grouting dengan jarak

lubang tersebut sudah cukup. Akan tetapi jika didapat k > n x 10


cm

3 cm

/detik atau k > n x 10

/detik , maka pola grouting dengan jarak lubang harus diperkecil dengan membagi segitiga

sama sisi tadi menjadi dua ,sehingga membentuk segitiga sama sisi baru yang lebih kecil
.Hal ini mengindikasikan bahwa grouting dengan jarak 3,00m tidak efektif.

Dikarenakan hasil test grouting tidak efektif maka jarak lubang bor diperkecil menjadi 1,50 m dan
selanjutnya dilakukan pemboran - tes air bertekanan (WPT) dan kemudian dilakukan
grouting .

Pemboran lubang grouting dilanjutkan lagi mulai dari titik BH-4 dan urut urutannya sebagai
berikut : bor stage pertama test air bertekanan grouting redrilling bor stage kedua
test air bertekanan - grouting dan seterusnya hingga kedalaman yang ditentukan (down
stage grouting method). Setelah mencapai kedalaman yang ditentukan dan grouting selesai
dilakukan pada titik BH-4 dan BH-5, maka ditengah-tengah segitiga tersebut dibuat lubang
bor CH-2 dengan kedalaman yang sama atau lebih dalam sedikit. Kemudian pada lubang
tersebut dilakukan pemboran - tes air bertekanan dan grouting sampai kedalaman yang
ditentukan. .

Apabila hasil test air yang kedua ini menunjukkan k < n x 10

cm/detik ,berarti pola grouting

dengan jarak lubang yang ditest tersebut sudah cukup. Demikian pula jika didapat k > n x 10

5 cm

/detik , maka pola grouting dengan jarak lubang diperkecil lagi atau campuran dibuat

lebih kental atau jika perlu ditambah dengan bahan kimia (lihat gambar) .

Pada pelaksanaan grouting harus dikerjakan dengan teliti dan diawasi betul sampai
mendapatkan nilai koefisien permeabilitas (k) < n x 10 5 cm/detik . Dari hasil test grout
tersebut maka jarak lubang terakhir yang digunakan sebagai jarak dalam pelaksanaan
grouting (pola grouting).

II. Peralatan
Daftar peralatan grouting pada pelaksanaan proyek Pembangunan Waduk Titab antara lain :

Tabel 1. Daftar Peralatan Drilling Grouting

Foto 1. Peralatan Grouting dan unitnya

Foto 2. Kegiatan Drilling Grouting

III. PELAKSANAAN PEKERJAAN GROUTING TEST


3.1

Tahapan Pekerjaan
Dalam pelaksanaan grouting test di Proyek Pembangunan Waduk Titab dilakukan beberapa
tahapan, yaitu:

Tahap Persiapan

Tahap Pelaksanaan Pekerjaan Utama

Pelaporan
3.1.1. Tahap Persiapan
Untuk melaksanakan pekerjaan grouting perlu dipersiapkan perlengkapan dan peralatan
yang memadai agar nantinya dalam pelaksanaannya mendapatkan hasil yang diharapkan.
Pekerjaan persiapan ini meliputi pekerjaan pembuatan gudang peralatan, pembuatan
andang (platform) untuk dudukan Mixer, dudukan mesin bor dan gudang semen. Konstruksi
ini dibuat dari balok kayu maupun bambu yang dibuat sedemikian rupa sehingga mampu
menahan beban operasional diatasnya. Untuk gudang semen dilapangan diatasnya perlu
ditutup dengan terpal agar material terhindar dari hujan.
3.1.2. Pekerjaan Utama
Pekerjaan utama dalam pelaksanaan grouting adalah pemboran lubang grout, pencucian
lubang grout, pemasangan packer, Injeksi semen, penutupan lubang grout dan pembersihan
kembali lokasi kerja.
3.1.3. Pelaporan
Laporan harian kegiatan drilling grouting dibuat setiap hari dan diketahui oleh Konsultan
Pengawas dan Direksi Lapangan. Sedang Laporan Akhir pelaksanaan pekerjaan grouting
dibuat setelah seluruh pekerjaan lapangan selesai. Laporan tersebut merupakan gambaran
pelaksanaan yang disampaikan secara jelas dan rinci.

3.2

Metode Injeksi
Metode pelaksanaan grouting test pada Proyek Pembangunan Waduk Titab dilakukan
dengan dua cara yaitu dengan metode Up Stage grouting dan Down Stage grouting.
Bilamana lapisan batuan tidak terjadi runtuhan pada waktu pemborannya maka cara
Upstage grouting yang dipakai, yaitu pelaksanaan grouting dimulai dari bawah keatas.
Bilamana pada waktu pemboran terjadi runtuhan maka metode Downstage grouting yang
dipakai, yaitu pemboran dilakukan sampai kedalaman 3,00m terus dilakukan grouting.
Setelah pasta semen injeksi mengeras selama 6 jam, maka dilakukan redrilling (bor ulang)

dan seterusnya hingga sampai kedalaman bor yang ditentukan. Selain dari itu dipakai
metode Manset dengan cara pemasangan pipa pvc 1 yang telah dilubangi (perforated)
dan dipasang pada stage kedalaman yang ditentukan.

3.3

Prosedur Pelaksanaan
Prosedur pelaksanaan grouting test ada beberapa metode antara lain :
-

Metode Upstage grouting

Metode Down Stage grouting

Metode Pemasangan pipa pvc (perforated) atau Manset.

3.3.1. Metode Upstage grouting


Dilakukan dengan urut urutan sebagai berikut :
-

Pemboran dilakukan sampai kedalaman yang ditentukan

Flushing (pencucian lubang bor)

Pemasangan packer (Air packer ataupun Mechanic packer)

Injeksi semen

Pemasangan kembali packer pada kedalaman diatasnya

Injeksi semen tahap selanjutnya

Penutupan lubang grout dengan mortar


3.3.2. Metode Downstage grouting
Dilakukan dengan urutan sebagai berikut :
-

Pemboran dilakukan sampai kedalaman stage paling atas

Flushing (pencucian lubang bor)

Pemasangan packer (Air packer ataupun Mechanic packer)

Injeksi semen

Pemasangan kembali packer pada kedalaman diatasnya

Injeksi semen tahap selanjutnya

Penutupan lubang grout dengan mortar

3.3.3. Metode Manset


Dengan cara pemasangan pipa pvc urut urutannya sebagai berikut :
-

Pemboran dilakukan sampai kedalaman yang ditentukan

Diikuti dengan pemasangan pipa pelindung (casing)

Flushing (pencucian lubang bor)

Pemasangan pipa pvc sebanyak 3 stage

Pencabutan pipa casing (pipa pelindung)

Pengecoran grout cap

Proses pengeringan grout cap 8 jam

Injeksi semen tahap demi tahap sampai jenuh

Selesai

3.3.4. Pemboran Lubang Grouting


Pelaksanaan pekerjaan pemboran dilakukan dengan mata bor diameter 56mm, 66mm
ataupun dengan 76mm. Core barrel yang dipakai type Single Tube Core Barrel (STCB)
dan Triple Tube Core Barrel. Pemboran dilaksanakan memakai mesin bor Jenis Rotary
dengan system hidrolis.
3.3.5. Pemasangan Packer
Pemasangan packer dilakukan dengan 3 cara :
-

Metode Upstage grouting

Metode Down Stage grouting

Metode Pemasangan pipa pvc (perforated) atau Manset.

Bilamana rangkaian dari metode grouting tersebut telah selesai maka pelaksanaan grouting
sudah bisa dilaksanakan sesuai spesifikasi.
3.3.6.

Pekerjaan Injeksi (Grouting)

Sesuai dengan spesifikasi dan arahan dari Direksi dan Konsultan Supervisi maka campuran
awal dimulai dengan perbandingan W:C ratio 6:1. Perubahan campuran berikutnya
dilakukan bilamana pemasukan semen mencapai 600 liter per 15 menit maka campuran
dikentalkan diubah menjadi W:C ratio 4:1, 2:1, 1:1 dan campuran tersebut dipertahankan
sampai mencapai 2000 liter. Hal ini dilakukan mengingat lapisan batuan yang sangat tinggi
porositasnya, bilamana telah mencapai volume tersebut injeksi semen belum jenuh, maka
grouting dihentikan dan dilanjutkan kembali setelah 6 jam atau menurut petunjuk dan arahan
direksi. Pemakaian campuran dan perubahannya dapat disusun seperti terlihat pada table 2
berikut ini.

Tabel 2. Pemakaian Campuran dan Perubahannya

Tekanan maksimum injeksi yang dilakukan di Proyek Pembangunan Waduk Titab adalah
sebagai berikut :

Tabel 3. Tekanan Maksimum Injeksi

3.3.7.

Penutup Lubang grouting

Pekerjaan penutupan lubang grouting dilakukan setelah semua rangkaian pelaksanaan


pekerjaan grouting selesai. Penutupan lubang grouting memakai mortar dengan campuran
semen dan pasir = 1 : 2.