Anda di halaman 1dari 21

ANTI INFLAMASI

TUJUAN

- Mengenal cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek anti


inflamasi suatu obat
- Memahami mekanisme kerja obat anti inflamasi
LANDASAN TEORI
Obat analgesik antipiretik serta obat anti inflamasi nonsteorid merupakan
sustu kelompok obat yang heterogen, bahkan beberapa obat sangat berbeda secara
kimia. Walaupun demikian obat-obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam
efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golongan ini adalah aspirin, karena
itu obat golongan ini sering disebut juga sebagai obat mirip aspirin (aspirin like
drugs).
Kemampuan penelitian dalam dasawarsa terakhir ini memberi penjelasan
mengapa kelompok heterogen tersebut memiliki kesempatan efek terapi dan efek
samping. Ternyata sebagian besar efek terapi dan efek sampingnya berdasarkan atas
penghambatan 6 biosintesisprostaglandin (PG). Akan diuraikan dahulu mekanisme
dan sifat dasar obat mirip aspirin sebelum membahas masing-masing sub golongan.
Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari obat anti inflamasi ini telah disebutkan di atas bahwa
efek terapi maupun efek samping obat-pbat ini sebagian besar tergantung dari
penghambatan biosintesis PG. Mekanisme kerja yang berhubungan dengan sistem
biosintesis PG ini mulai dilaporkan pada tahun 1971 oleh Vane dan kawan-kawan
yang memperlihatkan secara in vitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometasin
menghambat produksi enzimatik PG. Penelitian lanjutan telah membuktikan bahwa
PG akan dilepaskan bilamana sel mengalami keruskan.

Walaupun in vitro obat AINS diketahui menghambat berbagai reaksi


biokomiawi, hubungan dengan efek analgesik, antipiretik dan anti inflamasinya
belum jelas. Selain itu obat AINS secara umum tidak menghambat berbagai reaksi
biokimiawi, hubungan dengan efek analgesik, anti piretik dan anti inflamasinya
belum jelas. Selain itu obat AINS secara umum tidak menghambat biosintesis
leukotrien, yang diketahui ikut berperan dalam inflamasi.
Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi
asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase
dengan cara yang berbeda. Khusus parasetamol, hambatan biosintesis PG hanya
terjadi bila lingkungannya rendah kadar peroksid seperti di hipotalamus. Lokasi
inflamasi biasanya mengandung banyak peroksid yang dihasilkan oleh leukosit. Ini
menjelaskan mengapa efek anti inflamasi parasetamol praktis tidak ada. Aspiin
sendiri menghambat dengan mengasetilasi gugus akatif serin dari enzim ini. Dan
trombosit sangat rentan terhadap penghambatan ini karena sel ini tidak mampu
mengadakan regenerasi enzimnya. Sehingga dosis tunggal aspirin 40 mg sehari telah
cukup untuk menghambat siklo oksigenase trombosit manusia selama masa hidup
trombosit yaitu 8-11 hari.
Inflamasi sampai sekarang fenomena inflamasi pada tingkat bioseluler masih
belum dapat dijelaskan secara rinci. Walaupun demikian banyak hal yang telah
diketahui dan disepakati. Fenomena inflamasi ini meliputi kerusakan likrovaskuler,
meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala
proses inflamasi yang sudah dikenal adalah kalor, rubor, tumor, dolor dan functio
laesa. Selama berlangsungnya fenomena inflamasi banyak mediatpr kimiawi yang
dilepaskan secara local antara lain histamin, 5-hidroksitriptamin (5HT), factor
kemotaktik, bradikinin, leukotrien dan PG. Peneitian terakhir menunjukkan autakoid
lipid PAF juga merupakan mediator inflamasi. Dengan migrasi sel fahosit ke daerah
ini, terjadi lisis membran lisozim dan lepasnya enzim pemecah. Obat mirip aspiri
dapat dikatakan tidak berefek terhadap mediator-mediator kimiawi tersebut kecuali
PG.

Secara in vitro terbukti bahwa prostaglandin E2 (PGE2) dan prostasiklin


(PGI2) dalam jumlah nanogram, menimbulkan eritem, vasodilatasi dan peningkatan
aliran darah local. Histamin dan bradikinin dapat meningkatkan permeabilitas
vascular, tetapi efek vasodilatasinya tidak besar. Dengan penambahan sedikit PG,
efek eksudasi histamin plasma dan bradikinin menjadi lebih jelas. Migrasi leukosit ke
jaringan radang merupakan aspek penting dalam proses inflamasi. PG sendiri tidak
bersifat kemotaktik, tetapi produk lain dari asam arakidonat yakni leukotrien B4
merupakan zat kemotaktik yang sangat poten.
Rasa nyeri PG hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerudakan
jaringan atau inflamasi. Penelitin telah membuktikan bahwa PG menyebabkan
sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. Jadi PG
meni,bulkan keadaan hiperalgesia kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan
histamin merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata.
Obat mirip aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang
ditimbulkan oleh efek langsung PG. Ini menunjukkan bahwa sintesis PG yang
dihambat oleh golongan obat ini dan bukannya blokade langsung.
Demam, suhu badan diatur oleh keseimbangan antara produksi dan hilangnya
panas. Alat pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus. Pada keadaan emam
keseimbangan ini terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat mirip
aspirin. Ada bukti bahwa peningkatan suhu tubuh pada keadaan patologik diawali
penglepasan suatu zat pirogen endogen atau sitokin seperti interleukin-1 (IL-1) yang
memacu penglepasan PG yang berlebihan di daerah preoptik hipotalamus. Selain itu
PGE2 terbukti menimbulkan demam setelah diinfuskan ke ventrikel serebral atau
disuntikkan ke daerah hipotalamus. Obat mirip aspirin menekan efek zat pirogen
endogen dengan menghambat sintesis PG. Tetapi demam yang timbul akibat
pemberian PG tidak dipengaruhi, demiian pula peningkatan suhu oleh sebab lain
seperti latihan fisik.

Efek Farmakodinamik
Semua obat mirip aspirin bersifat antipiretik, anlagesik dan antiinflamasi. Ada
perbedaaan

aktivitas

di

antara

obat-obat

tersebut

misalnya

parasetamol

(asetaminofen) bersifat antipiretik dan analgesik tetapi sifat anti inflamasinya lemah
sekali.
Efek analgesik, sebagai analgesik obat mirip aspirin hanya efektif terhadap
nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia,
artralgia dan nyeri lain yang berasal dari integumen, juga efektif terhadap nyeri yang
berkaitan dengan inflamasi. Efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek
analgesik opiat. Tetapi berbeda dengan opiat, obat mirip aspirin tidak menimbulkan
ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang merugikan. Obat mirip
aspirin hanya mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri, tidak mempengaruhi
sensorik lain. Nyeri akibat terpotongnya saraf aferen, tidak teratasi dengan obat mirip
aspirin. Sebaliknya nyeri kronis pasca bedah dapat diatasi oleh obat mirip aspirin.
Efek antipiretik, sebagai antipiretik obat mirip aspirin akan menurunkan suhu
badan hanya pada keadaan demam. Walaupun demikian kebanyakan obat ini
memperlihatkan efek antipiretik in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik
ksrena bersifat toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama. Fenilbutazon dan
antireumatik lainnya tidak dibenarkan digunakan sebagai antipiretik
Efek anti inflamasi kebanyakan obat mirip aspirin terutama yang baru lebih
dimanfaatkan sebagai anti inflamasi pada pengobatan kelainan muskuloskeletal,
seperti arthritis rheumatoid, osteoartritis dan spondilitis ankilosa. Tetapi harus diingat
bahwa obat mirip aspirin hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang
berkaitan dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki
atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan muskulosketal ini.
Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau
tukak peptic yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran
cerna. Beratnya efek samping ini berbeda pada masing-masing obat, dua mekanisme
terjadinya iritasi lambung adalah iritasi yang bersifat local yang menimbulkan difusi

kembali asam lambung ke mukosa dan menyebabkan kerusakan jaringan atau


perdarahan lambung yang bersifat sistemik melalui hambatan biosintesis PGE2 dan
PGI2. kedua PG ini banyak ditemukan di mukosa lambung dengan fungsi
menghambat sekresi asam lambung dan merangsang sekresi mucus usus halus yang
bersifat sitoprotektif. Mekanisme kedua ini terjadi pada pemberian parenteral.
Inflamasi diidetifikasikan sebagai suatu reaksi lokal organisme terhadap suatu iritasi
atau keadaan non fisiologik.
Secara skematis dibedakan 4 fase gejala-gejala inflamasi :
1.

Eritem : vasodilatasi pembuluh darah menyebabkan tertahannya darah oleh


perubahan permeabilitas pembuluh sehingga plasma dapat keluar dari dinding
pembuluh.

2.

Ekstravasasi : keluarnya plasma melalui dinding pembuluh darah dan


menyebabkan udem.

3.

Suppurasi dan nekrosis : pembentukan nanah dan kematian jaringan yang


disebabkan oleh penimbunan lekosit-lekosit di daerah inflasi.

4.

Degenerasi jaringan : tidak terdapat pembentukan sel-sel baru untuk


pembentukan pembuluh darah dan makin bertambahnya serat-serat kolagen
yang tidak berfungsi.
Masing-masing tahap diatas dipengaruhi oleh faktor-faktor humoral seperti

histamin, serotonin, bradikinin dan prostaglandin. Kebanyakan dari gejala tersebut di


atas telah dijadikan sebagai dasar berbagai metode percobaan untuk mengevaluasi
obat-obat antiinflamasi. Gejala eritem dapat diuji pada marmot yang disinari
ultraviolet: pembentukan udem dapat dilakukan pada kaki tikus dengan penyuntikan
seperti karegen, kaolin, serotonin, dekstran dll.
Inflamasi
Inflamasi, dalam bahasa Indonesia sehari-hari, yaitu radang. Kita sering
mendengar misalnya, radang usus, radang otak, radang paru-paru, peradangan,

bengkak memar dan seterusnya. Penggunaan istilah ini telah dikenal secara tradisi
sejak jaman Yunani dan Tiongkok kuno, ribuan tahun yang lalu. Dari penemuanpenemuan terakhir, para pakar berpendapat bahwa, sebetulnya inflamasi (atau
radang) bukanlah berupa penyakit itu sendiri. Inflamasi diperlukan oleh tubuh
kita, karena proses reaksi biokimia inflamasi di dalam tubuh ditujukan melawan
invasi bakteri dari luar, zat-zat yang negatif bagi sel-sel, jaringan sel, serta organorgan, ataupun bila terjadi luka. Dalam hubungan ini, jenis sel seperti leukocyte,
neutrophil, berperan memusnahkan invasor. Dapat kita gambarkan fungsinya
seperti pasukan keamanan dari sesuatu bahaya yang menyerang keseimbangan
tubuh. Terutama neutrophil, berperan sebagai patrol keamanan tubuh kita, begitu
menemukan sesuatu yang asing ditubuh, serta merta akan memusnahkannya.
Dalam proses inflamasi, chemical mediator (juga disebut lipd mediator karena
berasal dari asam lemak AA, DHA dan EPA) berupa leukotriene dan
prostaglandins, turunan dari AA, memegang peranan penting. Pada waktu yang
bersamaan, proses pemusnahan awal terhadap invasor, neutrophil mengeluarkan
chemical mediator yang mana memberikan sinyal berikutnya merekrut lebih
banyak lagi sel neutrophil dan leukocyte untuk turut beraksi memusnahkan
invasor. Proses pemusnahan ini disebut phagocytosis (kemampuan memakan,
menelan). Dalam proses ini neutrophil mengeluarkan agent, enzyme (reactive
oxygen species, hydrolytic enzymes, dan lain-lain), yang secara umum juga tidak
baik bagi tubuh dan dapat merusak sel, jaringan sel. Pertahanan tubuh telah
menyiapkan mekanisme sedemikian rupa, pada tahap tertentu, aksi selanjutnya
dari neutrophil harus dicegah. Pencegahan tersebut terjadi di mana biosintesa
chemical mediator yang pro-inflamasi, leukotrine, distop, dan beralih ke
biosintesa chemical mediator anti-inflamasi jenis lipoxins.

Peralihan atau switch biosintesa dari mediator pro-inflamasi ke anti-inflamasi


Munculnya prostaglandins dari sel neutrophil juga mengisyaratkan secara
terprogram, nasib biosintesa mediator ini (semacam feedback) sendiri akan
berakhir, dengan meregulasi (down regulation) enzyme 15-LO yang terdapat di
dalam sel neutrophil, kemudian biosintesa beralih ke mediator yang lain, yang
anti-inflamasi. Namun hal lain yang sangat menentukan peralihan ini adalah
kemampuan enzyme 5-LO (5-Lipoxigenase. Penemuan enzyme ini dan satu lagi,
COX, Cyclooxygenase, yang membawa Samuelsson B. dan Bergstrom S.
mendapatkan penghargaan Nobel tahun 1982) mengkonversi secara reaksi
enzymatic dari AA menjadi leukotriene (LTB4), lalu beralih pada tahap berikutnya
ke lipoxins. Dalam hubungan ini exzyme 5-LO juga substrate dependent
(tergantung dari kondisi mikro setempat), di mana enzyme tersebut, satu dari
sekian step proses biosintesa, dapat menggunakan dan mengkonversi DHA, EPA
menjadi grup senyawa resolvins.
Pada tingkat sel, munculnya neutrophil dan terbentuknya nanah (pustule, lihat
gambar bawah) mengisyaratkan peralihan dari mediator pro- ke anti-inflamasi, dan
pembatasan atau pencegahan pengrekrutan neutrophil berikutnya dari pembulu darah
ke lokasi kejadian. Mediator anti-inflamasi, lipoxins, resolvins, dan protectins
memobilisasi sel macrophage (monocyte) yang dapat memakan sel neutrophil, serta
membersihkan Histologi leukosit.
Leukosit adalah sel darah Yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih.
Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 5000-900
sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis,
bilakurang dari 5000 disebut leukopenia. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel
darah putih mempunyai granula spesifik (granulosit), yang dalam keadaan hidup
berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang
bervariasi, Yang tidak mempunyai granula, sitoplasmanya homogen dengan inti

bentuk bulat atau bentuk ginjal. Terdapat dua jenis leukosit agranuler : linfosit sel
kecil, sitoplasma sedikit; monosit sel agak besar mengandung sitoplasma lebih
banyak. Granula. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humora
organisme terhadap zat-zat asingan. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan
melalui proses diapedesis lekosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos
antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung Jumlah leukosit
per mikroliter darah, pada orang dewasa normal adalah 4000-11000, waktu lahir
15000-25000, dan menjelang hari ke empat turun sampai 12000, pada usia 4 tahun
sesuai jumlah normal. Variasi kuantitatif dalam sel-sel darah putih tergantung pada
usia. waktu lahir, 4 tahun dan pada usia 14 -15 tahun persentase khas dewasa tercapai.
Bila memeriksa variasi Fisiologi dan Patologi sel-sel darah tidak hanya persentase
tetapi juga jumlah absolut masing-masing jenis per unit volume darah harus diambil.

ALAT DAN BAHAN


Alat
- Timbangan hewan
- Alat suntik ip
- Stopwatch
- Spidol permanent
- Plestimometer
Bahan
-

Asetosal
Natrium diklofenak
Kontrol Na CMC

Cara Kerja
1. Timbang tikus
2. Berikan tanda batas pada kaki belakang kiri untuk setiap tikus dengan spidol,
agar pemasukan kaki ke dalam air raksa setiap kali selalu sama.
3. Pada tahap pendahuluan volume kaki tikus diukur dan dinyatakan sebagai
volume dasar. Pada setiap kali pengukuran volume, tinggi cairan NaCl pada
alat diperiksa dan dicatat sebelum dan sesudah pengukuran, usahakan jangan
sampai ada air raksa yang tertumpah.
4. Tikus diberi obat secara i.p. 25 menit kemdian 0,5 ml larutan karagenan
diberikan pada telapak kaki kiri tikus secara subkutan.
5. Volume kaki yang diberi karagenan diukur setiap 30 menit sampai menit ke
60. Catat perbedaan volume kaki untuk setiap jam pengukuran.
6. Hasil pengamatan dicantumkan dalam table untuk setiap kelompok.

7. Selanjutnya untuk setiap kelompok dihitung persentase rata-rata


8. Gambarkan grafik persentase inhibisi radang terhadap waktu.

HASIL
Ke

Obat

Bb

Vol

Volume

(g)

awal

Pengukuran
30
60

udem
30
60

5,05

7,61

7,48

2,56

4,77

7,12

4,38

5,80

3,80
3,76

l
1

Asetosal

100

14

mg/kgbb
Asetosal

150

3
17

mg/kgbb
Kontrol

nacmc

2
15

1% bb
Na.diklorofenak

4
15

100 mg/kgbb
Na. Diklorofenak

5
16

150 mg/kgbb

%inhibisi
30

60

2,43

80,28

-23,35

2,23

2,35

-57,04 -19,28

6,35

1,42

1,97

5,06

5,51

1,26

1,71

11,27

13,2

6,23

3,24

2,47

-128

-25,38

GRAFIK

Asetosal 100 mg/kgbb


2.60%
2.55%
2.50%

Asetosal 100 mg/kgbb

2.45%
2.40%
2.35%
30'

60'

control Nacmc 1% bb
2.50%
2.00%
1.50%

control Nacmc 1% bb

1.00%
0.50%
0.00%
30'

60'

asetosal 150 mg/kgbb


2.36%
2.34%
2.32%
2.30%
2.28%

asetosal 150 mg/kgbb

2.26%
2.24%
2.22%
2.20%
2.18%
2.16%
30'

60'

na. Diklorofenak 100 mg/kgbb


1.80%
1.60%
1.40%
1.20%
na. Diklorofenak

1.00%
0.80%
0.60%
0.40%
0.20%
0.00%
30'

60'

Na. Diklorofenak 150 mg/kgbb


3.50%
3.00%
2.50%
Na. Diklorofenak 150
mg/kgbb

2.00%
1.50%
1.00%
0.50%
0.00%
30'

60'

PEMBAHASAN
Percobaan ini menggunakan alat yang bernama Plethysmometer air raksa
untuk mengindikasikan terjadinya inflamasi pada kaki bawah sebelah kiri tikus,
dengan pengukuran persentase besarnya radang pembengkakan. Caranya, tikus yang
belum diberi obat diberi tanda yang melingkari pergelangan kakinya sampai batas
bulu, lalu kaki tersebut dicelupkan dalam air raksa sampai batas lingkaran tadi dan
diamati tinggi air raksa sebagai konversi volume kaki tikus yang tercelup dalam air
raksa tersebut. Kaki kiri tikus dipakai karena kaki tikus tidak terdapat bulu, sehingga
efek inflamasinya secara fisik dapat diamati lebih jelas karena bulu pada tikus dapat
menghambat pengamatan volume inflamasi yang terbentuk. Untuk memudahkan
pengamatan, karagenan diinjeksikan secara subkutan pada kaki tikus tersebut agar
efeknya lebih cepat. Selain itu, kaki kiri bawah digunakan agar memudahkan pada
saat pencelupan dalam air raksa dan memperhitungkan bahwa kaki bawah ukurannya
lebih besar daripada kaki atas.
Perlakuan yang diberikan pada tikus, sebagai kontrol, adalah pemberian
larutan Na CMC secara intraperitoneal, lalu 25 menit kemudian disuntikkan
karagenan secara subkutan, lalu diamati pembengkakan yang terjadi setiap 30 menit
selama 60 menit. Na CMC berfungsi sebagai injeksi untuk kontrol, yakni digunakan
untuk memperoleh efek yang sama, atau dengan kata lain, sebagai blangko.
Karagenan berfungsi sebagai inflamator, dan disuntikkan secara subkutan pada
telapak kaki kiri bawah tikus untuk memperoleh efek lokal yang cepat. Pengamatan
setiap 30 menit selama 60 menit dilakukan dengan tujuan mengukur besarnya
inflamasi yang terjadi pada kaki tikus akibat injeksi karagenan. Dari hasil
pengamatan secara umum diperoleh bahwa pada t ke 1 ( setelah 30 menit
penyuntikan) tinggi air raksa menurun agak tajam dibandingkan pada t ke 0.
Selanjutnya, pada tiap jam berikutnya tinggi air raksa mengalami peningkatan secara
bertahap, lalu turun pada t ke 60 menit.

Selain itu, dari data di atas dapat dilihat bahwa pada t ke 0 tinggi air raksa
lebih besar dibandingkan dengan t selanjutnya. Seharusnya tidak demikian, hal ini
disebabkan karena pada saat pencelupan kaki tikus ke dalam air raksa, volume air
raksa ada yang hilang dikarenakan kaki tikus bergerak-gerak. Volume tersebut tidak
dihitung sehingga menyebabkan kekeliruan dalam pembacaan tinggi air raksa.
Peningkatan tinggi air raksa terjadi mulai dari t ke 1 secara bertahap, hal ini
menunjukkan pembentukan inflamasi pada kaki tikus, walaupun sangat kecil hingga
nyaris tidak terlihat. Lalu penurunan tinggi air raksa pada t ke 60 menit menunjukkan
bahwa efek injeksi karagenan sudah mulai berkurang sehingga inflamasi yang
terbentuk mulai mereda (dalam hal ini ukuran telapak kaki mengecil) dan kemudian
lama kelamaan akan menghilang. Tikus kontrol ini berguna untuk membandingkan
antara volume inflamasi pada kaki kiri bawah tikus yang tidak diberi obat
antiinflamasi dengan volume inflamasi pada kaki kiri bawah tikus yang diberi obat
antiinflamasi. Inflamasi yang terbentuk diamati, dan ternyata terbukti bahwa
volumenya lebih besar daripada volume inflamasi pada tikus uji. Dalam hal ini,
karagenan yang dinjeksi secara subkutan berhasil menimbulkan efek inflamasi
sebagaimana fungsinya yakni untuk membentuk udem. Pembentukan udem oleh
karagenan tidak menyebabkan kerusakan jaringan meskipun udem dapat bertahan
selama 6 jam dan berangsur-angsur akan berkurang dan setelah 24 jam menghitung
tanpa meninggalkan bekas.
Kemudian perhitungan persentase peradangan (kenaikan volume kaki)
dilakukan dengan membandingkannya terhadap volume dasar sebelum menyuntikkan
karagenan dengan rumus:
radang obat=

Vt Vo
x 100
Vo

Perhitungan persentase peradangan dilakukan untuk tiap 30 menitnya agar


kita dapat mengetahui seberapa besar proses peradangan pada kaki tikus telah terjadi
tiap 30 menit. Selanjutnya untuk setiap kelompok dihitung persentase rata-rata dan

bandingkan persentase yang diperoleh kelompok yang diberi obat terhadap kelompok
kontrol pada jam yang sama dan perhitungan persentase inhibisi peradangan
dilakukan dengan rumus:
h ibisi=

radang kontrol radang obat


x 100
radang obat

Perhitungan persentase inhibisi peradangan dilakukan agar kita dapat


mengetahui seberapa besar penghambatan obat uji (fenilbutazon) terhadap
peradangan pada kaki tikus. Lalu grafik persentase inhibisi peradangan terhadap
waktu dibuat.
Sebagian besar efek terapi dan efek samping obat analgesik-antipiretik dan
antiinflamasi (AINS) berdasarkan atas penghambatan biosintesis prostaglandin (PG).
Dosis rendah aspirin dapat menghambat produksi enzimatis prostaglandin.
Prostaglandin akan dilepaskan bilamana sel mengalami kerusakan. Walaupun in vitro
obat AINS diketahui menghambat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan dengan efek
analgesik, antipiretik dan anti inflamasinya belum jelas. Selain itu obat AINS secara
umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui ikut berperan dalam
inflamasi. Golongan obat ini menghambat enzim siklooksigenase sehingga konversi
asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase
dengan cara yang berbeda.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil, pada tikus
yang diberikan obat antiinflamasi mengalami peradangan pada kelompok 2 sebesar
22,89% pada menit ke-30, -4% pada menit ke-60, pada kelompok 4 10,88% pada
menit ke 30, 12% pada menit ke 60, pada kelompok 5 -45,18% pada menit ke 30,
-26% pada menit ke 60, pada kelompok 6 13,85% pada menit ke 30, 2% pada menit
ke 60 . Seharusnya terjadi peningkatan besar peradangan yang disebabkan oleh tidak
adanya obat antiinflamasi di dalam tubuh tikus sehingga proses peradangan tidak
terhambat, tetapi hasil perhitungan data pengamatan yang diperoleh menunjukkan

bahwa pada menit ke-60 terjadi penurunan besar peradangan. Penurunan besar
peradangan ini kemungkinan disebabkan oleh cara pemberian intrakutan karagenan
pada telapak kaki tikus yang masih salah sehingga karagenan yang bertindak sebagai
penginduksi inflamasi tidak bekerja dengan baik dan cepat pada telapak kaki tikus.
Kemungkinan lain juga bisa disebabkan oleh pengukuran volume kaki tikus yang
tidak tepat karena memang tikus tidak mau mendiamkan kakinya ketika akan
dicelupkan ke dalam air raksa sehingga mungkin saja pencelupan kaki tikus ke dalam
air raksa tidak sesuai tanda batas. Kemungkinan lainnya juga bisa disebabkan karena
pembacaan tinggi air raksa yang tidak tepat oleh praktikan. Dan juga seharusnya tidak
ada nilai negatif pada hasil perhitungan persentase perradangan karena ini
menandakan bahwa volume awal (Vo) yang dipakai bukanlah volume yang
sebenarnya yang kemungkinan disebabkan oleh tidak tepatnya pengukuran tinggi air
raksa volume kaki tikus.

KESIMPULAN
-

Efek yang ditimbulkan akibat pemberian karagenan pada hewan percobaan


adalah terjadinya udem, yang terlihat dari bertambahnya volume kaki tikus
setelah diukur dengan alat pletismometer.

Mekanisme karagenan dalam menimbulkan inflamasi adalah dengan


merangsang lisisnya sel mast dan melepaskan mediator-mediator radang yang
dapat mengakibatkan vasodilatasi sehingga menimbulkan eksudasi dinding
kapiler dan migrasi fagosit ke daerah radang sehingga terjadi pembengkakan
pada daerah tersebut.

Efek antiinflamasi dari pemberian NA Diklofenak adalah mengurangi udem


pada kaki tikus akibat pemberian karagenan.

Inflamasi terjadi karena reaksi antara antigen dengan antibodi yang dapat
merangsang pelepasan mediator radang sehingga terjadi vasodilatasi
pembuluh kapiler dan migrasi fagosit ke daerah radang, yang mengakibatkan
hiperemia dan udem pada daerah terjadinya inflamasi.

Azas dasar percobaan aktivitas antiinflamasi dapat dipahami dan diperoleh


petunjuk-petunjuk yang praktis bahwa untuk menguji efek antiinflamasi suatu
obat, hewan percobaan harus diberi obat antiinflamasi terlebih dahulu baru
dibuat inflamasi sehingga persentase inhibisi peradangan dapat diamati.

Beberapa kemungkinan dan batasan yang merupakan sifat teknik percobaan


dapat ditunjukkan bahwa pembentukan udem oleh karagenan tidak
menyebabkan kerusakan jaringan meskipun udem dapat bertahan selama
beberapa jam dan berangsur-angsur akan berkurang tanpa meninggalkan
bekas.

DAFTAR PUSTAKA
Astawa, P.; Bakta, M.; Budha, K. (2008). Makrofag Pengekspresi IL-1 serta
Respons Inflamasi Sistemik pada Fiksasi Interna Dini Fraktur Femur
Tertutup Lebih Rendah Dibandingkan dengan yang Tertunda.
Effendi, Z., dr. (2007). Peranan Leukosit sebagai Antiinflamasi Alergik dalam Tubuh.
Munaf ST; Syamsul. (1994). Catatan Kuliah Farmakologi Bagian II. Staf Pengajar
Laboratorium Farmakologi-FK UNSRI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Hal 214.
Mycek,M.J. (1995). Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi 2. Jakarta: Widya
Medika. Hal 404.
Neal, M.J. (2006). Farmakologi Medis At Glance. Edisi Kelima. Jakarta: Penerbit PT
Erlangga. Hal 70-71.
Wilmana, P.F. (1995). Analgesik-Antipiretik Analgesik Anti-Inflamasi Nonsteroid Dan
Obat Pirai, dalam Farmakologi dan Terapi. Editor Sulistia G. Ganiswara.
Edisi IV. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran UI. Hal 207-209.

LAPORAN PRAKTIKUM
FARMAKOLOGI
ANTI INFLAMASI

OLEH:
HALINDA ALIZAR (1201037)
KELOMPOK IV GANJIL
TANGGAL PRAKTIKUM : 24 DESEMBER 2013
DOSEN: Dra. Syilfia Hasti M.Farm,Apt
Asisten:
1. Deri islami
2. Kurnia andini
Program studi S1 farmasi
Sekolah tinggi ilmu farmasi riau
2013