Anda di halaman 1dari 21

USULAN PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
FLOATING HOUSE, SEBAGAI HUNIAN MODERN ANTI BANJIR DI
KOTA JAKARTA
BIDANG PROGRAM:
PKM-GAGASAN TERTULIS
Diusulkan oleh:
Abdullah Malik Islami Filardi

(21030114120008/ 2014)

Annisa Tri Hutami

(21030113140171/ 2013)

Hibatullah Arif Yaasiin

(21030114130152/ 2014)

Zulfajri

(21030113140169/ 2013)

UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

USULAN PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA


JUDUL PROGRAM
FLOATING HOUSE, SEBAGAI HUNIAN MODERN ANTI BANJIR DI KOTA
JAKARTA
BIDANG PROGRAM:
PKM-GAGASAN TERTULIS
Diusulkan oleh:
Abdullah Malik Islami Filardi

(21030114120008/ 2014)

Annisa Tri Hutami

(21030113140171/ 2013)

Hibatullah Arif Yaasiin

(21030114130152/ 2014)

Zulfajri

(21030113140169/ 2013)

UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHANii
DAFTAR ISI..iii
RINGKASAN.iv
I. PENDAHULUAN.....1
I. 1 Latar Belakang..1
I. 2 Tujuan dan Manfaat..1
II. GAGASAN...1
II. 1 Kondisi Kekinian Banjir Jakarta..1
II. 2 Konsep Yang Sudah Ada Atau Sedang Dilakukan untuk Mengatasi Kondisi
Banjir di Kota Jakarta...2
II. 3 Konsep Floating house Untuk Menjawab Kondisi Banjir Jakarta...4
II. 4 Struktur dan Sistem Bangunan .....4
II. 5 Pihak-Pihak Terkait Untuk Keberhasilan Proyek.....7
II. 6 Strategi Implementasi....7
III. KESIMPULAN.8
DAFTAR PUSTAKA.9
LAMPIRAN..10

iii

RINGKASAN
Kota Jakarta merupakan kota dengan kondisi topografi yang memungkinkan banjir
sewaktu-waktu akan melanda ketika hujan datang. Tercatat hampir tiap tahun Kota
Jakarta selalu digenangi banjir. Penyebabnya bermacam-macam, dan dampaknya
hampir ke seluruh aspek kehidupan di Kota Jakarta. Dampak paling terasa dialami oleh
masyarakat. Ketika banjir, masyarakat harus rela perabotan rumah tangga mereka
terendam banjir, rusak, tak jarang bahkan hanyut oleh banjir. Akibatnya kerugian
ekonomi dirasakan oleh warga Jakarta tiap tahun karena banjir.
Masyarakat maupun pemerintah daerah Kota Jakarta telah melakukan beberapa upaya
untuk mengurangi banjir, bahkan pemerintah pusat pun tidak jarang mengambil bagian
dalam penanganan banjir di kota Jakarta. Masyarakat pada umumnya telah membuat
tanggul-tanggul pasir di pinggiran sungai agar dapat membendung luapan air.
Pemerintah telah melakukan berbagai cara seperti pembuatan sumur resapan,
normalisasi sungai dan waduk, serta rencana pembuatan deep tunnel. Namun, upayaupaya tersebut masih dirasa belum mampu menjadi solusi untuk menghindari banjir di
Kota Jakarta.
Floating house merupakan sebuah gagasan hunian baru sebagai solusi hunian anti
banjir untuk menjawab kondisi masyarakat Kota Jakarta yang dilanda banjir. Floating
house ini merupakan hunian yang mampu terapung pada kondisi banjir. Rumah ini
dirancang sedemikian rupa, sehingga bila air datang, rumah akan otomatis mengikuti
tinggi permukaan air. Sedangkan bila permukaan air sudah surut maka rumah ini akan
kembali pada posisi semula. Implementasi program floating house diharapkan akan
mampu memberikan gagasan baru dibidang struktur bangunan dalam penanganan
permasalahan banjir di Jakarta. Desain dan konsep rumah yang seperti ini, membuat
warga tidak perlu khawatir lagi dengan barang-barang ataupun mengungsi ketempat
lain karena rumah mereka terendam banjir.

Keyword : Banjir, Jakarta, Floating House

iv

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Setiap hari ketika musim penghujan tiba, kita sering mendengar berita banjir yang
menggenangi Kota Jakarta. Berbagai kerugian dialami warga Kota Jakarta sebagai
dampak dari bencana yang setiap tahun terjadi. Yang paling merasakan dampak
banjir ini tentunya adalah warga Jakarta. Saat banjir, tidak jarang kita mendengar
banyaknya pengungsi, korban jiwa, kerugian-kerugian materil seperti barangbarang rumah tangga yang rusak, hanyut oleh banjir, bahkan beberapa rumah
hanyut oleh derasnya aliran banjir. Hunian-hunian warga Kota Jakarta yang
terendam banjir akan terendam lumpur atau sampah-sampah yang terbawa oleh
aliran banjir ketika banjir telah surut. Daerah pemukiman yang padat hunian
membuat masyarakat sulit untuk mengangkut materil-materil pasca banjir. Sering
juga didengar banyaknya penyakit yang menyerang warga didaerah-daerah banjir
seperti penyakit kulit, demam berdarah, bahkan yang berbahaya adalah penyakit
yang disebabkan oleh kencing tikus yang bisa terbawa oleh aliran banjir.
Melihat kondisi Kota Jakarta saat banjir tersebut, maka dibutuhkan solusi yang
dapat mengurangi dampak dari bencana banjir ini, khususnya dampak-dampak
yang ditimbulkan saat hunian terendam banjir. Saat ini memang telah banyak
upaya yang dilakukan dalam menangani banjir di Kota Jakarta. Namun, langkah
yang diambil masih bersifat penanganan sementara. Yang dibutuhkan oleh kota
Jakarta adalah solusi penanganan banjir yang bersifat permanen sehingga saat
banjir datang, masyarakat tidak perlu khawatir lagi rumah mereka akan tergenang
oleh banjir. Sebagai ibu kota negara, tentunya diinginkan agar Kota Jakarta dapat
bebas dari bencana banjir. Setidaknya Kota Jakarta dapat mengurangi dampak
banjir yang dirasakan oleh warga Kota Jakarta.
I.2 Tujuan dan Manfaat
Dari latar belakang yang dirumuskan diatas, maka tujuan dari penulisan gagasan
ini yaitu :
1. Menyampaikan konsep floating house
2. Mengurangi dampak banjir bagi warga Kota Jakarta dengan merealisasikan
konsep floating house
3. Menjadikan floating house sebagai ikon baru Kota Jakarta
II. GAGASAN
II.1 Kondisi Kekinian Banjir Jakarta
Kondisi geografis yang tidak menguntungkan, dimana luas DKI Jakarta sebesar
662.3 Km2 dimana sebesar 40 persennya merupakan dataran rendah, yang

ketinggiannya berada di bawah muka air laut pasang 1 sampai dengan 1,5 meter,
dan dari 40 persen lahan tersebut baru 11.500 Hektar yang dilayani dengan
Polder, dimana di Provinsi DKI Jakarta juga mengalir 13 aliran sungai menuju
laut yang kondisinya terus mengalami pendangkalan dan penyempitan akibat
adanya sampah dan bangunan liar disepanjang sungai, menyebabkan bencana
banjir dari tahun ke tahun menjadi suatu beban yang harus diwaspadai dan
ditanggulangi di Provinsi DKI Jakarta (BPLHD, 2014).
Hampir setiap banjir, masyarakat mengeluhkan banyak hal, diantaranya sampahsampah yang berserakan yang terbawa oleh aliran banjir, lumpur yang
menggenangi hunian warga, serta kerugian-kerugian materil seperti kerusakan
perabotan dan alat-alat rumah tangga. Selain itu, aktifitas warga harus terganggu
karena harus membersihkan rumah pasca banjir. Masyarakat juga mengeluhkan
berbagai penyakit akibat banjir seperti gatal-gatal dan demam berdarah.
Beberapa tahun terakhir, kondisi banjir di Kota Jakarta sangat memprihatinkan.
Pada penghujung tahun 2012 hingga januari tahun 2013, tercatat banjir besar
melanda Kota Jakarta. Pada rentan waktu tersebut tercatat luas daerah yang
tergenang banjir tersebar di 124 kelurahan, korban jiwa mencapai 20 orang, dan
terdapat 33.502 warga yang harus mengungsi. Kerugian ekonomi mencapai 20
triliun rupiah. (Wikipedia, 2015)
Pada tahun 2014, terdapat tercatat korban jiwa akibat banjir sebanyak 2 orang,
jumlah pengungsi sebanyak 2.000 warga dan total kerugian mencapai 5 triliun
rupiah. Sedangkan pada tahun ini (2015) tercatat 1 orang korban jiwa dengan
jumlah pengungsi sebanyak 14.163 warga. (Tempo, 2015)
II. 2 Konsep Yang Sudah Ada Atau Sedang Dilakukan untuk Mengatasi
Kondisi Banjir di Kota Jakarta
Dalam kaitannya untuk antisipasi banjir di wilayah DKI Jakarta, disiapkan
pompa-pompa pengendali banjir pada Waduk dan pintu air. Selain hal tersebut
dalam kaitan penanganan mengurangi bahaya banjir di DKI Jakarta, pada tahun
2013 juga telah disiapkan sarana dan prasarana dalam penanggulangan bencana
banjir di Provinsi DKI Jakarta, diantaranya :
1. Pembuatan Sumur Resapan
Sumur Resapan adalah sistem resapan buatan yang berfungsi
sebagai penampung air hujan, dapat berupa sumur, parit atau alur taman
resapan. Manfaat Sumur Resapan antara lain dapat menampung dan
menahan air hujan baik yang melalui atap rumah maupun yang langsung
ke tanah sehingga tidak langsung keluar dari pekarangan rumah, tetapi
mengisi kembali air tanah dangkal sebagai sumber air bersih.

2. Melakukan normalisai Sungai di DKI Jakarta


Pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2013 melakukan normalisai
Sungai di DKI Jakarta diantarannya Sungai Pesanggrahan, Sungai Angke
dan Sungai Sunter dimana permukiman pada sekitar sungai tersebut telah
dilakukan pendataan pada tahun 2012 dan diharapkan pada tahun 2013
sudah dilaksanakan pembebasan tanah untuk pelaksanaan normalisasi
sungai tersebut. Dengan adanya normalisasi ketiga sungai tersebut
diharapkan selain mengurangi beban pencemaran akibat adanya
pembuangan limbah domestik yang dilakukan oleh warga sekitar,
diharapkan juga dapat mengurangi jumlah genangan banjir antara 8 12
titik banjir di wilayah DKI Jakarta.
3. Melakukan normalisasi Waduk
Waduk Pluit yang telah mengalami pendangkalan baik dikarenakan
oleh aktivitas penduduk yang melakukan pengurukan untuk dibuat
perumahan maupun hasil pembuangan sampah secara sembarangan, data
saat ini yang ada bahwa Waduk Pluit luasnya adalah sebesar 60 Ha dan
kedalaman adalah 1-2 meter, diharapkan dengan adanya normalisasi
tersebut Waduk yang akan digunakan menampung air dari sungai di
wilayah DKI Jakarta sebelum dialirkan ke laut menjadi 80 Ha dengan
kedalaman 10 meter dengan disisi Waduk akan dibuat jalan arteri dan
dibuat tanggung pembatas serta dilakukan penghijauan.
4. Pembangunan Deep Tunnel
Fungsi terowongan yang juga sudah dibangun di Malaysia,
Singapura, Hongkong dan Chicago antara lain untuk mengatasi
kemacetan, banjir, pengadaan air baku PAM, limbah dan utilitas umum
berupa telepon umum maupun listrik (Media Indonesia, 26/3). Sebagai
gambaran proyek Deep Tunnel adalah suatu proyek terpadu untuk
mengatasi problem Jakarta. Seperti pengendalian banjir, pengadaan air
baku PDAM, penanganan air limbah, jalan tol dan utilitas umum. Proyek
itu bisa menghasilkan uang dari retribusi jalan tol, utilitas umum, listrik
dan kompos. Apalagi pembangunan Deep Tunnel tidak perlu
membebaskan lahan karena proyeknya di bawah tanah. Selain sebagai
pengendali banjir, perut terowongan multifungsi itu akan menghasilkan
uang sewa dan retribusi yang besar sehingga pasti banyak investor
berminat.
Berbagai upaya tersebut telah banyak dilakukan di berbagai daerah, namun
hasilnya belum seperti yang diharapkan, banjir masih terus terjadi dengan korban
3

dan kerugian yang tidak sedikit. Upaya mengatasi banjir juga kadang-kadang
ditentang penduduk karena mereka harus pindah atau direlokasi ke wilayah lain
(Rosyidie, 2012).
II.3 Konsep Floating house Untuk Menjawab Kondisi Banjir Jakarta
Kondisi topografi kota Jakarta memang cukup rumit. Kondisi tanah yang tiap
tahun turun, ditambah lagi tata letak bangunan dan sistem drainase yang tidak
terencana dengan baik membuat banjir tidak dapat lagi dihindari. Kondisi ini mau
tidak mau harus diterima oleh warga Jakarta. Di setiap musim penghujan,
kerugian ekonomi selalu dihadapi warga. Hal ini membuat seluruh kalangan harus
berpikir keras guna merencanakan pembangunan yang cocok untuk Jakarta.
Mengingat bahwa banjir Jakarta tidak dapat lagi dihindari, maka perlu
direncanakan sebuah antisipasi guna memberikan kenyamanan dan tentunya
meminimalisir kerugian materil akibat banjir ini.
Proyek floating house ini merupakan jawaban atas permasalahan banjir yang
dialami oleh warga Jakarta setiap tahun. Sesuai dengan namanya, Floating house
ini merupakan hunian yang mampu terapung pada kondisi banjir. Rumah ini
dirancang sedemikian rupa, sehingga bila air datang, rumah akan otomatis
mengikuti tinggi permukaan air. Sedangkan bila permukaan air sudah surut maka
rumah ini akan kembali pada posisi semula. Kelebihan yang ditawarkan dari
konsep yang dikemukan disini yaitu rumah dapat terapung pada kondisi banjir
yang tidak terlalu tinggi, sehingga dapat dibangun di seluruh wilayah Jakarta yang
rawan banjir. Desain dan konsep rumah yang seperti ini, membuat warga tidak
perlu khawatir lagi dengan barang-barang ataupun mengungsi ketempat lain
karena rumah mereka terendam banjir.
Hunian anti banjir ini sejatinya merupakan penerapan hukum Archimedes tentang
gaya apung. Beberapa konsep floating house sejenis telah banyak dikembangkan
dan beberapa diantaranya menghasilkan produk, salah satunya adalah di negara
Belanda yang menerapkan konsep floating house ini kedalam bentuk houseboat.
Desain rumah yang modern memberikan nuansa yang indah, dan sangat cocok
diterapkan di kota-kota besar seperti Jakarta.
II. 4 Struktur dan Sistem Bangunan
Pada dasarnya, sistem floating house ini menyerupai kapal, sehingga pada
perencanaan haruslah memenuhi standar-standar umum yang dimiliki oleh sebuah
kapal. Yang paling utama, stabilitas floating house ini ketika menerima
perubahan-perubahan gaya yang bekerja terhadapnya. Bedanya dengan kapal,
floating house ini tidak bergerak kearah horizontal, pergerakan hanya terjadi
secara vertikal melalui gerakan fluktuatif air saat banjir. Beberapa komponen
penting untuk membangun floating house ini yaitu pondasi ponton, sistem kolam
air, sistem tiang penyangga dan bangunan utama. Komponen lain seperti sistem

drainase dan kelistrikan harus juga menjadi bahan pertimbangan , mengingat


bahwa rumah akan bergerak kearah vertikal ketika banjir datang. Materil-materil
penyusun bangunan utama tersusun dari materil-materil ringan dan kuat. Misalnya
pada dinding akan dibuat dari beton-beton polimer, rangka bangunan akan
disusun dari baja ringan, tujuannya untuk mengurangi beban yang diterima oleh
pondasi. Bangunan akan diletakkan diatas kolam, jadi bangunan disini sudah
dalam keadaan terapung. Konstruksi bangunan harus mempertimbangkan antara
jumlah susunan ponton dan beban diatasnya, hal ini bertujuan untuk mengetahui
bagian dari bangunan yang akan tenggelam. Hal ini juga untuk mengetahui berapa
kedalaman kolam air yang akan digunakan sebagai tempat pengapungan sistem
bangunan ini.
1. Pondasi Ponton
Ponton pada struktur bangun floating house ini berfungsi untuk memberikan gaya
angkat pada bangunan saat terjadi luapan air. Material-material yang dipilih
haruslah tahan lama serta mempunyai struktur yang kuat karena pondasi ini akan
diterapkan secara permanen sebagai pondasi dari sistem bangunan. Yang
terpenting, pondasi ponton nantinya mampu menahan beban diatasnya dan
mampu stabil pada berbagai kondisi mekanik.
2. Kolam Air
Kolam air berfungsi sebagai tempat penampungan sekaligus pengapungan
bangunan. Pada perancangannya, rumah sudah dibuat dalam keadaan terapung.
Tujuannya, ketika air sedang naik, sistem bangunan tidak perlu lagi menyesuaikan
berapa bagian dari sistem bangunan yang akan tenggelam, jadi permukaan
bangunan langsung naik menyesuaikan ketinggian kenaikan air saat banjir. Selain
itu, kondisi rumah yang dibuat sudah terapung untuk mencegah terjadinya fraktur
pada pondasi akibat tekanan yang sangat besar dari beban diatasnya. Air banjir
biasanya membawa serta lumpur yang dapat mengendap didasar kolam. Selain itu,
air dalam kolam haruslah selalu di kuras secara berkala. Untuk melakukan ini,
maka akan dipasang sistem drainase pada kolam yang dilengkapi juga dengan
pompa khusus untuk menyedot lumpur.
3. Tiang Penyangga dan Sistem Roda
Tiang penyangga disini berfungsi untuk menahan rumah agar tidak hanyut. Di
tiang penyangga terdapat ring beroda yang akan dihubungkan ke sisi bangunan.
Fungsinya untuk mempermudah pergerakan fluktuatif.
4. Bangunan Utama
Bangunan utama sama seperti bangunan pada umumnya, modelnya di desain
modern agar lebih menarik. Bedanya dengan rumah-rumah pada umumnya,
materil-materil penyusun rumah terbuat dari material-material kuat namun ringan.

Rangka rumah akan dibuat dengan material baja ringan, untuk dinding, pintu,
kaca, jendela, semuanya berbahan dasar polimer, sehingga akan didapatkan berat
bangunan yang lebih ringan.

Gambar 1 Model Floating house


Sumber : Zulfajri, dkk. 2015

Gambar 2 Pondasi Ponton


Sumber : Zulfajri, dkk, 2015

Gambar 3 Model Pondasi Ponton


Sumber : Zulfajri, dkk, 2015

Gambar 3 Tiang Penyangga


Sumber : Zulfajri, dkk. 201

Gambar 4 Model Tiang Penyangga


Sumber : D. Han, et.al. 2002

II.5 Pihak-Pihak Terkait Untuk Keberhasilan Proyek


1. Arsitek
Arsitek memegang peranan penting dalam pelaksanaan proyek ini.. Peran
arsitek harus mampu mentransformasikan desain rumah menjadi desain
floating house dengan mempertimbangkan berbagai kondisi fisis yang mungkin
terjadi ketika banjir datang. Arsitek juga berperan untuk memikirkan desain
floating house yang aman, nyaman, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat
Kota Jakarta. Nilai-nilai estetika dan futuristik floating house merupakan hal
yang mestinya menjadi bahan pertimbangan arsitek, agar floating house ini
kedepannya dapat dijadikan sebagai ikon baru Kota Jakarta
2. Konsultan Perencana
Dalam perencanaan proyek floating house, konsultan perencana mempunyai
peran dalam menganalisis kelayakan floating house ditunjau dari kekuatan
struktur bangunan dan kondisi-kondisi fisis saat banjir. Hal-hal teknis lain yang
dipikirkan oleh konsultan perencana yaitu membuat rencana kerja, syaratsyarat pelaksanaan bangunan (RKS), dan melakukan proyeksi anggaran biaya
pelaksanaan proyek.
3. Kontraktor
Kontraktor berperan untuk membantu merealisasikan floating house.
4. Pemerintah
Peran pemerintah dalam proyek ini terkait dengan hal-hal fundamental seperti
perijinan.
5. Masyarakat
Masyarakat adalah sasaran dari pelaksanaan proyek ini. Floating house adalah
hunian yang semata-mata dibuat untuk menjawab keluhan masyarakat saat
banjir. Diharapkan masyarakat mendukung penuh atas terlaksananya proyek
ini.
II. 6 Strategi Implementasi
Penyempurnaan Konsep dan Perencanaan Proyek
Floating house merupakan konsep rumah yang baru, sehingga sebisa mungkin
penyempurnaan konsep harus dilakukan. Segala hal yang berkaitan dengan
floating house baik itu design, infrastruktur, dan lain-lain harus dipikirkan dengan
matang dan menyesuaikan kondisi daerah di Kota Jakarta sehingga floating house
ini dapat benar-benar menjadi solusi yang tepat sebagai hunian anti banjir. Selain
itu, perencanaan proyek harus dipikirkan dengan matang, agar tercapai tujuan
yang diinginkan.
Pertemuan Semua Pihak Terkait
Setelah penyempurnaan konsep dan perencanaan proyek, barulah diadakan
pertemuan antar seluruh pihak. Tujuannya untuk menyampaikan proyek dan

meminta dukungan penuh dari seluruh pihak terkait agar proyek floating house di
Kota Jakarta dapat betul-betul dilaksanakan.
Pelaksanaan Proyek
Pelaksanaan proyek dilakukan setelah seluruh pihak menyetujui keberlangsungan
proyek ini. Dalam keberlangsungan proyek, diperlukan koordinasi yang baik
antara seluruh pihak guna terwujudnya pembangunan proyek hunian floating
house di Kota Jakarta.
Monitoring dan Evaluasi Berkelanjutan
Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan teratur akan membantu
pembangunan dan pengembangan konsep floating house di Kota Jakarta, yang
selanjutnya dapat memberikan hasil yang maksimal sebagai hunian anti banjir.
III. KESIMPULAN
Hadirnya hunian Floating House diharapkan mampu memberikan solusi terhadap
banjir yang dialami warga Kota Jakarta. Untuk dapat merealisasikan gagasan ini,
maka dibutuhkan kerjasama antara seluruh pihak terkait baik itu masyarakat,
pemerintah, dan pihak-pihak yang terkait yang mampu mewujudkan gagasan ini.
Selain itu, untuk dapat mewujudkannya, dibutuhkan kesadaran bahwa banjir di
Kota Jakarta bukan lagi hal yang sepele, bahkan bencana ini sudah menjadi
bencana luar biasa mengingat kerugian-kerugian yang terjadi pada berbagai
sektor. Sehingga dengan adanya kesadaran tersebut, gagasan ini dapat dijalankan.
Kehadiran floating house ini pada akhirnya akan mengurangi dampak terkait
banjir, khususnya dampak-dampak bagi warga Kota Jakarta. Kehadiran floating
house juga dapat memberikan nilai tambah. Penerapan floating house di Kota
Jakarta sebagai ibukota negara akan menjadi sebuah ikon baru hunian modern
bebas banjir.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Banjir Jakarta 2013. id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Jakarta_2013.
Diakses pada tanggal 10 Maret 2015
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2013): Bencana di Indonesia 2012.
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah. 2014. Status Lingkungan Hidup
Daerah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Tahun 2013. Jakarta:
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah
D. Han et al. 2002. Design Studies on Flood Proof House. Bristol (USA).
Department of Civil Engineering, University of Bristol
Evan. 2015. Apa Beda Banjir Jakarta 2007, 2013, 2014, dan 2015.
http://www.tempo.co/read/news/2015/02/12/083641933/Apa-Beda-Banjir-

Jakarta-2007-2013-2014-dan-2015/1/2. Diakses pada tanggal 10 Maret


2015
Kodoatie, Robert, J dan Roestam Sjarief (2008): Pengelolaan Bencana Terpadu.
Penerbit Yarsif Watampone, Jakarta.
Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa. 2009. Gambaran Umum Wilayah Jakarta.
Jakarta: Kementerian Lingkungan Hidup
Rosyidie, Arief. (2012): Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai Citarum. Laporan Penelitian LPPM, ITB

10

11

12

13

Biodata Dosen Pembimbing


A Identitas Diri
.
1
Nama Lengkap
2
Jenis Kelamin
3
Program Studi
4
NIP
5
Tanggal Lahir
6
E-mail
7
Pekerjaan

Dyah Hesti Wardhani, S.T., M.T., Ph.D


P
S1 Teknik Kimia
19760528 200012 2 001
28 Mei 1976
dhwardhani@gmail.com
1. 2000-Sekarang staf pengajar di Jurusan
Teknik Kimia, Universitas Diponegoro
2. 2009-Sekarang Dosen pembimbing di
Laboratorium Mikrobiologi Industri Jurusan
Teknik Kimia, Universitas Diponegoro

B. Riwayat Pendidikan
1. September 2004 Juni 2009 Doktor Teknik Kimia The University of
Manchester, Manchester, UK
2. Oktober 1999 Januari 2002 Master Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta
3. September 1994 Oktober 1998 Sarjana Teknik Kimia Universitas
Diponegoro, Semarang

14

Lampiran 2. Susunan Organisasi Tim Pelaksana dan Pembagian Tugas


Alokasi
Waktu
(jam/minggu)
10 jam/
minggu

No

Nama/NIM

Program
Studi

Bidang
Ilmu

Zulfajri/
21030113140169

Teknik
Kimia

Teknik

Annisa Tri
Hutami/
21030113140171
Abdullah Malik
Islami Filardi/
21030114120008
Hibatullah Arif
Yaasiin/
21030114130152

Teknik
Kimia

Teknik

10 jam/
minggu

Merancang
Gambar
Floating
House dan
Konsultasi
Dosen
Pembimbing
Menyusun
Proposal

Teknik
Kimia

Teknik

10 jam/
minggu

Menyusun
Proposal

Teknik
Kimia

Teknik

10 jam/
minggu

Menyusun
Proposal

15

Uraian
Tugas

16