Anda di halaman 1dari 7

Analisis Korupsi Di Indonesia Dengan Teori Strukturasi

Korupsi menyebar merata di wilayah negara ini, dari Aceh hingga Papua. Kasus korupsi
yang muncul tak hanya menjerat sejumlah penyelenggara negara, tetapi juga menghambat
penyejahteraan rakyat. Hampir setiap media massa memberitakan kasus korupsi yang terjadi
di Indonesia, baik itu yang diusut tuntas ataupun yang sekarang masih tidak jelas.
Merajalelanya korupsi di tanah air ini suatu hal yang sistematis terjadi. Pelaku dan struktur
merupakan suatu dualitas, keduanya saling mengandaikan dan saling berperan penting dalam
perkembangan praktik korupsi di Indonesia. Perilaku korup merupakan sedimentasi dari
struktur yang terus berulang. Melakukan tindakan yang serupa menganggap hal ini sebagai
biasa.
Tulisan ini menjelaskan kasus korupsi disertai analisis dari Anthony Giddens, tentang
strukturasi (structuration).

Mengenai kasus korupsi yang terjadi di Indonesia kian hari

semakin bertambah. Seolah membudaya dalam tubuh bangsa ini. Dengan ini menyajikan
pertama, mengenal tentang korupsi baik itu pengertian, sejarah korupsi di Indonesia,
penyebab atau pemicu korupsi. Kedua, tindakan korupsi Panser Raksasa di Indonesia,
disajikan dengan sebagian kasus yang ada. Ketiga, penutup dan penarikan kesimpulan dari
tulisan ini.
Dengan analisis Giddens diharapkan tulisan ini memberikan informasi penting untuk
pengamatan korupsi. Pelaku dan struktur yang dijelaskan Giddens menjadikan teori utama
tulisan ini. Panser Raksasa Juggernout merupakan istilah yang digunakan Giddens dalam
pemikirannya. Dalam hal ini diartikan sebagai suatu perilaku yang terjadi di negara ini.
Mulanya disebabkan oleh kapitalisme dan matrealisme yang mendorong pelaku dan struktur
untuk melakukan korupsi. Teori-teori Giddens dalam tulisan ini akan dikaitkan dengan kasuskasus yang marak terjadi. Begitu juga kasus yang terjerat oleh daftar Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), beberapa kasus yang di tangani KPK akan melengkapi data korupsi di
Indonesia. Meski tidak semua disajikan akan tetapi tulisan ini berusa mengulas lebih dalam
tentang struktursi dalam korupsi.
Aktor utama korupsi adalah pemerintah dan sektor swasta, dan rakyat banyak menjadi
korbannya yang utama. Untuk itu kenapa ICW lalu amat mempercayai bahwa gerakan anti
korupsi harus bertumpu pada pemberdayaan rakyat untuk mengimbangi kolaborasi
pemerintahan dan sektor swasta. Hal ini diwujudkan ICW adalah satu diantara sekian banyak

lembaga independen yang berdiri memasang jarak, memperhatikan dari kejauhan kinerja
pemerintahan atau secara langsung memberikan advokasi dan pengajaran politik kepada
masyarakat. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa lembaga atau organisasi seperti ini baru
merebak usai orde baru di bawah Soeharto dan gelombang reformasi mulai didengungkan
pada akhir tahun 1998 kemarin. Dalam masa-masa awal kekuasaan Orde Baru, lembaga yang
berkiblat pada masyarakat akan dituduh komunis, organisasi pers terlampau kritis bahkan elit
pemerintah yang kurang simpati pada kebijakan yang dikeluarkan pemerintahan akan menuai
bencana pemecatan atau ditahan.
Teori strukturasi (structuration) Anthony Giddens (1984) kunci pendekatan Giddens
adalah melihat agen dan struktur sebagai dualitas, artinya keduanya dapat dipisahkan satu
sama lain. Agen terlibat dalam struktur dan struktur melibatkan agen. Giddens menolak untuk
melihat struktur semata sebagai pemaksa terhadap agen, tetapi melihat struktur baik sebagai
pemaksa maupun penyedia peluang. Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang ekonomi dan
konsumtif ternyata banyak yang tidak dapat bersabar dan tabah, sehingga dalam kondisi
terjepit karena didesak istri atau keluarga, memaksanya untuk menyelewengkan dalam tugas
yaitu mengambil uang negara dengan cara tidak halal. Adapun faktor penyebab antara lain
sebagai berikut:
1. ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi-posisi kunci yang mampu
memberikan ilham dan memengaruhi tingkah laku yang menjinakkan korupsi.
2. kelemahan ajaran-ajaran agama dan etika
3. akibat kolonialisme atau suatu pengaruh pemerintah asing tidak menggugah kesetiaan
dan kepatuhan yang diperlukan untuk membendung korupsi
4. kurang dan lemahnya pengaruh pendidikan
5. kemiskinan yang bersifat struktural
6. sanksi hukum yang lemah
7. kurang dan terbatasnya lingkungan yang antikorupsi
8. struktur pemerintahan yang lunak

9. perubahan radikal, sehingga terganggunya kestabilan mental. Ketika suatu sistem nilai
mengalami perubahan radikal, korupsi muncul sebagai suatu penyakit tradisional
10. kondisi masyarakat, karena korupsi dalam suatu birokrasi bisa memberikan cermin
keadaan masyarakat secara keseluruhan.

Dari kesepuluh poin penyebab diatas akan di golongkan menjadi tiga faktor :

Pertama, faktor politik. Hal ini disebabkan oleh politik atau yang berkaitan dengan
masalah kekuasaan. Di Indonesia dua puluh tahun lalu yaitu 1970 telah dilanda badai
korupsi pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Perkembangan korupsi ketika itu
nampaknya terpelihara dan secara tertutup dilindungi oleh mereka yang berkuasa.
Suatu bentuk dalam sejarah korupsi di Indonesia telah terungkap baru-baru ini, yakni
peranan bank-bank dalam meningkatkan korupsi. Periode sebelumnya sangat sulit
untuk mendeteksi kegiatan korupsi di bank yang memeng dikendalaikan oleh
penguasa bank yaitu para direkturnya. Kini, yang biasa terjadi adalah korupsi para
pejabat bank dalam bentuk komisi-komisi. Atau penyuapan untuk setiap pinjaman

yang diperoleh dari bank, namun dengan jaminan keamanan yang cukup.
Kedua, faktor yuridis. Yaitu berupa lemahnya sanksi hukuman, hal ini terkait dua
aspek. Pertama, yang menyangkut peranan hakim dalam menjatuhkan putusan. Aspek
yang kedua, adalah sanksi yang memang lemah berdasarkan bunyi pasal-pasal dan
ayat-ayat pada peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana

korupsi.
Ketiga, faktor budaya. Yaitu berdasarkan peninggalam pandangan feodal, yang
sekarang menimbulkan benturan kesetiaan yaitu antara kewajiban-kewajiban terhadap
keluarga dan kewajiban terhadap negara. Oleh karena itu, banyak orang terkemuka
seperti pejabat dalam masyarakat Indonesia, meskipun berpangkat rendah
menganggap biasa melakukan korupsi.

Tindakan Korupsi Panser Raksasa Di Indonesia


Anthony Giddens melihat modernitas sebagai juggernaut (panser raksasa) yang lepas
kontrol. Deretan kasus korupsi di Indonesia sepanjang sejarah sangat panjang. Berapa kasus
yang telah ditangani seperti gunung es, yang muncul kepermukaan adalah itu yang diketahui
oleh lembaga pemberantas korupsi. Tersangka yang terjerat Pengadilan Tipikor merupakan
orang yang tidak bisa berdalih lebih panjang dalam melawan hakim. Berikut adalah kasus
korupsi yang diambil dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Nama dan Jabatan


Ranendra Dangin (mantan
Direktur Keuangan PT
Rajawali Nusantara
Indonesia)

Dugaan Kasus
Diduga mengambil sebagian
dari total keuntungan PT RNI
sebesar Rp.33 miliar ketika
perusahaan itu ditunjuk sebagai
pengimpor gula putih pada
2001-2004

Keterangan
Ditetapkan sebagai tersangka
(9/10/2008)
Mulai diadili (Pengadilan Tipikor
30/3/2009)
Tuntutan 4 tahun (Pengadilan
Tipikor 1/6/2009
Vonis 3 tahun (pengadilan Tipikor
22/6/2009)

Bagindo Quiniro (Mantan


Ketua Tim auditor Badan
Pemeriksa Keuangan Di
Depnakertrans)

Diduga telah menerima uang


saat mengaudit proyek negara
pelatihan dan pemagangan di
Depnakertrans pada tahun
2004

Ditahan (19/2/2009)

Direktur Utama Kimia PT.


Farma Trading, Gunawan
Pranoto dan Rifai Yusuf
dari PT Rifa Jaya Mulia

Korupsi pengadaan di
Departemen Kesehatan tahun
2003 dengan kerugian negara
sekitar Rp.71 miliar

Ditetapkan sebagai tersangka


(2/3/2009)

Syahrial Oesman (Mantan


Gubernur Sumatra Selatan)

Korupsi alih fungsi hutan


lindung Pantai Air Telang di
Kabupaten Banyuasin, Sumsel
seluas 600 hektar untuk
pelabuhan tanjung Api-api

Ditetapkan sebagai tersangka


(12/3/2009)
Ditahan KPK (11/5/2009)
Mulai diadili (Pengadilan Tipikor
3/8/2009)

Hengky Samuel (rekanan


Depdagri Direktur PT
Istana Sarana Raya)

Korupsi proyek pengadaan


mobil pemadam kebakaran di
sejumlah kebupaten/kota

Ditangkap KPK (19/6/2009)

Umar Syarifudin (Mantan


Direktur Umum Bank
Pembangunan Daerah Jawa
Barat

Korupsi karena memungut


biaya setoran modal dan biaya
setoran pajak dari 33 cabang
Bank Jabar Banten pada 20032004 senilai 37 miliar

Ditangkap KPK (31/7/2009)

Tersangka korupsi kebanyakan adalah orang-orang wakil rakyat, sudah ada delapan
anggota parlemen berlatar partai politik berbeda diproses secara hukum oleh KPK karena
terlibat kasus korupsi. Meskipun kian banyak anggota DPR yang tertangkap tangan menerima
uang haram, tetapi kondisi ini masih dipandang sebagai puncak gunung es dari korupsi yang
sebenarnya terjadi di parlemen. Pasalnya, hampir pada semua kewenangan DPR, baik pada
konteks pengawasan, penganggaran, maupun legislasi, semua rawan praktik korupsi.
Akar masalah korupsi di parlemen, pertama, akuntabilitas politik DPR amat rendah.
Hampir tidak ada mekanisme yang dapat menjamin akuntabilitas politik itu dijalankan. Saat
ini, pertanggungjawaban kerja parlemen hanya sebatas laporan lima tahun yang dibuat satu
kali menjelang masa jabatan mereka berakhir. Dari sisi akuntabilitas anggaran, memang ada
audit reguler yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), tetapi wilayah anggaran
mereka sendiri. Wilayah kerja korupsi parlemen lebih banyak dilakukan pada perdagangan
kekuasaan dan wewenang, baik dalam fungsi pengawasan, penganggaran, maupun legislasi.
Kedua, mekanisme perekrutan politik di internal partai politik yang melahirkan anggota
DPR berorientasi uang kader yang cukup bagus, memiliki integritas tinggi, tetapi tidak
memiliki cukup dana untuk mencalonkan diri sebagai anggota parlemen, kecil kemungkinan
mendapat tempat. Sebaiknya, kader-kader yang buruk integritasnya, tetapi memiliki akses

luas terhadap uang dan elite partai, akan menjadi calon kuat. Loyalitas antara partai politik
dan kadernya diikat oleh uang.
Ketiga, mahalnya ongkos politik, bagi politisi yang kemudian menjadi pejabat publik
dan menguasai sumber daya ekonomi, pertama-tama yang dilakukan adalah mengembalikan
investasi politik yang telah untuk menjadi pejabat publik, lalu menggunakan sumber daya
publik yang disini korupsi menjadi mata rantai yang sulit diputus karena sudah dimulai sejak
ranah partai politik.
Pelaku korupsi merupakan suatu struktur yang rasio sebagai hasil dari sedimentasi dari
perulangan praktik korupsi yang berjalan dari waktu ke waktu. Tindakan immoral ini yang
bisa dilakukan berkali-kali memiliki implikasi pada terbaliknya cara berfikir. Perasaan
kesenangan yang dirasakan setelah mengkonsumsi hasil korupsi membawa pelaku sebagai
keyakinan bahwa melakukan tindakan korupsi dianggap lebih rasional ketimbang
menghindarinya. Semakin banyak tindakan korupsi maka semakin wajar untuk terus
melakukannya. Struktur perilaku korup yang telah terbentuk dalam rasio pelaku kemudian
dijadikan sebagai praktik sosial. Berdasarkan pada tingkat rasionalitasnya, hal tersebut adalah
tindakan yang wajar, normal, dan telah membudaya. Pelaku korup seolah-olah mereka seperti
mendapatkan timbal balik jasa, atas kerjanya. Rasionalitas ini pada akhirnya menularkan
kepada orang sekitarnya, menimbulkan suatu kesepahaman akan tindakan korupsi tersebut.
Terkadang orang yang menjadi korban akan melakukan hal serupa. Sehingga kerja korupsi
terlihat secara sistematis, terorganisai, dan saling terkait dengan pihak yang lainnya.
Beberapa kasus korupsi yang terorganisasi biasanya melibatkan pihak yang memiliki
kekuasaan dan pihak yang menentukan perijinan. Semua pihak menjadikanya sebagai suatu
struktur yang dianggap wajar. Struktur terdiri dari aturan dan sumberdaya, pada akhirnya
dapat dilihat sebagai suatu ciri atau sifat dari sistem sosial.
Jadi struktur korupsi adalah aturan dan sumber daya yang terdapat pada rasio pelaku
sebagai hasil sedimentasi dari perulangan praktik korupsi yang berjalan dari waktu ke waktu.
Struktur yang terbentu dari perulangan praktik korupsi ini, selanjutnya akan menjadi sarana
praktik korupsi berikutnya. Struktur korupsi ini pada akhirnya dapat dilihat sebagai sifat atau
ciri-ciri dari sistem yang korup. Sistem yang korup merupakan pelembagaan dari struktur
korupsi, yaitu atutan-aturan dan sumberdaya yang korup.