Anda di halaman 1dari 23

ALOKASI DANA DESA

(ADD)

DI KABUPATEN MAGELANG - JAWA TENGAH

1. Penduduk dan Pendapatan Masyarakat

Penduduk Kab. Magelang (2003) 1.146.886


jiwa, 573.129 laki-laki & 573.757 perempuan.
Rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar
1,12%.
Jumlah penduduk usia 10 thn ke atas (usia
produktif) sebanyak 629.968 jiwa

PDRB (2003) sebesar Rp. 3,789 Triliun


Tingkat inflasi di Kab. Magelang sebesar 4,3%
Rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar
4,57%.
Pendapatan per kapita Rp. 3.364.453,81 atau
Rp. 280.371,15 per bulan.
KHM adalah sebesar Rp. 404.427,86 per bulan.
Kesenjangan pendapatan antar wilayah (2002),
Kec. Srumbung sebesar Rp. 6.779.811,39
(tertinggi)
Kec. Candimulyo sebesar Rp. 1.729.026,99.
(terendah)

2. Kelahiran Kebijakan ADD


ADD di Kab. Magelang sejak 2002, beberapa
pertimbangannya:
a) Dana ke desa dikelola banyak pintu yaitu dinasdinas dan kantor, tetapi tetap banyak proposal
pembangunan dari desa. Maka disatu-pintukan
menjadi kebijakan ADD
b) Melaksanakan amanat UU No.22/1999 pasal 107
ayat 1 huruf b.
c) Sebagai upaya untuk menghapus dana Aspirasi
Masyarakat anggota DPRD yang cenderung
bermuatan politis (Rp. 100 juta per orang).

Kebijakan ADD lebih dikenal dengan


istilah block grant.
Thn 2002 total block grant 9 (sembilan)
Milyar Rupiah untuk 365 desa, dibagi
rata.
a) Tiap desa menerima Rp. 24.708.000,-.
b) Dampaknya, muncul ketidak-adilan
karena ukuran desa-desa berlainlainan.

Pada 2003, block grant sebesar Rp. 13


milyar untuk 365 desa, dibagi menurut
kriteria besaran wilayah desa, jumlah
penduduk dan penduduk miskin,
aksesibilitas ke Kota Kabupaten.
Block-grant terkecil Rp. 29.000.000,- dan
terbesar adalah Rp. 53.000.000,-

Pada 2004, block-grant sebesar Rp. 19


milyar diberikan secara tertimbang
menurut kriteria jumlah penduduk, luas
wilayah, jumlah penerimaan PBB, jumlah
KK miskin, aksesibilitas, tanah desa dan
bengkok).
Block grant terkecil Rp. 48.000.000,- dan
terbesar adalah Rp. 73.000.000, Block-grant ini merupakan 10% hasil
Pajak dan Retribusi Daerah plus 6% DAU

3. Substansi Kebijakan ADD


Perda Kabupaten Magelang No. 8/2004, seluruh
penghitungan dan pengelolaan serta pemanfaatan
ADD harus mengikuti koridor hukum yang telah
ditetapkan dalam Perda ini.
Block-grant bersumber dari
a) bagian perolehan Pajak Daerah, bagian perolehan
Retribusi Daerah 10%
b) bagian dari dana perimbangan Pusat dan Daerah
yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten Magelang:
2004 sebesar 6%, 2005 sebesar 8%, 2005 dan
selanjutnya (tiap tahun) 10%.

Block-grant diberikan secara bertahap


sejak 2004 agar ada kesiapan bagi desa
berdasarkan hasil evaluasi dan
pemeriksaan pihak yang berwenang di
Kabupaten.
Implikasinya, bila berdasarkan hasil
evaluasi dan pemeriksaan Pemerintah
Kabupaten bahwa desa dinyatakan tidak
siap, maka kenaikan prosentasenya tidak
dapat diberikan.

4. Formulasi ADD
(DAU Desa di Kabupaten Magelang)
Pasal 6 Perda Kab. Magelang No. 8/2004 menyatakan
bahwa Plafon Block-grant yaitu 75% untuk alokasi ratarata, dan 25% dibagi menurut bobot desa
bersangkutan.
Bobot desa ditentukan berdasarkan (1) Luas Wilayah,
(2) Jumlah Penduduk tahun sebelumnya, (3) Jumlah
KK miskin tahun sebelumnya, (4) keterjangkauan desa,
(5) Potensi desa tahun sebelumnya, (6) Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB) tahun sebelumnya, dan (7) luas
tanah desa yang diolah untuk pertanian, peternakan,
Perikanan, dll.

Rumusan perhitungannya adalah


sbb:
DAU Desa = RT + (BDi x BT)

Keterangan:
DAU Desa
RT
desa
BDi
BT

: Besaran DAU masing-masing desa


: besaran bantuan RATA-RATA masing-masing
: Bobot suatu desa
: Alokasi bantuan secara tertimbang

5. Mekanisme Pengelolaan
Keputusan Bupati No. 9 tahun 2004 tentang Pedoman
Pengelolaan Dana Alokasi Umum Desa, block grant dialokasikan
sebagai berikut :
a)
b)

Rp. 10 juta untuk pembelian sepeda motor roda 2 dinas desa


Setelah dikurangi Rp. 10 juta sebagaimana huruf a, sisanya untuk
(1) 7 % untuk operasional pemerintahan desa, (2) BPD sebesar
16 %, (3) bantuan perbaikan penghasilan Kepala desa dan
Perangkat desa sebesar 8 %, bantuan kelembagaan desa seperti
operasional PKK, LPMD, RT/RW dlsb sebesar 9 %, dan (4)
Belanja Publik sebesar 60% yang digunakan untuk pembangunan
fisik dan non fisik, sarana dan prasarana yang diutamakan
mendukung pengentasan kemiskinan maupun bantuan modal.
Belanja publik sebesar 60% merupakan angka (porsi) minimal
yang tidak boleh dikurangi.

6. Mekanisme Pencairan dan Pengawasan ADD


Tahun 2002 dan 2003 proses pencairan ADD dilakukan
langsung oleh Pemerintah Kabupaten melalui Bagian
Tata Pemerintahan kepada Desa, dengan cara Kepala
Desa dan Bendahara Desa datang ke Kantor
Kabupaten untuk mengambilnya.
Sejak dikeluarkannya Perda No. 8/2004, mekanisme
pencairannya dari Kabupaten kepada desa melalui
BKK (Badan Kredit Kecamatan) untuk mendapatkan
pengesahan, dan uang diambil di bank BPD disalurkan
lewat rekening desa.

Syarat mencairkan ADD:


LPJ Kepala Desa yang sudah disetujui
oleh BPD dan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
(APBDes).

Setelah ADD diterima, seluruh penerimaan dan


pengeluaran keuangan ADD harus dicatat dan
dibukukan dalam buku administrasi keuangan
desa oleh Bendahara Umum Desa. Penggunaan
ADD harus dimusyawarahkan antara
Pemerintah Desa dengan BPD, dan dituangkan
dalam Peraturan Desa tentang APBDes.
Sedangkan Perencanaan dan pelaksanaan
pembangunannya dikoordinasikan oleh LPMD.
Pengawasan dari Pemkab dilakukan oleh Bupati
melalui Bagian Tata Pemerintahan karena di
Kabupaten Magelang tidak ada lagi Bagian
Pemerintahan Desa.

Pembagian tugas antara Kepala Desa dengan BPD


berkaitan dengan ADD dan APBDes adalah sebagai
berikut:

Tugas-tugas Kepala Desa

Tugas-tugas BPD

Mengkoordinasikan musyawarah
antara Pemerintah Desa, BPD dan
elemen desa terkait mengenai
rencana penggunaan ADD (DAU
Desa)

Bersama Pemerintah Desa


merancang APBDes yang di
dalamnya termasuk penggunaan
ADD

Mengkonsultasikan kepada publik


tentang rencana penggunaan ADD

Mengawasi penggunaan ADD, baik


tertib administrasinya maupun
pelaksanaan di lapangan

Menyusun rancangan APBDes

Meminta pertanggung-jawaban
Kepala Desa atas penggunaan ADD

Bertanggung-jawab atas penggunaan


ADD

7. Manfaat ADD bagi desa dan kabupaten

Bagi Desa, ADD mampu menjadi dana stimulan


Para Kepala Desa dan BPD menilai bahwa ADD lebih baik dibandingkan
dengan kebijakan Inpres Desa.
Karena syarat pencairan ADD adalah dengan LPJ Kepala Desa dan
APBDes, maka hal ini mampu mendorong pemerintahan desa untuk
lebih transparan dan akuntabel.
Desa menjadi lebih mandiri dan lebih tahu (terlatih) untuk menyusun
prioritas kebutuhan pembangunannya.
Sejauh ini tidak muncul adanya konflik pemanfaatan DAU Desa di tingkat
masyarakat kecuali keluhan para Kepala Desa dan Aparat Desa atas
prosentase pembagian yang diterima dibandingkan dengan prosentase
bagian yang diterima BPD.
Dengan adanya kebijakan ADD, muncul kebutuhan Pengembangan
Kapasitas Desa (Pemerintah Desa, BPD, dan Lembaga desa lain) untuk
secara partisipatif dan sistematis merumuskan tantangan-tantangan
dalam pembangunan desa serta menanggapinya dengan cara menyusun
dan melaksanakan prioritas pembangunan desa secara adil dan benar.

Bagi Pemkab Magelang lebih mudah dalam


melayani Desa.
Pemkab tidak lagi direpotkan dengan proposal
(baca: permintaan) dana dari desa. Melalui
Perda No. 8/2004, Pemerintah Kabupaten
merasa aman karena telah bertindak adil
terhadap desa dan telah melakukan fungsinya
dalam menggerakkan partisipasi masyarakat
desa.
Pemerintah Kabupaten juga menjadi lebih
tenang dan mbapaki (atau berlaku sebagai
bapak yang baik) dalam rangka berhubungan
dengan Desa-desa dan masyarakat desa pada
umumnya.

8. Kesimpulan dan Rekomendasi


Kesimpulan:
Dalam rangka mengembangkan
Otonomi Daerah, melalui Perda
No.8/2004, Kab. Magelang tergolong
cukup progresif, responsif dan hati-hati
(waspada).

Progresif karena pijakan hukum bagi terbitnya Perda


No. 8 tahun 2004 tidak ada kecuali UU No. 22/1999
pasal 107 ayat 1 huruf b.
Responsif karena Pemkab Magelang dalam konteks
kebijakan ADD ini melihat banyaknya kebutuhan
pengembangan masyarakat desa tetapi tersebar (tidak
menyatu) dan partisipasi warga masyarakat desa belum
bergerak, maka dibangunlah satu pintu penyaluran
dana pembangunan desa oleh Pemerintah Kabupaten
yang harus dikelola sendiri oleh desa.
Hati-hati atau waspada karena Pemkab Magelang tidak
serta merta memberikan dana bantuan itu langsung
sebesar 10% dari APBD, melainkan secara bertahap
dan konsisten mulai dari 6% dan 8%, sambil memberi
ruang dan waktu bagi desa untuk berlatih
memanfaatkan dana ADD secara partisipatif, transparan
dan akuntabel.

Prinsip-prinsip Good Governance telah


diterapkan. ADD bisa cair jika disertai LPJ
Kepala Desa dan APBDes yang telah
mendapatkan persetujuan BPD merupakan
dorongan yang sangat positif bagi Pemerintahan
Desa.
Di tingkat Kabupaten telah terbit Perda No.10
tahun 2004 tentang Mekanisme Konsultasi
Publik yang antara lain dimaksudkan untuk
meningkatkan kesadaran publik akan peran dan
tanggung-jawabnya dalam meningkatkan
kualitas kebijakan publik yang ditetapkan (pasal
2 ayat 2).

Rekomendasi

Intensitas pertemuan dan diskusi antara Pemerintahan Desa


dengan Pemerintah Kabupaten c.q. Bagian Tata Pemerintahan
perlu ditingkatkan, khususnya dalam merencanakan dan
menentukan besaran serta perhitungan DAU Desa.
Mendasarkan pada Perda No. 10 tahun 2004 tentang
Mekanisme Konsultasi Publik maka kebutuhan akan pertemuan
dan diskusi ini menjadi semakin relevan.
Untuk melengkapi dan menindak-lanjuti amanat Perda No. 8
tahun 2004, masih ada 2 (dua) buah Keputusan Bupati harus
segera diterbitkan yaitu (1) Keputusan Bupati tentang
Pengaturan Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Desa
sebagai penjabaran pasal 8 ayat 2, dan (2) Keputusan Bupati
tentang Jenis-jenis Retribusi Daerah yang dialokasikan untuk
Desa sebagai penjabaran dari pasal 4 ayat 2.

Konsideran Keputusan Bupati No.9 tahun 2004


tentang Pedoman Pengelolaan DAU Desa harus
segera diperbaiki karena pada konsideran Mengingat
dalam Keputusan Bupati ini justru tidak menyebutkan
rujukan pada Peraturan Daerah No. 8 tahun 2004.
APBDes sebagai muara seluruh kepentingan
pembangunan masyarakat desa perlu memuat bukan
hanya Dana Perimbangan Keuangan antara
Kabupaten dan Desa, tetapi juga memuat semua dana
proyek Pemerintah Pusat dan Propinsi (dana-dana
dekonsentrasi). Demikian pula halnya dengan danadana dari pihak lain (sumbangan-sumbangan atau
pembinaan) baik dari LSM maupun Lembaga Dana
yang lain. Semua ini sangat penting untuk membangun
Transparansi, Akuntabilitas, Responsivitas di dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa.