Anda di halaman 1dari 4

TATALAKSANA

Tatalaksana penanganan luka bakar di ruang perawatan intensif membutuhkan pendekatan holistik. Tidak jarang
pasien luka bakar dirawat di ruang perawatan intensif untuk dilakukan pemantauan hemodinamik. Tatalaksana di
ruang perawatan intensif adalah sebagai berikut: 1,6
Mempertahankan Jalan Napas
Trauma jalan napas merupakan penyebab kematian terbanyak pada pasien luka bakar. Cedera jalan napas akibat
luka bakar dapat menyebabkan obstruksi, hipoksia bahkan kematian. Telah dilaporkan bahwa trauma inhalasi akan
meningkatkan mortalitas pasien luka bakar sebanyak 20% yang berpotensi menyebabkan pneumonia. Patogenesis
terjadinya trauma inhalasi adalah akibat cedera panas yang berlangsung 12 jam setelah terjadinya luka bakar yang
menyebabkan obstruksi jalan napas bagian atas. 1,9
Pasien luka bakar seringkali mengalami berbagai penyulit termasuk terjadinya trauma inhalasi, sehingga
membutuhkan perawatan khusus untuk rumatan jalan napas di ruang perawatan intensif, apakah hanya sebatas
pemantauan hemodinamik atau bahkan membutuhkan bantuan ventilasi mekanik. Berikut adalah indikasi intubasi
pada pasien luka bakar :1
Luka bakar di wajah
Deposit karbon dan perubahan struktur akibat infla masi di faring dan rongga hidung
Terdapat tumpukan karbon pada dahak
Stridor dan suara parau
Retraksi dan sesak napas
Penurunan kesadaran
Penyakit paru restriktif sekunder akibat luka bakar derajat berat
Pada pasien luka bakar pemberian O 2 dan pembersihan jalan napas merupakan komponen penting dalam tatalaksana
jalan napas. Komponen lain yang tidak kalah pentingnya antara lain adalah hisap lendir berkala dan fisioterapi dada.
Isap lendir berkala sebaiknya dilakukan setelah memposisikan pasien 45 o. Sebelumnya pasien dilakukan
preoksigenasi dengan O2 100%. Apabila belum dilakukan preoksigenasi, sebaiknya dilakukan isap lendir berkala
selama kurang lebih 15 detik. Namun yang harus diwaspadai adalah stimulasi nervus vagus, terdapatya iritasi
mukosa nasotrakea, trauma, dan bradikardi. 1
Trauma inhalasi pada jalan napas bagian bawah dapat menyebabkan infeksi trakea dan bronkus akibat zat-zat kimia
sehingga menyebabkan spasme jalan napas. Dalam hal ini dapat digunakan aerosol yang bersifat simpatomimetik
yang menyebabkan relaksasi otot bronkus dan menstimulasi clearance mucociliary. Terapi inhalasi ini dapat
diberikan setiap 2-4 jam sekali tergantung klinis pasien. 9
Bilas bronkus digunakan untuk mengurangi sekret sehingga dapat mengurangi risiko infeksi sekunder. Tatalaksana
bilas bronkhus yang dilakukan di Shriners Hospital adalah sebagai berikut: 9
Pemberian O 2 lembab untuk mempertahankan saturasi O2 >90%
Latihan batuk dan menarik napas setiap 2 jam
Fisioterapi dada setiap 4 jam
Nebulisasi dengan 3 cc N-asetilsistein 20% + salbu tamol setiap 4 jam
Sebagai alternatif dapat diberikan nebulisasi dengan Heparin 5000 unit dalam 3cc NaCl 0,9% setiap 4 jam
Isap lendir berkala
Penilaian fungsi paru sebelum pasien dipulangkan dan pada saat kontrol
Edukasi pasien dan orang tua pasien berkaitan den gan trauma inhalasi yang terjadi
Resusitasi Cairan
Resusitasi cairan merupakan tatalaksana utama pada saat fase awal penanganan luka bakar terutama

pada 24 jam pertama. Pemberian cairan yang adekuat akan mencegah syok yang disebabkan
karena kehilangan cairan berlebihan pada luka bakar.7,10
Luka bakar dapat menyebabkan berbagai perubahan parameter anatomis, imunologis bahkan
fisiologis tubuh. Luka bakar dapat menyebabkan hilangnya cairan intravaskular melalui luka atau
jaringan yang tidak mengalami cedera. Hilangnya cairan umumnya terjadi dalam 24 jam pertama
setelah cedera. Teknik resusitasi cairan pada luka bakar terus mengalami perkembangan. Prinsip
resusitasi cairan luka bakar mengacu pada rumus Parkland yaitu : 1,10
4 cc/kg/luas permukaan tubuh + cairan rumatan

Cairan rumatan dapat digunakan dekstrosa 5% dalam ringer laktat yang jumlahnya disesuaikan
dengan berat badan :
10 Kg: 100 mL/kg
11-20 Kg: 1000 mL + (Berat badan 10 Kg) x 50 mL
>20 Kg: 1500 mL + (Berat badan 20 Kg) x 20 mL
Pemberian cairan ini diberikan 24 jam pertama, 50% diberikan 8 jam pertama dan 50% diberikan
16 jam berikutnya. Formula ini telah digunakan secara luas sejak 40 tahun yang lalu untuk terapi
cairan pada luka bakar selama 24 jam pertama setelah trauma, namun penelitian terbaru mengatakan
bahwa formula Parkland tidak dapat memprediksi kehilangan cairan secara akurat khususnya pada
pasien dengan luka bakar luas, akibatnya pasien seringkali mendapatkan jumlah cairan lebih sedikit
dibandingkan seharusnya. Hal ini sesuai dengan penelitian Cancio dkk yang melaporkan bahwa
penggunaan formula Parkland menyebabkan penurunan kebutuhan cairan pada 84% pasien.
Penelitian ini juga menyebutkan jumlah cairan yang diberikan pada pasien luka bakar tidak hanya
memperhatikan luas serta kedalaman luka, namun harus diperhatikan apakah pasien ini
membutuhkan bantuan ventilasi mekanik atau tidak karena diperkirakan hal ini dapat meningkatkan
kebutuhan cairan.10
Metode lain resusitasi cairan dikembangkan oleh Baxter pada tahun 1979, ia memberikan teknik
resusitasi cairan pada 954 pasien luka bakar dengan menggunakan formulasi cairan 3,7 4,3
mL/Kg/total luas permukaan tubuh (TLPT) dan didapatkan hasil sekitar 70% yaitu 438 dewasa dan
516 anak-anak mengalami keluaran yang baik. Formulasi lain terapi cairan menurut gavelstron
menggunakan rumus :
(5000 mL x LPT yang mengalami luka bakar) + (2000 mL x TLPT)

Protokol saat ini melanjutkan pemberian resusitasi cairan dengan menggunakan formulasi 2 4
mL/kg /% LPT selama 24 jam pertama. Setelah pemberian terapi cairan, dilakukan pemantauan tanda
kelebihan cairan yaitu terdapatnya gangguan hemodinamik pasien seperti sesak napas, hepatomegali
atau terdapatnya ronkhi basah halus pada basal paru. Pemantauan ini kerap kali harus dilakukan
karena pemberian cairan berlebihan akan menyebabkan terjadinya edema yang merupakan
komplikasi akibat pemberian cairan resusitasi dan berpotensi menimbulkan kompikasi misalnya
abdominal compartement syndrome dan edema paru.11
Antibiotika yang sesuai
Pasien luka bakar terutama luka bakar luas berpotensi mengalami infeksi sekunder maupun sepsis
sehingga berpotensi meningkatkan mortalitas. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap
175 pasien luka bakar luas dikatakan bahwa infeksi berhubungan dengan disfungsi multiorgan yang
dapat menimbulkan kematian pada 36% pasien. 12
Infeksi sekunder pada luka bakar terutama disebabkan oleh bakteri gram positif terutama
stafilokokus yang berdomisili di kelenjar keringat dan folikel rambut, perubahan kondisi akibat luka
bakar akan mempercepat pertumbuhan bakteri, sedangkan infeksi bakteri gram negatif umumnya
disebabkan karena translokasi dari kolon karena berkurangnya aliran darah mesenterika. Selain itu
kondisi pasien diperberat akibat penurunan respons limfosit T sitotoksik, maturasi mieloid yang
menyebabkan terganggunya aktivitas netrofil dan makrofag. Tujuan penanganan luka adalah

mempercepat epitelisasi sehingga dapat mengurangi risiko infeksi sekunder. Sepsis seringkali
menyertai luka bakar,13
Menurut Centre for Disease Control (CDC), infeksi luka bakar adalah keadaan apabila:
Terdapat perubahan kesadaran pasien yaitu menjadi tampak letargis, hipotermia, hipertermia maupun
tanda-tanda syok
Perubahan pada luka yang terjadi misalnya warna maupun bau
Pada pemeriksaan kultur jaringan positif mengan dung mikroorganisme
Pemberian antibiotik profilaksis sebenarnya tidak di anjurkan, namun antibiotik profilaksis dapat
direkomendasikan pada keadaan:
Pencegahan selulitis sehingga memerlukan antibiotika antistreptokokal
Pemberian obat anti jamur oral atau enteral untuk mencegah kandidiasis
Pemberian obat-obatan perioperatif
Pemberian antibiotika spektrum luas pada keadaan syok sepsis
Pemberian antibiotika yang umum digunakan adalah silver sulfadiazine yang memiliki potensi
antimikroba yang paling baik, namun memiliki efek toksisitas dan memperlambat proses
penyembuhan luka.
Dukungan Nutrisi
Pada keadaan luka bakar terlebih pada luka bakar derajat luas, terjadi hipermetabolisme akibat
respons stres berlebihan. Hal ini akan mengakibatkan pasien akan mengalami keadaan malnutrisi,
dan lambatnya proses penyembuhan. Keadaan hipermetabolisme dapat bertahan sekitar 12 bulan
setelah cedera. Keadaan ini berhubungan dengan luasnya luka bakar, dan berkaitan dengan stres yang
terjadi. Pada anak kebutuhan kalori mencakup 60%-70% karbohidrat, 15%-20% lemak, sedangkan
protein harus terpenuhi 2,5-4gram/kgbb/hari. Apabila diberikan asupan berlebih dapat menyebabkan
peningkatan produksi CO2 yang dapat memperberat fungsi paru dan dapat meperlambat proses
penyapihan ventilator. Di samping itu pemberian karbohidrat berlebihan akan menyebabkan
disfungsi hepar, hiperglikemia sehingga dapat memicu dehidrasi akibat meningkatnya diuresis.
Pemantauan proses metabolisme dilakukan melalui pemantauan kadar gula darah, albumin, elektrolit,
fungsi hati dan ginjal.7,10
Analgetika dan Sedatif
Luka bakar dapat menimbulkan rasa nyeri terlebih lagi pada luka bakar luas. Nyeri tersebut akan
sangat mengganggu proses emosi dan fisiologi anak. Sehingga diperlukan analgetika dan sedatif
yang dapat mengontrol nyeri agar anak menjadi nyaman. Derajat luka bakar akan menentukan nyeri
yang ditimbulkannya. Pada luka bakar superfisial, persyarafaan masih utuh sehingga pergerakan
maupun sentuhan akan sangat memicu rasa nyeri. Sedangkan luka bakar luas dan dalam (deep
partial thickness) beberapa persarafan bahkan hampir seluruh saraf mengalami kerusakan, akibatnya
pasien tidak begitu merasakan rangsangan nyeri. Namun hal yang harus diperhatikan adalah apabila
sekeliling luka mengalami kemerahan yang dapat menimbulkan nyeri. Luka bakar jenis full
thickness, seluruh persarafan telah mengalami kerusakan, oleh sebab itu respons terhadap rasa nyeri
sama sekali tidak ada, namun daerah sekeliling luka masih berespons terhadap rangsang nyeri. 14
Seringkali anak yang mengalami luka bakar, rangsangan sekecil apapun mampu menstimulasi pusat
nyeri sehingga akan menimbulkan nyeri kronik dan nyeri neuropatik. Nyeri neuropatik terjadi
sekunder akibat kerusakan saraf. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya respons terhadap analgetika
sehingga dibutuhkan obat-obatan sedatif. 14 Analgetika yang diberikan pada anak yang mengalami
nyeri akibat luka bakar adalah parasetamol dan anti inflamasi non steroid (AINS). Namun bila
dengan pengobatan oral masih tidak berespons, dapat diberikan obat analgetika intravena.
Obat - obat analgetika sebaiknya memiliki persyaratan sebagai berikut: 1
Mudah diberikan
Dapat ditoleransi dengan baik
Memiliki onset kerja singkat namun memiliki efek samping minimal

Penanganan nyeri pada anak mencakup terapi farmakologik dan non farmakologik. Terapi
farmakologik dilakukan dengan pemberian analgetika spesifik yaitu pemberian parasetamol
asetaminofen obat Parasetamol adalah derivat paraaminofenol yang dapat bekerja secara sentral dan
perifer untuk mengatasi rasa nyeri.1
Obat anti inflamasi non steroid memiliki sifat analgetika dan antipiretik melalui hambatan sintesis
prostaglandin dan tromboksan.1
Opioid Memiliki efek analgetika melalui reseptor opioid sentral dan perifer. 1
Morfin memiliki efek sekitar 10 20 menit setelah diberikan melalui jalur intravena dengan dosis
0,1mg/Kg. Dosis morfin yang diberikan pada anak >5 tahun yaitu 20 mikrogram/Kg diberikan secara
bolus dilanjutkan dengan titrasi 4-8 mikrogram/kg/jam. Pada saat diberikan morfin, harus dilakukan
pemantauan pernapasan dan saturasi O2.1
Oxycodone merupakan opioid semisintetis yang memiliki bioavailabilitas lebih baik dibandingkan
morfin. Oxycodone dapat diberikan dengan dosis 0,2mg/Kg secara per oral maupun intravena. 1
Fentanyl merupakan analgetika narkotik dengan potensi lebih tinggi dibandingkan dengan
morfin. Memiliki kemampuan larut lemak yang tinggi dan mula kerja cepat (12 menit). Durasi
kerjanya mencapai 60 menit dan dosis yang diberikan adalah 1520 mikrogram/Kg. 1
Agonis a2 Adrenergic umumnya diberikan pada anak yang tidak berespons terhadap pemberian
analgetika. Dalam hal ini dapat digunakan klonidin yang diberikan dengan cara menghambat jalur
korda spinalis. Dosis yang diberikan 13 mikrogram/Kg diberikan 3 kali sehari secara oral atau
intravena.
Perawatan Luka
Perawatan luka merupakan salah satu tatalaksana yang perlu diperhatikan dalam penanganan luka
bakar. Karena tidak jarang luka yang tidak dibersihkan dengan baik dapat memicu infeksi sekunder.
Cleansing dan debridement merupakan tindakan rutin yang harus dilakukan. Bilas luka dapat
menggunakan sabun dan air bersih atau clorhexidin atau NaCl 0,9%. Setelah dibersihkan, diberikan
antibiotika topikal yang kemudian menutup luka dengan kasa steril untuk mengurangi risiko infeksi
sekunder. Antibiotik topikal dapat diberikan sehari 2 kali sambil dilakukan ganti balutan. 1
Tujuan utama perawatan luka adalah mencegah infeksi dan melindungi luka terhadap terjadinya
infeksi sekunder. Bula yang terbentuk apabila berukuran <2cm dapat dibiarkan tetap utuh, sedangkan
bula yang besar harus dipecahkan kemudian dilakukan debridement. Pasien luka bakar yang dirawat
umumnya dilakukan skin graft dalam 15 hari setelah trauma. Tindakan ini terbukti dapat
mengurangi risiko sepsis