Anda di halaman 1dari 7

Tindak Kekerasan

Contributed by Anonymous pada Monday, November 10 @ 10:37:56 WIT


Tindak Kekerasan
Contributed by Anonymous pada Monday, November 10 @ 10:37:56 WIT
Peristiwa-peristiwa yang mencerminkan tindak kekerasan, seperti pembunuhan,
kerusuhan, pembakaran, pemukulan, penyiksaan, termasuk tindak kekerasan pada
Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), merupakan fenomena sosial yang
mewarnai perjalanan bangsa Indonesia dewasa ini. Tindak kekerasan didefinisikan
sebagai tindakan dimana ada usaha untuk mencederai secara fisik.
Ada beberapa penjelasan mengenai tindak kekerasan, diantaranya adalah penjelasan
melalui "pendekatan situasional interaksionis". Pendekatan ini kenyataannya terjadi
dengan latar belakang banyak faktor yang saling terkait. Faktor-faktor tersebut adalah
norma-norma sosial, sejarah sosial individu dan makna sosial yang diberikan pada
situasi-situasi spesifik. Pada umumnya tindak kekerasan adalah hasil dari interaksi
faktor-faktor yang saling berkaitan dan terikat pada orang-orang yang terlibat, kontekskonteks dalam mana orang-orang tersebut berinteraksi, serta tipe spesifik interaksi yang
segera mengawali suatu tindak kekerasan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan orangorang yang terlibat meliputi usia, pendidikan, sejarah kriminal, sikap, status sosioekonomis, ras, kesehatan mental, seks dan tekanan hidup. Konteks interaksi akan berbeda
dalam hal lokasi, saat terjadinya, jumlah orang-orang yang hadir dan hubungan diantara
mereka, struktur geografis atau arsitektural dari ruang dalam mana interaksi itu terjadi.
Keuntungan pendekatan situasional interaksionis terletak pada kekuatan untuk
mengarahkan analisis yang artinya bahwa berbagai faktor harus dipantau untuk
memahami bagaimana kekerasan terjadi. Selain itu penjelasan mengenai tindak
kekerasan dapat dilakukan dengan melalui penjelasan insting, pembelajaran kultural atau
sosial dan rangsanganpermusuhan.
Penjelasan insting mengasumsikan bahwa tindak kekerasan adalah suatu kebutuhan
seperti halnya kebutuhan untuk tidur dan kebutuhan makan. Bukan hasil proses belajar,
akan tetapi ditentukan secara biologis dan tidak dapat dihindarkan. Penjelasan insting ini
memiliki nilai praktis kecil karena kekuatan prediksinya tidak besar.
Pembelajaran kultur atau sosial mengasumsikan bahwa tindak kekerasan seperti
perilaku-perilaku lain merupakan hasil pembelajaran, baikpembelajaran instrumental
maupun pembelajaran observasional. Pembelajaran instrumental menjelasakan tindak
kekerasan terwujud karena diperkuat melalui imbalan-imbalan sehingga lebih
memungkinkan terulang di masa depan. Pembelajaran observasional menjelaskan tindak
kekerasan terwujud melalui usahamengamati orang lain.
Rangsangan permusuhan mengasumsikan bahwa rangsangan yang tidak menyenangkan
atau bersifat memusuhi mempengaruhi tindakt ketegangan fisiologis seseorang. Tindak

kekerasan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi atau menghilangkan


ketegangan tersebut. Penjelasan-penjelasan mengenai terwujudnya tindak kekerasan
tersebut dapat dijadikan kerangka pemikiran upaya mengatasi tindak kekerasan.
Korban tindak kekerasan pada umumnya mengalami permasalahan yang sangat serius
baik secara fisik, mental maupun sosial sebagai dampak pengalaman traumatis yang
mungkin akan melekat seumur hidup apabila tidak ditangani secara profesional. Dalam
berbagai kasus korban tindak kekerasan cenderung memperlihatkan rasa ketakutan
yang berlebihan, kehilangan harga diri, kehilangan harapan hidup, kegelisahan, rasa
penyesalan, rasa kehilangan anggota keluarga, curiga karena adanya penghianatan orang
yang terpercaya, kebencian yang mendalam atau perasaan dendam dan kemarahan yang
terpendam, ketidakberdayaan, kecacatan dan sebaginya sehingga pada gilirannya korban
tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik. Kondisi tersebut akan semakin
diperparah dengan adanya stigma atau label dari lingkungan yang cenderung
mengisolasikan korban. Berdassarkan data dan kenyataan sebagaimana tersebut di atas,
maka konsekuensi logis dari tindak kekerasan sangat menuntut penanganan yang
komprehensif, intergratif dan multidisipliner dengan melibatkan berbagai stakeholder,
baik unsur pemerintah maupun masyarakat yang peduli terhadap penanganan korban
tindak kekerasan.
Departemen Sosial yang merupakan salah satu unsur pelaksana Pemerintah mempunyai
tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di
bidang sosial. Salah satu program Departemen Sosial dalam rangka mengemban tugas
pemerintahan di bidang sosialn tersebut adalah program bantuan sosial korban tindak
kekerasan yang dilaksanakan oleh Direktorat Bantuan Sosial Korban Tindak
Kekerasan dan Pekerja Migran pada lingkup Direktoraqt Jenderal Bantuan dan Jaminan
Sosial.
Kegiatan pokok bantuan sosial korban tindak kekerasan adalah :
Pengembangan sistem informasi dan advokasi sosial yang meliputi :
1. Pengembangan informasi berkaitan dengan upaya preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
2. Advokasi sosial merupakan upaya pembelaan dan perlindungan sosial terhadap
korban tindak kekerasan, keluarga dan lingkungan sekitar
3. Pemantauan atau pengendalian merupakan upaya untuk melihat sejauhmana
pelaksanaan kegiatan sedang dilakukan peningkatan kualitas sumber daya
manusia yang merupakan penguatan dan pengembangan kapasitas, baik korban
maupun pengelola atau petugas pelaksana
4. Pengembangan jaringan kerja sehingga sehingga tersedia sistem rujukan yang
terpolakan sebagai sumber utama penyelesaian masalah korban tindak
kekerasan
5. Peningkatan partisipasi masyarakat yang merupakan perwujudan tanggungjawab
masyarakat dalam bentuk memberikan perlindungan yang berbasis komunitas
kepada korban tindak kekerasan

Pengembangan inisiatif dan asistensi sosial penanganan korban tindak kekerasan baik
secara mikro meliputi pemanfaatan potensi dan sumber terutama yang ada pada
masyarakat, pembentukan panti perlindungan atau rehabilitasi sosial, pusat trauma,
shelter workshop, maupun secara makro meliputi perundang-undangan, kebijakan dan
program. Program perlindungan sosial korban tindak kekerasan yang pada hakekatnya
merupakan proses penyelamatan dan pemberian perlindungan khusunya pada tingkat dini
dan darurat.
Dalam penanganan korban tindak kekerasan diperlukan Community Development
yang diantaranya dapat dilakukan oleh pekerja sosial untuk memberikan aksi dan
dukungan melakukan kegiatan emergensi terhadap masalah kekerasan. Kegiatan tersebut
diantaranya adalah memberikan penampungan sementara bagi korban agar merasa aman,
terutama ketika baru mengalami tindak kekerasan dan membantu menegakkan hak-hak
korban melalui proses pendampingan hukum. Selain itu perlu adanya peraturan dan
kebijakan yang melindungi jasa layanan dalam mendampingi korban. Bantuan sosial
korban tindak kekerasan tidak saja diberikan ketika tindak kekerasan baru terjadi, akan
tetapi juga setelah itu sampai korban benar-benar sudah pulih. Kegiatan pokok dalam
penanganan korban tindak kekerasan setelah penanganan emergensi dapat
dilaksanakan secara langsung sebagai upaya penguatan pada korban dan tidak langsung
yang diarahkan pada kelembagaan atau masyarakat. Sebelum melaksanakan kegiatan
penanganan korban tindak kekerasan perlu melakukan kegiatan pemahaman terhadap
kebutuhan korban tindak kekerasan yang merupakan proses untuk memahami besaran
korban tindak kekerasan meliputi data tentang korban tindak kekerasan baik kuantitas
maupun kualitas dan potensi yang mendukung upaya pemecahan masalah korban tindak
kekerasan.
Penanganan bantuan sosial terhadap korban tindak kekerasan di daerah diharapkan
dilakukan secara lintas sektoral mengingat kompleksnya permasalahan tindak kekerasan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan dalam upaya penanganan korban
tindak kekerasan dari mulai pemahaman terhadap kebutuhan korban tindak kekerasan
sampai pelaksanaan penanganannya adalah :
1. Adanya koordinasi antara instansi pemerintah yang melaksanakan tugas di bidang
sosial dengan instansi pemerintah terkait dengan melibatkan Organisasi Sosial
(orsos) atau Lembaga Sosial
2. Masyarakat (LSM) yang peduli dan langsung menangani korban tindak
kekerasan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota.
3. Pembentukan forum peduli korban tindak kekerasan baik di tingkat kabupaten
atau kota maupun tingkat kecamatan atau kelurahan dalam rangka penguatan
sumber-sumber yang sudah ada guna meningkatkan kapasitas dasar pada tingkat
komunitas/kota/lokal untuk mendeteksi, merujuk dan mendampingi proses
penanganan korban tindak kekerasan.
Keanggotaan forum berasal dari unsur pemerintaha dan masyarakat.
1. Mendirikan Pusat Trauma, terutama di daerah yang angka tindak kekerasannya
tinggi, yaitu suatu lembaga yang menjadi pusat peredaman (penurunan atau

perhilangan) kondisi traumatis yang mengalami korban sebagai akibat tindak


kekerasan yang dialaminya.
2. Menyediakan Rumah Perlindungan yaitu lembaga yang bertujuan untuk
memberikan perlindungan awal kepada korban tindak kekerasan sebelum
dirujuk ke lembaga atau panti yang mampu memberikan pelayanan lebih intensif
Carolina Nitimihardjo
Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Integrasi SosialPeristiwa-peristiwa yang mencerminkan
tindak kekerasan, seperti pembunuhan, kerusuhan, pembakaran, pemukulan, penyiksaan,
termasuk tindak kekerasan pada Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN),
merupakan fenomena sosial yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia dewasa ini.
Tindak kekerasan didefinisikan sebagai tindakan dimana ada usaha untuk mencederai
secara fisik.
Ada beberapa penjelasan mengenai tindak kekerasan, diantaranya adalah penjelasan
melalui "pendekatan situasional interaksionis". Pendekatan ini kenyataannya terjadi
dengan latar belakang banyak faktor yang saling terkait. Faktor-faktor tersebut adalah
norma-norma sosial, sejarah sosial individu dan makna sosial yang diberikan pada
situasi-situasi spesifik. Pada umumnya tindak kekerasan adalah hasil dari interaksi
faktor-faktor yang saling berkaitan dan terikat pada orang-orang yang terlibat, kontekskonteks dalam mana orang-orang tersebut berinteraksi, serta tipe spesifik interaksi yang
segera mengawali suatu tindak kekerasan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan orangorang yang terlibat meliputi usia, pendidikan, sejarah kriminal, sikap, status sosioekonomis, ras, kesehatan mental, seks dan tekanan hidup. Konteks interaksi akan berbeda
dalam hal lokasi, saat terjadinya, jumlah orang-orang yang hadir dan hubungan diantara
mereka, struktur geografis atau arsitektural dari ruang dalam mana interaksi itu terjadi.
Keuntungan pendekatan situasional interaksionis terletak pada kekuatan untuk
mengarahkan analisis yang artinya bahwa berbagai faktor harus dipantau untuk
memahami bagaimana kekerasan terjadi. Selain itu penjelasan mengenai tindak
kekerasan dapat dilakukan dengan melalui penjelasan insting, pembelajaran kultural atau
sosial dan rangsanganpermusuhan.
Penjelasan insting mengasumsikan bahwa tindak kekerasan adalah suatu kebutuhan
seperti halnya kebutuhan untuk tidur dan kebutuhan makan. Bukan hasil proses belajar,
akan tetapi ditentukan secara biologis dan tidak dapat dihindarkan. Penjelasan insting ini
memiliki nilai praktis kecil karena kekuatan prediksinya tidak besar.
Pembelajaran kultur atau sosial mengasumsikan bahwa tindak kekerasan seperti
perilaku-perilaku lain merupakan hasil pembelajaran, baikpembelajaran instrumental
maupun pembelajaran observasional. Pembelajaran instrumental menjelasakan tindak
kekerasan terwujud karena diperkuat melalui imbalan-imbalan sehingga lebih
memungkinkan terulang di masa depan. Pembelajaran observasional menjelaskan tindak
kekerasan terwujud melalui usahamengamati orang lain.
Rangsangan permusuhan mengasumsikan bahwa rangsangan yang tidak menyenangkan
atau bersifat memusuhi mempengaruhi tindakt ketegangan fisiologis seseorang. Tindak

kekerasan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi atau menghilangkan


ketegangan tersebut. Penjelasan-penjelasan mengenai terwujudnya tindak kekerasan
tersebut dapat dijadikan kerangka pemikiran upaya mengatasi tindak kekerasan.
Korban tindak kekerasan pada umumnya mengalami permasalahan yang sangat serius
baik secara fisik, mental maupun sosial sebagai dampak pengalaman traumatis yang
mungkin akan melekat seumur hidup apabila tidak ditangani secara profesional. Dalam
berbagai kasus korban tindak kekerasan cenderung memperlihatkan rasa ketakutan
yang berlebihan, kehilangan harga diri, kehilangan harapan hidup, kegelisahan, rasa
penyesalan, rasa kehilangan anggota keluarga, curiga karena adanya penghianatan orang
yang terpercaya, kebencian yang mendalam atau perasaan dendam dan kemarahan yang
terpendam, ketidakberdayaan, kecacatan dan sebaginya sehingga pada gilirannya korban
tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik. Kondisi tersebut akan semakin
diperparah dengan adanya stigma atau label dari lingkungan yang cenderung
mengisolasikan korban. Berdassarkan data dan kenyataan sebagaimana tersebut di atas,
maka konsekuensi logis dari tindak kekerasan sangat menuntut penanganan yang
komprehensif, intergratif dan multidisipliner dengan melibatkan berbagai stakeholder,
baik unsur pemerintah maupun masyarakat yang peduli terhadap penanganan korban
tindak kekerasan.
Departemen Sosial yang merupakan salah satu unsur pelaksana Pemerintah mempunyai
tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di
bidang sosial. Salah satu program Departemen Sosial dalam rangka mengemban tugas
pemerintahan di bidang sosialn tersebut adalah program bantuan sosial korban tindak
kekerasan yang dilaksanakan oleh Direktorat Bantuan Sosial Korban Tindak
Kekerasan dan Pekerja Migran pada lingkup Direktoraqt Jenderal Bantuan dan Jaminan
Sosial.
Kegiatan pokok bantuan sosial korban tindak kekerasan adalah :
Pengembangan sistem informasi dan advokasi sosial yang meliputi :
1. Pengembangan informasi berkaitan dengan upaya preventif, kuratif dan
rehabilitatif.
2. Advokasi sosial merupakan upaya pembelaan dan perlindungan sosial terhadap
korban tindak kekerasan, keluarga dan lingkungan sekitar
3. Pemantauan atau pengendalian merupakan upaya untuk melihat sejauhmana
pelaksanaan kegiatan sedang dilakukan peningkatan kualitas sumber daya
manusia yang merupakan penguatan dan pengembangan kapasitas, baik korban
maupun pengelola atau petugas pelaksana
4. Pengembangan jaringan kerja sehingga sehingga tersedia sistem rujukan yang
terpolakan sebagai sumber utama penyelesaian masalah korban tindak
kekerasan
5. Peningkatan partisipasi masyarakat yang merupakan perwujudan tanggungjawab
masyarakat dalam bentuk memberikan perlindungan yang berbasis komunitas
kepada korban tindak kekerasan

Pengembangan inisiatif dan asistensi sosial penanganan korban tindak kekerasan baik
secara mikro meliputi pemanfaatan potensi dan sumber terutama yang ada pada
masyarakat, pembentukan panti perlindungan atau rehabilitasi sosial, pusat trauma,
shelter workshop, maupun secara makro meliputi perundang-undangan, kebijakan dan
program. Program perlindungan sosial korban tindak kekerasan yang pada hakekatnya
merupakan proses penyelamatan dan pemberian perlindungan khusunya pada tingkat dini
dan darurat.
Dalam penanganan korban tindak kekerasan diperlukan Community Development
yang diantaranya dapat dilakukan oleh pekerja sosial untuk memberikan aksi dan
dukungan melakukan kegiatan emergensi terhadap masalah kekerasan. Kegiatan tersebut
diantaranya adalah memberikan penampungan sementara bagi korban agar merasa aman,
terutama ketika baru mengalami tindak kekerasan dan membantu menegakkan hak-hak
korban melalui proses pendampingan hukum. Selain itu perlu adanya peraturan dan
kebijakan yang melindungi jasa layanan dalam mendampingi korban. Bantuan sosial
korban tindak kekerasan tidak saja diberikan ketika tindak kekerasan baru terjadi, akan
tetapi juga setelah itu sampai korban benar-benar sudah pulih. Kegiatan pokok dalam
penanganan korban tindak kekerasan setelah penanganan emergensi dapat
dilaksanakan secara langsung sebagai upaya penguatan pada korban dan tidak langsung
yang diarahkan pada kelembagaan atau masyarakat. Sebelum melaksanakan kegiatan
penanganan korban tindak kekerasan perlu melakukan kegiatan pemahaman terhadap
kebutuhan korban tindak kekerasan yang merupakan proses untuk memahami besaran
korban tindak kekerasan meliputi data tentang korban tindak kekerasan baik kuantitas
maupun kualitas dan potensi yang mendukung upaya pemecahan masalah korban tindak
kekerasan.
Penanganan bantuan sosial terhadap korban tindak kekerasan di daerah diharapkan
dilakukan secara lintas sektoral mengingat kompleksnya permasalahan tindak kekerasan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan dalam upaya penanganan korban
tindak kekerasan dari mulai pemahaman terhadap kebutuhan korban tindak kekerasan
sampai pelaksanaan penanganannya adalah :
1. Adanya koordinasi antara instansi pemerintah yang melaksanakan tugas di bidang
sosial dengan instansi pemerintah terkait dengan melibatkan Organisasi Sosial
(orsos) atau Lembaga Sosial
2. Masyarakat (LSM) yang peduli dan langsung menangani korban tindak
kekerasan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten atau kota.
3. Pembentukan forum peduli korban tindak kekerasan baik di tingkat kabupaten
atau kota maupun tingkat kecamatan atau kelurahan dalam rangka penguatan
sumber-sumber yang sudah ada guna meningkatkan kapasitas dasar pada tingkat
komunitas/kota/lokal untuk mendeteksi, merujuk dan mendampingi proses
penanganan korban tindak kekerasan.
Keanggotaan forum berasal dari unsur pemerintaha dan masyarakat.
1. Mendirikan Pusat Trauma, terutama di daerah yang angka tindak kekerasannya
tinggi, yaitu suatu lembaga yang menjadi pusat peredaman (penurunan atau

perhilangan) kondisi traumatis yang mengalami korban sebagai akibat tindak


kekerasan yang dialaminya.
2. Menyediakan Rumah Perlindungan yaitu lembaga yang bertujuan untuk
memberikan perlindungan awal kepada korban tindak kekerasan sebelum
dirujuk ke lembaga atau panti yang mampu memberikan pelayanan lebih intensif
Carolina Nitimihardjo
Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Integrasi Sosialv