Anda di halaman 1dari 7

Sejarah Konflik India-Pakistan

A. Latar Belakang Masalah

Masalah Kashmir yang disengketakan India-Pakistan makin rumit. Peristiwa penyerangan


Gedung Parlemen India oleh sekelompok orang tak dikenal 13 Desember 2001 dan menewaskan
20 orang, memperparah kondisi. Konflik Kashmir memiliki akar panjang dalam percaturan
global. Sejarah mencatat, satu tantangan paling awal yang dihadapi PBB setelah
pembentukannya (tahun 1945) adalah perseteruan wilayah Jammu-Kashmir antara IndiaPakistan. Kendati PBB telah menelurkan resolusi dalam persoalan yang sama (tahun 1948),
namun sampai setengah abad berikutnya masalah Kashmir tetap belum beres. Bahkan, peristiwa
Kashmir Mei 1999 yang menewaskan 200 tentara India, 500 lainnya terluka, dan puluhan tewas
akibat kontak senjata kedua negara terakhir, nyaris menjerumuskan kedua negara ke dalam
perang terbuka yang lebih dahsyat karena persenjataan nuklir yang dimiliki kedua negara. IndiaPakistan telah tiga kali terlibat perang terbuka (tahun 1947, 1965, dan 1971), dua di antaranya
disebabkan problema Kashmir.
Akibat konflik bersifat historis ini hubungan Islamabad-New Delhi sejak tahun 1947 mengalami
pasang surut. Berdasarkan pendapat Mario E Carranza, sejak berakhirnya perang ketiga tahun
1971, hubungan kedua negara yang lahir dari rahim yang sama ini dapat digolongkan ke dalam
empat suasana: suasana detente 1972-1979; suasana saling mendekati melalui sejumlah
pertemuan bilateral tahun 1980-an; kondisi terbaik dari berlanjutnya diplomasi kerja sama IndiaPakistan di luar persoalan Kashmir, ditandai eksisnya Kerja Sama Regional Asia Selatan tahun
1985; serta penandatanganan hot line agreement untuk tak saling menyerang instalasi nuklir
India-Pakistan. Pada akhirnya Kashmir menjadi simbol bagi identitas nasional India sekaligus
Pakistan sehingga menjadi kendala dalam urusan politik dalam negeri, serta membuat sulit
terwujudnya kompromi apa pun bagi kedua negara. Di satu sisi Pakistan mempertanyakan
legalitas pencaplokan Kashmir oleh India setelah peristiwa pemisahan tahun 1947. Islamabad
menuduh New Delhi mengingkari resolusi PBB tentang plebisit untuk menentukan kehendak
rakyat Kashmir. India beranggapan, pencaplokan Kashmir tahun 1947 merupakan suatu hal yang
legal dan final sehingga tak perlu dibicarakan lagi, terutama setelah Dewan Rakyat Kashmir

November 1956 mendeklarasikan Negara Kashmir menjadi bagian integral dari negara federal
India.
Saat ini, sepertiga wilayah Kashmir dikuasai Pakistan yang secara efektif telah terasimilasi,
bahkan secara tak tercatat hakikatnya telah menjadi provinsi kelima bagi Pakistan. Dalam
persoalan ini, Pakistan secara langsung menangani administrasi Azad Kashmir sejak awal tahun
1950-an. Pejabat level kabinet, menteri urusan Kashmir bertanggung jawab terhadap wilayah ini.
Sedangkan India menerapkan Kashmir sebagai negara bagian yang berstatus khusus. Isu agama
juga memainkan peran penting, terutama oleh Pakistan. Paradigma di balik lahirnya Pakistan
adalah keinginan Muslim India mendirikan negara Islam, terpisah dari mayoritas Hindu.
Logikanya jelas, Kashmir yang penduduknya mayoritas Muslim seharusnya menjadi bagian
Pakistan. Memang, pada tahun 1971 Pakistan gagal mempertahankan Pakistan Timur (kini
Banglades) dalam kerangka agama, tetapi Islamabad tetap menggunakan co-religiounist Kashmir
agar ikut Pakistan.
Bagi India, Kashmir berimplikasi pada dua sisi kehidupan politik; politik domestik dan
hubungan bilateral (bahkan internasional). Ditinjau dari dimensi internal pemberontakan
Kashmir telah melahirkan politik kekerasan, terutama yang dilakukan pihak pemerintah. Bahkan,
kemelut Kashmir telah pula melahirkan rasa curiga dan saling benci dalam elemen masyarakat.
Kashmir yang Muslim, Kashmir yang memberontak ingin lepas dari India, Kashmir yang
menyebabkan tercorengnya wajah politik internasional India akibat isu pelanggaran hak asasi
manusia (HAM), telah melahirkan rasa benci di nurani rakyat India terutama kaum nasionalis
Hindu. Perasaan gemas pada separatisme Kashmir yang Muslim akhirnya merembet menjadi
antipati pada Muslim India secara keseluruhan. Peruntuhan Masjid Ayodha tahun 1992 adalah
refleksi dari rasa itu.
Problema Kashmir lebih jauh berpengaruh dalam hal-hal lebih mendasar, yakni pada empat pilar
struktur politik India: sekulerisme, demokrasi, federalisme, dan nasionalisme. Akibat Kashmir,
sekulerisme India diserang kaum nasionalis Hindu. Menurut mereka, separatisme yang muncul
di mana-mana termasuk Kashmir hakikatnya lebih sebagai akibat diterapkannya sekulerisme
gaya Nehru, yakni artificial secularism. Sekulerisme yang dibangun India seharusnya organic
secularism yang didasarkan toleransi alami kaum Hindu. Kedua, kebijakan militeristik dalam
menangani Kashmir bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi. Ketiga, berbagai krisis

berkelanjutan apalagi gerakan separatis seperti Kashmir-akan mengancam sistem federalisme.


Karena itu, kaum nasionalis Hindu mendesak pemerintah agar mencabut artikel 370 konstitusi
India yang memberi penerapan status khusus bagi Kashmir. Artikel itu berisi aturan, nonKashmir dilarang memiliki barang tak bergerak di Kashmir. Keempat, krisis Kashmir juga
menjadi ujian bagi nasionalisme India. Sejak merdeka, India promosi pemikiran homo-indicus,
yakni India modern adalah yang homogen, dapat saling tukar, rasional, sekuler, serta punya
loyalitas pada pusat atau negara.
India dan Pakistan merupakan negara yang memiliki struktur kenegaraan yang lemah, tetapi
memiliki aparatur yang amat kuat dalam melancarkan kekerasan (weak state structure - strong
coercive aparatures). Suzanne and Lloyd Rudolf menyebutnya sebagai classic weak - strong
state. Sebagai weak-strong state keduanya menghadapi problem minoritas dalam dua atau
bahkan tiga tingkat. Beberapa kelompok minoritas secara nasional, sekaligus mayoritas dalam
suatu wilayah tertentu. Inilah yang terjadi di Kashmir. Berpijak pada masalah itu, dapat
dimengerti bila kaum politisi di anak benua India akhirnya senang menjadikan isu Kashmir
sebagai komoditas politik, baik internal ataupun eksternal. Tetapi, dalam kerangka politik
internasional India, masalah Kashmir lebih sebagai "laknat" dibanding berkah. Kemungkinan
isolasi dari dunia Islam dan Arab akibat kemelut Kashmir misalnya, adalah bahaya bagi India.
Sebab, India amat butuh energi. Bahkan, sepertiga foreign exchange India dihabiskan untuk
impor minyak, kebanyakan dari dunia Arab.

B. Penyebab Konflik India-Pakistan

Berdasarkan asumsi dasar dari teori realisme, maka saya akan mencoba menganalisa penyebab
terjadinya konflik India-Pakistan. Realisme mempunyai pandangan pesimis atas sifat dasar
manusia, dimana manusia selalu cemas akan keselamatan dirinya akan hubungan persaingannya
dengan yang lain. Selain itu realisme juga sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keamanan
nasional dan kelangsungan hidup suatu negara. Persoalan adu kekuatan antara India-Pakistan
juga menjadi faktor lain yang menyebabkan meruncingnya konflik. Kedua negara baik India
maupun Pakistan sering melakukan adu kekuatan militer melalui uji coba senjata nuklir. Hal ini

sesuai dengan teori Balance of Power (BoP)dimana ketika ada suatu negara yang dianggap
mengancam, maka negara yang merasa terancam tersebut akan balik mengancam. Situasi ini
kemudian telah berubah menjadi Balance of Terror. Selain itu mengapa konflik India-Pakistan
terjadi karena kedua negara berusaha untuk mencapai kepentingan nasional (National Interest)
masing-masing Negara. Dalam hal ini adalah terkait dengan pemilikan wilayah Khasmmir.
Dalam kasus ini Pakistan menganggap bahwa India telah mencaplok wilayah Khasmir dan hal
ini menjadi salah satu alasan mengapa kemudian konflik terjadi.
Beberapa penyebab konflik yang lain adalah karena tentara India diberikan impunitas untuk tidak
dikenakan hukuman atas tindakan kekerasan yang mereka lakukan (special powers) melalui
sebuah Akta Angkatan Bersenjata Jammu dan Kashmir. Pemerintah India juga menolak peran
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketa dengan
alasan bahwa Kashmir adalah urusan bilateral India dan Pakistan.
Yang jadi persoalan, mayoritas penduduk Kashmir adalah muslim. Di teritori yang dikuasai
India, misalnya, dari 8 juta penduduknya, hampir 6 juta muslim. Sedang penduduk di Azad
kashmir, 99 Persen muslim. Karena faktor agama inilah, konflik yang semula hanya persoalan
'wilayah' jadi melebar. Konflik ini lebih kompleks lagi, karena di dalam konflik antar agama itu
pun, masih ada konflik aliran.

India sendiri mengklaim bahwa konflik Kashmir bukan karena agama. Buktinya, sewaktu India
dan Pakistan belum merdeka, negeri Kashmir aman-aman saja. Meski sebagian besar
penduduknya muslim dan pemerintahannya Hindu, tapi di Kashmir tak ada konflik. Sama seperti
India ketika di bawah Sultan Akbar -- meski mayoritas Hindu dan diperintah oleh muslim, India
aman dan sejahtera.
Islam di Kashmir, menurut pihak India, yang berkembang adalah sufisme yaitu ajaran yang lebih
mementingkan spiritual. Ajaran sufisme Islam ini tidak berbenturan secara konfrontatif dengan
spiritualisme Hindu. Mereka bisa bekerjasama.Sebagai contoh, Sultan Akbar dan tiga generasi
sesudahnya berhasil membangun kerajaan besar Islam di India dengan konsep sufisme itu tadi.

Kerajaan Kashmir yang mayoritas Islam dan Jammu yang mayoritas Hindu keduanya di bawah
kerajaan Hindu sebelum terbawa arus 'permusuhan' Pakistan dan India, juga hidup aman,
sejahtera, dan rakyatnya saling menghormati.

Pakistan balik menuduh India sengaja memutar-balikkan fakta untuk menguasai Kashmir. Bagi
Pakistan, penduduk Kashmir yang sebagian besar Islam, selayaknya masuk dalam Pakistan.
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah kenapa timbul konflik? Semua ini terjadi karena
kepentingan politik dan kekuasaan.

C. Cara Penyelesaian Konflik

Berdasarkan asumsi dari teori realisme situasi damai dikatakan dapat terjadi ketika terjadi
Balance of Power yaitu dimana terdapat dua kekuatan yang secara relatif sama kuat, yang
kemudian akan saling mengancam, namun tidak saling menyerang. Situasi ini, berdasarkan teori
realisme disebut sebagai situasi yang damai. Dalam kasus konflik India-Pakistan, hal ini juga
terjadi dimana baik India maupun Pakistan sama-sama saling mengancam melalui penempatan
rudal-rudal baik India maupun Pakistan di daerah perbatasan. Selain itu realisme mempunyai
asumsi bahwa salah satu alternatif cara penyelesaian konflik adalah dengan perang. Hal ini
kemudian terkenal dengan istilah Civis Pasum Para Bellum yang berarti jika ingin berdamai
maka bersiaplah untuk berperang. Maka berdasarkan asumsi teori realisme, cara penyelesaian
konflik yang terbaik antara India dan Pakistan adalah dengan perang.
Hakikatnya persetujuan Soviet Union (SU) dengan Amerika Syarikat (AS) pada tahun 1972 yang
berhasil membentuk Strategic Arms Limitation Talks (SALT I) dalam mewujudkan kawalan
dalam pembinaan senjata nuklir, sistem pelancar senjata nuklir dan sebagainya oleh kedua-dua
negara dapat dijadikan sebagai model yang dapat diaplikasikan sebagai jalan penyelesaian

terhadap masalah India dan Pakistan. Walaupun dalam era Perang Dingin menyaksikan AS dan
Soviet Union terlibat dalam persaingan kuasa dan senjata yang sangat berisiko mampu
mencetuskan peperangan, namun ia berhasil dielakkan atau dihindari melalui persetujuan
pembentukan SALT I.
Keberhasilan SALT I telah mampu memupuk keyakinan dan kepercayaan antara kedua-dua
kuasa besar dunia yang secara langsung memperluaskan kerjasama mengadakan pengawasan
terhadap penghasilan senjata ofensif dan pengurangan dari segi kekuatan persenjataan antara
negara dalam SALT II pada tahun 1979. Model SALT ini sebenarnya boleh diaplikasikan dalam
masalah hubungan ada India dan Pakistan. Persetujuan kedua-dua negara ini untuk mengadakan
pengawasan terhadap persenjataan pasti akan meningkatkan keyakinan dan kepercayaan antara
negara yang secara langsung meredakan dilema keselamatan serta mengurangkan risiko
tercetusnya peperangan.
Perlu kita pahami dalam fenomena persaingan senjata, seperti penghasilan, pemilikan dan
pembangunan persenjataan oleh sesebuah negara akan mengundang kepada terwujudnya kesan
sampingan ke atas negara lain dengan timbulnya ancaman yang jelas ataupun sebagai dilema
keselamatan. Dengan tiadanya usaha dan tatacara pengawasan dalam penghasilan dan pemilikan
persenjataan oleh India dan Pakistan, hal ini justru akan membuat peluang untuk munculnya
konflik menjadi sangat besar.
Proses ini sebenarnya dapat kita lihat dalam skenario pemilikan nuklir oleh India yang
dibangunkan semenjak 1960-an telah mencetuskan fenomena persaingan senjata dengan
seterunya di mana Pakistan turut membangunkan nuklear pada 1970-an untuk memastikan
sistem pertahanan dan ketenteraannya tidak ketinggalan dan seimbang. Persaingan pesat ini telah
membawa kepada peningkatan risiko konflik yang lebih besar yaitu peperangan nuklir yang
meletus pada tahun 1998.
Walaupun berbagai usaha dan desakan masyarakat dunia berhasil menghalang peperangan
meletus antara kedua-dua negara ini pada tahun 1998, namun hal ini tidak berarti risiko
peperangan antara India-Pakistan telah reda. Sebaliknya uji coba senjata nuklir yang sering
dijalankan oleh kedua-dua negara mampu membuka ruang kepada meletusnya ketegangan
seperti mana yang telah dilalui pada tahun 1998.

Pembentukan SALT di antara India dan Pakistan akan merintis kepada pembinaan keyakinan
antara negara. Peningkatan keyakinan yang kukuh akan membawa kepada hubungan yang baik
dan mendorong kaedah diplomasi dijadikan sebagai langkah dalam menyelesaikan masalahmasalah yang membelenggu hubungan kedua-dua negara.