Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN KASUS

Gastri Enteritis Akut (GEA)

Disusun Oleh:
Ari Filologus Sugiarto
11-2013-204

Dokter Pembimbing :

dr. Agoes Kooshartoro, SpPD


dr. Devy Januarti Iskandar Sp.PD
dr. Rini Zulkifli

Dokter penguji

dr. Agoes Kooshartoro, SpPD

KEPANITERAAN KLINIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT BHAKTI YUDHA
2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
1

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl.Terusan Arjuna No,6 Kebon Jeruk -Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT BHAKTI YUDHA
Nama : Ari Filologus Sugiarto
NIM : 11-2013-204
Dr. Pembimbing / Penguji : dr. Agoes kooshartoro Sp.PD

Tanda Tangan :

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Nn. IWS
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat / tanggal lahir: Cirebon, 26-09-1992 Suku Bangsa : Jawa
Status perkawinan: Belum menikah
Agama: Islam
Pekerjaan : Mahasiswa
Pendidikan : SMA
Alamat: Jln. Masjid Al-Falah No 1 RT 05/05 Ratu Jaya

A. ANAMNESIS
Diambil dari: Autoanamnesis Tanggal : 15 Oktober, jam : 13.05
Keluhan utama:
BAB cair sejak 2 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang:


Os datang dengan keluhan BAB cair sejak 2 hari SMRS dengan frekuensi 7x/hari,
konsistensi cair berwarna kuning kecoklatan sebanyak aqua gelas, terdapat lendir dan tidak
ada darah. Keluhan disertai mual muntah ketika saat ingin makan, sakit kepala seperti tertekan,
demam tinggi sepanjang hari, nyeri ulu hati, nafsu makan berkurang dan lemas sepanjang hari.
Keluhan batuk pilek disangkal dan BAK dalam batas normal

Satu hari SMRS os berobat ke klinik dokter terdekat dan diberi obat diare diminum 3x1,
oralit diminum setiap buang air besar, paracetamol 3x1, dan obat lambung 3x1. Namun karena os
merasa tidak ada perbaikan maka os memutuskan untuk dating ke UGD RS BHAKTI YUDHA
Penyakit Dahulu ( Tahun, diisi bila ya { + ), bila tidak ( - ) )
( - ) Cacar
( - ) Disentri
( - ) Cacar air
( - ) Hepatitis
( - ) Difteri
( - ) Tifus Abdominalis
( - ) Batu rejan
( - ) Skrofula
( - ) Campak
( - ) Sifilis
( - ) Influensa
( - ) Gonore
( - ) Tonsilitis
( - ) Hipertensi
( - ) Korea
( - ) Ulkus Ventrikuli
( - ) Demam Rematik Akut
( - ) Ulkus Duodeni
( - ) Pneumonia
( - ) Gastritis
( - ) Pleuritis
( - ) Batu Empedu
( - ) Tuberkolosis
( - ) Batu ginjal /
( - ) Malaria
Saluran kemih

( - ) Burut (hernia)
( - ) penyakit prostat
( - ) Wasir
( - ) Diabetes
( - ) Alergi
( - ) Tumor
( - ) Penyakit Pembuluh
( - ) Perdarahan otak
( - ) Psikosis
( - ) Neurosis
Lain lain :
( - ) Operasi
( - ) Kecelakaan

Riwayat Keluarga
Hubungan

Umur (Tahun) Jenis Kelamin

Keadaan

Penyebab

Kakek
Nenek
Ayah
Ibu
Saudara

69
65
40
35
17
27

Kesehatan
Sehat
Meninggal
Meninggal
Sehat
Sehat
Sehat

Meninggal
Jatuh
Gagal ginjal
-

Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki laki
Perempuan

Anak anak -

Kerabat yang menderita :


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkolosis

Ya

Tidak

Hubungan

Artritis
Rematisme
Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung

ANAMNESIS SISTEM
Catat keluhan tambahan positif disamping judul - judul yang bersangkutan
Harap diisi: Bila ya (+), bila tidak {-).
Kulit
( - ) Bisul
( - ) Kuku
( - ) Rambut

( - ) Kuning / Ikterus
( - ) Keringat malam
( - ) Sianosis

( - ) Lain - Iain

Kepala
( - ) Trauma
( - ) Sinkop

( + ) Sakit kepala
( - ) Nyeri pada sinus

Mata
( - ) Nyeri
( - ) Sekret
( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Radang
( - ) Gangguan penglihatan
( - ) Ketajaman penglihatan

Telinga
( - ) Nyeri
( - ) Sekret
( - ) Tinitus

( - ) Gangguan pendengaran
( - ) Kehilangan pendengaran

Hidung
(
(
(
(

- ) Trauma
- ) Nyeri
- ) Sekret
- ) Epistaksis

( - ) Gejala penyumbatan
( - ) Gangguan penciuman
( - ) Pilek
4

Mulut
( - ) Bibir
( - ) Gusi
( - ) Selaput

( - ) Lidah
( - ) Gangguan pengecap
( - ) Stomatisis

Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan

( - ) Perubahan suara

Leher
( - ) Benjolan

( - ) Nyeri leher

Dada (Jantung / Paru - paru)


( - ) Nyeri dada
( - ) Berdebar
( - ) Ortopnoe

( - ) Sesak napas
( - ) Batuk darah
( - ) Batuk

Abdomen (Lambung/ Usus)


( - ) Rasa kembung
( + ) Mual
( + ) Muntah
( - ) Muntah darah
( - ) Sukar menelan
( + ) Nyeri perut
( - ) Perut membesar

( - ) Wasir
( + ) Mencret
( - ) Tinja darah
( - ) Tinja berwarna dempul
( - ) Tinja berwarna ter
( - ) Benjolan

Saluran kemih / Alat kelamin


(
(
(
(
(
(
(

- ) Disuria
- ) Stranguri
- ) Polliuria
- ) Polakisuria
- ) Hematuria
- ) Kencing batu
- ) Ngompol (tidak disadari) ( - ) Kencing

(
(
(
(
(
(

nanah
5

- ) Kolik
- ) Oliguria
- ) Anuria
- ) Retensi urin
- ) Kencing menetes
- ) Penyakit prostat

Katamenia
( ) Leukore
( ) Lain - lain

( ) Perdarahan

Haid
( - ) Haid terakhir
( + ) Teratur
( - ) Gangguan haid
( - ) Jumlah dan lamanya

( + ) Nyeri
( - ) Pasca menopause
( - ) Menarche
( - ) Gejala klimakterum

Saraf dan Qtot


(
(
(
(
(
(
(

- ) Anestesi
- ) Parestesi
- ) Otot lemah
- ) Kejang
- ) Afasia
- ) Amnesia
- ) lain lain

(
(
(
(
(
(
(

Ekstremitas
( - ) Bengkak
( - ) Nyeri

- ) Sukar mengingat
- ) Ataksia
- ) Hipo / Hiper-esthesi
- ) Pingsan
- ) Kedutan ('tick')
- ) Pusing (Vertigo)
- ) Gangguan bicara (Disarti)

( - ) Deformitas
( - ) Sianosis

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (Kg) : 55 kg
Berat tertinggi kapan (Kg) : 55 kg
Berat badan sekarang (Kg) : 55 kg
Tinggi badan
: 165 cm
Indeks Massa Tubuh
: (55/1.652) = 20,37 kg/m2 BB ideal
Berat badan menurut pasien dirasa :
() Tetap
(+ )Turun
(- ) Naik
RIWAYAT HIDUP
Riwayat Kelahiran
Tempat lahir : ( ) Di rumah ( + ) Rumah Bersalin ( ) R.S. Bersalin
Ditolong oleh : ( + ) Dokter ( ) Bidan ( ) Dukun
( ) lain - lain
Riwayat Imunisasi
( + ) Hepatitis ( + ) BCG ( + ) Campak

( + ) DPT
6

( + ) Polio ( + ) Tetanus

Riwayat Makanan
Frekuensi / Hari
Jumlah / Hari
Variasi / Hari
Nafsu makan

: 3 x sehari
: Cukup
: Bervariasi
: Menurun

Pendidikan
( ) SD ( ) SLTP ( + ) SLTA ( ) Sekolah Kejuruan ( ) Akademi
( ) Universitas ( ) Kursus ( ) Tidak sekolah
Kesulitan
Keuangan
Pekerjaan
Keluarga
Lain-lain

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada

B. PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan umum
Tinggi badan
Berat badan
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan (Frekuensi dan tipe)
Keadaan gizi
Kesadaran
Sianosis
Udema umum
Habitus
Cara berjalan
Mobilisasi (Aktif / Pasif)
Umur menurut perkiraan pemeriksa
Aspek Kejiwaan
o Tingkah laku
o Alam perasaan
o Proses pikir

:
:
:

: 165 cm
: 55 kg
: 110/70 mmHg
: 82x/menit
: 39.5 o C
: 22x/menit, Abdominotorakal
: Cukup
: Compos mentis
: Tidak ada
: Tidak ada
: atletikus
: Baik, tegak
: Aktif
: Sesuai dengan umur pasien

Wajar / gelisah / tenang / hipoaktif / hiperaktif


Biasa / sedih / gembira / cemas / takut / marah
Wajar / cepat / gangguan waham / fobia / obsesi

Kulit

Warna
: Sawo matang
Jaringan parut : Tidak ada
Pertumbuhan rambut : Baik
dan merata

Suhu raba
: Demam
Keringat
: Umum
Lapisan lemak : Normal dan
tersebar merata

Lain-lain : Tidak ada


Effloresensi
: Tidak ada
Pigmentasi
: Tidak ada
Pembuluh darah
: Tidak ada

Lembab / kering
: Kering
Turgor
: Berkurang
Ikterus
: Tidak ada
Edema
: Tidak ada

pelebaran
Kelenjar getah bening

Submandibula : Tidak teraba


Supraklavikula : Tidak teraba
Lipat paha
: Tidak teraba

Ekspresi wajah : Wajar


Rambut : Hitam, merata,

Simetri muka : simetris kanan dan

berkilau, tidak bercabang

kiri
Pembuluh darah temporal: Teraba

Leher : Tidak teraba


Ketiak :Tidakteraba

Kepala

Mata
Exophthalmus (-)
Kelopak : edem(-), xantelasma (-)
Konjungtiva : tidak anemis
Sklera : tidak ikterik
Lapangan penglihatan: luas
Deviatio konjugae (-)
Enopthalmus (-)
Lensa:
jernih,
tidak
terdapat

Visus : belum dilakukan


Gerakan mata : jerky (-), nistagmus
(-)
Tekanan bola mata : normotounu
Nystagmus : (-)

kekeruhan

Telinga
Tuli (-)
Lubang : Lapang, secret (-)
Serumen ( - )
Cairan (-)

Selaput pendengaran : belum dilakukan


Penyumbatan : (-)
Perdarahan: (-)

Mulut
-

Bibir
: lesi tidak ada, simetris, kering dan warna merah pucat
Langit langit : Utuh dan tidak ada ulkus
Gigi geligi
: Lengkap
Faring
: Tidak hiperemis, tidak berbenjol-benjol dan tidak edema
Lidah
: Fasikulasi ( - ), deviasi ( - ), tremor ( - ), tidak atrofi
Tonsil
: T1 T1, detritus ( - ), tidak ada edema
Bau pernapasan : Normal
Trismus
: Negatif
Selaput lendir : Tidak hiperemis, ulcus tidak ada

Tekanan vena Jugularis (JVP) : 5+0 cmH20


Kelenjar tiroid
: Tidak teraba membesar
Kelenjar limfe
: Tidak terdapat pembesaran

Bentuk
Pembuluh darah
Buah dada

Leher

Dada
: Normal, simetris kanan dan kiri.
: Tidak terdapat pelebaran
: Tidak membesar

Paru-paru

Depan
Kiri
Inspeksi
Kanan

Kiri
Palpasi
Kanan

Perkusi
Auskultasi

Belakang

Simetris saat statis dan dinamis, Simetris saat statis dan dinamis,
tidak ada retraksi sela iga

tidak ada retraksi sela iga

Simetris saat statis dan dinamis, Simetris saat statis dan dinamis,
tidak ada retraksi sela iga

tidak ada retraksi sela iga

Benjolan (-), nyeri tekan (-) Benjolan


Fremitus taktil simetris

(-),

nyeri

tekan(-)Fremitus taktil simetris

Benjolan (-), nyeri tekan (-) Benjolan

(-)

nyeri

Fremitus taktil simetris

tekan(-)Fremitus taktil simetris

Kiri

Sonor

Sonor

Kanan

Sonor

Sonor

Kiri

Vesikuler, Rh (-), Wh (-)

Vesikuler, Rh (-), Wh (-)

Kanan

Vesikuler, Rh (-), Wh (-)

Vesikuler, Rh (-), Wh (-)

Jantung
Inpeksi :

Kiri : Tidak terlihat ictus cordis

Palpasi :
Kiri : tidak dilakukan karena os perempuan
Perkusi
:
Batas kanan jantung
Batas atas jantung
Batas pinggang jantung
Batas kiri jantung

:
:
:
:

Sela iga 4 linea sternalis dextra


Sela iga 2 linea sternalis sinistra
Sela iga 3 linea parasternalis sinistra
Sela iga 4, 2 jari ke medial dari linea axilaris

anterior
Auskultasi:
Katub mitral dan katub tricuspid: BJ I> BJ II, murni, murmur tidak ada ,

gallop tidak ada.


Katub aorta dan katub pulmonal : BJ II> BJ I, murni, murmur tidak ada,
gallop tidak ada.

Pembuluh darah
1. Arteri Temporalis
2. Arteri Karotis
3. Arteri Brakialis
4. Arteri Radialis
5. Arteri Femoralis
6. Arteri Poplitea
7. Arteri Tibialis Posterior
8. Arteri Dorsalis Pedis

: Teraba pulsasi
: Teraba pulsasi
: Teraba pulsasi
: Teraba pulsasi
: Teraba pulsasi
: Teraba pulsasi
: Teraba pulsasi
: Teraba pulsasi

Perut
Inspeksi :
Mendatar tidak cekung atau cembung, simetris kanan dan kiri. lesi, bekas
operasi,pelebaran pembuluh darah , dan pergerakan usus tidak ada.
Palpasi :
Dinding perut :
Supel, Nyeri epigastrium, benjolan (-), dan defans muscular (-)
Hati
:
Tidak teraba membesar
Limpa :

Tidak teraba membesar


Ginjal :
Tidak teraba (ballottement negatif)
Lain-lain
Perkusi
:
Timpani dan CVA negatif
Auskultasi
:
Bising usus positif normal, normoperistaltik
Alat kelamin (atas indikasi)
Anggota gerak
Lengan
Otot

Tonus

Normotonus

Normotonus

Massa

Normal, eutrofi

Normal, eutrofi

Aktif,

Sendi

bengkak

(-), Aktif, bengkak (-), krepitasi

krepitasi(-)

(-)

Gerakan

Aktif

Aktif

Kekuatan

+5

+5

Lain lain

Luka

Varises

Tonus

Normotonus

Normotonus

Massa

Normal, eutrofi

Normal, eutrofi

Tungkai dan kaki

Otot

Sendi

Gerakan

Aktif, bengkak (-), krepitasi Aktif, bengkak (-), krepitasi


(-)

(-)

Aktif, tidak ada keterbatasan Aktif, tidak ada keterbatasan


gerak

gerak

Kekuatan

+5

+5

Edema

Lain lain

Refleks :

Refleks tendon
Bisep
Trisep
Patela
Achiles
Kremaster
Refleks kulit
Refleks patologis

Kanan
Positif +2
Positif +2
Positif +2
Positif +2
Positif +2
Belum dilakukan
Belum dilakukan
Belum dilakukan

Kiri
Positif +2
Positif +2
Positif +2
Positif +2
Positif +2
Belum dilakukan
Belum dilakukan
Belum dilakukan

Colok dubur (atas indikasi)


C. LABORATORIUM & PEMERIKSAAN PENUNJANG LAINNYA
Darah rutin
Darah Lengkap
DIFF
Hemoglobin 14.3 g/dl
Basofil
0%
Lekosit
12.4 ribu/mm3
Eusinofil
1%
Hematocrit
41 %
Neutrophile stab
1%
Trombosit
270 ribu/mm3
Neutrophile seg
80 %
LED
10 mm/jam
Lymphosit
15 %
MCV
76.3 fL
Monosyte
3%
MCH
26.9 pg
MCHC
35.2 g/dl
Kimia Darah
Elektrolit
Natrium
131 MEQ/L
Kalium
3.59 MEQ/L
Chloride
96 MEQ/L
Serologi
IgM S TYPI/TUBEX TF
Salmonella IgM
2
FAECES
FAECES LENGKAP
MAKROSKOPIK
Warna
kuning kecoklatan
Konsistensi cair
Lendir
positive
Darah
negative
Nanah
negative
MIKROSKOPIK
Lekosit
0-2
Eritrosit
2-3
Entamoeba
negative
Telur cacing negative
Amylum
negative
Lemak
negative
Bakteri
positive

D. Analisis Masalah
1. Gastroenteritis Akut dengan dehidrasi ringan
E. Pengkajian Masalah
Gastroenteritis Akut dengan dehidrasi ringan
Anamnesis
Os datang dengan keluhan BAB cair sejak 2 hari SMRS dengan
frekuensi 7x/hari, konsistensi cair berwarna kuning kecoklatan sebanyak
aqua gelas, terdapat lendir dan tidak ada darah. Keluhan disertai mual muntah
ketika saat ingin makan, sakit kepala seperti tertekan, demam tinggi sepanjang
hari, nyeri ulu hati, nafsu makan berkurang dan lemas sepanjang hari.
Pemeriksaan Fisik :
nyeri tekan ulu hati, demam dan turgor melambat
Pemeriksaan Penunjang :
Lekosit
12.4 ribu/mm3
Natrium
131 MEQ/L
Chloride
96 MEQ/L
Bakteri (faeces)
positive
Tatalaksana
Non medikmentosa

Tirah baring
Diet rendah serat

medikamentosa

IVFD Asering 30 tpm


Sanmol inf 3x500mg
New diatabs 2x3
Terfacef 1x1gr
Vometraz 3x4mg
Spasmomen 3x1
Imodium 2x1

RINGKASAN (RESUME)
Perempuan 22 tahun datang dengan keluhan BAB cair sejak 2 hari SMRS dengan
frekuensi 7x/hari, konsistensi cair berwarna kuning kecoklatan sebanyak aqua gelas,
terdapat lendir dan tidak ada darah. Keluhan disertai mual muntah ketika saat ingin makan,

sakit kepala seperti tertekan, demam tinggi sepanjang hari, nyeri ulu hati, nafsu makan
berkurang dan lemas sepanjang hari.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
Suhu
: 39.5 C
Pernafasan
: 22 x/menit
Kepala
: mata cekung
Abdomen
: nyeri tekan epigastrium
Kulit
: turgor lambat
Pemeriksaan Penunjang
Lekosit
12.4 ribu/mm3
Natrium
131 MEQ/L
Chloride
96 MEQ/L
Bakteri (faeces)
positive
Anjuran pemeriksaan

Darah lengkap
Electrolit lengkap
Faeces lengkap

Pencegahan

Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah BAB


Memasak dengan matang makanan dan sayuran
Memasak air yang akan diminum atau digunakan untuk sehari hari
Membersihkan tempat MCK secara rutin
Profilaksis ke tempat dengan kasus diare tinggi (gol kuinolon)

Prognosis
Dubia et Bonam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit diare atau gastroenteritis merupakan suatu penyakit penting disekitar
masyarakat yang masih merupakan sebab utama kesakitan dan kematian seseorang terutama
pada anak.Hal ini tercemin banyak orang yang menderita penyakit diare atau gastroenteritis
yang masuk keluar dari Rumah Sakit.Akibat dari penyakit diare banyak faktor diantaranya
kesehatan lingkungan, higene perorangan, keadaan gizi, faktor sosial ekonomi, menentukan
serangan penyakit diare, walaupun banyak kasus diare yang mengalami dehidrasi namun
banyak yang meninggal bila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang tepat. Masyarakat pada
umumnya selalu menganggap suatu hal penyakit diare adalah sepele, sedangkan jika
mengetahui yang terjadi sebenarnya banyak penderita diare yang mengalami kematian.
Penyakit gastrointeritis merupakan penyakit yang harus sege ra ditangani karena dapat
mengalami dehidrasi berat yang mengakibatkan syok hipovolemik dan mengalami
kematian.
Masalah pada penyakit gastrointeritis atau diare yang dapat mengakibatkan kematian
berupa komplikasi lain dan masalah lain yang berkaitan dengan diare belum sepenuhnya
ditanggulangi secara memadai, namun berbagai peran untuk mencegah kematian yang berupa
komplikasi dan masalah lain seperti pelayanan kesehatan yang baik dan terpenuhi, dalam
mencegah penyakit diare dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada semua warga
masyarakat tentang penyakit gastroenteriritis serta peran keluarga dan warga sekitarnya
sangat mendorong turunnya terjadinya penyakit gastroenteritis karena dari keluargalah pola

hidup seseorang terbentuk. Dengan pola hidup yang sehat dan bersih dapat mencegah
terjadinya penyakit gastrointeritis.
Maka dari itu muncul gagasan untuk mengurangi agar tidak muncul penderita
gastroenteritis dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat luas dan dari
latar belakang tersebut penyusun mengambil kasus tersebut sebagai penyusunan makalah
keperawatan medikal bedah dengan judul gastroenteritis.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Diare adalah buang air besar ( defekasi ) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair
( setengah padat ), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau
200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih
dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah.
Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari. Sedangkan menurut
World Gastroenterology Organisation global guidelines 2005, diare akut didefinisikan
sebagai pasase tinja yang cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung
kurang dari 14 hari.
Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari. Sebenarnya para pakar
di dunia telah mengajukan beberapa kriteria mengenai batasan kronik pada kasus diare
tersebut, ada yang 15 hari, 3 minggu, 1 bulan, dan 3 bulan, tetapi di Indonesia dipilih waktu
lebih dari 15 hari agar dokter tidak lengah, dapat lebih cepat menginvestigasi penyebab diare
dengan lebih tepat.
Diare persisten merupakan istilah yang dipakai di luar negri yang menyatakan diare
yang berlangsung 15 30 hari yang merupakan kelanjutan dari diare akut ( peralihan antara
diare akut dan kronik, dimana lama diare kronik yang dianut yaitu yang berlangsung lebih
dari 30 hari).

Diare infektif adalah bila penyebabnya infeksi. Sedangkan diare non infektif bila tidak
ditemukan infeksi sebagai penyebab pada kasus tersebut.
Diare organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik, hormonal,
atau toksikologik. Diare fungsional bila tidak dapat ditemukan penyebab organik.

KLASIFIKASI
Dare dapat diklasifikasikan berdasarkan:
1.
2.
3.
4.
5.

Lama waktu diare: akut atau kronik,


Mekanisme patofisiologis: osmotik atau sekretorik,dll
Berat ringan diare: kecil atau besar,
Penyebab infeksi atau tidak: infektif atau non-infektif,dan
Penyebab organik atau tidak: organik atau fungsional.

B. Etiologi
Faktor infeksi
1. Infeksi internal, yaitu saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare.
Pada sat ini telah dapat diidentifikasi tidak kurang dari 25 jenis mikroorganisme yang
dapat menyebabkan diare pada anak dan bayi. Penyebab itu dapat digolongkan lagi
kedalam penyakit yang ditimbulkan adanya virus, bakteri, dan parasit usus. Penyebab
utama oleh virus yang terutama ialah rotavirus (40-60%) sedangkan virus lainnya ialah
virus Norwalk, astrovirus, calcivirus, coronavirus, minirotavirus dan virus bulat kecil.
Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit itu adalah aeromonashidrophilia,
bacillus cereus, campylobacter jejuni, clostridium defficile, clostridium perfringens, E,
coli, plesiomonas, shigelloides, salmonella spp, staphylococcus aureus, vibrio
cholerae, dan yersinia enterocolitica.
2. Sedangkan penyebab gastroenteritis (diare akut) oleh parasit adalah balantidium coli,
capillaria philippinensis, cryptosporidium, entamoeba histolitica, giarsia lamblia,

isospora billi, fasiolapsis buski, sarcocystis suihominis, strongiloides stercoralis, dan


trichuris trichuria.
3. Bakteri penyebab gastroenteritis (diare akut) dibagi dalam dua golongan besar, ialah
bakteri non invasive dan bakteri invasive. Yang termauk dalam golongan bakteri non
invasive adalah : vibrio cholera, E. coli pathogen (EPEC,ETEC,EIEC). Sedangkan
golongan bakteri invasiv adalah salmonella spp, shigella spp, E. coli infasif (EIEC), E.
coli hemorrhagic (EHEC) dan camphylobcter. Diare karena bakteri invasive dan non
ihnvasiv terjadi melalui suatu mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan
transport ion di dalam sel-sel usus berikut ini : CAMP (cyclic adenosine
monophospate), CGMP (cyclic guaniosin monophospate), Ca-dependent dan
pengaturan ulang sitoskeleton.
4. Infeksi parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti :
otitis media akut, pneumonia, tonsilopharingitis, intoksikasi makanan, alergi susu atau
makanan, dan malaabsorbsi.

Keadaan Risiko Dan Kelompok Risiko Tinggi Yang Mungkin Mengalami Diare Infeksi
1. Baru saja bepergian/melancong : ke negara berkembang, daerah tropis, kelompok
perdamaian dan pekerja sukarela, orang yang sering berkemah (dasar berair)
2. Makanan atau keadaan makanan yang tidak biasa: makanan laut dan shell fish,
terutama yang mentah, Restoran dan rumah makan cepat saji (fast food), banket,
piknik
3. Homoseksual, pekerja seks, pengguna obat intravena, risiko infeksi HIV, sindrom
ususs homoseks (Gay bowel Syndrome) sindrome defisiensi kekebalan didapat
(Acquired immune deficiency syndrome)
4. Baru saja menggunakan obat antimikroba pada institusi: intitusi kejiwaan/mental,
rumah-rumah perawatan, rumah sakit.

C. Epidemiologi
Pada penelitian diare akut pada 123 pasien di RS.persahabatan dari 1 Nopember 1993 s.d
30 April 1994 Hendarwanto, Setiawan B dkk. Mendapatkan etiologi infeksi seperti pada

World Gastroenterology Organisation gloabal guidelines 2005 membuat daftar


epidemiologi penyebab yang berhubungan dengan vihicle dan gejala klinik

D. Manifestasi KLinis

Rasa perih di ulu hati

BAB cair/lunak

Nyeri perut (abdominal discomfort)

Mual, kadang-kadang sampai muntah

Nafsu makan berkurang

Rasa lekas kenyang

Demam

Perut kembung

Rasa panas di dada dan perut

Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba).

E. Patofisiologi
diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih dari patofisiologi sebagai berikut:
a. Osmolaritas intraluminal yang meninggi, disebut diare Osmotik
Disebabkan karena meningkatnya tekanan osmotic intralumen dari usus halus
yang disebabkan olehobat-obat/zat kimia yang hiperosmotik.(MgSO4, Mg(OH)2,
malabsorbsi umum dan defek dalam absorbs mukosa usus missal pada defisiensi
disarridase, malabsorbsi glukosa/galaktosa

b. Sekresi cairan dan elektrolit meninggi, disebut diare Sekretorik


Disebabkan meingkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunya absorbs.
Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja
yang banyak sekali. Diare tipe ini akan terus berlangsung walaupun dilakukan
puasa makan/minum. Penyebab diare tipe ini antara lain karena efek enterotoksin
pada infeksi Vibrio Cholerae, atau Eschericia Coli, penyakit yang menghasilkan
hormone (VIPoma), reaksi ileum (gangguan absorbs garam empedu), dan efek
obat laktasif (diotyl sodium sulfasuksinat dll)
c. Malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi lemak
Diare tipe ini didapatkan pada gangguan pembentukan/produksi micelle empedu
dan penyakit-penyakit saluran bilier dan hati.
d. Defek system pertukaran anion/transport elektrolit aktif di eritrosit
Disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+K+ ATP ase di
eritrosit dan absorbs Na+ dan air yang abnormal.
e. Motilitas dan waktu transit usus abnormal
Disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan
absorbs yang absnormal diusus halus. Penyebab gangguan motilitas antaralain :
diabetes militus, pasca vagotomi, hipertiroid.
f. Gangguan permeabilitas usus, disebut diare Infeksi
Disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan karena adanya kelainan
morfologi membrane epitel spesifik pada usus halus
g. Inlamasi dinding usus (diare inflamatorik)
Disebabkan karena adanya kerusakan mukosa usus karena proses inflmasi,
sehingga terjadi produksi mukosa mucus yang berlebihan dan eksudasi air dan
elektrolit kedalam lumen, gangguan absorbs air-elektrolit. Inflamasi mukosa usus

halus dapat disebabkan infeksi (disentri shigella) atau non infeksi (colitis ulseratif
dan penyakit Crohn)
h. Diare infeksi
Merupakan penyebab tersering diare. Dibagi atas non-invasif (tidak merusak
mukosa) dan infasif (merusak mukosa).
Bakteri non-invasif menyebabkan diare karena toksin yang di sekresi oleh bakteri
tersebut, yang disebut diare Toksigenik (Kolera)

PATOGENESIS
Yang berperan pada terjadinya diarekut terutama karena infeksi yaitu faktor kausal
(agent) dan faktor penjamu(host). Faltor penjamu adalah kemampuan tubuh untuk
mempertahankan diri terhadap organisme yang menimbulkan diare akut, terdiri dari
faktor-faktor daya tangkis atau lingkungan internal saluran cerna antara lain: keasaman
lambung, molaritas usus, imunitas dan juga lingkungan mikroflora usus. Faktor kausal
yaitu daya penetrasi yang dapat merusak sel mukosa, kemampuan memproduksi toksin
yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya lekat kuman. Patogenesis diare
karena infekti bakteriparasit terdiri atas:
Diare karena bakteri non-invasif (enterotoksigenik).
Bakteri yang tidak merusak mukosa misal V.cholerae Eltor, Enterotoxigenic E.coli
(ETEC) dan C. Perfringens. V. Cholerae eltor mengeluarkan toksin yang terikatpada
mukosa usus halus 15-30 menit sesudah diproduksi vibrio. Enterotoksin ini menyebabkan
kegiatan berlebihan nikotinamid adenin dinukleotid pada dinding sel usus, sehingga
meningkatkan kadar adenosisn 3,5-siklik monofosfat (siklik AMP) dalam sel yang
menyebabkan sekresi aktif anion klorida kedalam lumen usus yang diikuti oleh air, ion
bikarbonat, kation natrium, dan kalium.
Diare karena bakteri/parasit invasif (enterovasif).
Bakteri yang merusak (invasif) antara lain Enteroinvasive E. coli (EIEC), Shalmonella,
yersinia, C. Perfringens tipe C. Diare disebabkan oleh kerusakan dinding usus berupa

nekrosis dan ulserasi. Sifat diarenya sekretorik eksudatif. Cairan diare dapat tercampur
lendir dan darah. Walau demikian infeksi kuman-kuman ini dapat juga bermanifestasi
sebagai diare koleriformis. Kuman Salmonella yang sering menyebabkan diare yaitu S.
Paratyphi B, Styphimurium, S enterriditis, S choleraesuis. Penyebab parasit yang sering
yaitu E. Histolitika dan G. Lamblia.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
Anamnesis
Pasien dengan diare akut datang dengan berbagai gejala klinik tergantung penyebab
penyakit dasarnya. Keluhan diarenya berlangsung kurang dari 15 hari. Diare karena
penyakit usus halus biasanya berjumlah banyak, diare air, dan sering berhubungan dengan
malabsorpsi, dan dehidrasi sering didapatkan. Diare karena kelainan kolon seringkali
berhubungan dengan tinja berjumlah kecil tetapi sering, bercampur darah dan sensasi
ingin ke belakang. Pasien dengan diare akut infektif datang dengan keluhan khas yaitu
nausea, muntah, nyeri abdomen, demam, dan tinja yang sering, bisa air, malabsorptif, atau
berdarah tergantung bakteri patogen yang spesifik. Secara umum, patogen usus halus
tidak invasif, dan patogen ileokolon lebih mengarah keinvasif. Pasien yang memakan
toksin atau pasien yang mengalami infeksi toksigenik secara khas mengalami nausea dan
muntah sebagai gejala prominen bersamaan dengan diare air tetapi jarang mengalami
demam. Muntah yang mulai beberapa jam dari masuknya makanan mengarahkan kita
pada keracunan makanan karena toksin yang dihasilkan. Parasit yang tidak menginvasi
mukosa usus, seperti Giardia lamblia dan Cryptosporidium, biasanya menyebabkan rasa
tidak nyaman di abdomen yang ringan. Giardiasis mungkin berhubungan dengan
steatorea ringan, perut bergas dan kembung.
Bakteri invasif seperti Campylobacter, Salmonella, dan Shigella, dan organisme yang
menghasilkan sitotoksin seperti Clostridium difficile dan Enterohemorrhagic E coli
(serotipe O 157: H7) menyebabkan inflamasi usus yang berat. Organisme Yersinia
seringkali menginfeksi ileum terminal dan caecum dan memiliki gejala nyeri perut
kuadran kanan bawah, menyerupai apendisitas akut. Infeksi Campylobacter jejuni sering
bermanifestasi sebagai diare, demam dan kadang kala kelumpuhan anggota badan dan

badan(sindrom Guillain-Barre). Keluhan lumpu pada infeksi usus ini sering disalah tafsir
sebagai malpraktek dokter karena ketidaktahuan masyarakat. Diare air merupakan gejala
tipikal dari organisme yang menginvasi epitel usus dengan inflamasi minimal, seperti
virus enterik, atau organisme yang menempel tetapi tidak menghancurkan epitel, seperti
enteropathogenic E coli, protozoa, helminths. Beberapa organisme seperti Campylobacter,
Aeromonas, Shigella, dan Vibrio species (misal, V parahemolyticus) menhasilkan
enterotoksin dan juga menginvasi mukosa usus pasien, karena itu menunjukkan gejala
diare air diikuti diare berdarah dalam beberapa jam atau hari. Sindrom Hemolitik-uremik
dan purpura trombositopenik trombotik (TTP) dapat timbul pada infeksi denagan bakteri
E coli enterohemorrhagic dan Shigella, terutama anak kecil dan orang tua. Infeksi
Yersinia dan bakteri enterik lain dapat disertai sindrom Reiter (artritis, uretritis, dan
konjungtivitis), tiroiditis, perikarditis atau glomerulonefritis. Demam enterik, disebabkan
Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi, merupakan penyakit sistemik yang berat
yang bermanifestasi sebagai demam tinggi yang lama, prostrasi, bingung dan gejala
respiratorik, diikuti nyeri tekan abdomen, diare dan kemerahan (rash).
Dehidrasi dapat timbul jika diare dan asupan oral terbatas karena nausea dan muntah,
terutama pada anak kecil dan lanjut usia. Dehidrasi bermanifestasi sebagai rasa haus yang
meningkat, berkurangnya jumlah buang air kecil ndengan warna urine gelap, tidak
mampu berkeringat, dan perubahan ortostatik. Pada keadaan berat, dapat mengarah ke
gagal ginjal akut dan perubahan status jiwa seperti kebingungan dan pusing kepala.

Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dibagi atas 3 tingkatan:


Dehidrasi Ringan (hilang cairan 2-5% BB):
Gambaran klinisnya tugor kurang, suara serak (vox cholerica), pasien belum jatuh dalam
presyok.

Dehidrasi Sedang (hilang cairan 5-8%BB):


Turgor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok, nadi cepat, napas cepat
dan dalam.
Dehidrasi Berat (hilang cairan 8-10% BB):
Dehidrasi sedang ditambah kesadaran menurun (apatis sampai koma), otot-otot kaku,
sianosis.
Pemeriksaan Fisis
Kelainan-kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sangat berguna dalam
menentukan beratnya diare daripada menentukan penyebab diare. Status volume dinilai
dengan memperhatikan perubahan ortostatik pada tekanan darah dan nadi, temperatur
tubuh dan tanda toksisitas. Pemeriksaan abdomen yang seksama merupaka hal yang
penting. Adanya dan kualitas bunyi usus dan adanya atau tidak adanya distensi abdomen
dan nyeri tekan merupakan clue bagi penentu etilogi.

Pemeriksaan Penunjang
Darah :

Darah perifer lengkap

Ureum kreatinin

Serum elektrolit : Na, K, Cl

Analisa gas darah apabila didapatkan tanda tanda gangguan keeimbangan asam
basa (pernafasan Kusmaull)

Immunoassay : toksin bakteri (C. defficile), antigen virus (rotavirus), antigen


protozoa (Giardia, E.histolytica)

Feses

Fese lengkap (mikroskopis : peningkatan jumlah leukosit di feses pada


inflammatory diarrhea; parasite : amoeba bentuk tropozoit, hypha pada jamur)

Biakan dan resistensi feses (colok dubur)

Pemeriksaan penunjang diperlukan dalam penatalaksanaan diare akut karena infeksi, karena
dengan tatacara pemeriksaan yang terarah akan sampai pada terapi definitive

PENENTUAN DERAJAT DEHIDRASI


Derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan:
1. Keadaan klinis: ringan, sedang dan berat (telah dibicarakan diatas)
2. Berat Jenis Plasma: Pada dehidrasi BJ plasma meningkat
a) Dehidrasi berat: BJ plasma 1,032-1,040
b) Dehidrasi sedang: BJ plasma 1,028-1,032
c) Dehodrasi ringan: BJ plasma 1,025-1,028
3. Pengukuran Central Venous Pressure (CVP): Bila CVP +4s/d+11cm H2): normal
Syok atau dehidrasi maka CVP kurang dari +4cm H2O
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding diare akut perlu dibuat sehingga kita dapat memberikan pengobatan yang
lebih baik. Pasien diare akut dapat dibagi atas daire akut yang disertai demam/tnja berdarah
dan diare akut yang tidak disertai demam/tinja berdarah.
1. Pasien Diare Akut Disertai Demam dan Tinja Berdarah
Observasi umum: diare sebagai akibat mikroorganisme infasif, lokasi sering di daerah kolon,
diarenya berdarah sering tapi jumlah volume sedikit, sering diawali diare air.
Patogen:
1. Shigella spp (disentri basiler, shigellosis)
2. Campylobacterjejuni
3. Salmonella spp, Aeromonas hydrophila, V.parahaemolyticus, Plesiomonas
shigelloides, Yersinia.

Diagnosis:
1. Diferensiasi klinik sulit, terutama membedakan dengan penyakit usus inflamatorik
idiopatik non infeksi,
2. Banyak leukosit di tinja (patogen invasif),
3. Kultur tinja untuk Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia,
4. Darah tebal untuk malaria

DIENTRI
Definisi
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron (usus), yang berarti
radang usus yang menimbulkan gejala meluas dengan gejala buang air besar dengan tinja
berdarah, diare encer dengan volume sedikit, buang air besar dengan tinja bercampur lender
(mucus) dan nyeri saat buang air besar (tenesmus). (2)
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang
air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah. (3)
Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak terbatas
di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri, yakni: 1)
sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus, 2) berak-berak, dan 3) tinja mengandung
darah dan lendir
Gejala Klinis
a. Disentri Basiler
Masa tunas berkisar antara 7 jam sampai 7 hari. Lama gejala rerata 7 hari sampai 4
minggu. Pada fase awal pasien mengeluh nyeri perut bawah, diare disertai demam yang
mencapai 400C. Selanjutnya diare berkurang tetapi tinja masih mengandung darah dan lendir,
tenesmus, dan nafsu makan menurun. (6)
Bentuk klinis dapat bermacam-macam dari yang ringan, sedang sampai yang berat.
Sakit perut terutama di bagian sebelah kiri, terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga
mengakibatkan perut menjadi cekung. Bentuk yang berat (fulminating cases) biasanya

disebabkan oleh S. dysentriae. Gejalanya timbul mendadak dan berat, berjangkitnya cepat,
berak-berak seperti air dengan lendir dan darah, muntah-muntah, suhu badan subnormal,
cepat terjadi dehidrasi, renjatan septik dan dapat meninggal bila tidak cepat ditolong.
Akibatnya timbul rasa haus, kulit kering dan dingin, turgor kulit berkurang karena dehidrasi.
Muka menjadi berwarna kebiruan, ekstremitas dingin dan viskositas darah meningkat
(hemokonsentrasi). Kadang-kadang gejalanya tidak khas, dapat berupa seperti gejala kolera
atau keracunan makanan.
Kematian biasanya terjadi karena gangguan sirkulasi perifer, anuria dan koma uremik.
Angka kematian bergantung pada keadaan dan tindakan pengobatan. Angka ini bertambah
pada keadaan malnutrisi dan keadaan darurat misalnya kelaparan. Perkembangan penyakit ini
selanjutnya dapat membaik secara perlahan-lahan tetapi memerlukan waktu penyembuhan
yang lama.
Pada kasus yang sedang keluhan dan gejalanya bervariasi, tinja biasanya lebih
berbentuk, mungkin dapat mengandung sedikit darah/lendir. Sedangkan pada kasus yang
ringan, keluhan/gejala tersebut di atas lebih ringan. Berbeda dengan kasus yang menahun,
terdapat serangan seperti kasus akut secara menahun. Kejadian ini jarang sekali bila
mendapat pengobatan yang baik. (2)

b. Disentri Amuba
Carrier (Cyst Passer)

Pasien ini tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini disebabkan karena amoeba
yang berada dalam lumen usus besar tidak mengadakan invasi ke dinding usus.
Disentri amoeba ringan
Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Penderita biasanya mengeluh
perut kembung, kadang nyeri perut ringan yang bersifat kejang. Dapat timbul diare ringan, 45 kali sehari, dengan tinja berbau busuk. Kadang juga tinja bercampur darah dan lendir.
Terdapat sedikit nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang nyeri di daerah epigastrium. Keadaan
tersebut bergantung pada lokasi ulkusnya. Keadaan umum pasien biasanya baik, tanpa atau
sedikit demam ringan (subfebris). Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikit
nyeri tekan.
Disentri amoeba sedang
Keluhan pasien dan gejala klinis lebih berta dibanding disentri ringan, tetapi pasien
masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tinja biasanya disertai lendir dan darah.
Pasien mengeluh perut kram, demam dan lemah badan disertai hepatomegali yang nyeri
ringan.
Disentri amoeba berat
Keluhan dan gejala klinis lebih berta lagi. Penderita mengalami diare disertai darah
yang banyak, lebih dari 15 kali sehari. Demam tinggi (40 0C-40,50C) disertai mual dan
anemia.
Disentri amoeba kronik
Gejalanya menyerupai disentri amoeba ringan, serangan-serangan diare diselingi dengan
periode normal atau tanpa gejala. Keadaan ini dapat berjalan berbulan-bulan hingga bertahuntahun. Pasien biasanya menunjukkan gejala neurastenia. Serangan diare yang terjadi biasanya
dikarenakan kelelahan, demam atau makanan yang sulit dicerna. (6)

2. Diare Akut Tanpa Demam Ataupun Darah Tinja


Observasi umum: patogen non-invasif (tinja air banyak, tidak ada leukosit tinja), sering
disertai nausea, kadang vomitus, lebih sering manifestasi dari diare turis (85% kasus), pada
kasus kolera, tinja seperti cucian bera, sering disertai muntah.
Patogen:
1.
2.
3.
4.

ETEC,penyebab tersering dari diare turis,


Giardia lamblia
Rotavirus, virus Norwalk,
Eksotoksin Preformed dari S.aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens
(tipe A),diare disebabkan toksin dikarakterisasi oleh lama inkubasi yang

pendek 6 jam,
5. Penyebab lain: Vibrio parahaemolyticus (ikan laut dan Shell fish yang tidak
cukup didinginkan), Vibrio cholerae (kolera), Bahan toksik pada makanan
(logam berat misal preservatif kaleng, nitrit, pestisida, histamin pada ikan),
jamur, kriptosporidium, Isospora belli (biasa pada pasien HIV positif
meskipun dapat terjadi juga pada manusia normal)
Diagnosis:
Tidak ada leukosit dalam tinja, kultur tinja (sangat rendah pada diare air), tes untuk
ETEC tidak biasa, tersedia pada laboratorium rutin, pemeriksaan parasit untuk tinja
segar, sering beberapa pemeriksaan ulangan dibutuhkan untuk mendeteksi Giardia
lamblia.

KOLERA
Kolera adalah suatu penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan yang disebabkan oleh
suatu enterotoksin yang dihasilkan oleh vibrio Kolera, ditandai dengan diare cair ringan
sampai diare cair berat dengan muntah yang dengan cepat menimbulkan syok hipololemik,
asidosis metabolik dan tidak jarang menimbulkan kematian
A. Manifestasi Klinis

Diare cair dan muntah timbul sesudah masa inkubasi 6 jam sampai 72 jam (ratarata 2-3 hari) kadang-kadang sampai 7 hari. Kolera dimulai dengan awitan diare berair
tanpa rasa nyeri (tenesmus) dengan tiba-tiba yang mungkin cepat menjadi sangat banyak
dan sering langsung disertai muntah. Feses memiliki penampakan yang khas yaitu cairan
agak keruh dengan lendir, tidak ada darah dan berbau agak amis. Kolera di juluki air
cucian beras (rise water stool) karena kemiripannya dengan air yang telah digunakan
untuk mencuci beras. nyeri abdominal di daerah umbilikal sering terjadi. Pada kasuskasus berat sering dijumpai muntah-muntah, biasanya timbul setelah awitan diare kurang
lebih 25 % penderita anak-anak mengalami peningkatan suhu rektum (38-39C), pada
saat dirawat atau pada 24 jam pertama perawatan gejala klinisnya sesuai dengan
penurunan volume cairan, pada kehilangan 3-5 % BB normal, mulai timbul rasa haus.
Kehilangan 5-8 %, hipotensi postural, kelemahan, takikardia dan penurunan
turgor kulit, di atas 10% BB atau lebih merupakan diare masif, dimana terdapat dehidrasi
berat dan kolaps peredaran darah, dengan tanda-tanda tekanan darah menurun (hipotensi)
dan nadi lemah dan sering tak terukur, pernafasan cepat dan dalam, oliguria, mata cekung
pada bayi, ubun-ubun cekung, kulit terasa dingin dan lembab disertai turgor yang buruk,
kulit menjadi keriput, terjadi sianosis dan nyeri kejang pada otot-otot anggota gerak,
terutama pada bagian betis. Penderita tampak gelisah, disertai letargi, somnolent dan
koma. Pengeluaran tinja dapat berlangsung hingga 7 hari. Manifestasi selanjutnya
tergantung pada pengobatan-pengobatan pengganti yang memadai atau tidak. Komplikasi
biasanya disebabkan karena penurunan volume cairan dan elektrolit. Komplikasi dapat
dihindari dan proses dapat dibatasi apabila diobati dengan cairan dan garam yang
menandai. Tanda awal penyembuhan biasanya adalah kembalinya pigmen empedu di
dalam tinja. Pada umumnya diare akan cepat berhenti.(1)

B. Diagnosis
Dalam menegakan suatu diagnosis kolera meliputi gejala klinis, pemeriksaan fisik
,reaksi aglutinasi dengan anti serum spesifik dan kultur bakteriologis. Menegakkan
diagnosis penyakit kolera yang berat terutama diderah endemik tidaklah sukar.
Kesukaran menegakkan diagnosis biasanya terjadi pada kasus-kasus yang ringan dan
sedang, terutama di luar endemi atau epidemi.
1. Gejala klinik

Kolera yang tipik dan berat dapat dikenal dengan adanya berak-berak yang sering
tanpa mulas diikuti dengan muntah-muntah tanpa mual, cairan tinja berupa air cucian
beras, suhu tubuh yang tetap normal atau menurun dan cepat bertambah buruknya
keadaan pasien dengan gejala-gejala akibat dehidrasi, renjatan sirkulasi dan asidosis
yang jelas. (PD, FKUI, 1996) (6)
2. Pemeriksaan Fisik.
Adanya tanda-tanda dehidrasi yaitu keadaan turgor kulit, mata cekung, Ubun ubun
besar yang cekung, mulut kering,denyut nadi lemah atau tiada, takikardi, kulit dingin,
sianosis, selaput lendir kering dan kehilangan berat badan
3. Kultur Bakteriologis
Diagnosis pasti kolera tergantung dari keberhasilan mengisolasi V. Kolera 0 1 dari tinja
penderita penanaman pada media seletif agar gelatin tiosulfat-sitrat-empedu-sukrosa
(TCBS) dan TTGA. Tampak pada TCBS organisme V. Kolera menonjol sebagai
koloni besar, kuning halus berlatar belakang medium hijau kebiruan. Pada TTGA
koloni kecil, opak dengan zone pengkabutan sekelilingnya.

F. Penatalaksanaan
Rehidrasi
Bila pasien keadaan umum baik tidak dehidrasi, asupan cairan yang adekuat dapat
dicapai dengan minuman ringan, sari buah, sup, dan keripik asin. Bila pasien kehilangan
cairan yang banyak dan dehidrasi, penatalaksanaan yang agresif seperti cairan intravena
atau rehidrasi oral dengan cairan isotonic mengandung elektrolit dan gula atau starch
harus diberikan.
Terapi rehidrasi oral murah, efektif dan lebih praktis dari pada cairan intravena. Cairan
diberikan 50-200ml/kgBB/24jam tergantung kebutuhan dan status hidrasi.
Dehidrasi terdiri dari dehidrasi ringan jika pasien kekurangan cairan 2 5% dari berat
badan. Dehidrasi seang bila pasien kehilangan cairan 5 8% dari BB. Dehidrasi berat bila
pasien kehilangan cairan 8 10 % dari BB

Prinsip menentukan jumlah cairan yang dierikan yaitu sesuai dengan cairan yang keluar
dari tubuh.

Macam macam pemberian cairan ;


1. BJ plasma dengan rumus
Kebutuhan cairan = { (BJ plasma 1,025) : 15 } x BB x 4ml

2. Metode Pierce berdasarkan klinis


Dehidrasi ringan, kebutuhan cairan = 5% x kgBB
Dehidrasi sedang kebutuhan cairan = 8% x kgBB
Dehidrasi berat, kebutuhan cairan = 10% x kgBB

3. Skor Daldiyono

Klinis

skor

Rasa haus/muntah

Tekanan darah sistolik 60-90 mmHg

Tekanan darah sistolik <60 mmHg

Frekuensi nadi >120 kali/menit

Kesadaran apatis

Kesadaran somnolen, spoor atau koma

Frekuensi nafas >30 kali/menit

Facies cholerica

Vax cholerica

Turgor kulit menurun

Washer womans hand

Ekstremitas dingin

Sianosis

Umur 50 60 tahun

Umur >60 tahun

Dengan rumus :

(skor : 15) x 10% x kgBB x 1 liter

Bila skor < 3 dan tidak ada syok, maka hanya diberikn cairan peroral (sebanyak
mungkin sedikit demi sedikit).

Bila skor 3 disertai syok diberikan cairan per intravena

Note : bila dehidrasi sedang sampai berat sebaiknya pasien diberikan cairan melalui infus
pembuluh darah. Sedang untuk dehidrasi ringan sedang pasien dapat diberikan cairan
peroral atau memalui selang nasogastric
Pemberian cairan dehidrasi terbagi atas:

a. Dua jam pertama (tahap rehidrasi inisial) : jumlah total kebutuhan cairan menurut
rumus BJ plasma atau skor Daldiyono diberikan langsung dalam 2 jam ini agar
tercapai rehidrasi optimal secepat mungkin.
b. Satu jam berikut/jam ke 3 (tahap kdua) pemberian diberikan berdasarkan
kehilangan cairan selama 2 jampemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya.
Bila tidak ada syok atau skor daldiyono kurang dari 3 dapat diberi cairan peroral
c. Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui
tinja dan insensible water loss)

DIET
Pasien diare tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah muntah hebat. Pasien justru
dianjurkan minum minuman sari buah, the, minuman tidak bergas, makanan mudah dicerna
seperti pisang, nasi, keripik dan sup. Susu sapi harus di hindarkan karena adanya defisiensi
lactase transien yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri. Minuman berkafein dan
beralkohol harus di hindari karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus.

OBAT ANTI DIARE


Obat obat yang dapat mengurangi gejala
a. Yang paling efektif adalah golongan opioid missal loperamid, difenoksilat-atropin
dan tinktur opium. Loperamid paling disukai karena tidk adiktif dan memiliki efek
samping paling kecil. Bismuth subsalisilat merupakan obat lain yang dapat
digunakan tetapi konraindikasi pada pasien HIV karena dapat menyebabkan
ensefalopati bismuth.
Obat antimotilitas penggunaanya harus hati hati pada pasien disentri yang panas
(termasuk infeksi shigella) bila tanpa disertai antimikroba karena dapat
memperlama penyembuhan penyakit

b. Obat yang mengeraskan tinja, Seperti atalpugit 4x2 tab/hari, smectite 3x1
diberikan tiap diare/BAB encer sampi diare berhenti
c. Obat anti sekretorik dan anti enkephalinase: hidrase 3.1 tab/hari
Obat antimikroba
Karena kebanyakan pasien meliliki penyakit yang ringan/ self limited desease karena
virus atau bakteri non invasive, pengobatan invasive tidak dianjurkan pada semua
pasien. Pengobatan empiric diberikan kepada pasien diduga mengalami infeksi bakteri
invasif, diare turis (travellers diarrhea) atau imunosupresif.
Obat pilihan yaitu kuinolon (missal Siprofloksasin 2x500mg/hari selama 5-7 hari.
Obat ini baik untuk bakteri pathogen invarsif termasuk campylobacter, shigella,
salmonella, Yersinia, dan aeromonas species. Sebagai alternative yaitu kotrimoksazol
(trimethoprim/sulfametoksazol,

2x160/800mg/hari,

atau

eritromisin

4x250-

400mg/hari. Metronidazole 3x250mg/hari selama 7 hari diberikan bagi yang dicurigai


giardiasis.
Untuk turis tertentu yang berpergian ke daerah risiko tinggi, kuinolon (missal
siprofloksasin 500mg/hari) dapat dipakai sebagai profilaksis yang memberikan
perlindungan

sekitar

90%.

Obat

profilaksis

lain

sulfametoksazol dan bismuth subsalisilat.

G. Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dehidrasi
Renjatan hipovolemik
Kejang
Bakterimia
Mal nutrisi
Hipoglikemia
Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus

termasuk

trimethoprim-

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih
dari 200 gram atau 200ml/24jam. Kriteria lain memakai kriteria frekuensi yaitu buang
air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar tersebut dapat disertai lendir
dan darah.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Penatalaksanaan berdasarkan tingkat dehidrasi, diet, obat anti diare, dan obat
antimikroba sesuai kenutuhan.

Anda mungkin juga menyukai