Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN SMALL GROUP DISCUSSION I

BLOK BIOETHICS AND HEALTH LAW IV


Keluarga Tak Berencana
29 Desember 2014
11.00 s.d. selesai

Tutor :
Rahmawati W., S.Psi., Msi
Kelompok 8
Khoirunnisa Fajar Iriani P.

G1A012078

Dyah Ajeng Permatahani

G1A012079

Mas Anto Arif Wibowo

G1A012080

Tedi Ismayadi

G1A012081

Amalia Nur Hikmawati

G1A012082

Ghiyas Ulinnuha

G1A012083

Muhammad Fadhil Wasi P.

G1A012084

Yona Ajeng Triafatma

G1A012085

Ismail Satrio Wibowo

G1A012086

Iqbal Maulana Malik

G1A012087

Nur Indah Rahayu

G1A012088

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN
PURWOKERTO
2014

SKENARIO 1 (SGD 1)
Keluarga Tak Berencana
Bu Dewi, seorang wanita berusia 36 tahun, datang ke RS hendak melahirkan. Saat ini
adalah kehamilannya yang kelima (G5P3A1). Saat ini mereka memiliki 3 anak perempuan yang
sehat. Putri tertua berusia 7 tahun, kedua 5 tahun, dan putri bungsu mereka saat ini berusia 18
bulan. Dari hasil USG diketahui bahwa kehamilan yang kelima ini kemungkinan perempuan
juga. Bu Dewi dan suaminya adalah lulusan sarjana pendidikan dan sama-sama bekerja sebagai
guru di sekolah menengah negeri. Dokter yang membantu persalinan, Dr. AB, menganjurkan
agar Bu Dewi mengikuti metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) berupa alat kontrasepsi
dalam rahim (AKDR/IUD), implant, atau sterilisasi karena Bu Dewi juga sudah memiliki tiga
anak dan kehamilannya saat ini termasuk kehamilan dengan risiko tinggi karena faktor usia. Bu
Dewi sebetulnya sangat menginginkan alat kontrasepsi namun suaminya tidak mengijinkan.
Suaminya juga masih mengharapkan anak laki-laki. Suami Bu Dewi adalah keturunan keluarga
Jawa yang masih percaya bahwa anak laki-laki tertua seharusnya mempunyai keturunan laki-laki
untuk meneruskan trah. Bu Dewi meminta kepada dokter agar ia dipasangi IUD setelah
melahirkan tapi tanpa sepengetahuan suaminya. Ia merasa kondisi fisiknya sudah menurun
dilihat dari kondisi kehamilannya saat ini dan takut bila mengalami keguguran lagi. Ia juga
merasa semakin kerepotan mengurus ketiga anaknya saat ini karena pasangan tersebut harus
bekerja.
Question:
Diskusikan kasus tersebut menggunakan Seven-Step Method!

Answer:
The Seven-Step Method for Ethical Case Discussion
1. Clarification of terms and context related to case (clarification)
a. G5P3A1 suatu riwayat obtetrik. G = gravid, dalam masa kehamilan ke 5 ; P =
paritas, sudah melahirkan berapa anak, 3 kali ; A = abortus, 1 kali.
b. USG suatu alat yang digunakan oleh tenaga medis sebagai pemeriksaan
penunjang, untuk melakukan pemeriksaan kondisi janin dengan gelombang suara
yang ditransformasikan kedalam gambar supaya bisa dibaca.
c. Trah bahasa jawa modern. Silsilah atau keturunan. Sekelompok individu yang
memiliki hubungan kekeluargaan yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
d. Keluarga Berencana menurut UU 21 th 1994 = upaya peningkatan kepedulian
dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan
kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga, untuk
mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
UU 52 th 2009 pasal 1 ayat 8 = upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan usia ideal
untuk melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan, dan bantuan
sesuai dengan hak reproduksi, untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas.
2. What is (are) the ethical problem(s) in this case? (identification and brainstorming)
a. Ibu Dewi menginginkan menggunakan alat kontrasepsi namun suaminya tidak
menyetujuinya, karena masih mengharapkan keturunan laki-laki dengan alasan
budaya
Menyalahi aspek autonomy dimiliki oleh seseorang. Tidak menyampaikan
informed consent. Autonomy suami tertekan.
Konflik antara pasien dengan keluarga pasien
b. Ibu dewi meminta kepada dr. AB untuk dipasangkan IUD tanpa sepengetahuan
suaminya. Padahal untuk melakukan tindakan pemasangan alat kontrasepsi harus
dengan persetujuan kedua belah pihak.
Belum adanya informed consent untuk melakukan suatu tindakan
c. Ibu Dewi hamil dalam kondisi yang sudah terlalu tua. Kurang ideal untuk hamil.
d. Kepercayaan atau budaya orang Jawa mengenai Trah anak laki-laki harus
meneruskan keturunan.
Terdapatnya konflik antara dokter dengan keluarga pasien
3. Why are they considered as ethical problems? What values/norms/principles are at stake?
(moral reasoning)
a. Konflik antara pasien dengan keluarga pasien

Pasien ingin tidak hamil lagi, sedangkan keluarga pasien ingin memiliki anak lakilaki. Autonomy Ibu Dewi dilanggar. Pertanggungjawaban Ibu Dewi terhadap
kesejahteraan suami.
b. Belum adanya informed consent untuk melakukan suatu tindakan
Terkait dengan kontrasepsi prosedurnya. Dokter memberikan arahan kepada
pasien, memberi informasi selengkap-lengkapnya dan akan dipertimbangkan oleh
suami dan istri. Terkait dengan aspek autonomy suami yang dilanggar karena suami
seharusnya ikut mengambil keputusan.
c. Terdapatnya konflik antara dokter dengan keluarga pasien
Non-maleficence dan beneficence dari segi usia tidak baik untuk kehamilan,
mengeluhkan gejala yang kurang sehat terkait kondisi kehamilan, memiliki riwayat
abortus
Justice Ibu dewi memliki hak untuk menentukan pilihan, namun terdapat konflik
dengan keluarga
15 ethical principles of the universal declaration on bioethics and human rights
1) Human dignity and human rights hak asasinya sebagai manusia, setiap
orang memiliki hak dari sejak lahir. Melanggar ata kebebasannya sebagai
manusia untuk menentukan hidupnya sendiri.
2) Benefit and harm sang istri ingin melakukan pemasangan kontrasepsi
untuk mengurangi faktor resiko. Kondisi rumah tangga sang suami merasa
dilangkahi oleh sang istri, akan terdapat konflik yang timbul saat istri
memberikan keputusan sendiri.
3) Autonomy and individual responsibility Ibu Dewi memiliki hak untuk
memakai alat kontrasepsi. Autonomy harus disertai dengan responsibility.
Terdapat konflik antara hak dan tanggungjawabnya terhadap suami sebagai
seorang istri.
Tidak hanya autonomy dari Ibu Dewi namun dari suaminya juga. Pemasangan
alat kontrasepsi tanpa memberitahu suami yang belum dilaksanakan.
4) Consent permasalahan mengenai. Pengambilan keputusan harus dengan
persetujuan kedua belah pihak. Suami tidak menyetujui. Perlu dilakukan
edukasi lebih lanjut mengenai manfaat dari kontrasepsi untuk mendapat
persetujuan dari kedua belah pihak.
5) Persons without the capacity to consent dari suami maupun ibu Dewi
harus memberikan persetujuan.

6) Respect for human vulnerability and personal integrity suami tidak


memiliki respect terhadap kondisi istri yang sudah rentan untuk hamil lagi.
Dalam kasus sang istri tidak dalam posisi.
7) Privacy and confidentiality dalam kasus tidak ada data mengenai
pelanggaran hal tersebut.
8) Equality, justice and equity suami berhak tahu mengenai pemasangan
alat kontrasepsi terhadap istrinya. Pemberian informasi secara lengkap tidak
hanya pada istri namun juga suami.
9) Non-discrimination and non-stigmatization tidak dibahas dalam kasus
10) Respect for cultural diversity and pluralism Trah anak laki-laki
tertua harus mempunyai keturunan laki-laki pula untuk meneruskan
keturunannya. Dalam kasus ini dilanggar. Istri ingin menggunakan
kontrasepsi. Ibu dan dokter yang telah melanggar.
11) Solidarity and cooperation dilanggar oleh suami dan istri. Suami terlalu
egois untuk mempunyai anak laki-laki tanpa mempertimbangkan kesehatan
istri.
12) Social responsibility and health Responsibility dari suami
mempertimbangkan dari segala aspek. Ex: kesehatan dari istri serta
kesejahteraan anak-anaknya nanti. Istri terhadap suaminya. Dokter
memberikan pengertian tambahan kepada suami.
13) Sharing of benefits pada pihak suami juka istri tetap hamil lagi.
14) Protecting future generations usia ibu.
15) Protection of the environment, the biosphere and biodiversity tidak
dibahas dalam kasus.
4. How do you see the problems from different perspectives and persons involved?
(reflection)
a. Dari sisi kesehatan dan agama :pembatasan jumlah anak baik, untuk mengatasi
ledakan penduduk. Menurunkan AKB & AKI. Religi tertentu menganggap hal tersebut
sebagai pelanggaran kodrat.
b. Kesehatan : usia ibu > 35 th = resiko tinggi untuk hamil dan melahirkan.
c. Pemerintah : kontrasepsi sangat dianjurkan untuk menekan ledakan peduduk. Dalam
undang-undang sudah diatur bahwa pelayanan kontrasepsi dilakukan dengan tatacara
yang berdaya-guna dan atas tanggung jawab.
d. Ekonomi : Banyak penduduk = beban pemerintah banyak.

e. Budaya : banyak anak, banyak rejeki. Trah anak laki-laki tertua harus bisa
melanjutkan keturunannya memancing masalah. Jawa kolot susah meninggalkan
budaya, memegang teguh kepercayaan atau kebudayaan.
5. Are there any legal aspects to consider in this case? (legal aspects)
a. UU No. 52 tahun 2009 pasal 23 ayat 1
b. UU RI No. 10 tahun 1992
c. UU No. 52 tahun 2009 pasal 26 harus dengan persetujuan suami
6. What are the alternatives in problem solving for these problems? (problem solving)
Bisa dilihat dari berbagai sudut pandang
a. Dokter : memberikan informasi secara rinci, jelas dan transparan mengenai
pemasangan kontrasepsi jangka panjang. Diharapkan suami memberikan ijin
untuk pemasangan kontrasepsi. Memberikan waktu untuk mempertimbang secara
matang, tetap mengikuti keputusan pasien.
Tidak memasang kontrasepsi
Sudah diatu r dalam UU seharusnya mematuhi.
Sebagai tenaga medis mengetahui adanya resiko pada Ibu; tetap akan
melakukan tindakan penggunaan IUD dengan mempertemukan suami dengan
dokter.
Ibu hamil dengan usia tidak ideal memiliki banyak faktor resiko tetap
melakukan. Memberikan informasi positif mengenai pemasangan IUD lebih
banyak dibanding efek negative membantu pola piker
b. Ibu Dewi : memberikan pengertian kepada suami mengenai kontrasepsi, apa yang
dirasakan dan diharapkan. Serta pandangan-pandangan jangka panjang, sehingga
suami dapat menyetujui.
7. What is (are) the lesson learned from this case? (lesson learned)
a. Segi komunikasi antara suami dan istri. Supaya tidak membingungkan dokter.
b. Menyampaikan informed consent kurang persuasive. Melatih skill komunikasi
supaya mampu mengajak pasien mengikuti saran.
c. Pemerintah lebih mensosialisasikan manfaat KB.
d. Kepercayaan maupun budaya mampu mempengaruhi pola pikir.
e. Harmonisasi atau kesejahteraan pasutri lebih banyak memilah-milah mana yang
baik dan yang buruk. Saling terbuka.
f. Dalam menjalani hubungan, komunikasi tetap harus dijaga