Anda di halaman 1dari 86

TEKNIS PERENCANAAN DAN

PELAKSANAAN PERKERASAN
KAKU

Disusun oleh :
Luqman Try Wibowo
Moh. Nurul Aziz
Muhammad Fariza P
Muhammad Rizki F

I0112090
I0112101
I0112103
I0112104

RIGID PAVEMENT

Rigid pavement atau perkerasan kaku adalah


jenis perkerasan jalan yang menggunakan beton
sebagai bahan utama perkerasn tersebut
Suatu struktur perkerasan yang umumnya terdiri
dari tanah dasar, lapis pondasi bawah dan lapis
beton semen dengan atau tanpa tulangan
Prinsip pembebanan : beban sepenuhnya ditahan
oleh plat beton
Perkerasan ini umumnya dipakai pada jalan yang
memiliki kondisi lalu lintas yang cukup padat dan
memiliki distribusi beban yang besar

PERBEDAAN ANTARA PERKERASAN KAKU DGN


LENTUR

Disebut perkerasan kaku karena mempunyai kekakuan


dan stiffnes, akan memdistribusikan beban pada
daerah yg relatif luas pada subgrade, beton sendiri
bagian utama yg menanggung beban struktural.
Perkerasan lentur dibuat dgn material yg relatif
kurang kaku, sehingga tidak menyebarkan beban
sebaik pada beton, sehingga memerlukan tebal yang
lebih besar untuk meneruskan beban ke subgrade.
Faktor yg dipertimbangkan dalam disain perkerasan
adalah kekuatan struktur beton, dengan alasan ini
variasi kecil pada subgrade mempunyai pengaruh yg
kecil pada kapasitas perkerasan menanggung beban.

Sumber :
TEKNIS PELAKSANAAN JALAN BETON SEMEN oleh Ir. NURCAHYO B.
SANTOSO

Jenis-jenis Perkersan Kaku


A.

Perkerasan Beton Semen

Terdapat 4 Jenis Perkersan Beton Semen


1) Perkerasan beton semen dengan sambungan
tanpa tulangan
2) Perkerasan beton semen dengan sambungan
dengan tulangan
3) Perkerasan beton semen menerus (tanpa
sambungan) dengan tulangan
4) Perkersan beton semen pratekan

Persyaratan Teknis dalam


Perencanaan Perkerasan Kaku
A.

Tanah dasar

1.

Kekuatan tanah dasar diekspresikan sebagai


nilai California Bearing Ratio (CBR) dalam
persen.
Pengujian CBR Insitu berdasarkan SNI 03-17311989
Pengujian CBR laboratorium berdasarkan SNI
03-1744-1989
Apabila CBR < 2%, maka dipasang pondasi
bawah yang terbuat dari beton kurus (Lean-Mix
Concrete) setebal 15 cm

2.

3.

4.

Persyaratan Teknis dalam


Perencanaan Perkerasan Kaku
B.

1.
2.

3.

Pondasi Bawah
Bahan pondasi bawah dapat berupa :
Bahan berbutir
Stabilisasi atau dengan beton kurus guling
padat ( Lean Rolled Concrete)
Campuran beton kurus (Lean Mix
Concrete).

Jenis Pondasi Bawah


Pondasi Bawah Material Berbutir

Berdasarkan SNI-03-6388-2000
Persyaratan dan gradasi pondasi bawah harus sesuai dengan
kelas B.
Syarat penyimpangan ijin 3% - 5%.
Untuk tanah dasar dengan CBR minimum 5%, ketebelan
minimum sebesar 15 cm

Pondasi bawah dengan bahan pengikut (Bound Sub-base)

Jenis bahan pengikat dapat meliputi semen, kapur, serta abu terbang
dan/atau slag yang dihaluskan.
Campuran beraspal bergradasi rapat (dense-graded asphalt).
Campuran beton kurus giling padat yang harus mempunyai kuat tekan
karakteristik pada umur 28 hari minimum 5,5 Mpa (55 kg/cm2 ).

Jenis Pondasi Bawah


Pondasi bawah dengan campuran beton kurus
( Lean Mix Concrete)
Campuran beton kurus CBK harus memiliki kuat tekan beton
karakteristik pada umur 28 hari minimum 5 Mpa ( 50 kg/cm2)
tanpa menggunakan abu terbang atau 7 Mpa dengan
menggunakan abu terbang, dengan tebal minimum 10 cm.

Lapis pemecah ikatan pondasi bawah dan pelat


Perencanaan ini didasarkan bahwa antara pelat dengan
pondasi bawah tidak ada ikatan

Persyaratan Teknis dalam


Perencanaan Perkerasan Kaku
C.

Beton Semen
Penentuan beban lalu lintas rencana
untuk perkerasan beton semen
dinyatakan dalam jumlah sumbu
kendaraan niaga, sesuai dengan
konfigurasi sumbu pada lajur rencana
selama umur rencana.

Persyaratan Teknis dalam


Perencanaan Perkerasan Kaku
D.

Lalu Lintas
Lalu-lintas harus dianalisis berdasarkan hasil
perhitungan volume lalu-lintas dan konfigurasi
sumbu, menggunakan data terakhir atau data 2
tahun terakhir.

Lajur Rencana dan Koefisien Distribusi


.

Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu lintas dari suatu
ruas jalan raya yang menampung lalu-lintas kendaraan niaga
terbesar.
Jika jalan tidak memiliki tanda batas lajur, maka jumlah lajur
dan koefsien distribusi (C) kendaraan niaga dapat ditentukan
dari tabel berikut :

Tabel Jumlah lajur berdasarkan lebar


perkerasan dan koefisien distribusi (C)
kendaraan niaga pada lajur rencana

Umur Rencana

Umur rencana perkerasan jalan ditentukan atas pertimbangan klasifikasi fungsional


jalan, pola lalu-lintas serta nilai ekonomi jalan yang bersangkutan
Umumnya perkerasan beton semen dapat direncanakan dengan umur rencana (UR)
20 tahun sampai 40 tahun.

Pertumbuhan lalu-lintas

Volume lalu-lintas akan bertambah sesuai dengan umur rencana atau sampai tahap
di mana kapasitas jalan dicapai denga faktor pertumbuhan lalu-lintas yang dapat
ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut :

Dengan pengertian :
R : Faktor pertumbuhan lalu lintas
i : Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %.
UR
: Umur rencana (tahun)

Faktor pertumbuhan lalu-lintas ( R ) dapat juga ditentukan berdasarkan Tabel 3

Apabila setelah waktu tertentu (Urm tahun) pertumbuhan lalu-lintas tidak


terjadi lagi, maka R dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

Dengan pengertian :
R : Faktor pertumbuhan lalu lintas.
I : Laju pertumbuhan lalu lintas per tahun dalam %.
Urm
: Waktu tertentu dalam tahun, sebelum UR selesai.

Lalu-Lintas Rencana

Lalu-lintas rencana adalah jumlah kumulatif sumbu kendaraan


niaga pada lajur rencana selama umur rencana, meliputi proporsi
sumbu serta distribusi beban pada setiap jenis sumbu kendaraan.
Jumlah sumbu kendaraan niaga selama umur rencana dihitung
dengan rumus berikut :

JSKN = JSKNH x 365 x R x C


Dengan pengertian :
JSKN
: Jumlah total sumbu kendaraan niaga selama umur rencana .
JSKNH : Jumlah total sumbu kendaraan niaga per hari pada saat jalan dibuka.
R : Faktor pertumbuhan komulatif dari Rumus (5) atau Tabel 3 atau Rumus (6),
yang
besarnya tergantung dari pertumbuhan lalu lintas tahunan dan umur
rencana.
C : Koefisien distribusi kendaraan

Faktor Keamanan Beban


Pada penentuan beban rencana, beban sumbu dikalikan
dengan faktor keamanan beban (FKB). Faktor keamanan
beban ini digunakan berkaitan adanya berbagai tingkat
realibilitas perencanaan seperti telihat pada Tabel 4

Perencanaan Teknis dalam


Perencanaan Perkerasan Kaku
E.
.

Bahu
Bahu dapat terbuat dari bahan lapisan pondasi bawah dengan
atau tanpa lapisan penutup beraspal atau lapisan beton
semen.

F.
.

.
.
.

Sambungan
Membatasi tegangan dan pengendalian retak yang disebabkan
oleh penyusutan, pengaruh lenting serta beban lalu-lintas.
Memudahkan pelaksanaan.
Mengakomodasi gerakan pelat.
Semua sambungan harus ditutup dengan bahan penutup (joint
sealer), kecuali pada sambungan isolasi terlebih dahulu harus
diberi bahan pengisi (joint filler).

Fungsi dan Jenis


Sambungan

Sambungan pada perkerasan beton semen


ditujukan untuk :

1.

Membatasi tegangan dan pengendalian retak yang


disebabkan oleh penyusutan, pengaruh lenting serta beban
lalu-lintas.
Memudahkan pelaksanaan.
Mengakomodasi gerakan pelat.

2.
3.

Pada perkerasan beton semen terdapat beberapa


jenis sambungan antara lain :

1.

Sambungan memanjang
Sambungan melintang
Sambungan isolasi

2.
3.

Gambar Jenis Sambungan

Gambar Jenis Sambungan

Langkah Perencanaan Tebal


Pelat

CONTOH PERHITUNGAN
TEBAL PELAT BETON SEMEN pada
perkerasan kaku
Diketahui data parameter perencanaan sebagai berikut :
CBR tanah dasar = 4 %
Kuat tarik lentur (fcf) = 4 Mpa
(fc = 285/cm2, silinder)
Bahan pondasi bawah = stabilisasi
Mutu baja tulangan
BJTU 39 (fy (tegangan leleh)
= 3900 kg/cm2) untuk BMDT
BJTU 24 (fy (tegangan leleh)
= 2400 kg/cm2) untuk BBDT
Koefisien gesek antara pelat beton dengan pondasi () = 1,3
Bahu jalan = Ya (beton)
Ruji (dowel) = Ya

DATA LALU LINTAS


Data lalu-lintas harian rata-rata :
Mobil Penumpang
: 1.640 kendaraan/hari
Bus
: 300 kendaraan/hari
Truk 2as kecil
: 650 kendaraan/hari
Truk 2as besar
: 780 kendaraan/hari
Truk 3 as
: 300 kendaraan/hari
Truk gandengan
: 10 kendaraan/hari
Pertumbuhan lalu-lintas (i) : 5 % per tahun
Umur rencana (UR)
: 20 tahun

PERENCANAAN
Direncanakan perkerasan beton semen untuk
jalan 2 lajur 1 arah untuk Jalan Arteri.
Perencanaan meliputi :
Perkerasan beton bersambung tanpa tulangan
(BBTT)
Perkerasan beton bersambung dengan tulangan
(BBDT)
Perkerasan beton menerus dengan tulangan
(BMDT)

1. Analisis Lalu-lintas
Tabel Perhitungan Jumlah Sumbu Berdasarkan
Jenis dan Bebannya

Analisis Lalu-lintas
Kolom 1 : Jenis kendaraan = Bus
Kolom 2 : Konfigurasi beban sumbu (ton) : RD = 3 ton
dan RB = 5 ton
Kolom 3 : Jumlah kendaraan = 300 kendaraan/hari
Kolom 4 : Jumlah Sumbu Per Kendaraan = 2 buah
Kolom 5 : Jumlah Sumbu = 300 x 2 = 600 buah
Kolom 6 : Beban sumbu STRT = 3 ton
Kolom 7 : Jumlah sumbu STRT = 300 buah
Kolom 8 : Berat Sumbu STRG = 5 ton
Kolom 9 : Jumlah Sumbu = 300 buah

Analisis Lalu-lintas
Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga (JSKN) selama
umur rencana (20 tahun)
JSKN = 365 x JSKNH x R
= 365 x 4100 x 33,07
= 4,95 x 107

Tabel Faktor Pertumbuhan


Lalu-lintas (R)

Analisis Lalu-lintas
Tabel Jumlah Lajur Bedasarkan Lebar Perkerasan dan Koefisien
Distribusi
(C) Kendaraan Niaga Pada Lajur Rencana

JSKN rencana
= JSKN x C
= 4,95 x 107 x 0,7
=3,46 x 107

2. Perhitungan Repetisi
Sumbu Yang Terjadi
Contoh untuk jenis sumbu STRT :
Beban sumbu = 6 ton
Jumlah sumbu = 310 buah
Total sumbu dari semua beban sumbu = 2710 buah
Proporsi beban = 310/2710 = 0,11
Total sumbu dari semua beban sumbu = 4100 buah
dari semua jenis sumbu
Proporsi sumbu = 2710/4100 = 0,66
Lalu-lintas rencana = 3,46 x 107
Repetisi yang terjadi= 0,11 x 0,66 x 3,46 x 107 = 2,6 x
106

Perhitungan Repetisi
Sumbu Yang Terjadi
Tabel Perhitungan Repetisi Sumbu Rencana

3. Perhitungan Tebal
Pondasi Bawah

4. Perhitungan CBR Efektif

5. Faktor Keamanan Beban

6. Perhitungan Tebal Pelat


Beton
Sumber data beban : Hasil survai
Jenis perkerasan
: BBTT dengan Ruji
Jenis bahu
: beton
Umur rencana
: 20 th
Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga Rencana : 3,4 x 107
Faktor keamanan beban
: 1,1
Kuat tarik lentur beton (fcf) umur 28 hari : 4,0 Mpa
Jenis dan tebal lapis pondasi
: stabilisasi semen 15
cm
CBR tanah dasar
: 4%
CBR efektif
: 27%
Tebal taksiran pelat beton
: 16,5 cm

Tabel Tegangan Setara dan


Faktor Erosi

Tegangan Setara dan Faktor


Erosi

Contoh untuk Sumbu Tunggal Roda Tunggal (STRT)


Tebal pelat beton 165 cm, maka :
. TE
= 1,13
. FRT = TE/fcf = 1,13/4 = 0,28
. FE
= 1,98

Tabel Analisis Fatik dan Erosi

7. Analisa
Fatik
0,2
8

33
kN
27,
5kN
22
kN
16,5
kN
11
kN

8. Analisa
Erosi

1,9
8

33
kN
27,
5kN
22
kN
16,5
kN

11
kN

ANALISIS Tulangan
Perkerasan Beton Bersambung
Tanpa Tulangan
Tebal pelat
= 16,5 cm
Lebar pelat
= 2x3,5 m
Panjang pelat
= 5,0 m.
Sambungan susut dipasang setiap jarak 5 m.
Ruji digunakan dengan diameter 28 mm, panjang 45
cm, jarak 30 cm
Batang pengikat digunakan baja ulir 16 mm, panjang
70 cm, jarak 75 cm

PERKERASAN BETON
TANPA TULANGAN

mengalami retak
akibat

UNTUK
MENGENDALIKAN
RETAK

DIGUNAKAN
TULANGAN

konsentrasi tegangan
yang tidak dapat
dihindari dengan
pengaturan pola
sambungan

Penerapan tulangan umumnya


dilaksanakan pada :
. Pelat dengan bentuk tak lazim (odd-shaped
slabs), Pelat disebut tidak lazim bila
perbadingan antara panjang dengan lebar
lebih besar dari 1,25, atau bila pola
sambungan pada pelat tidak benar-benar
berbentuk bujur sangkar atau empat persegi
panjang.
. Pelat dengan sambungan tidak sejalur
(mismatched joints).
. Pelat berlubang (pits or structures).

Perhitungan Tulangan
Perkerasan Beton Bersambung Dengan
Tulangan
Tebal pelat
= 16,5 cm
Lebar pelat
= 2x3,5 m
Panjang pelat
= 15 m
Koefisien gesek antara pelat beton dengan pondasi
bawah = 1,3
Kuat tarik ijin baja = 240 MPa
Berat isi beton
= 2400 kg/m3
Gravitasi (g)
= 9,81 m/dt2

a. Tulangan Memanjang

> As perlu
Diperlukan tulangan diameter 12 mm, jarak 22,5 cm

b. Tulangan Melintang

> As perlu
Diperlukan tulangan diameter 12 mm, jarak 45 cm

Perhitungan Tulangan
Perkerasan Beton Menerus
Dengan Tulangan

Tebal pelat
= 16,5 cm
Lebar pelat
= 2x3,5 m
Kuat tekan beton (fc)
= 285 kg/cm (silinder)
Tegangan leleh baja (fy) = 3900 kg/cm
Es/Ec
=6
Koefisien gesek antara beton dan pondasi bawah = 1,3
fcf
= 40 kg/cm
Ambil fct
= 0,5 fcf = 0,5 x 40 = 20 kg/cm
fy
= 3900 kg/cm
Sambungan susut dipasang setiap jarak 75 m
Ruji digunakan ukuran diameter 28 mm, panjang 45 cm dan jarak
30 cm

a. Tulangan Memanjang

As perlu = 0,55% . 100 . 16,5 = 9,075 cm2


As min = 0,6% . 100 . 16,5 = 9,9 cm2/m > As perlu
Dicoba tulangan diameter 16 jarak 180 mm (As = 11,1
cm2/m)
Untuk tulangan melintang ambil diameter 12 mm jarak
450 mm

b. Pengecekan Jarak Teoritis Antar Retakan


u = 4/d = 4/1,6 = 2,5
p = 11,1/(100 . 16,5) = 0,0067
Ambil = (1,97 . )/d = (1,97 . )/1,6 = 20,79 kg/cm2
Ambil = 400 . 10-6
= 14850 . = 14850 . = 250.697 kg/cm2


Dikontrol
terhadap jarak teoritis antar retakan (Lcr)


Dicoba
diameter 16 mm jarak 160 mm (As = 13,25 cm2/m)
u = 4/d = 4/1,6 = 2,5
p = 13,25/(100 . 16,5) = 0,008
Ambil = (1,97 . )/d = (1,97 . )/1,6 = 20,79 kg/cm 2
Ambil = 400 . 10-6
= 14850 . = 14850 . = 250.697 kg/cm2

Jadi tulangan memanjang digunakan diameter 16 mm jarak


160 mm

PERHITUNGAN LAPIS TAMBAH


PERKERASAN BETON SEMEN DI
ATAS PERKERASAN SEMEN
Diketahui :
Jalan lama dari perkerasan beton semen, mempunyai tebal
15 cm ( To )
Hasil pemeriksaan plate bearing k = 14 kg/cm3
Kuat tarik lentur beton fcf = 4 MPa. (40 kg.cm2)
Data lalu-lintas, umur rencana, perkembangan lalu-lintas
dan jumlah lajur seperti pada contoh sebelumnya

Diminta :
a)
Menentukan tebal lapis tambah dengan lapis pemisah,
bila kondisi perkerasan lama secara struktur telah
rusak (C = 0,35)
b)
Menentukan tebal lapis tambah langsung, bila kondisi
perkerasan lama mengalami retak awal (C = 0,75)

Menentukan Tebal Lapis Tambah


dengan Lapis Pemisah
Tebal lapis yang diperlukan (T), dengan cara seperti pada perencanaan
perkerasan baru dengan k = 14 kg/cm3 atau CBR efektif = 50 %
Taksiran tebal pelat beton 16,0 cm


Menentukan
tebal lapis tambah yang diperlukan dengan
persamaan :

Diketahui T0 = 15 cm dan Cs = 0,35


Maka
Diambil Tebal Lapis Tambah Tr = 15 cm

Menentukan Tebal Lapis Tambah


Langsung
Tebal
lapis tambah langsung yang diperlukan (Tr)
Dengan diketahui :
T
= tebal lapis yang diperlukan = 16 cm
T0 = 15 cm
Cs = 0,75
Diambil tebal lapis tambah Tr = 13 cm

PERHITUNGAN LAPIS TAMBAH


PERKERASAN BETON ASPAL DI
ATAS PERKERASAN SEMEN
Diketahui :
Susunan perkerasan beton semen suatu jalan lama sebagai
berikut :
Tebal pelat beton semen
= 15 cm
Tebal pondasi bawah
= 10 cm
CBR tanah dasar
=4%
Kondisi perkerasan lama telah retak-retak, tidak rata dan
potongan-potongan pelat ( 1-4 m2) telah diperbaiki.
Lapis pondasi bawah dari bahan berbutir bergradasi baik,
CBR = 25 %.

Data lalu-lintas harian rata-rata pada tahun


pembukaan (2 jalur, 2 arah) sebagai berikut :
Kendaraan ringan
(1 + 1)
= 1215 buah
Bus
(3 + 5)
= 365 buah
Truk 2 as
(5 + 8)
= 61 buah
Truk 3 as
(6 + 14) = 37 buah
Truk 5 as
(6+14+5+5) = 12 buah
Umur rencana 20 tahun, dengan angka pertumbuhan
lalu-lintas = 6 %/tahun

Diminta :
Mnentukan tebal lapis tambah perkerasan beton aspal di
atas perkerasan tersebut.
Penyelesaian :
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan prosedur
buku Petunjuk Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur
Jalan Raya dengan Metoda Analisa SKBI-2.3.26.1987
dengan lalu-lintas dan umur rencana seperti di atas,
didapatkan tebal lapis tambah beron aspal (Tn) = 22 cm.

Tebal efektif perkerasan lama :


Tebal efektif pelat beton aspal = 15 x 0,7 =
10,5 cm
Tebal efektif pondasi bawah = 10 x 0,2 = 2 cm
Tebal efektif perkerasan lama (Total)
= 12,5
cm
Tebal perkerasan beton aspa yang diperlukan :
Tr = T T0
= 22 12,5
= 9,5 cm < T min = 10 cm
Digunakan tebal lapis tambah beton aspal (Tr) =
10 cm

Perencanaan Tulangan
1.

2.

3.
4.

5.

Membatasi lebar retakan, agar kekuatan pelat


tetap dapat dipertahankan
Memungkinkan penggunaan pelat yang lebih
panjang agar dapat mengurangi jumlah
sambungan melintang sehingga dapat
meningkatkan kenyamanan
Mengurangi biaya pemeliharaan
Jumlah tulangan yang diperlukan dipengaruhi
oleh jarak sambungan susu
Beton bertulang menerus, diperlukan jumlah
tulangan yang cukup untuk mengurangi
sambungan susut

Penempatan Tulangan

Tulangan arah memanjang dipasang di atas


tulangan arah melintang.
Ditempatkan pada kedalaman lebih besar dari 65
mm dari permukaan untuk tebal pelat 20 cm
Ditempatkan pada kedalaman maksimum sampai
sepertiga tebal pelat untuk tebal pelat > 20 cm

Pelaksanaan Perkerasan
Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan Rigid Pavement ini
adalah sebagai berikut:
A. Pekerjaan Tanah
. Timbunan Tanah Biasa
. Penyiapan Badan Jalan
. Pekerjaan Perkerasan Berbutir
. Penghamparan dan Pemadatan Lapis Pondasi Agregat Kelas
B
B.
.
.
.

Pekerjaan Struktur
Pekerjaan Lantai Kerja LC, tebal 7 cm
Pekerjaan Baja Tulangan
Pekerjaan Rigid Pavement (K-350, tebal 30 cm)

Pelaksanaan Perkerasan
1.

Pemadatan Timbunan Tanah

Pelaksanaan Perkerasan
2.

Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan (Pengupasan dan


perataan tanah)

Pelaksanaan Perkerasan
Tahapan pelaksanaan pekerjaan Lapis Pondasi Agregat
Kelas B adalah seperti berikut ini:
. Mengangkut material dari quary menuju ke lokasi dengan
menggunakan dumptruk.
. Mengeluarkan material dumptruk untuk kemudian
dihamparkan.
3.

Pelaksanaan Perkerasan

Menghampar material Agregat Kelas B di atas lapisan


subbase yang sudah padat dan dengan kemiringan yang
tepat menggunakan motor grader dengan ketinggian 25 cm
dan lebar 8 m.
Selagi motor grader menghampar material, water tank truk
membantu melakukan proses penyiraman pada material
untuk menyesuaikan kadar air dari material hamparan
tersebut.

Pelaksanaan Perkerasan

Vibrator roller memadatkan agregat kasar dengan cara


mekanis yaitu melintasi timbunan batu manual secara
berulang-ulang, sehingga didapatkan kepadatan yang
diinginkan

Pelaksanaan Perkerasan
Pekerjaan Struktur
Pekerjaan Lantai Kerja Tebal 7 cm
Adapun tahapan pelaksanaan pekerjaan lantai kerja ini
adalah sebagai berikut:
1.
Memasangan bekisting yang telah dipersiapkan
sebelumnya.

Pelaksanaan Perkerasan
2.

Menghampar beton non struktural sebagai lantai kerja


(lapis pondasi bawah) dengan tebal 7 cm

Pelaksanaan Perkerasan
3.

Meratakan permukaan hamparan beton

Pelaksanaan Perkerasan
Pekerjaan Baja Tulangan
Pemotongan dan Pembengkokkan Baja Tulangan

Pelaksanaan Perkerasan
Tahapan Pekerjaan Perkerasan Jalan dengan Beton (rigid
pavements) adalah sebagai berikut:
1.
Memasang bekisting acuan di atas beton lantai kerja (lean
Concrete). Dalam penghamparan perkerasan beton
semen, dikenal dua metode pelaksanaan yaitu :
Metode Acuan tetap (Fixed Form Paving Method).
Metode Acuan Gelincir (Slipform Paving Method).

A.
.

B.
.
.

.
.
.
.
.
.
.
.

Metoda acuan gelincir (slip form)


Pembetonan dilakukan sepanjang sisi acuan yang bergerak
sekaligus menyangga pembetonan
Penghamparan dikendalikan melalui sensor
Metoda acuan tetap (fix form)
Bahan acuan
Lendutan acuan < 6mm bila sebagai balok biasa dengan
panjang 3 m, ( beban seperti yang sebenarnya)
kerataan bidang atas acuan < 3 mm, untuk panjang 3 m
kerataan bidang dalam acuan <6 mm, untuk setiap 3 m
pemasangan acuan
acuan dipasang diatas lapisan pondasi yang siap
acuan dilengkapi pasak , tiap 3 m
acuan tidak boleh menyimpang > 6 mm dari garisnya
sisi dalam acuan diberi bahan anti lengket
acuan dibongkar sekurang kurangnya 8 jam setelah
pengecoran

Bekisting

Metode Acuan Gelincir (Slipform


Paving Method).

Metode Acuan tetap (Fixed Form


Paving Method).

Pada penghamparan metode acuan tetap, pengecoran,


pemadatan dan penyelesaian akhir beton, serta pekerjaanpekerjaan lainnya yang berkaitan, dilaksanakan di antara
acuan. Pada penghamparan metode acuan gelincir,
pengecoran, pemadatan dan penyelesaian akhir beton
dilaksanakan dalam bagian sepanjang rangka mesin, di
antara sisi-sisi dalam acuan yang sedang bergerak.

2.

Setelah Bekisting terpasang dilanjutkan dengan


memasangan bond breaker berupa plastik tipis.

3.

Mempersiapkan tulangan dowel & tie bar ujung dirapikan,


pengikatan tulangan sambungan dengan batang
pemegang harus lepas tidak fix atau tidak dilas.
Memasangan Dowel dan tie bar harus rapi, tepat lokasi,
tidak overlap. Pada dowel, setengah panjang harus dicat
aspal atau dibungkus plastik agar loose (tidak lekat) dari
beton sehingga slidingnya baik.

DOWEL

TIE BAR

4.
5.

Menuangkan cor beton pada lahan yang tersedia.


Menghampar cor beton menggunakan concrete paver
finisher.

BEKISTING

Alat penghampar Slip Form

Alat penghampar Fix Form

6.

Memadatkan beton dengan Concrete Vibrator.

Finishing Rigid Pavement


. Grooving/ Brushing Tekstur Permukaan, agar permukaan
jalan tidak licin.

7.

Melaksanakan Cutting Beton sebelum retak awal


muncul pada permukaan jalan yaitu pada sekitar
jam ke 4 s/d ke 24 dan disarankan pada jam ke
18.

Perawatan

Beton

Penggunaan curing compound (material yg membentuk


kulit diatas permukaan beton dan mengurangi tingkat
hilangnya kadar air pada beton)
Permukaan dan bidang tegak beton harus seluruhnya
ditutup dengan lembar terpal/pelindung, sebelum ditutup
lembar penutup harus dibuat jenuh air

8.

Pekerjaan Joint Sealant


Bagian atas sambungan muai dan sambungan
yang digergaji harus ditutup dengan bahan
penutup yang memenuhi persyaratan spesifikasi
(aspal cair) sebelum lalu lintas diijinkan
melewati perkerasan.

9.

Membongkar bekisting acuan 8 jam


setelah penghamparan beton (jika
menggunakan acuan fix form)

TERIMA KASIH