Anda di halaman 1dari 34

MANAJERIAL KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

DALAM RANGKA MENERAPKAN FUNGSI-FUNGSI DASAR


MANAGEMENT

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
Manajerial Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Rangka Menerapkan
Fungsi-Fungsi Dasar Management. Penulisan makalah ini merupakan salah
satu..
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik
pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami
miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak
yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen
kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas ini.

Bandung, April 2015


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam pencapaian visi, misi dan tujuan pendidikan yang telah ditetapkan
bersama oleh warga sekolah, diperlukan kondisi sekolah yang kondusif dan
keharmonisan antara tenaga pendidikan yang ada di sekolah antara lain kepala
sekolah, guru, tenaga administrasi, dan orang tua murid / masyarakat yang
masing-masing mempunyai peran yang cukup besar dalam mencapai tujuan
organisasi.
Suatu organisasi akan berhasil dalam mencapai tujuan dan programprogramnya jika orang-orang yang bekerja dalam organisasi tersebut dapat
melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang dan tanggung
jawabnya. Agar orang-orang dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik, maka diperlukan seorang pemimpin yang dapat
mengarahkan segala sumber daya menuju ke arah pencapaian tujuan. Dalam suatu
organisasi, berhasil atau tidaknya tujuan tersebut sangat dipengaruhi oleh dua
faktor, yaitu Pemimpin dan orang yang dipimpinnya. Agar kepemimpinan yang
dilaksanakan oleh pemimpin tersebut efektif dan efesien, salah satu tugas yang
harus dilakukan adalah memberikan kepuasan kepada orang yang dipimpinnya.
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di lingkungan satuan pendidikan
harus mampu mewujudkan tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Kepemimpinan
dalam lingkungan satuan pendidikan selalu melibatkan upaya seorang kepala

sekolah untuk mempengaruhi perilaku para pengikut/guru dalam suatu situasi.


Agar kepala sekolah dapat melaksanakan fungsi kepemimpinannya, dia bukan
saja harus memiliki wibawa tetapi harus memiliki kesanggupan untuk
menggunakan wibawa ini terhadap para guru supaya diperoleh kinerja guru yang
baik. Dalam sebuah organisasi perlu ditetapkan azas-azasnya. Diantaranya adalah
pembagian tugas. Yang perlu diperhatikan dalam azas pembagian tugas ini adalah
kemampuan dari individu-individu yang diserahi tugas. Dengan demikian dalam
suatu organisasi perlu adanya manajemen efektif yang mampu mengarahkan dan
membina perilaku organisasi dan administrasi. Dari uraian tersebut dapat
diketahui bahwa sangat besar peranan dan fungsi manajemen dalam suatu
organisasi maupun dalam tatanan hidup di masyarakat. Hasibuan (2001:9)
memberi batasan tentang manajemen adalah sebagai berikut :
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya
manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efesien untuk
mencapai suatu tujuan tertentu.
Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa manajemen adalah merupakan
suatu keahlian menggerakkan dan mengendalikan orang lain untuk mencapai
tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan demikian aktifitas dari kegiatan
organisasi ditentukan oleh peran seorang pemimpin dan dibantu oleh individuindividu yang menjadi bawahannya. Dan di setiap lembaga satuan pendidikan
tentu mempunyai seorang kepala sekolah sebagai pemimpin dan guru, serta
karyawan sebagai bawahannya. Pemimpin oleh Winardi (2004:304) didefinisikan
sebagai berikut :
Pemimpin adalah seorang yang karena kecakapan-kecakapan pribadinya
dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang

dipimpinnya untuk mengerahkan usaha bersama ke arah pencapaian sasaransasaran tertentu


Dari pendapat tersebut pengertian pemimpin mewujudkan adanya kemampuan
untuk menggerakkan, membimbing, memimpin dan memberi kegairahan kerja
terhadap orang lain. Jadi bila ditarik kesimpulan dari pendapat diatas, pemimpin
adalah orang yang dapat mempengaruhi, menggerakkan, menumbuhkan perasaan
ikut serta dan tanggung jawab, memberikan fasilitas, tauladan yang baik serta
kegairahan kerja terhadap orang lain.
Kepala sekolah sebagai seorang pemimpin di satuan pendidikan merupakan
pemimpin formal, artinya dia diangkat secara formal (Formally Designated
Leader) oleh organisasi yang bersangkutan atau organisasi yang menjadi
atasannya. Guru ( pendidik ) menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional Bab XI pasal 39 adalah :
Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan
tinggi.
Tenaga guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran
sebagai faktor penentu keberhasilan tujuan organisasi selain tenaga kependidikan
lainnya, karena guru yang langsung bersinggungan dengan peserta didik, untuk
memberikan bimbingan yang muaranya akan menghasilkan tamatan/lulusan yang
diharapkan. Untuk itu kinerja guru harus selalu ditingkatkan. Upaya-upaya untuk
meningkatkan kinerja itu biasanya dilakukan dengan cara memberikan motivasi,
mengadakan supervisi, memberikan insentif, memberikan kesempatan yang baik

untuk

berkembang

dalam

karir,

meningkatkan

kemampuan,

dan

gaya

kepemimpinan yang baik. Sementara kinerja guru dapat ditingkatkan apabila yang
bersangkutan merasa senang dan cocok dengan gaya kepemimpinan yang
terapkan oleh kepala sekolah.
Kinerja guru atau prestasi kerja (performance) merupakan hasil yang dicapai
oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang
didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan
waktu. Kinerja guru akan baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang
terdiri kesetiaan dan komitmen yang tinggi pada tugas mengajar, menguasai
dan mengembangkan bahan pelajaran, kedisiplinan dalam mengajar dan tugas
lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran , kerjasama dengan semua
warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang
baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, serta tanggung jawab terhadap
tugasnya. Oleh karena itu tugas kepala sekolah selaku pemimpin adalah
melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Penilaian ini penting untuk dilakukan
mengingat fungsinya sebagai alat evaluasi kepemimpinan bagi kepala sekolah.
Kepemimpinan Kepala Sekolah bersifat situasional , artinya suatu kepemimpinan
dapat efektif untuk situasi tertentu dan kurang efektif untuk situasi yang lainnya.
Contonya dalam suatu keadaan darurat disekolah diperlukan kepemimpinan yang
otoriter sebaliknya dalam keadaan normal kepemimpinan otoriter kurang baik.
Kondisi lingkungan yang semakin komplek dan berubah dengan cepat sekarang
ini , organisasi memerlukan seorang pemimpin yang selektif, yaitu pimpinan yang

mampu mengarahkan dan mengembangkan aktivitas bawahan sesuai dengan


fungsi dari seorang pemimpin.

B. Rumusan Masalah
Seorang pemimpin, dalam hal ini seorang Kepala Sekolah, tidak akan dapat
menerapkan management sekolah dengan baik dan meningkatkan mutu
pendidikan dengan hasil yang optimal tanpa ada partisipasi aktif dan kerja sama
yang baik dari semua pihak baik para guru maupun seluruh staf sekolah. Maka
timbulah suatu pertanyaan Bagaimana meningkatkan mutu pendidikan melalui
penerapan fungsi-fungsi dasar management ?
C. Ruang Lingkup
Dalam penulisan makalah ini dibuatlah ruang lingkup sekolah sesuai dengan
unsur-unsur yang terkait didalam menejemen sekolah yaitu :
1. Kepala Sekolah ( Selaku Top Manajer )
2. Wakil Kepala Sekolah
3. Guru
4. Wali Kelas
5. Staff Tata Usaha
6. Pustakawan
7. Laboran
8. Korodinator
9. Masyarakat ( Komite Sekolah )

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Kepemimpinan
Seperti diketahui keberhasilan sebuah organisasi tergantung oleh beberapa
faktor. Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau tercapainya
tujuan organisasi adalah kinerja para pemimpinnya. Mereka yang dapat
mengkombinasikan kualitas kepemimpinan dengan kekuatan yang ada dalam
posisinya untuk menciptakan pengaruh yang kuat kepada bawahannya dan
koleganya dipandang sebagai pemimpin yang baik. Dari semua fungsi
manajemen, kepemimpinan atau leadership melibatkan atasan yang berhubungan
langsung dengan bawahannya. Dengan demikian memimpin merupakan bagian
sentral dari peran kepala sekolah, dalam bekerja bersama-sama untuk mencapai
visi, misi dan tujuan sekolah.
Kemampuan memimpin

yaitu kemampuan seorang kepala sekolah dalam

memotivasi, mempengaruhi, mengarahkan, dan berkomunikasi dengan bawahan.


Seseorang yang mempunyai posisi sebagai pemimpin dalam suatu organisasi
mengemban tugas untuk melaksanakan kepemimpinan. Dengan kata lain
pemimpin adalah

orangnya dan kepemimpinan atau leadership adalah

kegiatannya. Ada beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli. Menurut


E. Mulyasa (2005 :107) kepemimpinan diartikan sebagai kegiatan untuk
mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap tercapainya tujuan
organisasi.

Sedangkan kepemimpinan menurut Hasibuan (2001:167) adalah :


Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku
bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai
tujuan organisasi.
Amirullah (2004:245) mendefinisikan kepemimpinan sebagai hubungan
dimana seseorang (pemimpin) mempengaruhi orang lain untuk mau bekerja sama
melaksanakan tugas-tugas yang saling berkaitan guna mencapai tujuan yang
diinginkan pemimpin dan atau kelompok. Definisi tersebut menekankan pada
permasalahan hubungan antara orang yang mempengaruhi (pemimpin) dengan
orang yang dipengaruhi (bawahan).
Dari beberapa definisi yang telah disebutkan, penulis dapat memberi
kesimpulan bahwa kepemimpinan merupakan orang yang memiliki kewenangan
untuk memberi tugas, mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain
melalui pola hubungan yang baik guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Kepemimpinan dalam konteks struktural tidak hanya terikat pada bidang atau sub
bidang yang menjadi garapannya, tetapi juga oleh rumusan tujuan dan program
pencapaiannya yang telah ditetapkan oleh pemimpin yang lebih tinggi posisinya.
Setiap anggota harus melaksanakannya tanpa menyimpang. Sehingga dalam hal
ini kepemimpinan diartikan sebagai proses pemberian motivasi agar orang-orang
yang dipimpin melakukan kegiatan atau pekerjaan sesuai dengan program yang
telah ditetapkan. Kepemimpinan juga berarti usaha mengarahkan, membimbing
dan mempengaruhi orang lain, agar pikiran dan kegiatannya tidak menyimpang
dari tugas pokoknya masing-masing. Dalam keadaan seperti ini inisiatif dan
kreativitas tidak menyentuh tujuan dan program organisasi, dan jika masih

diijinkan, sentuhannya hanya berkenaan dengan cara melaksanakan program agar


tujuan lebih mudah dicapai. Inisiatif dan kreativitas tersebut tetap akan sulit
dilakukan bilamana pimpinan unit tidak memiliki atau tidak mendapat pelimpahan
wewenang. Dengan kata lain kepemimpinan dalam kontek struktural tidak dapat
melepaskan diri dari sifat birokratis, meskipun tidak seluruhnya bersifat negatif.
Sifat birokratis itu berarti pemimpin dalam melaksanakan program atau cara
bekerja berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan yang saling tidak boleh
melampaui wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Birokrasi yang terlalu
ketat akan mengakibatkan

kepemimpinan kurang berfungsi, karena fungsi

pengambilan keputusan tidak dapat dilaksanakan secara cepat. Setiap keputusan


pimpinan yang lebih rendah, bukan saja harus sejalan dengan kebijaksanaan dan
keputusan pimpinan yang lebih tinggi, tetapi juga sering terjadi pengambilan
keputusan harus disetujui lebih dahulu oleh pimpinan atasan.
Kepemimpinan dalam konteks non-struktural dapat diartikan sebagai proses
mempengaruhi pikiran, perasaan, tingkah laku, dan mengarahkan semua fasilitas
untuk mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan secara bersama-sama pula.
Dalam konteks non-struktural ini sebab-sebab seseorang dipilih, dipercaya dan
diangkat menjadi pemimpin karena memiliki kelebihan

dalam aspek-aspek

kepribadiannya. Kelebihan itu menimbulkan kepercayaan dan kesediaan


mengikuti petunjuk, bimbingan dan pengarahnnya. Kelebihan itu mungkin berupa
kemampuan intektual yang ditampilkan dalam wawasan yang luas, kemampuan
menyelesaikan masalah dan lain-lain. Di samping itu mungkin berupa
kesederhanaan, kejujuran, keterbukaan, dedikasi dan loyalitas, kepeloporan dan

lain-lain. Dalam kepemimpinan ini hubungan antara pemimpin dengan orangorang yang dipimpinnya lebih longgar. Hubungan yang longgar itu disebabkan
karena pemimpin berasal dari anggota kelompok yang sebelumnya merupakan
orang-orang yang senasib dan sepenanggungan. Pemimpin tidak hanya mampu
menghayati tugas-tugas yang harus dikerjakan anggota kelompok/organisasinya,
tetapi juga menghayati kepentingan/kebutuhan dan masalah-masalahnya. Oleh
karena itu setiap keputusannya selalu diorientasikan pada kebersamaan dengan
anggota, dan bukan untuk melindingi posisinya (jabatannya) sebagai pemimpin.
Dengan jiwa kebersamaan itulah yang menjadi faktor yang memudahkan
pemimpin menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya, sebagai perwujudan
kepemimpinan yang efektif.
Amirullah (2004:269) memberi indikator kepemimpinan efektif yaitu dengan
melihat dari hasil kinerja yang diperoleh selama tugas kepemimpinannya, baik
secara kualitas maupun kuntitas. Salah satu pendekatan yang dianggap tepat
dalam melihat indikator kepemimpinan yang efektif adalah dengan melihat peranperan yang dimainkan oleh seorang pemimpin. Apabila pemimpin itu telah
melaksanakan tugas sesuai dengan peran dan fungsinya, maka pemimpin itu
dikatakan sudah efektif. Sebaliknya, pemimpin yang belum melaksanakan tugastugas sesuai dengan peranannya, maka pemimpin itu masih belum bisa dikatakan
sebagai pemimpin yang efektif. Adapun peran-peran dari seorang pemimpin yang
efektif adalah :
(1) sebagai figur (figurehead); (2) sebagai pemimpin (leader); (3) sebagai
penghubung (liasion); (4) sebagai pengamat (monitoring); (5) sebagai

pembagi informasi (disseminator); (6) sebagai juru bicara (spokesperson) dan


(7) sebagai wirausaha (enterpreneur).

B. Pendekatan sifat-sifat kepemimpinan dan perilaku kepemimpinan.


1. Pendekatan sifat-sifat kepemimpinan
Untuk memperoleh kemampuan dalam dalam kepemimpinan diperlukan
sejumlah sifat-sifat yang baik dan tepat, tetapi untuk sejumlah sifat-sifat tersebut
tidaklah cukup untuk memperoleh predikat pemimpin. Karena sifat-sifat itu harus
diterapkan dalam praktek pada waktu dan situasi yang tepat pula. Disamping itu
diperlukan pula adanya bawahan atau sekelompok orang yang mencari
kepemimpinannya. Sifat-sifat kepemimpinan itu mencangkup : pengetahuan,
kecerdasan, imanjinasi, kepercayaan diri, integrasi, kepandaian berbicara,
pengendalian dan keseimbangan mental dan emosional, pergaulan sosial dan
persahabatan, dorongan, antusiasme dan keberanian.
2. Pendekatan perilaku kepemimpinan
Pendekatan perilaku tidak mencoba untuk mencari jawaban sifat-sifat
pemimpin, tetapi akan mencoba untuk menentukan apa yang dilakukan oleh para
pemimpin efektif, bagaimana mereka mendelegasikan tugas, bagaimana mereka
berkomunikasi dan memotivasi bawahan mereka, bagaimana mereka menjalankan
tugas. Tidak seperti pendekatan sifat, pendekatan perilaku dapat dipelajari atau
dikembangkan sehingga individu-individu dapat dilatih dengan perilaku
kepemimpinan yang tepat agar mampu memimpin dengan efektif. Pendekatan
perilaku memusatkan perhatiannya pada dua aspek perilaku kepemimpinan yaitu :

a. Fungsi Kepemimpinan
Kepemimpinan yang efektif hanya dapat terwujud apabila dijalankan
sesuai dengan fungsinya. Fungsi pemimpin ini berhubungan langsung dengan
situasi sosial dalam kehidupan kelompok atau organisasi masing-masing yang
mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada di dalam dan bukan di luar
situasi itu. Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian di dalam situasi
sosial kelompok/organisasinya.
Pemimpin yang membuat keputusan dengan memperhatikan situasi sosial
kelompok/organisasinya, akan dirasakan sebagai keputusan bersama yang
menjadi tanggung jawab bersama pula dalam melaksanakannya. Dengan
demikian akan terbuka peluang bagi pemimpin untuk mewujudkan fungsifungsi kepemimpinan sejalan dengan situasi sosial yang dikembangkannya.
Fungsi kepemimpinan itu memiliki dua dimensi sebagai berikut :
1) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat kemampuan mengarahkan
(direction) dalam tindakan atau aktivitas pemimpin, yang terlihat
pada tanggapan orang-orang yang dipimpinnya.
2) Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan (support) atau
keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksanakan tugas
tugas

pokok

kelompok/organisasi,

yang

dijabarkan

dan

dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijaksanaankebijaksanaan pemimpin.

Berdasarkan kedua dimensi itu, selanjutnya secara operasional dapat


dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan. Lima fungsi kepemimpinan tersebut
adalah :
a) Fungsi Instruktif
Pemimpin sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan
pelaksanaannya pada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin sebagai
komunikator merupakan pihak yang menentukan apa (isi perintah),
bagaimana (cara mengerjakan perintah), kapan (waktu memulai,
melaksanakan

dan

melaporkan

hasilnya),

dan

dimana

(tempat

mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif.


b) Fungsi Konsultatif
Pemimpin

kerapkali

memerlukan

bahan

pertimbangan

yang

mengharuskannya berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya.


Konsultasi dapat pula dilakukan melalui arus sebaliknya, yakni dari orangorang yang dipimpin kepada pemimpin yang menetapkan keputusan dan
memerintahkan pelaksanannya. Hal ini berarti fungsi ini berlangsung dan
bersifat komunikasi dua arah, meskipun pelaksanaannya sangat tergantung
pada pihak pemimpin.
c) Fungsi Partisipasi
Fungsi ini berarti kesediaan pemimpin untuk tidak berpangku tangan pada
saat-saat orang yang dipimpin melaksanakan keputusannya. Pemimpin
tidak boleh sekedar mampu membuat keputusan dan memerintahkan

pelaksanaannya, tetapi juga ikut dalam proses pelaksanaannya, dalam


batas-batas tidak menggeser dan mengganti petugas yang bertanggung
jawab melaksanakannya.
d) Fungsi Delegasi
Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilah-milah tugas pokok
organisasinya dan mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat dilimpahkan
kepada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi delegasi pada dasarnya
berarti kepercayaan. Pemimpin harus bersedia dan dan dapat mempercayai
orang lain sesuai dengan posisi/jabatannya.
e) Fungsi Pengendalian
Pemimpin mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam
koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan
bersama secara maksimal.
b. Gaya Kepemimpinan
Pandangan kedua tentang perilaku kepemimpinan ini memusatkan pada
gaya kepemimpinan dalam hubungannya dengan bawahan. Menurut Nasution
(2004:199) Gaya Kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pemimpin
dalam berinteraksi dengan bawahannya. Gaya kepemimpinan ini pada gilirannya
ternyata merupakan dasar dalam membeda-bedakan atau mengklasifikasikan tipe
kepemimpinan. Gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar, yaitu :

1) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan


tugas secara efektif dan efesien, agar mampu mewujudkan tujuan
secara maksimal.
2) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan
hubungan kerja sama.
3) Gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hasil yang dapat
dicapai dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. Disini
pemimpin menaruh perhatian yang besar dan memiliki keinginan
yang kuat, agar setiap anggota berprestasi sebesar-besarnya.
Ketiga pola dasar perilaku kepemimpinan dalam praktik tidak berlangsung
secara ekstrim terpisah-pisah. Pemisahan sebagaimana tersebut diatas
dimaksudkan sebagai uraian teoritis, yang akan mengantarkan pada kategori
kepemimpinan menjadi lima tipe pokok dalam kepemimpinan. Kepemimpinan
yang efektif tidak mungkin terwujud dengan mempergunakan salah satu tipe
kepemimpinan

secara

murni.

Arifin

(2005:15)

kelima

tipe

pokok

kepemimpinan tersebut adalah :


1) Tipe kepemimpinan otokratik
Kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang
atau sekelompok kecil orang yang diantara mereka tetap ada
seseorang yang paling berkuasa. Pemimpin bertindak sebagai
penguasa tunggal. Kedudukan bawahan semata-mata sebagai
pelaksana keputusan, perintah dan bahkan kehendak pemimpin.
Pemimpin

memandang

dirinya

lebih

dalam

segala

hal,

dibandingkan dengan bawahannya. Perintah pemimpin tidak


boleh dibantah, karena dipandang sebagai satu-satunya yang
paling benar. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain bagi bawahan
selain tunduk dan patuh di bawah kekuasaan sang pemimpin.
Kekuasaan pemimpin digunakan untuk menekan bawahan,
dengan mempergunakan sanksi atau hukuman sebagai alat utama.
2. Tipe kepemimpinan paternalistik
Tipe kepemimpinan ini lebih mengutamakan kebersamaan. Tipe
ini memperlakukan semua satuan kerja yang terdapat dalam
organisasi dengan seadil dan serata mungkin.
3. Tipe kepemimpinan kharismatik
Dalam tipe ini pemimpin mempunyai kemampuan menggerakkan
orang lain dengan mendayagunakan keistimewaan atau kelebihan
pribadi yang dimiliki oleh pemimpin, sehingga menimbulkan rasa
hormat, segan dan patuh pada orang-orang yang dipimpinnya.
Adapun

keistimewaan

kepribadian

yang

umum

dimiliki

kepemimpinan tipe ini adalah akhlak yang terpuji.


4. Kepemimpinan bebas (Laissez Faire)
Dalam kepemimpinan ini, pemimpin berkedudukan sebagai
simbol. Kepemimpinan dijalankan dengan memberikan kebebasan
penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil keputusan dan
melakukan kegiatan (berbuat) menurut kehendak dan kepentingan

masing-masing,

baik secara perseorangan maupun

berupa

kelompok-kelompok kecil. Pemimpin hanya mengfungsikan


dirinya sebagai penasehat, yang dilakukan dengan memberi
kesempatan untuk berkompromi atau bertanya bagi anggota
kelompok yang memerlukannya. Dalam kepemimpinan ini apabila
tidak ada seorangpun dari anggota kelompok atau bawahan yang
mengambil inisiatif untuk menetaplan suatu keputusan maka tidak
ada aktivitas/kegiatan organisasi.
5. Tipe kepemimpinan demokratis
Tipe kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor
utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Proses
kepemimpinan diwujudkan dengan cara memberikan kesempatan
yang luas bagi anggota kelompok/organisasi untuk berpartisipasi
dalam setiap kegiatan. Setiap angota kelompok tidak saja diberi
kesempatan

untuk

aktif,

tetapi

juga

dibantu

dalam

mengembangkan sikap dan kemampuannya memimpin. Konsisi


itu memungkinkan setiap orang siap untuk dipromosikan
menduduki jabatan pemimpin secara berjenjang, bilamana terjadi
kekosongan karena pensiun, mutasi, meninggal dunia, atau sebabsebab lain.
Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis dan
terarah.

Kegiatan-kegiatan

pengendalian

dilaksanakan

secara

tertib

dan

bertanggung jawab. Pembagian tugas yang disertai pelimpahan wewenang dan

tanggung jawab yang jelas memungkinkan setiap angoota berpartisipasi secara


aktif. Dengan kata lain setiap anggota mengetahui secara pasti sumbangan yang
dapat diberikan untuk mencapai tujuan organisasinya.
C. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Sebagaimana sekolah dipahami sebagai suatu organisasi, kepemimpinan dan
manajemen menjadi menarik untuk kaji. Sebagai suatu organisasi, sekolah
memerlukan tidak hanya seorang manajer untuk mengelola sumber daya sekolah,
yang lebih banyak berkonsentrasi pada permasalahan anggaran dan persoalan
adminstratif lainnya, melainkan juga memerlukan pemimpin yang mampu
menciptakan sebuah visi dan mengilhami staf dan semua komponen individu yang
terkait dengan sekolah. Wacana ini mengimplikasikan bahwa baik pemimpin
maupun manajer diperlukan dalam pengelolaan sekolah.
Berbeda dengan organisasi lain, sekolah merupakan bentuk organisasi moral,
yang berbeda dengan bentuk organisasi lainnya, terutama yang berorientasi pada
keuntungan

(laba).

Sebagai

suatu

organisasi,

menurut

Rumtini

Iksan

(http://www.depdiknas.go.id :2005) kesuksesannya tidak hanya ditentukan oleh


kepala sekolah melainkan juga oleh tenaga kependidikan lainnya dan proses
sekolah itu sendiri. Hal tersebut membawa konsekuensi logis bahwa kepala
sekolah berkewajiban mengkoordinasikan ketenagaan di sekolah untuk menjamin
terimplementasikannya peraturan dan perundangan sekolah. Dalam perannya
tersebut, kepala sekolah dapat berfungsi sebagai motivator, direktur, dan
evaluator.

Kepala sekolah adalah pemimpin pada satu lembaga satuan pendidikan. Tanpa
kehadiran kepala sekolah proses pendidikan termasuk pembelajaran tidak akan
berjalan efektif. Kepala sekolah adalah pemimpin yang proses keberadaannya
dapat dipilih secara langsung, ditetapkan oleh yayasan, atau ditetapkan oleh
pemerintah. Menurut

Awaludin Hamzah (http://www.pikiran-rakyat.com:

25

Oktober 2004) Ada tiga syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi kepala sekolah
yaitu :
1. Aspek Akseptabilitas
Akseptabilitas adalah aspek mengandalkan dukungan riil dari komunitas yang
dipimpinnya. Seorang kepala sekolah harus mendapat dukungan dari guru-guru
dan karyawan lembaga yang bersangkutan sebagai komunitas formal yang
dipimpinnya. Dukungan ini juga secara nonformal harus mendapat pula dari
masyarakat pendidikan termasuk komite sekolah sebagai wadah organisasi orang
tua/wali siswa.
Seorang kepala sekolah sah menjadi pemimpin apabila mendapat dukungan
riil dari masyarakat yang dipimpinnya, hal ini untuk memudahkan kinerja tugas
serta menghindarkan dari sikap apriori atau pembangkangan dari yang
dipimpinnya. Sesungguhnya jika seseorang yang memimpin tidak dikehendaki
oleh yang dipimpin akan menimbulkan ketidakserasian dalam pelaksanaan tugas.
Aspek akseptabilitas ini dalam teori organisasi disebut legitimasi (pengakuan)
yakni kelayakan seorang pemimpin untuk diakui dan diterima keberadaannya oleh
mereka yang dipimpin. Untuk mendapatkan legitimasi, sebaiknya kepala sekolah
dipilih langsung oleh guru-guru.

Hanya orang yang dipilih melalui proses pemilihan seperti ini biasanya
seorang pemimpin mendapat dukungan yang nyata. Tentunya melalui tahapan
seleksi yang ketat tidak asal memilih. Kepemimpinan seperti ini akan memiliki
legitimasi yang sangat kuat jika melalui proses pemilihan langsung yang
dilaksanakan secara adil, jujur, dan transparan.
2. Aspek kapabilitas
Aspek

kapabilitas

menyangkut

kompetensi

(kemampuan)

untuk

menjalankan kepemimpinan. Untuk menjadi kepala sekolah tidak hanya cukup


mendapat pengakuan dari guru-guru sebagai pendukungnya tapi juga harus
memiliki kemampuan memimpin.

Selain itu, memiliki kemampuan dalam

mengelola sumber daya yang ada dari orang-orang yang dipimpinnya agar tidak
menimbulkan konflik. Kapabilitas ini sangat diperlukan bagi seorang kepala
sekolah, melalui pengalaman yang cukup memadai serta pengetahuan mengenai
manajemen sekolah dan pendidikan lainnya.

Apabila kepala sekolah tidak

memiliki kemampuan dalam mengelola dapat dipastikan lembaga yang


dipimpinnya tidak akan berjalan efektif dan ada kemungkinan berantakan. Konflik
biasanya muncul karena adanya berbagai kepentingan dan gagasan yang kurang
terakomodasi dengan sempurna. Apabila konflik ini dikelola dengan baik serta
mengakomodasi hal-hal yang secara realistis dapat dilaksanakan, akan melahirkan
sebuah kesepakatan dan pemahaman yang akan terasa elok apabila dilaksanakan
secara bersama dengan penuh tanggung jawab.

3. Aspek integritas
Aspek integritas adalah sebuah persyaratan yang sempurna apabila aspek
akseptabilits dan kapabilitas terpenuhi. Dengan persyaratan ini seorang kepala
sekolah dapat menghasilkan produk kepemimpinan yang sempurna dan diterima
oleh khalayak. Secara sederhana, integritas artinya komitmen moral dan
berpegang teguh terhadap aturan main yang telah disepakati sesuai dengan
peraturan dan norma yang semestinya berlaku. Faktor ini akan menentukan
wibawa dan tidaknya seorang kepala sekolah. Suatu penghargaan akan diberikan
terhadap seorang pemimpin apabila memegang teguh janjinya serta komitmennya
terhadap sesuatu yang telah disepakatinya. Jadi, integritas adalah menyangkut
konsistensi dalam memegang teguh aturan main atau norma-norma yang berlaku
di dunia pendidikan.
Selain tiga persyaratan tersebut, kepala sekolah sebagai seorang manajer di
lembaga pendidikan juga harus memiliki tiga kecerdasan pokok, yaitu :
kecerdasan profesional, kecerdasan personal dan kecerdasan manajerial agar dapat
bekerja sama dan mengerjakan sesuatu dengan orang lain. Rosyada (2004:240242) mengklasifikasikan kemampuan manajerial yang harus dipertimbangkan
sebagai langkah awal mengerjakan berbagai tugas manajerial, yaitu :
a. Kemampuan mencipta, yang meliputi : selalu mempunyai ide-ide bagus,
selalu memperoleh solusi-solusi untuk berbagai problem yang biasa
dihadapi, mampu mengantisipasi berbagai konsekuensi dari pelaksanaan
berbagai keputusan dan mampu mempergunakan kemampuan berfikir

imajinatif (lateral thingking) untuk menghubungkan sesuatu dengan yang


lainnya yang tidak bisa muncul dari analisis dan pemikiran-pemikiran
empirik.
b. Kemampuan

membuat

perencanaan,

yang

meliputi

mampu

menghubungkan kenyataan sekarang dan hari esok, mampu mengenali


apa-apa yang penting saat itu dan apa-apa yang benar-benar mendesak,
mempu mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan mendatang, dan mampu
melakukan analisis.
c. Kemampuan mengorganisasi, yang meliputi : mampu mendistribusikan
tugas dan tanggung jawab yang adil, mampu membuat putusan secara
tepat, selalu bersikap tenang dalam menghadapi kesulitan, mampu
mengenali pekerjaan itu sudah selesai dan sempurna dikerjakan.
d. Kemampuan berkomunikasi, yang meliputi : mampu memahami orang
lain, mampu dan mau mendengarkan orang lain, mampu menjelaskan
sesuatu pada orang lain, mampu berkomunikasi melalui tulisan, mampu
membuat orang lain berbicara, mampu mengucapkan terima kasih pada
orang lain , selalu mendorong orang lain untuk maju dan selalu mengikuti
dan memanfaatkan tekhnologi informasi.
e. kemampuan memberi motivasi, yang meliputi : mampu memberi inspirasi
pada orang lain, menyampaikan tantangan yang realistis, membantu orang
lain untuk mencapai tujuan dan target, membantu orang lain untuk menilai
kontribusi dan pencapaiannya sendiri.

f. Kemampuan melakukan evaluasi, yang meliputi : mampu membandingkan


antara hasil yang dicapai dengan tujuan, mampu melakukan evaluasi diri,
mampu melakukan evaluasi terhadap pekerjaan orang lain, dan mampu
melakukan tindakan pembenaran saat diperlukan.
D. Kinerja guru
Menurut

Timotius

(http://www.geocities.com/guruvalah:2005)

Kinerja

merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, work performance atau job


performance

tetapi

dalam

bahasa

Inggrisnya

sering

disingkat

menjadi

performance saja. Kinerja dalam bahasa Indonesia disebut juga prestasi kerja.
Kinerja atau prestasi kerja (performance) diartikan sebagai ungkapan kemampuan
yang didasari pengetahuan, sikap, ketrampilan dan motivasi dalam menghasilkan
sesuatu.. Masalah kinerja selalu mendapat perhatian dalam manajemen karena
sangat berkaitan dengan produktivitas lembaga atau organisasi. Faktor utama
yang mempengaruhi kinerja adalah kemampuan dan kemauan. Memang diakui
banyak orang mampu tetapi tidak mau sehingga tidak menghasilkan kinerja.
Demikian pula halnya banyak orang mau tetapi tidak mampu juga tetap tidak
menghasilkan kinerja. Kinerja adalah sesuatu uyang dicapai atau prestasi yang
diperlihatkan atau kemampuan bekerja, dengan kata lainbahwa kinerja dapat
diartikan sebagai prestasi kerja. Henri simamora (1997:423) menyatakan bahwa
prestasi kerja (performance) diartikan sebagai suatu pencapaian persyaratan
pekerjaan tertentu yang alhirnya secara langsung dapat tercermin dari output yang
dihasilkan baik kuantitas maupun kualitasnya. Sedangkan Hasibuan (2001:94)
mendefinisikan prestasi kerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seseorang

dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan


atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu. Prestasi kerja
merupakan gabungan dari tiga faktor penting yaitu, kemampuan dan minat
seorang pekerja, kemampuan dan minat seorang pekerja, kemampuan dan
penerimaan atas penjelasan delegasi tugas, serta peran dan tingkat motivasi
seorang pekerja. Semakin tinggi ketiga faktor diatas, semakin besarlah prestasi
kerja karyawan bersangkutan.
Dari pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa apabila seorang
pegawai telah memiliki kemampuan dalam penguasaan bidang pekerjaannya,
mempunyai minat untuk melakukan pekerjaan tersebut, adanya kejelasan peran
dan motivasi pekerjaan yang baik, maka orang tersebut memiliki landasan yang
kuat untuk berprestasi lebih baik. Ukuran kinerja secara umum yang kemudian
diterjemahkan ke dalam penilaian perilaku secara mendasar meliputi : (1) kualitas
kerja; (2) kuantitas kerja; (3) pengetahuan tentang pekerjaan; (4) pendapat atau
pernyataan yang disampaikan; (5) keputusan yang diambil; (6) perencanaan kerja;
(7) daerah organisasi kerja.
Jadi kinerja adalah kuantitas dan kualitas yang diselesaikan oleh individu,
maka kinerja merupakan output pelaksanaan tugas. Kinerja mempunyai hubungan
yang erat dengan masalah produktivitas, karena merupakan indikator dalam
menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktivitas yang tinggi
dalam suatu organisasi. Hasibuan (1999:126) menyatakan produktivitas adalah
perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input). Adapun Faktorfaktor

yang

mempengaruhi

kinerja

menurut

Sedarmayanti

(http://www.geocities.com/guruvalah:2005) antara lain : sikap mental, pendidikan,


ketrampilan, manajemen kepemimpinan, tingkat penghasilan, gaji dan kesehatan,
jaminan sosial, iklim kerja, sarana prasarana, tekhnologi dan kesempatan
berprestasi. Bertolak dari para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud dengan kinerja guru atau prestasi kerja (performance) adalah hasil yang
dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya
yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu
dengan output yang dihasilkan tercermin baik kuantitas maupun kualitasnya.
E. Penilaian Kinerja Guru
Tugas manajer (kepala sekolah) terhadap guru salah satunya adalah
melakukan penilaian atas kinerjanya. Penilaian ini dilaksanakan untuk mengetahui
kinerja yang telah dicapai oleh guru. Apakah kinerja yang dicapai setiap guru
baik, sedang atau kurang. Penilaian ini penting bagi setiap guru dan berguna bagi
sekolah dalam menetapkan kegiatannya. Dengan penilain berarti guru mendapat
perhatian dari atasannya sehinga dapat mendorong mereka untuk bersemangat
bekerja. Tentu saja penilaian ini harus dilakukan secara objektif dan jujur serta ada
tindak lanjutnya.Tindak lanjut penilaian ini guru memungkinkan untuk
memperoleh imbalan jasa dari sekolah seperti memperoleh kenaikan jabatan
seperti wakil sekolah, Pembimbing OSIS atau mungkin modal untuk mendapatkan
kenaikan pangkat dengan sistem kredit.
Penilaian kinerja ini merupakan alat yang berguna tidak hanya untuk
mengevaluasi kerja dari para guru, tetapi juga untuk mengembangkan dan
memotivasi kalangan guru. Sejalan dengan itu Hasibuan (2001:86) berpendapat

Penilaian prestasi adalah kegiatan manajer untuk mengevaluasi perilaku prestasi


kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan selanjutnya.
Dalam penilaian kinerja tidak hanya semata-mata menilai hasil fisik, tetapi
pelaksanaan pekerjaan secara keseluruhan yang menyangkut berbagai bidang
seperti kemampuan, kerajinan, disiplin, hubungan kerja atau hal-hal khusus sesuai
bidang tugasnya semuanya layak untuk dinilai. Unsur prestasi karyawan yang
dinilai oleh setiap organisasi tidaklah selalu sama, tetapi pada dasarnya unsurunsur yang dinilai itu mencangkup seperti hal-hal ditersebut. Demikian juga untuk
menilai kinerja guru, unsur-unsur yang telah dipaparkan dapat digunakan oleh
kepala sekolah untuk melakukan penilaian namun tentu saja berkaitan dengan
profesinya sebagai guru dengan tugas utamanya sebagai pengajar.
Dalam melaksanakan tugasnya, guru tidak berada dalam lingkungan yang
kosong. Ia bagian dari sebuah mesin besar pendidikan nasional, dan karena itu dia
terikat pada rambu-rambu yang telah ditetapkan secara nasional mengenai apa
yang mesti dilakukannya. Hal seperti biasa dimanapun, namun dalam konteks
profesionalisme guru dimana mengajar dianggap sebagai pekerjaan profesional,
maka guru dituntut untuk profesional dalam melaksanakan tugasnya. Sehubungan
dengan uraian tersebut maka kinerja guru yang diukur dalam penelitian ini
merupakan penilaian terhadap guru yang menyangkut tugasnya sebagai pengajar
dan penilaian kepala sekolah yang menyangkut tentang kepemimpinanya.

BAB III
PEMBAHASAN
A> Kepala Sekolah
Kepala Sekolah adalah seorang manager, yaitu orang yang
melaksanakan/mengelola management sekolah. Kepala sekolah harus mampu
memanage (meminit) unsur manusia dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan
mutu pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah tidak melaksanakan
sendiri tindakan-tindakan yang bersifat operasional sekolah, tetapi mengambil
keputusan menentukan kebijaksanaan dan menggerakkan orang lain untuk
melaksanakan keputusan kepala sekolah yang telah diambil sesuai dengan
kebijakkan yang telah digariskan dalam program kerja.
Seorang Kepala Sekolah sebagai pengelola management sekolah harus
memahami Fungsi-Fungsi Dasar Management, yang meliputi :
-

Planning (Perencanaan )

Organizing (Pengorganisasian)

Actuating (Penggerakan)

Controlling ( Pengontrollan )

Evaluation ( Evaluasi )

1. Planning (Perencanaan )
Menetapkan rencana apa yang harus dilaksanakan sekolah untuk menyelesaikan
proram-program yang telah dibuat. Fase pertama perlu ditetapkan : Apa, kapan
dan

bagaimana

pekerjaan

harus

dilakukan.

Dalam

fase ini

disebut

Perencanaan (Planning).
2. Organizing ( Pengorganisasian )
Mendistribusikan atau mengalokasikan tugas-tugas pada orang-orang yang
diberi kewenangan yang dituangkan dalam SK.Tugas, Kepala Sekolah
mendelegasikan kekuasaan dan menetapkan hubungan kerja antara anggota

kelompok kerja dengan delegir.

Fase ini disebut Pengorganisasian

(Organizing).
3. Actuating ( Penggerakkan )
Kepala Sekolah menggunakan sarana-sarana, seperti komunikasi,pemberian
instruksi,saran,teguran,pujian, sehingga para pelaku tenaga kependidikan tergerak
untuk melaksanakan tugas yang telah diemban dengan secara ikhlas dan dengan
kerjasama yang baik sebagai partner kerja kepala sekolah. Kegiatan ini
menyebabkan kegiatan operasional sekolah menjadi bergerak dan berjalan. Fase
ini lazim disebut Penggerakkan (Actuating).
4. Controlling (Pengawasan )
Pada saat kegiatan sekolah sedang bergerak atau berjalan, kepala sekolah harus
selalu mengadakan pengawasan atau pengendalian agar gerakkan atau jalannya
kegiatan operasional sekolah sesuai dengan planning yang telah digariskan. Fase
ini disebut Pengawasan atau Pengendalian (Controlling).
5. Evaluatiom ( Evaluasi)
Hasil kerja yang telah dicapai dalam program yang telah digariskan dibuat
prosentase realisasi pencapaian sasaran/target. Dalam hal ini kepala sekolah dapat
mengevaluasi

kekurangan-kekurangan

yang

ada,

penyebab

timbulnya

hambatan/kendala, sehingga dapat untuk memperbaiki kinerja mendatang. Fase


ini disebut Evaluasi (Evaluation).
B> Wakil Kepala Sekolah
Wa kil Kepala Sekolah merupakan kepanjangan tangan kerja kepala sekolah
yang membantu tugas-tugas kepala sekolah sesuai dengan pembagian tugas
masing-masing, yang meliputi :
1. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum
2. Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan
3. Wakil Kepala Sekolah Urusan Sarana dan Prasarana

4. Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Masyarakat.


Wakil kepala sekolah harus membuat suatu perencanaan didalam melaksanakan
tuagas selama tahun ajaran berlangsung bisa selama satu semester setiap wakil
masing-masing mempunyai perencanaaan sesuai dengan urusan masing-masing.
Uraian tugas yang telah digariskan melalui SK.Tugas, Wakil Kepala
Sekolah mengkoordinasikan anggota kelompok kerjanya, sehingga antara wakil
kepala sekolah yang satu dengan yang lain tidak tumpang tindih pelaksanaan
operasionalnya. Wakil kepala Sekolah Urusan Kurikulum berkoordinasi dengan
semua

guru

mata

pelajaran

dan

wali

kelas,

bertanggungjawab

atas

terselenggaranya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Wakil Kepala Sekolah


Urusan Kesiswaan

berkoodinasi dengan Guru Pembina OSIS dan seluruh

Pembina seksi-seksi kegiatan Ekstra Kurikuler. Menyusun Program Kerja


kegiatan OSIS, menegakkan disiplin dan tata tertip siswa.
C> Guru
Dengan dikoordinasi oleh Wakil kepala sekolah Urusan Kurukulum, guru harus
mampu menguasai pengelolaan Program Pengajaran yang meliputi : Program
tahunan, Program Semester, Analisis Materi Pelajaran, Pengayaan dan lain-lain
yang berkenaan dengan proses belajar mengajar.
Guru tidak hanya dituntut untuk meningkatkan ilmu pengetahuan anak
didiknya, tetapi juga harus mampu membekali diri dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang ada sekarang. Dalam hal ini kepala sekolah harus
mendorong dan memberi kesempatan kepada para guru untuk mengikuti
penataran ,seminar, simposium, musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dan
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga dapat
meningkatkan pengetahaun seorang guru dalam melkasanakn kegiatan belajar
mengajar.

D>

Wali Kelas

Disamping

sebagai

petugas

pengelola

kelas

dan

penyelenggara

administrasi kelas, Wali kelas harus mampu berperan sebagai pengganti orang tua
murid di sekolahnya. Mengetahui perkembangan akademik anak didiknya secara
konfrehensif, membuat catatan-catatan khusus. Kasus-kasus yang tidak

mampu

untuk diselesaikan sendiri agar dikonsultasikan atau dialih tugaskan

kepada

petugas Bimbingan dan Konseling sekolah. Pada prinsipnya senakal apapun anak
masih ada sisi baiknya, jika perlu dikonsultasikan dengan orang tua/wali murid
untuk solusinya.
E> Staff Tata Usaha
Kepala Sekolah mendelegasikan tugas ketatausahaan kepada Kepala
Urusan Tata Usaha sebagai koordinator, yang selanjutnya mengkoordinasikan
kepada anggota tugas tentang uraian tugas yang harus dilaksanakan. Kemudian
tugas bendahara adalah membantu Kepala Sekolah dalam pengelolaan
administrasi

keuangan

sekolah

yang

mempunyai

menyimpan,membayarkan dan mempertanggung

fungsi

mengambil,

jawabkan secara administrasi

keuangan (SPJ) tepat waktu.


F>

Pustakawan
Buku adalah sebagai salah satu sarana sumber ilmu pengetahuan dan

teknologi, semakin banyak buku yang dibaca akan terasa semakin kecil
pengetahuan seseorang. Disamping sebagai petugas yang bertanggung jawab atas
pengelolaan perpustakaan, Pustakawan berkoordinasi dengan seluruh guru mata
pelajaran untuk memotivasi anak agar gemar membaca. Arahkan waktu senggang
anak untuk pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi dari tugas

yang

diberikan oleh gurunya, kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin dan


berkelanjutan, niscaya budaya membaca dapat ditanamkan sehingga dapat
menjadi salah satu kebutuhan hidupnya.

G> Laboran

Laboran sebagai petugas lab yang bertanggung jawab atas pengelolaan


laboraturium dan pemanfaatan peralatannya.

Laboraturium merupakan salah

satu sarana teknologi untuk mengembangkan kemampuan SDM peserta didik.


Kepala sekolah menugaskan petugas lab yang sesuai dengan latar belakang
keilmuannya agar peralatan yang mahal harganya tersebut dapat difungsikan
seoptimal mungkin.
H> Koordinator Musollah Sekolah.
Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional :

mencerdaskan kehidupan

bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang


beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti
luhur, dan seterusnya. Musolla sekolah merupakan sarana yang sangat

penting

untuk membimbing

Dengan

peserta didik dalam kegiatan keagamaan.

menunjuk seorang koordinator serta uraian tugasnya, petugas berkoordinasi


dengan guru pendidikan agama mengkoordinir dan menjadwalkan kegiatan siswa
untuk setiap hari pada jam tertentu bergilir setiap kelas

menjalankan kegiatan

keagamaan di musolla. Dengan demikian peserta didik tidak hanya dibekali oleh
ilmu pengetahuan dan teknologi,tetapi dibekali juga

keimanan dan ketaqwaan

kepada Tuhan Yang Maha Esa.


I> Komite Sekolah
Peran orang tua sangat penting dan paling efektif adalah oarng tua sebagai
penyedia lingkungan belajar efektif, sehingga pelajar dapat belajar dengan baik.
.........................................................................................................................

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kepala Sekolah adalah seorang pemimpin sekaligus seorang manager
yaitu orang yang memimpin dan mengelola management sekolah yang
harus memiliki dasar-dasar dan syarat kepemimpinan serta harus
memahami fungsi-fungsi dasar management.
2. Tugas-tugas yang telah didelegasikan kepada petugas yang telah
ditunjuk, dikoordinasikan dengan anggota kelompok tugasnya
sehingga terbentuk Team Work yang kompak sebagai partner kerja
kepala sekolah untuk melaksanakan program kerja yang telah di
gariskan.
3. Dengan penerapan fungsi-fungsi dasar management, diharapkan
sekolah dapat menghasilkan prestasi yang berkualitas dan berkualitas
dalam prestasi.
B. Saran
Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia
hendaknya setiap kepala sekolah membuat Program Kerja Sekolah sebagai
pedoman untuk pelaksanaan kegiatan operasional sekolah dan sebagai alat kontrol
dalam memutuskan kebijakan-kebijakan yang diambil.

DAFTAR PUSTAKA
Algifari, 2000, Analisis Regresi, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Amirullah, 2004, Pengantar Manajemen, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Arifin, 2005, Skripsi: Peranan Kepemimpinan dalam Meningkatkan Semangat
Kerja Pegawai, Bojonegoro: STIE Cendekia Bojonegoro
Hamzah, Awaludin, 2004, Tiga Syarat Penting Seorang Kepala Sekolah,
http://www.pikiran-rakyat.com
Hasan, M. Iqbal, 2002, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Bogor:
Ghalia Indonesia.
Hasibuan, Malayu S.P, 2001, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta:
PT. Bumi Aksara
Ismawanto, 2002, Simpati Ekonomi, Solo: CV. Grahadi
Koentjoroningrat, 2001, Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gra Media
Mulyasa, E, 2005, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: PT RemajaRosdakarya
Nasution, M.N. 2004, Manajemen Mutu Terpadu, Bogor: Ghalia Indonesia
Rosyada,

Dede,

2004,

Paradigma

Pendidikan

Demokratis,

Jakarta :

Prenada Media
Subiyanto, Ibnu, 2000, Metodologi Penelitian Manajemen dan Akuntansi,
Yogyakarta: UPP
Sutrisno Hadi, 2004, Statistik Jilid 2, Yogyakarta : Andi Offset
Tim Perumus, 2004, Pedoman Penulisan Skripsi, Bojonegoro: P3M STIE
Cendekia Bojonegoro
Timotius,

2005,

Hubungan

Motivasi

Kerja

dengan

Kinerja

Guru,

http://www.geocities.com/guruvalah/penelitian
Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003, 2003, Sistem Pendidikan Nasional,
http://www.depdiknas.go.id
Winardi, J, 2004, Manajemen Perilaku Organisasi, Jakarta: Prenada Media
Yatim Riyanto, 2001, Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya: Penerbit SIC

Anda mungkin juga menyukai