Anda di halaman 1dari 3

Berdasarkan jumlah unit gula dalam rantai, karbohidrat digolongkan menjadi 4

golongan utama yaitu:


1.
Monosakarida (terdiri atas 1 unit gula) Monosakarida merupakan gula
sederhana yang tidak dapat dihidrolisis menjadi menjadi bagian yang lebih kecil.
Kebanyakan monosakarida rasanya manis, tidak berwarna, berupa kristal padat
yang bebas larut dalam air tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar. Monosakarida
terdiri dari satu unit polihidrosi aldehida atau keton.
Merupakan karbohidrat yang paling sederhana,tidak dapat dihidrolisis lebih lanjut
- Merupakan kristal padat yang bebas larut di dalam air, tidak larut dalam pelarut
nonpolar
- Diserap langsung oleh alat pencernaan
- Perbedaan struktur menyebabkan sifat spesifik
- Mempunyai rumus empiris (CH2O)n, dimana n = 3 8. Jumlah atom C: triosa,
tetrosa,pentosa dan hesosa
- Tidak berwarna
- Berasa manis.
Kerangka monosakarida berupa rantai karbon berikatan tunggal yang tidak
bercabang
2.

Disakarida (terdiri atas 2 unit gula)

3.

Oligosakarida (terdiri atas 3-10 unit gula)

gula jika dihidrolisis menghasilkan 2 sampai 10 satuan gula monosakarida yang


terikat bersama. Disakarida yang banyak terdapat dialam adalah laktosa dan
sukrosa. Maltose dihasilkan bila pati dihidrolisis oleh enzim -amilase. Pada multosa
molekul glukosa dihubungkan oleh ikatan glikosida melalui atom karbon pertama
dengan gugus hidroksil ataom karbon ke 4 pada molekul glukosa lainnya.
4.

Polisakarida (terdiri atas lebih dari 10 unit gula)

Pembentukan rantai karbohidrat menggunakan ikatan glikosida.


karbohidrat, jika dihirolisis menghhasilkan lebih dari 10 satuan monosakarida. Jenis
karbohidrat ini umumnya tidak berasa, tidak larut, dan berupa senyawa amorf
dengan bobot molekul tinggi. Contohnya pati dan glikogen.

Pati mempunyai bobot molekul 20.000-1000000 merupakan karbohidrat cadangan


pada banyak tumbuhan dan merupakan penyusun utama pada gadum, padi,
jagung, dan kentang. Pati tersusun dari monomer glukosa dengan ikatan -1,4glikosida sebagai rantai lurus dan disebut amilosa, sedangkan pati yang memiliki
rantai cabang pada ikatan -1,6-glikosida disebut amilopektin.
Gula pereduksi merupakan golongan gula (karbohidrat) yang dapat mereduksi
senyawa-senyawa penerima elektron, contohnya adalah glukosa dan fruktosa.
Ujung dari suatu gula pereduksi adalah ujung yang mengandung gugus aldehida
atau keto bebas. Semua monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa) dan disakarida
(laktosa,maltosa), kecuali sukrosa dan pati (polisakarida), termasuk sebagai gula
pereduksi.[1] Umumnya gula pereduksi yang dihasilkan berhubungan erat dengan
aktifitas enzim, dimana semakin tinggi aktifitas enzim maka semakin tinggi pula
gula pereduksi yang dihasilkan. Jumlah gula pereduksi yang dihasilkan selama
reaksi diukur dengan menggunakan pereaksi asam dinitro salisilat/dinitrosalycilic
acid (DNS) pada panjang gelombang 540 nm. Semakin tinggi nilai absorbansi yang
dihasilkan, semakin banyak pula gula pereduksi yang terkandung.
gula non-reduksi adalah sukrosa. Gula non-reduksi dicirikan dengan tidak adanya
struktur rantai terbuka, sehingga tidak rentan terhadap proses oksidasi reduksi.
Pada polimer glukosa seperti amilum dan turunan amilum (maltodextrin dan
dextrin), makromolekulnya dimulai dengan gula reduksi. Umumnya gula pereduksi
yang dihasilkan berhubungan erat dengan aktifitas enzim, dimana semakin tinggi
aktifitas enzim maka semakin tinggi pula gula pereduksi yang dihasilkan.
Persentase gula reduksi di dalam turunan amilum/pati disebut dengan dextrose
equivalent (DE).

6. Jelaskan yang anda ketahui tentang pati dan jelaskan sifat- sifatnya ! Jawab : Pati
atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud
bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan
oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis)
dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber
energi yang penting. Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan
amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (
pera
) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna
ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan untuk
gejala ini belum pernah bisa tuntas dijelaskan. Amilosa merupakan polisakarida,
polimer yang tersusun dari glukosa sebagai monomernya. Tiap-tiap monomer

terhubung dengan ikatan 1,6- glikosidik. Amilosa merupakan polimer tidak


bercabang yang bersama-sama dengan amilopektin menjadi komponen penyusun
pati. Dalam masakan, amilosa memberi efek "keras" atau "pera" bagi pati atau
tepung. Amilopektin merupakan polisakarida yang tersusun dari monomer

-glukosa (baca: alfa glukosa). Amilopektin merupakan molekul raksasa dan mudah
ditemukan karena menjadi satu dari dua senyawa penyusun pati, bersama-sama
dengan amilosa. Walaupun tersusun dari monomer yang sama, amilopektin
berbeda dengan amilosa, yang terlihat dari karakteristik fisiknya. Secara struktural,
amilopektin terbentuk dari rantai glukosa yang terikat dengan ikatan 1,6-glikosidik,
sama dengan amilosa. Namun demikian, pada amilopektin terbentuk cabangcabang (sekitar tiap 20 mata rantai glukosa) dengan ikatan 1,4-glikosidik.
Amilopektin tidak larut dalam air. Glikogen (disebut juga 'pati otot') yang dipakai
oleh hewan sebagai penyimpan energi memiliki struktur mirip dengan amilopektin.
Perbedaannya, percabangan pada glikogen lebih rapat/sering. Dalam bahasa seharihari (bahkan kadang-kadang di khazanah ilmiah), istilah "pati" kerap
dicampuradukkan dengan "tepung" serta "kanji". "Pati" adalah penyusun (utama)
tepung. Tepung bisa jadi tidak murni hanya mengandung pati, karena ter-