Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MAKALAH KIMIA FARMASI

OPIUM

Disusun Oleh :
Ratih Nurmala Sari /09303244050
Agus Ratriana Dewi /09303244038

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012
A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri
dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun
1997). Yang termasuk jenis narkotika adalah tanaman papaver, opium
mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina,
kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja. Disamping itu,
Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta
campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan
tersebut di atas juga termasuk narkotika.
Rangsang yang menimbulkan rasa nyeri ialah kerusakan pada
jaringan, atau gangguan metabolism jaringan. Hal ini mengakibatkan
perubahan pada konsentrasi local ion (penurunan pH harga jaringan,
peningkatan konsentrasi ion kalium ekstrasel) maupun pembebasan
senyawa mediator. Sebagai akibatnya, reseptor nyeri (nosiseptor) yang
terdapat dikulit, di dalam jaringan yang lebih dalam letaknya (otot
kerangka, jaringan ikat, selaput tulang) dan di organ viseral jeraon,
terangsang. Tergantung pada letaknya, dibedakan antara nyeri, permukaan,
nyeri yang dalam dan nyeri viseral, yang secara kualitatif dialami dengan
cara yang berbeda. Dari reseptor, nyeri dikondusikan sebagai impuls listrik
yang bersusulan (potensial aksi) melalui urat saraf sensorik (urat saraf
nyeri) ke sumsum tulang belakang dan akhirnya melalui otak tengah
(telamus) ke sinusoid pusat posterior dari otak besar, di mana terjadi
kesadaran akan nyeri.
Seperti yang ditulis di atas, narkotika jenis opium merupakan salah
satu obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri. Kesadaran akan nyeri
mungkin tetap ada atau berkurang, tetapi kemampuan untuk menafsirkan,
menggabungkan, dan beraksi terhadap nyeri menurun karena adanya
sedasi, eufori, dan penurunan keresahan dan penderitaan. Efek lain satusatunya yang berguna terhadap SSP adalah penekanan batuk. Secara
perifer, pengurangan gerak-dorong usus berguna untuk mengendalikan

diare, jika tidak, terjadi sembelit sebagai efek samping umum. Diantara
kumpulan reaksi yang merugikan, yang paling penting dalam membatasi
kegunaannya adalah toleransi melalui sentral, ketergantungan, dan depresi
pernapasan, yang menjadi penyebab kematian pada pemberian yang lewatdosis. Oleh karena itu, melalui makalah ini akan dijelaskan ruang lingkup
salah satu jenis narkotika yaitu opium, terutama morfin sebagai agen aktif
utama dalam opium.
2. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas pada makalah ini yaitu sebagai
berikut sebagai berikut:
1. Zat aktif apakah yang terkandung dalam opium?
2. Bagaimana struktur dan sifat dari zat aktif tersebut?
3. Bagaimana aturan penggunaannya ?
4. Apa efek dari obat tersebut?
5. Bagaimana proses biotransformasi dari obat tersebut?

B. PEMBAHASAN
1. Zat Aktif Obat
Opium atau opium berasal dari kata opium, jus dari bunga opium,
Papaver somniverum, yang mengandung kira-kira 20 alkaloid opium,
termasuk morfin. Nama Opium juga digunakan untuk opium, yaitu suatu
preparat atau derivat dari opium dan narkotik sintetik yang kerjanya
menyerupai opium tetapi tidak didapatkan dari opium. opium alami lain
atau

opium

yang

disintesis

dari

opium

alami

adalah

heroin

(diacethylmorphine), kodein (3-methoxymorphine), dan hydromorphone


(Dilaudid).
Morfin adalah alkaloid analgesik yang sangat kuat dan merupakan
agen aktif utama yang ditemukan pada opium. Umumnya opium
mengandung 10% morfin. Kata "morfin" berasal dari Morpheus, dewa
mimpi dalam mitologi Yunani.
Morfin adalah hasil olahan dari opium/candu mentah. Morfin
merupakan alkaloida utama dari opium ( C 17H19NO3 ) . Morfin rasanya
pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau dalam bentuk cairan
berwarna. Pemakaiannya dengan cara dihisap dan disuntikkan. Adapun
gambar morfin bentuk tepung yaitu sebagai berikut :

2. Struktur dan Sifat Obat


Struktur yang tepat untuk alkaloid ini dikemukakan oleh Gulland
dan Robinson pada tahun 1925. Zat tersebut adalah senyawa pentasiklik
dengan atom dan cincin yang diberi nomor dan huruf seperti yang
diperlihatkan di bawah ini ;

Morfin mempunyai lima pusat asimetrik (karbon 5,6,9,13, dan 14),


tetapi hanya 16 (8 pasangan rasemik diastereoisomer) dan bukan 32 (25)
isomer yang mungkin, karena atom 10 dan 12 harus cis, jadi 1,3-diaksial,
dibandingkan terhadap cincin piperidin (D). Stereokimia relatif pada
kelima pusat itu direduksi secara tepat oleh Stork pada tahun 1952.

Peristilahan klasik (misalnya morfin, kodein) digantikan oleh tatanama


sistemik yang didasrkan pada inti morfinan dengan mempertahankan
sistem penomoran fenantren. Jadi morfin sekarang disebut (Cemical
Abstract) 17-metil-7,8-didehidro-4,5-epoksimorfinan-3,6-diol ; dimana
menunjukan orientasi trans terhadap jembatan 15, 16, 17 yang
berhubungan dengan sistem cincin ABC.
Sintesis total morfin pertama kali dipaparkan oleh Gates dan
Tsehudi (1952-1956) dan oleh Elad dan Ginsburg (1954). Hal ini
menegaskan hipotesis Robinson-Stork. Beberapa sintesi lain yang baik
menyusul tetapi tak satu pun sintesis total dapat bersaing secara dagang
dengan hasil sumber alami. Pembuktian langsung tentang stereokimia
relatif pada karbon 5,6,9 dan 13 diberikan oleh Rapoport (1950-1953)
perincian terakhir, C (14), diberikan pada tahun 1955 melalui telaah
difraksi sinar-X Kristal tunggal tentang garam morfin yang dilaporkan
oleh MacKay dan Hodgkin. Telaah ini memberika juga gambar
konformasilengkap pertama untuk molekul morfin. Konfigurasi absolut
ditetapkan pada tahun yang sama oleh Kalvoda dan rekan-rekannya
melalui penguraiantebain secara kimia menjadi senyawa menjadi senyawa
yang lebih sederhana yang konfigurasi absolutnya diketahui. Konfigurasi
absolut untuk (-)-morfin yang terdapat di alam adalah seperti yang
diperlihatkan. Citra cerminnya, (+)-morfin, tidak mempunyai aktivitas
analgesic. Morfin dan semua senyawa sejenisnya yang aktif adalah basa
organik (amin) dengan pKa yang berkisar antara kira-kira 8,5 sampai 9,5.
Jadi, padapH fisiologis (7,4) sekitar 97 sampai 99 % terprotonasi. Basa
bebas sangat sukar larut dalam air, tetapi pada umumnya, garamnya yang
sangat baik larut dalam air. Basa yang tak terion yang ada dalam
keseimbangan dengan membentuk (ion) yang terprotonasi dianggap
sebagai jenis yang menembus hambatan lipoid darah otak. Secara luas
diterima bahwa opium berinteraksi dengan reseptor dalam bentuk ion.
Sifat, reaksi morfin sebagai alkaloid bersifat basa karena
mengandung gugus amin tersier (pKa 8,1) dan membentuk garam
berbentuk Kristal dengan sederetan asam. Yang digunakan adalah garam

hidroksida yang mengandung tiga molekul air Kristal ( morfin hidroksida


pH, Eur). Berdasarkan gugus hidroksil fenolnya morfin juga bersifat asam
( pKa = 9,9) dan bereaksi dengan alkalihidroksida membentuk fenolat,
tetapi tidak bereaksi dengan larutan ammonia. Titik isolistrik terletak pada
pH 9. Morfin yang terdapat dalam alam memutar bidang polarisasi ke kiri.
3. Aturan Penggunaan dan Efek Obat
Morfin digunakan untuk menghambat nyeri yang paling kuat.
Dosis analgetik pada penggunan yang diutamakan, yaitu subkutan, adalah
10 mg. pada dosis kecil sudah terjadi peredaan rangsang batuk melalui
peredaman pusat batuk (kerja antitusif). Pusat respirasi juga dihambat
(kerjadepresi pada respirasi). Hal ini terlihat dalam rentang dosis terapi
dan pada dosis yang lebih tinggi, akhirnya menyebabkan kelumpuhan
pernapasan. Efek selanjutnya, yang menyangkut SSP yaitu sedasi dan pada
sebagian pasien euphoria. Bertalian erat dengan ini, ada kemungkinan
untuk mengembangkan keterangan pada morfin (ketergantungan psikis
dan fisik yang kuat, pengembangan toleransi dan dorongan untuk
menaikkan dosis). Selain itu, morfin juga mempunyai sifat merangsang
secra sentral. Hal ini merupakan hasil dari sergapan pada bagian sentral
parasimpatikus dan antara lain diwujudkan sebagai miosis. Kerja stimulasi
kerja dari analgetika jenis morfin, dapat diamati secara khas pada menchit,
melalui penegakan ekor dalam bentuk S yang khas gejalan ekor dari
straub. Termasuk sebagai kerja parifer morfin adalah peningkatan tonus
otot polos, yang mengakibatkan obstipasi spastik. Sebaliknya, opium yang
dapat digunakan untuk meredakan usus, menyebabkan obstipasi otonik
karena mengandung papaverin.
Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk
menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah penurunan
kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan kabur. Morfin juga
mengurangi rasa lapar, merangsang batuk, dan meyebabkan konstipasi.
Morfin menimbulkan ketergantungan tinggi dibandingkan zat-zat lainnya.
Pasien morfin juga dilaporkan menderita insomnia dan mimpi buruk.

Dalam pengobatan klinis, morfin dianggap sebagai standar emas,


atau patokan, dari analgesik digunakan untuk meringankan penderitaan
berat atau sakit dan penderitaan . Seperti opium lain, misalnya oksikodon
(OxyContin, Percocet, Percodan), hidromorfon (Dilaudid, Palladone), dan
diacetylmorphine ( heroin ), morfin langsung mempengaruhi pada sistem
saraf pusat (SSP) untuk meringankan rasa sakit . Morfin memiliki potensi
tinggi untuk kecanduan , toleransi dan psikologis ketergantungan
berkembang dengan cepat, meskipun Fisiologis ketergantungan mungkin
membutuhkan beberapa bulan untuk berkembang.
Efek samping yang ditimbulkan ; Mengalami pelambatan dan
kekacauan pada saat berbicara, kerusakan penglihatan pada malam hari,
mengalami kerusakan pada liver dan ginjal, peningkatan resiko terkena
virus HIV dan hepatitis dan penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik
dan penurunan hasrat dalam hubungan sex, kebingungan dalam identitas
seksual, kematian karena overdosis.
4. Biotransformasi
Biotransformasi morfin diekskresikan terutama dalam bentuk
terkonyugasi. Yang dominan dalam hal ini yaitu 3-0-glukuronida. Ndemetilasi kurang penting. Metabolit utama kodein ialah 6-0-glukuronida.
Selain itu terjadi N- dan 0-demetilasi, dimana terbentuk norkodein dan
morfin. Produk demitilasi sebagaian diekskresikan sebagai konyugat.
Sintesis karena suatu sintesis total morfin dari segi teknis tidak
memungkinkan, karena diarahkan pada penamaan papaver somniferum.
Opium kasar yang diperoleh mengandung lebih kurang 7 sampai 21 %
morfin, terutama sebagai mekonat (garam dari asam mekonat) atau sebagai
laktat. Opium DAB 8 mengandung 10 % morfin, sedangkan tingtur opium
DAB 8 mengandung 1 % morfin.

C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapa ditarik suatu kesimpulan
sebagai berikut :
Opium merupakan salah satu jenis narkotika alami yang terdapat
dalam jus dari bunga opium, Papaver somniverum. Morfin
merupakan alkaloida utama dari opium ( C17H19NO3 ) . Nama kimia
dari morfin yaitu 17-metil-7,8-didehidro-4,5-epoksimorfinan3,6-diol ; dimana menunjukan orientasi trans terhadap jembatan

15, 16, 17 yang berhubungan dengan sistem cincin ABC.


Morfin digunakan untuk menghambat nyeri yang paling kuat.
Dosis analgetik pada penggunan yang diutamakan, yaitu subkutan,

adalah 10 mg.
Sifat, reaksi morfin sebagai alkaloid bersifat basa karena
mengandung gugus amin tersier (pKa 8,1) dan membentuk
garam berbentuk Kristal dengan sederetan asam. Berdasarkan
gugus hidroksil fenolnya morfin juga bersifat asam ( pKa = 9,9)
dan bereaksi dengan alkalihidroksida membentuk fenolat, tetapi
tidak bereaksi dengan larutan ammonia. Titik isolistrik terletak
pada pH 9. Morfin yang terdapat dalam alam memutar bidang
polarisasi ke kiri.

Morfin bekerja langsung pada sistem saraf pusat untuk


menghilangkan sakit. Efek samping morfin antara lain adalah
penurunan kesadaran, euforia, rasa kantuk, lesu, dan penglihatan

kabur.
Biotransformasi morfin diekskresikan terutama dalam bentuk
terkonyugasi.

2. Saran
Melalui makalah ini, penulis menyarankan kepada penulis sendiri
dan kepada siapaun agar sosialisasi akan bahaya narkoba khususnya
narkotika terus dilakukan terutama kepada generasi muda yang berpotensi
menyalahgunakan obat jenis ini.

DAFTAR PUSTAKA
William O. Foye.1981. Principles Of Medicinal Chemistry (diterjemahkan
oleh LEA & FEBIGER tahun 1995). Yogyakarta : GADJAH MADA
UNIVERSITY PRESS
Walter

Schunack,

Klaus

Mayer,

and

Manfred

Haake.1983.

ARZNEISTOFFE, Lehrbuch der Pharmazeutischen (diterjemahkan tahun


1990). Yogyakarta : GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
http://www.geocities.com/guntoroutamadi/artikel-napza-kenapa-bahaya.html
x-unearthly.blogspot.com/2010/.../zat-zat-adiktif-paling-berbahaya.h...
wong168.wordpress.com/2011/01/13/jenis-narkoba-berbahaya/
penyakit.infogue.com/narkotika_jenis_gejala_putus_obat