Anda di halaman 1dari 12

Strategi Kebudayaan Korea Selatan

Reza Lukmanda

Hallyu pada dasarnya bukan sebuah strategi yang sudah direncanakan. Hallyu merupakan
efek kelanjutan dari dampak globalisasi yang dirasakan Korea Selatan dan juga dari strategi
kebudayaan yang dilakukan Korea Selatan sebelumnya. Melalui kedua proses tersebut, Korea
Selatan dapat mempertahankan budayanya saat berhadapan dengan dominasi budaya global. 1
Berikut akan dipaparkan pengaruh globalisasi yang menciptakan proses liberalisasi media film
dan musik yang akhirnya menciptakan fenomana hallyu, dan strategi kebudayaan pemerintah
dalam meningkatkan konten budaya lokal didalam dan luar negeri.
Pengaruh Globalisasi Dalam Proses Terbentuknya Hallyu
Adalah Yi Jong-hwan, seorang jurnalis Cina yang pertama kali menyadari fenomena
hallyu dan melaporkannya pada akhir tahun 1990-an. Dalam laporannya yang diberi judul No
End In Sight for the Korean Wave in China, ia melihat suatu fenomena baru di Cina tentang
kepopuleran budaya pop Korea Selatan:
The Korean Ministry of Culture and Tourism has declared October the
Month of Korean Culture, and is currently meeting with Chinese
officials to set up a tour of large cities for groups including H.O.T.,
Baby Vox, and the National Ballet Company. The stars of the 2001
version of Korean Wave are expected to include Park Jin-young (Bak,
Jin-yeong), who scored big in China with his song Honey, and Kim
Min-jong, who became a star among Chinese teenagers with the
Chinese telecast of the Korean TV drama Mister Q. The Chinese
were captivated when Korean ballads and dramas started airing on TV.
Popular Korean dramas . . . in what has become known as Korea
Mania.2

1 S. Doboo, Hybridity and The Rise of Korean Popular Culture in Asia, Media Culture Society, vol. 28,
no. 1, 2006, p. 31.
2 Yi Jong-Hwan, No End in Sight for the Korean Wave in China, Dong-a Ilbo, 12 February 2001, sebagaimana
dikutip dalam Cho, p. 150.

Kepopuleran budaya Korea ini juga diiringi dengan kegemaran masyarakat Cina terhadap
produk-produk Korea Selatan. Hal yang sama juga terjadi di Jepang dan negara-negara Asia
Tenggara. Masuknya budaya pop Korea Selatan menjadi pemicu utama digemarinya produkproduk Korea Selatan, begitu juga dengan fesyen, makanan dan model penampilan para bintang
Korea Selatan. Hanliu, begitu orang Cina memberikan nama kepada fenomena ini, yang
akhirnya disebut dengan hallyu (sesuai dengan sebutan di Korea). Hallyu sendiri menjelaskan
fenomena perkembangan budaya Korea Selatan ke dunia internasional. Hallyu, yang pada
awalnya hanya berupa kegemaran akan budaya pop Korea Selatan, semakin melebar menjadi
kegemaran akan serial drama Korea Selatan. Lebih jauh, hallyu diikuti dengan banyaknya
perhatian akan produk Korea Selatan, seperti masakan, barang elektronik, musik dan film, serta
turut mempromosikan bahasa dan budaya Korea Selatan ke berbagai negara.3
Kepopuleran hallyu sendiri dimulai dari dijadikannya budaya sebagai suatu industri
penting yang perlu dipertahankan di Korea Selatan dalam hubungannya dengan fenomena
globalisasi. Bagi negara ini, globalisasi merupakan pemicu munculnya hallyu dan sekaligus alat
dalam menyebarkannya. Seorang peneliti Korea Selatan, Shim Doobo, menyebutkan bahwa
globalisasi mengakibatkan erosi budaya Korea Selatan, yang artinya semakin berkurangnya
minat masyarakat Korea Selatan terhadap budaya mereka sendiri. Konsekuensinya, Korea
Selatan melakukan segala upaya untuk memperkuat industri budaya mereka.4 Erosi budaya ini
disebabkan masuknya budaya modern dari dunia Barat, misalnya produk Hollywood yang
mengakibatkan kalahnya industri budaya lokal di Korea Selatan. Atas dasar globalisasi inilah
Korea Selatan berusaha membangkitkan kembali industri budayanya. Globalisasi telah
mendorong masyarakat lokal untuk menemukan kembali budaya mereka yang telah terabaikan di
perjalanan menuju modernisasi Barat selama dekade terakhir.5 Dengan ini dapat dipahami bahwa
hallyu merupakan suatu konsep dari masyarakat Korea Selatan yang mempertahankan identitas
3 Passport to Korean Culture, pp. 46-53.
4 D. Shim, Korean Wave in Southeast Asia, New Kyoto Review of Southeast Asia (online), 8 January 2011,
<kyotoreviewsea.org/KCMS/>, diakses 25 Mei 2011.

5 M. Featherstone, Global and local cultures, dalam J. Bird, et.al (eds.), Mapping the futures: local
cultures, global change, Routledge, London, 1993, pp. 169-187.

lokal dalam konteks global dan memanfaatkan konteks global tersebut untuk menjadi budaya
modern serta menyebarkannya ke dunia internasional.
Aspek lain yang berperan setelah globalisasi dalam penyebaran hallyu adalah media.
Dalam hal ini, media menyampaikan nilai-nilai yang dibawa hallyu kepada publik internasional.
Sung Sang-Yeon menyebut bahwa nilai-nilai yang dibawa hallyu pada awalnya adalah nilai dari
kehidupan Asia yang sebenarnya, yaitu konfusianisme.6 Hal inilah yang juga menjadi nilai lebih
drama dan film Korea Selatan dibandingkan yang berasal dari Barat. Bagi masyarakat Asia
Timur dan Tenggara khususnya, budaya Barat patut dikritik karena tidak realistik bagi
masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai ketimuran. Dalam konteks inilah, media
berperan penting dalam proses masuknya hallyu ke dalam budaya global. Kebebasan media
dalam mengekspresikan hallyu menjadi foktor utama sukses atau tidaknya hallyu dalam
persaingan global. Tidak ada tekanan dari pihak manapun bagi media dalam peranannya
menyebarkan pengaruh hallyu. Kecanggihan teknologi saat ini memungkinkan peran media yang
semakin besar dalam menyampaikan berbagai berita atau peristiwa kepada publik. Dengan
berkembangnya teknologi informasi, media akhirnya tidak hanya menjelaskan bagaimana hallyu
berkembang, tetapi juga mampu membentuk konsepsi tentang apa hallyu itu. Oleh karenanya,
tidak mengherankan apabila pada akhirnya persepsi mengenai hallyu di dalam publik
internasional sendiri tidak jauh berbeda satu sama lain. Setidaknya ada beberapa persamaan
ketika publik internasional mendefinisikan dan memahami hallyu, yaitu sebuah proses
penyebaran budaya Korea Selatan ke luar negeri. Untuk melihat dampak dari globalisasi tersebut
dapat ditemui pada liberalisasi industri budaya film dan musik Korea Selatan berikut.
Proses Liberalisasi dan Perkembangan Film Korea Selatan
Periode tahun 80-an sampai akhir 90-an merupakan periode penting bagi
perkembangan film Korea Selatan. Tahun 1988, di bawah tekanan Amerika Serikat, Korea
Selatan membuka pasarnya terhadap industri raksasa perfilman Hollywood. Pembukaan
pasar ini secara umum mempengaruhi runtuhnya industri perfilman lokal Korea Selatan
dengan menurunkan pertumbuhan dari 40% pada tahun 1980-an menjadi 15,9% pada tahun
1993 dan akhirnya perlahan film produksi dalam negeri mulai ditinggalkan oleh masyarakat
6 Sung Sang-Yeon, The High Tide of the Korean Wave III: Why do Asian prefer Korean Pops Culture,
Asiamedia (online), 2008, <http://asiamedia.ucla.edu/article>, diakses 6 Juni 2011.

lokal. Sebuah laporan dari Presidential Advisory Board On Science And Technology tahun
1994 menyebutkan bahwa pendapatan yang diperoleh dari film Hollywood yang berjudul
Jurassic Park, misalnya, senilai dengan penjualan 1,5 juta mobil Hyundai pada masa itu.
Menyadari keuntungan yang diperoleh Amerika Serikat melalui

Hollywood-nya,

pemerintah Korea Selatan terdorong untuk membuat industri budaya sebagai strategi
nasional dengan melakukan liberalisasi media sebagai sebuah kesempatan untuk
meningkatkan daya saing industri budaya Korea Selatan di level internasional. 7 Pemerintah
berusaha menyadarkan masyarakat tentang pentingnya industri budaya bagi ekonomi
nasional.
Dalam usahanya untuk menciptakan industri budaya film, pemerintah berusaha
mengikuti gaya Amerika. Dengan slogan Learning from Hoolywood, Korea Selatan
berusaha menciptakan industri media yang komersil bagi pasar. Untuk itu Korea Selatan
membutuhkan pembiayaan yang cukup besar. Untuk memenuhi hal tersebut, pemerintah
mengeluarkan kebijakan agar korporasi mau memberikan dukungan finansial.8 Kebijakan
tersebut membuat chaebol seperti Samsung, Hyundai dan Daewoo masuk ke dalam industri
tersebut.
Namun, bantuan ini tidak berlangsung lama seiring dengan krisis ekonomi yang
dialami Korea Selatan akhir 1997. Krisis ini menyebabkan keluarnya sektor swasta
pendukung industri budaya Korea Selatan. Kondisi ini menyebabkan melemahnya industri
budaya karena kekurangan dana dalam pembangunannya dan AS melalui Hollywood-nya
kembali menguasai pasar perfilman Korea Selatan melalui film Titanic yang mendatangkan
1.971.780 orang untuk menontonnya. Namun, hal ini tidak berlangsung lama ketika di tahun
1999 film Korea yang berjudul Shiri kembali membangkitkan industri perfilman negara
tersebut. Film yang berhasil mendatangkan 2.448.399 penonton ini menjadi awal dari sebuah
rangkaian kesuksesan film Korea Selatan dan untuk selanjutnya film-film Korea Selatan
selalu menempati urutan teratas dalam level domestik. Bila sebelum tahun 1999 film-film
7 D. Shim, Globalization and Cinema Regionalization in East Asia, The International Journal of Cultural Policy,
vol. 14, no. 3, 2006, p. 242.

8 C.Kim, Movie We Need to Focus on Competitive Sector , 1996, dalam D.Shim , Hybridity and The
Rise of Korean Popular Culture in Asiap.32.

Korea Selatan hanya mendapatkan pembagian pasar domestik sebesar 25%, setelah tahun
1999 presentase tersebut meningkat hingga memperoleh bagian tertinggi pada tahun 2004
sebesar 54,2%. Sejak saat itu industri film Korea Selatan selalu menjadi mayoritas dalam
box office domestik. Pada Februari 2004, Silmido, sebuah film yang menceritakan tentang
proyek rahasia pembunuhan pemimpin Korea Utara Kim Il Sung

pada tahun 1970

mendapatkan box office dengan menarik 10 juta penonton. Selain itu juga ada TaeGukGi:
The Brotherhood of War yang menceritakan kakak beradik yang berperang bersama dalam
perang Korea yang menarik 11,09 juta penonton.
Lebih jauh, hingga saat ini ekspor film-film Korea Selatan selalu meningkat dari
tahun ke tahun. Menurut laporan Global Entertainment and Media Outlook tahun 2004,
Korea Selatan sudah berada di urutan kesepuluh dalam daftar negara yang sukses
mengekspor budayanya setelah Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Cina,
Italia, Spanyol, dan Kanada.9 Hingga tahun 2004, Korea Selatan telah mengekspor 164 film
dan memberikan pendapatan sebesar US$ 30.979.000. Dari keseluruhan regional ekspor film
Korea Selatan, wilayah Asia adalah pengimpor terbanyak dengan jumlah mencapai 60
persen dari total ekspor pada tahun tersebut.10
Kesuksesan ini disebutkan karena film-film Korea Selatan dikatakan memiliki
sensasi yang berbeda dari apa yang dimiliki Hollywood. Film-film Korea Selatan memiliki
ciri-ciri dan sentimen yang kuat sehingga kebanyakan negara Asia dapat dengan mudah
memahami dan menyerapnya. Misalnya, cara mereka mengendalikan isu sensitif antara
Korea Utara dan Korea Selatan yang ditampilkan dalam film-film tersebut.
Perkembangan Industri Musik Pop Korea Selatan
Sampai dengan tahun 80-an, musik Korea Selatan masih didominasi oleh musik
ballads dan ppongjjak. Musik ballads tersebut dipengaruhi oleh budaya musik barat
sedangkan pponjjak merupakan sebutan bagi musik yang terpengaruh gaya musik Jepang.
9 Kofic Annual Data, Global Entertainment and Media Outlook Report (online), 2006, <www.law.kyushuu.ac.jp/programsinenglish/cspasymposium2009/....>

10 A. Leong, Korean cinema: The New Hongkong, 2003.

Secara keseluruhan, industri musik Korea Selatan saat itu sama sekali tidak digemari karena
masyarakat lebih memilih musik pop AS pada masa itu.11
Musik Korea Selatan mulai mengalami transformasi melalui tren globalisasi dan
reformasi demokrasi. Seiring dengan pertumbuhan yang dialami Korea Selatan pada awal
tahun 1990-an, pendapatan masyarakat turut serta meningkat. Pada masa itu banyak
masyarakat Korea Selatan yang menggunakan pendapatan tersebut untuk membeli satelit
parabola untuk menangkap siaran Star TV. Terhadap latar belakang ini, masyarakat Korea
Selatan mulai mempelajari tren musik global saat itu. Melalui hal tersebut juga yang akhirnya
menghasilkan

grup musik Seo Taiji yang menggabungkan antara musik rap dan

underground bass. Grup ini yang akhirnya menjadi gebrakan bagi musik Korea Selatan yang
sebelumnya dibuat jenuh oleh musik ballads dan ppongjjak. Seo Taiji menjadi sangat
diminati karena mencampurkan berbagai genre musik seperti rap, dance, rock, soul bahkan
ppongjjak.
Perkembangan berikutnya, musik Korea Selatan mulai disesuaikan dengan selera
Asia. Adalah Lee Suman, pendiri SM Entertainment

yang berperan dalam penciptaan

bintang-bintang K-Pop (Korean Pop). Lee mulai melakukan inovasi dengan menciptakan
grup vokal yang dianggapnya sesuai dengan selera masyarakat berdasarkan penelitiannya.
Salah satunya yang paling berhasil adalah H.O.T yang telah menjual 10 juta album di pasar
lokal.12 Berikutnya untuk merambah pasar global, Lee bahkan mengirim para talent-nya
untuk belajar bahasa asing. Hal ini dianggap mampu memberikan sensasi yang lebih tinggi
terhadap musik pop Korea Selatan di luar negeri.13
Perkembangan hallyu baik di dalam dan luar negeri mencerminkan dijadikannya industri
budaya sebagai alat dalam hubungan luar negeri Korea Selatan. Untuk mendukung
perkembangan industri tersebut, pemerintah berkerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat
menjadikan beberapa sektor industri visual seperti film sebagai salah satu konten utama strategi
11 S. Doboo, p. 35.
12 K. Howard, Exploding Ballads: The Transformation of Korean Pop Music, dalam S. Doboo, p. 38.
13 S. Jeon, It Takes 10 Million Won a Month to Make a Star, Dong-A Ilbo, 8 December 2003, p.C8.

kebudayaan tersebut. Pemerintah juga membentuk institusi dan kebijakan yang terkait dengan
perkembangan industri budaya Korea Selatan guna mempertahankan dan menyebarluaskan
hallyu.
Perkembangan Industri Budaya Korea Selatan
Pentingnya membangun strategi dalam industri kebudayaan sudah banyak dipahami oleh
banyak negara di dunia. Ini merupakan suatu dampak dari dipahaminya kebudayaan sebagai
sumber kekuatan suatu negara dalam menanamkan pengaruhnya di negara lain. Sebagai contoh,
Jepang yang sudah lama menjadikan budaya sebagai sumber soft power mereka. Melalui konten
budaya visual seperti game, anime, manga (komik), Jepang mengekspresikan budaya mereka dan
dapat diterima dengan baik oleh negara lain. Korea Selatan, meskipun terbilang baru dalam hal
ini, juga tidak ketinggalan. Usaha pemerintah Korea Selatan dalam mendukung strategi ini sudah
berlangsung sejak lama. Berikut adallah beberapa usaha pemerintah Korea dalam meningkatkan
konten budaya lokal guna mempertahankan hallyu.
Pembangunan KOCCA (Korean Culture and Content Agency) sebagai Institusi Publik
KOCCA didirikan sebagai sebuah institusi publik pada masa pemerintahan Kim DaeJung pada tahun 2001. Bekerjasama dengan Kementerian Budaya dan Pariwisata, KOCCA
didirikan sebagai agen kebijakan Kim yang menjadikan budaya sebagai prioritasnya, dengan
tujuan untuk mempromosikan industri budaya Korea Selatan dan mengembangkan pasar di
luar negeri.14 Sebagai institusi publik, KOCCA mencerminkan kerja sama antara pemerintah
dan sektor swasta, mengingat staf yang direkrut berasal dari sektor-sektor industri budaya
tersebut. KOCCA bertanggung jawab dalam mengekspor produk budaya Korea Selatan,
memberikan pendidikan kreasi konten budaya, serta menciptakan terknologi yang
berhubungan dengan pembuatan arsip sejarah budaya dalam bentuk digital.
Sebagai bentuk dukungan bagi penyebaran hallyu dan promosi budaya Korea
Selatan, KOCCA memahami diperlukannya pembangunan industri budaya Korea Selatan di
berbagai lokasi. Oleh karena itu, hingga saat ini KOCCA telah memiliki empat kantor utama
di luar negeri, yaitu di Tokyo, Beijing, London, dan Los Angeles. Sementara itu, untuk
14 R.M. James, Pop Goes Korea: Behind The Revolution in Movies, Music and Internet Culture, Stone Bridge
Press, Berkeley, 2008, p. 122.

membangun sumber dayanya KOCCA membuat Cultural Content Academy baik secara
online maupun offline guna memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai produksi dan
pemasaran produk budaya Korea. KOCCA bekerja sama dengan pihak universitas di negaranegara host untuk melakukan penelitian mengenai teknologi sumber daya dan seni budaya.
Pembentukan CT (Culture Technology)
Dalam prosesnya, KOCCA membangun hubungan antara budaya dan teknologi
sebagai kekuatan baru bagi industri budaya Korea Selatan, yang dikenal dengan Culture
Technology (CT). Konsep CT dirancang oleh Profesor Wong Kyan- yeon di KAIST (Korea
Advace Institute of Science and Technology) pada tahun 2001. CT dipahami sebagai
teknologi yang kompleks dan sangat dibutuhkan untuk memberi nilai tambah bagi produkproduk budaya, mulai dari sumber daya manusia, desain dan seni Korea Selatan.
CT menjadi sangat diperlukan oleh Korea Selatan dalam kebijakan industri
budayanya, karena citra tentang budaya nasional Korea Selatan dianggap masih kurang
dalam tiga hal, yaitu tidak unik, tidak familiar, dan tidak kuat untuk membangun sebuah
identitas dan brand nasional yang baik.15 Untuk itu, CT sebagai teknologi pendukung dalam
memberikan nilai tambah bagi budaya Korea Selatan memiliki peran penting untuk
menciptakan budaya khas yang memiliki nilai-nilai yang unik dan berbeda dari negaranegara lainnya, khususnya budaya Cina dan Jepang yang juga dicirikan oleh Konfusianisme.
Reorganisasi Ministry of Culture and Tourism
Ministry of Culture and Tourism (MCT) adalah kementerian yang berdiri pada tahun
1998 dan bertanggung jawab terhadap hal-hal yang berhubungan dengan budaya dan
pariwisata Korea Selatan. Dalam proses awal, MCT tidak bertujuan khusus menangani
budaya dan pariwisata, namun ada beberapa tahapan utama dalam struktur organisasi yang
telah dilaluinya. MCT tercatat telah mengalami tiga kali perubahan struktur organisasi
hingga bentuknya saat ini. Perubahan ini terjadi agar MCT dapat beradaptasi terhadap
perubahan yang terjadi dalam lingkungan internasional.16

15 SAIS US-KOREA Yearbook, 2008.

Perubahan pertama berlangsung pada institusi Ministry of Culture and Information


yang didirikan tahun 1968, yang diubah menjadi Ministry of Culture pada tahun 1990.
Selanjutnya dengan memasukkan bidang olahraga, Ministry of Culture berubah menjadi
Ministry of of Culture and Sports pada tahun 1993. Ketika urusan budaya menjadi lebih
berhubungan dengan industri pariwisata, maka pemerintah Korea Selatan mengalihkan
urusan budaya menjadi tugas Ministry of Culture and Tourism pada tahun 1998. Di bawah
MCT, pemerintah Korea Selatan juga mendirikan The Korean National Tourism
Organization (KNTO) dan The Korean Tourism Research Institute (KTRI) serta sejumlah
divisi lain yang saling bekerja sama untuk mempromosikan industri budaya dan pariwisata
Korea Selatan.
Pada pemerintahan Roh Moo-Hyun, perubahan MCT kembali dilakukan menjadi
Ministry of Culture, Sport and Tourism (MCST). Pada masa itu, pemerintah Korea Selatan
melihat taekwondo sebagai olahraga beladiri Korea Selatan yang cukup populer dan harus
dipromosikan kepada publik internasional karena membawa nilai-nilai budaya tradisional
Korea di dalamnya. Lebih jauh, pemerintah bahkan membangun Sports International
Cooperation Institution untuk mendukung program tersebut. Pemerintahan Roh menekankan
pada pembangunan identitas nasional Korea Selatan di level internasional. Oleh karena itu,
MCST bekerjasama dengan KOCCA membentuk strategi untuk meningkatkan citra positif
Korea Selatan di tingkat global. Strategi ini memfokuskan pada upaya meningkatkan daya
saing industri konten Korea Selatan, seperti permainan komputer, drama televisi, film, musik
pop, dan animasi. Di dalam produksinya, berbagai konten tersebut menggunakan materimateri tradisional Korea Selatan seperti sejarah, mitos, dongeng, cerita rakyat dan legendalegenda tradisional lainnya. Hal tersebut membuat produk-produk konten ini sarat dengan
identitas budaya Korea Selatan dan akan sangat mudah ditemukan oleh penontonnya saat
ditampilkan secara visual.
Pemerintah Korea Selatan menyadari untuk mencapai kebudayaan tersebut
dibutuhkan dukungan dari masyarakat. Oleh karenanya, kebijakan yang dikeluarkan MCST
16 K. Dinnie, Repositioning the Korea Brand to a Global Audience: Challenges, Pitfalls, and Current
Strategy, Korea Economic Institute Academic Paper Series (online), 2009,
www.keia.org/Publications/AcademicPaperSeries/2009/APS.

tidak hanya berfokus kepada penanganan masalah budaya dan pariwisata, tetapi juga ke arah
pendidikan masyarakat Korea Selatan untuk menjadi masyarakat budaya yang kreatif,
dinamis serta mampu mengekspresikan identitas budaya di tiap-tiap daerah yang ada di
negeri ini.
Han Style
Han Style merupakan kebijakan yang diterapkan pada masa pemerintahan Kim Dae
Jung. Melalui MCT, Han Style dirancang untuk mentransformasikan budaya tradisional
masyarakat Korea menjadi suatu budaya global.17 Budaya tradisional yang dimaksud adalah
enam pilar budaya Korea, yaitu:

Han gul, abjad untuk menulis dalam bahasa Korea. Han Gul diciptakan oleh Raja SeJong Yang Agung, raja keempat dari kerajaan Lee atau kerajaan terakhir dalam sejarah
bangsa Korea pada masa dinasti Joseon. Rancangan abjad ini diresmikan pada tanggal 9
Oktober 1446. Hingga saat ini tanggal 9 Oktober dijadikan hari libur nasional yang
bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada Raja Se-Jong.

Han sik, istilah untuk berbagai masakan Korea Selatan. Sebagian besar masakan Korea
Selatan adalah hasil fermentasi seperti kimchi dan juga ikan asin. Cara ini sudah
dilakukan masyarakat Korea Selatan sejak lama, karena dipercaya dapat memberikan
manfaat kesehatan. Makanan Korea Selatan juga menggambarkan karakteristik dari
musim dan daerah yang berbeda-beda di negara ini.

Han bok, pakaian adat tradisional Korea Selatan yang terdiri dari jeogori (jaket) dan
baji (celana). Gaya ini memiliki kemiripan dengan gaya suku nomaden yang berada di
Cina selatan. Wujud dari Han bok dipengaruhi oleh sifat geografis dan iklim di
semenanjung Korea.

Han ok, bentuk arsitektur tradisional Korea yang dibedakan dari material atap yang
digunakan, seperti keramik, kulit kayu, kayu split atau batu datar. Han ok dianggap
sebagai rumah yang mampu menyimpan kehidupan orang-orang yang tinggal di

17 M. Russel, Korean Pop Wars (online), 12 Januari 2007, <www.koreapopwars.com/2007/01/han-style.html>


diakses 5 Juni 2011.

dalamnya. Han ok merupakan arsitektur dengan konten yang sangat komprehensif


karena berbagai material yang digunakannya merefleksikan waktu pembuatannya.

Han ji, kertas Korea yang menggambarkan aset budaya yang penting, yaitu kegigihan
masyarakat Korea terhadap budaya tulis pada jaman dahulu. Han ji memiliki bahan
dasar batang pohon dan daun mulberry. Dengan bahan dasar tersebut, han ji dikenal
sebagai kertas paling tahan lama di dunia.

Hangeuk-Eumak, musik yang dibuat masyarakat Korea dengan alat musik tradisional.
Dibuat untuk mengekspresikan etos orang Korea, hangeuk-eumak dibagi menjadi dua
kategori, yaitu yang murni musik tradisional (gugak) dan musik nasional yang
dikomposisikan dengan musik masa kini (changiak gugak).18
Keenam pilar budaya Korea tersebut menjadi pendukung dari kepopuleran hallyu di

luar negeri. Melalui MCT, Han Style dirancang untuk mengembangkan budaya tradisional
Korea menjadi sebuah brand global. Di sini Han Style mendukung kegemaran akan hallyu
melalui budaya tradisional Korea, artinya Han Style memfasilitasi keinginan publik
internasional untuk mengenal budaya tradisional Korea. Salah satu contoh peranan Han
Style dalam penyebaran hallyu adalah didirikannya sekolah Hangeul dan sekolah musik
tradisional Korea di beberapa negara, seperti China, Mongolia dan Rusia. Di Indonesia,
salah satu cara Han Style melengkapi penyebaran hallyu adalah dengan menggelar kegiatan
yang menampilkan keenam pilar tersebut, contohnya adalah seminar kebudayaan tentang
Hangeul yang diadakan oleh KCCI (Korean Cultural Center Indonesia) tahun 2011, dan
masih banyak lagi kegiatan lain terkait dengan Han Style.

Melalui pemaparan diatas, perlu dipahami bahwa perkembangan industri budaya di Korea
Selatan merupakan akibat dipahaminya budaya sebagai aset yang dapat memenuhi kepentingan
nasional. Pembentukan berbagai institusi serta kebijakan tersebut adalah upaya Korea Selatan
dalam ekspansi budaya mereka ke negara lain. Selain itu, ini juga membuktikan keseriusan
18 Korea Tourism Organization, Han Style, Korea the Sense (online), <www.han-style.com/english/>,
diakses 22 Agustus 2011.

pemerintah dalam mendukung pengembangan hallyu baik di dalam maupun luar negeri.
Keberhasilan tindakan ini dinilai dari ketertarikan yang lebih besar terhadap budaya lokal
dibandingkan budaya asing yang masuk oleh masyarakat Korea Selatan, serta besarnya animo
masyarakat luar negeri terhadap kebudayaan Korea Selatan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang menerima ekspansi budaya tersebut.
Walaupun perkembangannya tidak secepat yang terjadi di negara-negara Asia Timur, di
Indonesia kegemaran akan budaya Korea ini semakin meluas seiring dengan dukungan dari
pemerintah Korea Selatan, dan akan terus meluas sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.