Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah-masalah ini diangkat dengan asumsi bahwa nyatanya di
jaman globalisasi seperti sekarang ini, kemiskinan di Indonesia masih saja
merajalela dan seperti tak kunjung usai. Masalah ini menimbulkan masalahmasalah baru seperti pengangguran dan kekerasan yang belakangan ini
sering terjadi di Indonesia dan akhirnya pembangunan ekonomi Indonesia
tidak berjalan lancar.
Masalah kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan global di
Indonesia masalah kemiskinan seperti tak kunjung usai. Masih banyak kita
dapati para pengemis dan gelandangan berkeliaran tidak hanya di pedesaan
bahkan di kota-kota besar seperti Jakarta pun pemandangan seperti ini
menjadi tontonan setiap hari. Pada bulan Maret 2013, jumlah penduduk
miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis
Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,07 juta orang (11,37 persen),
berkurang sebesar 0,52 juta orang dibandingkan dengan penduduk miskin
pada September 2012 yang sebesar 28,59 juta orang (11,66 persen). Selama
periode September 2012-Maret 2013, jumlah penduduk miskin di daerah
perkotaan berkurang 0,18 juta orang (dari 10,51 juta orang pada September
2012 menjadi 10,33 juta orang pada Maret 2013), sementara di daerah
perdesaan berkurang 0,35 juta orang (dari 18,09 juta orang pada September
2012 menjadi 17,74 juta orang pada Maret 2013). Selama periode
September 2012-Maret 2013, persentase penduduk miskin di daerah
perkotaan dan perdesaan tercatat mengalami penurunan. Persentase
penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2012 sebesar 8,60
persen, turun menjadi 8,39 persen pada Maret 2013. Sementara penduduk
miskin di daerah perdesaan menurun dari 14,70 persen pada September
2012 menjadi 14,32 persen pada Maret 2013. Peranan komoditi makanan
terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi
1

bukan

makanan

(perumahan,

sandang,

pendidikan,

dan

kesehatan).

Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada


Maret 2013 tercatat sebesar 73,52 persen, kondisi ini tidak jauh berbeda
dengan kondisi September 2012 yang sebesar 73,50 persen. Komoditi
makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di
perkotaan relatif sama dengan di perdesaan, diantaranya adalah beras,
rokok kretek filter, telur ayam ras, mie instan, gula pasir, tempe, dan bawang
merah. Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan diantaranya adalah
biaya perumahan, listrik, pendidikan, dan bensin. Pada periode September
2012-Maret 2013, Indeks Kedalaman Kemiskinan

dan Indeks Keparahan

Kemiskinan menunjukkan penurunan. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata


pengeluaran

penduduk

miskin

cenderung

semakin

mendekati

Garis

Kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin


menyempit (www.bps.go.id). Kemiskinan bukan semata-mata persoalan
ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural.
Hari Susanto (2006) mengatakan umumnya instrumen yang digunakan
untuk menentukan apakah seseorang atau sekelompok orang dalam
masyarakat tersebut miskin atau tidak bisa dipantau dengan memakai
ukuran peningkatan pendapatan atau tingkat konsumsi seseorang atau
sekelompok orang. Padahal hakikat kemiskinan dapat dilihat dari berbagai
faktor. Apakah itu sosial-budaya, ekonomi, politik, maupun hukum. Menurut
Koerniatmanto Soetoprawiryo menyebut dalam Bahasa Latin ada istilah esse
(to be) atau (martabat manusia) dan habere (to have) atau (harta atau
kepemilikan). Oleh sebagian besar orang persoalan kemiskinan lebih
dipahami dalam konteks habere. Orang miskin adalah orang yang tidak
menguasai dan memiliki sesuatu. Urusan kemiskinan urusan bersifat
ekonomis semata. Bila kita cermati kondisi masyarakat dewasa ini. Banyak
dari mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan
papan. Bahkan, hanya untuk mempertahankan hak-hak dasarnya serta
bertahan hidup saja tidak mampu. Apalagi mengembangkan hidup yang
terhormat dan bermartabat.
2

Krisis

ekonomi

yang

berkepanjangan

menambah

panjang

deret

persoalan yang membuat negeri ini semakin sulit keluar dari jeratan
kemiskinan. Hal ini dapat kita buktikan dari tingginya tingkat putus sekolah
dan

buta

signifikan.

huruf.

Belum

lagi

tingkat

Jumlah pengangguran

pengangguran

terbuka

tahun

yang

2007

di

meningkat
Indonesia

sebanyak 12,7 juta orang. Ditambah lagi kasus gizi buruk yang tinggi,
kelaparan/busung lapar, dan terakhir, masyarakat yang makan Nasi Aking..

1.2 Rumusan Masalah


1.3 Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang
biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air
minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan
kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan
yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan
yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif,
sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang
lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Dari berbagai sudut pandang tentang pengertian kemiskinan, pada dasarnya
bentuk/jenis kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian,
yaitu:
1. Kemiskinan Absolut

Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut


apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup
untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang,
kesehatan, papan, dan pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif
Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas
garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat
sekitarnya. Kemiskinan ini dilihat dari aspek ketimpangan sosial, karena ada
orang yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimumnya tetapi
masih jauh lebih rendah dibanding masyarakat sekitarnya (lingkungannya).
Semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan
golongan bawah maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang
dapat dikategorikan miskin, sehingga kemiskinan relatif erat hubungannya
dengan masalah distribusi pendapatan.
3. Kemiskinan Kultural
Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau
sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat
kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang
membantunya. mereka merasa miskin karena membandingkan dirinya
dengan orang lain atau pasrah dengan keadaannya dan menganggap bahwa
mereka miskin karena turunan, atau karena dulu orang tuanya atau nenek
moyangnya juga miskin, sehingga usahanya untuk maju menjadi kurang.
Keluarga miskin adalah pelaku yang berperan sepenuhnya untuk
menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya, dan mengarahkan proses
yang mempengaruhi kehidupannya. Ada tiga potensi yang perlu diamati dari
keluarga miskin yaitu:
1. Kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar contohnya dapat
dilihat dari aspek pengeluaran keluarga, kemampuan menjangkau
tingkat pendidikan dasar formal yang ditamatkan, dan kemampuan
menjangkau perlindungan dasar.
5

2. Kemampuan dalam melakukan peran sosial akan dilihat dari


kegiatan utama dalam mencari nafkah, peran dalam bidang
pendidikan, peran dalam bidang perlindungan, dan peran dalam
bidang kemasyarakatan.
3. Kemampuan dalam menghadapi permasalahan dapat dilihat dari
upaya yang dilakukan sebuah keluarga untuk menghindar dan
mempertahankan diri dari tekanan ekonomi dan non ekonomi
2.2 Masalah Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah yang ditandai oleh berbagai hal
antara lain rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan
mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi
anak, dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Selama ini berbagai upaya
telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan
kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, perluasan
kesempatan kerja dan sebagainya.
Pemecahan masalah kemiskinan memerlukan langkah-langkah dan
program yang dirancang secara khusus dan terpadu oleh pemerintah dan
merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.
Seperti yang ada di latar belakang kemiskinan di Indonesia merupakan
masalah yang sudah ada sejak dahulu. Yang perlu kita pikirkan adalah
dampak dari kemiskinan. Berikut adalah dampak-dampak dari kemiskinan :
1. Pengangguran
Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak
memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak
memiliki

penghasilan

mereka

tidak

mampu

memenuhi

kebutuhan

pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing


dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung
terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata. Hal
ini juga dapat menyebabkan banyak sekali dampak, dari pengangguran kita

bisa mendapatkan dampak kemiskinan, kekerasan bahkan hingga kematian


seperti frustasi karena tidak memiliki pekerjaan dan akhirnya bunuh diri.
2. Kekerasan
Kekerasan-kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan
efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah
melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi
seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka
jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau
menipu. Bisa dibayangkan kekerasan seperti hal diatas menyebabkan
banyak

kerugian,

bukan

hanya

kepada

orang

kurang

mampu

yang

melakukan hal itu tetapi terhadap korban yang merupakan orang yang lebih
mampu.
3. Pendidikan
Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi
dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak
dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Karena untuk makan
satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. Kondisi seperti ini membuat
masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus
sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan
begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan
yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat
tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala
bidang. Padahal pendidikan adalah modal utama seseorang untuk bisa
mendapatkan biaya dari keterampilan dan pendidikan yang dia punya. Hal
ini berarti sama dengan membunuh pendapatan seseorang karena tidak
adanya pendidikan yang layak.
4. Kesehatan
Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir
setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif
atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak
terjangkau oleh kalangan miskin. Dari sini semakin terlihat bahwa banyaknya
7

rumah sakit yang menarik tarif tinggi membuat para kalangan masyarakat
miskin tidak bisa mendapatkan pengobatan yang layak, hal ini menyebabkan
terciptanya juga pengangguran karena seseorang yang sakit dan akhirnya
tidak bisa bekerja, kekerasan karena nyawa yang tidak bisa ditolong jika
tidak ada biaya untuk kerumah sakit menyebabkan seseorang gelap mata.
5. Terbatasnya Kecukupan dan Mutu Pangan
Hal ini berkaitan dengan rendahnya daya beli, ketersediaan pangan
yang tidak merata, dan kurangnya dukungan pemerintah bagi petani untuk
memproduksi beras sedangkan masyarakat Indonesia sangat tergantung
pada beras. Permasalahan kecukupan pangan antara lain terlihat dari
rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi,
anak balita, dan ibu.
2.3 Pembahasan Kemiskinan
Seperti telah disinggung di atas bahwa kemiskinan merupakan suatu
masalah yang kompleks dan multidimensional yang tak terpisahkan dari
pembangunan mekanisme ekonomi, sosial dan politik yang berlaku. Oleh
karena itu setiap upaya pengentasan kemiskinan secara tuntas menuntut
peninjauan sampai ke akar masalah. Jadi, memang tak ada jalan pintas
untuk mengentaskan masalah kemiskinan ini. Penanggulanganya tidak bisa
dilakukan dengan tergesa-gesa.
Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 yang
disusun berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK).
Disamping turut menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (atau
Millennium
pemerintah

Development
telah

Goals)

menyusun

untuk

tahun

tujuan-tujuan

2015,

pokok

dalam

dalam

RPJM-nya

pengentasan

kemiskinan untuk tahun 2009, termasuk target ambisius untuk mengurangi


angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun 2002 menjadi 8,2 persen
pada tahun 2009. Dalam pelaksanaan program pengentasan nasib orang
miskin, keberhasilannya bergantung pada langkah awal dari formulasi
8

kebijakan, yaitu mengidentifikasikan siapa sebenarnya si miskin tersebut


dan dimana ia berada. Kedua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan
melihat profil dari si miskin.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama,
banyak rumah tangga yang berada disekitar garis kemiskinan nasional,
sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi
rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada
pendapatan,

sehingga

tidak

menggambarkan

batas

kemiskinan

yang

sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong miskin dari segi
pendapatan dapat dikategorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses
terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator-indikator pembangunan
manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia,
perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di
Indonesia.
Tiga cara untuk membantu mengangkat diri dari kemiskinan adalah
melalui pertumbuhan ekonomi, layanan masyarakat dan pengeluaran
pemerintah. Masing-masing cara tersebut menangani minimal satu dari tiga
ciri utama kemiskinan di Indonesia, yaitu: kerentanan, sifat multi-dimensi
dan keragaman antar daerah. Dengan kata lain, strategi pengentasan
kemiskinan yang efektif bagi Indonesia terdiri dari tiga komponen:
1. Membuat

Pertumbuhan

Ekonomi

Bermanfaat

bagi

Rakyat

Miskin
Pertumbuhan ekonomi telah dan akan tetap menjadi landasan bagi
pengentasan
bermanfaat

kemiskinan.
bagi

rakyat

Pertama,
miskin

langkah

merupakan

membuat
kunci

pertumbuhan

bagi

upaya

untuk

mengkaitkan masyarakat miskin dengan proses pertumbuhan baik dalam


konteks

pedesaan-perkotaan

ataupun

dalam

berbagai

pengelompokan

berdasarkan daerah dan pulau. Hal ini sangat mendasar dalam menangani
aspek perbedaan antar daerah. Kedua, dalam menangani ciri kerentanan
kemiskinan

yang

berkaitan

dengan

padatnya

konsentrasi

distribusi
9

pendapatan di Indonesia, apapun yang dapat meningkatkan pendapatan


masyarakat akan dapat dengan cepat mengurangi angka kemiskinan serta
kerentanan

kemiskinan.

Membuat

pertumbuhan

bermanfaat

bagi

masyarakat miskin memerlukan langkah untuk membawa mereka pada jalan


yang efektif untuk keluar dari kemiskinan. Hal ini berarti memanfaatkan
transformasi struktural yang sedang berlangsung di Indonesia yang ditandai
oleh dua fenomena. Pertama, sedang terjadi pergeseran dari kegiatan yang
berbasis pedesaan ke kegiatan yang berbasis perkotaan. Kedua, telah terjadi
pergeseran yang menonjol dari kegiatan bertani

ke kegiatan non-tani.

Transformasi ini menunjukan adanya dua jalan penting yang telah diambil
oleh rumah tangga untuk keluar dari kemiskinan di Indonesia.
1. Peningkatan produktivitas pertanian.
2. Peningkatan produktivitas non-pertanian, baik di daerah perkotaan
maupun di daerah pedesaan yang dikotakan dengan cepat.
2. Membuat Layanan Sosial Bermanfaat bagi Rakyat Miskin
Penyediaan layanan sosial bagi rakyat miskin baik oleh sektor
pemerintah ataupun sektor swasta-adalah mutlak dalam penanganan
kemiskinan di Indonesia. Pertama, hal itu merupakan kunci dalam menyikapi
dimensi non-pendapatan kemiskinan di Indonesia. Indikator pembangunan
manusia yang kurang baik, misalnya Angka Kematian Ibu yang tinggi, harus
diatasi

dengan

memperbaiki

kualitas

layanan

yang

tersedia

untuk

masyarakat miskin. Hal ini lebih dari sekedar persoalan yang bekaitan
dengan pengeluaran pemerintah, karena berkaitan dengan perbaikan sistem
pertanggungjawaban, mekanisme penyediaan layanan, dan bahkan proses
kepemerintahan.

Kedua,

ciri

keragaman

antar

daerah

kebanyakan

dicerminkan oleh perbedaan dalam akses terhadap layanan, yang pada


akhirnya mengakibatkan adanya perbedaan dalam pencapaian indikator
pembangunan manusia di berbagai daerah. Dengan demikian, membuat
layanan masyarakat bermanfaat bagi rakyat miskin merupakan kunci dalam
menangani masalah kemiskinan dalam konteks keragaman antar daerah.
Membuat

layanan

bermanfaat

bagi

masyarakat

miskin

memerlukan
10

perbaikan
insentif

sistem

bagi

pertanggungjawaban

perbaikan

indikator

kelembagaan

pembangunan

dan

memberikan

manusia.

Saat

ini,

penyediaan layanan yang kurang baik merupakan inti persoalan rendahnya


indikator pembangunan manusia, atau kemiskinan dalam dimensi nonpendapatan, seperti buruknya pelayanan kesehatan dan pendidikan. Bidang
lain yang memerlukan perhatian adalah perbaikan akses bagi masyarakat
miskin terhadap pelayanan untuk menekan kesenjangan antar daerah dalam
hal indikator pembangunan manusia. Di bidang pendidikan, salah satu
masalah kunci adalah tingginya angka putus sekolah di masyarakat miskin
pada saat mereka melanjutkan pendidikan dari SD ke SMP. Dalam menyikapi
aspek multidimensional kemiskinan, upaya-upaya hendaknya diarahkan
pada perbaikan penyediaan layanan, khususnya perbaikan kualitas layanan
itu sendiri. Upaya-upaya tersebut dapat di wujudkan dalam bentuk :
a. Meningkatkan tingkat partisipasi sekolah menengah pertama
b. Layanan kesehatan dasar yang lebih baik untuk masyarakat miskin
maupun untuk penyedia layanan.
c. Memecahkan masalah

yang dihadapi

masyarakat miskin

dalam

mengakses air bersih dan sanitasi.


d. Perjelas tanggungjawab fungsional dalam penyediaan layanan.
e. Perbaiki penempatan dan manajemen PNS.
f. Berikan insentif lebih besar untuk para penyedia layanan.

3. Membuat Pengeluaran Pemerintah Bermanfaat bagi Rakyat


Miskin.
Di samping pertumbuhan ekonomi dan layanan sosial, dengan
menentukan sasaran pengeluaran untuk rakyat miskin, pemerintah dapat
membantu

mereka

dalam

menghadapi

kemiskinan

(baik

dari

segi

pendapatan maupun non-pendapatan). Pertama, pengeluaran pemerintah


dapat digunakan untuk membantu mereka yang rentan terhadap kemiskinan
dari segi pendapatan melalui suatu sistem perlindungan sosial modern yang
11

meningkatkan kemampuan mereka sendiri untuk menghadapi ketidakpastian


ekonomi.

Kedua,

pengeluaran

pemerintah

dapat

digunakan

untuk

memperbaiki indikator-indikator pembangunan manusia, sehingga dapat


mengatasi kemiskinan dari aspek non-pendapatan. Membuat pengeluaran
bermanfaat bagi masyarakat miskin sangat menentukan saat ini, terutama
mengingat adanya peluang dari sisi fiscal yang ada di Indonesia saat kini.
Pengurangan subsidi BBM merupakan langkah besar ke arah pengeluaran
publik pemerintah yang lebih berpihak pada masyarakat miskin. Sampai saat
ini, pengeluaran pemerintah tidak selalu bisa secara efektif mengatasi
kendala yang dihadapi masyarakat miskin untuk keluar dari kemiskinan.
Ketika pemerintah memperoleh kelonggaran fiskal menyusul realokasi
subsidi BBM yang regresif, penting untuk memastikan bahwa pengeluaran
tersebut benar-benar berdampak positif bagi masyarakat miskin.
Sekarang pemerintah mempunyai kesempatan untuk menangani
masalah kerentanan tinggi masyarakat miskin di Indonesia dengan cara
mengarahkan belanja pemerintah ke dalam sistem jaminan sosial yang
mampu mengurangi kerentanan tersebut. Salah satu komponen penting dari
realokasi pengeluaran pemerintah adalah memusatkan perhatian pada
upaya peningkatan penghasilan masyarakat miskin. Pengeluaran pemerintah
yang bisa berdampak langsung pada peningkatan penghasilan juga akan
berdampak positif pada penanganan kemiskinan. Salah satu prioritas yang
bisa dikedepankan-dan telah dimulai oleh pemerintah-ialah memperluas
cakupan

pembangunan

berbasis

masyarakat

(community

driven

development atau CDD).


2.4 Penyebab Kemiskinan
Di bawah ini beberapa penyebab kemiskinan menurut pendapat
Karimah Kuraiyyim. Yang antara lain adalah:
a. Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita
secara global.

12

Yang penting digaris bawahi di sini adalah bahwa standar


pendapatan perkapita bergerak seimbang dengan produktivitas yang
ada pada suatu sistem. Jikalau produktivitas berangsur meningkat
maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya,
seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan
turun beriringan. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi
kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:
Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
Politik ekonomi yang tidak sehat.
Faktor-faktor luar neger, diantaranya:
- Rusaknya syarat-syarat perdagangan
- Beban hutang
- Kurangnya bantuan luar negeri, dan
- Perang
b. Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Terlihat jelas faktor ini sangat urgen dalam pengaruhnya
terhadap kemiskinan. Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan
produktivitas masyarakat harus didukung dengan SDA dan SDM yang
bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa
dipertanggungjawabkan dengan maksimal.
c. Biaya kehidupan yang tinggi.
Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah
sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji
masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari realita
di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja
ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya
pengangguran.
d. Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok
dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak
langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain
rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.

13

2.5

Faktor Penyebab Kemiskinan di Indonesia


Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu :

1. Kemiskinan alamiah
Kemiskinan alamiah terjadi akibat sumber daya alam yang terbatas,
penggunaan teknologi yang rendah, bencana alam,dan karena seseorang
atau suatu masyarakat tak mau berusaha dengan kerja keras.
2. Kemiskinan buatan
Kemiskinan
masyarakat

ini

membuat

terjadi

karena

sebagian

lembaga-lembaga

anggota

masyarakat

yang

ada

di

tidak

mampu

menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia hingga
mereka tetap miskin.
Bila kedua faktor penyebab kemiskinan tersebut dihubungkan dengan
masalah mutu pangan, kesehatan, dan pendidikan maka dapat disimpulkan
beberapa faktor penyebab kemiskinan antara lain:
1. Kurang tersedianya sarana yang dapat dipakai keluarga miskin
secara layak misalnya puskesmas, sekolah, tanah yang dapat
dikelola untuk bertani.
2. Kurangnya dukungan pemerintah sehingga keluarga miskin tidak
dapat menjalani dan mendapatkan haknya atas pendidikan dan
kesehatan yang layak dikarenakan biaya yang tinggi
3. Rendahnya minat masyarakat miskin untuk berjuang mencapai
haknya karena mereka kurang mendapat pengetahuan mengenai
pentingnya memliki pendidikan tinggi dan kesehatan yang baik.
4. Kurangnya dukungan pemerintah dalam memberikan keahlian agar
masyarakat miskin dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan
yang layak.
5. Wilayah Indonesia yang sangat luas sehingga sulit bagi pemerintah
untuk menjangkau seluruh wilayah dengan perhatian yang sama.
14

Hal ini menyebabkan terjadi perbedaan masalah kesehatan, mutu


pangan dan pendidikan antara wilayah perkotaan dengan wilayah
yang tertinggal jauh dari perkotaan.
2.6

Program Penanggulangan Kemiskinan


Dibawah ini adalah beberapa program penanggulangan kemiskinan

yang digalakkan pemerintah, antara lain :


a. Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diberikan langsung terhadap
rakyatnya.
b. Menyediakan lapangan kerja yang layak bagi rakyatnya.
c. Menyediakan fasilitas pendidikan yang murah bagi orang yang tidak
mampu bahkan jika perlu mengadakan program pembebasan biaya
sekolah alias gratis.
d. Menanamkan cara berfikir positif dan mau selalu bekerja keras dan
pantang menyerah jika mengalami suatu kegagalan.
e. Pemerintah harus memperhatikan rakyat miskin dan memberikan
bantuan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
f. Kita semua harus selalu berkomitmen dan konsisten untuk
melakukan perbaikan yang lebih baik lagi di sistem atau pun
tindakan.
g. Program bantuan sosial terpadu berbasis keluarga.
h. Program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan
masyarakat.
i. Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha
EkonomiMikro dan Kecil.
2.7

Penyebab Kegagalan Penanggulangan Kemiskinan


Pada dasarnya ada dua faktor penting yang dapat menyebabkan

kegagalan program penanggulangan kemiskinan di Indonesia.


Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan selama ini
cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang
15

miskin. Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program
jaring pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit
menyelesaikan persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah
untuk pemberdayaan, bahkan dapat menimbulkan ketergantungan. Programprogram bantuan yang berorientasi pada kedermawanan pemerintah ini
justru dapat memperburuk moral dan perilaku masyarakat miskin. Program
bantuan

untuk

orang

miskin

seharusnya

menumbuhkan budaya ekonomi

lebih

difokuskan

untuk

produktif dan mampu membebaskan

ketergantungan penduduk yang bersifat permanen. Di lain pihak, programprogram bantuan sosial ini juga dapat menimbulkan korupsi dalam
penyalurannya. Alangkah lebih baik apabila dana-dana bantuan tersebut
langsung digunakan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia
(SDM), seperti dibebaskannya biaya sekolah, seperti sekolah dasar (SD) dan
sekolah menengah pertama (SMP), serta dibebaskannya biaya- biaya
pengobatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).
Faktor

kedua

yang

dapat

mengakibatkan

gagalnya

program

penanggulangan kemiskinan adalah kurangnya pemahaman berbagai pihak


tentang

penyebab

kemiskinan

itu

sendiri

sehingga

program-program

pembangunan yang ada tidak didasarkan pada isu-isu kemiskinan, yang


penyebabnya berbeda-beda secara lokal. Sebagaimana diketahui, data dan
informasi

yang

digunakan

untuk

program-program

penanggulangan

kemiskinan selama ini adalah data makro hasil Survei Sosial dan Ekonomi
Nasional (Susenas) oleh BPS dan data mikro hasil pendaftaran keluarga
prasejahtera dan sejahtera I oleh BKKBN. Kedua data ini pada dasarnya
ditujukan untuk kepentingan perencanaan nasional yang sentralistik, dengan
asumsi yang menekankan pada keseragaman dan fokus pada indikator
dampak.
Ada beberapa program penanggulangan kemiskinan yang mempunyai
angka kegagalan yang tinggi diantaranya :
a.

Bantuan Langsung Tunai (BLT)


16

Program ini mempunyai kegagalan ketika bantuan ini turun


dan pembagiannya tidak merata untuk semua daerah. Biasanya
nominal yang diberikan oleh Negara tidak sama dengan apa yang
diterima oleh rakyat karena adanya beberapa kendala seperti
banyaknya pejabat yang menyalahgunakan bantuan ini untuk
dinikmati sendiri keuntunganya.
b.

Menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya.


Banyak sekali rakyat yang tidak tahu program pemerintah
tentang lapangan kerja. Dan ini yang menjadi kendala di program
ini, banyak kalangan bawah yang menjadi pengguran. Padahal
pemerintah sudah menyediakan berbagai lowongan pekerjaan
dimana-mana. Dan yang menjadi kendalanya lagi adalah adanya
rasa kurang peduli masyarakat yang mengganggur terhadap
adanya program dibukanya lowongan kerja besar-besaran.

c.

Menyediakan pendidikan gratis


(Sigelman& Shaffer, 1995:86) menggemukakan bahwa
lingkungan perkembangan merupakan berbagai peristiwa, situasi
atau kondisi diluar organisme yang diduga mempengaruhi atau
dipengaruhi oleh perkembangan individu. Pendapat diatas
menjelaskan bahwa setiap karakter individu di bentuk dari
lingkungan. Maka dari itu banyak kalangan massyarakat yang tak
peduli pada pendidikan karena orang tua dan masyarakat sekitar
yang berfikir pendidikan formal itu tidak diperlukan, walaupun
pemerintah sudah menyediakan program pendidikan gratis.

d. Menanamkan cara berfikir positif dan mau selalu bekerja keras dan
pantang menyerah jika mengalami suatu kegagalan.
Program ini seharusnya diawali oleh kesadaran masyarakat
bukan hanya
pemerintah. Menurut M. Ngalim Purwanto, MP bahwa dalam
pergaulanya dengan

17

anak-anak, orang dewasa menyadari bahwa tindakanya yang


dilakukan terhadap anak
itu mengandung maksud, ada tujuan untuk menolong anak yang
masih perlu ditolong
untuk membentuk dirinya sendiri. Jadi cara berfikir orang harus
ditanam sejak kecil,
progam ini mengalami kegagalan karena tidak ada kesadaran
masyarakat terhadap
cara berfikir anak-anaknya.
e. Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha
Ekonomi Mikro dan Kecil
Program ini mengalami kegagalan karena adanya sistem politik
di pembagian
dana usaha mikro. Yang mendapat bantuan hanya orang yang ikut
dalam partai
politik kebanyakanya.
2.8

Kebijakan Anti kemiskinan di Indonesia


Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air

diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat. Untuk


mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah
yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu
yaitu :
1. Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian
dan ekonomi
pedesaan
2. Intervensi jangka menengah dan panjang meliputi: Pembangunan
sektor

swasta,

Kerjasama

regional,

APBN

dan

administrasi,

Desentralisasi, Pendidikan dan Kesehatan Penyediaan air bersih dan


Pembangunan perkotaan.
2.9

Kriteria Kemiskinan
18

Berdasarkan studi SMERU, Suharto (2006:132) menunjukkan Sembilan


criteria yang menandai kemiskinan :
1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar
(pangan,sandang, papan;
2. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun
mental;
3. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar,
wanitakorban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin,
kelompok marjinaldan terpencil);
4. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia (buta huruf,
rendahnya pendidikan dan keterampilan, sakitsakitan) dan keterbatasan sumberdayaalam (tanah tidak subur,
lokasi terpencil, ketiadaan infrastruktur jalan,listrik, air);
5. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual
(rendahnya pendapatan dan asset), maupun missal (rendahnya
modal sosial, ketiadaanfasilitas umum);
6. Ketiadaan akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian
yangmemadai dan berkesinambungan;
7. Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya
(kesehatan, pendidikan, sanitasi air bersih dan transportasi);
8. Ketiadaan jaminan masa depan (karena tiadanya investasi
untuk pendidikan dan keluarga atau tidak adanya perlindungan s
osial dari Negara dan masyarakat);
9. Ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial masyarakat.
Tinggi rendahnya tingkat kemiskinan di suatu negara tergantung pada dua
faktor utama yaitu :
(1) Tingkat pendapatan nasional rata-rata dan
(2) Lebar sempitnya kesenjangan dalam distribusi pendapatan.
Setinggi apapuntingkat
pendapatan nasional perkapita yang dicapai oleh suatu negara,
selamadistribusi
pendapatan yang tidak merata maka tingkat kemiskinan di
negaratersebut pasti akan
19

tetap parah (Daulay, 2009).


2.10 Karakteristik Kemiskinan Di Indonesia
Kemiskinan adalah persoalan yang dihadapi oleh seluruh Negara di
dunia akantetapi karakteristik kemiskinan pada masing-masing Negara
berbeda. MenurutKemal A. Stamboel, sedikitnya terdapat tujuh karakteristik
kemiskinan diIndonesia, yaitu :
1.

Mayoritas rumah tangga miskin menggantungkan hidupnya di


sektor pertanian.

Secara sektoral, jumlah penduduk miskin Indonesia terkonsentrasi di


sektor pertanian. Menurut data BPS (2010), sekitar 63% rumah tangga
miskin yang bekerja di sektor pertanian merupakan buruh tani, sekitar
6% bekerja di sektor industry, sekitar 10% belum atau tidak memiliki
pekerjaan dan sisanya 21% bekerja di sektor lainnya. Besarnya
ketergantungan masyarakat miskin terhadap sektor pertanian
menjadikan sektor ini penting untuk mendapatkan prioritas daam
upaya pengentasan kemiskinan. Meski demikian, kita melihat
pertumbuhan sektor pertanian terus menurun dari tahun ke tahun
yang secara tidak langsung menunjukkan produktivitas yang sangat
rendah. Produktivitas yang rendah ini menyebabkan nilai pendapatan
per kapita sektor pertanian paling rendah jika dibandingkan sektor
lainnnya. Rendahnya produktivitas ini disebabkan oleh banyak
hal.Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kepemilikan
dan penguasaan lahan petani.
2.

Mayoritas rumah tangga miskin adalah petani


gurem/subsistenJumlah petani

meningkat sekitar 5 juta dalam kurun waktu 1993-2003 dari20,87 juta


menjadi 25,4 juta atau dengan kata lain meningkat rata-rata2,2% per
tahun. Namun peningkatan ini juga diikuti dengan peningkatan jumlah
petani gurem/subsisten yang pada 1993 hanya berjumlah10,8 juta jiwa
20

menjadi 13,7 juta jiwa pada tahun 2003 atau meningkatsekitar 2,6%
per tahunnya. Dengan demikian persentase rata-rata penigkatan
jumlah petani gurem lebih tinggi 0,3% dari peningkatan rata-rata
jumlah rumah tangga petani. Kondisi gurem/subsisten ini meyebabkan
petani di Indonesia memiliki produktivitas yang rendah.
Produktivitas pertanian yang mereka lakukanhanya mampu untuk
memenuhi kebutuhan makan namun belum mampuuntuk
mendapatkan keuntungan sehingga memperoleh
tambahan pendapatan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
non-makanan.
3. Disparitas tingkat kemiskinan yang tinggi antara kota dan
desaSecara kuantitas,
jumlah penduduk miskin yang tinggal di perdesaan jauhlebih tinggi
dibandingkan dengan yang tinggal di perkotaan dengan rata-rata
hamper mencapai dua kali lipat. Dengan kata lain, setiap satu
penduduk miskin yang ada di kota, terdapat sekitar 2 penduduk miskin
yang berada di desa. Lebih dalam lagi bila kita perhatikan, keberadaan
penduduk miskin
di kota tak lain merupakan akibat dari proses urbanisasiyang cukup
masif dari penduduk miskin desa yang pindah ke kota untukmencari
pekerjaan.Urbanisasi menyebabkan terjadinya perpindahan tenaga
kerja dari penduduk miskin pedesaan yang memiliki keterbatasan
pendidikan, keterampilan, dan keahlian beralih ke kota. Proses
perpindahan ini secaratidak langsung menjadi sebuah proses
pemindahan penduduk miskin yang awalnya tinggal di perdesaan
menjadi tinggal di daerah perkotaan. Dengan kata lain, meskipun
terdapat penduduk miskin di kota, sumber kemiskinan tetap muncul
dari wilayah perdesaan.

21

4. Disparitas tingkat kemiskinan yang sangat tinggi


antar provinsiSecara geospasial,
Indonesia memiliki angka sebaran kemiskinan yangtidak merata antar
provinsi dan terdapat kesenjangan yang sangat besar antar satu
provinsi dengan provinsi yang lain. Ada provinsi yang tingkat
kemiskinannya cukup rendah namun di daerah lain sangat tinggi,
bahkan perbedaannya bisa mencapai 1 banding 12. Ambil contoh Jakar
ta dan Papua, dimana tingkat kemiskinan Jakarta hanya sekitar 3,84%,
sedangkan di Papua bisa mencapai angka 36,8%. Ini adalah sebuah
potret disparitas yang sangat ekstrim. Jika kita lihat lebih mendalam
potret kegiatan ekonominya, maka provinsi-provinsi yang kegiatan
ekonominya banyak bergerak di sektor pertanian cenderung memiliki
tingkat yang jauh lebihtinggi dibandinkan provinsiprovinsi yang mengandalakan sektor perindustrian atau jasa.
5. Dominasi belanja belanja makanan terhadap garis
kemiskinanPendekatan
perhitungan kemiskinan di Indonesia yang menggunakan pengeluaran
minimum kebutuhan dasar makanan dan non makanan menyebabkan
tingkat kemiskinan di Indonesia sangat elastis terhadap perubahan
harga kedua jenis komoditas tersebut. Dari dua jenis
komoditas,makanan dan non makanan terhitung bahwa mayoritas
pengeluaran masyarakat miskin yaitu 74% digunakan untuk pembelian
komoditas makanan sedangkan komoditas non-makanan hanya
menyumbang sekitar26%. Dari total pengeluaran makanan tersebut,
beras adalah penyumbang terbesar dengan proporsi sebesar 25,2%
untuk rumah tangga miskin yang tinggal di perkotaan dan sekitar
34,11% untuk rumah tinggi miskin di perdesaan.
Selanjutnya, fenomena yang cukup menarik adalah pengeluaran
rumahtangga miskin terhadap rokok ternyata cukup tinggi yakni
sekitar 7,93%untuk rumah tangga miskin di perkotaan dan sekitar
22

5,9% untuk rumahtinggi miskin perdesaan. Pengeluaran untuk


konsumsi rokok inimenduduki peringkat kedua terbesar setelah beras
untuk jenis
komoditasmakanan. Lebih miris lagi, pengeluaran rumah tangga miskin
untukkonsumsi rokok lebih besar daripada penegeluaran untuk biaya
pendidikananak-anak mereka.
6. Berkumpul di sekitar garis kemiskinan.Menurut data BPS, per Maret
2011 jumlah
penduduk miskin tercatatsebesar 30,02 juta jiwa atau 12,49% dari
total seluruh penduduk
Indonesia, jika dibandingkan dengan data per Maret 2010, dimana pen
duduk miskin
berjumlah 31,02 juta jiwa atau 13,33% maka terjadi penurun 1 juta jiw
a dalam setahun terakhir. Namun penurunan tersebut melambat jika
dibandingka dengan pencapaian tahun sebelumnya yang berhasil
mengentaskan kemiskinan hingga 1,5 juta jiwa sementara
pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2011 meningkat drastis
mencapai 6,5% dari tahun2010 yang hanya 6,1%. Dengan kata lain,
laju pengurangan kemiskinan tidak sebanding dengan laju
pertumbuhan ekonomi.Angka ini pun belum menambahkan jumlah
penduduk yang sedikit di atas garis kemiskinan atau near poor. Tahun
sebelumnya jumlah near poor mencapai 29,38 juta jiwa yang didapat
dengan melihat jumlah populasi yang hidup dikisaran 1,2 kali dari garis
kemiskinan. Dengan demikian, jika rata rata
garis kemiskinan pada Maret 2011 adalah Rp.233.740,- pengeluaran pe
r kapita per bulan atau Rp.7.791,- per kapita per hari (BPS,2011), maka
ukuran untuk near poor adalah penduduk yang pengeluaran per kapita
per bulannya di bawah Rp.280.488 atau Rp,9,350,
per kapita per hari. Dengan ukuran tersebut berarti jumlah penduduk y
ang pengeluaran di bawah Rp.10.000,- per hari masih sekitar 60 juta
23

jiwa yangterdiri dari 30,02 juta jiwa di kategorikan miskin dan 29,38
juta jiwa yangdikategorikan hampir miskin.
7. Kemiskinan bersifat multidimensi.Jika kita kembali membaca data
Susenas 2009
BPS, hati kita akan semakingelisah karena kemiskinan multidimensi
masih merupakan
fenomenaumum yang terjadi di masyarakat kita dari sisi kesehatan,
jumlah kematian balita per 1.000 kelahiran mencapai 60,1% di daerah
perdesaan dan 37,8% di perkotaan. Persentase penduduk yang tinggal
di rumah yang tidak layak tinggal , kurang akses sanitasi, dan tidak
memiliki MCK yang baikmencapai angka 50,42% untuk daerah
perdesaan dan 15,05% untuk perkotaan.Dari segi pendidikan,
masyarakat Indonesia
masih mengalami nasib yang mengenaskan. Angka persentase
penduduk yang hidup
dalam rumah tangga dengan kepala keluarga yang tidak
menyelesaikan pendidikan dasar
Sembilan tahun mencapai angka 83,65% untuk perdesaan dan 50,47%
untuk
perkotaan. Yang paling memprihatikan adalah rendahnya tingkat
pendidikan generasi
muda yang bisa dilihat dari persentase penduduk yang berusia 18-24
tahun yang
tidak menyelesaikan pendidikan dasar Sembilan tahun berjumlah
40,70% untuk
daerah perdesaan dan 15,97% untuk perkotaan.
2.11 Pemecahan

Masalah

Kemiskinan

Melalui

Pendekatan

Pemecahan Masalah

24

A. Melalui pendekatan agama


Kegiatan untuk membantu keluarga yang miskin telah dilakukan oleh
masyarakat yang secara ekonomi mampu, baik secara pribadi maupun
kelompok. Mengenai kegiatan pemberian bantuan secara atau bersifat
pribadi biasanya merek alakukan pada ssaat tertentu dan bagi yang
beragama islam dalam bentuk sedekah ataupun pada saat menjelang hari
raya idul firti berupa zakat fitrah, ataupun zakat mal, sesuai ketentuan
agama islam. Sementara kegiatan pemberian bantuan kepada keluarga
miskin dilaksanakan oleh umat yng beragama katholik ataupun Kristen
disebut tabungan cinta kasih (Tacika) yang biasanya diberikan pada saat
menjelang hari natal dan hari paskah.
B. Melalui pendekatan Jurnalistik
Dengan pendekatan jurnalistik dimaksudkan sebagai usaha
penyebarluasan informasi yang berkaitan dengan masalah sosial melalui
tulisan-tulisan di media cetak. Melalui pendekatan ini masalah sosial
diusahakan untuk dikenalkan pada masyarakat baik dalam arti masalah
sosial itu sendiri maupun sebab-akibat serta cara-cara menghadapinya.
Artikel-artikel di media baca, maupun media internet mengenai kemiskinan
yang terjadi di Indonesia dapat membuat masyarakat lebih peka. Juga bisa
sebagai media pengajak masyarakat dan organisasi untuk berpartisipasi
memutus rantai kemiskinan di Indonesia.
C. Melalui Pendekatan Seni
Pendekatan seni adalah suatu upaya yang dilakukan para seniman
(seni drama, musik, tari, lukis, sastra dsb) untuk membangun simpati
kemanusiaan sehubungan dengan sistuasi sosial yang bermasalah. Dalam
adat Jawa biasanya dalam membantu orang-orang miskin, orang-orang kaya
mengundang mereka dalam acara kesenian yang biasanya dimainkan oleh
orang-orang miskin tersebut. Pengundangan ini bukan hanya sebagai pentas
kesenian namun tujuan untuk membantu mereka mendapat

25

penghasilan.Melalui Pentas drama theater yang menggambarkan situasi


sosial masyarakat miskin.
D. Melalui Pendekatan Interdisipliner
Pemecahan melalui aspek ekonomi ; Menciptakan iklim usaha yang
kondusif dan menyediakan lingkungan yang mampu mendorong
pengembangan umkm secara sistemik, mandiri dan berkelanjutan.
Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap lapangan kerja
sehingga mengurangi masalah pengangguran. Karena pengangguran
merupakan masalah terbesar di Indonesia.
Pemecahan aspek social ; digalakkannya pembangunan didaerah
sehingga ineraksi social bisa lebih meningkat dengan adanya
pembangunan dan teknologi yang mendukung.
Pemecahan aspek struktural ; menghapuskan korupsi, sebab
korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Sehingga masyarakat tidak bisa menikmati
hak nya.
Pemecahan aspek psikolgi ; menanamkan rasa percaya diri dan
mengembangkan kreatifitas didalam lingkungan social, dan
memberikan pelayanan social kepada masyarakat.
Pemecahan aspek pendidikan ; memberikan informasi-informasi
bahwa pendidikan sangat penting didalam kehidupan sosial, apalagi
sudah diterapkannya wajib belajar 9 tahun dengan bebas biaya.
Pemecahan aspek teologi ; menggalakkan program zakat, didalam
ajaran islam zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan
pemerataan kesejahteraan diantara masyarakat dan mengurangi
kesenjangan kaya dan miskin.

26

Pemecahan aspek kebudayaan ; mengikuti berbagai pelatihan


kursus sebagai pengembangan diri agar mempunyai kemampuan dan
keahlian.
2.12 Indikator Indikator Kemiskinan
Untuk menuju solusi kemiskinan penting bagi kita untuk menelusuri
secara detail indikator-indikator kemiskinan tersebut. Adapun indikatorindikator kemiskinan sebagaimana di kutip dari Badan Pusat Statistika,
antara lain sebagi berikut:
1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar
(sandang, pangan dan papan).
2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya
(kesehatan, pendidikan,sanitasi, air bersih dan transportasi).
3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tiadanya investasi
untuk pendidikan dan keluarga).
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual
maupun massa.
5. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya
sumber daya alam.
6. Kurangnya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
7. Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian
yang berkesinambungan.
8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun
mental.
9. Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial (anak-anak
terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga, janda miskin,
kelompok marginal dan terpencil).
Di Indonesia sulit untuk diturunkan secara drastis. Faktanya dalam 5
tahun terakhir penurunannya cenderung landai. Tahun 2009, angka
kemiskinan 14,15% (dari jumlah penduduk) atau 32,53 juta orang, tahun
2010 sebesar 13,33% atau 31,02 juta orang, tahun 2011 sebesar 12,49%
atau 30,12 juta orang, tahun 2012 sebesar 11,96% atau 29,25 juta orang.

27

Tahun 2013 sebesar 11,36% atau 28,17 juta orang dan tahun 2014 angka
kemiskinan sebesar 11,25% atau 28,28 juta orang.
BAB III

KESIMPULAN
Masalah kemiskinan merupakan permasalahan kesejahteraan sosial di
Indonesia dan merupakan masalah yang kompleks, sehingga membutuhkan
keterlibatan berbagai pihak dalam penanganannya. Masalah ini dari dahulu
sampai sekarang tetap menjadi isu sentral di Indonesia. Pekerjaan sosial
merupakan profesi utama dalam bidang kesejahteraan sosial juga
mempunyai tanggung jawab dalam penanganan permasalahan kemiskinan
tersebut. Dalam penanganan masalah kemiskinan profesi pekerjaan sosial
berfokus pada peningkatan keberfungsian sosial si miskin. Sebagaimana
halnya profesi kedokteran berkaitan dengan konsepsi kesehatan, psikolog
dengan konsepsi perilaku adekwat, guru dengan konsepsi pendidikan, dan
pengacara dengan konsepsi keadilan, maka keberfungsian sosial merupakan
konsepsi yang penting bagi pekerjaan social.
Kondisi kemiskinan di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal ini
ditandai dengan rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan
dan mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi
anak, dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Oleh karena itu, perlu
mendapat penanganan khusus dan terpadu dari pemerintah bersama-sama
dengan masyarakat.Pemecahan masalah Kemiskinan Di Indonesia juga dapat
dilakukan dengan berbagai pendekatan. Diantaranya melalui pendekatan
Agama, Kesenian, Jurnalistik, dan Interdisipliner.

28

DAFTAR PUSTAKA
Basri, Faisal. 1995. Perekonomian Indonesia Menjelang Abad XXI. Erlangga :
Jakarta.
Anneahira. (2013). 10 Arah Masalah Ekonomi. [online]. Tersedia: http:
//www.anneahira.com.
Arifin, K. (2011). Pengertian Kemiskinan. [online]. Tersedia:
http://khairilanwarsemsi.blogspot.com.
Masruroh, H. (2011). Keluarga Miskin. [online]. Tersedia: http:
//www.voonq.com.
Purwanto, Ngalim. (2004). Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya.
Pratiwi, S. (2012). Dampak Kemiskinan. [online]. Tersedia:
http://saefakipratiwi.wordpress.com.
Yusuf, Syamsu. (2007). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
http://www.bps.go.id (diakses pada 18 Desember 2014)
http://www.wikipedia.com (diakses pada 18 Desember 2014)
http://www.ekonomirakyat.org/index4.php (diakses pada 18 Desember 2014)
http://els.bappenas.go.id/upload/other/MDGs%20dan%20Masalah
%20Kemiskinan%20di%20Indonesia.htm (diakses pada 18 Desember 2014)
http://www.academia.edu/8249216/Kemiskinan_di_Indonesia_dan_upaya_pen
gentasannya_oleh_pemerintah (diakses pada tanggal 20 Desember 2014)
http://www.slideshare.net/denasundarialief/makalah-kemiskinan-di-indonesia
(diakses pada tanggal 20 Desember 2014)

29

30