Anda di halaman 1dari 15

Deniswari Rahayu (1102010065)

RADIAL NERVE PALSY

1.1. ANATOMI
Nervus radialis adalah cabang terbesar dari pleksus brakhialis. Mulai pada tepi bawah
muskulus pektorialis minor sebagai lanjutan dari trunkus posterior pleksus brakllialis. Berasal
dari radiks spinalis servikalis V sampai VIII. Sesudah meninggalkan aksila, saraf ini
mengikuti lekukan spiral (musculospiral groove) pada humerus dan menempel erat pada
tulang bersama cabang profunda dari arten brakhialis. Setelah mencapai septum
intermuskularis lateralis sedikit dibawah insersio muskulus deltoideus, saraf ini dapat diraba.
Pada fossa antekubiti, pada bagian depan bawah lengan atas setinggi kondilus lateralis
humerus, saraf ini membagi diri dalam 2 cabang terminal yaitu:
a. cabang motoris profundus (nervus interosseus posterior)
b. cabang kutaneus superflsialis

Gambar 1. Plexus brachialis

Percabangan ini biasanya terletak pada bagian proksimal lengan bawah, tetapi dapat
bervariasi dalam jarak 4 sampai 4,5 cm dibawah epikondilus lateralis. N. interosseus posterior
menembus muskulus supinator untuk mencapai sisi posterior lengan bawah dan memberi
persarafan motorik Cabang kutaneus mencapai superfisial kira-kira 10 cm diatas pergelangan
tangan. Turun sepanjang sisi lateral lengan bawah dan berakhir dengan memberi persarafan
1

Deniswari Rahayu (1102010065)

sensorik kekulit dorsum tangan, ibu jari, telunjuk dan jari tengah. Nervus radialis pada lengan
atas, memberi persarafan motorik untuk:
a.

m.triseps dan m.ankoneus; ekstensor lengan bawah

b.

m.brakhioradialis; fleksor lengan bawah pada posisi semipronasi

c.

m.ekstensor karpi radialis longus dan brevis; ekstensor radial tangan

Pada lengan bawah, melalui cabang motoris profunda memberi persarafan motorik
untuk:
a.

m. supinator; supinator lengan bawah

b.

m. ekstensor digitorum; ekstensor ruas jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan
kelingking

c.

m.ekstensor digiti minime; ekstensor ruas kelingking dan tangan

d.

m.ekstensor karpi ulnaris; ekstensor ulnar tangan

e.

m.abduktor pollicis longus; abduktor ibu jari dan ekstensor radial tangan

f.

m.ekstensor pollicis brevis dan longus; ekstensor ibu jari dan ekstensor radial tangan

g.

m.ekstensor indicis; ekstensor telunjuk dan tangan

Gambar 2. Inervasi motorik dan sensorik nervus radialis

Deniswari Rahayu (1102010065)

Fungsi utama dari nervus radialis ini adalah untuk ekstensi sensi siku, pergelangan
tangan dan jari.
Cabang sensorik nervus radialis biasanya mempersarafi sisi posterior lengan atas,
lengan bawah, tangan dan jari jari kecuali kelingking dan sisi ulnar jari manis, tetapi karena
ada anstomosis dan persarafan yang tumpang tindih, maka distribusi sensoriknya ini sulit
ditentukan. Jika ada, terdapat terutama pada daerah dorsum ibu jari dan telunjuk.

1.2. DEFINISI
Cedera nervus radialis adalah kerusakan dari nervus radialis yang menyebabkan suatu
kelainan fungsional dan struktural pada nervus radialis. Kelainan dapat dihubungkan dengan
adanya bukti klinis, elektrografis dan atau morfologis yang menunjukkan terkenanya saraf
tersebut atau jaringan penunjangnya.
Pada umumnya cedera nervus radialis disebabkan oleh trauma, baik karena trauma atau
akibat penekanan langsung pada sarafnya atau dapat juga terjadi akibat dislokasi atau fraktur
yang mengenai lengan atas.
Gangguan dalam fungsi motorik akibat parese nervus radialis lebih menimbulkan
kecacatan dari pada parese nervus medianus atau nervus ulnaris.

1.3. ETIOLOGI
Kelainan nervus radialis dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor mana mungkin
terjadi sendiri-sendiri atau secara bersamaan (multiple factors). Misalnya, diabetes melitus
yang pada mulanya subklinis akan menjadi simptomatis sesudah adanya suatu trauma atau
kompresi yang mengenai saraf.
1. Trauma
Pada fraktur dan dislokasi, neuropati terjadi karena penekanan safar oleh fragmen
tulang, hematom, kallus yang berbentuk sesudah fraktur, atau karena peregangan saraf
akibat suatu dislokasi. Neuropati radialis sering terjadi pada fraktur kaput humerus.
Paresis nervus radialis juga dapat terjadi akibat tidur dengan menggantungkan lengan
diatas sandaran kursi (Saturday night palsy), atau tidur dengan kepala diatas lengan atas
(Honeymoon palsy) akibat penekanan pada waktu saraf ini menembus septum
intermuskularis lateralis. Disamping itu trauma pada waktu olah raga, kerja, pemakain
kruk (Crutch palsy), atau posisi tangan pada waktu operasi dapat menyebabkan
terjadinya parese Nervus Radialis.
3

Deniswari Rahayu (1102010065)

2. Infeksi.
Dapat terjadi karena: sifilis, herpes zoster, lepra dan TBC. Dapat mengenai satu saraf
atau lebih.
3. Toksik.
Lebih spesifik mengenai nervus radialis adalah pada lead intoxication.
4. Penyakit vaskuler
5. Neoplasma

Gambar 3. Berbagai penyebab cedera nervus radialis. Kiri atas: Saturday night palsy.
Kanan atas: Honeymoon palsy. Kiri Bawah: Crutch palsy. Kanan bawah: Handcuff
syndrome.

1.4.KLASIFIKASI CEDERA SARAF TEPI


Klasifikasi cedera saraf tepi yang sering digunakan yaitu berdasarkan kriteria Seddon
dan Sunderland. Berikut adalah kriteria berdasarkan Seddon:

Deniswari Rahayu (1102010065)

a. Neuropraxia
Adalah tidak berfungsinya sistem saraf yang bersifat sementara tanpa terjadinya
disrupsi fisik axon. Biasanya fungsi saraf akan kembali normal setelah 2-4 minggu.
b. Axonotmesis
Adalah terjadinya disrupsi axon dan myelin. Jaringan ikat lunak sekitarnya termasuk
endoneurium tetap intak. Terjadi degenerasi axon distal dan proksimal pada lokasi
terjadinya trauma. Degenerasi distal dikenal sebagai degenerasi Wallerian. Axon akan
memngalami regenerasi dengan kecepatan 1 mm/ hari. Fungsi saraf akan secara
bermakna akan kembali normal setelah 18 bulan.
c. Neurotmesis
Adalah terjadinya disrupsi axon dan endoneurial. Komponen kolagen perifer seperti
epineurium dapat intak atau terjadi disrupsi. Degenerasi axonal terjadi pada distal dan
proksimal segmen.

Sunderland mengidentifikasikan cedera kedalam lima derajat, berdasarkan peningkatan


beratnya cedera, yang mengakibatkan gangguan fungsi yaitu:
a. Saraf tepi mengalami disorganisasi berat hingga regenerasi tak dapat terjadi. Ini bisa
karena sayatan, tusukan, traksi ataupun penyuntikan saraf yang diikuti pembentukan
skar. Segmen yang terkena harus dieksisi sebagai bagian perbaikan secara bedah.
Keadaan ini yang disebut neurotmesis oleh Seddon dan cedera derajat IV-V oleh
Sunderland.
b. Saraf tepi dengan interupsi akson dan selubung mielinnya, namun bidang jaringan ikat
seperti perineurium masih utuh. Terjadi pengurangan jumlah akson yang tersedia
untuk regenerasi dan bisa terdapat adanya fibrosis berkas intrafasikuler. Ini biasanya
karena penetrasi peluru atau tusukan, traksi atau kompresi dengan disertai iskemia.
Keadaan ini disebut aksonotmesis oleh Seddon dan cedera derajat II-III oleh
Sunderland.
c. Saraf tepi dengan interupsi segmental selubung mielin, namun akson dan bidang
jaringan ikat intak. Tidak terjadi degenerasi Wallerian, dan gangguan yang terjadi
akibat hambatan konduksi dapat pulih sempurna. Ini umumnya diakibatkan kontusi,
seperti pada fraktura, atau kompresi, seperti pada saturday night palsy'. Pemulihan
fungsional terjadi dalam beberapa minggu hingga bulan. Keadaan ini disebut
neurapraksia oleh Seddon atau suatu cedera derajat I oleh Sunderland.

Deniswari Rahayu (1102010065)

Gambar 4. Klasifikasi cedera saraf tepi berdasarkan Seddon.

DEGREE OF INJURY

HISTOPATHOLOGICAL CHANGES

Sunderland

Seddon

Myelin

I
II

Neurapraxia
Axonotmesis

Neurotmesis

+
+
+

+
+
+

III
IV
V

Axon

Endoneurium

+
+
+

Perineurium Epineurium

+
+

1.5.GEJALA KLINIS
1. Pemeriksaan Motorik
Pemeriksaan motorik secara klinis adalah tahap terpenting dalam mengelola
semua cedera saraf. Pemeriksaan harus menentukan apakah kehilangan distal sisi
cedera terjadi secara total atau tidak. Pemeriksaan motorik perlu dilakukan secara
seksama dan teliti karena pemeriksaan motorik menjadi suatu acuan yang cukup
berguna sebagai bukti terjadinya regenerasi saraf bila terdapat pemulihan yang jelas.
Pengamatan klinis fungsi motorik volunter dapat juga ditentukan dengan respons
motor terhadap stimulasi. Stimulasi saraf terutama berguna dalam pengenalan awal
adanya pemulihan nerus radialis memadai dan mengurangi tindakan operasi yang
beresiko.

Deniswari Rahayu (1102010065)

2. Tanda Tinel
Tanda Tinel positif hanya menunjukkan regenerasi serabut halus dan tidak
menunjukkan apapun tentang kuantitas dan kualitas yang sebenarnya dari serabut
yang baru. Disisi lain, interupsi saraf total ditunjukkan oleh tidak adanya respons
sensori distal (tanda Tinel negatif) setelah waktu yang memadai telah berlalu untuk
terjadinya regenerasi serabut halus (4-6 minggu). Tanda Tinel negatif lebih bernilai
dalam penilaian klinis dibanding tanda Tinel positif.

DEGREE OF INJURY
Sunderland

Seddon

I
II
III
IV
V

Neurapraxia
Axonotmesis

Neurotmesis

TINNEL SIGN
Present
+
+
+
+

Progress Distally
+
+
-

3. Berkeringat
Kembalinya keringat didaerah otonom menunjukkan regenerasi serabut simpatis
yang bermakna. Pemulihan ini mungkin mendahului pemulihan motorik atau sensorik
dalam beberapa minggu atau bulan, karena serabut otonom pulih dengan cepat.
Pemulihan aktivitas otonom tidak selalu berarti akan diikuti oleh fungsi motorik atau
sensorik. Pada beberapa kasus, pemulihan fungsi motorik atau sensorik tidak
berlangsung.

4. Pemulihan Sensorik
Pemulihan sensorik adalah tanda yang berguna, terutama bila terjadi didaerah
inervasi otonom nervus radialis dimana tumpang tindih antar sarafnya minimal.
Daerah otonom saraf median meliputi permukaan volar dan dorsal telunjuk dan
permukaan volar jempol.
Saraf radial tidak mempunyai daerah otonom yang tegas. Bila terjadi kehilangan
sensori pada distribusi ini, biasanya mengenai sejumlah daerah anatomis tertentu.
Sayangnya pemulihan sensori, bahkan pada daerah otonom, tidak pasti diikuti
pemulihan motorik.

Deniswari Rahayu (1102010065)

1.6. DIAGNOSIS
1. SINDROMA TEROWONGAN RADIAL
Sindroma klinis yang berhubungan dengan kompresi cabang dalam saraf radial
disebut radial tunnel syndrome. Sering dikelirukan dengan 'tennis elbow'. Sindroma
terowongan radial ini menyebabkan nyeri somatik dalam pada otot ekstensor,
terutama jika dipacu oleh latihan Gejala dapet terjadi tanpa disertai gejala sensorik
atau motorik. Empat tempat yang potensial untuk kompresi adalah: (1) band fibrosa
anterior dari caput radial, (2) pembuluh darah yang berjalan diatas saraf radial untuk
mempersarafi otot brakhioradialis, (3) tepi tendinosa otot ekstensor karpi radialis
brevis, dan (4) arkade Frohse, yang merupakan tepi ligamen kepala superfisial otot
supinator. Lokasi pada arkade Frohse adalah daerah kompresi tersering. Spinner
mempostulasikan bahwa arkade Frohse dibentuk sebagai reaksi atas gerak rotari
berulang dari lengan. Spinner menemukan sindroma ini pada lengan dominan pada
89% pasien. Kebanyakan pasien mempunyai riwayat trauma berulang, seperti
dijumpai pada pekerja pembuat batu bata, pemasang pipa, operator mesin, konduktor
orkestra, dan pemain tenis. Penyebab kompresi lain bisa tumor, lipoma, proliferasi
sinovial pada artritis rematoid, atau fraktura kepala radius.

2. TENNIS ELBOW
Roles dan Maudsley mendefinisikan kelainan ini sebagai epikondilitis lateral
hingga kelemahan ekstensor yang parah. Pada pemeriksaan, terdapat nyeri tekan
diatas epikondil lateral humerus atau tepat didistal kepala radial dimana saraf menuju
otot supinator. Nyeri yang khas dapat dirasakan bertambah bila terjadi ekstensi jari
tengah dan ditahan. Manuver ini akan menegangkan origo otot ekstensor karpi radialis
brevis dan selanjutnya menekan saraf radialis. Cedera origo tendo ekstensor karpi
radialis brevis pada epikondilus lateralis berhubungan dengan gejala tennis elbow
yang klasik. Injeksi lokal lidokain dan kortikosteroid memberikan pengurangan gejala
yang sementara. Elektrodiagnostik bisa memperlihatkan penundaan latensi motor dari
alur spiral ketepi medial otot ekstensor digitorum komunis, namun biasanya normal.
Pasien yang tidak membaik dengan menghindari faktor pencetus seperti trauma,
penggunaan bidai, serta pemberian anti-inflamatori, diindikasikan untuk tindakan
operatif berupa eksplorasi beserta dekompresi saraf radial permukaan diindikasikan.

Deniswari Rahayu (1102010065)

3. SINDROMA SARAF INTEROSSEUS POSTERIOR


Berbeda dengan sindroma terowongan radial dimana gejala dan temuan yang
predominan adalah gangguan motor dari pada nyeri atau sensori. Arkade Frohse
merupakan struktur pengkonstriksi utama. Kelemahan berat otot yang diinervasi radial
tampil

dengan

ketidakmampuan

mengekstensikan

jari-jari

pada

sendi

metakarpofalangeal. Dorsifleksi pergelangan arah dorsoradial disebabkan oleh


paralisis otot ekstensor karpi ulnaris dan ekstensor digitorum komunis. Otot
brakhioradialis, ekstensor karpi radialis longus, ekstensor karpi radialis brevis, dan
supinator tidak melemah karena diinervasi oleh cabang yang timbul sebelum titik
dimana saraf radial masuk arkade Frohse. Pada sindroma ini, nyeri dan nyeri tekan
lokal diikuti oleh gangguan motor progresif. Bila gangguan sensori tampil, harus
dipikirkan lesi yang lebih proksimal. Temuan elektrodiagnostik dari cedera aksonal
pada saraf interosseus posterior berupa hasil sensori radial yang normal. Amplitudo
dari respons motor radial normal atau berkurang pada pencatatan dari otot yang
diinervasi saraf radial distal. Denervasi dijumpai pada semua otot yang diinervasi
saraf radial kecuali otot triseps, brakhioradialis, ekstensor karpi radialis longus,
ekstensor karpi radialis brevis, dan ankoneus. Pasien dengan sindroma saraf
interosseus posterior dengan temuan motor yang bermakna, diindikasikan untuk
eksplorasi bedah. Pasien dengan perjalanan penyakit yang kurang berat, maka
istirahat, bidai, dan anti inflamatori diindikasikan.

4. SINDROMA WARTENBERG
Disebabkan kompresi saraf radial permukaan pada lengan bawaf. Khas dengan
nyeri lengan bawah proksimal serta hipoestesia diatas jempol dorsal. Tidak ada
kelemahan. Kompresi biasanya disebabkan trauma atau pemakaian band yang ketat
atau arloji. Temuan elektrodiagnostik kelainan saraf radial permukaan terdiri dari
hanya gangguan atau hilangnya respons sensori saraf radial. Lesi penyebab neuropati
radialis dapat mengenai saraf disepanjang perjalanannya.
Gejala yang timbul dipengaruhi oleh lokasi lesi:
a. Pada level lengan atas lesi pada n.radialis dapat terjadi pada aksila, pada waktu
melilit humerus di musculoradialis groove, atau sewaktu berjalan superfisial
pada sisi lateral lengan atas. Menyebabkan parese semua otot yang diper
sarafinya yaitu triseps, ekstensor pergelangan tangan, ekstensor jari dan
brakhioradialis, dan disertai defisit sensorik pada daerah yang dipersarafi yaitu
9

Deniswari Rahayu (1102010065)

sisi lateral-dorsal tangan, ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Lesi pada aksila
dapat disebabkan kompresi oleh kruk, dislokasi sendi bahu, fraktur humerus
dan luka tembus.
b. Lesi neuropati radialis
Lesi neuropati radialis sewaktu melilit humerus atau sewaktu berjalan
seperfisial pada aspek lateral lengan atas, sering akibat kelamaan menggantung
lengan diatas sandaran kursi (Saturday nigth palsy), akibat tertekannya lengan
karena posisi yang tidak tepat selama anestesi atau tidur, penggunaan tomiket
yang tidak benar atau akibat iritasi dan kompresi oleh kallus sesudah fraktur
tulang. Gejalanya:
tidak dapat ekstensi siku karena parese triseps
tidak dapat fleksi siku pada posisi lengan bawah antara pronasi dan
supinasi karena parese m.brakhioradialis
tidak dapat supinasi lengan bawah karena parese m.brakhioradialis
tidak dapat supinasi lengan bawah karena parese m. supinator
wrist drop dan finger drop karena parese ekstensor pergelangan tangan
dan jari.
gangguan abduksi ibu jari tangan
refleks triseps negatif atau menurun
gangguan sensorik berupa parestesi atau baal pada bagian dorsal distal
lengan bawah, sisi leteral dan dorsal tangan, ibu jari, telunjuk dan jari
tengah.
c. Lesi pada bagian saraf yang berjalan antara septum intermuskularis lateralis
dan

tempat

dimana

n.interosseus

posterior

menembus

m.supinator

mengakibatkan jari yang dipersarafi oleh nerpus ini. Gejalanya:


tidak dapat supinasi dan meluruskan jari
tidak ada wrist drop
refleks triseps positif
tidak ada gangguan sensorik
d. Lesi pada punggung pergelangan tangan, hanya akan menimbulkan gejala
sensorik, tanpa defisit motorik.

10

Deniswari Rahayu (1102010065)

1.7.PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Elektrofisiologis
Elektromiografi
Pemeriksaan EMG dasar 2-3 minggu setelah cedera menunjukkan perluasan denervasi
dan menegaskan pola atau distribusi cedera. Pemeriksaan EMG harus dilakukan serial untuk
mencari tanda-tanda reinervasi atau denervasi yang persisten. Pada regenerasi, aktifitas
insersional mulai pulih dan fibrilasi serta potensial denervasi berkurang dan terkadang
digantikan oleh potensial aksi motor yang timbul sewaktu-waktu. Setiap perubahan
menunjukkan bahwa beberapa serabut yang mengalami regenerasi mencapai otot dan terjadi
beberapa rekonstruksi hubungan akson-motor end plate.Tanda-tanda tersebut tidak berarti
apa-apa atas kemungkinan perluasan atau kualitas regenerasi. Bila terjadi pengurangan
fibrilasi atau timbulnya potensial terjadi pada otot pada distribusi saraf yang cedera,
dianjurkan tindakan konservatif selanjutnya untuk interval yang singkat. EMG menjadi
penting karena dapat membuktikan regenerasi beberapa minggu atau bulan sebelum fungsi
motor volunter tampak. Ia juga melacak adanya sisa unit motor yang berarti lesi parsial segera
setelah cedera.
EMG terutama membantu menentukan tingkat cedera lesi pleksus brakhial hingga bisa
menyeleksi pasien untuk dioperasi beserta jenis operasi yang akan dilakukan. Denervasi otot
paraspinal mengarahkan pada lesi proksimal pada satu atau lebih akar dan karenanya
merupakan temuan negatif. Kerusakan proksimal pada tiga akar terbawah dapat berakibat
denervasi paraspinal ekstensif dimana akar C5 dan bahkan C6 mungkin cedera lebih kelateral
dan karenanya dapat diperbaiki. Elektromiografer memiliki kesulitan membedakan tingkat
spinal didalam otot paraspinal karena sangat tumpang tindih.Operasi biasanya diindikasikan
pada lesi pleksus brakhial bila terjadi kerusakan lengkap pada satu atau lebih akar saraf atas
(C5,C6,C7) dan hantaran kedistal tidak mulai pulih secara klinis maupun elektrik pada bulanbulan awal pasca cedera. Adanya perubahan EMG yang menunjukkan reinervasi tidak
menjamin pemulihan fungsi, dan pemeriksaan harus digabung dengan temuan klinis dan data
elektrikal lain. Karena EMG dapat terus menunjukkan perubahan denervasi berat bahkan
walau otot berkontraksi volunter, EMG tidak pernah menggantikan pemeriksaan klinis yang
teliti. Namun hanya melengkapi pemeriksaan klinis. EMG terutama bernilai mengenal
anomali dari inervasi, seperti sering terjadi pada lengan bawah dan tangan.

11

Deniswari Rahayu (1102010065)

Potensial Aksi Saraf Sensori (SNAP)


Pemeriksaan SNAP membantu menilai tingkat regangan pada cedera pleksus brakhialis.
Lesi tingkat radiks yang terbatas didaerah preganglion dan tidak meluas kedaerah
postganglion akan berakibat hilangnya sensori distal proximal namun tetap mempertahankan
konduksi sensori distal. Konduksi sensori dari daerah anestetik dapat diperiksa dengan
merangsang jari pada distribusi C6 (jempol dan telunjuk), C6-7-8 (jari tengah) dan C8-T1
(kelingking dan jari manis) dan pencatatan saraf median, radial dan ulnar diproksimal.
Adanya potensial aksi saraf sensori campuran memastikan cedera preganglionik pada
distribusi satu radiks atau lebih. Karena distribusi sensori radiks didistal tumpang tinduh
dengan satu atau lebih radiks lain, sulit menentukan dengan pemeriksaan ini bahwa satu
radiks, misalnya C6, adalah suatu cedera preganglionik.
Stimulasi telunjuk (bahkan jempol) yang anestetik dapat menimbulkan SNAP pada
distribusi saraf median bila baik akar C6 atau C7, atau C6 dan C7, rusak pada tingkat
preganglionik. Ini menjadikannya sulit untuk menentukan pada pemeriksaan SNAP apakah
cedera akar C6 terjadi preganglionik. Keadaan ini kurang jelas pada akar C5 karena tidak ada
stimulasi noninvasif spesifik atau daerah pencatatan untuk hantaran ini: Penilaian teliti akar
sebelah atas dengan pencatatan SNAP tidak mungkin pada tingkat ini.
Somatosensory-Evoked Potential (SSEP)
Pemeriksaan SSEP digunakan menilai tingkat cedera, apakah praganglionik atau
postganglionik, pada lesi pleksus brakhial. Ia bernilai terbatas pada bulan-bulan pertama
cedera.Pemeriksaan somatosensori berguna pada saat operasi atas cedera brakhial karena
regangan atau kontusi. Bila cedera postganglionik, stimulasi akar proksimal dari tingkat
cedera membangkitkan potensial somatosensori diatas tulang belakang servikal (SSP) dan
membangkitkan (evoked) respons kortikal diatas kranium kontralateral (ECR). Bila cedera
praganglionik atau pra dan post ganglionik, stimulasi terhadap akar, bahkan didalam atau
dekat foramen intervertebral, tidak akan membangkitkan respons apapun. Reparasi jarang
berhasil.Sayangnya, timbulnya SSP atau ECR mungkin hanya memerlukan beberapa ratus
serabut yang intak antara daerah yang distimulasi dan daerah perekaman, hingga respons
positif hanya memastikan keutuhan minimal saraf atau akar spinal. ECR negatif lebih penting
dari ECR positif.

12

Deniswari Rahayu (1102010065)

Pemeriksaan Radiologis
Foto polos
Fraktura tulang belakang servikal sering berhubungan dengan cedera regang proksimal
yang berat yang tidak dapat direparasi, paling tidak pada tingkat akar ruas tulang belakang
bersangkut-an. Fraktura tulang lain seperti humerus, klavikula, skapula dan/atau iga, bila
diamati memberi-kan perkiraan kasar atas kekuatan yang menghantam bahu, lengan atau
leher, namun tidak selalu membantu menentukan tingkat atau luasnya cedera. Kerusakan
pleksus biasanya lebih proksimal dibanding sisi fraktura yang tampak, sering pada tingkat
akar. Fraktura humerus tengah terutama berkaitan dengan cedera saraf radial. Fraktura
kominuta radius dan ulna pada tingkat lengan bawah tengah juga berkaitan dengan cedera
saraf median dan ulner, dan terkadang dengan palsi saraf interosseus posterior.
Foto thorax bisa menunjukkan elevasi diafragma yang berarti terjadi paralisis saraf
frenikus. Ini tanda prognosis yang relatif buruk untuk reparasi akar saraf C5 setelah cedera
tertutup,

karena biasanya

berarti

kerusakan

proksimal

pada

tingkat

leher.

Tomografi Terkomputer (CT) dan Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI)


CT scan dengan kontras dimanfaatkan pada cedera peregangan walau terkadang
abnormalitas tetap tidak dijumpai karena irisan biasanya tidak cukup rapat untuk mencakup
semua daerah akar pada setiap tingkat. Akibatnya, mielografi tetap merupakan pemeriksaan
radiologis

yang

digunakan.

Pencitraan

resonansi

magnetik

mungkin

membantu

menampilkan akar saraf. Pemeriksaan MRI ini hanya memperkuat mielogram dan tidak
menggantikannya.
1.8. TATALAKSANA
Terdapat beberapa terapi terhadap carpal tunnel syndrome yang masih dipergunakan
hingga saat ini, antara lain:
1. Splint (Bidai Immobilisasi)
Splint atau bidai pada pergelangan tangan membantu mengurangi mati rasa
dengan mengurangi fleksi pergelangan tangan. Bidai digunakan pada malam hari
untuk mereposisi tangan, mencegah fleksi atau ekstensi tangan saat tidur yang bisa
meningkatkan tekanan. Bidai biasanya digunakan pada pasien dengan gejala yang
ringan sampai sedang yang berlangsung kurang dari 1 tahun.
13

Deniswari Rahayu (1102010065)

2. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)


Obat-obatan jenis NSAID dapat mengurangi inflamasi dan membantu
menghilangkan nyeri. Pada umumnya digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan
sampai sedang. Obat pilihan untuk terapi awal biasanya adalah ibuprofen. Untuk
pilihan lainnya ada ketoprofen dan naproxen.
3. Fisioterapi dan Terapi Okupasi
Prosedur fisioterapi ini harus dilakukan secaraspesifik terhadap pola
nyeri/gejala dan disfungsi yang ditemukan. Terapi okupasi memberikan penyaranan
ergonomik untuk mencegah gejala yang semakin parah. Terapi okupasi memfasilitasi
fungsi tangan melalui terapi adaptif tradisional. Olahraga dengan gerakan merelaksasi
dan meregangkan otot otot lengan dan tangan dapat mengurangi resiko trauma
ganda pada N. radialis.
Dengan istirahat yang sesering mungkin dapat berguna jika jadwal kerja dapat
dikurangi kepadatannya. Sebuah hasil penelitian baru baru ini menunjukkan dengan
istirahat singkat beberapa kali saat aktivitas yang cukup menegangkan memberikan
hasil yang lebih baik dibandingkan dengan istirahat dalam waktu yang lama. Beragam
jenis perangkat aksesoris komputer yang dapat digunakan untuk menopang tangan
dari kelelahan karena aktivitas berlebihan.
Olahraga dengan gerakan merelaksasi dan meregangkan otot otot lengan dan
tangan dapat mengurangi resiko trauma ganda pada N. Radialis.
4. Terapi Operatif

1.9. PROGNOSIS
Pasien neuropati radialis akibat fraktur atau dislokasi, dapat mengalami perbaikan
spontan. Pasien dengan Saturday night palsy biasanya membaik dalam 6-8 minggu atau dapat
lebih lama. Operasi pada keadaan terdorongnya nervus radialis oleh tulang atau jaringan
lunak, juga adanya entrapment pada muskulus supinator dapat membaik dalam beberapa
minggu atau bulan.
Secara keseluruhan kesembuhan menyangkut nervus radialis umumnya baik setelah
manajemen konservatif dan operasi. Jika belum memperoleh hasil maksimal maka dapat
dilakukan perbaikan melalui transfer tendon.

14

Deniswari Rahayu (1102010065)

DAFTAR PUSTAKA

Adam RD ; Victor M. Principles of neurology. 4th ed. New York: McGraw Hill, 1989
Chusid JG and deGroot J. Correlative neuroanatomy. 20th ed. A Lange Medical Book,
1988:p.92-96
De Jong. The Neurological examination.4t ed. 1979:p.576-588
Dyck PJ, Low PA. Disease of peripheral nerves, in Clinical neurology, Baker (ed).
Philadelphia: Harper & Row, 1987
Gilroy, J. Basic neurology. New York : Pergamon, 1992:p. 363-364
Goldstein NP. Metal neuropathy, in Peripheral neuropathy. Dyck PJ (ed.). Philadelphia : WB
Sounders, 1975:p. 1240-1248
Patten J. Neurological differential diagnosis, London: Harold Starke, 1977: p.194-202
Thomas PK. Symptomatoly and differential diagnosis of peripheral neuropathy, in peripheral
neuropathy. Dyck P. (ed.). philadelphia : WB Saunders, 1975
Walton JN. Brains diseases of the nervus system. 8th ed. New York : Oxford University,
1977: 779-781 dan 949-952
WHO. Peripheral neuropathies, Report of WHO Study Group, Jeneva, 1980

15

Anda mungkin juga menyukai