Anda di halaman 1dari 6

TEORI MEDAN LIGAN

Muhammad M. Al Reka Reo / 1206259966


Departemen Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Indonesia
Kampus UI Depok, 16424, Depok, Jawa Barat, Indonesia
Teori medan ligan (LFT) adalah sebuah teori yang menjelaskan ikatan
pada senyawa kompleks koordinasi. merupakan aplikasi teori orbital molekul
pada kompleks logam transisi. Ion logam transisi mempunyai enam orbital atom
terhibridisasi dengan energi yang sama untuk berikatan dengan ligan-ligannya.
Analisis LFT bergantung pada geometri kompleks. Walaupun begitu, untuk tujuan
tertentu, kebanyakan analisis berfokus pada kompleks oktahedral dengan enam
ligan berkoordinasi dengan logam.
Teori yang berkaitan dengan senyawa kompleks adalah Teori Medan
Ligan. Teori medan kristal ini hampir selama 20 tahun semenjak ditemukan hanya
digunakan dalam bidang fisika zat padat. Teori medan kristal digunakan pada
pakar fisika zat padat untuk menjelaskan warna dan sifat magnetik garam-garam
logam transisi terhidrat,khususnya yang memiliki atom pusat ion logam transisi
dengan orbital d yang belum sepenuhnya terisi elektro seperti CuSO 4.5H2O. Baru
pada tahun 1950an. Pada awal tahun 1950an barulah pakar kimia koordinasi
menerapkan teori medan kristal.

Teori medan kristal ini digunakan untuk

menjelaskan energi kompleks koordinasi. Hal ini didasarkan pada deskripsi ionik
pada ikatan logam ligan. Teori medan kristal yang dikemukakan Bethe dilandasi
oleh tiga asumsi yaitu :
1. Ligan-ligan diperlakukan sebagai titik-titik bermuatan.
2. Interaksi anatara ion logam dengan ligan-ligan dianggap sepenunya sebagai
interaksi elektrostatik(ionik). Apabila ligan yang ada merupakan ligan netral
seperti NH3, dan H2O, maka dalam interaksi tersebut ujung negatif dari dipol
dalam molekul-molekul netral diarahkan terhadap ion logam.
3. Tidak terjadi interaksi antara orbital-orbital dari ion logam dengan orbitalorbital dari ligan H2O, maka dalam interaksi tersebut ujung negatif dari dipol
dalam molekul-molekul netral diarahkan terhadap ion logam.
Menurut medan kristal atau crystal field theory (CFT), ikatan antara atom
pusat dan ligan dalam kompleks berupa ikatan ion, hingga gaya yang ada hanya

berupa gaya elektrostatik. Ion kompleks tersusun dari ion pusat yang dikelilingi
oleh ion-ion lawan atau molekul-molekul yang mempunyai momen dipol
permanen.
SPLITTING PADA KOMPLEKS OKTAHEDRAL
Medan listrik dari ion pusat akan mempengaruhi ligan-ligan sekelilingnya,
sedang medan gabungan dari ligan-ligan akan mempengaruhi ion pusat. Pengaruh
ligan ini terutama mengenai elektron d dari ion pusat seperti kita ketahui ion
kompleks dari logam-logam transisi. Pengaruh ligand tergantung dari jenisnya,
trutama pada kekuatan medan listrik dan kedudukan geometri ligand-ligand dalam
kompleks.
Di dalam ion bebas kelima orbital d bersifat degenerate artinya
mempunyai energi yang sama dan elektron dalam orbital ini selalu memenuhi
hukum multiplicity yang maksimal. Pembagian orbital d menjadi 2 golongan yaitu
orbital eg dan orbital t2g atau de mempunyai arti penting dalam hal pengaruh
ligand terhadap orbital-orbital tersebut.
Dengan adanya ligand disekitar ion pusat orbital d tidak lagi degenerate,
orbital d ini terbagi menjadi beberapa orbital dengan energi berbeda. Dikatakan
juga orbital d ini mengalami spliting.
Pada kompleks oktahedral atom pusat berikatan dengan 6 atom donor.
Kompleks oktahedral memiliki tingkat simetri tertinggi apabila ligan-ligan yang
terikat pada atom pusat merupakan ligan monodentat monoatom yang sama,
seperti: F-, Cl-, Br-, dan I-. Pada pembentukan kompleks octahedral dianggap ada
6 ligan monodentat yang mendekati atom pusat sampai pada jarak tertentu saat
ikatan-ikatan antara atom pusat dan ligan-ligan terbentuk.

Pada gambar di atas nampak bahwa orbital dx2-y2 dan dz2 tedapat pada
sumbu-sumbu x, y dan z sedangkan orbital dxy, dxz dan dyz terdapat antara
sumbu-sumbu. Karena ligan-ligan terdapat pada sumbu x, y dan z maka pengaruh
ligan pada orbital eg lebih besar daripada untuk orbital t 2g. Setelah terjadi uraian
atau spliting orbiltal eg mempunyai energi lebih tinggi daripada orbital t 2g. Pada
pengisian elektron, orbital t2g akan mengisi lebih dahulu daripada orbital eg.
Perbedaan antara orbital eg dan obital t2g biasanya dinyatakan dengan o atau 10
Dq. Karena pada splitting tidak terjadi kehilangan energi, maka energi orbital eg
menjadi 0,6 o lebih tinggi sedangkan obital t 2g menjadi 0,4 o lebih rendah dari
pada enegi kompleks hipotesis. Besarnya o untuk bermacam-macam kompleks
berkisar antara 30-60kcal/mol. Ao artinya oktahedral, untuk membedakan
dengan t (tetrahedral) yang akan dibahas selanjutnya.
SPLITTING PADA KOMPLEKS TETRAHEDRAL

Dari gambar di atas terlihat bahwa obital t2g lebih dekat kepada ligan-ligan
daripada orbital eg. Garis yang menghubungkan letak ligan dan titik pusat kubus

dengan arah orbital eg membentuk sudut sebesar 54044 sedangkan garis tersebut
dengan arah orbital t2g membentuk sudut 36016. Medan listrik yang terjadi pada
pembentukan kompleks tetrahedral menyebabkan pemisahan orbital d pada ion
pusat. Karena hal ini maka dalam medan tetrahedral, orbital t 2g mendapat
pengaruh yang lebih besar dari ligan, akibatnya energy level orbital t 2g naik dan
orbital eg turun. Perbedaan energi ini biasanya disebut t, artinya yang
harganya lebih kecil dari pada o. Hal ini disebabkan karena, pada medan
tetrahedral hanya ada 4 ligan. Sedanbg pada medan oktahedral ada 6 ligan,
ditambah lagi tidaka adanya ligan yang langsung searah dengan orbital d pada
medan tetrahedral. Bila jarak ligan dai pusat sama dan bila ikatan dianggap
elektrostatik murni, maka diperoleh bahwa : tetrahedral ~ 4/9 octahedral.
Harga 10 dq dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
1. Muatan ion logam
Makin banyak muatan ion,makin besar pula harga 10 Dq nya, karena
makin banyak muatan ion logam maka makin besar pula untuk
menarik ligan lebih dekat. Akibatnya pengaruh ligan makin kuat sehingga
pembelahan orbital makin besar.
2. Jenis Ion pusat
Logam logam yang terletak pada satu periode, harga 10 dqnya tidak
terlalu berbeda. Untuk satu golongan, Semakin kebawah, harganya akan
semakin besar.
3. Ligan
Semakin kuat ligannya, maka 10 Dq juga akan semakin besar. Jika 10 dq
kecil, maka ligannya adalah ligan lemah. Ligan yang kuat dapat
menggantikan ligan yang lebih lemah. Harga 10 Dq dapat memberikan
beberapa informasi mengenai warna kompleks, serta sifat kemagnetan
kompleks. Untuk mengeksitasi elektron dari tingkat dasar ke tingkat yang
lebih atas diperlukan energi. Energi yang diserap memiliki panjang
gelombang tertentu. Sedangkan, warna kompleks yang tampak adalah warna
komplementer yang panjang gelombangnya diserap untuk eksitasi elektron.

PERHITUNGAN CFSE
Crystal field st Hans Bethe abilizationenergy berubah ubah sesuai
dengan struktur dan jenis ion kompleks. Perbedaan energi orbital t2g dan eg Hans
Bethe untuk kompleks tetrahedral -4/9 kali untuk kompleks octahedral orbital t 2g
mempunyai energi 0,27 lebih rendah dari pada kompleks hipotesis, bila
adalah , untuk kompleks tetrahedral : CFSE = (0,27y 0,18x) . y merupakan
jumlah elektron di orbital e dan x merupakan jumlah elektron di orbital t2g.
Pada gambar splitting oktahedral terlihat bahwa orbital t2g mempunyai
energi 0,4 Io dan energi pada orbital eg adalah 0,6 Io sehingga untuk menghitung
CFSE = (0,4 x 0,6 y) Io. Dimana x = jumlah elektron di orbital t2g dan y =
jumlah elektron di orbital eg. Contoh jumlah elektron d = 7, t2g = 5 dan eg = 2.
CFSE = (0,4 x 0,6 y) Io
= (0,4 . 5 0,6 . 2 ) Io
= (2 1,2 ) Io
= 0,8 Io
Jadi dengan kata lain CFSE dapat dihitung dengan rumus umum, yaitu :
CFSE =energi pada t2g.x (energi dari eg .y)
Berikut ini dicantumkan tabel nilai umum CFSE pada kompleks oktahedral,
tetrahedral dan planar segi empat.

DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/216064561/teori-medan-ligan-docx (diakses tanggal
11-11-2014, pukul 1:50).
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_medan_ligan (diakses tanggal 11-11-2014,
pukul 1:41).