Anda di halaman 1dari 9

Pendidikan adalah suatu upaya sosial budaya manusia yang paling tua.

Ketika manusia berkembang, memiliki keturunan dan memiliki keinginan agar


keturunan tersebut memiliki apa yang sudah dimiliki manusia tersebut maka
terjadilah proses komunikasi dan proses pendidikan. Dalam komunikasi tersebut,
segala aspek kehidupan (budaya, sosial, teknologi, kepercayaan, ilmu, cara
berfikir, cara bersikap, cara bertindak, cara berbicara) diwariskan ke keturunan
tersebut. Dengan demikian, keturunan yang dihasilkan tidak saja memiliki
berbagai warisan dari aspek fisik tetapi juga aspek intelektual, emosional, sikap,
nurani, dan ketrampilan. Melalui pendidikan terjadi proses pewarisan dan
orangtua merasa yakin bahwa anaknya dapat melanjutkan kehidupan keluarga,
dan masyarakat yakin bahwa anggota barunya dapat meneruskan keberlangsungan
hidup kelompoknya. Ketika masyarakat tersebut berkembang menjadi bangsa
maka bangsa itu yakin pula bahwa melalui pendidikan generasi keturunan itu
dapat meneruskan kehidupan bangsa.
Pikiran dasar bahwa pendidikan adalah suatu upaya pewarisan masih terus
berkembang dan dianut sampai hari ini. Tentu saja pikiran ini dibungkus dengan
istilah teknis filosofis pendidikan seperti esensialisme, perenialisme (Tanner dan
Tanner, 1980 : 96), dan masih memiki relevansi dan vitalitas untuk bisa
dipertahankan sampai hari ini. Ini adalah suatu keniscayaan karena suatu bangsa
yang hidup pada masa kini harus mengenal apa yang telah dimilikinya di masa
lalu dan memahami apa yang dimilikinya di masa kini. Pewarisan masa lalu
terutama the glorious past menjadi salah satu tujuan pendidikan terlebih-lebih
dalam pendidikan sejarah.
Semakin lama kehidupan di masyarakat semakin kompleks. Masyarakat
berkembang ke arah yang lebih kompleks. Banyak hal baru yang diperlukan
masyarakat dan diperlukan untuk hidup dalam masyarakat tidak lagi seluruhnya
dikuasai oleh sebuah keluarga. Banyak pengetahuan, perilaku, sikap, ketrampilan
baru yang diperlukan masyarakat yang tidak dapat diajar dan dididikkan oleh
ayah, ibu, paman, bibi atau nenek-kakeknya kepada keturunannya. Mereka sudah
tidak lagi mampu mempersiapkan keturunannya untuk berbagai kemampuan yang
diperlukan masyarakat.

Perkembangan Kurikulum

Sementara itu di masyarakat muncul anggota yang memiliki kemampuan di


atas rata-rata anggota masyarakat lainnya. Mereka sangat menonjol dalam
wawasan, pengetahuan, kearifan, dan ketrampilan. Kemampuan mereka
mendapatkan pengakuan dari anggota masyarakat dan apa yang mereka miliki
dianggap berguna dan diperlukan oleh masyarakat. Orang atau kelompok ini
kemudian dijadikan pemimpin di masyarakat dan ada juga yang dijadikan sebagai
pemimpin dalam bidang yang sangat khusus seperti ilmu, ketrampilan, sikap, dan
kemudian disebut dengan guru. Lahirlah lembaga-lembaga pendidikan di
masyarakat dan keluarga mengirimkan keturunan ke lembaga-lembaga tersebut
untuk mendapatkan apa yang diperlukan bagi kehidupan keturunan tersebut di
masa mendatang dari guru-guru tadi.
Terjadi juga perubahan dalam pendidikan. Pendidikan tidak lagi berfungsi
untuk mentransfer apa yang sudah dimiliki masyarakat, proses sosialisasi untuk
dapat hidup di masyarakat, tetapi juga untuk mempersiapkan generasi muda untuk
kehidupan masa kini dan masa yang akan datang. Kehidupan generasi muda di
masyarakat masa mendatang terdiri dari berbagai kualitas yang diperlukan yaitu
suatu pribadi yang baik dan mampu mengembangkan kehidupan dirinya,
keluarganya, masyarakatnya, bangsanya dan bahkan umat manusia. Tentu saja
peran yang diharapkan dari seorang atau sekelompok generasi muda tersebut tidak
semuanya sama tetapi sangat dipengaruhi oleh kedudukan dan peran yang
diperkirakan akan dijabat oleh seseorang atau sekelompok orang tersebut.
Konsekuensinya, terjadi penjenjangan dalam pendidikan dan setiap jenjang itu
pendidikan itu didesain untuk kedudukan tertentu seseorang dalam masyarakat.
Peran yang mungkin dijabatnya adalah sebagai anggota umum masyarakat atau
tokoh khusus di suatu bidang dan jenjang seperti dalam agama, politik, ekonomi,
sosial, budaya, seni, teknologi, ilmu, dan sebagainya.
Kurikulum adalah unsur penting pada setiap lembaga pendidikan. Secara
fisik, kurikulum dapat berbentuk suatu dokumen berisikan berbagai komponen
seperti pikiran tentang pendidikan, tujuan yang akan dicapai oleh kurikulum
tersebut, konten yang dirancang dan harus dikuasai peserta didik untuk menguasai
tujuan, proses yang dirancang untuk menguasai konten, evaluasi yang dirancang

Perkembangan Kurikulum

untuk mengetahui penguasaan kemampuan yang dinyatakan dalam tujuan, serta


komponen lainnya. Secara fisik, kurikulum dapat juga berbentuk proses
pembelajaran yang dilakukan peserta didik dan guru di sekolah sehingga dapat
diamati baik secara langsung mau pun melalui alat perekam tertentu. Secara
hakiki, kurikulum adalah jantung suatu proses pendidikan (Klein, 1996: 18; Oliva,
1997:54 ) berkenaan dengan unsur-unsur fisik yang terlibat dalam proses
pendidikan dan unsur-unsur non fisik seperti proses berfikir, proses penyimpanan
informasi, proses pembentukan sikap, proses internalisasi atau pun proses
pembentukan habit yang hanya dapat diketahui melalui suatu prosedur dan alat
tertentu yang diyakini mewakili konstrak yang dimaksud.
Perjalanan Kurikulum Pendidikan Indonesia
Pendidikan bukan lagi merupakan kata asing, semua golongan secara sosial
dalam masyarakat kita sudah biasa mendengar hal ini. Pendidikan identik dengan
pergi ke sekolah, duduk diam dan diasumsikan sebagai orang-orang pandai yang
mengenyam pendidikan. Namun nyatanya pendidikan tidak sesempit hanya terjadi
ketika kita duduk dibangku sekolah. Pendidikan bahkan sudah dimulai ketika kita
masih dalam janin, yakni saat orangtua kita mengajak bicara, memperdengarkan
musik, dan lain sebagainya.
Namun saat ini kata pendidikan memang semakin tereduksi. Pendidikan
seperti hanya bisa terjadi di bangku sekolah. Saking rumitnya, pendidikan kita
sering menemukan kegalauan dalam system pendidikan waktu lepas waktu.
Adapun Indonesia, pernah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum dalam
system pendidikannya.
Kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia :
1. Kurikulum 1947. Kurikulum ini memuat dua hal pokok :
a. Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya
b. Garis-garis besar pengajaran
2. Kurikulum 1952. Kurikulum ini memuat lima hal pokok :
a. Pendidikan pikiran harus dikurangi

Perkembangan Kurikulum

b.
c.
d.
e.

Isi pelajaran harus dihubungkan dengan kesenian


Pendidikan watak
Pendidikan jasmani, dan
Kewarganegaraan masyarakat

3. Rencana Kurikulum 1964 dan Kurikulum 1964. Bentuknya memuat 5 hal


pokok berikut :
a. Manusia Indonesia berjiwa Pancasila
b. Man Power
c. Kepribadian Kebudayaan Nasional yang luhur
d. Ilmu dan teknologi yang tinggi
e. Pergerakan rakyat dan revolusi
Rencana pendidikan 1964 melahirkan kurikulum 1964 yang menitik
beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral yang
kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana.
4. Kurikulum 1968
Kurikulum ini bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk
membentuk manusia Pancasila sejati, kuat dan sehat jasmani, mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan
beragama.
5. Kurikulum 1975. Ciri-ciri kurikulum ini adalah :
a. Berorientasi pada tujuan
b. Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran
memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuantujuan yang lebih integrative.
c. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu
d. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). System yang senantiasa
mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan
dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Dipengaruhi psikologi
tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon dan latihan.
6. Kurikulum 1984. Ciri umum kurikulum ini adalah :
a. Berorientasi kepada tujuan instruksional.
b. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar
siswa aktif.
Perkembangan Kurikulum

c. Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral.


d. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan.
e. Menggunakan pendekatan keterampilan proses.
7. Kurikulum 1994. Ciri umum kurikulum ini adalah :
a. Sifat kurikulum objective based curriculum
b. Pembagian tahapan pelajaran disekolah dengan system caturwulan
c. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup
padat
d. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu system
kurikulum untuk semua siswa diseluruh Indonesia
e. Dalam pelaksanaan kegiatan,guru menggunakan strategi yang melibatkan
siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik dan sosial
8. Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004. Karakteristik KBK ialah :
a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual
maupun klasikal
b. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode
bervariasi
d. Sumber belajar bukan hanya guru tetapi juga sumber belajar lainnya yang
memenuhi unsur edukatif
e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006
Kurikulum ini memuat bahwa, guru memiliki otoritas dalam mengembangkan
kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan
lingkungan di sekolahnya
10. Kurikulum 2013
Kurikulum ini berbasis pada sains. Kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar
bersifat tematik integrative. Kompetensi yang ingin dicapai adalah kompetensi
yang berimbang antara sikap, keterampilan dan pengetahuan, disamping cara
pembelajarannya yang holistic dan menyenangkan. Proses pembelajaran

Perkembangan Kurikulum

menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik melalui penilaian berbasis test


dan portfolio saling melengkapi.
Alokasi jam pembelajaran dalam kurikulum ini bagi siswa Sekolah Dasar
yakni:
a.
b.
c.
d.

Banyaknya jam pelajaran perminggu kelas 1 = 30 jam


Kelas 2 = 32 jam
Kelas 3 = 34 jam
Kelas 4, 5 ,6 = 36 jam

Alokasi waktu jam pelajaran bagi siswa Sekolah Menengah Pertama :


a. Perjam = 40 menit
b. Banyak jam pelajaran per minggu = 38 jam

Alokasi waktu jam pelajaran bagi siswa Sekolah Menengah Atas :


a. Perjam = 45 menit
b. Banyaknya jam pelajaran perminggu = 39 jam
Masalah-masalah Kurikulum dan Pembelajaran di Indonesia
Begitu banyak masalah-masalah kurikulum dan pembelajaran yang dialami
Indonesia. Masalah-masalah ini turut andil dalam dampaknya terhadap
pembelajaran dan pendidikan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa masalah
kurikulum:
1.

Kurikulum Indonesia Terlalu Kompleks


Jika dibandingkan dengan kurikulum di negara maju, kurikulum yang

dijalankan di Indonesia terlalu kompleks. Hal ini akan berakibat bagi guru dan
siswa. Siswa akan terbebani dengan segudang materi yang harus dikuasainya.
Ssiswa harus berusaha keras untuk memahami dan mengejar materi yang sudah

Perkembangan Kurikulum

ditargetkan. Hal ini akan mengakibatkan siswa tidak akan memahami seluruh
materi yang diajarkan. Siswa akan lebih memilih untuk mempelajari materi dan
hanya memahami sepintas tentang materi tersebut. Dampaknya, pengetahuan
siswa akan sangat terbatas dan siswa kurang mengeluarkan potensinya, daya saing
siswa akan berkurang.
Selain berdampak pada siswa, guru juga akan mendapat dampaknya. Tugas
guru akan semakin menumpuk dan kurang maksimal dalam memberikan
pengajaran. Guru akan terbebani dengan pencapaian target materi yang terlalu
banyak, sekalipun masih banyak siswa yang mengalami kesulitan, guru harus
tetap melanjutkan materi. Hal ini tidak sesuai dengan peran guru.
2.

Seringnya Berganti Nama


Kurikulum di Indonesia sering sekali mengalami perubahan. Namun,

perubahan tersebut hanyalah sebatas perubahan nama semata. Tanpa mengubah


konsep kurikulum, tentulah tidak akan ada dampak positif dari perubahan
kurikulum Indonesia. Bahkan, pengubahan nama kurikulum mampu dijasikan
sebagai lahan bisnis oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.
Pengubahan nama kurikulum tentulah memerlukan dana yang cukup
banyak. Apabila diluhat dari sudut pandang ekonomi, alangkah baiknya jika dana
tersebut digunakan untuk bantuan pendidikan yang lebih berpotensi untuk
kemajuan pendidikan.
3.

Kurang Lengkapnya Sarana dan Prasarana


Berjalannya suatu kurikulum akan sangat bergantung pada sarana dan

prasarana pendidikan yang dimiliki. Sementara, apabila kita terjun langsung ke


tempat, maka akan kita dapati masih banyaknya sekolah yang masih belum
memiliki sarana yang lengkap.
Sarana prasarana tersebut seperti laboratorium, perpustakaan, komputer, dan
lain-lain. Mungkin sekolah-sekolah di perkotaan sudah banyak yang memiliki
sarana dan prasarana tersebut. Namun bagaimana dengan sekolah yang ada di
pedesaan dan daerah-daerah terpencil? Masih jarang sekali kita temui sekolah di
daerah terpencil yang memiliki sarana seadanya.
Perkembangan Kurikulum

4.

Kurangnya Pemerataan Pendidikan


Meninjau mengenai sarana dan prasarana, hal ini berkatan dengan

kurangnya pemerataan yang dilakukan Mendiknas. Selain itu, pemerataan


pendidikan juga ditinjau dari segi Satuan Tingkat Pendidikannya. Hal ini
berkaitan dengan materi yang diajarkan di sekolah pada Tingkat Satuan
Pendidikan tertentu.
Pada tingkat Sekoalh Dasar, siswa diajarkan seluruh konsep dasar seperti
membaca, menulis, menghitung dan menggambar. Pada tingkat ini siswa
cenderung hanya diajarkan saja, tida mengena pada pemaknaanya. Pada tingkat
Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, pelajaran yang diajukan
cenderung hanya berkonsep pada tujuan agar anak mampu mengerjakan soal
bukan konsep agar siswa mampu memahami soal.

5.

Kurangnya Partisipasi Siswa


Siswa kurang mampu mengeluarkan potensi dan bakatnya. Hal ini karena

siswa cenderung pada ketakutan akan guru karena pengenalan selintas materi
tanpa berusaka mengembangkan materi (pasif). Siswa hanya terpaku pada materi
yang diajarkan oleh guru tanpa adanya rasa ingin berusaha untuk mengembangkan
potensinya.
Solusi yang dapat diberikan terkait dengan perkembangan kurikulum
Dari masalah-masalah yang telah diuraikan sebelumnya, tentu akan ada
solusi yang mampu untuk memecahkannya. Berikut ini adalah beberapa solusi
yang dapat dilakukan :
1. Mengubah paradigma dari pengajaran yang berbasis sistetik-materialistik menjadi
religius. Solusi ini menunjukan akan berkurangnya kemerosotan moral.
Dimana tidak akan ada lagi siswa cirdas yang tidak bermoral.
2. Mengubah konsep awal paradigma kurikulum menjadi alur yang benar untuk
mencapai suatu tujuan yang sebenarnya.

Perkembangan Kurikulum

3. Melakukan pemerataan pendidikan melalui pemerataan sarana dan prasarana ke


sekolah terpencil, sehingga tidak akan ada lagi siswa di daerah terpencil
yang terbelakang pendidikan.
4. Melakukan pengajaran bermakna, dimana guru tidak hanya mengajarkan materi,
tetapi juga memberikan pemaknaan mengenai materi tersebut. Hal ini juga
harus berkaitan dengan kemampuan siswa.
5. Memberikan motivasi kepada siswa yang berprestasi agar mampu
mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya.
6. Menjalankan kurikulum dengan sebaik mungkin.
7. Membersihkan organ-organ kurikulum darin oknum-oknum tak bertanggung
jawab.

Kesimpulan
Indonesia mengalami kemerosotan di bidang pendidikan. Jika dibandingkan
dengan negara lain, Indonesia menduduki peringkat di bawah negara-negara di
Asia. Hal ini sangat berkatan dengan masalah-masalah kurikulum yang dihadapi
Indonesia. Masalah kurikulum di Indonesia dapat diselesaikan tidak cukup
dengan mengganti namanya saja, melainkan harus melakukan perombakan secara
menyeluruh dari kurikulum.
Masalah kurikulum juga terletak dari sarana dan prasarana yang kurang
merata. Selain itu, kurikulum Indonesia yang terlalu kompleks dan membebani
siswa beserta guru yang berkaitan menjadikan kurang maksimalnya
pembelajaran.

Perkembangan Kurikulum