Anda di halaman 1dari 14

takan dunia politik yang mana solidaritas dan aksi sosial perlu dibicarakan terlebih dahulu

dengan lembaga donor internasional dan struktur aparatus negara.

DOENIA BAROE

Bukan kebetulan kalau LSM menjadi dominan dan tumbuh subur di beberapa negara
di mana aksi perjuangan kelasnya sedang menurun dan rejim neo liberal sedang melaju dengan kencangnya. Jelasnya laju pertumbuhan sejumlah LSM ditentukan oleh
meningkatnya pendanaan dari luar negeri yaitu rejim neo-liberal dan meningkatnya
angka kemiskinan di sebuah negara. Di sisi lain gerakan kiri revolusioner sedang mengalami kemunduran di mana banyak para gerilyawan dan aktifis kiri revolusioner, aktifis
buruh, organisasi wanita rakyat telah dikooptasi oleh LSM. Mereka telah ditawari gaji
yang tinggi, kedudukan dan jaminan dari lembaga donor internasional dan undangan di
konferensi interansional dan jaminan tidak akan ditangkap dan disiksa oleh militer. Hal
itu berbanding terbalik dengan gerakan sosial politik yang hanya mendapatkan sejumlah
kecil keutungan material tapi mendapatkan respek yang besar dan idenpendensi serta
yang lebih penting adalah kemerdekaan, kebebasan untuk menentang sistem ekonomi
dan politik neo liberal. LSM dan bank-bank multinasional pendukung mereka sering
mempublikasikan newsleter yang menceritakan tentang kesuksesan dari koperasi usaha
kecil dan konsep kemandirian mereka, tanpa mereka menyebutkan tingginya suku bunga,
rendahnya daya konsumsi masyarakat serta impor yang membanjiri pasar dalam negeri,
seperti kasus Mexico saat ini.
Mungkin kesuksesan mereka benar-benar nyata, tapi itu hanya berlaku bagi sebagian kecil kelompok orang miskin. Meningkatnya angka kejahatan dan kekerasan di daerah-daerah kerja mereka merupakan indikasi bahwa LSM belum berhasil meng-gantikan gerakan
sosial politik yang independen.
Akhir kata, LSM merupakan bentuk baru dari penjajahan di bidang ekonomi dan kultural
serta ketergantungan gaya baru. Proyek-proyek mereka didesain atau paling tidak ditentukan secara garis besar oleh lembaga donor internasional mereka. Mereka diurus dan
dijaga oleh lembaga donor mereka dan dijual kepada rakyat. Evaluasi kerja mereka juga
dilakukan oleh lembaga donor tersebut.
Ketika sudah jelas bahwa LSM adalah instrumen dari rejim neo-liberal, masih ada sekelompok kecil orang yang mencoba memberikan alternatif yaitu perjuangan kelas dan
politik anti imperialisme. Tidak ada satupun dari mereka yang menerima dana bantuan dari funding agency, dari pemerintah Amerika, Eropa maupun Bank Dunia. Mereka
beru-saha menghubungkan kekuatan lokal ke arah perjuangan kelas melawan kekuasaan
ne-gara. Mereka memberikan solidaritas politik kepada gerakan sosial yang terlibat
dalam perjuangan kelas di berbagai sektor. Mereka mendukung perjuangan kaum wanita
me-menangkan prespektif kelas. Mereka percaya bahwa organisasi lokal harus dibawa ke
arah perjuangan nasional dan kepemimpinan nasional harus dibisa diterima oleh aktivis
di tingkat bawah.***
DITERBITKAN OLEH KOLEKTIF ORGANISER DAN PROPAGANDA RAKYAT

[ BACAAN UNTUK ORGANISER ]

Sisi Lain Che Guevara :


Dokter Peletak Dasar Sistim
Kesehatan Rakyat di Kuba

erbagai indikator kesehatan di Kuba, sama atau lebih tinggi dari AS. Harapan
hidup di Kuba rata-rata 77 tahun, hanya setahun lebih rendah dari harapan
hidup orang AS. Tahun 2007, angka kematian bayi di Kuba 5,3 per seribu
kelahiran, lebih rendah dari angka kematian bayi di AS yang 6,37 per seribu
kelahiran. Ada 6,5 orang dokter per seribu orang penduduk di Kuba, dibandingkan dengan 2,4 orang dokter per seribu orang penduduk di AS.
Digambarkan dengan cara lain, di Kuba tersedia seorang dokter bagi 155 orang penduduk, sedangkan di AS, tersedia seorang dokter bagi 417 orang penduduk (Hughes
2007; Brouwer 2009). Hebatnya lagi, tingkat kesehatan masyarakat begitu tinggi di Kuba,
dicapai dengan pelayanan kesehatan (health care) yang hanya 250 dollar AS per kapita,
dibandingkan dengan 6000 dollar per kapita di AS, dan sekitar 3000 dollar per kapita di
kebanyakan negara kaya (Hughes 2007).Ironisnya, ketika topan Katrina memporakporandakan sejumlah negara bagian AS, dokter-dokter Kuba spontan datang membantu kor-

ban-korban topan itu. Walaupun rezim George Bush masih mempertahankan embargo
ekonomi terhadap Kuba, mereka diminta memperpanjang masa pengabdiannya di AS.
Padahal, Kuba sendiri belum lama sebelumnya dihantam topan yang menghancurkan
juta rumah dan jaringan listrik, namun hanya tujuh orang dari 10 juta penduduk yang
meninggal. Bukti kecanggihan Kuba dalam siaga bencana menghadapi topan di seputar
Laut Karibia sudah juga dibuktikan brigade-brigade medis Kuba, waktu topan George dan
Mitch menghantam Haiti, Honduras, dan Guatemala (Brouwer 2009; www.oxfamblogs.
org/fp2/?p=102, diakses 3 Mei 2009). .. tingkat kesehatan Kuba tidak akan setinggi itu,
seandainya seorang dokter tidak ikut memimpin Revolusi 1959, untuk mengubah Kuba
dari negara kapitalis yang rasis, yang dibangun dari produsen tebu yang mengandalkan
buruh keturunan budak dari Afrika, menjadi sebuah negara sosialis.
Orang itu adalah Che Guevara.Dipetik dari makalah George Aditjondro untuk Kongres
Nasional I Hukum Kesehatan di Jakarta, 27-29 Mei 2009 KESEHATAN, DEMOKRASI & HAKHAK EKOSOSBUD: BELAJAR DARI RINTISAN DOKTER CHESelengkapnyaMakalah untuk
Kongres Nasional I Hukum Kesehatan di Jakarta, 27-29 Mei 2009.

KESEHATAN, DEMOKRASI & HAK-HAK EKOSOSBUD :


BELAJAR DARI RINTISAN DOKTER CHE
If were going to have a successful democratic society, we have to have a well educated
and healthy citizenryThomas JeffersonA few months ago, here in Havana, it happened
that a group of newly graduated doctors did not want to go into the countrys rural
areasand demanded remuneration before they would agree to go ...But what would have
happened if instead of these boys, whose families generally were able to pay for their
years of study, others of less fortunate means had just finished their schooling and were
beginning the exercise of their profession?
What would have occurred if two or three hundred campesinos had emerged, let us say
by magic, from the university halls?What would have happend, simply, is that the campesionos would have run, immediately and with unreserved enthusiasm, to help their
brothers ... What would have happend is what will happen in six of seven years, when the
new students, childre of workers and campesinos, receive professional degrees of all kindsIf we medical workers and permit me to use once again a title which I had forgotten
some time ago are successful, if we use this new weapon of solidarity ....Che Guevara,
On Revolutionary Medicine, Havana, 19 Agustus 1960 (dalam Brouwer 2009)
PENGANTAR
Apa hubungan antara kesehatan dengan demokrasi dan penegakan hak-hak ekososbud
(ekonomi, sosial, dan budaya)? Sedikitnya, ada empat prinsip yang dapat ditarik dari
relasi di antara ketiga hal itu. Pertama, menurut Thomas Jefferson, penulis Deklarasi
Kemerdekaan AS, masyarakat yang demokratis memerlukan masyarakat yang sehat dan
terdidik (www.righttohealthcare.org/Democracy.htm, diakses 3 Mei 2009).

rendah dan bukan untuk perjuangan yang memberi mereka kesempatan mengontrol
basis produksi dan kekayaan. Mereka hanya memfokuskan pada bantuan finansial secara
teknis kepada orang miskin dan tidak melihat permasalahannya secara struktural dan
mereka tidak mampu memberikan perubahan yang berarti bagi kehidupan rakyat miskin
yang menjadi obyek mereka. LSM mencuri terminologi kaum kiri revolusioner yaitu people power, pemberdayaan, persamaan hak (gender equality), dan arus bawah (bottom
up leadership). Mereka telah mencuri istilah-istilah dan memakainya dalam kerangka
kolaborasi dengan negara donor dan lembaga pemerintah yang telah mensubordinasi mereka. Mereka selalu mengatakan bahwa semangat kegiatan dan aktifitas mereka
adalah pemberdayaan yang tidak
pernah mampu
memberdayakan
sekelompok
kecil masyarakat
di lingkungan
tertentu dengan
sejumlah dana
dan tenaga yang
terbatas.
LSM dan para
manajer post Marxis
mereka tenggelam
dalam persaingan
antar mereka sendiri untuk
melakukan aktifitas sosial politik
yang bertujuan
untuk memberikan
pengaruh di antara
kaum miskin, wanita
dan kaum kulit
berwarna. Ideologi
mereka jauh dari
sumber masalah
dan jalan keluar
dari kemiskinan
yang menjadi
obyek penelitian
mereka. Mereka
selalu mendengung-dengungkan
usaha-usaha kecil
( micro enterprises) sebagai jalan keluar, tanpa memperhitungkan eksploitasi oleh Bank
Dunia. Di sisi lain, bantuan mereka juga menciptakan masalah di tengah masyrakat yang
terbuai dengan bantuan-bantuan dan janji -janji muluk LSM, muncul persaingan di antara
masyarakat juga untuk mencari simpati dari LSM dan melupakan solidaritas kelas di
antara mereka sendiri. Hal yang sama juga terjadi dikalangan LSM dimana masing-masing
kelompok berlomba-lomba untuk mendirikan LSM untuk mendapatkan dana dari luar
negri. Ketika pada suatu saat proyek-proyek LSM ini menyurut karena mereka kehabisan
ide atau ma salah internal lainnya, para lembaga donor justru mengalihkan pendanaan
mereka kepada LSM yang jelas-jelas bekerja sama dengan pemerintah, dan mendesakkan
kebijakan neo liberal dijalankan melalui LSM tersebut.
Strategi Pemilu yang menjadi senjata utama kaum post marxis justru memberikan peluang kepada partai politik yang disponsori oleh kaum neo-liberal dan media massa borjuis.
Pendidikan politik tentang imperialisme dan hubungan kelas antara pemilik modal dan
buruh sama sekali tidak menjadi agenda mereka. Mereka mengkooptasikan kaum miskin
kepada agenda neo liberal dengan menekankan konsep kemandirian, mereka mencip-

ingan umum, dan mengkooptasi para pemimpin yang ber-potensi dari proyek-proyek
mereka. LSM tidak pernah turun membela para guru yang melawan kebijakan neo liberal
yang memangkas anggaran pendidikan. Bisa dihitung dengan jari berapa kali LSM mendukung pemogokan buruh dan protes menentang upah rendah dan pemotongan anggaran untuk sektor publik. Karena anggaran pendidikan mereka didanai oleh pemerintahan
neo liberal, mereka menolak memberikan solidaritas kepada para tenaga pendidik yang
berjuang melawan pemerintah.
Pada prakteknya, LSM atau ornop adalah organisasi yang pro pemerintah. Mereka
menerima anggaran dari pemerintah asing, dan bekerja sebagai sub-kontraktor bagi
pemerintahan mereka sendiri. Sering sekali mereka bekerja sama dengan lembaga pemerintahan di dalam negeri maupun luar negri . Sub-kontrak yang mereka lakukan telah
mengubah mereka menjadi sekelompok profesional yang pro bisnis. LSM tidak mampu
memberikan program komprehensif untuk jangka waktu panjang seperti yang disediakan
oleh negara kesejahteraan, hasil nyata yang dapat mereka berikan hanyalah pelayanan
kepada sekolompok kecil orang di daerah tertentu saja. Yang terpenting program mereka
dianggap layak jual bagi lembaga donor internasional, tidak penting nilainya di mata masyarakat yang mereka jadikan obyek. Dalam kasus ini LSM telah menghancurkan nilai-nilai
demokrasi dengan mengambil alih semua program sosial ke tangan mereka dari rakyat
dan mereka memilih pegawai dan pengurus yayasan tanpa melibatkan massa rakyat yang
mereka jadikan obyek, jadi mereka mengangkat sekelompok orang yang tergantung pada
kebijakan lembaga donor internasional.
LSM mengalihkan perhatian rakyat dari perjuangan melawan anggaran pendapat-an dan
belanja nasional demi melanggengkan anggaran yang disediakan untuk mereka. Sikap
ini telah memberikan ruang gerak bagi kaum neo liberal untuk memotong anggaran
subsidi sektor publik dan mengalihkannya untuk membayar hutang bank-bank besar
maupun hutang para eksportir. Para kaum miskin membayar pajak kepada negara dan
tidak memperoleh apa-apa, kelas buruh harus bekerja lembur tanpa dibayar, mereka
menjadi obyek penelitian bagi LSM dan tidak pernah dibela oleh LSM. Ideologi kaum
LSM adalah aktifitas sukarela untuk kepentingan sendiri (private voluntary acitivity),
ideologi ini seakan-akan mengingkari peran pemerintah yang mempunyai kewajiban
untuk memelihara warga negara dan memberikan jaminan hidup yang layak, kebebasan
dan jaminan atas kebahagian mereka. Yang dikampanyekan oleh kaum LSM adalah ide
kaum neo liberal bahwa tanggung jawab pribadi untuk memecahkan masalah sosial dan
penting nya kemampuan masing masing pribadi untuk memecahkan masalah sosial. Jadi
mereka melipat gandakan penindasan pada kaum miskin, sudah dipaksa membayar pajak
untuk membiayai proyek rejim neo liberal yang mana pajak itu hanya dipakai melayani
kepentingan si kaya, disuruh pula memenuhi sendiri kebutuhan dasarnya sebagai warga
negara.
LSM DAN GERAKAN SOSIAL POLITIK
LSM menekankan pada proyek-proyek yang tidak berorientasi aksi dan masuk dalam
konteks gerakan masssa. Mereka hanya memobilisasi orang-orang pada tingkatan paling

Dengan demikian, urusan kesehatan bukan hanya urusan praktisi kesehatan (dokter,
paramedis, laboran, apoteker), tapi urusan semua penentu alokasi anggaran maupun
tunjangan kesehatan. Kedua, makin tinggi perhatian Negara serta segenap penyedia
lapangan kerja bagi kesehatan para warga, pegawai, serdadu, polisi, dan buruh, hak-hak
ekososbud para insan itu, khususnya Pasal 11, akan makin terpenuhi. Ketiga, sejak diratifikasi melalui UU No. 11/2005, pemerintah dan rakyat Indonesia wajib mengusahakan segala cara agar hak-hak ekososbud yang digariskan dalam Kovenan Internasional Hak-Hak
Ekososbud 1966 dapat diwujudkan. Keempat, makin demokratis sebuah Negara, makin
besar kemungkinan Negara itu memperhatikan kesehatan warganya, sebagai perwujudan
dari hak-hak ekososbud warganya.
DEMOKRASI a la AS, ATAU DEMOKRASI a la KUBA?
Pertanyaannya sekarang: demokrasi macam mana yang paling menjamin tingginya peningkatan kesehatan masyarakat sebuah negara? Demokrasi liberal a la AS, yang sering
dijadikan model bagi Indonesia? Ataukah demokrasi sentralistis a la Kuba, negara miskin
yang sudah 40 tahun dihantam embargo perdagangan AS, kemudian kehilangan bantuan Uni Soviet setelah negara itu bubar? Berbagai indikator kesehatan di Kuba, sama
atau lebih tinggi dari AS. Harapan hidup di Kuba rata-rata 77 tahun, hanya setahun lebih
rendah dari harapan hidup orang AS. Tahun 2007, angka kematian bayi di Kuba 5,3 per
seribu kelahiran, lebih rendah dari angka kematian bayi di AS yang 6,37 per seribu kelahiran. Ada 6,5 orang dokter per seribu orang penduduk di Kuba, dibandingkan dengan 2,4
orang dokter per seribu orang penduduk di AS.
Digambarkan dengan cara lain, di Kuba tersedia seorang dokter bagi 155 orang penduduk, sedangkan di AS, tersedia seorang dokter bagi 417 orang penduduk (Hughes
2007; Brouwer 2009). Hebatnya lagi, tingkat kesehatan masyarakat begitu tinggi di Kuba,
dicapai dengan pelayanan kesehatan (health care) yang hanya 250 dollar AS per kapita,
dibandingkan dengan 6000 dollar per kapita di AS, dan sekitar 3000 dollar per kapita di
kebanyakan negara kaya (Hughes 2007).Ironisnya, ketika topan Katrina memporakporandakan sejumlah negara bagian AS, dokter-dokter Kuba spontan datang membantu korban-korban topan itu. Walaupun rezim George Bush masih mempertahankan embargo
ekonomi terhadap Kuba, mereka diminta memperpanjang masa pengabdiannya di AS.
Padahal, Kuba sendiri belum lama sebelumnya dihantam topan yang menghancurkan
juta rumah dan jaringan listrik, namun hanya tujuh orang dari 10 juta penduduk yang
meninggal. Bukti kecanggihan Kuba dalam siaga bencana menghadapi topan di seputar
Laut Karibia sudah juga dibuktikan brigade-brigade medis Kuba, waktu topan George dan
Mitch menghantam Haiti, Honduras, dan Guatemala (Brouwer 2009; www.oxfamblogs.
org/fp2/?p=102, diakses 3 Mei 2009).
Dari fakta-fakta di atas ternyata kita perlu sedikit hati-hati dengan label demokrasi,
apalagi kalau suatu rezim hanya disebut demokratis apabila secara periodik menyelenggarakan pemilu multi-partai, seperti Indonesia pasca-Soeharto. Sebab pemerintahan oleh rakyat, sebagaimana makna demokrasi menurut bahasa Yunani, yakni demos =
rakyat, dan kratos = memerintah (Elliott 1969: 120), tidak otomatis berarti, seluruh rakyat

ikut memerintah. Demokrasi dengan sistem multi-partai yang bergantian memerintah,


sering dikuasai partai-partai besar yang elitnya berasal dari lapisan atas, sehingga pemerintah pada hakekatnya hanya mewakili kepentingan kelas atas.
Makanya demokrasi liberal sering juga disebut demokrasi borjuis. Demokrasi ini, seperti kata Marx, berakhir di gerbang pabrik (Giddens 1993: 499). Sebab buruh, sebagai
warganegara, boleh memilih partai yang akan menguasai Negara, tapi begitu masuk kerja
di pabrik, buruh harus tunduk kepada manajemen, yang mewakili kepentingan pemilik
pabrik.
Sebagai anti-tesis dari demokrasi liberal atau demokrasi borjuis, kebanyakan rezim sosialis hanya mengizinkan kehadiran satu partai saja. Kebebasan berpendapat dan berserikat
tetap boleh diwujudkan, tapi di bawah payung partai tunggal itu, di mana kepentingan
berbagai segmen masyarakat seperti buruh, tani, nelayan, pedagang kecil tetap
terwakili. Begitu pula kelompok-kelompok minoritas etno- rasial. Makanya, demokrasi
dengan sistem partai tunggal disebut demokrasi sosialis atau sentralisme demokratis
(Wilczynski 1981: 139-40).
Di Kuba, misalnya, berbagai ormas seperti Central de Trabajadores de Cuba (CTC, konfederasi buruh Kuba), Federacion de Mujeres Cubanas (FMC, federasi perempuan Kuba),
serta Associacion Nacional de Agricultores Pequenos (ANAP, himpunan nasional petani
kecil), berjuang untuk menghapus diskriminasi terhadap penduduk keturunan Afrika
(Serviat 1993: 89). Penghapusan diskriminasi rasial disusul dengan penghapusan diskriminasi gender. Federasi Perempuan Kuba, misalnya, berhasil mendesak parlemen Kuba
mengeluarkan UU Keluarga (Family Code) pada Hari Perempuan Sedunia, 8 Maret 1973,
yang menghapus beban ganda perempuan yang menikah atau hidup bersama seorang
laki-laki. Kalau sebelumnya perempuan yang bekerja di pabrik atau kantor, sepulang ke
rumah tetap harus bekerja melayani pasangannya, Family Code 1973 menentukan bahwa
semua pekerjaan domestik harus dibagi secara adil antara laki-laki dan perempuan (Wald
1978: 29, 36, 254-7).
BERKAT KEPELOPORAN DOKTER Che
Kendati demikian, tingkat kesehatan Kuba tidak akan setinggi itu, seandainya seorang
dokter tidak ikut memimpin Revolusi 1959, untuk mengubah Kuba dari negara kapitalis yang rasis, yang dibangun dari produsen tebu yang mengandalkan buruh keturunan
budak dari Afrika, menjadi sebuah negara sosialis. Orang itu adalah Che Guevara.Ernesto
Guevara de la Serna, yang lebih populer dengan panggilan Che, lebih dikenal sebagai
gerilyawan yang gugur di tangan serdadu Bolivia atas perintah Presiden AS, Lyndon B.
Johnson, 9 Oktober 1967 (Ruiz 2004: 182).
Namun orang sering lupa bahwa ia seorang dokter. Lahir di Rosario, Argentina, 14 Juni
1928, dari ayah keturunan Irlandia dan ibu keturunan Spanyol, pada masa kanak-kanak,
ia terserang asma bronkitis. Barangkali, pengalaman pribadi bergumul dengan asma
sampai dewasa, mendorong ia masuk FK Universitas Buenos Aires, dengan spesialisasi
penyakit kulit atau dermatologi (Guevara 2007: 109). Sebelum lulus, ia mengajak kawannya, Alberto Granados, ahli farmasi dan bio-kimia, berboncengan motor keliling Argenti-

Ketika semakin banyak orang yang menentang kebijakan neo liberal di awal tahun 80-an,
Amerika Serikat dan Eropa serta Bank Dunia justru meningkatkan bantuan dana yang
diberikan kepada LSM. Jadi ada hubungan antara bangkitnya gerakan anti neo-liberalisme dan usaha untuk menghacurkan itu dengan cara menciptakan bentuk aksi sosial
yang baru melalui LSM -LSM yang menjamur seperti di musim hujan. Dasar utama
kerjasama di antara LSM dan Bank Dunia adalah mereka mempunyai musuh yang sama
yakni konsep peran negara (statism). Kalau kaum Post Marxis mengkritik peran negara
dari perspektif bahwa yang penting adalah membangun masyarakat sipil (civil society),
sementara itu dari sayap kanan serangan dilancarkan atas nama kepentingan pasar (market). Pada kenyataannya, Bank Dunia, rejim neo-liberal dan lembaga donor internasional
justru mengkooptasi dan mendorong LSM untuk melupakan konsep negara kesejahteraan (welfare state) dengan menyalurkan jasa pelayanan sosial bagi kompen-sasi korban
dari perusahaan multinasional. Dengan kata lain, rejim neo-liberal pada tingkatan atas
(pusat) bekerja untuk menghancurkan masyarakat dengan membanjiri negara dunia
ketiga dengan impor mereka, hutang luar negeri ataupun kredit lunak dan menghapuskan kebijakan perburuhan yang demokratis, menciptakan jumlah tenaga kerja murah
dan pengangguran. Di sisi lain LSM didorong untuk memberikan pendidikan dan training,
proyek berdikari dan kemandirian, mengkooptasi pemimpin lokal dan meng-hancurkan
perjuangan kelas.
LSM telah menjadi bagian dari masyarakat neo liberal, dan jelas berhubungan dengan
para petinggi neo-liberal dan mempersenjatai dirinya dengan kerja mereka yang destruktif di tingkatan bawah. Jelasnya, neo liberal mempunyai senjata berupa pisau bermata
dua. Sayangnya, kebanyakan kaum kiri revolusioner hanya memfokuskan pada kaum neo
liberal yang muncul dari atas dan luar negeri yaitu IMF dan Bank Dunia dan banyak kaum
revolusioner yang melupakan neo liberalisme dari dalam dan dari bawah seperti LSM dan
koperasi pengusaha kecil. Kegagalan mereka melihat ini adalah karena banyaknya bekas
Marxis yang masuk ke LSM dan terjun di LSM. Post Marxis adalah ideologi, sementara
community development sebagai tiket dari politik kelas menuju pengembangan komunitas , dari Marxis ke LSM.
Ketika neo liberalisme berusaha memindahkan atau mengalihkan badan usaha milik negara dan asset negara ke tangan swasta asing, LSM tidak pernah terlibat dalam perjuangan
buruh melawan kebijakan ini, ataupun mencoba mengkritik. Sebaliknya mereka aktif
di proyek proyek swasta kecil, mempromosikan usaha wiraswasta di tingkatan daerah
dengan memfokuskan pada usaha koperasi kecil. LSM berusaha membangun jembatan
penghubung antara kapitalis kecil dengan pengusaha besar yang memonopoli proses
swastanisasi asset nasional dan asset publik, semuanya diatas namakan kepentingan
masyarakat sipil dan mengurangi peran negara. Ketika kaum kapitalis menumpuk modalnya serta membangun kerajaan bisnis mereka melalui proses swastanisasi , kelompok
LSM pun kebagian keuntungan dengan mendapatkan sedikit bagian dari keuntungan itu
untuk membiayai kantor mereka, uang transport, kompu-terisasi, seminar-seminar dan
usaha kecil-kecilan. Hal yang paling penting untuk dicatat adalah peran LSM dalam mendepolitisasi sektor rakyat, menghancurkan peran pegawai negeri yang melayani kepent-

dengan Uni Soviet. Delapan tahun sejak runtuhnya Uni Soviet, perekonomian Amerika
Latin telah kembali seperti saat mereka masih dijajah ratusan tahun yang lalu.
Perjuangan anti imperialisme dewasa ini perlu melibatkan rekonstruksi tentang konsep
bangsa, pasar domestik, dan produksi ekonomis dan hubungan kelas buruh dengan produksi sosial dan konsumsi.
DUA PERSPEKTIF PERUBAHAN SOSIAL: ORGANISASI KELAS DAN LSM
Untuk meningkatkan mutu perjuangan anti imperialisme dan perjuangan melawan komprador baru dari dalam negeri, kita harus melampaui perdebatan ideologis dan kultural
dalam tubuh kaum post Marxis sendiri dan juga gerakan rakyat.
Dewasa ini neo-liberalisme beroperasi di dua lini yaitu ekonomi dan budaya politik, dan
neo-liberalisme juga beroperasi di dua level yaitu tingkatan rejim dan tingkatan rakyat
kelas bawah. Pada tingkatan atas neo-liberalisme, kebijakan neo-liberal dikemas dan diterapkan melalui agen-agen yang sudah mapan seperti Bank Dunia, IMF dengan bekerja
sama dengan pemerintahan di Washington, Bonn dan Tokyo dan mengikut- sertakan
rejim-rejim neo-liberal dan para eksportir besar, konglomerat besar dan bankir bankir
ternama.
Pada awal tahun 80-an, beberapa pihak rejim neo-liberal mulai menyadari bahwa kebijakan mereka telah menciptakan polarisasi di kalangan massa dan menciptakan keresahan sosial yang berkepanjangan. Rejim neo-liberal pun mulai membiayai dan mempromosikan strategi paralel yang berasal dari arus bawah, promosi organisasi grass root, dan
organisasi dengan ideologi anti State (negara) serta organisasi ini dipakai untuk masuk
ke daerah-daerah potensial konflik, dengan tujuan menciptakan sosok malaikat penyelamat. Jelas bahwa organisasi tersebut sangat tergantung pada sumber dana dari rejim
neo-liberal dan akan terlibat secara langsung dalam persaingan dengan gerakan sosio
politik lainnya untuk merebut kepemimpinan di tingkatan massa dan aktivis lokal. Pada
akhir tahun 1990-an organisasi seperti ini digambarkan sebagai ornop (organisasi non
pemerintah), berjumlah ribuan dan menerima uang sekitar 4 milyar dollar AS dari berbagai penjuru dunia.
Banyak orang yang bingung untuk memahami karakter NGO/LSM. Untuk memahami ini
kita harus melihat ke belakang dari sejarah mereka di tahun 70-an ketika pemerintahan
otoriter masih bercokol dengan kuat. Pada masa kediktatoran mereka sibuk memberikan
bantuan kemanusiaan untuk menolong korban penindasan rejim militer dan mengecam
pelanggaran hak asasi manusia. Pada masa ini LSM masih dipandang sebagai mitra bagi
kekuatan kiri revolusioner, bahkan LSM pun dikategorikan sebagai kelompok progresif.
Dalam tahap berikutnya mulai kelihatan batasan-batasan yang dimiliki oleh LSM, ketika
mereka mengecam pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh rejim otoriter
waktu itu, mereka seakan- akan melupakan pelanggaran hak asasi patron mereka yaitu
Amerika dan Uni Eropa yang telah berjasa memberikan uang kepada mereka. Jadi dengan kata lain, kekuatan asing yang mendanai mereka telah membatasi ruang gerak kritik
dan aksi mereka untuk membela hak asasi manusia.

na, Chile, Peru, Kolombia, dan Venezuela.


Di masa itulah ia berkenalan dengan penduduk asli Peru keturunan bangsa Inca, dan
marah melihat mereka diperlakukan dengan kejam oleh investor asing. Ia juga marah
melihat perlakuan terhadap para penderita di koloni lepra San Pablo (Peru) di tepi Sungai
Amazon, sebelum kembali ke Buenos Aires untuk menyelesaikan kuliahnya pada tahun
1953 (Ruiz 2004: 177-8; Guevara 2005: 13; Guevara 2007: 109).
Segera setelah lulus, ia pindah ke Guatemala, mendukung perjuangan petani bangsa
Maya merebut ribuan hektar tanah mereka yang dikuasai United Fruit Company (UFCo),
yang berbasis di Boston, AS. Perjuangan reforma agraria yang didukung Presiden terpilih,
Jacobo Arbenz Guzman, membangkitkan amarah John Foster Dulles, pemegang saham
dan pengacara perkebunan pisang itu yang juga Menlu AS.
Bersama saudara kandungnya, Allen Dulles, Kepala CIA dan Presiden UFCo waktu itu,
John Foster Dulles menyiapkan dan membiayai pasukan bayaran yang menggulingkan Arbenz di bulan Juni 1954. Arbenz digantikan oleh junta militer yang diketuai Carlos Castillo
Armas, yang dilantik sebagai presiden Guatemala tanggal 8 Juli 1954. Junta militer proAS itu bertahan hingga tahun 1990an, dengan korban 200 ribuan jiwa (Gonzalez 1974:
115; Wald 1978: 265; Swift & DEC 1977: 64-7; Ruiz 2004: 178-9; Guevara 2005: 9; Sierra
n.d.; The Social Medicine Journal, Nov. 2004).
Che, yang di tahun 1953 bergabung dalam pemerintahan Arbenz, berhasil lolos ke Mexico, berkat bantuan Kedubes Argentina. Sebelumnya, ia mempersunting Hilda Gadea
Acosta, seorang gadis Peru yang bekerja Albenz, dan memperoleh seorang anak perempuan, Hildita (Guevara 2005: 9; Sierra n.d.).
Sambil bekerja di klinik alergi RS Nasional Mexico, Che berkenalan dengan Raul dan Fidel
Castro, yang sedang menyiapkan invasi kembali ke Kuba, untuk membebaskan negeri
mereka dari kediktatoran Batista. Meskipun mengidap asma kronis, Che diterima sebagai dokter pasukan. Selama bergerilya di Sierra (Pegunungan) Maestra, Che melatih
para gerilyawan soal-soal persenjataan, jahit-menjahit, serta pembuatan sepatu, roti,
dendeng, rokok, dan cerutu. Tahun 1958, ia memimpin operasi perebutan Santa Klara,
Kuba Tengah, yang menentukan kemenangan terhadap pasukan diktator Batista. Melihat
kemampuannya yang serba bisa, Castro mula-mula mengangkat Che menjadi Gubernur
Bank Nasional, kemudian Menteri Perindustrian (Ruiz 2004: 180; Peterlinz 2004: 163-4;
Guevara 2005: 9; Sierra n.d.).
Selama bergerilya di Sierra Maestra, Che berkenalan dengan seorang gadis Kuba, Aleida March de la Torre, yang dinikahinya di Havana tahun 1959, dan memperoleh empat
orang anak: Aleida Jr, Camilo, Celia dan Ernesto Jr. (Guevara 2005: 9; Chrisafis 2002).
Setelah enam tahun bekerjasama dengan Castro, perbedaan garis politik ekonomi kedua
mantan gerilyawan itu semakin melebar. Castro terlalu tunduk pada para penasehat
ekonomi Soviet, yang mendorong Kuba melakukan industrialisasi besar-besaran, khususnya produksi gula untuk dibarter dengan minyak bumi Uni Soviet. Che, sebaliknya, ingin
membalikkan kiblat industrialisasi Kuba ke industri kecil dan menengah, untuk meningkatkan jumlah barang konsumen bagi rakyat dan meningkatkan nilai mata uang sehingga

mencegah inflasi (Peterlinz 2004: 166-8; Ruiz 2004: 180; Newman 2006: 126).
Perbedaan pendapat soal model pembangunan Kuba itu mengerucut dalam perdebatan
terbuka antara sayap kiri yang mendukung model RRT, dipelopori oleh Che Guevara,
dan sayap kanan yang mendukung model Soviet, terdorong oleh embargo AS. Castro sendiri tidak mengambil sikap tegas dalam debat ini, yang akhirnya di tahun 1966
dimenangkan oleh tesis guevarista, setelah Che sendiri meninggalkan Kuba (Gonzalez
1974: 181-2). Selain pemikiran makro Che, yang baru disadari Castro setelah keruntuhan
Uni Soviet (Newman 2006: 127), Menteri Perindustrian yang juga seorang dokter itu
sangat peka terhadap kesehatan buruh pabrik. Sewaktu berkunjung ke sebuah pabrik
sepatu, sebagai sesama penderita asma, Che sangat berempati dengan buruh-buruh
yang meminta pemasangan kipas angin buat mengurangi debu yang mereka hirup tiap
hari, sehingga banyak yang menderita asma dan TBC (Peterlinz 2004: 165-6).
Makanya, Che minta diturunkan pangkatnya dari Menteri Perindustrian menjadi pemimpin pabrik, tapi tidak disetujui. Ketika konflik dengan Castro memuncak tahun 1965, dia
menghilang secara misterius. Ternyata dia sudah kembali menyandang senjata dan membantu gerakan pembebasan di Kongo, sambil membawa beberapa orang dokter Kuba
(Brouwer 2009). Che kemudian ke Bolivia, di mana ia gugur di ujung peluru Sersan Mario
Teran, pada tanggal 9 Oktober 1967. Dua dasawarsa kemudian, tahun 1997, jasadnya
digali kembali dari bumi Bolivia, dan dikebumikan kembali di tanah air angkatnya, Kuba.
Satu dasawarsa lagi, 9 Oktober 2007, di hari ulangtahun ke 40 kematian Che, media
Kuba memberitakan kesuksesan operasi katarak terhadap Mario Teran, pembunuh Che,
oleh seorang anggota Brigade Medis Kuba (Peterlinz 2004: 167; BBC News, 2 Okt. 2007).
Namun sebelum meninggalkan Kuba, Che telah meletakkan dasar filosofis sistem kesehatan sosialis Kuba dalam pidato, On Revolutionary Medicine di Havana, 19 Agustus 1960
(lihat Introduksi makalah ini).
Berdasarkan semangat itulah pemerintah Kuba membangun sistem pelayanan kesehatan
negeri itu. Sebelum Revolusi, hanya ada seorang dokter untuk 1051 orang penduduk. Ratio ini terus berkurang, ketika banyak dokter Kuba hijrah ke AS dan negara-negara kapitalis lain.Ketika Fakultas Kedokteran Universitas Havana dibuka kembali tahun 1959, hanya
23 dari 161 orang dosennya kembali untuk mengajar. Baru tahun 1975, rasio dokter per
seribu penduduk Kuba, sebelum Revolusi, bisa dicapai kembali. Sepuluh tahun kemudian,
Kuba menjalankan program Medicina General Integral (Kesehatan Umum Menyeluruh),
di mana tim seorang dokter dan seorang perawat melayani 120 sampai 150 keluarga di
setiap kelurahan. Tim kecil ini secara teratur mengunjungi semua keluarga, dengan memadu pengobatan, pengumpulan statistik kesehatan setiap warga, pengobatan alternatif,
dan pendidikan kesehatan bagi semua warga.
Kerja tim-tim kesehatan keluarga ini didukung dengan pembangunan poliklinik, yang
dilengkapi spesialis medis dan laboratorium dengan berbagai peralatan pencitraan. Setiap poliklinik dibangun untuk melayani antara 20 sampai 40 ribu orang warga (Brouwer
2009). Pelayanan kesehatan jasmani itu dibarengi pelayanan kesehatan mental setelah
renovasi Hospital Psiquiatrico de la Habana (HPH) di pinggiran Havana, ibukota Kuba. Du-

mana yang bisa diterima, membagikan dana untuk proyek penelitian tertentu, menyaring
topik penelitian dari diskusi tentang perjuangan kelas dan perspektif perjuangan politik,
dengan alasan yang dibuat-buat. Kaum Marxis selalu disingkirkan oleh mereka dalam
konferensi ataupun seminar-seminar akademik dengan alasan forum akademik yang
obyektif tidak bisa menerima para ideolog, sementara kaum post marxis sendiri ditempatkan sebagai akademisi ataupun peneliti sosial yang independen.
Kontrol mereka atas fasilitas intelektual, publikasi dan penerbitan, seminar-seminar dan
konferensi serta pendanaan penelitian-penelitian telah memberikan kaum post-marxis
kekuatan yang berarti, akan tetapi di sisi lain mereka justru jadi tergantung pada pendana
mereka, dan berusaha sekeras mungkin menghindari konflik dengan funding agencies
mereka.
Kritik-kritik yang dilancarkan oleh intelektual Marxis memiliki keunggulan tersendiri dalam menjelaskan dinamika dan perkembangan sosial. Secara taktis kaum marxis memang
lemah, tapi secara strategis mereka jauh lebih kuat dibandingkan kaum post marxis.
APAKAH GERAKAN ANTI IMPERIALISME SUDAH TAMAT?
VDalam beberapa tahun terakhir gerakan anti imperialisme sudah menghilang dari
panggung politik kaum marxis. Para bekas gerilyawan di Amerika Tengah telah berubah
menjadi politikus yang hanya sibuk memikirkan Pemilu, dan para manajer LSM masih
terus sibuk bicara di forum internasional tentang konsep mereka. Orang-orang miskin di
Amerika Latin semakin dibebani hutang yang disalurkan oleh bank-bank Amerika, Jepang
dan Uni-Eropa. Perusahaan-perusahaan milik negara, fasilitas umum, bank-bank dan
kekayaan alam sudah terjual dengan harga murah ke tangan perusahaan Amerika, Eropa
dan multinasional lainnya. Pada saat yang sama muncul pula generasi jutawan baru
di Amerika Latin yang mempunyai simpanan di bank-bank Amerika dan Eropa. Amerika-Serikat memiliki lebih banyak penasehat militer untuk daerah Amerika Latin, petugas
anti-narkotik, ataupun polisi federal yang ditujukan langsung untuk mengawasi Amerika
Latin. Menurut cerita dari beberapa orang bekas Sandinista dan bekas Farabundistas bahwa semangat anti imperialisme telah luntur sejak perang dingin berakhir. Masalahnya bukan karena investasi asing maupun bantuan asing tidak mengalir lagi, tapi karena mereka
gagal memahami bahwa investasi asing tersebut justru mengurangi upah buruh, menghancurkan sistem jaminan sosial dan merubah Amerika Latin menjadi ladang pertanian
raksasa, lahan pertambangan raksasa dan daerah pasar bebas yang tidak memperdulikan
kedaulatan bangsa, hak azasi manusia dan nasib jutaan orang.
Kaum Marxis menekankan bahwa eksploitasi oleh kaum imperialis berakar dari hubungan produksi yang berkaitan dengan hubungan multilateral antara negara imperialis dengan negara kapitalis yang tergantung pada mereka. Ambruknya Uni Soviet telah melempangkan jalan bagi kaum imperialis untuk melanjutkan eksploitasi mereka. Kaum Post
Marxis dan bekas Marxis yang percaya bahwa dunia yang damai akan tercipta dengan
cooperation tidak mampu mengerti akan intervensi Amerika Serikat di Panama, Irak,
Somalia dan beberapa negara lainnya. Dinamika imperialisme justru lebih berhubungan
dengan dinamika internal modal sendiri dibanding dengan dinamika persaingan mereka

yang akan dihabiskan dalam kerja sama di tengah rejim neo-liberal dan dominasi lemba-ga donor internasional. Mereka melihat perjuangan kelas hanyalah sebagai nostalgia
masa lalu yang sudah tidak relevan lagi. Mereka mengatakan sudah muak dengan politik
kuno, ideologi dan para politikus.
Dilihat dari kulit luarnya mereka punya pendapat yang benar, mereka bisa dianggap
benar karena mereka kaum post Marxis berhasil menyembunyikan peran mereka sebagai mediator ataupun calo dari lembaga donor internasional dan berlomba-lomba
untuk memajukan proposal yang bisa diterima oleh pendana mereka di luar negeri. Para
pebisnis yayasan kemanusiaan di luar negeri yang menjadi mitra mereka, sebenarnya
justru berhubungan dengan para calo neo-liberal; mereka memang memberikan training
kepada sejumlah wanita miskin tapi untuk dipekerjakan pada perusahaan skala kecil yang
mereka dirikan sendiri, yang mana perusahaan kecil itu merupakan sub-kontraktor dari
perusahaan eksportir yang lebih besar.
Politik dari para kaum post Marxis adalah politik komprador, mereka tidak menghasilkan produk apapun yang bisa dimasukkan dalam produksi nasional, justru mereka mencoba menghubungankan lembaga donor mereka dengan buruh-buruh secara langsung,
untuk melicinkan lajunya neo-liberalisme. Dalam hal ini, kaum post Marxis yang menjadi
manajer sejumlah LSM adalah aktor politik paling utama atas training, workshop yang
tidak memberikan kontribusi ekonomi apapun, baik menyumbang untuk Produk Nasional Bruto (GNP) maupun mengurangi angka kemiskinan. Kegiatan mereka hanya bisa
memecah belah rakyat dari perjuangan kelas ke arah gerakan yang moderat dan tidak
efektif, sebuah bentuk gerakan yang berkolaborasi dengan para penindas.
Dalam perspektif Marxis, perjuangan kelas dan konfrontasi terhadap borjuasi harus dibangun atas dasar kesadaran adanya pembagian kelas dalam masyarakat : antara orangorang yang sibuk bermain tingkat keuntungan saham, nilai suku bunga, nilai sewa ataupun jumlah pajak dan orang-orang yang harus berjuang untuk meningkatkan gaji mereka,
investasi produksi dan jaminan sosial. Pandangan post Marxis telah membuah-kan hasil
dan bisa kita lihat di mana-mana seperti konsentrasi pendapatan di tangan segelintir
orang dan meningkatnya jurang perbedaan kaya-miskin semakin besar dibanding sepuluh tahun yang lalu, semua itu terjadi setelah mereka sibuk dengan konsep kerjasama
dan kemandirian ataupun usaha kecil. Saat ini bank seperti Inter Ameri-can Development Bank (IDB) memberi dana kepada perusahaan ekspor agrobisnis yang menindas
dan meracuni jutaan petani dan buruh di perkebunan besar, di sisi lain bank ini justru
memberikan pendanaan kepada proyek-proyek LSM yang memposisikan dirinya membela para petani dan buruh yang tertindas tersebut. Justru peran kaum Post Marxis dengan
LSM telah menetralisir perjuangan politik di tingkatan massa dalam melawan kebijakan
neo liberal yang dilancarkan oleh para petinggi dan politikus.
Ideologi cooperation (kerja sama/gotong royong) justru dipakai untuk menghubungkan
kaum miskin dengan kaum Post Marxis sebagai fasilitator menuju para pejabat di tingkat
atas yang merupakan arstitek neo-liberalisme. Secara intelektual, kita bisa mengkategorikan kaum post Marxis sebagai polisi intelektual yang bisa menentukan proyek penelitian

cunge, pelopor pelayanan kesehatan mental itu, tadinya ahli pembiusan (anaesthecian),
yang bergerilya bersama Che di Sierra Maestra. Berkat perjuangan sahabat Che itu, Kuba
kini telah memiliki seribu orang psikiater, 200 orang di antaranya ahli psikiatri anak-anak.
Mereka memadukan terapi emosional dan sosial, dengan polarisasi pendapat soal terapi
electroconvulsive. Penyembuhan gangguan mental yang diderita para pasien dilakukan
dengan mendorong mereka menari ballet, menata rambut, berbahasa, berhitung, memijat kaki, dan menciptakan kerajinan tangan, dengan melibatkan komunitas setempat (Collinson & Turner 2002). Selain kawan seperjuangan di medan gerilya, keturunan langsung
Che turut membangun potensi pelayanan medis Kuba. Aleida Guevara (48), putri sulung
Che dari isteri keduanya, Aleida March de la Torre, menjadi dokter anak dengan spesialisi
alergi. Dua orang adiknya menjadi pengacara, dan seorang menjadi dokter hewan dengan spesialisasi lumba-lumba (Chrisafis 2002; Nakata 2008).
Selain bekerja di RS Anak-Anak William Soler di Havana, dokter Aledia Guevara pernah
menjadi anggota Brigade Kesehatan Kuba di Nikaragua dan Angola. Kini, setelah anakanak perempuannya sudah besar semua, Aleida Guevara Jr. sering melanglang buana,
memperjuangkan penghapusan embargo ekonomi AS dan pengembangan kesehatan
kaum miskin di seluruh dunia. Sekaligus, berjuang menentang komersialisasi foto ayahnya di berbagai produk konsumen, yang bertentangan dengan filosofi sang dokter gerilyawan (Chrisafis 2002; Jackson 2003; Nakata 2008; New Scientist, 9 Desember 2004).
EKSPOR DOKTER KUBA
Berkat sistem pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakatnya yang
begitu maju, Kuba punya banyak dokter yang siap diekspor ke mancanegara. Pertengahan 2000an, dari 70 ribu dokter produk pendidikan Kuba, lebih dari 28 ribu orang dokter
Kuba tersebar di mancanegara, bersama tenaga medis lain (Anderson 2008; Brouwer
2009; New Scientist, 24 Desember 2004). Kehadiran dokter-dokter Kuba di mancanegara,
yang dibiayai pemerintah Kuba (kecuali di Afrika Selatan, Argentina dan Venezuela), selalu dibarengi pengiriman mahasiswa kedokteran dari negara-negara itu ke fakultas-fakultas kedokteran di Kuba. Sebab kebijakan pemerintah Kuba adalah bahwa setiap dokter
Kuba yang bertugas di negara tertentu, harus dapat digantikan oleh dokter-dokter muda
dari negara itu, dalam jumlah dua sampai tiga kali lipat (Anderson 2008; Brouwer 2009).
Kadang-kadang, sepulang dari pendidikan kedokteran Kuba yang rata-rata enam tahun,
dokter-dokter muda itu masih mendapat pendidikan pasca-sarjana dari dokter-dokter
Kuba yang masih bertugas di negeri asalnya. Ini dijalani oleh 347 orang dokter muda
dari Honduras (idem).Dokter-dokter Honduras itu lulusan ELAM (Escuela Latinamericana
de Medicina, atau Sekolah Kedokteran Amerika Latin) di Havana, yang sejak 2005 telah
meluluskan 1500 sampai 1800 dokter asing. Selain dari Honduras, para mahasiswa asing
berjumlah 24 ribu orang berasal dari Bolivia (5000), Timor Leste (698), Guatemala (448),
Haiti (426), Ghana (188), Namibia (143), Gambia (134), Belize (113), Mali (109), Botswana
(93), AS (100), Kepulauan Solomon (50), Kiribati (40), dan sejumlah negara lain. Mahasiswa AS disalurkan oleh Pastors for Peace, organisasi Kristen untuk solidaritas terhadap
rakyat Kuba (Anderson 2008; Brouwer 2009; Buletin Lao Hamutuk, Agustus 2008: 6)

Kebanyakan mahasiswa asing mendapat beasiswa pemerintah Kuba, kecuali dari Afrika
Selatan dan Venezuela. Venezuela, negeri Amerika Latin yang dipimpin Hugo Chavez,
mantan tentara payung yang berjuang melepaskan negerinya dari penjajahan ekonomi
AS, memasok kebutuhan minyak Kuba dengan harga murah, sebagai imbalan atas penempatan 30 ribu orang dokter dan tenaga medis Kuba. Mereka membangun program
Barrio Adentro guna memperbaiki kesehatan 18 juta orang miskin di negara kaya minyak,
yang kini membantu pendidikan kedokteran di Kuba (Soyomukti 2007: 124-8; Brouwer
2009).
Dari sini dapat kita lihat bahwa ekspor tenaga medis Kuba bukan untuk menambah devisa negara miskin itu, melainkan demi solidaritas kemanusiaan internasional, membantu
memperbaiki kesehatan rakyat miskin di berbagai negara, termasuk di Indonesia dan
di Republik Demokrasi Timor Leste (RDTL). Segera sesudah gempa menghantam Bantul
(DIY) dan Klaten (Jateng), 27 Mei tiga tahun lalu, 65 orang dokter Kuba separuhnya
perempuan datang melayani sampai seribu orang pasien sehari. Mereka begitu populer di kalangan penduduk, sehingga tim medis Kuba yang juga beranggotakan 70 orang
perawat, laboran dan teknisi kesehatan diminta memperpanjang masa pelayanan mereka
selama enam bulan (Fawthrop 2006).
Itulah perkenalan pertama Indonesia dengan sistem dan kualitas pelayanan kesehatan
masyarakat Kuba, yang selain melibatkan dokter dan tenaga medis lain, juga dilengkapi
peralatan medis yang canggih.
Kedua rumah sakit lapangan Brigade Medis Kuba dilengkapi peralatan rontgen, laboratorium, dan ruang operasi, sehingga dokter-dokter mereka dapat membedah tulang
patah serta menangani gangguan kesehatan lain. Sampai medio Agustus 2006 mereka
telah melayani 47 ribu pasien, serta menyelenggarakan 900 pembedahan dan imunisasi
anti-tetanus terhadap 2000 orang pasien (idem). Kontribusi Brigade Medis Kuba buat
membangun kesehatan rakyat Timor Leste jauh lebih besar lagi, mengingat hancurnya
sebagian prasarana fisik dan meninggalnya sebagian penduduk negeri baru itu pasca
referendum Agustus 1999.
Sebagian besar dokter dan paramedis Indonesia kabur dari pos mereka sesudah kerusuhan pasca referendum itu. Kerjasama Kuba dan Timor Leste mulai dibicarakan oleh Presiden Fidel Castro dan Presiden Xanana Gusmao dalam KTT Non-Blok di Kuala Lumpur,
Februari 2003. Akhir tahun itu sekelompok mahasiswa Timor Leste dikirim ke Kuba untuk
kuliah kedokteran di sana, dan sekelompok kecil dokter Kuba dikirim ke Timor Leste di
bulan April 2004. Tahun berikutnya, kunjungan tiga pejabat teras RDTL waktu itu -- Menlu
Jose Ramos Horta, PM Mari Alkatiri, dan Menkes Rui Araujo -- semakin memantapkan
kerjasama kedua negara kecil itu, yang berbuah seribu beasiswa bagi mahasiswa kedokteran dari RDTL dan pengiriman 300 orang anggota Brigade Medis Kuba ke Timor Leste.
Selama kurun waktu 2004 -2008, mereka telah melakukan 2,7 juta konsultasi, termasuk
lebih dari sejuta kunjungan rumah; membantu 17.352 kelahiran, termasuk 848 dengan
bedah caesar; melakukan 19.099 pembedahan, 193.942 test laboratorium dan 27.643
vaksinasi, serta menyelamatkan 11.406 nyawa (Anderson 2008).

(aid) dan pelatihan (training) yang mereka berikan merupakan ungkapan belas kasihan
yang tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para misionaris Kristen ratusan
tahun yang lalu.
Kaum post marxis mencoba menekankan pentingnya kemandirian (self-help) dalam
rangka menyerang kelompok yang mereka anggap tergantung pada negara dan terperangkap dalam hegemoni negara. Jadi mereka justru berlomba-lomba menggarap
kelompok-kelompok yang menjadi korban dari proyek neo-liberalisme, dan mereka
bisa menjadi santa klaus seperti itu karena mereka menerima subsidi yang cukup
besar dari rekan-rekan mereka di Eropa dan Amerika Serikat. Konsep kemandirian
mengede-pankan ide untuk mengganti pegawai yang digaji dengan tenaga sukarelawan (
volunteer) ataupun profesional bebas yang dikontrak untuk jangka pendek dalam proyek
tertentu. Dasar pikiran dalam pandangan kaum Post-Marxis adalah mengubah solidaritas menjadi kolaborasi dan subordinasi ke arah ekonomi makro neo liberalisme dengan
fokus pandang yang dialihkan dari kelas berada ke arah kaum miskin yang tertindas.
Sebaliknya konsep kaum Marxis tentang Solidaritas kelas adalah solidaritas di antara
kaum sekelas dan solidaritas dari kaum tertindas (baik wanita, maupun kaum kulit berwarna) melawan penindas dari dalam maupun luar negeri. Fokus utamanya bukanlah
pada donasi yang justru memecah belah kelas dan menjinakkan sekelompok orang untuk
waktu tertentu. Fokus dari kaum Marxis terhadap solidaritas adalah pada aksi bersama
dari anggota dari kelas yang sama untuk membagi kesulitan ekonomi mereka secara bersama-sama dan berjuang untuk perbaikan hidup semuanya.
Solidaritas kaum Marxis ini melibatkan kaum intelektual yang menulis dan berbicara atas
nama gerakan sosial dalam konteks perjuangan, suka duka bersama dan menghadapi
konsekuensi politik yang sama. Bandingkan dengan kaum post marxis yang membenamkan diri mereka dalam institusi internasional, seminar-seminar akademik, ya-yasanyayasan internasional, konferensi internasional dan laporan-laporan yang biro-kratis.
Mereka menulis karya mereka dalam bahasa post-modernis yang cuma bisa dimengerti
oleh pengarangnya sendiri.
Bagi kaum Marxis, solidaritas adalah pembagian resiko kepada seluruh orang yang terlibat dalam gerakan, dan tidak hanya dengan menjadi komentator yang duduk di belakang
panggung yang hanya bisa menanyakan macam macam tapi tidak pernah membela
sesuatu apapun. Bagi kaum post Marxis, proyek utama mereka adalah mencari dana
bantuan internasional. Sedangkan proyek utama kaum Marxis adalah perjuangan politik dan pendidikan propaganda untuk memperbaiki kesadaran sosial. Solidaritas bagi
kaum post Marxis adalah terpisah dari kerangka utama semangat pembebasan kaum
tertindas, tujuan mereka hanyalah membawa orang-orang hadir di acara training dan
seminar mereka. Bagi kaum Marxis, perjuangan bersama harus mempunyai tujuan ke
arah masyarakat yang demokratis dan kolektif.
PERJUANGAN KELAS DAN KERJA SAMA
Berulang kali kaum Post Marxis menulis tentang konsep kerja sama bagi semua orang,
tidak peduli di mana pun mereka berada tanpa memperhitungkan besarnya biaya sosial

gambarkan desakan militer dalam Pemilu tanpa mau menghitung tantangan pada militer
dari gerilyawan Zapatista di Caracas, Mexico dan pemogokan umum di Bolivia.
Dengan kata lain, ada keyakinan yang berlebihan akan keberhasilan perjuangan diawali
di tingkat lokal maupun sektoral dalam kerangka Pemilu di tengah eksistensi militer dan
selanjutnya diharapkan mampu mendorong perubahan, sebuah harapan yang dibangun
atas dasar kegagalan dan ketidak mampuan skenario Pemilu untuk memenuhi tuntutan
pokok dan kebutuhan rakyat. Pada kenyataanya kaum oportunis ini gagal menghentikan
kekejaman militer, membayar kembali gaji para pegawai negeri di Argentina atau mengakhiri bencana yang dialami oleh para petani coklat di Bolivia.
Kaum oportunis post-marxis justru menimbulkan banyak masalah (part of the problem)
daripada menciptakan jalan keluar yang baru (part of solution). Sudah kurang lebih 15
tahun sejak negosiasi ke arah transisi dimulai dan semakin lama proses itu berjalan, maka
kaum Post-Marxis selalu mengambil kebijakan neo liberal dan mempertahankan kebijakan pasar bebas mereka. Kaum oportunis itu tidak mampu secara efektif untuk menghalangi dampak sosial akibat pasar bebas yang menyengsarakan rakyat, justru mereka yang
semakin didesakkan oleh neo liberalisme untuk menerapkan kebijakan baru dan jumlahnya semakin bertambah setiap tahun, kebijakan baru yang semakin mencekik rakyat
dalam rangka mempertahanakn kelangsungan hidup kelas penguasa. Kaum post Marxis
telah bergerak dari sikap mereka yang pragmatik dalam mengkritik kebijakan neo liberal ke sikap menonjolkan diri sebagai manajer proyek neo- liberal yang efisien dan jujur,
dan mereka mampu menjamin kepercayaan para investor dan memadamkan kerusuhan
sosial.
Pada waktu yang sama, pragmatisme dari kaum Post Marxis seakan berjalan seiring
dengan kencangnya gerak laju neo-liberalisme; dekade 90 an telah menjadi saksi radikalisme kebijakan neo liberal, di mana mereka mendesain krisis berkepanjangan terhadap
penduduk pribumi dengan cara menawarkan investasi yang mengutungkan dan kesempatan spekulasi kepada bank-bank yang beroperasi secara internasional dan perusahan
perusahaan multinasional lainnya. Neo liberalisme telah menciptakan polarisasi struktur
kelas yang justru semakin dekat ke paradigma Marxis dibanding pandangan Post-Marxis
sendiri. Struktur kelas di Amerika Latin komtemporer jauh lebih jelas, jauh lebih berhubungan dengan kelas politik dan negara, jauh lebih positif dibanding masa-masa sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini politik ke arah gerakan revolusioner jauh lebih relevan
dibandingkan tawaran pragmatis dari kaum post Marxis.
SOLIDARITAS KELAS DAN SOLIDARITAS NEGARA PENDONOR
Kata solidaritas telah disalahgunakan ke berbagai macam konteks yang tidak mempunyai
arti sama sekali. Solidaritas bagi kaum Post Marxis, solidaritas adalah termasuk bantuan luar negri yang disalurkan kepada setiap kelompok yang dianggap berpotensi untuk
berkembang. Atau disisi lain, pola pendidikan yang dikemas secara populer ataupun penelitian- penelitian ilmiah yang dilakukan oleh para kaum intelektual professional dengan
menjadikan kaum miskin sebagai obyek, itupun dianggap sebagai solidaritas. Dalam beberapa hal, apa yang dilakukan oleh kaum oportunis dewasa ini melalui program bantuan

Berbeda dengan tenaga medis Indonesia di Timor Leste pasca referendum 1999, tidak
seorangpun tenaga medis Kuba meninggalkan Timor Leste selama krisis politik 20052006, ketika perang saudara antara tentara, polisi, desertir bersenjata, serta kelompok
milisi begitu banyak menelan korban. Dokter-dokter dan perawat-perawat Kuba tetap
bertugas di Hospital Nasional Timor Leste di Dili, melayani para pengungsi di tenda-tenda
mereka di seputar kota Dili, sambil tetap melayanai kesehatan masyarakat desa di distrik-distrik. Dedikasi mereka sangat dipuji oleh PM Jose Ramos-Horta serta Menlu Zacarias
Albano da Costa (Anderson 2008).
Ironisnya, justru kehadiran begitu banyak tenaga medis Kuba menjadi duri dalam daging
dalam hubungan antara Gereja Katolik dengan pemerintahan Fretilin di bawah pimpinan
PM Mari Alkatiri. Seorang tokoh Keuskupan Dili, Padre Domingos Soares, lewat selebarannya memprovokasi aksi biarawan/wati menentang PM Alkatiri di tahun 2005, dengan
menuduh Alkatiri dan Fretilin mau menjadikan Timor-Leste negara komunis berjulukan
Kuba Timur (Aditjondro 2007: 94). Kenyataannya, walaupun persaingan intra-elit RDTL
memaksa PM Alkatiri mengundurkan diri (2006), dan diganti oleh Jose Ramos-Horta,
kehadiran Brigade Medis Kuba tidak ditolak. Juga setelah pemilu kedua menghasilkan
pertukaran posisi antara Ramos-Horta sebagai Presiden serta Xanana Gusmao sebagai
PM. Kehadiran Brigade Medis Kuba tetap didukung oleh orang-orang Depkes RDTL, baik
yang pro- maupun yang anti-Fretilin (Anderson 2008).Selama studi lapangan bersama
tim CD Bethesda, Yogyakarta, dan Depkes RDTL di sepuluh distrik RDTL, akhir September
2008, di mana penulis sempat berinteraksi dengan anggota Brigade Medis Kuba di dua
distrik (Oekusi dan Ermera), penulis mencatat tiga hal. Pertama, ada kesenjangan antara
Brigade Medis Kuba dan berbagai tarekat biarawati Katolik yang juga sangat berperan
dalam pelayanan kesehatan masyarakat Timor Leste.
Boleh jadi, di samping faktor bahasa (orang Kuba hanya dapat berbahasa Spanyol, sedangkan para biarawati hanya dapat berbahasa Indonesia dan Tetun), ketidaksenangan
sebagian hirarki Gereja Katolik terhadap kehadiran orang-orang Kuba di negeri itu, seperti disinggung di depan, ikut memainkan peranan. Padahal, berbeda dari kecurigaan sebagian hirarki Gereja Katolik, tenaga medis Kuba tidak tertarik berbicara tentang ideologi
negara mereka. Selain berbicara tentang kesehatan, mereka lebih tertarik memperkenalkan tari salsa, dan memperkenalkan lagu dan musik Kuba, yang diwarnai pengaruh
Spanyol dan Afrika (lihat Sarduy & Stubbs 1993).
Kedua, berbeda dengan sistem pelayanan kesehatan masyarakat di negara asalnya, yang
mengawinkan pendekatan Barat dengan pendekatan alternatif, Brigade Medis Kuba
kurang menggali berbagai sistem pengobatan alternatif di Kuba. Tampaknya, bahasa dan
kepadatan jadual kerja mereka merupakan dua faktor penghambat untuk mengawinkan
pendekatan Barat dengan berbagai pendekatan alternatif yang bersumber pada fauna, flora, dan sistim budaya suku-suku bangsa di Timor Leste. Soalnya, sebagian besar
anggota Brigade Medis Kuba hanya mahir berbahasa Spanyol, sehingga sukar menggali
pengetahuan etno-medis di Timor Leste, baik yang menghambat kesehatan masyarakat
(misalnya berbagai pemali makanan bagi perempuan hamil dan sedang menyusui, serta

budaya patriarkis yang sangat kuat di kebanyakan suku), maupun yang mendukung.
Sementara itu, penduduk asli di kampung-kampung hanya dapat berbahasa Indonesia,
Tetun, dan bahasa suku mereka, dan dijauhkan dari bahasa Portugis yang dekat dengan
bahasa Spanyol -- selama masa penjajahan Indonesia. Kurangnya usaha Brigade Medis
Kuba menggali antropologi kesehatan Timor Leste sangat disayangkan, sebab berbagai
pengetahuan etno-medis Timor Leste sudah mulai didokumentasi oleh peneliti-peneliti dari Australia, Kanada, dan Timor Leste, dibantu oleh mantan gerilyawan FALANTIL,
dimulai dari pengetahuan etno-medis Fataluku, suku yang kurang mahir berbahasa Tetun
maupun Indonesia.
Ketiga, medan dan jarak yang jauh dari kampung-kampung ke SISCa (Sistema Integrada
Saude do Communitaria ), yang setara dengan Posyandu di Indonesia membuat rakyat
di desa-desa pelosok sangat bergantung pada praktisi pengobatan alternatif (matandok,
mata-blolo, atau daya dalam bahasa setempat). Termasuk dalam membantu persalinan
ibu-ibu hamil. Padahal, para praktisi pengobatan alternatif ini jarang sekali mendapat
kesempatan memperdalam ilmu mereka bersama pada tenaga medis Kuba.
KESIMPULAN
Lalu, apa yang dapat dipelajari oleh Indonesia, dari studi kasus pola kesehatan masyarakat Kuba ini?Pertama, berbeda dari citra umum tentang Che Guevara, sebagai
pejuang bersenjata yang teori perang gerilyanya sering diacu para aktivis kiri di samping
teori perang gerilya Mao Zedong, sesungguhnya kontribusi dokter Che dalam meletakkan
dasar bagi sistem pelayanan kesehatan Kuba perlu mendapatkan perhatian yang lebih
mendalam.
Kedua, pengalaman Kuba ini menunjukkan bahwa ada sistem demokrasi lain yang lebih
memberikan perhatian pada hak-hak ekososbud para warga miskin, khususnya hak atas
kesehatan, ketimbang sistem demokrasi liberal. Ketiga, penempatan dokter-dokter dan
tenaga medis Kuba lainnya di mancanegara, dibarengi dengan pembukaan fakultas-fakultas kedokteran Kuba bagi mahasiswa miskin dari mancanegara, merupakan contoh
bagaimana suatu negara miskin berkontribusi untuk perdamaian dunia melalui perbaikan
kesehatan masyarakat, terutama warga miskin.Keempat, melalui pola yang khas ini, Kuba
berhasil membuktikan keunggulan sistem kesehatan sosialis ketimbang sistem kesehatan
kapitalis, di tengah-tengah embargo ekonomi AS serta berakhirnya bantuan Uni Soviet.
Kelima, dengan mengirimkan bantuan tenaga medis kepada para korban topan Kathrina
di AS, Kuba membuktikan kepada rakyat AS bahwa embargo ekonomi yang dipertahankan sekian banyak presiden mereka, tidak berhasil mematahkan tekad suatu bangsa untuk
memilih garis politik dan ekonomi mereka. Keenam, melalui barter minyak dengan
tenaga dokter Kuba serta pendidikan kedokteran di Kuba, Venezuela juga membuktikan,
bahwa rezeki migas dari negara anggota OPEC itu dapat membantu perbaikan kesehatan
rakyat miskin Venezuela maupun memperkuat kemampuan Kuba mendidik calon-calon
dokter dari berbagai negara miskin di dunia. Minyak untuk kesehatan rakyat, kira-kira
begitulah. Yogyakarta, 23 Mei 2009.Kepustakaan:Aditjondro, George Junus (2007).

10

menambahkan aktivitas neo-liberal dengan menekan dan memukul jaringan antara


perjuangan lokal dan organisasi-organisasi serta gerakan politik internasional dan nasional. Penekanan pada aktivitas lokal mengamankan hak keadilan rejim-rejim neo-liberal,
seperti dengan mengijinkan dukungan asing dan nasional untuk mendominasi kebijakan
sosio-ekonomi mikro, dan memakai semua sumber daya negara atas nama ekspor kapitalis dan kepentingan finansial.
Kaum post-marxis, selayaknya seorang manager NGO, menjadi sangat cakap dalam
mendesain proyek dan menghubungkan identitas baru dan jargon globalisasi ke dalam
gerakan popular. Mereka berbicara dan menulis tentang kerja sama internasional dan
usaha mandiri mikro yang menciptakan benang ideologis neo-liberal dan sementara itu
juga mendesak masyarakat agar bergantung pada kucuran donor asing dan agenda sosio-ekonomi neo liberal mereka. Tidak mengejutkan, setelah dekade aktivitas NGO, yang
menyebabkan depolitisasi akibat dari ulah kaum post marxis, sekaligus menye-babkan
de-radikalisasi di seluruh kehidupan sisoal: perempuan, lingkungan, dan organsisi pemuda. Kasus-kasus di Peru dan Chile adalah klasik: dimana NGO kuat berdiri maka merupakan kemunduran gerakan sosial radikal.
Perjuangan lokal untuk memenangkan isu mendesak adalah benih yang baik bagi bangkitnya sebuah gerakan yang potensial untuk menjadi lebih radikal. Pertanyaannya adalah
tentang arah yang diambil: apakah mereka menjadi sebuah gerakan yang berusaha untuk
memenangkan tuntutan yang lebih besar pada sistim sosial yang berhubungan dengan
kekuatan lokal dalam rangka memukul negara dan pendukungnya ataukah gerakan itu
hanya menjadi sebuah aktivitas untuk mencari donor dana dari luar negeri. Ideologi
post-marxisme mempromosikan arah yang terakhir, sedangkan marxis-me konsisten
dengan arah yang pertama.
REVOLUSI SELALU BERAKHIR DENGAN BURUK
Bagi kaum post marxisme, revolusi tidak jauh berbeda dengan persoalan kegagalan sosialisme. Mereka menggembar-gemborkan kemunduran kaum kiri progresif-revolusioner,
kemenangan kapitalisme di timur, krisis dalam marxisme, kekuatan Amerika, kudeta dan
bantuan dari militer reaksioner. Semua usaha dilakukan untuk memukul kaum kiri progresif-revolusioner. Tidak bosan-bosannya mereka mempropagandakan kebutuhan untuk
bekerja di dalam pasar bebas yang dibuat oleh IMF dan Bank Dunia. Semua ini yang
disebut pragmatisme. Post-marxisme berperan penting secara ideologis dalam mempromosikan dan mempertahankan apa yang disebut dengan transisi elektoral yaitu lewat
Pemilu dan peran militer, di mana perubahan sosial diawali dari sistem Pemilu
Kebanyakan dari argumentasi post-marxisme didasari pada statistik dan penelitian selektif yang menghasilkan sebuah kesimpulan untuk menang dalam pemilu yang menuju ke
perubahan sosial ala neo liberal. Keputusan untuk menjalankan revolusi adalah ketinggalan jaman, mereka memfokuskan semua usaha untuk menang dalam proses Pemilu
dan bukan pada pemogokan umum, protes massa atau pemberontakan. Yang akan memobilisir sejumlah massa yang besar-besaran. Mereka mensyukuri kematian komunisme
di akhir 1980 dan memaki kebangkitannya kembali di pertengahan 1990. Mereka meng-

ekonomi informal yang dilakukan dari rumah dengan menggunakan jaringan TV, periklanan dan telepon.
Kunci untuk memahami proses dan perkembangan teknologi berhadapan dengan tenaga
kerja yang dikeluarkan oleh buruh adalah dengan menggunakan analisa kelas yang di
dalamnya ada persoalan berbagai macam: gender, ras, nasionalisme, etnik dan lainnya.
NEGARA DAN MASYARAKAT SIPIL
Post Marxime menggambarkan satu sisi saja dari negara. Negara digambarkan sebagai
satu kubangan birokrasi yang tidak efisien yang merampok harta publik. Juga membiarkan rakyat tetap miskin dan ekonomi menjadi bangkrut. Dalam pengertian politik, negara
adalah sumber hukum otoritarian yang menghambat masyarakat melatih demokrasi dan
kebebasan pasar. Di sisi lain post-marxisme berargumentasi bahwa masyarakat sipil adalah sumber dari kebebasan, gerakan sosial dan kewarganegaraan.
KEKUASAAN NEGARA YANG KORUP
Salah satu kritik post-marxime adalah bahwa kekuasaan negara pastilah korup dan
perjuangan menentang kekuasan tersebut adalah dosa. Mereka berpendapat bahwa
ini terjadi karena negara berjarak dengan warga negara. Penguasa menjadi otonom dan
sewenang-wenang, melupakan tujuan yang sesungguhnya dan memaksakan kehendak
mereka sendiri. Dalam sejarah, banyak terjadi rakyat yang merebut kekuasaan menjadi
tiran, tapi ada juga kasus tertentu yang memimpin gerakan sosial memiliki efek eman-sipasi. Penghancuran perbudakan dan penumbangan monarki absolut adalah dua contoh.
Jadi kekuasaan dalam negara memiliki dua arti yang tergantung pada konteks sejarahnya.
Dalam beberapa kasus, gerakan lokal berhasil memobilisir masyarakat dan memperoleh
perubahan kondisi dengan segera. Namun ada juga kasus dimana keutuhan ekonomi
politik makro telah menekan usaha-usaha lokal tersebut. Saat ini kebijakan penyesuaian
struktural di lingkup nasional maupun di internasional telah meningkatkan jumlah kemiskinan dan pengangguran. Menghancurkan sumber daya lokal dan mendesak rakyat lokal
untuk memasuki dunia kriminal. Dialektika antara negara dan kekuasan lokal yang berjalan mendorong inisiatif lokal dan merubah ketergantungan kelas penguasa termanifestasikan dalam dua level. Ada beberapa kasus dari beberapa pemerintahan daerah yang
progresif menjadi rusak karena rejim reaksioner di pemerintahan nasional memotong
pendanaan bagi mereka. Di satu sisi pemerintahan lokal yang progresif tersebut sangat
membantu organisasi lingkungan lokal seperti yang dilakukan oleh seorang sosialis yang
menjadi kepala pemerintahan di Montevideo-Uruguai atau seorang kepala pemerintahan
yang beroreintasi kiri di Porte Alegre-Brazil.
Post marxis yang mengecam pemerintahan lokal atau negara sesungguhnya tidak berbasiskan pada pengalaman sejarah. Hanya ingin memberi legitimasi terhadap peran NGO
sebagai mediator antara organisasi-organisasi lokal dengan pendana asing neo-liberal
(IMF/Bank Dunia, Eropa atau AS) dan pada rejim-rejim yang pro terhadap pasar bebas.
Dalam rangka melegitimasi peran mereka, NGO-NGO profesional yang berpandangan
post marxist, sebagai agen demokrasi di grass root, selalu meremehkan dan menghina kaum kiri yang berada di puncak kekusaan negara. Dalam proses berikutnya mereka

Kritik Terhadap Kaum Post Marxist


29 Februari 2008
Oleh James Petras
James Petras adalah seorang Profesor Sosiologi di Universitas Binghampton, New York,
Amerika Serikat. Tulisan-tulisannya banyak mengupas soal politik dan pe ngalaman praktek gerakan revolusioner di Amerika Latin. Ia juga seorang contri buting editor di Jurnal
LINKS.
Post-Marxisme memang sedang menjadi trend di kalangan kaum intelektual setelah
kemenangan neo-liberalisme dan kemunduran kaum kelas pekerja. Ruang politik yang
dikosongkan oleh kaum kiri reformis (di Amerika Latin) kini telah diambil alih oleh politisi
dan ideolog kapitalis, teknokrat serta kelompok-kelompok gereja fundamentalis dan
tradisional (Pantekosta dan Vatikan). Sebelumnyaya ruang ini diisi oleh kaum sosialis, nasionalis dan politikus populis serta aktivis-aktivis gereja yang berafiliasi pada teologi pembebasan. Kaum kiri-tengah sangat berpengaruh dalam politik rejim penguasa (di atas)
atau di kalangan massa rakyat yang kurang politis (di bawah). Ruang kosong yang tadinya
dikuasai kiri radikal kini digantikan oleh intelektual politik, dan sektor- sektor yang telah
menjadi politis seperti serikat buruh, kaum miskin kota dan gerakan sosial di perkotaan.
Di kalangan grup-grup inilah perdebatan dan konflik antara marxime dan post-marxisme
menjadi sangat intens pada saat-saat itu.
Diasuh, dan dalam banyak kasus disubsidi oleh lembaga-lembaga dana penting dan
lembaga-lembaga pemerintah yag mempromosikan neo-liberalisme, sejumlah besar
organisasi-organisasi sosial telah tumbuh dan berkembang membawa ideologi, jaringan-jaringan dan praktek-prekatek yang secara langsung berkompetisi dan berkonflik
berha-dapan dengan teori dan praktek marxis. Organisasi-organsiasi ini - dalam banyak
kasus memunculkan diri mereka sebagai Non-Govermental Organization (NGO/LSM) atau
lembaga-lembaga serta pusat penelitian independen - menjadi aktif memajukan ideologi
dan praktek-praktek politik yang dapat sesuai dengan agenda neo-liberal dari patron-patron pendananya. Tulisan di bawah ini akan menggambarkan dan sekaligus mengkritik
setiap komponen dari ideologi mereka dan kembali memblejeti aktivitas-aktivitas kaum
neo-liberal, sekaligus membandingkan dengan gerakan dan pendekatan yang berbasiskan kelas. Setelah itu akan diikuti dengan diskusi tentang asal-usul blok post-marxisme,
evolusinya dan masa depannya sehubungan dengan kemunduran dan kemung kinan
kembalinya marxisme.
KOMPONEN-KOMPONEN POST-MARXISME
Kaum post marxisme sebenarnya berasal dari kaum eks-marxis yang berangkat dari kritik
terhadap marxisme dan mengelaborasikan beberapa poin di dalam kritik-kritiknya untuk
menjadi sebuah landasan penemuan teori-teori alternatif atau paling tidak sebagai garis
analisa yang masuk akal. Mari kita melihat sepuluh argumentasi dasar yang biasa ditemukan dalam diskursus-diskursus post marxime:
1. Sosialisme adalah sebuah kegagalan dan semua teori kemasyarakatan secara umum

11

menyalahkan jika ada yang hendak mengulanginya lagi. Ideologi-ideologi adalah sesuatu
yang salah! (kecuali Post-marxisme!), karena ideologi merefleksikan sebuah dunia pemikiran yang didominasi oleh satu sistim gender/ras.

yang mendapatkan upah lebih baik dan berhubungan dengan perusahaan multi nasional
(MNC), LSM dan Lembaga-lembaga Dana dari luar, yang juga berhubungan dengan pasar
dunia dan pusat-pusat kekuasaan .

2. Penekanan Marxis pada kelas-kelas sosial adalah reduksionis karena kelas-kelas


membaur; Hal yang terpenting adalah pendekatan kebudayaan dan berakar pada perbedaan identitas (ras, gender,etnik, seksuil).

Perjuangan sekarang tidak hanya antara kelas-kelas di pabrik-pabrik tapi antara negara
berhadapan dengan kelas-kelas yang mengakar di jalanan dan pasar yang telah digantikan oleh buruh-buruh yang terdesak untuk menghasilkan produksi dan menjualnya
untuk menutupi biaya hidup. Masuknya kedalam pasar dunia oleh eksportir-eksportir elit
besar dan komprador menengah serta kecil ( barang elektronik, parawisata dari hotel dan
penginapan) memiliki pasangannya dalam disintegrasi ekonomi dalam negeri: industri
lokal pertanian kecil bersamaan dengan pindahnya tenaga produktif ke kota dan luar
negeri.

3. Negara adalah musuh demokrasi dan kebebasan. Negara adalah lambang bentuk-bentuk yang korup dan tidak efisien yang menggerogoti kesejahteraan sosial. Masyarakat
sipil adalah pelaku utama demokrasi dan perubahan sosial.
4. Perencanaan terpusat mendatangkan dan menghasilkan birokasi yang menghalangi
pertukaran barang antara para produsen. Pasar dan pertukaran pasar adalah mungkin
dengan aturan-aturan yang terbatas, dapat membuat konsumsi yang lebih besar dan
distribusi yang lebih efisien.
5. Perjuangan kiri tradisional adalah korup dan menghasilkan rejim-rejim yang otori-ter yang kemudian mengsubordinasikan masyarakat sipil. Perjuangan lokal dengan
mem-bawa isu lokal oleh organisasi lokal merupakan satu-satunya jalan bagi perjuangan
demo-kratik untuk perubahan, dengan menggunakan petisi atau tekanan pada penguasa-pe-nguasa nasional dan internasional.
6. Revolusi selalu berakhir dengan buruk atau tidak mungkin bisa berhasil, perubahan
sosial akan memperkuat reaksi provokatif dari penguasa. Alternatifnya adalah dengan
berjuang mengkonsolidasikan transisi demokratis untuk menyelamatkan proses pemilihan umum (jalan parlementarian).
7. Solidaritas kelas adalah bagian dari ideologi-ideologi masa lalu, yang mencermin-kan
politik dan realitas masa lalu. Kelas-kelas sudah tidak ada lagi. Bentuk yang ada ialah fragmen-fragmen penduduk daerah dimana grup-grup (identitas) tertentu dan daerah mengusahakan self-help (kemandirian) dan saling hubungan untuk survive berbasiskan pada
kerja sama dengan pendukung dari luar. Solidaritas adalah sebuah fenomena persilangan
kelas, adalah gerak/gestur kemanusianan semata.
8. Perjuangan kelas dan konfrontasi tidak menghasilkan sesuatu yang nyata. Hanya akan
menyebabkan kekalahan dan kegagalan. Lembaga-lembaga kerjasama internasi-onal dan
lembaga milik pemerintah dengan proyek-proyeknya yang khusus akan menghasilkan
kemajuan produksi.
9. Anti-imperialisme juga merupakan milik masa lalu yang sudah waktunya mati. Dalam
ekonomi global yang terjadi saat ini, tidaklah mungkin untuk menyerang pusat-pusat
ekonomi dunia. Dunia sudah berkembang secara saling tergantung dan dalam dunia ini
dibutuhkan kerja sama internasional yang lebih besar lagi dalam mentransfer kapital
dan teknologi serta saling memahami antara negara-ne gara kaya dengan negara-negara
miskin.
10. Pimpinan-pimpinan dari organisasi-organisasi kerakyatan tidak boleh tertutup da-lam
mengorganisir orang-orang miskin dan melakukan saling belajar serta tukar pengalaman.

12

Impor barang-barang luks untuk kelas menengah atas adalah berdasarkan ekspor tenaga kerja kaum miskin yang dikirim ke luar negeri. Eksploitasinya berbentuk pemiskinan
dalam negeri, terutama pada kaum tani yang akhirnya dipaksa migrasi ke kota dan ke luar
negeri. Pendapatan yang dibayar dari menjual buruh ke luar negeri menghasilkan mata
uang keras untuk mendanai impor dan seluruh proyek infrastruktur neo-liberal serta
untuk mempromosikan ekspor domestik dan bisnis pariwisata secara merajalela. Rantai
penghisapan dan penindasan semakin melingkar namun tetap terbatas seputar hubungan buruh-modal.
Dalam era neo-liberalisme, perjuangan untuk membangun kembali bangsa, pasar nasional, produk nasional, dan pertukaran mata uang, sekali lagi terulang dalam sejarah
sebagai hukum permintaan, yaitu pertumbuhan deregulasi tenaga kerja (secara informal)
mensyaratkan sebuah investasi publik yang besar, kuat dan berpusat untuk meningkatkan
ketenagakerjaan yang formal dengan suatu syarat hidup sosial. Dengan kata lain, akan
ada kesamaan identitas kelas yang membentuk benteng untuk pengorganisiran perjuangan kaum miskin.
Kesimpulannya, berlawanan dengan argumentasi post-marxisme, transformasi kapital membuat analisa kelas semakin relevan dan nyata. Pertumbuhan teknologi telah
membangkitkan perbedan kelas, bukannya menghapuskannya. Buruh-buruh indrustri
micro-chip dan sejenisnya yang menghasilkan elemen-elemen micro-chip yang ada
sekarang, belum menggeser posisi kaum buruh apa lagi mengurangi barisan mereka.
Hal tersebut belum menggantikan aktivitas dan model produksi di dalam proses penindasan yang berkelanjutan. Struktur kelas baru sejauh ini dapat dilihat sebagai kombinasi
teknologi-teknologi baru untuk lebih mengontrol bentuk-bentuk eksploitasi. Otomatisasi
dalam beberapa sektor meningkatkan jam kerja; kamera televisi meningkatkan pengawasan buruh, sementara dilakukan pengurangan staf administrasi; suatu lingkaran kerja
berkualitas, dimana buruh menekan buruh, meningkatkan self-exploitation (eksploitasi
diri sendiri) tanpa meningkatkan upah dan hak-haknya. Revolusi teknologi, dipertajam
oleh struktur kelas neo liberalisme yang sangat anti revolusi. Komputer akan mengontrol harga pertanian dan volume pestisida, Tapi buruh yang menyemprotkan pupuk dan
anti hama tetap mendapatkan bayaran rendah. Jaringan informasi akan memperkuat

tidak segera berubah, mencapai kesadaran penindasan secara lebih luas dan menghadapi sistem yang menindas masyarakat secara luas. Apa lagi jika tidak segera masuk pada
pendekatan analisa kelas dari struktur kekuasaan yang lebih luas dan me-nyebabkan
ketidak adilan secara umum dan khusus.

Mobilisasi internal harus berbasiskan pendanaan eksternal. Kaum profesional harus


memproduksi desain-desain program dan mengamankan keuangan eksternal untuk
dapat mengorganisir grup-grup lokal. Tanpa bantuan dari luar grup-grup lokal dan kaum
profesional akan gagal dan hancur.

Politik identitas mengisolasi kelompok-kelompok untuk saling bersaing dan tidak dapat
berubah secara lebih luas dalam arti ekonomi dan politik yang mencakup kepentingan
orang miskin, buruh dan tani. Sedangkan politik kelas adalah benteng untuk memerangi
politik identitas dan mentransformasikan semua lembaga yang mempertahankan ketidak
adilan kelas dan lainnya (gender, etnik, dan ras).

KRITIK TERHADAP IDEOLOGI POST-MARXIS

Kelas-kelas tidak datang secara subyektif, namun merupakan hasil pengorganisiran kelas
kapitalis dalam rangka membangun nilai-nilai mereka. Dalil bahwa kelas merupakan dalildalil subyektif adalah tergantung atas waktu, tempat, dan persepsi serta kesadaran akan
kelas itu sendiri. Hal ini juga tergantung pada faktor sosial dan budaya. Kesadaran kelas
adalah bangunan sosial yang ada sepanjang sejarah. Semen-tara bentuk-bentuk sosial
dan ekspresi kesadaran kelas adalah fenomena yang muncul berulang-ulang sepanjang
sejarah di hampir semua bagian dunia, walaupun ia tertutup oleh bentuk-bentuk lain dari
kesadaran dalam momentum-momentum yang berbeda (ras, gender, nasionalisme) atau
berupa kombinasi (nasionalisme dan kesadaran kelas)
Jelas ada beberapa perubahan besar dalam struktur kelas, tapi tidak seperti yang
dikemukakan oleh post-marxisme. Perubahan-perubahan besar justru telah semakin
memperkuat dan memperjelas perbedaan kelas dan penindasan kelas, walaupun bentuk
dan syarat-syarat dari yang ditindas dan yang menindas telah berubah. Sekarang lebih
banyak buruh kontrak dari sebelumnya. Lebih banyak lagi buruh yang bekerja di sektor
informal (disebut unregulated labor/buruh sektor informal karena tidak di bawah perlindungan dan aturan yang berlaku) dari pada sebelumnya. Persoalan sektor informal
ini bukan berarti sistem itu merupakan transendensi dari bentukan lama kapitalisme,
namun justru kembali ke bentuk penindasan buruh di abad 19. Analisa baru ini berangkat
dari pola kapitalisme setelah negara kesejahteraan rakyat (welfare populist state) ter-gusur. Ini artinya bahwa peran negara dan partai yang menjadi perantara antara modal dan
tenaga kerja telah digantikan oleh institusi negara secara lebih jelas dan langsung berhubungan dengan kelas kapitalis yang dominan berkuasa. Neo-liberalisme tidak menjadi
perantara kelas yang menguasai negara. Saat ini model akumulasi Neo-liberalisme lebih
banyak tergantung secara langsung pada kontrol negara secara terpu-sat berhubungan
sejajar dengan bank-bank internasional untuk mengimplementasikan pembayaran utang
dan untuk mengekspor hasil sektor-sektor ekonomi dengan pinjaman mata uang asing.
Garis vertikalnya berhubungan dengan masyarakat sebagai subyek dan hubungan yang
terutama melalui aparatus negara yang represif dan para kaki tangan LSM yang takut
pada ledakan sosial.
Tergusurnya welfare state (negara kesejahteraan) bermakna polarisasi dalam struktur
sosial: antara pekerja-pekerja sektor publik yang dibayar rendah di bidang kesehatan,
pendidikan, keamanan sosial di satu pihak, dan dipihak lain adalah kaum profesional

Jadi, demikianlah analisa, kritik, dan strategi pembangunan ideologi post-marxis, sebagai
sebuah ideologi untuk menyerang diskusi-diskusi marxisme. Lebih dari itu, menurut mereka, marxisme adalah ideologi yang gagal mengidentifikasi krisis-krisis yang terjadi dalam
kapitalisme. Stagnasi berkepanjangan (prolonged stagnation) dan kepanikan moneter
yang terjadi secara periodik (periodic financial panic) serta kontradiksi sosial (in-equalities/ketidaksederajatan dan social polarisation/polarisasi sosial) pada tingkat nasional
dan internasional yang bersentuhan dengan problem sosial daerah (lokal) menjadi fokus
mereka. Contohnya, asal-usul neo-liberalisme merupakan produk dari konflik kelas.
Sektor-sektor modal tertentu beraliansi dengan negara dan imperialisme -memukul
kelas-kelas dalam massa rakyat dan memaksakan penerapan model-model mereka.
Tentu saja perspektif yang non-kelas tidak akan mampu memblejeti asal usul dari ideologi post marxisme ini. Lebih dari itu, - seperti halnya dengan persoalan asal-usulnya, post
marxisme, secara kasar membatasi dan merampas sumberdaya dan usaha kaum marxis
dalam perjuangannya, - dengan meningkatkan tawaran-tawaran menarik yang memancing opurtunisme. Ini dapat berupa pendanaan, karir, dan semua hal yang bisa memecah
kekuatan marxis, dengan pendekatan kebudayaan, sosial dan tentu saja ekonomi politik,
baik di tingkat nasional maupun internasional. Asal usul sosiologis dari post-Marxisme
tertanam pada saat-saat pergantian kekuasaan politik dari kelas pekerja ke ekspor kapital.
Mari kita berpindah dari pembicaraan mengenai sebuah pengetahuan sosiologis tentang
kritik seputar ideologi post marxisme dan pandangan umum mereka yang tidak konsisten
ke diskusi soal dalil-dalilnya yang lebih khusus. Diawali, pertama, dari dalil tentang kegagalan sosialisme dan akhir dari masa ideologi-ideologi. Apa yang dimaksud dengan
kegagalan sosialisme? Keruntuhan rezim komunis Uni Soviet dan Eropa Timur? Jawabnya adalah bahwa semua pengalaman di atas hanya merupakan bagian dari salah satu
konsep sosialisme. Kemudian, walaupun tidak jelas, apa yang salah, apakah sistem politiknya atau sistem ekonominya? Pada pemilihan umum yang terakhir di Rusia, Polandia,
Hungaria, dan banyak negara bekas Republik Soviet, menunjukkan bahwa mayoritas
suara lebih memilih untuk kembali menggunakan kebijakan lama dalam bidang kesejahteraan sosial dan praktek ekonominya. Jika demikian yang menjadi kenyataan maka
perkembangan di bekas negara-negara eks-Soviet tersebut berarti belum merupakan
hasil akhir, seperti yang sering di gembar-gemborkan kaum kapitalis dan antek-anteknya
di blok post-marxisme.
Kedua, jika kegagalan sosialisme yang dimaksudkan oleh post-marxisme tersebut merupakan kemunduran dari kekuatan-kekuatan kiri, maka kita musti benar-benar jernih
melihat perbedaan antara kegagalan dengan ketidak-cakapan internal dalam praktek

13

sosialis dan kekalahan politik serta militer oleh serangan agresor dari luar. Tidak ada yang
mengatakan bahwa penghancuran oleh sistem demokrasi di Eropa oleh Hitler sebagai
kegagalan demokrasi . Tindakan rejim teroris kapitalis dan atau dalam hal ini Amerika
Serikat di Chile, Argentina, Bolivia, Uruguay, Republik Dominika, Guatemala, Nikaragua,
El Salvador, Angola, Mozambik, Afganistan, Indonesia, Vietnam dan Filipina memainkan
peran yang besar pada kemunduran kiri revolusioner. Kekalahan militer tidak berarti
kegagalan dalam sistem ekonomi dan tidak mencerminkan persoalan efektifitas serta
pengalaman-pengalaman sosialis. Lebih dari itu, ketika kita menganalisa internal performance (kinerja internal) selama periode pemerintahan sosialis yang stabil atau pemerintahan yang berwatak kerakyatan, dengan berbagai indikator sosial, menunjukkan hasil
yang lebih baik daripada bentuk-bentuk yang muncul dalam sistem yang kemudian.
Contohnya di Chile, partisipasi sosial, kesehatan, pendidikan, dan pemerataan pertumbuhan jauh lebih baik di bawah pemerintahan Allende, dibandingkan dengan sistem yang
datang kemudian di bawah Pinochet. Indikator yang sama terlihat dalam pengalaman di
Nicaragua - menunjukkan bahwa di bawah Sandinista keadaan lebih baik ketimbang periode yang dipimpin oleh rejim Chamoro kemudian. Reformasi agraria dan kebijakan HAM
yang dilakukan oleh pemerintahan Arbenz jauh lebih baik ketimbang kebijakan konsentrasi tanah yang membunuh 150.000 orang oleh pemerintahan yang di-install oleh CIA.
Saat ini, memang benar bahwa pemerintahan Neo-liberalis dan pemerintahan marxis,
tidak sedang berkuasa. Sangat sulit melihat kepemimpinan kaum kiri revolusioner di
belahan bumi barat (Eropa dan Amerika) - seperti memimpin dalam aksi massa besar dan
menantang rejim serta kebijakan neo-liberal. Di Paraguay, Bolivia dan Uruguay, berhasil
di lancarkan pemogokan umum besar-besaran; pengaruh gerakan kaum tani yang luas
dan besar serta perjuangan bersenjata oleh kaum Indian di Mexiko; gerakan kaum buruh
tani tidak bertanah di Brazil - semua itu mencerminkan pengaruh yang kuat dari kekuatan-kekuatan marxis.
Sosialisme di luar blok komunis secara esensial menggambarkan demokasi yang nyata.
Kekuatan populis mendapatkan dukungan luas karena ia mewakili kepentingan rakyat
yang bebas memilih. Inilah yang menyebabkan kebingungan kaum post-marxis, antara
praktek pengalaman komunisme di Soviet dengan praktek pengalaman gerakan revolusioner demokratik-sosialis di grassroot Amerika Latin. Mereka dibingungkan oleh
kekalahan antara kekalahan militer dengan kegagalan politik kiri. Mereka menerima dan
memamah biak penggabungan neo-liberalisme terhadap dua konsep yang saling bertentangan tersebut. Akhirnya, dalam kasus Eropa Timur, mereka gagal melihat perubahan
dan dinamika sifat dari komunisme itu sendiri. Pertumbuhan popularitas dari sebuah sintesa sosialisme yang terbaru terhadap kepemilikan sosial, program-program kesejahteraan, reformasi agraria dan dewan-dewan demokratik, yang kesemuanya itu berlandaskan
pada sebuah perkembangan gerakan sosial-politik yang baru.
Dalam hal ini pandangan post marxis tentang akhir dari masa ideologi-ieologi, bukan
hanya tidak konsisten dengan pernyataan ideologis mereka, tapi juga terhadap kelanjutan perdebatan ideologis antara yang bentukan marxime lama dan yang terbaru berha-

14

dapan dengan neo-liberalisme dan keturunan anak cucunya: Post-marxisme!


PEMBUBARAN KELAS-KELAS DAN MUNCULNYA IDENTITAS
Post-Marxis juga menyerang penggunaan pendekatan analisa kelas dari berbagai perspektif. Di satu pihak mereka mengklaim bahwa pendekatan tersebut mengaburkan
kesejajaran atau yang lebih penting adalah identitas budaya (gender dan etnik). Mereka
menyatakan bahwa pendekatan dengan analisa kelas adalah sebuah reduksi ekonomistik
dan gagal menjelaskan perbedaan-perbedaan gender maupun etnik di dalam kelas-kelas. Mereka kemudian lebih jauh berargumen bahwa justru perbedaan-perbedaan inilah
yang menentukan keaslian politik kontemporer.
Serangan mereka yang kedua terhadap pandangan analisa kelas, adalah bahwa analisa
kelas hanya merupakan desain dari konstruksi intelektual - hanya merupakan sebuah
gejala/fenomena subyektif yang kuat menentukan secara kultural saja. Sebenarnya tidak
ada kepentingan kelas yang objektif yang membagi masyarakat - karena kepentingan
tersebut adalah semata-mata subyektif dan setiap budaya menentukan pilihan-pilihan
individual.
Serangan mereka yang ketiga adalah argumentasi bahwa telah terjadi transformasi yang
cepat dalam ekonomi dan masyarakat yang telah melenyapkan perbedaan kelas yang
lama. Argumentasi mereka bahwa , - Era masyarakat Post Industrial, - menunjukkan
bahwa sumber kekuasaan ada pada sistem informasi yang terbaru, teknologi terbaru
dan pada mereka yang mengontrol dan mengatur semua itu. Masyarakat, menurut
pandangan mereka, sedang berubah menuju masyarakat baru dimana buruh industri
akan menghilang menuju dua arah yaitu: naik menjadi new middle class/kelas menengah baru yang berteknologi tinggi, - atau merosot ke bawah menjadi under class/kelas
bawah.
Marxisme tidak pernah menolak tentang pentingnya pemilahan ras, gender dan etnik di
dalam pendekatan analisa kelas-kelas. Apa yang diinginkan oleh post marxisme adalah
penekanan pada sistem sosial yang lebih luas yang menghasilkan perbedaan-perbedaan
dan keharusan melakukan penggabungan kekuatan antar kelas-kelas untuk menghapuskan ketidak seimbangan dalam kerja, lingkungan dan keluarga. Namun apa yang lebih
mendapatkan penekanan oleh post-marxisme adalah bahwa persoalan ketidak adilan
terhadap gender, ras, dan etnik bisa dianalisa dan dihapus di luar pendekatan analisa
kelas. Seorang perempuan tuan tanah dan pembantu-pembantunya memiliki identitas
esensial, seperti halnya seorang perempuan tani yang bekerja dengan upah rendah;
seorang birokrat Indian dari pemerintahan neo-liberal memiliki sebuah identitas yang
sama dengan petani perempuan Indian yang kehilangan tanah karena politik ekonomi
pasar bebas. Contohnya seperti Bolivia yang memiliki seorang Wakil Presiden berasal dari
etnik Indian yang juga melakukan pemenjaraan massal terhadapa petani coklat Indian.
Politik identitas bagi sementara kelompok mungkin memang bisa menjadi sebuah penyadaran bagi salah satu bentuk penindasan dan dapat menggerakkan mereka. Namun
dengan demikian pemahaman ini akan menjadi pemenjaraan kesadaran (ras etnik dan
gender) yang mengisolasinya dari setiap bentuk penindasan yang lain di masya-rakat, jika