Anda di halaman 1dari 29

PENUNTUN PRAKTIKUM

KIMIA INSTRUMEN

oleh :
TIM KIMIA INSTRUMEN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
JAMBI
2014
Praktikum 1
CARA MENGOPERASIKAN SPECTRONIC

1. Hubungkan alat dengan arus listrik AC 220 V.


2. Nyalakan alat spectronic 20 dengan menekan tombol 1. Nyala merah dari
lampu indikator menandakan adanya arus yang mengalir. Biarlan lebih
kurang 15 menit.

3. Pilih panjang gelonbang ( ) yang akan digunakan dengan cara


memutar pengatur panjang gelombang pada tombol nomor 4.
4. Atur meter kepembacaan 0%T dengan memutar tombol 1.
5. Masukkan larutan blanko (biasanya aqudes) ke tempat sampel (kuvet)
pada kompartemen nomor 2.
6. Atur meter kepembacaan 100%T dengan memutar tombol nomor 5.
7. Ganti balnko dengan larutan berwarna yang lain (sebagai latihan) dan baca
absorbansi atau transmisi yang ditunjukkan oleh jarum pada pembacaan
A/T nomor 6.
8. Kalau sudah selesai, matikan alat dengan menggunakan tombol 1.

Gambar 1. Gambar Spektronik-20


Keterangan:
1. Saklar dan pengatur 0% T
2. Tempat larutan
3. Lampu indikator
4. Pengatur panjang gelombang
5. Pengatur 100%T
6. Pembacaan absorbansi atau %T
Memilih Tabung Kuvet yang Saling Berpadanan (Matched) untuk
Spectronic-20
1. Sediakan sejumlah tabung kuvet yang diremdam dalam larutan detergen
2

2. Cuci dengan air ledeng, lalu air aqua D.M. keringkan dengan alat
pengering
3. Beri tanda di bagian atas masing-masing
4. Isi masing-masing kuvet kira-kira dua per tiga bagian dengan larutan
CoCI2
5. Pasang panjang gelombang 510 nm
6. Tanpa ada tabung di dalam tempat cuplikan dan penutupnya ditutupkan,
jarum dinolkan dengan memutar tombol pengatur amplifier (0% T)
7. Masukkan salah satu tabung (perhatikan tandanya) yang berisi larutan
CoCI2 ke dalam tempat cuplikan/sampel. Tutup, kemudian atur tombol
pengatur cahaya hingga jarum menunjukkan 90% T. (pakailah tabung yang
satu ini selanjutnya untuk pengecekan 90% T secara periodik).
8. Berdasarkan penunjukan 90% T dengan tabung kuvet tersebut di atas
sebagai pembanding masukkan tabung-tabung lainnya berisi larutan CoCI2
dan catat berapa harga %T masing-masing.
PERHATIAN: waktu menempatkan tiap

tabung

dalam

tempat

cuplikan/sampel; perhatikan posisi garis vertikal pada dinding


tabung!
9. Pilih tiga tabung kuvet yang selisih pembacaannya kurang dari 1%
(terhadap pembacaan 90% T tabung pembanding). Gunakan tiga tabung ini
untuk percobaan penetapan Ti.
PERHATIAN: Selalu menggunakan aat spectronic-20 yang sama untuk
melakukan

matching

tabung

kuvet

dan

untuk

praktikum/analisa sampel berikutnya.


Praktikum 2
PENENTUAN KROM SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR
TAMPAK
Pendahuluan
Spektrofotometri sinar tampak adalah teknik analisis yang didasarkan pada
serapan cahaya tampak oleh molekul larutan berwarna. Bila larutan tidak
berwarna harus dijadikan berwarna menggunakan pengomplek tertentu yang
spesifik.
Pada praktikum ini digunakan alat Spectronic-20. Langkah awal dari
analisis secara spektrofotometri sinar tampak adalah mendapatkan daerah kerja

yang baik dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang yang


maksimum.
Pada setiap pengukuran %T atau absorbansi (A=-log T) digunakan dua
atau lebih kuvet: kuvet blanko, kuvet standar dan kuvet sampel. Kuvet ini harus
matched atau saling berpadanan.
Akurasi pengukuran menggunakan spektrofotometer sangat bergantung
pada ketersediaan kuvet yang berkualitas dan sepadan (matched). Kuvet-kuvet
tersebut harus dikalibrasi terhadap sesamanya untuk memperoleh kuvet yang
sepadan pada interval waktu tertentu untuk mendeteksi adanya perbedaan sebagai
akibat penggunaan (wearing) dalam waktu yang lama atau tergores (scratches).
Sama pentingnya adalah bagaimana dinding luar kuvet dibersihkan sesaat
sebelum dimuasukkan ke spektrofotometer khususnya bagian sisi windows
melalui

mana

radiasi

elektromagnetik

dilewatkan.

Dalam

hal

ini

direkomendasikan untuk membersihkan dinding luar kuvet dengna kain


pembersih kaca mata yang dicelupkan ke dalam metanol sehingga sisi windows
bebas dari pengganggu (metanol dibiarkan menguap). Menggunakan kain
pembersih yang kering tidakdianjurkan karena ccenderung akan meninggalkan
residu atau lapisan film pada dinding kuvet. Daerah radiasi yang digunakan dalam
spektrofotometri sinar tampak adalah pad 380-750 nm.

Alat dan Bahan:


-

Kalium khromate (K2CrO4)


Labu volumetrik 100 ml
Spectronic 20

Prosedur kerja:
1. Buat sederetan larutan standar khrom menggunakan labu volumetrik 100ml
dengan konsentrasi di antara 0 sampai 20 ppm dengan mengencerkan larutan
standar induk (stack solution) yang telah dibuat sebelumnya.
2. Tentukan panjang gelombang serapan maksimum dengan jalan membuat
spektrum absorpsi antara 400-600 nm. Sebaiknya gunakan larutan standar

dengan konsentrasi yang ditengah di antara sederetan larutan standar yang


dibuat kegiatan 1.
Catatan: naikkan panjang gelombang mula-mula dengan 10 nm tiap kali,
tetapi sekitar panjang gelombang maksimum, naikkan tiap kali dengan 5 nm
(apa sebabnya)?
3. Buatlah kurva kalibrasi menggunakan larutan-larutan standar di atas pada
panjangan gelombang yang telah ditentukan pada kegiatan 2.
4. Ukurlah %T larutan sampel khrom untuk mengetahui absorbansinya.
5. Buatlah spektrum absorpsi khrom (Cr) pada kertas grafik.
6. Tentukan kandungan khrom dalam sampel menggunakan kurva kalibrasi di
atas.
7. Berapa K2CrO4 harus ditimbang untuk mendapatkan larutan standar khrom
1000 ppm?

Praktikum 3
SIFAT BAIK DAN SIFAT TAK BAIK UNTUK KEPERLUAN ANALISIS
KOLORIMETRI
Pendahuluan
Istilah kolorimetri berarti analisis berdasarkan penyerapan sinar tampak
oleh molekul atau ion suatu sampel dalam larutan. Sinar tampak memiliki panjang
gelombang antara 400 hingga 750 nm. Pengamatan serapan sinar dalam
kolorimetri dapat dilakukan secara visual dengan alat fotometer filter (yaitu alat
fotometer yang menggunakan filter sebagai monokhromator), atau alat
spektrofotometer dimana monokhromatornya adalah sebuah prisma atau suatu kisi
difraksi.

Alat spektrofotometer itu ada bermacam-macam: ada spektrofotometer


yang hanya dapat digunakan untuk daerah tampak saja (spectronic-20), ada yang
dapat digunakan untuk sinar dan sinar ultra lembayung (dengan menggantikan
sumber sinarnya) dan ada juga spektrofotometer untuk sinar infra merah. Alat
spectronic-20 yang digunakan dalam praktikum ini adalah adalah suatu
spektrofotometer yang sumber sinarnya adalah lampu wolfram biasa, jadi alat ini
hanya dapat digunakan untuk serapan sinar tampak saja oleh karena itu
spektrofotometer spectronic-20 ini kadang-kadang disebut atau dapat dianggap
sebagai kolorimeter.
Bila pengukuran dengan kolorimeter yang menggunakan sinar tampak,
maka larutan sampel yang diukur serapannya haruslah berwarna (apa sebabnya?).
Warna yang tua berarti bahwa ion-ion tersebut mempunyai nilai a (absortivitas)
yang cukup besar pada panjang gelombang tertentu, sehingga absorbansi
lerutannya pada konsentrasi yang digunakan dapat diukur secara langsung, artinya
tanpa perlu menambahkan pereaksi untuk menimbulkan warna, dan warna ion-ion
tersebut stabbil sehingga hukum Lambert Beer dapat dipenuhi dengan baik.
Sebagai contoh misalnya ion-ion Cr(III) dan Co(II), merupakan ion-ion
yang mempunyai sifat-sifat kolorimetri yang baik. Akan tetapi tidak semua zat
atau ion mempunyai sifat kolorimetri yang baik. Supaya zat yang demikian itu
dapat diukur serapannya secara kolorimetri, maka zat tersebut haruslah diubah
terlebih dahulu menjadi zat yang memiliki sifat kolorimetri yang baik, yaitu
dengan jalan mereaksikannya dengan suatu pereaksi pembentuk warna.
Dalam praktikum ini akan ditinjau berbagai sifat kolorimeteri yang
sebaiknya dimiliki oleh suatu pereaksi pembentuk warna dan oleh hasil reaksi
pereaksi tersebut dengan sampel yang diukur absorbansinya menggunakan
spectronic-20.
Praktikum 3A
SISTEM BESI(III)-TIOSIANAT
Bahan dan Alat:
-

FeCl3
NH4SCN
6

HCl
NaOH
Na-dihidrogenfosfat
Kertas indikator pH
NaF
Na-oksalat
Na-tartrat
Labu volumetrik 100 ml
Spectronic-20

Cara kerja:
I. Pengaruh waktu terhadap absorbansi mutlak
1. Pipet 5 ml larutan induk besi (III) klorida dan 3 ml NH 4SCN jenuh ke
dalam labu takar 100 ml yang bersih, encerkan sampai tepat 100 ml.
2. Dengan menggunakan spectronic-20 ukur absorbansi dengan segere pada
480 nm (air murni sebagai blanko) catat A dan waktu saat pengukuran.
3. Ulangi pengukuran absorbansi larutan tersebut di atas setiap 20 menit
selama jangka waktu 100 menit. (catat tiap kali A dan waktu saat
pengukuran).
4. Sambil menuggu, lanjutkan dengan percobaan berikut yang lain. (Ingat
bahwa panjang gelombang setiap kegiatan mungkin tidak sama).
5. Alurkan (plot) A terhadap waktu (menit) untuk semua pengukuran.
II.

Pengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi mutlak


1. Kegiatan ini dilakukan sambil melaksanakan kegiatan 1 di atas.
2. Dalam labu takar 100 ml, buatlah larutan Fe(III) yang mengandung
berbagai jumlah tiosanat menurut daftar di bawah ini:
Fe(III) 0,001 M (ml)

NH4SCN 0,5M (ml)

Angka Banding SCN den


Fe

5
5
5
5
5
5

0,3
0,8
3,0
10,0
20,0
30,0

30
60
300
1000
2000
3000

3. Encerkan tiap kali samapai tepat 100 ml dengan air (aquades),


kemudian ukur A sesegera mungkin pada 480 nm (gunakan aquades
sebagai blanko).

Catatan: Walaupun ada 6 larutan Fe(III)-SCN yang harus diukur,


tetapi sebaiknya jangan dibuat keenam-enamnya sekaligus,
karena warna kompleks Fe(III)-SCN tidak stabil.
4. Alurkan di atas kertas grafik: A terhadap angka banding SCN-Fe untuk
semua pengukuran yang telah dikerjakan dalam kegiatan ini.
III.

Pengaruh pH terhadap absorbansi


Catatan: Karena warna kompleks Fe(III)-tiosianat tidak stabil,
sebaiknya larutan Fe(III)-tiosanat tidak dibuat sekaligus, melainkan
satu demi satu dan setiap satu larutan segera diukur A sebelumnya
melanjutkan ke larutan berikutnya.
1. pH = 0
ingat bahwa larutan induk Fe(III)mengandung HCl 0,5 M
a. Pipet dengan tepat 4 ml larutan induk Fe(III) ke dalam labu takar
100 ml, tambahkan 2 ml larutan jenuh NH4SCN dan 8 ml larutan
HCl pekat sehingga konsentrasi H akan menjadi 1 M, setelah
diencerkan sampai tepat 100 ml.
b. Kocok larutan dengan baik lalu segera ukur absorbansinya pada
480 nm.
2. pH = 1
a. Pipet ke dalam labu takar 100 ml, 4 ml larutan Fe(III) induk
b. Tambahkan 2 ml larutan jenuh NH4SCN dan 13 tetes HCl pekat.
c. Encerkan sampai tepat 100 ml.
d. Segera ukur absorbansinya pada 480 nm.
3. pH = bermacam-macam
Buat satu demi satu larutan-larutan denan berbagai pH sebagai
berikut:
a. Kepada 4 ml larutan induk Fe(III) dan 2 ml larutan NH 4SCN
dalam labu takar 100 ml tambahkan 0 tetes NaOH 4 M dan
encerkan sampai tepat 100 ml dan ukur A pada 480 nm, dan
kemudian ukur pH larutan tersebut dengan kertass indikator.
b. Kepada 4 ml larutan induk Fe(III) dan 2 ml larutan NH 4SCN
dalam labu takar 100 ml tambahkan 7 tetes NaOH 4 M dan
encerkan sampai tepat 100 ml dan ukur A pada 480 nm, dan
kemudian ukur pH larutan tersebut dengan kertass indikator.
c. Kepada 4 ml larutan induk Fe(III) dan 2 ml larutan NH 4SCN
dalam labu takar 100 ml tambahkan 9 tetes NaOH 4 M dan

encerkan sampai tepat 100 ml dan ukur A pada 480 nm, dan
kemudian ukur pH larutan tersebut dengan kertass indikator.
d. Plot A terhadap pH (kira-kira) untuk semua hasil pengukuran
dalam percobaan ini.
IV.
Pengaruh anion terhadap absorbansi
1. Setelah dilakukan penguluran absorbansi terhadap larutan pH 1 di
bagian III di atas. Tambahkan sebutir kecil NaF padat kepada larutan
dalam kuvet. Tutup lubang kuvet dengan ibu jari dan kocok dengan
kuat, (jangan memakai batang pengaduk) dan ukur kembali absorbansi
larutan. Bila ternyata tak ada perubahan, tambahkan lagi sebutir NaF
(butiran sangat kecil), dan ulang pengocokan dan pengukuran.
2. Segera sesudah itu bilas kuvet sebersih mungkin dengan air ledeng,
kemudian dengan air suling dan akhirnya dengan larutan pH 1 dan
ukur A. Kemudian tmabahkan sebutir kecil Na-oksalat. Kocok sperti
tadi dan catat kalau ada perubahan.
3. Ulang pekerjaan yang sama setelah menambahkan Na-tartrat dan Kdihidrogenfosfat.
4. Laporkan pengaruh penambahan masing-masing garam tersebut di
atas terhadap absorbansi sistem besi-tiosinat.
Tugas:
Untuk sistem besi(III)-tiosianat:
a.
b.
c.
d.

Alurkan A terhadap waktu (menit)


Alurkan A terhadap angka banding SCN : Fe
Alurkan A terhadap pH kira-kira
Buat ikhtisar pengamatan anda
Praktikum 3B
SISTEM BESI(III)-ORTOFENANTROLIN

Bahan dan Alat:


-

FeCl3
NH2OH.HCL
Ortopenantrolin
Na-asetat
NH3 pekat
Labu volumetrik 100 ml
Spectronic 20
NaOH
9

NaF
Na-oksalat
Na-tartrat
Na-dihidrogenfosfat
Kertas lakmus

Cara Kerja:
I.

Pengaruh waktu terhadap absorbansi mutlak


1. Pipet 5 ml larutan induk besi (III) klorida dan 3 ml NH 4SCN jenuh ke dalam
labu takar 100 ml yang bersih, encerkan sampai tepat 100 ml.
2. Tambahkan 2 ml larutan ortofenantrolin 0,3% (selanjutnya disingkat dengan ofn).
3. Masukkan secarik kecil kertas merah kongo ke dalam larutan ini dan teteskan
4.
5.
6.
7.

larutan 2 M N-asetat hingga kertas tersebut berubah merah.


Encerkan larutan hingga tepat 100 ml dengan aquaades dan kocok dengan baik.
Ukur absorbansi larutan pada 512 nm sebagai blanko gunakan aquades.
Ulangi pengukuran setiap 20 menit selama jangka waktu 100 menit.
Alurkan (plot) absorbansi terhadap waktu (menit) untuk semua hasil
pengukuran yang diperoleh.

Catatan: larutan Fe yang dibuat di atas (dalam labu takar) akan dipakai juga
untuk kegiatan IV di bawah ini.
II. Pengaruh kelebihan pereaksi terhadap absorbansi mutlak
1. Buatlah larutan-larutan Fe seperti pada kegiatan I di atas tetapi sekarang
ditambahkan berturut-turut: 0,0; 0,2; 0,4; 0,6; 1,0; 3,0; dan 4,0 ml
larutan o-fn 0,3%. Ukur absorbansi dari larutan-larutan ini pada panjang
gelombang 512 nm dengan aquades sebagai blanko.
2. Alurkan (plot) absorbansi tersebut ml o-fn. Akan diperoleh dua garis
yang saling memotong, dimana titik potongnya sesuai dengan
banyaknya o-fn yang tepat diperlukan untuk mengkomplekskan semua
Fe(III) dalam larutan.
III.

Pengaruh pH terhadap absorbansi mutlak


1. Ukur absorbansi dari 5 larutan di bawah ini yang pH-nya berbeda pada
512 nm.
2. pH=1,7
Pipet 4ml larutan induk Fe(III) ke dalam labu takar 100 ml dan
tambahkan 1 ml NH2OH.HCl. Putar-putar labu selama beberapa detik

10

dan kemudian biarkan selama 2 menit. Tambahkan 2 ml larutan o-fn 0,3


%. Encerkan sampai tepat 100 ml dengan aquades dan kocok dengan
baik. Segera ukur A.
3. pH=2.
Lakukan seperti pada no 1 akan tetapi sebelum mengencerkan hingga
tepat 100 ml, tambahkan beberapa tetes larutan Na-asetat 2 M hingga
warna merah mulai timbul.
4. pH=5.
Gunakan hasil pengukuran absorbansi yang pertama pada percobaan BI.
Larutan yang sama ini juga digunakan pada percobaan IV.
5. pH=9.
Kepada larutan induk Fe(III) sebanyak 4 ml dalam labu takar 100 ml,
tambahkan 1 ml larutan NH2OH.HCl dan 2 ml larutan o-fn 0,3%.
Kemudian tmabahkan larutan NH3 pekat setetes hingga larutannya
bersifat basa terhadap kertas lakmus. Encerkan sampai tepat 100 ml dan
kocok dengan baik. Laulu ukur absorbansinya
6. pH=12.
Kepada 4 ml larutan induk Fe(III) di dalam labu takar, tambahkan 1 ml
larutan NH2OH.HCl, 2 ml larutan o-fn 0,3% dan 13 tetes larutan 4M
NaOH. Encerkan sampai tepat 100 ml dan kocok dengan baik. Ukur A.
7. Alurkan (plot) absorbansi terhadap pH (kira-kira) untuk masing-masing
dari kelima larutan ini. Absorbansi sistem ini akan ternyata tidak
bergantung pada pH dalam daerah antara kira-kira pH=3 hingga sekitar
pH=10.
IV.

Pengaruh Anion terhadap Absorbansi Mutlak


1. Pakai larutan dalam labu takar yang dibuat dalam percobaan BI di atas.
Dengan cara yang sama seperti pada no A IV, pelajari (dan catat)
pengaruh empat anion (F, oksalat, tartrat dan dihidrogenfosfat) terhadap
absorbansi larutan. Penting sekali untuk membilas kuvet sebersih
mungkin setelah melakukan percobaan penambahan F (mengapa?).
2. Laporkan pengamatan saudara mengenai pengaruh keempat anion
tersebut terhadap A sistem besi o-fn sebagai bagian dari diskusi saudara
untuk menjawab pertanyaan nanti.

Tugas:
Untuk sistem besi(II)-ortofenantrolin

11

1. Alurkan A terhadap watu (menit)


2. Alurkan A terhadap ml o-fn. Masukkan dalam grafik titik yang sesuai
dengan hasil pengukuran pertama atau kedua dalam B. I.
3. Alurkan A terhadap pH kira-kira
4. Berikan ikhtisar pengamatan Saudara.
Pertanyaan untuk Sistem Fe-tiosanat dan Fe-ortofenantrolin:
1. Berikan uraian dengan singkat mengenai kebaikan dan keburukan ion
tiosianat dan ortofenantrolin sebagai pereaksi kalorimeter untuk besi.
Masukkan dalam uraian Anda hal-hal sebagai berikut:
a. Waktu dan kestabilan
b. Banyaknya pereaksi kalorimeter yang diperlukan
c. Pengaruh pH
d. Pengaruh anion
e. Hal lain yang menurut Anda penting
2. a. Apa yang dapat Anda simpulkan dari bentuk kurva A terhadap ml o-fn
dalam kegiatan B II.
b. Andaikan kompleks Fe(II)-o-fn mendissosiasi banyak, bagaimana
kiranya bentuk kurva A terhadap ml? (berikan gambaran kasar)

12

Praktikum 4
PENENTUAN PERMANGANATE DAN KHROMAT DALAM
CAMPURAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI
Pendahuluan
Apabila suatu laritan mengandung campuran zat terlarut yang tidak saling
bereaksi satu dengan yang lain dan mempunyai serapan pada panjang gelombang
maximum yang berbeda cukup besar, maka masing-masing dapat ditentukan
secara spektrofotometri. Setiap serapan total dari larutan pada suatu panjang
gelombang tertentu merupakan jumlah serapan dari masing-masing penyusunnya.
Misalnya suatu larutan mengandung campuran zat terlarut M dan N, maka apabila
serapan total larutan tersebut pada panjang gelombang 1 adalah A1 dan pada
panjang gelombang 2 adalah A2 maka:
A1 = A1(M) + A1(N) = 1(M). C (M) + 1(N). C (N)
A2 = A2(M) + A2(N) = 2(M). C (M) + 2(N). C (N)
Secara grafik dapat digambarkan sebagai berikut:
Dimana 1(M), 1(N) dan 1(N) masing adalah absorptivitas molar dari senyaa M dan N
pada panjang gelombang yang dapat dihitung dari larutan-larutan standarnya
dengan menggunakan rumus lambert-beer:

13

A= .t.c atau = A/t.C


Dalam percobaan ini dimaksudkan untuk menentukan konsentrasi ion
permanganate (MnO4-) dan konsentrasi ion kromat (CrO4=) dalam larutan yang
mengandung campuran KMnO4 dan K2CrO4 secara spektrofotometri dengan alat
spektronik.
Bahan Dan Alat:
-

Larutkan KMnO4 dan K2CrO4 masing-masing 10-4


Larutkan campuran : 5 ml lar. KMnO4 + 5ml lar. K2CrO4 + 2ml lar. NaOH

0,1 N encerkan menjadi tepat 50 ml.


Alat spektronik-20

Cara kerja:
A. Menentukan Absorptivitas Molar KMnO4 dan K2CrO4
1. Mencari (panjang gelombang) serapan maksimum KMnO4
- Setelah alat dihidupkan selama 15 menit, atur panjang gelombang pada
-

450 nm.
Atur skala %T = 0 dimana tempat sampel dalam keadaan kosong dan

tertutup rapat.
Masukkan tabung yang berisi larutan blanko, atur skala hingga menunjuk

%T=100
-Keluarkan tabung blanko.
- Masukkan tabung yang berisi larutan KMnO4 catat %T dan A yang
-

ditunjukkan oleh alat.


Ulangi cara kerja di atas untuk panjang gelombang 455 nm, 460 nm
sampai 600 nm.

2. Mencari (panjang gelombang) serapan maksimum K2CrO4


-panjang gelombang di atur pada 340 nm
- kerjakan seperti langkah-langkah pada no. 1, sampai pada panjang
gelombang 400 nm.
3. Perhitungan Adsorpsivitas molar (), gunakan rumus lambert-beer dengan
menggunakan data yang di dapat.
B. Menentukan Konsentrasi-Konsentrasi
KMnO4 M dan K2CrO4 Dalam Campuran
1. Tentukan serapan (A) larutan KMnO4 10-4 pada 1 dan 2
2. Tentukan serapan (A) larutan K2CrO4 10-4 pada 1 dan 2

14

3. Tentukan serapan (A) larutan campuran 1 dan 2


Pertanyaan:
Berapakah konsentrasi masing-masing komponen dalam campuran?

Praktikum 5
PENETAPAN RUMUS DAN TETAPAN
KESTABILAN ION KOMPLEKS
Pendahuluan
Dalam praktikum ini akan dilakukan penetapan rumus ion kompleks
menggunakan metode variasi kontinu. Metode ini hanya dapat digunakan untuk
menetapkan rumus suatu kompleks jika di dalam larutan yang dianalisis hanya
terdapat satu macam kompleks yang terbentuk dari komponen-komponennya.
Untuk menetapkan rumus kompleks dengan metode ini, di buat larutan kation (M)
dan larutan ligan pengkompleks (L), yang mempunyai konsentrasi yang tepat
sama. Dengan menggunakan larutan tersebut dibuat beberapa larutan campuran
antara larutan kation dan larutan ligan pengkompleks. Angka banding volume
larutan kation (M) terhadap volume ligan (L) di variasikan, tetapi jumlah total
volume harus tepat sama. Oleh karena itu konsentrasi larutan M dan konsentrasi
larutan L memberikan jumlah total konsentrasi kedua larutan ini adalah tetap
sama.
CM + C L = C
Ini merupakan prinsip pokok penetapan senyawa kompleks dengan metode
variasi kontinu. Tiap larutan campuran di atas kemudian di ukur absorbansinya.
Pada panjang gelombang dimana kompleks MmLI menyerap cahaya dengan kuat,
sedang M atau L sendiri tidak menyerap (atau tidak menyerap dengan kuat).
Apabila nilai-nilai absorbansinya tiap-tiap larutan campuran di atas di
alurkan pada kertas grafik terhadap fraksi mol M (CM/C) atau terhadap fraksi mol
L (CL/C), akan diperoleh grafik yang bentuk segitiga. Nilai dengan fraksi mol

15

yang sesuai dengan puncak segitiga itu adalah fraksi mol di mana kompleks ML
terbentuk sempurna.
Prinsip perhitungan tetapan kestabilan kompleks untuk kompleks 1:1 akan
diterangkan pada uraian berikut ini:
Karena fraksi pembentukan kompleks

adalah reaksi kesetimbangan,

aluran grafik disekitar puncak berbentuk lengkung. Absorbansi pada puncak


lengkungan ini adalah A dari kompleks ML yang sebenarnya (A maks). Seandainya
pembentukan kompleks berlangsung sempurna, A yang teramati adalah Aekstrap.
Berdasarkan hal tersebut maka:
A maks [ ML]
=
A ekstrap C ML
Dimana:
-

[ML] adalah konsentrasi ML yang belum mengurai pada kesetimbangan

(konsentrasi kesetimbangan)
CML adalah jumlah konsentrasi ML yang terbentuk seandainya tidak terjadi
penguraian.

Jadi konsentrasi ML pada kesetimbanagan adalah:


[ML]=

A maks
XC
Aekstrap

ML

Maka konsentrasi ion logam M yang terdapat dalam kesetimbangan adalah:


[M]= CM [ML] = CM -

A maks
xC
A ekstrap

ML

Dan konsentrasi L yang dalam kesetimbangan yang sama adalah:


A maks
[L]= CL [ML] = CL - A ekstrap x CML
dari persamaan di atas dapat di hitung konstanta kestabilan kompleks:
KStab =

[ ML ]
[ M ] [ L]

Praktikum ini menggunakan kompleks antara ion Fe (III) dengan asam


sulfosalisilat. Kompleks ini akan memberikan warna ungu. Kompleks ini stabil

16

sampai pH= 2,4 maka di dalam praktikum ini larutan menggunakan pelarut
HCLO4 0,1 M agar nilai pH cukup rendah.
Bahan dan Alat:
-

Asam sulfosalisilat 0,01 M dalam 0,1 M HCLO4


Fe (III) 0,01 M dalam 0,1 M HCLO4
Asam perklorat 0,1 M
Gelas kimia 100 ml
Batang pengaduk kecil
Spektronik-20
Biuret 50 ml + biuret mikro 10 ml
Botol semprot

Cara Kerja
1. Buatlah larutan-larutan berikut (dalam gelas kimia 100 ml)
No

Volume
Volume
HCLO4(ml) Fe(III) (ml)

Volume
Sulfosalisilat

%T

(ml)

40

10

..

..

40

..

..

40

..

..

40

..

..

40

..

..

40

..

..

40

10

..

..

2. Aduklah larutan-larutan di atas dan biarkan selama 30 menit.


3. Selama pendiaman larutan di atas siapkan 6 buah larutan yang mengandung Fe
(III) sesuai dengan larutan no 1-6 di atas, tetapi tanpa adanya asam
sulfosalisilat. Encerkan larutan-larutan ini dengan menggunakan HCLO4 0,1 M
hingga 50 ml.
4. Ukur absorbansi laruan no 3 antara 400-600 nm terhadap air murni sebagai
blanko dengan selang 20 nm. Bila sudah mendekati maksimum, ukurlah A
dengan selang 5 nm.
5. Tetapkan panjang gelombang maksimum!

17

6. Ukur A dari ketujuh larutan yang telah di buat di atas pada maksimum yang
telah ditentukan pada no. 5.
7. Ukur A dari larutan Fe (III) yang tidak mengandung asam sulfosalisilat, pada
maksimum di no. 5
8. Alurkan A yang diperoleh pada no 7 terhadap konsentrasi ion Fe (III).
9. Alurkan A yang diperoleh pada no 6 terhadap fraksi mol ion Fe (III). Dari
kurva ini, tarik kesimpulan sementara tentang rumus kompleks.
10. Koreksi harga A di atas, akibat pengaruh ion Fe (III) (atas dasar grafik pada
no. 8)
11. Alurkan absorbansi yang telah dikoreksi terhadap fraksi mol ion Fe (III),
kemudian tentukan :
a. Rumus molekul kompleks
b. Tetapkan kestabilan kompleks

Praktikum 6
TITRASI SPEKTROFOTOMETRI
BISMUT DAN TEMBAGA DENGAN EDTA
Pendahuluan
Praktikum yang dilakukan terdiri dari dua bagian yaitu:
18

1. Menstandarkan larutan EDTA


2. Mentitrasi secara spektrofotometri
Pada kedua titrasi tersebut di atas digunakan sinar dengan panjang
gelombang 745 nm, dimana hanya kompleks Cu-EDTA yang menyerap sinar
dengan panjang gelombang tersebut sedangkan senyawa-senyawa lain yang ada
dalam larutan yang sama.: ion Bi3+, Cu2+, EDTA dan kompleks Bi-EDTA tidak
menyerap sinar. Pada titrasi pertama, larutan EDTA yang di standartkan ada dalam
biuret dan di tambahkan kepada larutan standart Bi- nitrat yang mengandung
sedikit Cu-nitrat. Pada titrasi kedua, larutan EDTA di dalam biuret yang telah di
standartkan itu di pakai untuk mentitrasi secara spektrofotometri larutan
cuplikan /sampel yang mengandung campuran Bi-nitrat dan Cu-nitrat. Apabila
EDTA ditambahkan kepada larutan yang mengandung campuran Cu (II) dan
Bi(III), setelah konsentrasi Bi(III) menjadi sangat kecil sekali, baru akan terjadi
reaksi pengkompleksan ion Cu (II) oleh EDTA:
Bi3+ + EDTA

Bi-EDTA (Kompleks) Kstab = 1022,8

Cu2+ + EDTA

Cu-EDTA (Kompleks) Kstab = 1018,8

(Dimana Kstab = tetapan kestabilan kompleks)


Selama masih ada ion Bi3+ yang akan dikomplekkan, belum akan terjadi
kompleks Cu-EDTA yang menyerap sinar pada 745 nm. Sehingga nilai A larutan
akan tetap nol sampai konsentrasi Bi3+ menjadi sangat kecil. Kemudian akan mulai
terbnetuk kompleks Cu-EDTA yang menyerap sinar pada 745 nm dengan kuat
sekali dan nilai A akan semakin bertambah besar dengan bertambah banyaknya
kompleks Cu-EDTA. Setelah semua ion Cu bereaksi dengan EDTA, maka nilai A
larutan akan tetap constant (tidak bertambah besar) dengan penambahan EDTA
lebih lanjut, oleh karena EDTA tidak menyerap sinar 745 nm.
Titrasi campuran Bi3+ + Cu2+ dengan EDTA ini harus dilakukan pada pH
=2. Pada pH kurang dari 2, titik ekuivalennya tidak akan jelas, dan pada pH yang
lebih dari 2,5 ada kemungkinan Bi3+ mengendap (sebagai garam atauhidroksida)
Bahan Dan Alat
-

Larutan EDTA 0,1 M


Larutan Bi3+ 0,01 M
larutan Cu2+ 0,2 M
larutan NaOH 5 M
19

Asam perklorat asetat padat murni


Gelas Kimia
Botol semprot, kaca arloji
Sendok kaca, gelas ukur
Spektronik- 20

- Batang Magnet
- pH Meter
- Pengaduk Magnet
Cara Kerja:
A. Menstandarkan larutan EDTA
1. Masukkan biuret 20 ml larutan standart Bi-nitrat ke dalam gelas kimia 250
ml.
2. Tambahkan 2,0 gram asam kloro asetat (padat) dan 1 ml larutan Cu 2+ 0,2
M.
3. Encerkan sampai kira-kira 100 ml dan atur pH larutan menjadi 2 dengan
menambahkan NaOH 5 M (kira-kira 2,5 ml). gunakan pH meter.
4. Tuangkan dengan hati-hati sedikit larutan ini ke dalam kuvet spektronik70 atau spektronik-20 dengan tabung foton peka sinar merah atau filter
merah. Jangan sampai ada larutan yang menetes keluar.
5. Tempatkan kuver ini di dalam alat spektronik dan putar tombol kanan alat
sehingga jarum menunjukkan A = 0 pada = 745 nm. (sebelumnya telah di
atur 0% T tanpa ada kuvet).
6. Tuangkan kembali larutan yang ada dalam kuvet itu ke dalam gelas kimia
semula yang mengandung larutan yang sama, (tuangkan sehabis mungkin,
tetapi kuvet jangan dibilas dengan air). Tambahkan dari mikro biuret 0,40
ml larutan EDTA dan aduk dengan pengaduk magnet.
7. Setelah alat pengaduk dihentikan, bilaslah kuvet yang telah digunakan tadi
dengan larutan yang diperoleh pada no 6 di atas. Pembilasan ini dilakukan
sedikitnya dua kali dan setiap kali larutan pembilas harus dikembalikan ke
dalam gelas kimia yang mengandung larutan tersebut. JANGAN DI
BUANG.
8. Isilah kuvet yang telah dibilas itu dengan larutan yang sama dan ukur
absorbansinya pada 745 nm.
9. Ulangi pekerjaan no. 6 sampai no. 8 dengan tiap kali menambahkan 0,4 ml
larutan EDTA sampai nilai A-nya mula-mula naik dan kemudian merata
(constant lagi). Yang terakhir ini sedikitnya 4x pengamatan.
20

Catatan : ada baiknya di cek penunjukan A=0 atau % T = 100 dengan


menggunakan larutan Bi- nitrat yang asli (belum dititrasi) di
dalam kuvet lain yang berpadanan.
10. Alurkan pada kertas grafik nilai-nilai A terhadap ml larutan pentitrasi.
Tetapkan dari grafik ini volume larutan EDTA yang diperlukan untuk
mentitrasi Bi3+ dari titik potong (tiitk ekivalensi) yang pertama dan
hitunglah molaritas EDTA. Titik ekivalensi kedua dalam hal ini tidak
dipakai. Sebelum mengalurkan, lakukan koreksi nilai-nilai absorbansi
terhadap bertambahnya volume.
B. Titrasi Spektrofotometri Campuran Bi3+ dan Cu2+
1. Mintalah larutan sampel yang mengandung Bi3+

+ Cu2+ yang tidak

diketahui konsentrasinya.
2. Lakukan pekerjaan no,1 sampai 9 seperti pada bagian A di atas. Dengan
catatan no.2 jangan ditambahkan larutan Cu2+ 0,2 M.
3. Alurkan nilai-nilai A yang telah dikoreksi terhadap bertambahnya volume
oleh larutan penitrasi, terhadap nilai-nilai ml laruta penitrasi pada kertas
grafik.
4. Hitunglah molaritas Bi3+

yang belum diketahui dari titik ekivalensi

pertama dan molaritas Cu2+ dari titik ekivalen kedua.


Catatan: gunakan table pengamatan untuk mencatat data hasil titrasi
pada praktikum ini.

21

Praktikum 7
PENENTUAN KADAR BESI DALAM AIR SUNGAI DENGAN METODA
SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK
Pendahuluan
Senyawa kompleks berwarna merah-orange yang terbentuk dari reaksi
antara 1,10-penantrolin (orthopenantrolin) dengan besi (II) sangat bermanfaat
dalam penentuan kandungan besi dalam sampel air. Senyawa 1,10-penantrolin
(orthopenantrolin) membentuk kompleks yang stabil dengan Fe (II) dan beberapa
ion logam lain. Senyawa ini memiliki sepasang atom nitrogen pada posisi tertentu
sehingga pada masing-masing atom N dapat membentuk ikatan kovalen denagn
ion Fe (II). 1,10-penantrolin (orthopenantrolin) adalah basa lemah yang bereaksi
membentuk ion penantrolium (phenH+) dalam kondisi asam. Reaksi pembentukan
kompleks dapat dituliskan sebagai berikut:
Fe2+ + 3phenH+

Fe (phen)32+ + 3H+

(1)

Dari reaksi dapat dilihat bahwa 3 molekul 1,10-penantrolin membentuk ikatan


kovalen dengan 1 atom Fe.
Senyawa kompleks yang juga disebut ferroin ini memiliki tetapan
pembentukan kompleks (Kf) untuk reaksi 1 di atas sebesar 2,5 x 10 6 pada 25 C.
besi (II) secara kuantitatif membentuk dengan ferroin pada pH 3-9. Biasanya
direkomendasikan bekerja pada pH 3,5 untuk mencegah terjadinya pengendapan
garam-garam besi seperti besi fosfat pada pH tinggi. Zat pereduksi seperti

22

hydroxylamine atau hydroquinone ditambahkan berlebih ke sampel untuk menjaga


agar besi tetap dalam bentuk reduksi (Fe2+).
Bahan dan Alat:
-

Larutan Fe 10 ppm
Larutan hydroxylamine hydrochloride 10 %
Larutan orthopenantrolin 0,1 %
Labu takar 500 ml 1 buah
Botol semprot 1 buah
Pipet 25 ml 2 buah
Spektronik-20 dengan kuvet
Labu takar 100 ml 7 buah
Labu takar 1000 ml 1 buah
Batang pengaduk 1 buah
Karet penghisap 1 buah

Cara kerja:
A. Menyiapkan Larutan Stok
1. Larutan standart Fe 10 ppm. Timbang 0,0702 gram Fe(NH 4)2(SO4)6H2O2
dalam labu takar 1000 ml (atau sesuaikan denagn kebutuhan). Larutkan
dalm 50 ml air yang mengandung 1 atau 2 ml asam sulfat pekat, kemudian
encerkan sampai tanda batas. Tutup dan homogenkan dengan membalikbalik labu.
2. Larutkan hydroxylamine hydrochloride 10 %. Timbang 10 gram
hydroxylamine hidrochlorida (H2NOH.HCl) dan larutkan dalam labu takar
100 ml dengan air.
3. Larutan orthopenantrolin 0,1 %. Timbang 0,11 gram orthopenantrolin
monohydrate denagn air 25 ml denagn sedikit pemanasan dalam gelas
piala 250 ml. tuangkan perlahan-lahan larutan ke dalam labu takar 100 ml,
bersihkan gelas piala denagn air dan kemudian encerkan larutan sampai
tanda batas. (larutan ini tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama dan
bila warna menjadi gelap-darkens-supaya tidak digunakan).
4. Larutan natrium asetat 1,2 M. timbang 81,600 gram CH3COONa.3H2O
dan larutkan dalam labu takar 500 ml dengan air.
B. Menyiapkan Kurva Kalibrasi
1. Transfer 40, 20, 10, 5, dan 0 ml larutan standard besi 10 ppm ke lima buah
labu 100 ml.

23

2. Tambahkan larutkan stok hydroxylamine 10 % sebanyak 1 ml, natrium


asetat 1,2 M sebanyak 10 ml dan ortopenantrolin 0,1 % sebanyak 10 ml ke
masing-masing labu. Biarkan campuran tersebut selama 5 menit sebelum di
encerkan dengan air sampai tanda batas. (hitung konsentrasi Fe dalam
masing-masing labu).
3. Siapkan sepasang kuvet yang sepadan (matched) dan bersihkan dengan air.
Satu kuvet di cuci dengan larutan no.1 sebanyak tiga kali sebelum
digunakan mengukur larutan yang bersangkutan, dan kuvet yang kedua
dicuci dengan larutan yang tidak mengandung Fe (labu yang ditambahkan
dengan 0 ml larutan Fe) sebanyak 3 kali untuk larutan blanko.
4. Bersihkan dinding luar (windows) kuvet dengan kain pembersih yang
dibasahi methanol, dan pastikan methanol telah menguap sebelum
dimasukkan ke spectrophotometer.
5. Set spectrophotometer untuk bekerja pada panjang gelombang () 508 nm.
6. Ukur absorbansi masing-masing larutan standart di atas (pastikan larutan
standart memiliki absorbansi antara 0,100 dan 1,00. Bila absorbansi lebih
besar dari 1 lakukan pengenceran untuk memperoleh absorbansi dalam
rentang yang diinginkan. Dan buat kurva kalibrasinya.
C. Mengukur Larutan Sampel
1. Lakukan pekerjaanseperti no.1 dan 2 di atas dengan sampel air yang
disediakan dalam labu takar 100 ml.
2. Ukur absorbansi larutan sampel.
3. Hitung konsentrasi Fe dalam larutan sampel dalam ppm

24

Praktikum 8
PENENTUAN PH SECARA SPEKTROFOTOMETRI
Pendahuluan
Harga pH dari suatu larutan buffer yang tidak diketahui dapat ditentukan
dengan menambahkan indicator asam basa ke buffer dan larutan yang diperoleh di
ukur absorbansinya secara spektrofotometri. Karena adanya overlapping antara
spectra dari bentuk asam dan basa dari idikator, maka perlu untuk mengevaluasi
absorptivitas molar untuk masing-masing bentuk (asam-basa) pada dua panjang
gelombang. Hubungan antara dua bentuk bromokresol green dalam larutan air
digambarkan sebagai berikut:
HIn + H2O

H3O+ + In-

Dan harga tetapan dissosiasi asam (Ka) dari HIn adalah sebagai berikut :
H

Ka = 2+ 10-5
3 O

Dengan menentukan [In-] dan [HIn] secara spektrofotometri memungkinkan untuk


menghitung [H3O+].
Cara Kerja:
A. Menyiapkan Larutan Stok
1. Larutan Bromo cresol green 10-4.laritkan 40 mg dari natrium bromocresol
green (720 g/mol) dalam air dan encerkan sampai tanda batas dalam labu
takar 500 ml.
2. Larutkan HCl 0,5 M. encerkan 4 ml HCl pekat sampai tanda batas labu
takar 100 ml.
3. Larutan NaOH 0,4 M. Larutkan kira-kira 7 ml larutan NaOH 6 M sampai
tanda batas 100 ml.
B. Menentukan Absorbansi Spektrum Masing-masing

25

1. Transfer 25 ml larutan standart bromocresol green 10 -4 M ke dalam dua


buah labu takar 100 ml. tambahkan 25 ml Hcl 0,5 M ke dalam labu
pertama dan 25 ml NaOH 0,4 M ke labu yang ke dua, encerkan sampai
tanda batas dengan air.
2. Tentukan absorbansi bentuk asam dan konjugasi basanya dari indicator
HIn pada panjang gelombang 400 s.d 600 nm, dengan menggunakan air
sebagai blanko.
3. Tentukan harga absorptivitas molar untuk HIn dan In pada panjang
gelombang absorpsi maksimum masing-masing.
C. Penentuan Sampel Bufer Yang Tidak Diketahui pH-nya
1. Transfer 25 ml larutan stok brocresol green 10 -4 ke labu 100 ml dan
tambahkan 50 ml sampel buffer yang tidak di ketahui pH nya serta
encerkan ke tanda batas.
2. Ukur absorbansi larutan no.1 di atas pada panjang gelombang di mana
harga absorpsitivitas molarnya di hitung.
3. Hitung harga pH larutan sampel.

Praktikum 9
PENENTUAN Fe DALAM TABLET VITAMIN C SECARA
SPEKTROFOTOMETRI
Pendahuluan

26

Besi yang terkandung dalam tablet vitamin C ditentukan secara


spektrofotometri dengan terlebih dahulu melarutkan tablet vitamin C dalam asam
dan ion Fe2+ yang membentuk kompleks berwarna dengan o-penantrolin.
Bahan dan alat:
-

Larutan hydroquinone 10 g/L


Larutan trisodium citrate 25 g/L
Larutan o-penantrolin 2,5 g/L
HCl

Cara kerja:
A. Menyiapkan larutan stok
1. Larutan hydroquinone 10 g/L: timbang 5 gram hydroquinone dan larutkan
dan encerkan dengan air destilasi sampai tanda batas dalam sebuah labu
500 ml.
2. Larutan trisodium citrate 25 gr/L: timbang sebnayak 12,5 gram trisodium
citrate dan larutkan serta encerkan dengan air destilasi sampai tanda batas
dalam sebuah labu 500 ml.
3. Larutan O- penantrolin 2,5 g/L: timbang sebanyak 1,25 gram Openantrolin dan larutkan dengan 50 ml methanol dan 450 ml air destilasi
dalam labu 500 ml. larutan ini disimpan dalam labu yang berwarna gelap.
4. Larutan Fe 0,04 mg/mL : timbang dan larutkan 0,141 gram Fe
(NH4)2(SO4)2.6H2O dalam air destilasi dalam sebuah labu 500 ml yang
mengandung 0,5 ml H2SO4 98%.

B. Menyiapkan larutan tablet vitamin C


1. Tempatkan satu tablet vitamin C yang mengandung Fe dalam sebuah
beaker glas 100 ml dan didihkan secara perlahan dengan 25 ml HCl 6 M
selama 15 menit.
2. Saring larutan no 1 di atas ke dalam labu 100 ml semprotkan beaker dan
kertas saring dengan air beberapa kali dengan sedikit air untuk
memastikan larutan ditransfer secara kuantitatif.
3. Dinginkan larutan dan encerkan sampai tanda batas dan homogenkan
larutan dengan membalik-balik labu beberapa kali.
27

4. Pipet 5 ml larutan vitamin C ke dalam labu 100 ml dan encerkan dengan


air destilasi.
C. Menentukan jumlah Na- sitrat yang diperlukan untuk larutan stok Fe
1. Pipet larutan stok Fe 0,04 mg/mL sebanyak 10 ml ke dalam beaker glas
100 ml, ukur pH dengan kertas pH universal dan catat harga.
2. Teteskan larutan sodium citrate ke beaker di atas secara perlahan sampai
pH larutan sekitar 3,5 dan hitung jumlah tetes sodium citrate yang
diperlukan.
D. Menyiapkan larutan standard Fe
1. Pipet larutan stok Fe 0,04 mg/ml sebanyak 10,5,2,1 dan 0 ml ke dalam
masing-masing lab 100 ml.
2. Tambahkan sodium citrate ke masing-masing labu sebanding dengan
volume larutan stok Fe yang di ambil. (sebagai contoh kalu untuk 10 ml
larutan stok Fe ditambah 30 tetes sodium citrate, maka untuk 5 ml
ditambahkan 15 tets, dan seterusnya).
E. Menentukan jumlah Na- sitrat yang diperlukan larutan tablet vitamin C
1. Pipet 10 ml larutan tablet vitamin C ke dalam beaker 100 ml, ukur pH
dengan kertas pH universal dan catat harga pH.
2. Teteskan larutan sodium citrate ke beaker di atas secara perlahan sampai
pH larutan sekitar 3,5 dan hitung jumlah tetes sodium citrate yang
diperlukan.
F. Menyiapkan larutan tablet vitamin C
1. Pipet larutan vitamin C sebnayak 10 ml ke dalam labu 100 ml, dan
tambahkan sodium citrate sebanyak yang didaptkan pada no 2 di atas.
2. Tambahkan larutan stok hydroquinone 10 g/L sebnayak 2 ml, dan larutan
stok O-penantrolin 2,5 g/l sebnayak 3 ml; kemudian encerkan sampai
tanda batas dengan air destilasi dan homogenkan.
G. Pengukuran absorbansi larutan standard dan sampel
1. Biarkan larutan untuk tidak diganggu sekurang-kurangnya 10 menit.
2. Ukur absorbansi larutan pada panjang gelombang 508 nm dengan destilasi
sebagai blanko.
3. Kurangi absorbansi larutan dengan absorbansi blanko.
H. Tugas

28

I. Buat kurva kalibrasi absorbansi terhadap microgram Fe dalam larutan


standart, dan tentukan kemiringan garis (slope) dan titik potong (intercept)
dengan metoda least square.
J. Hitung molaritas Fe (phen)32+ dalam masing-masing larutan dan tentukan
harga rata-rata absortivitas molar dari keempat larutan standart.
K. Dengan menggunakan kurva kalibasi atau parameter least square tentukan
jumlah Fe (dalam mg) dalam tablet vitamin C.

29