Anda di halaman 1dari 49

BAB II

TINJAUAN TEORI
KONSEP MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. Pengertian Manajemen dan Manajemen Keperawatan
Manajemen adalah suatu pendekatan yang dinamis dan proaktif dalam
menjalankan suatu kegiatan di organisasi (Grant dan Massey, 2009). Manajemen
juga didefinisikan sebagai proses untuk melaksanakan pekerjaan melalui upaya orang
lain. Manajemen berfungsi untuk melakukan semua kegiatan yang perlu dilakukan
dalam rangka pencapaian tujuan dalam batas yang telah ditentukan pada tingkat
administrasi (Siagian, 2010).
Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf
keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional (Nursalam,
2007). Manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan
oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan
serta mengawasi sumber- sumber yang ada baik SDM, alat, maupun dana sehingga
dapat memberikan pelayanan keperawatan yang efektif, baik kepada pasien, keluarga
dan masyarakat.
B. Prinsip Manajemen Keperawatan
Prinsip yang mendasari manajemen keperawatan meliputi (Swanburg, 2000):
1. Manajemen keperawatan seyogyanya berlandaskan perencanaan karena melalui
fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko pengambilan keputusan,
pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
2. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang efektif.
Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun perencanaan yang
terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan sebelumnya.
3. Manajemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan. Berbagai
situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan kegiatan
keperawatan memerlukan pengambilan keputusan di berbagai tingkat manajerial.
4. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus perhatian
manajer perawat dengan mempertimbangkan apa yang pasien lihat, fikir, yakni

dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari seluruh tujuan
keperawatan.
5. Manajemen keperawatan harus terorganisir. Pengorganisasian dilakukan sesuai
dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
6. Pengarahan merupakan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang meliputi
proses pendelegasian, supervisi, koordinasi dan pengendalian pelaksanaan rencana
yang telah diorganisasikan.
7. Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk memperlihatkan
penampilan kerja yang baik.
8. Manajemen keperawatan menggunakan komunikasi yang efektif. Komunikasi
yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan
pandangan, arah dan pengertian diantara pegawai.
9. Pengembangan staf penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan perawatperawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau upaya manajer untuk
meningkatkan pengetahuan karyawan.
C. Fungsi Manajemen Keperawatan
1. Perencanaan
Planning (perencanaan) sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan
organisasi sampai dengan menyusun dan menetapkan rangkaian kegiatan untuk
mencapainya, melalui perencanaan yang akan dapat ditetapkan tugas- tugas staf.
Dengan tugas ini seorang pemimpin akan mempunyai pedoman untuk melakukan
supervisi dan evaluasi serta menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staf
dalam menjalankan tugas- tugasnya.
a. Sumber Daya Manusia (SDM)
1) Ketenagaan
a) Definisi
Perencanaan tenaga (staffing) keperawatan merupakan salah satu
fungsi utama pimpinan organisasi dalam keperawatan. Keberhasilan
pimpinan organisasi dalam merencanakan perawat ditentukan oleh
kualitas SDM (Arwani & Suprianto, 2006).
Perencanaan tenaga kesehatan adalah proses memperkirakan
jumlah tenaga dan jenis pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang
dibutuhkan untuk mencapai target pelayanan kesehatan yang telah
ditentukan dan mencapai tujuan kesehatan. Perencanaan ini mencakup
persiapan: siapa yang berbuat apa, kapan, dimana, bagaimana, dengan
5

sumber daya apa dan untuk populasi mana. Perencanaan tenaga rumah
sakit adalah sebagai perencanaan tenaga kesehatan untuk mencapai target
pelayanan rumah sakit yang dibutuhkan yang akan membantu pencapaian
target kesehatan. Langkah-langkah perencanaan tenaga rumah sakit
secara garis besar sama dengan langkah-langkah perencanaan tenaga
pada umumnya. Memang ada beberapa kekhususan-kekhususan sesuai
dengan fungsi rumah sakit (Junaidi, 1988 dalam Analisis Kebutuhan
Tenaga Perawat Di Instalasi Rawat Inap RSUD Karimun oleh Liza Sri,
2011).
b) Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan tenaga keperawatan.
Menurut Suyanto (2008), perhitungan tenaga kerja perawat perlu
diperhatikan hal-hal, sebagai berikut :
Faktor klien, meliputi : tingkat kompleksitas perawat, kondisi pasien
sesuai dengan jenis penyakit dan usianya, jumlah pasien dan
fluktuasinya, keadaan sosial ekonomi dan harapan pasien dan
keluarga.
Faktor tenaga, meliputi : jumlah dan komposisi tenaga keperawatan,
kebijakan pengaturan dinas, uraian tugas perawat, kebijakan
personalia, tingkat pendidikan dan pengalaman kerja, tenaga perawat
spesialis dan sikap ethis professional.
Faktor lingkungan, meliputi : tipe dan lokasi rumah sakit, layout
keperawatan,

fasilitas

dan jenis

pelayanan

yang

diberikan,

kelengkapan peralatan medik atau diagnostik, pelayanan penunjang


dari instalasi lain dan macam kegiatan yang dilaksanakan.
Faktor organisasi, meliputi : mutu pelayanan yang ditetapkan dan
kebijakan pembinaan dan pengembangan.
c) Metode Perhitungan Perencanaan Tenaga Keperawatan
Metode Lokakarya PPNI
Penentuan kebutuhan tenaga perawat menurut Lokakarya PPNI
dengan mengubah satuan hari dengan minggu. Selanjutnya jumlah
hari kerja efektif dihitung dalam minggu sebanyak 41 minggu dan
jumlah kerja perhari selama 40 jam per minggu. PPNI berusaha
menyesuaikan lama kerja dan libur yang berlaku di Indonesia:

Tenaga Perawat =

+ 25%

Keterangan :

A = jumlah jam perawatan yang dibutuhkan oleh pasien perhari


52 minggu = 365 hari dalam setahun : 7
TT = Tempat Tidur
BOR (Bed Occupancy Rate) adalah presentase rata-rata jumlah
tempat tidur yang digunakan selama periode tertentu (satu

semester/tahun)
Hari kerja efektif yang dihitung sebagai berikut :
= (365 (52 hari minggu + 12 hari libur nasional + 12 hari cuti
tahunan)
= 289 hari : 7 hari/minggu
= 41 minggu
Total jam kerja perminggu = 40 jam
Komponen 25% yaitu tingkat penyesuaian terhadap produktivitas
Metode Ilyas
Metode ini dikembangkan oleh Yaslis Ilyas sejak tahun 1995.
Metode ini berkembang karena adanya keluhan dari rumah sakit di
Indonesia bahwa metode Gillies menghasilkan jumlah perawat yang
terlalu kecil, sehingga beban kerja perawat tinggi, sedangkan PPNI
menghasilkan jumlah perawat yang terlalu besar sehingga tidak
efisien.
Rumus dasar dari formula ini adalah sebagai berikut :
Tenaga Perawat =
Keterangan :
A
= Jam perawatan/24 jam (waktu perawatan yang
dibutuhkan pasien)
B
= sensus harian (BOR x jumlah tempat tidur)
365 = jumlah hari kerja selama setahun
255 = hari kerja efektif perawat/tahun
= {365 - (12 hari libur nasional + 12 hari libur cuti tahunan) x
7

= 255 hari
Jam kerja/hari = 6 jam, didapat dari 40 jam (total jam
kerja/minggu) : 7 hari
Indeks merupakan indeks yang berasal dari karakteristik jadwal
kerja perawat dirumah sakit yang dihitung dari setiap empat hari
kerja efektif, dimana perawat mendapat libur satu hari setelah jadwal
jaga malam. Uraiannya sebagai berikut hari pertama perawat masuk
pagi, hari kedua siang, hari ketiga malam dan hari keempat perawat
mendapat libur satu hari.
Metode Swansburg
Formula perhitungannya adalah sebagai berikut;
Total jam perawat /hari :
= Jumlah Klien Jumlah jam kontak perawat-klien
Jumlah perawat yang dibutuhkan perhari :

Sehingga dari rumus dapat disimpulkan menjadi :


=
Rumus selanjutnya adalah untuk menghitung jumlah shift dan
kebutuhan perawat dalam satu minggu.
Jumlah shift perminggu :
= Jumlah perawat yang dibutuhkan/hari Jumlah shift dalam 1 minggu
Jumlah perawat yang dibutuhkan perminggu
=
Menurut Warstler

dalam Swansburg & Swansburg (1999),

merekomendasikan untuk pembagian proporsi dinas dalam satu


hari :
Pagi : Siang : Malam = 47 % : 36 % : 17 %.
Keterangan :
Jumlah hari kerja/minggu = 6 hari
8

Jumlah jam kerja/hari = 7 jam, didapat dari 40 jam (total jam


kerja/minggu) : 6 hari
Metode Demand
Cara demand adalah perhitungan jumlah tenaga mennurut kegiatan
yang memang nyata dilakukan oleh perawat. Menurut Tutuko (1992)
setiap klien yang masuk ruang gawat darurat dibutuhkan waktu
sebagai berikut:
* untuk kasus gawat darurat

: 86,31 menit

* untuk kasus mendesak

: 71,28 menit

* untuk kasus tidak mendesak

: 33,09 menit

Hasil penelitian di rumah sakit di Filipina, menghasilkan data


sebagai berikut:
Rata-rata jam
Jenis Pelayanan

perawatan/
perpasien/hari
3,4

non bedah

bedah

3,5

campuran bedah dan non bedah

3,5

post partum

3,0

- bayi baru lahir


2,5
Konversi kebutuhan tenaga adalah seperti pada perhitungan cara
Need.
Metode Gillies
Gillies (1989) mengemukakan rumus kebutuhan teanaga
keperawatan di satuy unit perawatan adalagh sebagai berikut:
AXBXC

F
=

= H

Keterangan :
A = rata-rata jumlah perawatan/pasien/hari
9

B = rata-rata jumlah pasien /hari


C= Jumlah hari/tahun
D = Jumlah hari libur masing-masing perawat
E = jumlah jam kerja masing-masing perawat
F = Jumlah jam perawatan yang dibutuhkan per tahun
G = Jumlah jam perawatan yang diberikan perawat per tahun
H = Jumlah perawat yang dibutuhkan untuk unit tersebut
Prinsip perhitungan rumus Gillies:
Dalam memberikan pelayanan keperawatan ada tiga jenis bentuk
pelayanan, yaitu:
a. Perawatan langsung, adalah perawatan yang diberikan oleh
perawat yang ada hubungan secara khusus dengan kebutuhan
fisik,

psikologis,

dan

spiritual.

Berdasarkan

tingkat

ketergantungan pasien padfa perawat maka dapat diklasifikasikan


dalam empat kelompok, yaitu: self care, partial care, total care
dan intensive care. Menurut Minetti Huchinson (1994) kebutuhan
keperawatan langsung setiap pasien adalah empat jam perhari
sedangkan untuk:
* self care dibutuhkan x 4 jam

: 2 jam

* partial care dibutuhkan x 4 jam

: 3 jam

* Total care dibutuhkan 1- 1 x 4 jam

: 4-6 jam

* Intensive care dibutuhkan 2 x 4 jam

: 8 jam

b. Perawatan tak langsung, meliputi kegiatan-kegiatan membuat


rencana perawatan, memasang/ menyiapkan alat, ,konsultasi
dengan anggota tim, menulis dan membaca catatan kesehatan,
melaporkan kondisi pasien. Dari hasil penelitian RS Graha
Detroit (Gillies, 1989, h 245) = 38 menit/ klien/ hari, sedangkan
menurut Wolfe & Young (Gillies, 1989, h. 245) = 60 menit/ klien/
hari dan penelitian di Rumah Sakit John Hpokins dibutuhkan 60
menit/ pasien (Gillies, 1994)

10

c. Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada klien meliputi:


aktifitas, pengobatan serta tindak lanjut pengobatan. Menurut
Mayer

dalam Gillies (1994), waktu yang dibutuhkan untuk

pendidikan kesehatan ialah 15 menit/ klien/ hari.


- Rata-rata klien per hari adalah jumlah klien yang dirawat di
suatau unit berdsasarkan rata-ratanya atau menurut Bed
Occupancy Rate (BOR) dengan rumus:
Jumlah hari perawatan rumah sakit dalam waktu tertentu x 100%
Jumlah tempat tertentu x 365
- Jumlah hari pertahun, yaitu 365 hari
- Hari libur masing-masing perawat pertahun, yaitu 128 hari, hari
minggu= 52 hari dan hari sabtu = 52 hari. Untuk hari sabtu
tergantung kebijakan RS setempat, kalau ini merupakan hari libur
maka harus diperhitungkan, begitu juga sebaliknya, hari libur
nasional = 12 hari dan cuti tahunan = 12 hari.
- Jumlah jam kerja tiap perawat adalah 40 jam per minggu (kalau hari
kerja efektif 5 hari maka 40/5 = 8 jam, kalu hari kerja efektif 6 hari
per minggu maka 40/6 jam = 6,6 jam perhari)
- Jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan di satu unit harus
ditambah 20% (untuk antisiapasi kekurangan/ cadangan)
Contoh perhitungannya:
Dari hasil observasi dan sensus harian selama enam bulan di sebuah
rumah sakit A yang berkapasitas tempat tidur 20 tempat tidur,
didapatkan jumlah rata-rata klien yang dirawat (BOR) 15 orang perhari.
Kriteria klien yang dirawat tersebut adalah 5 orang dapat melakukan
perawatan mandiri, 5 orang perlu diberikan perawatan sebagian, dan 5
orang lainnya harus diberikan perawatan total. Tingkat pendidikan
perawat yaitu, SPK dan D III Keperawatan. Hari kerja efektif adalah 6
hari perminggu. Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung
jumlah kebutuhan tenaga perawat di ruang tersebut adalah sbb:

11

Menetukan terlebih dahulu jam keperawatan yang dibutuhkan klien


perhari, yaitu:
- keperawatan langsung
- keperawatan mandiri 5 orang klien

: 5 x 2 jam =

10 jam
- keperawatan parsial 5 orang klien

: 5 x 3 jam =

15 jam
- keperawatan total 5 orang klien

: 5 x 6 jam =

- keperawatan tidak langsung 15 orang klien

30 jam

: 5 x 1 jam =

15 jam
-penyuluhan kesehatan 15 orang klien

: 15 x 0,25 jam =

3,75 jam
total jam keperawatan secara keseluruhan
73,75 jam
Menetukan jumlah jam keperawatan per klien per hari = 73,75 jam /
15 klien = 4,9 jam
Menetukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan pada ruangan
tersebut adalah klangsung dengan menggunakan rumus (Gillies,
1989) diatas, sehingga didapatkan hasil sbb:
4,9 jam/klien/hari x 15 klien/hari x 365 hari = 16,17 orang (16 orang)
(365 hari 128 hari) x 7 jam
Menentukan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yang dibutuhkan
perhari, yaitu:
Rata-rata klien/hari x rata-rata jam perawatan/ hari = 15 org x 4,9 jam =
Jumlah jam kerja/ hari

7 jam

Menentukan jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan per shift,


yaitu dengan ketentuan menurut Warstler ( dalam Swansburg, 1990,
12

h. 71). Proporsi dinas pagi 47%, sore 36%, dan malam 17%. Maka
pada kondisi di atas jumlah tenaga keperawatan yang dibutuhkan per
shift adalah:
- shift pagi: 5,17 orang (5 orang)
- shift sore: 3,96 orang (4 orang)
- shift malam: 1, 87 orang (2 orang)
Kombinasi jumlah tenaga menurut Intermountain Health Care Inc.
adalah:
- 58% = 6,38 (6 orang) S I keperawatan
- 26% = 2,86 (3 orang) D III keperawatan
- 16% = 1,76 (2 orang) SPK
Kombinasi menurut Abdellah dan Levinne adalah:
- 55% = 6,05 (6 orang) tenaga professional
- 45% = 4,95 (5 orang) tenaga non professional
Metoda Formulasi Nina
Nina (1990) menggunsksn lima tahapan dalam menghitung
kebutuhan tenaga.
Contoh pengitungannya:
Hasil observasi terhadap RS A yang berkapasitas 300 tempat tidur,
didapatrkan jumlah rata-rata klien yang dirawat (BOR) 60 %,
sedangkan rata-rata jam perawatan adaalah 4 jam perhari.
Berdasarkan situasi tersebut maka dapat dihitung jumlah kebutuhan
tenaga perawat di ruang tersebut adalah sbb:
Tahap I
Dihitung A = jumlah jam perawatan klien dalam 24 jam per klien.
Dari contoh diatas A= 4 jam/ hari
Tahap II
Dihitung B= jumlah rata-erata jam perawatan untuk sekuruh klien
dalam satu hari.
B = A x tempat tidur = 4 x 300 = 1200
Tahap III
13

Dihitung C= jumlah jam perawatan seluruh klien selama setahun.


C= B x 365 hari = 1200 x 365 = 438000 jam
Tahap IV
Dihitung D = jumlah perkiraan realistis jam perawatan yang
dibutuhkan selama setahun.
D= C x BOR / 80 = 438000 x 180/ 80 = 985500
Nilai 180 adalah BOR total dari 300 klien, dimana 60% x 300 =
180. Sedangkan 80 adalah nilai tetap untuk perkiraan realistis jam
perawatan.
Tahap V
Didapat E= jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan.
E= 985500/ 1878 = 524,76 (525 orang)
Angka 1878 didapat dari hari efektif pertahun (365 52 hari
minggu = 313 hari) dan dikalikan dengan jam kerja efektif
perhari (6 jam)
Metode rasio
Metoda ini menggunakan jumlah tempat tidur sebagai denominator
personal yang diperlukan.Metoda ini paling sering digunakan karena
sederhana dan mudah.Metoda ini hanya mengetahui jumlah personal
secara total tetapi tidak bisa mengetahui produktivitas SDM rumah
sakit,da kapan personal tersebut dibutuhkan oleh setiap unit atau
bagian rumah sakit yang mebutuhkan.Bisa digunakan bila:
kemampuan dan
terbatas,jenis,tipe,

sumber daya untuk prencanaan personal


dan

volume

pelayanan

kesehatan

relatif

stabil.Cara rasio yang umumnya digunakan adalah berdasarkan surat


keputusan menkes R.I. Nomor 262 tahun 1979 tentang ketenagaan
rumah sakit,dengan standar sebagai berikut :
Tipe RS
A& B

TM/TT
1/(4-7)
14

TPP/TT

TPNP/

TNM/

(3-4)/2

TT
1/3

TT
1/1

C
D
Khusus
Keterangan :

1/9
1/1
1/15
1/2
Disesuiakan

1/5
1/6

3/4
2/3

TM = Tenaga Medis
TT = Tempat Tidur
TPP = Tenaga Para Medis Perawatan
TPNP = tenaga para medis non perawatan
TNP = tenaga non medis
Cara perhitungan ini masih ada yang menggunakan, namun banyak
rumah sakit yang lambat laun meninggalkan cara ini karena adanya
beberapa alternatif perhitungan yang lain yang lebih sesuai dengan
kondisi rumah sakit dan profesional.
Metode Need
Cara ini dihitung berdasarkan kebutuhan menurut beban kerja yang
diperhitungkan sendiri dan memenuhi standar profesi.Untuk
menghitung seluruh kebutuhan tenaga,diperlukan terlebih dahulu
gambaran tentang jenis pelayanan yang diberikan kepada klien
selama di rumah sakit. Misalnya saja untuk klien yang berobat
jalan,ia akan melalui/mendapatkan pelayanan, antara pembelian
karcis, pemeriksaan perawat / dokter, penyuluhan, pemeriksaan
laboratorium, apotik dan sebagainya. Kemudian dihitung standar
waktu yang diperlukan agar pelayanan itu berjalan dengan baik.
Hundgins(1992)menggunakan standar waktu pelayanan pasien
sebagai berikut :
Lama waktu(menit) untuk pasien
Baru
Lama
Pendaftaran
3
4
Pemerikasaan dokter
15
11
Pemeriksaan asisten dokter 18
11
Penyuluhan
51
0
Laboratorium
5
7
Tugas

Contoh perhitunganya:
15

Rumah sakit A tipe B memberikan pekayanankepada pasien rata-rata


500 orang perhari dimana 50% adalah pasien baru,maka seorang
pimpinan keperawatan akan memperhitungkan jumlah tenaga
sebagai berikut :
Tenaga yang diperlukan untuk bertugas di bagian pendaftaran adalah
: (3+4)/2= 3,5 x 500/240 = 7,29 (7 orang tenaga) jika ia bekerja dati
jam 08.00 sampai jam 12.00(240 menit).
Tenaga

dokter

yang

dibutuhkan

adalah

(15+1)/2=13x500/180=36,11 (36 orang dokter),jika ia bekerja dari


jam 09.00 sampai 12.00)(180 menit)Tenaga asisten dokter yang
diperlukan adalah (18+11)/2 = 14,5 x500/240=30,2 orang(30 oarang
asisten dokter),jika bekerja dari jam 08.00sampai 12.00(240 menit).
Tenaga penyuluhan yang dibutuhkan adalah 5/12 =25,5 x500/240 =
53,13 (53 orang tenaga penyuluhan),jika ia bekerja dari jam08.00
sampi12.00 (240 menit)
Tenaga laboratorium yang dibutuhkan adalah : (5+7)/2=6x500/240
=12,5 (13 oarang tenaga laboratorium jika ia bekerja dari jam 08.00
sampai jam12.00(240 menit)
Untuk pasien rawat inap, Douglas (1984) menyampaikan standar
waktu pelayanan pasien rawat inap sebagai berikut :
Perawatan minimal memerlukan waktu : 1-2 jam/24 jam
Perawatan intermediet memerlukan waktu : 3-4 jam/24 jam
Perawatan maksimal/total memerlukan waktu : 5-6 jam/24 jam
Dalam penerapan sistem klasifikasi pasien dengan tiga kategori
tersebut di atas adalah sebagai berikut :
a. Kategori I : Self care/perawatan mandiri
Kegiatan sehari-hari dapat dilakukan sendiri,penampilan secara
umum baik,tidak ada reaksi emosional,pasien memerlukan
orientasi waktu,tempat dan pergantian shift,ttindakan pengobatan
biasanya ringan dan simpel

16

b. Kategori II : intermediet care/perawatan sedangKegiatan seharihari untuk makan dibantu,mengatur pisisi waktu makan.meberi
dorogan agar mau makan,eliminasi dan kebutuhan diri juga
dibantu atau menyiapkan alat untuk ke kamar mandi.Penampilan
pasien sakit sedang.Tindakan perawatan pada pasien ini monitor
tanda-tanda vital,periksa urine reduksi,fungsi fisiologis,status
emosinal,kelancaran drainage atau infus.Pasien memerlukan
bantuan pendidikan kesehatan untuk support emosi 5-10
menit/shift atau 30-60 menit/shiftdengan mengobservasi side efek
obat atau reaksi alergi.
c. Kategori III : Intensive care/perawatan total
Kebutuhan sehari-hari tidak bisa dilaksanakan sendiri,semua
dibantu oleh perawat penampian sakit berat.pasien memerlukan
observasi terus-menerus.
Dalam penelitian Douglas (1975) tentang jumlah tenaga pearawat
di rumah sakit, didapatkan jumlah perawat yang dibutuhkan pada
pagi, sore dan malam teragantung pada tingkat ketergantungan
pasien seperti pada table di bawah ini:
Jumlah
pasien
1
2
3
dst

pagi
0,17
0,34
0,51

KLASIFIKASI PASIEN
minimal
Parsial
Siang malam pagi Siang malam
0,14
0,10
0,27
0,15
0,07
0,28
0,20
0,54
0,30
0,14
0,42
0,30
0,81
0,45
0,21

Pagi
0,36
0,72
1,08

Total
Siang
0,30
0,60
0,90

malam
0,20
0,40
0,60

Contoh perhitungan:
Di ruang bedah RSU Sehat dirawat 20 orang pasien dengan
kategori sebagai berikut: 5 pasien dengan perawatan minimal, 10
pasien dengan perawatan parsial dan 5 pasien dengan perawatan
total. Maka kebutuhan tenaga perawatan adalah sebagai berikut:
1.
-

untuk shift pagi:


5 ps x 0,17 = 0,85
10 ps x 0,27 = 2,70
5 ps x 0,36 = 1,80

2.
-

untuk shift siang:


5 ps x 0,14 = 0,70
10 ps x 0,15 = 1,50
5 ps x 0,30 = 1,50
17

3.
-

untuk shift malam:


5 ps x 0,10 = 0,50
10 ps x 0,07 = 0,70
5 ps x 0,20 = 1,00

total tenaga pagi

= 5,35

total tenaga siang

= 5,35 total tenaga malam = 2,20

Jadi jumlah tenaga yang dibutuhkan adalah: 5,35 + 3,70 + 2,20 =


11,25 (11 orang perawat)
Petunjuk Penetapan jumlah Klien Berdasarkan Derajad
Ketergantungan:
a. dilakukan satu kali sehari pada waktu yang sama dan
sebaiknya dilakukan oleh perawat yang sama selama 22 hari
b. Setiap klien dinilai berdasarkan criteria klasifikasi klien
(minimal mmemenuhi tiga kriteria)
c. Kelompok klien sesuai dengan klasifikasi dengan memberi
tanda tally (I) pada kolom yang tersedia sehingga dalam waktu
satu hari dapat diketahui berapa jumlah klien yang ada dalam
klasifikasi minimal, parsial dan total
d. Bila klien hanya mempunyai satu criteria dari klasifikasi
tersebut maka klien dikelompokkan pada klasifikasi di atasnya.
Hari
ke...
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Klasifikasi Klien
Minimal
6
4
3
4
6
5
7
9
5
7
3
4
6
2
7
5
6
4
6

Parsial
2
3
6
5
3
7
4
3
5
3
8
9
7
10
4
9
3
6
5

Rata-rata
klien/ hari
Total
4
3
3
3
2
1
1
1
3
1
2
2
3
3
4
3
4
5
5

12
10
12
12
11
13
12
13
13
11
13
15
16
15
15
16
13
15
16
18

Jumlah Kebutuhan
Perawat
Pagi
Sore
Malam
3
2,34
1,54
2,57
1,91
1,21
3,21
2,22
1,32
3,11
2,21
1,35
2,55
1,89
1,21
3,1
2,05
1,19
2,63
1,88
1,18
2,7
2,01
1,31
3,28
2,35
1,45
2,36
1,73
1,11
3,39
2,22
1,26
3,83
2,51
1,43
3,99
2,79
1,69
4,12
2,68
1,5
3,71
2,78
1,78
4,36
2,95
1,73
3,27
2,49
1,61
4,1
2,96
1,82
4,17
3,09
1,95

20
21
22

7
6
7

4
5
4

3
4
3

14
15
14

3,35
3,81
3,35

2,48
2,79
2,48

1,58
1,75
1,58

Jadi rata-rata tenaga yang dibutuhkan untuk tiga shift adalah: 7


perawat. Berarti kebutuhan untuk satu ruangan adalah 7 perawat +
1 Karu + 3 Katim + 2 cadangan = 13 perawat

2) Jenjang Karir Perawat


a) Pengertian
Jenjang karier merupakan system untuk meningkatkan kinerja dan
professionalism, sesuai dengan bidang pekerjaan melalui peningkatan
kompetensi (Depkes, 2008) Dalam pengembangan system jenjang karir
professional dapat dibedakan antara pekerjaan (job) dan karir (career).
Pekerjaan diartikan sebagai suatu posisi atau jabatan yang
diberikan , serta ada keterikatan hubungan antara atasan dan bawahan
dan mendapat imbalan uang.
Karir diartikan sebagai suatu jenjang yang dipilih individu untuk
dapat memenuhi kepuasan kerja perawat

dan mengarah vpada

keberhasilan pekerjaan sehingga pada akhirnya akan memberikan


kontribusi terhadap bidang profesi yang dipilihnya.
b) Prinsip Pengembangan
Kualifikasi
Kualifikasi dimulai

dari

Keperawatan.
Penjenjangan
Penjenjangan mempunyai

perawat

dengan

makna tingkatan

Pendidikan

kompetensi

DIII

untuk

melaksanakan asuhan keperawatan.yang akuntabel dan etis sesuai


dengan batasan kewenangan praktik dan kompleksitas masalah klien.
Penerapan asuhan keperawatan.
Fungsi utama perawat klinik adalah memberikan asuhan
keperawatanlangsung sesuai standar praktik dank ode etik.
Kesempatan yang sama

19

Setiap perawat klinik yang bekerja di RS mempunyai kesempatan


yang sama untuk meningkatkan karir sampai jenjang karir
professional tertinggi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Standar profesi.
Perawat yang bekerja di RS dalam memberikan asuhan keperawatan
mengacu pada standart praktek dank ode etik keperawatan.
c) Penjenjangan Karir Professional Perawat Klinik
Perawat Klinik I (novice)
Perawat lulusan D III keperawatan memiliki pengalaman kerja 2
tahun atau Ners dengan pengalaman keja 0 tahundan memiliki
sertifikat PK I.
Perawat Klinik II (Advence Beginer)
Perawat lulusan D III keperawatan memiliki pengalaman kerja 5
tahun atau Ners dengan pengalaman keja 3 tahun dan memiliki
sertifikat PK II.
Perawat Klinik III (Competent)
Perawat lulusan D III keperawatan memiliki pengalaman kerja 9
tahun atau Ners dengan pengalaman keja 6 tahun atau Ners Specialis
dengan pengalaman kerja 0 tahun dan memiliki sertifikat PK III.
Bagi lulusan D III

yang tidak melanjutkan S1 tidak dapat

melanjutkan ke jenjang karier PK IV.


Perawat Klinik IV
Perawat lulusan Ners dengan pengalaman keja 9 tahun atau Ners
Specialis dengan pengalaman kerja 2 tahun dan memiliki sertifikat
PK IV. UNTUK Ners Konsultan dengan pengalaman kerja 0 tahun.
Perawat Klinik V (expert)
Perawat klinik V adalah ners specialis dengan pengalaman kerja 4
tahun atau ners specialis konsultan dengan pengalaman kerja 1 tahun
dan memiliki sertivikat PK V.
Penjenjangan Karir Professional Perawat Manajer
Perawat Manajer I
Perawat Manajer II
Perawat Manajer III
Perawat Manajer IV
Perawat Manajer V
20

b. Reward dan Punisment


Reward dan punishment merupakan dua bentuk metode dalam
memotivasi seseorang untuk melakukan kebaikan dan meningkatkan
prestasinya. Kedua metode ini sudah cukup lama dikenal dalam dunia kerja.
Reward artinya ganjaran, hadiah, penghargaan atau imbalan. Dalam konsep
manajemen, reward merupakan salah satu alat untuk peningkatan motivasi para
pegawai. Metode ini bisa mengasosiasikan perbuatan dan kelakuan seseorang
dengan perasaan bahagia, senang, dan biasanya akan membuat mereka
melakukan suatu perbuatan yang baik secara berulang-ulang. Selain motivasi,
reward juga bertujuan agar seseorang menjadi giat lagi usahanya untuk
memperbaiki atau meningkatkan prestasi yang telah dapat dicapainya (Santosa,
2010).
Menurut Indra Kusuma, reward merupakan alat pendidikan yang represif
yang menyenangkan hadiah diberikan pada anak yang telah menunjukkan hasil
baik dalam pendidikan. Menurut zainuddin Reward diartikan sebagai salah satu
alat pendidikan yang diberikan pada murit sebagain imbalan terhadap prestasi
yang dicapainya (Sarwoto, 2001). Sementara punishment diartikan sebagai
hukuman atau sanksi. Jika reward merupakan bentuk reinforcement yang
positif; maka punishment sebagai bentuk reinforcement yang negatif, tetapi
kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Tujuan dari
metode ini adalah menimbulkan rasa tidak senang pada seseorang supaya
mereka jangan membuat sesuatu yang jahat. Jadi, hukuman yang dilakukan
mesti bersifat pedagogies, yaitu untuk memperbaiki dan mendidik ke arah yang
lebih baik (Santosa, 2010). Pada dasarnya keduanya sama-sama dibutuhkan
dalam memotivasi seseorang, termasuk dalam memotivasi para pegawai dalam
meningkatkan kinerjanya. Keduanya merupakan reaksi dari seorang pimpinan
terhadap kinerja dan produktivitas yang telah ditunjukkan oleh bawahannya;
hukuman untuk perbuatan jahat dan ganjaran untuk perbuatan baik. Melihat
dari fungsinya itu, seolah keduanya berlawanan, tetapi pada hakekatnya sama21

sama bertujuan agar seseorang menjadi lebih baik, termasuk dalam memotivasi
para pegawai dalam bekerja (Santosa, 2010). Dalam proses penataan
managemen menjadi efektif dan menyenangkan, hendaklah manager dengan
tegas memperhatikan dan menata sistem reward dan punishment. Hal ini harus
diimplemntasikan sampai level bawah rumah sakit. Dengan begitu, diharapkan
kualitas kolaborasi antar profesi meningkat, begitu pula kinerja perawat dan
profesi lain dalam dunia kerja semakin bermutu. Reward yang diberikan harus
secara adil dan bijak. Jika tidak, reward dapat menimbulkan rasa cemburu dan
persaingan yang tidak sehat serta memicu rasa sombong bagi pegawai yang
memperolehnya. Tidak pula membuat seseorang terlena dalam pujian dan
hadiah yang diberikan sehingga membuatnya lupa diri. Oleh karena itu, prinsip
keadilan sangat dibutuhkan dalam pemberian reward (Santosa, 2010).
Sebaliknya, jika punishment harus diberlakukan, maka laksanakanlah
dengan cara yang bijak lagi mendidik, tidak boleh sewenang-wenang, tidak
pula menimbulkan rasa kebencian yang berlebihan sehingga merusak tali
silaturrahim. Dalam proses penataan birokrasi, hendaknya punishment yang
diberikan kepada pegawai yang melanggar aturan telah disosialisasikan
sebelumnya. Dan sebaiknya sanksi itu sama-sama disepakati, sehingga
mendorong si terhukum untuk bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya
dengan ikhlas (Santosa, 2010).
Selanjutnya hukuman yang diberikan bukanlah dengan kekerasan,
tetapi diberikan dengan ketegasan. Jika hukuman dilakukan dengan kekerasan,
maka hukuman tidak lagi memotivasi seseorang berbuat baik, melainkan
membuatnya

merasa

takut

dan

benci

sehingga

bisa

menimbulkan

pemberontakan batin. Di sinilah dibutuhkan skill dari para pimpinan atau


pemberi punishment sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai secara
efektif (Santosa, 2010).
2. Organisasi
Pengorganisasin adalah

rangkaian

kegiatan

manajemen

untuk

menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan
memanfaatkanya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi dengan
mengintegrasikan semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh sebuah
22

organisasi. Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama


organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya
sebuah rumah sakit, puskesmas, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan
dan lain sebagainya. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu
bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota, sehingga
tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri
diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerjasama untuk mencapai
tujuan bersama. Dalam sistem kerjasama secara jelas diatur siapa menjalankan
apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi dan memfokuskan
sumber daya pada tujuan. Karakteristik sistem kerjasama dapat dilihat, antara lain
1) Ada komunikasi antara orang yang bekerjasama; 2) Individu dalam organisasi
tersebut mempunyai kemampuan untuk bekerjasama; 3) Kerjasama itu ditujukan
untuk mencapai tujuan.
Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas itu
kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber
daya manusia, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektifitas pencapaian
tujuan organisasi. Apabila serangkaian kegiatan telah disusun dalam rangka
mencapai tujuan organisasi, maka untuk pelaksanaan kegiatan tersebut harus
diorganisasikan. Agar organisasi dapat berfungsi sebagai alat untuk mencapai
tujuan secara efektif, maka dalam fungsi organisasi harus terlihat pembagian tugas
dan tanggung jawab orang-orang atau karyawan yang akan melakukan kegiatan
masing-masing.
Menurut Grant & Massey (1997) dan Marquis & Huston (1998) ada 4
metode pemberian asuhan keperawatan profesional yang sudah ada dan akan terus
dikembangkan di masa depan dalam menghadapi tren pelayanan keperawatan,
yaitu:
1) Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Fungsional
Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan
keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Pada saat itu
karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat
hanya melakukan 1 2 jenis intervensi keperawatan kepada semua pasien di
bangsal. Model ini berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan,
23

perawat melaksanakan tugas ( tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan


yang ada (Nursalam, 2002).

KARU

PERAWAT
OBAT

PERAWAT GANTI
VERBAND

PERAWAT
KEBERSIHAN

BEBERAPA PASIEN
Gambar Metode asuhan keperawatan fungsional
a) Kelebihan metode fungsional (Agus Kuntoro, 2010)
- Perawat menjadi lebih terampil dalam melakukan suatu tugas yang bisa
-

menjadi tanggung jawabnya.


Pekerjaan menjadi lebih efisien.
Relatif sedikit dibutuhkan tenaga perawat.
Mudah dalam mengkoordinasi pekerjaan.
Terjadi proses distribusi dan pemantauan tugas atau pekerjaan.
Perawat lebih mudah menyesuaikan dengan tugas yang menjadi

tanggungjawabnya sehingga menjadi lebih cepat selesai.


b) Kelemahan Metode Fungsional (Agus Kuntoro, 2010)
- Pekerjaan kadang menjadi tidak efektif.
- Tugas perawat cenderung monoton sehingga dapat menimbulkan rasa
bosan.
- Kesempatan untuk melakukan komunikasi antara petugas menjadi lebih
sedikit.
- Perawatan dalam memberikan asuhan keperawatan tidak melihat pasien
secara holistic dan tidak berfokus pada masalah pasien sehingga tidak
professional.
- Tidak memberikan kepuasan baik pada pasien maupun pada perawat.
- Kadang bisa terjadi saling melempar tanggung jawab bila terjadi
c)

kesalahan.
Peran Kepala Ruangan
24

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut maka peran perawat kepala


ruangan (Nurse Unit Manager) harus lebih peka terhadap anggaran rumah
sakit dan kualitas pelayanan keperawatan, bertanggung jawab terhadap hasil
dan pelayanan keperawatan yang berkualitas, dan menghindari terjadi
kebosanan perawat serta menghindari kemungkinan terjadinya saling
melempar kesalahan. Sekalipun diakui bahwa metode fungsional ini cocok
untuk jangka waktu pendek dalam kondisi gawat atau terjadi suatu bencana,
tetapi metode ini kurang disukai untuk pelayanan biasa dan jangka panjang
karena asuhan keperawatan yang diberikan tidak komprehensif dan
memperlakukan pasien kurang manusiawi. (Gillies, 1994, dalam buku Agus
Kuntoro, 2010).
2) Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Kasus
Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat
ia dinas. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan
tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari
berikutnya. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat,
dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk
keperawatan khusus seperti isolasi, intensive care. Metode ini berdasarkan
pendekatan holistik dari filosofi keperawatan. Perawat bertanggung jawab
terhadap asuhan dan observasi pada pasien tertentu (Nursalam, 2002).

Kepala Ruangan
Gambar Skema metode asuhan keperawatan kasus
(Marquis & Huston, 1998, hal 136 dalam buku Agus Kuntoro, 2010)
a) Kelebihan Metode kasus (S Suarli-Yanyan Bahtiar, 2011) :
- Perawat lebih memahami kasus per kasus.
- Sistem evaluasi dan manajerial menjadi lebih mudah
25

b) Kelemahan Metode kasus


- Perawat penanggung jawab belum dapat teridentifikasi.
- Perlu tenaga yang cukup banyak dengan kemampuan dasar yang sama.
3) Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Primer
Menurut Gillies (1986) perawat yang menggunakan metode
keperawatan primer dalam pemberian asuhan keperawatan disebut perawat
primer (primary nurse). Pada metode keperawatan primer terdapat kontinutas
keperawatan dan bersifat komprehensif serta dapat dipertanggung jawabkan,
setiap perawat primer biasanya mempunyai 4 6 klien dan bertanggung jawab
selama 24 jam selama klien dirawat dirumah sakit. Perawat primer
bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam
merencanakan asuhan keperawatan dan juga akan membuat rencana pulang
klien jika diperlukan. Jika perawat primer sedang tidak bertugas, kelanjutan
asuhan akan didelegasikan kepada perawat lain (associate nurse).
Metode penugasan dimana satu orang perawat bertanggung jawab
penuh selama 24 jam terhadap asuhan keperawatan pasien mulai dari pasien
masuk sampai keluar rumah sakit. Mendorong praktik kemandirian perawat,
ada kejelasan antara si pembuat rencana asuhan dan pelaksana. Metode primer
ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat dan terus menerus antara pasien
dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan koordinasi
keperawatan selama pasien dirawat.
Staf Perawat

Staf Perawat

Staf Perawat

Pasien/Klien

DOKTER

Pasien/Klien

Pasien/Klien

Gambar Skema metode asuhan keperawatan primer


a) Keuntngan Metode Keperawatan Primer (S Suarli-Yanyan Bahtiar, 2011)
26

- Asuhan keperawatan lebih komprehensif dengan memperlakukan pasien


secara holistic.
- Pasien akan merasa lebih puas karena terjadi kesinambungan perawatan.
- Perawat lebih puas karena disamping memiliki otoritas, perawat juga
memiliki tanggung gugat didalam memberikan asuhan, hubungan yang
terus menerus antara perawat dan pasien akan memudahkan pasien
menyampaikan permasalahan serta dapat memperpendek lama hari
perawatan bagi pasien.
b) Kerugian Metode Keperawatan Primer (S Suarli-Yanyan Bahtiar, 2011)
- Membutuhkan biaya yang lebih banyak karena dibutuhkan lebih banyak
perawat profesioal.
- Perawat mungkin kurang menguasai kasus sehingga tidak dapat
melakukan pengkajian dengan baik dan menyusun rencana perawatan
yang tepat.
- Perawat anggota/asisten

mungkin

akan

merasa

tidak

memiliki

kewenangan, dan kadang dapat terjadi kesalah pahaman dalam


komunikasi.
c) Peran Perawat Kepala Ruangan (Agus Kuntoro, 2010)
Peran perawat kepala ruangan menjadi sangat penting untuk
mengantisipasi kerugian yang dapat muncul dalam implementasi metode
keperawatan tim. Peran perawat kepala ruangan dapat dilakukan, seperti
melakukan identifikasi perawat diruangan/unit yang memiliki minat menjadi
perawat primer dan memfasilitasi untuk pendidikan, menjabarkan tugastugas dan perawat primer dan perawat asisten/anggota. Selain itu, perawat
berperan sebagai model peran dan konsultan, mengembangkan penelitian,
melakukan analisis kebutuhan tenaga (perawat) yang mungkin sebagai
bahan pertimbangan dalam recruitmen tenaga baru, menyusun jadwal dinas,
membuat perencanaan pengembangan staf, dan melakukan kegiatan
evaluasi.
4) Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim

Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan


dimana

seorang

perawat

profesional

memimpin

sekelompok

tenaga

keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kelompok klien melalui


upaya kooperatif dan kolaboratif ( Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada
27

keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai kontribusi dalam


merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi
dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu
asuhan keperawatan meningkat. Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan
model tim harus berdasarkan konsep berikut:
1. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik
kepemimpinan.
2. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin.
3. Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.
4. Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik
bila didukung oleh kepala ruang.
Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbedabeda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien.
Perawat ruangan dibagi menjadi 2 3 tim/ group yang terdiri dari tenaga
professional, tehnikal dan pembantu dalam satu grup kecil yang saling
membantu. Dalam penerapannya ada kelebihan dan kelemahannya yaitu
(Nursalam, 2002)
a) Kelebihan :
- Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
- Mendukung pelaksanakaan proses keperawatan.
- Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi
dan memberi kepuasan kepada anggota tim.
b) Kelemahan :
Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk
konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk
melaksanakan pada waktu-waktu sibuk.

28

KA RU

SUMBER
DAYA RS
PERAWAT
ASOSIET SORE

PERAWAT PRIMER
PASIEN

PERAWAT
ASOSIET MALAM

PERAWAT
ASISIET PAGI

Gambar Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP) Tim


Uraian tugas masing- masing personil diatas antara lain adalah
a) Kepala Ruangan:
- Membuat rencana tahunan, bulanan, mingguan dan harian.
- Mengorganisir pembagian tim dan pasien
- Memberi pengarahan kepada seluruh kegiatan yang ada di ruangannya,
- Melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan yang ada di
ruangannya,
- Memfasilitasi kolaborasi tim dengan anggota tim kesehatan yang lainnya,
- Melakukan audit asuhan dan pelayanan keperawatan di ruangannya,
kemudian menindak lanjutinya,
- Mewakili MPKP dalam koordinasi dengan unit kerja lainnya,
b) Ketua tim/perawat primer:
- Membuat rencana tahunan, bulanan, mingguan dan harian.
- Mengatur jadual dinas timnya yang dikoordinasikan dengan kepala
ruangan,
- Melakukan pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi asuhan
keperawatan bersama-sama anggota timnya,
- Memberi pengarahan pada perawat pelaksana tentang pelaksanaan

asuhan keperawatan,
- Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya dalam pelaksanaan

asuhan keperawatan,
- Melakukan audit asuhan keperawatan yang menjadi tanggungjawab
timnya,
- Melakukan perbaikan pemberian asuhan keperawatan,

c) Uraian tugas perawat pelaksana:


29

- Membuat

rencana

harian

asuhan

keperawatan

yang

menjadi

tanggungjawabnya.
- Melaksanakan asuhan keperawatan dengan melakukan interaksi dengan

pasien dan keluarganya


- Melaporkan perkembangan kondisi pasien kepada ketua tim.
c) Konsep Keperawatan Tim
Menurut S. Suarli-Yanyan Bahtiar (2011), secara garis besar, konsep
keperawatan tim ini terdiri atas beberapa point yang harus dilaksanakan yaitu:
- Ketua tim sebagai perawat professional harus mampu menggunakan
berbagai tehnik kepemimpinan.
- Komunikasi yang efektif sangat penting, agar kontinuitas rencana
keperawatan terjamin.
- Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim
- Peran kepala ruangan dalam metode tim ini sangat penting artinya,
metode tim ini akan berhasil dengan baik hanya bila didukung oleh
kepala ruangan.
d) Tanggung Jawab Anggota Tim
Menurut S. Suarli-Yanyan Bahtiar (2011), Tanggung jawab anggota tim
yaitu :
- Memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang berada dibawah
tanggung jawabnya;
- Bekerja sama dengan anggota tim dan antartim;
- Memberikan laporan.
e) Tanggung Jawab Ketua Tim
Menurut S. Suarli-Yanyan Bahtiar (2011), Tanggung jawab ketua tim
yaitu :
- Membuat perencanaan;
- Membuat penugasan,supervise,dan evaluasi;
- Mengenal/mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai tingkat
kebutuhan pasien;
- Mengembangkan kemampuan anggota;
- Menyelenggarakan konferensi.
f) Tanggung jawab kepala ruangan
Menurut S. Suarli-Yanyan Bahtiar (2011), secara garis besar tanggung
jawab

kepala

ruangan

terbagi

menjadi

empat,

yaitu

perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.


a. Perencanaan
Perencanaan seharusnya menjadi tanggung jawab kepala ruangan pada
tahap perencanaan. Tugas bagian perencanaan adalah :
30

1) Menunjuk ketua tim untuk bertugas di ruangan masing-masing;


2) Mengikuti serah terima pasien di Shift sebelumnya;
3) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien, seperti pasien gawat,
pasien transisi, atau pasien persiapan pulang, bersama ketua tim;
4) Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan
aktivitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, serta mengatur
penugasan/penjadwalan;
5) Merencanakan strategis pelaksanaan keperawatan;
6) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi, petofisiologi,
tindakan

media

yang

dilakukan,

program

pengobatan,

dan

mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan


terhadap pasien;
7) Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan. Dalam hal ini,
yang dapat dilakukan yaitu membimbing pelaksanaan asuhan
keperawatan, membimbing penerapan proses keperawatan dan
menilai asuhan keperawatan, mengadakan diskusi untuk pemecahan
masalah, serta memberikan informasi kepada pasien atau keluarga
yang baru masuk;
8) Membantu mengembangkan niat untuk mengikuti pelatihan dan
pengembangan diri;
9) Membantu membimbing peserta didik keperawatan;
10) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan rumah sakit.
b. Pengorganisasian
Tahap pengorganisasian dalam melaksanakan tugas meliputi :
1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan;
2) Merumuskan tujuan metode penugasan;
3) Membuat rentang kendali kepala ruangan yang membawahi dua
ketua tim dan ketua tim yang membawahi 2-3 perawat;
4) Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas;
5) Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, membuat proses
6)
7)
8)
9)

dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari, dll;


Mengatur dan mengendalikan logistic ruangan;
Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik;
Mendelegasikan tugas saat tidak berada di tempat kepada ketua tim;
Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi

pasien;
10) Mengatur penugasan jadwal pos dari pakarnya.
11) Mengidentifikasi masalah dan cara penanganan.
31

c. Pengarahan
Tahap pengarahan meliputi :
1) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim;
2) Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas
dengan baik;
3) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan,
dan sikap;
4) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan
dengan asuhan keperawatan pasien;
5) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan;
6) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam melakukan
tugasnya;
7) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
d. Pengawasan
Pengawasan terbagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1) Melalui komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun
pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada
pasien.
a) Melalui Supervisi
Supervise dapat dilakukan dengan cara:
(1) Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati sendiri,
atau melalui laporan langsung secara lisan dan memperbaiki
atau mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat ini
juga.
(2) Pengawasan tidak langsung, yaitu mengecek daftar hadir
ketua tim, membaca, dan memeriksa rencana keperawatan
serta catatan yang dibuat selama dan sesudah proses
keperawatan dilaksanakan (didokumentasikan). Selain itu,
mendengar laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas.
(3) Evaluasi yaitu mengevaluasi upaya pelaksanaan dan
membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah
disusun bersama ketua tim.
(4) Audit keperawatan
5) Modifikasi Keperawatan Tim-Primer
Menurut S. Suarli-Yanyan Bahtiar (2011), Model ini merupakan
kombinasi dari dua sistem, yaitu keperawatan tim dan keperawatan primer.

32

Menurut Ratna S. Sudarsono (2000) dalam buku S. Suarli-Yanyan Bahtiar


(2011), penetapan model ini didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut:
- Metode keperawatan primer tidak digunakan secara murnih, karena
perawat primer memerlukan latar belakang pendidikan S1 keperawatan
atau yang setara.
- Metode keperawatan tim tidak digunakan secara murnih, karena tanggung
jawab asuhan keperawatan pasien terfragmentasi pada berbagai tim.
- Melalui kombinasi kedua model tersebut, diharapkan komunitas asuhan
keperawatan dan akuntabilitas asuhan keperawatan terdapat pada perawat
primer. Disamping itu, karena saat ini sebagian besar perawat yang ada di
RS adalah lulusan SPK, maka mereka akan mendapat bimbingan dari
perawat primer/ketua tim tentang asuhan keperawatan.

KARU
PERA
WAT

PERA
WAT

PERA
WAT

PERAWAT
KA. TIM
PERA
WAT

BEBE
RAPA

BEBE
RAPA

PERA
WAT

BEBE
RAPA

Gambar Modifikasi model keperawatan tim-primer


(S. Suarli-Yanyan Bahtiar, 2011)
Menurut S. Suarli-Yanyan Bahtiar (2011), Selain diagram diatas,
untuk lebih mengetahui peran masing-masing komponen yang terdiri dari
33

kepala ruangan, perawat primer, dan perawat associate, dapat dilihat dalam
tabel berikut ini:
Kepala Ruangan (KARU)
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Perawat Primer (PP)

Menerima pasien baru


Memimpin rapat
Mengevaluasi kinerja perawat
Membuat daftar dinas
Menyediakan material
Melakukan perencanaan dan

pengawasan
7. Melakukan pengarahan
pengawasan

Perawat Associate (PA)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Membuat perencanaan ASKEP


1. Memberikan
Mengadakan tindakan kolaborasi
ASKEP
Memimpin timbang terima
2. Mengikuti timbang
Mendelegasikan tugas
Memimpin ronde keperawatan
terima
Mengevaluasi pemberian ASKEP 3. Melaksanakan tugas
Bertanggung jawab terhadap
yang didelegasikan
dan
pasien
4. Mendokumentasika
8. Memberi petunjuk jika pasien
n tindakan
akan pulang
keperawatan
9. Mengisi resume keperawatan

3. Fungsi Pengarahan
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada staff agar
mereka mampu bekerja secara optimal dalam melaksnaakan tugas-tugasnya
sesuai dengan ketrampilan yang mereka miliki. Pengarahan ini termasuk
didalamnya adalah kejelasan komunikasi, pengembangan motivasi yang efektif.
Pelaksanaan (actuating) merupakan fungsi yang paling fundamental dalam
manajemen, karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri,
agar semua anggota kelompok mulai dari tingkat teratas sampai terbawah,
berusaha mencapai sasaran organisasi sesuai rencana yang telah ditetapkan
semula, dengan cara terbaik dan benar. Memang diakui bahwa usaha-usaha
perencanaan dan pengorganisasian bersifat vital, tetapi tidak akan ada output
konkrit yang akan dihasilkan sampai kita mengimplementasi aktivitas-aktivitas
yang diusahakan dan yang diorganisasi. Untuk maksud itu maka diperlukan
tindakan pengawasan (actuating) atau usaha untuk menimbulkan action.
Pengarahan diruang perawatan dapat dilakukan dalam beberapa
kegiatan yaitu program motivasi, manajemen konflik, pendelegasian, supervisi
dan komunikasi efektif.
1) Program motivasi
34

Program motivasi dimulai dengan membudayakan cara berfikir


positif bagi setiap SDM dengan mengungkapkannya melalui pujian
(reinforcement) pada setiap orang yang bekerja bersama-sama. Kebersamaan
dalam mencapai visi, dan misi merupakan pendorong kuat untuk fokus pada
potensi masing-masing anggota.
2) Manajemen konflik
MPKP merupakan pendekatan

baru,

maka

kemungkinan

menimbulkan konflik yang disebabkan oleh persepsi, pandangan dan


pendapat yang berbeda. Untuk itu dilakukan pelatihan tentang sistem
pelayanan dan asuhan keperawatan bagi semua SDM yang ada (MPKP).
Selain itu dalam implementasi MPKP, Kepala subdepartemen keperawatan
(Kasubdepwat), kepala ruangan (kalak) dan katim agar melakukan
komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) untuk mencegah dan menyelesaikan
konflik. Komunikasi yang terbuka diarahkan kepada penyelesaian konflik
dengan win-win solution.
3) Supervisi
Pengawasan merupakan

hal

yang

penting

dilakukan untuk

memastikan pelayanan dan asuhan keperawatan berjalan sesuai standar mutu


yang ditetapkan. Pelayanan tidak diartikan sebagai pemeriksaan dan mencari
kesalahan, tetapi lebih pada pengawasan partisipatif yaitu perawat yang
mengawasi pelaksanaan kegiatan memberikan penghargaan pada pencapaian
atau keberhasilan dan memberi jalan keluar pada hal-hal yang belum
terpenuhi. Dengan demikian pengawasan mengandung makna pembinaan.
Pengawasan dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Pengawasan langsung dilakukan saat tindakan atau kegiatan sedang
berlangsung, misalnya perawat pelaksanan sedang melakukan ganti balutan,
maka katim mengobservasi tentang pelaksanaan dengan memperhatikan
apakah standar kerja dijalankan. Pengawasan terkait pula dengan kinerja dan
kompetisi perawat, yang akan berguna dalam program jenjang karir perawat
bersangkutan. Pengawasan tidak langsung dilakukan melalui pelaporan atau
dokumen yang menguraikan tindakan dan kegiatan yang telah dilakukan.
Pengawasan biasanya dilakukan oleh perawat yang lebih
berpengalaman, ahli atau atasan kepada perawat dalam pelaksanaan kegiatan
35

atau tindakan. Agar hasil pengawasan dapat ditindaklanjuti maka sebaliknya


disediakan instrumen pengawasan. Tindak lanjut dapat berupa penghargaan,
penambahan

pengetahuan

atau

keterampilan,

promosi

untuk

tahap

kemampuan lanjutan. Pelaksanaan pengawasan dapat direncanakan harian,


mingguan, bulanan, atau tahunan dengan fokus yang telah ditetapkan.
Di ruang rawat pengawasan dilakukan kepada kepala ruangan, ketua
tim dan perawat pelaksana. Pengawasan terhadap kepala ruangan dilakukan
oleh kasubdepwat. Pengawasan terhadap ketua tim dilakukan oleh
kasubdepwat, dan kepala ruangan. Pengawasan terhadap perawat pelaksana
dilakukan oleh kasubdepwat, kepala ruangan dan katim.
Supaya hasil pengawasan dapat ditindaklanjuti maka sebaliknya
disediakan instrumen pengawasan. Tindak lanjut dapat berupa penghargaan,
penambahan

pengetahuan

atau

keterampilan,

promosi

untuk

tahap

kemampuan lanjutan. Pelaksanaan pengawasan dapat direncanakan harian,


mingguan, bulanan, atau tahunan dengan fokus yang telah ditetapkan.
Di ruang rawat pengawasan dilakukan kepada kepala ruangan, ketua
tim dan perawat pelaksana. Pengawasan terhadap kepala ruangan dilakukan
oleh kasubdepwat. Pengawasan terhadap ketua tim dilakukan oleh
kasubdepwat, dan kepala ruangan. Pengawasan terhadap perawat pelaksana
dilakukan oleh kasubdepwat, kepala ruangan dan katim.
Diruang MPKP supervsi berjenjang dilakukan sebagai berikut :
- Kepala seksi keperawatan atau konsultan melakukan pengawasan
terhadap kepala ruangan, ketua tim dan perawat pelaksana
- Kepala ruangan melakukan pengawasan terhadap ketua tim dan perawat

pelaksana
- Ketua tim melakukan pengawasan terhadap perawat pelaksana

Materi supervisi disesuaikan dengan uraian tugas dari masingmasing staf perawat yang disupervisi. Untuk kepala ruang materi supervisi
adalah kemampuan manajerial dan kemampuan asuhan keperawatan. Ketua
tim supervise terkait dengan kemampuan pengelolahan di timnya dan
kemampuan asuhan keperawatan, sedangkan untuk perawat pelaksana
disupervisi

terkait

dengan

kemampuan

asuhan

keperawatan

yang

dilaksanakan. Agar supervise dapat menjadi alat pembinaan dan tidak


36

menjadi momok bagi staff maka perlu disusun standart dan jadual pasti dalam
supervise.Untuk evaluasi fungsi pengarahan ini, kepala ruangan menyusun
rencana terhadap ketua tim dan perawat pelaksana sebagai rencana bulanan.
4) Pendelegasian
Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain agar
aktifitas organisasi tetap berjalan. Pendelegasian dilaksanakan melalui proses
sebagai berikut:
a) Buat rencana tugas yang perlu dituntaskan
b) Identifikasi ketrampilan dan tingkat pendidikan yang diperlukan untuk
c)
d)
e)
f)

melaksanakan tugas
Pilih orang yang mampu melaksanakan tugas yang didelegasikan
Komunikasikan dengan jelas apa yang akan dikerjakan dan apa tujuaanya
Buat batasan waktu dan monitor penyelesaian tugas
Jika bawahan tidak mampu melaksanakan tugas karena menghadapi
masalah tertentu, manajer harus bisa menjadi model peran dan menjadi

narasumber untuk menyelesaikan masalah yang terjadi


g) Evaluasi kinerja setelah tugas selesai
h) Pendelegasian terdiri dari tugas dan kewenangan
Penerapan delegasi di MPKP dalam bentuk pendelegasian tugas
oleh kepala ruangan kepada ketua tim dan ketua tim kepeda perawat
pelaksana. Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas
dan wewenang.
Pendelegasian tugas dilakukan secara berjenjang yang penerapanya
dibagi menjadi 2 jenis, yaitu pendelegasian terencana dan pendelegasian
insidentil.
a) Pendelegasian terencana adalah pendelegasian yang secara otomatis
terjadi sebagai konsekuensi sistem penugasan yang diterapkan diruang
MPKP. Bentuknya antara lain adalah :
- Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada ketua tim untuk
menggantikan tugas sementara tugas kepala ruang karena alasan
tertentu
- Pendelegasian tugas kepala ruangan kepada penanggung jawab shif
- Pendelegasian ketua tim kepada perawat pelaksana dalam

pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah direncanakan.

37

b) Pendelegasian insidentil, yang terjadi apabila salah satu personil ruang


MPKP berhalangan hadir , sehingga pendelegasian tugas harus
dilakukan. Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian adalah kepala
seksi perawatan, kepala ruangan, ketua tim atau penanggung jawab shif
dan tergantung pada personil yang berhalangan.
Mekanisme yang dilakukan adalah sebagai berikut :
- Bila kepala ruangan berhalangan, kepala seksi menunjuk salah satu
ketua tim untuk menggantikan tugas kepala ruang
- Bila ketua tim berhalangan hadir, maka kepala ruangan menunjuk
salah satu anggota tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas ketua
tim
- Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir, sehingga satu tim
kekurangan personil maka kepala ruangan berwenang memindahkan
perawat pelaksana dari tim lain masuk tim yang kekurangan
personiltersebut atau katim melimpahkan pasien kepada perawat
pelaksana yang hadir.
Prinsip pendelegasian tugas di MPKP antara lain adalah :
- Pendelegasian tugas harus menggunakan format pendelegsaian
- Personil yang menerima pendelegasian adalah personel

yang

berkompetemn dan setara dengan kemampuan yang digantikan


tugasnya
- Uraian tugas yang didelegasikan harus dijelaskan secara verbal, terinci

dan tertulis
- Pejabat yang mengatur pendelegasian wajib memonitor pelaksanaan
tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yang dihadapi
- Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang sudah

dilaksanakan dan hasilnya


5) Komunikasi efektif
Berkomunikasi merupakan salah satu fungsi pokok manajemen
khususnya pengarahan. Setiap orang berkomunikasi dalam suatu organisasi,
komunikasi yang kurang baik dapat mengganggun kelancaran organisasi
dalam mencapai tujuan.

38

Beberapa bentuk komunikasi diruang MPKP antara lain adalah operan,


pr conferen dan post conferen:
a) Operan
Operan merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan
menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan klien atau
komunikasi dan serah terima antara shift pagi, sore dan malam. Operan
dinas pagi ke dinas sore dipimpin oleh kepala ruangan, sedangkan operan
dinas sore ke dinas malam langsung dipimpin oleh penanggung jawab tim
sore ke penanggung jawab tim malam.
Tujuan operan pasien menurut Taylor (1993) adalah untuk
mendapatkan informasi yang dapat membantu untuk menetapkan rencana
perawatan pasien, mengevaluasi intervensi keperawatan, memberi
kesempatan pada pasien untuk mendiskusikan tentang perawatan yang
diberikan kepadanya, serta membantu menentukan prioritas diagnosa dan
tujuan dari perawatan yang diberikan. Dalam operan diterangkan tentang
asuhan keperawatan yang telah diberikan oleh perawat yang telah selesai
tugas. Operan ini harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan
secara sinkat, jelas dan lengkap tentang tindakan mandiri perawat,
tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan atau belum dan perkembangan
klien saat itu.
Tabel 2.10. Pedoman operan antar shif
Waktu kegiatan
Tempat
Penanggung jawab
Kegiatan

Pedoman Operan
: awal pergantian shif
: Nursing station/kantor perawat
: Kepala ruang
:
1.Karu/Pj shift membuka acara dengan
salam
2.Katim/Pj Tim mengoperkan :
- Kondisi/keadaan
pasien
(dx
perawatan, tindakan yang sudah
dilaksanakan, hasil asuhan)
- Tindak
lanjut
untuk
shif
berikutnya
39

3.Perawat
shif
berikutnya
mengklarifikasi penjelasan yang
sudah disampaikan
4.Karu memimpin Ronde kekamar
pasien
5.Karu merangkum informasi operan,
memberikan saran tindak lanjut
6.Karu memimpin doa bersama dan
menutup acara
7.Bersalaman
b) Pre-conference
Pre conference, yaitu komunikasi katim dan perawat pelaksana
setelah selesai operan yang dipimpin oleh katim atau penanggung jawab
tim. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan
tambahan rencana dari katim atau PJ tim. Isi post conference adalah hasil
asuhan keperawatan tiap perawat dan hal penting untuk operan (Keliat,
2000).
Tabel 2.11. Pedoman Pre-conference
PEDOMAN PRE CONFERENT
Waktu kegiatan
: Setelah operan
Tempat
: Meja masing-masing tim
Penanggung jawab
: Ketua tim
Kegiatan
:
1. Karu/Pj shift membuka acara
2. Katim menanyakan rencana harian
masing-masing perawat pelaksana
3. Katim memberikan masukan dan
tindak lanjut terkait dengan asuhan
yang diberikan saat itu
4. Katim memberikan reinforcemen
5. Katim menutup acara
c) Post conferen
Post conference, yaitu komunikasi katim dan perawat
pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shif dan sebelum operan. Isi
post conference adalah hasil asuhan keperawatan tiap perawat dan hal
penting untuk operan (Keliat, 2000).

40

Tabel 2.12. Pedoman Post Conferen


PEDOMAN POST CONFERENT
Waktu kegiatan
: Sebelum operan ke dinas
berikut
Tempat
: Meja masing-masing tim
Penanggung jawab
: Ketua tim
Kegiatan
:
1. Karu/Pj shift membuka
acara
2. Katim menanyakan hasil
asuhan
masing-masing
pasien
3. Katim
menanyakan
kendala dalam asuhan
yang telah diberikan
4. Katim menanyakan tindak
lanjut asuhan pasien yang
harus dioperkan kepada
perawat shif berikutnya
5. Katim menutup acara
d) Ronde keperawatan
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah
keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, dengan melibatkan
klien untuk mermbahas dan melaksanakan asuhan keperawatan oleh
ketua Tim atau penanggung jawab jaga dengan melibatkan seluruh
anggota tim.
Karakteristik pelaksanan ronde keperawatan antara lain:
- Klien dilibatkan secara langsung
- Klien merupakan fokus kegiatan
- Perawat pelaksana, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi

bersama
- Kosuler memfasilitasi kreatifitas
- Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet,

perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi


masalah
Tujuan :
- Menumbuhkan cara berfikir secara kritis

41

- Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang

berasal dari masalah klien


- Meningkatkan vadilitas data klien
- Menilai kemampuan justifikasi
- Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja
- Meningkatkan kemampuan untuk memodifikasi rencana perawatan.

Peran perawat primer dan perawat pelaksana dalam menjalankan


pekerjaannya

perlu adanya

sebuah peranan yang

bisa untuk

memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain :


- Menjelaskan keadaan dan data demografi klien
- Menjelaskan masalah keperawatan utama
- Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan
- Menjelaskan tindakan selanjutnya
- Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil
- Peran perawat primer lain dan atau konsuler
- Memberikan justifikasi
- Memberikan reinforcement
- Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta

tindakan yang rasional


- Mengarahkan dan koreksi
- Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari

4. Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah proses untuk mengamati secara
terus-menerus pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan
mengadakan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi. Pengawasan
(controlling)

dapat

dianggap

sebagai

aktivitas

untuk

menemukan,

mengoreksi penyimpangan-penyimpangan penting dalam hasil yang dicapai


dari aktivitas-aktivitas yang direncanakan. Adalah wajar jika terjadi
kekeliruan-kekeliruan tertentu, kegagalan-kegagalan dan petunjuk-petunjuk
yang tidak efektif hingga terjadi penyimpangan yang tidak diinginkan dari
pada tujuan yang ingin dicapai.
42

Pengawasan dalam arti manajemen yang diformalkan tidak akan eksis


tanpa adanya perencanaan, pengorganisasian dan penggerakan sebelumnya.
Pengawasan bisa berjalan secara efektif diperlukan beberapa kondisi yang
harus diperhatikan yaitu:
1) Pengawasan harus dikaitkan dengan tujuan, dan kriteria yang
dipergunakan dalam system Pelayanan kesehatan, yaitu relevansi,
efektivitas, efisiensi, dan produktivitas.
2) Agar standar pengawasan berfungsi efektif maka harus dipahami dan
diterima oleh setiap anggota organisasi sebagai bagian integral, misalnya
sistem standar kendali mutu harus dianggap normal dan perlu.
3) Sulit, tetapi standar yang masih dapat dicapai harus ditentukan.
Ada dua tujuan pokok, yaitu: (1) untuk memotivasi, dan (2) untuk
dijadikan patokan guna membandingkan dengan prestasi. Artinya jika
pengawasan ini efektif akan dapat memotivasi seluruh anggota untuk
mencapai prestasi yang tinggi. Karena tantangan biasanya menimbulkan
berbagai reaksi, maka daya upaya untuk mencapai standar yang sulit
mungkin dapat membangkitkan semangat yang lebih besar untuk
mencapainya daripada kalau yang harus dipenuhi itu hanya standar yang
mudah. Namun demikian, jika target terlampau tinggi atau terlalu sulit
kemungkinan juga akan menimbulkan patah semangat. Oleh karena itu
tidak menetapkan standar yang terlampau sulit sehingga bukan
meningkatkan prestasi, malah menurunkan prestasi
4) Pengawasan hendaknya disesuaikan dengan sifat dan kebutuhan
organisasi. Di sini perlu diperhatikan pola dan tata organisasi, seperti
susunan, peraturan, kewenangan dan tugas-tugas yang telah digariskan
dalam uraian tugas (job discription).
5) Banyaknya pengawasan harus dibatasi. Artinya jika pengawasan
terhadap karyawan terlampau sering, ada kecenderungan mereka
kehilangan otonominya dan dapat dipersepsi pengawasan itu sebagai
pengekangan.

43

6) Sistem

pengawasan

harus

dikemudi

(steering

controls)

tanpa

mengorbankan otonomi dan kehormatan manajerial tetapi fleksibel,


artinya sistem pengawasan menunjukkan kapan, dan dimana tindakan
korektif harus diambil.
7) Pengawasan hendaknya mengacu pada tindakan perbaikan, artinya tidak
hanya mengungkap penyimpangan dari standar, tetapi penyediaan
alternatif perbaikan, menentukan tindakan perbaikan.
8) Pengawasan hendaknya mengacu pada prosedur pemecahan masalah,
yaitu: menemukan masalah, menemukan penyebab, membuat rancangan
penanggulangan, melakukan perbaikan, mengecek hasil perbaikan,
mengecek timbulnya masalah yang serupa.
Kegiatan-kegiatan control ditujukan untuk perubahan yang cepat. Dua
metode pengukuran yang digunakan untuk mengkaji pencapaian tujuantujuan keperawatan adalah:
a. Analisa tugas : kepala perawat melihat gerakan, tindakan dan prosedur
b. yang tersusun dalam pedoman tertulis, jadwal, aturan, catatan, anggaran.
Hanya mengukur dukungan fisik saja, dan secara relatif beberapa alat
digunakan untuk analisa tugas dalam keperawatan.
c. Kontrol kualitas : Kepala perawat dihadapkan pada pengukuran kualitas
1.

dan akibat-akibat dari pelayanan keperawatan.


Prinsip controlling
Prinsip controlling yaitu:
a. Principle of uniformity: dibentuk di awal sampai dengan akhir.
b. Principle of comparison: membandingkan yang direncanakan dengan
yang dicapai.
c. The principle of exception: tidak yang sempurna dari perencanaan, yang
penting ada umpan balik untuk perbaikan.

2. Pelaksanaan controlling
Pelaksanaan controlling meliputi:
a. Mengevaluasi pelaksanaan perencanaan.
b. Pre conference, overan, post conference.
c. Ronde keperawatan.
d. Mengetahui produktivitas berdasarkan gant cart yang telah dibuat.
e. Program evaluasi dan peer review
3. Tipe controlling
a.
Input control.
44

b.
Proses control.
c.
Output control.
4. Langkah-langkah kegiatan controlling
1.
Menetapkan standar dapat mengukur tujuan
2.
Kumpulkan data dengan membandingkan standar yang
telah ditetapkan
3.
Lakukan umpan balik.
4.
Pertahankan kelangsungan proses untuk semua bagian.
5. Manfaat Pengawasan
Manfaat yang diperoleh dari fungsi pengawasan dan pengendalian bila
dilaksanakan dengan tepat yaitu:
1.
Dapat diketahui apakah suatu kegiatan atau program telah
dilaksanakan sesuai dengan standar atau rencana kerja
2.
Dapat diketahui adanya penyimpangan pada pengetahuan
3.

dan pengertian staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya


Dapat diketahui apakah waktu dan sumber daya lainnya

telah mencukupi
4.
kebutuhan dan telah digunakan secara benar.
5.
Dapat diketahui staf yang perlu diberikan penghargaan
a.

atau bentuk promosi dan latihan lanjutan.


Standar Asuhan Keperawatan
Standar Asuhan Keperawatan (SAK) telah ditetapkan oleh PPNI
(Nursalam, 2002), yang mengacu kepada tahapan proses keperawatan
yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi, sebagai berikut :
1.
Standar 1 : Pengkajian keperawatan
Merupakan tahap pengumpulan data tentang status kesehatan pasien
secara

sistematis,

menyeluruh,

akurat,

singkat

dan

berkesinambungan. Data dapat diperoleh melalui anamnese,


observasi

dan

pemeriksaan

didokumentasikan.
Kriteria Pengkajian meliputi :
a.
Pengumpulan

penunjang

data

dan

dilakukan

kemudian

dengan

cara

anamnese, observasi, pemeriksaan fisik, serta dari pemeriksaan


penunjang
b.

Sumber data adalah pasien, keluarga atau orang


yang terkait, tim kesehatan, rekam medis dan catatan lain.

Data yang dikumpulkan difokuskan untuk mengidentifikasi :


45

Status kesehatan pasien masa lalu


Status kesehatan pasien saat ini
Status biologis-psikologis-sosial-spritual
Respon terhadap terapi
Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal
Risiko tinggi masalah
2.
Standar 2 : Diagnosa Keperawatan
Dalam tahap ini perawat menganalisa data pengkajian untuk
merumuskan diagnosa keperawatan, adapun kriteria proses yaitu:
Proses diagnosa terdiri dari analisis, interpretasi data, identifikasi
masalah,
perumusan diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan terdiri dari masalah (P), penyebab (E), dan
tanda/gejala (S), atau terdiri dari masalah dan penyebab (P, E).
Bekerjasama dengan pasien dan petugas kesehatan lainnya untuk
memvalidasi diagnosa keperawatan.
Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosa berdasarkan
data terbaru
3.

Standar 3 : Perencanaan keperawatan


Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi
masalah dan meningkatkan kesehatan pasien. Kriteria proses,
meliputi :
Perencanaan terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan dan
rencana tindakan keperawatan
Bekerjasama dengan pasien dalam menyusun rencana tindakan
keperawatan
Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi dan

kebutuhan pasien
Mendokumentasikan rencana keperawatan
4.
Standar 4 : Implementasi
Perawat mengimplementasikan tindakan yang telah diidentifikasi
dalam proses Asuhan Keperawatan. Kriteria proses, meliputi :
Bekerjasama dengan pasien dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan
pasien.

46

Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga


mengenai konsep, keterampilan asuhan diri, serta membantu
pasien memodifikasi lingkungan yang digunakan
Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan
5.

berdasarkan respon pasien.


Standar 5 :Evaluasi
Perawat mengevaluasi kemajuan pasien

terhadap

tindakan

keperawatan dalam pencapaian tujuan dan merevisi data dasar dan


perencanaan. Adapun
kriteria prosesnya:
Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara
komprehensif, tepat waktu dan terus-menerus
Menggunakan data dasar dan respon pasien dalam mengukur ke
arah pencapaian tujuan
Memvalidasi dan menganalisa data baru dengan teman sejawat
Bekerja sama dengan pasien dan keluarga untuk memodifikasi
perencanaan keperawatan
Mendokumentasikan
hasil

evaluasi

dan

memodifikasi

perencanaan
b. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
1.
Defenisi
Menurut Kozier (2004), dokumentasi keperawatan adalah
laporan baik komunikasi secara lisan, tertulis maupun melalui
komputer untuk menyampaikan informasi kepada orang lain.
Merupakan informasi tertulis tentang status dan perkembangan
kondisi klien serta semua kegiatan asuhan keperawatan yang
dilakukan oleh perawat (Fisbach,1991).
Dokumentasi asuhan dalam pelayanan keperawatan adalah
bagian dari kegiatan yang harus dikerjakan oleh perawat setelah
memberi asuhan kepada pasien. Dokumentasi merupakan suatu
informasi lengkap meliputi status kesehatan pasien, kebutuhan pasien,
kegiatan asuhan keperawatan serta respons pasien terhadap asuhan
yang diterimanya. Dengan demikian dokumentasi keperawatan
mempunyai porsi yang besar dari catatan klinis pasen yang
menginformasikan faktor tertentu atau situasi yang terjadi selama
47

asuhan dilaksanakan. Disamping itu catatan juga dapat sebagai


wahana komunikasi dan koordinasi antar profesi (Interdisipliner) yang
dapat dipergunakan untuk mengungkap suatu fakta aktual untuk
dipertanggung jawabkan.
Dokumentasi keperawatan merupakan suatu bukti otentik respon
pasien dan perubahan yang terjadi dari tindakan yang dilakukan oleh
perawat baik secara mandiri maupun kolaborasi yang merupakan
2.

bagian permanen dari rekam medis lain.


Tujuan

Pendokumentasian

Asuhan Keperawatan
Tujuan dokumentasi keperawatan adalah:
a) Sebagai Sarana Komunikasi
Dokumentasi yang dikomunikasikan secara akurat dan lengkap
dapat berguna untuk:
- Membantu koordinasi asuhan keperawatan/kebidanan yang

diberikan oleh tim kesehatan.


- Mencegah informasi yang berulang terhadap pasien atau
anggota tim kesehatan atau mencegah tumpang tindih, bahkan
sama sekali tidak dilakukan untuk mengurangi kesalahan dan
meningkatkan

ketelitian

dalam

memberikan

asuhan

keperawatan/kebidanan pada pasien.


- Membantu tim perawat/bidan dalam menggunakan waktu

sebaikbaiknya.
b) Sebagai Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat
Sebagai upaya untuk melindungi pasen terhadap kualitas
pelayanan keperawatan yang diterima dan perlindungan terhadap
keamanan

perawat

perawat/bidan

dalam

diharuskan

melaksanakan
mencatat

segala

tugasnya,

maka

tindakan

yang

dilakukan terhadap pasen. Hal ini penting berkaitan dengan


langkah

antisipasi

terhadap

ketidakpuasan

pasen terhadap

pelayanan yang diberikan dan kaitannya dengan aspek hukum


yang dapat dijadikan settle concern, artinya dokumentasi dapat
digunakan untuk menjawab ketidakpuasan terhadap pelayanan
yang diterima secara hukum.
48

c) Sebagai Informasi statistik


Data statistik dari dokumentasi keperawatan/kebidanan dapat
membantu merencanakan kebutuhan di masa mendatang, baik
SDM, sarana, prasarana dan teknis.
d) Sebagai Sarana Pendidikan
Dokumentasi asuhan keperawatan/kebidanan yang dilaksanakan
secara

baik

dan

benar

akan

membantu

para

siswa

keperawatan/kebidanan maupun siswa kesehatan lainnya dalam


proses belajar mengajar untuk mendapatkan pengetahuan dan
3.

membandingkannya, baik teori maupun praktek lapangan.


Manfaat
dan
pentingnya
dokumentasi
Manfaat dan pentingnya dokumentasi keperawatan dokumentasi
keperawatan mempunyai makna yang penting bila dilihat dari
berbagai aspek :
a) Hukum
Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi
keperawatan, dimana perawat sebagai pemberi jasa dan klien
sebagai pengguna jasa, maka dokumentasi diperlukan sewaktuwaktu. Dokumentasi tersebut dapat dipergunakan sebagai barang
bukti di pengadilan.
b) Jaminan mutu (kualitas pelayanan)
Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat, akan memberikan
kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan
masalah klien. Dan untuk mengetahui sejauh mana masalah klien
dapat teratasi dan seberapa jauh masalah baru dapat diidentifikasi
dan dimonitor melalui catatan yang akurat. Hal ini akan membantu
meningkatkan mutu yankep.
c) Komunikasi
Dokumentasi keadaan klien merupakan alat perekam terhadap
masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau tenaga
kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan sebagai alat

49

komunikasi yang dijadikan pedoman dalam memberikan asuhan


keperawatan.
d) Keuangan
Semua tindakan keperawatann yang belum, sedang, dan telah
diberikan dicatat dengan lengkap dan dapat digumakan sebagai
acuan atau pertimbangan dalam biaya keperawatan.
e) Pendidikan
Isi pendokumentasian menyangkut kronologis dari kegiatan
asuhan keperawatan yang dapat dipergunakan sebagai bahan atau
referensi pembelajaran bagi siswa atau profesi keperawatan.
f) Penelitian
Data yang terdapat di dalam dokumentasi keperawatan
mengandung informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan atau
objek riset dan pengembangan profesi keperawatan.
g) Akreditasi
Melalui dokumentasi keperawatan dapat dilihat sejauh mana peran
dan fungsi keperawatan dalam memberikan askep pada klien.
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tingkat keberhasilan
4.

pemberian askep yang diberikan, guna pembinaan lebih lanjut.


Standar Dokumentasi
Standar dokumentasi merupakan standar yang dapat digunakan untuk
memberikan pengarahan dan panduan dalam melakukan dokumentasi
proses keperawatan.
Katagori informasi yang biasanya masuk dalam status (chart) pasien
adalah :
- Data demografi
- Riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik
- Formulir persetujuan
- Diagnosa
- Pengobatan
- Catatan perkembangan /kemajuan
- Catatan secara berkesinambungan (flow sheet)
- Catatan perawat
- Keberadaan dokumentasi baik berbentuk catatan maupun laporan akan
sangat

membantu

dalam

berkomunikasi

baik

perawat/bidan maupun lembaran tindakan (treatment)


- Catatan laboratorium
- Laporan rontgen ( X ray )
- Ringkasan pasien pulang
50

antara

sesama

5.

Metode Pendokumentasian
Metode pendokumentasian meliputi : data dasar, masalah kesehatan,
rencana pelayanan/asuhan termasuk catatan perkembangan kesehatan
pasien. Kesalahan dalam pendokumentasian :
- Tulisan tangan yang berbeda dan tidak terbaca dengan jelas.
- Tanggal, bulan, dan jam tidak konsisten.
- Tidak ada tanda tangan perawat yang melakukan tindakan
keperawatan.
- Merubah instruksi tanpa izin dan tidak melalui prosedur yang benar.

6.

Format

Dokumentasi

Asuhan

Keperawatan
Pengkajian
- Pencatatan data pengkajian mengikuti prinsip tahapan pengkajian.
Format sistematis, akurat dan valid sangat penting untuk
membandingkan perubahan kesehatan pasien (Carpenito, 1998).
Perencanaan
- Sesuai dengan standar perencanaan: identifikasi masalah,
merumuskan diagnosa, menetapkan tujuan dan hasil yang
diharapkan (Carpenito, 1998).
Implementasi
- Implementasi adalah tindakan yang dilakukan terhadap pasien, baik
tindakan keperawatan mandiri maupun tindakan kolaborasi
(Carpenito, 1998).
Evaluasi
- Evaluasi dapat dilakukan pada setiap tahapan proses keperawatan:
pengkajian, perencanaan, dan implementasi (Carpenito, 1998).
Catatan perkembangan
- Formatnya bervariasi dan dapat disesuaikan dengan sistem yang
ada.
- Prinsipnya adalah untuk menilai perkembangan status kesehatan
pasien, apakah sesuai dengan tujuan dan hasil yang diharapkan
(Carpenito, 1998).
Informasi kesehatan lain
- Berbentuk dalam tabel dan grafik selama 24 jam antara lain : berat
badan, tinggi badan, kurva tanda-tanda vital, intake-output cairan
dalam 24 jam, daftar pemberian obat-obatan, kurva pemberian obat
(kemoterapi, terapi hormon) (Carpenito, 1998).
51

Ringkasan perpindahan pasien


- Format ini harus spesifik sesuai dengan kebutuhan pasien dan
memenuhi ketentuan administrasi dan legalitas perpindahan antar
unit dan perpindahan antar institusi rumah sakit. Ringkasan format
pelaporan meliputi lembaran : data dasar demografi, orientasi
ruangan, laporan klinis (Carpenito, 1998).
Perencanaan pulang
Format mencakup personal data pasien, data kesehatan secara umum
dan khusus, surat diizinkan pulang dari dokter yang merawat berikut
ringkasan laporan klinis sesuai kondisi pasien, penyuluhan kesehatan
(Carpenito, 1998).
Perawatan di rumah
- Format pendokumentasian
perawatan

di

rumah

pasien

yang

bertujuan

akan
untuk

melanjutkan
memberikan

ringkasan/informasi perkembangan kesehatan pasien selama di


rumah sakit, agar dokter/perawat/tim profesional lainnya yang
terlibat melanjutkan pengobatan/perawatan pasien di rumah yang
memenuhi syarat medicare (Carpenito, 1998)

52