Anda di halaman 1dari 6

Mineral Alterasi

Alterasi hidrothermal merupakan proses yang terjadi akibat adanya reaksi antara batuan
asal dengan fluida panasbumi. Batuan hasil alterasi hidrotermal tergantung pada beberapa
faktor, tetapi yang utama adalah temperatur, tekanan, jenis batuan asal, komposisi fuida
(hususnya pH) dan lamanya reaksi (Browne, 1984). Proses alterasi hidrotermal yang tejadi
akibat adanya reaksi antara batuan dengan air jenis klorida yang berasal dari reservoir
panasbumi yang terdapat jauh dibawah permukaan (deep chloride water) dapat menyebabkan
teriadinya pengendapan (misalnya Quartz) dan pertukaran elemen-elemen batuan dengan
fluida, menghasilkan mineral-mineral seperti chlorite, adularia, epidote. Air yang bersifat
asam, yang terdapat pada kedalaman yang relatif dangkal dan elevasi yang relatif tinggi
mengubah batuan asal menjadi mineral clay dan mineral-mineral lainnya terlepas.

Gambar 1. Contoh Mineral Alterasi

Mineral hidroternal yang dihasilkan di zona permukaan biasanya adalah kaolin, alutlite,
sulphur, residue silika dan gypsum.
Proses ubahan : proses replacement, leaching (pelarutan) dan pengendapan mineral
(pengisisan).
Dampak pada batuan : perubahan kimia, fisika dan mineral
1. Perubahan Kimia :
Perubahan kimiawi dari fluida sehingga secara kimia terjadi penambaha unsur atau
pengurangan unsur oleh proses replacement, leaching (pelarutan) dan pengendapan mineral
2. Perubahan fisik
a. Densitas
Densitas meningkat silisifikasi
Densitas menurun leaching

b. Porositas dan permeabilitas


Leaching porositas / permeabilitas
Porositas ( densitas )
c. Magnetic Properties
Batu gunungapi umumnya mengandung sedikit magnetik dan atau titano magnetite,
yang dapat menimbulkan kemagnetan.
Beberapa lapisan pabum mengandung less-magnetic mineral seperti hematite,
pyrite, leucoxene, titanite. Hal ini menyebabkan batuan reservoar menjadi demagnetised
d. Resistivity
Konduktivitas batuan reservoar dipengaruhi oleh :
Konsentrasi elektrolit air panas yang dikembangkannya.
Kehadiran mineral clay & zeolite di dalam matrik
Hadir Clay Minerals seperi : kaolin (kaolinite, haloisite, metahaolisite, dickite) Ca
monmorila ( smectite), illite (K-mica), Chlorite. (Mineral clay merupakan mineral
hidrasi, dimana tergantung pada temperatur dan komposisi fluida (pH).
3. Perubahan Mineral
1) Pengendapan langsung
Mineral ubahan / sekunder yang diendapkan secara langsung dari larutan hidrotermal
pada kekar, sesar, bidang ketidakselarasan, pori-pori, vuggy.
Quartz, Calsite dan anhydrite dapat diendapkan pada urat, vuggy.
Calsite, aragonite & silika dapat diendapkan pada pipa bor sebagai scaling.
2) Replacement
Mineral primer dapat direplace menjadi mineral baru.

Tabel 1. Perubahan mineral primer akibat replecement

Mineral primer

Hasil replacement

Volcanic Glassy

Zeolite (mordenite, laumontite) Cristobalite,

Magnetic / illmenic /

Quartz, calsite, Ip (monmorilonite).


Pyrite, leucoxene, titanite, pirotite, hematite

titano magnetic
Pyroxen /Amphibole /

Chlorite, illite, Quartz, Pyrite, Calcium Anhidrite

olivine / biotite
Plagioclase - Ca

Calcite, albite, adularia, wairacite, Quartz,


Anhidrite, Chlorite, illite, kaolin, manmorilonite,

Anorthoclase / sanidine/

epidote
Adularia

Orthoclase

Mineral alterasi
Carbonate

: Calsite, aragonite, siderite

Sulfat

: anhydrite, alunite, natroalunite, barite

Sulphide

:.pyrite, pyrotrite, marcasite, sphalerite, ..galena,Calcopyrite

Oxides

: hematite, magnetic, leucoxen, diaspore

Phospat

: apatite

Halite

: fluorite

Silicates Ortho - & Ring

: titanite, garnet, epidote.

Silicate sheet

:.illite,

biotite,

pyrofilite,

Chlorite,

group

kaolin,

..montmorilonite, prehnite.
Silicate framework

:.adularia, albite, Quartz, Cristobalite, laumontite, ..wairacite.

4) Intensitas alterasi
Intensitas alterasi : Persentase mineral ubahan terhadap batuan, dibedakan atas Batuan
tak terubah, Batuan terubah lemah, Batuan terubah sedang, Batuan terubah kuat, Batuan
terubah sangat kuat

5) Tingkat/range alterasi

Tingkat/range alterasi : identifikasi mineral ubahan yang didasarkan pada kondisi bawah
permukaan, menunjukan kondisi tertentu, misal tingkat alterasi petunjuk temperatur tinggi
atau permeabilitas tinggi.
A l te r a t i o n m i n e r a l o g y a t d i ff e r e n t t e m p e r a tu r e s
5 0 C

T h e r m a l A l te r a t i o n s ta r ts
T h e r m a l A lte r a tio n p r o m in e n t

1 0 0 C

S m e c ti te

2 0 0 C
2 3 0 C
2 5 0 C

S m e c ti te

Z e o l i te s

D o m in a n t

Z e o l i te s d i s a p p e a r

S - C h M ix e d la y e r e d c la y
C h lo r ite
C h lo r ite

E p i d o te

D o m in a n t

Gambar 2. Alterasi mineral pada berbagai temperatur

Alterasi merupakan perubahan komposisi mineralogi batuan (dalam keadaan padat)


karena adanya pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi isokimia
menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam. Proses alterasi merupakan
peristiwa sekunder, berbeda dengan metamorfisme yang merupakan peristiwa primer. Alterasi
terjadi pada intrusi batuan beku yang mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang
memungkinkan masuknya air meteorik (meteoric water) untuk dapat mengubah komposisi
mineralogi batuan.
Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil
differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan
merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan cara
pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu :
Cavity filling, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam batuan.
Metasomatism, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur
baru dari larutan hidrothermal.
Sistem hidrotermal didefinisikan sebagai sirkulasi fluida panas (50 - >500C), secara
lateral dan vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervariasi di bawah permukaan bumi.
Sistem ini mengandung dua komponen utama, yaitu sumber panas dan fase fluida. Sirkulasi

fluida hidrotermal menyebabkan himpunan mineral pada batuan dinding menjadi tidak stabil
dan cenderung menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan mineral
yang sesuai dengan kondisi yang baru, yang dikenal sebagai alterasi (ubahan) hidrotermal.
Endapan mineral hidrotermal dapat terbentuk karena sirkulasi fluida hidrotermal yang
melindi (leaching), mentranspor, dan mengendapkan mineral-mineral baru sebagai respon
terhadap perubahan fisik maupun kimiawi.
Alterasi Hidrotermal merupakan interaksi antara fluida hidrotermal dengan batuan yang
dilewatinya (batuan dinding), akan menyebabkan terubahnya mineral-mineral primer menjadi
mineral ubahan (mineral alterasi), maupun fluida itu sendiri (Pirajno, 1992, dalam Sutarto,
2004).
Alterasi hidrotermal adalah suatu proses yang sangat kompleks yang melibatkan
perubahan mineralogi, kimiawi, dan tekstur yang disebabkan oleh interaksi fluida panas
dengan batuan yang dilaluinya, di bawah kondisi evolusi fisika-kimia. Proses alterasi
merupakan suatu bentuk metasomatism, yaitu pertukaran komponen kimiawi antara cairancairan dengan batuan dinding (Pirajno, 1992).
Alterasi hidrotermal akan bergantung pada :
1.

Karakter batuan dinding.

2.

Karakter fluida (Eh, pH).

3.

Kondisi tekanan dan temperatur pada saat reaksi berlangsung (Guilbert dan Park, 1986,
dalam Sutarto, 2004).

4.

Konsentrasi.

5.

Lama aktivitas hidrotermal (Browne, 1991, dalam Sutarto, 2004).


Walaupun faktor-faktor di atas saling terkait, tetapi temperatur dan kimia fluida

kemungkinan merupakan faktor yang paling berpengaruh pada proses alterasi hidrotermal .
Henley dan Ellis (1983, dalam Sutarto, 2004), mempercayai bahwa alterasi hidrotermal pada
sistem epitermal tidak banyak bergantung pada komposisi batuan dinding, akan tetapi lebih
dikontrol oleh kelulusan batuan, tempertatur, dan komposisi fluida.
Batuan dinding (wall rock/country rock) adalah batuan di sekitar intrusi yang melingkupi
urat, umumnya mengalami alterasi hidrotermal. Derajat dan lamanya proses alterasi akan
menyebabkan perbedaan intensitas alterasi dan derajat alterasi (terkait dengan stabilitas
pembentukan). Stabilitas mineral primer yang mengalami alterasi sering membentuk pola
alterasi (style of alteration) pada batuan. Pada kesetimbangan tertentu, proses hidrotermal
akan menghasilkan kumpulan mineral tertentu yang dikenal sebagai himpunan mineral
(mineral assemblage).

Setiap himpunan mineral akan mencerminkan tipe alterasi (type of alteration). Satu
mineral dengan mineral tertentu seringkali dijumpai bersama (asosiasi mineral), walaupun
mempunyai tingkat stabilitas pembentukan yang berbeda, sebagai contoh klorit sering
berasosiasi dengan piroksen atau biotit. Area yang memperlihatkan penyebaran kesamaan
himpunan mineral yang hadir dapat disatukan sebagai satu zona alterasi. Host rock adalah
batuan yang mengandung endapan bijih atau suatu batuan yang dapat dilewati larutan, di
mana suatu endapan bijih terbentuk. Intrusi maupun batuan dinding dapat bertindak sebagai
host rock.

Gambar 3. Chlorite