Anda di halaman 1dari 4

IMPLEMENTASI BADAN PENGATUR DALAM KERANGKA INDUSTRI GAS

(Versi Nera, 2000)


1.

Pendahuluan

2.

Sasaran

2.1.

Partisipasi Sektor Swasta


Sektor swasta secara historis sudah terlibat dalam industri migas di
Indonesia, diawali dalam produksi minyak selanjutnya LNG dan produksi
gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri.
Saat ini Pemerintah sedang berupaya menarik investasi swasta bagi
pengembangan infrastruktur pengangkutan gas bumi guna mengangkut
lebih banyak gas bumi memenuhi pelanggan yang lebih banyak.

2.2.

Pasar Gas Indonesia


Pasar gas bumi di Indonesia masih terkebelakang untuk beberapa alasan.
Akan tetapi, hambatan utama adalah bahwa BBM masih disubsidi
meskipun sebagian besar (solar dan minyak tanah) masih diimpor.
Pemerintah akan menghapus subsidi dan menggantikannya dengan
subsidi langsung. Pengurangan subsidi ini akan menstimulasi eksplorasi
bagi pengembangan gas bumi untuk kebutuhan dalam negeri serta
menstimulasi investasi infrastruktur mengangkut gsa bumi ke konsumen.
Pasar gas bumi potensial adalah Jawa Barat. Permintaan energi di daerah
ini diproyeksikan meningkat sementara sumber gas bumi sekitarnya
semakin menurun. Dibutuhkan pipa gas bumi bertekanan untuk
mengangkut gas bumi dari Sumatera Selatan. Semakin banyak gas bumi
yang dapat disalurkan kepada konsumen semakin banyak pula BBM
dapat digantikan dengan manfaat mengurangi subsidi dan memperbaiki
perimbangan pembayaran.
Oleh karena itu, setiap metode tarif pengangkutan gas bumi harus
mempersiapkan pemilik pipa/operator dengan suatu insentif untuk
menginvestasi pemipaan ukuran ekonomi maksimum, dan selanjutnya
memaksimalkan volume yang diangkut.

2.3.

Tujuan Metodologi Tarif


Sebagi kesimpulan, metodologi tarif harus mendorong sektor swasta
berinvestasi dalam infrastruktur pengangkutan gas, kemudian
mempersiapkan insentif agar pipa yang dihasilkan dapat sebanyak
mungkin mengangkut gas.

3.

Kerangka Umum

Ada lima langkah pendekatan guna membandingkan alternatif metodologi bagi


pengalokasian biaya terhadap pengguna gas bumi yang diangkut melalui pipa.
Kelima langkah tersebut adalah:
a. Penghitungan total biaya yang akan dicakup, yang dikenal sebagai
revenue requirement
depresiasi dan amortisasi
biaya operasi dan biaya perawatan
tagihan finansial dan pajak
profit/pengembalian investasi
b. Unbundle (atau fungsionalisasi) biaya kedalam pelayanan yang berbeda
(atau kegiatan) yang dapat menyebabkan biaya: produksi, gathering,
prosesing, pengangkutan, dan pemasaran.
c. Klasifikasikan biaya menjadi komponen fixed dan variable
d. Alokasikan biaya, fixed dan variable, menjadi:
suatu kapasitas tagihan (reservation) dan suatu komoditas tagihan
(throughput), yang dapat mencakup
- pengalokasian semua biaya fixed ke kapasitas tagihan (straight
fixed-variable) atau beberapa biaya fixed tertentu ke kapasitas
tagihan (modified fixed-variable); atau
- pengalokasian beberapa persen biaya fixed ke pasitas tagihan dan
sebagian lagi ke komoditas tagihan.
tipe pelanggan yang berbeda, dimana biaya tertentu (seperti
pembacaan meter dan penagihan/billing) dapat dikategorikan dengan
tipe pelanggan.
e. Desain tariff (dikenal juga sebagai Rate Design), dimana unit tarif yang
terlihat di kwitansi (seperti Rp. per mmscf2 atau Rp. per hari)
dihitung dengan membagi biaya alokasi dengan jumlah keseluruhan unit
kwitansi.
4.

Transportasi Gas Bumi Kebijakan, Perizinan dan Kontrak

4.1. Kebijakan Gas Dalam Negeri

4.2.

Award Perizinan Pengangkutan Gas Bumi

4.3.

Kontrak Pengangkutan Gas Bumi

5.

Metode Rekomendasi Tarif

5.1.

Pendahuluan

5.2.

Step 1-Penghitungan Total Keperluan Revenue

5.2.1. Pendahuluan

5.2.2. Penghitungan Aset (Asset Base)

5.2.3. Biaya Kapital (atau Waktu Pengembalian) Cost of Capital (or Rate of
Return)

5.2.4. Depresiasi (Depreciation)

5.2.5. Biaya Operasional (Operational Cost)

5.2.6. Tingkat Pajak Efektif vs Tingkat Pajak Statutori (Effective Tax Rates vs
Statutory Tax Rates)

5.3.

Step 2 Biaya Fungsionalisasi (Functionalise Costs)