Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH BIOLOGI PERAIRAN

KEBIASAAN MAKAN DAN CARA MAKAN IKAN

Disusun Oleh
Kelompok 5/ Perikanan A
Andi Mulyadi

230110130006

Ai Siti Nurhalimah

230110130011

Ira Setyowati

230110130022

Jamil Amjad

230110130063

Rahmat Aji Sukmo

230110130068

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM
STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Kebiasaan Makan dan Cara
Makan Ikan. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas dari
mata kuliah Biologi Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Melalui kesempatan yang sangat berharga ini kami menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
penyelesaian makalah ini, terutama kepada yang terhormat :
1. Ibu Dra. Titin Herawati M.Si., selaku dosen pengajar Biologi Perairan

sekaligus membimbing dalam proses pembuatan makalah ini.


2. Teman-teman sekelompok yang telah membantu dalam membuat makalah
ini.
3. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam
kesempatan ini, yang telah memberikan bantuan moral dan materiil dalam
proses penyelesaian makalah ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan yang setimpal atas
segala bantuan yang telah diberikan.
Jatinangor, Februari 2015

Penulis

DAFTAR ISI
i

KATA PENGANTAR........................................................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..............................................................................................1
1.2 Tujuan............................................................................................................2
1.3 Rumusan Masalah.........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kebiasaan Makan Ikan..................................................................................3
2.2 Rantai Makanan Ikan....................................................................................8
2.3 Cara Makan Ikan...........................................................................................9
2.4 Spesialisasi Kebiasaan Makan Ikan..............................................................13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................................15
3.2 Saran .............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................16

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makanan sangat penting untuk pertumbuhan ikan karena makanan berfungsi
dalam pertumbuhan sel organisme. Makanan adalah organisme, bahan, maupun
zat yang dimanfaatkan ikan untuk menunjang kehidupan organ tubuhnya. Pada
habitatnya yaitu perairan bebas sumber makanan yang diperlukan ikan telah
tersedia dengan sendirinya pada kondisi terkait dengan pola rantai makanan yang
ada di perairan tersebut.
Adanya ketersediaan pakan di perairan bebas memungkinkan ikan untuk
memilih dan mencari sumber makanan yang dibutuhkannya tanpa terbatas ruang
dan waktu, sedangkan ikan yang dibudidayakan dalam suatu petakan tambak
relatif tidak mempunyai alternatif lain dalam memilih dan mencari sumber
makanan karena ruang gerak dan habitatnya dibatasi oleh petakan tambak. Situasi
ini mengarahkan ikan dalam suatu kondisi ketergantungan pakan yang di suplai
dari luar lingkungannya, karena ketersediaan pakan alami yang ada di dalam
perairan tersebut semakin menipis dengan bertambahnya ukuran ikan dan bahkan
pada waktu tertentu akan mengakibatkan habisnya pakan alami tersebut.
Besar kecilnya populasi ikan dalam suatu perairan antara lain ditentukan oleh
makanan yang tersedia. Dari makanan ini ada beberapa faktor yang berhubungan
dengan populasi tersebut yaitu jumlah dan kualitas makanan yang tersedia (food
habits), mudahnya tersedia makanan, lama masa pengambilan dan cara memakan
ikan dalam populasi tersebut (feeding habits). Jadi kebiasan makan dan cara
memakan ikan itu secara alami bergantung kepada lingkungan tempat ikan itu
hidup.
Makanan yang telah digunakan oleh ikan tadi akan mempengaruhi sisa
persediaan makanan dan sebaliknya dari makanan yang diambilnya akan
mempengaruhi pertumbuhan, kematangan pada bagi tiap-tiap individu ikan ikut
serta dalam keberhasilan hidupnya ( survival ). Adanya makanan dalam perarairan
selain terpengaruh oleh kondisi biotik lingkungan seperti suhu, cahaya, ruang dan
luas permukaan.
1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui kebiasaan makan
dan cara makan ikan seperti kebiasaan makan ikan, rantai makanan, kebiasaan
cara makan ikan dan spesialisasi kebiasaan makan ikan.
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kebiasaan makan ikan
2. Bagaimanakah rantai makanan
3. Bagaimana kebiasaan cara makan ikan
4. Bagaimana spesialisasi kebiasaan makan ikan

BAB II
PEMBAHASAN
3.1 Kebiasaan Makanan (Food Habits)
Kebiasaan makanan (food habits) adalah kualitas dan kuantitas makanan yang
dimakan oleh ikan. Umumnya makanan yang pertama kali datang dari luar untuk
semua ikan dalam mengawali hidupnya ialah plankton yang bersel tunggal yang
berukuran kecil. Jika untuk pertama kali ikan itu menemukan makanan berukuran
tepat dengan mulutnya, diperkirakan akan dapat meneruskan hidupnya. Tetapi
apabila dalam waktu relative singkat ikan tidak dapat menemukan makanan yang
cocok dengan ukuran mulutnya akan terjadi kelaparan dan kehabiasan tenaga
2

yang mengakibatkan kematian. Hal inilah yang antara lain menyebabkan ikan
pada masa larva mempunyai mortalitas besar. Ikan yang berhasil mendapatkan
makanan yang sesuai dengan mulut, setelah bertambah besar ikan itu akan
merubah makanan baik dalam ukuran dan kualitasnya. Apabila telah dewasa ikan
itu akan mengikuti pola kebiasaan induknya.refleksi perubahan makanan pada
waktu kecil sebagai pemakan plankton dan bila dewasa akan mengikuti kebiasaan
induknya dapat terlihat pada sisiknya.
Kebiasaan makan (feeding habits) suatu jenis ikan mencakup dua hal, yaitu
jenis-jenis makanan dan cara makan dari ikan terkait. Pemahaman mengenai
feeding habits memiliki arti penting untuk memberikan jenis makanan yang cocok
dan disukai ikan sehingga makanan tersebut dapat termakan.
Pengetahuan mengenai jenis-jenis makanan ikan sangat penting karena
dengan pengetahuan ini dapat dibuat makanan yang sesuai dengan sifat-sifat alami
ikan yang bersangkutan. Secara alami, makanan ikan dapat dibedakan menjadi 5
macam golongan, yaitu makanan nabati, makanan hewani, makanan campuran
nabati dan hewani, plankton, serta detritus.
1. Makanan nabati
Makanan nabati adalah makanan yang berupa bahan tumbuh-tumbuhan
berukuran besar (makroskopik) yang mudah dilihat secara kasat mata. Ikan yang
makanannya berupa bahan-bahan nabati ini disebut ikan herbivora atau ikan
vegetaris.
Beberapa contoh makanan nabati antara lain adalah ganggang benang atau
alga filamen, seperti Chaetomorpha, Enteromorpha, Cladophora, dan Spirogyra.
Beberapa sayuran, seperti kangkung air (Ipomoea aquatica), eceng gondok
(Eichhornia erassipes), daun talas (Colacasia esculenta), dan daun pepaya
(Carica papaya) dapat dijadikan makanan nabati untuk ikan.
Beberapa contoh jenis-jenis ikan herbivora atau vegetaris antara lain tawes
(Puntius javanicus), nilem (Osteochilus haselti), jelawat (Leptobarbus houeveni),
sepat siam (Trichogaster pectoralis), bandeng (Chanos chanos), gurami besar
(Osphronemus gouramy), dan baronang (Siganus javus).

Ikan-ikan herbivora pada umumnya mudah menerima makanan tambahan


maupun pakan buatan. Beberapa makanan tambahan yang diberikan, misalnya
dedak halus, bungkil kelapa, bungkil kacang, isi perut hewan ternak, dan sisa-sisa
sayuran. Pemberian makanan buatan sebaiknya dicampur bahan hijauan, seperti
tepung daun turi, tepung daun lamtoro, tepung daun singkong, dan tepung
fitoplankton yang terbuat dari Chlorella sp., Spirulina sp., dan Tetraselmis sp.
2. Makanan hewani
Makanan hewani adalah makanan yang berasal dari bagian-bagian hewan
makroskopik atau makanan yang berdaging. Ikan- ikan yang makan bahan hewani
dinamakan ikan karnivora atau ikan pemakan daging. Kelompok ikan tersebut
sering juga dinamakan ikan buas. Daging yang diberikan dapat berupa bangkai
maupun hewan hidup yang berukuran kecil.
Hewanhewan yang sering menjadi mangsa ikan karnivora antara lain jenisjenis ikan kecil, seperti ikan seribu (Lebistes reticulatus), kepala timah, sisik
mulik atau ralan curing (Panchax panchax), teri (Stolephorus commersonii),
anakan ikan, siput-siput kecil, larva serangga, dan cacing tubifek (cacing sutra
atau cacing rambut).
Beberapa contoh ikan karnivora antara lain gabus (Ophiocephalus striatus),
betutu (Oxyeleotris marmorata), sidat (Anguilla spp), oskar (Astronotus
ocellatus), belut sawah (Monopterus albus), arwana (Schleropages formosus),
kakap putih (Lares calcalifer), kerapu (Ephinephelus sp.), kakap merah (Lutjanus
argentimaculatus), dan cucut macan (Galeocerdo rayneri).
Ikan-ikan karnivora umumnya agak sulit menerima makanan tambahan,
terutama pakan buatan. Jenis ikan ini biasanya menyukai makanan yang tanpa
cincangan atau gilingan daging ikan atau hewan-hewan lainnya yang masih segar.
Apabila diberi makanan buatan, ikan jenis ini membutuhkan latihan yang lama
dan biasanya diberikan dalam keadaan basah. Komposisinya harus banyak
mengandung bahan hewani dan aromanya cukup merangsang (aroma daging).
3. Makanan Campuran (Nabati dan Hewan)
Makanan campuran adalah makanan yang terdiri dari bahan nabati dan
hewani. Jenis bahan makanan ini dapat dimakan selagi masih hidup, seperti
4

ganggang algae, lumut, larva serangga, dan cacing, maupun dimakan dalam
bentuk benda mati, seperti kotoran hewan, kotoran manusia, limbah industri
pertanian, serta bangkai.
Ikan yang suka menyantap makanan campuran disebut ikan omnivora (ikan
pemakan segala atau pemakan campuran). Beberapa contoh ikan omnivora, antara
lain ikan mas tombro (Cyprinus caprio), maskoki (Carassius auratus), mujair
(Tillapia mossambica), dan lele (Clarias batrachus).
Ikan omnivora lebih mudah menerima pakan tambahan maupun pakan buatan
sewaktu masih burayak, benih, atau setelah dewasa. Misalnya lele Selain
memangsa makanan hewani, lele juga melahap makanan nabati, dan tidak akan
menolak jika diberi makanan pelet.
4. Plankton
Plankton adalah organisme yang hidup melayang-layang di dalam air.
gerakannya pasif, dan hanya mengikuti arah arus karena tidak mampu untuk
melawan gerakan air. Secara biologis plankton terdiri dari dua macam golongan
yaitu plankton nabati atau plankton tumbuh-tumbuhan (fitoplankton) dan plankton
hewani atau plankton binatang (zooplankton). Ikan yang makanannya utamanya
plankton disebut pemakan plankton atau plankton feeder.
Beberapa contoh jenis plankton nabati antara lain Chlorella, Tetraselmis,
Skeletonema, Isochrysis, Dunaliella,dan Spirulina. Contoh plankton hewani
antara lain adalah Brachionus, Daphnia, Moina, Cyclops, Calanus, Trigiopus, dan
Artemia.
Contoh ikan pemakan plankton antara lain tambakan (Helostoma temminckii)
dan ikan layang (Decapterus russeli). Ikan pemakan plankton, burayak maupun
yang dewasa dapat menerima makanan urn pakan buatan. Akan tetapi, bentuk
makanan itu harus gan bentuk makanan aslinya, yaitu berupa tepung, butiranmpun serpihan-serpihan halus (flake). Untuk burayak, pakan biasanya diberikan
dalam bentuk suspensi (butiran-butiran jtkan dalam air).
5. Detritus
Detritus adalah kumpulan bahan organik yang telah hancur dan terdapat Jika
di darat, hancuran bahan organik berasal dari tumbuh tumbuhan maupun dari
5

hewan, seperti alga, bakteri, cendawan, protozoa, kotoran hewan, kotoran


manusia, limbah industri, dan limbah pertanian. Ikan yang suka makan detritus
disebut pemakan detritus (detritus feeder). Contoh ikan pemakan detritus antara
lain belanak (Mugil cephalus). Belanak suka mengambil hancuran lumut sutra
(Chaetomorpha) dan lumut perut ayam (Enteromorpha) yang terdapat di dasar
perairan.
Ikan pemakan detritus dapat menerima makanan tambahan dan pakan buatan
dalam bentuk hancuran sehingga mempunyai sifat-sifat fisik yang mirip dengan
detritus. Hal tersebut dikarenakan ikan-ikan pemakan detritus suka mengambil
makanan yang mengendap di dasar perairan.
Berdasarkan kepada jumlah variasi dan macam-macam makanan tadi, ikan
dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
a. Monophagic
Monophagic adalah ikan pemakan makanannya terdiri dari satu macam
makanan.
b. Stenophagic
Stenophagic adalah ikan pemakan makanan yang macamnya sedikit atau
sempit.
c. Euryphagic
Euryphagic adalah ikan pemakan bermacam-macam makanan.
Seperti telah diketemukan bahwa berdasarkan makanannya secari garis besar
ikan dapat digolongkan menjadi herbivor, karnivor, predator dan sebagainya.
Akan tetapi dalam kenyataanya banyak sekali overlap disebabkan oleh keadaan
habitat sekelilingnya dimana ikan itu hidup. Oleh karena itu dalam pemeriksaan
untuk menggolongkan ikan berdasarkan kesukaan makanannya memerlukan
contoh yang besar diambil dari berbagai macam lokasi. Apabila satu spesies ikan
telah di ketahui secara umum kebiasaan makanannya, tetapi ketika diambil dari
suatu perairan tertentu terdapat kelainan dalam lambungnya, hal ini menunjukkan
bahwa habitat itu secara alami tidak sesuai dengan ikan itu.
Banyak sekali penelitian yang menunjukkan walaupun ikan itu sama
spesiesnya dan ukurannya, tetapi apabila habitat perairannya sedikit berbeda
hasilnya tidak sama. Dengan demikian penilaian kesukaan ikan terhadap
makanannya menjadi sangat relatif. Beberapa faftor yang harus diperhatikan
6

dalam hubungan ini ialah faktor penyebaran organism sebagai makanan ikan,
factor ketersediaan makanan, faktor pilihan dari ikan itu sendiri serta faktor-faktor
yang mempengaruhi perairan.
Berdasarkan penelitian yang diambil dari bermacam habitat yang berbeda,
hasilnya menunjukkan bahwa ikan menduduki posisi rantai makanan yang
berbeda untuk tiap habitat. Penyebaran organisme makanan ikan di dalam suatu
komuniti umumnya akan didapatkan bahwa beberapa persen spesies organisme
mempunyai jumlah individu banyak. Sedang spesies sisanya berjumlah banyak
dengan masing-masing jumlah individu sedikit atau jarang. Penyebaran organisme
makanan yang dominan menyebabkan pengambilan makanan itu akan bertambah
sedangkan pengambilan osganisme yang lain oleh ikan itu akan menurun.
Ketersediaan makanan yang terdapat di perairan dapat diketahui apabila kita
menganalisa makanan ikan itu dan membandingkannya dengan makanan yang
terdapat dalam perairan.
3.2 Rantai Makanan pada Ikan
Rantai makanan adalah proses
makan-dimakan sehingga tebentuk
suatu ikatan antara mangsa dan
pemangsa (food chaints). Plankton
tumbuh-tumbuhan
mengadakan

pada

waktu

fotosintesa,

menggunakan CO2 dan air dengan


bantuan utama cahaya membuat
hidrat arang dan menghasilkan zat asam

Gambar 1. Rantai Makanan

yang berguna untuk ikan. Dengan demikian plankton dapat memproduksi zat
organic dari zat anorganik, maka plankton tersebut dinamakan penghasil awal.
Organisme yang memakan penghasil awal dinamakan pemakan awal.
Organisme yang memakan pemakan awal dinamakan pemakan kedua. Pemakan
kedua akan dimakan pemakan ketiga dan seterusnya. Susunan demikian itu yang
dimaksud dengan rantai makanan. Panjang pendeknya rantai makanan bergantung
kepada macam, ukuran atau umur ikan. Ikan
7

buas yang besar merupakan pemakan yang tertinggi, akan tetapi akan lebih rendah
dari pada organisme pemakan ikan buas tersebut.
Kolam ikan merupakan contoh yang baik untuk mengetahui rantai makanan
dalam keadaan sangat disederhanakan. Disini akan terlihat pola pengelolaan yang
direncanakan untuk menyalurkan energi melalui rantai makanan yang diusahakan
sependek mungkin. Bila rantai makanan itu semakin panjang maka produksi
terakhir yang di capai tidak secepat pada ikan dengan rantai yang pendek.
Kebanyakan para ahli biologi aquatik menyetujui bahwa bakteria dan algae
merupakan dasar bagi rantai makanan. Bakteri mengunakan material sisa yang
komplek menjadi bentuk yang lebih sederhana. Algae sanggup menggunakan
garam-garam anorganik yaitu zat asam arang dan air dengan adanya sinar
matahari membentuk zat organik. Akan tetapi rantai makanan dari bakteria ke
ikan bukan meruapakan rantai makanan satu seri rantai makanan melainkan
bentuknya lebih komplek shingga akan tepat apabila disebut jaring makanan
karena terdiri dari berbagai rantai makanan yang saling bertautan.
Menurut Odum dalam Stele (1970) konsep klasik dalam rantai makanan
aquatik, bahwa zooplankton dianggap sebagai rantai pertama yang penting untuk
pengahasil kedua. Konsep ini berdasarkan penelitian rantai makanan di laut
daerah utara dimana tiap tahap tropiknya dapat dengan mudah diikuti. Kedudukan
zooplankton bila makin dekat ke daerah pantai makin kurang peranannya. Bahkan
di daerah eustuarin, kepentingan phytoplankton menjadi nomor dua. Di daerah
pantai yang mempunyai peranan dalam rantai makanan sebagai rantai pertama
diantaranya rumput laut daerah pantai (spartina), rumput laut (Thalassia, dsb),
makro algae, mangrove dan mikroflora benthik. Ikan sebagai pemakan detritus
dari organisme tersebut sebagi energi menggantikan zooplankton sebagai rantai
pada herbivore. Beberapa spesies ikan yang telah hidup sebagai pemakan detritus
materual tanaman mikro dan makro benthic di daerah pantai adalah ikan bandeng,
dan belanak. Ikan pemakan detritus yang biasa hidup di air tawar diantaranya
adalah ikan mas, ikan mujair, ikan nila.
a. Rantai Makanan di Danau : Diatom Kutu air larva capung ikan kecil
ikan besar bangau pengurai (kembali ke) diatom
8

b. Rantai Makanan di Laut : Fitoplankton Zooplankton Hewan laut kecil


Hewan laut besar Predator Dekomposer -(Kembali ke) Fitoplankton
Jaring-jaring makanan adalah kumpulan dari rantai makanan yang saling
berhubungan dan membentuk skema mirip jaring. Kelangsungan hidup organisme
membutuhkan energi dari bahan organik yang dimakan. Bahan organik yang
mengandung energi dan unsur-unsur kimia transfer dari satu organisme ke
organisme lain berlangsung melalui interaksi makan dan dimakan. Peristiwa
makan dan dimakan antar organisme dalam suatu ekosistem membentuk struktur
trofik yang bertingkat-tingkat.
3.3 Kebiasaan Cara Memakan (Feeding Habits)
Kebiasaan cara makan adalah kapan waktu, tempat dan cara ikan
mendapatkan makanannya. Kebanyakan cara ikan mencari makanan dengan
menggunakan mata. Pembauan dan persentuhan digunakan juga untuk mencari
makanan terutama oleh ikan pemakan dasar dalam perairan yang kekurangan
cahaya atau dalam peraira keruh. Ikan yang menggunakan mata dalam mencari
makanan akan mengukur apakah makanan itu cocok atau tidak untuk ukuran
mulutnya. Tetapi ikan yang menggunakan pembauan dan persentuhan tidak
melakukan pengukuran, melainkan kalau makanan sudah masuk mulut akan
diterima atau ditolak.
Oleh karena itu kebiasaan makan dan cara makan menentukan golongan ikan,
misalnya saja ikan yang sering mencari makan di dasar perairan, baik itu perairan
tawar, ataupun laut dimasukan pada golongan ikan demersal. Adapun kebiasaan
makan ikan lebih detailnya sebagai berikut:
a. Kebiasaan Makan Ikan Berdasarkan Tempat
Ikan dasar perairan (demersal) adalah jenis yang banyak menghabiskan
aktivitasnya di dasar perairan, termasuk kebiasaan mencari makannya karena
itulah kebiasaan makannya yang deperti itu menyebabkan ikan tersebut
dimasukan dalam golongan in . Contohnya: lele dumbo dan patin.
Ikan lapisan tengah perairan, yakni ikan yang mencari makanan yang
mengapung di tengah perairan. Ikan jenis ini hanya sewaktu-waktu muncul ke
permukaan air atau berenang di dasar perairan. Ikan mas dan bawal termasuk
9

kedalam jenis ini. Ikan permukaan perairan, yakni ikan yang mencari makanan di
permukaan air. Umumnya, ikan jenis ini menghabiskan waktunya lebih lama
berada di lapisan atas perairan. Ikan dengan kebiasaan seperti ini disebut dengan
pelagis atau ikan permukaan. Gurami, nila dan mujair termasuk dalam kategori
ini. Ikan menempel, yakni ikan pemakan bahan organik yang menempel pada
subtrat (benda yang terdapat di dalam air), baik yang berada di dalam kolam air
(lapisan tengah) maupun yang berada di dasar perairan. Ikan nilem dan sapu-sapu
termasuk dalam golongan ikan dengan kebiasaan makan menempel.
b. Kebiasaan Makan Ikan Berdasarkan Waktu
Penggolongan kebiasaan makan ikan tidak hanya berdasarkan tempat saja,
tapi saat kebisaan makan ikan juga digolongkan berdasarkan kapan (waktu) ikan
manecari makan. Penggolongannya adalah sebagai berikut:
Jenis ikan yang aktif mencari makan pada siang hari. Jenis ikan ini memiliki
aktivitas makan yang banyak dilakukan pada siang hari. Pada malam hari, mereka
lebih banyak beristirahat. Jenis ikan dengan aktivitas seperti itu disebut ikan
diurnal. Contohnya: ikan mas, nila, bawal, dan gurami.
Jenis ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Ikan yang
masuk dalam kategori ini jarang mencari makanan pada siang hari, tetapi aktif
mencari makan di malam hari. Jenis ikan yang aktif mencari makanan pada
malam adalah lele dumbo, lele lokal, dan patin (jambal).
Selain itu, perbedaan kualitas air dapat menyebabkan perbedaan variasi
lingkungan, karena pengaruh pencemaran air lebih besar pada ikan dibandingkan
dengam hewan darat. Suhu dan kualitas air mempengaruhi karakter seperti
pertumbuhan dan daya tahan terhadap penyakit dan juga perkembangan karakter,
karena suhu dan perubahan kualitas air dapat memacu terbentuknya larva yang
cacat. Proses biologi dan fisiologi juga bertanggung jawab terhadap pengaruh
lingkungan. Sebagai contoh, pada ikan yang sedang tumbuh, perbandingan
permukaan insang dengan volume badan nilainya menjadi lebih kecil. Biasanya
ikan besar mempunyai toleransi yang rendah terhadap oksigen dibandingkan ikan
kecil. Pada evaluasi genetik melalui uji tantang terhadap suhu rendah, ikan kecil
mempunyai keuntungan dibandingkan dengan ikan besar dengan demikian
10

hubungan antara ukuran toleransi terhadap oksigen rendah dapat ditentukan


dengan menggunakan standar data genotif terhadap suatu ukuran tertentu
percobaan. Ikan yang lebih besar mempunyai kepala yang besar dan panjang.
Oleh karena itu, pengukuran secara morfometrik harus distandarisasikan. Salah
satu teknik untuk menstandarisasi adalah dengan perbandingan. Akan tetapi, hal
ini terkendala dengan perubahan bentuk badan relatif jika ikan bertambah besar.
Pada ikan muda, badan ikan tumbuh besar dibandingkan dengan kepala, dengan
demikian perbandingan ukuran kepala terhadap panjang total lebih kecil daripada
ikan yang besar. Pada ikan yang tumbuh mendekati matang gonad, hubungan
tersbut berubah, kepala mulai tumbuh lebih cepat daripada badan, dengan
demikian ukuran tubuh melalui pengukuran morfometrik harus diperbaiki untuk
mengoreksi data yang diperoleh nilai yang sah.
Untuk larva ikan, mata merupakan indera yang penting untuk mencari dan
menangkap makanannya. Bila larva menemukan mangsa didepan tubuhnya akan
beraksi dengan menggerakkan mata sehingga berposisi simetris tertuju ke depan.
Kemudian ikan menggerakkan tubuh berupa loncatan-loncatan kecil. Bila mangsa
sudah dekat yaitu kira-kira 12 mm didepan mulutnya, larva akan mendorong
tubuhnya dari posisi badan berbentuk huruf S kemudian menangkap mangsanya.
Biasanya mangsa seperti Copepoda tidak akan tingal diam, tetapi mengadakan
reaksi. Pergerakan larva merupakan perangsang mangsa mengadakan pergerakan
bila mana larva suda mendekat kira-kiar 23 mm mangsa akan meloncat sebelum
ditangkap.
Ikan pemakan plankton mempunyai mulut relative kecil dan umumnya tidak
ditonjolkan ke luar. Rongga mulut bagian dalam dilengkapi dengan jari-jari tapis
insang yang panjang dan lemas untuk menyaring plankton yang di makan.
Plankton yang masuk ke dalam mulut bersama-sama air. Plankton akan tinggal
dalam mulut sedangkan airnya akan melalui celah insang. Umumnya mulut ikan
pemakan plankton tidak dilengkapi dengan gigi. Alat pencernaan tidak
mempunyai lambung seperti pada ikan buas dan usus pemakan plankton relative
panjang tetapi tidak dilengkapi dengan perlengkapan sempurna untuk mencerna.
Ikan pemakan plankton kalu makan ada yang suka membentuk suatu kelompok
11

dan mencari kelompok plankton yang padat. Bila mereka menemukan yang dapat
mereka makan dengan intensif dan lebih cepat dari pada makan ikan yang
makannya terisolir. Sebaliknya ikan pemakan benthos dan ikan buas makanannya
kurang intensif kalua mereka berkelompok tetapi makan lebih intensif kalau
terisolir.
Ikan pemakan dasar pada waktu mencari makanan mengunakan sungut untuk
meraba dasar perairan. Persentuhan sungut dengan mangsa atau makanannya akan
menggerakkan mulut untuk mengambil mangsa. Kebanyakan makanan yang
diambil terdiri dari invertebrata. Mulut pemakan dasar ada yang dilengkapi
dengan gigi halus yang memenuhi ruang atas dan bawah, tetapi ada pula yang
tidak dilengkapi dengan gigi seperti yang terdapat pada ikan. Ikan mas yang sudah
tua dan besar akan merubah kebiasaan makanannya dari pemakan dasar menjadi
pemakan rumput.
Umumnya ikan buas mencari mangsa mengunakan mata. Ikan buas aktif
mencari makanan dengan berenang kian kemari, tetapi ikan yang tidak aktif akan
menunggu mangsa di suatu tempat yang terlindung. Bila mangsa mendekat akan
disergap. Ikan buas yang suka berkelompok jika telah dapat melokalisir
mangsanya akan mengambil mangsa tersebut secara intensif dan cepat jika
dibandingkan dengan ikan yang terisolir. Tetapi hal ini bergantung pada distribusi
dan konsentrasi makanan tadi. Kadang-kadang ikan buas mengalami kesukaran
menghadapi mangsa yang bergerombol karena mangsa tersebut bergerombolnya
sedemikian rupa sehingga tidak ada satupun yang terlepas. Kalau kelompok ikan
tadi dalam keadaan terpencar maka ikan predator akan makan secara intensif.
Sehubungan dengan kebiasaan ikan mencari makanannya, pada ikan terdapat
apa yang dinamakan Feeding Periodicity masa aktif ikan untuk mencari makanan
selama 24 jam. Bergantung kepada ikannya feeding periodicity ada yang satu ada
yang dua kali. Lamanya ada yang satu jam atau dua jam bahkan ada yang terus
menerus. Pada ikan buas yang memakan mangsa yang ukuran besar interval
pengambilan makanannya mungkin lebih dari satu hari. Feeding periodicity ikan
nocturnal aktif pada malam hari dimulai dari matahari terbenam sampai pagi dan
untuk ikan diurnal pada siang hari. Feeding periodicity ini berhubungan dengan
12

suplay makanan juga dengan musim. Kalau kondisi lingkungan menjadi buruk
feeding periodicity dapat berubah, bahkan dapat menyebabkan terhentinya
pengambilan makanan.
3.4 Spesialisasi Kebiasaan Makanan pada Ikan
Aktifitas mencari makan pada ikan pada alam bebas merupakan pekerjaan
harian yang rutin dimana makanan tadi diketahui oleh ikan dengan cara
penglihatan, perabaan, pembauan. Makanan yang tersedia di alam dimanfaatkan
oleh ikan biasanya dapat diketahui dengan mengambil contoh makanan yang ada
pada lambungnya dan dilengkapi dengan daftar diet harian yang diambil ikan
berbagai umur dan ukuran. Dalam mempelajari tentang kebiasaan, kesukaan dan
macam-macam makanan ikan harus menyertakan pertimbangan terhadap
morfologi fungsional dari tengkorak, rahang dan alat pencernaan ikan tersebut.
Dengan memperhitungkan hal-hal tersebut dapat diketahui gizi alami dan
pembatas-pembatas kebiasaan makanan yang mungkin timbul. Ikan tanpa struktur
mulut untuk menghisap lumpur tidak akan mendapatkan makanan di bawah batubatu besar padahal makanan disitu cukup banyak.
Mengenai feeding habits yaitu kebiasaan cara memakan pada ikan sering kali
di hubungkan dengan bentuk tubuh yang khusus dan fungsional morfologi dari
tengkoraknya, rahang dan alat pencernaan makanannya. Jadi ikan herbivore secara
sederhana dapat dinyatakan bahwa ikan tersebut tidak mempunyai kemampuan
untuk memakan dan mencerna material lain selain tumbuhan, oleh karena itu ikan
pemakan tumbuhan cenderung memakan material tumbuhan yang lambat dicerna.
Ikan herbivore ini harus dapat mengekstraksi nutrient melalui ususnya yang
panjang. Jadi usus ini berfungsi sebagai penahan makanan dalam jumlah besar
dalam waktu yang lama untuk mendapat kesempatan penggunaan penuh material
makanan yang sudah dicerna. Secara kontras ikan karnivor mempunyai usus yang
lebih pendek khusus.
Salah satu contoh ikan yang mempunyai keistimewaan khusus dalam
kebiasaan makanannya dan mencari makanan terdapat pada ikan mas. Ikan ini
mencari makan dengan cara menghisap dengan mulut yang dapat dijulurkan
dengan mudah. Mulutnya terminal dan tidak mempunyai gigi. Sebagai ganti gigi
13

dan lambung ikan ini mempunyai gigi pharynx untuk mengerus. Dilihat dari segi
spesialisasi makanannya, maka ikan ini adalah ikan omnivore euryphagus dan
sebagai pemakan yang oportunistik di dalam suatu daerah ekologi yang
bermacam-macam. Di daerah musim empat, pada waktu musim dingin makanan
bagian terbesarnya adalah makanan yang pada waktu musim panas terbawa
dengan makanan lainnya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari latar belakang dan pembahasan tersebut di atas, dapat
disimpulkan sebagai berikut :
1. Kebiasaan makanan (food habits) adalah kualitas dan kuantitas makanan
yang dimakan oleh ikan. Umumnya makanan yang pertama kali datang
dari luar untuk semua ikan dalam mengawali hidupnya ialah plankton
yang bersel tunggal yang berukuran kecil.
2. Rantai makanan adalah proses makan-dimakan sehingga tebentuk suatu
ikatan antara mangsa dan pemangsa (food chaints). Plankton tumbuhtumbuhan pada waktu mengadakan fotosintesa, menggunakan CO2 dan air
dengan bantuan utama cahaya membuat hidrat arang dan menghasilkan zat
asam yang berguna untuk ikan.
3. Kebiasaan cara makan adalah kapan waktu, tempat dan cara ikan
mendapatkan makanannya. Kebanyakan cara ikan mencari makanan
dengan menggunakan mata. Pembauan dan persentuhan digunakan juga
untuk mencari makanan terutama oleh ikan pemakan dasar dalam perairan
yang kekurangan cahaya atau dalam peraira keruh.

14

4. Spesialisasi makanan pada ikan berhubungan dengan morfologi dari


masing-masing ikan tersebut sehingga ikan terbagi menjadi tiga jenis yaitu
herbivora,

karnivora

dan

omnivora.

Ikan-ikan

tersebut

memiliki

spesialisasi tersendiri sesuai dengan fungsi morfologinya.


3.2 Saran
Saran yang dapat kami ajukan dalam pembuatan makalah ini yaitu pada
teman-teman yang diberi tugas harus dikerjakan sebaik mungkin dan saling
kerja samanya sehingga dalam pembuatan makalah dapat diselesaikan dengan
tepat serta sesuai yang diharapkan. Untuk menambah ilmu pengetahuan
penulis mengarapkan tugas ini bisa dibaca atau mencari referensi lain untuk
melengkapi.
Daftar Pustaka
Beckman, W.C. 1962. The frehwater fishes of Syria and their general biology and
management. FAO Fish. Biol. Tech. Pap. No.8, Rome.
Effendie, 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Bogor. Indonesia.
Effendie, M. I. 1978, 2002 Biologi Perikanan. Bagian I. Studi Natural Histori.
Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor.
Lagler, K.F., J.E Bardach, R.H. Miller and D.R.M. Passino. 1977. Ichthiology.
Second edition.John Wiley and Sons Inc., Toronto, Canada.545 p.
Lagler, K.F. 1961. Freshwater Fishery Biology. Second edition. WM. C. Brown
Company, Dubuque, lowa.545 p.
Moyle, P.B. & J.J. Cech. 1988. Fishes. An Introduction to Ichthyology. Second
Edition. Prentice Hall, New Jersey.
Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press, London, 352 p.
Saanin, H, 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Binatjipta.
Bandung.
Ward, H. B. and G.C. Whipple. 1959. Freshwater Biology. Ed. By
Edmondson. John Wiley and Sons Inc. New York.

15

W.T.