Anda di halaman 1dari 5

Epidemiologi

Wuchereria

bancrofti terutama ditemukan di daerah tropis dan

subtropis. Dilaporkan bahwa penyakit ini telah menyerang lebih dari 1 juta
orang pada lebih dari 80 negara. Diperkirakan bahwa 250 juta orang di
dunia telah terinfeksi dengan parasit ini, terutama di Asia Selatan dan
sub-Sahara Afrika. Di Asia, parasit ini endemik di daerah rural dan urban
seperti India, Srilanka dan Myanmar; ditemukan sedikit di daerah
pedesaan di Thailand dan Vietnam. Di daerah endemik sekitar 10-50%
laki-laki dan 10% wanita terinfeksi oleh penyakit ini.
Filariasis tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan di
beberapa daerah tingkat endemisitas cukup tinggi. Daerah endemis

filariasis pada umumnya adalah daerah dataran rendah, terutama


pedesaan, pantai, pedalaman, persawahan, rawa-rawa, dan hutan. Secara
umum filariasis bancrofti tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
Nusa

Tenggara,

Maluku

bancrofti dibedakan
berdasarkan

vektor

dan

menjadi
yang

Papua.
tipe

Daerah

pedesaan

menularkan.

endemis
dan

Wuchereria

tipe

Wuchereria

perkotaan

bancrofti

tipe

pedesaan ditemukan terutama di Papua dan Nusa Tenggara dengan


vektor Anopheles,Culex dan Aides sedangkan tipe perkotaan ditemukan di
Jakarta, Bekasi, Tangerang, Semarang, Pekalongan dan Lebak pada daerah
yang kumuh, padat penduduknya dan banyak genangan air kotor dengan
vektor Culex quinquefasciatus.
Nyamuk Anopheles dan Culex merupakan vector yang menggigit
pada malam hari untuk tipe Wuchereria bancrofti

periodic nokturna,

sedangkan galur yang subperiodik ditukarkan oleh nyamuk Aedes yang


menggigit pada siang hari. Di daerah endemic, pemaparan dimulai pada
masa anak anak, angka mikrofilaria meningkat bersama dengan
meningkatnya umur, meskipun infeksi tidak disertai dengan gejala klinis
yang nyata.
Berdasarkan hasil survey cepat tahun 2000, jumlah penderita kronis
yang dilaporkan sebanyak 6233 orang tersebar di 1553 desa, di 231
kabupaten, 26 propinsi. Berdasarkan survey jari tahun 1999, tingkat
endemisitas filariasis di Indonesia masih tinggi dengan microfilarial rate
3.1%.6 Daerah endemis filariasis adalah daerah dengan microfilarial rate
1%.11

http://referensikedokteran.blogspot.com/2010/07/filariasis.html
http://drismailyusuf.blogspot.com/2008/06/filariasis.html

Patogenesis

Pada tubuh penderita

Infeksi diawali pada saat nyamuk infektif menggigit manusia, maka


larva L3 akan keluar dari probosisnya kemudian masuk melalui bekas luka
gigitan nyamuk menembus dermis dan bergerak menuju sistem limfe.
Larva L3 akan berubah menjadi larva L4 pada hari 9-14 setelah infeksi
dan akan mengalami perkembangan menjadi cacing dewasa dalam 6-12
bulan, setelah inseminasi, zigot berkembang menjadi mikrofilaria. Cacing
betina

dewasa

akan

melepaskan

ribuan

mikrofilaria

yang

yang

mempunyai selubung ke dalam sirkulasi limfe lalu masuk ke sirkulasi


darah perifer. Cacing betina dewasa aktif bereproduksi selama lebih
kurang 5 tahun. Cacing dewasa berdiam di pembuluh limfe dan
menyebabkan pembuluh berdilatasi, sehingga memperlambat aliran
cairan limfe. Sejumlah besar cacing dewasa ditemukan pada saluran limfe
ekstremitas bawah, ekstremitas atas dan genitalia pria.

Pada nyamuk

Nyamuk menghisap mikrofilaria bersamaan saat menghisap darah. Dalam


beberapa jam mikrofilaria menembus dinding lambung, melepaskan

selubung/sarungnya dan bersarang diantara otot-otot toraks. Mula mula


parasit ini memendek menyerupai sosis dan disebut larva stadium 1 (L1).
Dalam kurang dari 1 minggu berubah menjadi larva stadium 2 (L2), dan
antara hari ke-11 dan 13 L2 berubah menjadi L3 atau larva infektif. Bentuk
ini sangat aktif, awalnya bermigrasi ke rongga abdomen kemudian ke
kepala dan alat tusuk nyamuk.
Secara singkat, Larva infektif -> migrasi ke dalam pembuluh limfe
regional -> menimbulkan sumbatan dan edema melalui induksi sistem
kekebalan tubuh inang. Respon tubuh terhadap cacing akan lebih hebat
apabila :
1. cacing berganti kulit
2. memproduksi mikrofilaria
3. pada saat cacing mati lalu berdegenerasi.

Pembuluh limfe akan terbendung, parsial atau total, oleh thrombus limfe,
massa cacing, proliferasi endothelial, deposit fibrin dan reaksi granuloma.
Bila terjadi infeksi bakteri atau jamur sekunder dapat terjadi stasis dari
cairan limfe.

Inflamasi awal pada nodus limfatikus dan pembuluh limfe -> periode
asimptomatik dan serangan rekuren dari limfangitis dan demam filaria
dalam waktu bertahun-tahun -> blokade permanent dari saluran limfe
dan limfedema yang elefantiasis.

Mekanisme terjadinya elefantiasis :

diperkirakan melibatkan produksi jaringan kolagen dan fibrosis di


sekitar jaringan limfe yang meradang.
Pada filariasis, sebagian besar kerusakan terjadi pada pembuluh
limfe yang disebabkan oleh

cacing

dewasa

maupun

oleh

respon

imuninang terhadap cacing dewasa yang hidup di dalamnya. Kondisi


patologis yang disebabkan oleh parasit dan respon imun atau kombinasi
diantara keduanya agak berbeda

Patogenesis filariasis sudah diperdebatkan sejak lama, terdapat


beberapa hal yang menyebabkan penelitian terhadap terjadinya penyakit
ini terhambat. Diduga 4 faktor berperan pada patogenesis filariasis:
cacing

dewasa

hidup,

respon

inflamasi

akibat

matinya

cacing

dewasa, infeksi sekunder akibat bakteri, dan mikrofilaria. Cacing dewasa


hidup akan menyebabkan limfangiektasia. Karena pelebaran saluran limfe
yang difus dan tidak terbatas pada tempat dimana cacing dewasa hidup
ada, diduga cacing dewasa tersebut mengeluarkan substansi yang secara
langsung atau tidak menyebabkan limfangiektasia. Pelebaran tersebut
juga menyebabkan terjadinya disfungsi limfatik dan terjadinya manifestasi
klinis termasuk limfedema dan hidrokel. Pecahnya saluran limfe yang
melebar menyebabkan masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih
sehingga terjadi kiluria dan kilokel. Matinya cacing dewasa menyebabkan
respon inflamasi akut yang akan memberikan gambaran klinis adenitis
dan limfangitis.
http://drismailyusuf.blogspot.com/2008/06/filariasis.html
http://www.scribd.com/doc/49442012/filariasis
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196812012001122RITA_SHINTAWATI/RITA-1/FILARIASIS.pdf