Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2014), Vol. 2 No.

1, 14 17

SAVING MATRIX UNTUK MENENTUKAN RUTE DISTRIBUSI


Noer Ikfan dan Ilyas Masudin
Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang
e-mail: masudin@umm.ac.id
ABSTRAK
Penentuan rute transportasi yang optimal merupakan salah satu kunci dalam meminimalkan biaya
distribusi. Rute transportasi ini termasuk jadwal kunjungan kendaraan yang jumlah dan kapasistasnya
terbatas untuk mendistribusikan produk. Salah satu metode penentuan rute transportasi yang paling
popular adalah saving matrix yang merupakan salah metode dalam Vehicle Routing Problem (VRP).
Dalam paper ini dibahas aplikasi metode saving matrix untuk menyelesaikan problem rute distribusi
pada perusahaan XYZ. Dalam aplikasinya, ditemukan bahwa metode saving matriks ini cukup efektif
dalam menjadwalkan distribusi yang ditunjukkan dengan berkurangnya total jarak distribusi yang
berkorespondensi dengan total biaya (penghematan biaya distribusi) sebesar 10,94% setiap periodenya.
Kata Kunci: Saving matriks, Distribusi, VRP (Vehicle Routing Problem), Transportasi
ABSTRACT
Optimal transportation route is one of the keys in minimizing total distribution costs. The route of
distribution involves the visiting vehicles which are limited in number and capacity in distributing
products. One of the methods can be used to solve distribution routing problem is saving matrix which is
one of vehicle routing problems (VRP). This paper discusses saving matrix method in solving the routing
problem to distribute products in a company XYZ. The results indicate that by applying Saving Matrix, a
new distribution routing is scheduled based on the vehicles number and capacity and gives a significant
reduction of total distribution costs, about 10.94% per period.
Keywords: Saving matrix, Distribution, VRP (Vehicle Routing Problem), Transportation

konsumen.
Perusahaan XYZ merupakan salah satu
perusahaan manufaktur yang memproduksi alat
olahraga berupa Shuttlecock. PT. XYZ
memasarkan produknya ke seluruh wilayah
Jawa Timur dengan kapasitas produksi
sebanyak 30.000 buah Shuttlecock setiap
minggu. Dalam proses distribusi produk
tersebut perusahaan menggunakan beberapa
kendaraan angkut yang bertugas mengirimkan
produk ke seluruh wilayah pemasaran. Dalam
beberapa event, permintaan produk ini
meningkat
secara
drastis
sehingga
mempengaruhi proses pendistribusian yang
pada akhirnya meningkatkan biaya pengiriman
karena perusahaan tidak memperhatikan rute
perjalanan distribusi dari pusat produksi ke
masing-masing distribution centre (DC).
Selama pusat produksi Shuttlecock berada di
Singosari Malang sementara beberapa DC di
Surabaya (2), Malang (2), Kediri, Batu, Blitar,
Tulugagung,
Trenggalek,
Porbolinggo,
Banyuwangi (2), Jember, Sidorjo, Bojonegoro,
dan Tuban. Sistem distribusi awal perusahaan
adalah dengan melakukan pengiriman produk

PENDAHULUAN
Komponen utama dalam supply chain
manajemen adalah physical distribution system
dan customer service [1], yang keduanya saling
berkaitan erat dan saling mempengaruhi.
Kecepatan dan ketepatan distribusi akan
meningkatkan tingkat pelayanan terhadap
konsumen.
Untuk
menjamin
ketepatan
pengiriman produk baik waktu, kualitas
maupun jumlah produk ke konsumen
diperlukan
perencanaan
distribusi
dan
transportasi yang baik. Akan tetapi, distribusi
yang optimal tergantung dari kompleksitas
pendistribusian produk, yang akan semakin
meningkat tingkat kesukarannya karena dengan
adanya beberapa batasan tempat tujuan
(allocation), kapasitas dan keterbatasan sumber
daya (source) yang harus dipenuhi bersamasama dengan tujuan untuk meminimalkan biaya
distribusi.
Ketidakoptimalan
perencanaan
distribusi akan berdampak besarnya biaya
pengiriman yang pada akhirnya akan berimbas
pada harga produk yang harus ditanggung
konsumen serta berpengaruh terhadap pada
tersebut tentunya akan berimbas kepuasan

14

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2014), Vol. 2 No. 1, 14 20

memakai satu kendaraan dari pusat produksi ke


satu DC dan kembali ke pusat produksi. Jadi
pendistribusian produk tidak dilakukan dari
pusat produksi ke masing-masing DC dalam
sekali pengiriman disesuaikan dengan jadwal
pengiriman dan tidak disesuaikan dengan
kapasitas kendaraan yang digunakan sehingga
bisa dipastikan total biaya distribusi yang
meliputi biaya operasional kendaraan, biaya
tenaga kerja dan biaya transportasi lain menjadi
cukup tinggi. Ditambah lagi dengan aktivitas
bongkar muat di gudang tentunya juga akan
memerlukan sumber daya dimana pada
akhirnya akan berujung pada pengeluaran
biaya. Padahal setiap strategi distribusi yang
diterapkan
selalu
bertujuan
untuk
meminimalkan biaya distribusi [2].
Perencanaan distribusi atau pengiriman
yang dihadapi perusahaan PT. XYZ merupakan
salah satu problem Vehicle Routing Problem
(VRP), dimana salah satu algoritma/prosedur
dalam VRP yang umum dipakai adalah Saving
Matrix. Beberapa penelitian sebelumnya seperti
[3] yang mengaplikasi metode Saving Matrix
pada distribusi air pada PDAM Bandarmasih
membuktikan bahwa Saving Matrix cukup
superior untuk merencanakan rute distribusi
yang efektif dengan biaya dan waktu distribusi
yang minimal. Penelitian lain yang dilakukan
oleh [4], yang merencanakan rute distribusi
Semen Gresik dengan menggunakan Saving
Matrix juga membuktikan bahwa terdapat
pengurangan biaya distribusi dan jarak tempuh
yang signifikan. Oleh karena itu, berdasarkan
permasalahan distribusi serupa pada PT. XYZ
dan beberapa penelitian terdahulu yang
menggunakan metode Saving Matrix pada
distribusi produk serupa, menjadi dasar
(justifikasi) dalam pemilihan metode Saving
Matrix ini untuk menyelesaikan permasalahan
distrbusi.
Metode
Saving
Matrix
ini
merencanakan pengiriman yang optimal dengan
mempertimbangkan kapasitas kendaraan pada
sejumlah
DC
dengan
tujuan
untuk
meminimalkan biaya distribusi. Pada proses
berikutnya dilakukan penentuan rute distribusi
dengan menggunakan beberapa algoritma
seperti Nearest Neighbour, Nearest Insertion,
dan Farthest Insertion. Pada akhirnya akan
dilakukan
perbandingan
dengan
cara

membandingkan total jarak hasil rute distribusi


dari ketiga algoritma tersebut. Diharapkan
dengan Saving Matrix ini pengiriman dapat
disesuaikan dengan kapasitas kendaraan dan
rute yang dihasilkan mampu meminimasi biaya
yang dikeluarkan selama kegiatan distribusi.
TINJAUAN PUSTAKA
Transportasi
diartikan
sebagai
pemindahan barang dan manusia dari tempat
asal ke tempat tujuan [5]. Dengan kata lain,
proses transportasi merupakan gerakan dari
tempat asal, dari mana kegiatan angkutan
dimulai, ke tempat tujuan, kemana kegiatan
pengangkutan diakhiri. Sedangkan menurut [6],
transportasi adalah sekumpulan aktivitas yang
berkenaan dengan pemindahan, pengangkutan
dan penyimpanan atas barang dari titik produksi
ke titik konsumsi. Sehingga berdasarkan
definisi tersebut, kegiatan transportasi atau
distribusi tidak lepas dari perencanaan rute
pemindahan dan alat angkut (vehicle).
Vehicle Routing Problem
VRP
(Vehicle
Routing
Problem)
merupakan penentuan sejumlah rute untuk
sekumpulan kendaraan yang harus dilayani
sejumlah pemberhentian (node) dari depot
pusat. Asumsi yang biasa digunakan dalam
Vehicle Routing Problem adalah setiap
kendaraan mempunyai kapasitas yang sama,
jumlah kendaraan tidak terbatas, jumlah
permintaan tiap pemberhentian (node) diketahui
dan tidak ada jumlah permintaan tunggal yang
melebihi kapasitas kendaraan.
Saving Matrix
Dalam sebuah studi oleh [7] disebutkan
bahwa hampir 25% dari biaya produk sebuah
perusahaan manufaktur dihabiskan pada
aktivitas distribusi, oleh karena itu evaluasi
perbaikan dengan metode distribusi selalu
dilakukan secara terus menerus. Salah satu
metode penentuan rute distribusi adalah Saving
Matrix yang merupakan salah satu teknik yang
digunakan untuk menjadwalkan sejumlah
terbatas kendaraan dari suatu fasilitas dan
jumlah kendaraan dalam armada ini dibatasi
dan mereka mempunyai kapasitas maksimum
yang berlainan [8]. Tujuan dari metode ini

15

Saving Matrix untuk Menentukan Rute Distribusi


Noer Ikfan dan Ilyas Masudin

adalah untuk memilih penugasan kendaraan dan


routing sebaik mungkin.
Metode-metode Penetuan Urutan Konsumen
Ada beberapa metode/prosedur penentuan
urutan customer dalam satu rute:
a. Farthest Insert
Memasukkan konsumen yang memberikan
perjalanan paling jauh. Untuk setiap
customer yang belum termasuk dalam satu
trip, evaluasi minimum kenaikan jarak
tempuh jika customer ini dimasukkan dalam
trip dan memasukkan customer dengan
kenaikan minimum terbesar [9] melakukan
penentuan jalur transportasi terpendek pada
pengiriman air bersih PDAM, menggunakan
metode
Farhtest Insert
ini dapat
menghasilkan rute kendaraan pada costumer
terpilih
berdasarkan
costumer
yang
memiliki jarak terjauh.
b. Nearest Insert
Memasukkan konsumen yang memberikan
perjalanan terpendek. Untuk setiap customer
yang belum termasuk dalam satu trip,
evaluasi minimum kenaikan jarak tempuh
jika customer ini dimasukkan dalam trip dan
memasukkan customer dengan kenaikan
dengan minimum terkecil. Pada penelitian
[9] dalam penentuan jalur transportasi
terpendek pada pengiriman air bersih
PDAM, menggunakan metode Nearest
Insert ini dapat menghasilkan rute

kendaraan
pada
costumer
terpilih
berdasarkan costumer yang memiliki jarak
terdekat.
c. Nearest Neighbour
Mulai dari DC, prosedur ini menambah
customer yang terdekat untuk melengkapi
trip. Pada tiap langkah, trip dibangun
dengan menambahkan customer yang
terdekat dari titik terakhir yang dikunjungi
oleh kendaraan sampai semua customer
terkunjungi. Pada penelitian [9] dalam
penentuan jalur transportasi terpendek pada
pengiriman air bersih PDAM, menggunakan
metode Nearest Neighbour ini dapat
menghasilkan rute kendaraan pada costumer
terpilih berdasarkan costumer terdekat.
METODOLOGI
Data yang diperlukan dalam penelitian ini
adalah data jalur distribusi, data historis
demand, jumlah kendaraan dan jenis kendaraan
yang dipakai untuk mendistribusikan produk.
Selain itu data biaya seperti biaya distribusi dan
biaya tenaga kerja juga diperlukan dalam
menyelesaikan permasalahan di penelitian ini.
Selanjutnya dilakukan penjadwalan kendaraan
menggunakan Saving Matrix dan menentukan
urutan DC yang harus dikunjungi menggunakan
algoritma Nearest Neighbour, Nearest Insertion
dan Farthest Insertion. Flow Chart metode
penelitian dapat di lihat dalam gambar berikut:

- Data Rute distribusi


- Jumlah kendaraan
- Kapasistas kendaraan
- Data Demand
- Biaya transportasi
- Biaya tenaga kerja

Penugasan kendaraan
Saving Matrix

Penentuan urutan/Rute
kendaraan:
- Nearest Neighbour
- Nearest Insertion
- Farthest Insertion

Penentuan
urutan/Rute terpilih
Gambar 1. Flowchart Metode Penelitian

16

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2014), Vol. 2 No. 1, 14 20

HASIL DAN PEMBAHASAN


PT. XYZ saat ini mempunyai 1 pusat
distribusi yaitu di Singosari, Malang dan 16
distribution centre (DC) yang tersebar di
seluruh wilayah provinsi Jawa Timur. Untuk
lebih mempermudah perhitungan, maka setiap
DC diberikan nama khusus/kode (DCi). Data
wilayah pusat produksi dan 16 DC dapat dilihat
dalam Tabel 1.

Tabel 1. Pusat Produksi dan (DC)


Pusat Produksi

Jarak Pendistribusian
Jarak pendistribusian merupakan jarak
tempuh yang harus dilalui kendaraan dari pusat
distribusi ke distribution centre atau jarak antar
DC.
Pengukuran
jarak
ini
diperoleh
menggunakan fasilitas software Google earth.
Sedangkan perhitungan jarak yang digunakan
diasumsikan simetris. Adapun hasil matrik jarak
tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Sementara itu data pengiriman yang
dilakukan perusahaan dari pusat produksi ke
setiap DC selama ini bisa dilihat dalam Tabel 3.

PT. XYZ
(Singosari,
Malang)

Distribution
Centre (DC)
Banyuwangi 1

Kode
DC1

Bojonegoro

DC2

Blitar

DC3

Banyuwangi 2

DC4

Batu

DC5

Jember

DC6

Kediri

DC7

Malang 1

DC8

Malang 2

DC9

Probolinggo

DC10

Surabaya 1

DC11

Sidoarjo

DC12

Surabaya 2

DC13

Tulungagung

DC14

Tuban

DC15

Trenggalek

DC16

Sumber Data : PT. XYZ

Tabel 2. Jarak Wilayah Pengiriman (Km)


DC
DC1
DC2
DC3
DC4
DC5
DC6
DC7
DC8
DC9
DC10
DC11
DC12
DC13
DC14
DC15
DC16

DC

DC1

DC2

DC3

DC4

DC5

DC6

DC7

DC8

DC9

DC10

DC11

DC12

DC13

DC14

DC15

DC16

249

189

84.2

267

23.9

175

99.3

31.9

8.92

83

75.4

56.6

72.4

118

182

144

381

285

30.9

270

75.2

309

232

248

174

268

254

273

318

374

345

173

403

215

309

137

210

178

212

112

131

116

162

66.3

190

306

91.4

209

41.3

53.8

91.3

188

157

138

154

36.2

169

63.7

287

97.3

358

253

288

194

290

271

286

338

395

363

195

73.5

38.2

38.5

113

105

85.6

101

125

204

151

264

157

170

97.9

201

181

196

242

301

271

102

138

172

121

125

117

29.7

128

59.8

36.9

136

103

83.8

99.9

87.7

202

114

75.2

91.6

72.8

87.8

124

200

151

95.7

77.6

93

226

197

250

19.1

4.81

190

102

216

15.5

172

119

196

187

104

213

156

31.5

185
0

17

Saving Matrix untuk Menentukan Rute Distribusi


Noer Ikfan dan Ilyas Masudin

Tabel 3. Data Rute Awal Distribusi


Pusat
Produksi

Rute

Wilayah

PT.XYZDC9DC8PT. XYZ
PT.XYZDC13DC11DC2PT. XYZ
PT. XYZ PT.XYZDC1DC4PT.XYZ
(Singosari, PT.XYZDC15DC2PT.XYZ
Lawang)
PT.XYZDC3DC14DC16PT.XYZ

PT. XYZ Malang Lawang Malang Kepanjen PT.XYZ


PT.XYZ Surabaya 1 Surabaya 2 Sidoarjo PT.XYZ
PT.XYZ Banyuwangi 2 Banyuwangi 1 PT.XYZ
PT.XYZ Tuban Bojonegoro PT.XYZ
PT.XYZ Blitar Tulungagung Trenggalek PT.XYZ

PT.XYZDC10DC6PT.XYZ

PT.XYZ Probolinggo Jember PT.XYZ

PT.XYZDC7DC5PT.XYZ

PT.XYZ Kediri Batu PT.XYZ

Sumber : PT.XYZ

Dengan menggunakan Saving Matrix,


setiap DC dialokasikan pada rute yang terpisah,
sehingga pada iterasi diperoleh 128 rute. Hasil
tabel dari iterasi berupa matriks penghematan
adalah seperti pada Tabel 4.
Dari perhitungan menggunakan Saving
Matrix diperoleh enam (6) rute distribusi sesuai
dengan kelompok wilayah, yaitu:
1. Rute 1: Wilayah yang harus dilayani adalah
Wilayah 1 (SW), Wilayah 4 (ML) dan
Wilayah 6 (BT)
2. Rute 2: Wilayah yang harus dilayani adalah
Wilayah 2 (SD), Wilayah 11 (BB) dan
Wilayah 15 (BJ)

3. Rute 3: Wilayah yang harus dilayani adalah


Wilayah 7 (BL), Wilayah 14 (SJ) dan
Wilayah 16 (TB).
4. Rute 4: Wilayah yang harus dilayani adalah
Wilayah 3 (ML), Wilayah 5 (KD) dan
Wilayah 8 (TA).
5. Rute 5: Wilayah yang harus dilayani adalah
hanya Wilayah 10 (PB) dan Wilayah 12
(BM).
6. Rute 6: Wilayah yang harus dilayani adalah
Wilayah 9 (TG) dan Wilayah 13 (JB).

Tabel 4. Matrik Penghematan (Km)


Dc1
DC2
DC3
DC4
DC5
DC6
DC7
DC8
DC9
DC10
DC11
DC12
DC13
DC14
DC15
DC16

18

DC1

DC2

DC3

DC4

Dc5

Dc6

DC7

DC8

Dc9

DC10

DC11

DC12

DC13

DC14

DC15

DC16

57

84,2

485,1

2,9

348,8

39,3

48,9

9,92

158

56,4

51,6

48,4

49

57

48

100,2

53

-2,1

55

151,3

10,9

19,92

60

152,4

114,6

145,4

145

304,7

143

45,2

16,7

50,2

142,2

62,3

1,82

-20,8

2,6

2,8

2,6

166

97,2

164,5

3,9

344,7

8,3

45,9

7,92

156

52,4

52,6

53,4

47

54

48

3,9

49,7

17,6

-5,68

-6,1

-5,7

-5,1

-47,7

16,9

1,9

16,9

10,3

49,9

13,92

160,1

49,4

50,6

51,4

51

56

48

29,2

-29,7

10,3

53,7

30,9

54,7

187,6

153,3

183,5

3,92

-21,1

4,3

4,7

4,4

62,2

11,9

61,9

16,72

-7,28

-7,28

-6,48

2,92

-9,08

1,92

62,7

62

62,4

-25

68

-23

112,9

142,99

3,4

155,4

3,4

113,5

2,6

119,6

4,6

3,4

150,4

3,4

144

230,5

141
0

Jurnal Ilmiah Teknik Industri (2014), Vol. 2 No. 1, 14 20

Rute 3 (Nearest Neighbour) PT.XYZ DC7


DC14 DC16 PT.XYZ = 304,5
Rute 4 (Nearest Neighbour) PT.XYZ DC5
DC8 DC3 PT.XYZ = 200,1
Rute 5 (Nearest Neighbour) PT.XYZ DC12
DC10 PT.XYZ = 217,2
Rute 6 (Nearest Neighbour) PT.XYZ DC9
DC13 PT.XYZ = 169,12

Dengan menggunakan algoritma Nearest


Neighbor, Nearest Insertion dan Fartest
Insertion, diperoleh urutan rute distribusi yang
berbeda serta total jarak yang berbeda untuk
setiap rute ditunjukkan pada Tabel 5.
Berdasarkan tiga metode di atas maka rute
yang dapat digunakan berdasarkan jarak
terpendek adalah:
Rute 1 (Nearest Neighbour) PT.XYZ DC6
DC1 DC4 PT.XYZ = 548,1
Rute 2 (Nearest Neighbour) PT.XYZ DC11
DC15 DC2 PT>XYZ = 432,7

Selisih perbandingan jarak dan waktu rute


awal dengan rute perbaikan dapat dilihat pada
Tabel 6.

Tabel 5. Urutan Rute Pengiriman Beserta Total Jarak dari Hasil Algotima Nearest
Neighbour, Nearest Insertion dan Farthest Insertion
Algoritma

Nearest
Neighbour

Nearest
Insertion

Farthest
Insertion

Rute
Rute 1
Rute 2
Rute 3
Rute 4
Rute 5
Rute 6
Rute 1
Rute 2
Rute 3
Rute 4
Rute 5
Rute 6
Rute 1
Rute 2
Rute 3
Rute 4
Rute 5
Rute 6

Urutan Kode
PT.XYZ DC6 DC1 DC4 PT.XYZ
PT.XYZ DC11 DC15 DC2 PT.XYZ
PT.XYZ DC7 DC14 DC16 PT.XYZ
PT.XYZ DC5 DC8 DC3 PT.XYZ
PT.XYZ DC12 DC10 PT.XYZ
PT.XYZ DC9 DC13 PT.XYZ
PT.XYZ DC1 DC4 DC6 PT.XYZ
PT.XYZ WC2 DC15 DC11 PT.XYZ
PT. XYZ DC7 DC14 DC16 PT.XYZ
PT.XYZ DC3 DC8 DC5 PT.XYZ
PT.XYZ DC10 DC12 PT.XYZ
PT.XYZ DC9 DC13 PT.XYZ
PT.XYZ DC4 DC1 DC6 PT.XYZ
PT.XYZ DC11 DC15 DC2 PT.XYZ
PT.XYZ DC7 DC14 DC16 PT.XYZ
PT.XYZ DC8 DC3 DC5 PT.XYZ
PT.XYZ DC12 DC10 PT.XYZ
PT.XYZ DC9 DC13 PT.XYZ

Total Jarak
(km)
548,1
432,7
304,5
200,1
217,2
169,12
552,2
432,7
304,1
200,1
217,2
169,12
548,1
432,7
304,5
201
217,2
169,12

Tabel 6. Perbandingan Jarak dan Waktu Tempuh Rute Awal & Perbaikan dengan Saving
Matriks
No

Parameter

Awal

Total Jarak ( km )

Total Waktu Tempuh (jam)

Perbaikan

Selisih

Posentase
Penghematan

2063,33

1875,62

187,71

9,097 %

51,55

46,87

4,68

9,074 %

Tabel 7. Perbandingan Total Biaya Pengiriman Rute Awal & Rute Perbaikan dengan
Saving Matriks
Parameter
Total Biaya
Pengiriman

Awal
Rp 5.882.771

Perbaikan

Selisih

Rp 5.239.003

Rp 643.764

Posentase
Penghematan
10,94 %

19

Saving Matrix untuk Menentukan Rute Distribusi


Noer Ikfan dan Ilyas Masudin

Dari Tabel 6, tabel perbandingan di atas


dapat diketahui bahwa setelah menerapkan
metode Saving Matriks untuk merencanakan
rute perbaikan dapat memberikan penghematan
baik dari segi waktu mapun jarak tempuh.
Setelah dilakukan perbaikan total jarak tempuh
dapat
berkurang
dengan
prosentase
penghematan sebesar 9,097 % dan total waktu
tempuh juga dapat dikurangi dengan prosentase
penghematan sebesar 9,074 %.
Tabel 7 merupakan perbandingan total
biaya pengiriman antara rute awal perusahaan
dengan rute perbaikan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa yang telah
dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa ada 6 rute distribusi yang seharusnya
dilakukan
oleh
PT.
XYZ
dengan
mempertimbangkan kapasitas kendaraan dan
demand setiap distribution centre. Rute pertama
adalah rute distribusi yang mencakup Jember,
Banyuwangi 1, Banyuwangi 2, kemudian rute
kedua meliputi Surabaya 1, Tuban dan
Bojonegoro. Sedangkan untuk rute ketiga
adalah Kediri, Tulungagung dan Trenggalek.
Rute 4 mencakup distribution centre di daerah
Batu, Malang 1 dan Blitar. Sementara rute 5
meliputi daerah distribusi Sidoarjo dan
Probolinggo. Sedangkan rute keenam terdiri
daerah distribusi Malang 2 dan Surabaya 2.
Dari perbandingan total biaya pengiriman
di atas diperoleh penghematan biaya sebesar Rp
5.882,771 Rp 5.239.003 = Rp 643.764 atau
sebesar 10,94 % setelah dilakukan perbaikan
rute distribusi dengan menggunakan metode
Saving Matriks.

20

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Hugos, Michael, 2003, Essentials of
Supply Chain Management; First Edition.
Publisher Wiley.
[2]. Eko
Indrajit,
Richardus
and
Djokopranoto,
Richardus,
2003,
Manajemen
Persediaan.
Grasindo.
Jakarta
[3]. Salim,
Abbas,
1998,
Manajemen
Transportasi. Jakarta: Rajawali Press.
[4]. Saputro, Tomy, 2009, Penentuan Rute
Pengiriman Pupuk Za dari Gudang Pusat
ke
Gudang
Penyangga
dengan
Menggunakan Metode Saving Matriks.
PKN. FT-UMM, Malang.
[5]. Nasution, M. Nur, 2004, Manajemen
Transportasi. Jakarta: Galia Indonesia.
[6]. Choppra, Sunil and Meindl, Peter, 2002,
Supply Chain Management: Strategy,
Planning and Operation; First Edition.
USA: Prentice Hall International, Inc.
[7]. Render, Barry dan Heyzer, Jay, 2004,
Prinsip-prinsip Managemen Operasi.
Yogyakarta: BPFE.
[8]. Bowersox, Donald. J., 2002, Manajemen
Logistik:
Integrasi
Sistem-Sistem
Manajemen
Distribusi
Fisik
dan
Manajemen Material; Edisi Ketiga.
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
[9]. Darmawan, Abdi, 2011, Penentuan Rute
Terpendek Pada Pengiriman Air Bersih
dengan Menggunakan Metode Optimal.
PKN. FT-UMM, Malang.