Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Jumlah penderita kanker otak masih rendah, yakni hanya enam per 100.000
dari pasien tumor/kanker per tahun, namun tetap saja penyakit tersebut masih
menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian besar orang. Pasalnya, walaupun
misalnya tumor yang menyerang adalah jenis tumor jinak, bila menyerang otak
tingkat bahaya yang ditimbulkan umumnya lebih besar daripada tumor yang
menyerang bagian tubuh lain. Tumor susunan saraf pusat ditemukan sebanyak
10% dari neoplasma seluruh tubuh, dengan frekuensi 80% terletak pada intrakranial
dan 20% di dalam kanalis spinalis. Di Indonesia data tentang tumor susunan saraf
pusat belum dilaporkan. Insiden tumor otak pada anak-anak terbanyak dekade 1,
sedang pada dewasa pada usia 30-70 dengan pundak usia 40-65 tahun.
Diagnosa tumor otak ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan
pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. Dengan
pemeriksaan klinis kadang sulit menegakkan diagnosa tumor otak apalagi
membedakan yang benigna dan yang maligna, karena gejala klinis yang ditemukan
tergantung dari lokasi tumor, kecepatan pertumbuhan masa tumor dan cepatnya
timbul gejala tekanan tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor kejaringan otak
yang dapat menyebabkan kompresi, infasi dan destruksi dari jaringan otak.
Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel
abnormal secara sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS). Sel ini
akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya,
mengakibatkan terjadi gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan
peningkatan tekanan intrakranial). Hal ini ditandai dengan nyeri kepala, nausea,
muntah dan papil edema. Penyebab dari tumor belum diketahui. Namun ada bukti
kuat yang menunjukan bahwa beberapa agent bertanggung jawab untuk beberapa
tipe tumor-tumor tertentu. Agent tersebut meliptu faktor herediter, kongenital,
virus, toksin, dan defisiensi immunologi. Ada juga yang mengatakan bahwa tumor
otak dapat terjadi akibat sekunder dari trauma cerebral dan penyakit peradangan.
(Fagan Dubin, 1979; Larson, 1980; Adams dan Maurice, 1977; Merrit, 1979).
Metastase ke otak dari tumor bagian tubuh lain juga dapat terjadi. Karsinoma

metastase lebih sering menuju ke otak dari pada sarkoma. Lokasi utama dari tumor
otak metastase berasal dari paru-paru dan payudara.
Peranan perawat sangat penting sekali dalam merawat pasien dan
keluarganya hal ini disebabkan karena banyak sekali kemungkinan masalahmasalah fisik, psikologis dan sosial yang akan dihadapi.
1.2

Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah definisi tumor otak?
1.2.2 Apa saja etiologi dari tumor otak?
1.2.3 Bagaimana patofisiologi tumor otak?
1.2.4 Apa saja manifestasi klinis dari tumor otak?
1.2.5 Bagaimana penatalaksanaan tumor otak?
1.2.6 Apa saja komplikasi tumor otak?
1.2.7 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien yang mengalami tumor otak?

1.3

Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mengetahui informasi, penyebab dan cara pencegahan terjadinya
tumor otak
1.3.2 Tujuan Khusus
Pada akhir pembuatan makalah ini diharapkan mahasiswa dapat :
a. Mengetahui definisi, etiologi, gejala, patofisiologi, manifestasi klinik,
penatalaksanaan tumor otak dan komplikasi dari tumor otak.
b. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan tumor otak
1.3.3 Manfaat
Manfaat yang ingin diperoleh dalam penyusunan makalah ini adalah:
a. Mendapatkan

pengetahuan

tentang

definisi,

etiologi,

patofisiologi,

manifestasi klinik, penatalaksaan, dan komplikasi dari tumor otak


b. Mendapat pengetahuan tentang asuhan keperawatan tumor otak

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan ruang
baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan tengkorak. (price, A.
Sylvia, 1995: 1030)
Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun
ganas (maligna) membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intra cranial)
atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). Neoplasma pada jaringan otak
dan selaputnya dapat berupa tumor primer maupun metastase. Apabila sel-sel tumor
berasal dari jaringan otak itu sendiri disebut tumor otak primer dan bila berasal dari
organ-organ lain (metastase) seperti kanker paru, payudara, prostate, ginjal, dan
lain-lain disebut tumor otak sekunder. (Mayer. SA,2002)
Tekanan intra kranial ( TIK ) adalah suatu fungsi nonlinier dari fungsi otak,
cairan serebrospinal ( CSS ) dan volume darah otak sehingga. Sedangkan
peningkatan intra kranial ( PTIK ) dapat terjadi bila kenaikan yang relatif kecil dari
volume otak, keadaan ini tidak akan cepat menyebabkan tekanan tinggi intrakranial,
sebab volume yang meninggi ini dapat dikompensasi dengan memindahkan cairan
serebrospinal dari rongga tengkorak ke kanalis spinalis dan volume darah
intrakranial akan menurun oleh karena berkurangnya peregangan durameter.
Hubungan antara tekanan dan volume ini dikenal dengan complience. Jadi jika otak,
darah dan cairan serebrospinal volumenya terus menerus meninggi, maka mekanisme
penyesuaian ini akan gagal dan terjadi peningkatan intrakranial yang mengakibatkan
herniasi dengan gagal pernapasan dan gagal jantung serta kematian.
Definisi
Kenapa terjadi
penatalaksanaan

2.2

Klasifikasi Tumor Otak


Tumor otak dapat di

klasifikasikan:

2.1.1 Berdasarkan jenis tumor


a.

Jinak
1.

Acoustic neuroma

2.

Meningioma
Sebagian besar tumor bersifat jinak, berkapsul, dan tidak
menginfiltrasi jaringan sekitarnya tetapi menekan struktur yang berada
di bawahnya. Pasien usia tua sering terkena dan perempuan lebih sering
terkena dari pada laki-laki. Tumor ini sering kali memiliki banyak
pembuluh darah sehingga mampu menyerap isotop radioaktif saat
dilakukan pemeriksaan CT scan otak.

3.

Pituitary adenoma

4.

Astrocytoma (grade I)

b.

Malignant
1.

Astrocytoma (grade 2,3,4)

2.

Oligodendroglioma
Tumor ini dapat timbul sebagai gangguan kejang parsial yang
dapat muncul hingga 10 tahun. Secara klinis bersifat agresif dan
menyebabkan simptomatologi bermakna akibat peningkatan tekanan
intrakranial dan merupakan keganasan pada manusia yang paling
bersifat kemosensitif.

3.

Apendymoma
Tumor ganas yang jarang terjadi dan berasal dari hubungan erat
pada ependim yang menutup ventrikel. Pada fosa posterior paling
sering terjadi tetapi dapat terjadi di setiap bagian fosa ventrikularis.
Tumor ini lebih sering terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Dua
faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan reseksi tumor dan
kemampuan bertahan hidup jangka panjang adalah usia dan letak
anatomi tumor. Makin muda usia pasien maka makin buruk
progmosisnya.

2.1.2 Berdasarkan lokasi


a. Tumor supratentorial

Hemisfer otak, terbagi lagi :


1.

Glioma :
i) Glioblastoma multiforme
Tumor ini dapat timbul dimana saja tetapi paling sering terjadi di
hemisfer otak dan sering menyebar kesisi kontra lateral melalui
korpus kolosum.
ii) Astroscytoma

iii) Oligodendroglioma
Merupakan lesi yang tumbuh lambat menyerupai astrositoma tetapi
terdiri dari sel-sel oligodendroglia. Tumor relative avaskuler dan
cenderung mengalami klasifikasi biasanya dijumpai pada hemisfer
otak orang dewasa muda.
2.

Meningioma
Tumor ini umumnya berbentuk bulat atau oval dengan perlekatan
duramater yang lebar (broad base) berbatas tegas karena adanya
psedokapsul dari membran araknoid. Pada kompartemen supratentorium
tumbuh sekitar 90%, terletak dekat dengan tulang dan kadang disertai
reaksi tulang berupa hiperostosis. Karena merupakan massa ekstraaksial
lokasi meningioma disebut sesuai dengan tempat perlekatannya pada
duramater, seperti Falk (25%), Sphenoid ridge (20%), Konveksitas
(20%), Olfactory groove (10%), Tuberculum sellae (10%), Konveksitas
serebellum (5%), dan Cerebello-Pontine angle. Karena tumbuh lambat
defisit neurologik yang terjadi juga berkembang lambat (disebabkan
oleh pendesakan struktur otak di sekitar tumor atau letak timbulnya
tumor). Pada meningioma konveksitas 70% ada di regio frontalis dan
asimptomatik sampai berukuran besar sekali. Sedangkan di basis kranii
sekitar sella turcika (tuberkulum sellae, planum sphenoidalis, sisi medial
sphenoid ridge) tumor akan segera mendesak saraf optik dan
menyebabkan gangguan visus yang progresif.

b. Tumor infratentorial
1. Schwanoma akustikus
2. Tumor metastasisc

Lesi-lesi metastasis menyebabkan sekitar 5 % 10 % dari seluruh


tumor otak dan dapat berasal dari setiap tempat primer. Tumor primer
paling sering berasal dari paru-paru dan payudara. Namun neoplasma
dari saluran kemih kelamin, saluran cerna, tulang dan tiroid dapat juga
bermetastasis ke otak.
a.

Meningioma
Meningioma merupakan tumor terpenting yang berasal dari meningen,
sel-sel mesotel, dan sel-sel jaringan penyambung araknoid dan dura.

b.

Hemangioblastoma
Neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskuler embriologis yang
paling sering dijumpai dalam serebelum.

2.3

Etiologi Tumor Otak


Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti walaupun
telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau,
yaitu:
a. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrocytoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggotaanggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat
dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru memperlihatkan faktor familial
yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang kuat
untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
b. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan
yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh menjadi ganas
dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi
pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
c. Radiasi

Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi namun belum ada bukti radiasi dapat memicu
terjadinya suatu glioma. Meningioma pernah dilaporkan terjadi setelah timbulnya
suatu radiasi.
d. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar
yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam
proses terjadinya neoplasma tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan
antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
e. Substansi-substansi karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.
Kini

telah

diakui

methylcholanthrone,

bahwa

ada

substansi

nitroso-ethyl-urea.

Ini

yang

karsinogenik

berdasarkan

percobaan

seperti
yang

dilakukan pada hewan.


f. Trauma Kepala
2.4

Patofisiologi Tumor Otak


Tumor otak terjadi karena adanya proliferasi atau pertumbuhan sel abnormal
secara sangat cepat pada daerah central nervous system (CNS). Sel tersebut
mempunyai deoxiribonukleat Acid (DNA) abnormal. DNA yang abnormal tidak
dapat mengontrol pembelahan sel sehingga terjadi pertumbuhan sel yang berlebihan.
Sel ini akan terus berkembang mendesak jaringan otak yang sehat di sekitarnya
mengakibatkan terjadi gangguan neurologis (gangguan fokal akibat tumor dan
peningkatan tekanan intrakranial). Penyebab tumor otak didapat dari faktor genetik,
radiasi, virus, dan sarkoma sistemik.
Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa karena tumor akan
mendesak ruangan yang relatif tetap dari ruang tengkorak yang kaku dan perubahan
sirkulasi CSS, karena penekanan pada otak sehingga menyebabkan penekanan
maskularisasi arteri dan vena timbul hipoksia, ischemia, hipoksemia, nekrosis, dan
pecahnya pembuluh vena serta arteri. Di otak timbullah peningkatan tekanan intra
kranial otak dapat menyebabkan:

a. Pergeseran

kandungan

ointra

kranial

mengstimulasi

hipotalamus

untuk

merangsang nosiseptor, timbullah respon rasa nyeri


b. Pergeseran sistem batang otak menstimulasi medulla oblongata menyebabkan
mual dan muntah.
c. Penekanan kiasma optikum sehingga menimbulkan papil oedema.
d. Herniasi unkus sehingga girus medialis lobus temporalis bergeser ke inferior
menekan mesenchaphalon, hilang kesadaran dari pasien.
Pasien mengalami hemiparesis jika terjadi destruksi syaraf motorik perifer,
sel-sel kornu anterior sehingga terjadi paralisis LMN dan UMN, otot flaksid dan
reflek tendon menurun yang menyebakan perubahan persepsi sensori. Selain itu
kerusakan nervous VII menyebabkan kerusakan pada hemisphere kiri kemudian akan
timbul kelemahan pada otot wajah lalu pasien akan mengalami aphasia sehingga
mengalami kerusakan komunikasi verbal. Persepsi sensori pengecapan akan
mengalami kemunduran sehingga pasien mengalami kesulitan dalam menelan.
Dilatasi sel indolimf pada koklea mengakibatkan atrofi nervous VIII sehingga
pasien

mengalami

vertigo

dan perubahan

persepsi sensori. Lesi traktus

spinotalamikus lateralis kemudian berlanjutkan ke medulla spinalis, sistem kolumna


dorsalis, medulla oblongata lalu

menuju lemniskus medialis, thalamus, korteks

parietalis sehingga menyebabkan stereognosis yang menimbulkan perubahan proses


berpikir dan grafestesia yang dapat menimbulkan resiko cidera.
2.5

Manifestasi Klinis
a. Nyeri Kepala
Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian
berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat
juga sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan
aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita.
Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80 % dan terutama
pada bagian frontal. Tumor pada fossa posterior memberikan nyeri alih ke oksiput
dan leher.
b. Perubahan Status Mental

Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan


berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor
lobus frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak ditangani
dapat menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma.
c. Seizure
Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti
astrositoma, oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor
di lobus frontal baru kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.
d. Edema Papil
Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik
neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak
menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil
yang berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan
lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak
menetap.
e. Muntah
Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa tumor
tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada
pagi dan malam hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual
menambah kecurigaan adanya massa intracranial.
f. Vertigo
Pasien merasakan pusing yang berputar dan mau jatuh
2.6

Komplikasi
2.6.1 Edema Serebral
Peningkatan cairan otak yang berlebih yang menumpuk disekitar lesi
sehingga menambah efek masa yang mendesak (space-occupying). Edema
Serebri dapat terjadi ekstrasel (vasogenik) atau intrasel (sitotoksik)
2.6.2 Hidrosefalus

Peningkatan intracranial yang disebabkan oleh ekspansin massa dalam rongga


cranium yang tertutup dapat di eksaserbasi jika terjadi obstruksi pada aliran
cairan serebrospinal akibat massa.
2.6.3 Herniasi Otak
Peningkatan intracranial yang terdiri dari herniasi sentra, unkus, dan singuli.
2.6.4 Epilepsi
2.6.5 Metastase ketempat lain
2.7

Pemeriksaan Diagnostik Tumor Otak


a. CT scan dan MRI
Memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi awal
ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit
otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejalagejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.
b. Foto polos dada
Dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang
akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.
c. Pemeriksaan cairan serebrospinal
Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi
pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak
yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan
patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan
proses-proses infeksi (abses cerebri).
d. Biopsi stereotaktik
Dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk
memberikan dasar-dasar pengobatan dan informasi prognosis.
e. Angiografi Serebral
Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral.
f. Elektroensefalogram (EEG)

10

Mendeteksi gelombang otak abnormalpada daerah yang ditempati tumor dan


dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang.

2.8

Penatalaksanaan
Faktor faktor Prognostik sebagai Pertimbangan Penatalaksanaan
a.

Usia

b.

General Health

c.

Ukuran Tumor

d.

Lokasi Tumor

e.

Jenis Tumor

Untuk tumor otak ada tiga metode utama yang digunakan dalam penatalaksaannya,
yaitu
a.

Surgery
Terapi Pre-Surgery :
Steroid

Menghilangkan swelling, contoh dexamethasone

Anticonvulsant

Untuk mencegah dan mengontrol kejang, seperti


carbamazepine

Shunt

Digunakan untuk mengalirkan cairan cerebrospinal


Pembedahan merupakan pilihan utama untuk mengangkat tumor.

Pembedahan pada tumor otak bertujuan utama untuk melakukan dekompresi


dengan cara mereduksi efek massa sebagai upaya menyelamatkan nyawa serta
memperoleh efek paliasi. Dengan pengambilan massa tumor sebanyak mungkin
diharapkan pula jaringan hipoksik akan terikutserta sehingga akan diperoleh
efek radiasi yang optimal. Diperolehnya banyak jaringan tumor akan
memudahkan evaluasi histopatologik, sehingga diagnosis patologi anatomi
diharapkan akan menjadi lebih sempurna. Namun pada tindakan pengangkatan
tumor jarang sekali menghilangkan gejala-gelaja yang ada pada penderita.
b.

Radiotherapy
Radioterapi
penatalaksanaan

merupakan
proses

salah

keganasan.

satu

modalitas

Berbagai

penting

penelitian

klinis

dalam
telah

11

membuktikan bahwa modalitas terapi pembedahan akan memberikan hasil yang


lebih optimal jika diberikan kombinasi terapi dengan kemoterapi dan
radioterapi.
Sebagian besar tumor otak bersifat radioresponsif (moderately
sensitive), sehingga pada tumor dengan ukuran terbatas pemberian dosis tinggi
radiasi diharapkan dapat mengeradikasi semua sel tumor. Namun demikian
pemberian dosis ini dibatasi oleh toleransi jaringan sehat disekitarnya. Semakin
dikit jaringan sehat yang terkena maka makin tinggi dosis yang diberikan. Guna
menyiasati hal ini maka diperlukan metode serta teknik pemberian radiasi
dengan tingkat presisi yang tinggi.
Glioma dapat diterapi dengan radioterapi yang diarahkan pada tumor
sementara metastasis diterapi dengan radiasi seluruh otak. Radioterapi jyga
digunakan dalam tata laksana beberapa tumor jinak, misalnya adenoma
hipofisis.
c.

Chemotherapy
Pada

kemoterapi

dapat

menggunakan

powerfull

drugs,

bisa

menggunakan satu atau dikombinasikan. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan


untuk membunuh sel tumor pada klien. Diberikan secara oral, IV, atau bisa juga
secara shunt. Tindakan ini diberikan dalam siklus, satu siklus terdiri dari
treatment intensif dalam waktu yang singkat, diikuti waktu istirahat dan
pemulihan. Saat siklus dua sampai empat telah lengkap dilakukan, pasien
dianjurkan untuk istirahat dan dilihat apakah tumor berespon terhadap terapi
yang dilakukan ataukah tidak.

12

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
3.1.1 Data Demografi
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama,
pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan,
dan penanggung biaya.
3.1.2 Riwayat Sakit dan Kesehatan
1. Keluhan utama
Biasanya klien mengeluh nyeri kepala
2. Riwayat penyakit saat ini
Klien mengeluh nyeri kepala, muntah, papiledema, penurunan tingkat kesadaran,
penurunan penglihatan atau penglihatan double, ketidakmampuan sensasi (parathesia
atau anasthesia), hilangnya ketajaman atau diplopia.

3. Riwayat penyakit dahulu


Klien pernah mengalami pembedahan kepala
4. Riwayat penyakit keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada
hubungannya dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan
tumor kepala.
5. Pengkajian psiko-sosio-spirituab
Perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental, kesulitan
mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test
dan prosedur pembedahan, adanya perubahan peran.
3.1.3 Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
Pemeriksaan fisik pada klien dengan tomor otak meliputi pemeriksaan fisik
umum per system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital,
B1 (breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6
(Bone).
1. Pernafasan B1 (breath)
a. Bentuk dada : normal
b. Pola napas : tidak teratur
c. Suara napas : normal
13

d. Sesak napas : ya
e. Batuk : tidak
f. Retraksi otot bantu napas ; ya
g. Alat bantu pernapasan : ya (O2 2 lpm)
2. Kardiovaskular B2 (blood)
a. Irama jantung : irregular
b. Nyeri dada : tidak
c. Bunyi jantung ; normal
d. Akral : hangat
e. Nadi : Bradikardi
f. Tekanana darah Meningkat
3. Persyarafan B3 (brain)
a. Penglihatan (mata)

: penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau


diplopia.

b. Pendengaran (telinga) : terganggu bila mengenai lobus temporal


c. Penciuman (hidung)

: mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus


frontal

d. Pengecapan (lidah)

:ketidakmampuan

sensasi

(parathesia

atau

anasthesia)
e. Afasia

:kerusakan

atau

kehilangan

fungsi

bahasa,

kemungkinan ekspresif atau kesulitan berkata-kata,


reseotif atau berkata-kata komprehensif, maupun
kombinasi dari keduanya.
f. Ekstremitas

:kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak


seimbang, berkurangnya reflex tendon.

g. GCS

: Skala yang digunakan untuk menilai tingkat


kesadaran pasien, (apakah pasien dalam kondisi
koma atau tidak) dengan menilai respon pasien
terhadap rangsangan yang diberikan.

Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka


1 6 tergantung responnya yaitu :
Eye (respon membuka mata)
14

(4) : Spontan
(3) : Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan
kuku jari)
(1) : Tidak ada respon

Verbal (respon verbal)


(5) : Orientasi baik
(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang )
disorientasi tempat dan waktu.
(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas, namun
tidak dalam satu kalimat. Misalnya aduh, bapak)
(2) : Suara tanpa arti (mengerang)
(1) : Tidak ada respon

Motor (respon motorik)


(6) : Mengikuti perintah
(5) : Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi
rangsang nyeri)
(4) : Withdraws (menghindar / menarik extremitas atau tubuh menjauhi
stimulus saat diberi rangsang nyeri)

15

(3) : Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada &
kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh,
dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(1) : Tidak ada respon

4. Perkemihan B4 (bladder)
a. Kebersihan : bersih
b. Bentuk alat kelamin : normal
c. Uretra : normal
d. Produksi urin: normal
5. Pencernaan B5 (bowel)
a. Nafsu makan : menurun
b. Porsi makan : setengah
c. Mulut : bersih
d. Mukosa : lembap
6. Muskuloskeletal/integument B6 (bone)
a. Kemampuan pergerakan sendi : bebas
b. Kondisi tubuh: kelelahan
3.1

Diagnosa Keperawatan
1.

Perubahan

perfusi

jaringan

serebral

berhubungan

dengan

peningkatan tekanan intrakranial, pembedahan tumor, edema serebri.


2.

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan medula


oblongata.

3.

Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.

4.

Resiko cedera berhubungan dengan vertigo sekunder terhadap


hipotensi ortostatik

5.

Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek afasia pada


ekspresi atau interpretasi.

16

6.

Perubahan

persepsi

sensori

perseptual

berhubungan

dengan

kerusakan traktus sensori dengan perubahan resepsi sensori, transmisi, dan


integrasi
7.

Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan efek kemoterapi dan radioterapi

3.2

Intervensi
1.

Perubahan

perfusi

jaringan

serebral

berhubungan

dengan

peningkatan tekanan intrakranial, pembedahan tumor, edema serebri.


Tujuan

: Perfusi jaringan membaik ditandai dengan tanda-tanda vital


stabil.

Kriteria hasil

a. Tekanan perfusi serebral >60mmHg, tekanan intrakranial <15mmHg,


tekanan arteri rata-rata 80-100mmHg
b. Menunjukkan tingkat kesadaran normal
c. Orientasi pasien baik
d. RR 16-20x/menit
e. Nyeri kepala berkurang atau tidak terjadi

Intervensi
1.

Rasional

Monitor secara berkala tanda dan


gejala peningkatan TIK

Kaji perubahan tingkat kesadaran,

orientasi, memori, periksa nilai GCS

Mengetahui fungsi retikuler aktivasi


sistem dalam batang otak, tingkat
kesadaran

memberikan

gambaran

adanya perubahan TIK


-

Kaji tanda vital dan bandingkan

dengan keadaan sebelumnya

Mengetahui keadaan umum pasien,


karena pada stadium awal tanda vital
tidak berkolerasi langsung dengan
kemunduran status neurologi

Kaji fungsi autonom: jumlah dan pola


pernapasan, ukuran dan reaksi pupil,

Respon pupil dapat melihat keutuhan


fungsi batang otak dan pons

17

pergerakan otot
-

Kaji adanya

nyeri

kepala,

mual,

Merupakan tanda peningkatan TIK

Peninggian

muntah, papila edema, diplopia kejang


2.
-

Ukur, cegah, dan turunkan TIK


Pertahankan

posisi

dengan

bagian

kepala

akan

meninggikan bagian kepala 15-300,

mempercepat aliran darah balik dari

hindari posisi telungkup atau fleksi

otak,

tungkai secara berlebihan

meninggikan

posisi

atau

fleksi
tekanan

intratorakal

tungkai

akan

intraabomen
yang

akan

mempengaruhi aliran darah balik dari


-

Monitor

analisa

gas

darah,

pertahankan PaCO2 35-45 mmHg,

otak
-

PaO2 >80mmHg
-

Menurunnya

CO2

menyebabkan

vasokonstriksi pembuluh darah

Kolaborasi dalam pemberian oksigen

3.

Hindari

faktor

yang

dapat

meningkatkan TIK
-

Istirahatkan

pasien,

hindari

Memenuhi kebutuhan oksigen

Keadaan

tindakan keperawatan yang dapat


mengganggu tidur pasien
-

Berikan sedative atau analgetik


dengan kolaboratif.

mengurangi

kebutuhan oksigen
-

2.

istirahat

Mengurangi peningkatan TIK

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan denga penekanan medula


oblongata.
Tujuan

Kriteria Hasil

3.

Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial.


Tujuan

: Nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi oleh


klien
18

Kriteria hasil
:
a. Klien mengungkapkan nyeri yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi
b. Klien tidak merasa kesakitan.

Intervensi
1.

Rasional

Teliti keluhan nyeri: intensitas, 1.

Nyeri

merupakan

pengalaman

karakteristik, lokasi, lamanya, faktor

subjektif dan harus dijelaskan oleh

yang memperburuk dan meredakan.

pasien. Identifikasi karakteristik nyeri


dan

faktor

yang

berhubungan

merupakan suatu hal yang amat penting


untuk memilih intervensi yang cocok
dan untuk mengevaluasi keefektifan
dari terapi yang diberikan.
2.

3.

Instruksikan pasien/keluarga untuk 2.


melaporkan nyeri dengan segera jika

intervensi dini dan dapat mengurangi

nyeri timbul.

beratnya serangan.

Berikan

kompres

dingin

pada 3.

kepala.
4.

Pengenalan segera meningkatkan

Meningkatkan rasa nyaman dengan


menurunkan vasodilatasi.

Mengajarkan tehnik relaksasi dan 4.


metode distraksi

Akan melancarkan peredaran darah,


dan

dapat

nyerinya

mengalihkan
ke

perhatian

hal-hal

yang

menyenangkan
5.
5.

Kolaborasi analgesic

sehingga nyeri berkurang


6.

6.

Observasi adanya tanda-tanda nyeri

Analgesik memblok lintasan nyeri,


Merupakan indikator/derajat nyeri
yang tidak langsung yang dialami.

non verbal seperti ekspresi wajah,


gelisah, menangis/meringis, perubahan
tanda vital.

4.

Resiko cedera berhubungan dengan vertigo sekunder terhadap


hipotensi ortostatik.

19

Tujuan

: Diagnosa tidak menjadi masalah aktual

Kriteria hasil

a. Pasien dapat mengidentifikasikan kondisi-kondisi yang menyebabkan vertigo


b. Pasien dapat menjelaskan metode pencegahan penurunan aliran darah di otak
tiba-tiba yang berhubungan dengan ortostatik.
c. Pasien dapat melaksanakan gerakan mengubah posisi dan mencegah drop
tekanan di otak yang tiba-tiba.
d. Menjelaskan beberapa episode vertigo atau pusing.

Intervensi
1.

Rasional

Kaji tekanan darah 1.


pasien

saat

pasien

mengadakan

Diskusikan
tentang

pasien

hipotensi

ortostatik

ataukah tidak.
2.

klien

mengetahui

mengakami

perubahan posisi tubuh.


2.

Untuk

fisiologi

dengan

Untuk menambah pengetahuan klien


tentang hipotensi ortostatik.

hipotensi

ortostatik.

3.

Melatih

kemampuan

klien

dan

memberikan rasa nyaman ketika


3.

Ajarkan

teknik-

mengalami hipotensi ortostatik.

teknik untuk mengurangi hipotensi


ortostatik

5.

Kerusakan komunikasi verbal b.d efek afasia pada ekspresi atau intepretasi.
Tujuan

: Tidak mengalami kerusakan komunikasi verbal dan


menunjukkan kemampuan komunikasi verbal dengan
orang lain dengan cara yang dapat di terima.

Kriteria Hasil

a. Pasien dapat mengidentifikasi pemahaman tentang masalah komunikasi.


b. Pasien dapat membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat
diekspresikan
c. Pasien dapat menggunakan sumber-sumber dengan tepat

20

Intervensi
1.

Perhatikan

Rasional

kesalahan

dalam 1.

komunikasi dan berikan umpan balik.

Pasien
kehilangan

mungkin

kemampuan

untuk

memantau ucapan yang keluar dan


tidak menyadari bahwa komunikasi
yang diucapkannya tidak nyata.
2.

Minta pasien untuk menulis nama 2.

Menilai kemampuan

atau kalimat yang pendek. Jika tidak

menulis

dan

kekurangan

dapat menulis, mintalah pasien untuk

membaca

membaca kalimat yang pendek.

merupakan bagian dari afasia sensorik

yang

benar

yang

dalam
juga

dan afasia motorik.


3.

Berika

metode

komunikasi

alternative, seperti menulis di papan 3.


tulis, gambar. Berikan petunjuk visual

komunikasi

(gerakan

berdasarkan

tangan,

gambar-gambar,

daftar kebutuhan, demonstrasi).


4.

Memberikan
tentang
keadaan/

kebutuhan
deficit

yang

mendasarinya.

Katakan secara langsung dengan


pasien, bicara perlahan, dan dengan
tenang. Gunakan pertanyaan terbuka 4.

6.

Menurunkan

dengan jawaban ya/tidak selanjutnya

kebingungan/ansietas

kembangkan pada pertanyaan yang

komunikasi

lebih komplek sesuai dengan respon

informasi yang lebih banyak pada satu

pasien.

waktu tertentu.

dan

selama
berespons

proses
pada

Perubahan persepsi sensori perseptual berhubungan dengan kerusakan traktus


sensori dengan perubahan resepsi sensori, transmisi, dan integrasi.
Tujuan

: Pasien mampu menetapkan dan menguji realitas serta


menyingkirkan kesalahan persepsi sensori.

Kriteria hasil

a. Pasien dapat mengenali kerusakan sensori


21

b. Pasien dapat mengidentifikasi prilaku yang dapat mengkompensasi kekurangan


c. Pasien dapat mengungkapkan kesadaran tentang kebutuhan sensori dan
potensial terhadap penyimpangan.
Intervensi
1.

Rasional

Bantu
mengenali

dan

pasien

1. Dapat membantu menurunkan ansietas

mengkompensasi

tentang ketidaktahuan dan mencegah

perubahan sensasi.

cedera.
2. Menyentuh menyampaikan perhatian

2.

Berikan

rangsang

taktil, sentuh pasien pada area dengan

dan memenuhi kenutuhan fisiologis


dan psikologis normal.

sensori utuh, missal : bahu, wajah,


kepala.

3. Menurunkan kelebihan beban sensori,


meningkatkan

3.

Berikan tidur tanpa


gangguan dan periode istirahat.

orientasi

dan

kemampuan koping, dan membantu


dalam menciptakan kembali pola tidur
alamiah.
4. Indikasi kerusakan traktus sensori dan
stress

4.

Pertahankan adanya
respons

emosional

psikologis,

memerlukan

pengkajian dan intervensi lebih lanjut.

berlebihan,

perubahan proses berpikir, misal :


disorientasi, berpikir kacau.

7.

Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek
kemoterapi dan radioterapi.
Tujuan
: Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan adekuat
Kriteria hasil
:
a. Antropometri: berat badan tidak turun (stabil)
b. Biokimia: albumin normal dewasa (3,5-5,0) g/dl
Hb normal (laki-laki 13,5-18 g/dl, perempuan 12-16 g/dl)
c. Clinis: tidak tampak kurus, terdapat lipatan lemak, rambut tidak jarang dan
merah
d. Diet: klien menghabiskan porsi makannya dan nafsu makan bertambah

22

Intervensi

Rasional

1. Kaji tanda dan gejala kekurangan 1.


nutrisi: penurunan berat badan, tanda-

Menentukan adanya
kekurangan nutrisi pasien

tanda anemia, tanda vital


2. Monitor intake nutrisi pasien

2.

Salah

satu

efek

kemoterapi dan radioterapi adalah tidak


nafsu makan
3. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi
sering.

3.

Mengurangi

mual

dan terpenuhinya kebutuhan nutrisi.


4. Timbang berat badan 3 hari sekali
4.

Berat badan salah


satu indikator kebutuhan nutrisi.

5. Monitor

hasil

laboratorium:

Hb,

albumin
6. Kolaborasi

5.
dalam

pemberian

obat

Menentukan

status

Mengurangi

mual

nutrisi

antiemetik
6.

dan muntah untuk meningkatkan intake


makanan

23

BAB 4
PENUTUP

4.1

Kesimpulan
Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar
1.350cc atau sekitar 2% dari berat orang dewasa dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau
neuron. Metabolisme otak digunakan kira kira 18% dari total konsumsi oksigen oleh
tubuh. Berat otak hanya 2,5 % dari berat badan seluruhnya tapi otak merupakan organ
yang paling banyak menerima darah dari jantung yaitu 20% dari seluruh darah yang
mengalir ke seluruh bagian tubuh (Lumantobing, 2001).
Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan ruang
baik jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan tengkorak. (price, A.
Sylvia, 1995: 1030)
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui, tetapi sekarang telah
diadakan penelitian mengenai herediter, sisa-sisa embrional, radiasi, virus, substansisubstansi zat karsinogenik, trauma kepala. Penatalaksaan pasien dengan tumor otak
dapat dilakukan pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi.

4.2

Saran
a. Perawat hendaknya mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan
tumor otak secara holistik didasari dengan pengetahuan yang mendalam mengenai
penyakit tersebut.
b. Klien dan keluarganya hendaknya ikut berpartisipasi dalam penatalaksaan serta
meningkatkan pengetahuan tentang tumor otak yang dideritanya.

24

DAFTAR PUSTAKA
Baughman, Diace C dan Joann C. Hackley. 2000. Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta: EGC
Price, Sylvia A dan Lorrane M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Vol 2. Jakarta: EGC
Tarwoto, Watonah, dan Eros Siti Suryati. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: CV Sagung Seto

25