Anda di halaman 1dari 27

NAMA : VANESIA D.

HUTABARAT
NIM

: 1101134879

JURUSAN

: HUBUNGAN INTERNASIONAL

UAS Hukum Perdata Internasional


RESUME DISKUSI KELAS
Kelompok 1
Kasus Babcock dan Jackson
Miss Georgia Babcock dengan teman-temannya yaitu Mr. dan Mrs William Jackson pergi
untuk weekend ke Canada pada tanggal 16 september tahun 1960,dengan memakai mobil
Jackson. Mereka semua penduduk Rochester (New York). Waktu melewati propinsi Ontario.
Mereka mengalami kecelakaan yang menyebabkan Miss Babcock luka berat. Sekembalinya ke
New York, Miss Babcock melakukan tuntutan ganti rugi terhadap Jackson berdasarkan
negligence. Pada waktu kecelakaan terjadi, di Ontario berlaku suatu Guest Statue yang pada
pokoknya menentukan bahwa orang-orang yang hanya merupakan Guest tanpa bayaran tidak
dapat menuntut konpensasi apapun jika terjadi kecelakaan. Ketentuan sedemikian tidak ada dalam
perundang-undangan Negara bagian New York.
Fakta-faktanya :
Miss Georgia Babcock dengan kawan-kawannya yaitu Mr. dan Mrs William Jackson
pergi untuk week end ke Canada pada tanggal 16 september tahun 1960,dengan memakai
mobil Jackson. Mereka semua penduduk Rochester (New York).
Waktu melewati propinsi Ontario. Mereka mengalami kecelakaan yang menyebabkan
Miss Babcock luka berat.
Sekembalinya ke New York, Miss Babcock melakukan tuntutan ganti rugi terhadap
Jackson berdasarkan negligence
Pada waktu kecelakaan terjadi, di Ontario berlaku suatu Guest Statue yang pada
pokoknya menentukan bahwa orang-orang yang hanya merupakan Guest tanpa bayaran
tidak dapat menuntut konpensasi apapun jika terjadi kecelakaan
Titik Taut Primernya :
Titik taut primer adalah faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang memperlihatkan bahwa kita
berhadapan dengan peristiwa hukum perdata Internasional. Atau faktor-faktor dan keadaankeadaan yang memperlihatkan bahwa suatu hubungan atau peristiwa adalah peristiwa hukum
perdata Internasional.
Dalam kasus ini titik taut primernya adalah tempat terjadinya perbuatan melawan hukum (tempat
kecelakaan) yaitu di oktario. Ini sebagai element asing bila ditinjau oleh PN New York.
Titik Taut Sekunder :

Titik taut sekunder adalah faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang menentukan hukum
Negara mana yang harus berlaku dalam suatu peristiwa hukum perdata internasional.
Dalam kasus ini titik taut sekundernya adalah Lex Loci Delicti Commissi (hukum tempat
perbuatan melawan hukum dilakukan).
Hukum Yang Berlaku :
Dalam kasus ini hukum yang berlaku adalah :
Pengadilan TK I : Memakai lex locus delicti commissi yaitu hukum Ontario demikian pula
dengan;
Pengadilan TK II : pun menggunakan hukum Ontario sebagai hukum tempat terjadinya
kecelakaan
Dua diatas masih memakai teori klasik
Tetapi di tingkat kasasi hukum yang dipergunakan adalah hukum new York karena kepentingan
new York jauh melebihi kepentingan Ontario.
Faktor-faktor yang menyatakan hal ini adalah:
Gugatan diajukan oleh seorang newyork guest terhadap New York host.
Surat izin mengemudi dan asuransi mobilnya di New York
Perjalanan week end ini dimulai dan diharapkan berakhir di New York
Sebenarnya, memang New York yang memiliki Superior Claim untuk pemakaian hukum
dan juga the strongest interest dalam perkara ini. Oleh karena itu, berdasarkan pertimbanganpertimbangan tadi maka hukum yang dipakai dalam perkara Babcock ini adalah hukum New
York, dan gugatan babcock dimenangkan dan keputusan-keputusan dari hakim rendahan yang
telah memenangkan pihak Jackson dibatalkan dan eksepsi dari yang disebut belakangan ini
dikesampingkan.
Kelompok 2
Kasus Manohara Odelia Pinot dan Teuku Fakhry
Manohara Odelia Pinot adalah model kelahiran Jakarta, 28 Februari 1992. Lahir dari seorang
ibu keturunan bangsawan Bugis, Daisy Fajarina dan ayah berkebangsaan Amerika Serikat,
George Manz. Manohara Odelia Pinot di usia yang masih sangat muda, 16 tahun, ia menikah
dengan seorang pangeran asal Malaysia Barat, Tengku Muhammad Fakhry Petra. Pernikahan
yang diadakan di Malaysia ini sempat terganjal akibat usia Manohara yang masih di bawah umur
dan tidak ada wali serta surat dari KBRI setempat. Namun, pada akhirnya pernikahan inipun tetap
terlaksana.
Akhir 2008 Manohara kabur lewat Singapura ke Jakarta dari tempat kediamannya di
Malaysia. Menurut penuturan Manohara kepada ibunya, Daisy, ia mengalami perlakuan tak
menyenangkan dari suaminya serta tidak tahan dengan sikap kasar Tengku Fakhry kepadanya
hingga akhirnya Manohara memilih kabur. Selama kabur, Manohara tinggal di rumah kontrakan
keluarganya di daerah Jakarta Selatan. Maret 2009, nenek Manohara pergi ke kedutaan Indonesia
guna meminta bantuan.
Sidang gugatan cerai Tengku Muhammad Fakhry terhadap Manohara Odelia Pinot akan
berlangsung pada Minggu 2 Agustus 2009. Mano belum tahu akan datang atau tidak pada sidang
yang berlangsung di Pengadilan Syariah Islam Malaysia itu. Pada bulan Desember 2009,

Pengadilan Tinggi Malaysia, memenangkan gugatan pangeran Kelantan, Mohammad Fakhry,


suami Manohara. Pengadilan memerintahkan Manohara kembali ke suaminya dan membayar
hutang 1,1 juta ringgit Malaysia atau Rp.3 milyar lebih. Pengacara Fakhry, Zainul Rijal Abu
Bakar, mengatakan Pengadilan Tinggi Islam negara bagian Kelantan utara memerintahkan
Manohara agar setia dengan kembali pada suami dan mengembalikan uangnya, guna
memecahkan segala permasalahan, kurang dari 14 hari, di mana pangeran akan disumpah sebagai
raja Kelantan, pada 3 Januari 2010.
Pengadilan memerintahkan Manohara mengembalikan uang dalam 30 hari. Jika tidak, ia
dapat dinyatakan tidak setia dan pangeran takkan diwajibkan membayar setiap biaya
perawatannya. Artinya, perkawinan harus berakhir dengan perceraian pada masa depan, dan
Manohara takkan memperoleh kompensasi perceraian disebabkan ketidaksetiaan.
Analisis Kasus
Pernikahan terjadi antar warga negara Indonesia Manohara Odelia Pinot dengan warga negara
Malaysia Mohammad Fakhry. Pernikahan diadakan di Malaysia. Pengadilan yang mengurus
perceraian adalah Pengadilan Malaysia.
1. Hakim atau Pengadilan yang berwenang
Pengadilan yang berwenang adalah pengadilan negara Indonesia berdasarkan prinsip:
a. The basic principal : Manohara masih berumur 16 tahun saat menikah dengan
kewarganegaraan Indonesia.
b. Tempat pernikahan atau terjadinya perbuatan adalah di Malaysia, namun apabila pernikahan
ini sudah didaftarkan maka di Indonesia pun sudah diakui.
c. Berdasarkan Forum actoris, pihak penggugat disini adalah Manohara. Dimana manohara
sebelum menikah tinggal bersama Ibunya di Indonesia.
d. Berdasarkan The principal of effectiveness, karena yang saat ini lebih diperhatikan adalah
gugatan untuk perceraian, sehingga apabila Manohara tinggal di Indonesia, akan lebih efektif
mengurus perceraian di Indonesia.
1. Termasuk dalam perkara HPI atau bukan
Yang menentukan suatu perkara HPI atau bukan adalah hakim. Menurut Hakim
pengadilan Indonesia perkara ini merupakan kasus yang masuk ranah Hukum Perdata
Internasional karena terdapat unsur asing, dimana terjadi pernikahan antara dua orang yang
memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Pihak istri berkewarganegaraan Indonesia dan
pihak suami berkewarganegaraan Malaysia. Dengan subjek yang berbeda kewarganegaraan
berbeda ini menunjukkan perkara masuk ranah HPI. Selain itu pernikahan yang diadakan di
Malaysia.
2. Termasuk dalam bidang hukum apa peristiwa tersebut.
Menurut hakim pengadilan Indonesia kasus tersebut termasuk ke dalam kualifikasi hukum
personal. Dalam penulisan ini, lebih melihat kepada proses perceraian antara kedua belah pihak.
Dan sangat jelas bahwa pernikahan merupakan perkara yang masuk ke dalam kualifikasi hukum
personal.
3. Hukum mana yang berlaku dalam peristiwa tersebut.
Hukum yang berlaku adalah hukum Malaysia. Hal ini berdasarkan prinsip dalam status
personal, yaitu dimana pernikahan tersebut berlangsung. Serta asas-asa HPI dalam hukum

keluarga menyatakan bahwa syarat materil syahnya perkawinan berdasarkan asas Lex Loci
Celebrationis artinya didasarkan pada tempat dimana perkawinan diresmikan atau dilangsungkan,
begitu juga syarat sah perkawinan secara formal juga di tentukan berdasarkan pada tempat
dilangsungkannya perkawinan. Kemudian akibat dari dari perkawinan itu harus tunduk terhadap
system Hukum tempat perkawinan diresmikan (Lex Loci celebrationis).
Dalam fakta hukum yang didapat pernikahan diadakan di Malaysia, sehingga hukum yang
diberlakukan dalam proses perceraian adalah hukum Malaysia. Kenapa bukan menerapkan
hukum Indonesia? Berdasarkan fakta hukum, tidak diketahui apakah pernikahan ini telah
didaftarkan dalam pencatatan sipil di Indonesia, bahwa ke dua belah pihak telah menikah.
Sehingga untuk kepastian hukum, maka hukum Malaysia lah yang diterapkan.
Berdasarakan uraian Penulis diatas, maka dapat ditarik poin-poin penting yang penulis simpulkan
sebagai berikut :
1. Pengadilan yang berwenang mengadili kasus ini adalah Pengadilan Malaysia.
2. Yang menjadi titik taut primer kasus ini sehingga merupakan kasus perdata internasional
adalah karena terdapat unsur asing, dimana terjadi pernikahan antara dua orang yang
memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Pihak istri berkewarganegaraan Indonesia dan
pihak suami berkewarganegaraan Malaysia. Dengan subjek yang berbeda
kewarganegaraan berbeda ini menunjukkan perkara masuk ranah HPI. Selain itu
pernikahan yang diadakan di Malaysia.
3. Klasifikasi kasus ini dalam hukum perdata internasional adalah hukum personal. Dalam
penulisan ini, lebih melihat kepada proses perceraian antara kedua belah pihak. Dan
sangat jelas bahwa pernikahan merupakan perkara yang masuk ke dalam kualifikasi
hukum personal.
4. Yang menjadi titik taut sekunder (titik taut penentu) kasus ini untuk menentukan hukum
mana yang berlaku adalah berdasarkan prinsip dalam status personal, yaitu dimana
pernikahan tersebut berlangsung. Serta asas-asa HPI dalam hukum keluarga menyatakan
bahwa syarat materil syahnya perkawinan berdasarkan asas Lex Loci Celebrationis.
5. Lex cause kasus dalam kasus ini adalah Hukum Malaysia. Karena dalam fakta hukum
yang didapat pernikahan diadakan di Malaysia, sehingga hukum yang diberlakukan
dalam proses perceraian adalah hukum Malaysia.
Kelompok 3
Status Kewargangaraan Anak dalam Perkawinan Campuran Auk Murat (Warga Negara
Indonesia) dan Andrew JM (Warga Negara Australia)
Banyaknya permasalahan kaum wanita Indonesia yang menikah dengan pria asing akhirnya
mencetus berdirinya wadah Keluarga Perkawinan Campuran Melalui Tangan Ibu (KPC Melati)
diprakarsai oleh Ika Twigley, Diah Kusdinar, Marcellina Tanuhandaru, Mery Girsang, dan Enggi
Holt yang berkaitan mulai dari kewarganegaraan anak, hak asuh anak, rumitnya birokrasi
keimigrasian, soal administrasi kependudukan, keharusan berurusan dengan kedutaan asing,
perihal peraturan Depnaker, ketiadaan perjanjian pranikah, terbatasnya akses terhadap fasilitas
keuangan, hukum pewarisan terhadap properti, hingga kekerasan dalam rumah tangga. Berkaitan
dengan masalah status kewarganegaraan anak-anak, Auk Murat bersama KPC Melati berusaha
memperjuangkan dan menyampaikan aspirasi kepada DPR agar merevisi UU Nomor 62 tahun
1958 tersebut yang dianggap merugikan wanita Indonesia yang menikah dengan WNA, UU yang

telah menggariskan bahwa Indonesia menganut asas ius sanguinis patriarikal. Artinya, anak yang
lahir dari perkawinan ibu WNI dan ayah WNA otomatis mengikuti kewarganegaraan sang ayah.
Sementara itu, status kewarganegaraan anak WNA untuk menjadi WNI hanya bisa setelah si
anak berusia 18 tahun. Sehingga jika setiap tahunnya keluarga kawin campuran itu menetap di
Indonesia, bahkan anak-anak hasil perkawinan tersebut tiap tahunnya harus memperpanjang
KITAS (Kartu Ijin Tinggal Sementara) dan berurusan dengan pihak imigrasi. Jika tidak, maka akan
terkena sanksi overstay, status penduduk gelap, dan akan kena deportasi.
Mengenai hasil dari perjuangan Auk Murat dan wanita lain yang senasib bersama KPC
Melati tentang status anak hasil perkawinan campuran, dalam pembahasan RUU
Kewarganegaraan, DPR menerima usulan dua kewarganegaraan terbatas bagi anak-anak yang
lahir dari pernikahan campuran melalui Undang-undang Nomor 12 tahun 2006. Sesuai dengan
ketentuan dalam Undang-undang Nomor 12 tahun 2006 anak yang dilahirkan oleh perempuan
Warga Negara Indonesia yang menikah dengan laki-laki Warga Negara Asing, memperoleh status
kewarganegaraan, yaitu Warga Negara Indonesia. Hal ini berarti status anak tidak mengikuti
status kewarganegaraan ayahnya, tercantum dalam pasal 4 huruf d UU Nomor 12 tahun 2006
yang ditulis sebagai berikut : warga negara Indonesia adalah anak yang lahir dari perkawinan
yang sah dari seorang ayah Warga Negara Asing dan Ibu Warga Negara Indonesia. Tidak hanya
mengatur status kewarganegaraan anak hasil perkawinan yang sah, Undang-undang Nomor 12
tahun 2006 juga mengatur status kewarganegaraan anak luar kawin yang diakui ayah Warga
Negara Asing. Hal ini tercantum dalam pasal 5 ayat (1) yaitu sebagai berikut : Anak Warga
Negara Indonesia yang lahir diluar perkawinan yang sah, belum berusia 18 (delapan belas)
tahun dan belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap
diakui sebagai Warga Negara Indonesia. Bila negara sang Ayah yang berkewarganegaraan asing
tersebut menganut asas ius sanguinis, maka anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut
mempunyai kewarganegaraan ganda. Ketentuan hukum mengenai hal ini juga sudah diatur dalam
pasal 6 ayat (1), (2) dan (3) UU Nomor 12 tahun 2006. Dalam ketentuan tersebut nampak bahwa
Indonesia memberi dua kewarganegaraan terbatas bagi anak-anak yang lahir dari pernikahan
campuran khususnya bagi anak yang ketentuan negara ayahnya menganut asas ius sanguinis ini
berarti anak-anak tersebut mendapatkan dua kewarganegaraan ayah dan ibunya, sampai berumur
18 tahun. Setelah itu, mereka harus menentukan kewarganegaraan yang akan dipilihnya. Ini
berarti hak wanita yang menikah dengan pria asing, sebagai warga negara Indonesia diakui dan
dilindungi pemerintah. Nasib anak-anak juga jadi lebih jelas. Bila anak yang berkewarganegaraan
ganda terbatas ini mengalami masalah berkaitan dengan kewarganegaraannya maka untuk
menentukkan status personalnya akan dipakai kewarganegaraan yang nyata dan efektif.
Maksudnya kewarganegaraan mana yang lebih efektif digunakan si anak dalam kehidupan seharihari. Ini berkaitan dengan tempat ia tinggal, hubungan kekeluargaan dan sebagainya. Bila
ternyata salah satu orang tua meninggal, hukum warisan yang berlaku untuk anak
berkewarganegaraan ganda terbatas adalah hukum nasional si pewaris saat ia meninggal.
Kelompok 4
Persengketaan antara IPB dan Lembaga Amerika Serikat
Masalah-masalah pokok yang dibahas dalam HPI adalah sebagai berikut:

1. Hakim/ badan hukum peradilan manakah yang berwenang menyelesaikan perkaraperkara hukum yang mengandung unsur asing. (chioce of yuridiction) merupakan hukum
acara dalam HPI
2. Hukum manakah yang akan dipergunakan untuk menyelesaikan maasalah HPI (the
appropriate legal system)
3. Sejauh mana suatu peradilan harus memperahatikan dan mengakui putusan hukum asing
(recognition of foreign judgements)
IPB melakukan perjanjian untuk mengirim 800 ekor kera (simpanse) ke Amerika Serikat.
Pihak Amerika disini adalah WWF yang adalah sebuah organisasi non-pemerintah internasional
yang menangani masalah-masalah konservasi, penelitian, dan restorasi lingkungan, sekaligus
organisasi konservasi independen terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 5 juta pendukung di
seluruh dunia, yang bekerja di lebih dari 100 negara, dan mendukung sekitar 1.300 proyek
konservasi dan lingkungan. Tujuan organisasi ini adalah melindungi keanekaragaman genetis,
spesies, dan ekosistem; menjaga penggunaan sumber daya alam agar dapat ditahan untuk jangka
waktu yang lama demi keuntungan semua kehidupan di bumi; serta mengurangi polusi dan
konsumsi yang tidak berguna sekecil-kecilnya. Kera tersebut hanya akan diambil anaknya saja,
sementara induknya akan dikembalikan ke Indonesia. Harga perekor disepakati sebesar Rp.
80.000.000,00 dan pihak Amerika Serikat hanya membutuhkan anaknya saja dan harus beranak di
Amerika Serikat. Ketika posisi pesawat masih di Swiss, seekor monyet stress dan lepas, sehingga
melahirkan anaknya. Karena induknya telah dilumpuhkan dan mati, maka dokter hewan IPB
menyuntik mati anak monyet tersebut karena pertimbangan rasa kasihan. Lawyer Amerika Serikat
menuntut IPB atas dasar perlindungan satwa dan dianggap tidak memenuhi prestasi dengan
sempurna serta membunuh seekor anak moyet. Disatu sisi, kera di Indonesia tidak lebih dari
sebuah hama, sedangkan bagi Amerika Serikat, kera merupakan satwa yang harus mendapat
perlindungan.
Fakta-faktanya :
IPB melakukan perjanjian dengan Amerika untuk mengirim 800 kera ke Amerika, kera
tersebut hanya akan diambil anaknya saja dan harga perekornya 80 juta.
Amerika hanya membutuhkan anaknya saja dan harus beranak di Amerika Serikat.
Ketika posisi pesawat di Swiss, seekor monyet stress dan lepas, melahirkan anaknya, dan
induknya telah dilumpuhkan dan mati.
Dokter hewan IPB menyuntik mati anak monyet atas dasar rasa kasihan.
Lawyer Ameika menuntut IPB atas dasar perlindungan satwa dan dianggap tidak
memenuhi prestasi, serta membunuh seekor anak monyet.
Anak monyet bagi Amerika merupakan satwa yang dilindungi.
Titik Taut Primer :
Titik taut primer adalah faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang memperlihatkan bahwa
kita berhadapan dengan peristiwa hukum perdata Internasional. Atau faktor-faktor dan
keadaan-keadaan yang memperlihatkan bahwa suatu hubungan atau peristiwa adalah
peristiwa hukum perdata Internasional.
Dalam kasus ini titik taut primernya adalah kewarganegaraan dari para pihak. Dimana
pihak penggugat yaitu Lawyer berkewarganegaraan Amerika Serikat, sedangkan pihak
tergugat yaitu dokter hewan IPB berkewarganegaraan Indonesia

Titik Taut Sekunder :


Titik taut sekunder adalah faktor-faktor dan keadaan-keadaan yang menentukan hukum
Negara mana yang harus berlaku dalam suatu peristiwa hukum perdata internasional.
Dalam kasus ini titik taut sekundernya karena dari perjanjian antara IPB dan Amerika Serikat
tidak ada pilihan hukum atau pilihan forum yang diatur secara tegas dalam perjanjiannya, maka
titik taut sekundernya ada lebih dari satu yaitu :
1. Lex Loci Contractus (hukum tempat dilangsungkannya perjanjian).
2. Lex Loci Solutionis (hukum tempat dilaksanakannya perjanjian).
3. Lex Loci Delicti Commisi (hukum tempat perbuatan melawan hukum dilakukan).
4. The Most Characteristic Connection (pihak yang lebih menonjol dalam kontrak).
Hukum Yang Berlaku :
1. Berdasarkan Lex Loci Contractus,maka hukum yang berlaku adalah hukum perdata
Indonesia karena perjanjian dibuat di Indonesia.
2. Berdasarkan Lex Loci Solutionis, maka hukum yang berlaku adalah hukum Amerika
Serikat karena perjanjian dilaksanakan di Amerika Serikat yaitu, anak monyet yang
diperjanjikan harus beranak di Amerika Serikat.
3. Berdasarkan Lex Loci Delicti Commisi, maka hukum yang berlaku adalah hukum Swiss,
karena perbuatan melawan hukum berupa penyuntikan mati anak monyet yang
diperjanjikan dilakukan ketika pesawat berada diatas wilayah Negara Swiss.
4. Berdasarkan The Most Characteristic Connection, maka hukum yang berlaku adalah
hukum perdata Indonesia, karena pihak yang paling menonjol adalah IPB (Indonesia)
sebagai penjual kera, karena IPB yang harus menyerahkan kera,merawat dan menjaga
kera dengan baik sampai nanti kera diserahkan kepada pihak Amerika Serikat. Dan dalam
perjanjian jual-beli pihak yang paling menonjol atau dominan adalah pihak penjual dalam
hal ini adalah IPB.

Kelompok 5
Kesepakatan Kerjasama antara Pertamina dan Karaha Bodas Company
Pada tahun 1994, pertamina mengadakan kontrak kerjasama dengan pihak investor lisrik
swasta yaitu karaha bodas Co. LLC dibawah joint operation contract (JOC) sedangkan PLN
sebagai pembeli nantinya dibawah kontrak Energy sales contract (ESC) dengan karaha bodas
company. Pertamina dan karaha bodas Co. LLC mengadakan pengembangan energi panas bumi
di karaha bodas- Garut, Jawa Barat dan telaga bodas-tasikmalaya, dimaksudkan nantinya dapat
menghasilkan energi yang ramah lingkungan dan bersih. Berdasarkan kepres No 45/1991
menggariskan dua jalur alternatif untuk pengembangan energi geothermal diindonesia.

Pertama, pertamina atau kontraktor operasi gabungannya mengembangkan dan


mengoperasikan lapangan uap saja, penjualan uap ke PLN atau ke phak lain untuk
membangkitkan listrik.
Kedua, memungkinkan pertamina atau kontraktornya membangkitkan listrik sebagaimana
mereka mengembangkan dan mengoperasikan lapangan uap, listrik yang dihasilkan di jual ke
PLN atau ke konsumen lain. Dari penetapan ini lahir dua perjanjian yaitu :
1. Kontrak operasi gabungan (JOC)
2. Kontrak penjualan energi (ESC)
Gesekan kepentingan nyaris berbeda antara keduanya, terlebih perusahaan karaha bodas
merupakan perusahaan perseroan yang didirikan berdasarkan aliran-aliran modal baik dari dalam
maupun dari luar, dimana tujuan perusahaan ini lebih mengutamakan profit oriented dan sisi lain
perusahaan nasional atau pertamina lebih mengutamakan kepentingan nasional.
Proyek PLTP ini didukung dengan peraturan pemerintah No 24 Tahun 1994 yang
membolehkan investor asing melakukan investasi ditanah air dengan komposisi saham 90%.
Dengan adanya kehadiran investasi ke Indonesia otomatis harus tunduk pada semua sistem
hukum politik Negara tuan rumah, artinya perusahaan harus mematuhi aturan investasi di
Indonesia. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi perusahaan transnasional seperti karaha bodas
company yang mempunyai saham yang lebih besar atau utuh 100%, sehingga pengambilan
kebijakan dipengaruhi oleh pemegang saham terbesar, ini menimbulkan kepentingan negara tuan
rumah menjadi nomor dua.
Sampai saat ini aturan hukum internasional yang berlaku umum untuk mengatur aktivitas
perusahaan transnasional belum dibuat, hal ini sudah pasti akan berpotensi muncul konflik antara
kedua subjek hukum ini, yaitu anata pertamina dan karaha bodas company.
Karena krisis ekonomi dan atas rekomendasi International Monetary Fund (IMF), pada
tanggal 20 September 1997, Presiden melalui Kepres No. 39/1997 tentang
Penangguhan/Pengkajian Kembali Proyek Pemerintah, BUMN Swasta yang berkaitan dengan
Pemerintah/BUMN. Kepres tersebut menangguhkan pelaksanaan proyek PLTP Karaha sampai
keadaan ekonomi pulih. Selanjutnya, pada 1 November 1997, melalui Kepres No. 47/1997
proyek diteruskan. Namun, berdasarkan Keppres No. 5/ 1998 pada tanggal 10 Januari 1998
proyek kembali ditangguhkan.
Pada tanggal 22 Maret 2002 pemerintah melalui Keppres No. 15/2002, berniat melanjutkan
proyek tersebut. Selanjutnya, didukung juga dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral No. 216K/31/MEM/2002 tentang Penetapan Status Proyek PTLP Karaha dari
ditangguhkan menjadi diteruskan.
KBC pada tanggal 30 April 1998 memasukkan gugatan ganti rugi ke Arbitrase Jenewa
(Swiss) sesuai dengan tempat yang dipilih oleh para pihak dalam JOC. Pengadilan arbitrase
Jenewa pada tanggal 18 Desember 2000 membuat putusan agar Pertamina dan PLN membayar
ganti rugi kepada KBC. Kurang lebih US$ 270.000.000. Dengan rincian, pertamina harus
membayar denda yang dihitung dari nilai ganti rugi US$ 111,1 juta dan hilangnya kesempatan
mendapatkan keuntungan (opportunity lost) US$ 150 Juta, ditambah dengan bunga 4% pertahun
sejak 2001.

Pertamina dan PLN selanjutnya melanggar kewajiban kontrak mereka terhadap KBC.
Walaupun keputusan badan arbitrase internasional sudah ditetapkan, tetapi pertamina telah
menolak untuk membayar kewajiban legalnya. Dalam merespon ini KBC melakukan upaya
hukum berupa permohonan untuk melaksanakan Putusan Arbitrase Jenewa di Pengadilan
beberapa negara dimana aset dan barang Pertamina berada, kecuali di Indonesia, yaitu:
1. Pada tanggal 21 Februari 2001, KBC meminta US District Court for The Southern Distric of
Texas untuk melaksanakan putusan arbitrase Jenewa;
2. Pengadilan Hong Kong, memutuskan mengabulkan permohonan sita jaminan KBC terhadap
aset dan barang milik Pertamina yang berada di Singapura.
3. Pengadilan Singapura, KBC meminta semua aset anak perusahaan pertamina yang berada di
Singapura, termasuk Petral.
4. Pada tanggal 30 Januari 2004, KBC meminta Hakim New York untuk menahan aset Pertamina
dan Pemerintah RI hingga1,044 miliar dolar USA. Permintaan tersebut ditolak, dan Hakim
menetapkan agar Bank Of America (BOA) dan Bank Of New York melepaskan kembali dana
sebesar US$ 350 Juta kepada pemerintah RI. Yang tetap ditahan adalah dana 15 rekening
adjudicated account di BOA sebesar US$ 296 Juta untuk jaminan.
Sehingga mendorong Pertamina untuk melakukan penolakan terhadap keputusan badan
arbitrase tersebut, yang diajukan pada Arbitrase Jenewa (Swiss), karena Pengadilan Swiss adalah
pengadilan yang berwenang untuk membatalkan putusan arbitrase Jenewa berdasarkan dua
alasan. Pertama, Pertamina dan KBC telah menentukan seat arbitrase Jenewa dibuat di Swiss.
Kedua, putusan Arbitrase Jenewa dibuat di Swiss. Namun sayang, proses ini tidak diteruskan
karena keengganan Pertamina membayar uang deposit.
Selain meminta pengadilan Swiss untuk membatalkan putusan arbitrase, upaya hukum
lainnya yang dilakukan oleh Pertamina adalah meminta penolakan pelaksanaan putusan arbitrase
Jenewa di pengadilan-pengadilan yang oleh KBC diminta untuk melakukan eksekusi serta
melakukan upaya hukum pembatalan putusan arbitrase Jenewa kepada Pengadilan Indonesia
(Pengadilan Negeri Jakarta Pusat) pada tanggal 14 maret 2002.
Namun tuntutan pertamina yang dilakukan pada tanggal 14 maret 2002 kepada pengadilan
negeri pusat Jakarta yang bertujuan untuk menghapus ganjaran arbitrase dan mencegah kegiatan
peradilan lain untuk melaksanakan keputusan tersebut bergerak maju, Sangat menyalahi
semangat serta surat persetujuan kontrak pertamina, seperti halnya aturan arbitrase komosi PBB
untuk perdagangan internasional ( aturan UNCITRAL), serta konvensi perserikatan bangsabangsa untuk pengakuan dan pelaksanaan ganjaran Arbitrase luar negeri ( konvensi new York ),
yang telah ditandatangani oleh Indonesia.
Kondisi perseteruan antara pertamina dengan KBC semakin memanas, apalagi pada tanggal
27 agustus 2007 majelis hakim yang diketuai Henry Swantoro mengabulkan gugatan tertulis
pertamina dan memerintahkan KBC untuk tidak melakukan apa pun, termasuk eksekusi putusan
arbitrase dan menetapkan denda sebesar US$ 500 ribu perhari apabila KBC tidak mengindahkan
larangan tersebut.
Tentu saja itu ditanyakan oleh Rambun tjaja (pengacara KBC di Indonesia). Berdasarkan
putusan arbitrase, bentuk pembatasan harusnya permohonan bukan gugatan, dan yang berhak
mengajukan pembatalan itu adalah arbitrase.
Menurut pengadilan distrik texas, pertamina dianggap melecehkan pengadilan (contemp of court).
Dengan kata lain, pertamina dinilai menentang otoritas pengadilan Amerika Serikat. Pasalnya,

sebelum pengadilan negeri Jakarta pusat mengabulkan gugatan privisi pertamina. Pengadilan
distrik Texas telah mengeluarkan suatu perintah penghentian sementara pertamina berpartisispasi
dalam pengadilan Jakarta.
Pertimbangan majelis hakim bahwa keputusan arbitrase internasional dianggap telah
melampaui kewenangan arbitrase sendiri. Majelis hakim juga menyatakan pengadilan negeri
Jakarta mempunyai wewenang megadili kasus gugatan pertamina untuk membatalkan hasil
arbitrase internasional. Karena pada butir ketiga keputusan tersebut, majelis hakim berpendapat
bahwa keputusan arbitrase sangat memungkinkan dengan menggunakan yurisdiksi Indonesia
sehingga kasus KBC harus menggunakan hukum berlaku di indonesia (berdasarkan konvensi
1958 yaitu New York convention).
Sehari setelah keputusan pengadilan negeri Jakarta pusat, dalam jumpa pers pihak KBC
akan mengajukan kasasi ke mahkamah agung berkaitan dengan kekalahan mereka dari pertamina
di pengadilan Jakarta pusat, karena menganggap keputusan tersebut tidak sah dan tidak memiliki
kekuatan hukum dan pihak KBC juga menilai keputusan tersebut meremehkan dasar hukum
perdagangan internasional. Putusan tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya dalam perjanjian
tentang konflik komersial. sehingga seolah tidak ada lagi perlindungan bagi penanam modal
diindonesia.
Arbitrase internasional adalah salah satu metode yang dipilih untuk penyelesaian
sengketa dalam hubungan kontrak yang berdimensi perdata internasional. Asas ketertiban umum
dalam prinsip arbitrase Internasional, penggunaan dan penerapannuya harus tetap dalam konteks
tujuan para pihak yang dituangkan dalam kontrak. Perkara Pertamina dengan Karaha Bodas
Company, seyogyanya tetap dikontes dan diuji dalam perspektif legal. Adapun kerugian yang
timbul pada satu pihak akibat kebijakan Pemerintah, hal tersebut diselesaikan dan
ditanggungjawabi oleh Pemerintah.
Dalam ketentuan Pasal 66 UU No. 30 Tahun 1999 khususnya huruf c menyatakan bahwa
Putusan Arbitrase Internasional hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan
yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum. Dan di dalam UU ini pun tidak bahas lebih
lanjut tentang apa yang disebut dengan ketertiban umum.
Namum timbul banyak pertanyaan siapakah yang berwenang menetapkan dan
menggunakan ketertiban umum ini? Dalam praktik hal yang demikian diberikan hak kepada
hakim dalam arti hakim berhak untuk menentukan apakah sesuatu hal tersebut bertentangan atau
tidak dengan ketertiban umum.
Kelompok 6 : Kasus antara Yani Haryanto (Indonesia) vs E.D & F.Man (Inggris)
Ilustrasi Kasus:
Kasus berikut ini cukup heboh dan terkenal disebabkan oleh dua faktor.Pertama,
Mahkamah Agung untuk pertama kalinya memberikan eksekutur terhadap putusan arbitrase asing
sejak MA mengeluarkan PERMA 1/1990.Kedua, dalam waktu yang tidak terlalu lama penetapan
MA tentang pemberian eksekuatur itu kemudian dibatalkan sendiri melalui putusan kasasi. Kasus
ini dikenal dengan sebutan Kasus Gula karena objek sengketa tersebut memang mengenai jual
beli gula. Selengkapnya rangkaian perjalanan permohonan eksekusi putusan arbitrase London
dalam perkara antara E.D. & F.MAN (SUGAR) Ltd., melawan Yani Haryanto, dapat disimak
berikut ini.

10

Pada tahun 1982 pengusaha Indonesia Yani Haryanto bertindak sebagai pembeli
mengadakan perjanjian jual beli gula dengan eksportir Inggris E.D. & F, Man Sugar Ltd. Sugar
quay London, sebagai penjual. Perjanjian tersebut dituangkan dalam dua bentuk kontrak dagang,
yaitu:
1) Contract for White Sugar No. 7458, tanggal 12 Februari 1982 untuk jual beli gula
sebanyak 300.000 metrik ton
2) Contract for White Sugar No. 7527, tanggal 23 Maret 1982 untuk jual beli gula sebanyak
100.000 metrik ton.
Kedua kontrak tersebut ditandatangani oleh kedua belah pihak pada bulan Februari dan
Maret 1982. Dalam kedua kontrak di atas para pihak bersepakat bahwa segala sengketa yang
terjadi dalam pelaksanaan perjanjian jual beli gula ini sepakat diselesaikan oleh suatu Dewan
Arbitrase Gula atau yang disebut The Council of the Refened Sugar Association yang
berkedudukan di London berdasarkan ketentuan dalam The Rules of the Refened Sugar
Association Relating to Arbitration.
Pelaksanaan kontrak ternyata mengalami kegagalan karena Yani Haryanto menolak
melaksanakan perjanjian jual beli tersebut dengan alasan bahwa import gula itu merupakan
kewenangan BULOG (Badan Urusan Logistik). Sedangkan perorangan tidak dibenarkan
melakukan import gula. Larangan itu tertuang di dalam:
(i)
Keputusan Presiden (Keppres) No. 43 Tahun 1971, tanggal 14 Juli 1971 tentang
Kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang pengadaan beras, gula, dan lain-lain oleh
BULOG;
(ii)
Keppres No. 39 Tahun 1978.
Ketika perjanjian disepakati kedua belah pihak tidak mengetahui kedua Keppres tersebut dan
baru diketahui setelah perjanjian hendak dilaksanakan.Atas dasar hal itu maka Yani Haryanto
membatalkan kedua perjanjian jual beli gula yang telah disepakatinya.
Akibat tindakan Yani Haryanto membatalkan perjanjian jual beli yang telah disepakati, maka
E.D. & F. Man Sugar Ltd. sebagai pihak eksportir gula di London menuntut ganti
kerugian.Sengketa ini di Inggris ditangani oleh The English High Court London. Kemudian The
English Court of Appeal London yang memberi putusan bahwa sesuai dengan kontrak yang
disepakati, maka yang berwenang menyelesaikan sengketa ini adalah Dewan Arbitrase Gula yang
disebut The Council of the Refened.Sugar Association di London.
Walaupun penyelesaian sengketa itu diperintahkan untuk diajukan kepada Dewan Arbitrase
Gula tersebut tetapi tidak sempat diajukan. Para pihak lain Yani Haryanto (sebagai Penggugat)
mengajukan gugatan perdata kepada E.D. & F. Man Sugar Ltd., London (sebagai Tergugat)
melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk membatalkan pelaksanaan perjanjian jual beli gula
dimaksud.
Dalil yang dikemukakan Penggugat di dalam gugatan antara lain: Karena ada larangan dari
pemerintah mengenai import gula oleh perorangan, artinya perjanjian jual beli gula tersebut
mengandung causa/sebab yang dilarang oleh peraturan, sehingga menjadi batal demi hukum.
Setelah melalui rangkaian pemeriksaan dan pembuktian, akhirnya PN Jakarta Pusat dengan
Putusan Nomor 499/Pdt/G/VI/1988/PN.JKT.PST. Memutuskan memenangkan Yani Haryanto
selaku Penggugat dan membatalkan dengan segala akibat hukumnya Contract for White Sugar

11

No. 7458, tanggal 12 Februari 1982 dan Contract for White Sugar No. 7527, tanggal 23 Maret
1982.
Dalam tingkat banding Pengadilan Tinggi Jakarta telah menjatuhkan putusan dalam perkara
antara E.D. & F. Man Sugar Ltd., London.(Pembanding semula Tergugat) melawan Yani
Haryanto (Terbanding semula Penggugat). Melalui putusan No. 486/Pdt/1989/PT.DKI, tanggal 14
Oktober 1989 Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan putusan PN Jakarta Pusat tanggal 29 Juni
1989 No. 499/Pdt/G/1988/PN.Jkt.Pst. yang dimohonkan banding tersebut.
Tidak puas terhadap kedua putusan pengadilan rendahan sebelumnya, E.D. & F. Man Sugar
Ltd., London (Pembanding semula Tergugat) mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah
Agung. Pada dasarnya Mahkamah Agung memberikan putusan No. 1205 K/Pdt/1990, tanggal 4
Desember 1991 yang intinya menolak permohonan kasasi yang diajukan oleh E.D. & F. Man
Sugar Ltd., London.
Oleh karena dalam catatan sejarah hukum perdata Indonesia, penetapan exequatur dari MA
untuk putusan arbitrase asing terhitung yang pertama kalinya.Setidaknya sejak MA membuat
peraturan tata-cara pelaksanaan putusan arbitrase asing, PERMA 1/1990, tanggal 1 Maret 1990.
Menyusul Penetapan Mahkamah Agung RI No. 1/Pen/Exr/Arb.Int/Pdt/1991, tanggal 1 Maret
1991 yang mengabulkan permohonan exequatur, Wakil Ketua MA Purwoto S. Gandasubrata
mengemukakan pendapat bahwa, Pelaksanaan putusan arbitrase tersebut tidak bertentangan
dengan ketertiban umum, dalam hal ini tata hukum dan kepentingan nasional Indonesia.
Pada kasus diatas, ditemukan bahwa terdapat fakta-fakta bahwa:
1. Bahwa perjanjian yang dibuat kedua belah pihak pada dasarnya bertentangan dengan
ketertiban umum di Indonesia yang menyatakan bahwa gula termasuk dalam salah satu bahan
pokok yang harus dikelola negara melalui Badan Urusan Logistik. ( KepPres No. 43 Tahun
1971 dan KepPres No. 39 Tahun 1978)
2. Bahwa putusan pengadilan negeri dan tinggi serta Mahkamah Agung menyatakan bahwa
perjanjian tersebut batal demi hukum karena syarat objektif dari perjanjian tersebut
bertentangan dengan undang-undang dan ketertiban umum di Indonesia
3. bahwa setiap keputusan badan arbitrase internasional meskipun telah bulat namun
pelaksanaannya tetap tunduk pada hukum acara dari negara yang bersangkutan, dan dalam
hal ini ialah negara Indonesia.
4. Indonesia menilai bahwa Gula merupakan bahan pokok yang harus diurus oleh negara bukan
perorangan sesuai dengan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia yang pada
pasal 33 (2) menyatakan bahwa sector-sektor penting yang mengenai hajat orang banyak
dikuasai oleh pemerintah.
Dalam kasus diatas, meskipun Pengadilan Negeri, Tinggi dan Mahkamah Agung tetap
memutuskan bahwa perjanjian antara Yani Haryanto dan E.D & F.Man batal demi hukum namun
dilihat dari lima pertimbangan Mahkamah Agung diatas terlihat bahwa dalam memutus perkara
ini Mahkamah Agung tetap memperhatikan adanya keberlakukan hukum asing sebagai salah satu
hal yang menentukan.
Mahkamah Agung menilai bahwa meskipun keputusan Badan Arbitrase Internasional
mendapatkan adanya Exequator namum dalam pelaksanaan putusan tersebut tetap saja hal itu
bertentangan dengan ketertiban umum negara Indonesia yang tertuang dalam UUD 1945.Dalam
hal ini terlihat bahwa pemakaian lembaga ketertiban umum oleh Mahkamah Agung tidak serta
merta dilakukan tanpa terlabih dahulu mempertimbangkan hukum asing yang ada

12

didalamnya.Mahkamah Agung tetap memperhatikan adanya putusan asing dalam pelaksanaan hal
tersebut.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada kasus ini, lembaga ketertiban umum Indonesia
dipakai dalam rangka mempertahankan mandat dari UUD 1945 dan juga kepentingan orang
banyak karena jika sampai gula dapat dikuasai perorangan maka dapat dipastikan bahwa akan
banyak pihak terutama rakkyat kecil yang akan dirugikan oleh hal tersebut. Lembaga ketertiban
umum dipakai dalam keadaan yang dipandang sangat perlu oleh pemerintah.
Secara penerapannya, terlihat bahwa Mahkamah Agung menerapkan Konsepsi Ketertiban
Umum yang dipakai oleh Jerman.Bahwa lemabaga Ketertiban Umum ini hanya dipakai dalam
keadaan yang sangat perlu saja, tidak bisa dipakai secara tergesa-gesa seperti Perancis dan
Italia.Bahwa dalam setiap pemakaian ketertibang umum perlu dilihat dahulu bagaimana kaidah
hukum asing yang tersangkut didalamnya dan bagaimana juga pengakuan negara terhadap
putusan asing tersebut.Baru dikaitkan dengan sendi-sendi pokok negara apakah kaidah asing itu
bertentanganatau tidak.Setelah itu baru dapat diambil putusan bagaimana kaidah asing tersebut
apakah relevant atau irrelevant untuk dilaksanakan berdasarkan ketertiban umum negara yang
bersangkutan.
Kelompok 7 :
Tuduhan Praktek Dumping yang Dilakukan Indonesia Pada Sengketa Anti-dumping Produk
Kertas dengan Korea Selatan
Indonesia sebagai negara yang melakukan perdagangan internasional dan juga anggota dari
WTO, pernah mengalami tuduhan praktek dumping pada produk kertas yang diekspor ke Korea
Selatan. Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea Selatan mengajukan petisi anti-dumping
terhadap produk kertas Indonesia kepada Korean Trade Commission (KTC) pada 30 September
2002. Perusahaan yang dikenakan tuduhan dumping adalah PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk, PT.
Pindo Deli Pulp & Mills, PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan April Pine Paper Trading Pte
Ltd.
B. Fakta-Fakta Hukum
Para Pihak
a. Penggugat : Indonesia
b. Tergugat : Korea Selatan
Objek Sengketa
Produk kertas Indonesia yang dikenai tuduhan dumping mencakup 16 jenis produk,
tergolong dalam kelompok uncoated paper and paper board used for writing, printing, or other
graphic purpose serta carbon paper, self copy paper and other copying atau transfer paper.
Kronologis Kasus

Korea Selatan mengajukan petisi anti-dumping terhadap produk kertas Indonesia kepada
Korean Trade Commission (KTC) pada 30 September 2002.
Perusahaan yang dikenakan tuduhan dumping adalah PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk,
PT. Pindo Deli Pulp & Mills, PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan April Pine Paper
Trading Pte Ltd.

13

Pada Mei 2003 Korea Selatan memberlakukan BM (bea masuk) anti dumping atas produk
kertas Indonesia, namun pada November 2003 mereka menurunkan BM anti dumping
terhadap produk kertas Indonesia ke Korsel. Tepatnya pada 9 Mei 2003 KTC mengenai
Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) sementara dengan besaran untuk PT Pabrik Kertas
Tjiwi Kimia Tbk sebesar 51,61 persen, PT Pindo Deli 11,65 persen, PT Indah Kiat 0,52
persen, April Pine dan lainnya sebesar 2,80 persen.
Kemudian Pada 7 November 2003, KPC menurunkan BMAD untuk PT Pabrik Kertas
Tjiwi Kimia Tbk, PT Pindo Deli dan PT Indah Kiat masingmasing sebesar 8,22 persen,
serta untuk April Pine dan lainnya 2,8 persen.
Pada 4 Juli 2004, Indonesia dan Korea Selatan mengadakan konsultasi bilateral akan
tetapi tidak mencapai kesepakatan.
27 September 2004, Disputes Settlement Body WTO membentuk Panel. Pihak yang
berpartisipasi diantaranya Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China dan Kanada.
1-2 Februari 2005, diselenggarakan Sidang Panel kesatu.
30 Maret 2005, diselenggarakan Sidang Panel kedua.
28 Oktober 2005, Panel Report.

Gugatan Indonesia
Korea Selatan melanggar beberapa pasal dalam perjanjian WTO, antara lain :
Pasal VI GATT 1994, inter alia, Pasal VI : 1, VI : 2 dan VI : 6; Pasal 1, 2.1, 2.2, 2.2.1.1, 2.2.2,
2.4, 2.6, 3.1, 3.2, 3.4, 3.5, 4.1(i), 5.2, 5.3, 5.4, 5.7, 6.1.2, 6.2, 6.4, 6.5, 6.5.1, 6.5.2, 6.7, 6.8, 6.10,
9.3, 12.1.1(iv), 12.2, 12.3 Annex I, dan ayat 3, 6 dan 7, Annex II tentang Anti-Dumping
Agreement (ADA).
Panel Report
1. KTC telah melanggar ketentuan WTO dalam hal penentuan margin dumping bagi
beberapa perusahaan Indonesia.
2. Korea Selatan telah melanggar ketentuan WTO dengan menolak data dari dua perusahaan
kertas Indonesia.
3. Dalam hal ini, Panel hanya memeriksa kasus hukum ekonomi berdasarkan klaim utama
yang diajukan oleh Indonesia.
4. Panel menolak permohonan Indonesia agar Panel membatalkan tindakan anti-dumping
yang dilakukan oleh Korea Selatan
Permasalahannya adalah bagaimana kesesuaian langkah penyelesaian sengketa anti dumping
yang dilakukan oleh Indonesia dengan ketentuan GATT/WTO? ban bagaimana prosedur
penetapan batas margin Bea Masuk Anti-Dumping yang ditentukan oleh KTC?
Pengaturan dalam Hukum Nasional
Pengaturan anti-dumping dalam hukum nasional Indonesia sebagai tindak lanjut dari
ratifikasi Persetujuan pembentukan WTO melalui UU Nomor 7 Tahun 1994 ternyata belum
terdapat pengaturannya. Sehingga dalam hukum nasional di Indonesia diatur dalam :
1. UU No. 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan
2. Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1996 tentang Bea Masuk Anti-Dumping dan Bea
Masuk Imbalan

14

3. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor : 430/MPP/Kep/9/1999


tentang Komite Antidumping Indonesia dan Tim Operasional Antidumping
4. Surat Edaran Dirjen Bea dan Cukai No. SE-19/BC/1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemungutan Bea Masuk Anti Dumping/Sementara.
Kriteria Dumping yang Dilarang oleh WTO
Kriteria dumping yang dilarang oleh WTO adalah dumping oleh suatu negara yang :
1. Harus ada tindakan dumping yang LTFV (less than fair value)
2. Harus ada kerugian material di negara importer
3. Adanya hubungan sebab akibat antara harga dumping dengan kerugian yang terjadi.
Seandainya terjadi dumping yang less than fair value tetapi tidak menimbulkan kerugian,
maka dumping tersebut tidak dilarang.
Penyelesaian Sengketa
Dalam kasus dumping kertas yang dituduhkan oleh Korea Selatan terhadap Indonesia
pada perusahaan eksportir produk kertas diantaranya PT. Indah Kiat Pulp and Paper Tbk, PT.
Pindo Deli Pulp and Mills, dan PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, serta April Pine Paper
Trading Pte. Ltd, Indonesia berhasil memenangkan sengketa anti-dumping ini. Indonesia telah
menggunakan haknya dan kemanfaatan dari mekanisme dan prinsip-prinsip multilateralisme
sistem perdagangan WTO terutama prinsip transparansi.
Indonesia untuk pertama kalinya memperoleh manfaat dari mekanisme penyelesaian
sengketa atau Dispute Settlement Mechanism (DSM) sebagai pihak penggugat utama (main
complainant) yang merasa dirugikan atas penerapan peraturan perdagangan yang diterapkan oleh
negara anggota WTO lain. Indonesia mengajukan keberatan atas pemberlakuan kebijakan antidumping Korea ke DSM dalam kasus Anti-Dumping untuk Korea-Certain Paper Products.
Pada tanggal 4 Juni 2004, Indonesia membawa Korea Selatan untuk melakukan
konsultasi penyelesaian sengketa atas pengenaan tindakan anti-dumping Korea Selatan terhadap
impor produk kertas asal Indonesia. Hasil konsultasi tersebut tidak membuahkan hasil yang
memuaskan kedua belah pihak. Indonesia kemudian mengajukan permintaan ke DSB WTO agar
Korea Selatan mencabut tindakan anti-dumpingnya yang melanggar kewajibannya di WTO dan
menyalahi beberapa pasal dalam ketentuan Anti-Dumping. Pada tanggal 28 Oktober 2005, DSB
WTO menyampaikan Panel Report ke seluruh anggota dan menyatakan bahwa tindakan antidumping Korea Selatan tidak konsisten dan telah menyalahi ketentuan Persetujuan AntiDumping. Kedua belah pihak yang bersengketa pada akhirnya mencapai kesepakatan bahwa
Korea harus mengimplementasikan rekomendasi DSB dan menentukan jadwal waktu bagi
pelaksanaan rekomendasi DSB tersebut (reasonable period of time/RPT).
Namun sangat disayangkan hingga kini Korea Selatan belum juga mematuhi keputusan
DSB, meskipun telah dinyatakan salah menerapkan bea masuk antidumping (BMAD) terhadap
produk kertas dari Indonesia, karena belum juga mencabut pengenaan bea masuk anti-dumping
tersebut. Padahal Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement Body/DSB) Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO) telah menyatakan Korea Selatan melakukan kesalahan prosedur
dalam penyelidikan anti-dumping kertas Indonesia pada 2003. Untuk itu DSB meminta Korea
Selatan segera menjalankan keputusan ini.

15

Pengenaan tuduhan dumping kertas melanggar ketentuan anti-dumping dan beberapa


ketentuan Pasal VI GATT. Namun hal ini tidak berarti perusahaan Indonesia tidak melakukan
dumping produk kertas, Panel menyatakan adanya kesalahan Korea Selatan dalam membuktikan
kerugian serta penghitungan marjin anti-dumping.
Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea Selatan mengajukan petisi anti dumping
terhadap produk kertas Indonesia kepada Korean Trade Commission (KTC) pada 30 September
2002. Perusahaan Indonesia yang dikenakan tuduhan dumping adalah PT Indah Kiat Pulp &
Paper Tbk, PT Pindo Deli Pulp & Mills, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, dan April Pine Paper
Trading Pte Ltd. Korea dan Indonesia, sebagai anggota WTO, mengupayakan penyelesaian
sengketa berdasarkan langkah-langkah yang telah diatur di WTO. Panel DSB (Dispute Settlement
Body) menilai Korsel telah melakukan kesalahan dalam upaya membuktikan adanya praktik
dumping kertas dari Indonesia.
Investigasi anti-dumping juga harus dihentikan jika fakta dilapangan membuktikan
bahwa marjin dumping dianggap tidak signifikan (dibawah 2% dari harga ekspor) .Dan jika
volume impor dari suatu produk dumping sangat kecil volume impor kurang dari 3% dari jumlah
ekspor negara tersebut ke negara pengimpor, tapi investigasi juga akan tetap berlaku jika produk
dumping impor dari beberapa negara pengekspor secara bersamaan diperhitungkan berjumlah 7%
atau lebih.
Kelompok 8:
Studi Kasus Sengketa Merek Dagang LOTTOSengketa Merek Dagang LOTTO
Awal mula kasus persengketaan merek ini yaitu pada tahun 1984 Direktorat Patendan Hak
Cipta Departemen Kehakiman menerima pendaftaran merek LOTTO yang
diajukan oleh Hadi Darsono untuk jenis barang handuk dan sapu tangan
d e n g a n N o . 187.824 pada tanggal 6/11/1984, pendaftaran merek LOTTO untuk kedua barang
tersebuttercantum dalam tambahan Berita Negara RI No. 8/1984 tanggal 25/5/1987. Sedangkan
Merek LOTTO pertama kali dipopulerkan di Indonesia yaitu oleh Newk Plus Four Fast East
(PTE) Ltd, yang berkantor pusat di 60 B Martin Road 05-05/06 Singapore, Warehouse Singapore
ini telah terdaftar di Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman tanggal 29/6/1979
Penggunaan merek LOTTO oleh Hadi Darsono hampir sama dengan
merek yang digunakan pada barang-barang produksi PTE Ltd.Walaupun Hadi menggunakan
merek LOTTO untuk barang-barang yang tidak termasuk dalam produk-produk Newk Plus
Four Far East (PTE) Ltd., namun kesamaan merek LOTTO tersebut dinilai amat
merugikannya.
Di dalam kasus LOTTO ini, LOTTO Singapura memiliki bukti. Memiliki nomor
pendaftaran merek dari Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman dengan
pendaftaran No. 137430, yang diajukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Terdapat
kelalaian yang dilakukan oleh Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman dengan
memberikan nomor pendaftaran juga kepada LOTTO Indonesia.
Setelah pengajuan perkara LOTTO Singapura ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat dengan alasan bukti kasus tersebut tidak kuat, akhirnya LOTTO Singapura mengajukan
permohonan kasus kepada Mahkamah Agung. Tidak hanya menuntut LOTTO milik Hadi
Darsono ( Tergugat I ), mereka juga menuntut Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman bagian merek ( Tergugat II ) karena telah lalai memberikan nomor pendaftaran merek

16

kepada perusahaan yang namanya sama tetapi berbeda usaha barangnya setelah perusahaan
pertama mendaftarkan mereknya kepada Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman.
Setelah memeriksa perkara ini Mahkamah Agung dalam putusannya berpendirian bahwa
judex facti salah menerapkan hukum, Pengadilan Negeri mengesampingkan kenyataan bahwa
Penggugat adalah pemakai pertama dari merek LOTTO di Indonesia. Ini merupakan syarat
mutlak untuk mendapatkan perlindungan hukum menurut UU Merek No. 21 tahun 1961.
Sementara itu, Tergugat I tidak dapat mengajukan bukti-bukti yang sah dengan tidak dapat
membuktikan keaslian bukti-bukti yang diajukannya.
Sehingga putusannya harus dibatalkan selanjutnya, Mahkamah Agung akan mengadili
sendiri perkara ini. Pendirian Mahkamah Agung tersebut di dasari oleh alasan juridis yang intinya
sebagai berikut :
1. Newk Plus Four Far East Ltd, Singapore telah mendaftarkan merek LOTTO di Direktorat
Paten & Merek Departemen Kehakiman RI tanggal 29/6/1976 dan 4-3-1985.
2. Merek LOTTO secara umum telah terkenal di kalangan masyarakat sebagai merek
dagang dari luar negeri. Merek tersebut mempunyai ciri umum untuk melengkapi seseorang yang
berpakaian biasa atau berkaitan olah raga beserta perlengkapannya.
3. Merek LOTTO, yang didaftarkan Tergugat I adalah jenis barang handuk dan
saputangan, pada 6 Oktober 1984.
4. Mahkamah Agung berpendapat, walaupun barang yang didaftarkan Tergugat I berbeda
dengan yang didaftarkan Penggugat, tetapi jenis barang yang didaftarkan Tergugat I tergolong
perlengkapan berpakaian seseorang. Dengan mendaftarkan dua barang yang termasuk dalam
kelompok barang sejenis kelengkapan berpakaian seseorang dengan merek yang sama, dengan
kelompok barang yang telah didaftarkan lebih dahulu, Mahkamah Agung menyimpulkan
Tergugat I ingin dengan mudah mendapatkan keuntungan dengan cara menumpang keterkenalan
satu merek yang telah ada dan beredar di masyarakat. Hal ini berarti Tergugat I dalam prilaku
perdagangannya yaitu menggunakan merek perniagaan yang telah ada merupakan perbuatan yang
bersifat tidak jujur, tidak patut atau tidak mempunyai itikad baik.
Dengan pertimbangan tersebut di atas, akhirnya Mahkamah Agung memberikan putusan
yang amarnya sebagai berikut:
1. Mengadili:
2. Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
3. Mengadili Sendiri :
1) Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya.
2) Menyatakan Penggugat sebagai pemakai pertama di Indonesia atas merek dagang

3)

LOTTO dan oleh karena itu, mempunyai hak tunggal/khusus untuk memakai
merek tersebut di Indonesia.
Menyatakan bahwa merek LOTTO milik Tergugat I yaitu yang didaftarkan
pada Tergugat II dengan nomor registrasi 87824 adalah sama dengan merek
Penggugat baik dalam tulisan, ucapan kata, maupun suara, dan oleh karena itu
dapat membingungkan, meragukan serta memperdaya khalayak ramai tentang
asal-usul dan kualitas barang.

17

Menyatakan pendaftaran merek dengan registrasi 187824 dalam daftar umum


atas nama Tergugat I batal, dengan segala akibat hukumnya.
5) Memerintahkan Tergugat II untuk mentaati putusan ini dengan membatalkan
pendaftaran merek dengan nomor registrasi 197824 dalam daftar umum.
4)

Menjadi bahan pertimbangan baru bahwa apabila terdapat merek yang sama, ada yang
meniru merek atau yang disebut dengan numpang tenar. Tidak sepenuhnya adalah kesengajaan
atau kesalahan dari pelaku di dunia perdagangan bisa juga karena kesalahan dari pihak yang
memeriksa dan memberikan perlindunagn atas merek itu sendiri.
Dalam kasus ini jika terjadi kekeliruan dari Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman bagian merek karena telah memberikan nomor registrasi kepada Hadi Darsdono
untuk menggunakan merek LOTTO yang sebenarnya telah terdaftar di Indonesia pada tahun
tanggal 29/6/1976 dan 4-3-1985. Menurut data yang kami dapatkan, hal ini dikarenakan oleh
Direktorat Paten dan Hak Cipta Departmen Kehakiman kurang teliti dalam mengecek akan merek
LOTTO tersebut.
Gugatan yang diajukan oleh Singapura kepada Mahkamah Agung mendapatkan keputusan
yang terbaik untuk Singapura, karena dalam kasus ini Singapura memberikan bukti-bukti yang
jelas kepada Mahkamah Agung dengan menunjukkan surat-surat , dan bukti pembayaran yang
telah Ia dapatkan dari Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen Kehakiman bagian merek
pada tahun 1976 dan 1985. Sementara Hadi Darsono didapati mempunyai maksud yang tidak
baik, dengan mendaftarkan LOTTO kepada Direktorat Paten dan Hak Cipta Departemen
Kehakiman bagian merek, Hadi Darsono ingin dengan mudah mendapatkan keuntungan dengan
cara menumpang keterkenalan satu merek yang telah ada dan beredar di masyarakat. Hal ini
berarti Hadi Darsono selaku Tergugat 1 dalam prilaku perdagangannya yaitu menggunakan merek
perniagaan yang telah ada merupakan perbuatan yang bersifat tidak jujur, tidak patut atau tidak
mempunyai itikad baik.
Selain dibutuhkan informasi yang up to date mengenai dunia perdagangan khusunya
mengenai merek agar tidak terjadi kesalahan. Juga dibutuhkan kesadaran untuk berlaku jujur
dalam mencari keuntungan disertai dengan perberlakuan hukum yang adil dan memungkinkan
juga dilakukan pembaharuan aturan yang ada dengan aturan yang baru. Juga dalam penegakannya
para aparat hukum haruslah bertindak lebih teliti lagi agar tidak terjadi kesalahan lagi dan juga
harus bertindak adil.
Kelompok 9
Sengketa Mobil Nasional Timor di WTO
Awalnya, mobil Maleo yang diarsiteki oleh B.J. Habibie pada tahun 1996 diancang-ancang
menjadi mobil nasional Indonesia yang terjangkau dengan patokan harga ditarget tidak lebih dari
Rp 30 juta. Untuk mencapai target, Habibie merancangnya mulai dari mesin yang berkapasitas
1300 cc dan komponen lokal di atas 80%. Guna mematangkan rencana tersebut, Habibie
menggandeng pabrikan mobil dari Australia untuk melakukan riset dengan satu unit mobil
sebagai contoh dan akhirnya dihasilkan. Namun, dana untuk proyek itu, kemudian tersedot oleh

18

proyek mobnas Timor milik Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), sehingga proyek mobnas
Maleo pun terhenti. Surat Instruksi Presiden No. 2 Tahun 1996 tentang Program Mobil Nasional
dikeluarkan untuk memperbaiki sistem deregulasi untuk menyambut adanya pasar bebas tahun
2003. PT Timor Putra Nasional yang bermitra dengan KIA Motors dari Korea Selatan adalah
perusahaan pertama yang mendapatkan pembebasan bea masuk barang mewah melalui program
ini. PT TPN dipercaya untuk memproduksi mobil nasional yang bernama Timor (akronim dari
Teknologi Industri Mobil Rakyat).
Kemudian, Mobil Timor menjadi perdebatan karena banyak memperoleh perlakuan istimewa
dari pihak pemerintah Indonesia dan dianggap telah melanggar prinsip-prinsip perdagangan bebas
serta mengundang reaksi dari Jepang, Amerika Serikat serta beberapa negara Eropa. Jepang
memang yang mengadukan Indonesia ke WTO secara resmi pada 4 Oktober 1996 atas dasar
kepentingannya, namun negara-negara lain yang telah disebut sebelumnya ikut bereaksi karena
negara-negara tersebut berencana menanamkan investasi dalam industri otomotif Indonesia.
Adapun tuduhan yang diarahkan Jepang terhadap Indonesia terdiri dari 3 poin, yaitu:
- Perlakuan khusus impor mobil dari KIA Motor Korea yang hanya memberi keuntungan
pada satu negara. Kebijakan ini melanggar Pasal 10 General Agreement on Traffis and
Trade (GATT) mengenai perlakuan bebas tarif masuk barang impor.
- Perlakuan bebas pajak atas barang mewah yang diberikan kepada produsen mobil
nasional selama dua tahun. Kebijakan ini melanggar Pasal 3 ayat (2) GATT.
- Menghendaki perimbangan muatan lokal seperti insentif, mengizinkan pembebasan tarif
impor, dan membebaskan pajak barang mewah merupakan pelanggaran sesuai dalam
pasal 3 ayat 1 GATT dan pasal 3 kesepakatan perdagangan multilateral
Upaya untuk melakukan penyelesaian masih diusahakan dengan bentuk negosiasi antara
kedua negara dengan mengirimkan menterinya namun kembali lagi tidak menghasilkan
kesepakatan. Karenanya, pada tanggal 4 Oktober 1996 Jepang resmi mengadukan Indonesia
kepada WTO melalui Menteri Industri dan Perdagangan Internasional dengan didasarkan pada
pasal 22 ayat 1 peraturan GATT. Pengaduan Jepang pada WTO bukan berarti Jepang tidak
menyadari keinginan Indonesia untuk bisa mandiri dalam hal industri otomotif, Jepang sangat
menyadari keinginan Indonesia selama tidak melanggar aturan GATT dan WTO.
Jepang berkeinginan untuk menyelesaikan masalah sengketa dagang ini sesuai dengan aturan
WTO dan kesepakatan perdagangan multilateral yang apabila hingga jangka 6 bulan belum dapat
diselesaikan, oleh Jepang, perkara ini akan dibawa ke majelis yang lebih tinggi. Pada
kenyataannya, perkara ini hingga waktu 6 bulan belum menemukan kejelasan dan menggiring
Jepang untuk benar-benar membawanya ke majelis yang lebih tinggi yaitu ke panel WTO melalui
pembentukan Dispute Settlement Body (DSB) atau sidang bulanan badan penyelesaian sengketa
yang diharapkan Jepang dapat memecahkan masalah dengan jalan yang adil.
Penyelesaian Sengketa
DSB yang diharapkan Jepang dapat menyelesaikan perkara ini membentuk panel
beranggotakan 3-5 orang yang bertugas memeriksa pengaduan dan saksi-saksi. Lama kerja panel
ini adalah 6 bulan, setelah 6 bulan panel akan mengeluarkan rekomendasi yang selanjutnya
diserahkan pada DSB dan baru akan disahkan setahun kemudian oleh DSB selaku majelis tinggi
WTO.
Indonesia bergabung dengan World Trade Organization (WTO) secara resmi dengan
meratifikasi konvensi WTO dalam UU No.7 tahun 1994 dan secara hukum terikat pada ketentuan
General Agreements on Tariff and Trade (GATT). Berkaitan dengan hal itu Indonesia telah

19

melanggar beberapa prinsip GATT dalam kebijakan mengenai Mobnas Timor. Prinsip yang
dilanggar tersebut ialah:
-Prinsip National Treatment, Artikel III, Paragraf ke-4 GATT 1994 yaitu tentang kewajiban
negara untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua investor asing.
-Prinsip Penghapusan Hambatan Kuantitatif, Artikel XI, Paragraf ke-1 GATT 1994.
Pemerintah Indonesia telah jelas melanggar ketentuan GATT dan WTO, misalnya melanggar
ketentuan keharusan investor menggunakan bahan baku, bahan setengah jadi, komponen dan
suku cadang produksi dalam negeri dalam proses produksi otomotif dalam negeri, yang dalam
industri otomotif Indonesia, ketentuan ini dikenal sebagai persyaratan kandungan lokal.
Berdasarkan ketentuan GATT yang diimplementasikan dalam aturan aturan Trade Related
Investment Measures, kebijakan persyaratan kandungan lokal merupakan salah satu kebjakan
investasi yang harus dihapus karena menghalangi perdagangan internasional, ketentuan
kandungan lokal sebenarnya merupakan suatu hambatan perdagangan non tariff yang dalam
GATT tidak dapat ditolerir.
Atas pelanggaran yang dilakukan Indonesia tersebut, yaitu prinsip National Treatment dan
kebijakan mobnas yang dinilai tidak sesuai dengan spirit perrdagangan bebas yang diatur WTO,
WTO kemudian menjatuhkan subsidi serta segala kemudahan yang diberikan PT Timor Putra
Nasional selaku produsen dan subjek hukum dengan pertimbangan bahwa:
-Penghapusan bea masuk dan penghapusan pajak barang mewah yang mulanya hanya diberikan
pada PT. Timor Putra Nasional merupakan bentuk diskiriminasi dalam hukum dan merugikan
para investor yang sudah lebih dulu menanamkan modalnya dan melakukan usaha produksi di
Indonesia. Logikanya ketika hal ini dilakukan maka biaya produksi mereka akan naik sehingga
membuat harga jual mobil Timor menjadi rata- rata (sama dengan harga jual mobil buatan negara
lain yang dijual di Indonesia). Hal tersebut tidak akan mengancam posisi investor asing karena
sama-sama menggunakan harga jual yang standar.
-Penghapusan kebijakan pemerintah tentang ketentuan Persyaratan Kandungan Lokal (bentuk
non-tariff) yang dinilai sebagai tindakan pemerintah untuk memproteksi pasar dalam negeri dari
tekanan pasar asing. Dalam kasus ini, pemerintah melakukan proteksi pasar agar mobnas tidak
kalah bersaing dengan mobil buatan luar negeri supaya perdagangan internasional dapat berjalan
secara adil dan tercipta iklim persaingan yang sehat.
Atas pelanggaran yang dilakukan Indonesia terhadap aturan WTO dan keputusan WTO yang
mengharuskan Indonesia untuk menghapus pembebasan bea masuk dan penghapusan pajak
barang mewah yang diberikan pemerintah Indonesia terhadap PT Timor Putra Nasional nyatanya
akan berdampak terhadap penjualan Mobil Nasional Timor sendiri.
Perbaikan kebijakan tersebut membuat Mobil Nasional Timor menjadi terancam bangkrut.
Angka penjualan merosot dan banyak sekali mobil yang tersimpan dalam gudang Kerawang dan
Cengkareng yang jumlahnya sekitar 15.000 unit pada tahun berikutnya.
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa WTO sebagai lembaga
perdagangan internasional telah cukup baik dalam mengimplementasikan peraturan yang telah
disusun sedemikian rupa dan menerapkan hukum bagi negara yang melanggar aturan tersebut
yaitu Indonesia yang diadukan oleh Jepang ke WTO dalam kasus Mobil Nasional Timor karena
dinilai tidak sesuai dengan prinsip perdagangan internasional dan mengancam Jepang yang telah
menguasai pasar otomotif Indonesia hingga 90%.

20

Mau tidak mau, keputusan WTO tersebut akan berpengaruh terhadap penjualan mobnas
Timor sendiri yang akan menurun karena harganya akan lebih tinggi dari sebelumnya. WTO
dalam keputusannya telah berusaha menghapus hambatan perdagangan non tariff yaitu
kandungan lokal yang diterapkan pemerintah untuk memproteksi pasar dalam negeri dari pasar
asing. WTO berupaya dengan dihapusnya hal tersebut maka persaingan yang sehat dapat
terwujudkan, bukan hanya menguntungkan salah satu negara saja. Tapi juga produsen mobil asing
dari negara lain.
Kelompok 10 : Hukum Perdagangan (Perkara Sengketa Perdagangan antara Trading
Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie Brothers)
Perkara antara Trading Corporation of Pakistan Limited dengan PT Bakrie and Brothers
terjadi pada tahun 1981, ketika putusan arbitrase internasional dari badan arbitrase Inggris
diminta melaksanakan eksekusi di Indonesia oleh pihak yang bersengketa. Pakistan Trading
Company, Ltd. Mengajukan sengketa tersebut kepada badan arbitrase Inggris yakni Federation of
Oils, Seed and Fats Association, Ltd. dengan dasar bahwa PT Bakrie Brothers telah melanggar isi
kontrak perjanjian perdagangan antara kedua belah pihak, dan juga menolak untuk membayar
ganti rugi.
Pada tanggal 8 September 1981, Badan Arbitrase Inggris Federation of Oils, Seed and
Fats Association, Ltd (FOSFA) melalui putusan nomor 2282 memutuskan bahwa pihak Bakrie
Brothers harus membayar ganti rugi sebesar US$ 18510,74 berdasarkan Convention on The
Recognition and Enforcement of Forein Arbitral Awards. Sebagai kelanjutan dari hasil putusan
badan arbitrase Inggris tersebut, Pakistan Trading Company, Ltd melakukan permohonan kepada
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk dapat melaksanakan putusan itu. Permohonan itu
diajukan dengan dasar: 1) Indonesia telah meratifikasi Konvensi New York 1958 (Keppres
34/1981); 2) Kepres 34/1981 berlaku secara resiprositas antara negara-negara yang telah
meratifikasi Konvensi New York dan Inggris adalah satu satu anggota Konvensi New York.
Akan tetapi, permohonan Pakistan Trading Company, Ltd ditolak oleh Pengadilan
Negeri Jakarta Selatan malalui putusan 64/pdt/G/1984/PN.JKT.SEL, dengan menyatakan bahwa
putusan arbitrase tersebut tidaklah sah karena putusan tersebut dikeluarkan di Inggris, sedangkan
menurut asas resiprositas yang tercantum dalam Keppres 34/1981, Inggris tidak berhak untuk
memutuskan perkara arbitrase ini, sebab negara yang saling berhubungan (contracting states)
adalah Indonesia dan Pakistan, bukan Indonesia dan Inggris. Pertimbangan lainnya adalah bahwa
keputusan tersebut bertentangan dengan prosedur pengambilan putusan oleh badan arbitrase
dimana pihak Bakrie Brothers tidak diberikan kesempatan untuk membela diri sebagaimana
diatur dalam Pasal V (3) Konvensi New York.
Penolakan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, membuat Pakistan Trading Company, Ltd
mengajukan upaya hukum selanjutnya hingga upaya kasasi, namun permohonan kasasi tersebut
ditolak oleh Mahkamah Agung, karena menurut Mahkamah Agung keputusan Judex Facti
tersebut tidak bertentangan dengan Pasal 10 (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970, dan
Pasal 30 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985, Pasal 636 RV, 637 RV, 639 RV, 642 RV. Selain
itu, Award of Arbitration No. 2882 dinilai tidak berkekuatan hukum sehingga tidak dapat
dilaksanakan.

21

Analisa Kasus
Pada kasus ini, Trading Corporation of Pakistan Limited menganggap memiliki hak untuk
menentukan badan arbitrasenya, yaitu Badan Arbitrase Inggris Federation of Oils, Seed and Fats
Association, Ltd (FOSFA). Pilihan tersebut juga didasari kepada isi dari Convention on the
Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards, yang menyatakan bahwa pihak diluar
yang bersengketa dapat dipilih menjadi badan arbitrase. Oleh sebab itu meskipun yang
bersengketa ialah perusahaan Pakistan dan Indonesia, arbitrase dapat dilakukan di kota London.
Secara spesifik pernyataan tersebut dicantumkan dalam Pasal V (1) dan (2) Konvensi New York.
Pada intinya kedua ayat ini menyatakan bahwa arbitrase di tempat lain dapat
diselenggarapan apabila arbitrase tidak dapat dilaksanakan di kedua negara yang bertentangan
atau berkepentingan. Konvensi New York 1958 diajdikan acuak karena Indonesia telah menjadi
anggota konvensi tersebut dan telah meratifikasi Convention on the Recognizition and
Enforecement of Arbitral Award, yang oleh sebab itu memperkuat pernyataan bahwa Indonesia
harus mengikuti isi perjanjian tersebut.
Akan tetapi, permohonan yang dilakukan oleh Pakistan Trading Company, Ltd ditolak oleh
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan pengajuan konsesi juga ditolak oleh Mahkamah Agung
dan menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Tinggi Jakarta
dengan berbagai pertimbangan, terutama dengan adanya Peraturan Mahkamah Agung No. 1
Tahun 1990 tentang Tata Cara Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing, pasal 2 yang sesuai dengan
bunyi peraturan Mahkamah Agung itu, maka arbitrase yang dilakukan oleh Pakistan Trading
Company, Ltd tergolong jenis Arbitrase Asing, akan tetapi sesuai dengan Perma No. 1 Tahun
1990 arbitrase perdagangan dengan Indonesia dapat dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, apabila disesuaikan dengan isi Konvensi New York, maka jelas bahwa apabila negara yang
bersengketa atau berkepentingan dapat melaksanakan arbitrase, maka arbitrase menggunakan
pihak lain dapat dinilai tidak memiliki kekuatan hukum.
Selain itu didalam Konvensi New York juga menyatakan bahwa negara peserta dapat
menolak pelaksanaan sengketa arbitrase luar negeri apabila perjanjian pokok yang berisi
penyelesaian sengketa arbitrase tersebut bertentangan dengan undang-undang nasional (public
policy) negara tersebut.
Pihak PT Bakrie & Brothers dinyatakan tidak bersalah dan tidak harus membayar ganti rugi
juga dengan alasan yang kuat bahwa PT Bakrie & Brothers telah membayar performance bond
terhadap pihak Pakistan Trading Company, Ltd dalam kerjasama minyak itu. Performance bond
merupakan jaminan yang diberikan perusahaan untuk menjamin terselesaikannya dengan baik
suatu proyek terhadap perusahaan partner (kliennya). Performance bond digunakan apabila
kontrak mengalami kegagalan atau kerugian, maka klien akan terjamin dari gagalnya kontrak itu..
Penyelesaian sengketa melalui arbitrase memiliki otonomi yang luas (party otonomy)
dalam menentukan forum, aturan, prosedur, atau hal lainnya yang dianggap sesuai untuk
dipergunakan dalam menyelesaikan sengketa. Pada kasus ini, Trading Corporation of Pakistan
Limited menganggap memiliki hak untuk menentukan badan arbitrasenya, yaitu Badan Arbitrase
Inggris Federation of Oils, Seed and Fats Association, Ltd (FOSFA). Pilihan tersebut juga

22

didasari kepada isi dari Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral
Awards, yang menyatakan bahwa pihak diluar yang bersengketa dapat dipilih menjadi badan
arbitrase. Oleh sebab itu meskipun yang bersengketa ialah perusahaan Pakistan dan Indonesia,
arbitrase dapat dilakukan di kota London. Secara spesifik pernyataan tersebut dicantumkan dalam
Pasal V (1) dan (2) Konvensi New York, yang pada intinya menyatakan bahwa arbitrase ditempat
lain dapat diselenggarakan apabila arbitrase tidak dapat dilaksanakan dikedua negara yang
bertentangan atau berkepentingan. Arbitrase dimenangkan oleh Trading Corporation of Pakistan
dengan putusan PT Bakrie Brothers harus membayar ganti rugi atas kerjasama tersebut sebesar
US$ 18510,74.
Namun dalam pelaksanaan hasil tersebut tetap memerlukan persetujuan Pengadilan
Tinggi negara yang dijatuhi hasil arbitrase tersebut. Namun permohonan TPC tersebut ditolak
dengan alasan bahwa badan arbitrase yang ditunjuk tidak memiliki hak dalam memutuskan
perkara arbitrase tersebut. TPC kemudian mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung, namun
mendapatkan penolakan yang sama. Penolakan tersebut didasari kepada alasan bahwa
berdasarkan Konvensi New York, arbitrase dapat dilakukan ditempat lain apabila negara yang
bersengketa tidak dapat menyelesaikan arbitrase tersebut. Dalam hal ini sebenarnya,
penyelesaian sengketa dapat dilakukan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sesuai ketentuan
MA No. 1 Tahun 1990 Republik Indonesia. Oleh sebab itu keputusan FOSFA tidak memiliki
kekuatan hukum, dan dapat ditolak. Selain itu pertimbangan Mahkamah Agung juga terletak
kepada posisi PT Bakrie & Brothers dalam arbitrase tersebut, hasil putusan dinyatakan tidak adil,
karena PT Bakrie & Brothers pada saat itu tidak diberikan kesempatan untuk membela dirinya.
Berdasarkan kasus sengketa perdagangan yang terjadi antara perusahaan Trading
Corporation of Pakistan dengan PT Bakrie & Brothers dapat disimpulkan bahwa arbitrase
internasional bisa saja ditolak keputusannya oleh arbitrase nasional.
Kelompok 11
Gugatan Jepang atas Mobil Nasional Timor Indonesia
Timbulnya sengketa mobil nasional Timor ditandai dengan adanya perkara pengaduan
Jepang ke WTO yang bermula dari keluarnya Inpres Nomor 2 Tahun 1996 tentang program
Mobnas yang menunjuk PT Timor Putra Nusantra (TPN) sebagai pionir yang memproduksi
Mobnas. Karena belum dapat memproduksi di dalam negeri, maka keluarlah Keppres No.
42/1996 yang membolehkan PT TPN mengimpor mobnas yang kemudian diberi merek Timor,
dalam bentuk jadi atau completely build-up (CBU) dari Korea Selatan.
PT TPN diberikan hak istimewa, yaitu bebas pajak barang mewah dan bebas bea masuk
barang impor. Hak itu diberikan kepada PT TPN dengan syarat menggunakan kandungan lokal
hingga 60 persen dalam tiga tahun sejak mobnas pertama dibuat. Namun bila penggunaan
kandungan lokal yang ditentukan secara bertahap yakni 20 persen pada tahun pertama dan 60
persen pada tahun ketiga tidak terpenuhi, maka PT TPN harus menanggung beban pajak barang
mewah dan bea masuk barang impor. Namun, soal kandungan lokal ini agaknya diabaikan selama
ini, karena Timor masuk ke Indonesia dalam bentuk jadi dari Korea. Dan tanpa bea masuk
apapun, termasuk biaya pelabuhan dan lainnya.

23

Masalah Mobil Nasional dibawa ke World Trade Organization oleh Jepang untuk
mengajukan keluhan mengenai mobil nasional ke WTO. Subyek dalam kasus mobil nasional ini
adalah PT Timor Putra Nusantara yang berperan memproduksi mobil masional akan tetapi PT
Timor Putra Nusantara belum dapat memproduksi di dalam negeri, maka PT Timor Putra
Nusantara mengimpor mobil nasional dari Korea Selatan dalam bentuk jadi. Dalam kasus ini
yang menjadi obyek sengketa adalah mobil nasional yang menunjuk PT Timor Putra Nusantra
(TPN) sebagai pionir yang memproduksi Mobnas.
Jepang menilai bahwa kebijakan pemerintah tersebut sebagai wujud diskriminasi dan oleh
karena itu melanggar prinsip-prinsip perdagangan bebas. Tuduhan Jepang tersebut terdiri atas tiga
poin yaitu :
1. Adanya perlakuan khusus impor mobil dari KIA Motor Korea yang hanya memberi
keuntungan pada satu negara. Misalnya perlakuan bebas tarif masuk barang impor, yang
melanggar pasal 10 peraturan GATT.
2. Perlakuan bebas pajak atas barang mewah yang diberikan kepada produsen mobnas
selama dua tahun. Ini melanggar pasal 3 ayat 2 peraturan GATT.
3. Menghendaki perimbangan muatan lokal seperti insentif, mengizinkan pembebasan tarif
impor, dan membebaskan pajak barang mewah di bawah program mobnas sesuai dengan
pelanggaran dalam pasal 3 ayat 1 GATT, dan pasal 3 kesepakatan perdagangan
multilateral.
Dari beberapa kali pertemuan bilateral tingkat menteri, kesepakatan yang ingin dicapai
bertolak belakang dengan keinginan dan cita-cita masing-masing negara. Maka pada 4 Oktober
1996, Pemerintah Jepang melalui Kementrian Industri dan Perdagangan Internasional (MITI)
resmi mengadukan Indonesia ke WTO yang didasarkan pasal 22 ayat 1 peraturan GATT. Inti dari
pengaduan itu, Pemerintah Jepang ingin masalah sengketa dagangnya dengan Indonesia
diselesaikan sesuai dengan kesepakatan perdagangan multilateral sesuai dengan aturan yang
tercantum dalam WTO. Ketika itu, jika dalam tempo lima-enam bulan setelah pengaduan ke
WTO belum dapat diselesaikan, maka Jepang akan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.
Setelah enam bulan tidak ada penyelesaian sejak Jepang secara resmi mengadukan Indonesia
ke WTO, tampaknya, ancaman Jepang bukan isapan jempol belaka. Jepang membawa masalah
Mobnas ke panel WTO melalui pembentukan dispute settlement body (DSB) atau sidang bulanan
badan penyelesaian sengketa. Dengan terbentuknya DSB, maka Jepang berharap masalah Mobnas
dapat dipecahkan dengan jalan terbaik dan adil.
Untuk meningkatkan partisipasi negara-negara berkembang dalam perundingan
perdagangan internasional, S&D ditetapkan menjadi salah satu prinsip GATT/WTO. Sehingga
semua persetujuan WTO memiliki ketentuan yang mengatur perlakuan khusus dan berbeda bagi
negara berkembang. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan-kemudahan bagi
negara-negara berkembang anggota WTO untuk melaksanakan persetujuan WTO.
GATT/WTO mengatur berbagai pengecualian dari prinsip dasar seperti :
1. Kerjasama regional, bilateral dan custom union.
2. Pengecualian umum.
3. Tindakan anti-dumping dan subsidi.
4. Tindakan safeguards
5. Tindakan safeguard untuk mengamankan balance of payment
Penyelesaian Kasus

24

Indonesia yang secara resmi bergabung dengan World Trade Organization dengan
meratifikasi konvensi WTO melalui Undang-Undang No.7 tahun 1994 secara hukum terikat
kepada ketentuan ketentuan General Agreements on Tariff and Trade (GATT) yang diantaranya
termasuk prinsip-prinsip:
Prinsip penghapusan hambatan kuantitatif (Non Tariff Barriers/Non Tariff Measures)
sesuai dengan Artikel XI, paragraaf 1 GATT 1994. GATT pada prinsipnya hanya
memperkenankan tindakan proteksi terhadap industri domestik melalui tarif dan tidak melalui
upaya upaya perdagangan lainnya. Perlindungan melalui tariff ini menunjukkan dengan jelas
mengenai tingkat perlindungan yang diberikan dan masih dimungkinkan adanya kompetisi yang
sehat. Prinsip ini dilakukan untuk mencegah terjadinya proteksi perdagangan yang bersifat non
tarif karena dapat merusak tatanan perekonomian dunia.
Prinsip National Treatment yang diatur dalam Artikel III, paragraph 4 GATT 1994.
Menurut prinsip ini, produk yang diimpor ke dalam suatu negara, harus diperlakukan sama seperti
halnya produk dalam negeri. Dengan prinsip National Treatment ini dimaksudkan bahwa negara
anggota WTO tidak boleh membeda-bedakan perlakuan terhadap pelaku bisnis domestik dengan
pelaku bisnis non-domestik, terlebih terhadap sesama anggota WTO. Prinsip ini berlaku luas, dan
berlaku terhadap semua macam pajak dan pungutan pungutan lainnya. Prinsip ini juga
memberikan suatu perlindungan terhadap proteksionisme sebagai akibat upaya-upaya atau
kebijakan administratif atau legislatif.
Dalam GATT 1994 terdapat artikel yang melarang adanya peraturan-peraturan investasi
yang dapat menyebabkan terganggu dan terhambatnya kelancaran terlaksananya perdagangan
bebas antara Negara-negara di dunia sesuai dengan prinsip-prinsip yang dianut WTO. PrinsipPrinsip yang dianut WTO namun dilanggar oleh Indonesia Yaitu :
1. Prinsip National Treatment Artikel III, paragraph 4 GATT 1994.
2. Prinsip Penghapusan hambatan kuantitatif, Artikel XI, paragraf 1 GATT 1994.
Dalam penyelesaian kasus mobil nasional, WTO memutuskan bahwa Indonesia telah
melanggar Prinsip-Prinsip GATT yaitu National Treatment dan menilai kebijakan mobil nasional
tersebut tidak sesuai dengan semangat perdagangan bebas yang diusung WTO, oleh karena itu
WTO menjatuhkan putusan kepada Indonesia untuk menghilangkan subsidi serta segala
kemudahan yang diberikan kepada PT. Timor Putra Nasional selaku produsen Mobil Timor
dengan menimbang bahwa :
1. Penghapusan bea masuk dan penghapusan pajak barang mewah yang oleh pemerintah
hanya diberlakukan pada PT. Timor Putra Nusantara merupakan suatu perlakuan yang
diskriminatif dan tentu saja akan sangat merugikan para investor yang telah terlebih
dahulu menanamkan modalnya dan menjalankan usahanya di Indonesia. Dengan
diberlakukannya penghapusan bea masuk dan pajak barang mewah terhadap mobil timor,
hal ini dapat menekan biaya produksi sehingga membuat harga mobil timor di pasaran
menjadi lebih murah, hal tersebut akan mengancam posisi investor asing yang tidak dapat
menurunkan harga jual produknya, dalam persaingan pasar yang tidak sehat seperti itu,
investor asing pasti akan sangat dirugikan.
2. Untuk menciptakan suatu perdagangan bebas yang efektif dan efisien, GATT dalam
aturan aturannya telah berusaha menghapuskan segala hambatan dalam perdagangan
internasional, antara lain adalah hambatan-hambatan perdagangan Non Tarif, oleh karena
itu kebijakan Pemerintah Indonesia yang menetapkan keharusan aturan persyaratan

25

kandungan lokal terhadap investor asing dinilai sebagai upaya pemerintah dalam
menciptakan suatu hambatan perdagangan non tarif guna memproteksi pasar dalam
negeri dari tekanan pasar asing. Kebijakan tersebut merupakan salah satu strategi
pemerintah untuk memproteksi pasar Mobil Timor agar tidak kalah bersaing dengan
produsen mobil dari luar negeri. Instrumen kebijakan tersebut tentunya sangat merugikan
pihak produsen mobil dari luar negeri, dan dapat menciptakan suatu iklim persaingan
yang tidak sehat.
Pelanggaran Indonesia dalam WTO sudah cukup jelas. Maka pemerintah harus
melakukan beberapa kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki keadaan, kebijakan- kebijakan
tersebut yaitu:
1. Penghapusan bea masuk dan penghapusan pajak barang mewah yang mulanya hanya
diberikan pada PT. Timor Putra Nasional. Ketika hal ini dilakukan maka biaya produksi
mereka akan naik sehingga membuat harga jual mobil Timor menjadi rata- rata (sama
dengan harga jual mobil buatan negara lain yang dijual di Indonesia). Hal tersebut tidak
akan mengancam posisi investor asing karena sama-sama menggunakan harga jual yang
standar.
2. Penghapusan kebijakan pemerintah tentang ketentuan Persyaratan Kandungan Lokal
(bentuk non-tariff) supaya perdagangan internasional dapat berjalan secara adil.
Perbaikan kebijakan tersebut nyatanya membuat Mobil Nasional Timor menjadi
terancam bangkrut. Angka penjualan merosot dan banyak sekali mobil yang tersimpan
dalam gudang Kerawang dan Cengkareng yang jumlahnya sekitar 15.000 unit pada tahun
berikutnya
Berdasarkan kasus antara WTO dan Indonesia mengenai masalah Mobnas (Mobil Nasional)
Timor bisa disimpulkan bahwa organisasi Transnasional (WTO) bisa membuat perubahan tingkah
laku dalam suatu negara yaitu berupa perubahan kebijakan mereka. WTO menentang tentang
kebijakan Indonesia tentang Mobnas dan akhirnya Indonesia mengubah kebijakannya sesuai
keinginan WTO. Sehingga efek Transnasionalisme dalam politik dunia dapat ditemukan dalam
kasus ini.
Kelompok 12
Tobacco Control Act
Dikeluarkannya Tobacco Control Act oleh Amerika Serikat dengan alasan untuk
melindungi generasi muda Amerika Serikat dari bahaya rokok, dengan menganggap rasa dan
aroma rokok yang dilarang tersebut dapat menimbulkan rasa bagi generasi muda untuk mulai
merokok. Amerika Serikat mengatakan bahwa setiap negara memiliki hak untuk melakukan
pengaturan demi kesehatan warga negaranya. Dalam kasus ini, Amerika Serikat menyatakan
bahwa tujuan dari diresmikannya Tobacco Control Act adalah untuk mengurangi jumlah
penghisap rokok di bawah umur dan melindungi mereka dari akibat berbahaya merokok.
Indonesia menyatakan bahwa pengaturan tersebut merupakan perbuatan yang
mendeskriminasi rokok kretek Indonesia. Hal itu dikarenakan, regulasi tersebut dibuat tanpa
diikuti oleh bukti-bukti ilmiah yang mengatakan bahwa rokok menthol lebih berbahaya daripada
rokok ketek. Oleh sebab itu, pada tanggal 9 Juni 2010, Indonesia meminta pembentukan panel
kepada DSB WTO. Pada intinya, Indonesia mengemukakan dua gugatan pokok, yaitu:

26

1. Pasal 2.1 TBT Agreement, yaitu bahwa Amerika Serikat telah melakukan
diskriminasi
2. TBT Agreement, yaitu bahwa pelanggaran rokok tersebut tidak perlu dilakukan.
Panel mengeluarkan laporan pada tanggal 2 September 2011, dimana Panel menyetujui
gugatan pertama Indonesia, yaitu Amerika Serikat telah melakukan deskriminasi terhadap rokok
kretek. Dalam hubungannya dengan Pasal ini, Panel menetapkan bahwa Tobacco Control Act
telah menyalahi ketentuan Pasal 2.1 TBT Agreement, dikarenaka telah menjadikan rokok kretek
yang merupakan produk impor, mendapatkan hasil yang kurang menguntungkan dibanding
dengan rokok menthol yang merupakan produk lokal.
Pasal 2.1 TBT Agreement mengatur mengenai regulasi teknis yang dibuat oleh suatu
negara, tidak boleh memperlakukan produk lokal suatu negara lebih menguntungkan dibanding
dengan produk impor yang sejenis. Hal ini guna menentukan apakah telah terjadi pelanggaran
terhadap Pasal 2.1 TBT Agreement, Panel menentapkan 3 bagian penting dalam Pasal tersebut,
yang harus ditaati sesuai dengan putusan dalam EC-Trademarks and Geographical Indications
(Australia), yaitu:
1. Kebijakan tersebut adalah suatu regulasi teknis
2. Bahwa yang menjadi sengketa antar produk impor dengan produk lokal, merupakan
produk yang sejenis
3. Bahwa produk impor diperlakukan kurang menguntungkan dibanding dengan
produk lokal yang sejenis.
Pada dasarnya, pengajuan komplain oleh Indonesia terhadap pihak Amerika Serikat didalam
kasus sengketa rokok kretek adalah bertolak dari TBT Agreement, bahwa dengan pemberlakuan
Tobacco Control Act, pihak Amerika Serikat bertindak dengan tidak melaksanakan prinsip-prinsip
didalam TBT Agreement itu sendiri. Indonesia pada dasarnya sebagai suatu negara yang terkena
dampak dari suatu ketidak adilah dari suatu mekanisme regulasi teknis yang telah diciptakan dan
dibuat oleh pihak Amerika Serikat, bahwa Indonesia memiliki hak untuk mengajukan suatu
permohonan untuk pengajuan suatu penyelesaian sengketa DSB, yang berdasarkan pasal 14.1 TBT
Agreement, yang merujuk pada Pasal XXII dan XXII GATT 1994.
Pada persoalan untuk memberikan putusan yang berkaitan dengan gugatan Indonesia terhadap
pihak Amerika Serikat, DSB belum sepenuhnya memberikan suatu keputusan yang proporsional
dan adil, yang berkaitan dengan kasus ini. Didalam kasus sengketa ini, DSB menggunakan suatu
laporan ilmiah yang sebenarnya diberikan oleh Amerika Serikat dibandingkan dengan laporan
ilmiah yang diberikan oleh Indonesia. Walaupun berdasarkan aturan dari TBT Agreement, bahwa
laporan ilmiah haruslah laporan yang terbaru yang berlaku pada saat itu.
Kita dapat menganalisa bahwa DSB sudah selayaknya dan seharusnya lah memberikan
keputusan tegas, dan memutuskan bahwa pelanggaran TBT Agreement merupakan tindakan yang
semestinya dilakukan, dan hal tersebut dapat berdasarkan bukti yang diberikan oleh Indonesia, yang
menyatakan bahwa sesungguhnya rokok yang dapat menarik generasi muda untuk memulai
mengkonsumsi rokok atau menjadi perokok adalah rokok menthol, dan bukti yang diberikan oleh
Indonesia dalam hal ini sudah sesuai dengan semua ketentuan didalam TBT Agreement, karena
bukti tersebut merupakan bukti yang berlaku pada saat terjadinya kasus tersebut.

27