Anda di halaman 1dari 3

A.

Teori Proses Terbentuknya Wirausaha


Studi kewirausahaan selalu berkembang dalam disiplin ilmu lain yang
penekannya

pada

sang

wirausaha

psikologi,misalnya

studi

sendiri(the

kewirausahaan

person).Dalam

meneliti

bidang

karakteristik

ilmu

kepribadian

wirausaha,sedangkan pada ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh dari


lingkungan social dan kebudayaan dalam pembentukan masyarakat wirausaha. Ray
dan

Ramaachandran

(1996)menandaskan

walau

terdapat

perbedaan

sudut

pandang,penelitian yang dilakukan baik oleh ahli ekonomi,psikologi,dan sosiologi


harus tetap berpijak pada kegiatan kewirausahaan serta sebab akibatnya pada tingkat
mikro dan makro. Dengaan demikian wajarnya jika studi kewirausahaan dengan
penekanan keilmuan yang berbeda itu pada akhirnya akan saling berhubungan dengan
memengaruhi.
Sementara itu,fenomena kewirausahaan ini masih terus diteliti dan belum terdapat
satu pengertian baku yang dianut oleh semua ahli(Shapero,1982).Ini menunjukkan
perkembangan teori ini masih dalam perjalanan panjang serta dari adanya perubahanperubahan

ekonomi

dunia

diharapkan

memberi

banyaak

masukan

bagi

peneliti.Munculnya banyak wirausahaa atau pebisnis,telah menrik perhatian para


pakar untuk meneliti bagaimana mereka terbentuk.Teori yang menjelaskan mengenai
proses

pembentukan

wirausaha

yaitu

life

path

change,goal

directe

behaviour,pengambilan keputusan dan outcome expectancy.


B. Teori Pengambilan Keputusan
Sebelum mengambil keputusan terjun ke dalam wirausaha,seseorang terlebih dahulu
melakukan pertimbangan-pertimbangan.Pengambilan keputusan tersebut tidaklah
selalu mudah,bahkan dapat menimbulkan konflik dengan dirinya sendiri atau orang
lain,dengan keluarga,misalnya Moore (1964) mengatakan bahwa pengambilan
keputusan adalah perpaduan dari kegiatan berpikir,memilih,dan bertindak.Kemudian
McCrimmon (1976) dalaam Djoealin (1980) menambahkan bahwa pengambilan
keputusan adalah suatu proses berpikir dan bertindak yang bermuara pada pemilihan
perilaku tertentu sesuai dengan keputusan yang diambil.Baik Moore (1964) maupun
McCrimmon (1976) menegaskan lagi bahwa suatu pengambilan keputusan dapat
mengubah perilaku tindakan seseorang dalam mencapai tujuannya.Jika seseorang
mengambil keputusan menjadi wirausaha maka dia akan menyelaraskan tindakan
dengan hasil keputusannya.Ini membuktikan bahwa seseorang dapat menjadi
wirausaha tanpaa harus memilik factor genetic(keturunan),namun selama dia rajin dan

tekun mendalami keputusannya maka akan menyesuaikan dengan sendirinya


(Sukardi,1991). Tentu saja ditambah dukungan dari lingkungan sekitarnya akan
sangat membantu .Seprti diuraikan diatas bahwa dalam mengambil keputusan tidak
selalu mudah.faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilaan keputusan menurut
Reitman (1976),antara lain :
A
B
A
= Initial state atau exsting state, adaalaah suatu keadaan dari si pengambil
keputusan paada saat sekarang
B
= Terminal state atau desired state,adlah target atau tujuan yang coba dicapai
si pengaambil keputusan
= Transformation atau decision alternatives atau operators, adalah proses
aatau langkah dimana si pengambil keputusan dapat bergerak dari initial state ke
terminal state
Faktor faktor yang memengaruhi proses pengambilan keputusan:
a. Faktor-faktor yang berasaal dari situasi lingkungan keputusan itu sendiri (decision
environment)
b. Faktor-faktor

yang

berasal

dari

dalam

diri

si

pengambil

keputusan

sendiri.Tingginyaa pemahaman tentang usaha dan keuletan terhadap keputusan


yang telah dibuat mempunyai andil yang besar atas keberlangsungan suaatu usaha.
1. Lingkungan Keputusan
Suatu lingkungan keputusan bias berstruktur baik dan buruk,tergantung dari
seberapa jauh si pengambil keputusan mengenal keadaannya pada masa sekarang
(initial state),tujuan-tujuan aakan dating yang ingin dicapai (Terminal state) dan
transformasi

yang

dibutuhkan

untuk

mencapai

keadaan

yang

diinginkannya.Apabila si pengambil keputusan cukup mengenal Initial state,


desired state dan transformasinya dengan baik ,maka dia dihadapkan pada
lingkungan keputusan (decision environment) yang berstruktur baik (well
structured).Atau jika si pengambil keputusan tidak cukup mengenal Initial state,
desired state dan transformasinya,maka dia dihadapkan padaa lingkungan
keputusan yang berstruktur buruk(ill structured).
Ada tiga(3) kondisi lingkungan keputusan yang berstruktur buruk yang
memengaruhi proses pengambilan keputusan:
a. Lingkungan keputusan yang tidak pasti.Dalam keadaan ini si pengambil
keputusan dihadapkan pada situasi dimana:
Tidak mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan memengaruhi hasil

keputusannya
Tidak mengetahui hubungan kaausal yang terjadi dalam lingkungan
keputusan

Mempunyai control yang sedikit terhadap lingkungan keputusan


Lingkungan keputusan yang tidak stabil
b. Lingkungan keputusan yang kompleks.Disini pengambil keputusan
dihadapkan

pada

situasi-situasi

dimana

lingkungannya

sangaat

luas,heterogen,abstrak,dan saling berhubungan.


c. Lingkungan keputusan yang merupakan situasi konflik. Disini pengambil
keputusan dihadapkan pada situasi-situasi multiperson dimana terjadi interaks
diantarannya,tetapi mempunyai tujuan dan sumber penentuan yang saling
berbeda.