Anda di halaman 1dari 16

LIPOMA

A. DEFINISI
Lipoma adalah tumor jinak subkutis yang berisi jaringan lemak. (Siregar. 2002 :
268). Lipoma merupakan tumor mesenkim jinak (benign mesenchymal tumors) yang
berasal dari jaringan lemak (adipocytes).
Lipoma adalah suatu tumor (benjolan) jinak yang berada di bawah kulit yang
terdiri dari lemak. Biasanya lipoma dijumpai pada usia lanjut (40-60 tahun), namun
juga dapat dijumpai pada anak-anak. Karena lipoma merupakan lemak, maka dapat
muncul di manapun pada tubuh ini. Jenis yang paling sering adalah yang berada lebih
ke permukaan kulit (superficial). Biasanya lipoma berlokasi di kepala, leher, bahu,
badan, punggung, atau lengan. Jenis yang lain adalah yang letaknya lebih dalam dari
kulit seperti dalam otot, saraf, sendi, ataupun tendon.
Lipoma termasuk tumor jinak yang berasal dari jaringan lemak. Benjolan lunak,
berwarna kuning terang dan disekelilingi oleh kapsul yang tipis. Umumnya dapat
digerakkan dari dasar dan tidak disertai nyeri (nyeri timbul jika lipoma ditekan dan
dipijat). Pertumbuhannya lambat dan tidak pernah mengalami perubahan menjadi
ganas (meskipun type tumor ganas liposarkoma juga berasal dari jaringan lemak).
Kebanyakan berukuran kecil meskipun dapat membesar dengan diameter lebih dari 6
cm.
Tumor ini jarang berubah menjadi tumor ganas. Lipoma lebih sering ditemukan
pada wanita dan lebih sering tumbuh di lengan, batang tubuh dan leher bagian
belakang. Beberapa orang hanya memiliki 1 lipoma, sedangkan yang lainnya
memiliki beberapa buah lipoma.
B. ETIOLOGI
Penyebab lipoma tidaklah jelas, lipoma akan dideteksi setelah suatu luka-luka
atau kerugian. Tetapi tidak pasti apakah mereka disebabkan oleh trauma atau apakah
pendeteksian mereka hanya secara kebetulan. Lipoma juga cenderung untuk singgah
di keluarga-keluarga yang secara sejarah mereka memiliki masalah dengan tumor
jinak ini, faktor keturunan yang mungkin berperan dalam pengembangannya. Lipoma
cenderung terjadi pada satu keluarga, sehingga diyakini faktor genetis memiliki peran

penting dalam memicu terjadinya tumor lemak ini. Tidak selalu jika kita mempunyai
orangtua atau leluhur yang mempunyai lipoma ini, maka kita akan mempunyai
lipoma juga. Namun ada suatu sindrom yang disebut hereditary multiple lipomatosis,
yaitu seseorang yang mempunyai lebih dari 1 lipoma pada tubuhnya. Kegemukan
tidak menyebabkan terjadinya lipoma.
Lipoma timbul tidak selalu karena faktor keturunan, meskipun bisa tampak seperti
multipel lipomatosis herediter. Beberapa dokter percaya bahwa timbulnya lipoma
biasanya dipicu oleh trauma kecil pada daerah terkait (minor injury). Tidak ada
keterkaitan antara pertumbuhan lipoma dengan kelebihan BB (over weight) Biasanya
tidak memerlukan pengobatan, kecuali jika menimbulkan rasa nyeri, mengganggu
pergerakan dan secara kosmetik memberikan rasa tidak nyaman. Jika kapsul tidak
secara keseluruhan terangkat, kadang-kadang setelah pembedahan lipoma dapat
timbul kembali (angka kekambuhan kurang dari 5 %). Lipoma dapat diambil dengan
cara pembedahan (eksisi), atau liposuction. Liposuction biasanya diperuntukkan
untuk lipoma ukuran besar. Menghasilkan bekas sayatan luka operasi yang minimal /
sangat kecil tapi tidak dapat mengangkat keseluruhan kapsul lipoma sehingga dapat
menyebabkan kekambuhan (lipoma tumbuh kembali).
C. KLASIFIKASI
1. Lipoma soliter (paling sering)
Kebanyakan lipoma soliter adalah superfisial dan berukuran kecil. Lipoma
soliter bisa tumbuh dengan kenaikan berat badan dan tidak menghilang
apabila berat badan diturunkan.
2. Diffuse Kongenital Lipoma
Lipoma diffuse dengan batas tidak tegas biasanya berlokasi pada daerah
belakang badan. Tumor ini sering meluas ke dalam otot maka kurang
memberikan hasil yang baik dengan reseksi local. Tumor ini terdiri dari
jaringan lemak yang immature.
3. Lipomatosis simetris (Madelung)
Sering dijumpai pada daerah kepala, leher, bahu dan proximal extremitas atas.
Pada anamnesa sering terdapat riwayat mengkomsumsi alkohol atau penyakit
diabetes mellitus.

4. Familial lipomatosis multiple


Ditandai dengan beberapa benjolan kecil dengan batas tegas dan "berkapsul".
Biasanya terdapat pada daerah extremitas dan timbul setelah pubertas. Pada
anamnesa didapatkan riwayat penyakit yang sama pada keluarga .
5. Penyakit Dercum ( adiposis dolorosa)
Lipoma yang menimbulkan rasa nyeri. Biasanya dijumpai pada wanita
postmenopausa yang obese ,alcoholism, ketidakstabilan emosi dan depresi
berasosiasi dengan penyakit ini.
6. Angiolipoma
Angiolipoma adalah nodul subkutan yang kenyal dan nyeri. Tumor ini lebih
keras daripada lipoma biasa dan multilobulasi.
7. Hibernomas
Tumor ini tumbuh soliter, nodul yang berbatas tegas dan biasanya
asimptomatik.
Biasanya dijumpai pada regio interskapula, axilla, colli dan mediastinum.
Secara histologik, hibernomas terdiri dari lipoblast coklat yang dikenali
sebagai mulberry cells.
D. MANIFESTASI KLINIS
Lipoma bersifat lunak pada perabaan, dapat digerakkan, dan tidak nyeri.
Pertumbuhannya sangat lambat dan jarang sekali menjadi ganas. Lipoma kebanyakan
berukuran kecil, namun dapat tumbuh hingga mencapai lebih dari diameter 6 cm.
Manifestasi klinis lipoma antara lain :
1. Lokasi : Lipoma terletak di bawah kulit dan tidak menonjol. Lipoma sering terjadi di
leher, punggung, lengan dan paha.
2. Rasa : Lipoma jika disentuh terasa empuk dan mudah bergerak jika sedikit
ditekan dengan jari.
3. Ukuran : Paling sering lipoma berukuran kecil, dengan diameter kurang dari 2
inci (5 cm). Tapi lipoma dapat tumbuh besar dengan diameter mencapai lebih
dari 4 inci (10 cm).

4. Sakit : Lipoma bisa juga menyakitkan jika tumor lemak ini tumbuh dan
ditekan di dekat saraf, atau jika mengandung banyak pembuluh darah. Karena
pertumbuhannya lambat, Anda mungkin baru tahu memiliki lipoma setelah
bertahun-tahun.

Lipoma tidaklah serius dan tidak menyebabkan permasalahan atau gejala.


Tumor ini tumbuh sangat pelan. Kadang-kadang suatu lipoma di bawah kulit
dapat tidak enak dipandang jika tumbuh menjadi beberapa centimeter ke
seberang. Jarang, suatu lipoma menekan struktur yang lain dan menyebabkan
masalah. Contohnya, jika orang menekan suatu syaraf mungkin menyebabkan
sakit. Juga, jarang, suatu lipoma berkembang di dalam memusnahkan dinding dan
permasalahan penyebab seperti sakit atau suatu kemacetan menyangkut saluran
usus.
E. PATOFISIOLOGI
Lipoma adalah neoplasma jaringan lunak jinak yang paling sering terjadi pada
orang dewasa, yaitu sekitar 1% populasi. Lipoma paling sering ditemukan antara
usia 40-60 tahun. Neoplasma ini jinak tumbuh lambat yang terdiri dari sel-sel
lemak matang. Di mana tampak metabolik sel-sel lipoma berbeda dari sel normal
meskipun sel-sel tersebut secara histologis serupa. Jaringan lemak berasal dari
jaringan ikat yang berfungsi sebagai depot lemak. Jaringan lemak ini adalah
jaringan yang spesial terdiri dari sel spesifik yang mempunyai vaskularisasi
tinggi, berlobus dan berfungsi sebagai depot lemak untuk keperluan metabolisme.
Sel-sel lemak primitif biasanya berupa butir-butir halus di dalam sitoplasma. Sel
ini akan membesar seperti mulberry sehingga akhirnya derajat deposisi lemak
menggeser inti ke arah perifer.
Jaringan lemak berasal dari sel-sel mesenkim yang tidak berdifferensiasi yang
dapat ditemukan di dalam tubuh. Beberapa sel-sel ini menjadi jaringan sel lemak
yang matang membentuk lemak dewasa.
Terjadinya suatu lipoma dapat juga disebabkan oleh karena adanya gangguan
metabolisme lemak. Pada lipoma terjadi proliferasi baik histologi dan kimiawi,
termasuk komposisi asam lemak dari jaringan lemak normal. Metabolisme lemak
pada lipoma berbeda dengan metabolisme lemak normal, walaupun secara
histologi gambaran sel lemaknya sama. Pada lipoma dijumpai aktivitas
lipoprotein lipase menurun. Lipoprotein lipase penting untuk transformasi lemak
di dalam darah. Oleh karena itu asam lemak pada lipoma lebih banyak

dibandingkan dengan lemak normal. Hal ini dapat terjadi bila seseorang
melakukan diet, maka secara normal depot lemak menjadi berkurang, tetapi
lemak pada lipoma tidak akan berkurang bahkan bertambah besar. Ini
menunjukkan bahwa lemak pada lipoma bukan merupakan lemak yang
dibutuhkan oleh tubuh. Apabila lipoma membesar akan tampak sebagai suatu
penonjolan yang dapat menekan jaringan di sekitarnya.
Parameter-parameter yang penting untuk menentukan penatalaksanaan
klinisnya adalah:
1. Ukuran makin besar massa tumor, makin buruk hasil akhirnya.
2. Klasifikasi histologi dan penentuan stadium (grading) yang akurat (terutama
didasarkan pada derajat diferensiasinya), dan perkiraan laju pertumbuhan
yang didasarkan pada mitosis dan perluasaan nekrosis.
3. Staging.
4. Lokasi tumor. Makin superfisial, prognosis makin baik.

F. PATHWAY
Trauma

Genetika

Faktor lain

Gangguan metabolisme lemak


Lipoma
Penurunan lipoprotein lipase

Pre Op

Post Op

Asam lemak meningkat

Kurang
pengetahuan

Inkontinuitas
jaringan

Lipoma membesar
Nyeri

Pembedahan

Penonjolan daerah sekitar

Ansietas

Nyeri

Laserasi
Resiko
infeksi

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan fisik diawali dengan melakukan inspeksi. Pada pemeriksaan fisik
dapat digunakan kaca pembesar apabila diperlukan. Pemeriksaan ini mutlak
dilakukan pada ruangan terang. Anamnesis dapat dilakukan bersamaan dengan
inspeksi. Perlu juga ditanyakan apakah keluhan ada di tempat lain, oleh karena
itu, inspeksi seluruh kulit tubuh juga penting untuk dilakukan.
Pada inspeksi diperhatikan lokalisasi, warna, bentuk, ukuran, penyebaraan,
batas, dan effloresensi yang khusus. Setelah inspeksi dilakukan palpasi dan
ditanyakan kepada pasien apakah ada nyeri tekan yang dirasakan. Pada
pemeriksaan ini diperhatikan adanya tanda-tanda radang akut atau tidak.
Diagnosis lipoma dapat dilakukan dengan pemeriksaan sederhana, namun jika
lipoma besar dan menyakitkan maka dapat dilakukan tes untuk mengkonfirmasi
bahwa benjolan tersebut tidak bersifat kanker. Pemeriksaan yang bisa dilakukan
yakni biopsi, computed tomography (CT Scan), atau Magnetic Resonance
Imaging (MRI). Biopsi adalah prosedur dimana sepotong kecil jaringan lemak
diambil dari lipoma sehingga dapat diperiksa di bawah mikroskop untuk tandatanda kanker. MRI menggunakan magnet, gelombang radio dan komputer untuk
mengambil serangkaian gambar yang sangat jelas, detail gambar. MRI telah
terbukti akurat dalam pemeriksaan, namun pemeriksaan ini mahal. Dengan MRI
jaringan lunak seperti lipoma dapat terlihat dengan jelas. MRI menunjukkan hasil
yangk 100% sensitif, spesifik dan akurat dalam mengidentifikasi adanya tumor
jaringan lunak. Seperti MRI, CT scan adalah prosedur yang juga dapat membuat
serangkaian gambar yang mendetail, namun tidak lebih akurat dari MRI.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi pengangkatan lipoma memang jarang terjadi, diantaranya adalah
infeksi, memar, cedera pada jaringan saraf atau pembuluh darah sekitar,
perubahan bentuk, cedera otot, emboli lemak, terbentuk luka parut bekas operasi,
osteomielitis, atau kekambuhan.
I. PENATALAKSANAAN
1. Medis

Pada dasarnya lipoma tidak perlu dilakukan tindakan apapun, kecuali


berkembang menjadi nyeri dan mengganggu pergerakan. Biasanya seseorang
menjalani operasi bedah untuk alasan kosmetik. Operasi yang dijalani
merupakan operasi kecil, yaitu dengan cara menyayat kulit diatasnya dan
mengeluarkan lipoma yang ada. Namun hasil luka operasi yang ada akan
sesuai dengan panjangnya sayatan. Untuk mendapatkan hasil operasi yang
lebih minimal, dapat dilakukan liposuction. Sekarang ini dikembangkan
tehnik dengan menggunakan gelombang ultrasound untuk menghansurkan
lemak yang ada. Yang perlu diingat adalah jika lipoma yang ada tidak
terangkat seluruhnya, maka masih ada kemungkinan untuk berkembang lagi
di kemudian hari.
Terapi medis termasuk eksisi endoskopik tumor di traktus gastrointestinal
bagian atas (misalnya: esophagus, perut (stomach), dan duodenum) atau
colon. Pembedahan (complete surgical excision) dengan kapsul sangatlah
penting untuk mencegah kekambuhan setempat (local recurrence). Terapi
tergantung lokasi tumor. Pada lokasi yang tidak biasanya, pemindahan lipoma
menyesuaikan tempatnya.
a. Pemindahan setempat diindikasikan pada lipoma di dekat saluran nafas
utama (major airways). Lipoma paru-paru memerlukan resection
parenkim paru-paru atau saluran pernafasan yang terlibat (the involved
airway).
b. Pemindahan setempat (Local removal) diindikasikan pada lipoma usus
(intestinal lipomas) yang menyebabkan obstruction.
c. Jika lipoma esophagus tidak dapat dipindahkan dengan endoskopi, maka
diperlukan pembedahan (surgical excision).
d. Lipoma pada payudara (breast lipomas) dihilangkan jika pada dasarnya
meragukan.
e. Lipoma usus, khususnya duodenum, sebaiknya dihilangkan baik secara
endoskopi maupun pembedahan karena dapat menyebabkan obstruction,
jaundice, atau perdarahan (hemorrhage).
f. Lipoma pada vulva dapat dihilangkan di tempat (locally excised).
2. Keperawatan

a. Manajemen nyeri
Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam,
visualisasi, dan bimbingan imajinasi) dan farmakologi (pemberian
analgetika).
b. Mengajarkan mekanisme koping yang efektif
c. Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan
berikan

dukungan

secara

moril

serta

anjurkan

keluarga

untuk

berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan.


d. Memberikan nutrisi yang adekuat
Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek
samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang
adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi
gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai
dengan indikasi dokter.
e. Pendidikan kesehatan
Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan
terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di
rumah. (Smeltzer. 2001).

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
a. Pre operatif
Subyektif:
1) Keluhan nyeri pada daerah yang terdapat benjolan.
2) Nyeri tekan pada daerah sekitar benjolan.

3) Pembengkakkan/kemerahan.
4) Gangguan pada fungsi organ sekitar.
5) Cemas.
6) Suara serak.
Pemahaman tentang pembedahan termasuk:
1) Prosedur tindakan.
2) Pelaksana tindakan.
3) Resiko selama dan setelah tindakan.
4) Obat anestesi.
Obyektif:
1) Nafas bau.
2) Wajah tampak tegang, gelisah, tremor.
3) Teraba massa.
4) Perubahan tanda-tanda vital.
5) Kesiapan dan kemampuan untuk belajar menyerap informasi.
b. Post operatif
Subyektif:
1) Nyeri
2) Mual
3) Kedinginan
Obyektif:
1) Perubahan tanda-tanda vital

2) Respon yang lazim terhadap nyeri


3) Hipotermi.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pre operatif
1) Resiko infeksi b.d proses inflamasi.
2) Ansietas b.d ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan
status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang
berarti, krisis situasi atau krisis maturasi.
3) Proses
keluarga,
perubahan
b.d

terapi

yang

kompleks,

hospitalisasi/perubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan


penampilan.
b. Post operatif
1) Nyeri b.d prosedur pembedahan, trauma jaringan, interupsi saraf, diseksi
otot.
2) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d pembedahan, efek radiasi dan
kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
3) Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, gangguan neuromuscular,
nyeri.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Pre operatif
1) Resiko infeksi berhubungan dengan proses inflamasi.
Tujuan : Tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :
a) Suhu tubuh dalam batas normal
b) Tidak ada tanda inflamasi
c) Keringat berkurang.
Intervensi / Rasional :
a) Beri penjelasan tentang terjadinya infeksi.
R / klien mengetahui proses terjadinya infeksi.
b) Beritahu klien tentang tanda-tanda inflamasi.
R / klien mengetahui tanda-tanda inflamasi dan pencegahannya.
c) Beri kompres basah.
R / menurunkan suhu tubuh klien.
d) Anjurkan klien untuk memakai baju yang menyerap keringat.
R / agar keringat mudah diserap dan suhu tubuh tidak meningkat.\
e) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat.
R / diharapkan dapat mempercepat proses kesembuahn pasien.

2) Ansietas adalah suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan yang tidak


mudah atau dread yang disertai dengan respons autonomis ; sumbernya
seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu ; perasaan
khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.ini merupakan
tanda bahya yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan
memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk mengatasi
ancaman.
Tujuan: ansietas berkurang/terkontrol.
Kriteria hasil :
a) klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang
b)
c)
d)
e)

membuat stress
klien mampu mempertahankan penampilan peran.
klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori.
klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

Intervensi:
a) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
R/ memudahkan intervensi.
b) Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi
ansietas di masa lalu.
R/ mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan
kemampuan mengontrol ansietas.
c) Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk
mengungkapkan pikiran dan perasaan.
R/
pendekatan
dan
motivasi

membantu

pasien

untuk

mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan.


d) Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat
ini, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang dijalani.
R/ alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan
untuk mengurangi kecemasan.
e) Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari
meskipun dalam keadaan cemas.
R/ menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu
mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang
dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.

f) Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.


R/ menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.
g) Sediakan informasi faktual (nyata dan benar) kepada pasien dan
keluarga menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis.
R/ meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.
h) Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.
R/ mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.
3) Proses keluarga, perubahan adalah suatu perubahan dalam hubungan
dan/atau fungsi keluarga.
Tujuan : klien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran
keluarga.
Kriteria hasil :
a) Klien/keluarga mampu mengidentifikasi koping.
b) Klien/keluarga berpartisipasi dalam proses membuat keputusan
berhubungan dengan perawatan setelah rawat inap.
Intervensi:
a) Kaji interaksi antara pasien dan keluarga.
R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
b) Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin
menghambat pengobatan.
R/ mempengaruhi pilihan intervensi.
c) Diskusikan dengan anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan
koping yang digunakan.
R/ membantu keluarga dalam memilih mekanisme koping adaptif yang
tepat.
d) Dukung kesempatan untuk mendapatkan pengalaman masa anak-anak
yang normal pada anak yang berpenyakit kronis atau tidak mampu.
R/ memudahkan keluarga dalam menciptakan/memelihara fungsi
anggota keluarga.
b. Post operatif
1) Nyeri b.d prosedur pembedahan, trauma jaringan, interupsi saraf, diseksi
otot.
Tujuan: keluhan nyeri berkurang/hilang
Kriteria hasil:
a) Tampak rileks
b) Mampu tidur atau istirahat dengan tepat
c) Mengekspresikan penurunan nyeri
Intervensi:

a) Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya, dan intensitas (skala

b)
c)
d)
e)

0-10)
R/ mengetahui lokasi, lamanya, dan intensitas nyeri.
Bantu pasien menemukan posisi nyaman
R/ klien merasa nyaman terhadap posisinya.
Berikan tindakan kenyamanan dasar teknik relaksasi
R/ mengurangi nyeri.
Sokong dada saat latihan nafas dalam
R/ membantu pengembangan paru lebih maksimal.
Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal teratur sebelum nyeri

berat dan sebelum aktivitas dijadwalkan


R/ mengurangi rasa nyeri.
2) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d pembedahan, efek radiasi dan
kemotherapi, deficit imunologik, penurunan intake nutrisi dan anemia.
Tujuan : menghindari terjadinya kerusakan integritas kulit
Kriteria hasil:
a) Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan
kondisi spesifik
b) Berpartisipasi dalam

pencegahan

komplikasi

dan

percepatan

penyembuhan.
Intervensi:
a) Kaji integritas kulit untuk melihat adanya efek samping therapi kanker,
amati penyembuhan luka.
R/ Memberikan informasi

untuk

perencanaan

asuhan

dan

mengembangkan identifikasi awal terhadap perubahan integritas kulit.


b) Anjurkan klien untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.
R/ Menghindari perlukaan yang dapat menimbulkan infeksi.
c) Ubah posisi klien secara teratur.
R/ Menghindari penekanan yang terus menerus pada suatu daerah
tertentu.
d) Berikan advise pada klien untuk menghindari pemakaian cream kulit,
minyak, bedak tanpa rekomendasi dokter.
R/ Mencegah trauma berlanjut pada kulit dan produk yang kontra
indikatif.
3) Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, gangguan neuromuscular,
nyeri.
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
Kriteria hasil :

a) Perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.


b) Klien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas
tanpa dibantu.
c) Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Intervensi:
a) Rencanakan periode istirahat yang cukup.
R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul
dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secara optimal.
b) Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara
perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat,
mobilisasi dini.
c) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan
sesuai kebutuhan.
R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan klien pulih
kembali.
d) Setelah latihan dan aktivitas kaji respons
klien.
R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai
akibat dari latihan.

4. IMPLEMENTASI PRE DAN POST OPERATIF


Implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat
dan klien. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah
intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana.

5. EVALUASI PRE DAN POST OPERATIF


Fase akhir dari proses keperawatan adalah evaluasi terhadap keperawatan
yang diberikan. Hal-hal yang dievaluasi adalah keakuratan, kelengkapan dan
kualitas data, teratasi atau tidaknya klien serta pencapaian tujuan dan ketepatan
intervensi keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilyn C, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Jakarta:
EGC.
Hadi,

Umar.
2013.
Lipoma.
[Internet].
Tersedia
dalam:
http://umarberita.blogspot.com/2013/01/lipoma.html. Diakses pada tanggal 20
maret 2014.

Khanza.
2011.
Soft
Tissue
Tumor.
[Internet].
Tersedia
Http://Doktermaya.Wordpress.Com/2011/12/10/Soft-Tissu-Tumor/.
pada tanggal 20 maret 2014.

Dalam:
Diakses

Siregar. 2002. Saripati Penyakit Kulit, Edisi 2. Jakarta : EGC. [Internet]. Tersedia
dalam: http://blog.asuhankeperawatan.com/materilengkap/. Diakses pada
tanggal 20 maret 2014.
Smeltzer, Bare, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Jakarta: EGC.
Z3roCool. 2009. Askep Eksterpasi Lipoma. [Internet]. Tersedia dalam:
http://blogkugratis.blogspot.com/2009/09/askep-eksterpasi-lipoma_21.html.
Diakses pada tanggal 20 maret 2014.