Anda di halaman 1dari 9

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan upaya untuk memelihara keutuhan dan

kesempurnaan jasmani dan rohani tenaga kerja, hasil karya dan budaya untuk meningkatkan
kesejahteraan (kualitas hidup) tenaga kerja dan masyarakat.

Untuk mengurangi tingkat kecelakaan kerja di sebuah tempat kerja maka pemerintah
mewajibkan setiap tempat kerja untuk melaksanakan Kesehatn dan Keselamatan Kerja,
tujuannya untuk mengurangi adanya kecacatan pada pekerja dan menjamin keselamatan dan
kesehatan para pekerja.
Kesehatan

dan

keselamatan

kerja ini

merupakanhak

setiap

tenaga

kerja untuk

memperolehnya. Dan hal ini telah tertulis dalam dasar kesehatan dan keselamatan
kerja yakni:
DASAR HUKUM
1. Uu no. 1 th 1970
bab iii pasal 3 50% syarat kesehatan kerja
- p3k
- apd
- mencegah & mengendalikan ligkungan kerja & pak

(penerangan, suhu, kelembaban,ventilasi,kebersihan kesehatan,ketertiban,ergonomi)


Pasal 8 (uu no. 1 th 1970)
A. Memeriksakan kesehatan badan, mental, kemampuan fisik calon tenaga kerja/ yg akan
dipindahkan penyesuaian dg pekerjaan
B. Pemeriksaan berkala oleh dokter yg ditunjuk pengusaha dan dibenarkan direktur
2. Uu no.3 th 1992 (jamsostek)
a. Jkk (jaminan kecelakaan kerja)
b. Jk (jaminan kematian)
c. Jht (jaminan hari tua)
d. Jpk (jaminan pemeliharaan kesehatan)
Peraturan pemerintah dan kepres
1. Pp no.14 tahun 1993 tentang jamsostek
2. Kepres ri no.22 th 1993 tentang penyakit yg timbul akibat hubungan kerja dan
mendapat kompensasi dari jamsostek
Peraturan menteri
1. Pmp no.7 tahun 19964 tentang syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam
tempat kerja
2. Permenakertranskop no.per-01/men/1976 tentang kewajiban latihan hyperkes bagi
dokter perusahaan
3. Permenakertrans no.per-01/men/1979 tentang kewajiban latihan hyperkes bagi tenaga
paramedis perusahaan
4. Permenaker no,02/men/1980 tentang pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam
penyelenggaraan keselamatan kerja
5. Permenaker no,01/men/1981 tentang kewajiban melapor pak

6. Permenakertrans no.per.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja (promotif,


preventif, kuratif dan rehabilitatif)
- to put the right man to the right place
- perlindungan tenaga kerja dari pak
-meningkatkan kesehatan badan ,mental dan kemampuan fisik naker
- pengobatan,perawatan, rehabilitasi
1. Permenaker no.per-01/men/1998 tentang penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan
bagi tenaga kerja denga manfaat lebih baik dari paket jpk dasar jamsostek
Keputusan menteri
1. Kepmenaker no.333 th 1989 tentang diagnosis pak
- pak didiagnosis 2 x 24 jam dilaporkan ke kanwil bina lindung tenaga kerja
Surat edaran dan instruksi menteri
1. Se menaker no.se.01/men/1979 tentag pengadaan kantin dan ruang makan
- buruh 50-200 ruang makan
- buruh >200 kantin perusahaan
mengacu pmp 7 th 1964 pasal
2. Surat edaran dirjen binawas no.se.07/bw/1997 tentang pengujian hepatitis b dalam
pemeriksaan tenaga kerja
-tidak boleh untuk menentukan fit atau unfit terhadap tenaga kerja
3. No.se.86/bw/89 tentang perusahaan katering yg mengelola makanan bagi tenaga kerja
- harus dapat rekomendasi kandepnaker setempat

Contoh pekerja yang melalaikan K3 :

JAKARTA, 3/1 - KESELAMATAN KERJA. Seorang pekerja mengecat sebuah penopang


lampu sorot di atas Kali Besar, Jakarta Utara tanpa perlengkapan keselamatan kerja yang
memadai, Kamis (3/1). Keselamatan & kesehatan kerja masih kurang mendapat perhatian
dari perusahaan maupun kontraktor terutama yang berskala kecil. FOTO ANTARA/Fanny
Octavianus/pd/08.

JAKARTA, 8/8 - ANGKA KESELAMATAN KERJA. Pekerja tanpa alat keselamatan


menyelesaikan pemasangan kerangka baliho di kawasan Budaran HI, Jakarta, Senin (8/8).
Menurut data PT Jamsostek, angka kecelakaan tertinggi hingga pertengahan 2011 mencapai
jumlah 98.711, dengan santunan kecelakaan kerja (JKK) sebesar Rp401miliar, dan untuk
menekannya diupayakan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) di
setiap perusahaan. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/NZ/11

Seorang pekerja tanpa menggunakan alat keselamatan kerja, tampak santai saat mengerjakan
pembuatan kontruksi papan iklan di Bundaran Digulis, Pontianak, Kalbar, Rabu (10/11). Pada
hal, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di bidang konstruksi perlu diperhatikan, karena
memiliki resiko tinggi dalam hal keselamatan kerja. Untuk Juli 2010 saja tercatat 20.086
kasus kecelakaan yang terjadi karena tidak mematuhi standar K3.(jessica wuysang/ant/hms)

SURABAYA, 3/11 - PEKERJA KONSTRUKSI. Seorang pekerja berada di ketinggian sebuah


bangunan konstruksi di Surabaya, Senin (2/11). Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) perlu
diperhatikan dalam pembangunan konstruksi, yang merupakan salah satu bagian sektor

pembangunan yang memiliki risiko tinggi dalam hal keselamatan kerja, menyusul pada tahun
2008 tercatat 58 ribu kasus kecelakaan kerja di bidang konstruksi. FOTO ANTARA/Eric
Ireng/ss/hp/09

JAKARTA: Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mencanangkan


pelaksanaan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2011. Kegiatan
yang dilaksanakan selama sebulan itu dimulai 12 Januari sampai dengan 12 Februari.
Menurut Muhaimin, pelaksanaan K3 merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja
yang sangat penting karena akan mempengaruhi ketenangan bekerja, keselamatan, kesehatan,
produktivitas dan kesejahteraan tenaga kerja.
Semua pihak harus menyadari bahwa penerapan K3 merupakan hak dasar perlindungan
bagi tenaga kerja. Setiap pekerja wajib mendapat perlindungan dari resiko kecelakaan kerja
yang dapat terjadi, ujarnya seusai mencanangkan Bulan K3, hari ini.

Muhaimin menjelaskan tujuan dasar dari penerapan K3 adalah mencegah atau mengurangi
kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja dan terjadinya kejadian berbahaya lainnya. Dengan
berbagai upaya kita berharap pada 2015 dapat terwujud Indonesia berbudaya K3, tukasnya.
Dikatakan Menakertrans, saat ini dibutuhkan upaya sosialiasi penerapan K3 dengan
melibatkan pekerja dan masyarakat umum secara langsung agar pekerja dan masyarakat
umum sadar mengenai pentingnya mengenakan peralatan pelindung diri, seperti helm,sepatu
dan kaos tangan.
Oleh karena itu, saya mengajak pimpinan pemerintah daerah, para pengusaha, pekerja dan
masyarakat melakukan upaya konkrit pelaksanaan K3, serta meningkatkan kesadaran,
partisipasi dan tanggung jawab menciptakan perilaku K3, tuturnya

JAKARTA, 26/7 - KESELAMATAN KERJA. Seorang pekerja membersihkan sebuah baliho


di jalan MH. Thamrin, Jakarta, Sabtu (26/7). Melakukan pekerjaan di tempat ketinggian
dengan hanya menggunakan rangka bambu tanpa alat bantu keselamatan sangat berbahaya
bagi pekerja. FOTO ANTARA/HASAN SAKRI GHOZALI/ama/08

Bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani. Semangat keberanian ini tercermin dalam setiap
dimensi kehidupan. Salah satu dimensi kehidupan yang paling kuat menerima pengaruh
keberanian ini adalah etos kerja. Anda dapat lihat sendiri pada gambar - gambar pekerja
bangunan di bawah ini. Dengan gagah berani mereka menyabung nyawa untuk memperoleh
sesuap nasi. Inilah kehidupan di Indonesia.