Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yag ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Glukosa secara normal
bersirkulasi dalam jumlah tertentu dalam darah. Glukosa dibentuk di hati dari makanan
yang

dikonsumsi.

Insulin,

yaitu

suatu

hormon

yang

diproduksi

pankreas,

mengendalikan kadar glukosa dalam darah dengan mengatur produksi dan


penyimpanannya (Brunner & Suddarth, 2001:1220). Menurut World Health
Organization (WHO) diklasifikasikan empat klasifikasi klinis gangguan toleransi
glukosa: (1) diabetes melitus tipe 1 dan 2, (2) diabetes gestasional, dan (3) tipe khusus
lain (Price, 2006:1262).
Pada diabetes tipe 2 terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan
insulin, yaitu: resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan
terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin
dengan reseptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di
dalam sel. Resistensi insulin pada disbetes tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi
intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah
terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang
disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat
sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat
yang normal atau sedikit meningkat. Namun, jika sel-sel beta tidak mampu
mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan
meningkat dan terjadi diabetes tipe 2 (Brunner & Suddarth, 2001:1223).
Jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia tahun 2000 mencapai 8,43 juta
jiwa dan diperkirakan mencapai 21,257 juta jiwa pada tahun 2030, bahkan saat ini
prevalensi DM di Indonesia menduduki urutan ke empat didunia setelah India, China
dan Amerika Serikat. WHO memperkirakan sekitar 4 juta orang meninggal setiap tahun
akibat komplikasi DM. Berdasarkan data Departemen Kesehatan (DepKes) angka
prevalensi penderita diabetes di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah
penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Penyakit DM tipe 2 di Indonesia
merupakan salah satu penyebab utama penyakit tak menular atau sekitar 2,1% dari

seluruh kematian. Diperkirakan sekitar 90% kasus DM di seluruh dunia tergolong DM


tipe 2. Jumlah penderita DM tipe 2 semakin meningkat pada kelompok umur dewasa
terutama umur > 30 tahun dan pada seluruh status sosial ekonomi (Perkeni, 2010).
Penatalaksanaan Diabetes Mellitus ada lima komponen diantaranya pendidikan
(edukasi), perencanaan makan (diet), olahraga dan latihan, pengobatan dan pemantauan
serta pencegahan dan pengendalian komplikasi. Terapi gizi merupakan komponen
utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Pada dasarnya penyusunan program diet
diabetes mellitus adalah mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas normal,
selain itu juga diperlukan pendidikan atau penyuluhan pada pasien diabetes mellitus
untuk menerapkan pola makan seimbang untuk menyesuaikan kebutuhan glukosa
sesuai dengan kebutuhan tubuh melalui pola makan yang sehat. Kepatuhan pasien
terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada pasien
diabetes. Penderita diabetes banyak yang merasa tersiksa sehubungan dengan jenis dan
jumlah makanan yang dianjurkan. Pasien yang patuh akan mempunyai kontrol glikemik
yang lebih baik, dengan kontrol glikemik yang baik dan terus menerus akan dapat
mencegah komplikasi akut dan mengurangi resiko komplikasi jangka panjang.
Perbaikan kontrol glikemik berhubungan dengan penurunan kejadian retinopati,
nefropati dan neuropati. Sebaliknya bagi pasien yang tidak patuh akan mempengaruhi
kontrol glikemiknya menjadi kurang baik bahkan tidak terkontrol, hal ini akan
mengakibatkan komplikasi yang mungkin timbul tidak dapat dicegah.
Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengontrol diet pada pasien DM tipe 2,
salah satunya yaitu melalui dukungan dan peran dari keluarga. Keluarga disini berperan
penting dalam pola diet pada pasien DM tipe 2 dimana keluarga dapat mengatur,
memantau dan mengontrol asupan gizi yang dikonsumsi oleh pasien. Dalam study yang
dilakukan Pittsburgh Epidemiologi of Diabetes Complications (EDC), menyimpulkan
bahwa faktor psikososial seperti dukungan dan peran keluarga mempunyai efek yang
penting pada kontrol glikemik pada orang dewasa dengan NIDDM dan juga penting
pengaruhnya pada self management pada pasien DM tipe 2. Dukungan dan peran
keluarga memerankan peran krusial pada kepatuhan self management dan secara tidak
langsung akan mempengaruhi kontrol metabolik.
Dengan adanya dukungan dari keluarga, pasien dapat termotivasi untuk
melakukan pengontrolan kadar gula darahnya. Hal ini sejalan dengan teori Green
(1980) dalam Notoatmodjo (2005) yang menyebutkan dukungan keluarga merupakan
salah satu faktor penguat atau pendorong terjadinya perilaku kesehatan pada pasien.