Anda di halaman 1dari 27

Stroke

1.

Definisi
Stroke adalah kelainan otak akibat proses patologi pada sistem

pembuluh darah otak. Stroke atau Cerebro Vasculer Accident (CVA) adalah
kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke
bagian otak (Brunner dan Suddarth, 2002).
Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah
otak (Elizabeth J. Corwin, 2002).
Stroke adalah gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder
dari proses patologis pada pembuluh darah serebral, misal: Trombosis,
embolis, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar (Price,
2002).
Menurut WHO stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi
serebral, baik fokal maupun menyeluruh yang berlangsung dengan cepat.
Berlangsung lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut tanpa
ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskuler. Persoalan
pokok pada stroke adalah gangguan peredaran darah pada daerah otak
tertentu.
Fungsi otak yang rusak tidak dapat membaik sepenuhnya, bahkan
bahkan

kejadian

stroke dapat

berulang. Proses

ini

dapat

berupa

penyumbatan lumen pembuluh darah oleh trombosis atau emboli,


pecahnya

dinding

pembuluh

darah

otak,

perubahan permeabilitas

dinding pembuluh darah dan perubahan viskositas maupun kualitas


darah sendiri. Perubahan dinding pembuluh darah otak serta komponen
lainnya

dapat bersifat

degeneratif,

atau

primer

sekunder

karena

kelainan

akibat proses

lain

kongenital
seperti

maupun

peradangan,

arteriosklerosis, hipertensi dan diabetes mellitus (Misbach, 1999).


2.

Klasifikasi CVA
1. Stroke Hemoragik
Perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab
utama kasus gangguan pembuluh darah otak. Perdarahan serebral
dapat terjadi di luar duramater (hemoragi ekstradural atau
epidural), dibawah duramater, (hemoragi subdural), diruang

subarachnoid (hemoragi subarachnoid) atau di dalam substansi


otak (hemoragi intraserebral).
1) Hemoragi ekstradural (epidural) adalah kedaruratan bedah neuro
yang memerlukan perawatan segera. Ini biasanya mengikuti
fraktur tengkorak dengan robekan arteri dengan arteri
meningea lain.
2) Hemoragi subdural (termasuk hemoragi subdural akut) pada
dasarnya sama dengan hemoragi epidural, kecuali bahwa
hematoma subdural biasanya jembatan vena robek. Karenanya,
periode pembentukan hematoma lebih lama ( intervensi jelas
lebih lama) dan menyebabkan tekanan pada otak. Beberapa
pasien mungkin mengalami hemoragi subdural kronik tanpa
menunjukkan tanda dan gejala.
3) Hemoragi subarachnoid dapat terjadi sebagai akibat trauma atau
hipertensi, tetapi penyebab paling sering adalah kebocoran
aneurisma pada area sirkulus wilisi dan malformasi arteri-vena
kongenital pada otak. Arteri di dalam otak dapat menjadi
tempat aneurisma.
4) Hemoragi intraserebral paling umum pada pasien dengan
hipertensi dan aterosklerosis serebral, karena perubahan
degeneratif karena penyakit ini biasanya menyebabkan ruptur
pembuluh darah. pada orang yang lebih muda dari 40 tahun,
hemoragi intraserebral biasanya disebabkan oleh malformasi
arteri-vena, hemangioblastoma dan trauma, juga disebabkan
oleh tipe patologi arteri tertentu, adanya tumor otak dan
penggunaan medikasi (antikoagulan oral, amfetamin dan
berbagai obat adiktif).
2. Stroke Non Hemoragic (Iskmeik)
Terbagi atas 2 yaitu :
1) Stroke trombotik, oklusi

disebabkan

karena

adanya

penyumbatan lumen pembuluh darah otak karena thrombus


yang makin lama makin menebal, sehingga aliran darah
menjadi tidak lancar. Penurunan aliran arah ini menyebabkan
iskemik yang akan berlanjut menjadi infark. Dalam waktu 72
2

jam daerah tersebut akan mengalami edema dan lama kelamaan


akan terjadi nekrosis. Lokasi yang tersering pada stroke
trombosis adalah di percabangan arteri carotis besar dan arteri
vertebra yang berhubungan dengan arteri basiler. Onset stroke
trombotik biasanya berjalan lambat.
2) Stroke emboli terjadi karena adanya emboli yang lepas dari
bagian tubuh lain sampai ke arteri carotis, emboli tersebut
terjebak di pembuluh darah otak yang lebih kecil dan biasanya
pada daerah percabangan lumen yang menyempit, yaitu arteri
carotis di bagian tengah atau Middle Carotid Artery ( MCA ).
Dengan adanya sumbatan oleh emboli akan menyebabkan
iskemik.
(Rochani, 2000)
3. Etiologi
Stroke non haemoragi merupakan penyakit yang mendominasi
kelompok usia menengah dan dewasa tua karena adanya penyempitan
atau sumbatan vaskuler otak yang berkaitan erat dengan kejadian.
a. Trombosis Serebri
Merupakan penyebab stroke yang paling sering ditemui yaitu pada
40% dari semua kasus stroke yang telah dibuktikan oleh ahli
patologis. Biasanya berkaitan erat dengan kerusakan fokal dinding
pembuluh darah akibat anterosklerosis.
b. Embolisme
Kebanyakan emboli serebri berasal dari suatu flowess dalam
jantung sehingga masalah yang dihadapi sesungguhnya merupakan
perwujudan dari penyakit jantung.
Sedangkan menurut Price (2002) mengatakan bahwa stroke
haemoragi

disebabkan

oleh

perdarahan

serebri.

Perdarahan

intracranial biasanya disebabkan oleh 3upture arteria serebri.


Ekstravasasi darah terjadi dari daerah otak dan atau subaracnoid,
sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser. Perdarahan
ini dibedakan berdasarkan tempat terjadinya perdarahan.

Menurut Harsono (2002) ini dibedakan berdasarkan tempat


terjadinya perdarahan antara lain:
a. Perdarahan Sub Arachnoid (PSA)
Kira-kira perdarahan sub arachnoid disebabkan oleh pecahnya
seneusisma 5-6% akibat malformasi dari arteriovenosus.
b. Perdarahan Intra Serebral (PIS)
Penyebab yang paling sering adalah hipertensi, dimana tekanan
diastolic pecah.
Harsono (2002) membagi faktor risiko yang dapat ditemui pada
klien dengan Stroke yaitu:
1) Faktor risiko utama
a. Hipertensi
Hipertensi

dapat

mengakibatkan

pecahnya

maupun

menyempitnya pembuluh darah otak. Apabila pembuluh darah


otak menyempit maka aliran darah ke otak akan terganggu dan
sel-sel otak akan mengalami kematian.
b. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus mampu, menebalkan dinding pembuluh darah
otak yang berukuran besar. Menebalnya pembuluh darah otak
akan menyempitkan diameter pembuluh darah yang akan
menggangu kelancaran aliran darah ke otak, pada akhirnya akan
menyebabkan kematian sel- sel otak.
c. Penyakit Jantung
Beberapa Penyakit Jantung berpotensi menimbulkan stroke.
Dikemudian hari seperti penyakit jantung reumatik, penyakit
jantung koroner dengan infark obat jantung dan gangguan irama
denyut jantung. Faktor resiko ini pada umumnya akan
menimbulkan hambatan atau sumbatan aliran darah ke otak
karena jantung melepaskan sel- sel/ jaringan- jaringan yang
telah mati ke aliran darah.
d. Transient Ischemic Attack (TIA)
TIA dapat terjadi beberapa kali dalan 24 jam/ terjadi berkalikali dalam seminggu. Makin sering seseorang mengalami TIA
maka kemungkinan untuk mengalami stroke semakin besar.
4.

Faktor Resiko
4

a. Kadar lemak darah yang tinggi termasuk kolesterol dan trigliserida.


Meningginya

kadar

kolesterol

merupakan

faktor

yang

menyebabkan aterosklerosis atau menebalnya dinding pembuluh


darah yang diikuti penurunan elastisitas pembuluh darah.
b. Obesitas
c. Merokok
Merokok dapat meningkatkan konsentrasi
fibrinogen yang akan
Rokok, alkohol,
Faktor
resiko DM

makanan

berlemak
mempermudah terjadinya penebalan dinding
pembuluh darah dan

Diabetes
Melitus

Pembuluh
peningkatan vikositas darah.
darah
inelastis
Tubuh
d. tidak
Riwayat
mampu
keluarga dengan stroke
memecah glukosa
energi usia
e.sebagai
Lanjut
Penurunan
Peningkatan
elastisitas
Usia >35
resistensi
pembuluh
tahun
Penyakit
darah
tertentu
seperti
polisitemia
dan
leukemia.
Glukoneogenesis
perifer
darah

Faktor resiko
Obesitas
(kurang gerak,
alkohol, dll)

di Hati

Faktor resiko
Polisitemia dapat menghambat kelancaran aliran
darah ke otak.
Hipertensi

Peningkatan
lemak di pembuluh
darah

Obesitas

Hipertensi

Penyakit
jantung

(kurang gerak,

obesitas, dll)
Sementara leukemia/ kanker darah dapat menyebabkan
terjadinya

LDL & VDL


membawa
lemak ke sel
endotel arteri

Jantung
mengeluarkan
sisa-sisa darah

Tekanan
darah sangat
tinggi

pendarahan otak
f.
Kadar asam
urat darah tinggi
Pembuluh
Oksidasi kolesterol
Aliran darah dari
darah pecah
Iritasi pembuluh
dan trigliserida
jantung melemah
g. Penyakit paru- paru menahun
darah
(Brunner & Suddarth,
Luka pada
2002; Harsono, Trauma
2002)kepala,
Membentuk radikal
jaringan
pembuluh
darah

bebas

Merusak sel
endotel

Perdarahan
intraserebral

Respon
inflamasi
Reaksi inflamasi
dan imun
Leukosit
tertarik ke area
cedera dan
menempel
Berpindah ke
interstitial

Trombosit tertarik
ke area cedera

Terjadi bekuan
platelet pada
luka

5. Patofisiologi
Aktifasi
pembekuan
dan fibrosis
Terbentuk
trombus

Merangsang
proliferasi sel
otot polos

Sel otot polos


tumbuh di tunika
intima

Terbentuk plak
aterosklerosis

Terjadi emboli

Putamen
1. Hemiplegia
2. Sefalgia
3. Muntah
4. Penurunan
kesadaran
5. Defek
hemisensorik
6. Gg gerak bola
mata

Gg perfusi
jaringan, defisit
volume cairan,
inefektif pola
nafas, resiko
perubahan suhu
tubuh, resiko
infeksi, resiko
cedera, resiko
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh ,
ketidaefekftifan
bersihan jalan
nafas

Pons
1. Nyeri kepala
2. Rigiditas
deserebri
3. Hemiplegia
4. Paralisis fasia
homolateral
5. Defiasi mata
Koma mendadak
Gg. Rasa nyaman,
Gg. Istirahat,
kejang, Resiko
Injury, Gg perfusi
jaringan, Integritas
Kulit, Mobilitas
fisik, Perawatan
diri, Intoleransi
aktivitas, Gg
sensori persepsi

Serebelum
1. Gg okulomotor
2. Gg
keseimbangan
3. Nistagmus
4. Muntah terusmenerus
5. singultus
Peningkatan
TIK

Hemisfer dominan:
1. Afasia
2. Anomia berat dg
pemahaman &
repetisi lumayan
Hemisfer nondominan:
1. Anosognosia
Kapsula Interna:
1. Hemiparese
2. Hemiplegia
kontralateral
Substansia alba:
1. Hemianopia

Gg. komunikasi
verbal, Integritas
kulit, Mobilitas
fisik, Perawatan
diri, Intoleransi
aktivitas, Konsep
diri,
Ketergantungan

Sel otak kurang


O2 dan nutrisi
Nyeri

Iskemia
jaringan otak

Menyumbat
pembuluh
darah otak

Cerebrovaskuler
Accident (CVA/
stroke)

Thalamus

Gg sensori
penglihatan

Hemoragik

Trombosis

Melepaskan
sitokinin
proinflamatori

Subtalamik
diensefalon:
Bola mata melirik
ke bawah-dalam
dg paralisis
gerakan ke atas &
posisi kedua bola
mata melihat ujung
hidung

Resiko
Ketidakefektifan
Perfusi Jaringan
Otak

Penumpukan
trombosit
pada luka

Terbentuk
jaringan parut

ruptur aneurisma,
malformasi
arterivenosa

Medula oblongata
1. Gg jantung
2. Gg pernapasan
3. Refleks telan
menurun
4. Muntah
5. Hipersaliva
6. Gg sistem saraf
simpatis
1. Gg perfusi
jaringan
2. Gg sirkulasi
3. Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas
4. Resiko aspirasi
5. Gg eliminasi
6. Gg pola nafas
tidak efektif
7. Nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
8. Gg rasa
nyaman
9. Gg kebersihan
mulut

Kematian
sel-sel otak
Infark
serebri

Mesensefalon
1. Paralisis
okulomorius
ipsilateral
2. Koma

Peningkatan
TIK

Respon
inflamasi

Subthalamus &
Mesensefalon
dorsal
1. Pupil mengecil
2. Reaksi trhdp
cahaya lambat

Hemisfer
1. Frontalis : Gg
motorik
2. Parietalis: Gg
proses dan
integritas informasi
sensorik
3. Temporalis: Gg
pendengaran
4. Oksipitalis: Gg
penglihatan &
sensori warna

6.

Manefestasi Klinis
Stroke ini menyebabkan berbagai defisit neurologik, bergantung
pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area
yang perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral
(sekunder atau aksesori) (Hudak & Gallo, 1996).
a. Defisit motorik:
Hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) karena lesi pada sesi
otak yang berlawanan
Hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh.
b. Defisit sensori:
Defisit visual: Hemianopsia homonimosa

(kehilangan

pandangan pada setengah bidang pandang pada sisi yang sama),


diplopia (penglihatan ganda), penurunan ketajaman penglihatan
Hilangnya atau tidak memberikan respon terhadap sensasi
superficial (sentuhan, nyeri, tekanan, panas, dan dingin)

Hilangnya

atau

tidak

memberikan

respon

terhadap

proprioresepsi (pengetahuan tentang posisi bagian tubuh)


c. Defisit komunikasi:
Afasia ekspresif (kesulitan dalam mengubah suara menjadi polapola bicara yang dapat difahami) - dapat berbicara dengan
menggunakan respons satu kata
Afasia reseptif (kerusakan kelengkapan kata yang diucapkan mampu untuk berbicara, tetapi menggunakan kata-kata dengan
tidak tepat dan tidak sadar tentang kesalahan ini)
Afasia global (kombinasi afasia ekspresif dan reseptif) tidak
mampu berkomunikasi pada setiap tingkat
Aleksia (ketidakmampuan untuk mengerti kata yang dituliskan)
Agrafasia (ketidakmampuan untuk mengekspresikan ide-ide
dalam tulisan)

d.

Gangguan persepsi: ganggua skem/maksud tubuh (amnesia atau


menyangkal terhadap ekstremitas yang mengalami paralise),
disorientasi

(waktu,

tempat,

orang),

apraksia

(kehilangan

kemampuan untuk menggunakan obyek-obyek dengan tepat),


agnosia (ketidakmampuan mengidentifikasi lingkungan melalui
indra), kelainan dalam memperkirakan ukuran dan menilai objek
serta menemukan letak objek dalam ruangan, kerusakan memori
untuk mengingat letak khusus objek atau tempat, disorientasi
e.

kanan dan kiri.


Defisit Intelektual
Kehilangan memori
Rentang perhatian singkat
Peningkatan distraktibilitas (mudah buyar)
Penilaian buruk
Ketidakmampuan untuk mentransfer pembelajaran dari satu
situasi ke situasi yang lain
Ketidakmampuan untuk menghitung, memberi alasan atau

f.

berpikir secara abstrak


Disfungsi Aktivitas Mental dan Psikologis
Labilitas emosional (menunjukkan reaksi dengan mudah atau
tidak tepat)
7

Kehilangan kontrol diri dan hambatan sosial


Penurunan toleransi terhadap stres
Ketakutan, permusuhan, frustasi, marah
Kekacauan mental dan keputusasaan
Menarik diri, isolasi
Depresi
g. Gangguan Eliminasi (Kandung kemih dan usus)
Lesi unilateral karena stroke mengakibatkans sensasi dan
kontrol partial kandung kemin, sehingga klien sering mengalami
berkemih, dorongan dan inkontinensia urine.
Jika lesi stroke ada pada batang otak, maka akan terjadi
kerusakan lateral yang mengakibatkan neuron motorik bagian
atas kandung kemih dengan kehilangan semua kontrol miksi
Kemungkinan untuk memulihkan fungsi normal kandung kemih
sangat baik
Kerusakan fungsi usus akibat dari penurunan tingkat kesadaran,
dehidrasi dan imobilitas
Konstipasi dann pengerasan feses
Gejala (anamnesa)
Permulaan (awitan)
Waktu (saat serangan)
Peringatan
Nyeri Kepala
Kejang
Muntah
Kesadaran menurun
Koma/kesadaran menurun
Kaku kuduk
Kernig
Pupil edema
Perdarahan Retina
Bradikardia
Penyakit lain

Non Hemoragik
Sub akut/kurang mendadak
Bangun pagi/istirahat
+ 50% TIA
+/Kadang sedikit

Hemoragik
Sangat akut/mendadak

+
Kemungkinan pergeseran
glandula pineal

Sedang aktifitas
+++
+
+
+++
+/+++
++
+
+
+
hari ke-4
sejak awal
Tanda adanya aterosklerosis Hampir selalu hypertensi,
di retina, koroner, perifer.
aterosklerosis, HHD
Emboli pada ke-lainan katub,
fibrilasi, bising karotis

Pemeriksaan:
Darah pada LP
X foto Skedel
8

Oklusi, stenosis
Angiografi
Densitas berkurang
(lesi hypodensi)

CT Scan
Opthalmoscope

Lumbal pungsi
Tekanan
Warna
Eritrosit
Arteriografi
EEG

Crossing phenomena
Silver wire art

Normal
Jernih
< 250/mm3
oklusi
di tengah

Aneurisma. AVM. massa


intra hemisfer/ vasospasme.
Massa intrakranial
densitas bertambah.
(lesi hyperdensi)
Perdarahan retina atau
corpus vitreum

Meningkat
Merah
>1000/mm3
ada shift
shift midline echo

(Rochani, 2000)
5.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan

diagnosa stroke antara lain adalah:


a. Angiografi
Arteriografi dilakukan untuk memperlihatkan penyebab dan letak
gangguan. Suatu kateter dimasukkan dengan tuntunan fluoroskopi
dari arteria femoralis di daerah inguinal menuju arterial, yang
b.

sesuai kemudian zat warna disuntikkan.


CT-Scan
CT-scan dapat menunjukkan adanya hematoma, infark dan
perdarahan

c. EEG (Elektro Encephalogram)


Dapat menunjukkan lokasi perdarahan, gelombang delta lebih
lambat di daerah yang mengalami gangguan
d. Pungsi Lumbal
Menunjukan adanya tekanan normal, Tekanan meningkat dan
cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan
e. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik
f. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
g. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng
pineal
(Harsono, 2003).
9

6.

Komplikasi
Komplikasi utama pada stroke menurut Smeltzer C. Suzanne, 2002
yaitu :
a. Hipoksia Serebral
b. Penurunan darah serebral
c. Luasnya area cedera

7.

Penatalaksanaan
a. Perawatan umum stroke
1) Penatalaksanaan awal selama fase akut dan mempertahankan
fungsi tubuh. Mengenai penatalaksanaan umum stroke,
konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia, 2001
mengemukakan hal-hal berikut:
a) Bebaskan jalan nafas dan usahakan ventilasi adekuat, bila
perlu berikan oksigen 0-2 L/menit sampai ada hasil gas
darah.
b) Kandung kemih yang penuh dikosongkan, sebaiknya dengan
2)

kateterisasi intermiten.
Penatalaksanaan tekanan darah dilakukan secara khusus.
Asia Pacific Consensus on Stroke Manajement, 2001,
mengemukakan bahwa peningkatan tekanan darah yang sedang
tidak boleh diobati pada fase akut stroke iskemik. Konsensus
nasional

pengelolaan

stroke

di

Indonesia,

2002,

mengemukakan bahwa tekanan darah diturunkan pada stroke


iskemik akut bila terdapat salah satu hal berikut :
a) Tekanan sistolik > 220 mmHg pada dua kali pengukuran
selang 30 menit.
b) Tekanan diastolik > 120 mmHg pada dua kali pengukuran
selang 30 menit.
c) Tekanan darah arterial rata-rata > 130-140 mmHg pada dua
kali pengukuran selang 30 menit.
d) Disertai infark miokard akut/ gagal jantung atau ginjal akut.
Pada umumnya peningkatan tekanan darah pada fase akut
stroke diakibatkan oleh:
Stress daripada stroke
Jawaban fisiologis dari otak terhadap keadaan hipoksia
Tekanan intrakranial yang meninggi.
Kandung kencing yang penuh
Rasa nyeri.
10

Tekanan darah dapat berkurang bila penderita dipindahkan


ke tempat yang tenang, kandung kemih dikosongkan, rasa
e)

nyeri dihilangkan, dan bila penderita dibiarkan beristirahat.


Hiperglikemia atau hipoglikemia harus dikoreksi.
Keadaan hiperglikemia dapat dijumpai pada fase akut
stroke, disebabkan oleh stres dan peningkatan kadar
katekholamin di dalam serum. Dari percobaan pada hewan
dan pengalaman klinik diketahui bahwa kadar glukosa
darah yang meningkat memperbesar ukuran infark. Oleh
karena itu, kadar glukosa yang melebihi 200 mg/ dl harus
diturunkan dengan pemberian suntikan subkutan insulin.
Konsensus nasional pengelolaan stroke di Indonesia
mengemukakan bahwa hiperglikemia ( >250 mg% ) harus
dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu sekitar 150 mg
% dengan insulin intravena secara drips kontinyu selama 23 hari pertama. Hipoglikemia harus diatasi segera dengan
memberikan dekstrose 40% intravena sampai normal dan

diobati penyebabnya.
f) Suhu tubuh harus dipertahankan normal.
Suhu yang meningkat harus dicegah, misalnya dengan obat
antipiretik atau kompres. Pada penderita iskemik otak,
penurunan suhu sedikit saja, misalnya 2-3 derajat celsius,
sampai tingkat 33C atau 34 C memberi perlindungan pada
otak. Selain itu, pembentukan oxygen free radicals dapat
meningkat pada keadaan hipertermia. Hipotermia ringan
sampai sedang mempunyai efek baik, selama kurun waktu
2-3 jam sejak stroke terjadi, dengan memperlebar jendela
g)

kesempatan untuk pemberian obat terapeutik.


Nutrisi peroral hanya boleh diberikan setelah hasil tes
fungsi menelan baik, bila terdapat gangguan menelan atau
penderita dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui

h)

pipa nasogastrik.
Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan.
Pemberian cairan intravena berupa cairan kristaloid atau

11

koloid, hindari yang mengandung glukosa murni atau


i)

hipotonik.
Bila ada dugaan trombosis vena dalam, diberikan heparin
dosis rendah subkutan, bila tidak ada kontra indikasi.

Terapi farmakologi yang dapat diberikan pada pasien stroke :


a) Antikoagulasi dapat diberikan pada stroke non haemoragic,
diberikan sdalam 24 jam sejak serangan gejala-gejala dan diberikan
secara intravena.
b) Obat antipletelet, obat ini untuk mengurangi pelekatan platelet.
Obat ini kontraindikasi pada stroke haemorhagik.
c) Bloker kalsium untuk mengobati vasospasme serebral, obat ini
merilekskan otot polos pembuluh darah.
d) Trental dapat digunakan untuk meningkatkan aliran darah kapiler
mikrosirkulasi, sehingga meningkatkan perfusi dan oksigenasi ke
jaringan otak yang mengalami iskemik.

12

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian
I. Data Umum
1. Nama Keluarga (KK)

: Tn. Z

2. Umur

: 70 tahun

3. Alamat dan telephone

: Jl. Berok I no. xx

4. Komposisi

No Nama
1
Ny. R

Gender Hub dgn KK


Pr
Istri

TTI/Umur Pendidikan
66 tahun
Tamat SD

Lk

30 tahun

Tn. B

Anak

Tamat SMA

Genogram :

66 th

Keterangan :
= Perempuan

= Klien

= Laki-laki

= Menikah
13

= Meninggal

= Tinggal Serumah

5. Tipe Keluarga
Kelurga Tn. Z merupakan tipe keluarga inti, karena Tn. Z tinggal dalam
satu rumah dengan istri dan satu anak laki- lakinya.
6. Suku
Tn. Z mengatakan bahwa ia memiliki suku minang. Tn. Z berkomunikasi
dengan bahasa minang dalam kehidupan sehari- harinya. Tn.Z sering
menkonsumsi makanan yang berlemak dan berkolesterol seperti jeroan.
Tn.Z juga mengatakan bahwa diamenghabiskan 1 bungkus rokok perhari.
7. Agama
Semua anggota keluarga Tn. Z beragama islam dan taat dalam
menjalankan ibadahnya. Tn.Z tidak pernah sholat ke mesjid, hanya sholat
dirumah saja bersama istrinya.Namun sejak sakit Ny.R hanya dapat shalat
duduk karena Ny.R mengalami kelumpuhan anggota gerak sebelah kanan.
nya.
8. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Keluarga Tn. Z ini termasuk keluarga dengan golongan ekonomi rendah,
dimana penghasilan Tn. Z perbulan yaitu Rp 800.000,00 hasil dari kuli
bangunan. Kadang-kadang anak Tn. Z mengirimkan uang sebesar Rp
50.000-

Rp

100.000

perbulan.

Tn.Z

tidak

memiliki

tabungan

keluarga.batas
9. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Aktivitas rekreasi yang dilakukan keluarga Tn. Z yaitu nonton TV bersama
istri dan anaknya, makan bersama sehari sekali pada malam hari. Dan
keluarga tidak pernah pergi berekreasi bersama-sama karena keterbatasan
biaya.
II. Riwayat & Tahap Perkembangan Keluarga
10. Tahap perkembangan keluarga saat ini
14

Pada tahap ini keluarga Tn. Z berada pada tahap keluarga dengan tahapan
lansia, saat ini Tn. Z tinggal bersama istri dan anak bungsunya yang belum
menikah.

11. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Pada saat ini Tn. Z ingin melihat anak bungsunya menikah, mengingat usia
dari Tn. Z yang semakin bertambah.
12. Riwayat keluarga inti
Tn.Z dan Ny.R menikah karena dijodohkan oleh orang tua mereka. Ny.R
mengatakan bahwa mengalami kelumpuhan pada anggota gerak sebelah
kanan sejak terkena stroke kurang lebih 1 tahun yang lalu. Untuk
memenuhi kebutuhan sehari- harinya Ny. R di bantu oleh suami dan
anaknya.
13. Riwayat keluarga sebelumnya
Ny. R mengatakan bahwa orang tua laki- lakinya memiliki riwayat
penyakit hipertensi. Dan tidak ada riwayat penyakit menular atau
keturunan.
III. Lingkungan
14. Karakteristik rumah
Rumah yang dimiliki Tn. Z terdiri dari 3 kamar. Kamar mandi digabung
dengan dapur. Rumah Tn. Z berlantai semen dan dinding rumah Tn. Z
belum dicat, 1 kamar rusak karena gempa, atap rumah klienbocor dan
sampai saat ini belum diperbaiki karena masalah biaya. Ruang tamu Tn. Z
hanya terdiri dari 1 perangkat kursi tamu yang sudah lapuk. Ruang tamu
digabung dengan ruang makan yang terdapat rak piring, sebuah lemari dan
meja kayu yang tertata rapi. Di kamar mandi terdapat sumur. Tn. Z
mengkonsumsi air sumur yang telah dimasak untuk minum. Lingkungan
rumah dan keadaan rumah agak kotor karena Ny.R mengalami kesulitan
untuk membersihkannya. Pencahayaan rumah cukup, cahaya matahari
cukup menerangi rumah.

15

Denah Rumah :
K.
Rusak

K. Tn.
Z

K.
Dapur
mandi

Ruang Tamu

15. Karakteristik tetangga dan komunitas RW


Hubungan Tn. Z dengan tetangga disekitar rumah cukup baik, Tipe
komunitas bersifat heterogen umumnya bersuku minang.
16. Mobilitas geografis keluarga
Tn. Z menetap di padang,dirumah mereka sendiri, rumah yang ditempeti
Tn. Z tidak berpindahpindah dari awal berkeluarga sampai saat ini Tn. Z
bertempat tinggal dirumah yang ditempatinya saat ini.
17. Perkumpulan keluarga & interaksi dengan masyarakat
Tn. Z dengan anakanaknya jarang sekali berkumpul bersamasama
karena satu orang anak Tn. Z tinggal di Jawa. Namun, anak keduanya
sering menjenguk Tn. Z dan pada sore harinya kembali kerumahnya yang
juga berada di padang. Tn. Z tidak pernah ikut dalam kegiatan
dilingkungannya karena sibuk bekerja untuk mencari nafkah.
18. Sistem pendukungan keluarga
Tn. Z mempunyai 1 orang anak tidak jauh dari tempat tinggalnya, dan
sering membantu Ny.R. untuk memenuhi kebutuhan keluarga Tn.Z baik

16

dari segi ekonomi maupun material. Keluarga Tn.Z memiliki kartu akses
pelayanan kesehatan jamkesmas.

IV. Struktur Keluarga


19. Pola komunikasi keluarga
Kelurga Tn. Z mempunyai pola komunikasi yang terbuka, ketika ada
masalah Tn. Z bermusyawarah bersama anggota keluarga lainnya.
20. Struktur kekuatan keluarga
Jika Tn. Z mempunyai masalah kadangkadang Tn. Z bicara dengan Tn.B.
Kadangkadang pengambilan keputusan dibantu oleh Tn.B
21. Struktur peran
Tn. Z adalah kepala keluarga bekerja sebagai kuli bangunan, Tn. Z
tingggal bersama istri dan anak bungsunya yang belum menikah. Istri Tn.
Z menderita penyakit stroke sejak satu tahun yang lalu. Walaupun
demikian peran Ny. R tidak diabaikan begitu saja.
22. Nilai dan normal budaya
Menurut Tn. Z mereka menjunjung tinggi nilai atau norma-norma keluarga
yang diyakini yaitu agama islam dengan menerapkan aturan-aturannya
serta saat beribadah. Nilai agama dan norma budaya yang diterapkan Tn. Z
tidak ada yang bertentangan dengan kesehatan
V. Fungsi Keluarga
23. Fungsi afektif
Semua anggota keluarga Tn. Z saling mendukung, menyayangi dan
menghormati antara anggota keluarganya dan saling membantu, dilihat
dari pehatian anak yang tinggal di padang yang sering mengunjungi
24. Fungsi Sosialisasi
Tn. Z mengatakan interaksi antar anggota keluarga baik, Tn. Z
mengatakan berusaha untuk mengikuti aturan atau norma yang ada
dimasyarakat sehingga dapat menyesuaikan dengan masyarakat sekitarnya.
17

25. Fungsi Perawatan Keluarga


a. Kemampuan mengenal masalah kesehatan, Tn. Z mengatakan cuma
sedikit mengetahui tentang tanda dan gejala dari penyakit Ny.R
b. Keluarga Tn. Z kurang mampu mengambil keputusan jika ada masalah
kesehatan, Tn. Z juga mengatakan mengalami masalah biaya jika
berobat yang membutuhkan biaya yang lebih besar.
c. Keluarga kurang mampu melakukan perawatan terhadap anggota
keluarga yang sakit.
d. Keluarga kurang mampu memelihara (memodifikasi lingkungan rumah
yang sehat karena kurangnya sarana dalam rumah klien)
e. Keluarga kurang mampu menggunakan pelayanan kesehatan , keluarga
Tn. Z mengatakan jika sakit ia mencoba dahulu obat tradisional
Pemeriksaan Fisik Keluarga
No
1.

Komponen
Kepala

Ny. R
Bentuk

Tn.Z
Bentuk

Tn. B
Bentuk

mesochepal, kulit mesochepal,


kepala

Kotor, kepala

kulit mesochepal,
bersih, kepala

kulit
bersih,

rambut putih, lurus rambut hitam, ikal rambut hitam, ikal


pendek dan tidak dan tidak rontok

dan tidak rontok

rontok
2.

Mata

Simetris,

Simetris,

konjungtiva tidak konjungtiva


anemis,

sklera anemis,

Simetris,
tidak konjungtiva
sklera anemis,

tidak
sklera

tidak ikterik, pupil tidak ikterik, pupil tidak ikterik, pupil


isokhor
3.

Telinga

Simetris,

isokhor
Bersih, Simetris,

tidak ada serumen


4.

Hidung

Simetris,

Bersih, Simetris,

tidak ada serumen

Bersih, Simetris,

tidak ada polip

isokhor

18

tidak ada serumen

Bersih, Simetris,

tidak ada polip

Bersih,

Bersih,

tidak ada polip

5.

6.

Mulut

Leher

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

pembesaran tonsil,

pembesaran tonsil,

pembesaran tonsil,

mukosa bibir

mukosa bibir

mukosa bibir

lembab
Tidak ada bau

lembab
Tidak ada bau

lembab
Tidak ada bau

mulut.

mulut.

mulut.

dan Tidak

ditemukan Tidak

ditemukan Tidak

Tenggorokan

pembesaran
kelenjar
tidak

pembesaran
tiroid, kelenjar

ditemukan tidak

pembesaran
pembuluh

7.

Dada
Paru-paru

dan Bentuk

ditemukan tidak

tiroid,
ditemukan

pembesaran
limfe pembuluh

dan vena jugularis

simetris, Bentuk

limfe

dan vena jugularis

simetris, Bentuk

simetris,

tidak

ditemukan tidak

ditemukan tidak

ditemukan

bunyi

nafas bunyi

nafas bunyi

nafas

tambahan,

tidak tambahan,

tidak tambahan,

tidak

penggunaan

tampak

tampak

otot penggunaan

otot penggunaan

bantu pernapasan

Abdomen

tiroid, kelenjar

limfe pembuluh

tampak

8.

pembesaran

pembesaran

dan vena jugularis

ditemukan

bantu pernapasan

otot

bantu pernapasan

Datar,

tidak Datar,

tidak Datar,

tidak

kembung,

tidak kembung,

tidak kembung, tidak ada

ada nyeri tekan, ada nyeri tekan, nyeri tekan, tidak


tidak

ada tidak

pembesaran hati

ada ada

pembesaran hati

19

hati

pembesaran

9.

Ekstremitas

Terjadi kelemahan Tidak ada edema, Tidak ada edema,


pada

Ekstremitas tidak ada kekakuan kadang mengalami

kanan, mengalami sendi,


keterbatasan gerak

tidak

ada kekakuan

nyeri sendi, tidak tidak

sendi,

ada

nyeri

terdapat luka, tidak sendi,

tidak

mengalami

terdapat luka, tidak

keterbatasan gerak

mengalami
keterbatasan gerak

10.

BB

46 Kg

57 Kg

62 Kg

11.

TB

150 Cm

162 Cm

165 Cm

12.

Tanda Vital

TD

130/90 TD

mmHg
RR : 20 x/mnt
Nadi 88 x/mnt

13.

Keluhan

120/70 TD

mmHg
RR : 22 x/mnt
Nadi 80 x/mnt

Kaki dan tangan Tidak ada keluhan


kanannya

120/80

mmHg
RR : 20 x/mnt
Nadi 88 x/mnt

Tidak ada keluhan.

terasa

lemah digerakkan.
VI. Stres dan Koping Keluarga
26. Stressor jangka pendek
Tn. Z mengatakan saat ini memikirkan masalah kesehatan yang terjadi
pada istrinya
27. Stressor jangka panjang
Keluarga mengatakan jika ada uang Ny.R akan dibawa berobat lebih lanjut
sehingga sembuh total dan tidak susah berjalan lagi sehingga dapat
melakukan aktivitas seperti sebelum sakit
28. Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah
Keluarga selalu memberikan dorongan dan semangat pada anggota
keluarga yang memiliki masalah terutama Ny. R
29. Strategi koping yang digunakan

20

Bila ada anggota keluarga yang sakit maka hal pertama yang dilakukan
adalah membawa ke pengobatan alternative dan bila ada suatu masalah
maka anak Tn. Z yang membantu menyelesaikan masalah
30. Strategi adaptasi disfungsional
Bila Tn. Z salah maka Ny. R dan Tn. B meningatkan Tn. Z, begitu juga
sebaliknya, mereka dalam keluarga saling menghargai
VII. Harapan Keluarga
Keluarga Tn. Z berharap agar Ny. R dapat sembuh, sehingga Ny. R dapat
melakukan aktifitas seperti sebelum sakit.

ANALISA DATA

21

No
1
DO :

Data

Masalah

Etiologi

TD Ny. R : 150/100 mmHg


Pemeriksaan kekuatan motorik

Perubahan

Ketidakmampuan

pemeliharaan

keluarga

3333 5555
3333 5555
Klien terlihat

kesehatan pada masalah kesehatan


berjalan

dengan

mengenal

Ny.R dikeluarga
Tn. Z

bantuan tongkat
DS :
Ny.R mengatakan mengalami stroke
sejak 1 tahun yang lalu, pada saat
terkena stroke klien mengalami pelo
saat berbicara, mulut mencong dan
anggota

gerak

sebelah

kanan

mengalami kelemahan
Pada saat mengalami serangan stroke
tersebut Tn. Z membawa Ny. R ke
pengobatan alternatif terlebih dahulu
sebelum ke rumah sakit

2 DO :
Anggota gerak sebelah kanan Ny. R

Resiko

mengalami kelemahan
Ny. R menggunakan tongkat untuk

pada Ny.R di

keluarga

keluarga Tn. Z

mengatur

berjalan
Atap di dapur rumah klien terlihat
bocor ketika hujan akan membuat
lantai dapur licin
DS :

cidera

Ketidakmampuan
dalam
dan

memodifikasi
lingkungan

yang

dapat
menyebabkan

Tn. Z mengatakan atap rumah bocor


jadi ketika hujan lantai di dapur

cidera
keluarga

pada
Tn.

khususnya Ny. R

menjadi basah dan licin

22

23

Intervensi Keperawatan
NO
1

DX KEPERAWATAN
Perubahan pemeliharaan

KRITERIA HASIL

PERENCANAAN KEPERAWATAN

TUM :

kesehatan pada Ny.R

Setelah dilakukan 3x kunjungan pada keluarga 1. Diskusi

dikeluarga Tn. Z b.d

Tn. Z maka keluarga Tn. Z memahami tentang

penyebab, tanda dan gejala stroke dengan

Ketidakmampuan

cara memelihara kesehatan

menggunakan lembar timbal balik

keluarga mengenal

TUK :

masalah kesehatan

Setelah

dengan keluarga tentang pengertian,

2. Motivasi keluarga untuk menyebutkan kembali


diberikan

penjelasan

1x60

menit

pengertian, penyebab dan tanda gejala stroke

keluarga mampu mengenal masalah kesehatan 3. Beri pujian yang positif atas usaha yang
dengan menyebutkan pengertian, penyebab dan
tanda gejala penyakit stroke dan pencegahannya
Kriteria :
Respon verbal keluarga
Standar :
1.

Sroke adalah gangguan fungsi otak, yang


berlangsung dengan cepat. Berlangsung
lebih dari 24 jam atau berakhir dengan
maut tanpa ditemukannya penyebab selain

24

dilakukan keluarga

2.

daripada gangguan pada pembuluh darah.


Menyebutkan penyebab stoke yaitu
penyempitan atau sumbatan pembuluh darah
otak, perdarahan serebri dan 4 faktor risiko
antara lain Hipertensi, Diabetes Mellitus,
Kolesterol tinggi, Kegemukan.

3.

Menyebutkan 2 dari 5 tanda dan gejala


stroke yaitu kelemahan salah satu sisi tubuh,
kesulitan bicara

2.

Resiko cidera pada Ny.R TUM :


dikeluarga Tn. Z b.d

Setelah 3x kunjungan keluarga Tn.Z mampu 1. Kaji ulang tentang faktor-faktor resiko yang

Ketidakmampuan

memodifikasi

lingkungan

sehingga

tidak

keluarga dalam mengatur menimbulkan resiko cidera pada keluarga Tn. Z


dan
lingkungan

memodifikasi terutama pada Ny. R


yang

dapat menyebabkan resiko cidera pada keluarga


Tn. Z
2. Lakukan pengaturan dan modifikasi lingkungan

dapat TUK :

agar lebih aman

menyebabkan cidera pada Setelah 1x30 menit keluarga Tn.Z mampu 3. Monitor keluarga Tn. Z terutama Ny. R secara
keluarga Tn. Z khususnya memahami
Ny. R

tentang

cara

memodifikasi

berkala terutama 3 hari kunjungan pertama

lingkungan yang dapat mencegah cidera


Kriteria :

4. Ajarkan

25

keluarga

Tn.

tentang

upaya

Respon verbal dan psikomotor

pencegahan cidera

Standar :
1. Dapat mengidentifikasi bahaya lingkungan
yang dapat meningkatkan resiko cidera
2. Dapat mengidentifikasi upaya preventif atas
bahaya tersebut
3. Dapat memahami cara melindungi diri yang
tepat dari cidera

26

Daftar Pustaka

Hudak, C.M., Gallo, B.M. 1996. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik


Ed. 6 Vol 2. Jakarta: EGC.
Harsono. 2002. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Price, S.A., Wilson, L.M. 2002. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Ed 4 Vol 2. Jakarta: EGC.
Doengoes, M.E., Moorhouse M.F., Geissler, A.C. 2000. Rebcana Asuhan
Keperawatan Ed 3. Jakarta: EGC.
Brunner & Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta: EGC
Misbach. 1999. Stroke, Aspek Diagnostik, Patofisiologi, Manajemen.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Corwin, E.J. 2002. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Rochani, Siti, 2000, Simposium Nasional Keperawatan Perhimpunan
Perawat Bedah Saraf Indonesia, Surabaya.

27