Anda di halaman 1dari 3

M - VII

KUAT TARIK TAK LANGSUNG

7.1 Tujuan Percobaan


Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui kuat tarik batuan secara
tidak langsung, pengertian secara tidak langsung ini, dikarenakan specimen
diberikan pembebanan terhadap arah diameteral sehingga gaya yang diberikan
akan di distribusikan secara diameteral (ditarik).

7.2 Landasan Teori


Uji tarik rekayasa banyak dilakukan untuk melengkapi informasi rancangan
dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi spesifikasi bahan
(Dieter, 1987). Pada uji tarik, benda uji diberi beban gaya tarik sesumbu yang
bertambah secara kontinyu, bersamaan dengan itu dilakukan pengamatan
terhadap perpanjangan yang dialami benda uji (Davis, Troxell, dan Wiskocil,
1955).

Kurva

tegangan

regangan

rekayasa

diperoleh

dari

pengukuran

perpanjangan benda uji.


Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kuat tarik
contoh batuan di laboratorium, yaitu metode kuat tarik langsung dan metode kuat
tarik tak langsung. Metode kuat tarik tak langsung merupakan uji yang paling
sering digunakan. Hal ini disebabkan uji ini lebih mudah dan murah daripada uji
kuat tarik langsung. Salah satu uji kuat tarik tak langsung adalah Brazilian test.
Pengujian ini adalah untuk mengetahui kuat tarik (tensile strength) dari
perconto batuan berbentuk silinder secara tidak langsung. Alat yang digunakan
adalah mesin tekan seperti pada pengujian kuat tekan.

7.3 Alat yang Digunakan

Mesin kuat tekan (Uniaxial Compression Test Machine).

Sistem pengukuran beban, dengan ketelitian 2 kali.

Sepasang plat baja.

Jangka sorong dan stop watch.

7.4 Prosedur

Conto batuan yang akan digunakan dalam uji ini disiapkan dengan ukuran
dimensi panjang = setengah kali diameter.

Plat baja bagian bawah diletakkan ditengah-tengah plat form mesin kuat
tekan.

Specimen diletakkan ditengahnya (diantara plat baja atas dan plat baja
bawah), kemudian sedikit demi sedikit ditekan dengan plat form atas
dengan mesin kuat tekan dengan diberikan pembebanan.

Pasang dial gauge untuk mengukur deformasi axial.

Conto batuan diberikan pembebanan, diusahakan laju pembebanan


tersebut konstan yaitu 200 N/detik.

Pembacaan pembebanan dilakukan setiap penambahan gaya 2 KN dan


catat

angka

pembebanan

aksial

hingga

(speciment pecah).

7.5 Rumus yang Digunakan


Besarnya kuat tarik dihitung sebagai berikut :

t =

2P
DL

Dimana :
t = Kuat tarik (kg/cm2)
P = Beban maksimum saat conto pecah
L = Tebal conto
D = Diameter conto

dicapai

gaya

maksimum

DAFTAR PUSTAKA

Staff Assisten Lab. Tambang, 2015, Diktat Penuntun Praktikum Geomekanika,


Lab. Tambang UNISBA.

Anda mungkin juga menyukai