Anda di halaman 1dari 80

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pemerintah daerah saat ini dihadapkan pada banyaknya tuntutan, yang
salah satunya adalah tuntutan masyarakat agar pemerintah daerah mampu
menciptakan masyarakatnya yang sejahtera. Tuntutan ini merupakan implikasi
dari penerapan otonomi daerah yang mengedepankan peningkatan pelayanan
publik dalam rangka meningkatkan daya tarik bagi investor untuk menanamkan
investasinya di daerah. Dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dan
kualitas pelayanan publik, pemerintah daerah harus melakukan pembangunan di
segala aspek yang berkaitan dengan kepentingan publik, termasuk pembangunan
manusia.
Akuntansi dapat dijadikan sebagai media evaluasi untuk mengukur
kemajuan pembangunan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah. Suatu
pembangunan dikatakan berhasil apabila proses dari sistem pembangunan
melibatkan adanya akuntabilitas, transparansi dan profesionalisme yang
dilaksanakan dengan seksama sesuai peraturan perundang-undangan. Konsep
Value for Money (VFM) pada pengelolaan organisasi sektor publik digunakan
untuk menjawab tantangan akan adanya inefisiensi, pemborosan, sumber
kebocoran dana, dan istitusi yang merugi. Elemen utama dari dari VFM adalah
ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Ketiga hal tersebut merupakan elemen pokok
VFM, namun perlu ditambah dengan dua elemen lain yaitu keadilan (equity) dan

pemerataan atau kesetaraan (equality). Keadilan mengacu pada adanya


kesempatan sosial (social opportunity) yang sama untuk mendapatkan pelayanan
publik yang berkualitas dan kesejhateraan ekonomi. Pemerataan atau kesetaraan
(equality) berarti penggunaan uang publik hendaknya tidak hanya terkonsentrasi
pada kelompok tertentu, namun dilakukan secara merata. Pemerintah daerah
selaku penyelenggara dan penanggung jawab pembangunan di daerah hendaknya
selalu dapat menerapkan ukuran-ukuran tersebut dalam proses pembangunannya.
Akuntansi pemerintahan daerah termasuk dalam lingkup akuntansi
pemerintahan yang memiliki tujuan pertanggungjawaban (accountability and
stewardship), manajerial, dan pengawasan (Halim dan Muhammad, 2013:39).
Tujuan pertanggungjawaban memiliki arti memberikan informasi keuangan yang
lengkap, cermat, dalam bentuk dan waktu yang tepat, yang berguna bagi pihak
1

yang bertanggung jawab yang berkaitan dengan operasi unit-unit pemerintahan.


Tujuan manajerial berarti bahwa akuntansi pemerintah haurs menyediakan
informasi keuangan yang diperlukan untuk perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, pemantauan, pengendalian anggaran, perumusan kebijakan, dan
pengambilan keputusan, serta penilaian kinerja, sedangkan tujuan pengawasan
berarti bahwa akuntansi pemerintah harus memungkinkan terselenggaranya
pemeriksaan oleh aparat pengawasan fungsional secara efektif dan efisien.
Secara komprehensif, pembangunan di daerah tidak terlepas oleh Sistem
Pengelolaan Keuangan Daerah yang mencakup keseluruhan kegiatan yang
meliputi perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan,
audit, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Unsur-unsur

tersebut tercantum dalam Akuntansi Sektor Publik yang sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP), sehingga akuntabilitas, transparansi dan
profesionalisme pembangunan dapat tercapai. Rencana pembangunan pemerintah
daerah tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Akuntansi digunakan dalam pengawasan penggunaan pengelolaan dana publik
tersebut melalui pertanggungjawaban keuangan, laporan realisasi anggaran, serta
laporan kinerja.
Mardiasmo (2009:159) menyatakan bahwa laporan keuangan organisasi
sektor publik merupakan komponen penting untuk menciptakan akuntabilitas
sektor publik. Tuntutan akuntabilitas sektor publik menimbulkan implikasi bagi
pemerintah daerah selaku penyelenggara pemerintahan untuk memberikan
informasi kepada publik, yang salah satunya berupa laporan keuangan. Laporan
keuangan yang berisi informasi keuangan sebagai dasar dalam penetapan
kebijakan dan pengambilan keputusan. Akuntansi sektor publik harus dapat
menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk memonitoring akuntabilitas
manajemen, akuntabilitas politik, dan akuntabilitas kebijakan serta dapat menjadi
alat untuk merencanakan dan memetakan arah pembangunan dan pertumbuhan
sektor publik.
Syarat bagi pemerintahan daerah untuk dapat mewujudkan aspirasi
masyarakat dalam mencapai tujuan serta cita-cita berbangsa dan bernegara adalah
dengan penyelenggaraan good governance. Halim dan Muhammad (2012:17),
good governance adalah tata kelola organisasi secara baik dengan prinsip-prinsip
keterbukaan, keadilan, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam rangka mencapai

tujuan organisasi. UNDP (dalam Mardiasmo, 2009:18) memberikan beberapa


karakteristik pelaksanaan good governance, meliputi participation, rule of law,
transparency, responsiveness, concensus orientation, equity, efficiency and
effectiveness, accountability, dan strategic vision. Dengan terselenggaranya good
governance maka dapat mewujudkan aspirasi masyarakat dalam mencapai tujuan
dan cita-cita bangsa dan negara. Good governance memerlukan adanya
pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang tepat, jelas, dan
nyata sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat
berlangsung secara berdaya guna, berhasil guna, bersih, dan bertanggung jawab.
Salah satu upaya dalam penerapan prinsip-prinsip good governance adalah
penyampaian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dengan berpedoman
pada Standar Akuntansi Pemerintahan. Undang-undang 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara dalam Pasal 32 mengamanatkan bahwa bentuk dan isi laporan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD disusun dan disajikan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sesuai dengan amanat tersebut,
diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan. Standar ini menggunakan Basis Kas untuk pengakuan
transaksi pendapatan, belanja, dan pembiayaan, dan basis akrual untuk pengakuan
aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 ini
kemudian diubah sesuai dengan bunyi Undang-undang 17 Tahun 2003 Pasal 36
ayat (1) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan. Peraturan Pemerintah ini telah melakukan pengakuan
dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual.

Gambar 1.1
Realisasi Belanja Daerah Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat
8,000,000,000,000.00
7,000,000,000,000.00
6,000,000,000,000.00
5,000,000,000,000.00
4,000,000,000,000.00
2008

2009

2010

Tanggung jawab seluruh pemerintah daerah termasuk pemerintahan daerah di


Provinsi Nusa Tenggara Barat secara finansial dapat dilihat pada penggunaan
keuangan publik dalam bentuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD), baik dalam bentuk realisasi pendapatan dan belanja daerah. Belanja
daerah berdasarkan Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana terakhir kali diubah dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, yaitu kewajiban
pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih.
Perkembangan realisasi belanja daerah Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat dapat dilihat pada gambar berikut.

2011

Sumber: Biro Keuangan Provinsi NTB (diolah)

Gambar di atas memperlihatkan bahwa tren total realisasi belanja daerah


seluruh Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat mengalami peningkatan
yang relatif tetap dari tahun ke tahun sejak tahun 2008, sebesar lebih dari Rp4,6
trilyun hingga tahun 2012, sebesar lebih dari Rp7,4 trilyun.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana terakhir kali diubah dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, jenis belanja daerah
adalah Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Obyek dari belanja
langsung adalah Belanja Pegawai, Belanja Barang/jasa, dan Belanja Modal.
Berdasarkan agency theory dalam sektor publik, yang dikembangkan oleh
Ghulam (2011), kinerja pemerintah dinilai melalui anggaran yang dibuatnya,
sehingga diharapkan pengeluaran pemerintah menyentuh pada fungsi pelayanan
kepada masyarakat, yang berwujud belanja modal, harus mendapat porsi yang
relatif besar.

Dalam rangka meningkatkan kepercayaan publik, upaya yang dilakukan


oleh pemerintah daerah adalah dengan pergeseran komposisi belanja. Pergeseran
komposisi ini guna meningkatkan investasi modal dalam bentuk aset tetap, yakni
tanah, peralatan dan mesin, bangunan dan gedung, infrastruktur serta aset tetap
lainnya. Semakin tinggi tingkat investasi modal diharapkan mampu meningkatkan
kualitas layanan publik dan pada gilirannya mampu meningkatkan tingkat
partisipasi (kontribusi) publik terhadap pembangunan yang tercermin dari adanya
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (Mardiasmo, 2009).
Gambar 1.2
Realisasi Belanja Modal Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat
1,500,000,000,000.00
1,400,000,000,000.00
1,300,000,000,000.00
1,200,000,000,000.00
1,100,000,000,000.00
1,000,000,000,000.00
900,000,000,000.00
800,000,000,000.00
2008

2009

2010

2011

Berbeda dengan tren peningkatan total belanja daerah Kabupaten/Kota se-Provinsi


Nusa Tenggara Barat, tren total belanja modal Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat mengalami fluktuatif. Tahun 2008 hingga 2010 total belanja
modal mengalami penurunan walaupun tidak signifikan. Namun pada tahun 2011
mengalami peningkatan yang signifikan. Tahun 2012 mengalami sedikit

peningkatan dibandingkan tahun 2011. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut.

Sumber: Biro Keuangan Provinsi NTB (diolah)

Gambar 1.3
Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat
700,000,000,000.00
600,000,000,000.00
500,000,000,000.00
400,000,000,000.00
300,000,000,000.00
200,000,000,000.00
100,000,000,000.00
2008

2009

2010

2011

Anggaran dan realisasi belanja modal secara khusus dan belanja daerah secara

2012

umum tentunya dipengaruhi oleh total pendapatan daerah yang diperoleh.


Pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Pendapatan Asli Daerah terdiri atas Pajak
Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan,
dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah. Dana Perimbangan terdiri atas
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum, dan Dana
Alokasi Khusus. Secara umum, gambaran dari total pendapatan asli daerah dan
dana perimbangan Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat dapat dilihat
pada gambar 1.3 dan gambar 1.4 berikut.
Gambar 1.3
Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat
700,000,000,000.00
600,000,000,000.00
500,000,000,000.00
400,000,000,000.00
300,000,000,000.00
200,000,000,000.00
100,000,000,000.00
2008

2009

2010

2011

2012

10

Sumber: Biro Keuangan Provinsi NTB (diolah)


Gambar 1.4
Dana Perimbangan Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat
7,000,000,000,000.00
6,000,000,000,000.00
5,000,000,000,000.00
4,000,000,000,000.00
3,000,000,000,000.00
2008

2009

2010

2011

Sumber: Biro Keuangan Provinsi NTB (diolah)

Menurut Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, tentang Perimbangan


Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, bahwa Pendapatan
Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber pendapatan daerah selain Dana

2012

11

Perimbangan (DBH, DAU, dan DAK) dan Lain-lain Pendapatan. PAD bertujuan
memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan
otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi
(Anonymus, 2011).
Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai
dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat
terwujudnya

kesejahteraan

masyarakat

melalui

peningkatan,

pelayanan,

pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah
dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan
dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia
(Anonymus, 2014).
Mardiasmo (2009:3), organisasi sektor publik bergerak dalam lingkungan
yang

sangat

kompleks

dan

turbulence.

Komponen

lingkungan

yang

mempengaruhi organisasi sektor publik meliputi faktor ekonomi, politik, kultur,


dan demografi. Salah satu faktor ekonomi yang mempengaruhi organisasi sektor
publik adalah pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan beberapa penelitian yang
pernah dilakukan sebelumnya, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi alokasi
belanja modal pemerintah daerah adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan
ekonomi dalam hal ini direfleksikan dengan Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB).

12

Gambar 1.5
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Provinsi Nusa Tenggara Barat
21,000,000,000,000
20,000,000,000,000
19,000,000,000,000
18,000,000,000,000
17,000,000,000,000
16,000,000,000,000
15,000,000,000,000
2008

2009

2010

2011

Data PDRB Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah sebagai


berikut:

Sumber: Biro Keuangan Provinsi NTB (diolah)

Belanja modal di daerah, yang merupakan salah satu jenis belanja daerah,
mempunyai peranan penting terhadap kesejahteraan masyarakat. Belanja modal
yang tercantum dalam APBD tentunya bersumber dari keuangan publik, sehingga
belanja modal seperti halnya belanja daerah secara umum, dalam penggunaannya
harus menganut konsep value for money. Implikasi realisasi belanja modal yang

201

13

ekonomis, efisien, dan efektif, salah satunya adalah menjamin terciptanya


kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat dapat dicapai dengan
pembangunan manusia.
Pembangunan manusia dapat dilihat pada kualitas kehidupan yang
merupakan salah satu indikator dalam pembangunan. Mengutip isi Human
Development Report (HDR) pertama tahun 1990, pembangunan manusia adalah
suatu proses untuk memperbanyak pilihan-pilihan yang dimiliki oleh manusia.
Diantara banyak pilihan tersebut, pilihan yang terpenting adalah untuk berumur
panjang dan sehat, untuk berilmu pengetahuan, dan untuk mempunyai akses
terhadap sumber daya yang dibutuhkan agar dapat hidup secara layak.
Gambaran IPM seluruh Provinsi di Indonesia tahun 2009-2013 adalah
dapat dilihat pada Lampiran 1. Dari lampiran 1 tersebut, dapat dilihat bahwa
tingkat IPM Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tahun 2009-2012 berada
pada posisi 32 dari 33 Provinsi di Indonesia, sedangkan pada tahun 2013, Provinsi
NTB berada pada posisi 33 dari 34 Provinsi di Indonesia. Hal ini disebabkan
karena untuk keseluruhan indikator penentuan IPM, Provinsi NTB masih berada
pada urutan kelompok terendah dibandingkan Provinsi-Provinsi lainnya di
Indonesia. Gambaran tingkat IPM Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara
Barat dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.1
IPM Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB
IPM
Pemerintah Daerah
2009
2010
2011
2012
KOTA MATARAM
71.82
72.32
72.83
73.70
KOTA BIMA
68.02
68.56
69.10
69.83
KAB. SUMBAWA
66.16
66.47
67.08
67.85
BARAT

2013
74.58
70.73
68.50

14

KAB. DOMPU
64.93
KAB. SUMBAWA
65.72
KAB. BIMA
64.81
KAB. LOMBOK
62.21
TIMUR
KAB. LOMBOK
61.27
BARAT
KAB. LOMBOK
60.26
TENGAH
KAB. LOMBOK
58.40
UTARA
NUSA TENGGARA
64.66
BARAT
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2014.

65.51
66.07
65.18

66.70
66.67
65.74

67.58
67.23
66.52

68.31
68.06
67.34

62.68

63.93

64.91

65.78

61.71

62.50

63.19

63.82

60.73

61.66

62.57

63.51

58.96

60.93

61.37

61.90

65.20

66.23

66.89

67.73

Tingkat pencapaian IPM sangat ditentukan oleh kemampuan keuangan


daerah, terutama kebijakan alokasi belanja dalam APBD. Alokasi belanja
dimaksud, secara langsung maupun secara tidak langsung berhubungan dengan
indikator pengukuran IPM, yakni pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur
maupun komponen lainnya yang berpengaruh terhadap pembangunan kualitas
manusia. Seperti disebutkan sebelumnya, bahwa belanja modal yang merupakan
salah satu unsur belanja dalam akuntansi sektor publik pada pemerintahan,
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penambahan aset. Aset yang
dimaksudkan dalam hal ini adalah dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan
infrastruktur yang menunjang pelayanan publik. Dengan meningkatnya kualitas
pelayanan publik, maka kesejahteraan dan kualitas hidup manusia juga diharapkan
meningkat.
Peningkatan IPM di Provinsi NTB, harus didukung oleh Pemerintahan
Daerah dengan terus berjalan bersama berusaha meningkatkan indikator
pengukuran IPM di daerah masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dengan
penyediaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) khususnya yang

15

berkenaan dengan peningkatan anggaran belanja modal dalam bidang pendidikan,


kesehatan, infrastruktur, dan yang menunjang daya beli masyarakat.
Teori keagenan menurut Jensen dan Meckling (1976), menyatakan
hubungan keagenan merupakan sebuah kontrak dimana satu atau lebih prinsipal
melimpahkan wewenang kepada orang lain (agen) untuk kepentingannya.
Permasalahan hubungan keagenan ini mengakibatkan terjadinya informasi
asimetris (information asymmetry) dan konflik kepentingan (conflict of interest).
Permasalahan teori keagenan dalam penelitian ini selain yang telah disebutkan
sebelumnya, secara umum yaitu berupa tantangan kepada pemerintah daerah
selaku agen dari DPRD sebagai wakil rakyat secara umum serta agen dari
pemerintah pusat dalam menggunakan dan mempertanggungjawabkan keuangan
publik pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) guna menunjang
pembangunan manusia dan kesejahteraan rakyatnya.
Akuntansi sektor publik mengamanatkan pemerintah daerah untuk selalu
menjamin akuntabiltas publik dalam proses pelaksanaan pemerintahan daerahnya.
Akuntabilitas publik pemerintahan daerah dilihat sisi agency theory yaitu dengan
adanya kewajiban dari penyelenggara pemerintahan (agent) untuk memberikan
pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala
aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada masyarakat
(principal) secara horizontal. Secara vertikal, hubungan agency theory
akuntabilitas publik tampak pada pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan
daerah kepada otoritas yang lebih tinggi seperti, Satuan Kerja Perangkat Daerah
kepada Kepala Daerah dan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Pusat.

16

Badrudin dan Mufidhatul (2011) dalam penelitiannya tentang pengaruh


pendapatan dan belanja daerah terhadap pembangunan manusia di Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan bahwa: 1) variabel pengeluaran
pemerintah di Provinsi DIY pada sektor pendidikan berpengaruh tidak signifikan
terhadap pembangunan manusia di Provinsi DIY; 2) variabel pengeluaran
pemerintah di Provinsi DIY pada sektor kesehatan berpengaruh tidak signifikan
terhadap pembangunan manusia di Provinsi DIY; 3) variabel pengeluaran
pemerintah di Provinsi DIY pada sektor infrastruktur berpengaruh tidak signifikan
terhadap pembangunan manusia di Provinsi DIY.
Maiharyanti (2010) telah melakukan penelitian untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh dana alokasi umum, dana alokasi khusus dan pendapatan
asli daerah terhadap indeks pembangunan manusia dan belanja modal sebagai
variabel intervening pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Nanggroe Aceh
Darussalam. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara simultan dana
alokasi umum, dana alokasi khusus dan pendapatan asli daerah berpengaruh
signifikan terhadap belanja modal. Secara parsial, dana alokasi khusus dan
pendapatan asli daerah berpengaruh terhadap belanja modal, sedangkan dana
alokasi khusus tidak berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Belanja
modal sendiri secara parsial berpengaruh terhadap indeks pembangunan manusia.
Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa, dana alokasi khusus dan
pendapatan asli daerah berpengaruh signifikan terhadap indeks pembangunan
manusia dan belanja modal sebagai variabel intervening.

17

Setyowati dan Suparwati (2012) yang meneliti tentang Pengaruh


Pertumbuhan Ekonomi, DAU, DAK, PAD terhadap Indeks Pembangunan
Manusia dengan Pengalokasian Anggaran Belanja Modal sebagai Variabel
Intervening pada Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Jawa Tengah menunjukkan
bahwa dana DAU, DAK, dan PAD berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui pengalokasian belanja modal, sedangkan
Pertumbuhan Ekonomi tidak berpengaruh positif terhadap IPM melalui
pengalokasian belanja modal. Simpulan selanjutnya menampakkan bahwa belanja
modal berpengaruh positif terhadap IPM.
Christy dan Priyo (2009) telah meneliti hubungan dana alokasi umum,
belanja modal dan kualitas pembangunan manusia. Kualitas pembangunan
manusia diproksikan dengan Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa belanja modal berpengaruh terhadap IPM. Hasil
penelitiannya juga menunjukkan bahwa besarnya alokasi belanja modal akan
menentukan pengalokasian dana bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang
dilihat dari tingkat IPM yaitu tingkat kesejahteraan dari sisi pendidikan,
kesehatan, maupun taraf hidup untuk melihat kualitas pembangunan manusia.
Wandira (2013) meneliti untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan
Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Pengalokasian Belanja Modal pada pemerintah
provinsi se-Indonesia pada tahun 2012. Penelitian Wandira (2013) menyimpulkan
bahwa secara parsial, DAU dengan arah negatif, DAK dan DBH berpengaruh
signifikan terhadap belanja modal, sedangkan PAD tidak berpengaruh signifikan

18

terhadap belanja modal. Secara simultan, PAD, DAU, DAK dan DBH
berpengaruh signifikan terhadap belanja modal.
Hasil penelitian Tuasikal (2008) menyatakan bahwa secara simultan
PDRB, DAU, DAK, dan PAD berpengaruh positif terhadap alokasi belanja modal
daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. Selain itu, Oktora dan Winston (2013) juga
mengutarakan hal serupa bahwa terdapat hubungan antara PAD, DAU, dan DAK
dengan belanja modal. Sejalan dengan penelitian Christy dan Priyo (2009), Mirza
(2012) dalam penelitiannya tentang pengaruh kemiskinan, pertumbuhan ekonomi,
dan belanja modal terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah tahun
2006-2009, juga menyatakan bahwa variabel belanja modal berpengaruh positif
dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Berbeda dengan penelitian
sebelumnya, Sumiyati (2011) yang melakukan penelitian tentang pengaruh
belanja modal terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi
Jawa Barat, menyatakan bahwa belanja modal tahun 2006 dan 2007 baik secara
parsial maupun simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM 2008
di Provinsi Jawa Barat. Hal ini mencerminkan bahwa dalam struktur alokasi
APBD belum sepenuhnya dapat menggambarkan pembangunan kualitas manusia
menjadi arah dan kebijakan pembangunan.
Penelitian ini termotivasi dengan melihat perbandingan tren-tren realisasi
belanja modal (yang diasumsikan mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia)
dengan pertumbuhan ekonomi (PDRB) serta sumber-sumber pendapatan yaitu
PAD dan Dana Perimbangan. Fluktuasinya data PDRB Kabupaten/Kota seProvinsi NTB berbanding terbalik dengan data alokasi belanja modal, untuk itu

19

peneliti ingin mengetahui apakah data PDRB dapat mempengaruhi realisasi


belanja modal. Berbeda dengan tren PDRB, tren data PAD relatif sejalan dengan
tren realisasi belanja modal. Terus meningkatnya data dana perimbangan juga
menarik untuk dibandingkan dengan fluktuatifnya data realisasi belanja modal.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian Setyowati dan
Suparwati (2012) dan Maiharyanti (2010) dengan penambahan variabel Dana
Bagi Hasil (DBH), karena merupakan salah satu komponen pendapatan daerah
dalam dana perimbangan APBD. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Pendapatan asli Daerah (PAD), Dana
Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil
(DBH), terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan Belanja Modal
sebagai Variabel Intervening.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan sebelumnya, maka yang
menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat (NTB)?
2. Apakah Pendapatan Asli daerah (PAD) berpengaruh terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)?

20

3. Apakah Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh terhadap Indeks


Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)?
4. Apakah Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB)?
5. Apakah Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat (NTB)?

21

1.3. Tujuan Penelitian


Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan,
maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat (NTB).
2. Mengetahui pengaruh Pendapatan Asli daerah (PAD) terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
3. Mengetahui pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
4. Mengetahui pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
5. Mengetahui pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal pada Kabupaten/Kota
se-Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

22

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan konstribusi empiris terhadap
dunia akademis untuk pengembangan literatur Akuntansi Sektor Publik. Penelitian
ini juga diharapkan menunjukkan adanya agency theory pada pemerintahan
daerah serta mengembangkan dan memperkuat hasil penelitian-penelitian
sebelumnya tentang pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK, dan
DBH terhadap Indeks Pembangunan Manusia melalui Belanja Modal.
1.4.2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota se-NTB, guna mendukung pelaksanaan
otonomi daerah khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui
pembangunan manusia.
1.4.3. Manfaat Kebijakan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan acuan bagi Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota se-NTB dalam penyusunan dan pengambilan kebijakan
yang menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan
manusia.

23

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori


2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan (Jensen dan Meckling, 1976) menyatakan hubungan
keagenan merupakan sebuah kontrak dimana satu atau lebih (prinsipal)
melimpahkan wewenang kepada orang lain (agen) untuk kepentingan mereka.
Permasalahan hubungan keagenan ini mengakibatkan terjadinya informasi
asimetris (information asymmetry) dan konflik kepentingan (conflict of interest).
Kaitan agency theory dalam penelitian ini dapat dilihat melalui hubungan
antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam penyaluran Dana
Perimbangan dan juga hubungan antara masyarakat yang diproksikan oleh DPRD
(prinsipal) dengan Pemerintah Daerah (agen). Pemerintah pusat melakukan
pelimpahkan wewenang kepada pemerintah daerah dalam mengatur secara
mandiri segala aktivitas pemerintahan di daerahnya. Oleh karena itu sebagai
konsekuensi dari pelimpahan wewenang tersebut, Pemerintah Pusat menurunkan
Dana Perimbangan yang tujuannya adalah membantu Pemerintah Daerah baik
dalam mendanai kebutuhan pemerintahan sehari-hari maupun memberi pelayanan
publik yang lebih baik kepada masyarakat.
Selain itu, teori keagenan tersirat dalam hubungan Pemerintah Daerah
dengan masyarakat. Masyarakat sebagai prinsipal telah memberikan sumber daya
kepada daerah berupa pembayaran pajak, retribusi dan sebagainya untuk dapat
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Pemerintah Daerah selaku agen dalam hal

24

ini, sudah seharusnya memberikan timbal balik kepada masyarakat dalam bentuk
pelayanan publik yang memadai yang didanai oleh pendapatan daerah itu sendiri.
2.1.2. Anggaran Sektor Publik
Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak
20

dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial.
Anggaran publik merupakan suatu dokumen yang menggambarkan kondisi
keuangan dari suatu organisasi yang meliputi informasi mengenai pendapatan,
belanja, dan aktivitas (Mardiasmo, 2009:61).
Mardiasmo (2009) menyatakan bahwa penganggaran sektor publik terkait
dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap program dan
aktivitas dalam satuan moneter. Anggaran sektor publik berisi rencana kegiatan
yang direpresentasikan dalam bentuk rencana perolehan pendapatan dan belanja
dalam satuan moneter. Anggaran publik merupakan suatu dokumen yang
menggambarkan kondisi keuangan dari suatu organisasi yang meliputi informasi
mengenai pendapatan, belanja, dan aktivitas.
Nordiawan dan Hertianti (2010) menyatakan bahwa anggaran pada
organisasi sektor publik termasuk Pemerintah tidak hanya sebuah rencana
tahunan, tetapi juga merupakan bentuk akuntabilitas atas pengelolaan dana publik
yang dibebankan kepadanya. Anggaran juga dikatakan sebagai sebuah rencana
finansial yang menyatakan; (1) rencana-rencana organisasi untuk melayani
masyarakat atau aktivitas lain yang dapat mengembangkan kapasitas organisasi
dalam pelayanan, (2) estimasi besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam

25

merealisasikan rencana tersebut, dan (3) perkiraan sumber-sumber yang akan


menghasilkan pemasukan serta besarnya pemasukan tersebut.
Anggaran Sektor Publik di Indonesia diatur melalui peraturan perundangundangan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yang direvisi
dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan
Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah, maka terbitlah Undang-undang Nomor 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara, Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara serta Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Menurut Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(APBN) merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah negara yang disetujui
oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sedangkan, Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintah negara
yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan merupakan
salah satu alat yang memegang peranan penting dalam rangka meningkatkan
pelayanan publik dan didalamnya terdapat perincian kebutuhan masyarakat
dengan memperhatikan potensi dan sumber-sumber kekayaan daerah.

26

2.1.3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)


Menurut Halim dan Nasir (2006 : 44), Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD), merupakan rencana keuangan tahunan Pemda yang dibahas dan
disetujui bersama oleh Pemda dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan
daerah. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah yang merupakan
pedoman bagi Pemda dalam memberikan pelayanan kepada publik dalam masa
satu tahun anggaran. APBD terdiri dari pendapatan daerah, belanja daerah dan
pembiayaan daerah.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana
keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD). Proses penyusunan APBD dimulai dengan pemerintah
daerah menyampaikan kebijakan umum APBD dan tahun anggaran berikutnya
yang sejalan dengan Rencana Kerja Pemerintah Daerah kepada DPRD.
Berdasarkan kebijakan umum APBD yang telah disepakati dengan DPRD,
pemerintah daerah bersama DPRD membahas prioritas dan plafon anggaran
sementara untuk dijadikan acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Berdasarkan kebijakan umum APBD serta prioritas dan plafon anggaran
sementara yang telah ditetapkan, Kepala SKPD selaku pengguna anggaran
menyusun rencana kerja dan anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKASKPD) tahun berikutnya dengan pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang akan
dicapai. RKA-SKPD, setelah dibahas di DPRD akan dijadikan sebagai bahan
penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD tahun berikutnya.

27

Setelah Rancangan Perda tentang APBD tersusun, pemerintah daerah mengajukan


rancangan tersebut kepada DPRD beserta dokumen-dokumen pendukungnya.
APBD yang disetujui oleh DPRD terinci sampai dengan unit organisasi,
fungsi, program dan kegiatan serta jenis belanja. Apabila DPRD tidak menyetujui
Rancangan Peraturan Daerah yang diajukan pemerintah daerah, untuk membiayai
keperluan setiap bulan pemerintah daerah dapat melaksanakan pengeluaran
setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya.
Setelah APBD ditetapkan dengan peraturan daerah, pelaksanaannya
dituangkan lebih lanjut dalam peraturan kepala daerah. Pemerintah daerah dalam
melaksanakan APBD menyusun Laporan Realisasi Semester Pertama dan
Prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya dan disampaikan kepada DPRD untuk
dibahas bersama antara DPRD dan pemerintah daerah.
Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan
dibahas bersama DPRD dengan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan
perkiraan perubahan APBD tahun anggaran berkenaan, apabila terjadi:
1. Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD;
2. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antarunit
organisasi, antarkegiatan, dan antar jenis belanja;
3. Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih pada tahun sebelumnya
harus digunakan untuk pembiayaan anggaran yang berjalan.

28

2.1.4. Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai perkembangan kegiatan dalam
perekonomian yang mendorong barang dan jasa yang diproduksikan ke
masyarakat bertambah (Sukirno, 2010:9). Pertumbuhan ekonomi suatu daerah
dicerminkan dari angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah
jumlah nilai tambah barang dan jasa yang diproduksi dari seluruh kegiatan
pekonomian di seluruh daerah dalam tahun tertentu atau perode tertentu dan
biasanya satu tahun.
Tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah diproksikan dengan PDRB
atas Dasar Harga Konstan. PDRB atas Dasar Harga Konstan menggunakan harga
pada tahun tertentu sebagai tahun dasar untuk mengeliminasi faktor-faktor
kenaikan harga.
PDRB merupakan salah satu indikator makro ekonomi yang banyak
digunakan untuk mengukur kinerja pembangunan ekonomi, disamping sebagai
bahan evaluasi dan perencanaan pembangunan dan perumusan kebijakan
ekonomi.

Secara

konsepsi

PDRB

menggambarkan

total

output

suatu

perekonomian dalam suatu wilayah pada periode tertentu, atau dengan kata lain
PDRB adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh sektor ekonomi
yang beroperasi dalam suatu wilayah dalam periode tertentu (pendekatan
produksi). Berdasarkan pendekatan pendapatan, PDRB adalah jumlah balas jasa
yang ditimbulkan oleh faktor produksi yang beroperasi dalam suatu wilayah pada
suatu periode waktu. PDRB juga merupakan jumlah pengeluaran yang

29

dikeluarkan oleh semua institusi dalam suatu wilayah pada suatu periode waktu.
(BPS Kota Bima, 2012)
Dengan demikian, manfaat PDRB adalah menggambarkan fenomenafenomena ekonomi seperti; pertumbuhan ekonomi, struktur ekonomi, sektorsektor yang menggerakkan ekonomi, pendapatan perkapita, dan pergerakan
supply dan demand barang dan jasa. PDRB digunakan untuk berbagai tujuan
tetapi yang terpenting adalah untuk mengukur kinerja perekonomian secara
keseluruhan. Jumlah ini akan sama dengan jumlah nilai nominal dari konsumsi,
investasi, pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa, serta ekspor netto.
Menurut System Of National Account (SNA), PDRB dapat dihitung
melalui 3 (tiga) pendekatan yaitu; pendekatan produksi (Production Approach),
pendekatan pengeluaran (Expenditure Approach), dan pendekatan pendapatan
(Income Approach).
a. Pendekatan Produksi
Pendekatan ini sering disebut juga pendekatan nilai tambah dimana nilai
tambah bruto dengan cara mengurangkan nilai output yang dihasilkan oleh
seluruh kegiatan ekonomi dengan biaya antara lain dari masing-masing nilai
produksi bruto dari setiap sektor ekonomi, nilai tambah ini merupaan nilai
yang ditambahkan pada barang dan jasa yang diperoleh oleh unit produksi
sebagai input antara, nilai yang ditambahkan sama dengan balas jasa faktor
produksi atas keikutsertaannya dalam proses produksi.

30

b. Pendekatan Pendapatan
Pendekatan ini merupakan nilai tambah dari kegiatan-kegiatan ekonomi
dihitung dengan cara menjumlahkan semua balas jasa faktor produksi yaitu
upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto. Pada
sektor pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari keuntungan,
surplus usaha seperti bunga neto, sewa tanah dan keuntungan tidak
diperhitungkan.
c. Pendekatan Pengeluaran
Pendekatan pengeluaran digunakan untuk menghitung nilai barang dan jasa
yang digunakan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat untuk kepentingan
konsumsi rumah tangga, pemerintah dan yayasan sosial, pembentukan modal
dan ekspor, nilai barang dan jasa hanya berasal dari produksi domestik, total
pengeluaran dari komponen-komponen tersebut harus dikurangi nilai impor
sehingga nilai ekspor yang dimaksud adalah ekspor neto, penjumlahan seluruh
komponen pengeluaran akhir ini disebut PDRB atas dasar harga pasar.
2.1.5. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Menurut Bratakusumah dan Solihin (2002) pengertian PAD adalah
pendapatan yang berasal dari dalam daerah yang bersangkutan guna membiayai
kegiatan-kegiatan daerah tersebut. Berdasarkan Permendagri 13 tahun 2006,
kelompok PAD terdiri dari empat jenis pendapatan, yaitu pajak daerah, retribusi
daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain
pendapatan asli daerah yang sah.

31

Menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, PAD adalah pendapatan daerah yang
dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundangundangan.

PAD

merupakan

pendapatan

rutin

yang

diperoleh

dengan

memanfaatkan potensi-potensisumber keuangan daerah untuk membiayai tugas


dan tanggung jawabnya. Tujuan PAD adalah memberi keleluasaan kepada
Pemerintah Daerah untuk membiayai pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan
potensi daerahnya.
2.1.6. Dana Bagi Hasil (DBH)
Menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana
yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan
memperhatkan potensi daerah penghasil berdasarkan angka persentase untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Berdasarkan
definisi tersebut, maka prinsip DBH adalah pengalokasian dilakukan berdasarkan
prinsip by origin (daerah penghasil) dan penyaluran berdasarkan realisasi
penerimaan.
DBH dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu, DBH Sumber Daya Alam
(SDA) dan DBH Pajak. Jenis Penerimaan DBH SDA berasal dari Kehutanan,
Pertambangan Umum, Perikanan, Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, serta
Pertambangan Panas Bumi. Sedangkan DBH Pajak bersumber dari Pajak
Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri
dan PPh Pasal 21.

32

Selain yang telah disebutkan, yang termasuk dalam DBH adalah DBH Cukai
Hasil Tembakau (DBHCHT). DBHCHT diatur berdasarkan UU Nomor 39 Tahun
2007 tentang Cukai dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 54/PUU-VI/2008
tahun 2008. Setiap tahunnya Pemerintah Pusat mengalokasikan dan menyalurkan
DBHCHT dari penerimaan negara cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia
kepada Provinsi Penghasil Cukai Hasil Tembakau untuk dibagikan kepada
Kabupaten/Kota di wilayahnya.
2.1.7. Dana Alokasi Umum (DAU)
Undang-undang Nomor 33 tahun 2004 menyatakan bahwa DAU
merupakan dana yang berasal dari pendapatan APBN yang dialokasikan untuk
pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan Daerah
Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU dimaksudkan untuk
mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah melalui penerapan
formula dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah. DAU suatu
daerah ditentukan atas dasar besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) suatu daerah,
yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah (fiscal need) dan potensi daerah
(fiscal capacity). Alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi
kebutuhan fiskalnya kecil akan memperoleh alokasi DAU relatif kecil.
Sebaliknya, daerah yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskalnya besar
akan memperoleh alokasi DAU relatif besar. Secara implisit, prinsip tersebut
menegaskan fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal.
Jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh
enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam APBN.

33

Pendapatan dalam negeri neto adalah penerimaan negara yang berasal dari pajak
dan bukan pajak setelah dikurangi dengan penerimaan negara yang dibagihasilkan
kepada daerah. DAU untuk suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan
alokasi dasar. Celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas
fiskal daerah. Kebutuhan fiskal daerah merupakan kebutuhan pendanaan daerah
untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum, seperti penyediaan layanan
kesehatan,

pendidikan,

infrastruktur,

dan

pengentasan

masyarakat

dari

kemiskinan. Setiap kebutuhan pendanaan diukur secara berturut-turut dengan


jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi, Produk Domestik
Regional Bruto per kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia. Kapasitas fiskal
daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD dan Dana
Bagi Hasil. Data untuk menghitung kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal
diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan/atau lembaga pemerintah yang
berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan
alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah.
Proporsi DAU antara daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota ditetapkan
berdasarkan imbangan kewenangan antara Provinsi dan Kabupaten/Kota. DAU
atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah Provinsi dihitung berdasarkan perkalian
bobot daerah Provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah
Provinsi. Bobot daerah Provinsi merupakan perbandingan antara celah fiskal
daerah Provinsi yang bersangkutan dan total celah fiskal seluruh daerah Provinsi.
DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah Kabupaten/Kota dihitung
berdasarkan perkalian bobot daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan dengan

34

jumlah DAU seluruh daerah Kabupaten/Kota. Bobot daerah Kabupaten/Kota


merupakan perbandingan antara celah fiskal daerah Kabupaten/Kota yang
bersangkutan dan total celah fiskal seluruh daerah Kabupaten/Kota.
2.1.8. Dana Alokasi Khusus (DAK)
Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu
mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan
prioritas nasional. DAK dimaksudkan untuk mendanai kegiatan khusus yang
menjadi urusan daerah dan merupakan prioritas nasional, sesuai dengan fungsi
yang merupakan perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu, khususnya
dalam upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar
masyarakat. Kegiatan khusus tersebut sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan
dalam APBN. Kegiatan khusus yang ditetapkan oleh pemerintah mengutamakan
kegiatan pembangunan dan/atau pengadaan dan/atau peningkatan dan/atau
perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat dengan umur
ekonomis yang panjang, termasuk pengadaan sarana fisik penunjang.
Daerah tertentu yang dimaksud adalah daerah yang memenuhi kriteria
yang ditetapkan setiap tahun untuk mendapatkan alokasi DAK. Dengan demikian,
tidak semua daerah mendapatkan alokasi DAK. Hal yang dimaksud dengan fungsi
dalam rincian belanja negara antara lain terdiri atas layanan umum, pertahanan,
ketertiban dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas
umum, kesehatan, pariwisata, budaya, agama, pendidikan, dan perlindungan
sosial.

35

Daerah tertentu yang dapat memperoleh alokasi DAK ditentukan


berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. Kriteria umum
berarti mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dalam APBD. Kriteria
khusus berarti memerhatikan peraturan perundang-undangan dan karakteristik
daerah. Kriteria teknis merupakan kriteria yang ditetapkan oleh kementerian
negara atau departemen teknis. Daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana
Pendamping sekurang-kurangnya 10% dari alokasi DAK. Dana Pendamping
harus dianggarkan dalam APBD, namun bagi daerah dengan kemampuan fiskal
tertentu tidak diwajibkan menyediakan dana pendamping.
Berbeda halnya dengan DAU dan DBH, pemanfaatn DAK ditentukan oleh
Pemerintah Pusat. Sesuai dengan Pasal 1 angka 23 UU 33 Tahun 2004, pemerintah
pusat menyalurkan alokasi DAK untuk membantu daerah tertentu dalam pendanaan
kebutuhan sarana prasarana pelayanan dasar masyarakat dan mendorong percepatan
pembangunan daerah untuk pencapaian sasaran prioritas nasional.
Pemerintah pusat melalui Bappenas menentukan target sektor penerima
DAK setiap tahun, sesuai dengan prioritas nasional. Bappenas menentukan sektor
penerima DAK dan didasarkan pada PP No. 55 Tahun 2005, Kementerian Teknis
terkait menetapkan program yang menjadi prioritas nasional di sektor tersebut.
2.1.9. Belanja Modal
Belanja modal merupakan salah satu komponen belanja langsung yang
digunakan untuk membiayai kebutuhan investasi. Belanja modal yaitu
pengeluaran yang manfaatnya melebihi satu tahun anggaran dan dapat menambah
aset pemerintah yang selanjutnya meningkatkan biaya pemeliharaan (Mardiasmo,

36

2009:67). Belanja modal dapat dikelompokkan menjadi lima kategori antara lain,
belanja modal tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan
jaringan, serta belanja modal fisik lainnya.
Belanja modal menurut Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2010
merupakan belanja pemerintah daerah yang manfaatnya melebihi 1 (satu) tahun
anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan
menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan pada kelompok
belanja administrasi umum. Belanja modal yang dialokasikan dalam APBD
digunakan untuk memperoleh aset tetap pemerintah daerah seperti peralatan,
infrastruktur dan lainnya. Aset tetap merupakan salah satu syarat utama dalam
memberikan pelayanan publik oleh pemerintah daerah.
Berdasarkan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang perubahan
Permendagri 13 tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, belanja modal
digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pengadaan asset
berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk
digunakan dalam kegiatan pemerintahan.
2.1.10. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan
agar mampu memiliki lebih banyak pilihan, khususnya dalam pendapatan,
kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan manusia sebagai ukuran kinerja
pembangunan secara keseluruhan dibentuk melalui pendekatan tiga dimensi dasar.
Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat; pengetahuan; serta
kehidupan yang layak kemudian masing-masing dimensi direpresentasikan

37

dengan indikator. Dimensi umur panjang dan sehat direpresentasikan dengan


indikator angka harapan hidup; dimensi pengetahuan direpresentasikan dengan
indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah; serta dimensi kehidupan
yang layak direpresentasikan oleh indikator kemampuan daya beli. Semua
indikator yang merepresentasikan ketiga dimensi pembangunan manusia ini
terangkum dalam satu nilai tunggal, yaitu angka Indeks Pembangunan Manusia
(IPM). (BPS, 2008)
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau disebut juga dengan Human
Development Index (HDI) adalah indeks komposit untuk mengukur pencapaian
kualitas pembangunan manusia untuk dapat hidup secara lebih berkualitas, baik
dari aspek kesehatan, pendidikan, maupun aspek ekonomi (UNDP, 2004). IPM
juga digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara
maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur
pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup (UNDP, 1996).
IPM mulai digunakan oleh UNDP sejak tahun 1990 untuk mengukur upaya
pencapaian pembangunan manusia suatu negara. Walaupun IPM tidak dapat
mengukur semua dimensi dari pembangunan, namun mampu mengukur dimensi
pokok pembangunan manusia yang dinilai mencerminkan status kemampuan
dasar (basic capabilities) penduduk.
Komponen indeks pembangunan manusia terdiri dari:
a. Angka Harapan Hidup
Angka Harapan Hidup (AHH) pada waktu lahir merupakan rata-rata perkiraan
banyak tahun yang dapat ditempuh oleh seseorang selama hidup.

38

b. Angka Melek Huruf


Angka Melek Huruf (AMH) persentase jumlah penduduk usia 15 tahun keatas
yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan atau huruf lainnya.
c. Rata-rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah menggambarkan jumlah tahun yang digunakan oleh
penduduk usia 15 tahun keatas dalam menjalani pendidikan formal.
d. Pengeluaran Riil per Kapita yang disesuaikan.
UNDP mengukur standar hidup layak menggunakan Produk Domestik Bruto
(PDB) riil yang disesuaikan, sedangkan BPS dalam menghitung standar hidup
layak menggunakan rata-rata pengeluaran per kapita riil yang disesuaikan
dengan formula Atkinson.
Batas maksimum daya beli adalah sebesar Rp732.720,-. Sementara itu, sampai
tahun 1996 batas minimumnya adalah Rp300.000,-, sedangkan sejak tahun
1999, batas minimum penghitungan PPP diubah dan disepakati menjadi
Rp360.000 sebagai penyesuaian adanya krisis ekonomi di Indonesia (BPS,
2014).
2.2.

Penelitian Terdahulu
Badrudin dan Mufidhatul (2011) dalam penelitiannya tentang Pengaruh

Pendapatan dan Belanja Daerah terhadap Pembangunan Manusia di Provinsi


Daerah Istimewa Yogyakarta, bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh
kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan APBD yang tercermin melalui
alokasi pengeluaran publik seperti bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur
terhadap pembangunan manusia di Provinsi DIY. Variabel terikat yang pada

39

penelitian ini adalah IPM, sedangkan variabel bebas yang digunakan adalah
Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan pada 2 Tahun Sebelumnya,
Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan pada 3 Tahun Sebelumnya,
Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan pada 2 Tahun Sebelumnya,
Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan pada 3 Tahun Sebelumnya,
Pengeluaran Pemerintah di Bidang Infrastruktur pada 2 Tahun Sebelumnya, dan
Pengeluaran Pemerintah di Bidang Infrastruktur pada 3 Tahun Sebelumnya.
Koefisien determinasi yang dihasilkan hanya mampu menunjukkan keterkaitan
seluruh variabel bebas ke variabel terikatnya sebesar 21%, sisa sebesar 79%
menunjukkan bahwa variabel IPM dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar
pengamatan. Secara parsial dan simultan juga menunjukkan bahwa variabelvariabel bebasnya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel
terikat IPM.
Kesimpulan dari penelitian Badrudin dan Mufidhatul (2011) adalah:
1. Variabel pengeluaran pemerintah di Provinsi DIY pada sektor pendidikan
berpengaruh tidak signifikan terhadap pembangunan manusia di Provinsi DIY
baik dengan pengamatan waktu menggunakan time lag 2 dan 3 tahun;
2. Variabel pengeluaran pemerintah di Provinsi DIY pada sektor kesehatan
berpengaruh tidak signifikan terhadap pembangunan manusia di Provinsi DIY
baik dengan pengamatan waktu menggunakan time lag 2 dan 3 tahun;
3. Variabel pengeluaran pemerintah di Provinsi DIY pada sektor infrastruktur
berpengaruh tidak signifikan terhadap pembangunan manusia di Provinsi DIY
baik dengan pengamatan waktu menggunakan time lag 2 dan 3 tahun;
4. Keberhasilan pembangunan manusia yang terjadi di DIY lebih banyak
ditentukan oleh sense of education masyarakat yang dilakukan secara mandiri

40

dan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan kekuatan ekonomi, sosial, dan
budaya masyarakat itu mandiri. Apalagi dengan masyarakat yang sangat
terbuka terhadap perubahan dari luar, membuat masyarakat Yogyakarta lebih
peka terhadap tuntutan dari luar;
5. Pemerintah Provinsi DIY belum memiliki komitmen yang kuat terhadap upaya
pembangunan manusia di wilayahnya. Rendahnya komitmen pemerintah
tersebut selain dibuktikan dengan rendahnya alokasi pengeluaran sektor publik
yang menunjang pembangunan manusia baik secara absolut dan relatif, juga
dibuktikan dengan nilai anggaran yang memiliki fluktuasi sangat tinggi dan
tidak pasti.
Maiharyanti (2010) meneliti Pengaruh Pendapatan Daerah terhadap Indeks
Pembangunan Manusia dan Belanja Modal sebagai Variabel Intervening pada
Pemerintah Kabupaten/Kota di Nanggroe Aceh Darussalam yang bertujuan untuk
memperoleh bukti empiris dan menganalisis Dana Alokasi umum (DAU), Dana
Alokasi Khusus (DAK), Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang berpengaruh
terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Belanja Modal (BM) sebagai
Variabel Intervening.
Variabel

penelitian

yang

digunakan

terdiri

dari

variabel

bebas

(Independen) adalah Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi husus, Pendapatan Asli
Daerah. Dana Alokasi Umum yaitu transfer yang bersifat umum dari pemerintah
pusat ke pemerintahan daerah untuk mengatasi kepentingan horizontal dalam
pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan
pengeluaran pemerintah. Dana Alokasi Khusus yaitu transfer yang bersifat khusus
dari pemerintah pusat ke pemerintahan daerah untuk mengatasi kepentingan

41

horizontal dalam pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk


membiayai kebutuhan pengeluaran pemerintah. Pendapatan Asli Daerah yaitu
penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber dalam wilayah sendiri
yang dipungut berdasarkan peraturan daerah. Variabel terikat (Dependen) Indeks
Pembangunan Manusia yaitu capaian pembangunan manusia atas layanan dasar
bidang kesehatan, pendidikan, kesehatan. Variabel Intervening Belanja Modal
yaitu pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan pengadaan, sarana
prasarana fisik pembangunan, peningkatan atas indikator kesehatan, pendidikan
dan ekonomi.
Hasil penelitian Maiharyanti (2010) adalah sebagai berikut:
1. Secara simultan Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Pendapatan Asli
Daerah berpengaruh signifikan terhadap Belanja Modal.
2. Hasil dari koefisien jalur Dana Alokasi Umum tidak berpengaruh signifikan
secara parsial terhadap Belanja Modal. Dana Alokasi Khusus berpengaruh
secara secara parsial terhadap Belanja Modal. Sedangkan Pendapatan Asli
Daerah berpengaruh secara parsial terhadap Belanja Modal.
3. Belanja modal berpengaruh secara parsial terhadap Indeks Pembangunan
Manusia.
4. Dana Alokasi Khusus dan Pendapatan Asli Daerah berpengaruh signifikan
terhadap Indeks Pembangunan Manusia dan Belanja Modal sebagai variabel
intervening.
Setyowati dan Suparwati (2012) meneliti Pengaruh Pertumbuhan
Ekonomi, DAU, DAK, PAD terhadap Indeks Pembangunan Manusia dengan
Pengalokasian

Anggaran

Belanja

Modal

sebagai

Variabel

Intervening.

Penelitiannya dilakukan pada Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Jawa Tengah.

42

Variabel terikat yang digunakan adalah IPM, sedangkan variabel bebasnya adalah
pertumbuhan ekonomi yang diproksikan dengan PDRB, DAU, DAK dan PAD.
Pengalokasian belanja modal yang diproksikan dengan realisasi belanja modal
adalah sebagai variabel intervening.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Pertumbuhan Ekonomi (PE) terbukti tidak berpengaruh positif terhadap
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran
Belanja Modal (PABM);
2. Dana Alokasi Umum (DAU) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja
Modal (PABM);
3. Dana Alokasi Khusus (DAK) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja
Modal (PABM);
4. Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja
Modal (PABM); dan
5. Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (PABM) yang diproksikan dengan
Belanja Modal (BM) terbukti berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM).
Christy dan Adi (2009) telah meneliti hubungan dana alokasi umum,
belanja modal dan kualitas pembangunan manusia. Kualitas pembangunan
manusia diproksikan dengan Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM). Hasil

43

penelitian menunjukkan bahwa belanja modal berpengaruh terhadap IPM.


Kualitas pembangunan manusia diproksikan dengan Indeks Pertumbuhan
Manusia (IPM) yang dapat mengklasifikasikan apakah suatu negara adalah negara
maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan untuk mengukur pengaruh
kebijakan ekonomi terhadap kualitas hidup serta mengukur pencapaian kualitas
pembangunan manusia untuk dapat hidup secara lebih berkualitas dilihat dari
aspek kesehatan, pendidikan, dan aspek ekonomi. Hasil penelitian ini juga
menunjukkan besarnya alokasi belanja modal akan menentukan pengalokasian
dana bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dilihat dari tingkat IPM
yaitu tingkat kesejahteraan dari sisi pendidikan, kesehatan, maupun taraf hidup
untuk melihat kualitas pembangunan manusia.
Wandira (2013) meneliti Pengaruh PAD, DAU, DAK, dan DBH terhadap
Pengalokasian Belanja Modal yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Alokasi Umum (DAU), Dana
Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Pengalokasian
Belanja Modal pada Pemerintah Provinsi se-Indonesia baik secara simultan
maupun parsial. Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini adalah:
1. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel PAD terhadap Belanja
Modal;
2. Terdapat pengaruh yang signifikan negatif antara variabel DAU terhadap
Belanja Modal;
3. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel DAK terhadap Belanja
Modal.

44

4. Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel DBH terhadap Belanja


Modal.
5. Secara simultan variabel PAD, DAU, DAK dan DBH berpengaruh signifikan
terhadap Belanja Modal.
Melihat adanya fenomena yang berbeda dari pengaruh DAU yang secara
langsung bertanda negatif terhadap belanja modal, sebaiknya pemerintah daerah
lebih memperhatikan proporsi DAU yang di alokasikan ke anggaran belanja
modal. Sedangkan, berdasar pengaruh DAK dan DBH yang sangat signifikan
terhadap belanja modal, maka sebaiknya pemerintah lebih meningkatkan anggaran
DAK dan DBH yang diproporsikan ke anggaran belanja modal.
Tuasikal (2008) meneliti pengaruh DAU, DAK, PAD, dan PDRB terhadap
belanja modal pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia. Hasil penelitiannya
menyatakan bahwa secara simultan DAU dan DAK, PAD dan PDRB berpengaruh
terhadap belanja modal pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia. Secara
parsial, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DAU,DAK dan PAD berpengaruh
positif terhadap alokasi belanja modal daerah kabupaten/kota di Indonesia,
sedangkan PDRB tidak berpengaruh.
Oktora dan Pontoh (2013) menganalisis hubungan pendapatan asli daerah,
dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus atas belanja modal pada pemerintah
daerah Kabupaten Toli-toli Provinsi Sulawesi Tengah. Secara umum, hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara PAD, DAU, dan
DAK dengan belanja modal.

45

Mirza (2012) dalam penelitiannya tentang pengaruh kemiskinan,


pertumbuhan ekonomi, dan belanja modal terhadap Indeks Pembangunan
Manusia di Jawa Tengah tahun 2006-2009, menyatakan bahwa variabel
pertumbuhan ekonomi dan belanja modal berpengaruh positif dan signifikan
terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Berbeda dengan Mirza (2012), Sumiyati
(2011) yang melakukan penelitian tentang pengaruh belanja modal terhadap
peningkatan Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Jawa Barat, dengan
hasilnya menyatakan bahwa belanja modal tahun 2006 dan 2007 baik secara
parsial maupun simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM 2008
di Provinsi Jawa Barat. Hal ini mencerminkan bahwa dalam struktur alokasi
APBD belum sepenuhnya dapat menggambarkan pembangunan kualitas manusia
menjadi arah dan kebijakan pembangunan.

2.3.

Kerangka Konseptual dan Pengembangan Hipotesis

2.3.1. Kerangka Konseptual


Berdasarkan uraian dalam latar belakang, tinjauan pustaka, dan penelitian
terdahulu, disusunlah model penelitian. Model penelitian ini merupakan model jalur.
Sarwono (2007:3), model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara
variabel bebas, perantara dan tergantung. Model ini disusun untuk menjelaskan
variabel-variabel

yang

berkedudukan

sebagai

variabel

exogenous,

variabel

46

endogenous dan variabel intervening. Model penelitian menggambarkan hubungan


pengaruh antar variabel dalam studi ini, seperti digambarkan pada gambar berikut.

Gambar 2.1
Model Penelitian
PDRB
PAD

Belanja Modal

Dana Perimbangan
DBH

Kerangka konsep pada model penelitian yang disusun menggambarkan


DAU

pengaruh 5 (lima) variabel exogenous yaitu Pertumbuhan IPM


Ekonomi, PAD,
DAK

DBH, DAU, dan DAK terhadap variabel endogenous Indeks Pembangunan


Manusia (IPM) melalui variabel intervening Belanja Modal.
Pemerintah daerah selaku agent pada sistem pembangunan bertanggung
jawab dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat di
daerahnya. Peningkatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Pengalokasian belanja secara umum dan secara khsus belanja modal,
berdasarkan sumber-sumber pendapatan daerah juga merupakan hal yang mutlak
harus dilakukan oleh penyelenggara pemerintah daerah. Tepatnya pengalokasian
belanja modal berdasarkan sumber-sumber pendapatan daerah terutama pada

47

bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur akan menciptakan pembangunan


manusia yang baik, tercermin dari peningkatan indeks pembangunan manusia.
Pada penelitian ini, sumber-sumber pendapatan daerah hanya dibatasi pada
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Perimbangan.
2.3.2. Pengembangan Hipotesis
2.3.2.1 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) melalui Belanja Modal
Perbedaaan sifat dan karakteristik akuntansi sektor swasta dan sektor
publik disebabkan karena adanya perbedaan lingkungan yang memepengaruhi
(Mardiasmo, 2009:3). Salah satu faktor ekonomi yang mempengaruhi organisasi
sektor publik adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan
salah satu indikator dari keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah.
Dimana pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah harus tepat sasaran,
sehingga pertumbuhan ekonomi akan mengalami peningkatan. Bila pertumbuhan
ekonomi daerah meningkat maka pembangunan manusia yang dilihat dari tingkat
kesejahteraan masyarakat akan semakin meningkat, demikian juga produktifitas
masyarakatnya.
Pertumbuhan ekonomi suatu daerah dicerminkan dari angka Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah jumlah nilai tambah barang dan
jasa yang diproduksi dari seluruh kegiatan perekonomian di seluruh daerah dalam
tahun tertentu atau periode tertentu dan biasanya satu tahun. Tingkat pertumbuhan
ekonomi suatu daerah diproksikan dengan PDRB atas Dasar Harga Konstan 2000.
Penelitian Setyowati dan Suparwati (2012) menyimpulkan bahwa
Pertumbuhan Ekonomi (PE) yang diproksikan dengan PDRB terbukti tidak

48

berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui


Pengalokasian Anggaran Belanja Modal (PABM).
Tuasikal (2008) menyatakan bahwa DAU, DAK, PAD, dan PDRB secara
simultan berpengaruh terhadap belanja modal pemerintah daerah kabupaten/kota
di Indonesia, namun secara parsial PDRB tidak berpengaruh terhadap belanja
modal. Mirza (2012) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi mempunyai
pengaruh positif dan signifikan terhadap IPM di Provinsi Jawa Tengah yang berarti pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi maka akan meningkatkan Indeks
Pembangunan Manusia.
Mirza (2012) juga menyatakan bahwa variabel belanja modal berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Sebaliknya,
Sumiyati (2011) menyatakan bahwa belanja modal tahun 2006 dan 2007 baik
secara parsial maupun simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM
2008 di Provinsi Jawa Barat.
Secara signifikan, pada penelitian terdahulu nampak bahwa IPM dapat
dipengaruhi oleh belanja modal. Pertumbuhan ekonomi yang diproksikan dengan
PDRB secara signifikan dapat mempengaruhi belanja modal, sehingga secara
tidak langsung PDRB dapat mempengaruhi IPM melalui alokasi belanja modal.
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H1 : Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) melalui Belanja Modal
2.3.2.2 Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal

Indeks

49

Pemerintah daerah dituntut untuk dapat akuntabilitas, transparansi dan


profesionalisme dalam menjalankan pemerintahan daerah, terutama dalam proses
pengelolaan keuangan daerah. Tuntutan ini mengharuskan pemerintah daerah
melaporkan

dan mempertanggungjawabkan

pelaksanaan APBD. Laporan

Realisasi Anggaran adalah salah satu bentuk pelaporan pemerintah daerah yang
didalamnya termasuk realisasi pendapatan dan belanja. Salah satu realisasi sumber
pendapatan adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tujuan PAD adalah memberi
keleluasaan kepada Pemerintah Daerah untuk membiayai pelaksanaan otonomi
daerah berdasarkan potensi daerahnya. Kemampuan pembiayaan daerah yang
bersumber dari PAD merupakan indikator dari kemandirian daerah. PAD
digunakan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat, dapat dalam bentuk
pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur lainnya yang dapat
menunjang Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Setyowati dan Suparwati (2012) dalam penelitiannya menyimpulkan
bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbukti berpengaruh positif terhadap
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Anggaran Belanja
Modal (PABM). Sejalan dengan Setyowati dan Suparwati (2012), Maiharyanti
(2010) juga menyimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh
signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia dan Belanja Modal sebagai
variabel intervening.
Penelitian Tuasikal (2008) menyatakan bahwa secara parsial PAD
berpengaruh positif terhadap alokasi belanja modal daerah kabupaten/kota di
Indonesia. Oktora dan Pontoh (2013) menyatakan bahwa hasil uji korelasi PAD

50

dengan Belanja Modal menunjukkan terdapat hubungan yang kurang erat akibat
rendahnya proporsi PAD dalam komposisi Pendapatan Daerah.
Mirza (2012) menyatakan bahwa variabel belanja modal berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Sebaliknya,
Sumiyati (2011) menyatakan bahwa belanja modal tahun 2006 dan 2007 baik
secara parsial maupun simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM
2008 di Provinsi Jawa Barat.
Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa IPM dapat dipengaruhi oleh
belanja modal. PAD secara umum mempengaruhi belanja modal, walaupun
terdapat penelitian yang menghasilkan bahwa PAD tidak berhubungan erat dengan
belanja modal. Untuk itu, secara tidak langsung PAD dapat mempengaruhi IPM
melalui alokasi belanja modal
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H2 : Pendapatan Asli Daerah (PAD) berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal

51

2.3.2.3 Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap


Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal

Indeks

Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan salah satu Dana Perimbangan


adalah adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap daerah otonom
(provinsi/kabupaten/kota)

di

Indonesia

setiap

tahunnya

sebagai

dana

pembangunan. DAU merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan
menjadi salah satu komponen pendapatan pada APBD. Sama halnya dengan
realisasi PAD, realisasi DAU juga dilaporkan oleh pemerintah daerah dalam
Laporan Realisasi Anggaran dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD).
Penelitian Tuasikal (2008) menyatakan bahwa secara parsial DAU
berpengaruh positif terhadap alokasi belanja modal daerah kabupaten/kota di
Indonesia. Rata-rata pemerintah daerah lebih mengutamakan transfer atau bantuan
pemerintah pusat berupa DAU. Sejalan dengan Tuasikal (2008), Oktora dan
Pontoh (2013) menyatakan bahwa hubungan antara DAU dengan Belanja Modal
adalah sangat erat. Hal ini ditunjang oleh pemberian DAU dalam jumlah banyak
sehingga memiliki proporsi yang dominan dalam membiayai belanja modal.
Mirza (2012) menyatakan bahwa variabel belanja modal berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Sebaliknya,
Sumiyati (2011) menyatakan bahwa belanja modal tahun 2006 dan 2007 baik
secara parsial maupun simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM
2008 di Provinsi Jawa Barat.
Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa DAU secara signifikan
berpengaruh positif terhadap belanja modal, sehingga diharapkan bahwa DAU

52

dapat secara signifikan pula berpengaruh secara tidak langsung terhadap IPM
melalui alokasi belanja modal pada APBD.
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H3 : Dana Alokasi Umum (DAU) berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal
2.3.2.4 Pengaruh Dana Alokasi Khusus (DAK) terhadap
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal

Indeks

DAK adalah alokasi dari APBN kepada Provinsi/Kabupaten/Kota tertentu


di Indonesia dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan
urusan Pemerintah Daerah yang sesuai dengan prioritas Nasional. DAK
merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah satu
komponen pendapatan pada APBD. Sama halnya dengan realisasi DAU sebagai
dana perimbangan, realisasi DAK juga dilaporkan oleh pemerintah daerah dalam
Laporan Realisasi Anggaran dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD).
Penelitian Tuasikal (2008) menyatakan bahwa secara parsial DAK
berpengaruh positif terhadap alokasi belanja modal daerah kabupaten/kota di
Indonesia. Rata-rata pemerintah daerah lebih mengutamakan transfer atau bantuan
pemerintah pusat berupa DAU dan DAK. Sejalan dengan Tuasikal (2008), Oktora
dan Pontoh (2013) menyatakan bahwa DAK dengan Belanja Modal menunjukkan
hubungan yang erat. Realita ini dilatarbelakangi oleh tingginya ketergantungan
Pemerintan Daerah terhadap dana transfer, khususnya dalam pengadaan aset tetap
pada proyek tertentu yang urusannya diserahkan oleh Pemerintah Pusat.

53

Mirza (2012) menyatakan bahwa variabel belanja modal berpengaruh


positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Sebaliknya,
Sumiyati (2011) menyatakan bahwa belanja modal tahun 2006 dan 2007 baik
secara parsial maupun simultan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap IPM
2008 di Provinsi Jawa Barat.
Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa DAK secara signifikan
berpengaruh positif terhadap belanja modal, sehingga diharapkan bahwa DAK
dapat secara signifikan pula berpengaruh secara tidak langsung terhadap IPM
melalui alokasi belanja modal pada APBD.
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H4 : Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh positif terhadap Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) melalui Belanja Modal
2.3.2.5 Pengaruh Dana Bagi Hasil (DBH) terhadap Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) melalui Belanja Modal
Sebagai salah satu komponen dari Dana Perimbangan, DBH yang
bersumber dari APBN dibagihasilkan kepada daerah berdasarkan angka
persentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil. Sebagai
salah satu sumber pendapatan bagi pemerintah daerah Kabupaten/Kota, DBH
ditujukan untuk memberikan keadilan bagi daerah atas potensi yang dimilikinya,
sehingga

pemerintah

daerah

dapat

menggunakannya

untuk

penyediaan

infrastruktur yang berkenaan dengan potensi tersebut melalui belanja modal.


Petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan dari beberapa Dana Bagi Hasil
yang ditransfer ke daerah, menunjukkan bahwa dapat dialokasikannya belanja
modal yang menunjang pengembangan hasil dari potensi daerah. Untuk itu,

54

diharapkan DBH dapat signifikan mempengaruhi belanja modal, sehingga secara


tidak langsung juga mempengaruhi tingkat IPM daerah. Berdasarkan desain
penelitian, peneliti akan memberikan bukti empiris dan menganalisis pengaruh
DBH terhadap pengalokasian belanja modal yang berdampak lebih lanjut terhadap
IPM di Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB.
Sama halnya dengan realisasi DAU dan DAK sebagai dana perimbangan,
realisasi penerimaan DBH juga dilaporkan oleh pemerintah daerah dalam Laporan
Realisasi Anggaran dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) sebagai
pertanggungjawaban.
Wandira (2013) menyimpulkan bahwa secara parsial terdapat pengaruh
yang signifikan variabel DBH terhadap Belanja Modal. Disamping itu, secara
simultan, variabel PAD, DAU, DAK dan DBH berpengaruh signifikan terhadap
Belanja Modal. Mirza (2012) menyatakan bahwa variabel belanja modal
berpengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia.
Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa DBH berpengaruh positif
terhadap belanja modal dan belanja modal berpengaruh terhadap IPM. Sama
halnya dengan komponen dana perimbangan lainnya, DBH diharapkan dapat
berpengaruh secara tidak langsung terhadap IPM melalui alokasi belanja modal
pada APBD.
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:
H5 : Dana Bagi Hasil (DBH) berpengaruh positif terhadap Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) melalui Belanja Modal

55

BAB III
METODOLOGI
3.1.

Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam paradigma kuantitatif yang menekankan

pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan menggunakan


prosedur statistika. Berdasarkan pada karakteristik permasalahan, jenis penelitian
adalah penelitian kausal-komparatif. Jogiyanto (2011:9), penelitian kausalkomparatif yaitu penelitian yang bertujuan menguji hubungan sebab-akibat antara
2 (dua) variabel atau lebih serta menggunakan data atau peristiwa masa lalu.
Penelitian

ini

bertujuan

untuk

menguji

pengaruh

variabel

exogenous

(Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK, dan DBH) terhadap Indeks


Pembangunan Manusia (IPM) melalui Pengalokasian Belanja Modal pada
Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data Pertumbuhan Ekonomi
yang diproksikan dengan PDRB, PAD, DAU, DAK, dan DBH digunakan data
tahun 2008-2012, sedangkan data IPM yang digunakan adalah data tahun 20092013.
3.2.

Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan pada Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa

Tenggara Barat (NTB). Lokasi ini dipilih guna melihat pengaruh Pertumbuhan
Ekonomi, PAD, DAU, DAK, dan DBH pada Kabupaten/Kota di Provinsi NTB
terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui belanja modal, sehingga
dapat menunjang peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi
NTB.

52

56

Penelitian ini direncanakan selama 12 (dua belas) minggu pada tahun


2015.
3.3.

Populasi dan Sampel Penelitian


Sudjana (1989:6), mendefinisikan bahwa populasi adalah totalitas semua

nilai yang mungkin, hasil menghitung ataupun pengukuran, kuantitatif maupun


kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang
lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh pemerintah daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara
Barat yaitu sebanyak 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota, yang terdiri dari 8 (delapan)
Kabupaten yakni Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur,
Sumbawa, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima serta 2 (dua) Kota yaitu Kota
Mataram dan Kota Bima.
Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (Sudjana, 1989:6).
Pada penelitian ini akan dilakukan pengambilan sampel berdasarkan Sampling
Purposif. Pengambilan sampel dikatakan sebagai sampling purposif atau disebut
juga sampling pertimbangan, terjadi apabila pengambilan sampel dilakukan
berdasarkan pertimbangan perorangan atau pertimbangan peneliti (Sudjana,
1989:168).
Pemerintah daerah yang menjadi sampel adalah pemerintah daerah yang
telah memiliki Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang memuat
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) tahun 2008-2012, serta terpublikasi pada NTB
Dalam Angka untuk data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2009-2013.

57

Mengingat sebagian pemerintah daerah Kabupaten/Kota yang menjadi


populasi dalam penelitian merupakan Kabupaten/Kota pemekaran dan belum
menyajikan data sesuai dengan kebutuhan penelitian, dengan demikian, sampel
dalam penelitian ini berjumlah 9 (sembilan) Kabupaten/Kota yaitu Kabupaten
Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat,
Dompu, Bima, Kota Mataram, dan Kota Bima. Dimensi waktu yang digunakan
adalah 5 (lima) tahun.
Gujarati (2004), data panel (pooled data) atau yang disebut juga data
longitudinal merupakan gabungan antara data cross section dan data time series.
Data cross section adalah data yang dikumpulkan dalam satu waktu terhadap
banyak individu, sedangkan data time series merupakan data yang dikumpulkan
dari waktu ke waktu terhadap suatu individu. Jumlah unit analisis amatan menjadi
45 sampel (9 Kab/Kota x 5 tahun).
3.4.

Metode Pengumpulan Data


Data dalam penelitian ini bersumber dari data sekunder. Data Indeks

Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat


(NTB) tahun 2009-2013 diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi
NTB.

Data

Pertumbuhan

Ekonomi

yang

diproksikan

dengan

PDRB

Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun 2008-2012,


diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB. Data PAD, DAU,
DAK, dan DBH masing-masing Kabupaten/Kota di Provinsi NTB diperoleh dari
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) pada Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD) Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi NTB tahun 2008-2012.

58

3.5.

Definisi Operasional Variabel


Penelitian

ini

menggunakan

(lima)

variabel

exogenous

yaitu

Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK, dan DBH; 1 (satu) variabel


endogenous yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM); serta 1 (satu) variabel
intervening yaitu Belanja Modal. Secara operasional variabel-variabel dalam
penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pertumbuhan ekonomi adalah perkembangan kegiatan perekonomian yang


menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah
dan efeknya kemakmuran masyarakat meningkat. Dalam penelitian ini
Pertumbuhan Ekonomi diproksikan dengan PDRB atas dasar harga konstan
2000. Data ini diukur berdasarkan angka yang tercantum dalam daftar PDRB
Kabupaten/Kota di Provinsi NTB tahun 2008-2012 yang diukur dengan skala
rasio.
2. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang berasal dari dalam
daerah berupa Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan
Daerah yang Dipisahkan, dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah,
yang dikelola sendiri oleh Pemerintah Daerah guna membiayai kegiatankegiatan pembangunan daerah tersebut. Pada penelitian ini data PAD
diperoleh dari total realisasi PAD masing-masing Kabupaten/Kota se-Provinsi
NTB pada tahun 2008-2012 yang diukur dengan skala rasio.
3. Dana Perimbangan terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum
(DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).
- Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana transfer pusat yang dialokasikan
kepada daerah dengan memperhatikan potensi daerah penghasil berdasarkan
angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka

59

pelaksanaan desentralisasi. Pada penelitian ini data DBH diperoleh dari


total realisasi DBH masing-masing Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB
-

pada tahun 2008-2012 yang diukur dengan skala rasio.


Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana transfer pusat yang
dialokasikan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah otonom dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi. Pada penelitian ini data DAU diperoleh dari total realisasi
DAU masing-masing Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB pada tahun 2008-

2012 yang diukur dengan skala rasio.


Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana transfer pusat yang dialokasikan
kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan
khusus yang merupakan urusan daerah namun sesuai dengan prioritas
nasional. Pada penelitian ini data DAK diperoleh dari total realisasi DAK
masing-masing Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB pada tahun 2008-2012

yang diukur dengan skala rasio.


4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah indeks komposit untuk
mengukur pencapaian kualitas pembangunan manusia untuk dapat hidup
secara lebih berkualitas, baik dari aspek kesehatan, pendidikan, maupun
aspek ekonomi. Dalam penelitian ini, nilai IPM diperoleh berdasarkan angka
pada dokumen IPM Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB tahun 2009-2013 yang
diukur dengan skala rasio.
5. Belanja Modal adalah sejumlah pengeluaran yang manfaatnya melebihi satu
tahun anggaran dan dapat menambah aset pemerintah. Pada penelitian ini data
alokasi belanja modal diperoleh dari total realisasi belanja modal masing-

60

masing Kabupaten/Kota se-Provinsi NTB pada tahun 2008-2012 yang diukur


dengan skala rasio.
3.6.

Metode dan Teknik Analisis Data

3.6.1. Analisis Deskriptif


Pada tahap analisis ini akan digambarkan tentang keseluruhan data baik,
dari variabel exogenous (Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK, dan DBH),
variabel endogenous (IPM) dan variabel interveningnya (Belanja Modal).
Gambaran ini berupa Total Data Amatan (N), Nilai Minimum, Nilai Maksimum,
Rataan (mean) dan Standar Deviasi untuk masing-masing variabel.
3.6.2. Uji Asumsi Klasik
a) Normalitas
Ghozali (2013:160) menyatakan bahwa uji normalitas bertujuan untuk
menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual
memiliki distribusi normal. Uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual
mengikuti distribusi normal. Pada penelitian ini, uji normalitas menggunakan
analisis grafik histogram dan grafik normal plot, dengan ketentuan sebagai
berikut:
-

Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Jika data menyebar jauh dari diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal,
maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

b) Heteroskedastisitas

61

Ghozali (2013:139), uji asumsi heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji


apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Apabila asumsi tidak terjadinya
heteroskedastisitas ini tidak dipenuhi, maka penaksir menjadi tidak lagi
efisien baik dalam sampel kecil maupun besar. Pada penelitian ini, cara
yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas
adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel dependen
yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID, dengan analisis sebagai berikut:
-

Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola
tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit),
maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.

Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di
bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

c) Multikolinearitas
Uji asumsi tentang multikolinearitas ini dimaksudkan untuk membuktikan
atau menguji ada tidaknya hubungan yang linear antara variabel bebas
(exogenous) satu dengan variabel bebas (endogenous) yang lainnya. Dalam
analisis regresi, maka dapat terdapat dua atau lebih variabel bebas yang
diduga akan mempengaruhi variabel terikatnya (dependent). Adanya
hubungan yang linear antar variabel independen akan menimbulkan
kesulitan dalam memisahkan pengaruh masing-masing variabel independen
terhadap variabel dependennya.

62

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ditemukan adanya


korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka terdapat
masalah multikolinearitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi antara variabel independennya. Multikolinieritas yang
berbahaya terjadi apabila nilai dari Variance Inflation Faktor (VIF) lebih
besar dari 10 (Gujarati, 1993).
d) Autokorelasi
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara
residual pada satu pengamatan dengan pengamatan yang lain dalam satu
variabel. Konsekuensi dari autokorelasi adalah biasnya varian dengan nilai
yang lebih kecil dari nilai yang sebenarnya, sehingga nilai R 2 dan F
cenderung overestimated (Gujarati, 1993). Cara untuk mendeteksi
autokorelasi pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pengujian
Durbin Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut (Ghozali, 2013:111):
Hipotesis nol
Tidak ada autokorelasi positif
Tidak ada autokorelasi positif
Tidak ada korelasi negatif
Tidak ada korelasi negatif
Tidak ada autokorelasi, positif atau negatif

Keputusan
Tolak
No decision
Tolak
No decision
Tidak ditolak

Jika
0 < d < dL
dL d dU
4-dL < d < 4
4-dU d 4-dL
dU < d < 4-dU

3.6.3. Metode Analisis Data


Penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan analisis jalur (path
analysis) dengan alat analisis yaitu software Statistical Product and Service
Solutions (SPSS) versi 22. Tahapan dalam analisis yang akan dilakukan dalam
penelitian ini sebagai berikut:

63

Tahap Pertama: Menentukan model diagram jalur berdasarkan paradigma


hubungan antar variabel (seperti pada Gambar 2.1).
Tahap Kedua: membuat diagram jalur persamaan strukturalnya.
Gambar 3.1
Diagram Jalur Model Penelitian

X1
X2

1
Y

Dana Perimbangan
X3
X4

2
Z

X5

Berdasarkan gambar 3.1 tersebut, maka model penelitian ini termasuk dalam
model persamaan dua jalur. Model strukturalnya adalah sebagai berikut:
- persamaan struktural 1
Y = YX1 + YX2 + YX3 + YX4 + YX5 + 1

64

- persamaan struktural 2
Z = ZX1 + ZX2 + ZX3 + ZX4 + ZX5 + ZY + 2
dimana:
X1 : Pertumbuhan Ekonomi (diproksikan dengan PDRB)
X2 : PAD
X3 : DBH
X4 : DAU
X5 : DAK
Y

: Belanja Modal

: IPM

: error

Tahap Ketiga: Mengolah dan menganalisis data dengan SPSS versi 22 sesuai
dengan persamaan struktural pada tahap kedua.
Tahap Keempat: Penafsiran hasil analisis data.
Persamaan Struktural 1.
a. Analisis Korelasi; melihat korelasi antara variabel Pertumbuhan Ekonomi,
PAD, DAU, DAK, DBH, dan Belanja Modal.
b. Analisis Regresi;
- melihat pengaruh langsung Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK, dan
-

DBH secara parsial terhadap Belanja Modal.


melihat pengaruh langsung Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK, dan
DBH secara simultan terhadap Belanja Modal.

65

Persamaan Struktural 2.
a. Analisis Korelasi; melihat korelasi antara variabel Pertumbuhan Ekonomi,
PAD, DAU, DAK, DBH, Belanja Modal, dan IPM.
b. Analisis Regresi;
- melihat pengaruh langsung Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK,
DBH, dan Belanja Modal secara parsial terhadap Indeks Pembangunan
-

IPM?
melihat pengaruh langsung Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU, DAK,
DBH, dan Belanja Modal secara simultan terhadap Indeks Pembangunan

IPM?
c. Perhitungan Pengaruh;
- pengaruh langsung (direct effect)
- pengaruh tidak langsung (indirect effect)
- pengaruh total
d. Mendeteksi Efek Mediasi; untuk melihat apakah belanja modal sebagai
variabel intervening benar-benar memperlihatkan adanya efek mediasi akan
digunakan model Baron dan Kenny (1986). Baron dan Kenny (1986)
mempersyaratkan kondisi-kondisi berikut dalam rangka memperlihatkan efek
mediasi oleh variabel intervening:
- masing-masing variabel exogenous (Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU,
DAK, dan DBH) secara signifikan mempengaruhi variabel endogenous
-

(IPM).
masing-masing variabel exogenous (Pertumbuhan Ekonomi, PAD, DAU,
DAK, dan DBH) secara signifikan mempengaruhi variabel intervening

(Belanja Modal).
variabel intervening (Belanja Modal) secara signifikan mempengaruhi

variabel endogenous (IPM).


Kondisi ketiga ini untuk menentukan variabel intervening (Belanja Modal)
sebagai full mediation (intervening penuh) atau intervening sebagian.

66

Intervening sebagian terjadi apabila pengaruh variabel independen pada


variabel dependen setelah dimediasi lebih kecil daripada sebelum dimediasi
dan tetap signifikan. Intervening penuh akan terjadi bila variabel independen
tidak berpengaruh secara signifikan pada variabel dependen setelah dimediasi
(Baron dan Kenny, 1986).
Pada penelitian ini, akan digunakan uji Sobel (Sobel test) untuk mendeteksi
efek mediasi.
3.6.4. Uji Koefisien Determinan (R2)
Uji ini digunakan untuk menunjukkan seberapa besar persentase
variasi dalam variabel, yang dapat dijelaskan oleh variasi dalam variabel
independen. Nilai R2 terletak antara nilai 0 dan 1. Jika R 2 semakin mendekati 1,
maka semakin besar variasi dalam variabel independen.

67

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2011. Undang-Undang Otonomi Daerah. SL Media. Tangerang.
Anonymous. 2014. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah. Mini Jaya Abadi. Jakarta.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta.
Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2008. Indeks Pembangunan Manusia 2006-2007. Badan
Pusat Statistik. Jakarta.
_______ Provinsi NTB. 2013. PDRB Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2012.
Badan Pusat Statistik. Mataram.
_______ Kota Bima. 2012. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Bima
2011. Badan Pusat Statistik. Kota Bima.
Badrudin, R. dan Mufidhatul. 2011. Pengaruh Pendapatan dan Belanja Daerah
terhadap Pembangunan Manusia di Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta.. Jurnal Manajemen, Akuntansi dan Ekonomi Pembangunan,
Vol. 9 No. 1 April 2011: 23-30, ISSN: 1410-2293.
Baron, R. M. dan Kenny, D. A. 1986. The moderator-mediator variable
distinction in social psychological research: Conceptual, Strategic, and
Statistical Considerations. Journal of Personality and Social Psychology,
51, 1173-1182.
Bratakusuma, S. 2003. Perencanaan Pembangunan Daerah. PT. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta.
Christy, F. A dan Priyo. 2009. Hubungan Antara Dana Alokasi Umum, Belanja
Modal dan Kualitas Pembangunan Manusia. The 3rdNational Conference
UKWMS Surabaya, Oktober 10th 2009.
Ghozali, I. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21,
Edisi 7. Universitas Diponegoro. Semarang.
Ghulam, R. 2011. Agency Theory Dalam Sektor Publik di Indonesia. Jurnal
Academia Education Vol. 1 No.2. Yogyakarta.
Gujarati, D. N. 2004. Basic Econometrics, 4th edition. The McGraw-Hill
Companies. New York.

68

Halim, A dan Nasir, A. J. 2006. Kajian tentang Keuangan Daerah Pemerintah


Kota Malang. Majalah Manajemen Usahawan Indonesia N0.06/Tahun
XXXV.
_______ dan Muhammad, I. 2012. Pengelolaan Keuangan Daerah. Seri Bunga
Rampai Manajemen Keuangan Daerah. UPP STIM YKPN. Yogyakarta.
_______ dan Muhammad, S. K. 2013. Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi
Keuangan Daerah. Salemba Empat. Jakarta.
Jogiyanto, H. M. 2011. Konsep dan Aplikasi Stuctural Equation Modeling
Berbasis Varian Dalam Penelitian Bisnis. UPP STIM YKPN. Yogyakarta.
Maiharyanti, E. 2010. Pengaruh Pendapatan Daerah terhadap Indeks
Pembangunan Manusia dan Belanja Modal sebagai Variabel Intervening
pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Nanggroe Aceh Darussalam. (Tesis
Sekolah Pascasarjana yang tidak dipublikasikan, Universitas Sumatera
Utara).
Mardiasmo. 2002. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. Andi.
Yogyakarta.
_______. 2009. Akuntansi Sektor Publik, Edisi IV. Andi. Yogyakarta.
Mirza, D. S. 2012. Pengaruh Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi, dan Belanja
Modal terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah Tahun
2006-2009. Economics Development Analysis Journal, September 2012.
Nordiawan, D. dan Ayuningtyas. 2010. Akuntansi Sektor Publik. Edisi 2. Salemba
Empat. Jakarta.
Oktora, F. E. dan Winston. 2013. Analisis Hubungan Pendapatan Asli Daerah,
Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus atas Belanja Modal pada
Pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal
Accountability Vol. 2 No. 1, Juni 2013.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah, sebagaimana terakhir kali diubah dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara.
__________, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah.
__________, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

69

Sarjono, H dan Julianita, W. 2011. SPSS vs Lisrel: Sebuah Pengantar, Aplikasi


untuk Riset. Salemba Empat. Jakarta.
Sarwono, J. 2007. Analisis Jalur untuk Riset Bisnis dengan SPSS. Andi.
Yogyakarta.
Setyowati, L., dan Yohana, K. S. 2012. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, DAU,
DAK, PAD terhadap Indeks Pembangunan Manusia dengan
Pengalokasian Anggaran Belanja Modal sebagai Variabel Intervening.
Prestasi Vol. 9 No. 1. ISSN 1411-1497.
Sudjana, M. A. 1989. Metoda Statistika Edisi Ke-5. Tarsito. Bandung.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta. Bandung.
Sumiyati, E. E. 2011. Pengaruh Belanja Modal Terhadap Peningkatan Indeks
Pembangunan Manusia di Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ilmu Politik dan
Ilmu Sosial, Vol. 7, No. 1.
Tuasikal, A. 2008. Pengaruh DAU, DAK, PAD, dan PDRB terhadap Belanja
Modal Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. Jurnal Telaah
dan Riset Akuntansi, Vol. 1, No. 2. Juli 2008.
UNDP. 1996. Human Development Report. Oxford University Press. New York
__________. 2004. Human Development Report. United Nations Development
Programme. New York.
Wandira, A. G. 2013. Pengaruh PAD, DAU, DAK dan DBH terhadap
pengalokasian Belanja Modal. Accounting Analysis Journal (AAJ), Vol. 2,
No. 1. Februari 2013.
http://www.bps/go.id/
http://lombokutarakab.bps.go.id/
http://lombokutarakab.bps.go.id/
http://lombokbaratkab.bps.go.id/
http://lomboktengahkab.bps.go.id/
http://lomboktimurkab.bps.go.id/
http://sumbawakab.bps.go.id/
http://sumbawabaratkab.bps.go.id/

70

http://dompukab.bps.go.id/
http://bimakab.bps.go.id/
http://mataramkota.bps.go.id/
http://bimakota.bps.go.id/

71

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDAPATAN ASLI


DAERAH DAN DANA PERIMBANGAN TERHADAP
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
MELALUI BELANJA MODAL
(studi pada Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat)

SISWADI
NIM. I2F013043

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MATARAM
2015

72

PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDAPATAN ASLI


DAERAH DAN DANA PERIMBANGAN TERHADAP
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
MELALUI BELANJA MODAL
(studi pada Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat)

TESIS
Untuk memperoleh Gelar Magister
pada Program Studi Magister Akuntansi
Pascasarjana Universitas Mataram

Oleh:
SISWADI
NIM. I2F013043

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS MATARAM
2015

73

Lembar Pengesahan

PROPOSAL PENELITITAN TESIS YANG TELAH DISETUJUI


PADA TANGGAL, ...................................................

Oleh:
Pembimbing Ketua,

Dr. Endar Pituringsih, S.E., M.Si., A., CA


NIDN. 0706067101

Pembimbing Pendamping,

Dr. M. Irwan, S.E., MP


NIP. 19651220 199001 1 001

74

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Grafik
Daftar Gambar
BAB I
Pendahuluan ....................................................................................
1.1 Latar Balakang ..........................................................................
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................
1.4 Manfaat Penelitian ....................................................................
1.4.1 Manfaat Teoritis ...........................................................
1.4.2 Manfaat Praktis ............................................................
1.4.3 Manfaat Kebijakan .......................................................
BAB II Tinjauan Pustaka .............................................................................
2.1 Landasan Teori ..........................................................................
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)..................................
2.1.2 Anggaran Sektor Publik...............................................
2.1.3 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ....
2.1.4 Pertumbuhan Ekonomi..................................................
2.1.5 Pendapatan Asli Daerah (PAD) ....................................
2.1.6 Dana Bagi Hasil (DBH) ...............................................
2.1.7 Dana Alokasi Umum (DAU).........................................
2.1.8 Dana Alokasi Khusu (DAK).........................................
2.1.9 Belanja Modal ..............................................................
2.1.10 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ..........................
2.2 Penelitian Terdahulu ..................................................................
2.3 Kerangka Konseptual dan Pengembangan Hipotesis ................
2.3.1 Kerangka Konseptual ...................................................
2.3.2 Pengembangan Hipotesis .............................................
BAB III Metodologi.......................................................................................
3.1 Jenis Penelitian ..........................................................................
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .....................................................
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ................................................
3.4 Metode Pengumpulan Data .......................................................
3.5 Definisi Operasional Variabel ...................................................
3.6 Metode dan Teknik Analisis Data .............................................
3.6.1 Analisis Deskriptif ........................................................
3.6.2 Uji Asumsi Klasik ........................................................
3.6.3 Metode Analisis Data ...................................................
3.6.4 Uji Koefisien Determinan (R2) .....................................
Daftar Pustaka
Lampiran

iii

1
1
17
18
19
19
19
19
20
20
20
21
23
25
27
28
29
31
32
33
35
43
43
44
52
52
52
53
54
55
57
57
57
60
63

75

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 IPM Kabupaten/Kota se Provinsi NTB ...........................................

iv

11

76

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Realisasi Belanja Daerah Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat
.....................................................................................................
.....................................................................................................
5
Gambar 1.2 Realisasi Belanja Modal Daerah Kabupaten/Kota se-Provinsi
Nusa Tenggara Barat
.....................................................................................................
.....................................................................................................
6
Gambar 1.3 Pendapatan Asli Daerah Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat
.....................................................................................................
.....................................................................................................
7
Gambar 1.4 Dana Perimbangan Kabupaten/Kota se-Provinsi Nusa
Tenggara Barat
.....................................................................................................
.....................................................................................................
8
Gambar 1.5 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Nusa
Tenggara Barat
.....................................................................................................
.....................................................................................................
9
Gambar 2.1 Model Penelitian
.....................................................................................................
.....................................................................................................
43
Gambar 3.1 Diagram Jalur Model Penelitian
60

iv
v vi

Lampiran 1
Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2009-2013
No
Uru
Provinsi
t
1 DKI JAKARTA
2 SULAWESI
UTARA
3 RIAU
4 DI
YOGYAKARTA

Nilai IPM
2009
77.3
6
75.6
8
75.6
0
75.2
3

Provinsi
DKI JAKARTA
SULAWESI
UTARA
RIAU
DI
YOGYAKARTA

2010
77.6
0
76.0
9
76.0
7
75.7
7

Provinsi
DKI JAKARTA
SULAWESI
UTARA
RIAU
DI
YOGYAKARTA

2011
77.9
7
76.5
4
76.5
3
76.3
2

Provinsi
DKI JAKARTA
SULAWESI
UTARA
RIAU
DI
YOGYAKARTA

2012
78.3
3
76.9
5
76.9
0
76.7
5

Provinsi
DKI JAKARTA
DI
YOGYAKARTA
SULAWESI
UTARA
KALIMANTAN
TIMUR

2013
78.5
9
77.3
7
77.3
6
77.3
3

5 KALIMANTAN
TIMUR

75.1 KALIMANTAN
1
TIMUR

75.5 KALIMANTAN
6
TIMUR

76.2 KALIMANTAN
2
TIMUR

76.7 RIAU
1

77.2
5

6 KEPULAUAN
RIAU
7 KALIMANTAN
TENGAH

74.5
4
74.3
6

KEPULAUAN
RIAU
KALIMANTAN
TENGAH

75.0
7
74.6
4

KEPULAUAN
RIAU
KALIMANTAN
TENGAH

75.7
8
75.0
6

KEPULAUAN
RIAU
KALIMANTAN
TENGAH

76.2
0
75.4
6

KEPULAUAN
RIAU
KALIMANTAN
TENGAH

76.5
6
75.6
8

8 SUMATERA
UTARA
9 SUMATERA
BARAT
10 SUMATERA
SELATAN

73.8
0
73.4
4
72.6
1

SUMATERA
UTARA
SUMATERA
BARAT
SUMATERA
SELATAN

74.1
9
73.7
8
72.9
5

SUMATERA
UTARA
SUMATERA
BARAT
SUMATERA
SELATAN

74.6
5
74.2
8
73.4
2

SUMATERA
UTARA
SUMATERA
BARAT
SUMATERA
SELATAN

75.1
3
74.7
0
73.9
9

SUMATERA
UTARA
SUMATERA
BARAT
KALIMANTAN
UTARA

75.5
5
75.0
1
74.7
2

11 BENGKULU

72.5 BENGKULU
5

72.9 BENGKULU
2

73.4 BENGKULU
0

73.9 BENGKULU
3

74.4
1

10

No
Uru
Provinsi
t
12
KEPULAUAN
BANGKA
BELITUNG
13 JAMBI

Provinsi
2009
72.5 KEPULAUAN
5
BANGKA
BELITUNG
72.4 JAMBI
5

Nilai IPM
Provinsi
2010
72.8 KEPULAUAN
6
BANGKA
BELITUNG
72.7 JAMBI
4

Provinsi
2011
73.3 JAMBI
7

14 JAWA TENGAH

72.1 JAWA TENGAH


0

72.4 JAWA TENGAH


9

73.3 KEPULAUAN
0
BANGKA
BELITUNG
72.9 BALI
4

15 JAWA BARAT

71.6
4
71.5
2
71.3
1
71.0
6
70.9
6
70.9
4
70.9
3
70.7
0
70.0
6

72.2
9
72.2
8
71.7
0
71.6
2
71.6
2
71.4
2
71.4
2
71.1
4
70.4
8

72.8
4
72.7
3
72.1
8
72.1
6
72.1
4
71.9
4
71.8
7
71.6
2
70.9
5

16 BALI
17 ACEH
18 JAWA TIMUR
19 MALUKU
20 SULAWESI
SELATAN
21 LAMPUNG
22 SULAWESI
TENGAH
23 BANTEN

JAWA BARAT
BALI
ACEH
JAWA TIMUR
SULAWESI
SELATAN
LAMPUNG
MALUKU
SULAWESI
TENGAH
BANTEN

BALI
JAWA BARAT
JAWA TIMUR
ACEH
SULAWESI
SELATAN
LAMPUNG
MALUKU
SULAWESI
TENGAH
BANTEN

JAWA TENGAH
JAWA BARAT
JAWA TIMUR
SULAWESI
SELATAN
ACEH
LAMPUNG
MALUKU
SULAWESI
TENGAH
BANTEN

Provinsi
2012
73.7 SUMATERA
8
SELATAN

2013
74.3
6

73.7 JAMBI
8

74.3
5

73.4 KEPULAUAN
9
BANGKA
BELITUNG
73.3 BALI
6
73.1 JAWA TENGAH
1
72.8 JAWA BARAT
3
72.7 JAWA TIMUR
0
72.5 SULAWESI
1
SELATAN
72.4 ACEH
5
72.4 LAMPUNG
2
72.1 MALUKU
4
71.4 SULAWESI
9
TENGAH

74.2
9
74.1
1
74.0
5
73.5
8
73.5
4
73.2
8
73.0
5
72.8
7
72.7
0
72.5
4

11

No
Uru
Provinsi
t
24
GORONTALO
25 SULAWESI
TENGGARA
26 KALIMANTAN
SELATAN
27 SULAWESI
BARAT
28 KALIMANTAN
BARAT
29 MALUKU UTARA
30 PAPUA BARAT
31 NUSA
TENGGARA
TIMUR
32 NUSA
TENGGARA
BARAT
33 PAPUA
34 KALIMANTAN
UTARA
INDONESIA

2009
69.7
9
69.5
2
69.3
0
69.1
8
68.7
9
68.6
3
68.5
8
66.6
0

Provinsi
GORONTALO
SULAWESI
TENGGARA
KALIMANTAN
SELATAN
SULAWESI
BARAT
KALIMANTAN
BARAT
PAPUA BARAT
MALUKU UTARA

NUSA
TENGGARA
TIMUR
64.6 NUSA
6
TENGGARA
BARAT
64.5 PAPUA
3
-

KALIMANTAN
UTARA

71.7
INDONESIA
6

Nilai IPM
Provinsi
2010
70.2 GORONTALO
8
70.0 SULAWESI
0
TENGGARA
69.9 KALIMANTAN
2
SELATAN
69.6 SULAWESI
4
BARAT
69.1 KALIMANTAN
5
BARAT
69.1 PAPUA BARAT
5
69.0 MALUKU UTARA
3
67.2 NUSA
6
TENGGARA
TIMUR
65.2 NUSA
0
TENGGARA
BARAT
64.9 PAPUA
4
-

KALIMANTAN
UTARA

72.2
INDONESIA
7

2011
70.8
2
70.5
5
70.4
4
70.1
1
69.6
6
69.6
5
69.4
7
67.7
5

Provinsi
GORONTALO
KALIMANTAN
SELATAN
SULAWESI
TENGGARA
SULAWESI
BARAT
KALIMANTAN
BARAT
PAPUA BARAT
MALUKU UTARA

NUSA
TENGGARA
TIMUR
66.2 NUSA
3
TENGGARA
BARAT
65.3 PAPUA
6
-

KALIMANTAN
UTARA

72.7
INDONESIA
7

2012
71.3
1
71.0
8
71.0
5
70.7
3
70.3
1
70.2
2
69.9
8
68.2
8

Provinsi
BANTEN
GORONTALO
KALIMANTAN
SELATAN
SULAWESI
TENGGARA
SULAWESI
BARAT
KALIMANTAN
BARAT
MALUKU UTARA
PAPUA BARAT

2013
71.9
0
71.7
7
71.7
4
71.7
3
71.4
1
70.9
3
70.6
3
70.6
2

66.8 NUSA
9
TENGGARA
TIMUR
65.8 NUSA
6
TENGGARA
BARAT
PAPUA

68.7
7

73.2
INDONESIA
9

73.8
1

67.7
3
66.2
5

12

Sumber: Badan Pusat Statistik, 2015

iv