Anda di halaman 1dari 15

AUDIT FORENSIK

Fundamentals of Fraud Auditing


and Forensic Accounting
Disusun oleh

1202111909

Patricia Muliani Teguh

1202112735

Indri Mutiara Sari

1202120348

Nengsi Sri Ulan

1202135229

Riza Safitri

UNIVERSITAS RIAU
Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi
2012

Statement of Authorship
Saya / kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa RMK /
makalah / tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya / kami sendiri. Tidak
ada pekerjaan orang lain yang saya / kami gunakan tanpa menyebutkan
sumbernya.
Materi ini tidak / belum pernah disajikan / digunakan sebgai bahan untuk
makalah / tugas pada mata ajaran lain kecuali saya / kami menyatakan dengan
jelas bahwa saya / kami menggunakannya.
Saya / kami memahami bahwa tugas yang saya / kami kumpulkan ini dapat
diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya
plagiarisme
Mata Kuliah
Judul RMK
Tanggal
Dosen
Nama
NIM

:
:
:
:
:
:

Tanda tangan

Audit Forensik
Fundamentals of Fraud Auditing and Forensic Accounting
Sabtu, 07 Maret 2015
Dr. H. M. Rasuli, SE., M.Si., Akt., CA
Patricia
Indri
Nengsi
Riza
1202111909
1202112735
1202120348
1202135229

Patricia Muliani Teguh


1202111909

Indri Mutiara Sari


1202112735

Nengsi Sri Ulan


1202120348

Riza Safitri
1202135229

Fundamentals of Fraud Auditing and Forensic Accounting


Who Needs Fraud Auditing?
Fraud auditing atau audit kecurangan adalah upaya untuk mendeteksi dan
mencegah kecurangan dalam transaksi-tansaksi komersial. Kecurangan (fraud)
perlu dibedakan dengan kesalahan (errors). Kesalahan dapat dideskripsikan
sebagai unintentional mistakes atau kesalahan yang tidak disengaja. Kesalahan
dapat terjadi pada setiap tahapan dalam pengelolaan terjadinya transaksi,
dokumentasi, pencatatan jurnal, pengikhtisaran proses, dan hasil laporan
keuangan. Apabila suatu kesalahan disengaja, maka kesalahan tersebut merupakan
kecurangan (fraudulent).
Auditor tertama tertarik pada pencegahan, deteksi, dan pengungkapan kesalahankesalahan karena alasan berikut:
a. Eksistensi kesalahan dapat menunjukkan bagi auditor bahwa catatan
akuntansi dari kliennya tidak dapat dipercaya dan dengan demikian tidak
memadai sebagai suatu dasar untuk penyusunan laporan keuangan.
b. Apabila auditor ingin mempercayai pengendalian internal, maka ia harus
memastikan dan menilai pengendalian tersebut serta melakukan pengujian
ketaatan atas operasi. Apabila pengujian ketaatan menunjukkan sejumlah
besar kesalahan, maka auditor tidak dapat mempercayai pengendalian
internal.
c. Apabila kesalahan cukup material, kesalahan tersebut dapat mempengaruhi
kebenaran (truth) dan kewajaran (fairness) laporan tersebut.

What Should A Fraud Auditor Know and Be Able To Do?


J. S. R. Venables dan K. W. Impley (1988) mengemukakan kecurangan terjadi
karena:
1. Penyebab utama
a. penyembunyian (concealment), pelaku perlu menilai kemungkinan dari
deteksi dan hukuman sebagai akibatnya (kesempatan tidak terdeteksi).
b. kesempatan / peluang (opportunity), pelaku perlu berada pada tempat dan
waktu yang tepat agar mendapat keuntungan atas kelemahan khusus
dalam sistem dan juga menghindari deteksi.
c. motivasi (motivation), pelaku membutuhkan motivasi untuk melakukan
aktivitas demikian, suatu kebutuhan pribadi seperti ketamakan atau
kerakusan dan motivator yang lain.
d. daya tarik (attraction), sasaran dari kecurangan yang dipertimbangkan
perlu menarik bagi pelaku.
e. keberhasilan (success), pelaku perlu menilai peluang keberhasilan yang
dapat diukur baik menghindari penuntutan atau deteksi.
2. Penyebab sekunder
a. a perk kurang pengendalian, mengambil keuntunmgan aktiva
organisasi dipertimbangkan sebagai suatu tunjangan karyawan.
b. hubungan antara pemberi kerja dan pekerja yang jelek, sehingga pelaku
mengemukakan alasan bahwa kecurangan hanya menjadi kewajiban.
c. pembalasan dendam (revenge), ketidaksukaan yang hebat terhadap
organisasi dapat mengakibatkan pelaku berusaha merugikan organisasi
tersebut.
d. tantangan (challenge), karyawan yang bosan dengan lingkungan kerja
mereka dapat mencuri dengan berusaha untuk memukul sistem,
sehingga mendapatkan suatu arti pencapaian (a sense of achievement)
atau pembebasan frustasi (relief of frustation).

Thirteen Principles of Fraud Auditing


1. Fraud auditing berbeda dengan financial audit. Fraud auditing lebih mengarah
kepada pola pikir daripada metodologi.
2. Fraud auditor memiliki pendekatan yang berbeda dari financial auditor. Fraud
auditor lebih fokus pada pengecualian, keanehan, ketidakberesan akuntansi,
dan pola tingkah laku, bukan pada kesalahan dan kelalaian.
3. Fraud auditing biasanya dipelajari melalui pengalaman, bukan dari buku
maupun kertas kerja yang lalu.
4. Dari perspektif fraud auditing, fraud adalah kesengajaan dalam menyajikan
fakta keuangan yang salah bukan sesuatu yang material.
5. Fraud dilakukan dengan alasan ekonomi, egosentris, idiologi, dan psikologi.
6. Fraud cenderung mencakup theory structure around motive, opportunity,
and benefit.
7. Fraud pada lingkungan akuntansi berbasis komputer, dapat dilakukan pada
tiap tahapan proses (input, throughput, output).
8. Skema kecurangan yang dilakukan oleh level pekerja biasanya berhubungan
dengan pengeluaran.
9. Skema kecurangan yang dilakukan oleh level manajer biasanya berhubungan
dengan profit smoothing (meningkatkan pendapatan).
10. Tipe accounting fraud sering disebabkan oleh ketiadaan kontrol dibandingkan
dengan kekurangan kontrol.
11. Kejadian fraud tidak berkembang secara eksponensial, tetapi dampaknya
berkembang secara eksponensial.
12. Accounting fraud sering ditemukan secara tidak sengaja dibandingkan dengan
yang melalui tujuan dan didesain finansial audit
13. Pencegahan fraud lebih mengarah pada kecukupan kontrol dan penciptaan
lingkungan kerja yang memberikan nilai pada kejujuran personil dan
perlakuan yang adil.

Financial Auditing and Fraud Auditing


Financial Auditing (audit keuangan) merupakan audit yang paling tua dan paling
popular. Audit ini dilaksanakan dengan melakukan pengkajian dan penilaian
terhadap sistem pelaporan akuntansi dan keuangan. Dilihat dari ketersediaan
prosedur dan teknik audit, audit ini memiliki prosedur dan teknik yang paling
lengkap dan baku. Disamping pelaksanaan auditnya telah dipimpin dengan norma
audit yang standar, karena dikeluarkan oleh asosiasi profesi di bidangnya, juga
objek yang diaudit telah dipimpim dengan suatu prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum (general accepted accounting principle - GAAP).
Audit ini merupakan perluasan dari audit internal, sehingga dalam audit ini
penilaian terhadap pencapaian tujuanpengendalian internal juga menjadi tujuan
audit yang sangat penting. Audit keuangan dilakukan untuk mendapatkan
keyakinan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan (manajemen)
telah disusun melalui proses akuntansi yang berlaku umum serta disajikan dengan
kondisi sebenarnya keuangan perusahaan pada tanggal pelaporan pada periode
tersebut. Ruang lingkup audit keuangan berkisar pada bukti-bukti transaksi dan
proses akuntansi yang diterapkan pada objek audit.
Dalam menentukan luas audit, auditor mendasarkan keyakinannya pada
efektivitas pengendalian internal perusahaan. Oleh karena itu, auditor harus
melakukan penelaahan terhadap pengendalian internal yang diterapkan pada
perusahaan tersebut. Semakin kuat pengendalian internal yang dimiliki
perusahaan, biasanya auditor cenderung menetapkan luas audit yang kecil, begitu
pula sebaliknya. Audit keuangan dilakukan dalam rangka mendapatkan
pengesahan (opini) secara independen dari pihak auditor atas kewajaran laporan
keuangan yang disajikan manajemen perusahaan. Oleh karena itu, audit keuangan
umumnya dilaksanakan oleh kantor akuntan publik / akuntan publik sebagai
auditor independen (auditor eksternal).
Audit keuangan telah memiliki standar bentuk laporan audit yang bersifat baku
bagi seluruh akuntan independen yang melakukan audit keuangan. hal ini diatur
dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Bentuk laporan yang
disampaikan biasanya adalah laporan bentuk pendek yang menyertai laporan

keuangan hasil audit. Laporan audit keuangan ini ditujukan kepada berbagai
kelompok pengguna yang berada di luar perusahaan (eksternal). Kelompok
tersebut diantaranya pemegang saham, kreditor, pemerintah, dan sebagainya.
Untuk memenuhi kebutuhan nformasi berbagai kelompok tersebut, laporan
keuangan disusun sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan sebagian besar
pemakai.
Fraud Auditing (audit kecurangan) adalah upaya untuk mendeteksi dan mencegah
kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Untuk dapat melakukan audit
kecurangan terhadap pembukuan dan transaksi komersial, dibutuhkan gabungan
dari dua keterampilan, yaitu keterampilan sebagai auditor yang terlatih dan
keterampilan kriminal investigator. Tujuan audit kecurangan adalah untuk
mencegah terjadinya kecurangan dan mendeteksi kecurangan. Pencegahan
kecurangan merupakan tanggung jawab manajemen. Pemeriksa internal
bertanggung jawab untuk menguji dan menilai kecukupan dan efektivitas dari
tindakan yang diambil oleh manajemen untuk memenuhi kewajiban tersebut.
Beberapa sikap yang diyakini oleh para auditor kecurangan, yaitu:
a. Penipuan mungkin bahkan dapat terjadi dalam sistem akuntansi yang
memiliki kontrol yang ketat.
b. Bagian dari penipuan transaksi yang terjadi mungkin melibatkan beberapa
jumlah yang kecil dari uan, akan tetapi yang mungkin tidak terlihat
merupakan sesuatu yang besar.
c. Suatu kecurangan adalah sesuatu yang kelihatan apabila melihat dengan
cukup lama dan cukup mendalami pelaku.
d. Suatu kecurangan dapat berasal dari setiap tingkat manajemen maupun
masyarakat.

Thingking as A Fraud Auditor


Dalam Statement on Internal Auditing Standards (SIAS) dibahas mengenai
pencegahan, deteksi, penyelidikan, dan pelaporan kecurangan, yakni:
a. Pencegahan Kecurangan, merupakan tanggung jawab manajemen. Auditor
internal bertanggung jawab untuk menguji dan menilai kecukupan dan
efektivitas dari tindakan yang diambil oleh manajemen untuk memenuhi
kewajiban tersebut.
b. Deteksi / Penemuan Kecurangan, auditor internal harus mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang kecurangan dan dapat mengidentifikasi
indikator kemungkinan terjadinya kecurangan. Auditor internal tidak
diharapkan mempunyai pengetahuan yang sama seperti seseorang yang
tanggung jawab utamanya adalah mendeteksi dan menyelidiki kecurangan.
Penilaian Risiko Fraud
Penilaian risiko terjadinya fraud atau kecurangan adalah penggunaan ilmu audit
forensic yang paling luas. Dalam praktiknya, hal ini juga digunakan dalam
perusahaan-perusahaan swasta untuk menyusun sistem pengendalian intern yang
memadai. Dengan dinilainya risiko terjadinya fraud, maka perusahaan untuk
selanjutnya bisa menyusun sistem yang bisa menutup celah-celah yang
memungkinkan terjadinya fraud tersebut.
Deteksi dan Investigasi Fraud
Dalam hal ini, audit forensik digunakan untuk mendeteksi dan membuktikan
adanya fraud dan mendeteksi pelakunya. Dengan demikian, pelaku bisa ditindak
secara hukum yang berlaku. Jenis-jenis fraud yang biasanya ditangani adalah
korupsi, pencucian uang, penghindaran pajak, illegal logging, dan sebagainya.

Deteksi Kerugian Keuangan


Audit forensik juga bisa digunakan untuk mendeteksi dan menghitung kerugian
keuangan negara yang disebabkan tindakan fraud.
Kesaksian Ahli (Litigation Support)
Seorang auditor forensik bisa menjadi saksi ahli di pengadilan. Auditor Forensik
yang berperan sebagai saksi ahli bertugas memaparkan temuan-temuannya terkait
kasus yang dihadapi. Tentunya hal ini dilakukan setelah auditor menganalisa
kasus

dan data-data pendukung untuk bisa memberikan penjelasan di muka

pengadilan.
Uji Tuntas (Due diligence)
Uji tuntas atau Due diligence adalah istilah yang digunakan untuk penyelidikan
guna penilaian kinerja perusahaan atau seseorang , ataupun kinerja dari suatu
kegiatan guna memenuhi standar baku yang ditetapkan. Uji tuntas ini biasanya
digunakan untuk menilai kepatuhan terhadap hukum atau peraturan.
Dalam praktik di Indonesia, audit forensik hanya dilakukan oleh auditor BPK,
BPKP, dan KPK (yang merupakan lembaga pemerintah), yang memiliki sertifikat
CFE (Certified Fraud Examiners). Sebab, hingga saat ini belum ada ertifikat legal
untuk audit forensik dalam lingkungan publik.
BPKP merupakan badan hukum yang bernaung di bawah perintah presiden, yang
diaudit oleh BPKP. BPKP merupakan lembaga negara yang bertugas mengaudit
semua instansi yang menggunakan keuangan negara (auditor ekesternal
pemerintah). BPKP diaudit oleh KAP yang ditunjuk dan disetujui oleh Menteri
Keuangan dan DPR. BPK juga diaudit oleh Lembaga Audit Dunia dalam rangka
peer review.

What is Forensic and Investigative Accounting?


Investigative Accounting dikenal juga sebagai akuntansi forensik.
Forensic Accounting, didefinisikan oleh Tuanakotta (2010) sebagai penerapan
disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk auditing pada masalah hukum untuk
penyelesaian hukum di dalam atu di luar pengadilan. Secara sederhana akuntansi
forensik dapat dikatakan sebagai akuntansi yang akurat untuk tujuan hukum, atau
akuntansi yang tahan uji dalam kancah perseteruan selama proses pengadilan, atau
proses peninjauan yudisial dan tinjauan administratif.
Menurut D. Larry Crumbley, editor-in-chief dari Journal of Forensic Accounting
(JFA), mengatakan secara sederhana, akuntansi forensik adalah akuntansi yang
akurat (cocok) untuk tujuan hukum. Artinya, akuntansi yang dapat bertahan dalam
kancah perseteruan selama proses pengadilan, atau dalam proses peninjauan
judicial atau administratif.
Jadi jelas bahwa akuntansi forensik adalah penggunaan keahlian di bidang audit
dan akuntansi yang dipadu dengan kemampuan investigatif untuk memecahkan
suatu masalah/sengketa keuangan atau dugaan fraud yang pada akhirnya akan
diputuskan oleh pengadilan/ arbitrase/ tempat penyelesaian perkara lainnya.
Praktek akuntansi forensik di Indonesia semakin pesat pada masa setelah krisis
keuangan tahun 1997. Sarbanes Oxley Act (2002) merupakan salah satu
pendorong dalam perkembangan akuntansi forensik. Akuntansi forensik dahulu
digunakan untuk keperluan pembagian warisan atau pengungkapan motive
pembunuhan. Bermula dari penerapan akuntansi dalam persoalan hukum, maka
istilah yang dipakai adalah akuntansi (dan bukan audit) forensik. Perkembangan
sampai dengan saat ini pun kadar akuntansi masih kelihatan. Misalnya dalam
perhitungan ganti rugi dalam pengertian sengketa maupun kerugian akibat kasus
korupsi atau secara sederhana akuntansi forensik menangani fraud khususnya
dalam pengertian corruption dan misappropriation of asset.

Who Needs Forensic Accounting?


Akuntan sebagai orang yang dipercaya para stakeholder untuk memberikan opini
ataskewajaran laporan keuangan tentu harus tanggap akan kondisi dan keadaan
ekonomi yangsedang terjadi. Akuntan juga harus tahu cara berpikir orang-orang
yang mungkin dengan sengaja ingin menyesatkan para pengguna laporan
keuangan. Sehingga usaha-usaha licik mereka dapat terbaca dan memberikan
opini atas laporan keuangan dengan tepat pula. Akuntan harus menjadi garda
terdepan dalam pemberantasan korupsi di negeri ini, sejajar dengan Kepolisian,
Kejaksaan, maupun KPK. Untuk dapat mengimbangi kepandaian para koruptor
dalam memainkan muslihat mereka, kemampuan audit untuk menilai kewajaran
keuangan saja tidak cukup.
Diperlukan suatu keahlian khusus yang dapat membaca atau menginvestigasi
adanya praktik-praktik kotor tersebut. Akuntansi Forensik atau beberapa ada yang
menyebutnya Audit Investigatif dapat menjadi alat untuk mendeteksi korupsi atau
bahkan sebagai pendukung pemberantasan korupsi di Indonesia. Akuntan
Forensik di Indonesia masih relatif baru, bahkan di Amerika pun baru menjadi
perhatian setelah kasus-kasus yang menimpa keuangan publik yang mendorong
disahkannya Sarbanes Oxley Act atau SOX sejak tahun 2002. Kasus yang serupa,
yaitu penipuan dan penggelapan uang para investor banyak terjadi di Indonesia,
tetapi peran Akuntan Forensik masih belum terlalu dikenal oleh masyarakat.
Oleh karena itu, diyakini profesi ini akan mengalami pertumbuhan yang cepat di
masa mendatang dan dalam waktu dekat ini, karena kepercayaan semakin menjadi
sesuatu yang langka di dunia. Layanan yang disediakan oleh perusahaan forensik
akuntansi diarahkan untuk memberikan solusi kepada klien untuk masalah di
mana ada ketidaksepakatan tentang fakta-fakta, atau di mana perilaku bisnis yang
terkait tidak sesuai dengan harapan atau standar.

What Should A Forensic Accountant Be Able To Do?


Seorang akuntan forensik dapat terlibat dalam praktik umum, ataupun dipekerjakan oleh perusahaan asuransi, bank, polisi, instansi pemerintah, dan organisasi
lainnya. seorang akuntan forensik sering terlibat dalam (1) investigasi dan menganalisis bukti keuangan, (2) mengembangkan aplikasi komputerisasi untuk membantu analisis dan penyajian bukti keuangan, (3) berkomunikasi temuan mereka
dalam bentuk laporan, pameran, dan koleksi dokumen, serta (4) membantu dalam
proses hukum, termasuk bersaksi di pengadilan sebagai saksi ahli dan mempersiapkan alat bantu visual untuk mendukung bukti persidangan.
Hopwood, Leiner, & Young (2008), menyatakan bahwa akuntan forensik
sebaiknya menguasai keterampilan dalam banyak bidang. Beberapa akuntan
forensik, mengkhususkan diri pada bidang-bidang tertentu seperti teknologi
informasi. Akan tetapi, semua akuntan forensik yang telah terlatih sekurangkurangnya memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam bidang-bidang
berikut ini:
1. Keterampilan auditing merupakan hal terpenting bagi akuntan forensik
karena adanya sifat pengumpulan informasi dan verifikasi yang terdapat pada
akuntansi forensik. Akuntan forensik yang terampil harus mampu mengumpulkan dan mengkaji informasi apapun yang relevan sehingga kasus-kasus
yang mereka tangani akan didukung secara positif oleh pihak pengadilan.
2. Pengetahuan dan keterampilan investigasi, misalnya taktik-taktik surveillance
dan keterampilan wawancara dan interogasi, membantu akuntan forensik
untuk melangkah di luar keterampilan mereka di dalam mengaudit aspekaspek forensik baik aspek legal maupun aspek finansial.
3. Kriminologi, khususnya studi psikologi tindak kejahatan, adalah penting bagi
akuntan forensik karena keterampilan investigasi yang efektif sering
bergantung pada pengetahuan tentang motif dan insentif yang dialami oleh
perpetrator.
4. Pengetahuan akuntansi membantu akuntan forensik untuk menganalisis dan
menginterpretasi informasi keuangan yang dibutuhkan untuk membangun
sebuah kasus di dalam investigasi keuangan, apakah itu dalam kasus

kebangkrutan, operasi pencucian uang, atau skema-skema penyelewangan


lainnya. Hal ini meliputi pengetahuan tentang pengendalian internal yang
baik seperti yang terkait dengan kepemimpinan perusahaan (corporate
governance).
5. Pengetahuan tentang hukum sangat penting untuk menentukan keberhasilan
akuntan forensik. Pengetahuan tentang prosedur hukum dan pengadilan
mempermudah akuntan forensik untuk mengidentifikasi jenis bukti yang
diperlukan untuk memenuhi standar hukum yurisdiksi di mana kasus akan
dinilai dan menjaga bukti melalui cara-cara yang memenuhi kriteria
pengadilan.
6. Pengetahuan dan keterampilan bidang Teknologi Informasi (TI) menjadi
sarana yang penting bagi akuntan forensik di tengah dunia yang dipenuhi oleh
kejahatan-kejahatan dunia maya. Pada taraf yang minimum, akuntan forensik
harus mengetahui poin di mana mereka harus menghubungi seorang ahli
bidang piranti keras (hardware) atau piranti lunak (software) komputer.
Akuntan forensik menggunakan keterampilan teknologi untuk mengkarantina
data, ekstraksi data melalui penggalian data, mendesain dan menjalankan
pengendalian atas manipulasi data, menghimpun informasi database untuk
perbandingan, dan menganalisis data.
7. Keterampilan berkomunikasi juga dibutuhkan oleh akuntan forensik untuk
memastikan bahwa hasil penyelidikan atau analisis mereka dapat dipahami
secara benar dan jelas oleh pengguna jasanya.

Some Reflections on Forensic Accounting


Tertuang dalam pernyataan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHP)
pasal 179 ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang yang diminta pendapatnya
sebagai ahli kedokteran, kehakiman, atau dokter, atau ahli lainnya wajib
memberikan keterangan ahli demi keadilan. Banyak orang memahami profesi
dokter dalam peraturan di atas dikenal dengan sebutan dokter forensik, namun
ahli lainnya yang dalam hal ini termasuk juga akuntan belum banyak dikenal
sebutannya sebagai akuntan forensik.
Akuntan forensik bertugas memberikan pendapat hukum dalam pengadilan
(litigation), namun juga berperan dalam bidang hukum di luar pengadilan (non
litigation), misalnya dalam membantu merumuskan alternatif penyelesaian
perkara dalam sengketa, perumusan perhitungan ganti rugi, dan upaya
menghitung dampak pemutusan / pelanggaran kontrak.
Untuk menjadi seorang akuntan forensik, seseorang harus memiliki pengetahuan
dasar akuntansi dan audit yang kuat, serta pengenalan perilaku manusia dan
organisasi (human and organization behaviour). Pengetahuan tengang aspek yang
mendorong terhadinya kecurangan (incentive, pressure, attitudes, rationalization,
opportunities), pengetahuan tentang hukum dan peraturan (standar bukti keuangan
dan bukti hukum), pengetahuan tentang kriminologi dan viktimologi (profiling),
pemahaman terhadap pengendalian internal, serta kemampuan berpikir seperti
pencuri (think as a theft) juga dibutuhkan.
Kasus korupsi di Indonesia seakan tidak pernah ada habisnya. Tingkat korupsi
yang masih tinggi juga menjadi pendorong yang kuat untuk berkembangnya
praktik akuntansi forensi di Indonesia.

Referensi
Arens, Alvin A. et al. 2006. Buku Satu Auditing dan Jasa Assurance Edisi 12.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Singleton, Tommie W., Aaron J. Singleton. 2010. Fraud Auditing and Forensic
Accounting Fourth Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Tuanakotta, Theodorus M. 2010. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif Edisi
2. Jakarta: Salemba Empat.
Elly Alpinista. 2013. Mendeteksi Kecurangan (Fraud Auditting). Dapat diakses
pada URL: http://alpinistaelly.blogspot.com/2013/04/mendeteksikecurangan-fraud-auditing.html.
Pembahasan Mengenai Fraud. 2013. Motivasi Melakukan Fraud. Dapat diakses
pada URL: http://arezky125.wordpress.com/2013/05/20/motivasimelakukan-fraud/.

Anda mungkin juga menyukai