Anda di halaman 1dari 45

Askep Demam Berdarah / Dengue

Hemoragic Fever (DHF)


Post Description : Askep Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) / DBD meliputi
Proses Perawatan, Pengertian, Penyebab, Tanda Gejala, klasifikasi, Pathway, Patofisiologi,
Implementasi, Intervensi, penatalaksanaan, Diagnosa keperawatan
Ditulis oleh: Kang Kapuk - Sabtu, 10 September 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DEMAM BERDARAH /


DENGUE HEMORAGIC FEVER (DHF)
A. Pengertian Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh
Arbovirus (Arthropodborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk AEDES (AEDES
ALBOPICTUS dan AEDES AEGEPTY)
B. Penyebab Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Penyebab Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF) adalah Arbovirus
(Arthropodborn Virus) melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes Albopictus dan Aedes Aegepty)

C. Tanda dan gejala Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)


Tanda dan gejala penyakit DHF adalah :
1. Meningkatnya suhu tubuh
2. Nyeri pada otot seluruh tubuh
3. Suara serak
4. Batuk
5. Epistaksis
6. Disuria
7. Nafsu makan menurun
8. Muntah
9. Ptekie
10. Ekimosis

11. Perdarahan gusi


12. Muntah darah
13. Hematuria masif
14. Melena
D. Klasifikasi Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Klasifiksi DHF menurut WHO
1. Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan (uji tourniquet positif)
2. Derajat II
Derajat I ditambah gejala perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain.
3. Derajat III
Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun (20 mmhg, kulit
dingin, lembab, gelisah, hipotensi)
4. Derajat IV
Nadi tak teraba, tekanan darah tak dapat diukur
Pemeriksaan Diagnostik Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
1. Darah Lengkap = Hemokonsentrasi (Hemaokrit meningkat 20 % atau lebih),
Thrombocitopeni (angka thrombosit 100. 000/ mm3 atau kurang)
2. Serologi = Uji HI (hemaaglutinaion Inhibition Test)
3. Rontgen Thorax = Effusi Pleura
E. Pathways Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
1. Download Pathway Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
F. Penatalaksanaan Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Medik
1. DHF tanpa Renjatan
1. Beri minum banyak ( 1 - 2 Liter / hari )
2. Obat antipiretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
3. Jika kejang maka dapat diberi luminal ( anticonvulsan ) untuk anak <1 th dosis 50
mg IM dan untuk anak >1th 75 mg IM. Jika 15 menit kejang belum teratasi , beri
lagi luminal dengan dosis 3 mg / Kg BB anak <1 th dan pada anak >1th diberikan
5 mg/ Kg BB.

4. Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat


2. DHF dengan Renjatan
1. Pasang infus RL
2. Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander ( 20 30 ml/
kg BB )
3. Tranfusi jika Hb dan Ht turun
Keperawatan
1. Pengawasan tanda tanda Vital secara kontinue tiap jam
1. Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
2. Observasi intike - output
3. Pada pasien DHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3
jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 liter 2 liter per hari,
beri kompres
4. Pada pasien DHF derajat II : Pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht,
Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah
menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
5. Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri O2
pengawasan tanda tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, observasi produksi
urine tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.
2. Resiko Perdarahan
1. Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
2. Catat banyak, warna dari perdarahan
3. Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan Tractus Gastro Intestinal
3. Peningkatan suhu tubuh
1. Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
2. Beri minum banyak
3. Berikan kompres
F. Asuhan Keperawatan pada pasien Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)
1. Pengkajian
1. Kaji riwayat Keperawatan

2. Kaji adanya peningkatan suhu tubuh, tanda perdarahan, mual muntah, tidak nafsu
makan, nyeri ulu hai, nyeri otot dan tanda tanda renjatan (denyut nadi cepat dan
lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab, terutama pada ekstremitas, sianosis,
gelisah, penurunan kesadaran)
2. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
kapiler , perdarahan, muntah, dan demam
2. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah, tidak ada nafsu makan
4. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus
5. Perubahan proses proses keluarga berhubungan dengan kondisi anak
3. Perencanaan
1. Anak menunjukkan tanda tanda terpenuhinya kebutuhan cairan
2. Anak menunjukkan tanda tanda perfusi jaringan perifer yang adekuat
3. Anak menunjukkan tanda tanda vital dalam batas normal
4. Keluarga menunjukkan koping yang adaptif
4. Implementasi
1. Mencegah terjadinya kekurangan volume cairan
1. Mengobservasi tanda tanda vital paling sedikit setiap 4 jam
2. Monitor tanda tanda meningkatnya kekurangan cairan : turgor tidak
elastis, ubun ubun cekung, produksi urine menurun
3. Mengobservasi dan mencatat intake dan output
4. Memberikan hidrasi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
5. Memonitor nilai laboratorium : elektrolit / darah, BJ urin , serum tubuh
6. Mempertahankan intake dan output yang adekuat
7. Memonitor dan mencatat berat badan
8. Memonitor pemberian cairan melalui intra vena setiap jam
9. Mengurangi kehilangan cairan yang tidak telihat (insesible water loss /
IWL)

2. Perfusi jaringan Adekuat


1. Mengkaji dan mencatat tanda tanda Vital (kualitas dan Frekwensi denyut
nadi, tekanan darah , Capillary Refill )
2. Mengkaji dan mencatat sirkulasi pada ekstremitas (suhu , kelembaban dan
warna)
3. Menilai kemungkinan terjadinya kematian jaringan pada ekstremitas
seperti dingin , nyeri , pembengkakan kaki )
3. Kebutuhan nutrisi adekuat
1. Ijinkan anak memakan makanan yang dapat ditoleransi anak. Rencanakan
untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
2. Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk
meningkatkan kualitas intake nutrisi
3. Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan
teknik porsi kecil tetapi sering
4. Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama dan dengan
skala yang sama
5. Mempertahankan kebersihan mulut pasien
6. Menjelaskan pentingnya intake nutirisi yang adekuat untuk penyembuhan
penyakit
4. Mempertahankan suhu tubuh normal
1. Ukur tanda tanda vital suhu tubuh
2. Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
3. Lakukan tapid sponge (seka) dengan air biasa
4. Tingkatkan intake cairan
5. Berikan terapi untuk menurunkan suhu
5. Mensupport koping keluarga Adaptif
1. Mengkaji perasaan dan persepsi orang tua atau anggota keluarga terhadap
situasi yang penuh stress
2. Ijinkan orang tua dan keluarga untuk memberikan respon secara panjang
lebar dan identifikasi faktor yang paling mencemaskan keluarga
3. Identifikasikan koping yang biasa digunakan dan seberapa besar
keberhasilannya dalam mengatasi keadaan

G. Pencegahan Demam Berdarah / Dengue Hemoragic Fever (DHF)


Menghindari atau mencegah berkembangnya nyamuk Aedes Aegepty dengan cara:
1. Rumah selalu terang
2. Tidak menggantung pakaian
3. Bak / tempat penampungan air sering dibersihkan dan diganti airnya minimal 4 hari
sekali
4. Kubur barang barang bekas yang memungkinkan sebagai tempat terkumpulnya air
hujan
5. Tutup tempat penampungan air
Perencanaan pemulangan dan Pendidikan Kesehatan
1. Berikan informasi tentang kebutuhan melakukan aktifitas sesuai dengan tingkat
perkembangan dan kondisi fisik anak
2. Jelaskan terapi yang diberikan, dosis, efek samping
3. Menjelaskan gejala gejala kekambuhan penyakit dan hal yang harus dilakukan untuk
mengatasi gejala
4. Tekankan untuk melakukan kontrol sesuai waktu yang ditentukan
DAFTAR PUSTAKA
1. Buku ajar IKA infeksi dan penyakit tropis IDAI Edisi I. Editor : Sumarmo, S Purwo
Sudomo, Harry Gama, Sri rejeki Bag IKA FKUI jkt 2002.
2. Christantie, Effendy. SKp, Perawatan Pasien DHF. Jakarta, EGC, 1995
3. Prinsip Prinsip Keperawatan Nancy Roper hal 269 267

ASKEP DAN LAPORAN PENDAHULUAN


I. DEFINISI
DHF (dengue haemorhagic fever), adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan
nyamuk aedes aegypty (betina).
DHF (dengue haemorrhagic fever) terdapat pada anak dan orang dewasa dengan manifestasi
klinis demam, nyeri otot, dan/atau nyeri sendi dan tulang yang disertai leukopenia, ruam,
limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik.
Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh
II. ETIOLOGI
Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue yang termasuk dalam
genus flavi virus keluarga flaviviridae. Terdapat 4 serotipe virus dengue, yaitu DEN 1, DEN 2,
DEN 3, DEN 4, yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah
dengue. Keempat serotipe ditemukan di Indonesia dengan DEN 3 merupakan setotipe terbanyak.
Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan
manifestasi klinik yang berat. Virus dengue berbentuk batang bersifat termoragil, sensitif
terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 700C.
III. PATOGENESIS
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue, yaitu
manusia, virus, dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies
yang lain dapat juga menularkan virus ini, namun merupakan vektor yang kurang berperan.
Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari. Nyamuk Aedes tersebut
dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia.
Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic
incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan
berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovanan
transmission), namun perannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk
dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus
selama hidupnya (infektif). Di tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 46 hari
(intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada
nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia,
yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.
IV. MANIFESTASI KLINIS
A. Gejala klasik dari demam dengue ialah :
Demam tinggi mendadak selama 5-7 hari.
Kadang-kadang bifasik (saddle back fever).
Nnyeri kepala berat.
Nyeri belakang bola mata.
Nyeri otot, tulang, atau sendi.
Mual, muntah, dan timbulnya ruam.

Ruam berbentuk makulopapular yang bisa timbul pada awal penyakit (1-2 hari ) kemudian
menghilang tanpa bekas dan selanjutnya timbul ruam merah halus pada hari ke-6 atau ke7
terutama di daerah kaki, telapak kaki dan tangan. Selain itu, dapat juga ditemukan petekia.
Diare, konstipasi.
B. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan:
Leukopeni kadang-kadang dijumpai trombositopeni.
Pada keadaan wabah telah dilaporkan adanya demam dengue yang disertai dengan perdarahan
seperti: epistaksis, perdarahan gusi, perdarahan saluran cerna, hematuri, dan menoragi.
Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, petechie, echimosis, hematoma.
C. Pada bayi dan anak-anak kecil biasanya berupa:
Demam disertai ruam-ruam makulopapular.
Pada anak-anak yang lebih besar dan dewasa, bisa dimulai dengan demam ringan atau demam
tinggi (>390C) yang tiba-tiba dan berlangsung selama 2 - 7 hari, disertai sakit kepala hebat, nyeri
di belakang mata, nyeri sendi dan otot, mual-muntah dan ruam-ruam.
Bintik-bintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang kadang disertai bintik-bintik perdarahan
di farings dan konjungtiva.
Penderita juga sering mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri di tulang rusuk
kanan dan nyeri seluruh perut.
Kadang-kadang demam mencapai 40 - 410C dan terjadi kejang demam pada bayi.
D. Tanda-tanda terjadi renjatan:
Sianosis, kulit lemabab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capilaary refill lebih dari
dua detik, nadi cepat dan lemah.
E. Berdasarkan gejanya DHF dikelompokkan menjadi 4 tingkatan:
Derajat I : Demam disertai gejala konstitusional yang tidak khas, manifestasi perdarahan hanya
berupa uji torniquet positif dan atau mudah memar, trombositopeni dan hemokonsntrasi.
Derajat II : Manifestasi klinik pada derajat derajat I disertai perdarahan spontan dibawah kulit
seperti ptekhie, hematoma dan perdarahan dari tempat lain.
Derajat III : Manifestasi klinik pada penderita derajat II ditambah dengan terdapat kegagalan
sistem sirkulasi, nadi cepat dan lemah atau hipotensi, disertai kulit dingin dan sembab atau
gelisah.
Derajat IV : Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan renjatan yang berat
ditandai tekanan darah tidak terukur dan nadi tidak teraba.
DBD derajat III dan IV digolongkan ke dalam sindrom renjatan dengue.

V. PATOFISIOLOGI
Patogenesis DBD dan SSD (Sindrom syok dengue) masih merupakan masalah yang
kontroversial. Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan SSD adalah hipotesis infeksi
sekunder (teori secondary heterologousinfection) atau hipotesis immune enhancement. Hipotesis
ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya
dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai risiko berat yang lebih besar untuk
menderita DBD/Berat.
Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi

dan kemudian membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan Fc
reseptor dari membran sel leukosit terutama makrofag. Oleh karena antibodi heterolog maka
virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel
makrofag. Dihipotesiskan juga mengenai antibodi dependent enhancement (ADE), suatu proses
yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuklear. Sebagai
tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian
menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan
hipovolemia dan syok.
Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis the secondary heterologous infection
dirumuskan oleh Suvatte, tahun 1977. Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue
yang berlainan pada seorang pasien, respons antibodi anamnestik yang akan terjadi dalam waktu
beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer
tinggi antibodi IgG anti dengue. Disamping itu, replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit
yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan
mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi (virus antibody complex) yang
selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat
aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan
merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular. Pada pasien dengan syok
berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24-48
jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya, peningkatan kadar hematokrit, penurunan
kadar natrium, dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa (efusi pleura, asites).
Hipotesis kedua, menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat
mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus mengadakan replikasi baik pada
tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi fenotipik dari perubahan genetik dalam
genom virus dapat menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia, peningkatan virulensi
dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain virus mempunyai
kemampuan untuk menimbulkan wabah yang besar. Kedua hipotesis tersebut didukung oleh data
epidemiologis dan laboratoris.
Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi
sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivitasi sistem koagulasi
melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah. Kedua faktor tersebut akan menyebabkan
perdarahan pada DBD. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks
antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin di
phosphat), sehingga trombosit melekat satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan trombosit
dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi
trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan terjadinya
koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular deseminata), ditandai dengan peningkatan
FDP (fibrinogen degredation product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan.
Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit, sehingga walaupun
jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak berfungsi baik. Di sisi lain, aktivasi koagulasi akan
menyebabkan aktivasi faktor hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu
peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi, perdarahan
masif pada DBD diakibatkan oleh trombositopenia, penurunan faktor pembekuan (akibat KID),
kelainan fungsi trombosit, dankerusakan dinding endotel kapiler. Akhirnya, perdarahan akan
memperberat syok yang terjadi.

VI. PATHWAYS

VII. DIAGNOSIS
A. Bentuk klasik dari DBD ditandai dengan :
Demam tinggi, mendadak 2-7 hari, disertai dengan muka kemerahan.
Keluhan seperti anoreksia, sakit kepala, nyeri otot, tulang, sendi, mual, dan muntah sering
ditemukan.
Beberapa penderita mengeluh nyeri menelan dengan farings hiperemis ditemukan pada
pemeriksaan, namun jarang ditemukan batuk pilek.
Biasanya ditemukan juga nyeri perut dirasakan di epigastrium dan dibawah tulang iga. Demam
tinggi dapat menimbulkan kejang demam terutama pada bayi.
Bentuk perdarahan yang paling sering adalah uji tourniquet (Rumple leede) positif, kulit mudah
memar dan perdarahan pada bekas suntikan intravena atau pada bekas pengambilan darah.
Kebanyakan kasus, petekia halus ditemukan tersebar di daerah ekstremitas, aksila, wajah, dan
palatumole, yang biasanya ditemukan pada fase awal dari demam. Epistaksis dan perdarahan
gusi lebih jarang ditemukan, perdarahan saluran cerna ringan dapat ditemukan pada fase demam.
Hati biasanya membesar dengan variasi dari just palpable sampai 2-4 cm dibawah arcus costae

kanan. Sekalipun pembesaran hati tidak berhubungan dengan berat ringannya penyakit namun
pembesar hati lebih sering ditemukan pada penderita dengan syok.
Masa kritis dari penyakit terjadi pada akhir fase demam, Masa kritis dari penyakit terjadi pada
akhir fase demam, pada saat ini terjadi penurunan suhu yang tiba-tiba yang sering disertai
dengan gangguan sirkulasi yang bervariasi dalam berat-ringannya.
Pada kasus dengan gangguan sirkulasi ringan perubahan yang terjadi minimal dan sementara,
pada kasus berat penderita dapat mengalami syok.
B. Laboratorium
Trombositopeni dan hemokonsentrasi merupakan kelainan yang selalu ditemukan pada DBD.
Penurunan jumlah trombosit < 100.000/mikrol biasa ditemukan pada hari ke-3 sampai ke-8 sakit,
sering terjadi sebelum atau bersamaan dengan perubahan nilai hematokrit. Hemokonsentrasi
yang disebabkan oleh kebocoran plasma dinilai dari peningkatan nilai hematokrit. Penurunan
nilai trombosit yang disertai atau segera disusul dengan peningkatan nilai hematokrit sangat unik
untuk DBD, kedua hal tersebut biasanya terjadi pada saat suhu turun atau sebelum syok terjadi.
Perlu diketahui bahwa nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh pemberian cairan atau oleh
perdarahan. Jumlah leukosit bisa menurun (leukopenia) atau leukositosis, limfositosis relatif
dengan limfosit atipik sering ditemukan pada saat sebelum suhu turun atau syok. Hipoproteinemi
akibat kebocoran plasma biasa ditemukan. Adanya fibrinolisis dan ganggungan koagulasi
tampak pada pengurangan fibrinogen, protrombin, faktor VIII, faktor XII, dan antitrombin III.
PTT dan PT memanjang pada sepertiga sampai setengah kasus DBD. Fungsi trombosit juga
terganggu. Asidosis metabolik dan peningkatan BUN ditemukan pada syok berat. C.
Pemeriksaan Radiologis: Pada pemeriksaan radiologis bisa ditemukan efusi pleura, terutama
sebelah kanan. Berat-ringannya efusi pleura berhubungan dengan berat-ringannya penyakit. Pada
pasien yang mengalami syok, efusi pleura dapat ditemukan bilateral. D. Kriteria diagnosis
Kriteria diagnosis WHO 1997 untuk DBD harus memenuhi: Demam atau riwayat demam akut
tinggi mendadak, antara 2-7 hari, biasanya bifasik. Terdapat minimal satu dari menifestasi
perdarahan berikut: Uji tourniquet positif (> 20 ptekia dalam 1 inci persegi).
Petekia, ekimosis, atau purpura.
Perdarahan mukosa, saluran cerna, dan tempat bekas suntikan.
Hematemesis atau melena.
Trombositopenia (< 100000/ mm3). Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakge:
Hematokrit meningkat > 20 % dibanding heamtokrit rata-rata pada usia, jenis kelamin dan
populasi yang sama.
Hematokrit turun hingga > 20 % dari hematokrit awal, setelah pemberian cairan.
Terdapat efusi pleura, efusi perikard, asites dan hipoproteinemia.
VIII. PENGOBATAN DAN PENATALAKSANAAN
A. Strategi Pengobatan
Pengobatan DBD bersifat suportif. Tatalaksana didasarkan atas adanya perubahan fisiologi
berupa perembesan plasma dan perdarahan. Perembesan plasma dapat mengakibatkan syok,
anoksia, dan kematian.
Deteksi dini terhadap adanya perembesan plasma dan penggantian cairan yang adekuat akan
mencegah terjadinya syok, Perembesan plasma biasanya terjadi pada saat peralihan dari fase
demam (fase febris) ke fase penurunan suhu (fase afebris) yang biasanya terjadi pada hari ketiga

sampai kelima. Oleh karena itu pada periode kritis tersebut diperlukan peningkatan
kewaspadaan. Adanya perembesan plasma dan perdarahan dapat diwaspadai dengan pengawasan
klinis dan pemantauan kadar hematokrit dan jumlah trombosit.
Pemilihan jenis cairan dan jumlah yang akan diberikan merupakan kunci keberhasilan
pengobatan. Pemberian cairan plasma, pengganti plasma, tranfusi darah, danobat-obat lain
dilakukan atas indikasi yang tepat.
B. Pasien Tersangka DBD
Manifestasi perdarahan pada pasien DBD pada fase awal mungkin masih belum tampak,
demikian pula hasil pemeriksaan darah tepi (Hb, Ht, lekosit dan trombosit) mungkin masih
dalam batas-batas normal, sehingga sulit membedakannya dengan gejala penyakit infeksi akut
lainnya. Perubahan ini mungkin terjadi dari saat ke saat berikutnya. Maka pada kasus-kasus yang
meragukan dalam menentukan indikasi rawat diperlukan observasi atau pemeriksaan lebih lanjut.
Pada seleksi pertama diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta
hasil pemeriksaan Hb, Ht, dan jumlah trombosit.
A. Indikasi rawat pasien DBD dewasa pada seleksi pertama adalah:
1. DBD dengan syok dengan atau tanpa perdarahan.
2. DBD dengan perdarahan masif dengan atau tanpa syok.
3. DBD tanpa perdarahan masif dengan:
a. Hb, Ht, normal dengan trombosit < 100.000/l. b. Hb, HT yang meningkat dengan
trombositpenia < 150.000/l atau normal. Pasien yang dicurigai menderita DBD dengan hasil
Hb, Ht dan trombosit dalam batas nomal atau trombosit antara 100000-150000 dapat
dipulangkan dengan anjuran kembali kontrol ke poliklinik Rumah Sakit dalam waktu 24 jam
berikutnya atau bila keadaan pasien memburuk agar segera kembali ke Puskesmas atau Fasilitas
Kesehatan. C. Pemberian cairan pada tersangka DBD dewasa di ruang rawat Pasien tersangka
DBD tanap perdarahan spontan dan masif dan tanpa syok, maka di ruagn rawat diberikan cairan
infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus berikut. 1500 + (20 x (BB dalam kg-20). Setelah
pemberian cairan dilakukan pemeriksaan Hb, Hmt dan trombosit tiap 24 jam. Bila Hb, Hmt
meningakt 10-20 % dan trombosit < 100000 jumlah pemberian cairan tetap seperti rumus di atas
tetapi pemantauan Hb, Hmt, trombosit dilakukan tiap 12 jam. Bila Hb, Mnt meningkat > 20 %
dan trombosit < 100000 maka pemberian cairan sesuai dengan protokol penatalaksanaan DBD
denan peningkatan Hmt > 20 %.
D. Penatalaksanaan DBD dengan peningkatan Hmt > 20 %.
Meningkatnya Hmt > 20 % menunjukkan bahwa tubuh megnalami defisit cairan sebanyak 5 %.
Pada keadaan ini terapi awal pemberian cairan adalah dengan memberikan infus cairan kristaloid
sebanyak 6-7 ml/kg/jam. Pasien kemudian dipantau setelah 3-4 jam pemberian cairan. Biar
terjadi perbaikan yang ditandai dengan heamtokrit turun, frekuensi nadi turun, tekanan darah
stabil, produksi urin meningkat, maka jumlah cairan infus dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam.
Dua jam kemudian dilakukan pemantauan kembali dan bila keadaan tetapi menunjukkan
perbaikan maka jumlah cairan infus dikurangi menjadi 3 ml/kgBB/jam. Bila dalam pemantauan
keadaan tetap membaik maka pemberian cairan dapat dihentikan 24-48 jam kemudian.
E. DBD dengan perdarahan spontan dan masif, tanpa syok
Perdarahan spontan dan masif pada pasien DBD dewasa misalnya perdarahan hidung atau
epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberi tampon hidung, perdarahan saluran cerna
(hematemesis dan melena atau hematoskesia), perdarahan saluran kencing (hematuria),

perdarahan otak dan perdarahan tersembunyi, dengan jumlah perdarahan sebanyak 4-5
ml/kgBB/jam. Pada keadaan seperti ini jumlah dan kecepatan pemberian cairan ringer laktat
tetap seperti keadaan DBD tanpa renjatan lainnya. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, pernafasan
dan jumlah urin dilakukan sesering mungkin dengan kewaspadaan terhadap tanda-tanda syok
sedini mungkin. Pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit serta hemostase harus segera dilakukan dan
pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit sebaiknya diulang setiap 4-6 jam.
Heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan tanda-tanda KID. Transfusi
komponen darah diberikan sesuai indikasi. Fresh Frozen Plasma (FFP) diberikan bila didapatkan
defisiensi faktor-faktor pembekuan (PT dan PTT yang memanjang), Packed Red Cell (PRC)
diberikan bila nilai Hb kurang dari 10g%. Transfusi trombosit hanya diberikan pada DBD
dengan perdarahan spontan dan masif dengan jumlah trombosit kurang dari 100.000/mikroliter
disertai atau tanpa KID.
Pada kasus dengan KID pemeriksaan hemostase diuiang 24 jam kemudian, sedangkan pada
kasus tanpa KID pemeriksaan hemostase dikerjakan bila masih ada perdarahan. Penderita DBD
dengan gejaia-gejala tersebut diatas, apabila dijumpai di Puskesmas perlu dirujuk dengan infus.
Idealnya menggunakan plasma expander (dextran) 1-1,5 liter/24jam. Bila tidak tersedia, dapat
digunakan cairan kristaloid.
F. DBD dengan syok
Kewaspadaan terhadap tanda syok dini pada semua kasus DBD sangat penting, karena angka
kematian pada SSD sepuluh kali lipat dibandingkan pasien DBD tanpa syok. SSD dapat terjadi
karena keterlambatan penderita DBD mendapatkan pertolongan atau pengobatan,
penatalaksanaan yang tidak tepat termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap tanda syok dini,
dan pengobatan SSD yang tidak adekuat.
Pada kasus SSD, ringer laktat adalah cairan kristaloid pilihan pertama yang sebaiknya diberikan
karena mengandung Na laktat sebagai korektor basa. Pilihan lainya adalah NaCl 0,9%. Selain
resusitasi cairan, pasien juga diberi oksigen 2-4 liter/menit, dan pemeriksaan yang harus
dilakukan adalah elektrolit natrium, kalium, klorida serta ureum dan kreatinin.
Pada fase awal ringer laktat diberikan sebanyak 10-20 ml/kgBB/jam (infus cepat/guyur) dapat
dilakukan dengan memakai jarum infus yang besar/nomor 12), dievaluasi selama 30-120 menit.
Syok sebaiknya dapat diatasi segera/secepat mungkin dalam waktu 30 menit pertama. Syok
dinyatakan teratasi bila keadaan umum pasien membaik, kesadaran/keadaan sistem saraf pusat
baik, tekanan sistolik 100 mmHg atau lebih dengan tekanan nadi lebih dari 20 mmHg, frekwensi
nadi kurang dari 100/menit dengan volume yang cukup, akral teraba hangat dan kulit tidak pucat,
serta diuresis 0,5-1 ml/kgBB/jam.
Apabila syok sudah dapat diatasi pemberian ringer laktat selanjutnya dapat dikurangi menjadi 10
ml/kgBB/jam dan evaluasi selama 60-120 menit berikutnya. Bila keadaan klinis stabil, maka
pemberian cairan ringer selanjutnya sebanyak 500 cc setiap 4 jam. Pengawasan dini
kemungkinan terjadi syok berulang harus dilakukan terutama dalam waktu 48 jam pertama sejak
terjadinya syok, oleh karena selain proses patogenesis penyakit masih berlangsung, juga sifat
cairan kristaloid hanya sekitar 20% saja yang menetap dalam pembuluh darah setelah 1 jam dari
saat pemberiannya. Oleh karena itu apabila hemodinamik masih belum stabil dengan nilai Ht
lebih dari 30/o dianjurkan untuk memakai kombinasi kristaloid dan koloid dengan perbandingan
4:1 atau 3:1, sedangkan bila nilai Ht kurang dari 30 vol % hendaknya diberikan transfusi sel
darah merah (packed red cells).
Apabila pasien SSD setelah fase awal pertolongan cairan diberikan kristaloid dan ternyata syok
masih tetap belum dapat diatasi, maka sebaiknya segera diberikan cairan koloid. Bila hematokrit

kurang dari 30 vol% dianjurkan diberikan juga sel darah merah. Cairan koloid diberikan dalam
tetesan cepat 10-20 ml/kgBB/jam dan sebaiknya yang tidak mempengaruhi atau menggangu
mekanisme pembekuan darah. Gangguan mekanisme pembekuan darah ini dapat disebabkan
terutama karena pemberian dalam jumlah besar, selain itu karena jenis koloid itu sendiri. Oleh
sebab itu koloid dibatasi maksimal sebanyak 1000-1500 ml dalam 24 jam. Saat ini ada 3
golongan cairan koloid yang masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangannya, yaitu :
Dekstran
Larutan 10% dekstran 40 dan larutan 6% dekstran 70 mempunyai sifat isotonik dan hiperonkotik,
maka pemberian dengan larutan tersebut akan menambah volume intravaskular oleh karena akan
menarik cairan ekstravaskular. Efek volume 6% Dekstran 70 dipertahankan selama 6-8 jam,
sedangkan efek volume 10/o Dekstran 40 dipertahankan selama 3,5-4,5 jam. Kedua larutan
tersebut dapat menggangu mekanisme pembekuan darah dengan cara menggangu fungsi
trombosit dan menurunkan jumlah fibrinogen serta faktor VIII, terutama bila diberikan lebih dari
1000 ml/24 jam. Pemberian dekstran tidak baleh diberikan pada pasien dengan KID.
Gelatin
Haemasel dan gelafundin merupakan larutan gelatin yang mempunyai sifat isotonik dan
isoonkotik. Efek volume larutan gelatin menetap sekitar 2-3 jam dan tidak mengganggu
mekanism pembekuan darah.
Hydroxy ethyl starch (HES)
6% HES 200/0,5; 6% HES 200/0,6; 6% HES 450/0,7 adalah larutan isotonik dan isonkotik,
sedangkan 10% HES 200/0,5 adalah larutan isotonik dan hiponkotik. Efek volume 6%/10/o
HES 200/0,5 menetap dalam 4-8 jam, sedangkan larutan 6% HES 200/0,6 dan 6% HES 450/0,7
menetap selama 8-12 jam. Gangguan mekanisme pembekuan tidak akan terjadi bila diberikan
kurang dari 1500cc/24 jam, dan efek ini terjadi karena pengenceran dengan penurunan hitung
trombosit sementara, perpanjangan waktu protrombin dan waktu tromboplastin parsial, serta
penurunan kekuatan bekuan.
Pada kasus SSD apabila setelah pemberian cairan koloid syok dapat diatasi, maka
penatalaksanaan selanjutnya dapat diberikan ringer laktat dengan kecepatan sekitar 4-6 jam
setiap 500cc. Bila syok belum dapat diatasi, selain ringer laktat juga dapat diberikan obat-obatan
vasopresor seperti dopamin, dobutamin, atau epinephrin. Bila dari pemeriksaan hemostasis
disimpulkan ada KID maka heparin. Bila dari pemeriksaan hemostasis disimpulkan ada KID,
maka heparin dan transfusi kompunen darah diberikan sesuai dengan indikasi.
Pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit dilakukan setiap 4-6 jam. Pemeriksaan hemostasis ulangan
pada kasus dengan KID dilakukan 24 jam kemudian sejak dimulainya pemberian heparin,
sedangkan pada kasus tanpa KID, pemeriksaan hemostasis ulangan hanya dilakukan bila masih
terdapat perdarahan.
Pemberian antibiotik perlu dipertimbangkan pada SSD mengingat kemungkinan infeksi sekunder
dengan adanya translokasi bakteri dari saluran cerna. Indikasi lain pemakaian antibiotik pada
DBD, bila didapatkannya infeksi sekunder di tempat atau organ lainnya, dan antibiotik yang
digunakan hendaknya yang tidak mempunyai efek terhadap sistem pembekuan.
IX. TUMBUH KEMBANG
Pertumbuhan dan perkembangan pada anak dengan DHF yang tidak disertai dengan komplikasi
berat tidak mengalami gangguan yang berarti.Tetapi anak perawatan di RS (hospitalisasi) anak
dan keluarga akan mengalami stress dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stres tergantung
pada persepsi anak dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.

X. KOMPLIKASI
Sindrom Syok Dengue (SSD)
Pada keadaan yang parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan pasien jatuh dalam syok
hipovolemik akibat kebocoran plasma. Keadaan ini disebut dengue shock syndrome (DSS).
Syok biasa terjadi pada saat atau segera setelah suhu turun, antara hari ke 3 sampai hari sakit ke7. Pasien mula-mula terlihat letargi atau gelisah kemudian jatuh ke dalam syok yang ditandai
dengan kulit dingin-lembab, sianosis sekitar mulut, nadi cepat-lemah, tekanan nadi < 20 mmHg
dan hipotensi. Kebanyakan pasien masih tetap sadar sekalipun sudah mendekati stadium akhir.
Dengan diagnosis dini dan penggantian cairan adekuat, syok biasanya teratasi dengan segera,
namun bila terlambat diketahui atau pengobatan tidak adekuat, syok dapat menjadi syok berat
dengan berbagai penyulitnya seperti asidosis metabolik, perdarahan hebat saluran cerna,
sehingga memperburuk prognosis. Pada masa penyembuhan yang biasanya terjadi dalam 2-3
hari, kadang-kadang ditemukan sinus bradikardi atau aritmia, dan timbul ruam pada kulit. Tanda
prognostik baik apabila pengeluaran urin cukup dan kembalinya nafsu makan. Penyulit SSD :
penyulit lain dari SSD adalah infeksi (pneumonia, sepsis flebitis) dan terlalu banyak cairan (over
hidrasi), manifestasi klinik infeksi virus yang tidak lazim seperti ensefalopati dan gagal hati.
Perdarahan luas
Effusi pleura
Penurunan kesadaran
XI. PROGNOSIS
Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DF dan DHF tidak ada yang
mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak teratasi, efusi
pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena
tindakan dan lingkungan bangsal rumah sakit yang kurang bersih. Kematian terjadi pada kasus
berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf, kardiovaskuler, pernapasan,
darah, dan organ lain.
Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :
Keterlambatan diagnosis
Keterlambatan diagnosis shock
Keterlambatan penanganan shock
Shock yang tidak teratasi
Kelebihan cairan
Kebocoran yang hebat
Pendarahan masif
Kegagalan banyak organ
Ensefalopati
Sepsis
Kegawatan karena tindakan

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Peningkatan suhu tubuh anak disertai menggigil.
Adanya perdarahan kulit seperti petekhie, ekomosis, hematom, epistaksis, hematemesis bahkan
hematemesis melena.
Pada pemeriksaan fisik didapatkah adanya nyeri otot, sakit kepala, nyeri ulu hati, pembengkakan
sekitar mata.
Adanya mual, muntah, tidak nafsu makan.
Tanda-tanda syok : denyut nadi cepat dan lemah, hipotensi, kulit dingin dan lembab terutama
pada ekstrimitas, sianosis, gelisah, penurunan kesadaran.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya trombositopenia dan hemokonsentrasi.
Gejala klinis didapatkan :
Derajat I : Demam disertai gejala konstitusional yang tidak khas, manifestasi perdarahan hanya
berupa uji torniquet positif dan atau mudah memar, trombositopeni dan hemokonsentrasi.
Derajat II : Manifestasi klinik pada derajat derajat I disertai perdarahan spontan dibawah kulit
seperti ptekhie, hematoma dan perdarahan dari tempat lain.
Derajat III : Manifestasi klinik pada penderita derajat II ditambah dengan terdapat kegagalan
sistem sirkulasi, nadi cepat dan lemah atau hipotensi, disertai kulit dingin dan sembab atau
gelisah.
Derajat IV : Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan renjatan yang berat
ditandai tekanan darah tidak terukur dan nadi tidak teraba.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hypertermi bd. proses infeksi virus dengue
2. Kekurangan volume cairan bd. peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan
demam.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd. mual, muntah, tidak
ada nafsu makan
4. Resiko terjadinya perdarahan bd. trombositopenia.
C. INTERVENSI
Dx.1 Hypertermi bd. proses infeksi virus dengue
Tujuan:
Hipertermi dapat teratasi.
Kriteria hasil:
Suhu tubuh dalam rentang normal.
Intervensi:
a. Monitor suhu sesering mungkin.

b. Monitor warna dan suhu kulit.


c. Monitor tekanan darah, nadi dan RR.
d. Monitor tanda-tanda hipertermi.
e. Berikan anti piretik.
f. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam.
g. Kolaborasi pemberian cairan intravena.
h. Selimuti pasien unuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh.
i. Ajarkan indikasi dari hipertermi dan penanganan yang diperlukan.
j. Gantikan pakaian yang telah basah oleh keringat.
Dx. 2 Kekurangan volume cairan bd. peningkatan permeabilitas kapiler, perdarahan, muntah dan
demam.
Tujuan :
Gangganan volume cairan dapat teratasi.
Kriteria hasil:
Volume cairan tubuh kembali normal.
Intervensi :
a. Monitor vital sign.
b. Monitor status nutrisi
c. Monitor intake dan output.
d. Pertahankan intake dan output yang akurat.
e. Monitor status hidrasi (membran mukosa) yang adekuat.
f. Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN, penurunan
hematokrit, dan peningkataan osmolaritas urine).
Dx. 3 Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd. mual, muntah,
tidak ada nafsu makan.
Tujuan:
Gangguan penurunan pola nutrisi teratasi
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
b. Intake nutrisi klien meningkat.
Intervensi :
a. Kaji adanya alergi makanan.
b. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
c. Timbang berat badan klien tiap hari.
d. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan
pasien.
e. Yakinkan nutrisi yang dimakan mengandung tinggi serat konstipasi.
f. Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi).
g. Anjurkan klien untuk meningkatkan protein dan vitamin C.
h. Berikan kalori tentang kebutuhan nutrisi.
i. Berikan klien makan dalam keadaan hangat dan dengan porsi sedikit tapi sering.
j. Berikan minum hangat bila klien mengeluh mual.
Dx. 4 Resiko terjadinya perdarahan bd. trombositopenia

Tujuan:
Perdarahan tidak terjadi
Kriteria hasil:
Trombosit dalam batas normal.
Intervensi :
a. Kaji adanya perdarahan.
b. Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, RR).
c. Antisipasi terjadinya perlukaan atau perdarahan.
d. Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien.
e. Monitor hasil darah, trombosit.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
DHF merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong
arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada
anak dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai
ruam atau tanpa ruam.
Penyebab penyakit DBD di Indonesia adalah Virus Dengue tipe DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan
DEN 4.
Perlu kewaspadaan yang tinggi terhadap penyakit DHF terutama pada musim penghujan.
B. SARAN
1. Gerakan 3 M, tidak hanya bila terjadi wabah tetapi harus dijadikan gerakan nasional melalui
pendektan masyarakat.
2. Penangan yang cepat sangat dibutuhkan bagi pasien dengan DHF, agar tidak terjadi

komplikasi syok hipovolemik.

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, A.Azis Alimul., 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.Buku 2.Penerbit Salemba
Medika: Jakarta
Hockenberry.Wilson, 2007. Wongs Nursing Care of Infants And children . Eighth Edition,
Mosby Elsevter: Canada
Nadesul, Handrawan., 2007. Cara Mudah mengalahkan Demam Berdarah. Penerbit buku
Kompas:Jakarta
Sutaryo., 2004. Dengue.MEDIKA Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta
http://nursemedia.info/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-dhf/
http://www.libang.depkes.go.id/maskes/052004/DEMAMBERBARAH1.pdf

Asuhan Keperawatan Anak Dengan DHF ( Dengue Haemorraghic Fever )


Diposkan oleh Rizki Kurniadi

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
DHF (Dengue Haemorraghic Fever) pada masyarakat awam sering disebut
sebagai demam berdarah.
Menurut para ahli, demam berdarah dengue disebut sebagai penyakit
(terutama sering dijumpai pada anak) yang disebabkan oleh virus Dengue dengan
gejala utama demam,nyeri otot, dan sendi diikuti dengan gejala pendarahan
spontan seperti ; bintik merah pada kulit,mimisan, bahkan pada keadaan yang
parah disertai muntah atau BAB berdarah.
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
adalah

suatu

penyakit

yang

disebabkan

oleh

virus

Dengue

Famili

Flaviviridae,dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe


yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Selama ini secara klinik
mempunyai tingkatan manifestasi yang berbeda, tergantung dari serotipe virus
Dengue. Morbiditas penyakit DBD menyebar di negara-negara Tropis dan Subtropis.
Disetiap negara penyakit DBD mempunyai manifestasi klinik yang berbeda. Di
Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan
sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD
ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada
tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya
faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan
macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional
sudah berubah. Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius
pada banyak negara tropis dan sub tropis.

B.

Tujuan Penulisan

1.

Tujuan Umum
Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan anak pada klien DHF
( Dengue Haemorraghic Fever ).

2.

Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat menjelaskan :

1.

Definisi penyakit DHF pada anak.

2.

Etiologi penyakit DHF pada anak.

3.

Manifestasi klinik penyakit DHF pada anak.

4.

Patofisiologi penyakit DHF pada anak.

5.

Komplikasi penyakit DHF pada anak.

6.

Klasifikasi penyakit DHF pada anak.

7.

Pemeriksaan Penunjang DHF pada anak.

8.

Penatalaksanaan penyakit DHF pada anak.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.

KONSEP DASAR

1.

Definisi
Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita
melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (Christantie Efendy,1995).

Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak
dan orang dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang
disertai ruam atau tanpa ruam. DHF sejenis virus yang tergolong arbo virus dan
masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty (betina)
(Seoparman , 1990).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue
haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui
gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa dengan
gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau tanpa
ruam.

2.

Etiologi
Sekurang-kurangnya ada empat tipe antigenik virus dengue yang berbeda.
Lagipula, tiga virus yang dibawa arthopoda (arbo) lain menyebabkan penykit
demam serupa atau identik ruam. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika
berlangsungnya perang dunia ke II, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada
saat wabah di Filipina tahun 1953-1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat
termoragil, sensitif terhadap in aktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil
pada suhu 70oC. Keempat serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia
dengan serotif ke 3 sebagai serotif yang paling banyak.

3.

Patofisiologi
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan
kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virusantibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3
dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan
histamine

dan

merupakan

mediator

kuat

sebagai

factor

meningkatnya

permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel


dinding itu.

Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya


faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya
perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas
dinding pembuluh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi ,
trombositopenia dan diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut.
Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui
endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami
hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic
dan kematian.

4.

Manifestasi Klinis

a.

Demam tinggi selama 5 7 hari

b.

Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.

c.

Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.

d.

Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.

e.

Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati.

f.

Sakit kepala.

g.

Pembengkakan sekitar mata.

h.

Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.

i.

Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

5.

Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :

a.

Perdarahan luas.

b.

Shock atau renjatan.

c.

Effuse pleura

d.

Penurunan kesadaran.

6.
a.

Klasifikasi
Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi,
trombositopeni dan hemokonsentrasi.

b.

Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah
kulit seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.

c.

Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi
kegagalan system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan
kulit yang lembab, dingin dan penderita gelisah.

d.

Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan
manifestasi renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak
teraba.

7.

Pemeriksaan penunjang

a.

Darah

1)

Trombosit menurun.

2)

HB meningkat lebih 20 %.

3)

HT meningkat lebih 20 %.

4)

Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3.

5)

Protein darah rendah.

6)

Ureum PH bisa meningkat.

7)

NA dan CL rendah.

b.

Serology : HI (hemaglutination inhibition test).

1)

Rontgen thorax : Efusi pleura.

2)

Uji test tourniket (+)

8.

Penatalaksanaan

a.

Tirah baring

b.

Pemberian makanan lunak .

c.

Pemberian cairan melalui infus.


Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate
merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na +
130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan
Ca = 3 mEq/liter.

d.

Pemberian obat-obatan: antibiotic, antipiretik,

e.

Anti konvulsi jika terjadi kejang

f.

Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).

g.

Monitor adanya tanda-tanda renjatan

h.

Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut

i.

Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.

B. ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS


1.

Pengkajian

a.

Aktivitas/istirahat
Malaise.

b.

Sirkulasi
Tekanan darah di bawah normal, denyut perifer melemah, takikardi, susah teraba

Kulit hangat, kering, pucat, kemerahan/ bintik merah, perdarahan bawah kulit
c.

Eliminasi
Diare atau konstipasi

d.

Makanan/ cairan
Anoreksia, mual, muntah
Penurunan berat badan, punurunan haluaran urine, oligouria, anuria.

e.

Neurosensori
Sakit kepala, pusing, pingsan
Ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium.

f.

Nyeri/ Ketidaknyamanan
Kejang abdominal, lokalisasi area sakit

g.

Pernapasan
Takipneu dengan penurunan kedalaman pernapasan, suhu meningkat, menggigil

h.

Penyuluhan/ pembelajaran
Masalah kesehatan, penggunaan obat-obatan atau tindakan

1.

Diagnosa keperawatan.

a.

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia.

b.

Nyeri berhubungan dengan proses patologi penyakit.

c.

Kekurangan

volume

cairan

tubuh

berhubungan

dengan

peningkatan

permeabilitas dinding plasma, evaforasi, intake tidak adekuat


d.
e.

Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.


Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah, anoreksia.

f.

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.

g.

Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF
berhubungan dengan kurangnya informasi.

2.

Intervensi dan Rasional

a.

Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia.


Intervensi:

1)

Observasi tanda tanda vital klien : suhu, nadi, tensi, pernapasan, tiap 4 jam
atau lebih sering

R/ Tanda tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
2)

Beri penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh

R/ Penjelasan tentang kondisi yang dialami klien dapat membantu klien/keluarga


mengurangi kecemasan yang timbul.
3)

Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika hal tersebut
tidak dilakukan.

R/ Penjelasan yang diberikan akan memotivasi klien untuk kooperatif.


4)

Menganjurkan pasien untuk banyak minum 2,5 ltr/24 jam dan jelaskan
manfaatnya bagi pasien.

R/ Peningkatan suhu tubuh akan menyebabkan penguapan tubuh meningkat


sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
5)

Berikan kompres hangat pada kepala dan axilla

R/

Pemberian kompres akan membantu menurunkan suhu tubuh.

6)

Kolaborasi: Pemberian antipiretik

R/

Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.

b.

Nyeri berhubungan dengan proses patologi penyakit.


Intervensi:

1)

Kaji tingkat nyeri yang dialami klien.

R/
2)

Untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami klien.


Kaji faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi klien terhadap nyeri (budaya,
pendidikan,dll)

R/

Reaksi klien terhadap nyeri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, dengan
mengetahui faktor tersebut maka perawat dapat melakukan intervensi sesuai
masalah klien.

3)

Berikan posisi nyaman, dan citakan lingkungan yang tenang.

R/

Untuk mengurangi rasa nyeri

4)

Berikan suasana gembira bagi klien, lakukan teknik distraksi, atau teknik
relaksasi.

R/

Dengan teknik distraksi atau relaksasi, klien sedikit melupakan perhatiannya


terhadap nyeri yang dialami.

5)

Beri kesempatanklien untuk berkomunikasi dengan orang terdekat.

R/

Berhubungan dengan orang terdekat dapat membuat klien teralih perhatiannya


dari nyeri yang dialami.

6)

Kolaborasi: Berikan obat-obat analgetik

R/ Obat analgetik dapat mengurangi atau menekan nyeri klien.


c.

Kekurangan

volume

cairan

tubuh

berhubungan

dengan

peningkatan

permeabilitas dinding plasma, evaforasi, intake tidak adekuat.


Intervensi:
1)

Kaji keadaan umum klien 9pucat, lemah, taki kardi), serta tanda tanda vital.

R/

Menetapkan data dasar, untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari


keadaan normalnya.

2)

Observasi adanya tanda tanda syok

R/

Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok yang dialami klien.

3)

Anjurkan klien untuk banyak minum.

R/

Asupan cairan sangat diperluakan untuk menambah volume cairan tubuh.

4)

Kaji tanda dan gejala dehidrasi/hipovolemik (riwayat muntah, diare, kehausan,


turgor jelek).

R/

Untuk mengetahui penyebab defisit volume cairan.

5)

Kaji masukan dan haluaran cairan.

R/

Untuk mengetahui keseimbangan cairan.

6)

Kolaborasi : Pemberian cairan intra vena sesuai indikasi.

R/

Pemberian cairan intra vena sangat penting bagi klien yang mengalami defisit
volume cairan dengan keadaan umum yang buruk untuk rehidrasi.

d.

Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan trombositopenia.


Intervensi:

1)

Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda


klinis.

R/ Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah


yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan perdarahan.
2)

Beri penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada klien.

R/

Agar klien/keluarga mengetahui hal hal yang mungkin terjadi padaklien dan
dapat membantu mengantisipasi terjadinya perdarahan.

3)

Anjurkan klien untuk banyak istirahat.

R/ Aktivitas klien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.


4)

Beri penjelasan pada klien/keluarga untuk segera melaporkan tanda-tanda


perdarahan (hematemesis,melena, epistaksis).

R/

Keterlibatan keluarga akan sangat membantu klien mendapatkan penanganan


sedini mungkin.

5)

Antisipasi terjadinya perdarahan ( sikat gigi lunak, tindakan incvasif dengan hatihati).

R/

Klien dengan trombositopenia rentan terhadap cedera/perdarahan.

e.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,


muntah, anoreksia.
Intervensi:

1)

Kaji keluhan mual, muntah, dan sakit menelan yang dialami klien

R/

Untuk menetapkan cara mengatasinya.

2)

Kaji cara/pola menghidangkan makanan klien

R/

Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan klien.

3)

Berikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur dan dihidangkan saat
masih hangat.

R/

Membantu mengurangi kelelahan klien dan meningkatkan asupan makanan


karena mudah ditelan.

4)

Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering

R/

Untuk menghindari mual dan muntah serta rasa jenuh karena makanan dalam
porsi banyak.

5)

Jelaskan manfaat nutrisi bgi klien terutama saat sakit.

R/

UntukMeningkatkan pengetahan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk


makan meningkat.

6)

Catat jumlah porsi yang dihabiskan klien.

R/

Mengetahui pemasukan/pemenuhan nutrisi klien.

f.

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.


Intervensi:

1)

Mengkaji keluhan klien

R/ Untuk mengidentifikasi masalah-masalah klien.


2)

Kaji hal-hal yang mampu/tidak mampu dilakukan oleh klien sehubungan degan
kelemahan fisiknya.

R/

Untuk

mengetahui

tingkat

ketergantungan

klien

dalam

memenuhi

kebutuhannya.
3)

Bantu

klien

memenuhi

kebutuhan

aktivitasnya

sesuai

dengan

tingkat

keterbatasan klien seperti mandi, makan, eliminasi.


R/

Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah
tanpa membuat klien mengalami ketergantungan pada perawat.

4)

Bantu klien untuk mandiri sesuai dengan perkembangan kemajuan fisiknya.

R/

Dengan melatih kemandirian klien, maka klien tidak mengalami ketergantungan.

5)

Letakkan barang-barang di tempat yang mudah dijangkau oleh klien.

R/

Akan membantu klien memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain.

g.

Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet dan perawatan pasien DHF
berhubungan dengan kurangnya informasi.
Intervensi:

1)

Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF.

R/

Sebagai data fdasar pemberian informasi selanjutnya.

2)

Kaji latar belakang pendidikan klien/ keluarga.

R/

Untuk memberikan penjelasan sesuai dengan tingkat pendidikan klien/ keluarga


sehingga dapat dipahami.

3)

Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada klien
dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.

R/

Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehinggfa tidak terjadi
kesalahpahaman.

4)

Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya pada klien.

R/

Dengan mengetahui prosedur/tindakan yang akan dilakukan dan manfaatnya,


klien akan kooperatif dan kecemasannya menurun.

5)

Berikan kesempatan pada klien/ keluarga untuk menanyakan hal-hal yangingin


diketahui sehubungan dengan penyakit yang diderita klien.

R/

Mengurangi kecemasan dan memotivasi klien untuk kooperatif.

6)

Gunakan leaflet atau gambar-gambar dalam memberikan penjelasan.

R/

Untuk membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan karena dapat


dilihat/ dibaca berulang kali.

BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Banyak cara untuk menurunkan insiden terjadinya DHF. Karena vektor dari
DHF adalah nyamuk Aedes a, maka ada beberapa hal yang sebaiknya
dilaksanakan untuk memutuskan rantai penyakit:

1.

Tanpa insektisida:

a.

menguras bak mandi,tempayan,drum,dll minimal seminggu sekali.

b.

menutup penampungan air rapat- rapat.

c.

membersihkan pekarangan dari kaleng bekas,botol bekas yang memungkinkan


nyamuk bersarang.

2.
a.

dengan insektisida:
malathion

untuk

membunuh

nyamuk

dewasa:

biasanya

dengan

fogging/pengasapan.
b.

abate untuk membunuh jentik nyamuk denan cara ditabur pada bejana- bejana
tempat penampungan air bersih dengan dosis 1 gram Abate SG 1% per 10 liter
air.

B.

Saran

Penulis berharap semoga penyusunan makalah tentang Askep pada


anak/bayi dengan DHF ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan dalam
bidang pendidikan dan praktik keperawatan. Dan juga dengan makalah ini dapat
menjadi acuan untuk tindakan proses keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi III vol. 1. Jakarta : Media
Aesculapius.

http://askep.blogspot.com/2008/01/asuhan-keperawatan-pada-anakdengan_6163.html

http://kumpulan-asuhan-keperawatan.blogspot.com/2009/02/asuhan-keperawatanpada-anak-dengan.html

http://nsnining.blogspot.com/2009/03/asuhan-keperawatan-anak-dengan-dengue.html

http://chandrasaja.dagdigdug.com/2008/07/12/studi-epidemiologi-kejadian-penyakitdemam-berdarah-dengue-dengan-pendekatan-spasial-sistem-informasigeografis-di-kecamatan-palu-selatan-kota-palu-penelitian-pilihan

http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2008/01/16/epidemilogi-dbd-danpelayanannya/

Contoh Askep DHF


ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
PADA PASIEN DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE

I. PENGERTIAN
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai
dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue
Haemoragic Fever ( DHF ).

II. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan
gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan,
hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system
retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam
pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF
dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin,
histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan
intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi,
hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler ibuktikan dengan ditemukannya
cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan
hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan
terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF
adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia,
gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti
dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi
disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh
aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada
pasien dengan perdarahan hebat.

III. KLASIFIKASI DHF


WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan, yaitu
:

Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji tourniquet
positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie,
ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt )
tekanan nadi sempit ( 120 mmHg ), tekanan darah menurun, (120/80 120/100
120/110 90/70 80/70 80/0 0/0 )
Derajat IV
Nadi tidak teaba, tekanan darah tidak teatur (denyut jantung 140x/mnt) anggota gerak
teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak biru.

IV. TANDA DAN GEJALA


-

Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya, tanda dangejala
lain adalah :
Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan.
Asites
Cairan dalam rongga pleura ( kanan )
Ensephalopati : kejang, gelisah, sopor koma.

V. PEMERIKSAAN DAN DIaGNOSIS


-

Trombositopeni ( 100.000/mm3)
Hb dan PCV meningkat ( 20% )
Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
Isolasi virus
Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila
sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN,
creatinin serum.

VI. PENATALAKSANAAN
-

Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue :


Panas 1-2 hari disertai dehidrasi ( karena panas, muntah, masukan kurang ) atau kejangkejang.
Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet positif / negatif, kesan
sakit keras ( tidak mau bermain ), Hb dan PCV meningkat.
Panas disertai perdarahan

Panas disertai renjatan.

Belum atau tanpa renjatan:


1. Grade I dan II :
a. Oral ad libitum atau
b. Infus cairan Ringer Laktat dengan dosis 75 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg
atau 50 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg bersama-sama diberikan minuman
oralit, air buah atau susu secukupnya.
Untuk kasus yang menunjukkan gejala dehidrasi disarankan minum sebnyak-banyaknya dan
sesering mungkin.
Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus
diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang
diestimasikan sebagai berikut :
100 ml/Kg BB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 Kg
75 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26-30 kg
60 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31-40 kg
50 ml/KgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41-50 kg
Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain, antipiretik untuk anti panas, darah 15
cc/kgBB/hari perdarahan hebat.
Dengan Renjatan ;
2. Grade III
a. Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam
Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan
frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10
mL/KgBB/1jam. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan
dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang
sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam dikurangi waktu yang dipakai untuk
mengatasi renjatan ). Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai
berikut :
100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg
75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.
60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg.
50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg.
b. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg BB/1 jam keadaan tensi masih
terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah, akral dingin maka penderita tersebut
memperoleh plasma atau plasma ekspander ( dextran L atau yang lainnya ) sebanyak 10 mL/
Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Jika
keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam
dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan.
c.

Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi
menurun lagi, tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah, akral dingin maka
penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander (dextran L atau lainnya)
sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun
waktu 24 jam.

VII. ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
1.1 Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak, remaja dan
dewasa ( Effendy, 1995 )
1.2 Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan menurun.
1.3 Riwayat penyakit sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, sakit
pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.
1.4 Riwayat penyakit terdahulu
Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.
1.5 Riwayat penyakit keluarga
Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan, karena
penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty.
1.6 Riwayat Kesehatan Lingkungan
Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas, ban
bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang dibersihkan.
1.7 Riwayat Tumbuh Kembang
1.8 Pengkajian Per Sistem
1.8.1 Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan dada simetris,
perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.
1.8.2 Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi
DSS
1.8.3 Sistem Cardiovaskuler
Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni, pada grade
III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut,
hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
1.8.4 Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik, pembesarn limpa,
pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri saat
menelan, dapat hematemesis, melena.
1.8.5 Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan nyeri sat
kencing, kencing berwarna merah.
1.8.6 Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet,
terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit.
2.

Diagnosa Keperawatan
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya ciran intravaskuler ke ekstravaskuler
Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan, pindahnya
cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

Resiko terjadi perdarahn berhubungan dnegan penurunan factor-fakto pembekuan darah


( trombositopeni )
Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi.
3.

a.
b.
c.
d.

e.

Rencana Asuhan Keperawatan.


DP : Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 37
Nyeri otot hilang
Intervensi :
Beri komres air kran
Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi
Berika / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan
tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
Observasi intake dan output, tanda vital ( suhu, nadi, tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau
lebih sering.
Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan
elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
pasien.
Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat
khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien.

DP 2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke


ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan
Kriteria : Input dan output seimbang
Vital sign dalam batas normal
Tidak ada tanda presyok
Akral hangat
Capilarry refill < 3 detik
Intervensi :
a. Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler
b. Observasi capillary Refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer
c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ
Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.
d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )
Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral
e. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya hipovolemic
syok.
DP. 3 Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik


Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal
Intervensi :
a. Monitor keadaan umum pasien
Raional ; Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan.
Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok
b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih
Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi
presyok / syok
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi
perdarahan
Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera
diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.
d. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena
Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat.
e. Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo
Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan
untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.
DP. 4 Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang
menurun.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Menunjukkan berat badan yang seimbang.
Intervensi :
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi
b. Observasi dan catat masukan makanan pasien
Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan
c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan )
Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.
d. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga
mencegah distensi gaster.
e. Berikan dan Bantu oral hygiene.
Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral
f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.
DP. 5. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan
darah ( trombositopeni )
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat
Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang
pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, ptike.
b. Monitor trombosit setiap hari

Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran
pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien.
c. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )
Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.
d. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan
spt : hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila
terjadi perdarahan.
e. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan mulut,
berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.
Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK E.C


DENGAN DHF GRADE II
DI RUANG MENULAR ANAK RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Nama
Umur
Alamat
Agama
Nama Ibu
Pendidikan
Nama Ayah
Pendidikan
Pekerjaan
Diagnosa Medik
Pengkajian tanggal

: An. E.C
: 9 thn
: Tambak Asri 23/27 Surabaya
: Kristen
: Ny. T
:
: Tn S
: SMA
: Karyawan swasta
: DBD Grade II
: 13 Desember 2001

2. Keluhan Utama :
Sakit kepala, panas dan tidak nafsu makan.
3. Riwayat penyakit sekarang :
Senin pagi panas, dibawa ke puskesmas dapat paracetamol. Panas turun. Rabu malam anak
tiba-tiba muntah-muntah air, makan tidak mau, minum masih mau. Kamis jam 03 pagi keluar
darah dari hiding pada waktu bersin, keluhan pusing, mencret air, dibawa ke IRD.
4. Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya klien tidak penah dirawat karena penyakit apapun.
5. Riwayat penyakit keluarga
Menurut keluarga ( Ibu ) tidak ada keluarga yang dalam waktu dekat ini menderita sakit
DBD.
6. Riwayat kesehatan lingkungan.
Menurut ibu kondisi lingkungan rumah cukup bersih, walaupun tinggal dekat kali kecil,
sekitar rumah terdapat beberapa ban bekas untuk menanam tanaman yang belum dipakai, bak
mandi dikuras setiap seminggu 1 kali. Menurut ibu seminggu yang lalu ada tetangga gang
yang menderita DHF, tetapi sekarang sudah sembuh, dan lingkungan wilayah belum pernah
disemprot.
7. Riwayat kehamilan
Anak lahir pada usia kehamilan 7 bulan, dengan berat badan lahir 4 kg, ibu tidak tahu
mengapa kehamilannya hanya 7 bulan. Lahir spontan dan selama 1 tahun anak mendapat
imunisasi lengkap dan minum PASI Lactona s/d 2 tahun.
8. Pengkajian Persistem
a. Sistem Gastrointestinal
Nafsu makan menurun, anak hanya mau makan 3 sendok makan, minum tidak suka, harus
dipaksakan baru mau minum. Mual tidak ada, muntah tidak terjadi. Terdapat nyeri tekan
daerah hepar dan asites positif, bising usus 8x/mnt.

b. Sistem muskuloskeletal :
Tidak terdapat kontraktur sendi, tidak ada deformitas, keempat ekstremitas simetris, kekuatan
otot baik.
c.

Sistem Genitourinary
BAK lancar, spontan, warna kuning agak pekat ditampung oleh ibu untuk diukur, BAB dari
malam belum ada.

d. Sistem Respirasi.
Pergerakan napas simetris, tidak terdapt pernapasan cuping hidung, pd saat pengkajian tandatanda epistaksis sudah tidak ada, Frekuensi napas 25x/menit. Bunyi nafas tambahan tidak
terdengar.
e.

Sistem Cardiovaskuler
TD : 100/60, nadi 98x/mnt, akral dingin, tidak terdapat tanda-tanda cyanosis, cap. Refill < 3
detik, tidak terjadi perdarahan spontan, tanda-tanda petikhie spontan tidak terlihat, hanya
tanda pethike bekas rumple leed.

f.

Sistem Neurosensori
Tidak ada kelainan.

g. Sistem Endokrin
Tidak ada kelainan.
h. Sistem Integumen.
S : 376 turgor baik, tidak ada luka, pethikae bekas rumple leed, tidak terdapat perdarahan
spontan pada kulit.
9. Pemeriksaan Penunjang
Hb : 11.8
Leko : 5,5
Trombo : 133
PCV : 0,30
10. Terapi
Infus D saline 1600 cc/24 jam
Minum manis
Vit B compleks / C 3 x 1
Diet TKTP 1600 Kkal + 50 gr Protein.
Nasi 3 x sehari
Susu : 3 x 200 cc
B. ANALISA DATA
No Data
S1 : Klien mengatakan badanya terasa
panas, pusing
O : Akral dingin
Panas hari ke 2 panjang.
TTV : S : 376, Nadi 98x/mnt,
TD : 100/60, RR 25x/mnt.

Etiologi
Proses infeksi virus dengue

Viremia

Thermoregulasi

Masalah
Peningkatan suhu
tubuh

S : Klien mengatakan tidak suka


minum dan perut terasa
kenyang minum terus.
O : Turgor kulit baik
Mukosa bibir kering
Urine banyak warna kuning
pekat
Panas hari ke 2 panjang
Trombosit ; 133.000
TD : 100/60, N ; 98x/mnt.
S : Klien menyatakan tidak
mau makan, tetapi tidak mual.
O : KU lemah
Makan pagi hanya mau 3
sendok

Peningkatan suhu tubuh


Ektravasasi cairan
Intake kurang

Volume plasma berkurang

Penurunan volume cairan tubuh

Nafsu makan menurun

Intake nutrisi tidak adekuat

Nutrisi kurang dari kebutuhan


tubuh

Cairan tubuh

Nutrisi

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN :
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler
3. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun.
D. PERENCANAAN
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh kembali normal
Kriteria : TTV khususnya suhu dalam batas normal ( 365 375 )
Membran mukosa basah.
Rencana Intervensi ;
1. Observasi TTV setiap 1 jam
Rasional : Menentukan intervensi lanjutan bila terjadi perubahan
2. Berikan kompres air biasa / kran
Rasional : Kompres akan memberikan pengeluaran panas secara induksi.
3. Anjurkan klien untuk banyak minum 1500 2000 ml
Rasional : Mengganti cairan tubuh yang keluar karena panas dan memacu pengeluaran urine
guna pembuangan panas lewt urine.
4. Anjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat.
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan memperbesar penguapan panas
5. Observasi intake dan out put
Rasional : Deteksi terjadinya kekurangan volume cairan tubuh.
6. Kolaborasi untuk pemberian antipiretik
Rasional : Antipireik berguna bagi penurunan panas.
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke
ekstravaskuler.
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik

Kriteria : TD 100/70 mmHg, N: 80-120x/mnt


Pulsasi kuat
Akral hangat
Rencana Intervensi ;
1. Observasi Vital sign setiap jam atau lebih.
Rasional : Mengetahui kondisi dan mengidentifikasi fluktuasi cairan intra vaskuler.
2. Observasi capillary refill
Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer.
3. Observasi intake dan output, catat jumlah, warna / konsentrasi urine.
Rasional : Penurunan haluaran urine / urine yang pekat dengan peningkatan BJ diduga
dehidrasi.
4. Anjurkan anak untuk banyak minum 1500-2000 mL
Rasional : Untuk pemenuhan kebutuhan ciran tubuh
5. Kolaborasi pemberian cairan intra vena atau plasma atau darah.
Rasional : Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah terjadinya hipovolemik syok.
3. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun.
Tujuan : Nutrisi terpenuhi
Kriteria : Nafsu makan meningkat
Porsi makan dihabiskan
Rencana Intervensi :
1. Kaji keluhan mual, muntah atau penurunan nafsu makan
Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya.
2. Berikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna
Rasional : Mengurangi kelelahan klien dan mencegah perdarahan gastrointestinal.
3. Berikan makanan porsi kecil tapi sering.
Rasional : Menghindari mual dan muntah
4. Hindari makanan yang merangsang : pedas, asam.
Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah.
5. Beri makanan kesukaan klien
Rasional : Memungkinkan pemasukan yang lebih banyak
6. Kolaborasi pemberian cairan parenteral
Rasional : Nutrisi parenteral sangat diperlukan jika intake peroral sangat kurang.