Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Darah merupakan jaringan ikat yang mempunyai dua komponen, yaitu
komponen cair yang disebut plasma darah dan komponen sel-sel darah atau
korpuskula darah. Menurut Soetrisno (1987), Korpuskula darah terdiri dari 3
macam yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit. Eritrosit (sel darah merah) leukosit
(sel darah putih) trombosit (keeping darah). Darah selalu melakukan sirkulasi.
sirkulasi darah dalam tubuh menjamin lingkungan yang tetap, sehingga semua sel
serta jaringan mampu melaksanakan fungsinya.
Eritrosit (sel darah merah) merupakan sel yang berperan dalam
pengangkutan oksigen. Eritrosit merupakan sel yang paling banyak jumlahnya.
Struktur sel darah merah merupakan contoh lain yang sangat baik tentang struktur
yang disesuaikan dengan fungsinya. Sebuah eritrosit pada mamalia berbentuk
cakram bikonkaf, bagian tengahnya lebih tipis dibandingkan bagian tepi. Ukuran
sel darah merah kecil. Semakin kecil sel darah merah semakin besar pula total
luas permukaan membran plasma dalam suatu volume darah.
Leukosit (sel darah putih) merupakan sel yang berperan dalam kekebalan
dan pertahanan tubuh. Sel darah putih atau Leukosit merupakan jenis sel yang
aktif di dalam sistem pertahanan tubuh. Leukosit memiliki ciri-ciri tidak
berwarna. Leukosit berperan penting dalam proses-proes pertahanan hidup dan
perbaikan bagi organisme sehingga dalam keadaan patologis jumlah leukosit
dapat lebih besar maupun lebih rendah dari normal. Leukosit dapat dibedakan
menjadi granulosit dan agranulosit. Sedangkan, trombosit (keping darah) berperan
dalam mempertahankan kondisi homeostasis, pada mamalia ikut berperan dalam
proses pembekuan darah.
Menurut Swenson (1984) dalam Natalia (2008), hemoglobin merupakan
zat warna (pigmen) darah yang berupa ikatan kompleks protein terkonjugasi,
dibentuk oleh pigmen dan protein sederhana. Protein ini adalah suatu histon yang
disebut globin. Warna merah dari hemoglobin disebabkan oleh heme, suatu ikatan
metalik mengandung sebuah atom besi. Sintesis hemoglobin dimulai dalam
proeritroblas dan kemudian dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit dalam
susum tulang.

Hematologi merupakan cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah,


organ pembentuk darah dan penyakitnya. Hematologi digunakan sebagai petunjuk
keparahan suatu penyakit. Perubahan hematologi dan kimia darah baik secara
kualitatif maupun kuantitatif dapat menentukan kondisi kesehatan hewan. Sel dan
plasma darah mempunyai peran fisiologis yang sangat penting dalam diagnosis,
prognosis, dan terapi suatu penyakit (Hoffbrand, 1987).
Parameter darah bisa digunakan untuk indikator patofisiologi dalam tubuh.
Oleh karena itu, sangat penting pada pendiagnosaan kondisi struktur dan fungsi
mengungkap keracunan pada ikan, kapasitas oksigen, an pencemaran logam pada
lingkungan akuatik. Pengukuran hematologi meliputi pengukuran kadar
hemoglobin, perhitungan total eritrosit, perhitungan total leukosit, dan
pengukuran hematocrit (Maheswara, et al., 2008). Kadar hemoglobin, jumlah dan
bentuk sel darah hewan berbeda-beda. Eritrosit mamalia tidak berinti dan
berbentuk bulat. Eritrosit ikan berinti, berbentuk elips dan berwarna merah muda.
Kadar hemoglobin bervariasi dengan jumlah sel darah merah yang ada. Secara
fisiologis, hemoglobin sangat penting untuk kehidupan hewan dan sangat
menentukan kemampuan kapasitas pengikatan oksigen oleh darah (Hoffbrand,
1987).Pada praktikum hematologi ini digunakan hewan uji mencit, ikan, dan
ayam. Masing-masing hewan uji akan diambil darahnya dan dihitung kadar
eritrosit, kadar leukosit dan kadar hemoglobinnya.
I.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk memberikan keterampilan pada
mahasiswa tentang cara pengambilan darah hewan, mengetahui perbedaan bentuk
sel darah pada berbagai hewan, serta cara melakukan perhitungan sel darah merah,
sel darah putih, dan kadar hemoglobin.

II. MATERI DAN CARA KERJA


II.1 Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah darah mencit, darah
ikan nilem, darah katak, larutan Hayem, larutan Turk, dan larutan HCl 0,1 N,
EDTA, dan akuades.
Alat yang digunakan adalah haemometer, haemositometer, pipet thoma,
tabung Sahli, pipet kapiler, mikroskop, mikropipet, jarum suntik, objek gelas dan
kaca penutup, spuit dan hand counter, dan tissu.
II.2 Cara Kerja
2.2.1 Menghitung jumlah leukosit (pengenceran 10 kali) :
1. Darah hewan daimbil dengan menggunakan jarum suntik. Kemudian
2.

ditetesi dengan EDTA sebagai anti koagulan.


Darah hewan dihisap menggunakan mikropipet sampai pengenceran

3.

menunjukkan angka 1, kemudian ujungnya dibersihkan dengan tissu.


Larutan Turk diambil menggunakan pipet dan dituangkan ke dalam

4.

tabung reaksi. Kemudian, larutan Turk dihisap sampai angka 11.


Pipa karet (yang dipakai untuk menghisap) diambil dari pipet,
kemudian pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari telunjuk

5.

dan dikocok selama dua menit.


Buanglah beberapa tetes (1-2 tetes), tetes berikutnya dipakai untuk

6.

perhitungan.
Bilik hitung disiapkan, teteskan cairan dalam pipet sehingga cairan

7.

dapat masuk sendirinya ke dalam bilik hitung.


Amati di bawah mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah.

8.

Kemudian dengan perbesaran kuat.


Semua leukosit yang terdapat di dalam bujur sangkar pojok dihitung.
Jadi jumlah yang dihitung menjadi 4 x 16 = 64 bujur sangkar dengan
sisi masing-masing = mm.
Dengan menggunakan rumus:

2.2.2 Menghitung jumlah eritrosit (Pengenceran 100 kali) :


1. Darah hewan daimbil dengan menggunakan jarum suntik. Kemudian
ditetesi dengan EDTA sebagai anti koagulan.
2. Darah hewan dihisap menggunakan mikropipet sampai pengenceran
menunjukkan angka 1, kemudian ujungnya dibersihkan dengan tissu.

3. Larutan Hayem diambil menggunakan pipet dan dituangkan ke dalam


tabung reaksi. Kemudian, larutan Turk dihisap sampai angka 11.
4. Pipa karet (yang dipakai untuk menghisap) diambil dari pipet,
kemudian pipet dipegang pada kedua ujungnya dengan ibu jari telunjuk
dan dikocok selama dua menit.
5. Buanglah beberapa tetes (1-2 tetes), tetes berikutnya dipakai untuk
perhitungan.
6. Bilik hitung disiapkan, teteskan cairan dalam pipet sehingga cairan
dapat masuk sendirinya ke dalam bilik hitung.
7. Amati di bawah mikroskop, mula-mula dengan perbesaran lemah.
Kemudian dengan perbesaran kuat.
8. Semua eritrosit yang terdapat di dalam bujur sangkar kecil dihitung.
dengan sisi 1/20 atau dengan volume masing-masing 1/4000 mm3.
Rumus perhitunganya adalah :

2.2.3 Pengukuran kadar hemoglobin dengan metode Sahli


1. Larutan HCl 0,1 N diteteskan ke dalam tabung Sahli (berskala) hingga
batas 10.
2. Darah hewan uji diteteskan pada tabung yang berisi larutan HCl 0,1 N.
Kemudia, diaduk dengan menggunakan batang pengaduk gelas.
3. Tabung diletakkan pada komparator yang memiliki warna pembanding.
4. Teteskan akuades sedikit demi sedikit ke dalam campuran tadi sambil

III.1

diaduk dan bandingkan warna larutan dengan warna pembanding.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Jumlah Leukosit, Eritrosit, dan Kadar Hemoglobin
Sampel
Darah

Eritrosit/mm3

Leukosit/mm3

Hb gr/dL

Ayam1

1350000

81725

5,8

Mencit

760000

20950

4,9

Ikan1

205000

13400

Ikan2

100000

77300

Ayam2

3660000

71050

Perhitungan Ikan2 :
Eritrosit = E1 = 4
E2 = 2
E3 = 10
E4 = 1
E5 = 3 +
Etot = 20
Eritrosit = 5000 . Etot
= 5000 . 20
= 100000/mm3
Leukosit = L1 = 315
L2 = 228
L3 = 1104
L4 = 1445 +
Ltot = 3092
Leukosit = 25 . Ltot
= 25 . 3092 = 77300/mm3
III.2 Pembahasan
Cara pengambilan sampel darah pada mencit, ikan dan ayam pada dasarnya
sama, perbedaannya hanyalah pada tempat pengambilan darah. Pengambilan
darah pada mencit diambil dari bagian ekor. Sedangkan, pada ikan pada vena
caudalis, bisa juga di bagian ventral tepatnya di bagian jantung dan ayam diambil
dari vena jugularis. Setelah darah diambil, darah langsung ditetesi larutan EDTA
untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah. Cara pengencerannya pun sama,
yaitu 10x untuk

leukosit dan 100x untuk eritrosit. Perhitungan leukosit

dibutuhkan larutan Turk yang berfungsi untuk mengencerkan dan dituangkan ke


dalam tabung reaksi sampai angka sebelas, sedangkan

pengukuran eritrosit

digunakan larutan Hayem.


Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain
haemositometer, pipet thoma, pipet sahli, larutan Turk, larutan Hayem, dan
EDTA. Haemosirometer digunakan untuk menghitung sel darah yang terlihat pada
mikroskop. Pipet thoma digunakan untuk mengambil darah dengan cara
menyedotnya. Tabung sahli digunakan untuk pengenceran pada perhitungan

homoglobin, pada komparatornya memiliki warna sebagai pembanding pada saat


pengenceran homoglobin. Menurut Soebrata (1989) dalam Sihombing, Marice
dan Sulistyowati Tuminah (2011), larutan Turk digunakan untuk mengencerkan
leukosit, larutan Hayem sebagai pengencer eritrosit, dan EDTA (Ethylen Diamin
Tetra Acetic Acid) berfungsi sebagai antikoagulan atau zat yang menyebabkan
darah tidak membeku (Hoffbrand dan Pettit, 1987).
Darah merupakan jaringan seperti halnya jaringan lainnya yaitu saraf
dan otot maka darah juga merupakan kumpulan sel serupa yang terspesialisasi
untuk melakukan fungsi tertentu dalam tubuh. Darah bagi organisme sangat
penting, apabila terjadi kekurangan atau kelebihan sel darah maka mengakibatkan
tidak normalnya proses fisiologis suatu organisme sehingga menimbulkan suatu
penyakit (Pearce, 1989).
Menurut Yuwono (2001), fungsi dari sel-sel darah antara lain :
1. Pengangkutan nutrien dari saluran pencernaan ke jaringan, ke dan dari organorgan penyimpan (misalnya asam laktat dari otot ke hati), memungkinkan
spesialisasi metabolik.
2. Pengangkutan produk ekskretori dari jaringan ke organ ekskretori, dari organ
tempat sintesis (misalnya urea dalam hati) ke ginjal.
3. Pengangkutan gas (oksigen dan karbondioksida) antara organ respiratori dan
jaringan untuk penyimpanan oksigen.
4. Pengangkutan hormon (misalnya adrenalin dan hormon pertumbuhan).
5. Pengangkutan sel fungsi nonrespiratori (contohnya leukosit vertebrata).
6. Pengangkutan panas dari organ-organ yang berada di bagian bawah
permukaan ke atas permukaan untuk menghilangkan panas tersebut (esensil
bagi hewan besar yang kecepatan metaboliknya tinggi).
7. Transmisi gaya tekanan (contohnya untuk lokomosi pada cacing tanah; untuk
memecah cangkang pada waktu ganti kulit pada Crustaceae; untuk pergerakan
organ seperti penis; sifon pada Bivalvia; penjuluran kaki pada laba-laba; untuk
ultra filtrasi dalam kapiler ginjal).
8. Kekebalan dan pertahanan tubuh dari serangan organisme penyebab penyakit
dilakukan oleh leukosit.
9. Koagulasi, karakteristik inherent pada berbagai darah dan cairan hemolymph;
berfungsi untuk proteksi terhadap kehilangan darah.
10. Pemeliharaan milieu interiur sesuai untuk sel-sel dalam kaitannya dengan pH,
ion-ion dan nutrien.

Sel darah merah merupakan bagian utama dari darah. Bentuknya bikonkaf,
tidak berinti, tidak dapat bergerak bebas, dan tidak dapat menembus dinding
kapiler. Tempat pembuatan eritrosit yaitu pada endothelium dari sumsum tulang.
Sel darah merah berfungsi sebagai transport oksigen, tetap ada di dalam pembuluh
darah. Eritrosit mampu bertahan hidup hingga umur 115 hari di dalam tubuh. Sel
darah putih (leukosit) mempunyai bentuk yang bervariasi. Selnya mempunyai
nucleus (inti sel), dapat bergerak secara ameboid, serta dapat menembus dinding
kapiler yang disebut diapedesis. Leukosit berfungsi untuk melawan kuman yang
masuk kedalam tubuh, yaitu dengan cara memakannya secara fagositosis (Slamet
dan Sri, 2007).
Sel darah putih dapat dibedakan menjadi dua yaitu yang memiliki
sitoplasma granular (granulosit) dan yang memiliki sitoplasma non granuler
(agranulosit). Granulosit terdiri dari monosit dan limposit. Leukosit ini berperan
dalam pertahanan seluler dan hormonal organisme serta melindungi tubuh dengan
menimbulkan peradangan di tempat-tempat yang terkena infeksi, memfagositasi
mikroba, merusak toksin dan merusak antibody (Ville, et al.,1988).
Menurut Pearse (1989), darah bagi organisme sangat penting, apabila terjadi
kekurangan atau kelebihan sel darah maka mengakibatkan tidak normalnya proses
fisiologis suatu organisme sehingga menimbulkan suatu penyakit. Beberapa
penyakit yang berhubungan dengan darah antara lain anemia, diabetes melitus,
leukemia,

polisitemia

vera

(kelebihan

eritrosit),

ulkus,

apendisitis,

trombositopenia (kekurangan trombosit), hepatitis dan hipertensi (Nurrachmat,


2005). Menurut Chinabut, et al., (1991), kondisi lingkungan (suhu, pH, oksigen,
dan peubah lainnya) yang kurang sesuai dengan lingkungan hidup ikan dan
adanya zat toksin dalam lingkungan perairan akan menyebabkan terganggunya
sistem fisiologi-homeostasis (stres) pada ikan dan ikan harus berusaha
menyelaraskan dengan kondisi lingkungan yang ada (Simanjuntak, et al., 2006)
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan data dari sampel darah ayam1 yaitu
jumlah leukosit sebanyak 81.725 sel/mm3, jumlah eritrosit 1.350.000 sel/mm3 dan
dengan persentase kadar Hb sebesar 5,8 gr/dl. Jumlah leukosit pada darah ayam2
sebanyak 710.050 sel/mm3, jumlah eritrosit 3.660.000

sel/mm3 dan dengan

persentase kadar Hb sebesar 7 gr/dl. Jumlah leukosit darah ikan1 sebanyak 13.400

sel/mm3, jumlah eritrosit 205.000 sel/mm3 dan dengan persentase kadar Hb


sebesar 6 gr/dl. Jumlah leukosit darah ikan2 77.300 sel/mm3, jumlah eritrosit
100.000 sel/mm3 dan dengan persentase kadar Hb sebesar 8 gr/dl. Jumlah leukosit
pada darah mencit sebanyak 71.050 sel/mm3, jumlah eritrosit 760.000 sel/mm3
dan dengan persentase kadar Hb sebesar 4,9 gr/dl.
Hal ini tidak sesuai dengan pustaka karena menurut Oslon (1973), jumlah
eritrosit pada ikan adalah 50.000 3.000.000 sel / mm 3, jumlah leukosit pada sel
darah ikan 20.000 150.000 sel / mm 3. Jumlah pada ayam berbeda antara ayam
jantan dan betina, pada ayam betina adalah 2,72 juta sel / mm 3 dan pada ayam
jantan adalah 3,23 juta sel/mm3. Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000
40.000 sel / mm3 ( Dukes, 1995). Menurut Hoffbrand (1987), jumlah leukosit
pada mamalia adalah 4.000 11.000 sel/mm3. Hasil pengamatan yang diperoleh
tidak sesuai dengan pustaka. Hal ini disebabkan karena keterbatasan ketelitian
penglihatan dalam menghitung jumlah leukosit dengan menggunakan alat
haemocytometer. Besarnya jumlah leukosit selalu dipengaruhi oleh jumlah
eritrosit, dimana jumlah leukosit selalu lebih rendah daripada jumlah eritosit
(Bevelander, 1979). Eritrosit (sel darah merah) unggas berbentuk oval, berinti dan
berukuran lebih besar daripada darah mamalia. Faktor-faktor yang mempengaruhi
jumlah eritrosit antara lain ketinggian tempat, status makanan, iklim, keadaan
fisiologis, umur, jenis kelamin, keadaan sekitar, dan keadaan patologis. Sementara
jumlah leukosit dalam darah bervariasi menurut umur, jenis kelamin, dan keadaan
fisiologis (Junquiera, et al., 1997).

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1.

Pengambilan sampel darah pada mencit diambil dari bagian ekor. Sedangkan,
pada ikan pada vena caudalis, bisa juga di bagian ventral tepatnya di bagian

2.

jantung dan ayam diambil dari vena jugularis.


Eritrosit (sel darah merah) unggas berbentuk oval, berinti dan berukuran

3.

lebih besar daripada darah mamalia.


Jumlah Leukosit dan eritrosit pada ayam, ikan, dan mencit berbeda-beda.

DAFTAR REFERENSI
Beverlander, G. A. Dan A.R. Judith. 1979. Dasar-dasar histology edisi 8Erlangga,
Jakarta
Dukes, H. H. 1995. The physiology of domestic animals. Constock publishing
associates, New York.
Hoffbrand, A. V dan J. E. Pettit. 1987. Haematology. Penerbit EGC. Jakarta
Junqueira, L.Carlos, Jose C, Robert O.Kelley. 1997. Histologi Dasar. EGC,
Jakarta.
Maheswara, R et al., 2008.Hematological studies of fresh water fish, Clarias
batrachus (L.) exposed to mercuric chloride. International Journal of
Integrative Biology. Vol. 2 No. 1, 49
Natalia, Ratna Delima.2008.` Jumlah Eritrosit, Nilai Hematokrit dan Kadar
Hemoglobin Ayam Pedaging Umur 6 Minggu yang Diberi Suplemen
Kunyit, Bawang Putih dan Zink. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Nurrachmat, Harun. 2005. Peredaan Jumlah Eritrosit, Leukosit, dan Trombosit
pada Pemberian Antikoagulan EDTA Konvensional dengan EDTA
Vacutiner. Karya Ilmiah. Universitas Diponegoro.Semarang.
Oslon, C. 1973. Aulan Hematology in Riester HE and LH Schwarte. The Lowa
State University Press. USA.Pearce, E. C. 1979. Anatomi dan Fisiologi
untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta.

Pearse, E. C. 1989. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic. Jakarta: Gramedia.


Sihombing, Marice dan Sulistyowati Tuminah. 2011. Perubahan Nilai
Hematologi, Biokimia Darah, Bobot Organ, dan Bobot Badan Tikus pada
Umur Berbeda. Jurnal Veterine. Vol. 12 No. 1: 58-64
.
Slamet, P dan Sri, H. 2007. Sains biologi. Jakarta: BA printing
.Soetrisno, 1989. Diktat fisiologi ternak. Fakultas peternakan UNSOED.
Purwokerto.
Simanjuntak, Sorda Basar Ida, Edy Yuwono, dan Farida Nur Rachmawati. 2006.
Pengaruh Penyuplemenan Spirulina Dalam Pakan Terhadap Hematologis
Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.). Laboratorium Fisiologi Hewan.
Fakultas Biologi Unsoed.
Ville, C. A. Walker, W, and Barnes, R. D. 1988. Zoologi umum edisi 6. Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Yuwono, E. 2001. Buku ajar fisiologi hewan 1. Fakultas Biologi UNSOED.
Purwokerto.