Anda di halaman 1dari 6

REFLEKSI KASUS

Penyusun :
Hawania Rahtio, S.Ked
(0918011114)

Pembimbing :
dr. Handayani Dwi Utami, M.Kes, Sp.F

KEPANITERAAN KLINIK KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RSUD dr. H. ABDUL MOELOEK PROPINSI LAMPUNG
REFLEKSI KASUS |
Forensik dan Medikolegal
RSUD Abdoel Moeloek 2015

Stase Kedokteran

2015
REFLEKSI KASUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
Nama Dokter Muda / NPM : Hawania Rahtio / 0918011114
Stase

: Kedokteran Forensik dan Medikolegal

A. Jenis Kasus
Kasus yang akan dibahas dan direfleksikan oleh penulis pada kesempatan ini yaitu
TINDAK ASUSILA. Kasus ini bukanlah kasus yang sederhana, namun penulis akan
membahas secara ringkas dan mengambil hal-hal penting yang berguna kedepannya bagi
pembaca secara umum dan bagi penulis sendiri secara khususnya.
Nn R berusia 16 tahun adalah seorang pasien yang datang ke Ruang Kebidanan
RSAM karena ingin di visum. Pasien hamil 20-21 minggu JTH Intrauterin. Pasien
sebelumya bersetubuh dengan K di sebuah rumah kostan pada bulan November 2014.
Kemudian, korban kembali melakukan persetubuhan dengan H pada bulan Desember di
losmen. Korban awalnya tidak menyadari dirinya hamil, korban hanya merasa dirinya
agak gemukan. Korban mengetahui dirinya hamil, setelah ia tidak mendapatkan haid dan
mencoba alat tes kehmilan Setelah mengetahui dirinya hamil, korban tidak berani
memberitahukan kepada orang tuanya. Kehamilan korban, diketahui keluarga dari teman
korban. Keluarga korban lalu membawa korban untuk di visum dan untuk mengetahui
siapa Bapak anak yang di kandung korban apakah K atau H. Tetapi, korban tetap
bersikeras Bapaknya adalah H, karena saat K menyetubuhi korban, ia memakai kondom,
tetapi korban tidak mengetahui apakah kondomnya bocor atau tidak. Sedangkan, H tidak
menggunakan kondom, dan ada cairan yang masuk ke vagina korban. Sebelumnya,
pasien sudah ke Bidan dan dikatakan kehamilan korban 5 bulan. Korban tidak mengingat
secara pasti hari pertama haid terakhir. Menurut korban, pelaku K sudah diserahkan ke
kantor polisi oleh keluarga korban.

B. Alasan Memilih Kasus


Pemilihan dilakukan penulis dikarenakan kasus ini sering terjadi di kehidupan kita
sehari hari, dan banyaknya kasus hamil diluar pernikahan. Kasus ini terjadi kurang

REFLEKSI KASUS |
Forensik dan Medikolegal
RSUD Abdoel Moeloek 2015

Stase Kedokteran

lebih satu tahun yang lalu saat penulis sedang menjalani kepaniteraan klinik Ilmu
Kebdanan RSUAM Bandar Lampung.
C. Analisis Kasus :

1.

Aspek Etika
Wanita yang meminta dokter untuk memvisum dirinya dikarenakan dirinya hamil.
Wanita ini ingin mengetahui siapa sebenarnya Bapak dari anak yang ia kandung. Dalam
hal ini dokter harus memegang 4 prinsip dasar bioetika kedokteran, yaitu Beneficence
(berbuat baik), non-maleficence (tidak berbuat yang merugikan), Justice (keadilan),
respect for person/autonomy (menghormati martabat manusia). Dalam menentukan
sikapnya, dokter harus menyatukan prinsip satu dengan prinsip yang lain. Namun, pada
kasus tertentu karena kondisi yang berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah
untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain.
a. Beneficence
Dalam hal ini, visum bagi Nn.R yang merupakan korban persetubuhan
dilakukan dengan didasari niatan agar diketahui siapa Bapak dari anak yang
dikandung. Selain itu juga, agar orang tua korban tidak merasa resah dan gelisah
karena sangat penasaran siapa sebenarnya Bapak dari cucu mereka.
b. Non-maleficence
suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak melakukan perbuatan yang
memperburuk pasien dan tidak membahayakan pasien. Dalam kasus ini, dokter
memberitahukan apa saja tindakan yang akan dilakukan saat visum, meskipun pasien
agak terganggu karena ada bagian tubuh yang dibuka, tetapi pasien harus kooperatif
untuk mendapatkan hasil yang seobjektif mungkin dan tindakan tersebut tidak akan
memperburuk keadaan pasien ataupun mengganggu janin yang di kandungnya.
C. Justice
Prinsip dimana seorang dokter memperlakukan sama rata dan asil untuk
kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut, menghargai hak sehat pasien, dan
menghargai hak hukum pasien. Dalam kasus ini dokter tidak membedakan sama
sekali hak yang harus didapatkan pasien dan kewajiban yang harus dokter lakukan

REFLEKSI KASUS |
Forensik dan Medikolegal
RSUD Abdoel Moeloek 2015

Stase Kedokteran

pada pasien tersebut. Apakah pasien merupakan pasien JAMKESMAS ataukah pasien
umum, dokter sama sekali tidak membedakannya.
d. respect for person/ autonomy
Prinsip dimana seorang dokter menghormati martabat manusia. Dalam hal ini
pasien diberi hak untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri.
Autonomy bermaksud menghendaki, menyetujui, membenarkan, membela dan
membiarkan pasien demi dirinya sendiri. Dalam kasus ini, dokter harus menghargai
hak pasien untuk mendapatkan visum dan mengetahui umur kehamilannya.
2.

Aspek Hukum
Dalam aspek hukum, menjagan kerahasiaan tentang penyakit pasien adalah hak yang

dimiliki oleh masing-masing pasien.

3.

Aspek Medis
Penatalaksanaan pada pasien yang diberikan sudah sesuai dengan apa yang harus

dilakukan. Termasuk mengedukasi pasien.


4. Aspek Budaya/ Norma Tradisi di Masyarakat
Berdasarkan budaya dan norma yang ada di indonesia, hamil di luar nikah termasuk
masalah yang dapat mencoreng diri sendiri, orang tua bahkan keluarga besar. Orang-orang di
sekitar akan menganggap korban merasa hina, jijik dan merasa korban wanita
murahan, terlebih lagi korban masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas yang pastinya
teman-teman korban merasa ada yang aneh di diri korban dan melihat perutnya yang semakin
lama semakin membesar dan itu akan membuat korban dikucilkan. Sebaiknya, pasien di
edukasi agar tidak terlalu sedih berlebihan karena itu akan memperberat masa-masa
kehamilannya dan meminta agar pelaku segera bertanggung jawab kepada korban.
5. Aspek Agama

REFLEKSI KASUS |
Forensik dan Medikolegal
RSUD Abdoel Moeloek 2015

Stase Kedokteran

Berbagai agama seperti Islam, kristen, Hindu, Budha dan Yahudi meyakini bahwa
seks bebas merupakan tindakan yang salah, tidak dibenarkan dan berdosa. Hilangnya
keperawanan sebelum pernikahan adalah hal yang sangat memalukan terlebih lagi jika wanita
sampai hamil.
Dalam agama Islam, karena korban melakukan persetubuhan oleh dua orang laki-laki,
maka akan ada kesulitan untuk mengetahui anak siapakah sebenarnya, terlebih lagi jika anak
yang dilahirkan adalah perempuan, dan jika anak tersebut sudah beranjak dewasa dan akan
menikah, maka akan kesulitan jika Bapak Biologisnya tidak diketahui untuk menikahkan
anaknya tersebut.

D. Kesimpulan
Dari kasus diatas dokter harus tetap melaksanakan kewajibannya sesuai sumpah
dokter yang melayani pasien dengan tidak memandang status sosial, budaya, agama, politik
dan ekonomi. Dokter harus melaksanakan kewajibannya sesuai dengan keilmuannya dan
sesuai kebaikan pengobatan pasien.

Umpan balik dari pembimbing

REFLEKSI KASUS |
Forensik dan Medikolegal
RSUD Abdoel Moeloek 2015

Stase Kedokteran

Dokter Pembimbing

dr. Handayani Dwi Utami, M.Kes, Sp.F

REFLEKSI KASUS |
Forensik dan Medikolegal
RSUD Abdoel Moeloek 2015

Stase Kedokteran